Anda di halaman 1dari 55

SMF & Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak

TUTORIAL KLINIK
RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

GIZI BURUK

Disusun sebagai Salah Satu Tugas Kepaniteraan Klinik


di Bagian Ilmu Kesehatan Anak

OZZY MUKTI YUNANDAR


1810029032

Pembimbing:
dr. Herwina Brahmantya, Sp.A

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA, AGUSTUS 2019
LEMBAR PENGESAHAN

TUTORIAL KLINIK

GIZI BURUK

Diajukan dalam Rangka Tugas Ilmiah Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu


Kesehatan Anak

Oleh:

Ozzy Mukti Yunandar


1810029032

Pembimbing:

dr. Herwina Brahmantya, Sp.A

SMF/LABORATORIUM ILMU KESEHATAN ANAK


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat-
Nya penulis dapat menyelesaikan Tutorial tentang “ Gizi Buruk”.Tutorialini
disusun dalam rangka tugas kepaniteraan klinik di Laboratorium Ilmu Kesehatan
Anak Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima
kasih kepada :
1. dr. Ika Fikriah, M. Kes., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Mulawarman.
2. dr. Soehartono, Sp. THT-KL, selaku Ketua Program Studi Profesi Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.
3. dr. Ahmad Wisnu Wardhana, Sp. A selaku Kepala Laboratorium Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.
4. dr. Herwina Brahmantya, Sp. A, selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan dan saran selama penulis menjalani co-assistancedi
Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak, terutama di divisi Gizi Tumbuh Kembang
dan Kardiologi.
5. Rekan-rekan dokter muda di Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD AWS/FK
Universitas Mulawarman.
Penulis menyadari terdapat ketidaksempurnaan dalam penulisan, sehingga
penyusun mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnan tutorial klinik
ini.Akhir kata, semoga tutorial klinik ini berguna bagti penyusun sendiri dan para
pembaca.

Samarinda, Agustus 2019

Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gizi berperan dalam berbagai kurun usia dalam daur kehidupan. Peranan ini
meliputi dalam pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak dan kecerdasan,
produktivitas kerja serta daya tahan terhadap infeksi.Status gizi balita secara
sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut
umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah
ditetapkan. Penilaian status gizi, menggunakan ABCD/ Anthropometric Biokimia
Clinical sign Dietary history. (Depkes, 2003).
Gizi Buruk (Severe Malnutrition) merupakan salah satu masalah gizi utama
di negara berkembang seperti di Indonesia, kejadian ini terutama pada anak-anak
di bawah usia 5 tahun (balita) (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,2003).
Berdasarkan Pantauan Status Gizi (PSG) 2017 yang dilakukan Kementerian
Kesehatan, bayi usia di bawah lima tahun (Balita) yang mengalami masalah gizi
pada 2017 mencapai 17,8%, sama dengan tahun sebelumnya. Jumlah tersebut
terdiri dari Balita yang mengalami gizi buruk 3,8% dan 14% gizi kurang
(Kemenkes,2018)
Berdasarkan lama dan beratnya malnutrisi energi dan
protein,diklasifikasikan menjadi MEP derajat ringan sedang (gizi kurang) dan
MEP derajat berat (gizi buruk).MEP derajat berat yaitu kwashiorkor, marasmus,
marasmus-kwashiorkor (IDAI,2010). Diagnosis MEP berat ditegakkan
berdasarkan gambaran klinis untuk menentukan penyebab perlu anamnesis
makanan dan penyakit lain. Oleh karena itu, penulis akan membahas cara
penegakkan diagnosis jenis-jenis MEP berat yaitu marasmus, kwashiorkor dan
marasmik kwashiorkor (WHO,2011)

1.2. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan tutorial klinik ini adalah untuk mendalami secara teori
mengenai gizi buruk, pada anak.
BAB 2
LAPORAN KASUS

Pasien masuk Ruang Melati RSUD A.W Sjahranie pada tanggal 09 Agustus
2019 di ruang Melati kamar 08 RSUD A.W Sjahranie Samarinda.

Identitas Pasien :
Nama Pasien : An. H
Umur Pasien : 1 tahun 6 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. M. Said, Sebulu
Tanggal masuk : 09 Agustus 2019
Orang tua
- Ayah : Tn. J
Usia : 41 tahun
Pekerjaan : Buruh bangunan
Pendidikan : SD
Agama : Islam
Suku : Kutai
- Ibu : Ny. G
Usia : 41 tahun
Pekerjaan : Buruh bangunan
Pendidikan : SD
Agama : Islam
Suku : Kutai
- Saudara :3
Anak 1 : 16 tahun
Anak 2 : 15 tahun
Anak 3 : 9 tahun
Anamnesis :
Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 12 Agustus 2019
di ruang melati kamar 08.
1. Keluhan Utama
Muntah-muntah
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan muntah-muntah yang dialami sudah 10 hari
sebelum masuk rumah sakit. Muntah dapat terjadi 2-3x sehari. Muntah seperti
berlendir, warna putih, kadang berisi nasi dan apa yang dimakan, jumlahnya
sedikit, selalu dipicu oleh makan dulu, dan tidak pernah muntah merah atau
coklat. Keluhan lain yang menyertai yaitu pasien batuk-batuk dan demam selama
±2 bulan. Batuk-batuk terus ada dan tidak ada periode sembuh. Semakin parah
jika pasien kedinginan. Pasien juga nafsu makannya menurun sejak batuk-batuk
dan ibu pasien merasakan anaknya semakin tampak kurus. BAK tidak ada
masalah namun pada BAB pernah ada riwayat BAB hijau selama 3 hari saat di
rumah. Kedua kaki pasien dirasakan bengkak oleh ibu pasien sejak beberapa hari
sebelum masuk rumah sakit.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami keluhan-keluhan seperti ini sebelumnya. Ada
alergi dari dulu pada pampers. Kulit disekitar bokong dan alat kelamin muncul
merah merah dan luka. Alergi ini sudah ada dari usia 8 bulan sejak menggunakan
pampers.
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
Nenek pasien sebelumnya mengalami keluhan yang serupa yaitu batuk-batuk
lama dan didiagnosis TB serta sudah selesai pengobatan OAT (akhir 2018).
Pasien sempat 1 bulan tinggal bersama neneknya. Ibu pasien bercerita nenek
pasien sering mencium cium pasien bahkan memberikan makanan (dari mulutnya)
ke pasien. Nenek pasien sudah selesai 6 bulan pengobatan namun tidak jelas
apakah sudah terkonfirmasi sembuh dari TB atau belum.
5. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Selama hamil ibu pasien tidak rutin ANC dan mengaku tidak memiliki
penyakit selama kehamilan. Pasien lahir spontan di bidan dengan usia kehamilan
cukup bulan dan berat lahir 2000 gram, PBL 45 cm.
6. Riwayat Makanan dan Minuman
Pasien sempat mengkonsumsi ASI, air gula dan air susu kental manis selama
1 tahun. Air gula masih dikonsumsi sampai sekarang. Saat mengkonsumsi susu
kental manis pasien sempat tidak cocok dan mengalami berak-berak. Makanan
pengganti ASI yaitu bubur sun beras merah dimulai usia 6 bulan hingga usia 8
bulan. Lalu pada usia 9 bulan mulai mengkonsumsi nasi hingga sekarang dengan
sayur bening, labu dan lauk seperti ikan. Bisa diberikan hingga 4x sehari dengan
porsi secukupnya. Air gula yang dikonsumsi hingga sekarang bisa mencapai 3
botol, per botol isi sekitar 300 cc dengan takaran gula 2 sendok makan.
7. Riwayat Imunisasi
Imunisasi tidak lengkap, ibu pasien lupa apa saja yang telah diberikan. Yang
diingat yaitu baru 3x datang ke posyandu untuk divaksin.
8. Riwayat sosial ekonomi
Pasien merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Pasien tinggal
bersama ayah dan ibunya, nenek-kakeknya, beserta saudara-saudaranya, ayah
pasien bekerja sebagai buruh. Kehidupan ekonomi menengah ke bawah.

