Anda di halaman 1dari 9

Stigma terhadap orang-orang dengan masalah kesehatan mental di Indonesia

Pendahuluan: Masalah kesehatan mental adalah masalah serius di Indonesia. Prevalensi


gangguan mental berat pada populasi Indonesia adalah 1,7 ‰. Di masyarakat, orang dengan
gangguan mental sering mengalami stigmatisasi, padahal stigmatisasi ini dapat berdampak
negatif bagi mereka. Salah satu bentuk diskriminasi yang paling umum terhadap orang dengan
gangguan mental adalah praktik pasung.

Metode: Penelitian ini melakukan studi survei pada 1.269 responden di Jawa Timur (di mana
prevalensi gangguan mental yang parah adalah 2,2 ‰). Instrumen yang digunakan adalah Sikap
Masyarakat terhadap Penyakit Mental (CAMI), Jadwal Pengetahuan Kesehatan Mental (MAKS),
dan kuesioner sosiodemografi.

Hasil: Hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan yang lebih baik tentang kesehatan mental
dikaitkan dengan stigma publik yang lebih rendah terhadap orang-orang dengan gangguan
mental. Perbedaan signifikan dalam stigma terhadap orang dengan penyakit mental juga
ditemukan pada kelompok umur, jenis kelamin, pengalaman kontak, riwayat gangguan mental,
sikap terhadap pasung, status perkawinan, dan tingkat pendapatan.

Kesimpulan: Temuan ini menyiratkan bahwa intervensi anti-stigma di Indonesia harus


mempertimbangkan faktor sosiodemografi terkait dan menggunakan pendekatan psikososial
untuk meningkatkan melek huruf dan kontak dengan pasien kesehatan mental.

Kata kunci: stigma publik, orang dengan masalah kesehatan mental, pengetahuan, kontak, faktor
demografi, pasung

pengantar

Masalah kesehatan mental adalah masalah serius di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, provinsi
di Pulau Jawa. Menurut survei nasional atau Riset Kesehatan Dasar, prevalensi penyakit mental
yang parah seperti skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya di Jawa Timur adalah 2,2 per juta.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi nasional di Indonesia yaitu 1,7 per juta.

Orang dengan gangguan mental berjuang untuk sembuh dari penyakitnya; namun, mereka
menghadapi stigmatisasi oleh masyarakat. Stigma adalah pelabelan negatif terhadap sekelompok
orang tertentu, yang dapat memiliki efek buruk pada penderita gangguan mental. Pertama,
stigma membentuk citra buruk pada gangguan mental. Kedua, itu juga membuat orang yang
hidup dengan penyakit mental kehilangan harga diri dan kemanjuran diri mereka, serta
mencegah mereka mencari bantuan medis untuk kondisi klinis mereka. stigma dapat
mengakibatkan diskriminasi terhadap orang-orang dengan gangguan mental dan mencegah
mereka mendapatkan dua peluang penting untuk mengejar tujuan hidup mereka: kesempatan
kerja dan kesempatan untuk hidup mandiri dan aman. Sayangnya, stigma terhadap orang dengan
penyakit mental telah ditemukan tidak hanya terbatas pada populasi awam tetapi juga terjadi di
kalangan profesional kesehatan seperti psikiater, psikolog, dan perawat yang bekerja dengan
orang-orang dengan gangguan mental.

Salah satu jenis diskriminasi yang dihasilkan dari stigma terhadap orang dengan penyakit mental
adalah praktik pasung. Pasung adalah praktik mengakui dan mengendalikan orang yang sakit
mental. Di Indonesia, pasung cukup umum. Riset Kesehatan Dasar Nasional1 mencatat 1.655
kasus pasung terhadap orang dengan gangguan mental di Indonesia. Selain itu, berdasarkan data
e-pasung, 9 2.369 kasus pasung dicatat di Jawa Timur. Pasung lebih umum di daerah pedesaan
dan sering dilakukan oleh anggota keluarga dengan status sosial ekonomi rendah. Durasi pasung
dapat berkisar dari beberapa hari hingga beberapa tahun. Alasan paling umum di balik praktik
pasung oleh keluarga yang sakit jiwa adalah keselamatan, baik bagi pasien maupun masyarakat

