Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH ILMU LINGKUNGAN

PENCEMARAN UDARA

Dosen Pembimbing:
Wita Setianingsih, M.Pd.

Disusun oleh:
Hadafi Mahfudhoh Noor (18312244004)

Risa Nurullailiyah Sujono (18312244035)

Rizal Catur Nugroho (18312244038)

Kelas D

Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Yogyakarta
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.


Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Swt. yang telah memberi rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sebagai tindak lanjut tugas
mata kuliah Ilmu Lingkungan. Ucapan terima kasih tidak lupa kami sampaikan kepada Ibu
Wita Setianingsih, M.Pd., selaku Dosen Ilmu Lingkungan yang telah membimbing kami
dalam membuat makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan–kekurangan yang
terdapat di dalamnya. Untuk itu, kritik dan saran sangat kami butuhkan untuk menjadi lebih
baik lagi kedepannya.
Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

Yogyakarta, 8 April 2019

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah lingkungan hidup menjadi penting karena pada dasarnya lingkungan hidup
memberikan pengaruh kepada kehidupan manusia. Apabila keadaan lingkungan sebagai
tempat tinggal tidak baik kualitasnya, maka akan mengakibatkan gangguan kesehatan
(Amsyari. F, 1996: 107).
Limbah gas dan partikel merupakan limbah yang banyak dibuang ke udara. Gas atau
asap, partikulat dan debu yang dikeluarkan oleh pabrik ke udara akan dibawa ke angin
sehingga akan memperluas jangkauan pemaparannya. Bahan-bahan tersebut kemudian
akan bercampur dengan udara basah sehingga massa partikel menjadi bertambah dan
pada malam hari akan turun ke tanah bersama-sama dengan embun. Limbah industri
tersebut akan diakumulasi ke udara dan dipengaruhi kecepatan angin. Namun sumbernya
bersifat stasioner maka lingkungan sekitarnya menerima risiko dampak pencemaran yang
paling tinggi (Kristanto. P, 2004: 172).

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja permasalahan yang terjadi terkait dengan pencemaran udara?
2. Apa faktor penyebab terjadinya pencemaran udara?
3. Bagaimana cara mengatasi pencemaran udara?

C. Tujuan
1. Mengetahui permasalahan yang terjadi terkait dengan pencemaran udara.
2. Mengetahui faktor penyebab terjadinya pencemaran udara.
3. Mengetahui cara mengatasi pencemaran udara.
BAB II

ISI

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup, dalam Pasal 1 butir (1) memberikan definisi bahwa Lingkungan Hidup
adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk
manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan,
dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Maka dapat disimpulkan bahwa
Lingkungan Hidup adalah satu kesatuan, dan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia
serta makhluk lainnya (Abdurrahman, 1986:67).

Menurut Otto (2001:51), sifat lingkungan ditentukan oleh bermacam-macam faktor :


1. Jenis dan jumlah masing-masing jenis unsur lingkungan hidup tersebut; 2. Hubungan atau
interaksi antara unsur dan lingkungan hidup itu; 3. Kelakuan atau kondisi unsur lingkungan
hidup; 4. Faktor nonmaterial suhu, cahaya dan kebisingan.

Pencemaran lingkungan salah satunya terjadi akibat aktivitas manusia dan juga
industri yang kurang memperhatikan lingkungan hidupnya sehingga dalam pemeliharaan
lingkungan hidup perlu menetapkan baku mutu. Menurut Pasal 1 butir (13) Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,
menyatakan : “Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup,
zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan
hidup.”

Baku mutu lingkungan hidup ini diperlukan untuk menentukan seberapa layaknya
kualitas pada lingkungan itu sendiri. Pada saat ini, pencemaran dan atau perusakan
lingkungan hidup berlangsung dimana-mana dengan laju yang sangat cepat. Masalah
lingkungan hidup pada saat ini merupakan masalah yang banyak disorot oleh berbagai pihak,
sebab lingkungan hidup adalah sumber kebutuhan manusia dalam melangsungkan
kehidupannya.

