Anda di halaman 1dari 172

UNIVERSITAS INDONESIA

BRIEF-PLISSIT INTERVENTION MODEL (BPIM) SEBAGAI BENTUK


INTERVENSI KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS
DALAM PEMBINAAN KESEHATAN REPRODUKSI
DI SMP A CIMANGGIS KOTA DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR

MUFLIH
1106043053

PROGRAM STUDI SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
DEPOK, JUNI 2014

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


BRIEF-PLISSIT INTERVENTION MODEL (BPIM) SEBAGAI BENTUK
INTERVENSI KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS
DALAM PEMBINAAN KESEHATAN REPRODUKSI
DI SMP A CIMANGGIS KOTA DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR

Diajukan sebagai salah satu sayarat untuk memperoleh gelar


Ners Spesialis Keperawatan Komunitas

MUFLIH
1106043053

Pembimbing I : Agus Setiawan, SKp., MN., DN


Pembimbing II : Henny Permatasari, M.Kep., Sp.Kom

PROGRAM STUDI SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2014

ii

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014
Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014
Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014
ABSTRAK

Nama : Muflih
Program Studi : Ners Spesialis Keperawatan Komunitas, Fakultas Ilmu
Keperawatan, Universitas Indonesia
Judul : Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) Sebagai Bentuk
Intervensi Keperawatan Kesehatan Komunitas Dalam
Pembinaan Kesehatan Reproduksi Di SMP A, Cimanggis,
Kota Depok

Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) yang telah dimodifikasi merupakan


bentuk intervensi keperawatan komunitas untuk meningkatkan pandangan,
kepercayaan diri dan komitmen remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi.
Penulisan bertujuan memberikan gambaran pelaksanaan BPIM dalam pelayanan
dan asuhan keperawatan komunitas melalui integrasi model CAP, HPM, CHSM,
Trias UKS, FCN, dan manajemen pada siswa di SMP A. Pengetahuan kesehatan
reproduksi peer educator meningkat secara signifikan dan kemampuan melakukan
pendidikan kesehatan juga meningkat. Terdapat perbedaan pandangan,
kepercayaan diri dan komitmen yang signifikan antara kelompok intervensi teknik
BPIM dengan non BPIM. Perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) kesehatan
reproduksi siswa SMP A mengalami peningkatan yang signifikan setelah
diberikan asuhan keperawatan yang disertai peningkatan pemahaman dan
kemampuan melakukan komunikasi asertif.

Kata kunci :

BPIM, Intervensi Keperawatan Komunitas, Remaja, Kesehatan Reproduksi

vi

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


ABSTRACT

Name : Muflih
Study Programme : Community Health Nursing Specialist, Faculty of Nursing,
University of Indonesia
Title : Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) as community
health nursing intervention in reproductive health
coaching at SMP A Cimanggis, Kota Depok

Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) is a modified form of community


nursing intervention to improve the perceived, self-efficacy and commitment in
maintaining adolescent reproductive health. The aim of this paper was to provide
an overview of the implementation BPIM in service and nursing care through the
integration of the model of CAP, HPM, CHSM, Trias UKS, FCN, and
management at SMP A. The result was the increase in knowledge of peer educator
regarding to reproductive health and the increase in the ability to conduct health
education.There were differences in the opinion, self-efficacy and commitment
between-group intervention compared to non BPIM. Behavior (knowledge,
attitudes, and skills) SMP A student's reproductive health has increased
significantly following the nursing intervention with increased understanding and
ability to communicate assertively.

Key Words :

Adolescent, BPIM, Community Nursing Intervention, Reproductive Health.

vii

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Esa atas rahmat dan
anugerah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan karya ilmiah akhir
dengan judul “Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) Sebagai Bentuk
Intervensi Keperawatan Kesehatan Komunitas Dalam Pembinaan Kesehatan
Reproduksi Di SMP A, Cimanggis, Kota Depok.” Karya Ilmiah Akhir disusun
sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Ners Spesialis Keperawatan
Komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Penyelesaian tesis yang dibuat oleh penulis tidak terlepas dari bantuan dan
bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih dan
penghargaan yang tinggi kepada yang terhormat:
1. Dra. Junaiti Sahar, M. App. Sc., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia
2. Agus Setiawan, SKp., MN., DN selaku Pembimbing I yang telah
memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan karya ilmiah akhir
3. Henny Permatasari, M.Kep., Sp.Kom selaku Ketua Program Studi Pasca
Sarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia sekaligus
Pembimbing II yang juga telah memberikan bimbingan dan arahan dalam
penyusunan karya ilmiah akhir
4. Segenap Tim Dosen Keperawatan Komunitas dan dosen Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia
5. Segenap karyawan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
6. Segenap keluarga, terutama Aba Masyhud M, Ibu Lilik Salamah dan Istriku
tersayang Uswah Mufidah Tri Winasis, S.Kep yang selalu memberikan doa
dan dukungan kepada penulis selama proses penyusunan karya ilmiah akhir.
7. Rekan-rekan “13 Pejuang Residen „13” yang selalu kompak dan saling
memberi dukungan dalam mencapai kesuksesan praktik residen keperawatan
komunitas.
8. Rekan-rekan di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Respati Yogyakarta yang selalu memberikan dukungan dalam

viii

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


penyelesaian Praktik Residen Keperawatan Komunitas dan karya ilmiah
akhir.
9. Semoga seluruh kebaikan, bimbingan, serta dukungan yang diberikan
mendapat berkat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunan karya


ilmiah akhir, maka kritik dan saran yang membangun untuk melengkapi karya
ilmiah akhir sangat penulis hargai.

Depok, Juni 2014

Penulis

ix

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


DAFTAR ISI

Hal
JUDUL ii
PERNYATAAN ORISINALITAS iii
HALAMAN PENGESAHAN Iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI v
ABSTRAK vi
ABSTRACT vii
KATA PENGANTAR viii
DAFTAR ISI x
DAFTAR HALAMAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan Penulisan 9
1.3 Manfaat 9

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 11


2.1 Agregrat Remaja Sebagai Populasi Risiko 11
2.1.1 Definisi Populasi Risiko 11
2.1.2 Karasteristik Remaja Sebagai Populasi Resiko 13
2.2 Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja 14
2.2.1 Kesehatan Fisik 14
2.2.2 Kesehatan Jiwa 16
2.2.3 Perilaku Pergaulan dan Pacaran Remaja 17
2.2.4 Penanganan Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja 18
2.3 Keperawatan Komunitas 18
2.3.1 Teori Manajemen Keperawatan 19
2.3.2 Teori Community As Partner (CAP) 22
2.3.3 Teori Pender’s Health Promotion Models (HPM) 25
2.3.4 Teori Comprehensive School Health Model (CSHM) & Trias UKS 26
2.3.5 Teori Family Centre Nursing (FCN) 30
2.4 Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas 32
2.5 Inovasi Teknik Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) 32
Sebagai bentuk Intervensi Keperawatan Komunitas
2.5.1 Konsep Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) 33
2.5.2 Aplikasi Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) 38
2.6 Peran dan Fungsi Perawat Komunitas di Sekolah 40

BAB 3 KERANGKA KONSEP RESIDEN DAN PROFIL WILAYAH 41


3.1 Kerangka Konsep Residen Keperawatan Komunitas 41
3.2 Profil SMP A Kota Depok 46
3.3 Pelaksanaan Program Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) 47

BAB 4 MANAJEMEN PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN 49


KOMUNITAS KESEHATAN REPRODUKSI PADA AGGREGATE
REMAJA DI SMP A KOTA DEPOK
4.1 Pengelolaan Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas 49
4.1.1 Analisa Situasi Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas 49
4.1.2 Diagnosa Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas 63
4.1.3 Rencana Intervensi, Implementasi dan Evaluasi 63

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


4.2 Pengelolaan Asuhan Keperawatan Komunitas 75
4.2.1 Pengumpulan Data 77
4.2.2 Analisa Situasi Asuhan Keperawatan Komunitas 78
4.2.3 Diagnosa Keperawatan Komunitas 82
4.2.4 Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi Keperawatan Komunitas 83
4.2.5 Rencana Tindak Lanjut 99
4.3 Pengelolaan Asuhan Keperawatan Keluarga 99
4.3.1 Pengkajian dan Analisa Asuhan Keperawatan Keluarga 100
4.3.2 Diagnosa Keperawatan Keluarga 101
4.3.3 Perencanaan Asuhan Keperawatan Keluarga 102
4.3.4 Implementasi dan Evaluasi Asuhan Keperawatan Keluarga 105
4.3.5 Rencana Tindak Lanjut 109
4.3.6 Kemandirian Keluarga 109

BAB 5 PEMBAHASAN 111


5.1 Analisa Pencapaian dan Kesenjangan 111
5.1.1 Manajemen Pelayanan Keperawatan Kesehatan Komunitas 111
5.1.2 Asuhan keperawatan Komunitas 115
5.1.3 Asuhan keperawatan Keluarga 119
5.2 Keterbatasan 121
5.3 Implikasi 121
5.3.1 Pelayanan Keperawatan Komunitas 121
5.3.2 Perkembangan Ilmu Keperawatan 122

BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN 123


6.1 Simpulan 123
6.2 Saran 124

DAFTAR PUSTAKA 127

xi

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


1

BAB 1

PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang, tujuan penulisan umum dan khusus, serta
manfaat untuk perkembangan keilmuan dan pelayanan keperawatan kesehatan
komunitas dari penulisan karya ilmiah akhir. Penulisan karya ilmiah ini
mempunyai manfaat aplikatif untuk berbagai pihak, yaitu pengelola pelayanan
kesehatan, remaja, keluarga dan sekolah, serta pengembangan ilmu praktik
spesialis keperawatan komunitas.

1.1 Latar Belakang

Jumlah remaja di dunia saat ini menempati persentasi yang besar. Data sensus
2010 menunjukkan jumlah remaja dengan rentang usia 10-24 tahun di Indonesia,
sebanyak 26,67 persen dan 66,06 dari remaja tersebut yang berusia 15-24 tahun
telah bekerja. Jumlah yang melebihi seperempat jumlah penduduk negara
Indonesia tersebut akan mempengaruhi perkembangan pembangunan negara di
masa mendatang (Wahyuni & Rahmadewi, 2011).

Masa remaja merupakan masa transisi antara masa anak-anak menuju masa
dewasa. Pada masa transisi, remaja mengalami proses pencarian identitas diri,
melepas ketergantungan dari orang tua, dan bersaha mencapai kemandirian
sehingga dapat diterima dan diakui sebagai orang dewasa (Friedman, Bowden, &
Jones, 2010). Pada masa ini, terjadi perubahan biologis, kognitif, dan sosial-
emosional (Santrock, 2007). Perubahan-perubahan tersebut cenderung membuat
remaja berusaha mengeksplor diri, mengaktualisasikan peran, dan gaya hidup
berisiko (Stanhope, & Lancaster, 2004).

Masa transisi remaja ini sering dikaitkan dengan proses pubertas (kematangan)
reproduksi dan seksual (Papalia, dkk., 2007). Kematangan reproduksi pada remaja
terdiri dari perkembangan fisik, emosi dan psikososial yang cepat. Proses
kematangan reproduksi remaja tanpa diimbangi dengan pengetahuan kesehatan
akan berdampak pada perilaku kesehatan yang salah. Perilaku salah yang terkait

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


2

kesehatan reproduksi seperti jarang mendeteksi kelainan tubuh, tidak pernah


merawat kebersihan organ luar reproduksi, perilaku seksual bebas, dan perilaku
yang lain yang dapat merugikan (McMurray, 2003). Perilaku yang cenderung
negatif dan ditambah dari keadaan lingkungan yang tidak terarah, menjadikan
remaja sebagai kelompok risiko (at risk).

Kelompok risiko (at risk) adalah sekumpulan orang yang mungkin terkena satu
atau lebih terhadap zat/perilaku tertentu dari pada populasi umum lainnya
(Stanhope, & Lancaster, 2004). Terjadinya kerentanan pada populasi berbeda-
beda tergantung dari paparan faktor pencetusnya. Setiap agregrat, termasuk
remaja, dalam tahap kehidupannya memiliki peluang atau kemungkinan terpapar
faktor-faktor tertentu, seperti biologi, lingkungan, gaya hidup, dan sistem
pelayanan kesehatan sehingga mempengaruhi kondisi kesehatannya (Allender,
Rector, & Warner, 2010).

Secara fisik, kerentanan remaja dipicu peningkatan hormon pertumbuhan dan


seksual yang tinggi, sehingga remaja cenderung memiliki hasrat dan suasana hati
yang eksplosif/menggebu-gebu (Cameron, 2004; dalam Santrock, 2007).
Perubahan hormonal pada remaja disertai perubahan kognitif yang cenderung
abstrak dan tidak terbatas pada pengalaman aktual, namun pada imajinasi dan
fantasi (Piaget 1967; dalam Santrock, 2007). Proses pemikiran ini dipengaruhi
oleh stimulasi lingkungan eksternal sehingga membentuk persepsi yang
disesuaikan dengan ideal dirinya (Stanhope & Lancaster, 2004). Oleh karena itu,
remaja cenderung meniru gaya hidup tokoh yang diidolakannya.

Persepsi remaja tentang seksualitas dipengaruhi oleh hasil interaksi stimulasi


nilai-nilai internal dan eksternal di sekitar lingkungannya yang membentuk
perilaku kesehatan (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2002). Persepsi remaja tentang
seks bebas selalu dibandingkan dengan nilai dan norma kesusilaan di masyarakat.
Apabila perilaku seks bebas dianggap hak individu seseorang, maka remaja akan
menyimpulkan bahwa seks bebas sebagai nilai fleksibilitas kebebasan berekspresi

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


3

(Gullota, Adams, & Ramos, 2005). Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan
kasus perilaku seks bebas di kalangan remaja.

Data perilaku seksual remaja di Indonesia sendiri menggambarkan bahwa pada


tahun 2007 remaja usia 15-19 tahun tidak sedikit yang telah melakukan hubungan
seksual. Remaja pada usia 13-15 tahun di Indonesia telah melakukan hubungan
seksual pranikah (BKKBN, 2008; dalam Imron 2012). Hasil penelitian oleh
Hatmadji dan Rochani pada rentang waktu 1993-2002 menemukan bahwa 5-10%
wanita dan 18-38% laki-laki usia 16-24 tahun telah melakukan hubungan seksual
pranikah dengan pasangannya (Suryoputro, dkk., 2006). Hal ini menandakan
bahwa terjadi kecenderungan peningkatan angka kejadian perilaku seks bebas di
kalangan remaja.

Menurut survei Komnas Perlindungan Anak pada tahun 2008 di Indoneisa telah
terjadi perilaku seksual pada remaja seperti 93,7% remaja SMP dan SMA pernah
ciuman, meraba alat kelamin dan seks melalui mulut, 62,7% remaja SMP telah
melakukan seks bebas, dan 21,2% remaja pernah melakukan aborsi (BKKBN,
2010a). Data ini dikuatkan dari pendataan terhadap 10.833 remaja laki-laki
berusia 15-19 tahun didapatkan bahwa sekitar 72% sudah berpacaran, 92% sudah
berciuman, 62% sudah pernah meraba-raba pasangan, dan 10,2% sudah
melakukan hubungan seksual. Sedangkan pada 9.344 remaja putri didapatkan
77% sudah berpasangan, 92% sudah berciuman, 62% sudah meraba-raba
pasangan, dan 6,3% sudah pernah berhubungan seksual. (Rachmat 2007; dalam
Barahah, 2010).

Setiap tahun, 800.000 hingga 900.000 remaja di Amerika Serikat mengalami


kehamilan dan hanya setengahnya yang dilanjutkan dengan memiliki bayi. Jumlah
kelahiran pada anak usia remaja meningkat menjadi 12% di Amerika Serikat
(American College of Obstetricians and Gynecolobists, 2000; dalam Stanhope &
Lancaster, 2004). Belum didapatkan angka kehamilan remaja di Indonesia, namun
diyakini jumlah kehamilan pada remaja cukup tinggi. Salah satu faktornya adalah
pernikahan di usia dini. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010,

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014
Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014
Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014
Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014
8

kurang baik sebesar 65,3%. Sebesar 62,0% siswa mengaku belum mendapatkan
informasi kesehatan cara menjaga alat reproduksi, 48,8% tentang bahaya seks
bebas, 59,2% tentang penyakit HIV/AIDS, bahaya merokok sebesar 39,9%, dan
bahaya narkoba sebesar 47,9%. Sebagian besar siswa (65,7%) belum mengetahui
bahwa berhubungan intim yang dilakukan sekali saja dapat menimbulkan
kehamilan.

Gambaran sikap remaja mengenai kesehatan reproduksi di SMP A Kota Depok


didapatkan siswa yang setuju bahwa remaja yang gaul adalah yang memiliki pacar
sebesar 32,9%, ciuman saat berpacaran sebagai tanda kesetiaan cinta sebesar
26,8%, dan penderita HIV/AIDS harus dijauhi sebesar 65,3%. Adapun gambaran
tindakan remaja mengenai kesehatan reproduksi didapatkan bahwa siswa yang
mengaku pernah mencari informasi seksual (hubungan intim laki-laki dg
perempuan) di internet sebesar 29,1% dan siswa yang mengaku memiliki
keinginan untuk berpacaran sebesar 77,9%, serta terdapat 4,7% yang mengaku
pernah menonton pornografi.

Gambaran situasi di atas diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan


reproduksi dan mengurangi risiko terjadinya perilaku seks bebas dengan
memberikan intervensi promosi kesehatan model BPIM. Praktek intervensi
promosi kesehatan dengan teknik BPIM dilakukan dalam berkelompok sesuai
dengan kelompok kelas masing-masing, dan dilakukan pada saat pembinaan
pendidik sebaya (Peer Educator) sebagai wujud dari layanan kesehatan di sekolah
(Lenoir, Walters, dan Vasapolli, 2000). Peran dan tugas pendidik sebaya adalah
memberikan edukasi baik perorangan maupun kelompok kepada siswa lain (Peer
to Peer). Latihan berkelompok ini diharapkan akan meningkatkan kemampuan
remaja untuk memberikan edukasi kepada kelompok siswa lain. Perawat
puskesmas diharapkan memperoleh gambaran pelaksanaan teknik BPIM yang
merupakan intervensi konseling yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Hasil intervensi keperawatan pada siswa SMP A didapatkan perilaku


(pengetahuan, sikap, dan tindakan) kesehatan reproduksi siswa SMP A

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


9

mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil intervensi BPIM didapatkan bahwa


terdapat perbedaan pandangan, kepercayaan diri dan komitmen yang signifikan
antara kelompok intervensi dengan teknik BPIM dalam menjaga kesehatan
reproduksi dibandingkan dengan kelompok intervensi dengan menggunakan
teknik edukasi biasa, kecuali pada materi pacaran, seks bebas, dan aborsi.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan gambaran tentang penerapan Brief-PLISSIT Intervention
Model (BPIM) sebagai bentuk intervensi keperawatan kesehatan komunitas
dalam pembinaan kesehatan reproduksi di SMP A Curug, Cimanggis, Kota
Depok.

1.2.2 Tujuan Khusus


Tujuan khusus penulisan laporan ini adalah:
1.2.2.1 Memberikan gambaran pelaksanaan intervensi BPIM terkait manajemen
pelayanan kesehatan komunitas di SMP A Kota Depok
1.2.2.2 Memberikan gambaran pelaksanaan intervensi BPIM terkait asuhan
keperawatan komunitas di SMP A Kota Depok
1.2.2.3 Memberikan gambaran pelaksanaan intervensi BPIM terkait asuhan
keperawatan keluarga siswa SMP A Kota Depok
1.2.2.4 Memberikan gambaran peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan
tentang kesehatan reproduksi siswa SMP A Kota Depok
1.2.2.5 Memberikan gambaran rencana tindak lanjut intervensi keperawatan
dalam meningkatkan derajat kesehatan reproduksi dan mengurangi risiko
terjadinya perilaku seks bebas pada siswa SMP A Kota Depok

1.3 Manfaat
1.3.1 Pelayanan Kesehatan
1.3.1.1 Dinas kesehatan
Promosi kesehatan reproduksi remaja dengan intervensi BPIM dapat
dijadikan program pengembangan pembinaan kesehatan remaja bagi Dinas
Kesehatan dalam rangka pengembangan kebijakan program PKPR untuk

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


10

mendukung pelayanan kesehatan reproduksi remaja sebagai salah program


unggulan pelayanan kesehatan remaja kota Depok.
1.3.1.2 Puskesmas
Sebagai pedoman untuk meningkatkan cakupan kegiatan promosi
kesehatan yang merupakan salah satu kegiatan pelayanan kesehatan peduli
remaja (PKPR) melalui asuhan keperawatan komunitas dengan intervensi
BPIM.
1.3.1.3 Perawat Komunitas
Sebagai salah satu alternatif intervensi keperawatan kesehatan komunitas
dalam meningkatkan kesehatan reproduksi remaja.
1.3.1.4 Kader Kesehatan Sekolah
Program kesehatan reproduksi di sekolah dapat meningkatkan peran,
fungsi dan pemberdayaan kader secara optimal melalui intervensi BPIM
sebagai bagian dari pelayanan kesehatan sekolah untuk meningkatkan
pembinaan kesehatan reproduksi remaja dalam rangka berpartisipasi
mensukseskan program PKPR di Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan
Cimanggis, Kota Depok.
1.3.1.5 Sekolah
Pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan reproduksi remaja melalui
intervensi BPIM di sekolah memberikan dampak positif dalam hal
meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku kesehatan reproduksi
siswa khususnya di SMP A, serta pada masyarakat pada umumnya dalam
program promosi dan prevensi kesehatan reproduksi remaja di Kota
Depok.

1.3.2 Perkembangan Ilmu Keperawatan


Dasar masukan dalam mengembangkan program pendidikan dan penelitian
dalam praktik keperawatan komunitas melalui peningkatan cakupan
kemanfaatan layanan PKPR melalui intervensi BPIM dalam sebagai strategi
intervensi keperawatan komunitas yang efektif dengan sasaran individu,
keluarga dan kelompok dalam upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif bagi remaja.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


11

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini akan menguraikan teori, model, dan penelitian lainnya yang berhubungan
dengan masalah kesehatan reproduksi pada remaja sebagai rujukan dalam
melakukan asuhan keperawatan komunitas. Bab ini terdiri dari konsep remaja
sebagai populasi at risk, kesehatan repsroduksi, konsep manajemen, konsep
keperawatan keluarga pada remaja dengan masalah kesehatan reproduksi di SMP
A Kota Depok, Jawa Barat.

2.1 Agregrat Remaja Sebagai Populasi Risiko (Population At Risk)


2.1.1 Definisi Populasi Risiko
Maurer dan Smith (2005), mendefinisikan populasi sebagai sekumpulan orang
yang tinggal di suatu wilayah tertentu atau suatu sekumpulan orang (a group or
set of persons) dalam suatu wilayah studi statistik (pembelajaran kasus) tertentu.
Populasi didefinisikan juga oleh Stanhope dan Lancaster (2004), sebagai
sekumpulan individu yang saling berbagi satu sama lain antar perorangan maupun
dengan karakteritik-karasteristik lingkungan disekitarnya.

Ervin (2002), memberikan batasan populasi sebagai seluruh manusia yang


dibatasi oleh suatu wilayah tertentu meskipun mereka tidak dipertimbangkan
sebagai bagian dari “klien”. Terminologi populasi memiliki sinonim lain yang
sering digunakan adalah agregrat. Agregrat adalah sekumpulan orang yang
memiliki hubungan kebutuhan tertentu dan memiliki karasteristik-karasteristik
yang sama sehingga dapat dikelompokkan dalam satu grup atau sistem (Stanhope
& Lancaster, 2004).

Maurer dan Smith (2005), dan Allender, Rector, dan Warner (2010), memiliki
definisi yang bermakna sama mengenai risiko. Risiko didefinisikan sebagai
sebuah peluang atau kemungkinan untuk sakit atau kondisi kesehatan yang tidak
baik dalam tahapan perkembangan manusia. Setiap manusia mengalami
perkembangan atau tahapan kehidupan dan dalam tahapan tersebut sekelompok

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


12

manusia atau populasi memiliki karasteristik-karasteristik tertentu yang sama


sehingga mereka dapat dikatakan sebagai suatu agregat. Setiap agregrat dalam
tahapan kehidupan memiliki peluang atau kemungkinan terpapar faktor-faktor
tertentu, seperti biologi, lingkungan, gaya hidup, dan sistem pelayanan kesehatan
sehingga mempengaruhi kondisi kesehatannya (Allender, Rector, & Warner,
2010).

McMurray (2003), melihat bahwa kemungkinan sakit atau keadaan penurunan


kesehatan bisa berasal dari faktor-faktor pencetus (predisposing) dari manusia
atau lingkungan atau keduanya. Faktor pencetus genetik ditambahkan oleh
McMurray (2003) ke dalam faktor biologi dan elemen perilaku manusia, baik
yang disengaja atau tidak sengaja, juga sebagai faktor pencetus risiko terjadinya
kesakitan.

Agregrat remaja secara umum dalam keadaan sehat, namun mereka akan mencari
pelayanan kesehatan dengan permasalahan kesehatan yang berbeda dari agregrat
lain. Remaja pada saat ini menghadapi bahaya yang lebih besar dari pada generasi
sebelumya, seperti kehamilan dan kelahiran dini, tingginya tingkat kematian dan
kecelakaan, pembunuhan, dan bunuh diri (Anderson, 2002; National Center for
Health Statistich [NCHS], 2001; dalam Papalia, Old, & Feldman, 2011).
Kesakitan umum yang dialami oleh agregrat remaja misalnya terjangkit Penyakit
Menular Seksual (PMS) yang diakibatkan oleh faktor perilaku.

Setiap tahun, seperempat dari kedua kasus HIV dan PMS adalah seorang remaja.
Selain itu, terjadi peningkatan angka kejadian kehamilan remaja dan aborsi ilegal
(Allender, Rector, & Warner, 2010). Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap
perilaku seksual yang dapat meningkatkan angka kehamilan pada remaja adalah
kepercayaan diri (Klima, 2003; dalam Maurer & Smith, 2005). Faktor lain yang
dapat mempengaruhi pembentukan perilaku seksual remaja adalah stimulasi yang
didapat dari paparan media massa, termasuk internet (Gullota, Adams & Ramos,
2005). Kasus-kasus diatas merupakan akibat dari perilaku seksual yang dilakukan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


13

oleh remaja. Hal ini memperlihatkan bahwa, agregrat remaja termasuk populasi
risiko yang perlu perhatian khusus terutama perilaku seksual mereka.

2.1.2 Karasteristik Remaja Sebagai Populasi Risiko (Population At Risk)


Perkembangan kehidupan merupakan proses seumur hidup. Masa remaja
merupakan bagian dari sikulus kehidupan dari manusia. Masa remaja sebagai
periode perkembangan manusia dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masa
remaja merupakan bagian dari rangkaian kehidupan dan bukan merupakan suatu
periode tersendiri yang tidak berkaitan dengan periode-periode lainnya. Pada
masa ini terjadi perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional
(Santrock, 2007). Masa remaja secara umum dianggap dimulai dengan pubertas,
proses yang mengarah pada kematangan seksual atau fertilitas (kemampuan
bereproduksi), dan masa konstruksi sosial (Papalia, Old, & Feldman, 2011).

Batasan usia remaja hingga saat ini menjadi bervariasi dari masing-masing
referensi yang terkait lingkungan budaya dan sejarahnya. Remaja sebagai tahap
perkembangan yang dimulai pada pubertas dari umur 13-20 tahun (DeLaune &
Ladner, 2011). Rentang usia remaja menurut Santrock (2007), sekitar dimulai dari
10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun. Rentang usia tersebut dibagi
menjadi 2 (dua) kategori, yakni masa remaja awal (early adolescence) dan masa
remaja akhir (late adolescence). Masa remaja awal berlangsung di masa sekolah
menengah pertama atau sekolah menengah akhir dan perubahan pubertas terbesar
terjadi di masa ini, adapun masa remaja akhir terjadi pada pertengahan dasawarsa
yang kedua dari kehidupan.