Penegakan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2014 tentang kesehatan mental
telah menjadi pemicu komitmen pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan
dengan gangguan mental, tetapi tidak terbatas pada praktik pasung terhadap orang-orang dengan
penyakit mental. Sejumlah program anti-pasung telah dilaksanakan, seperti Indonesia Bebas
Pasung (Indonesia bebas-pasung) dan Jawa Timur Bebas Pasung (Jawa Timur bebas-pasung),
yang ditargetkan akan dicapai pada 2019. Kendati konstan upaya untuk membebaskan pasien
kesehatan mental dari pasung, program-program ini masih dianggap tidak berhasil, yang
ditunjukkan dengan penundaan berulang tahun pencapaian program ini. Awalnya direncanakan
akan selesai pada tahun 2015, tahun pencapaian program-program ini telah diubah menjadi 2017
sebelum dan diubah menjadi 2019 sekarang. Ini menyiratkan bahwa pelepasan orang sakit jiwa
tidak cukup dan diperlukan strategi berbasis bukti yang lebih efektif untuk menghilangkan
pasung sebagai produk stigma yang melekat pada orang yang sakit jiwa.

Salah satu strategi untuk menantang sikap stigmatik adalah dengan pendidikan. Pengetahuan
penting untuk mengubah keyakinan stigma terhadap orang dengan penyakit mental. Ini dapat
mengurangi prasangka terhadap pasien kesehatan mental, meningkatkan kesadaran akan
gangguan mental, dan mencegah pelabelan stigma. Sementara stigma menghambat orang untuk
mencari dan menerima perawatan profesional, meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan
mental mungkin menawarkan solusi.

Berbagai penelitian telah dilakukan pada stigma terhadap orang dengan gangguan mental dan
hubungannya dengan karakteristik demografis. Namun, bukti hubungan antara stigma dan
variabel sosiodemografi seringkali tidak meyakinkan. Sebagai contoh, beberapa penelitian
menemukan bahwa orang yang lebih muda dapat dengan mudah menerima orang yang sakit
mental, 14 menemukan bahwa sikap stigma menurun ketika orang menjadi lebih tua, 15,16 dan
yang lainnya tidak menemukan hubungan sama sekali. Hasil yang tidak meyakinkan juga
ditemukan dalam penelitian tentang perbedaan jenis kelamin dalam stigma. Beberapa penelitian
menemukan bahwa laki-laki lebih cenderung memiliki sikap stereotip dan stigmatisasi terhadap
orang yang sakit mental, beberapa menemukan bukti perempuan memiliki jarak sosial yang lebih
tinggi dari pasien kesehatan mental, dan yang lain tidak menemukan korelasi antara jenis
kelamin dan stigma.

Tidak seperti usia dan jenis kelamin, peran tingkat pendidikan kurang kontroversial. Tingkat
pendidikan yang lebih tinggi ditemukan berkorelasi dengan sikap yang lebih positif terhadap
orang yang sakit mental. Variabel sosiodemografi yang sering dieksplorasi dalam penelitian
tentang stigma kesehatan mental adalah status perkawinan, tetapi hubungannya dengan stigma
publik terhadap pasien kesehatan mental belum pernah diteliti secara khusus. Sebuah meta-
analisis menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara menikah dan stigma diri di
antara pasien kesehatan mental.

Pengalaman kontak dengan penyakit mental juga merupakan faktor penting. Ada banyak bukti
yang menunjukkan bahwa tingkat kontak dikaitkan dengan sikap yang kurang stigmatik dan
diskriminatif terhadap orang-orang dengan masalah kesehatan mental. Peningkatan tingkat
kontak juga merupakan strategi yang direkomendasikan untuk mengurangi stigma. Selain itu
untuk kontak dengan pasien kesehatan mental, pengalaman pribadi masalah kesehatan mental
juga dikaitkan dengan sikap yang lebih positif. Orang-orang yang telah mengalami gangguan
kesehatan mental sendiri ternyata lebih mengenal penyakit mental dan memiliki sikap yang
kurang stigmatik.