Polusi udara
Udara adalah suatu campuran gas yang terdapat pada pada lapisan yang mengelilingi
bumi. Komposisi campuran gas tersebut tidak selalu konstan. Komponen yang
konsentrasinya paling bervariasi adalah air dalam bentuk uap H​2​O dan karbon dioksida
(CO​2​). Jumlah uap air yang terdapat di udara bervariasi tergantung dari suhu dan cuaca
(Srikandi, 1992:92).

Menurut Srikandi (1992:92), udara di alam tidak pernah ditemukan bersih tanpa
polutan sama sekali. Beberapa gas seperti sulfr dioksida(SO​2​), hidrogen sulfide (H​2​S) dan
karbon monokside (CO) selalu dibebaskan ke udara sebagai produk sampingan dari
proses-proses alami seperti aktvitas vulkanik, pembusukan sampah tanaman, kebakaran hutan
dan sebagainya. Selain itu, polusi udara juga dapat disebabkan oleh aktivitas manusia.

Sumber polusi yang utama berasal dari transportasi, di mana hampir 60% dari polutan
yang dihasilkan terdiri dari karbon monokside dan sekitar 15% terdiri dari hidrokarbon.
Sumber-suber polusi lainnya mislnya pembakaran, proses industri, pembuangan limbah, dan
lain-lain. Polutan yang utama adalah karbon monokside yang mencapai hampir setengahya
dari seluruh polutan udara yang ada (Srikandi, 1992:93).

Remediasi

Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada
dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan
on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri
dari phytoremediasi dan bioremediasi (Rosadi, 2014 : 4).

Bioremediasi berasal dari dua asal kata, yaitu bio (organisme hidup) dan remediasi
(menyehatkan kembali), sehingga secara bersama diartikan bioremediasi adalah suatu cara
penggunaan organisme dalam upaya penyehatan kembali lingkungan yang sudah rusak atau
tercemar. Dalam teknologi ini organisme hidup yang paling banyak digunakan selain
tumbuhan adalah mikroorganisme. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim yang diproduksi
oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia
polutan tersebut, sebuah peristiwa yang disebut biotransformasi. Pada banyak kasus,
biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi,
strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya
dan tidak beracun (Lumbanraja, 2014 : 2).
A. Pencemaran Udara
1. Pencemaran Kendaraan

Kendaraan merupakan alat yang digunakan untuk mengatasi kesenjangan jarak


antara suatu tempat dengan tempat lainnya. Penggunaan kendaraan memiliki
kelebihan dan kekurangan. Beberapa kelebihan yang didapatkan antara lain tidak
memerlukan banyak waktu saat perjalanan dan tidak memerlukan banyak tenaga
untuk menggerakkannya. Namun selain kelebihan tersebut, juga terdapat kekurangan
yang contohnya anatara lain terjadi kecelakaan, menyebabkan kemacetan dan
menyebabkan polusi udara.

