Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Crypto currency tak bisa dilepaskan dari inovasi dan kemajuan teknologi
digital yang tak dapat dibendung dan makin luas memengaruhi kehidupan
manusia modern. Laju teknologi itu tidak hanya terlihat dari aktivitas berselancar
di internet dengan aplikasi Google misalnya. Lebih dari itu, teknologi digital juga
menyentuh aspek mendasar tanpa reduksi untuk menyebut sebagai satu-satunya
kebutuhan utama masyarakat modern dalam keseharian manusia, yakni uang
sebagai alat tukar.
Kita tahu bahwa uang yang umumnya berlaku di dunia saat ini ialah uang
fisik yang sudah kita kenal sejak pertama kali mendapat uang saku dari orangtua.
Tapi rupanya, di dunia modern yang dinamis ini, selain uang fisik tersebut--entah
dolar, rupiah, dinar, riyal, yen, atau yuan,ada pula uang dalam bentuk virtual yang
disebut crypto currency.
Crypto money/Crypto currency atau Uang digital sudah cukup marak
dipergunakan oleh manusia di berbagai belahan dunia, khususnya oleh orang-
orang yang kerap mencari uang tambahan via internet. Ada banyak macam mata
uang digital seperti bitcoin, Litecoin,Ethereum, Dash, Monero,Zcash,Ripple,dan
lain-lain. Salah satu jenis mata uang digital yang terkenal saat ini adalah bitcoin.
Kehadiran mata uang digital masih menjadi kontroversi di beberapa
negara. Alhasil, penggunaan bitcoin di suatu negara tidak selalu diterima
kehadirannya.
Mata uang digital berpotensi untuk membawa perubahan paling penting di
dunia finansial pada abad ini. Di satu sisi ada pemerintah, mata uang fiat, dan
dunia perbankan. Sedangkan di sisi lain ada ratusan perusahaan baru yang
didukung dengan para kriptografer jenius dalam dunia programming yang
kompleks, serta tingkat protokol keamanan yang tinggi.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Hadirnya Crypto Currency


Crypto currency terdiri dari 2 kata yaitu crypto yang artinya rahasia dan
currency yang artinya uang. Secara sederhana kita bisa mengartikan crypto
currency sebagai sebuah teknologi mata uang virtual yang mana menggunakan
sistem kriptografi untuk mengamankan transaksinya.
Tidak seperti mata uang yang setiap hari kita gunakan, crypto currency
tidak punya bentuk fisik karena memang ada di dunia virtual dan berbentuk
digital. Secara harfiah, crypto currency mungkin bisa diuraikan dari kata
cryptography (kriptografi/kode rahasia) dan currency (mata uang). Disebut
demikian karena mata uang virtual itu dibuat dengan melibatkan disiplin ilmu yang
berkaitan dengan sistem keamanan kode komunikasi atau kode-kode rahasia. Itu
pula sebabnya mengapa uang virtual itu tidak disebut, misalnya, virtual currency.
Crypto currency pertama kali dirancang oleh David Chaum, seorang
doktor ilmu komputer dan administrasi bisnis jebolan University of California,
Amerika Serikat. Pada tahun 1980-an, Chaum merancang sebuah algoritma yang
sangat aman dan memungkinkan dilakukannya enkripsi (tulisan berkode/sandi)
dalam melakukan transaksi dana elektronik.
Dikutip dari Forbes, pada akhir 1990, Chaum yang saat itu tinggal di
Belanda mendirikan perusahaan DigiCash dengan maksud sebagai sebuah
“gerbang” transaksi uang secara elektronik langsung ke individu. Sayangnya
pemerintah Belanda saat itu memberikan reaksi dengan memberlakukan
pembatasan besar pada perusahaan tersebut, yang memaksa DigiCash untuk hanya
bertransaksi ke bank-bank berlisensi.
Hal tersebut secara serius membatasi keuntungan perusahaan. Akhirnya
setelah satu dekade berjuang dan bermitra dengan Microsoft, DigiCash gulung
tikar pada 1990-an. Crypto currency baru kemudian kembali populer sejak sekitar
tahun 2010. Kepopuleran crypto currency dibawa oleh penemuan yang dikerjakan
Satoshi Nakamoto, seseorang atau mungkin sekelompok orang yang sampai saat
ini bahkan belum diketahui identitasnya alias masih misterius.