Menurut Stanhope dan Lancaster (2004), periode remaja pada rentang umur 10
hingga 21 tahun yang dibagi menjadi 3 kategori, yakni remaja awal (early
adolescence) (10-13 tahun), remaja tengah (middle adolescence) (14-17 tahun),
dan remaja akhir (late adolescence) (18-21 tahun). Adapun remaja menurut WHO
(2012a), yang telah diadopsi pula oleh Kemenkes RI (2012), adalah berusia 10-19
tahun. Secara spesifik, WHO (2012b), memberikan istilah young people (10-24
tahun) yang dibagi menjadi early adolescent (remaja awal) yang berusia 10-14

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


14

tahun, late adolescent (remaja akhir) yang berusia 15-19 tahun, dan young
adulthood (dewasa muda) yang berusia 20-24 tahun. Jadi, rentang usia remaja
(adolescent) yang dijadikan acuan dalam penelitian ini merujuk pada ketentuan
WHO dengan rentang usia 10-19 tahun. Remaja pada sekolah menengah ke atas
berada pada rentang usia 15-19 tahun atau remaja akhir.

Remaja pada rentang usia tersebut, mengalami peningkatan hormon pertumbuhan


dan seksual yang cukup tinggi, memiliki kecenderungan eksplorasi perilaku
seksual terhadap pasangan, dan kondisi emosional yang belum stabil. Remaja
(adolescent) menjadi agregrat yang berisiko berperilaku seksual karena
mempunyai karasteristik-karasterik tertentu. Karasteristik agregrat remaja yang
dapat dikatakan sebagai populasi risiko (Population At Risk) dapat dilihat dari
perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional yang dialami remaja
(Santrock, 2007). Perubahan besar yang terjadi pada remaja adalah segi fisik,
kognitif, dan psikososial (Papalia, Old, & Feldman, 2011). Jadi, berikut ini akan
dijabarkan faktor-faktor yang menjadikan remaja sebagai kelompok risiko
diantaranya; perubahan biologis, kognitif, psikososial, gaya hidup remaja,
kejadian hidup remaja, dan kondisi lingkungan.

2.2 Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja


Kesehatan reproduksi didefinisikan oleh WHO (1992) sebagai keadaan sejahtera
fisik dan psikologis (jiwa), yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau
kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi,
fungsi serta prosesnya (Surjadi, Prato, & Handajani, 2001). Kesehatan reproduksi
remaja melingkupi kesehatan fisik, kejiwaan, dan perilaku. Penjelasan masalah
kesehatan reproduksi dijabarkan sebagai berikut:

2.2.1 Kesehatan Fisik


Kesehatan fisik remaja yang menjadi perhatian adalah terjadi perubahan bentuk
tubuh. Perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada remaja diantaranya
pertambahan tinggi badan yang cepat, perubahan hormonal, dan kematangan
seksual pada masa pubertas. Masa pubertas ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


15

yang kompleks seperti genetik dan sistem hormonal. Kemunculan pubertas telah
diprogram di dalam gen setiap manusia (Adair, 2001; dalam Santrock, 2007).
Genetika dan lingkungan saling bekerja sama membentuk untuk menghasilkan
intelegensia, temperamen, tinggi tubuh, berat badan, dan perilaku (Gottlib,
Wahlsten & Lickliter, 2006; dalam Papalia, Old, & Feldman, 2011). Kesehatan
fisik yang sering dikeluhkan oleh remaja diakibatkan perubahan normal dari
pertumbuhan fisiknya. Beberapa di antaranya adalah masalah jerawat, menstruasi,
ejakulasi awal, dan masalah lain akibat kurangnya kebersihan organ reproduksi.

Jerawat pertama kali muncul pada awal masa remaja usia 10-11 tahun. Jerawat
bisa muncul pada lokasi wajah, leher, dada, punggung, dan lengan atas.
Terjadinya jerawat karena peningkatan hormon androgen sehingga meningkat
pula produksi minyak di bawah lapiran kulit lebih banyak yang didukung dengan
kurangnnya remaja menjaga kebersihan wajah, kurang istirahat, dan stress.
(Kemenkes RI, 2010). Jerawat menjadi keluhan sebagian besar remaja baik laki-
laki maupun perempuan. Hal ini diakibatkan oleh dampak jerawat pada konsep
diri remaja. Lokasi jerawat yang sebagian besar berada pada wajah, membuat
remaja merasa wajahnya kurang bersih sehingga mengakibatkan kurang percaya
diri dalam penampilannya.

Keluhan kesehatan fisik yang sangat erat kaitannya dengan organ reproduksi
adalah menstruasi pada remaja perempuan dan ejakulasi awal pada remaja laki-
laki. Menstruasi yang pertama (menarche) dan ejakulasi awal dapat membuat
kebingungan dan kecemasan remaja karena ketidaktahuannya (Kemenkes RI,
2010). Remaja yang tidak siap menghadapi masalah ini bisa mengganggu aktvitas
belajar dan pergaulannya. Khusus remaja perempuan akan mengalami nyeri
(dismenore) dan ketidaknyamanan selama periode menstruasi sekitar 5-7 hari.
Kejadian ini perlu dipahami oleh remaja sebagai tanda kesiapan pembuahan
(konsepsi) secara fisik. Artinya, apabila terjadi kontak seksual, maka akan terjadi
pertemuan sperma dan sel telur yang akan menjadi janin yang disebut dengan
kehamilan.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


16

Masalah kebersihan organ reproduksi tidak menjadi keluhan remaja sebanyak


masalah jerawat atau nyeri haid, namun hal ini menjadi penting untuk mencegah
terjadinya penyakti seperti infeksi saluran kemih, kanker serviks, kenker penis, dll
(Kemenkes RI, 2010). Kanker serviks atau kanker rahim menjadi perhatian
masalah reproduksi pada perempuan. Kebersihan organ reproduksi perlu menjadi
perhatian karena, remaja sebagian besar remaja masih memiliki pengetahuan cara
menjaga kebersihan yang masih kurang seperti arah cara membasuh setelah buang
air.

2.2.2 Kesehatan Jiwa


Kesehatan jiwa pada remaja erat kaitannya dengan keadaan psikologis yang
terbentuk dari proses kematangan perubahan psikososial. Perubahan psikososial
remaja mengalami perkembangan karasterisitk berbeda-beda. Kerentanan
kesehatan jiwa disebabkan pengalaman psikososial dalam menjalani tahap
perkembangannya (Gullotta, Adams, & Ramos, 2005). Penanganan perubahan
psikososial yang tidak tepat dapat memunculkan perilaku risiko remaja seperti
perilaku seksual bebas, penyalahgunaan obat, perilaku antisosial, dan risiko
berkendara (Bonino, Cattelino, & Ciairano, 2005).

Kecemasan menjadi masalah kejiwaan yang paling sering dialami oleh remaja.
kecemasan merupakan gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan
ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan (Kemenkes RI,
2010). Kecemasan umumnya terjadi karena kurangnya pengetahuan perubahan-
perubahan yang terjadi pada dirinya.

Ketidakstabilan emosi pada remaja juga menjadi perhatian dalam kesehatan jiwa.
Emosi remaja mengalami perubahan lebih dulu dan berakhir lebih lama daripada
perubahan fisik (Stanhope & Lancaster, 2004). Remaja cenderung menyukai
intensitas, kegembiraan, dan kegairahan, seperti kegiatan yang dapat menaikkan
andrenalin. Keadaan emosi yang tidak stabil berhubungan dengan pemikiran
negatif dari proses perkembangan kognitif yang tidak matang (Nicolson & Ayers,
2004). Keadaan emosi yang tidak stabil, impulsif, mudah tersinggung, dan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


17

ketidaksenangan akan sangat mudah berdampak pada perilaku antisosial dan


kejahatan (Caspi et al., 1994; dalam Marte, 2008).

Masalah kesehatan jiwa yang lebih parah adalah depresi. Depresi merupakan
gangguan alam perasaan yang ditandai denga kemurungan dan kesedihan yang
mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup (Kemenkes RI,
2010). Depresi bisa terjadi karena prahaid bagi remaja perempuan, sering sulit
bersepakat dengan keluarga, pacar atau orang lain.

Permasalahan kesehatan jiwa dapat direduksi dengan pembentukan perkembangan


kepribadian yang baik. Perkembangan kepribadian remaja mencapai puncaknya
hingga pada pembentukan identitas ego yang akan mempengaruhi penerimaan diri
sendirinya dan kemampuan untuk berfungsi di masyarakat dengan baik (Stanhope
& Lancaster, 2004). Pembentukan identitas ini akan berproses selama remaja
menjalani kehidupannya (Nicolson & Ayers, 2004).

2.2.3 Perilaku Pacaran Remaja


Masa remaja tidak terlepas dari pergaulan teman sebaya dan ketertarikan seksual.
Pergaulan dengan teman sebaya memberikan pengaruh kuat dalam perilaku
remaja. Persetujuan, penerimaan, atau penolakan dalam pergaulan dengan teman
sebaya menjadi acuan remaja dalam menentukan sikap dan perilaku (Santrock,
2007).

Gejolak ketertarikan seksual mengakibatkan hubungan pacaran sulit dihindari dari


kalangan remaja. Tugas orang dewasa adalah mengarahkan gejolak sekslan dan
memberikan model berpacaran secara wajar dan bertanggung jawab. Pacaran yang
bertanggung jawab adalah yang dapat diterima oleh norma masyarakat sekitar,
tidak perlu dinyatakan dengan hubungan seksal, dan tidak merugikan kehidupan
remaja pada masa yang akan datang (Depkes RI, 2001).

Hubungan seksual saat berpacaran hendaknya dihindari, karena membawa


dampak dan risiko bagi remaja. Apabila hubungan seksual telah terjadi, maka

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


18

hendaknya remaja menghindari risiko negatif yang mengancamnya, misalnya


kehamilan tidak diinginkan, tertular HIV/AIDS, korban pemerkosaan, dsb.

2.2.4 Penanganan Permasalah Kesehatan Reproduksi Remaja


Salah satu area penting dalam kesehatan remaja adalah kesehatan reproduksi.
Berkaitan dengan kesehatan remaja, hal yang mendasari fokus kesehatan adalah:
1) Remaja adalah periode yang mengandung banyak kesempatan dan risiko, 2)
Tidak semua remaja mempunyai derajat kerentanan yang sama, 3) Perkembangan
remaja menuntut perhatian pada pencegahan masalah kesehatan, 4) Masalah
kesehatan remaja mempunyai akar masalah yang sama dan saling berkaitan, 5)
Lingkungan sosial mempengaruhi perilaku remaja, dan 6) Pertimbangan jender
merupakan dasar dari kesehatan remaja (Surjadi, Prato, & Handajani, 2001).

Menurut (Surjadi, Prato, & Handajani, 2001), endekatan penyelesaian masalah


kesehatan reproduksi lebih dianjurkan pada: 1) Meningkatkan perkembangan
kesehatan untuk memenuhi kebutuhan remaja dengan ciri peningkatan
kepercayaan diri, hubungan sosial yang baik, dan lebih peduli terhadap kondisi
kesehatan dirinya, 2) Membangun kompetensi fisik (seperti olah raga), psikologis
(seperti empati), sosial (sepert komunikasi), moral (tanggung jawab), dan
keterampilan, dan 3) Mencegah dan mengatasi problem kesehatan remaja seperti,
aspek gender, perilaku seks bebas, kehamilan dini, kehamilan tidak diinginkan,
pencegahan penularan PMS dan HIV-AIDS.

2.3 Keperawatan Komunitas


Komunitas merupakan satu kesatuan hidup manusia yang menempati suatu
wilayah yang nyata dan saling berinteraksi menurut sistem adat-istiadat serta
terikat oleh suatu identitas dalam ssebuah komunitas (Koentjaraningrat, 1990).
Komunitas adalah sekelompok individu yang berkumpul untuk berbagi
pengalaman yang sangat penting dalam hidupnya (Spradley, 1985). Adapun
komunitas menurut WHO (1974), adalah sebagai kelompok sosial yang
ditentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakinan dan minat yang sama

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


19

serta adanya saling mengenal dan berinteraksi antara anggota masyarakat yang
satu dengan yang lain.

Menurut ANA (1973), keperawatan komunitas merupakan suatu sintesa dari


praktek keperawatan dan praktek kesehatan masyarakat yang diterapkan untuk
meningkatkan dan memelihara kesehatan penduduk. Keperawatan komunitas
adalah kesatuan yang unik dari praktek keperawatan dan kesehatan masyarakat
yang ditujukan untuk pengembangan dan peningkatan kemampuan kesehatan baik
diri sendiri sebagai individu maupun secara kolektif sebagai keluarga, kelompok
khusus atau masyarakat (Freeman, 1981). Adapun keperawatan komunitas
menurut WHO (1974), mencakup perawatan kesehatan keluarga, kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat luas, membantu masyarakat mengidentifikasi masalah
kesehatan sendiri serta memecahkan masalah kesehatan sesuai dg kemampuan
yang ada pada masyarakat.

Teori dan model konseptual pada praktek keperawatan komunitas diperlukan


sebagai acuan dalam melaksanakan asuhan keperawatan komunitas pada
aggregate remaja yang berfokus pada kesehatan reproduksi di lingkungan
sekolah. Teori dan model yang digunakan adalah 5 (lima) fungsi manajemen
keperawatan POSDC, Community As Partner (CAP), Pender’s Health Promotion
Model (HPM), Comprehensive School Health Model (CSHM), Trias UKS (Usaha
Kesehatan Sekolah), dan Family Centre Nursing (FCN).

2.3.1 Teori Manajemen Keperawatan


Teori yang digunakan dalam praktek manajemen pelayanan keperawatan
kesehatan komunitas adalah dari Marquis dan Huston (2010), yang
mengemukakan 5 (lima) fungsi manajemen keperawatan POSDC yakni
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), personalia (staffing),
pengarahan (directing), dan pengawasan (controlling).

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


20

Gambar 2.1 Proses dari 5 (lima) Fungsi Manajemen Keperawatan (Sumber :


Marquis, B., L., & Huston, C., J. 2010. Kepemimpinan Dan Menejemen
Keperawatan ; Teori & Aplikasi . Jakarta : EGC)

2.3.1.1 Perencanaan (planning)


Perencanaan didefiniskan sebagai upaya memutuskan apa, siapa, bagaimana,
kapan dan dimana suatu hal akan dilakukan, sehingga seseorang dituntut untuk
menentukan pilihan di antara beberapa alternatif (Marquis & Huston, 2010).
Perencanaan merupakan fungsi dasar manajemen sebagai langkah awal membuat
rencana tindakan untuk memberikan pandangan ke depan yang bersifat kesatuan,
berkelanjutan, fleksibel dan dibuat dengan teliti (Swanburg, 2000).

Elemen-elemen yang perlu dikaji dari fungsi perencanaan manajemen adalah visi,
dan misi, pembiayaan, penetapan tujuan jangka pendek dan jangka panjang,
strategi yang spesifik, rencana operasional,
operasional, rencana tahunan, dan penetapan
standar/kualitas pencapaian tujuan (Marquis & Huston, 2010). Tahap merancang
elemen-elemen dari fungsi perencanaan merupakan tahap yang sangat penting dan
menjadi perioritas diatara fungsi manajemen lainnya.

2.3.1.2 Pengorganisasian (organizing)


Pengorganisasian adalah upaya untuk menghimpun semua sumber daya yang
dimiliki daerah dan memanfaatkannya secara efisien guna mencapai tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya (Swansburg, 2000). Pada fase pengorganisasian,
hubungan ditetapkan, prosedur diuranikan, perlengkapan disipakan, dan tugas

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


21

diberikan (Marquis & Huston, 2010). Pengorganisasian mencakup penugasan


manajer untuk mensupervisi kepada bawahan sehingga tercapai koordinasi
struktural yang baik (Gillies, 2000).

Weber dalam Marquis dan Huston (2010) memberikan karakteristik pembagian


struktur kerja suatu organisasi adalah: 1) adanya pembagian ketenagaan sesuai
dengan kompetensi individu, 2) birokrasi yang tergambar dari struktur hirarki
organisasi, 3) terdapat penjelasan tugas dan fungsi masing-masing, 4) adanya
standar operasional prosedur, dan 5) adanya promosi jabatan. Jadi, elemen-elemen
fungsi pengorganisasian diantaranya adalah struktur organisasi, garis komando,
uraian tugas pokok dan fungsi, kerjasama dan koordinasi.

2.3.1.3 Personalia (staffing)


Fungsi ketenagaan atau personalia dalam manajemen adalah kegiatan pemimpin
dalam merekrut, memilih, menempatkan, dan mengajarkan personel untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi (Marquis & Huston, 2010).
Kegiatan ketegakerjaan juga melibatkan proses peningkatan harkat, martabat, dan
menghargai sehingga mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas
kemampuannya (Swanburg, 2000).

Fungsi personalia dari manajemen keperawatan berfokus pada upaya pemanfaatan


Sumber Daya Manusia (SDM) dalam melaksanakan rencana program untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan (Kelly, 2010). Jadi, elemen-elemen dari
fungsi personalia diantaranya adalah rekruitmen, seleksi, orientasi, penempatan,
beban kerja, pelatihan SDM, turn over, dan jenjang karier.

2.3.1.4 Pengarahan (directing)


Pengarahan didefiniskan sebagai pengaturan atau penggiatan yang meliputi
menciptakan suasana yang memotivasi, membina komunikasi organisasi,
menangani konflik, memfasilitasi kerjasama, dan negosiasi (Marquis & Huston,
2010). Fungsi pengarahan diistilahkan juga dengan kepemimpinan (leading) yang

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


22

berfokus pada pemberdayaan bawahan, peningkatan kualitas tindakan, dan


kepemimpinan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan (Swanburg, 2000).
Fungsi pengarahan dilakukan oleh atasan atau pimpinan terhadap bawahan dalam
memberikan perintah dan aturan-aturan dalam pencapaian tujuan organisasi. Jadi,
elemen-elemen dari pengarahan diantaranya adalah supervisi, umpan balik,
pelaporan, motivasi, pendelegasian, komunikasi, pengembangan program,
pelaksanaan sesuai rencana, kesesuaian dengan kebijakan, negosiasi, dan
empowerment.

2.3.1.5 Pengawasan (controlling)


Pengawasan merupakan proses pelaksanaan standar kinerja yang
berkesinambungan untuk mengevaluasi, menilai, dan mengoreksi suatu tindakan
sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat (Marquis & Huston, 2010)
menyatakan bahwa pengawasan merupakan proses pengumpulan dan
menganalisis secara teratur dengan indikator sistem dalam suatu pelayanan akan
menyuguhkan data yang dapat digunakan untuk menilai jalannya program kerja,
kemajuan, dan perlunya perbaikan yang diperlukan (Swansburg, 2000; Marquis &
Huston, 2010).

Pengawasan lebih kepada proses evaluasi kualitas dari pelaksanaan dan hasil
sebuah program yang dilakukan atas dasar tujuan keinginan untuk mencapai
tujuan yang didinginkan. Jadi, elemen-elemen dari pengawasan diantaranya
adalah evaluasi kualitas dan kuantiitas pelayanan, jaminan mutu, evaluasi proses
manajemen, penilaian kerja, dan revisi.

Kelima fungsi manajemen keperawatan merujuk pada Marquis dan Huston


(2010), sering digunakan dalam layanan keperawatan di klinik. Aplikasi fungsi-
fungsi manajemen lebih banyak dicontohkan di lingkungan rumah sakit. Oleh
karena itu, perlu pendekatan yang berbeda dalam mengaplikasikan fungsi-fungsi
manajemen pada tatanan layanan keperawatan di masyarakat. Selain itu
diperlukan model lain yang mampu menggambarkan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


23

2.3.2 Teori Community As Partner (CAP)


Model Community As Partner (CAP) lebih berfokus pada perawatan kesehatan
masyarakat adalah praktek, keilmuan, dan metodenya melibatkan masyarakat
untuk berpartisipasi penuh dalam meningkatkan kesehatannya. Pada pengkajian
model ini mempunyai dua komponen utama yaitu core dan subsistem.

Gambar 2.2. Model Community As Partner (Sumber: Anderson, E.T. &


McFarlane, J., 2011, Community As Partner: Theory and Practice in Nursing.
Lippincott)

Variabel yang digunakan dari teori CAP dalam pengkajian adalah 1) Core yang
terdiri dari demografi, sejarah, etnis, dan nilai & keyakinan; 2) Komunikasi
(sumber informasi kesehatan), 3) Pelayanan Kesehatan yang berupa akses, PKPR,
UKS, RS, Puskesmas, & Klinik Swasta, dsb, 4) Rekreasi yang berupa tempat
berkumpul, bentuk kegiatan, organisasi, 5) Ekonomi yakni sumber keuangan,
penggunaan, remaja pekerja, 6) Pendidikan formal dan informal, 7) Politik dan
pemerintahan yakni organisasi remaja, aturan, kebijakan pemerintah setempat, dan
8) Persepsi kesehatan oleh remaja.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


24

Diagnosa keperawatan dibuat setelah dilakukan pengkajian dan analisis data yang
mengancam masyarakat dan reaksi yang timbul pada masyarakat. Hasil analisis
tersebut kemudian disusun diagnosa keperawatan yang mengandung tiga
komponen yaitu yang pertama menggambarkan masalah kesehatan, respon, atau
situasi yang terdapat di dalam masyarakat. Yang kedua mengidentifikasi etiologi
yang berkaitan dengan masalah, dan yang ketiga ialah sign atau symptom yang
merupakan karakteristik masalah (Anderson & McFarlane, 2011)

Tahap ketiga dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan rencana


tindakan untuk membantu masyarakat dalam upaya promotif, preventif, primer,
sekunder, dan tersier. Langkah pertama dalam tahap perencanaan adalah
menetapkan tujuan dan sasaran kegiatan untuk mengatasi masalah yang telah
ditetapkan sesuai dengan diagnosa keperawatan. Dalam menentukan tahap
berikutnya yaitu rencana pelaksanaan kegiatan maka ada dua faktor yang
mempengaruhi dan dipertimbangkan dalam menyusun rencana tersebut yaitu sifat
masalah dan sumber/potensi masyarakat seperti dana, sarana, tenaga yang
tersedia.

Strategi yang digunakan mencakup proses kelompok, pendidikan kesehatan dan


kerjasama serta mendemontrasikan keterlibatan dalam asuhan keperawatan untuk
meningktakan peran serta masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan
yang dihadapi diperlukan pengorganisasian komunitas yang dirancang untuk
mengembangkan mayarakat berdasarkan sumber daya dan sumber dana yang
dimiliki serta mampu mengurangi hambatan yang ada. Selain itu untuk
menumbuhkan kondisi, kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat dengan
partisipasi aktif masyarakat dan dengan penuh percaya diri dalam memecahkan
masalah-masalah kesehatan yang dihadapi.

Perawat bertanggung jawab untuk melaksanakan tindakan yang telah


direncanakan yang sifatnya adalah 1) bantuan dalam upaya mengatasi masalah-
masalah kurang nutrisi, mempertahankan kondisi seimbang atau sehat dan
meningkatkan kesehatan; 2) Mendidik komunitas tentang perilaku sehat untuk

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


25

mencegah terjadinya masalah kesehatan reproduksi, dan 3) Sebagai advokat


komunitas untuk sekaligus memfasilitasi kebutuhan komunitas remaja.

Pada kegiatan praktik keperawatan komunitas berfokus pada tiga tingkat


pencegahan yaitu : 1) Pencegahan primer yaitu pencegahan sebelum sakit dan
difokuskan pada populasi sehat, mencakup pada kegiatan kesehatan secara umum
serta perlindungan khusus terhadap penyakit, contoh pendidikan kespro, simulasi
dan bimbingan dalam kesehatan keluarga. 2) Pencegahan sekunder yaitu kegiatan
yang dilakukan pada saat terjadinya perubahan derajat kesehatan masyarakat dan
ditemukan masalah kesehatan. Pencegahan sekunder ini menekankan pada
diagnosa dini dan tindakan untuk menghambat terjadinya penyakit, Contoh :
deteksi kecenderungan perilaku menyimpang, memotivasi keluarga untuk
melakukan pemeriksaan kesehatan; dan 3) Pencegahan tertier yaitu kegiatan yang
menekankan pengembalian individu pada tingkat berfungsinya secara optimal dari
ketidakmampuan keluarga, Contoh : Membantu remaja yang bermasalah untuk
melakukan pemeriksaan secara teratur ke UKS.

Evaluasi merupakan peralatan terhadap program yang telah dilaksanakan


dibandingkan dengan tujuan semula dan dijadikan dasar untuk memodifikasi
rencana berikutnya. Evaluasi yang dilakukan dengan menggunakan konsep
evaluasi struktur, evaluasi proses dan evaluasi hasil. Sedangkan fokus dari
evaluasi hasil sedangkan fokus dari evaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan
komunitas adalah : 1) Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan
target pelaksanaan; 2) Perkembangan atau kemajuan proses kesesuaian dengan
perencanaan, peran staf atau pelaksanaan, peran alat atau pelaksana tindakan,
fasilitas dan jumlah peserta, 3) Efesiensi biaya yang dilihat dari upaya pencarian
sumber dana dan penggunaaannya serta keuntungan program, 4) Efektifitas kerja
yang dilihat dari apakah tujuan tercatat dan apakah klien atau masyarakat puas
terhadap tindakan yang dilaksanakan, dan 5) Dampak yang dapat dilihat dati
status kesehatan meningkat setelah dilaksanakan tindakan, apa perubahan yang
terjadi dalam 6 bulan atau 1 tahun.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


26

2.3.3 Teori Pender’s Health Promotion Model (HPM)


Dasar teori Pender’s Health Promotion Model (HPM) dikembangkan dari teori
Health Belief Model (HBM) dan lebih berfokus pada perilaku predicting
(pencetus) yang mempengaruhi upaya promosi kesehatan (Allender, & Spradley,
2001). Teori ini juga didasari oleh teori Expectancy Value Theory (EVT) dan
Social Cognitive Theory (SCT). Menurut teori EVT, seseorang terlibat dalam
suatu aksi atau tindakan jika dampak aksi memberikan nilai positif pada dirinya.
Teori SCT menunjukkan bahwa proses kognitif dari hasil interaksi faktor personal
dengan situasi lingkungan akan membentuk perilaku kesehatan (Pender,
Murdaugh, & Parsons, 2002). Teori ini terdiri dari 3 (tiga) komponen besar yakni;
karasteristik individu dan pengalaman; perilaku spesifik, kognitif dan sikap; dan
hasil perilaku.

Adapun variabel yang digunakan dari teori HPM dalam pengkajian adalah 1)
Faktor personal diantaranya usai, jenis kelamin, suku, beban psikologis, 2) Faktor
persepsi diantaranya manfaat, hambatan, kepercayaan diri., 3) Pengaruh
interpersonal yakni hubungan dg keluarga, peer/models, dan layanan kesehatan –
Trias UKS, dan 4) Pengaruh situasi ; media, dan lingkungan sekolah.
.

Gambar 2.3 Pender’s Health Promotion Model (HPM)


Sumber : Pender, N. J., Murdaugh, C. L., & Parsons, M.A. (2002). Health
Promotion In Nursing Practice. Ed 4th. New Jersey. Prrentice Hall.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


27

2.3.4 Teori Comprehensive School Health Model (CSHM) & Trias UKS
Model Comprehensive School Health Model (CSHM) merupakan kerangka yang
diakui secara internasional untuk mendukung perbaikan dalam pendidikan siswa
tentang kesehatan sekolah dengan rencana yang terpadu dan holistik. Ini bukan
hanya tentang apa yang terjadi di dalam kelas. Sebaliknya, itu meliputi
lingkungan sekolah dengan seluruh tindakan menangani empat berbeda tetapi
pilar yang saling berhubungan yang memberikan fondasi yang kuat untuk
komprehensif kesehatan sekolah: 1) lingkungan fisik dan sosial; 2) pengajaran dan
pembelajaran; 3) Kebijakan sekolah yang sehat, dan 4) Kemitraan dan jasa.

Ketika tindakan dalam keempat pilar yang harmonis, siswa didukung untuk
menyadari potensi mereka sebagai pelajar yang sehat dan menjadi anggota
masyarakat sekolah yang produktif. Adapun variabel yang digunakan dari teori
SCHM dalam pengkajian adalah 1) Lingkungan fisik dan sosial : hubungan teman
sekolah, hubungan staf dengan pelajar, hubungan staf dengan keluarga,
kebersihan di sekolah, media promosi kesehatan sekolah, sarana dan prasarana
kesehatan, kantin sehat, kader remaja sekolah, 2) Proses belajar mengajar :
kurikulum, ekstrakurikuler, media pembelajaran kesehatan, 3) Kebijakan
kesehatan sekolah : aturan, visi dan misi, sistem rujukan, dan 4) Layanan dan
kerjasama : organisasi yang terlibat, bentuk kerjasama lintas sektor.