Pertumbuhan dan perkembangan anak


BB Lahir : 2.000 gram BB sekarang : 4.7 kg
PB Lahir : 45 cm PB sekarang : 65 cm
Gigi : Tumbuh Berdiri : belum bisa
Tersenyum : Ibu lupa Berjalan : belum bisa
Miring : belum bisa Berbicara 2 suku kata : belum bisa
Tengkurap : belum bisa
Duduk : belum bisa
Merangkak : belum bisa
Pasien sudah dicoba untuk main kerincingan usia 6 bulan, mobil-mobilan mainan
usia 1 tahun tapi tampak cepat bosan. Tidak masalah saat menggerakkan mainan.
Bermain seperti cilukba masih mau dan masih bisa merespon dengan tawa.
Kakak-kakaknya tidak ada masalah dalam perkembangannya dan normal bermain
sesuai usianya.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak sakit sedang, sangat kurus, wajah seperti orang tua
Kesadaran : komposmentis, GCS E4V5M6, cengeng

Tanda-tanda vital
Frekuensi Nadi : 126x / menit (reguler, kuat angkat)
Frekuensi Napas : 24x / menit (reguler)
Suhu Badan : 35.8OC (axillar)
SpO2 : 97 % dengan NK 1 LPM

Antropometri
BB : 4.700 gram
PB : 65 cm
BBL : 2.000 gram
PBL : 45 cm
LK : 43 cm
LILA : 9 cm
Status gizi : gizi buruk

Status generalisata
Kepala
a. Rambut : warna hitam kecoklatan, tampak kering, tipis, tidak mudah dicabut.
b. Mata : tampak dalam, konjungtiva anemis (+/+), sclera ikterik (-/-), pupil
isokor diameter 3mm/3mm, refleks cahaya (+/+)
c. Hidung : nafas cuping hidung (-/-) , terdapat selang O2 NK
d. Mulut : bibir kering dan tampak krusta, mukosa basah, tidak pucat, faring
tidak hiperemis.

Leher
a. KGB : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

Thorax
Paru
- Inspeksi : gerakan dinding dada simetris, retraksi (-)
- Palpasi : fremitus raba dextra = sinistra
- Perkusi : sonor
- Auskultasi : vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-, S1S2 tunggal reguler,
murmur (-) gallop (-)

Jantung
- Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak pada ICS 4 midklavikula line sinistra
- Palpasi : iktus kordis teraba pada ICS 4 midklavikula sinistra
- Perkusi : normal pada batas jantung
- Auskultasi : s1 s2 tunggal, regular, murmur -, gallop –

Abdomen
- Inspeksi : tampak cembung, lesi eritema di sekitar organ genitalia.
- Palpasi : soefl, nyeri tekan (-), organomegali (-), turgor kulit menurun (+)
- Perkusi : timpani di empat kuadran
- Auskultasi : bising usus (+)

Ekstremitas
Atas
- Akral hangat, CRT < 2 detik, kedua lengan atas tampak lebih kecil daripada
lengan bawah.
- Edema (+/-)
Bawah :
- Akral hangat, CRT < 2 detik, kedua paha tampak lebih kecil daripada betiis.
- Edema (+/+)

Pemeriksaan Penunjang:
No Parameter 09/08/2019 11/08/19 12/0819 13/08/19 14/08/19
1. Leukosit 11.70(4.50-14.90) - - 7.92 -
2. Eritrosit 3.27 (4.10-5.30) - - 2.53 -
3. Hemoglobin 8.6 (13.4-19.8) - - 6.7 -
4. Hematokrit 26.4 (33.0-41.0) - - 21.0 -
5. MCV 80.6 (81.0-99.0) - - 82.7 -
6. MCH 26.2 (27.0-31.0) - - 26.6 -
7. MCHC 32.5 (33.0-37.0) - - 32.1 -
8. 353.000 48.000 -
Trombosit (150.000- - -
450.000)
9. Glukosa 45 (70-140) - 75 90 54
Sewaktu
10. Albumin 2.0 (3.5-5.5) 2.2 - 2.2 -
11. Sa. 28 (>20) -
- - -
Transferin
12. 25 (23- -
Serum ion - - -
168)
13. 63 (120- -
UIBC - - -
470)
14. 88 (143- -
TIBC - - -
480)
15. Natrium 135 (135-155) 139 - 138 143
16. Kalium 1.8 (3,6-5,5) 2.5 - 2.1 2.1
17. Chloride 107 (98-108) 109 - 107 105
18. 6.9 (8.1- 7.6 7.5
Kalsium - 7.6
10.4)
19. Ab HIV Non Reaktif - - - -
20. Ureum - - - - 5.7
21. Kreatinin - - - - 0.3
Hapusan Darah Tepi (13/08/2019)
Eritrosit : Hipokrom anisopoikilositosis
Leukosit : Jumlah normal didominasi limfosit sel muda
Trombosit : Jumlah sangat menurun
Kesan : Susp. Hemoglobinopathy dd An. Penyakit kronis, dd An. Def. Fe,
limfositosis relatif, trombositopenia

Pemeriksaan Radiologi
Grafik Gizi Menurut WHO
Panjang Badan Menurut Usia ( Z score = <-3 SD)

Berat Badan Menurut Usia ( Z score = <-3 SD)


Berat Badan Menurut Panjang Badan ( Z score = <-3 SD)

Lingkar Lengan Atas Menurut Usia ( Z score = <-3 SD)


Lingkar Kepala Menurut Usia ( Z score = <-3 SD)
Grafik Tumbuh-Kembang Denver II

Usia Kronologis : 1 tahun 6 bulan 13 hari (18 bulan)


Personal Sosial Bahasa
Gosok gigi dengan bantuan : F Bicara sebagian dimengerti : F
Menyuapi boneka : F Kombinasi kata : F
Membuka pakaian : F Menunjuk 2 gambar : F
Menggunakan sendok garpu : F Menyebutkan 6 kata : F
Kemampuan aktual : Menyebutkan 2 kata : F
Berusaha mencapai mainan : P (4-6 Kemampuan aktual :
bulan) Bicara satu silabel : P (5-8 bulan)
Mengamati tangannya : P (1-4 bulan) Menoleh ke arah suara : P (4-7 bulan)
Tersenyum spontan : P (1-2 bulan) Menoleh ke arah icik-icik : P (3-5
bulan)
Adaptif Motorik Halus Motorik kasar
Menyusun menara dari 4 kubus : No Melempar bola : F
Menyusun menara dari 2 kubus : No Menendang bola : F
Ambil manik-manik ditunjukkan : No Berjalan naik tangga : F
Kemampuan aktual : Lari : F
Memegang dengan ibu jari : P (7-10 Kemampuan aktual :
bulan) Duduk kepala tegak : P (2-4 bulan)
Mengambil 2 barang : P (6-9 bulan) Kepala terangkat 90 derajat : P (2-4
Memindahkan barang : P (5-8 bulan) bulan)
Kepala terangkat 45 derajat : P (1-3
bulan)

Interpretasi hasil Denver II : Suspek FT (>1 keterlambatan)


Diagnosa di IGD :
- Gizi Buruk Marasmik + Hipoalbumin + Hipokalemi

Diagnosa DM
- Gizi Buruk + suspect TB + Dermatitis
Penatalaksanaan di IGD :
- Bolus D10% 20 cc secepatnya, cek GDS 1 jam selanjutnya
- IVFD RD5% 280 cc dalam 10 jam
- Pasang NGT
- Diet F75 8x20 cc
- Ampisilin Sulbaktam 125 mg/8 jam/IV
- Zink 1x20 mg
- B. Complex ½ tab, asam folat 1 tab, vitamin C 25 mg/ 1x1 pulv
- Metoklopramide 0.7 mg/8 jam/IV
- Albumin 20% 20 cc 1x pemberian
- 3,2 KCL + aquadest 1:1 dalam spuit 20 cc

Lembar Follow Up
Tanggal Pemeriksaan Terapi
10 Agustus 2019 S: - IVFD D5 ¼ NS 280 cc/24
(07.00) Batuk (+), tampak mual (+), jam
luka di sekitar organ genital - F50/F75 8x20 cc via NGT
semakin merah. BAB (+) - Vitamin B1 ½ tab, B6 ½ tab,
BAK (+) B12 ½ tab dalam pulv 1x1
- Drip KCl 7.4 % maintenance
O: 5 cc/24 jam
CM, KU lemah - Ampicilin Sulbactam 450
N:126x/menit, reguler, kuat mg/12 jam/IV
angkat - Hydrocortison 1% 2x
RR:24x/Menit pemberian
T:35.80C - Ondancentron 1.5 mg/12
Thorax : Retraksi (-), wh (-/-), jam/IV
rh (-/-) - Post koreksi Ca Glukonas 5
Abdomen : BU (+) N, ruam cc dalam NaCl 0.9% 20 cc
eritema pada kulit sekitar habis dalam 4 jam/syringe
organ genitalia pump
Ekstremitas : Akral hangat, - Post koreksi Albumin 20%
bengkak pada ekstremitas 20 cc dalam 6 jam/syringe
bawah (+/+), CRT<2” pump