3
2.2 Perkembangan Crypto Currency
a. Di Amerika Serikat
Pada awalnya bitcoin berasal dan dikembangkan di Amerika Serikat.
Hal inilah yang membuat perkembangan bitcoin di negeri Paman Sam jauh
lebih baik apabila dibandingkan negara lain.
Meski demikian, penggunaan bitcoin di AS belum terlalu banyak
jumlahnya yaitu sekitar 25%. Penggunaan ini kebanyakan untuk pembayaran
belanja online. Bahkan, bitcoin bisa digunakan untuk membayar biaya kuliah dan
tagihan lain.
Pemerintah AS telah membuat kebijakan khusus bagi para turis yang akan
berkunjung ke wilayah tersebut. Sebelumnya peraturan yang ada hanyalah
mewajibkan pemeriksaan akun media sosial, tetapi saat ini turis wajib
menunjukkan mata uang digital yang dimiliki. Aturan baru ini digagas oleh Sen
Chuck Grassley. Undang-undang tersebut diperkenalkan pada tanggal 25 Mei
2017. Namun, tidak semua turis yang ingin ke AS wajib menunjukkan
kepemilikan bitcoin. Hal yang wajib dilakukan adalah melapor perihal
kepemilikan uang digital senilai lebih dari US$10.000 atau setara Rp132,9 juta.
Hal ini guna memastikan status finansial dan keamanan dalam penerimaan turis di
negara tersebut.
Ide ini muncul dikarenakan mata uang digital bisa dibawa ke mana saja
kapan saja tanpa ada bentuk fisik yang harus mengikuti pemilik dan sudah
dianggap menjadi barang yang berharga. Bitcoin sangat berbeda dengan mata
uang lain. Sampai saat ini masih belum diketahui secara jelas bagaimana cara AS
melihat seseorang dari nilai mata uang digital yang berjumlah ratusan juta rupiah.
AS tidak ingin mata uang tersebut digunakan untuk aktivitas terlarang.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin mengatakan, f okus utama
AS terkait perkembangan crypto currency adalah memastikan penggunaannya. Ia
mengaku, AS tidak ingin mata uang tersebut digunakan untuk aktivitas terlarang
dan mengajak negara-negara lain untuk bergabung dengan Amerika Serikat dalam
mengaturnya. Fokus nomor satu saya pada crypto currency, apakah itu mata uang
digital, Bitcoin, atau hal lainnya adalah kami ingin memastikan bahwa mereka
tidak digunakan untuk aktivitas terlarang," katanya dalam Forum Ekonomi Dunia

4
di Davos, Swiss seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (25/1). Mnuchin
mengaku tetap mendorong perkembangan fintech dan inovasi. Akan tetapi, ia
juga ingin memastikan semua pasar keuangan tetap aman. Ia pun mendesak
seluruh dunia untuk ikut memiliki regulasi yang sama. Aturan yang berlaku di
AS untuk Bitcoin dan mata uang virtual lainnya harus mematuhi peraturan terkait
anti pencucian uang.Sebanyak 100 perusahaan telah terdaftar dalam Jaringan
Penegakan Kejahatan Keuangan AS. Aturan itu mengharuskan perusahaan-
perusahaan mengajukan laporan tentang aktivitas keuangan yang mencurigakan.
Namun, saat ini masih banyak negara lain tidak memiliki persyaratan seperti itu.

b. Di Eropa
Randal Quarles, wakil ketua pengawasan Federal Reserve mengatakan,
volume crypto currency yang tersembunyi dapat menjadi "masalah" dalam hal
kebijakan moneter. Sedang Vitor Constancio, wakil presiden Bank Sentral
Eropa menilai, crypto currency bukan mata uang, tapi sebuah "tulip" -
sebagaimana merebaknya Tulip Mania pada zaman keemasan abad ke-17 di
Belanda. Gubernur Bank of England, Mark Carney, menyebut crypto currency
sebagai potensi revolusi.
Teknologi berbasis blockchain, dengan database akuntansi terdistribusi,
menunjukkan "janji besar" dalam memungkinkan bank sentral memperkuat
pertahanan mereka melawan serangan cyber dan merombak cara pembayaran
antara institusi dan konsumen. Sedangkan Belanda, menjadi salah satu negara
yang paling berani ketika harus bereksperimen dengan mata uang digital. Dua
tahun lalu De Nederlandsche Bank menciptakan uang kripto-nya sendiri, yang
disebut DNBcoin. Skandinavia (Nordic Authorities, Sweden's Riksbank,
Norway's Norges Bank), Selandia Baru (The Reserve Bank of New Zealand's),
dan Swiss (Bank for International Settlements) lebih netral melihat fenomena ini.
Bagi mereka crypto currency adalah opsi, sama dengan mata uang yang dibuat
sebelumnya, juga memiliki nilai positif dan negatif. Tinggal bagaimana
menyikapinya. Karena mata uang virtual dan bursa yang digunakan untuk
perdagangan mereka tidak diatur dalam undang-undang Uni Eropa, regulator
memperingatkan bahwa investor crypto currency tidak dilindungi jika terjadi