Sumber : Joint Consortium fo School Health, 2012.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


28

Trias UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) merupakan bentuk kegiatan pembinaan


manusia lintas sektor dan lintas program yang diharapkan dapat melahirkan
generasi sehat, cerdas, sejahtera, berkualitas daya saing yang mumpuni dan
dilandasi oleh akhlak mulai, atas dasar ajaran Tuhan Yang Maha Esa (Marfu &
Sofyan, 2010). UKS diharapkan pula mampu meningkatkan derajat kesehatan
serta membentuk perilaku hidup sehat pada anak sekolah yang berada di
lingkungan sekolah/madrasah, lembaga pendidikan nonformal, perguruan agama
dan pesantren (Marfu & Sofyan, 2010).

Sesuai dengan Kepmenkes No. 1457 tahun 2003 tentang Standar Pelayanan
Minimal (SPM) bidang kesehatan di Kabupaten/Kota, UKS merupakan salah satu
program yang telah ditetapkan SPM-nya, sehingga UKS wajib diselenggarakan
dan pemerintah kabupaten/kota wajib menyiapkan anggaran untuk mencapai SPM
UKS yang telah ditentukan secara nasional.

UKS diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat siswa dalam


lingkungan yang sehat pula, sehingga siswa dapat belajar, tumbuh dan
berkembang secara harmonis dan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.
Secara khusus tujuan UKS mencakup: 1) Meningkatkan pengetahuan, sikap dan
keterampilan siswa untuk melaksanakan prinsip PBHS, serta berpartisipasi aktif di
dalam usaha meningkatkan kesehatan di sekolah dan di lingkungan masyarakat; 2)
Menjadikan siswa dalam kondisi sehat, baik dalam arti fisik, mental, sosial mapun
lingkungan; dan 3) Menjadikan siswa memiliki kemampuan daya hayat dan daya
tangkal terhadap pengaruh buruk penyalahgunaan narkoba, alkohol, kebiasaan
merokok, dan hal-hal yang berbau pornografi dan sek bebas, serta masalah sosial
lainnya.

Masalah-masalah kesehatan yang menjadi konsentrasi UKS diantaranya: 1)


Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang mencakup kasus: cacaingan, diare, karies
gigi, 2) Masalah yang berkaitan dengan perilaku berisiko seperti: penyalahgunaan
narkoba, seks bebas, penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS, dan infeksi

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


29

saluran reproduksi, 3) Masalah gizi, dan, 4) Gangguan kesehatan dasar yang


berkaitan dengan sanitasi.

UKS dijalankan oleh struktur organisasi yang terdiri dari tim pembina dan
pelaksana. Tim pembina UKS bertugas melaksanakan upaya pembinaan dan
pengembangan UKS secara terpadu dan terkoordinasi, sedangkan tim pelaksanan
UKS melaksanakan tiga program pokok UKS. Tim pembina dan pelaksana UKS,
anggotanya dibentuk sesuai dengan tingkat daerah masing-masing. Tim pembina
dan pelaksana UKS pusat dibentuk oleh Mendiknas, Menkes, dan Menag dan
Mendagri, tingakt propinsi dibentuk oleh Gubernur, tingkat kabupaten/kota
dibentuk oleh Bupati/Walikota, dan tingkat kecamatan dibentuk oleh Camat.

Pelaksanaan program UKS perlu pemahaman secara menyeluruh bagi pembina


dan pelaksana (Marfu & Sofyan, 2010). Oleh karena itu, untuk meningkatkan
kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan siswa dilakukan upaya penanaman
prinsip hidup sehata melalui pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan
pembinaan lingkungan sekolah sehat (Trias UKS).

Pendidikan kesehatan di sekolah dapat diwujudkan melalui dua jalur, yakni : 1)


Jalur kurikuler, yang dilaksanan sesuai dengan kurikulum satuan pendidikan
berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan No. 22 tahun 2006 dalam mata ajar
Pendidikan Jasmani, Olah raga, dan Kesehatan (Penjasorkes), dan 2) Jalur
ekstrakurikuler, yang dapat dirancang dan dilaksanakan oleh masing-masing
sekolah. Pelaksanaan ekstrakurikuler disesuaikan dengan situasi dan kondisi
sekolah. Muatan atau materi pendidikan sekolah disesuaikan dengan faktor risiko
terhadap kesehatan siswa.

Pelayanan kesehatan UKS merupakan upaya peningkatan, pencegahan,


pengobatan dan pemulihan yang dilakukan terhadap siswa agar mampu
menjalankan peran dan tugas perkembangannya. Tujuan pelayanan kesehatan
UKS adalah meningkatkan kemampuan dan keterampilan PHBS, meningkatkan
daya tahan tubuh siswa terhadap penyakit, kelainan dan cacat, serta

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


30

menghentiakan proses penyakit dan pencegahan komplikasi akibat


penyakit/kelainan pengembalian fungsi optimal siswa.

Pembinaan lingkungan sekolah sehat mencakup penyediaan air bersih,


pemeliharaan penampungan air bersih, pengadaan dan pemeliharaan tempat
pembuangan sampah, air limbah dan lingkungan fisik laninnya. Selain itu,
lingkungan sosial dan mental menjadi tanggung jawab UKS melalui usaha
pemantapan sekolah sebagai lingkungan pendidikan dengan meningkatkan
pelaksanaan konsep ketahana sekolah (7K). Program lain dari pembinaan
lingkungan sehat seperti konseling kesehatan, kepramukaan, dan pembinaan
kesehatan di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Sumber : Marfu & Sofyan. (2010). Pedoman Pembinaan dan Pengembangan


Usaha Kesehatan Sekolah di Jawa Barat. Jawa Barat : Dinas Pendidikan
Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

2.3.5 Teori Family Centre Nursing (FCN)


Keluarga merupakan unit dasar dari masyarakat dan menjadi institusi sosial yang
paling banyak memiliki efek terhadap anggota-anggotanya, sehingga keluarga
dapat dijadikan perantara dalam mencapai harapan dan kewajiban masyarakat
serta dapat membentuk dan mengubah individu didalam keluarga. Keluarga
adalah unit dasar dari sebuah komunitas dan masyarakat, mempresentasikan
perbedaan budaya, rasial, etnik, dan sosioekonomi. Aplikasi dari teori ini
termasuk mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi, politik dan budaya ketika
melakukan pengkajian dan perencanaan, implementasi, dan evaluasi perawatan
pada anak dan keluarga (Hitchcock, Schubert, Thomas, 1999). Selain itu, keluarga

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


31

merupakan suatu sistem, sehingga jika salah satu anggota keluarga mengalami
masalah atau sakit, maka akan mempengaruhi anggota keluarga yang lainnya
(Friedman, Bowden & Jones, 2010).

Keperawatan keluarga bertujuan untuk membantu keluarga menolong dirinya


sendiri mencapai tingkat fungsi keluarga yang tertinggi dalam konteks tujuan,
aspirasi dan kemampuan keluarga (Friedman, Bowden & Jones, 2010). Proses
keperawatan keluarga berbeda-beda, tergantung cara perawat memandang
keluarga dalam praktiknya, yaitu 1) keluarga dipandang sebagai konteks, maka
asuhan keperawatan berfokus pada individu; 2) keluarga kumpulan dari angota-
anggotanya, maka asuhan keperawatan diberikan kepada seluruh anggota
keluarga; 3) subsistem keluarga sebagai klien, dimana yang akan menjadi fokus
pengkajian dan intervensi; 4) keluarga sebagai klien, dimana keseluruhan anggota
keluarga dipandang sebagai klien sedangkan individu anggota keluarga sebagai
konteks; dan 5) keluarga sebagai komponen masyarakat, dimana keluarga
dipandang sebagai subsistem dalam sebuah sistem yang lebih besar, yaitu
masyarakat.

Berdasarkan Friedman Family Asessment Model, terdapat 6 kategori umum yang


harus dikaji pada keluarga, meliputi: identitas keluarga, riwayat dan tahap
perkembangan, data lingkungan tempat tinggal, struktur keluarga, fungsi keluarga,
stres, koping dan adaptasi keluarga. setiap kategori memiliki berbagai
subkategori, namun tidak semuanya harus dikaji. Kedalaman dan keluasan
pengkajian dilakukan tergantung pada tujuan keluarga, masalah, sumber daya,
juga tergantung pada peran perawat dalam melakukan proses keperawatan pada
keluarga (Friedman, Bowden & Jones, 2010).

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


32

2.4 Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas


Berbagai strategi intervensi memiliki tujuan yang sama yakni meningkatkan
derajat kesehatan dan mengendalikan faktor risiko, sehingga masalah baru atau
peningkatan angka kesakitan dapat dicegah. Upaya pencegahan masalah yang
terdiri dari pencegahan primer, skunder, dan tersier (Anderson & McFarlan,
2011). Beberapa strategi keperawatan kesehatan komunitas yang digunakan
diantaranya adalah pendidikan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, proses
kelompok, dan kerjasama (Helvie, 1998).

Pendidikan kesehatan merupakan suatu strategi yang memfasilitasi pembelajaran


yang mendukung perilaku sehat dan mengubah perilaku tidak sehat (Friedman,
Bowden, & Jones, 2003). Strategi pemberdayaan merupakan sebuah proses
bersama--sama memilih,
mempengaruhi dan membantu masyarakat untuk bersama
memutuskan, dan mengekspresikan
mengekspresikan nilai dan ide tentang penyelesaian masalah
kesehatan di komunitas (Allender, Rector, & Warner, 2010). Proses kelompok
kegiatan di dalam suatu perkumpulan yang bertujuan memberikan meningkatkan
kualitas kelompok sehingga mampu melakukan keterampilan tertentu, adapun
kerjasama merupakan satu stratgei negosiai membagi kekuasaan untuk mencapai
tujuan yang saling menguntungkan (Helvie, 1998).

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


33

2.5 Inovasi Teknik Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) Sebagai


bentuk Intervensi Keperawatan Komunitas

Berbagai cara intervensi dapat dilakukan untuk merubah atau mengurangi perilaku
berisiko terhadap masalah keseharan reproduksi termasuk perilaku berpacaran
yang menjurus ke arah perilaku seks bebas. Intervensi pencegahan perilaku
berisiko kesehatan reproduksi di kalangan siswa sekolah dengan pendekatan
promosi kesehatan yang lebih ditekankan pada pengembangan aktifitas alternatif
yang diminati oleh remaja dan bimbingan dalam antisipasi masalah (Allender &
Spradley, 2005).

Salah satu cara atau intervensi promosi kesehatan yang dapat dilakukan adalah
Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM). Model ini merupakan intervensi
inovasi kombinasi dari 2 (dua) intervensi promosi kesehatan yakni Brief
Intervention dan PLISSIT Intervention Model. Intervensi inovasi ini menggunakan
pendekatan teknik komunikasi yang sesuai dengan topik permasalahan yang
sensitif seperti masalah reproduksi remaja, seksualitas, dan perilaku berpacaran
remaja dikalangan siswa SMP A Kelurahan Curug, Cimanggis, Kota Depok.

2.5.1 Konsep Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM)


Janssen dan Davis (2009) mengungkapkan bahwa PLISSIT Intervention Model
yang dicetuskan oleh Annon (1974), merupakan teknik komunikasi yang dapat
digunakan dalam konsultasi masalah seksual yang terdiri dari empat tahapan atau
level intervensi. Tahapan model PLISSIT terdiri dari Permission, Limited
Information, Specific Suggestions, dan Intensive Therapy (Antory, 2011). Model
ini berkarasteristik linier dari yang lebih rendah ke tingkatan yang lebih tinggi
sehingga masing-masing tahapan membutuhkan kemampuan pengetahuan,
latihan, dan keterampilan yang berbeda (Seidl et al, 1991; Janssen & Davis 2009).
Lama waktu pelaksanaan intervensi dengan model ini bervariasi tergantung dari
permasalahan, perasanaan kenyamaan klien, dan kemampuan terapis.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


34

Gambar : Model intervensi PLISSIT oleh Annon (1974), dikutip dari Antory,
D. (2011).

Davis dan Taylor (2006) telah mempraktekkan model dan telah


mengembangkannya dengan istilah ex-PLISSIT. Pada tahap akhir perlu dilakukan
evaluasi atau review perasaan klien apakah telah membantu menyelesaikan
masalahnya. Janssen dan
dan Davis (2009) telah menggunakan model ini terhadap
kelompok remaja pekerja di Australia dalam pencegahan penyakit menular dari
perilaku seks bebas. Hasil dari praktik promosi kesehatan dengan model ini dapat
meningkatkan pengetahuan remaja pekerja tentang seks yang aman dan dapat
membantu meningkatkan perilaku sehat.

Teknik intervensi PLISSIT Intervention oleh penulis dimodifikasi dengan


intervensi Brief Intervention. Tahapan intervensi PLISSIT Intervention yang
dikombinasikan oleh penulis dengan Brief Intervention adalah pada tahap Specific
Suggestions dan Intensive Therapy. Brief Intervention (intervensi singkat)
dinamakan juga dengan Solution-Focused Brief Therapy (SFBT) atau Brief
Psychological Intervention (BPI) (Greenberg, Ganshorn, & Danilkewich, 2001;
Williamson, 2008; Trepper, et al, 2013). Brief intervention merupakan cara yang
umum diberikan oleh perawat primer profesional dan komunitas dengan
melibatkan saran oportunistik, diskusi, negosiasi, atau motivasi yang terfokus
pada identifikasi dan perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku atau
aktivitas berisiko remaja (NIHCE, 2006).

Colorado Clinical Guidelines (2008) mengungkapkan bahwa Brief Intervention


disebut juga sebagai intervensi atau percakapan singkat yang terdiri dari beberapa

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


35

kali sesi pertemuan/langkah, bisa sampai 5 langkah dengan masing-masing


langkah kurang lebih 5 menit. Langkah-langkah-langkahnya sebagai berikut
(Greenberg, Ganshorn, & Danilkewich, 2001): 1) membangun kesadaran akan
akibat perilaku negatif yang telah dilakukan, 2) menciptakan situasi harapan
positif dari hasil pengukuran perbedaan perilaku dari sebelumnya, 3) membantu
mengidentifikasi kendala-kendala yang dialami dalam perubahan perilaku berserta
solusi yang dapat mengatasinya, 4) memberikan suasana kegaguman kepada
remaja atas pencapaian apa yang telah dilakukan, dan 5) memberikan kesempatan
untuk menceritakan atau membicaran hal bebas tentang dirinya. Prinsip teknik
intervensi brief intervention adalah menggunakan gaya empati, mendukung
terciptanya persepsi kepercayaan diri (self-efficacy) atau optimisme bahwa dapat
berubah, memberikan masukan tentang risiko perilaku negatif, saran terbuka
untuk berubah, ditekankan pada tanggung jawab untuk berubah, dan menyediakan
berbagai cara untuk terjadinya perubahan (Colorado Clinical Guidelines, 2008).

Brief Intervention dicetuskan oleh Milton Erickson yang dipopulerkan oleh Jay
Haley. Intervensi ini mampu mengubah perilaku remaja yang berisiko terhadap
kesehatannya. Greenberg, Ganshorn, & Danilkewich, (2001) menggunakan
intervensi ini pada remaja berisiko di lingkungan keluarga dan mampu
memberikan dampak yang signifikan. NIHCE, (2006) menggunakan Brief
Intervention untuk meningkatkan aktivitas fisik remaja sehingga mampu menjauhi
perilaku berisiko.

Dengan demikian, Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) yang merupakan


modifikasi dari Brief Intervention dan PLISSIT Intervention Model dapat
dilakukan diberbagai tatanan layanan, termasuk layanan primer kesehatan, baik
dilakukan kepada individu, kelompok, maupun dengan melibatkan keluarga.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


36

Gambar : Model intervensi Brief-PLISSIT (dimodifikasi dari Annon (1974),


dikutip dari Antory, D. (2011); dan Greenberg, Ganshorn, & Danilkewich,
(2001).

Modifikasi tahapan intervensi inovasi model Brief-PLISSIT terdiri dari beberapa


tahapan (Janssen & Davis, 2009; Greenberg, Ganshorn, & Danilkewich, 2001):
1. Permission
Tahap ini merupakan tahap paling penting dari model intervensi, karena tahap
ini adalah awal inisiasi diskusi dengan klien tentang hubungan dan masalah
kesehatan reproduksi dan seksual. Tahap ini sebagai langkah awal dalam
mempromosikan “pacaran sehat” dan cara menjaga kesehatan reproduksi.
Pada tahap ini difokuskan pada ijin pembahasan topik permasalahan dan klien
merasa nyaman untuk ditingkatkan pada tahap
tahap berikutnya. Apabila pada
tahap ini klien tidak merasa nyaman dengan topik seksual, harga diri yang
tersinggung, dan hubungan dalam proses diskusi, maka sangat tidak mungkin
untuk dinaikkan ke tahap selanjutnya. Pada tahap ini diperlukan strategi
implementasi secara verbal dan modifikasi lingkungan agar klien merasa
nyaman dan memberikan ijin untuk melajutkan tahapan berikutnya.

2. Limited Information
Tahap ini membahas tentang segala informasi, termasuk sumber informasi
yang diperoleh oleh remaja mengenai permasalahan seksualitas, dan
membahas juga informasi-informasi yang mungkin salah dipahami oleh
batasan-batasan topik
remaja. Selain itu, pada tahap ini perlu dibahas batasan
informasi yang akan dibahas kemudian. Tahap ini sebagai langkah apresepsi
informasi seksualitas yang dipahami oleh klien. Strategi awal percakapan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


37

yang dapat digunakan adalah menanyakan sumber informasi yang pernah


diperoleh atau diakses klien seperti : TV, internet, sekolah, dll.

3. Specific Suggestions
Tahap ini telah dibahas secara mendalam mengenai seksualitas, risiko
perilaku seks bebas, dan bagaimana pacaran yang aman. Tahap ini terjadi
apabila telah terbentuk rasa percaya dan aman dengan klien. Tahap ini dapat
dibangun dengan baik jika terapis memiliki pengetahuan, pengalaman, dan
kemampuan tentang isu permasalahan ini. Pelaksanaan tahap ini
direkomendasikan jika terapis telah merasa nyaman dan percaya diri dapat
menjalin hubungan terapeutik dan mampu memberikan solusi permasalahan
kepada klien. Tujuan utama dari tahap ini adalah memberikan saran spesifik
yang dapat diterima oleh klien. Pada tahap ini terdiri dari 2 langkah brief
intervention yakni :
a. Langkah 1: Membangun kesadaran akan akibat perilaku negatif yang
telah dilakukan. Cara membangun kesadaran dapat dilakukan dengan
membantu membayangkan masa depan yang berbeda jika perilaku
pacaran risiko telah dapat dihilangkan.
b. Langkah 2: Menciptakan situasi harapan positif dari hasil pengukuran
perbedaan perilaku dari sebelumnya. Pengukuran ini dilakukan dengan
menanyakan kondisi pada pertemuan pertama atau pada saat perilaku
pacaran berisiko masih dilakukan dengan dibandingkan dengan
pertemuan berikutnya. Skala pengukuran dapat menggunakan skala
tertentu yang mudah dipahami oleh remaja, seperti rang nilai anatar 1-10
yang artinya nilai terendah (poin 1) berarti perilaku berisiko dan nilai
tertinggi (poin 10) adalah perilaku tidak berisiko. Skala pengukuran ini
berdasarkan pengakuan perilaku pacaran yang sudah dilakukan oleh
remaja.

4. Intensive Therapy
Tahap ini merupakan tahapan yang paling tinggi dari Model Intervensi Brief-
PLISSIT. Pada tahap ini dilakukan ekplorasi lebih dalam tentang isu atau
trauma psikologis yang dialami klien. Pada tahap ini terapis perlu memiliki

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


38

keahlian dan penguasaan isu seksualitas dan kesehatan reproduksi. Ada 3


langkah dari brief intervention dalam tahap ini, yakni :
a. Langkah 3: Membantu mengidentifikasi kendala-kendala yang dialami
dalam perubahan perilaku berserta solusi yang dapat mengatasinya.
Upayakan remaja mampu mengambil tindakan awal yang mudah dan
kemudian diikuti dengan tindakan yang lebih sulit.
b. Langkah 4: Memberikan suasana kegaguman kepada remaja atas
pencapaian apa yang telah dilakukan. Rasa kegaguman ini diwujdkan
dalam bentuk kalimat tanya seperti “bagaimana kamu dapat melakukan
hal luar biasa ini?”. Pertanyaan seperti ini dapat menimbulkan rasa
percaya diri dan dan motivasi lebih untuk berperilaku pacaran yang sehat.
c. Langkah 5 : Memberikan kesempatan untuk menceritakan atau
membicaran hal bebas tentang dirinya, seperti hobi, aktivitas yang
menyenangkan, tentang keluarga, dll, sehingga memunculkan potensi-
potensi di dalam dirinya yang dapat digunakan sebagai upaya
pembentukan perilaku pacaran yang positif.
Apabila klien mengalami masalah yang tidak dapat dialayani oleh terapis
karena keterbatasan kemampuannya, maka dapat dirujuk pada ahli
psikologis, psikiatri, atau lainnya.

5. Review & Evaluation


Tahapan ini ditambahkan oleh penulis karena diperlukan untuk dilakukan
agar dapat mengidentifikasi perasaan klien terhadap efektifitas intervensi
secara lisan. Pada tahapan ini dilakukan juga evaluasi teknik yang dirasakan
ketidaknyamaan yang sebelumnya tidak terungkapkan pada tahapan
sebelumnya.

2.5.2 Aplikasi Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM)


Aplikasi dari “Brief-PLISSIT Intervention Model” sebagai upaya pencegahan
primer promosi kesehatan dalam pembinaan kesehatan reproduksi dan
pencegahan perilaku seks bebas remaja akibat dari perilaku pacaran yang tidak
sehat. Langkah-langkah intervensi sebagai berikut :

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


39

1. Permission
Terdapat dua strategi pelaksanaan pada tahap ini yakni strategi verbal dan
lingkungan. Strategi verbal dilakukan dengan memulai percakapan yang
bertujuan meminta persetujuan atau ijin untuk membahas topik kesehatan
reproduksi, seperti :
“Topik pembahasan yang akan kita diskusikan pada pertemuan
saat ini adalah................. apakah ada yang tidak setuju dengan
topik ini? Atau apakah ada yang merasa tidak nyaman dengan
topik ini?”.

Apabila ada salah satu klien yang tidak berkenan dengan pembicaraan topik
ini, maka diperbolehkan untuk meninggalkan area pertemuan. Adapun
strategi modifikasi lingkungan dapat berupa: 1) pertemuan dapat dilakukan
di tempat yang nyaman dan disetujui oleh kelompok, 2) perlunya media
promosi kesehatan yang sesuai dengan topik diskusi, seperti gambar-gambar
organ reproduksi, alat kontrasepsi, jika ada pasien dengan masalah HIV,
Internet, dll.

2. Limited Information
Pada tahap ini menggunakan strategi verbal dengan tujuan klarifikasi
informasi masalah kesehatan reproduksi/seksualitas dan mengeksplor
sumber-sumber media informasi yang digunakan. Kalimat yang dapat
digunakan oleh terapis kepada klien sebagai berikut :
a. “Apakah yang kalian ketahui dengan topik pembicaraan ini?”.
b. “Menurut kamu, bahaya perilaku kesehatan reproduksi yang
berisiko itu apa atau seperti apa?”.
c. “Dari manakah kalian mendapatkan informasi tentang
kesehatan reproduksi dan bahaya perilaku berisiko?”
d. Jika menemukan pertanyaan yang sulit dijawab, kita dapat
menggunakan sumber media yang disiapkan “Informasi yang
kalian tanyakan belum bisa aku jawab, mari kita cari di media
internet yang telah saya sediakan”.

3. Specific Suggestions
Pada tahap ini terapi dapat memberikan saran atau sugesti yang kongkrit
terhadap topik yang dibahas pada kelompok. Masing-masing langkah pada
tahap ini sebagai berikut :

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


40

a Langkah 1: “Apa kerugian yang kamu peroleh jika melakukan


perilaku kesehatan berisiko?”. Dan “Apa yang kamu peroleh
jika kamu jauh dari perilaku kesehatan berisiko?”, serta “Jika
perilaku kesehatan berisiko tidak pernah dan tidak akan kamu
lakukan, betapa beruntungnya kamu?”
b Langkah 2: “Dari nilai terendah 1-10, kira-kira berapakah nilai
menfaat positif dari perilaku kesehatan yang kamu lakukan saat
ini?”. Dan “Berapa kira-kira nilai perubahan gaya perilaku
kesehatan positif yang telah kamu lakukan sampai saat ini?”.

4. Intensive Therapy
Pada tahap ini perawat dapat mengeksplor lebih dalam tentang permasalah
yang dihadapi klien, sehingga terapis dapat menggunakan kalimat-kalimat
berikut:
a Langkah 3: “Apa saja hambatan yang kamu alami dalam usaha
menjalankan perubahan tersbut?” atau “Ceritakan apa saja
masalah yang kalian hadapi dalam menjaga kesehatan
reproduksi dan perilaku pacaran?” atau “Bisakah kalian
ceritakan pengalaman masalah yang kalian miliki saat menjaga
kesehatan reproduksi dan perilaku pacaran tersebut?” dan “Apa
sajakah yang sudah kamu lakukan untuk mengatasinya?”.
b Langkah 4: “Bagaimana kamu dapat melakukan perubahan
perilaku kesehatan positif yang luar biasa ini, dapatkan kah
kamu ceritakan?”. Dan “Bagaimana kamu dapat melakukan hal
luar biasa ini?”. Serta “Bagaimana perasaanmu saat ini setelah
mampu melakukannya?”.
c Langkah 5 : “Sekarang ini adalah sesi bebas, apa yang ingin
kamu ceritakan, seperti hobi, aktivitas yang menyenangkan,
tentang dukungan keluarga, atau bahkan dukungan pacar
tentang masalah yang kita bahas saat ini?”.

Pada tahap ini tidak mudah untuk diakukan, sehingga kadang seorang terapis
harus menawarkan bantuan kepada pihak lain yang tentu atas persetujuan
kelompok. Kalimat yang bisa digunakan adalah :
a. “Apakah kalian setuju untuk saya pertemukan dengan teman
saya yang saya yakin dapat membantu menyelesaikan masalah
ini?”
b. “Saya rasa kita perlu bantuan yang lain untuk menyelesaikan
masalah yang kalian hadapi ini?”

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


41

5. Review & Evaluation


Tahap ini perawat melakukan identifikasi perasaan klien terhadap efektifitas
intervensi yang telah dilakukan. Pada tahapan ini dilakukan juga evaluasi
teknik yang dirasakan ketidaknyamaan yang sebelumnya tidak terungkapkan
pada tahapan sebelumnya. Kalimat yang bisa digunakan adalah :
a. “Bagaimana perasaan kalian setelah mengikuti kegiatan ini?
Apakah sekarang menjadi lebih baik?”
b. “Apakah setelah kalian mengikuti kegiatan ini, merasa lebih
yakin dan percaya diri dapat melakukan perilaku kesehatan yang
lebih positif?”
c. “Apakah selama mengikuti kegiatan ini ada yang merasa tidak
nyaman?”

2.6 Peran dan Fungsi Perawat Komunitas di Sekolah


Peran perawat di sekolah menjadi manajer atau koordinator kesehatan sekolah.
Adapun fungsi utama perawat komunitas di sekolah adalah membuat kebijakan,
menjamin program terintegrasi & komprehensif, manajemen kasus untuk
menolong keluarga menemukan kebutuhan, manajemen program sehingga sistem
& aktifitas kesehatan sekolah berkembang sebagai bagian dari sistem kesehatan
masyarakat, dan tanggung jawab dalam promosi & perlindungan kesehatan. Peran
dan fungsi perawat komuitas di sekolah diantaranya sebagai advocat, caregiver,
care manager, casefinder, counsellor, educator, epidemiologist, group leader,
health planner, Manager (Allender, Rector & Warner, 2010; Stanhope &
Lancaster, 2004; Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999).