Meskipun studi tentang variabel stigma, pengetahuan, dan sosiodemografi cukup umum, ada
literatur terbatas dari studi tersebut di Indonesia. Bukti yang tersedia tentang perbedaan budaya
yang ditunjukkan oleh penelitian tentang stigma menunjukkan perlunya melakukan penelitian
serupa di Indonesia karena hasilnya mungkin berbeda karena konteks budaya yang berbeda dari
penelitian sebelumnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi korelasi
antara pengetahuan tentang kesehatan mental dan stigma terhadap orang dengan gangguan
mental dan untuk menemukan apakah ada perbedaan nyata dalam stigma terhadap orang dengan
penyakit mental pada kelompok umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendapatan bulanan,
pendidikan, pengalaman kontak, riwayat gangguan mental, dan sikap terhadap pasung.

Metode

Sampel

Penelitian survei ini melibatkan 1.269 responden. Responden berkisar antara 10 hingga 75 tahun,
dengan usia rata-rata 23,3 tahun. Mayoritas responden (63,6%) adalah perempuan, sementara 35%
adalah laki-laki dan sisanya 1,4% memilih untuk tidak mengatakan

Pengukuran

Community attitude toward mental ilnes (CAMI).

Penelitian ini menggunakan CAMI untuk mengukur sikap responden terhadap orang dengan
gangguan mental. CAMI adalah skala 40-item yang dikembangkan oleh Taylor and Dear, 28
yang terdiri dari empat subskala, yaitu otoritarianisme, pembatasan sosial, kebajikan, dan
ideologi kesehatan mental masyarakat. Skor yang tinggi dalam subskala otoritarianisme dan
pembatasan sosial menyiratkan sikap negatif atau stigmatik terhadap orang-orang dengan
gangguan mental, sementara subskala skor besar dalam kebaikan dan subskala ideologi
kesehatan mental masyarakat dikaitkan dengan sikap positif

Mental healt knowledge schedule (MAKS)

MAKS digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur pengetahuan responden tentang
kesehatan mental dan gangguan mental. Ini dikembangkan oleh Evans-Lacko et al, 29 terdiri dari
dua set item, masing-masing terdiri dari enam item. Set pertama bertujuan untuk menilai bidang
pengetahuan terkait stigma, dan set kedua mengukur tingkat pengakuan dan keakraban dengan
berbagai kondisi.29 Penelitian ini hanya menggunakan set item pertama karena merupakan
bagian yang paling relevan untuk digunakan dalam penelitian ini.

Kuesioner sosiodemografi

Responden diminta memberikan informasi tentang usia, jenis kelamin, status perkawinan,
pendidikan terakhir, pendapatan bulanan, pengalaman kontak dengan pasien gangguan mental,
riwayat gangguan mental, dan sikap terhadap praktik pasung.

Prosedur

Pengumpulan data dilakukan dari Juni hingga September 2017 di Jawa Timur. Survei dilakukan
dari rumah ke rumah oleh surveyor terlatih menggunakan teknik accidental sampling. Sebelum
pengumpulan data, para peserta diberikan formulir persetujuan yang harus mereka tandatangani.
Peserta di bawah umur ditemani oleh kerabat atau wali dewasa selama pengisian kuesioner.

analisis

Analisis korelasional dilakukan untuk mengeksplorasi hubungan antara pengetahuan tentang


kesehatan mental, sikap terhadap orang-orang dengan gangguan mental, dan karakteristik
demografis. Uji sampel independen dan ANOVA juga dijalankan untuk menguji perbedaan
signifikan dalam tingkat pengetahuan tentang kesehatan mental, dan kontak dengan dan sikap
terhadap orang-orang dengan gangguan mental di seluruh kelompok karakteristik demografis

Hasil

Demografi responden

Tabel 1 menunjukkan karakteristik demografis responden. Usia responden bervariasi dari 10


hingga 75 tahun dengan usia rata-rata 23,3 tahun. Dari responden, 444 (35%) adalah laki-laki
dan 807 (63,6%) adalah perempuan.
Dalam hal tingkat pendidikan, mayoritas responden (72,3%) memiliki pendidikan sekolah
menengah atau lebih rendah, 24% adalah sarjana, 3,4% memiliki ijazah, dan 0,3% adalah
pascasarjana. Dalam hal status perkawinan, 1.036 (81,6%) responden lajang, 195 (15,4%)
menikah, dan 18 (1,4%) bercerai. Dalam hal status ekonomi, mayoritas responden (59,3%)
memiliki pendapatan bulanan kurang dari rupiah Indonesia 2,2 juta, 12,2% responden memiliki
pendapatan bulanan Rp2,2-3,5 juta, 6,8% memperoleh IDR 3,5–4,6 juta per bulan, 6,4%
menghasilkan IDR 4,6–8 juta per bulan, dan 5,1% menghasilkan lebih dari Rp8 juta per bulan.