5
pertukaran yang keluar dari bisnis atau serangan cyber. Bulan lalu, pinjaman
crypto currency dan perusahaan pertukaran Bitconnect mengatakan bahwa
pihaknya telah mematikan platformnya setelah menerima surat berhenti dan
berhenti dari divisi sekuritas di Texas dan North Carolina. Uni Eropa bergabung
dengan sejumlah otoritas pemerintah dalam meningkatkan kepedulian terhadap
crypto currency.

c. Di Jepang
Pemerintah Jepang sudah mengesahkan bitcoin sebagai mata uang legal
untuk transaksi digital. Pengesahan ini ditandai dengan banyaknya retailer yang
menerima pembayaran dengan bitcoin. Jumlah stores yang menerima pembayaran
digital dengan bitcoin sudah lebih dari 4.500 outlet. Seperti Nikkei yang
mengalami lonjakan transaksi setelah bekerja sama dengan bitcoin menjelang
penghujung tahun 2017. Bahkan, ada camera store di Jepang yang hanya
menerima pembayaran dengan bitcoin dan tidak menerima pembayaran dalam
bentuk lain seperti uang cash yen ataupun visa/master. Proses pembelian di toko
tersebut menjadi sangat mudah dan cepat tanpa ada biaya tambahan yang
dibebankan oleh pihak ketiga.
Mai Fujimoto yang mendapatkan julukan sebagai Miss Bitcoin
berpendapat bahwa sebelum bitcoin booming di Jepang dia selalu membagikan
informasi melalui Twitter ataupun Instagram tentang mata uang digital
tersebut. Bahkan, dia sudah memulai investasi dengan bitcoin sejak tahun
2011. Menurutnya, pada saat itu orang-orang masih belum terlalu paham
tentang bitcoin.
Ia mengatakan bahwa sejak pertama kali berinvestasi hingga saat ini nilai
tukar bitcoin telah mengalami lonjakan sebesar 500%. Tentu ini merupakan
jumlah yang sangat besar. Sekalipun bitcoin telah disahkan sebagai mata uang
legal di Jepang, tetapi menurut Mai mata uang konvensional seperti Yen masih
belum tergantikan. Hal ini dikarenakan keterbatasan mesin top up bitcoin di
Jepang dan akan memakan waktu bagi orang awam untuk mengenal bitcoin dan
memahami proses penukaran dari mata uang konvensional menjadi bitcoin.

6
d. Di Indonesia
Crypto Currency salah satunya yaitu bitcoin di Indonesia mulai dikenal
pada akhir tahun 2013 yang transaksinya berpusat di Pulau Dewata Bali. yang
dikembangkan oleh salah satu situs terbesar bitcoin di Indonesia yaitu
bitcoin.co.id yang sekarang dikenal Indodax.co.id yang dalam kurun waktu
kurang dari 2 tahun mampu menarik member yang mencapai 50.000
member,yang menjadikannya market place transaksi bitcoin terbesar se Asia
Tenggara yang per harinya mampu mencapai transaksi hingga Rp 500 juta.
Bitcoin yang awalnya digunakan sebagai ivestasi emas digital kemudian
berkembang menjadi alat transaksi pembayaran.
Di Hong Kong, 1 November 2017, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani
dalam sebuah seminar menyampaikan, beberapa risiko crypto currency.
Namun dibutuhkan kajian lebih lanjut untuk mengubahnya jadi oportunitas.
Intinya, ini adalah tantangan bagi otoritas moneter untuk mengakomodasi
fenomena perkembangan teknologi demi perbaikan ekonomi. Di Indonesia
saat ini crypto currency sudah menjadi aset digital yang dapat dipertukarkan
dengan uang, tapi belum sebagai alat transaksi langsung.
Sebab secara hukum, Undang-undang No. 7 tahun 2011 tentang Mata
Uang, menyatakan bahwa mata uang adalah uang yang dikeluarkan oleh
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan setiap transaksi yang
mempunyai tujuan pembayaran, atau kewajiban lain yang harus dipenuhi
dengan uang, atau transaksi keuangan lainnya yang dilakukan di wilayah
negara kesatuan republik Indonesia wajib menggunakan rupiah.