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


41

BAB 3
KERANGKA KONSEP RESIDENSI DAN PROFIL WILAYAH

Bab ini terdiri dari kerangkan konsep residen keperawatan komunitas dan profil
wilayah kerja yakni SMP A di Kota Depok. Kerangka konsep menggambarkan
dan menjelaskan keterkaitan antar konsep yang menjadi dasar praktek
keperawatan komunitas pada pengelolaan aggregat remaja/siswa SMP A di Kota
Depok yang berfokus pada pembinaan kesehatan reproduksi. Profil wilayah
praktek keperawatan komunitas menjabarkan kondisi keadaan dan situasi di SMA
A di Kota Depok yang mendukung, menghambat, dan yang berkaitan dengan
pelaksanaan asuhan keperawatan.

3.1 Kerangka Konsep Residensi Keperawatan Komunitas


Fokus praktik keperawatan komunitas yang dilakukan di SMP A di Kota Depok
adalah pembinaan kesehatan reproduksi pada siswa dan keluarganya. Pendekatan
pelaksanaan praktik ini merupakan gabungan dari praktik manajemen pelayanan
kesehatan reproduksi, asuhan keperawatan komunitas yang dilaksanakan pada
siswa di setting sekolah, dan keluarga siswa.

Kerangka konsep dalam pembinaan kesehatan reproduksi aggregate remaja


menggunakan integrasi dari model/teori 5 (lima) fungsi manajemen keperawatan
POSDC, Community As Partner (CAP), Pender’s Health Promotion Model
(HPM), Comprehensive School Health Model (CSHM), Trias UKS (Usaha
Kesehatan Sekolah), dan Family Centre Nursing (FCN). Integrasi konsep ini
digunakan sebagai dasar pelaksanaan asuhan keperawatan menejemen pelayanan
kesehatan, komunitas dan keluarga yang dimulai dari tahapan pengkajian hingga
evaluasi.

Model/konsep teori yang digunakan dalam praktek manajemen pelayanan


keperawatan kesehatan komunitas adalah dari Marquis dan Huston (2010), yang
mengemukakan 5 (lima) fungsi manajemen keperawatan POSDC yakni
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), personalia (staffing),
pengarahan (directing), dan pengawasan (controlling).

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


42

Teori Community As Partner (CAP) dikembangkan dari teori Betty Neuman oleh
Anderson dan McFarlane 2010, yang digunakan sebagai dasar kerangka konsep
dengan mengintegrasikan dengan teori lainnya. Model CAP lebih mengedepankan
perawatan kesehatan masyarakat dengan melibatkan peran serta masyarakat untuk
berpartisipasi secara aktif dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan dengan
metode intervensi pencegahan primer, skunder dan tersier.

Terdapat dua komponen utama dari model CAP yaitu core dan subsistem. Unsur
Core pada model CAP yang digunakan dalam pengkajian diantaranya sejarah,
etnis, dan nilai & keyakinan. Adapun unsur subsistem yang digunakan
diantaranya adalah komunikasi, pelayanan kesehatan (PKPR, UKS, Puskesmas,
RS, dsb), rekreasi (tempat berkumpul, bentuk kegiatan, ds), ekonomi (uang saku,
bekerja, dsb), pendidikan (formal dan non formal), politik & pemerintahan
(organisasi sekolah, aturan sekolah, aturan di masyarakat, dsb) dan persepsi
kesehatan oleh remaja dan petugas kesehatan.

Terdapat 4 komponen dari model Pender’s Health Promotion Model (HPM) yang
digunakan dalam praktek asuhan keperawatan kesehatan komunitas diantaranya
adalah faktor personal, faktor persepsi, pengaruh interpersonal, dan pengaruh
situasi (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2002). Komponen yang pertama adalah
faktor personal terdiri dari usiam jenis kelamin, suku, dan beban psikologis.
Kedua, faktor persepsi terdiri dari persepsi manfaat (perceived benefits), persepsi
hambatan (perceived barriers), dan persepsi kepercayaan diri (perceived self-
efficacy). Ketiga, pengaruh interpersonal diantaranya adalah hubungan dengan
keluarga, peer/models, dan layanan kesehatan (Trias UKS). Komponen yang
keempat adalah pengaruh situasi yang terdiri dari media dan lingkungan sekolah.

Comprehensive School Health Model (CSHM) dan Trias UKS (Pendidikan,


Layanan Kesehatan, dan Pembinaan Lingkungan – Usaha Kesehatan Sekolah)
digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan komunitas karena
bertempat di sekolah (Marfu & Sofyan, 2010; Joint Consortium fo School Health,

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


43

2012). Kedua konsep/model ini diintegrasikan menjadi 4 komponen yakni


pertama adalah lingkungan fisik dan sosial yang terdiri dari hubungan siswa
dengan teman sekolah, staf dengan siswa, staf dengan keluarga, kebersihan di
sekolah, media promosi kesehatan sekolah, sarana & prasarana kesehatan, kantin
sehat, dan keberadaan kader remaja sekolah. Kedua adalah proses belajar
mengajar yang terdiri dari kurikulu, ekstrakurikuler, dan media pembelajaran
kesehatan. Ketiga adalah kebijakan sekolah diantaranya adalah aturan, visi &
misi, dan sistem rujukan. Komponen yang keempat adalah layanan dan kerjasama
yang terdiri dari organisasi yang terlibat dan bentuk kerjsama lintas sektor.

Teori yang digunakan sebagai landasan dalam memberikan asuhan keperawatan di


tingkat keluarga adalah Family Centre Nursing (FCN) oleh (Friedman, Bowden,
& Jones, 2003) yang telah diintegrasikan dengan konsep fungsi perawatan
kesehatan dari Maglaya, (2009) dan konsep kemandirian kelurga dari Dinkes
(2008) yang menjadi 6 (enam) komponen yakni status sosial ekonomi (pendapatan
keluarga), riwayat dan perkembangan (riwayat kesehatan remaja & keluarga),
lingkungan rumah (fisik & psikologis), stres dan koping adaptasi (kenyamanan),
fungsi perawatan kesehatan, struktur peran (pengambian keputusan perawatan
dalam keluarga) dan tingkat kemandirian keluarga.

Konsep perumusan masalah keperawatan komunitas dan keluarga didasarkan pada


North American Nursing Diagnosis Association (NANDA 2012-2014) dan/atau
International Classification for Nursing Practice (ICNP 2013). Adapun rumusan
masalah manajemen pelayanan kesehatan didasarkan ketidakefektifan dari 5
(lima) fungsi manajemen dari Marquis dan Huston (2010). Perumusan masalah
menjadi dasar dalam menentukan rencana tindakan keperawatan.
Tindakan/intervensi keperawatan baik dari manajemen pelayanan keperawatan,
keperawatan komunitas, dan keperawatan keluarga, dilakukan disesuaikan dengan
mempertimbangkan kondisi dan profil sekolah dan keluarga remaja.

Aktivitas atau kegiatan intervensi manajemen pelayanan keperawatan difokuskan


pada strategi pemberdayaan berbasis masyarakat sekolah dengan melibatkan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


44

peran serta siswa dan guru. Strategi tersebut dapat membuat keberlanjutan
pelaksanaan program-program kesehatan. Oleh karena itu, dibentuklah peer
edukator siswa dengan pengawasan dari guru yang telah diberikan wawasan dan
pembekalan sebagai salah satu intervensi dari masalah manajemen pelayanan
kesehatan sekolah, sehingga status kesehatan siswa dapat terjaga dengan baik.

Strategi intervensi komunitas di sekolah dilakukan dengan berbagai metode


diantarnya adalah pendidikan kesehatan, proses kelompok, kerjasama dengan
pihak sekolah dan puskesmas, serta pemberdayaan peer edukator (Helvie, 1998).
Pendidikan kesehatan kesehatan reproduksi diberikan dalam setting kelas
sehingga memudahkan dalam mengumpulkan siswa. Proses kelompok dilakukan
untuk memberikan keterampilan hidup sehat bagi siswa di sekolah. Kerjasama
dilakukan dengan melibatkan guru pembina peer edukator dan pihak puskesmas
dalam menjalankan program-program asuhan keperawatan komunitas.
Pemberdayaan peer edukator dalam intervensi keperawatan komunitas lebih
kepada aktivitas penyuluhan, baik yang dilakukan secara personal maupun
berkelompok.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


45

Gambar 3.1 Framework Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) Sebagai


Bentuk Intervensi Pembinaan Kesehatan Reproduksi Remaja Di Sekolah

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


46

3.2 Profil SMP A Kota Depok


Sekolah Menengah Pertama (SMP) A adalah sekolah swasta yang bernaung di
bawah Yayasan Wakfiyah. Terletak di Jalan Raya Bogor Km. 33,5 No 43
Cimanggis, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Jumlah siswa pada tahun ajaran
2013/2014 sebanyak 188 orang. Terdapat rumah sakit swasta yang cukup besar
berada di arah baratdaya seberang sekolah. Sekitar ± 1 km ke arah utara terdapat
UPT Puskesmas Cimanggis.

Jumlah total guru yang mengajar sebanyak 25 guru yang sebagian besarnya
adalah guru tidak tetap. Guru tetap SMP A yang hampir setiap hari berada di
sekolah berjumlah 5 guru yang 2 diantaranya merangkap sebagai pegawai tata
usaha. Guru tidak tetap datang ke sekolah jika ada jadwal mengajar.

Hasil wawancara dengan kepala sekolah SMP A, didapatkan bahwa ada total 6
kelas dengan 2 kelas pada masing-masing angkatan. Jadwal jam pelajaran sekolah
dibagi menjadi 2 (dua) yakni kelas pagi dan kelas siang. Kelas pagi diperuntukkan
bagi kelasa IX A dan IX B, sedangkan kelas siang diperuntukkan bagi kelas VII
A, VII B, VIII A dam VIII B.

Hasil pengamatan didapatkan bahwa gedung atau bangunan sekolah digunakan


secara terpadu antara MI, SMP dan SMK. Terdapat total 10 ruang yang digunakan
untuk kelas belajar, 1 ruang lab komputer, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang latihan
musik, 1 ruang latihan bank siswa, dan 1 ruang guru SMP. Terdapat masjid besar
yang berada di tengah-tengah sekolah yang juga digunakan sebagai bagian dari
kegiatan keagamaan siswa dan warga umum. Lapangan sebagai sarana olahraga
berada di tengah antara gedung selatan dan utara seluas lapangan badminton.

Terdapat sumber air bersih yang berasal dari sumur pompa. Penerangan listrik
menjangkau ke semua bangunan. Sistem pembuangan sampah sekolah dibuang
ditempat sampah sementara yang akan diangkut ke kendaraan sampah. Terdapat
WC khusus siswa yang dekat dengan masjid. Beberapa sudut di lingkungan
sekolah terlihat ada taman bunga yang cukup tertata rapi.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


47

Beberapa media promosi kesehatan ditemukan di lingkungan sekolah seperti


adanya spanduk bahaya seks bebas, narkoba dan merokok. Ada beberapa kelas
yang telah ada poster bahaya HIV/AIDS walaupun terlihat sudah lama. Sekolah
belum memiliki ruang khusus UKS dan pelayanan kesehatan sekolah, hal ini
diakui oleh kepala sekolah bahwa keterbatasan ruang menjadi penyebab tidak
adanya ruang khusus pelayanan kesehatan. Sekolah hanya menyediakan obat
simtomatik di ruang guru dan lebih cenderung menyarankan siswa langsung ke
puskesmas. Hasil wawancara dengan guru dilaporkan bahwa materi pendidikan
kesehatan diberikan di dalam pelajaran olahraga.

Kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di sekolah diantaranya adalah


olahraga, pramukan, pencak silat, rebana dan musik. Manyoritas kegiatan
ekstrakurikuler dilaksanakan di hari sabtu, kecuali latihan musik. Kegiatan lain
yang menjadi prioritas di sekolah adalah kegiatan keagamaan. Kegiatan
keagamaan dilaksanakan setiap hari dan menjadi kewajiban, seperti pembacaan
surat-surat pendek Al-Qur‟an setiap sebelum memulai belajar dan sholat zuhur &
asyar berjamaah.

3.3 Pelaksanaan Program Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM)


Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) merupakan teknik komunikasi dalam
pengarahan/konseling kesehatan yang menggunakan tahapan-tahapan tertentu.
Metode ini merupakan gabungan dari Brief Intervention dan PLISSIT Intervention
Model yang sering digunakan oleh profesi kesehatan dalam membantu
peningkatan perilaku kesehatan yang topik permasalahannya masih dianggap
sensitif/tabu untuk dibicarakan (NIHCE, 2006; Janssen & Davis, 2009)

Pelaksanaan program BPIM dimulai pada bulan Desember 2013. Pelaksanaan


program tersebut dilakukan kepada kelompok-kelompok siswa sesuai dengan
kelasnya masing-masing. Program ini sebelumnya telah disosialisasikan terlebih
dahulu kepada siswa, guru dan pihak sekolah lainnya. Strategi pelaksanaan
sosialisasi mulai dilakukan pada saat pertemuan Lokmin tengah semester dan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


48

diteruskan kepada siswa saat pertemuan kelompok. Penyampian sosialisasi ke


siswa dilakukan diberbagai kesempatan, seperti saat proses belajar mengajar,
diluar jam belajar, dan pada keadaan khsusus yaitu saat kegiatan kelompok, OSIS,
dsb.

Pelaksanaan proses BPIM pada periode Desember 2013-April 2014. Masing-


masing pertemuan membutuhkan waktu sekitar 60 menit. Materi-materi yang
dibahas dalam program BPIM diantarnya adalah : 1) Kemampuan menerima
masukan dan evaluais diri, 2) Diskusi gaya berpacaran berisiko remaja jaman
sekarang, seks bebas, dan aborsi, 3) Manajemen perilaku tentang kemampuan
mengidentifikasi hobi dan cita-cita, 4) Manajemen perilaku tentang manfaat,
kerugian, dan waktu ideal berpacaran, 5) Manajemen perilaku tentang
kemampuan identifikasi perbedaan perasaan suka atau cita, 6) Manajemen
perilaku tentang kemampuan mengenal potensi diri dengan Johari window, dan 7)
Manajemen perilaku tentang sikap positif dan tanggung jawab diri. Selain itu,
dilakukan juga intervensi yang berupa pemberian edukasi dan latihan tentang
komunikasi dan menolak asertif.

Materi program ini juga diberikan kepada peer edukator dan guru pembina yang
telah terlebih dahulu dilatih. Adanya peer edukator diharapkan dapat meneruskan
pengarahan kesehatan reproduksi kepada siswa kelas lain yang bellum
mendapatkan intervensi BPIM dan siswa baru yang akan datang.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


49

BAB 4
MANAJEMEN PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
KOMUNITAS PEMBINAAN KESEHATAN REPRODUKSI
PADA AGGREGATE REMAJA DI SMP A KOTA DEPOK

Bab ini akan menguraikan analisa situasi manajemen pelayanan keperawatan


komunitas, ashan keperawatan komunitas, dan asuhan keperawatan keluarga yang
berkaitan dengan pembinaan kesehatan reproduksi pada aggregate remaja yang
bersekolah di SMP A Kota Depok.

4.1 Pengelolaan Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas


Penjelasan pengelolaan manajemen pelayanan keperawatan komunitas yang
berkaitan dengan pembinaan kesehatan reproduksi remaja dimulai dari analisa
situasi hasil pengkajian dengan pendekatan analisis fish bone berdasarkan 5 fungsi
manajemen pelayanan kesehatan berdasarkan teori dari Marquis dan huston
(2010), yakni perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), personalia
(staffing), pengarahan (directing), dan pengawasan (controlling). Tahap
pengkajian dilakukan di tingkat Dinas Kesehatan Kota Depok, UPT Puskesmas
yang terkait pelaksanaan PKPR di wilayah kerja puskemas Cimanggis, dan
pelayanan kesehatan di lingkungan SMP A Kota Depok.

Hasil pengkajian yang didapatkan kemudian dirumuskan menjadi masalah


pelayanan keperawatan komunitas. Rumusan masalah didasarkan pada
ketidakefektifan dan pelaksanaan dari elemen masing-masing fungsi manajemen.
Rumusan masalah akan ditindaklanjuti dengan menyusun rencana inovasi,
melakukan tindakan penyelesaian masalah, melakukan evaluasi kegiatan, dan
menyusun rencana tindak lanjut.

4.1.1 Analisa Situasi Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas


Analisa situasi manajemen pelayanan kesehatan, selain didasarkan pada 5 fungsi
manajemen, juga akan dilihat dari data-data pelaksanaan dari visi dan misi dinas
kesehatan kota Depok, Puskesmas Cimanggis, dan sekolah. Proses analisa

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


50

manajemen pelayana kesehatan perlu mengumpulkan data, baik data nasional


mapun regional melalui berbagai sumber, termasuk informasi data dan kegiatan
masing-masing instansi dari anggota tim. Pengumpulan dan analisis data akan
menghasilkan gambaran menyeluruh terkait dengan profil sasaran pelayanan
sehingga organisasi dapat merumuskan visi, misi, dan rencana strategis (Marquis
& Huston, 2010).

4.1.1.1 Perencanaan (Planning)


Visi dinas kesehatan kota depok adalah mewujudkan masyarakat depok yang
sehat. Adapun 2 misi utamanya yaitu: 1) menggerakkan pembangunan
berwawasan kesehatan; 2) memberikan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
prima yang bermutu, terjangkau, dan berkesinambungan. Kedua misi utama
tersebut diturunkan ke dalam beberapa tujuan. Tujuan misi yang pertama adalah:
1) mengembangkan serta menggalang komitmen yang sama dari perilaku
pembangunan; 2) mendorong dan membina pemeliharaan kesehatan yang mandiri.
Tujuan misi yang kedua adalah: 1) meningkatkan kualitas SDM; 2) menyediakan
sumber daya (sarana atau prasarana) kesehatan yang memadai; 3) menjamin
tersedianya obat, vaksin, dan pembekalan farmasi untuk pelayanan kesehatan; 4)
meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat; 5)
mengembangkan sistem informasi kesehatan (SIK).

Visi puskesmas Cimanggis yakni mewujudkan puskesmas yang mampu


memberikan layanan prima dan menjadi pilihan utama bagi seluruh lapisan
masyarakat tanpa melupakan tugas pokoknya sebagai pembina kesehatan di
wilayahnya. Visi ini kemudian diterjemahkan dalam beberapa misi yakni : 1)
meningkatkan dan mengembangkan mutu pelayanan, 2) meningkatkan dan
mengembangkan SDM, 3) meningkatkan dan mengembangkan sumber daya
umum (SDU), 4) meningkatkan jumlah kunjungan, 5) meningkatkan dan
mengembangakan jumlah sarana dana prasarana, 6) meningkatkan dan
mengembangkan sistem pemasaran, 7) meningkatkan dan mengembangkan sistem
informasi manajemen, 8) meningkatkan kemitraan, 9) melaksanakan program
pokok, dan, 10) menjadi pusat pembangunan kesehatan di wilayahnya.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


51

Visi SPM A adalah memebentuk dan membina siswa-siswi menjadi generasi yang
bertaqwa, berakhlak dan memiliki Iptek yang berprestasi serta berbudi pekerti.
Visi tersebut diterjemahkan ke dalam beberapa misi, yakni : 1) mewujudkan
siswa-siswi SMP A menjadi generasi yang beriman dan bertaqwa, percaya diri,
gairah dalam belajar dan beribadah, 2) meningkatkan proses belajar-mengajar
yang aktif, kreatif, efektir dan kondusif, 3) meningkatkan profesionalisme dalam
pendidikan dan da’wah, dan 4), membaca dan mengkaji Al-Quran setiap hari.

Program pelayanan kesehatan yang difokuskan pada remaja oleh Dinas


Kesehatan, termasuk dinas kesehatan Kota Depok adalah PKPR. Program ini
merupakan pengembangan dari program Kemenkes RI yang diadopsi dari WHO
yaitu Youth Friendly Health Services (YFHS). Fokus program kerja dari PKPR
adalah berhubungan dengan pembinaan masalah kesehatan reproduksi pada
kelompok remaja oleh pelaksana UPT Puskesmas yang melingkupi seluruh
wilayah kerja, baik di masyarakat maupun di sekolah.

Program PKPR dilaksanakan oleh dinas kesehatan Kota Depok sejak tahun 2006
dan baru mencakup 26% dari target nasional 85% (SNKRI, 2008). Cakupan yang
masih rendah menandakan bahwa pelaksanaan dari perencanan kerjatidak
maksimal, bahkan dimungkinkan perencanaan program kerja yang dibuat belum
mampu mengatasi masalah kesehatan reproduksi di lapangan. Hal ini dapat dilihat
dari hasil pendataan manajemen pelayanan kesehatan dari tingkat dinas kesehatan
sampai pada tatanan di sekolah.

Dinas kesehatan Kota Depok pada tahun 2013 tidak ada rencana untuk salah
pelaksanaan pelatihan PKPR, terutama di wilayah kerja puskesmas Cimanggis,
sedangkan tahun 2012, program kesehatan remaja hanya dilakukan pada kegiatan
pelatihan guru dan peer konselor kesehatan reproduksi remaja, sedangkan untuk
pelatihan petugas puskesmas tidak dilakukan. Untuk kegiatan pelatihan konselor
pada tahun 2013 hanya dilakukan pada 12 sekolah dengan masing-masing

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


52

mengirimkan 15 siswa yang dilanjutkan denganmendakan FGD oleh 15 siswa


tersebut kepada 40 siswa lainnya di sekolahnya.

Menurut PJ kesehatan remaja Dinkes Kota Depok, hal ini disebabkan karena
keterbatasan anggaran dana, sehingga pelatihan PKPR tidak daat dilaksanakan
setiap tahun. Hal ini menandakan bahwa kebijakan di tingkat dinas, program
PKPR belum menjadi program prioritas kesehatan.

Seharusnya, perencanaan dengan penganggaran (budgeting) harus sejalan, tanpa


adanya kebijakan anggaran yang mendukung perencanaan, maka perencanaan
hanya sebatas dokumen sia-sia (Fitry, 2012). Ketidakkonsistenan antara
perencanaan dengan penganggaran memang menjadi problem nasional. Kebijakan
anggaran lebih kepada persepsi pemegang kebijakan (Fitry, 2012). Program
PKPR yang belum menjadi prioritas kerja tahunan menandakan bahwa ada
ketidaksesuaian dengan misi kerja dinkes kota depok, dimana salah satu misi
utamanya adalah menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan. Demikian
juga ditingkat puskesmas, terjadi ketidaksesuaian dan tugas pokok puskesmas
Cimanggis sebagai pembina kesehatan di wilayahnya.

Perencanaan PKPR di tingkat puskesmas adalah menyediakan klinik pelayanan


konsultasi remaja yang telah ditetapkan oleh pihak Dinas Kesehatan. Artinya,
pihak puskesmas hanya sebagai pelaksana dari kebijakan yang telah dibuat oleh
Dinas Kesehatan. Peluang puskesmas untuk merencanakan program mandiri
dalam mengadakan pelatihan PKPR bagi siswa di wilayah kerjan sangat terbuka
lebar dengan menggunakan dana BOK. Namun, pada tahun 2012 dana BOK
Puskesmas Cimanggis hanya diserap tidak lebih dari 40%.

Program kerja Dinas Kesehatan di Kota Depok pada kelompok remaja cenderung
hanya pada penjaringan masalah kesehatan fisik dasar anak sekolah seperti, tinggi
badan, berat badan, kebersihan kuku, dan telinga yang hanya dilakukan pada
siswa baru saja. Hal ini menandakan bahwa masalah kesehatan remaja akibat

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


53

perilaku berisiko, terutama perilaku seksual, belum menjadi perhatian dari dari
dinas kesehatan.

Walaupun sudah melakukan kegiatan penjaringan, hasil kegiatan belum mencapai


target nasional. Hanya 68% pada siswa SMP dan 66% pada siswa SMU di Kota
Depok yang mendapatkan pelayanan kesehatan melalui penjaringan anak usia
sekolah (Laporan penjaringan anak usia sekolah Dinas Kesehatan Kota Depok,
2012). Angka tersebut masih dibawah target nasional yaitu 80% bagi siswa SMP
dan SMU, namun sudah diatas target Provinsi Jawa Barat adalah 50%.

Perencanaan program pembinaan kesehatan reproduksi pada kelompok remaja


belum berfungsi dengan baik. Hal ini dapat dilihat bahwa: 1) kegiatan pembinaan
kesehatan remaja belum menjadi prioritas pemerintah Kota Depok tahun 2011-
2016; 2) anggaran kesehatan untuk pembinaan kesehatan remaja yang masih
kurang dari kebutuhan; 3) Kebijakan Dinkes Kota Depok dengan Puskesmas
Cimanggis sebagai Unit Pelaksana masih bersifat (top-down planning); 4) Tidak
ada inisiatif dari Puskesmas Cimanggis untuk melakukan pelatihan PKPR bagi
siswa sekolah. Uraian di atas memperlihatkan bahwa perencaaan pelayanan
kesehatan kelompok remaja tidak menjadi prioritas bidang kesehatan di Dinas
Kesehatan Kota Depok. Persepsinya adalah masalah kesehatan masih melihat dari
segi angka kesakitan fisik dan kematian dan belum pada pencegahan perilaku
pada kelompok tersebut.

4.1.1.2 Pengorganisasian (Organizing)


Pengorganisasian adalah upaya untuk menghimpun semua sumber daya yang
dimiliki daerah dan memanfaatkannya secara efisien guna mencapai tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya (Swansburg, 1994). Pengorganisasian mencakup
penugasan manajer untuk mensupervisi kepada bawahan sehingga tercapai
koordinasi struktural yang baik (Gillies, 2000). Weber dalam Marquis dan Huston
(2010) memberikan karakteristik pembagian struktur kerja suatu organisasi
adalah: 1) adanya pembagian ketenagaan sesuai dengan kompetensi individu, 2)
birokrasi yang tergambar dari struktur hirarki organisasi, 3) terdapat penjelasan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


54

tugas dan fungsi masing-masing, 4) adanya standar operasional prosedur, dan 5)


adanya promosi jabatan.

Secara struktur oraganisasi di Dinkes Kota Depok, pelayanan kesehatan remaja


menjadi tanggung jawab seksi Pelayanan Dasar dan Khusus (Yandasus) dibawah
bidang Yankesmas (Pelayanan Kesehatan Masyarakat) dengan perencanaan
kegiatan dilakukan oleh seksi Kesehatan Keluarga (Kesga) yang dibagi menjadi
beberapa PJ program kegiatan seperti gizi, balita, anak usia sekolah dan remaja,
dewasa, dan remaja. Pembagian tugas struktural yang telah dilakukan ini
menandakan bahwa manajemen telah disusun struktur organisasi dengan baik dan
sesuai dengan target dan sasaran program.

Pengorganisasian pelayanan kesehatan remaja di tingkat Puskesmas juga telah


dilakukan, hal ini dapat dibuktikan telaha adanya PJ PKPR walaupun sempat
terjadi kekosongan pada periode 2012. Hanya saja, pemegang program PKPR
juga merangkap di pelayanan dasar UGD, sehingga terdapat double jobdisk yang
membuat pelaksanaan PKPR kurang maksimal.

Selain program PKPR, di Puskesmas Cimanggis juga memiliki klinik konsultasi


remaja untuk melayani masalah-masalah remaja baik secara fisik, psikologis, dan
sosial. Walaupun adanya klinik remaja di puskesmas, tetap tidak ada remaja yang
memanfaatkan pelayanan tersebut. Situasi ini disebabkan karena masalah
kesehatan reproduksi merupakan hal yang sensitif dan rahasia bagi remaja
sehingga enggan untuk mendatangi puskesmas. Bahkan, remaja atau siswa di
sekolah A juga tidak ada yang tahu tentang adanya klinik tersebut. Hal ini berarti
kurangnya sosialisasi dan promosi tentang pelayanan tersebut.

Pengorganisasian kegiatan remaja di tingkat puskesmas juga melakukan


pembinaan UKS oleh puskesmas. Program UKS dilakukan melalui pemantuaan
pelaksanaan tiga trias UKS, yaitu pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan, dan
kesehatan lingkungan sekolah. Pemantauan kegiatan UKS di sekolah-sekolah oleh
UKS juga belum dilakukan secara optimal. Sekolah A yang berlokasi sangat dekat

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


55

dengan Puskesmas belum memiliki organisasi UKS. Menurut pengakuan dari


pihak sekolah, belum ada pembinaan atau pembentukan UKS yang dimotori oleh
puskesmas. Sekolah juga mengakui tidak dibentuknya UKS karena keterbatasan
sumber daya guru yang ada.