Berdasarkan distribusi demografis ini, peserta yang terlibat dalam penelitian ini cukup mewakili
populasi. Mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan pendapatan bulanan,
yang menunjukkan orang-orang dengan status sosial ekonomi rendah di antaranya kasus pasung
yang biasa ditemukan. Namun, rasio jenis kelamin dan kelompok perkawinan agak tidak
proporsional.

Hasil analisis data

Analisis statistik dijalankan untuk menguji hipotesis penelitian saat ini. Pertama, analisis
korelasional dilakukan untuk mengetahui adanya korelasi yang signifikan antara pengetahuan
tentang kesehatan mental (yang diukur dengan MAKS), usia, dan stigma terhadap orang-orang
dengan gangguan mental (diukur dengan CAMI).

Tabel 1. Demografi responden.

Demografi N Persentase
Umur : 10-75 tahun, rata-rata 23,3 1.269 100
Jenis kelamin
-Laki-laki 444 35.0
-Perempuan 807 63.6
-Hilang 18 1.4
Pendidikan
SMA atau lebih rendah 918 72.3
-Diploma 43 3.4
-Mahasiswa sarjana 304 24.0
-Sarjana 4 0.3
Status perkawinan
Lajang 1.036 81.6
Menikah 195 15.4
Bercerai 18 1.4
Hilang 20 1.6
Penghasila bulanan (Juta)
< Rp 2.2 752 59.3
Rp 2.2-3.5 155 12.2
Rp 3.5-4.6 86 6.8
Rp 4.6-8 81 6.4
> Rp 8 65 5.1
Hilang 130 10.2

Tabel 2 menunjukkan bahwa ada korelasi yang lemah namun mencolok antara usia dan tingkat
stigma terhadap orang dengan penyakit mental dan antara pengetahuan kesehatan mental dan
stigma. Kedua korelasi negatif yang menunjukkan bahwa peningkatan satu variabel terjadi
bersamaan dengan penurunan variabel lainnya

Tabel 2 menunjukkan bahwa ada korelasi yang lemah namun mencolok antara usia dan tingkat
stigma terhadap orang dengan penyakit mental dan antara pengetahuan kesehatan mental dan
stigma. Kedua korelasi negatif yang menunjukkan bahwa peningkatan satu variabel terjadi
bersamaan dengan penurunan variabel lainnya

Analisis statistik kedua bertujuan untuk menguji perbedaan skor pada tingkat stigma di seluruh
kelompok faktor sosiodemografi (yaitu, kontak dengan pasien gangguan mental, riwayat
gangguan mental dalam keluarga, sikap terhadap pasung, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
status perkawinan, dan pendapatan bulanan).

Tabel 3 dan 4 menunjukkan beberapa skor perbedaan tingkat stigma terhadap orang dengan
penyakit mental di seluruh kelompok pengalaman kontak, riwayat gangguan mental atau gejala
dalam keluarga, sikap terhadap pasung, jenis kelamin, status perkawinan, dan tingkat pendapatan.
Sementara itu, tidak ada perbedaan skor yang nyata dalam tingkat stigma yang ditemukan di
seluruh kelompok tingkat pendidikan.

Analisis post hoc menemukan skor perbedaan sikap terhadap orang dengan kesehatan mental
antara responden lajang dan menikah. Tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara
responden lajang dan bercerai atau antara individu yang menikah dan bercerai. Selain itu,
analisis tingkat pendapatan pasca-hoc menunjukkan perbedaan mencolok antara responden yang
berpenghasilan kurang dari Rp2,2 juta dan mereka yang berpenghasilan Rp2,2-3,5 juta per bulan,
antara individu yang pendapatan bulanannya kurang dari Rp2,2 juta dan mereka yang
pendapatan bulanannya adalah IDR 4,6–8 juta, serta antara individu dengan pendapatan bulanan
Rp2,2–3,5 juta dan mereka yang berpenghasilan bulanan lebih dari Rp8 juta.