2.3 Pengertian Crypto Currency


Istilah cryptocurrency makin diperbincangkan pasca meningkatnya
berbagai jenis uang virtual seperti Bitcoin mulai banyak diminati sebagai investasi
karena nilainya yang terus meningkat secara fluktuatif. Artikel ini akan mengulas
tentang konsep dasar cryptocurrency, bagaimana sistem di dalamnya bekerja,
fakta-fakta berkaitan dengan sistem tersebut, dan apa yang coba ditawarkan
sebagai sebuah disrupsi dalam tatanan bisnis finansial.

7
Secara etimologis, cryptocurrency tersusun dari dua kata, yakni crypto yang
merujuk pada cryptography atau bahasa persandian dalam dunia komputer
dan currency yang merujuk pada nilai mata uang. Dapat ditarik definisi
bahwa cryptocurrency adalah sebuah mekanisme mata uang digital yang dapat
digunakan untuk bertransaksi secara virtual (melalui jaringan internet) yang
dilindungi sebuah persandian komputer yang rumit. Lantas apa yang membedakan
dengan mata uang yang saat ini umum digunakan, seperti mata uang Rupiah, yang
juga sudah banyak digunakan untuk transaksi secara digital?
Cryptocurrencymemiliki sifat terdesentralisasi, sedangkan model transaksi
yang selama ini sering digunakan dalam masyarakat sifatnya tersentralisasi.
Berikut penjelasan tentang perbedaan dua sifat tersebut dalam sebuah studi kasus.
Sifat tersentralisasi dicontohkan pada model transaksi yang selama ini sering
digunakan oleh masyarakat. Misalnya dalam kasus ini dicontohkan orang tua yang
ingin mengirimkan uang kepada anaknya di perantauan, maka yang ia lakukan
ialah menggunakan layanan perbankan (ATM, Mobile Banking, atau datang
langsung ke bank terkait) lalu mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening
anaknya tersebut. Transaksi tersebut pada dasarnya dilakukan melalui perantara
bank dan layanan yang dipercaya.
Jadi prosesnya uang yang ditransfer sebenarnya masuk ke bank terlebih
dulu, lalu diteruskan ke penerima. Prosesnya real time sehingga perpindahan
tersebut tidak terasa. Namun yang cukup dirasakan justru karena prosesnya
melalui perantara, maka ada imbalan yang harus dibayarkan, yakni berupa biaya
administrasi, baik yang dikeluarkan saat itu juga (jika mengirimkan ke rekening
bank yang berbeda) atau dalam biaya administrasi yang dikenakan setiap bulan.

Ilustrasi proses transaksi keuangan yang tersentralisasi

8
Sedangkan sifat terdesentralisasi artinya tidak ada yang menjadi penengah
atau pihak khusus yang menjadi perantara. Transaksi dilakukan secara peer-to-
peer dari pengirim ke penerima. Seluruh transaksi dicatat dalam komputer yang
berada di jaringan tersebut, di seluruh dunia, atau disebut
dengan miner (penambang yang ikut membantu mengamankan dan mencatat
transaksi di jaringan). Miner sendiri akan mendapatkan komisi dengan uang
virtual yang digunakan, namun tidak semua orang bisa menjadi miner, karena
dibutuhkan keahlian khusus dengan pemrosesan komputasi yang rumit untuk
memecahkan kriptografi yang digunakan. Hal ini menjadi salah satu alasan
mengapa para penambang cryptocurrency umumnya menggunakan komputer
berspesifikasi tinggi dan khusus.