A: Gizi buruk + suspect TB +


dermatitis numularis
12 Agustus 2019 S: - IVFD D5 ¼ NS 100 cc/24
(07.00) Batuk (+) jam
- F75 8x40 c
O: - Drip KCl 7.4% 4.5 cc/24 jam
CM, KU lemah - Drip Ca gluconas 10% 2.5
N:123x/menit, reguler, kuat cc/24 jam
angkat - Gentamicyn 2x pemberian
RR:26x/Menit pada luka bekas infus
T:36.20C - Tatalaksana lain lanjut
Thorax : Retraksi (-), wh (-/-),
rh (-/-)
Abdomen : BU (+) N, ruam
eritema pada kulit sekitar
organ genitalia
Ekstremitas : Akral hangat,
bengkak pada ekstremitas
bawah (+/+), CRT<2”

A: Gizi buruk + suspect TB +


dermatitis numularis

13 Agustus 2019 S: - Cek GDS tiap pagi, DL,


(07.00) Batuk (+), rewel, ingin HDT, SI/TIBC, Fe, SE,
melepas selang NGT Kalsium, Albumin
- IVFD D5 ¼ NS 100 cc/24
O: jam
CM, KU lemah - F75 8x40 per NGT
N:144x/menit, reguler, kuat - Koreksi KCl 7.4% 1.4 cc/6
angkat jam
RR:28x/Menit - Koreksi Ca gluconas 10%
T:37.60C 4.7 cc/6 jam
Thorax : Retraksi (-), wh (-/-), - Maintenance drip KCl 7.4%
rh (-/-) 4.5 cc/24 jam dan drip Ca
Abdomen : BU (+) N, ruam gluconas 10% 2.5 cc/24 jam
eritema pada kulit sekitar - Tatalaksana lain lanjut
organ genitalia - Konsul Sp. KK
Ekstremitas : Akral hangat,
bengkak pada ekstremitas
bawah (+/+), CRT<2”

A: Gizi buruk + suspect TB +


dermatitis numularis
14 Agustus 2019 S: - Transfusi PRC 40 cc dalam 4
(07.00) Batuk (+), demam (+) jam
- IVFD D5 ½ NS 100 cc/24
O: jam
CM, KU lemah - F100 8x40 cc via oral+feed
N:123x/menit, reguler, kuat tube
angkat - Ampicilin 125 mg/6 jam/IV
RR:26x/Menit - Gentamycin 25 mg/24
T:36.20C jam/IV
Thorax : Retraksi (-), wh (-/-), - Gentamycin krim 2x
rh (-/-) pemberian
Abdomen : BU (+) N, ruam - Maintenance KCl 7.4% 4.7
eritema pada kulit sekitar cc dan Ca Gluconas 4.7 cc
organ genitalia dalam 24 jam
Ekstremitas : Akral hangat, - Tatalaksana lain lanjut
bengkak pada ekstremitas
bawah (+/+), CRT<2”

A: Gizi buruk + suspect TB +


SIRS+ Impetigo Vesicobulosa
14 Agustus 2019 S: - RJP
(21.30) Penurunan kesadaran, - Bagging
sebelumnya tampak kejang - Epinefrin 1x pemberian/IV
- Pasien dinyatakan meninggal
O: di depan orang tua
Apnea (+), arteri caritis tidak
teraba, GCS E1M1V1, GDS
16 mg/dL, pupil midriasis
maksimal, RC (-/-)

A: Cardiac arrest +
hipoglikemi + Gizi buruk +
SIRS + suspect TB paru +
severe PEM + imbalance
electrolit + hipoalbumin
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1.Definisi
Gizi buruk (severe malnutrition) merupakan status kondisi seseorang yang
kekurangan nutrisi, atau nutrisinya di bawah standar rata-rata. Gizi buruk atau
malnutrisi energi protein adalah keadaan kurang gizi pada anak yang disebabkan
oleh kurangnya asupan energi dan protein. Balita usia 6-59 bulan merupaka
golongan yang rentan terhadap masalah kesehatan dan gizi, diantaranya adalah
masalah malnutrisi energi protein (MEP). Status gizi buruk dibagi menjadi tiga
bagian, yakni gizi buruk karena kekurangan protein (disebut kwashiorkor), karena
kekurangan karbohidrat atau kalori (disebut marasmus), dan kekurangan kedua-
duanya (Kemenkes,2018).

3.2 Klasifikasi
Penentuan prevalensi MEP diperlukan klasifikasi menurut derajat beratnya
MEP, klasifikasi demikian yang sering dipakai adalah sebagai berikut:

A. Klasifikasi Berdasarkan Baku Median WHO-NCHS


Klasifikasi MEP BB/U BB/TB

Ringan 70-80% 80-90%

Sedang 60-70% 70-80%

Berat <60% <70%


Tabel 3.1 Klasifikasi MEP berdasarkan baku median WHO-NHCHS

B. Klasifikasi Menurut Departemen Kesehatan RI


Klasifikasi malnutrisi MEP berdasarkan berat badan (BB), tinggi badan
(TB), dan umur menurut Depkes RI adalah sebagai berikut:
BB/TB TB/U
(berat menurut tinggi) (tinggi menurut umur)

Mild 80 – 90 % 90 – 94%

Moderate 70 – 79 % 85 – 89 %

Severe < 70 % <85 %

Tabel 3.2 Klasifikasi MEP menurut Departemen Kesehatan RI

C. Klasifikasi Menurut McLaren (1967)


McLaren mengklasifikasikan MEP berat dalam 3 kelompok menurut
tipenya. Gejala klinis edema disertai dermatosis, perubahan pada rambut,
dan pembesaran hati diberi nilai bersama-sama dengan menurunnya kadar
albumin atau total protein serum. (Pudjiadi, 2000)
Gejala klinis / laboratoris Angka

Edema 3

Dermatosis 2

Edema disertai dermatosis 6

Perubahan pada rambut 1

Hepatomegali 1

Albumin serum atau protein total serum/g %

<1,00 <3,25 7

1,00-1,49 3,25-3,99 6

1,50-1,99 4,00-4,74 5

2,00-2,49 4,75-5,49 4
2,50-2,99 5,50-6,24 3
3,00-3,49 6,25-6,99 2

3,50-3,99 7,00-7,74 1

>4,00 >7,75 0
Tabel 3.3 Klasifikasi MEP menurut McLaren

Penentuan tipe berdasarkan atas jumlah angka yang dapat dikumpulkan tiap
penderita:
0-3 angka = marasmus
4-8 angka = marasmic-kwashiorkor
9-15 angka = kwashiorkor
Cara demikian mengurangi kesalahan-kesalahan jika dibandingkan dengan
cara Wellcome Trust, akan tetapi harus dilakukan oleh seorang dokter dengan
bantuan laboratorium (Pudjiadi, 2000)

D. Klasifikasi Menurut Waterlow (1973)


Waterlow membedakan antara penyakit MEP yang terjadi akut dan
menahun.Waterlow berpendapat bahwa defisit berat terhadap
tinggimencerminkan gangguan gizi yang akut dan menyebabkan keadaan wasting
(kurus kering).Sedangkan defisit tinggi menurut umur merupakan akibat
kekurangan gizi yang berlangsung lama atau kronis. Akibatnya laju tinggi badan
akan terganggu, hingga anak akan menjadi pendek (stunting) untuk seusianya
(Pudjiadi, 2000).
Gangguan Derajat Stunting (BB/U) Wasting(BB/TB)

0 >95% >90%

1 95-90% 90-80%

2 89-85% 80-70%

3 <85% <70%

Tabel 3.5 Klasifikasi MEP menurut Waterlow


E. Klasifikasi menurut Jelliffe

Jelliffe mengklasifikasikan MEP berdasarkan berat badan (BB) menurut


umur (U) sebagai berikut:
Kategori BB/U (% baku)

MEP I 90 – 80

MEP II 80 – 70

MEP III 70 – 60

MEP IV <60

Tabel 3.6 Klasifikasi MEP menurut Jelliffe

3.3 Epidemiologi
Berdasarkan Pantauan Status Gizi (PSG) 2017 yang dilakukan Kementerian
Kesehatan, bayi usia di bawah lima tahun (Balita) yang mengalami masalah gizi
pada 2017 mencapai 17,8%, sama dengan tahun sebelumnya. Jumlah tersebut
terdiri dari Balita yang mengalami gizi buruk 3,8% dan 14% gizi kurang.Menurut
status gizi berdasarkan indeks Tinggi Badan terhadap Usia (TB/U), Balita
Indonesia yang mengalami stunting/kerdil pada tahun lalu mencapai 29,6%.
Angka ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Dengan rincian 9,8% bayi dengan
usia 0-59 bulan tersebut masuk kategori sangat pendek dan 19,8% kategori
pendek.Sedangkan menurut indeks Berat Badan terhadap Usia (BB/U) sebanyak
9,5% Balita masuk kategori kurus dan turun dibanding tahun sebelumnya.
Sedangkan Balita yang mengalami kegemukan (obesitas) mencapai 4,6%, juga
lebih rendah dari tahun sebelumnya (Kemenkes, 2018).
3.4 Etiologi

Penyebab terjadinya gizi buruk adalah inadekuatnya intake protein yang


berlansung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut antara lain:
1. Pola makan
Protein dan asam amino adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh
dan berkembang.Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup,
tidak semua makanan mengandung protein/ asam amino yang memadai.Bayi
yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI yang diberikan
ibunya, namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein dari sumber-sumber
lain (susu, telur, keju, tahu dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting
terhadap terjadi kurang energi protein, terutama pada masa peralihan ASI ke
makanan pengganti ASI.