Tabel 2. Korelasi antara pengetahuan, umur dan stigma

Korelasi sperman P P N
Cami Skore X Umur -0.14 <0.01 1.248
Cami skor x Maks skor -0.17 <0.01 1.268
Tabel 3. Perbedaan tingkatan stigma dalam pengalaman kontak dengan pasien, mempunyai
riwayat ganggauan mental, perilaku terhadap pasung dan jenis kelamin.

Faktor binominal sosiodemografi N Mean (SE) T(df) P-Value


Pengalaman kontak dengan pasien –4.271 (1,261) <0.01
-Ya 549 136.26 (0.658)
-Tidak 714 139.87 (0.544)
Riwayat penyakit gangguan mental –2.919 (1,262) <0.01
-Ya 1. 191 138.02 (0.432)
-Tidak 73 143.29 (1.836)
Perilaku terhadap pasung 4.852 (1,259) <0.01
-Tidak mendukung 1.192 138.82 (0.430)
-Mendukung 69 129.87 (1.871)
Jenis Kelamin –2.193 (1,249) <0.01
-Laki-laki 444 137.15 (0.695)
-Perempuan 807 139.09 (0.534)

Tabel 4. Perbedaan tingkatan stigma dalam tingkat pendidikan, status pernikahan, dan tingkat
penghasilan.

Faktor Sosiodemografi N Mean (SE) F (df) P-Value


Pendidikan 1.397 (3.1268) 0.242
-SMA atau lebih rendah 918 138.71 (0.496)
-Diploma 43 134.53 (2.225)
-Mahasiswa Sarjana 304 137.56 (0.862)
-Sarjana 4 139.75 (3.816)
Status Pernikahan 12.615 (2.1246) <0.01
Lajang 1,036 139.35 (0.462)
Menikah 195 133.58 (1.079)
Bercerai 18 136.06 (2.572)
Penghasilan perbulan (juta) 6.626 (4.1138) <0.01
<Rp. 2.2 752 140.03 (0.524)
Rp. 2.2–3.5 155 134.52 (1.131)
Rp. 3.5–4.6 86 136.60 (1.659)
Rp. 4.6–8 81 135.16 (1.761)
> Rp 8 65 141.03 (2.260)

Pernyataan

Persetujuan etis diperoleh dari Dewan Etika, Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, sebelum
penelitian. Semua peserta dan orang tua dari peserta yang berusia di bawah 18 tahun diminta
untuk menandatangani informed consent yang sebelumnya telah dijelaskan atau diinformasikan
oleh peneliti.
Diskusi

Analisis statistik menunjukkan bahwa pengetahuan tentang kesehatan mental berkorelasi


signifikan dengan stigma terhadap pasien kesehatan mental (ρ = −0,17, P <0,01). Selain korelasi
yang lemah, korelasi antara kedua variabel bersifat negatif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
baik pengetahuan individu tentang kesehatan mental, semakin rendah kecenderungan mereka
untuk memiliki sikap stigmatik terhadap orang-orang dengan gangguan mental.

Temuan ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kurangnya
pengetahuan tentang kesehatan mental atau melek kesehatan mental adalah salah satu sumber
stigma. Literasi kesehatan mental yang rendah diketahui memiliki dampak baik pada diri sendiri
(misalnya, tidak siap untuk memutuskan dengan tepat apa yang harus dilakukan ketika seseorang
merasakan gejala yang terkait dengan masalah kesehatan mental) dan pada orang lain (misalnya,
resistensi untuk berinteraksi dengan pasien kesehatan mental). Sebuah studi sebelumnya
menunjukkan bahwa individu yang melek huruf dalam hal pengetahuan kesehatan mental
cenderung memiliki sikap yang lebih baik terhadap orang-orang dengan gangguan mental. Oleh
karena itu, penelitian sebelumnya merekomendasikan program psikoedukasi melalui berbagai
metode untuk mengurangi stigma terhadap pasien kesehatan mental di masyarakat. Intervensi
psikososial, seperti dukungan keluarga terhadap orang dengan penyakit mental, juga diyakini
dapat mengurangi stigma dan meningkatkan layanan kesehatan terhadap pasien kesehatan mental.