Ilustrasi proses transaksi keuangan yang terdesentralisasi


Sifat desentralisasi ini yang menjadi DNA sistem Blockchain. Pada
dasarnya Blockchain menjadi platform yang memungkinkan mata uang
digital cryptocurrency dapat digunakan untuk bertransaksi.
Blockchain adalah sistem pencatatan atau basis data yang tersebar luas di
internet, sering disebut juga sebagai distributed ledger. Setiap transaksi yang
dicatat juga dapat dilihat oleh seluruh pengguna internet. Jadi Blockhain juga bisa
didefinisikan sebagai sebuah buku besar yang bisa diakses oleh siapa saja,
termasuk orang yang tidak melakukan transaksi. Blockchain juga memiliki
beberapa ciri khas dalam melakukan transaksi dan pencatatan, yakni sebagai
berikut:
1. Memiliki perhitungan yang lebih logis
Pada dasarnya Blockhain adalah sesuatu yang dapat dihitung secara
matematis, karena blok-blok yang ada di dalamnya berbentuk kode yang dapat
diterjemahkan dan diverifikasi developer. Algoritma di dalamnya membuat

9
nilainya bisa lebih terukur, berbeda dengan mata uang yang sehari-hari digunakan
saat ini. Misalnya USD, nilainya biasanya dikontrol oleh Bank Sentral di Amerika
Serikat. Mereka bebas untuk mencetak seberapa banyak yang dalam masa
tertentu, termasuk implikasi suku bunga. Berbeda dengan cryptocurrency, karena
berbasis perhitungan matematis yang terstruktur, bahkan jumlah sebaran mata
uangnya pun dapat diprediksikan. Sehingga semua orang bisa tahu, tiga tahun lagi
akan ada berapa banyak uang digital yang ada di dunia. Bahkan nilai inflasinya
pun dapat dikalkulasi dengan baik. Salah satu gambaran pertumbuhannya dapat
diakses dalam grafik berikut: https://bashco.github.io/Bitcoin_Monetary_Inflation.

Proyeksi jumlah dan inflasi Bitcoin


2. Memiliki keamanan yang mumpuni
Manfaat sifat terdesentralisasi Blockchain adalah tidak ada data yang
dipusatkan di satu tempat. Semua tersebar ke server para miner, alias para
penambang yang ikut membantu mengamankan jaringan Blockchain. Untuk
menjadi miner pun mereka harus secara akurat memecahkan algoritma
perhitungan yang ada, sehingga tercipta blok baru (dengan komisi berupa nominal
uang digital). Karena informasinya tersebar, jika ada hacker yang mencoba
membobol sistem pun mereka harus bisa minimal mengontrol 50% dari
komputer miner yang ada di jaringan.

2.4 Fungsi dan Manfaat dari Crypto Currency


Sebenarnya yang namanya mata uang virtual atau digital itu tidak berbeda
jauh dengan mata uang fisik. Memang ada beberapa perbedaan antara keduanya

10
namun juga banyak persamaannya. Berikut ini adalah beberapa kegunaan dari
crypto currency :
 Seperti mereka yang memiliki bentuk fisik, berbagai jenis cryptocurrency juga
berperan sebagai mata uang.
 Dan tentu saja ketika berfungsi sebagai mata uang ia pasti punya nilai, dari sini
kita bisa menggunakannya untuk bertransaksi.
 Sama seperti mata uang pada umunya, nilai dari cryptocurrency bisa naik dan
juga turun secara tidak terduga. Hal ini bisa dimanfaatkan oleh mereka yang
berminat dalam hal trading digital.

2.5 Jenis dan Macam Cryptocurrenty Terbaik dan Paling Mahal


Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa yang namanya nilai dari cypto
currenty itu kadang naik kadang juga turun. Kurs nilai tukar pada sebuah mata
uang digital biasanya bergantung pada kekuatan buy maupun sell dari pada
penggunanya. Dan di bawah ini adalah daftar mata uang virtual terbaik dan paling
populer saat ini.
1. Bitcoin
Di awal kita sudah sedikit menyinggung masalah Bitcoin, jika membahas
masalah cryptocurrency tentu kita tidak bisa meninggalkan yang namanya
Bitcoin. Ini merupakan mata uang digital pertama yang diciptakan oleh seorang
anonymous bernama Satoshi Nakamoto dan diluncurkan untuk publik pada tahun
2009. Saat ini memang Bitcoin merajai pasar mata uang virtual yang mana pada
detik ini untuk satu kepingnya bisa mencapai ratusan juta rupiah.
2. Litecoin
Ada cukup banyak jenis cryptocurrency, dan selain Bitcoin mereka semua
disebut sebagai altcoin (alternate coin). Litecoin merupakan salah satu
contohnya, ia diciptakan oleh Charles Lee yang merupakan seorang mantan
karyawan Google. Untuk pertama kalinya Litecoin diluncurkan ke publik pada
tahun 2009.