2. Faktor sosial
Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan
sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan
makanan tertentu dan sudah berlansung turun-turun dapat menjadi hal yang
menyebabkan terjadinya kurang energi protein
3. Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga ataupun penghasilan yang rendah yang tidak dapat
memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak
terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan
proteinnya.

4. Faktor infeksi dan penyakit lain


Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi.
Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya MEP,
walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap
infeksi (Pudjiadi, 2000).

3.5 Patogenesis
1. Respon Metabolik Terhadap Pemasukan Energi Inadekuat
Gizi Buruk merupakan hasil dari tidak tercukupinya kebutuhan energi dan
nutrisi dalam waktu yang lama. Manifestasinya tergantung dari beberapa faktor,
misalnya umur, infeksi, status nutrisi awal dan kebiasaan mengurangi makan.
Pada keadaan puasa terjadi pengurangan lemak dan perubahan endokrin yang
mempunyai tujuan untuk menjaga fungsi vital dan bertahan hidup sampai
didapatkan lagi energi dari makanan. Akibatnya akan terjadi perubahan-
perubahan yaitu berkurangnya aktivitas, pertumbuhan yang lambat dan
perubahan komposisi badan. Selain itu akan terjadi penurunan laju metabolisme
dan peningkatan total cairan tubuh terutama di ekstaselular.
Hormon cortisol akan meningkat pada keadaan kelaparan dan stress.
Sekresi insulin akan menurun dan akan terjadi resistensi insulin di perifer.
Aktivitas insulin-growth faktor 1 serta efektor metabolik pertumbuhan yang
mempengaruhi hormon pertumbuhan juga berkurang. Efek keseluruhan dari
perubahan hormon ini adalah mobilisasi lemak, degradasi protein otot, dan
penurunan basal metabolic rate. Peningkatan aldosterone yang berperan dalam
kehilangan potassium sudah diikuti oleh pengurangan energi dan penurunan
sintesis adenosin trifosfat dalam sodium pump.
2. Adaptasi Terhadap Penurunan Pemasukan Protein
Selama kehilangan protein, otot skelet yang hilang akan diganti untuk
menjaga enzim yang penting dan memberikan energi untuk proses metabolisme,
sehingga terjadi proses pembentukan protein otot dan peningkatan pemecahan
yang akan memberikan asam amino essensial untuk sintesis protein dan
glukoneogenesis. Di dalam hepar, terdapat pertukaran laju sintesis dari protein
yang berbeda : sintesis albumin, transferrin dan apolipoprotein B akan menurun
sedangkan sintesis protein lain akan dijaga.
3. Perubahan Elektrolit
Pada marasmus dan kwashiorkor akan terjadi retensi sodium sehingga akan
terjadi peningkatan total sodium dalam tubuh, meskipun kadar serumnya rendah
sedangkan total potasium dalam tubuh akan menurun. Selain sodium dan
potasium, elektrolit lain juga akan berubah seperti fosfat , magnesium dan
kalsium. Hipofosfatemia ditemukan dalam anak-anak yang malnutrisi dan
berhubungan dengan tingginya angka mortalitas. Kadar fosfat yang rendah
berhubungan dengan diare dan dehidrasi. Selain hipofosfatemia, hipokalemia juga
bisa menyebabkan hipotonus dan kematian mendadak (sudden death).
4. Interaksi dengan Infeksi
Infeksi dan nutrisi saling berhubungan. Kondisi dimana pemasukan energi
dan protein yang tidak cukup berhubungan dengan kondisi peningkatan bakteri
dan mikroba lain. Produk makanan yang berasal dari daging seperti daging merah,
daging unggas, ikan, susu dan telur merupakan sumber nutrisi yang penting untuk
melawan infeksi. Lemak dibutuhkan untuk memfasilitasi penyerapan dari vitamin
seperti E, D dan A serta untuk menjaga infeksi. Selama infeksi, terdapat
perubahan metabolik yang akan meningkatkan produksi protein fase akut.
Produksi protein fase akut dan perubahan metabolik pada infeksi diperantarai oleh
sitokin, lipid-derived factor termasuk prostaglandin, leukotrien, dan platelet
aktivating factor. Perubahan endokrin juga berperan; hormon-hormon katabolik
juga meningkat seperti glukokortikoid, glukagon, dan epinefrin. Sebagai
tambahan bahwa perubahan efek metabolisme terhadap infeksi sesuai dengan
status nutrisinya.
5. Sitokin
Sintesin sitokin dipercepat oleh infeksi, trauma, iskemi dan keadaan lain.
Sitokin berperan dalam metabolisme protein dan otot, puasa, dan cachexia pada
kanker. Pada anak yang malnutrisi berat didapatkan penurunan reaksi inflamasi
dan menumpulnya respon febrile.
6. Protein Fase Akut
Sitokin memodulasi pembentukan protein fase akut. Pembentukan protein
tersebut adalah di dalam hati dan meningkat bila ada stress seperti infeksi. Pada
anak malnutrisi berat akan terjadi penurunan protein fase akut negatif seperti
albumin, prealbumin, fibronektin dan retinol binding protein. Hal tersebut akan
mengakibatkan meningkatnya sistesis protein dalam hepar.
7. Kwashiorkor

Kwashiorkor berhubungan dengan kurangnya diet protein dan edema yang


terjadi adalah akibat dari rendahnya albumin, namun ada pendapat yang
mengatakan bahwa kwashiorkor tergantung dari intake energi bukan protein dan
edema tidak tergantung dari albumin (Pudjiadi, 2000)

3.6 Manifestasi Klinis


Marasmus Kwashiorkor Marasmik
Kwashiorkor

 Pertumbuhan  Perubahan mental  Terlihat sangat kurus.


berkurang atau sampai apatis  Edema.
berhenti  Anemia  BB/TB < -3 SD.
 Terlihat sangat kurus  Perubahan warna dan  LILA< 11,5 cm
 Penampilan wajah tekstur rambut, mudah
seperti orangtua dicabut / rontok
 Perubahan mental  Gangguan sistem
 Cengeng gastrointestinal
 Kulit kering, dingin,  Pembesaran hati
mengendor, keriput  Perubahan kulit
 Lemak subkutan  Atrofi otot
menghilang hingga  Edema simetris pada
turgor kulit berkurang kedua punggung kaki,
 Otot atrofi sehingga dapat sampai seluruh
kontur tulang terlihat tubuh.
jelas
 Vena superfisialis
tampak jelas
 Ubun – ubun besar
cekung
 tulang pipi dan dagu
kelihatan menonjol
 mata tampak besar dan
dalam
 Kadang terdapat
bradikardi
 Tekanan darah lebih
rendah dibandingkan
anak sebaya
*Manifestasi klinis dari marasmic-kwashiorkor merupakan campuran gejala
marasmus dan kwashiorkor
Gambar 2.1 Perbedaan marasmus dan kwarshiorkor

3.7 Diagnosis
1. Anamnesis
Keluhan yang sering ditemukan adalah pertumbuhan yang kurang, anak
kurus, atau berat badannya kurang. Selain itu ada keluhan anak kurang / tidak mau
makan, sering menderita sakit yang berulang atau timbulnya bengkak pada kedua
kaki, kadang sampai seluruh tubuh (IDAI, 2010).