Polusi udara akibat dari peningkatan penggunaan jumlah kendaraan bermotor


yang mengeluarkan gas-gas berbahaya akan sangat mendukung terjadinya
pencemaran udara dan salah satu akibatnya adalah adanya pemanasan global.
Hingga saat ini lebih dari 70% pencemaran udara diakibatkan oleh emisi kendaraan
(Sidik, 2016 : 1).
Aktivitas transportasi di jalan raya terus meningkat dari tahun ke tahun, hal
ini disebabkan karena semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk, peningkatan
pendapatan dan daya tarik kota yang pesat. Angka kepemilikan kendaraan
bermotor di Indonesia, terutama kota-kota besar menunjukkan kecenderungan
yang terus meningkat, sehingga menimbulkan permasalahan yang serius. Berdasarkan
data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, jumlah mobil penumpang pada tahun
2013 yaitu 11.484.514 unit (Sidik, 2016 : 1).
Bertambahnya jumlah mobil penumpang ini akan berdampak pada segala
aspek kehidupan masyarakat. Di satu pihak menunjukkan peningkatan kualitas
kehidupan masyarakat, tetapi disisi lainnya memperparah terjadinya pencemaran
udara. Hal ini disebabkan oleh gas buang yang ditimbulkan kendaraan bermotor
tersebut. Menurut Soedomo (2001) polusi udara yang ditimbulkan oleh kendaraan
bermotor sebesar 70-80%, sedangkan pencemaran udara akibat industri dan lain-lain
hanya 20-30% saja. Gas karbon monoksida (CO) dan gas hidro karbon (HC)
merupakan parameter pencemaran udara yang sangat perlu diperhatikan karena kedua
gas tersebut adalah polutan yang sangat berbahaya dari kendaraan bermotor tentunya

akan mengganggu kesehatan manusia (Sidik, 2016 : 2)​.


Untuk melindungi masyarakat terhadap bahaya polusi udara yang
disebabkan karena kendaraan dapat dikurangi dengan penggunaan bahan bakar yang
sedikitnya mencemari udara, seperti bahan bakar gas atau bahan bakar sinar
matahari. Bagi kendaraan bermotor yang sisa pembakarannya lebih banyak,
sebaiknya menggunakan jalan-jalan di pinggir kota.

2. Pencemaran Pabrik

Industri selalu diikuti masalah pencemaran lingkungan terutama yang


berhubungan dengan proses kegiatan industri tersebut. Industri-industri besar yang
menggunakan bahan bakar fosil banyak menghasilkan gas buang yang dapat
menyebabkan pencemaran udara. Gas buangan ini biasanya dibuang melalui cerobong
(​chimney​) (Lingga, 2014:11).

Menurut Lingga (2014:11), konsekuensi dari proses pembangunan industri


adalah meningkatnya limbah yang dikeluarkan oleh industri tersebut termasuk limbah
udara yang dapat merubah kualitas udara ambien. Sektor industri memberikan
sumbangsih bermakna dalam pencemaran udara di Jakarta, Bandung dan Surabaya
khususnya oksida – sulfur yang mencapai lebih 60 % dari total emisi unsur ini, NO2
disebarkan dalam persentase diatas 15 %.

Penyebab limbah asap pabrik begitu hitam adalah belum berjalannya sistem
pengolahan lebih lanjut, yakni penyerapan zat berbahaya sebelum dilepas ke udara.
Oleh karena itu, perlu adanya pengendalian pencemaran udara pabrik. Menurut Arief
(2016:16), di dalam sebuah pabrik, pengendalian pencemaran udara terdiri dari dua
bagian yaitu penanggulangan emisi debu dan penanggulangan emisi senyawa
pencemar.
a. Pemasangan ECO–SO2
Menurut Arief (2016:17), ECO (​Electric Catalyc Oxidation)​ -SO2 ialah
sejenis alat kontrol polusi udara yang diproduksi oleh Powerspan Corporation
untuk mengurangi polusi udara akibat beroperasinya PLTU yang berbahan
bakar batubara (coal), khususnya pada buangan sulphur (SO2). ECO-SO2
dikatakan mampu menurunkan kadar polusi udara dari masing-masing polutan
sbb.:
1) SO2 (sulphur) yang dapat mengakibatkan hujan asam, sampai 99%.
2) Nox (nitrogen) sampai 90%.
3) Hg (air raksa) yang mengakibatkan sesak napas / asma, antara 80 s/d
90%.
4) Partikel lain yang mengotori air serta ikan & tanah, sampai 90%.