Penelitian ini juga menemukan perbedaan skor signifikan dalam tingkat stigma terhadap orang
dengan penyakit mental berdasarkan pengalaman kontak (t = .24.271, P <0,01) dan riwayat
gangguan mental dalam keluarga (t = −2,919, P <0,01). Keakraban dengan gangguan mental
ditemukan memiliki kontribusi penting terhadap pembentukan sikap terhadap pasien kesehatan
mental. Semakin banyak individu dengan penyakit mental, semakin rendah kecenderungan
mereka untuk menghindari pasien kesehatan mental. Keakraban dalam hal ini berarti sejauh
mana individu terpapar pasien kesehatan mental, mulai dari tidak pernah bertemu seseorang
dengan gangguan mental hingga memiliki penyakit mental yang parah sendiri.

Usia ditemukan memiliki korelasi negatif dengan stigma terhadap orang dengan penyakit mental
(ρ = −0,14, P <0,01). Ini berarti bahwa seiring bertambahnya usia, mereka akan lebih toleran
terhadap pasien kesehatan mental. Temuan ini mirip dengan penelitian oleh Adewuya dan
Oguntade yang menemukan bahwa individu yang lebih muda cenderung memiliki sikap yang
lebih stigmatik terhadap orang dengan gangguan mental dibandingkan dengan orang yang lebih
tua. Diasumsikan bahwa individu yang lebih tua memiliki rentang pengalaman hidup yang lebih
luas yang mengarahkan mereka untuk lebih menerima perbedaan dan keunikan orang lain, dan
karenanya lebih baik menerima kehadiran pasien kesehatan mental. Penjelasan serupa juga
berlaku untuk mereka yang memiliki pasangan. Pernikahan dianggap sebagai pengalaman yang
memungkinkan seseorang untuk secara progresif menerima perbedaan dan keunikan orang lain.
Ini khususnya terjadi pada pasangan yang tinggal bersama. Oleh karena itu, individu yang
menikah memiliki sikap yang lebih toleran terhadap orang-orang dengan gangguan mental
dibandingkan dengan individu lajang atau bercerai.

Analisis statistik dari faktor-faktor demografis lainnya menemukan beberapa perbedaan skor
dalam tingkat stigma di antara kelompok jenis kelamin, sikap terhadap pasung, dan tingkat
pendapatan. Sementara itu, tingkat pendidikan ditemukan tidak memiliki kontribusi nyata
terhadap perbedaan skor dalam tingkat stigma terhadap pasien kesehatan mental. Temuan ini
menyiratkan bahwa sikap publik terhadap orang dengan penyakit mental tidak terkait dengan
latar belakang pendidikan individu. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang
menemukan bahwa faktor sosiodemografi secara signifikan berkontribusi pada pembentukan
sikap terhadap individu dengan gangguan mental.

Keterbatasan

Penelitian ini memiliki dua keterbatasan. Pertama, ia menggunakan versi skala terjemahan yang
dikembangkan dalam budaya Barat yang tidak pernah digunakan untuk sampel umum di
Indonesia. Kedua, seperti penelitian lain yang menggunakan pengukuran laporan diri, hasil
penelitian ini mungkin terbatas dalam hal spontanitas dan sifat yang tidak terkendali dari respon
subyek.

Kesimpulan

Ditemukan korelasi negatif yang nyata antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan mental dan
tingkat stigma terhadap orang dengan kesehatan mental di masyarakat. Selain itu, perbedaan skor
ditemukan pada tingkat stigma yang terkait dengan usia, jenis kelamin, pengalaman kontak,
riwayat kesehatan mental, sikap terhadap pasung, status perkawinan, dan pendapatan per bulan.

Intervensi anti-stigma sistemik direkomendasikan melalui pendekatan psikososial yang


menekankan upaya untuk meningkatkan literasi kesehatan mental dan kontak dengan pasien
kesehatan mental. Masyarakat harus mengembangkan sikap yang lebih positif atau toleran
terhadap orang-orang dengan penyakit mental dan harus mendukung realisasi program-program
anti-pasung.