2. Pemeriksaan fisik
 MEP ringan
Sering ditemukan gangguan pertumbuhan:
- Anak tampak kurus.
- Pertumbuhan linier berkurang atau terhenti.
- Berat badan tidak bertambah,bahkan turun.
- Ukuran lingkar lengan atas lebih kecil dari normal.
- Maturasi tulang terlambat.
- Rasio berat badan terhadap tinggi badan normal/ menurun.
- Tebal lipatan kulit normal atau berkurang.
- Anemia ringan
- Aktivitas dan perhatian berkurang jika dibandingkan dengan anak sehat.
 MEP berat/Gizi Buruk
- Kwashiorkor.
- Marasmus.
- Marasmik-kwashiorkor.
Kriteria diagnosis: terlihat sangat kurus, edema nutrisional (simetris),
BB/TB <-3SD, lingkar lengan atas <11,5 cm(IDAI, 2010).
Berikut bagan alur pemeriksaan yang dapat di gunakan untuk menentukan
langkah-langkah yang dilakukan dalam menangani penemuan kasus anak gizi

buruk berdasarkan kategori yang telah ditentukan (Kemenkes, Bagan Tatalaksana


Anak Gizi Buruk Buku I, 2011)
Pada puskesmas juga terdapat bagan alur pemeriksaan yang dapat di
gunakan untuk menentukan langkah-langkah yang dilakukan dalam menangani
penemuan kasus anak gizi buruk
Penentuan status gizi dapat ditentukan secara klinis dan antropometri (disesuaikan
dengan grafik WHO):
Status gizi Klinis Antropometri (BB/TB-
PB)
Gizi buruk Tampak sangat kurus dan < -3 SD
atau edema pada kedua
punggung kaki sampai
seluruh tubuh.
Gizi kurang Tampak kurus -3 SD - < -2 SD
Gizi baik Tampak sehat -2 SD – 2SD
Gizi lebih Tampak gemuk >2 SD
3. Pemeriksaan Penunjang
Penemuan hasil laboratorium sebagai berikut :
1. Konsentrasi total protein serum dan terutama albumin secara nyata berkurang
pada KEP edematus, dan normal atau rendah pada marasmus.
2. Hemoglobin dan hematokrit biasanya rendah, terlebih pada kwashiorkor
daripada marasmus.
3. Rasio asam amino nonesensial dan esensial plasma meningkat pada
kwashiorkor dan biasanya normal pada marasmus.
4. Level Free Fatty Acid (FFA) serum meningkat, terutama pada kwashiorkor.
5. Level glukosa darah normal atau rendah setelah 6 hari atau lebih.
6. Eksresi urin kreatinin, hidroksiprolin, 3-metil histidin, dan urea nitrogen
rendah.
Banyak perubahan biokimia lain yang sudah diterangkan pada gizi buruk,
meskipun mempunyai sedikit pengaruh pada diagnosis penyakit.
Penelitian histopatologis menunjukkan atrofi nonspesifik, terutama pada
jaringan dengan angka turnover sel yang besar seperti mukosa usus, sumsum
tulang merah, dan epitel testikular, sedangkan pada vili usus dan enterosit
kehilangan penampakan columnarnya. Perubahan kulit terdiri atas atrofi dermal,
ekimosis, ulserasi, dan deskuamasi hiperkeratosis, terlihat pada daerah yang
iritasi. Hepar pada kwashiorkor besar dengan infiltrasi lemak; lemak periportal
terlihat pertama dan berlanjut sejalan dengan meningkatnya kehebatan penyakit.

3.8 Penatalaksanaan
Perlu diketahui ada tidaknya tanda bahaya dan tanda penting pada pasien
gizi buruk, yaitu (Kemenkes, Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk Buku I, 2011)
Kondisi I
Jika ditemukan: Renjatan (syok), letargis, muntah dan atau diare atau
dehidrasi. Lakukan Rencana I, dengan tindakan segera, yaitu (Kemenkes, Bagan
Tatalaksana Anak Gizi Buruk Buku I, 2011)
1. Pasang O2 1-2 L/menit
2. Pasang infus Ringer Laktat dan Dextrosa / Glukosa 10% dengan
perbandingan 1:1 (RLG 5%)
3. Berikan glukosa 10% intravena (IV) bolus, dosis 5ml/kgBB bersamaan
dengan
4. ReSoMal 5ml/kgBB melalui NGT

Kondisi II
Jika ditemukan: letargis, muntah dan atau diare atau dehidrasi.Lakukan
Rencana II, dengan tindakan segera, yaitu (Kemenkes, Bagan Tatalaksana Anak
Gizi Buruk Buku I, 2011)
1. Berikan bolus glukosa 10 % intravena, 5ml/kgBB
2. Lanjutkan dengan glukosa atau larutan gula pasir 10% melalui NGT sebanyak
50ml
3. 2 jam pertama
 berikan ReSoMal secara Oral/NGT setiap 30 menit, dosis : 5ml/kgBB
setiap pemberian
 catat nadi, frekuensi nafas dan pemberian ReSoMal setiap 30 menit

Kondisi III
Jika ditemukan: muntah dan atau diare atau dehidrasi.Lakukan Rencana III,
dengan tindakan segera, yaitu (Kemenkes, Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk
Buku I, 2011)
1. Berikan 50ml glukosa atau larutan gula pasir 10% (oral/NGT)
2. 2 Jam pertama
 berikan ReSoMal secara oral / NGT setiap 30 menit, dosis 5ml/kgBB
setiap pemberian
 catat nadi, frekuensi nafas dan beri ReSoMal setiap 30 menit

Kondisi IV
Jika ditemukan: letargis. Lakukan Rencana IV, dengan tindakan segera,
yaitu (Kemenkes, Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk Buku I, 2011)
1. Berikan bolus glukosa 10% intravena, 5ml/kgBB
2. Lanjutkan dengan glukosa atau larutan gula pasir 10% melalui NGT sebanyak
50ml
3. 2 jam pertama
 berikan F 75 setiap 30 menit, . dari dosis untuk 2 jam sesuai dengan berat
badan (NGT)
 catat nadi, frekuensi nafas

Kondisi V
Jika tidak ditemukan: renjatan (syok), letargis, muntah dan atau diare atau
dehidrasi. Lakukan Rencana V, dengan tindakan segera, yaitu (Kemenkes, Bagan
Tatalaksana Anak Gizi Buruk Buku I, 2011)
1. Berikan 50ml glukosa atau larutan gula pasir 10% oral
2. Catat nadi, pernafasan dan kesadaran
Gizi buruk ditatalaksana melalui 3 fase (stabilisasi, transisi, dan
rehabilitasi) dengan 10 langkah tindakan seperti pada tabel dibawah
ini(Kemenkes, Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk Buku I, 2011)

Sepuluh Langkah Utama Pada Tata Laksana Gizi Buruk


1. Pengobatan atau pencegahan hipoglikemia (kadar gula dalam darah
rendah)
Hipoglikemia merupakan salah satu penyebab kematian pada anak dengan
Gizi buruk.Pada hipoglikemia, anak terlihat lemah, suhu tubuh rendah. Jika anak
sadar dan dapat menerima makanan usahakan memberikan makanan saring/cair 2-
3 jam sekali. Jika anak tidak dapat makan (tetapi masih dapat minum) berikan air
gula dengan sendok. Jika anak mengalami gangguan kesadaran, berikan infus
cairan glukosa dan segera rujuk ke rumah sakit
2. Pengobatan dan pencegahan hipotermia (suhu tubuh rendah)
Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah dibawah 360 C. Pada
keadaan ini anak harus dihangatkan. Cara yang dapat dilakukan adalah ibu atau
orang dewasa lain mendekap anak di dadanya lalu ditutupi selimut (Metode
Kanguru). Perlu dijaga agar anak tetap dapat bernafas. Cara lain adalah dengan
membungkus anak dengan selimut tebal, dan meletakkan lampu didekatnya.
Lampu tersebut tidak boleh terlalu dekat apalagi sampai menyentuh anak. Selama
masa penghangatan ini dilakukan pengukuran suhu anak padadubur (bukan
ketiak) setiap setengah jam sekali. Jika suhu anak sudah normal dan stabil, tetap
dibungkus dengan selimut atau pakaian rangkap agar anak tidak jatuh kembali
pada keadaan hipothermia.Tidak dibenarkan penghangatan anak dengan
menggunakan botol berisi air panas.

3. Pengobatan dan Pencegahan kekurangan cairan


Tanda klinis yang sering dijumpai pada anak penderita Gizi buruk dengan
dehidrasi adalah :
 Ada riwayat diare sebelumnya
 Anak sangat kehausan
 Mata cekung
 Nadi lemah
 Tangan dan kaki teraba dingin
Anak tidak buang air kecil dalam waktu cukup lama.
Tindakan yang dapat dilakukan adalah :
 Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap setengah jam
sekali tanpa berhenti. Jika anak masih dapat minum, lakukan tindakan
rehidrasi oral dengan memberi minum anak 50 ml (3 sendok makan) setiap 30
menit dengan sendok. Cairan rehidrasi oral khusus untuk gizi buruk disebut
ReSoMal
 Jika tidak ada ReSoMal untuk anak dengan Gizi buruk dapat menggunakan
oralit yang diencerkan 2 kali. Jika anak tidak dapat minum, lakukankan
rehidrasi intravena (infus) cairan Ringer Laktat/Glukosa 5 % dan NaCL
dengan perbandingan 1:1.
4. Lakukan pemulihan gangguan keseimbangan elektrolit
Pada semua Gizi buruk terjadi gangguan keseimbangan elektrolit diantaranya:

 Kelebihan natrium (Na) tubuh, walaupun kadar Na plasma rendah.