Menurut penanggung jawab program Anak Usia Sekolah dan Remaja,


penganggaran kegiatan UKS yang seharusnya menjadi tanggungjawab utama
Dinas Pendidikan (Disdik) tidak pernah menganggarkan biaya pada pelaksanaan
kegiatan tersebut. Lebih lanjut juga diinformasikan tidak ada koordinasi program
PKPR dengan BKKBN kota Depok sebagai badan yang bertanggung jawab
terhadap kesehatan keluarga dan remaja ( program PIK-KRR).

Sumber daya yang terbatas menjadi alasan dari pihak puskesmas dalam
menjalankan manajemen pelayanan kesehatan yang baik. Namun demikian,
keterbatasan sumber daya akan tetap dapat memberikan pelayanan kesehatan
dengan baik, melalui pembagian tugas dan peran yang jelas serta garis komando
yang jelas sesuai dengan fungsi pengorganisasian (Marquis & Houston, 2010).

Strategi yang dapat dilakukan dengan keterbatasan sumber daya petugas


puskesmas maupun guru di sekolah adalah dengan memanfaatkan remaja atau
siswa untuk dibina menjadi peer educator. Kelompok siswa ini dapat
dioptimalkan dalam menajalankan pelayanan kesehatan dasar di sekolah,
termasuk tugas dan fungsi UKS.

Hasil uraian di atas, dapat dilihat masalah yang terjadi adalah fungsi
pengorganisasian pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) di Cimanggis, Kota
Depok yaitu : 1) pengorganisasian PJ program PKPR di Puskesmas belum optimal
dikarenakan adanya double jobdisk; 2) program PKPR di Puskesmas belum
dimanfaatkan secara optimal karena kurangnya sosilaisasi; 3) kerjasama lintas
sektor dengan dinas pendidikan dan sekolah dalam pelaksanaan program
pembinaan remaja khususnya kesehatan reproduksi kurang adekuat; 4) tidak
adanya pemanfaatan peer educator remaja di sekolah maupun di masyarakat

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


56

untuk mengatasi kurangnya sumber daya tenaga dan membantu menjalankan


pelayanan kesehatan reproduksi

4.1.1.3 Personalia (Staffing)


Fungsi ketenagaan atau personalia dalam manajemen adalah kegiatan pemimpin
dalam merekrut, memilih, menempatkan, dan mengajarkan personel untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi (Marquis & Huston, 2010).
Kegiatan ketegakerjaan juga melibatkan proses peningkatan harkat, martabat, dan
menghargai sehingga mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas
kemampuannya (Swanburg, 2000).

Jumlah ketenagakerjaan sebagai PJ pelayanan kesehatan remaja di dinas


kesehatan kota depok hanya mengandalkan 1 orang, namun dapat bekerja sama
dengan bidang Kesga yang lain dan PJ kesehatan remaja di Puskesmas Cimanggs
juga hanya 1 orang. Saat proses kerjanya seorang PJ dapat bekerja bersama
dengan bidang lain, namun fungsi perencanaan hanya mengadalkan PJ saja.

Adapun pelayanan kesehatan UKS di sekolah memiliki PJ sendiri dan berbeda


dengan PJ kesehatan remaja, sehingga perlu kooordinasi untuk memberikan
pelayanan kesehatan remaja di sekolah. Hasil wawancara dengan PJ UKS di dinas
keshatan didapatkan bahwa PJ UKS lebih banyak berkonsentrasi pada pelayanan
UKS di tingkat SD, sedangkan PJ remaja lebih kepada sekolah tingkat sekolah
menengah.

PJ kesehatan remaja juga mengakui bahwa yang seharusnya memegang tanggung


jawab sebagai PJ program di dinas kesehatan minimal pendidikannya setingkat S1
atau S2 yang telah mendapatkan ilmu manajerial. Adapun tingkat pendidikan PJ
program kesehatan di dinas kesehatan mayoritas masih D3. Peningkatan kualitas
tenaga kerja dengna menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi juga terbentur
dengan keterbatasan sumber daya tenaga apabila ditinggal sekolah dan
keterbatasan dana.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


57

Hasil wawancara dengan beberapa pegawai Dinkes didapatkan bahwa sangat sulit
untuk mendapatkan tugas belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini juga dapat
dilihat pada erencanaan pengembangan SDM, bahwa tidak ditemukan program
peningkatan penididikan pegawai ke jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi.
Apabila ada pegawai yang mau melanjutkan sekolah, harus dengan biaya sendiri
dan harus ada pengganti PJm program kerja.

Kurangnya jumlah tenaga kerja juga diakui oleh dinas kesehatan, sehingga pihak
Dinkes juga telah mengajukan permintaan usulan penambahan pegawai pada
Pemkot Depok, akan tetapi masih belum direalisasikan. Pengajuan tenaga kerja ini
juga tidak dapat langsung meminta tenaga kerja dengan klasifikasi S1 atau S2
karena harus mengikuti aturan kepegawaian Kota Depok.

Hasil wawancara dengan petugas puskesmas bahwa beban kerja PJ program


PKPR di tingkat puskesmas sangat berat, sebagian besar satu orang pegawai
puskesmas tidak hanya bertanggung jawab pada satu program saja. Setiap hari PJ
program juga bertugas di pelayanan kesehatan dasar di dalam gedung atau sebagai
administrasi puskesmas.

Tidak adanya pelayanan UKS di sekolah disebabkan kurangnya guru. Jumlah guru
yang setiap hari berada di sekolah hanya 3 orang ditambah dengan ketua yayasan
dan selebihnya adalah guru tidak tetap. Guru tidak tetap mengajar ditempat lain
sehingga waktu untuk melakukan kegiatan di proses di dalam dan di luar jam
belajar mengajar sangat terbatas.

Perawat di puskesmas sesuai dengan Kemenkes Nomor


279/MENKES/SK/IV/2006 berkewajiban melakukan layanan keperawatan
kesehatan masyarakat (Perkesmas). Layanan di lingkungan sekolah dapat berupa
day care seperti screening kesehatan, mempertahankan kesehatan dan pendidikan
kesehatan. Dengan demikian perawat puskesmas berkewajiban untuk membina
secara kesehatan secara langsung pad tingkat sekolah. Adapun dinas kesehatan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


58

berkewajiban untuk melakukan pemantauan kinerja perawat terkait pelayanan


perkesmas di lingkungan sekolah.

Hasil uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi staffing pada pelayanan
PKPR Kota Depok yaitu : 1) Pengembangan pendidikan formal SDM Dinkes dan
Puskesmas sangat terbatas; 2) Keterbatasan jumlah pegawai Puskesmas dalam
menjalaakan program, sehingga terjadi double jobdisk; 3) Beratnya beban kerja
SDM puskesmas; 4) Pelayanan PKPR di tingkat sekolah tidak ada; 5) Jumlah
SDM di tingkat sekolah sangat terbatas dan sulit menjalankan palayanan
kesehatan siswa.
4.1.1.4 Pengarahan (Directing)
Proses pengarahan dari dinas kesehatan Kota Depok menjadi tanggung jawab
langsung pemegang program kesehatan anak usia sekolah dan remaja. Kegiatan
pengarahan berupa pealatihan guru dan murid tentang kesehatan reproduksi pada
tahun 2012 se Kota depok dan hanya perwakilan saja.

Pengarahan dari kepala Dinkes pada para pemegang program dilakukan saat apel
pagi untuk segera mempercepat pelaksanaan progran yang sebelumnya telah
direncanakan. Demikian juga kepala bidang Yandasus telah melakukan
pengarahan kepada seksi Kesga. Proses pengarahan yang dilakukan oleh masing-
masing kepala belum terancana dengan baik, dan lebih bersifat accidential.

Pihak dinas kesehatan melakukan pengarahan ke Puskemas telah terjadwal.


Namun dengan keterbatasan tenaga, maka kegiatan pengarahan dinas kesehatan
tidak dapat dilakukan lebih dari 2 kali pada satu puskesmas se Kota Depok. Hal
ini juga berdampak pada pengarahan ke tingkat sekolah. Peer educator, juga tidak
pernah mendapatkan follow up program kerja dan perkembangannya, sehingga
terkesan kegiatan pelatihan hanya bermanfaat untuk yang hadir saja.

Hasil wawancara dengan pihak sekolah mengharapkan adanya pengarahan berkala


dari puskesmas ke sekolah mengenai siswa yang telah diberikan pelatihan peer
educator. Marquis dan Huston (2010) menyatakan pengarahan yang diberikan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


59

dapat berupa motivasi melalui komunikasi yang baik dalam suatu organisasi
sebagai suatu umpan balik dari implementasi kegiatan organisasi. Program PKPR
oleh peer educator yang dilaksanakan di sekolah belum mendapatkan motivasi
dan pengarahan yang baik dalam pelaksanaannya. Hal ini mengakibatkan peer
educator yang terbentuk tidak dapat melanjutkan kegiatan program PKPR secara
mandiri dan motivasi sekolah untuk melaksanakan PKPR juga masih rendah.

Pengarahan dilakukan saat penjaringan kesehatan yaitu hanya satu kali setahun
setiap penerimaan siswa baru. Pengarahan dan pemberian motivasi dilakukan
pada saat tersebut dilakukan namun sifatnya masih beroreintasi pada target
pelaporan puskesmas saja. Pengarahan yang baik melalui komunikasi dan
motivasi dapat mengarahkan pada delegasi tugas yang baik sehingga akan
mencegah konflik dalam suatu organisasi (Marquis & Huston, 2010). Fungsi
pengarahan yang baik membutuhkan komunikasi yang efektif untuk memotivasi
semua pihak yang terlibat dalam menyelesaikan konflik (Azwar, 1996).

Kegiatan komunikasi dan koordinasi merupakan dasar dari fungsi pengarahan.


Frekuensi komunikasi antara dinkes dengan puskesmas cukup baik. Hal ini
dikarenakan bahwa puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dari dinkes atau
dengan kata lain puskesmas merupakan perpanjangan tangan dari dinkes dengan
wilayah kerja tertentu. Rapat-rapat membahas beberapa permasalan, khususnya
berkaitan dengan program dan pembiayaan antara kepala dinas kesehatan dengan
kepala-kepala puskesmas rutin dilakukan.

Koordinasi didefinisikan sebagai proses penyatuan tujuan-tujuan organisasi pada


tingkat satu satuan yang terpisah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut PJ program PKPR di dinkes, selama ini koordinasi selalu dilakukan
karena ruang kerja masih dalam satu bidang seksi Kesga. Koordinasi
dimaksudkan selain untuk kesesuaian pelaksanaan program kegiatan dengan
program kegiatan lainnya, biasanya untuk meminta bantuan. Koordinasi dapat
juga melalui lintas program seperti program anak sekolah dengan remaja dan
puskesmas.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


60

Menurut PJ program PKPR dinkes, selama ini koordinasi dilakukan sangat inten
dengan pihak puskesmas dimana semua kegiatan seksi ini selalu melibatkan pihak
puskesmas khususnya dalam bantuan SDM. PJ program PKPR mengatakan
bahwa koordinasi dengan sektor lain, BKKBN, jarang dilakukan, padahal
program kesehatan reproduksi yang merupakan bagian dari program PKPR
hampir sama dengan program BKKBN (PIK-KRR). Seluruh komponen organisasi
dan stakeholder pelayanan, baik di tingkat Dinkes atau Puskesmas, perlu
dipersatukan dalam suatu tempat untuk memperoleh suatu kompromi atau
komitmen tentang program pelayanan kesehatan yang akan diberikan dan
dilaksanakan bersama (Marquis dan Huston, 2010).

Fungsi pengarahan program kesehatan remaja yang belum dilaksanakan dengan


baik yaitu: 1) pelayanan UKS di sekolah belum terbentuk dan tidak diarahkan
oleh puskesmas ataupun dinas pendidikan; 2) risiko pemeliharaan kesehatan siswa
tidak adekuat; 3) jadwal rutin untuk pengarahan puskesmas terhadap pelaksanaan
program pembinaan remaja di sekolah belum terbentuk; 4) pelayanan program
pembinaan kesehatan remaja (peer educator) di sekolah kurang optimal; 5)
komunikasi dan koordinasi program mulai dari tingkat dinas kesehatan,
puskesmas sampai sekolah kurang optimal; 6) kerjasama lintas program seperti
BKKBN (PIK-KRR) belum intens.

4.1.1.5 Pengawasan (Controling)


Pengawasan merupakan proses pelaksanaan standar kinerja yang
berkesinambungan untuk mengevaluasi, menilai, dan mengoreksi suatu tindakan
sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat (Marquis dan Huston, 2010)
menyatakan bahwa pengawasan merupakan proses pengumpulan dan
menganalisis secara teratur dengan indikator sistem dalam suatu pelayanan akan
menyuguhkan data yang dapat digunakan untuk menilai jalannya program kerja,
kemajuan, dan perlunya perbaikan yang diperlukan (Gillies, 2000; Swansburg,
1999; Marquis & Huston, 2010).

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


61

Fungsi pengendalian pengelolaan program kesehatan remaja Dinas Kesehatan di


Kota depok dilakukan oleh PJ program kesehatan remaja. Alokasi anggaran untuk
monitor dan evaluasi pelaksanaan program pembinaan kesehatan remaja juga
sudah disiapkan satu tahun sekali. Hasil laporan juga dikolekting dari puskesmas.

Fungsi pengendalian tingkat Puskesmas Cimanggis dilakukan melalui kegiatan


penjaringan setiap awal tahun ajaran baru. Kegiatan penjaringan tersebut, petugas
puskesmas mengevaluasi kegiatan UKS yang dilakukan dan kadang memberikan
pendidikan kesehatan seputar masalah kesehatan fisik remaja di sekolah yang
dilakukan kegiatan penjaringan. Hal tersebut dikarenakan kegiatan pengawasan
dari Dinas Kesehatan Kota Depok hanya dilaksanakan terkait dengan program
yang dianggarkan. Pengawasan yang dilakukan hanya terkait kuantitas seperti
jumlah peer educator yang dilatih dan pengawasan kegiatan pelayanan kesehatan
di sekolah belum dilakukan hal ini terjadi karena penanggung jawab UKS di
Puskesmas Cimangis baru ditunjuk dan belum memiliki program tahun 2013.

Penilaian kinerja belum dilakukan pada pemegang program PKPR di tingkat


Puskesmas. Pengawasan yang dilakukan terkait pelayanan seperti peer educator
di sekolah yang dilatih juga tidak dilakukan oleh pihak Puskesmas dan Dinas
Kesehatan. Kegiatan pengawasan dan evaluasi dari dinas kesehatan hanya terkait
dengan program yang dianggarkan tanpa menyentuh pengembangan dan
modifikasi program untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi. Fungsi
pengawasan program kesehatan reproduksi remaja yang belum dilaksanakan
dengan baik yaitu: program PKPR oleh Dinas Kesehatan di puskesmas dan dari
puskesmas ke tingkat sekolah belum dilaksanakan secara efektif, sehingga tidak
diketahuinya hambatan pelaksanaannya.

Dari uraian data tentang pelaksanaan lima fungsi manajemen pelayanan kesehatan
remaja terhadap masalah kesehatan reproduksi di wilayah kerja Puskesmas
Cimanggis Kota Depok, maka dapat digambarkan diagram fish bone untuk
merumuskan masalah manajemen pelayanan kesehatan, sebagai berikut :

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


62
PERENCANAAN
Kegiatan pembinaan kesehatan
PENGORGANISASIAN PERSONALIA
reproduksi remaja belum Dinas Kesehatan Kota
Depok tahun 2011-2015 Dinkes dana Puskesmas Koordinasi lintas
menjadi prioritas kerja dari
belum memprioritaskan Kurangnya
belum melakukan sektor Dinas (Dinkes Upaya peningkatan PJ kesehatan
Kebijakan Renstra 2011-2015 kegiatan pembinaan tanggung jawab
pengarahan dan & BKKBN) jarang jenjang Pendidikan SDM remaja
Dinas Kesehatan Kota Depok kesehatan reproduksi untuk koordniasi
bimbingan PKPR ke sangat terbatar masih D3
kelompok remaja (PKPR) dilakukan lintas sektor
tingkat sekolah
Belum adanya pengarahan Program kerja Terbatasnya SDM Beban kerja
Puskesmas tidak Terjadinya
dan bimbingan PKPR ke Belum optimal kesehatan remaja tumpang tindih di puskesmas Pegawai di
memiliki
tingkat sekolah. pelaksanaan masih berorintasi di kerja di dalam dan sehingga terjadi Puskesmas
perencanaan
program PKPR di PKPR / dalam gedung di luar gedung double jobdisk dirasa Berat
sekolah konseling remaja puskesmas
Tidak terlaksananya supervisi puskesmas
di Puskemas SDM di sekolah
dan motivasi keberlanjutan dari
Koordinasi masih lemah Belum sudah diikutkan Tidak ada pelayana
pelatihan peer educator Sekolah tidak pelatihan PKPR
Hasil pelatihan dan antara dinas kesehatan terkoordinasinya nPKPR di sekolah
memiliki namun tidak pernah
pembinaan remaja yang dan puskesmas dalam kegiatan PKPR di
program dilatih lanjutan
ikut peer educator tidak menjalankan PKPR di sekolah dg
layanan
ditindaklanjuti sekolah Puskesmas
kesehatan

Supervisi kadang Kurang motivasi petugas


Belum terlaksananya UKS
Tidak ada pedoman dilakukan namun hanya puskesmas dalam mengelola
dan tidak berjalannya siswa
dalam melakukan sekali setahun program PKPR
yang telah mendapat
PKPR secara mandiri
Alur koordinasi dan komunikasi pelatihan peer educator
tidak berjalan efektif antara dinas
kesehatan, dinas pendidikan, Tidak ada tindak lanjut Belum ada evaluasi terhadap Kurangnya pelaksanaan program
puskesmas, dan sekolah. Kegiatan pembinaan koordinasi dan pelaksanaan program dari kepala yang berorientasi pada pencegahan
kesehatan remaja belum komunikasi program puskesmas terhadap penanggung masalah kesehatan reproduksi
menjadi fokus utama program pembinaan dan jawab program PKPR remaja
Upaya pembinaan kesehatan Puskesmas pengarahan peer educator
reproduksi siswa tidak
Tidak terpantaunya tingkat
efektif. Monitoring kegiatan PKPR keberhasilan tugas peer educator
belum ada, hanya ada dalam menyampaiakn informasi
Pengarahan secara kontinu Belm ada jadwal kunjungan penraingan di
Belum optimalnya
kepada teman sebaya
yang dilakukan terhadap peer pengarahan program sekolah
pengembangan program educator, dan PJ PKPR, dari PKPR
pelayanan kesehatan pada remaja dinkes belum berjalan
di sekolah.
PENGARAHAN PENGAWASAN

Diagram 1. Fish Bone Analisis Masalah Manajemen Pelayanan Kesehatan Komunitas Pada Aggregate Remaja Dengan Pembinaan
Kesehatan Reproduksi
Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014
63

4.1.2 Diagnosa Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas


Berdasarkan analisis fish bone tentang manajemen pelayanan kesehatan remaja
khususnya PKPR pada Dinas Kesehatan Kota Depok, Puskesmas Cimanggis dan
di SMP A, dapat disimpulkan beberapa masalah sebagai berikut :

1. Kegiatan pembinaan kesehatan reproduksi remaja belum menjadi prioritas


kerja dari Kebijakan Renstra 2011-2015 Dinas Kesehatan Kota Depok.
2. Belum adanya pengarahan dan bimbingan PKPR ke tingkat sekolah.
3. Tidak terlaksananya supervisi dan motivasi keberlanjutan dari pelatihan peer
educator.
4. Alur koordinasi dan komunikasi tidak berjalan efektif antara dinas kesehatan,
dinas pendidikan, puskesmas, dan sekolah.
5. Upaya pembinaan kesehatan reproduksi siswa tidak efektif.
6. Belum optimalnya pengembangan program pelayanan kesehatan pada remaja
di sekolah.

Selanjutnya akan dilakukan prioritas masalah. Berdasarkan prioritas masalah


berdasarkan kriteria Ervin (2002), masalah aplikasi fungsi manajemen layanan
kesehatan disesuaikan dengan kebutuhan program, pentingnya masalah,
peningkatan kualitas hidup, dan perubahan positif bagi remaja yang berkaitan
dengan perilaku kesehatan reproduksi. Berdasarkan prioritas masalah, maka
masalah manajemen pelayanan keperawatan komunitas terhadap masalah
pembinaan kesehatan reproduksi pada remaja yang akan dilakukan intervensi
untuk satu tahun ini adalah:
1. Upaya pembinaan kesehatan reproduksi siswa tidak efektif.
2. Tidak terlaksananya supervisi dan motivasi keberlanjutan dari pelatihan
PKPR.

4.1.3 Rencana Intervensi, Implementasi dan Evaluasi


Masalah manajemen pelayanan keperawatan pertama adalah upaya
pembinaan kesehatan reproduksi siswa tidak efektif. Tujuan umum dari
intervensi yang diberikan selama 6 bulan adalah upaya pembinaan dan
pemantauan kesehatan reproduksi siswa terlaksana secara efektif melalui

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


64

kelompok peer educator “PEKA” (Pendidik Kespro Al-Islam). Tujuan khusus


dari pengelolaan pelayanan keperawatan komunitas melalui kelompok peer
educator “PEKA” selama 6 bulan diharapkan : 1) Terbentuknya kelompok peer
educator “PEKA”, 2) Terdapatnya struktur kelompok peer educator “PEKA”; 3)
Terlaksananya pembuatan peran, tugas dan penjelasan konsep peer educator, dan
4) Tersusunnya program kerja kelompok peer educator “PEKA” selama tahun
ajaran 2014 secara berkala.

Rencana intervensi untuk menanggulangi masalah manajemen pelayanan


kesehatan pertama yaitu : 1) Sosialisasi pembentukan kelompok peer educator
remaja “PEKA”, 2) Pembentukan peer educator “PEKA”, 3) Pembuatan peran,
tugas dan penjelasan konsep peer educator “PEKA”, dan 4) Merencanakan
pelatihan dan kegiatan secara berkala tahun ajaran 2014 bagi kelompok peer
educator “PEKA”.

Pembenaran : peer educator merupakan kelompok pendukung yang


beranggotakan dari siswa-siswa yang terpilih di lingkungan sekolah. Peer
educator atau pendidik sebaya kesehatan repoduksi remaja adalah orang atau
siswa yang menjadi narasumber bagi kelompok remaja sebayanya yang telah
mengikuti pelatihan pendidik sebaya dalam membantu remaja untuk mendapatkan
informasi kesehatan reproduksi (BKKBN, 2008). Peer merupakan bagian variabel
dari teori HPM bagian dari pengaruh interpersonal yang berkontribusi terhadap
komitmen seseorang untuk merencanakan perilaku promosi kesehatan (Pender,
Murdaugh, & Parsons, 2002). Peer educator merupakan anggota siswa yang aktif
di dalam organisasi siswa intra sekolah, sehingga diharapkan mampu manjadi role
model dan mampu memberikan informasi kesehatan reproduksi bagi teman
sebaya.

Adanya peer educator dapat menjadi pelayanan kesehatan di sekolah yang


dilakukan oleh, dari dan untuk siswa. Konsep peer educator dapat menjadi
pendukung dan pengganti dari program-program UKS yang sulit dijalankan di
sekolah-sekolah dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Hasil pengkajian

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


65

dan diskusi dengan guru SMP A yang mengaku bahwa dalam kondisi
keterbatasan sumberdaya guru tetap dan keberatan jika diberikan tugas-tugas baru
yang membutuhkan peran besar dari guru. Namun bersedia dengan jika
melibatkan peran siswa dalam pengelolaan pelayanan kesehatan sekolah dengan
guru yang berperan sebagai pembinanya. Dengan demikian, peer educator
sebagai alternatif upaya pengelolaan pendidikan kesehatan merupakan bagian dari
program trias UKS dapat dijalankan dengan peran yang lebih aktif pada siswa.

Implementasi untuk mengatasi masalah pengelolaan pelayanan keperawatan


komunitas yang pertama diantaranya adalah mensosialisasikan pembentukan
kelompok peer educator kepada guru dan siswa. Sosialisasi pembentukan peer
educator dilakukan terlebih dahulu kepada guru. Pembentukan peer educator
menjadi alternatif pengelolaan pelayanan kesehatan berbasis proses kelompok dan
pemberdayaan yang menitiberatkan pada proses promosi kesehatan.

Sosialisasi dilanjutkan dengan mengumpulkan siswa OSIS. Siswa yang menjadi


peer educator dipilih dari anggota OSIS yang memiliki kriteria (BKKBN, 2008);
1) bersedia dan memiliki komitmen untuk membagikan informasi kesehatan
reproduksi kepada teman sebaya, 2) memiliki semangat belajar yang cukup tinggi,
3) bersedia meluangkan waktu belajar dan mengikuti pembekalan materi
kesehatan reproduksi, dan 4) telah mengikuti sosialisasi peer educator.

Pembentukan peer educator dilaksanakan pada 12 Desember 2013 yang dihadiri


17 siswa. Pembentukan peer educator dilakukan selama kurang lebih 60 menit
mulai pukul 11.00 hingga 12.00 WIB. Peer educator diberi nama Pendidik
Kespro Al-Islam yang disingkat menjadi “PEKA”. Peer educator akan dibina
oleh satu guru. Pemilihan guru pembina peer educator “PEKA” melalui
pertimbangan bahwa guru tersebut ada ketertarikan dalam bidang kesehatan dan
pernah mengikuti pembekalan UKS dan materi kesehatan dari puskesmas, selain
itu, didasarkan pada pertimbangan tingkat kesibukan dalam melaksanakan tugas
wajib guru.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


66

Pembuatan peran, tugas dan penjelasan konsep dilakukan setelah pembuatan


struktur peer educator “PEKA”. Pembagian peran sesuai dengan struktur
oraganisasi yang dibentuk. Struktur organisasi terdiri dari ketua, sekretaris,
bendahara dan pendidik sebaya kelas VIII A dan B. Peran ketua sebagai
koordinator, motivator dan pemegang tanggung jawab terlaksananya promosi
kesehatan reproduksi di sekolah. Peran sekretaris adalah mengumpulkan laporan
kegiatan dan kesekretariatan. Bendahara bertangung jawab terhadap manajemen
keuangan baik yang diperoleh dari sekolah maupun dari bantuan sumber lainnya.
Pendidik sebaya dari perwakilan kelas VIII A dan B bertugas berbagi informasi
kesehatan kepada teman sebaya satu kelas dan kelas dibawahnya yakni kelas VII
A dan B. Konsep utama dari peer educator adalah membagikan informasi kepada
teman sebaya baik dilakukan secara personal maupun secara berkelompok
(BKKBN, 2008).

Perencanaan pelatihan dan kegiatan secara berkala tahun ajaran 2014 serta
penjelasan konsep peer educator “PEKA” dimotori oleh ketua yang terpilih
dengan peran aktif dari anggotanya. Rencana kegiatan yang disepakati
diantaranya adalah; 1) pembekalan materi kesehatan reproduksi yakni konsep
seksualitas dan tumbuh kembang remaja, pengenalan sistem alat reproduksi, dan
bahaya HIV/AIDS 2) latihan pendidikan kesehatan reproduksi yakni menstruasi
dan cara mengatasi nyeri menstruasi, kehamilan dan konsekuensi seks bebas, dan
HIV/AIDS dan PMS. Waktu pelaksanaan disepakati pada tiap hari kamis jam
11.00 siang selama tidak ada tugas tambahan pelajaran dari sekolah.

Hasil evaluasi pengelolaan manajemen pelayanan keperawatan yang pertama


didapatkan bahwa Sosialisasi pembentukan kelompok peer educator tidak
mengalami kendala yang berarti karena pembentukan peer educator mendapat
dukungan dari siswa dan guru sekolah. Hal ini didasarkan pada keinginan dari
guru agar siswa diberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan bahaya seks bebas
yang berkelanjutan. Pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi dan bahaya seks
bebas atas keprihatinan dari maraknya kasus remaja yang telah melakukan seks
pranikah.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


67

Hasil observasi penentuan peran dan tugas peer educator didapatkan bahwa
keraguan mereka dalam memegang peran tersebut masih tampak, namun dapat
diyakinkan dengan akan diadakaanya pelatihan dan pembekalan materi tentang
kesehatan reproduksi. Proses penjelasan peran dan tugas peer educator disertai
pertanyaan-pertanyaan dari responden mengenai teknis pelaksanaan
penyebaran/pembagian informasi kesehatan reproduksi kepada teman sebaya. Hal
tersebut telah diatasi dengan memberikan jawaban bahwa teknis pelaksanaan
penyebaran informasi kesehatan resproduksi dapat dilakukan dengan cara
personal ataupun berkelompok.