Gambar Skema PLTU yang diberi ECO-SO2


(Sumber gambar: Arief, 2016:18)

Adapun selama ini kontrol emisi buangan PLTU dilakukan hanya dengan
cara ;
1) Menggunakan batubara yg mengandung sulphur rendah.
2) Menangkap kembali sulphur dari cerobong gas, sebelum dibuang lewat
chimney.
3) Sedang kontrol Nox dilakukan dengan pembakaran pada suhu lebih rendah,
karena pada suhu tersebut lebih sedikit Nox terbentuk.

b. Penanggulangan dengan Alat Koagulasi Listrik


Asap dan debu dari pabrik/ industri dapat digumpalkan dengan alat
koagulasi listrik dari Cottrel. Pengendap Cottrel ini banyak digunakan dalam
industri untuk dua tujuan, yakti mencegah udara mengandung buangan beracun
atau memperoleh kembali debu yang berharga (misal debu logam) (Arief, 2016:
19)
Gambar Skema Alat Koagulasi Listrik
(Sumber gambar : Arief, 2016: 19)

3. Pencemaran Rokok

Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, polusi udara bisa dibedakan menjadi
polusi udara terbuka yaitu polusi yang terjadi di jalan raya yang dilalui kendaraan
bermotor, di sekitar daerah industri, dalam kendaraan bus umum yang terbuka, dan
lain-lain; dan polusi udara tertutup yaitu polusi dalam rumah, gedung, kendaran
tertutup, dan lain-lain. Sumber pencemaran udara terbuka adalah gas yang
dikeluarkan knalpot kendaraan bermotor, industri, dan pencemaran dari energi rumah
tangga. Sedangkan sumber polusi udara tertutup yang terbanyak adalah asap rokok,
cat dinding ruangan, asap dari energi yang digunakan dalam rumah tangga dan
lain-lain (Mangku,2008:326)

Pencemaran udara ruangan selainbersumber dari pencemaran udara luar juga


bersumber dari rokok. H.C. Perkins dalam buku Air Pollution (1990) menyatakan
bahwa merokok satu batang rokok artinya mengisap 0,5 mikro gram timah hitam (Pb)
dan gas karbon monoksida (CO) sejumlah 20 ppm (Mangku,2008:326).
Menurut survai pendahuluan yang telah peneliti lakukan pada sopir bus di
Terminal Tirtonadi, kebiasaaan merokok yang dilakukan sopir bussaat menyetir
maupun sedang istirahat yang mereka lakukan biasanya menghabiskan rokok hingga
10-20 batang perhari. Kandungan nikotin yang terdapat pada rokok dapat memberikan
efek sedatif sehingga seseorang merasa relaks. Efek stimulan dari nikotin dipakai
untuk konsentrasi, mencegah kelelahan dan mengurangi stres (Ikawati, 2010).

Dampak yang ditimbulkan akibat merokok adalah dapat menyebabkan


perubahan struktur dan fungsi saluran pernapasan dan jaringan paru-paru. Akibat
perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru pada perokok
akan timbul permasalahan fungsi paru dengan segala macam gejala klinisnya (Jaya,
2009)

4. Pencemaran Kebakaran

Emisi polutan ke udara dari sisa pembakaran hutan dengan kadar konsentrasi
yang tinggi dapat menyebabkan proses sebaran udara tidak bisa tercampur dengan
baik sehingga tidak dapat mengangkut bahan pencemar secara efektif. Akibatnya,
wujud fenomena pencemaran udara seperti asap banyak terdapat di wilayah yang
bersangkutan. Bahan pencemar yang meningkat kepekatannya akibat kelemahan
proses sebaran udara bisa memberi dampak negatif secara fisik terutama pada
ekosistem dan kesehatan manusia.