11
3. Ethereum
Dengan persaingan di dunia cryptocurrency yang semakin sengit, Vitalik
Buterin mendirikan sebuah patform bernama Ethereum. Mereka juga menciptakan
sebuah mata uang digital sendiri yang disebut sebagai Ether. Dan pada tahun 2014
cryptocurrency yang satu ini diluncurkan secara massal. Tidak seperti yang
lainnya, Ether ini dapat digunakan untuk sebuah transaksi yang sifatnya peer-to-
peer jadi kita tidak membutuhkan pihak ketiga.
4. Dash
Awalnya bernama Darkcoin namun akhirnya diubah menjadi Dash yang
merupakan kependekan dari Digital Cash. Tidak seperti ketiga mata uang digital
sebelumnya, Dash ini memakai algoritma X11 yang mana memiliki 11 putaran
fungsi yang berbeda-beda. Menurut mereka algoritma tersebut memiliki kinerja
yang lebih efektif daripada yang lainnya.
5. Monero
Untuk cryptocurrenc yang satu ini mengutamakan yang namanya privasi
sehingga pengguna akan bersifat sebagai anonim. Oleh karena itu keamanan
transaksi maupun data pengguna akan sangat terjamin di Monero.
6. Zcash
Zcash merupakan mata uang virtual yang menggunakan sebuah algoritma
kriptografi bernama zero-knowledge proof. Disini setiap transaksi akan melalui
proses enkripsi termasuk jumlah nilainya sehingga kerahasiaan akan sangat
terjamin. Dalam algoritma ini juga dimungkinkan untuk memberikan bukti bahwa
pengguna memiliki saldo tanpa harus mengungkapkan siapa dan berapa nilainya.
7. Ripple
Dikembangkan oleh Ripple Network cryptocurrency yang satu ini awalnya
tidak untuk digunakan secara publik. Namun pada tahun 2013 mata uang ditigal
yang juga disebut sebagai XPR ini dirilis untuk umum. Ripple menggunakan
algoritma bernama Consensus untuk melakukan berbagai macam transaksi secara
aman.
Demikian pengertian cryptocurrency, sejarah asal usul, fungsi serta jenis-
jenisnya. Semoga pembahasan mengenai definisi tentang apa itu mata uang
digital, kegunaan serta kelebihan dan kekurangannya diatas bisa mudah dipahami.

12
Bagi kalian yang masih punya pertanyaan lain silahkan tuliskan di kolom
komentar.
Ada beberapa jenis cryptocurrency yang saat ini sudah banyak digunakan,
misalnya Bitcoin, Ethereum, Litecoin, Monero, atau Ripple. Bitcoin menjadi uang
digital yang pertama kali diluncurkan, dan saat ini menjadi yang paling bernilai.
Salah satu keunikannya, Bitcoin ini hanya diciptakan sampai 21 juta koin saja
(diprediksikan baru akan habis ditambang pada tahun 2140 mendatang), ini
merupakan protokol yang tidak dapat diganggu gugat karena sudah menjadi
kesepakatan sejak awal.
Adanya batas sebaran yang sudah pasti, membuat Bitcoin tidak bisa
dipalsukan ataupun mengalami inflasi. Bitcoin turut menjadi awal baru dari
transformasi finansial. Dengan Bitcoin memungkinkan orang untuk melakukan
transaksi secara global dengan perangkat komputasi, tanpa perlu adanya perantara
seperti bank atau layanan lainnya. Yang saat ini tak kalah populer adalah
Ethereum, yang diciptakan Vitalik Buterin pada tahun 2015. Konsepnya hampir
sama dengan Bitcoin, karena sama-sama dibangun pada jaringan Blockchain. Di
sini para miner bekerja untuk mendapatkan Ether, mata uang cryptocurrency yang
membantu menjalankan jaringan Ethereum.
Untuk konsep transaksi yang terdesentralisasi, Ethereum dapat
memanfaatkan Decentralized Autonomous Organization, sebuah badan
kepengurusan transaksi yang dijalankan sepenuhnya oleh kode pemrograman
dan smart contract yang tidak ada pusat otoritas dan kontrol. Tidak ada pihak
ketiga yang bisa mengubah data yang telah tersimpan ke dalam jaringan
Blockchain. Selain dua jenis koin di atas, masih sangat banyak koin alternatif
dengan karakteristiknya masing-masing. Menurut Coinmarketcap.com, saat ini
sudah lebih 1560 jenis mata uang digital berbasis cryptocurrency yang tersebar di
seluruh dunia.
1. Yang mempengaruhi nilai crypto currency
Mata uang cryptocurrency fluktuasi nilainya didasarkan pada beberapa
kondisi, salah satunya karena ketersediaan/kelangkaan. Namun kadang nilainya
juga meningkat atau turun karena kepercayaan dan penggunaan di kalangan