Evaluasi dari proses penyusunan rencana kegiatan yang akan dilakukan selama
tahun ajaran 2014 ditemukan kendala dalam penentuan waktu pelaksanaan
kegiatan. Pelaksanaan kegiatan tidak mendapat jaminan dapat dilakukan dalam
waktu yang sama, namun telah disepakati pelaksanaan yang dimungkinkan paling
bisa berkumpul secara rutin adalah hari kamis jam 11.00 WIB. Waktu tersebut
diluar jam pelajaran kelas siang. Hasil kesepatan tentang waktu juga diputuskan
bahwa apabila pada waktu yang telah disepakti terdapat kegiatan belajar-mengajar
tamahan dari sekolah, maka jadwal kegiatan peer educator akan diatur di lain
waktu.

Intervensi proses kelompok dengan pembentukan peer educator PEKA sebagai


langkah utama dalam upaya perbaikan pengelolaan pelayanan manajemen
keperawatan dengan keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki sekolah.
Dengan demikian, setelah adanya peer educator PEKA, diharapkan upaya
pembinaan kesehatan reproduksi siswa berjalan efektif.

Masalah manajemen pelayanan keperawatan kedua adalah tidak


terlaksananya supervisi dan motivasi keberlanjutan dari pelatihan PKPR
(Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja). Tujuan umum dari intervensi yang
diberikan selama 6 bulan adalah terlaksananya supervisi dan motivasi
keberlanjutan dari pelatihan PKPR. Tujuan khusus dari pengelolaan pelayanan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


68

keperawatan komunitas melalui intervensi-intervensi yang diberikan selama 6


bulan diharapkan : 1) Peningkatan pengetahuan anggota kelompok peer educator
“PEKA” tentang kesehatan reproduksi dan teknik BPIM secara signifikan, 2)
Minimal 3 anggota kelompok peer educator “PEKA” dapat melakukan
pendidikan kesehatan reproduksi kepada teman sebaya, 3) Adanya monitoring dan
evaluasi kegiatan melalui supervisi berkala dari guru dan puskesmas, dan 4)
Adanya program kerja tahunan dari PJ PKPR puskesmas untuk memonitor
perkembangan kegiatan peer educator remaja “PEKA”.

Rencana intervensi untuk menanggulangi masalah manajemen pelayanan


keperatasan yang kedua dilakukan berbagai kegiatan yaitu : 1) Pembekalan materi
kesehatan reproduksi, 2) Pembekalan cara penyampaian informasi kesehatan
reproduksi, 3) Supervisi latihan pendidikan kesehatan reproduksi oleh peer
educator PEKA kepada teman sebaya, 4) Supervisi latihan diskusi kelompok
tentang kesehatan reproduksi oleh peer educator PEKA, 5) Bembekalan dan
latihan teknik Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) berkelompok oleh peer
educator PEKA, dan 6) Koordinasi dengan PJ PKPR puskesmas tentang tindak
lanjut supervisi kegiatan peer educator remaja “PEKA”.

Pembenaran dari intervensi keperawatan dalam pengelolaan masalah manajemen


pelayanan keperawatan dengan tidak terlaksananya supervisi dan motivasi
keberlanjutan dari pelatihan PKPR memerlukan upaya-upaya yang mewujudkan
pelakasanaan dari fungsi manajemen yakni pengarahan (directing). Fungsi
pengarahan menurut Marquis dan Huston (2010) dapat berupa motivasi dan
pendampingan melalui komunikasi yang baik dalam suatu organisasi sebagai
suatu umpan balik dari implementasi kegiatan organisasi. Organisasi yang
dimaksud dalam praktek pelayanan manajemen keperawatan ini adalah peer
educator. Namun, peer educator PEKA membutuhkan pembekalan materi
kesehatan reproduksi dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam
memberikan pendidikan kesehatan.

Pembekalan materi kesehatan reproduksi diberikan kepada peer educator sebagai


langkah awal mempersiapkan peer educator agar memiliki pengetahuan dan
menguasai materi tentang kesehatan reproduksi. Pengetahuan kesehatan
reproduksi menjadi syarat yang perlu dimiliki oleh peer educator (BKKBN,

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


69

2008). Pengetahuan lain yang perlu dimiliki adalah cara penyampaian informasi
kesehatan kepada teman sebaya.

Monitoring dan evaluasi kegiatan peer educator merupakan upaya dari


pengarahan, pembinaan dan pengawasan berkelanjutan agar pelayanan kesehatan
tetap dapat berjalan di tingkat sekolah. Proses memonitor perkembangan kegiatan
peer educator harus dijalankan secara berkala, maka diperlukan program kerja
tahunan dari puskesmas dalam hal ini adalah oleh PJ PKPR kepada sekolah-
sekolah di wilayah kerjanya. Dengan adanya kegiatan monitoring dan evaluasi
dari guru dan puskesmas, bagian dari fungsi pengarahan dan pengawasan, maka
diharapkan program pelayanan kesehatan reproduksi di sekolah dapat berjalan
dengan baik.

Implementasi dari intervensi yang telah direncanakan diharapkan dapat


mengatasi masalah tidak terlaksananya spervisi dan motivasi keberlanjutan dari
pelatihan PKPR oleh Puskesmas. Pemberian pembekalan materi kesehatan
reproduksi diberikan oleh pada hari Kamis tanggal 19 Desember 2014, pukul
11.00. Implementasi ini sesuai dengan rencana program yang telah dibentuk oleh
peer educator PEKA pada pertemuan sebelumnya. Materi kesehatan reproduksi
yang diberikan yakni konsep seksualitas dan pengenalan sistem alat reproduksi.
Pembekalan peer educator PEKA dilanjutkan dengan pemberian materi bahaya
HIV/AIDS yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 13 Februari 2014, pukul
11.00.

Pelatihan pendidikan kesehatan reproduksi dilaksanakan selama 5 kali. Pelatihan


pendidikan kesehatan yang dilaksanakan pada tanggal 13 Februari 2014, dengan
materi bahaya HIV/AIDS kepada anggota peer educator PEKA. Pada latihan ini
juga dijelaskan juga cara-cara melakukan pendidikan kesehatan yakni cara
melakukan penyuluhan. Latihan awal ini sebagai dasar peningkatan kepercayaan
diri dan pengalaman dalam menghadapi audience yang dilaksanakan setelah
pembekalan materi yang sama.

Pelatihan yang kedua dilakukan pada tanggal 27 Februari 2014 dengan materi
kehamilan dan kosekuensi seks bebas. Pelatihan ini juga dilakukan dihadapan
anggota peer educator PEKA. Latihan pendidikan kesehatan reproduksi kemudian
dilanjutkan di depan audience kelas yang ikut disupervisi oleh guru dilaksanakan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


70

pada 6 Maret 2014 dengan materi Penyakit Menular Seksual (PMS). Latihan ini
dilakukan oleh ketua kelompok peer educator di depan kelas. Penilaian dan
evaluasi kemampuan kader siswa setelah latihan melibatkan siswa dan guru.
Latihan pendidikan kesehatan dilanjutkan pada tanggal 8 April 2014 dengan
materi pengenalan menstruasi. Latihan ini dilakukan dengan metode diskusi tiga
kelompok kecil yang dilakukan oleh 3 peer educator PEKA dalam satu waktu.
Latihan kelima dilakukan pada tanggal 15 April 2014 dengan materi cara
mengatasi nyeri menstruasi yang dilakukan dengan metode diskusi 3 kelompok
kecil seperti latihan sebelumnya.

Pembekalan dan latihan teknik BPIM yang dilaksanakan pada tanggal 7 Mei
2014. Pertemuan ini diawali dengan penjelasan definisi, tujuan dan demonstrasi
cara mempraktekkan teknik BPIM. Ada 2 peer educator yang mencoba untuk
mempraktekkan ulang teknik BPIM kepada anggota lainnya. Tujuan kegiatan ini
adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peer educator agar
mampu memberikan solusi dari masalah teman sebaya yang sering melakukan
curhat dengan teknik komunikasi yang telah disusun secara sistematis.

Koordinasi dengan PJ PKPR UPT Puskesmas Cimanggis dilakukan selama 3 kali


pertemuan pada tanggal 30 April 2014, 8 dan 15 Mei 2014. Pertemuan ini
membahas tentang program-program tahunan yang bisa dilakukan oleh UPT
Puskesmas Cimanggis dalam memperbaiki pengelolaan manajemen pelayanan
keperawatan ada agreggate remaja termasuk di lingkungan sekolah.

Hasil evaluasi dari implementasi kegiatan didapatkan bahwa pemberian materi


kesehatan reproduksi dihadiri oleh 15 siswa peer educator dan direspon dengan
baik. Hal ini terlihat dari antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan sampai
selesai. Terdapat 2 siswa yang tidak dapat mengikuti kegiatan dikarenakan
sedanga sakit/tidak enak badan. Materi yang diberikan adalah konsep seksualitas
dan sistem reproduksi remaja yang merujuk pada kurikulum dan modul pelatihan
pemberian informasi kesehatan reproduksi remaja oleh pendidik sebaya dari
BKKBN tahun 2008. Materi yang diberikan terdapat beberapa istilah yang masih
dirasakan asing oleh siswa sehingga perlu waktu dan penjelasan perlahan.
Pelaksanaan yang mundur 30 menit dari jadwal yang telah ditetapkan, berdampak
pada berkurangnya alokasi waktu pemberian materi utama. Mundurnya waktu

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


71

kegiatan yang dilakukan disebabkan karena menunggu berkumpulnya anggota


peer educator PEKA yang masih dalam perjalanan.

Hasil pre dan pos test dari pembekalan materi konsep seksualitas didapatkan
terjadi peningkatan skor pengetahuan peer educator PEKA dari nilai rata-rata
14,8 menjadi 17,4 dengan standar deviasi sebesar 1,6. Selisih atau beda nilai rata-
rata pretest dengan postest sebesar 2,6, sehingga didapatkan peningkatan
pengetahuan signifikan sebesar 2,6/20*100 = 13,0%. Hal ini dibuktikan dari hasil
uji signifikasi dengan Uji Wilcoxon (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W
0,020 untuk pretest dan 0,133 untuk postest) didapatkan p-value 1-tailed sebesar
0,0015 dengan nilai α = 0,05.

Hasil pre dan pos test dari pembekalan materi pengenalan sistem reproduksi
remaja didapatkan terjadi peningkatan skor pengetahuan peer educator PEKA
dari nilai rata-rata 15,6 menjadi 19,7 dengan standar deviasi sebesar 2,3. Selisih
atau beda nilai rata-rata pretest dengan postest sebesar 4,1, sehingga didapatkan
peningkatan pengetahuan signifikan sebesar 4,1/20*100 = 20,3%. Hal ini
dibuktikan dari hasil uji signifikasi dengan Uji Wilcoxon (data berdistribusi tidak
normal, Uji S-W 0,658 untuk pretest dan 0,000 untuk postest) didapatkan p-value
1-tailed sebesar 0,0005 dengan nilai α = 0,05.

Hasil evaluasi dari implementasi pembekalan materi bahaya HIV/AIDS


mendapatkan respon yang cukup baik, dimana kehadiran anggota peer educator
sebanyak 12 siswa. Ketidakhadiran 5 siswa dikarenakan ada beberapa siswa yang
memiliki urudan keluarga dan ada yang bersamaan dengan ekstrakurikuler
tambahan. Pelaksanaan yang pembekalan materi HIV/AIDS tampak antusias
karena siswa merasa topik yang dibahas menarik dan siswa sudah ada sedikit
informasi yang didapat dari sumber-sumber lain.

Hasil pre dan post test dari pembekalan materi bahaya HIV/AIDS didapatkan
bahwa terjadi peningkatan skor pengetahuan peer educator PEKA dari nilai rata-
rata 16,8 menjadi 19,8 dengan standar deviasi sebesar 2,2. Selisih atau beda nilai
rata-rata pretest dengan postest sebesar 3,0, sehingga didapatkan peningkatan
pengetahuan signifikan sebesar 3,0/20*100 = 15,0%. Hal ini dibuktikan dari hasil
uji signifikasi dengan Uji Wilcoxon (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


72

0,150 untuk pretest dan 0,000 untuk postest) didapatkan p-value 1-tailed sebesar
0,0015 dengan nilai α = 0,05.

Pelatihan pendidikan kesehatan yang pertama dilakukan setelah pembekalan


materi bahaya HIV/AIDS disertai penjelasan cara melakukan penyuluhan dengan
benar. Peer educator melakukan redemonstrasi ulang dari cara pemberian
informasi berupa penyuluhan di dalam kelompok yang sudah diberikan contoh.
Beberapa yang menjadi kekurangan dalam redemonstrasi ini adalah kurangnya
keberanian peer educator untk tampil di depan teman sebaya. Hal ini telah
dilakukan motivasi dan penguatan dukungan, sehingga peer educator berhasil
menyelesaikan materi informasi yang disampaikan. Redemonstrasi dilakukan
secara bergantian. Pada kesempatan ini hanya ada 3 peer educator yang memiliki
kesempatan untuk melakukannya karena keterbatasan waktu.

Hasil evaluasi kemampuan 3 peer educator PEKA didapatkan bahwa pada


tahapan pengaturan susana agar tetap menarik perhatian, mempertahankan kontak
mata, dan penggunaan bahasa yang mudah dipahami oleh anggota yang lain dari
ketiganya masih belum dapat dikuasai. Penilaian ini juga selaras dengan hasil
penilaian yang dilakukan oleh audience penerima informasi kesehatan. Hasil
penilaian tentang kemampuan komunikasi dua arah yang berupa menanyakan
kembali apa yang telah didampaikan kepada audience didapatkan bahwa hanya 1
dari 3 peer educator yang lupa untuk melakukannya.

Pelatihan berikutnya dilakukan oleh 1 peer educator di depan audience kelas


dengan materi PMS dengan ikut disupervisi guru didapatkan bahwa masih adanya
kurang percaya diri dan masih merasa grogi di depan kelas. Hal ini diatasi dengan
keterlibatan guru dan residen dalam mengkondudifkan situasi kelas, memotivasi
dan memberikan dukungan untuk melakukan penyuluhan sebagaimana yang telah
diajarkan. Beberapa hal yang masih menjadi kekurangan dari kemampuan peer
edukator PEKA dalam memberikan penyuluhan adalah cara penggunaan bahasa
yang mudah dipahami, komunikasi dua arah dan kemampuan menguasai situasi
kelas.

Keberhasilan penyapaian informasi kesehatan tentang PMS diukur dari perbedaan


tingkat pengetahuan peserta (32 siswa) penyuluhan antara sebelum penyuluhan
dengan setelah penyuluhan. Hasil pre dan post test dari penyuluhan materi PMS

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


73

oleh peer educator didapatkan bahwa terjadi peningkatan skor pengetahuan


audience dari nilai rata-rata 16,2 menjadi 18,0 dengan standar deviasi sebesar 1,7.
Selisih atau beda nilai rata-rata pretest dengan postest sebesar 1,8, sehingga
didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan sebesar 1,8/20*100 = 9,1%. Hal
ini dibuktikan dari hasil uji signifikasi dengan Uji Wilcoxon (data berdistribusi
tidak normal, Uji S-W 0,000 untuk pretest dan 0,001 untuk postest) didapatkan p-
value 1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α = 0,05.

Pelatihan berikutnya dilakukan oleh 3 peer educator yang sama namun dilakukan
dengan metode kelompok kecil yang lebih ditekankan pada diskusi kelompok
setelah diberikan penyuluhan tentang menstruasi. Hasil penilaian kemampuan dari
ketiga peer educator didapatkan bahwa 1 peer educator masih merasa belum
memiliki keyakinan diri yang tinggi sehingga proses diskusi agak kurang berjalan
dengan lancar. Hal ini diperkuat dari hasil penilaian kemampuan peer educator
yang dilakukan oleh residen dan audience yang menghasilkan bahwa kemampuan
komunikasi dua arah masih kurang dikuasai.

Keberhasilan penyampaian informasi kesehatan tentang menstruasi diukur dari


perbedaan tingkat pengetahuan peserta (32 siswa) penyuluhan antara sebelum
penyuluhan dengan setelah penyuluhan. Hasil pre dan post test dari penyuluhan
materi menstruasi oleh peer educator didapatkan bahwa terjadi peningkatan skor
pengetahuan audience dari nilai rata-rata 17,9 menjadi 18,6 dengan standar
deviasi sebesar 2,3. Selisih atau beda nilai rata-rata pretest dengan postest sebesar
0,7, sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan sebesar 0,7/20*100
= 3,4%. Hal ini dibuktikan dari hasil uji signifikasi dengan Uji Wilcoxon (data
berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,000 untuk pretest dan 0,001 untuk postest)
didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,003 dengan nilai α = 0,05.

Pelatihan berikutnya masih dilakukan oleh 3 peer educator dan dengan metode
yang sama yakni diskusi kelompok setelah diberikan penyuluhan tentang
menstruasi. Hasil penilaian kemampuan dari ketiga peer educator didapatkan
bahwa 1 peer educator sudah merasa memiliki keyakinan diri yang cukup untuk
melakukan proses diskusi. Hal ini diperkuat dari hasil penilaian kemampuan peer
educator yang dilakukan oleh residen dan audience yang menghasilkan bahwa
kemampuan komunikasi dua arah cukup dikuasai.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


74

Keberhasilan pencapaian informasi kesehatan tentang cara mengatasi nyeri


menstruasi diukur dari perbedaan tingkat pengetahuan peserta (32 siswa)
penyuluhan antara sebelum penyuluhan dengan setelah penyuluhan. Hasil pre dan
post test dari penyuluhan materi cara mengatasi nyeri menstruasi oleh peer
educator didapatkan bahwa terjadi peningkatan skor pengetahuan audience dari
nilai rata-rata 16,8 menjadi 18,2 dengan standar deviasi sebesar 2,5. Selisih atau
beda nilai rata-rata pretest dengan postest sebesar 1,3, sehingga didapatkan
peningkatan pengetahuan signifikan sebesar 1,3/20*100 = 6,7%. Hal ini
dibuktikan dari hasil uji signifikasi dengan Uji Wilcoxon (data berdistribusi tidak
normal, Uji S-W 0,013 untuk pretest dan 0,007 untuk postest) didapatkan p-value
1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α = 0,05.

Hasil evaluasi pembekalan dan latihan teknik BPIM kepada siswa peer educator
yang dihadiri oleh 10 peer educator PEKA, didapatkan beberapa catatan di
antaranya adalah istilah yang digunakan dalan teknik ini masih sulit dipahami
oleh siswa, sehingga perlu penerjemahan ke dalam bahasa yang lebih mudah
dipahami. Hasil latihan didapatkan bahwa 2 peer educator masih sangat kesulitan
menerapkan teknik BPIM. Hal ini dapat dimengerti bahwa sesuatu keterampilan
yang baru tidak mudah dipahami dan dijalankan dalam waktu yang singkat.

Hasil pre dan post test dari penilaian pengetahuan peer educator pre dan post test
dari pembekalan teknik BPIM didapatkan bahwa terjadi peningkatan skor
pengetahuan peer educator dari nilai rata-rata 14,6 menjadi 16,3 dengan standar
deviasi sebesar 2,3. Selisih atau beda nilai rata-rata pretest dengan postest sebesar
1,7, sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan sebesar 1,7/20*100
= 8,5%. Hal ini dibuktikan dari hasil uji signifikasi dengan Uji Wilcoxon (data
berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,133 untuk pretest dan 0,002 untuk postest)
didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,0210 dengan nilai α = 0,05.

Hasil evaluasi koordinasi dengan PJ PKPR UPT Puskesmas Cimanggis


didapatkan bahwa akan diupayakan ada program-program tindaklanjut
pemantauan kegiatan peer educator PEKA yang akan diselenggarakan secara
berkala. Upaya ini didasarkan pada penyesuaian anggaran dana yang diperoleh
oleh puskesmas. Sumber dana dapat berupa dana BOK (Bantuan Operasionnal
Kegiatan), dan pada tahun 2014 akan ada bantuan dana dari BPJS (Penyelenggara
Bantuan Jaminan Sosial) yang diperuntukkan bagi upaya promotif dan preventif

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


75

di puskesmas. Hal ini memperlihatkan bahwa ada keseriusan PJ PKPR puskemas


untuk mengembangkan dan melaksanakan program promosi kesehatan di sekolah.

4.1.4 Rencana Tindak Lanjut


Hasil pembentukan peer educator PEKA dapat ditindaklanjuti dengan sosialisasi
kepengurusan kepada PJ PKPR UPT puskesmas dan dinas kesehatan kota Depok,
agar mendapatkan dukungan dan pembinaan lanjutan. Supervisi secara berkala
terutama oleh PJ PKPR UPT puskesmas diperuntukkan dalam mmberikan umpak
balik baik kelebihan maupun kekurangan dari kemampuan anggota peer educator
PEKA dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada teman sebaya.

Kader kesehatan sekolah dalam hal ini adalah peer educator PEKA perlu terus
ditambah latihan penyuluhan dalam kelompok kecil untuk menambah
kepercayaan diri, kemampuan melakukan komunikasi dan penguasaan situasi
selama melakukan penyuluhan kesehatan kepada teman sebaya. Upaya lain yang
dapat dilakukan adalah memberikan bahan-bahan materi kesehatan reproduksi
dalam bentuk media yang lebih menarik dan dengan bahasa yang lebih memudah
sehingga akan memudahkan peer educator PEKA untuk menguasai materi
tersebut.

Mahasiswa residen dan guru tetap menyediakan bantuan dan dukungan jika ada
permasalahan yang dihadapi oleh peer educator PEKA. Peer educator dan guru
dianjurkan mengidentifikasi atau membuat jadwal secara berkala untuk
melakukan latihan penyuluhan kesehatan reproduksi secara bergiliran. Hal ini
bertujuan ntuk pemerataan kemampuan dari seluruh anggota peer educator.

4.2 Pengelolaan Asuhan Keperawatan Komunitas


Proses pengkajian asuhan keperawatan kominutas pada agreggate remaja di
sekolah menggunakan pendekatan model Community As Partner (CAP), Pender’s
Health Promotion Model (HPM), Comprehensive School Health Model (CSHM),
dan Trias UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Intergrasi dari keempat model
tersebut didapatkan beberapa variabel yang menjadi dasar utama pengkajian.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


76

Model CAP digunakan sebagai model utama dan diintegrasikan dengan variabel-
variabel dari model lainnya.

Variabel utama dari model CAP yaitu core dan subsistem. Unsur Core pada
model CAP yang digunakan dalam pengkajian diantaranya sejarah, etnis, dan nilai
& keyakinan. Adapun unsur subsistem yang digunakan dalam penkajian
diantaranya adalah komunikasi, pelayanan kesehatan (PKPR, UKS, Puskesmas,
RS, dsb), rekreasi (tempat berkumpul, bentuk kegiatan, ds), ekonomi (uang saku,
bekerja, dsb), pendidikan (formal dan non formal), politik & pemerintahan
(organisasi sekolah, aturan sekolah, aturan di masyarakat, dsb) dan persepsi
kesehatan oleh remaja dan petugas kesehatan.

Variabel-variabel dari model Pender’s Health Promotion Model (HPM) yang


digunakan dalam praktek asuhan keperawatan kesehatan komunitas diantaranya
adalah faktor personal, faktor persepsi, pengaruh interpersonal, dan pengaruh
situasi (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2002). Komponen yang pertama adalah
faktor personal terdiri dari usiam jenis kelamin, suku, dan beban psikologis.
Kedua, faktor persepsi terdiri dari persepsi manfaat (perceived benefits), persepsi
hambatan (perceived barriers), dan persepsi kepercayaan diri (perceived self-
efficacy). Ketiga, pengaruh interpersonal diantaranya adalah hubungan dengan
keluarga, peer/models, dan layanan kesehatan (Trias UKS). Komponen yang
keempat adalah pengaruh situasi yang terdiri dari media dan lingkungan sekolah.

Comprehensive School Health Model (CSHM) dan Trias UKS (Pendidikan,


Layanan Kesehatan, dan Pembinaan Lingkungan – Usaha Kesehatan Sekolah)
digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan komunitas karena
bertempat di sekolah (Marfu & Sofyan, 2010; Joint Consortium fo School Health,
2012). Kedua konsep/model ini diintegrasikan menjadi 4 komponen yakni
pertama adalah lingkungan fisik dan sosial yang terdiri dari hubungan siswa
dengan teman sekolah, staf dengan siswa, staf dengan keluarga, kebersihan di
sekolah, media promosi kesehatan sekolah, sarana & prasarana kesehatan, kantin

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


77

sehat, dan keberadaan kader remaja sekolah. Kedua adalah proses belajar
mengajar yang terdiri dari kurikulu, ekstrakurikuler, dan media pembelajaran
kesehatan. Ketiga adalah kebijakan sekolah diantaranya adalah aturan, visi &
misi, dan sistem rujukan. Komponen yang keempat adalah layanan dan kerjasama
yang terdiri dari organisasi yang terlibat dan bentuk kerjsama lintas sektor.

4.2.1 Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang telah dilakukan menggunakan berbagai cara
yakni wawancara/interview, winsheld survey, literatur review, dan
angket/kuesioner kepada siswa dengan pendekatan cross sectional. Penggunaan
beberapa metode bertujuan agar data yang dihasilkan mampu menggambarkan
kondisi atau keadaan yang sesungguhnya.

Instrumen berupa angket yang telah disusun dilakukan suatu uji keabsahan
instrumen. Uji ini dilakukan untuk mengetahui nilai validitas dan reliabilitas. Uji
validitas bertujuan untuk mengetahui kemampuan ketepatan alat ukur untuk
mengukur suatu variabel, sedangkan uji reliabilitas bertujuan untuk mengetahui
konsistensi item-item di dalam angket dalam proses pengukuran (Sugiyono,
2010). Uji instrumen metode uji isi/konten dengan cara mengujicobakan angket
kepada 10 siswa. Saat mengisi istrumen dilakukan evaluasi kesulitan-kesulitan
yang dialami siswa dalam mengisi angket. Hasil revisi dari kesulitas yang dialami
siswa kemudian dikonsulkan kepada dosen pembimbing agar didapatkan arahan
dalam perbaikan angket.

Pengumpulan data melalui angket diberikan kepada seluruh siswa SMP yang
bersedia mengisi angket dan berada di saat penebaran angket. Jumlah populasi
total siswa SMP sebanyak 188 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan
total sampling. Hasil angket yang terisi dan mendapatkan data sebanyak 159
siswa, sehingga diperoleh prosentase sebesar 84,6% siswa ikut serta mengisi
angket.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


78

4.2.2 Analisa Situasi Asuhan Keperawatan Komunitas


Metode wawancara/interview dilakukan dengan sasaran guru dan siswa di sekolah
SMP A. Berdasarkan pengakuan kepala sekolah, jumlah total guru yang mengajar
di SMP A berjumlah 25 orang. Civitas yang dapat diwawancarai diantaranya;
sebagian siswa, kepala sekolah, bendahara, administrasi, guru olahraga, dan ketua
yayasan.

Tujuan wawancara mengetahui kondisi pelayanan kesehatan yang ada di


lingkungan sekolah. Hasil wawancara didapatkan bahwa belum adanya UKS di
sekolah. Pembinaan kesehatan siswa menjadi tanggung jawab seluruh guru tanpa
ada penganggung jawab tersendiri. Guru mengupayakan rujukan langsung ke
puskesmas atau mengijinkan siswa untuk pulang lebih cepat apabila mendapatkan
siswa yang mengeluh sakit di sekolah.