 Defisiensi kalium (K) dan magnesium (Mg)
Ketidakseimbangan elektrolit ini memicu terjadinya edema dan, untuk
pemulihan keseimbangan elektrolit diperlukan waktu paling sedikit 2 minggu.

 Pengobatan dengan diuretik tidak diperbolehkan

Berikan:
- Makanan tanpa diberi garam/rendah garam
- Untuk rehidrasi, berikan cairan oralit 1 liter yang diencerkan 2 X (dengan
penambahan 1 liter air) ditambah 4 gr KCL dan 50 gr gula atau bila balita
gizi buruk bisa makan berikan bahan makanan yang banyak mengandung
mineral (Zn, Cuprum, Mangan, Magnesium, Kalium) dalam bentuk makanan
lumat/lunak.

Contoh bahan makanan sumber mineral


Sumber Zink : daging sapi, hati, makanan laut, kacang tanah, telur
ayam

Sumber Cuprum : daging, hati.


Sumber Mangan : beras, kacang tanah, kedelai.

Sumber Magnesium : kacang-kacangan, bayam.


Sumber Kalium : jus tomat, pisang, kacang2an, apel, alpukat,
5. Lakukan Pengobatan dan pencegahan infeksi

Pada Gizi buruk, tanda yang umumnya menunjukkan adanya infeksi seperti
demam seringkali tidak tampak, oleh karena itu pada semua Gizi buruk secara
rutin diberikan antibiotik spektrum luas dengan dosis sebagai berikut :

Antibiotik Spektrum Luas pada Gizi Buruk


UMUR KOTRIMOKSASOL AMOKSISILIN
ATAU (Trimetoprim + Sulfametoksazol)  Beri 3 kali
BERAT  Beri 2 kali sehari selama 5 hari sehari
BADAN untuk 5
hari
Tablet dewasa Tablet Anak Sirup/5ml Sirup
80 mg 20 mg 40 mg
trimetoprim + trimetoprim + trimetoprim 125 mg
400mg 100mg + 200 mg per 5 ml
sulfametoksazo sulfametoksazol sulfametoks
l azol
2 sampai 4 bulan
(4 - < 6 kg) ¼ 1 2,5 ml 2,5 ml
4 sampai 12 bulan
(6 - < 10 Kg) ½ 2 5 ml 5 ml
12 bln s/d 5 thn
(10 - < 19 Kg) 1 3 7,5 ml 10 ml

Vaksinasi Campak bila anak belum diimunisasi dan umur sudah mencapai 9
bulan
Catatan :
 Mengingat Gizi buruk umumnya juga menderita penyakit infeksi, maka
lakukan pengobatan untuk mencegah agar infeksi tidak menjadi lebih parah.
Bila tidak ada perbaikan atau terjadi komplikasi rujuk ke Rumah Sakit
Umum.
 Diare biasanya menyertai Gizi buruk, akan tetapi akan berkurang dengan
sendirinya pada pemberian makanan secara hati-hati. Berikan metronidasol
7,5 mg/Kgbb setiap 8 jam selama 7 hari. Bila diare berlanjut segera rujuk ke
rumah sakit
6. Pemberian makanan balita Gizi buruk
Pemberian diet Gizi buruk dibagi dalam 3 fase, yaitu :
Fase Stabilisasi, Fase Transisi, Fase Rehabilitasi
Fase Stabilisasi ( 1-2 hari)
Pada awal fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat hati-hati, karena
keadaan faali anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang.Pemberian
makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan dirancang sedemikian
rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi metabolisme basal
saja.Formula khusus seperti Formula WHO 75/modifikasi/Modisco ½ yang
dianjurkan dan jadwal pemberian makanan harus disusun sedemikian rupa agar
dapat mencapai prinsip tersebut diatas dengan persyaratan diet sebagai berikut:

- Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa


- Energi : 100 kkal/kg/hari
- Protein : 1-1.5 gr/kg bb/hari
- Cairan : 130 ml/kg bb/hari (jika ada edema berat 100 ml/Kg bb/hari)
- Bila anak mendapat ASI teruskan , dianjurkan memberi Formula WHO
75/pengganti/Modisco ½ dengan menggunakan cangkir/gelas, bila anak
terlalu lemah berikan dengan sendok/pipet
- Pemberian Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ atau pengganti dan jadwal
pemberian makanan harus disusun sesuai dengan kebutuhan anak.
Keterangan :
 Pada anak dengan selera makan baik dan tidak edema, maka tahapan
pemberian formula bisa lebih cepat dalam waktu 2-3 hari (setiap 2 jam)
 Bila pasien tidak dapat menghabiskan Formula WHO 75/pengganti/Modisco
½ dalam sehari, maka berikan sisa formula tersebut melalui pipa nasogastrik
( dibutuhkan ketrampilan petugas )
 Pada fase ini jangan beri makanan lebih dari 100 Kkal/Kg bb/hari
 Pada hari 3 s/d 4 frekwensi pemberian formula diturunkan menjadi setiap jam
dan pada hari ke 5 s/d 7 diturunkan lagi menjadi setiap 4 jam
 Lanjutkan pemberian makan sampai hari ke 7 (akhir minggu 1)
Pantau dan catat :
- Jumlah yang diberikan dan sisanya
- Banyaknya muntah
- Frekuensi buang air besar dan konsistensi tinja
- Berat badan (harian)
selama fase ini diare secara perlahan berkurang pada penderita dengan
edema , mula-mula berat badannya akan berkurang kemudian berat badan
naik

7. Perhatikan masa tumbuh kejar balita (catch- up growth)


Pada fase ini meliputi 2 fase yaitu fase transisi dan fase rehabilitasi :

Fase Transisi (minggu ke 2)


 Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara berlahan-lahan untuk
menghindari risiko gagal jantung, yang dapat terjadi bila anak mengkonsumsi
makanan dalam jumlah banyak secara mendadak.
 Ganti formula khusus awal (energi 75 Kkal dan protein 0.9-1.0 g per 100 ml)
dengan formula khusus lanjutan (energi 100 Kkal dan protein 2.9 gram per
100 ml) dalam jangka waktu 48 jam. Modifikasi bubur/makanan keluarga
dapat digunakan asalkan dengan kandungan energi dan protein yang sama.
 Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali, sampai hanya sedikit formula
tersisa, biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgbb/kali pemberian (200
ml/kgbb/hari).
Pemantauan pada fase transisi:
1. Frekuensi nafas
2. Frekuensi denyut nadi
Bila terjadi peningkatan detak nafas >5 kali/menit dan denyut nadi > 25
kali/menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan, kurangi volume
pemberian formula. Setelah normal kembali, ulangi menaikkan volume
seperti di atas.
3. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan
Setelah fase transisi dilampaui, anak diberi:
- Formula WHO 100/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak terbatas dan
sering.
- Energi : 150-220 Kkal/kg bb/hari
- Protein 4-6 gram/kg bb/hari
- Bila anak masih mendapat ASI, teruskan, tetapi juga beri formula WHO
100/Pengganti/Modisco 1, karena energi dan protein ASI tidak akan
mencukupi untuk tumbuh-kejar.

Setelah fase rehabilitasi (minggu ke 3-7) anak diberi :


- Formula WHO-F 135/pengganti/Modisco 1½ dengan jumlah tidak terbatas
dan sering
- Energi : 150-220 kkal/kgbb/hari
- Protein 4-6 g/kgbb/hari
- Bila anak masih mendapat ASI, teruskan ASI, ditambah dengan makanan
Formula ( lampiran 2 ) karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi
untuk tumbuh-kejar.
- Secara perlahan diperkenalkan makanan keluarga
Pemantauan fase rehabilitasi
Kemajuan dinilai berdasarkan kecepatan pertambahan badan :
- Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan.
- Setiap minggu kenaikan bb dihitung.
 Baik bila kenaikan bb 50 g/Kg bb/minggu.
 Kurang bila kenaikan bb < 50 g/Kg bb/minggu, perlu re-evaluasi menyeluruh.