Pada umumnya, puncak pencemaran udara di suatu kawasan bisa dikaitkan


dengan dua sumber polutan yaitu sumber lokal dan sumber luar. Sumber lokal yang
paling besar pengaruhnya adalah kendaraan bermotor, kilang industri, pembakaran
sampah, dan juga dari pertanian (Stern A.C., et all, 1984, Fisher B., et all, 2006).
Sumber luar yaitu pergerakan pencemar dari sumbernya yang berasal dari wilayah
lain (Harjanto W dkk., 2004). Seperti asap yang pekat hasil pembakaran hutan dari P.
Sumatera dapat dirasakan oleh negara Malaysia terutama di kawasan yang berdekatan
dengan pantai dan tanah rendah. Episode penyebaran asap yang sampai di negara
Malaysia bisa dikatakan telah menjadi satu fenomena tahunan di Malaysia terutama di
bulan-bulan kering (Shaharuddin, 2006).
Kebakaran hutan di P. Sumatera baik yang disengaja maupun yang sifatnya
musibah sering terjadi terutama pada musim kemarau, dan peristiwa ini menghasilkan
polutan ke udara yang dapat tersebar ke daerah lain yang sangat jauh, terutama asap.
Dari hasil penelitian, konsentrasi polutan tertinggi di wilayah Sumatera terjadi pada
waktu pagi dan sore hari, dan penyebaran polutan dapat mencapai daerah lain (Sofiati
dkk., 2005). Selain itu tak menutup kemungkinan P. Sumatera berkembang menjadi
daerah dengan perkembangan industri dan transportasi yang menghasilkan polutan ke
udara.

B. Faktor Penyebab Pencemaran Udara


1. Faktor Alami

Menurut Apsari (2017: 9-10), aktivitas alami yang terjadi pada alam dapat
menimbulkan pencemaran udara di atmosfer. Kotoran – kotoran yang dihasilkan
oleh hewan ternak mengandung senyawa metana yang dapat meningkatkan suhu
bumi, pemanasan global. Proses yang serupa pada siklus nitrogen di atmosfer. Selain
itu, bencana alam seperti meletusnya gunung berapi menghasilkan abu vulkanik
yang mencemari udara sekitar yang berbahaya bagi kesehatan serta 10 tanaman.
Kebakaran hutan yang terjadi baik akan menghasilkan karbondioksida dalam jumlah
banyak yang dapat mencemari udara dan berbahaya bagi kesehatan hewan serta
manusia.

2. Faktor Buatan Penyebab Pencemaran (Aktivitas manusia)

kegiatan manusia kini kian tak terkendali, kemajuan industri dan teknologi
membawa sisi negatif bagi lingkungan karena tidak ditangani dengan baik. Berikut
merupakan pencemaran yang diakibatkan oleh aktivitas manusia:

a. Pembakaran sampah
b. Asap – asap industri
c. Asap kendaraan
d. Asap rokok
e. Senyawa- kimia buangan seperti CFC, dan lain-lain.
(Apsari, 2017: 9-10)

C. Solusi Pencemaran Udara

Upaya penanggulangan terhadap masalah pencemaran udara dapat dilakukan dengan


tindakan preventif yang dilakukan sebelum terjadinya pencemaran dan tindakan kuratif
yang dilakukan sesudah terjadinya pencemaran.

1. Usaha Preventif (Sebelum Pencemaran)


a. Mengembangkan energi alternatif dan teknologi yang ramah lingkungan.
b. Mensosialisasikan pelajaran lingkungan hidup (PLH) di sekolah dan
masyarakat.
c. Mewajibkan dilakukannya AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
bagi industri atau usaha yang menghasilkan limbah.
d. Tidak membakar sampah di pekarangan rumah.
e. Tidak merokok di dalam ruangan
f. Menanam tanaman hias di pekarangan atau di pot-pot.
g. Ikut berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan.
h. Ikut memelihara dan tidak mengganggu taman kota dan pohon pelindung.
i. Tidak melakukan penebangan hutan, pohon dan tumbuhan liar secara
sembarangan.
j. Mengurangi atau menghentikan penggunaan zat aerosol dalam penyemprotan
ruang.
k. Menghentikan penggunaan busa plastik yang mengandung CFC.
l. Mendaur ulang freon dari mobil yang ber-AC.
m. Mengurangi atau menghentikan semua penggunaan CFC dan CCl4

(Rahmadiyanti, 2010:15-16).