Menurut ketua yayasan bahwa siswa pernah mengikuti pelatihan PKPR di


Puskesmas Cimanggis pada tahun 2012, namun tidak ada tindaklanjut pegawai
puskesmas untuk memantau ke sekolah. Di sekolah juga belum ada
pengembangan remaja peduli PKPR dari hasil pelatihan tahun sebelumnya.
Adapun pada tahun 2013 tidak ada lagi kegiatan pelatihan PKPR di puskemas.
Pengakuan dari guru olahraga juga mengatakan bahwa materi pendidikan
kesehatan diberikan 1-2 pertemuan persemester sesuai dengan kurikulum,
sedangkan materi pengenalan sistem reproduksi dan perubahan masa pubertas
hanya diajarkan di kelas IX melaluai pelajaran IPA. Guru mengenal budaya
pacaran di lingkungan siswa, sebagai hubungan “kakak-kakak-an atau adik-adik-
an”.

Metode winshield survey dilakukan di lingkungan sekolah dan menghasilkan


bahwa tidak adanya ruang khusus pelayanan kesehatan siswa. Hal ini dapat
dimaklumi karena adanya keterbatasan ruang atau fasilitas gedung di sekolah.
Jumlah guru yang selalu jaga di sekolah sangat terbatas. Hasil pengamatan
didapatkan bahwa jumlah guru yang selalu ada di sekolah atau guru tetap hanya

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


79

sekitar 4-5 orang, adapun guru tidak tetap hadir di sekolah hanya pada saat ada
jam ngajar saja.

Hasil penyebaran angket didapatkan gambaran keadaan siswa SMP A bahwa


distribusi jenis kelamin responden didapatkan 51,6% berjenis kelamin perempuan
dan sebesar 48,4% berjenis kelamin laki-laki. Sebesar 70,4% mengaku pernah
atau sedang berpacaran dan yang mengaku pernah berpacaran >1 kali sebesar
52,2%. Aktivitas yang sering dilakukan oleh siswa SMP A saat memiliki waktu
luang, sebesar 45,3% digunakan untuk olahraga, 22,0% mengikuti kegiatan
kesenian, 34,6% bermain internet, dan 59,7% untuk nongkrong. Siswa SMP A
mengaku lebih dari separuhnya, 62,9% tidak pernah menggunakan/mengunjungi
fasilitas kesehatan Puskesmas. Pengakuan siswa putri SMP A, 15,9% pernah
mengalami menstruasi yang tidak teratur dan 46,3% pernah mengalami keputihan.
Kebiasaan lain yang pernah diakui oleh siswa SMP A diantaranya adalah 9,4%
berduaan, 13,8% ribut dengan pacar, 3,8% pulang malam, 44,7% pernah mengaku
berbohong, dan 32,1% sering mengalami gangguan konsentrasi belajar.

Pengakuan dari siswa SMP A tentang paparan informasi kesehatan reproduksi


yang pernah diperoleh sebelumnya diantaranya sebesar 63,5% siswa mengaku
belum mendapatkan informasi kesehatan cara menjaga alat reproduksi, 50,3%
belum mendapatkan informasi tentang bahaya seks bebas, dan 64,2% belum
mendapatkan informasi tentang penyakit HIV/AIDS. Gambaran data perilaku
kesehatan taman yang diketahui oleh siswa diperoleh bahwa 68,6% tahu
temannya punya pacar, 40,3% tahu temannya bermasalah dengan pacarnya, dan
23,3% tahu temannya telah berciuman.

Gambaran keadaan hubungan sosial siswa didaptkan bahwa 41,5% perilaku siswa
dipengaruhi oleh temannya, 5% siswa mengaku kurang mendapat kasih sayang
oleh keluarga, 3,8% merasa diperlakukan tidak biak oleh orang tua, 22,6% merasa
lebih nyaman bergaul dengan teman sebaya dibandingkan dengan keluarga,
71,7% merasa lebih nyaman berada di luar daripada di dalam rumah, 53,5%
menyatakan bahwa keluarga kurang memahami dirinya, 57,2% merasa lebih

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


80

nyaman curhat dengan teman daripada dengan keluarga, dan sebesar 20,1%
merasa memiliki masalah dengan keluarga.

Gambaran perilaku siswa SMP A tentang kesehatan reproduksi didapatkan bahwa


skor total perilaku yang terdiri dari 3 domain (pengetahuan sikap, dan tindakan)
sebesar 71,11 dengan rincian masing-masing domain yakni skor rata-rata
pengetahuan siswa sebesar 7,45, skor rata-rata sikap sebesar 31,47, dan skor rata-
rata tindakan sebesar 32,19. Nilai rata-rata tersebut menjadi cut of point (COP)
untuk melihat prosentase data perilaku kesehatan reproduksi. Hasil olah data
memperlihatkan bahwa 42,8% perilaku kesehatan reproduksi berada di bawah
rata-rata.

Hasil olah data dari domain pengetahuan didapatkan sebesar 50,9% pengetahuan
siswa SMP A tentang kesehatan reproduksi di bawah rata-rata. Data yang
menggambarkan pengetahuan siswa secara spesifik dapat dilihat dari prosentase
jawaban yang tepat dimulai tentang perubahan fisik hanya dialami oleh remaja
putri saja sebesar 70,4%, definisi SADARI sebesar 43,4%, menstruasi sebagai
tanda perempuan dapat hamil sebesar 56,6%, definisi SAPENI sebesar 35,2%,
penkes dapat mengontrol hasrat seksual sebesar 52,2%, mengganti celana 2 kali
sehari dapat menjaga kebersihan reproduksi sebesar 53,5%, pacaran yang sehat
adalah tanpa seks bebas sebesar 83,6%, berciuman berisiko PMS sebesar 51,6%,
melakukan seks sekali akan dapat hamil sebesar 67,3%, pornnografi dapat
mendorong hasrat seksual sebesar 71,1%, dan HIV/AIDS dapat ditularkan orang
yang tampak sehat sebesar 66,7%.

Hasil olah data dari domain sikap didapatkan sebesar 42,1% sikap siswa SMP A
tentang kesehatan reproduksi di bawah rata-rata. Data yang menggambarkan sikap
siswa secara spesifik dapat dilihat dari prosentase jawaban yang dimulai tentang
kebersihan organ reproduksi adalah masalah pribadi dan tidak perlu didiskusikan,
lebih dari separuh (54,1%) menjawab sangat setuju. Jawaban siswa tentang
masalah berpacaran apakah perlu melibatkan pihak sekolah, hampir separuhnya
(49,1%) menjawab tidak setuju. Jawaban siswa tentang menikah diusia <20 tahun,

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


81

didapatkan sebesar 13,2% menjawab sangat setuju. Jawaban siswa tentang


kebijakan bahwa remaja yang hamil di luar nikah harus dikeluarkan dari sekolah,
didapatkan bahwa hampir separuh (47,8%) menjawab sangat setuju. Jawaban
siswa mengenai pemikiran bahwa remaja gaul adalah yang memiliki pacar,
didapatkan sebesar 25,8% menjawab setuju. Jawaban siswa tentang ciuman
sebagai tanda kesetiaan, didapatkan sebesar 18,2% menjawab setuju. Jawaban
siswa tentang seseorang yang melakukan perubahan status gender didapatkan
bahwa sebesar 10,1% menjawab sangat setuju. Jawaban siswa tentang pacaran
dapat meningkatkan prestasi belajar didapatkan bahwa sebesar 10,7% menjawab
sangat setuju. Jawaban siswa mengenai gaya perilaku seks bebas yang boleh
dilakukan setelah bertunangan didapatkan bahwa sebesar 17,0% menjawab setuju.
Jawaban siswa tentang gaya perilaku seks bebas yang boleh dilakukan jika
menggunakan alat kontrasepsi didapatkan bahwa sebesar 7,8% menjawab setuju.
Jawaban siswa tentang cara menonton pornografi yang boleh dilihat asalkan
sendirian didapatkan sebesar 10,1% menjawab sangat setuju. Jawaban siswa
mengenai penderita HIV harus dijauhi didapatkan sebesar 35,8% mejawab sangat
setuju.

Hasil olah data dari domain tindakan didapatkan 48,4% tindakan kesehatan
reproduksi siswa SMP A di bawah rata-rata. Secara spesifik, tindakan yang
menjadi kebiasaan siswa dalam menjaga kesehatan reproduksi dapat dilihat dari
jawaban masing-masing pertanyaan. Jawaban siswa mengenai kebiasaan
memperhatikan dan memeriksakan kebersihan organ reproduksi (kelamin)
didapatkan sebesar 20,1% menjawab tidak pernah. Jawaban siswa tentang
tindakan memeriksakan/berkonsultasi kesehatan ke layanan kesehatan didapatkan
66,7% menjawab tidak pernah. Jawaban siswa tentang kebiasaan curhat ke guru
didapatkan sebesar 62,3% menjawab tidak pernah. Jawaban siswa tentang
kebiasaan mencari informasi seksualitas dan pencegahan kehamilan di internet
didapatkan sebesar 10,1% menjawab sering. Jawaban siswa tetnag tindakan
mencari informasi HIV/AIDS didapatkan sebesar 51,6% menjawab tidak pernah.
Jawaban siswa mengenai tindakan menonton pornografi dengan sengaja
didapatkan sebesar 14,5% menjawab pernah. Jawaban siswa tentang pengalaman

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


82

mendapatkan informasi bahaya seks bebas dri kelaurga didapatkan sebesar 42,1%
menjawab tidak pernah. Jawaban siswa tentang pengalaman mendapatkan
informasi pacaran yang sehat dari sekolah didapatkan sebesar 67,3% menjawab
tidak pernah.

4.2.3 Diganosa Keperawatan Komunitas

Defisiensi kesehatan
reproduksi komunitas siswa
SMP A

Ketidakefektifan koping
Komunitas SMP A dalam
Ketidakefektifan
memecahkan masalah yang
pemeliharaan kesehatan
terkait kesehatan reproduksi
reproduksi siswa SMP A
siswa SMP A

Kurangnya dukungan
orang tua dalam Perilaku kesehatan reproduksi Kurangnya dukungan guru
pembinaan kesehatan siswa SMP A cenderung dalam pembinaan kesehatan
reproduksi siswa SMP A berisiko reproduksi siswa SMP A

Gangguan Proses Belajar


Mangajar Siswa SMP A

Resiko Drop Out


Sekolah

Gambar 4.3 WOC Asuhan Keperawatan Komunitas Pembinaan Kesehatan


Reproduksi Remaja

Berdasarkan pohon maslaah asuhan keperawatan komunitas yang berasal dari


analisa data hasil pengkajian, dapat dirumuskan diagnosa keperawatan dan
kemudian dilakukan penenutuan prioritas. Berikut ini adalah diagnosis
keperawatan yang telah ditetapkan prioritas berdasarkan 6 komponen (Stanhope
& Lancaster, 2004), sebagai berikut :
1. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan reproduksi siswa SMP A
2. Perilaku kesehatan reproduksi siswa SMP A cenderung berisiko

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


83

3. Ketidakefektifan koping Komunitas SMP A dalam memecahkan masalah


yang terkait kesehatan reproduksi siswa SMP A
4. Defisiensi kesehatan reproduksi komunitas siswa SMP A

4.2.4 Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi Keperawatan Komunitas


Tahap perencanaan asuhan keperawatan dilakukan pada saat diseminasi awal dari
hasil pengkajian yang dilaksanakan pada awal bulan 12 November 2013, jam
11.00-13.00 WIB bertempat di ruang pertemuan guru. Diseminasi dihadiri oleh
guru-guru, perwakilan dari Dinas Kesehatan kota Depok, dan pembimbing FIK
UI. Diseminasi ini bertujuan untuk menyampaikan hasil pengkajian dan analisis
data kepada pihak-pihak terkait untuk memperoleh tanggapan, masukan dan
dukungan pelaksanaan kegiatan/program penbinaan kesehatan reproduksi di SMP
A selama kurang lebih 6 bulan. Pada tengah semester dilakukan desiminasi kedua
pada tanggal 20 Maret 2014, jam 11.00-13.00 WIB bertempat di ruang kelas.
Diseminasi ini dihadiri oleh perwakilan siswa, guru-guru, PJ PKPR Puskesmas
Cimanggis, dan pembimbing dari FIK UI. Diseminasi ini bertujuan untuk
mengevaluasi hasil kegiatan selama semester pertama dna merencanakan kegiatan
pada semester kedua.

4.2.4.1 Alternatif Penyelesaian Diagnosis Keperawatan Komunitas


Diagnosa keperawatan pertama : Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan
reproduksi siswa SMP A. Tujuan Umum : setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 6 bulan, diharapkan pemeliharaan kesehatan reproduksi oleh
siswa SMP A menjadi efektif. Tujuan Khusus : 1) Teridentifikasi faktor resiko
dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi pada siswa, 2)
Terjadinya peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan kesehatan reproduksi,
3) Tersebarnya informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja, dan 4)
kemampuan mencari bantuan dalam mepertahankan kesehatan reproduksi

Rencana intervensi keperawatan : 1) Pengidentifikasian dan penentuan


kelompok intervensi, 2) Menyepakati dan menentukan rencana kagiatan pada
masing-masing kelompok intervensi, 3) Pendidikan kesehatan langsung tentang

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


84

kesehatan reproduksi, 2) Kampanye kesehatan reproduksi melalui penyebaran


leaflet dan poster, dan 3) Diskusi kelompok untuk menggali masalah remaja
tentang kesehatan reproduksi dan solusi pemecahannya.

Pembenaran dari intervensi keperawatan yang disusun dijelaskan sebagai


berikut. Pengetahuan merupakan faktor internal yang mempengaruhi perilaku
kesehatan seorang remaja. Hal ini sesuai dengan teori Health Promotion Model’s
(HPM) yang menunjukkan bahwa proses kognitif dari hasil interaksi faktor
personal dengan situasi lingkungan akan membentuk perilaku kesehatan (Pender,
Murdaugh, & Parsons, 2002). Foktor pengetahuan perlu mendapatkan intervensi
pendidikan kesehatan diharapkan memberikan pemahaman siswa tentang
kesehatan reproduksi. Hal ini sejalan dengan pelaksanaan program Trias UKS
yakni pendidikan kesehatan yang bertujuan memberikan pengetahuan dan
pemahaman siswa remaja tentang perilaku seksual yang akan berdampak pada
perubahan perilaku kesehatan remaja yang lebih baik (Imron, 2012). Program
pendidikan kesehatan telah dibuktikan memberikan pengaruh dalam menurunkan
angka dampak perilaku seks bebas di kalangan remaja. Hal ini dibuktikan dari
hasil penelitian Martinez, Abma, & Copen, (2010), menyimpulkan bahwa
pendidikan kesehatan pada remaja (15-19 tahun) di Amerika dapat menurunkan
angka dampak perilaku seksual seperti kehamilan tidak diinginkan (KTD)
daripada hanya sekedar melarang remaja untuk menjauhi perilaku seks bebas.

Perubahan perilaku pemeliharaan juga dipengaruhi oleh faktor sikap yang


merupakan hasil pengkondisian dari situasi atau keadaan disekitarnya. Hal ini
sesuai dengan pernyataan dari Faturrochman, (1992) dalam Mulyana dan
Purnamasari, (2010), bahwa perilaku seksal remaja akan muncul ketika remaja
mampu mengakomodikan situasi atau keadaan lingkungan sekitarnya untuk
merealisasikan dorongan emosional dan sikap terhadap keinginan seks bebas.
Oleh karena itu, diperlukan upaya memodifikasi situasi lingkungan dengan
kampanye media. Penggunaan media diharapakan membuat situasi laingkungan
yang dapat memberikan dampak pada perubahan sikap remaja yang lebih positif.
Hal ini dikuatkan oleh Stanhope dan Lancaster (2004), yang menyatakan bahwa

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


85

pendidikan kesehatan melalui penyebaran informasi merupakan salah satu


kegiatan dalam rangka tindakan promotif dan preventif yang dapat untuk
meningkatkan pengetahuan dan motivasi sehingga dapat berperilaku sehat.

Implementasi dari masalah keperawatan komunitas pertama yang telah dilakukan


diantaranya adalah pengidentifikasian dan penentuan kelompok intervensi yang
dilakukan pada bulan November 2013 segera setelah dilaksanakannya diseminasi
awal. Proses identifikasi ini diperlukan guna menyelaraskan jadwal pembelajaran
sekolah dengan intervensi keperawatan komunitas. Kolompok intervensi yang
perlu diberikan intervensi pertama kali adalah kelas IX, kemundian dilanjutkan
pada kelas VIII dan kelas VII.

Proses menyepakati dan menentukan rencana kegiatan pada masing-masing kelas


didasarkan pada pertimbangan karakter siswa dan waktu kegiatan belajar
mengajar. Proses ini dilakukan bersama-sama dengan siswa dan guru. Hasil
kesepakatan didapatkan bahwa penentuan jadwal kegiatan dilaksanakan sesuai
dengan kesepakatan bahwa kegiatan yang membutuhkan waktu lama (>30 menit)
dianjurkan dilakukan setelah jam pelajaran. Jika rencana kegiatan membutuhkan
waktu <30 menit maka diperbolehkan menggunakan waktu sebelum jam pelajaran
pertama dimulai.

Kegiatan pendidikan kesehatan dilakukan pada masing-masing kelompok kelas.


Ada 6 materi penkes yang disampaikan yakni 1) sistem reproduksi, 2) jerawat dan
penanganannnya, 3) menstruasi, mimpi basah, keputihan dan penanganannya, 4)
HIV/AIDS, 5) SADARI & SAPENI, dan 6) Bahaya Pornografi. Pendidikan
kesehatan dilakukan mulai bulan November 2013 – Mei 2014. Jam pelaksanaan
dilaksanakan sesuai dengan hasil kesepakatan yang melibatkan siswa dan guru.

Kegiatan kampanye kesehatan reproduksi dengan cara penyebaran leaflet dan


poster. Kampanye dilakukan pada tanggal 20 Desember 2013 di SMP A.
Pembagian leaflet dan poster dilakukan pada siswa yang berisikan materi bahaya

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


86

seks bebas, HIV/AIDS, PMS, SADARI, SAPENI, dan cara menjaga kebersihan
organ reproduksi. Media poster ditempel di beberapa sudut sekolah.

Kegiatan diskusi dilakukan di pada tanggal 6 Desember 2013 pada perwakilan


siswa VII, VIII dan IX. Diskusi ini dihadiri 15 siswa dan dilaksanakan kurang
lebih 45 menit. Topik yang dibahas adalah masalah-masalah kesehatan reproduksi
yang sering dialami oleh remaja diantaraya adalah gaya pacaran bebas,
HIV/AIDS, dan masalah menstruasi. Strategi penyelesaian pembinaan kesehatan
reproduksi didiskusikan juga pada kesempatan tersebut.

Hasil Evaluasi dari implementasi pengidentifikasian dan penentuan kelompok


intervensi mendapatkan antusiasme dari guru dan siswa dengan baik. Proses
kesepakatan kegiatan pendidikan kesehatan mendapatkan bahwa kegiatan
pendidikan kesehatan pada kelas IX (kelas pagi) dilaksanakan di luar jam
pelajaran sepulang sekolah sehingga tidak mengganggu persiapan ujian nasional.
Adapun untuk kelas VIII dan VII (kelas siang) dapat dilaksanakan di luar jam
pelajaran sebelum masuk kelas atau memanfaatkan jam kelas yang kosong.

Kegiatan pendidikan kesehatan kelas IX A dan B rata-rata diikuti sejumlah 20 dan


17 siswa, kelas VIII A dan B rata-rata diikuti sejumlah 32 siswa, sedangkan kelas
VII A dan B rata-rata diikuti sejumlah 25 siswa. Metode yang digunakan dalam
pendidikan kesehatan adalah ceramah, diskusi, dan role play. Rata-rata peserta
antusias dan ikut memperhatikan dengan seksama sampai kegiatan selesai.
Kegiatan membutuhkan waktu kuran lebih 30-40 menit.

Kegiatan pendidikan kesehatan sistem reproduksi remaja dilakukan di luar jam


pelajaran sekolah pada kelas IX. Total siswa yang mengikuti kegiatan ini
sejumlah 45 siswa dengan rincian siswa IX A sejumlah 25 siswa dan IX B
sejumlah 20 siswa. Kegiatan penyuluhan pada kelas IX A dilakukan pada tanggal
20 November 2014, sedangkan kelas IX pada tanggal 21 November 2014.
Antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan cukp bagus. Hal ini dapat dilihat dari
proses diskusi yang berjalan dengan baik dan bersemangat.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


87

Hasil pre dan postest pengetahuan sistem reproduksi didapatkan bahwa terjadi
peningkatan skor pengetahuan siswa dari nilai rata-rata 17,7 menjadi 19,7 dengan
standar deviasi sebesar 1,3. Selisih atau beda nilai rata-rata pretest dengan postest
sebesar 2,0, sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan sebesar
2,0/20*100 = 10,0%. Hal ini dibuktikan dari hasil uji signifikasi dengan Uji
Wilcoxon (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,012 untuk pretest dan 0,000
untuk postest) didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α = 0,05.
Artinya terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan tentang materi sistem
reproduksi yang telah diberikan.

Kegiatan pendidikan kesehatan tentang masalah jerawat dan cara penanganannya


dilakukan pada 4 kelas. Siswa yang mengikuti kegiatan ini sejumlah 20 siswa
kelas IX A, 18 siswa kelas IX B, 30 siswa kelas VIII A, dan 33 siswa kelas VIII
B. Total siswa yang mengikuti kegiatan ini 101 siswa. Kegiatan penyuluhan
dilakukan pada tanggal 27 November 2014 kelas IX A, 28 November 2014 kelas
IX B dan VIII A, dan 26 November 2014 kelas VIII B. Saat diskusi, siswa banyak
yang bertanya sehingga diskusi berjalan menarik.

Hasil pre dan postest pengetahuan jerawat dan penangannya bahwa terjadi
peningkatan skor pengetahuan siswa dari nilai rata-rata 16,7 menjadi 17,9 dengan
standar deviasi sebesar 1,0. Selisih atau beda nilai rata-rata pretest dengan postest
sebesar 1,2, sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan sebesar
1,2/20*100 = 5,9%. Hal ini dibuktikan dari hasil uji signifikasi dengan Uji
Wilcoxon (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,012 untuk pretest dan 0,000
untuk postest) didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α = 0,05.
Artinya terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan tentang materi jerawat
dan cara penangananya yang telah diberikan.

Kegiatan pendidikan kesehatan tentang masalah menstruasi, mimpi basah,


keputihan dan penanganannya dilakukan pada 4 kelas. Siswa yang mengikuti
kegiatan ini sejumlah 15 siswa kelas IX A, 15 siswa kelas IX B, 32 siswa kelas

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


88

VIII A, dan 33 siswa kelas VIII B. Total siswa yang mengikuti kegiatan ini 95
siswa. Kegiatan penyuluhan dilakukan pada tanggal 4 Desember 2014 kelas IX A,
5 Desember 2014 kelas IX B dan VIII A, dan 3 Desember 2014 kelas VIII B.

Hasil pre dan postest pengetahuan menstruasi, mimpi basah, keputihan dan
penanganannya didapatkan bahwa terjadi peningkatan skor pengetahuan siswa
dari nilai rata-rata 16,6 menjadi 18,1 dengan standar deviasi sebesar 1,1. Selisih
atau beda nilai rata-rata pretest dengan postest sebesar 1,5, sehingga didapatkan
peningkatan pengetahuan signifikan sebesar 1,5/20*100 = 7,4%. Hal ini
dibuktikan dari hasil uji signifikasi dengan Uji Wilcoxon (data berdistribusi tidak
normal, Uji S-W 0,000 untuk pretest dan 0,000 untuk postest) didapatkan p-value
1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α = 0,05. Artinya terjadi peningkatan
pengetahuan yang signifikan tentang menstruasi, mimpi basah, keputihan dan
penanganannya yang telah diberikan.

Kegiatan pendidikan kesehatan tentang bahaya HIV/AIDS dilakukan pada 6 kelas.


Siswa yang mengikuti kegiatan ini sejumlah 21 siswa kelas IX A, 20 siswa kelas
IX B, 33 siswa kelas VIII A, 33 siswa kelas VIII B, 24 siswa kelas VII A, dan 25
siswa kelas VII B. Total siswa yang mengikuti kegiatan ini 107 siswa. Kegiatan
penyuluhan dilakukan pada tanggal 4 Desember 2014 kelas IX A, 5 Desember
2014 kelas IX B dan VIII A, dan 3 Desember 2014 kelas VIII B.

Hasil pre dan postest pengetahuan bahaya HIV/AIDS didapatkan bahwa terjadi
peningkatan skor pengetahuan siswa dari nilai rata-rata 16,4 menjadi 18,6 dengan
standar deviasi sebesar 0,7. Selisih atau beda nilai rata-rata pretest dengan postest
sebesar 2,2, sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan sebesar
2,2/20*100 = 11,1%. Hal ini dibuktikan dari hasil uji signifikasi dengan Uji
Wilcoxon (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,000 untuk pretest dan 0,000
untuk postest) didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α = 0,05.
Artinya terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan tentang materi bahaya
HIV/AIDS yang telah diberikan.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


89

Kegiatan pendidikan kesehatan tentang SADARI dan SAPENI dilakukan pada 4


kelas. Siswa yang mengikuti kegiatan ini sejumlah 14 siswa kelas IX A, 12 siswa
kelas IX B, 33 siswa kelas VIII A, dan 33 siswa kelas VIII B. Total siswa yang
mengikuti kegiatan ini 92 siswa. Kegiatan penyuluhan dilakukan pada tanggal 29
Januari 2014 kelas IX A, 30 Januari 2014 kelas IX B dan VIII A, dan 26 Februari
2014 kelas VIII B.

Hasil pre dan postest pengetahuan SADARI dan SAPENI didapatkan bahwa
terjadi peningkatan skor pengetahuan siswa dari nilai rata-rata 15,9 menjadi 16,9
dengan standar deviasi sebesar 0,6. Selisih atau beda nilai rata-rata pretest dengan
postest sebesar 1,0, sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan
sebesar 1,0/20*100 = 4,9%. Hal ini dibuktikan dari hasil uji signifikasi dengan Uji
Wilcoxon (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,000 untuk pretest dan 0,000
untuk postest) didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α = 0,05.
Artinya terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan tentang materi SADARI
dan SAPENI yang telah diberikan.

Kegiatan pendidikan kesehatan tentang bahaya pornografi dilakukan pada 6 kelas.


Siswa yang mengikuti kegiatan ini sejumlah 33 siswa kelas IX A, 35 siswa kelas
IX B, 32 siswa kelas VIII A, 33 siswa kelas VIII B, 24 siswa kekas VII A, dan 25
siswa kelas VII B. Total siswa yang mengikuti kegiatan ini 182 siswa. Kegiatan
penyuluhan dilakukan pada tanggal 20 Mei 2014 kelas IX A dan IX B, 23 Mei
2014 kelas VIII A, 27 Mei 2014 kelas VIII B, 25 Februari 2014 Kelas VII A dan
28 Februari 2014 kelas VII B.

Hasil pre dan postest pengetahuan bahaya pornografi didapatkan bahwa terjadi
peningkatan skor pengetahuan siswa dari nilai rata-rata 16,1 menjadi 17,1 dengan
standar deviasi sebesar 1,3. Selisih atau beda nilai rata-rata pretest dengan postest
sebesar 1,0, sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan sebesar
1,0/20*100 = 5,1%. Hal ini dibuktikan dari hasil uji signifikasi dengan Uji
Wilcoxon (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,000 untuk pretest dan 0,000
untuk postest) didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α = 0,05.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


90

Artinya terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan tentang bahaya


pornografi yang telah diberikan.

Kegiatan kampanye kesehatan reproduksi dengan media leaflet diberikan kepada


siswa kelas VII, VIII dan IX pada tangga; 20 Desember 2013 tentang materi
SADARI dan SAPENI, sedangkan media poster berisikan tentang bahaya seks
bebas, HIV/AIDS, dan PMS. Respon siswa dengan adanya kampanye kesehatan
ini sangat positif. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme siswa untuk meminta
leaflet dan melihat poster yang dibagikan. Hasil tanya jawab singkat dengan 10
siswa didapatkan bahwa siswa merasa senang dan lebih tahu tentang kesehatan
reproduksi. Siswa juga menyatakan bahwa dengan adanya kampanye seperti ini
mereka merasa perlu lebih hati-hati menjaga diri dari bahaya perilaku seks bebas.