8. Lakukan penanggulangan kekurangan zat gizi mikro


Semua pasien Gizi buruk, mengalami kurang vitamin dan mineral.Walaupun
anemia biasa terjadi, jangan tergesa-gesa memberikan preparat besi (Fe).Tunggu
sampai anak mau makan dan berat badannya mulai naik (biasanya pada minggu
ke 2).Pemberian besi pada masa stabilisasi dapat memperburuk keadaan
infeksinya.
Berikan setiap hari :
 Tambahan multivitamin lain, vitamin A (dosis sesuai usia, yaitu <6 bulan:
50.000 SI, 6-12 bulan: 100.000 SI, >1 tahun: 200.000 SI) pada awal
perawatan dan hari ke-15 atau sebelum pulang.
 Khusus asam folat hari pertama 5 mg, selanjutnya 1 mg per hari.
 Bila berat badan mulai naik berikan zat besi dalam bentuk tablet besi folat
atau sirup besi dengan dosis sebagai berikut
Dosis Pemberian Tablet Besi Folat dan Sirup Besi
UMUR DAN TABLET SIRUP BESI
BERAT BADAN BESI/FOLAT Sulfas ferosus 150 ml
Sulfas ferosus 200 mg  Berikan 3 kali sehari
+ 0,25 mg Asam Folat
 Berikan 3 kali sehari
6 sampai 12 bulan ¼ tablet 2,5 ml (1/2 sendok teh)
(7 - < 10 Kg)
12 bulan sampai 5 ½ tablet 5 ml (1 sendok teh)
tahun

 Bila diduga menderita kecacingan berikan Pirantel Pamoat dosis tunggal:


Umur atau Berat Badan Pirantel Pamoat (125mg/Tablet)
(Dosis Tunggal)
4 bulan sampai 9 bulan (6-<8 Kg) ½ tablet
9 bulan sampai 1 tahun (8-<10 Kg) ¾ tablet
1 tahun sampai 3 tahun (10-<14 Kg) 1 tablet
3 Tahun sampai 5 tahun (14-<19 Kg) 1 ½ tablet

Vitamin A oral berikan 1 kali dengan dosis


Umur Kapsul Vitamin A Kapsul Vitamin A
200.000 IU 100.000 IU
6 bln sampai 12 bln - 1 kapsul
12 bln sampai 5 Thn 1 kapsul -
Dosis tambahan disesuaikan dengan baku pedoman pemberian kapsul Vitamin A

9. Berikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional


Pada gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku,
karenanya berikan :

- Kasih sayang
- Ciptakan lingkungan yang menyenangkan
- Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15 – 30 menit/hari
- Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh
- Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain dsb)

10. Persiapan untuk tindak lanjut di rumah


Bila berat badan anak sudah berada di garis warna kuning anak dapa1t
dirawat di rumah dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau bidan di
desa.Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan
dirumah setelah pasien dipulangkan dan ikuti pemberian makanan seperti pada
lampiran 5, dan aktifitas bermain. 10,11

Nasehatkan kepada orang tuauntuk:


 Melakukan kunjungan ulang setiap minggu, periksa secara teratur di
Puskesmas
 Pelayanan di PPG (lihat bagian pelayanan PPG) untuk memperoleh PMT-
Pemulihan selama 90 hari. Ikuti nasehat pemberian makanan (lihat lampiran
5) dan berat badan anak selalu ditimbang setiap bulan secara teratur di
posyandu/puskesmas.
 pemberian makan yang sering dengan kandungan energi dan nutrien yang
padat
 penerapan terapi bermain dengan kelompok bermain atau Posyandu
 Pemberian suntikan imunisasi sesuai jadwal
 Anjurkan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI atau 100.000
SI ) sesuai umur anak setiap Bulan Februari dan Agustus.
Suportif/ Dietetik
 Oral (enteral)
- Gizi kurang kebutuhan energi dihitung sesuai RDA untuk umur TB (height-
age) dikalikan berat badan ideal.
- Gizi buruk ditatalaksana sesuai pelaksanaan rawat inap dengan fase
stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi.
 Intravena (parenteral): hanya atas indikasi tepat.

Komposisi pembuatan resomal.

Pelaksanaan Rawat Inap


Penerapan tatalaksana anak gizi buruk yang dirawat inap:
a. Pelayanan Medis, keperawatan dan konseling gizi sesuai dengan penyakit
penyerta/penyulit.
b. Pemberian formula dan makanan sesuai dengan fase sebagai berikut:

Komposisi F75, F100, dan F135 beserta nilai gizi masing-masing formula.
Kriteria sembuh:
Bila BB/TB atau BB/PB > -2 SD dan tidak ada gejala klinis dan memenuhi
kriteria pulang sebagai berikut:
 Edema sudah berkurang atau hilang, anak sadar dan aktif.
 BB/PB atau BB/TB > -3 SD.
 Komplikasi sudah teratasi .
 Ibu telah mendapat konseling gizi.
 Ada kenaikan BB sekitar 50 g/kgBB/minggu selama 2 minggu berturut-turut.
 Selera makan sudah baik, makanan yang diberikan dapat dihabiskan.
Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan
Selama perawatan di PPG anak diberikan stimulasi tumbuh kembang dengan APE
sesuai umur dan kondisi anak mulai dari fase stabilisasi, transisi maupun
rehabilitasi, karena anak gizi buruk sering terjadi keterlambatan tumbuh kembang
seperti gangguan motorik dan sensorik. Kegiatan ini mengacu pada Buku
Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang
Anak di tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar (Kemenkes, 2011).
Pelaksanaan Rawat Jalan
a. Pemberian konseling
 Menyampaikan informasi kepada ibu/pengasuhtentang hasil penilaian
pertumbuhan anak
 Mewawancarai ibu untuk mencari penyebab kuranggizi
 Memberi nasihat sesuai penyebab kurang gizi
 Memberikan anjuran pemberian makan sesuaiumur dan kondisi anak dan
cara menyiapkan makanformula, melaksanakan anjuran makan dan
memilihatau mengganti makanan
b. Pemberian paket obat dan makanan untuk pemulihan gizi
 Bila pada saat kunjungan ke puskesmas anak dalam keadaan sakit, maka
oleh tenaga kesehatan anak diperiksa dan diberikan obat
 Vitamin A dosis tinggi diberikan pada anak gizi buruk dengan dosis sesuai
umur pada saat pertama kali ditemukan
c. Kunjungan Rumah
d. Rujukan
Pelayanan pemulihan anak gizi buruk dilaksanakan sampai dengan anak
berstatus gizi kurang (-2 SD sampai -3 SD). Pelayanan anak gizi buruk
dilakukan dengan frekuensi sebagai berikut:
 3 bulan pertama, anak gizi buruk datang dan diperiksa setiap minggu.
 Bulan ke 4 sampai ke 6, anak gizi buruk diperiksa setiap 2 minggu.
Anak yang belum dapat mencapai status gizi kurang (-2 SD sampai -3 SD, dan
tidak ada edema) dalam waktu 6 bulan, dapat melanjutkan kembali proses
pemulihan, dengan ketentuan, jika:
 Masih berstatus gizi buruk, rujuk ke RS atau Puskesmas Perawatan atau
Pusat Pemulihan Gizi (PPG).
 Sudah berstatus gizi kurang, maka dilanjutkan dengan program pemberian
makanan tambahan dan konseling (Kemenkes, 2011).
3.9 Komplikasi
Pada anak dengan gizi buruk dapat ditemukan penyakit penyerta antara lain :
 Masalah pada mata
 Anemia berat
 Lesi kulit pada kwashiorkor
 Diare persisten (giardiasis dan kerusakan mukosa usus, intoleransi laktosa,
diare osmotik)

Penyakit penyerta yang dapat terjadi pada obesitas adalah antara lain:
- Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskuler
- Diabetes Mellitus tipe-2
- Obstruktive sleep apnea
- Gangguan ortopedik
- Pseudotumor serebri
-
3.10 Prognosis