2. Usaha Kuratif (Sesudah Pencemaran)


a. Menggalang dana untuk mengobati dan merawat korban pencemaran
lingkungan.
b. Menggunakan penyaring pada cerobong-cerobong di kilang minyak atau pabrik
yang menghasilkan asap atau jelaga penyebab pencemaran udara.
c. Mengidentifikasi dan menganalisa serta menemukan alat atau teknologi tepat
guna yang berwawasan lingkungan setelah adanya musibah/kejadian akibat
pencemaran udara, misalnya menemukan bahan bakar dengan kandungan timbal
yang rendah (BBG)

(Rahmadiyanti, 2010:16).
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Permasalahan yang terkait pencemaran udara antara lain pencemaran kendaraan,
pencemaran pabrik, pencemaran rokok dan pencemaran kebakaran.
2. Faktor-faktor penyebab pencemaran udara terdiri dari faktor alami seperti senyawa
metana yang dihasilkan oleh hewan-hewan ternak, aktivitas gunung api dan
kebakaran hutan dan faktor buatan (aktivitas manusia) seperti pembakaran sampah,
asap – asap industri, asap kendaraan, asap rokok dan senyawa- kimia buangan seperti
CFC, dan lain-lain.
3. Upaya penanggulangan terhadap masalah pencemaran udara dapat dilakukan dengan
tindakan preventif yang dilakukan sebelum terjadinya pencemaran dan tindakan
kuratif yang dilakukan sesudah terjadinya pencemaran.
DAFTAR PUSTAKA

Amsyari. F. 1996. ​Membangun Lingkungan Sehat.​ Surabaya: Unair Press.


Apsari, Sannidya. 2017. ​Desain Air Purifier dengan Konsep Eco-Friendly dan Penambahan
Fitur Self-Watering.​ Surabaya: ITS.
Arief, Latar Muhammad. 2016. Pengolahan Limbah Gas. Diakses dari www.academia.edu
pada hari Rabu, 9 April 2019 pukul 06.50 WIB.
Ikawati Z. 2010. ​Resep Hidup Sehat. ​Yogyakarta: Kanisius.
Jaya. 2009. ​Merokok dan Kesehatan.​ Jakarta: EGC.
Kristanto. P. 2004. ​Ekologi Industri​. Andi. Yogyakarta. ​Lumbanraja, Parlindungan. 2014.
Mikroorganisme Dalam Bioremediasi.​ Sumatera Utara : Universitas Sumatera Utara.
Lingga, Titi Karista. 2014. ​Hubungan Karakteristik, Kualitas Udara Ambien (SO2 (PGSS) di
Kabupaten Deli Serdang dan Pertikel Debu) dengan Keluhan Gangguan Pernapasan
pada Masyarakat sekitar Pabrik Gula Sei Semayang​. Sumatera Utara: USU.
Rahmadiyanti, Putri. 2010. ​Polusi Udara.​ Diakses melalui ​www.academia.edu pada hari
Rabu, 9 April 2019 pada pukul 6.02 WIB.
Rosadi, Raissa. 2014. ​Pengelolaan Limbah B3 tentang “Remediasi”​. Banjarbaru: Universitas
Lambung Mangkurat.
Sidik, Ahmad Mujadid. 2016. ​Efektivitas Ionizer BBM Terhadap Penurunan Gas Kaebon
Monoksida (CO) dan Hidro Karbon (HC) Pada Kendaraan Roda Empat.​ Bandung :
Universitas Pasundan.
Sitepoe. 2008. ​Coret-coret Anak Desa Berprofesi Ganda. Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia.
Soedomo, M. 2001. ​Pencemaran Udara.​ Bandung : Penerbit ITB.
Srikandi. F. 1992. ​Polusi Air dan Udara.​ Yogyakarta: Penerbit Kanisius