13
komunitas penggunanya. Secara umum naik turunnya
nilai cryptocurrency dipengaruhi oleh mekanisme pasar.

Fluktuasi niai tukar Bitcoin satu tahun terakhir


Sayangnya pasar cryptocurrency memiliki volatilitas atau tingkat
perubahan yang cukup tinggi, sehingga sangat fluktuatif. Jika banyak orang
menginginkan mata uang tersebut dan nilainya tidak terlalu banyak, maka nilainya
juga akan meningkat. Faktor lain kadang turut mempengaruhi. Serangan
WannaCry beberapa waktu lalu secara tidak langsung turut meningkatkan gejolak
nilai, karena memaksa pengguna untuk melakukan pembayaran
melalui cryptocurrency.

2.6 Mekanisme Transaksi Crypto Currency


Konsep dasarnya dalam setiap transaksi crypto currency, seluruh jaringan
akan mencatat histori yang berjalan, termasuk besaran transaksi dan saldo yang
dimiliki. Misalnya seseorang telah berhasil melakukan transaksi dan dikonfirmasi
oleh penerima, maka seluruh jaringan yang terhubung ke Blockchain tersebut
akan langsung mengetahui informasi yang berisi penjelasan bahwa telah terjadi
transaksi sejumlah tertentu dan telah ditandatangani secara digital dengan
memberikan private key ke dalam sistem. Konfirmasi penerima menjadi hal yang
sangat krusial dari sebuah transaksi cryptocurrency. Transaksi yang terkonfirmasi
tersebut disimpan ke dalam wadah yang disebut Blocks. Catatan transaksi sifatnya
permanen, tidak dapat diubah, dibajak, atau dipalsukan dan menjadi bagian dalam
sebuah rantai blok atau Blockchain. Sifat permanen tersebut yang

14
membuat cryptocurrency transaksinya immutable alias tidak bisa dibatalkan saat
sudah dikirim.

2.7 Crypto Currency di Indonesia


Bank Indonesia secara eksplisit sudah menyatakan larangan
terhadap cryptocurrency untuk kegiatan transaksi atau tidak diakui menjadi alat
pembayaran yang sah. Pernyataan tersebut didasarkan pada undang-undang yang
menyatakan bahwa alat pembayaran yang diterima di Indonesia hanya
menggunakan Rupiah. Yang perlu digarisbawahi adalah uang
virtual cryptocurrency tidak dianggap ilegal, hanya transaksinya yang tidak
diperbolehkan. Sejauh ini kebanyakan orang di Indonesia masih
memanfaatkan cryptocurrency untuk sekedar dimiliki (investasi), karena untuk
transaksinya pun masih cukup terbatas. Tidak banyak merchant yang menerima
pembayaran dengan cryptocurrency.
Pelarangan tersebut salah satunya didasari kekhawatiran akan potensi
kejahatan cryptocurrency. Internet Development Institute (ID Institute)
mengungkapkan setidaknya ada tiga hal yang mungkin terjadi, yakni private key,
ransomware, dan ancaman fisik ke pemilik dompet. ID Institute mencontohkan,
aspek kerentanan pada sistem Blockchain yang digunakan Bitcoin ada potensi
penyisipan malware yang sangat besar. Miner butuh sumber daya besar untuk
mengelola block, aspek tersebut berisiko penyebaran ransomware ke komputer
yang ada di bawah kendalinya.
Pandangan berbeda disampaikan Country Blockchain Leader IBM
Indonesia Juliandri Jenie. Dalam sebuah sesi #SelasaStartup ia mengatakan bahwa
sifat ledger dalam Blockchain itu dapat dilihat ke orang lain namun pada saat
yang sama tetap aman karena tidak bisa diubah oleh sembarang orang. Ini menjadi
keuntungan, karena bisa membuat integrasi bisnis antar perusahaan jadi lebih
efisien. Semua orang bisa saling percaya karena seluruh data dapat terekam
dengan baik, dapat dilihat oleh orang lain meski perlu ada akses khusus terlebih
dulu.