Malnutrisi yang hebat mempunyai angka kematian yang tinggi, kematian


sering disebabkan oleh karena infeksi, sering tidak dapat dibedakan antara
kematian karena infeksi atau karena malnutrisi sendiri. Prognosis tergantung dari
stadium saat pengobatan mulai dilaksanakan. Dalam beberapa hal walaupun
kelihatannya pengobatan adekuat, bila penyakitnya progesif kematian tidak dapat
dihindari, mungkin disebabkan perubahan yang irrever-sibel dari set-sel tubuh
akibat under nutrition maupun overnutrition.
BAB 4
PEMBAHASAN
a. Anamnesis
Fakta Teori
Keluhan : Keluhan yang sering ditemukan
 Muntah-muntah 10 hari, 2- adalah pertumbuhan yang kurang,
3x/hari. Muntah dapat terjadi anak kurus, atau berat badannya
2-3x sehari. Muntah seperti kurang. Selain itu ada keluhan anak
berlendir, warna putih, kadang kurang / tidak mau makan, sering
berisi nasi dan apa yang menderita sakit yang berulang atau
dimakan, jumlahnya sedikit, timbulnya bengkak pada kedua kaki,
selalu dipicu oleh makan dulu, kadang sampai seluruh tubuh
dan tidak pernah muntah Sebagai faktor resiko :
merah atau coklat
 Pola makan yang salah
 Batuk-batuk dan demam
 Faktor sosial
selama ±2 bulan
 Faktor ekonomi
 Nafsu makannya menurun
 Faktor infeksi dan penyakit
sejak batuk-batuk dan ibu
lain
pasien merasakan anaknya
semakin tampak kurus
 Kedua kaki pasien dirasakan
bengkak oleh ibu pasien sejak
beberapa hari
Riwayat :
 Alergi pada pampers
Faktor Resiko :
 Serumah dengan keluarga
yang mengidap TB dalam
pengobatan OAT
 Sosial ekonomi menengah
b. Pemeriksaan Fisik
Fakta Teori
Keadaan umum : sakit sedang, sangat  Pertumbuhan berkurang atau
kurus berhenti
Kesadaran : Composmentis GCS  Terlihat sangat kurus
E4V5M6, cengeng  Penampilan wajah seperti orangtua
HR : 126x/menit, reguler kuat angkat  Perubahan mental
RR : 24x/menit, reguler  Cengeng
T : 35.8 C  Kulit kering, dingin, mengendor,
Pertumbuhan dan perkembangan keriput
terhambat  Lemak subkutan menghilang
Antropometri hingga turgor kulit berkurang
Usia : 1 tahun 6 bulan  Otot atrofi sehingga kontur tulang
BB : 4.700 gram terlihat jelas
PB : 65 cm  Vena superfisialis tampak jelas
BBL : 2.000 gram  Ubun – ubun besar cekung
PBL : 45 cm  Tulang pipi dan dagu kelihatan
LK : 43 cm menonjol
LILA : 9 cm  Mata tampak besar dan dalam
Status gizi : gizi buruk  Kadang terdapat bradikardi
Kepala/Leher : Tampak anemis, bibir  Perubahan mental sampai apatis
kering dan tampak krusta, mata  Anemia
tampak dalam, wajah seperti orang  Perubahan warna dan tekstur
tua, yang lain DBN rambut, mudah dicabut / rontok
Paru/Jantung : dalam batas normal  Gangguan sistem gastrointestinal
Abdomen : Turgor kulit menurun, lesi  Pembesaran hati
eritema di sekitar organ genitalia,  Perubahan kulit
yang lain DBN  Atrofi otot
Ekstremitas : Bengkak infeksi pada  Edema simetris pada kedua
ekstremitas superior dextra karena punggung kaki, dapat sampai
bekas infus, edema pada kedua seluruh tubuh
ekstremitas inferior, proksimal  Terlihat sangat kurus.
ekstremitas tampak lebih kecil  Edema.
daripada bagian distal keempat  BB/TB < -3 SD.
ekstremitas.  LILA< 11,5 cm
PB menurut usia : <-3 SD
BB menurut usia : <-3 SD
BB menurut PB : <-3 SD
LK menurut usia : <-3 SD
LILA menurut usia : <-3 SD

c. Pemeriksaan Penunjang
Fakta Teori
Lab Darah : Penemuan hasil laboratorium
Leukosit : 11.700 sel/uL sebagai berikut :
Hemoglobin : 8.6 g/dL  Konsentrasi total protein serum
Hematokrit : 26.4% dan terutama albumin turun
Trombosit : 353.000 sel/uL  Hemoglobin dan hematokrit
GDS : 45 mg/dL biasanya rendah.
Albumin : 2.0 g/dL  Rasio asam amino nonesensial
Natrium : 135 mmol/L dan esensial plasma meningkat
Kalium : 1.8 mmol/L pada kwashiorkor dan biasanya
Klorida : 107 mmol/L normal pada marasmus.
Kalsium : 6.9 mg/dL  Level Free Fatty Acid (FFA)
Ab HIV : Non Reaktif serum meningkat, terutama pada
kwashiorkor.
Foto thorax :  Level glukosa darah normal atau
Tampak pembesaran kelenjar getah rendah setelah 6 hari atau lebih.
bening di para hilus dextra

Foto Thorax : Dapat mendukung


hasil diagnosis infeksi jika
HDT : merupakan suatu komorbid atau
Susp. Hemoglobinopathy dd An. sebagai penyebab
Penyakit kronis, dd An. Def. Fe,
limfositosis relatif, trombositopenia

d. Diagnosis
Fakta Teori
Anamnesis, pemeriksaan fisik, Jika ditemukan tanda-tanda
pemeriksaan penunjang ( Lab darah, kimia marasmus dan kwarsiorkor serta
klinik, SE) keempat tanda utama yakni :
Anamnesis  Terlihat sangat kurus.
 Muntah lama  Edema.
 Batuk dan demam 2 bulan  BB/TB < -3 SD.
 Nafsu makan menurun 2 bulan  LILA< 11,5 cm

 Tampak semakin kurus  Disertai penyulit

 Kedua kaki bengkak (anoreksia, infeksi paru,

 Pernah serumah dengan penderta anemia berat, dehidrasi

TB berat, demam sangat

Pemeriksaan Fisik tinggi, penurunan


kesadaran)
 Tampak cengeng
Maka pasien termasuk Gizi
 Usia 1 tahun 6 bulan
buruk (Marasmik-Kwarsiorkor)
 BB : 4.700 gram
dengan komplikasi dan harus
 PB : 65 cm
MRS
 LK : 43 cm
 LILA 9 cm
 K/L: Tampak anemi, bibir kering
tampak lesi, mata tampak dalam,
wajah seperti orang tua
 Turgor kulit menurun
 Edema pada ekstremitas inferior.
Ekstremitas proksimal lebih kecil
daripada distal
 PB menurut usia : <-3 SD
 BB menurut usia : <-3 SD
 BB menurut PB : <-3 SD
 LK menurut usia : <-3 SD
 LILA menurut usia : <-3 SD
Pemeriksaan Penunjang
 Hb : 8.6 g/dL
 Ht : 26.4 %
 GDS : 45 mg/dL
 Albumin : 2.0 g/dL
 Kalium : 1.8 mmol/L
 Kalsium : 6.9 mg/dL

e. Penatalaksanaan
Fakta Teori
IGD : - Cari tanda bahaya dan tangani sesuai
- Bolus D10% 20 cc terapi setiap kondisi

secepatnya, cek GDS


1 jam selanjutnya
- IVFD RD5% 280 cc
dalam 10 jam
- Pasang NGT
- Diet F75 8x20 cc
- Ampisilin Sulbaktam
125 mg/8 jam/IV
- Zink 1x20 mg
- B. Complex ½ tab,
asam folat 1 tab,
vitamin C 25 mg/ - Sepuluh langkah utama pada tata laksana
1x1 pulv gizi buruk
- Metoklopramide 0.7
mg/8 jam/IV
- Albumin 20% 20 cc
1x pemberian
- 3,2 KCL + aquadest
1:1 dalam spuit 20 cc

Ruangan :
- IVFD D5 ¼ NS 280
cc/24 jam
- F50/F75 8x20 cc via
NGT
- Asam folat 1 g, B
complex ½ tab,
vitamin C 25 mg/
pulv 1x1
- Drip KCL 7.4 %
maintenance 5 cc/24
jam
- Ampicilin Sulbactam
450 mg/12 jam/IV
- Hydrocortison 1% 2x
pemberian
- Ondancentron 1.5
mg/12 jam/IV
- Koreksi Ca Glukonas
5 cc dalam NaCl
0.9% 20 cc habis
dalam 4 jam/syringe
pump
- Koreksi Albumin
20% 20 cc dalam 6
jam/syringe pump
BAB 5
PENUTUP

Gizi buruk masih merupakan masalah di Indonesia maka diperlukan


kesadaran untuk mengetahui bagaimana mencegah, mendiagnosis dan mengetahui
10 langkah penatalaksanaan gizi buruk yang telah dijelaskan di atas. Telah
dilaksanakan pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang pada pasien An. H usia 1 tahun 6 bulan dengan hasil pemeriksaan
menyatakan pasien merupakan pasien gizi buruk dengan suspek TB dan
dermatitis. Adapun menurut penulis alur diagnosis dan pelaksanaan terapi yang
dilakukan di IGD maupun ruangan sudah sesuai dengan tatalaksana seharusnya.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2003). Petunjuk teknis tatalaksana


anak gizi buruk; buku II. Jakarta: Departemen Kesehatan.

Depkes. (2008). Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktoral Jendral


Bina Kesehatan Masyarakat. Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB-Gizi
Buruk.

IDAI. (2010). Buku Ajar Endokrinologi Anak Jilid I. Jakarta.

Kemenkes. (2011). Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk Buku I. Jakarta:


Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Bina Gizi dan
Kesehatan Ibu dan Anak Direktorat Gizi.

Kemenkes. (2018). Masalah Gizi Balita Indonesia.

Pudjiadi, S. (2000). Penyakit KEP (Kurang Energi Protein). Jakarta: Edisi 4.

WHO. (2011). Buku Saku: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.