15
Saat ini beberapa perbankan dan instansi besar di Indonesia mulai mengeksplorasi
potensi Blockchain sebagai platform yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan
produktivitas, meskipun tidak mengikutsertakan cryptocurrency di dalamnya.

2.8 Sikap Bank Indonesia Terhadap Crypto Currency


Crypto Currency tidak memiliki otoritas yang bertanggung jawab, tidak
memiliki administrator resmi, dan tidak ada underlying asset yang mendasari
harga mata uangnya. Pemilikian virtual currency sangat berisiko dan sarat akan
spekulasi," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia,
Agusman, seperti dilansir keterangan tertulis, Sabtu, 13 Januari 2018. Nilai
perdagangan Bitcoin juga sangat fluktuatif sehingga rentan terhadap risiko
penggelembungan (bubble). Mata uang virtual itu juga rawan digunakan
sebagai sarana pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Bank Indonesia menilai semua risiko tersebut dapat mempengaruhi
kestabilan sistem keuangan dan merugikan masyarakat. "Oleh karena itu,
Bank Indonesai memperingatkan kepada seluruh pihak agar tidak menjual,
membeli, atau memperdagangkan virtual currency," ujar Agusman.
Sebagai otoritas sistem pembayaran, Bank Indonesia melarang seluruh
penyelenggara jasa sistem pembayaran. Hal itu dimulai dari prinsipal,
penyelenggara switching, penyelenggara kliring, penyelenggara penyelesaian
akhir, penerbit, acquirer, payment gateway, penyelenggara dompet
elektronik, hingga penyelenggara transfer dana. Bank Indoneisa juga
melarang penyelenggara teknologi finansial di Indonesia baik bank dan
lembaga selain bank untuk memproses transaksi pembayaran dengan virtual
currency.
Agusman menuturkan keputusan itu sudah dibuat sejak dua tahun lalu.
Aturannya tertera dalam Peraturan Bank Indonesia 18/40/PBI/2016 tentang
Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran dan dalam PBI
19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial.

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Seiring perkembangan dan kemajuan teknologi kita tidak akan lepas dari
inovasi yang selalu saja baru. Di zaman digital seperti ini kemunculan uang pun
sudah ada dalam bentuk digital.
Setuju tidak setuju, suka tidak suka, itu sudah ada,tidak sedikit pula
peminatnya, dan pergerakannya begitu fluktuatif. Kehadiran Crypto Currency
bukanlah kejahatan dan bukan pula alat yang mengahalalkan semua transaksi.
Untuk membuat itu baik atau tidak tergantung kepada individu yang
menggunakannya dan dibutuhkan peran otoritas keuangan untuk membuat
peraturan yang ketat dan mengawasi Supaya dapat dilacak siapa saja yang
menggunakan, membeli dan menjual, dari mana dan kemana alirannya. Sehingga
kehadiran Crypto Currency bukan untuk melanggar hukum yang sudah berlaku di
tiap tiap Negara atau tempat namun sebaliknya yaitu untuk memudahkan
masyarakat dalam melakukan transaksi.

17
DAFTAR PUSTAKA

https://beritagar.id/artikel/telatah/bitcoin-dan-respon-dunia.

http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/18/01/25/p34cab359-
menkeu-as-jangan-salah- gunakan-cryptocurrency.

https://id.investing.com/news/cryptocurrency-news/regulator-uni-eropa-
cryptocurrency-sangat-beresiko-dan-tidak-sesuai-untuk-investasi-376005.

18