Kegiatan diskusi kelompok dalam menggali permasalahan kesehatan reproduksi


di sekolah didapatkan bahwa beberapa siswa mengaku bahwa masalah nyeri
menstruasi sering dikeluhkan oleh siswa sampai ada yang pingsan karena tidak
kuat menahan nyeri. Siswa juga menyatakan bahwa masalah pacaran di sekolah
menjadi hal yang biasa. Hal ini dikenal oleh guru dengan hubungan “kakak-
kakakan” dan “adik-adikan”. Perilaku berpacaran yang berisiko seperti halnya
berciuman, diakui menjadi gaya berpacan yang dianggap bisa di kalangan siswa.

Diagnosa keperawatan kedua : Perilaku kesehatan reproduksi siswa SMP A


cenderung berisiko. Tujuan Umum : setelah dilakukan intervensi keperawatan
selama 5 bulan, diharapkan perilaku kesehatan reproduksi siswa SMP cenderung
tidak berisiko. Tujuan Khusus : 1) Terjadi perbedaan kemampuan yang
signifikan dalam mengidentifikasi gaya pacaran berisiko, seks bebas, dan aborsi
antara kelompok siswa intervensi teknik BPIM dibandingkan dengan yang tidak
menggunakan teknik BPIM 2) Terjadi peningkatan kemampuan yang signifikan
dalam menerima masukan dan mengevaluasi diri antara kelompok siswa
intervensi teknik BPIM dibandingkan dengan yang tidak menggunakan teknik
BPIM, 3) Terjadi perbedaan pengetahuan dan kemampuan yang signifikan tentang
komunikasi asertif, 4) Terjadi perbedaan kemampuan yang signifikan dalam

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


91

mengidentifikasi hobi dan cita-cita antara kelompok siswa intervensi teknik BPIM
dibandingkan dengan yang tidak menggunakan teknik BPIM, 5) Terjadi
perbedaan kemampuan yang signifikan dalam mengidenfikasi manfaat, kerugian,
dan waktu ideal berpacaran antara kelompok siswa intervensi teknik BPIM
dibandingkan dengan yang tidak menggunakan teknik BPIM, 6) Terjadi
perbedaan kemampuan yang signifikan dalam mengidentifikasi perbedaan
perasaan suka atau cita antara kelompok siswa intervensi teknik BPIM
dibandingkan dengan yang tidak menggunakan teknik BPIM, 7) Terjadi
perbedaan kemampuan yang signifikan dalam mengidentifikasi potensi diri
dengan Johari window antara kelompok siswa intervensi teknik BPIM
dibandingkan dengan yang tidak menggunakan teknik BPIM, dan 8) Terjadi
perbedaan kemampuan yang signifikan sikap dan tanggung jawab diri antara
kelompok siswa intervensi teknik BPIM dibandingkan dengan yang tidak
menggunakan teknik BPIM.

Rencana intervensi keperawatan : Melakukan intervensi pada satu kelompok


siswa dengan menggunakan teknik BPIM dan tanpa BPIM pada kelompok siswa
yang lain dengan materi : 1) Kemampuan menerima masukan dan evaluasi diri, 2)
Diskusi gaya berpacaran berisiko remaja jaman sekarang, seks bebas, dan aborsi,
3) Manajemen perilaku tentang kemampuan mengidentifikasi hobi dan cita-cita,
4) Manajemen perilaku tentang manfaat, kerugian, dan waktu ideal berpacaran, 5)
Manajemen perilaku tentang kemampuan identifikasi perbedaan perasaan suka
atau cita, 6) Manajemen perilaku tentang kemampuan mengenal potensi diri
dengan Johari window, dan 7) Manajemen perilaku tentang sikap positif dan
tanggung jawab diri. Selain itu, dilakukan juga intervensi yang berupa pemberian
edukasi dan latihan tentang komunikasi dan menolak asertif.

Pembenaran dari proses intervensi keperawatan dengan menggunakan cara


diskusi dan manajemen perilaku dapat memberikan kontribusi positif dalam
menyelesaikan masalah keperawatan perilaku kesehatan reproduksi siswa SMP A
cenderung berisiko. Penggunaan teknik BPIM sebagai upaya alternatif yang
inovatif yang diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik. Hal ini sesuai

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


92

dengan teori Health Promotion Model’s (HPM) yang menjelaskan bahwa perilaku
kesehatan dilandasi oleh komitmen untuk berbuat yang dapat dicetuskan dari
faktor pesepsi, situasi lingkungan, pengarus interpersonal, pengalaman, dan faktor
internal (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2002). Intervensi keperarawatan yang
berupa kegiatan kelompok yang berupa diskusi dan latihan diharapkan dapat
memberikan pengalaman dan mampu merubah persepsi siswa agar memiliki
komitmen dan berperiaklu yang lebih sehat. Janssen dan Davis (2009) telah
menggunakan model ini terhadap kelompok remaja pekerja di Australia dalam
pencegahan penyakit menular dari perilaku seks bebas. Hasil dari praktik promosi
kesehatan dengan model ini dapat meningkatkan pengetahuan remaja pekerja
tentang seks yang aman dan dapat membantu meningkatkan perilaku sehat.

Edukasi dan latihan komunikasi asertif diberikan kepada siswa agar mampu
menghindari rayuan dan ajakan berperilaku seks bebas. Materi ini dibutuhkan
siswa sebgai bagian dari ketrampilan hidup.

Beberapa ketrampilan hidup yang perlu dimiliki oleh remaja dalam menghadapi
pengaruh lingkungan diantaranya sikap tanggung jawab, kepercayaan diri dan
kemampuan menentukan pilihan hidup yang positif dari di lingkungan pergaulan
(BKKBN, 2008). Pengaruh teman sebaya dalam pergaulan dan ajakan berperilaku
negatif mennjadikan remaja perlu menguasai keterampilan menolak ajakan secara
asertif.

Implementasi dari masalah keperawatan komunitas kedua yang telah dilakukan


diantaranya adalah memberikan intervensi yang berupa teknik komunikasi dalam
pengarahan/konseling kesehatan yang menggunakan tahapan-tahapan tertentu
dengan teknik Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) pada satu kelompok
siswa yakni kelas IX A, sedangkan kelompok siswa lain yakni kelas IX B
diberikan intervensi tanpa menggunakan teknik BPIM. Intervensi BPIM untuk
materi pertama dilaksanakan pada tanggal 18 Desember 2013 yang dihadiri oleh
18 siswa, kedua dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2014 yang dihadiri oleh 20
siswa, ketiga dilaksanakan pada tanggal 5 Maret 2014 yang dihadiri oleh 15

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


93

siswa, keempat dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2014 yang dihadiri oleh 20
siswa, kelima dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2014 yang dihadiri oleh 18
siswa, keenam dilaksanakan pada tanggal 8 April 2014 yang dihadiri oleh 22
siswa, dan ketujuh dilaksanakan pada 15 April 2014 yang dihadiri oleh 22 siswa.

Teknik BPIM terdiri dari 5 langkah, yakni 1) Permission, 2) Limited Information,


3) Specific Suggestions, 4) Intensive Therapy, 5) Review & Evaluation. Pada
langkah ketiga terdapat 2 tahapan brief intervention yakni yakni 1) membangun
kesadaran akan akibat perilaku negatif yang telah dilakukan, dan 2) menciptakan
situasi harapan positif dari hasil pengukuran perbedaan perilaku dari sebelumnya,
sedangkan pada langkah keempat terdapat 3 tahapan brief intervention yakni 3)
membantu mengidentifikasi kendala-kendala yang dialami dalam perubahan
perilaku berserta solusi yang dapat mengatasinya, 4) memberikan suasana
kegaguman kepada remaja atas pencapaian apa yang telah dilakukan, dan 5)
memberikan kesempatan untuk menceritakan atau membicaran hal bebas tentang
dirinya.

Kegiatan edukasi biasa tanpa menggunakan teknik BPIM diberikan pada kelas IX
B dengan materi yang sama seperti intervensi teknik BPIM. Edukasi materi yang
pertama dilaksanakan pada tanggal 19 Desember 2013, kedua pada tanggal 16
Januari 2014, ketiga pada tanggal 6 Maret 2014, keempat pada tanggal 13 Maret
2014, kelima pada tanggal 20 Maret 2014, dan keenam pada tanggal 9 April 2014,
dan ketujuh pada tanggal 16 April 2014.

Edukasi dan latihan komunikasi menolak asertif dilaksanakan selama dua kali
pertemuan. Pertemuan pertama adalah penjelasan tentang konsep komunikasi
asertif dan yang kedua adalah latihan menolak asertif. Kedua materi ini diberikan
pada dua kelas yakni IX A dan IX B. Penjelasan materi komunikasi asertif
dilaksanakan pada tanggal 27 November 2013 untuk kelas IX A dan 28 Desember
2014 untuk kelas IX B. Adapun latihan menolak asertif dilaksanakan pada tanggal
11 Desember 2013 untuk kelas IX A dan pada tanggal 12 Desember untuk kelas
IX B.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


94

Hasil evaluasi intervensi BPIM pada materi yang pertama didapatkan bahwa
jumlah siswa yang hadir untuk mengikuti intervensi BPIM untuk materi pertama
sebanyak 18 siswa dari kelas IX A. Adapun evaluasi dari kegiatan edukasi biasa
yang tanpa tekni BPIM dengan materi yang sama pad akelas IX B didapatkan
jumlah siswa yang hadir sebanyak 16 siswa. Hasil test dari kedua kelompok
didapatkan bahwa nilai rata-rata pada kelompok intervensi BPIM sebesar 18,3,
sedangkan nilai rata-rata pada kelompok non intervensi BPIM sebesar 17,1. Besar
selisih nilai rata-rata 1,3 dengan nilai standar deviai sebesar 1,3. Hasil uji beda
Mann-Whitney (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,005 kelompok
intervensi BPIM dan 0,002 untuk kelompok non intervensi BPIM) didapatkan p-
value 2-tailed sebesar 0,012 dengan nilai α = 0,05. Artinya terdapat perbedaan
yang signifikan antara kelompok intervensi BPIM dengan kelompok non
intervensi BPIM tentang kemampuan menerima masukan dan evaluasi diri.

Hasil evaluasi intervensi BPIM pada materi yang kedua didapatkan bahwa jumlah
siswa yang hadir untuk mengikuti intervensi BPIM untuk materi pertama
sebanyak 20 siswa dari kelas IX A. Adapun evaluasi dari kegiatan edukasi biasa
yang tanpa tekni BPIM dengan materi yang sama pada akelas IX B didapatkan
jumlah siswa yang hadir sebanyak 18 siswa. Hasil test dari kedua kelompok
didapatkan bahwa nilai rata-rata pada kelompok intervensi BPIM sebesar 18,4,
sedangkan nilai rata-rata pada kelompok non intervensi BPIM sebesar 17,7. Besar
selisih nilai rata-rata 0,7 dengan nilai standar deviai sebesar 1,1. Hasil uji beda
Mann-Whitney (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,007 kelompok
intervensi BPIM dan 0,000 untuk kelompok non intervensi BPIM) didapatkan p-
value 2-tailed sebesar 0,099 dengan nilai α = 0,05. Artinya tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi BPIM dengan kelompok
non intervensi BPIM tentang kemampuan bersikap tentang bahaya pacaran
berisiko, seks bebas, dan aborsi.

Hasil evaluasi intervensi BPIM pada materi yang ketiga didapatkan bahwa jumlah
siswa yang hadir untuk mengikuti intervensi BPIM untuk materi pertama

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


95

sebanyak 15 siswa dari kelas IX A. Adapun evaluasi dari kegiatan edukasi biasa
yang tanpa tekni BPIM dengan materi yang sama pada kelas IX B didapatkan
jumlah siswa yang hadir sebanyak 15 siswa. Hasil test dari kedua kelompok
didapatkan bahwa nilai rata-rata pada kelompok intervensi BPIM sebesar 18,4,
sedangkan nilai rata-rata pada kelompok non intervensi BPIM sebesar 17,5. Besar
selisih nilai rata-rata 0,9 dengan nilai standar deviai sebesar 0,8. Hasil uji beda
Mann-Whitney (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,000 kelompok
intervensi BPIM dan 0,000 untuk kelompok non intervensi BPIM) didapatkan p-
value 2-tailed sebesar 0,005 dengan nilai α = 0,05. Artinya terdapat perbedaan
yang signifikan antara kelompok intervensi BPIM dengan kelompok non
intervensi BPIM tentang kemampuan mengidentifikasi hobi dan cita-cita.

Hasil evaluasi intervensi BPIM pada materi yang keempat didapatkan bahwa
jumlah siswa yang hadir untuk mengikuti intervensi BPIM untuk materi pertama
sebanyak 20 siswa dari kelas IX A. Adapun evaluasi dari kegiatan edukasi biasa
yang tanpa tekni BPIM dengan materi yang sama pada kelas IX B didapatkan
jumlah siswa yang hadir sebanyak 18 siswa. Hasil test dari kedua kelompok
didapatkan bahwa nilai rata-rata pada kelompok intervensi BPIM sebesar 18,0,
sedangkan nilai rata-rata pada kelompok non intervensi BPIM sebesar 17,4. Besar
selisih nilai rata-rata 0,6 dengan nilai standar deviai sebesar 0,7. Hasil uji beda
Mann-Whitney (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,000 kelompok
intervensi BPIM dan 0,000 untuk kelompok non intervensi BPIM) didapatkan p-
value 2-tailed sebesar 0,022 dengan nilai α = 0,05. Artinya terdapat perbedaan
yang signifikan antara kelompok intervensi BPIM dengan kelompok non
intervensi BPIM tentang kemampuan mengidentifikasi manfaat kergian, dan ideal
berpacaran.

Hasil evaluasi intervensi BPIM pada materi yang kelima didapatkan bahwa
jumlah siswa yang hadir untuk mengikuti intervensi BPIM untuk materi pertama
sebanyak 18 siswa dari kelas IX A. Adapun evaluasi dari kegiatan edukasi biasa
yang tanpa tekni BPIM dengan materi yang sama pada kelas IX B didapatkan
jumlah siswa yang hadir sebanyak 12 siswa. Hasil test dari kedua kelompok

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


96

didapatkan bahwa nilai rata-rata pada kelompok intervensi BPIM sebesar 18,6,
sedangkan nilai rata-rata pada kelompok non intervensi BPIM sebesar 18,0. Besar
selisih nilai rata-rata 0,6 dengan nilai standar deviai sebesar 0,7. Hasil uji beda
Mann-Whitney (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,000 kelompok
intervensi BPIM dan 0,005 untuk kelompok non intervensi BPIM) didapatkan p-
value 2-tailed sebesar 0,048 dengan nilai α = 0,05. Artinya terdapat perbedaan
yang signifikan antara kelompok intervensi BPIM dengan kelompok non
intervensi BPIM tentang kemampuan mengidentifikasi perbedaan perasaan suka
atau cinta.

Hasil evaluasi intervensi BPIM pada materi yang keenam didapatkan bahwa
jumlah siswa yang hadir untuk mengikuti intervensi BPIM untuk materi pertama
sebanyak 22 siswa dari kelas IX A. Adapun evaluasi dari kegiatan edukasi biasa
yang tanpa tekni BPIM dengan materi yang sama pada kelas IX B didapatkan
jumlah siswa yang hadir sebanyak 20 siswa. Hasil test dari kedua kelompok
didapatkan bahwa nilai rata-rata pada kelompok intervensi BPIM sebesar 18,9,
sedangkan nilai rata-rata pada kelompok non intervensi BPIM sebesar 18,3. Besar
selisih nilai rata-rata 0,7 dengan nilai standar deviai sebesar 0,8. Hasil uji beda
Mann-Whitney (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,000 kelompok
intervensi BPIM dan 0,009 untuk kelompok non intervensi BPIM) didapatkan p-
value 2-tailed sebesar 0,005 dengan nilai α = 0,05. Artinya terdapat perbedaan
yang signifikan antara kelompok intervensi BPIM dengan kelompok non
intervensi BPIM tentang kemampuan mengenal potensi diri dengan Johari
window.

Hasil evaluasi intervensi BPIM pada materi yang keenam didapatkan bahwa
jumlah siswa yang hadir untuk mengikuti intervensi BPIM untuk materi pertama
sebanyak 22 siswa dari kelas IX A. Adapun evaluasi dari kegiatan edukasi biasa
yang tanpa tekni BPIM dengan materi yang sama pada kelas IX B didapatkan
jumlah siswa yang hadir sebanyak 18 siswa. Hasil test dari kedua kelompok
didapatkan bahwa nilai rata-rata pada kelompok intervensi BPIM sebesar 18,0,
sedangkan nilai rata-rata pada kelompok non intervensi BPIM sebesar 17,3. Besar

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


97

selisih nilai rata-rata 0,7 dengan nilai standar deviai sebesar 1,0. Hasil uji beda
Mann-Whitney (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,014 kelompok
intervensi BPIM dan 0,033 untuk kelompok non intervensi BPIM) didapatkan p-
value 2-tailed sebesar 0,026 dengan nilai α = 0,05. Artinya terdapat perbedaan
yang signifikan antara kelompok intervensi BPIM dengan kelompok non
intervensi BPIM tentang kemampuan bersikap positif dan bertanggung jawab.

Hasil evaluasi dari pemberian materi komunikasi asertif diperoleh jumlah siswa
yang hadir dalam pelaksanaan kegiatan penjelasan materi komunikasi asertif
sebanyak 22 untuk kelas IX A dan 14 unutk kelas IX B. Hasil test dari kedua
kelompok didapatkan bahwa nilai rata-rata sebelum mengikuti kegiatan sebesar
17,7, sedangkan nilai rata-rata setelah mengikuti kegiatan sebesar 19,6. Besar
selisih nilai rata-rata 1,9 dengan nilai standar deviai sebesar 1,3, sehingga
didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan sebesar 1,3/20*100 = 6,5%. Hasil
uji beda Wilcoxon (data berdistribusi tidak normal, Uji S-W 0,002 sebelum
diintervensi dan 0,000 setelah diintervensi) didapatkan p-value 1-tailed sebesar
0,000 dengan nilai α = 0,05. Artinya terdapat peningkatan pengetahuan yang
signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi edukasi tentang materi
komunikasi asertif.

Pada saat pelaksanaan teknik komunikasi asertif, jumlah siswa yang hadir
sebanyak 26 untuk kelas IX A dan 12 untuk kelas IX B. Hasil penilaian dari
latihan menolak asertif secara berpasangan didapatkan bahwa 84,2% siswa
mampu melakukan redemonstrasi dari skenario menolak rayuan dengan teknik
komunikasi asertif. Sisanya, 15,8% masih merasa kesulitan untuk mempraktekkan
cara menolak dengan komunikasi asertif. Seluruh siswa (100%) yang mengikuti
latihan, berkomitmen untuk mempraktekkan komunikasi asertif dalam kehidupan
sehari-hari.

Evaluasi akhir secara keseluruhan perilaku (pengetahuan sikap dan tindakan)


tentang kesehatan reproduksi siswa SMP A setelah diberikan intervensi
keperawatan komunitas selama dua semester didapatkan peningkatan nilai rata-

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


98

rata perilaku total 82,9 menjadi 94,3. Beda rata-rata 11,4 dan standar deviasi 9,6,
sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan sebesar 5,8/120*100 =
9,5%. Hasil uji Wilcoxon (data berdistribusi tidak normal, Uji K-S 0,000 sebelum
intervensi dan 0,003 sesudah intervensi) didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,000
dengan nilai α = 0,05. Artinya terjadi peningkatan perilaku signifikan antara
sebelum intervensi dan setelah intervensi.

Adapun evaluasi akhir dari domain pengetahuan dari sebelumnya tentang


kesehatan reproduksi siswa SMP A dan setelah diberikan intervensi keperawatan
komunitas selama dua semester didapatkan peningkatan nilai rata-rata 19,3
menjadi 23,3. Beda rata-rata 4,0 dan standar deviasi 2,2, sehingga didapatkan
peningkatan pengetahuan signifikan sebesar 4,0/24*100 = 16,7%. Hasil uji
Wilcoxon (data berdistribusi tidak normal, Uji K-S 0,003 sebelum intervensi dan
0,000 sesudah intervensi) didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α
= 0,05. Artinya terjadi peningkatan pengetahuan siswa SMP A yang signifikan
tentang kesehatan reproduksi.

Adapun evaluasi akhir dari domain sikap dari sebelumnya tentang kesehatan
reproduksi siswa SMP A dan setelah diberikan intervensi keperawatan komunitas
selama dua semester didapatkan peningkatan nilai rata-rata 31,5 menjadi 35,7.
Beda rata-rata 4,2 dan standar deviasi 5,5, sehingga didapatkan peningkatan
pengetahuan signifikan sebesar 4,2/48*100 = 8,8%. Hasil uji Wilcoxon (data
berdistribusi tidak normal, Uji K-S 0,000 sebelum intervensi dan 0,255 sesudah
intervensi) didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α = 0,05.
Artinya terjadi peningkatan sikap siswa SMP A yang signifikan tentang kesehatan
reproduksi.

Adapun evaluasi akhir dari domain tindakan dari sebelumnya tentang kesehatan
reproduksi siswa SMP A dan setelah diberikan intervensi keperawatan komunitas
selama dua semester didapatkan peningkatan nilai rata-rata 32,2 menjadi 35,4.
Beda rata-rata 3,2 dan standar deviasi 4,6, sehingga didapatkan peningkatan
pengetahuan signifikan sebesar 1,2/48*100 = 6,7%. Hasil uji Wilcoxon (data

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


99

berdistribusi tidak normal, Uji K-S 0,000 sebelum intervensi dan 0,00 sesudah
intervensi) didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α = 0,05.
Artinya terjadi peningkatan tindakan siswa SMP A yang signifikan tentang
kesehatan reproduksi.

4.2.5 Rencana Tindak lanjut


Hasil intervensi keperawatan komunitas (dalam hal ini edukasi dengan
menggunakan teknik BPIM) dapat ditindaklanjuti dengan sosialisasi efektifitas
intervensi kepada PJ PKPR UPT puskesmas dan dinas kesehatan kota Depok, agar
mendapatkan dukungan kebijakan pentingnya perawat untuk terjun ke sekolah.
Perawat puskesmas perlu mendapatkan pelatihan teknik-teknik konseling baik
dengan menggunakan teknik komunikasi BPIM atau yang lainnya.

4.3 Pengelolaan Asuhan Keperawatan Keluarga


Pengelolaan asuhan keperawatan pada keluarga dengan remaja yang bersekolah di
SMP A. di wilayah kelurahan Curug Cimanggis Kota Depok dilakukan pada 10
keluarga. Setiap keluarga memiliki remaja dengan masalah kesehatan reproduksi
baik yang aktual maupun yang berisiko. Ada dua tahap pelaksanaan asuhan
keperawatan keluarga. Tahap pertama pada 5 keluarga dilakukan pada periode
semester ganjil yakni bulan Oktober 2013 sampai bulan Januari 2014. Adapaun 5
kelaurga lainnya diberikan pada periode semester genap yakni bulan Februari –
Mei 2014.

Model yang digunakan dalam praktek pemberian asuhan keperawatan adalah


Family Nursing Center (FCN) oleh Friedman, Bowden, & Jones, (2010). Pada
model ini dimodifikasi dengan penambahan tingkat kemandirian keluarga di
bidang kesehatan (Kemenkes RI, 2006) dan tugas keluarga di bidang kesehatan
(Maglaya, et al, 2009).

Berikut ini diuraikan ringkasan asuhan keperawatan terhadap keluarga Bpk E


yang dipandang dari keberhasila intervensi yang telah dilakukan. Hal ini terlihat

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


100

dari peningkatan indikator-indikator kesehatan dan kemandirian keluarga yang


telah ditentukan.

4.3.1 Pengkajian dan Analisa Asuhan Keperawatan Keluarga


Keluarga Bpk E (67 th) tinggal di Kelurahan Curug Kecamatan Cimanggis
Depok. Keluarga Bpk E termasuk dalam jenis Ekstended Family karena dalam
satu atap rumah terdapat 5 anggota keluarga yakni; Bpk E, Ibu S (52 th), An E (37
th), An. SA (23 th) dan Cucu P (15 th). Remaja Cc P telah tinggal dalam keluarga
ini sejak bayi. Orang tua Cc P bekerja dan tinggal di Cikarang. Saat dilakukan
pengkajian, remaja Cc P di keluarga Bpk E memliki risiko mengalami masalah
kesehatan reproduksi dengan keluhan jerawat yang susah hilang, memiliki riwayat
lebih dari satu kali berpacaran, suka nongkrong, dan berduaan pernah ribut
dengan pacar. Pengalaman remaja Cc P tersebut diperkuat dengan pengalaman
temannya yang pernah menceritakan pernah memiliki, bermasalah dan bahkan
berciuman dengan pacarnya. Remaja Cc P bahkan mengaku jika memiliki teman
yang berpengaruh besar terhadap kehidupan dirinya dan merasa lebih nyaman
curhat dengan temannya daripada dengan orang tua. Faktor informasi yang salah
tersebut dapat menjadi pemicu perilaku kesehatan seksual yang buruk.

Hasil dari pengkajian juga memperlihatkan bahwa remaja Cc P hanya mengetahui


bahwa perubahan fisik terjadi pada remaja putri saja, cara memeriksa kesehatan
organ reproduksi, hanya cukup mengganti celana dalam 2 hari sekali, berciuman
tidak dapat menularkan penyakit seksual sama sekali, dan HIV/AIDS tidak dapat
ditularkan dari orang yang tampak sehat.

Remaja Cc P memiliki sikap bahwa pacaran dapat meningkatkan prestasi belajar,


namun saat ini mengaku bahwa hubungan dengan pacarnya sedang dalam massa
“break” supaya dapat berkonsentrasi dalam belajar. Jadi, terdapat perubahan sikap
dalam memandang berpacaran. Remaja Cc P juga masih memiliki stigma negatif
terhadap penderita HIV/AIDS, karena masing menganggap bahwa mereka harus
dijauhi.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


101

Remaja Cc P mengaku bahwa tidak pernah melakukan curhat dengan guru, pernah
menonton pornografi, dan mencari informasi tentang HIV/AIDS dan kehamilan di
internet. Remaja Cc P juga mengaku bahwa keluarga tidak melarang berpacaran,
dan merasa bahwa keluarga juga tidak mengharapkan untuk berhenti baerpacaran.

Ibu S, menjelaskan bahwa keluarga memberikan kebebasan pada Cc P untuk


berpacaran yang secara wajar. Ibu S, mengaku bahwa Cc P termasuk anak penurut
dan kadang bercerita tentang pacarnya, namun tidak pernah mengajak pacarnya
main ke rumahnya.

4.3.2 Diagnosa Keperawatan Keluarga


Hasil pengkajian dapat dianalisa dengan pendekatan web of causation sehingga
penulis dapat merumuskan diagnosis keperawatan keluarga berdasarkan kondisi
permasalahan yang dialami.

Perilaku Kesehatan Resiko Terjadinya Harga Diri


Cenderung Berisiko Rendah

Kurang Pengetahuan Tentang Resiko Gangguan


Masalah Kesehatan Penyesuaian
Reproduksi

Tugas Perkembangan Ketidakmampuan Koping


Individu Tidak Terpernuhi Keluarga

Pola Asuh Tidak Efektif Ketidakefektifan Performa


Peran

Gambar 4.3 Web Of Causation Asuhan keperawatan Keluarga

Berdasarkan pohon masalah tersebut, diagnosa keperawatan yang muncul pada


keluarga Bpk E adalah 1) Perilaku kesehatan cenderung berisiko (Cc P), 2) Resiko

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


102

terjadinya harga diri rendah (Cc P), 3) Kurang pengetahuan tentang masalah
kesehatan reproduksi, 4) Resiko gangguan penyesuaian, 4) Ketidakmampuan
koping keluarga, 5) Pola asuh tida efektif, dan 6) Ketidakefektifan performa
peran.

Berdasarkan penapisan penentuan skoring prioritas (terlampir), diperoleh dua


diagnosa keperawatan utama yang akan ditindaklanjuti dengan intervensi
keperawatan. Proses penapisan mencakup empat kriteria yakni sifat masalah,
keungkinan masalah untuk dirubah, potensi masalah dapat diegah, dan
menonjolnya masalah (Maglaya, et al, 2009). Prioritas diagnosa keperawatan yang
diintervensi yakni :
1. Perilaku kesehatan cenderung berisiko pada anggota keluarga Bpk E yakni
Cc P tentang kesehatan reproduksi
2. Resiko terjadinya harga diri rendah pada anggota keluarga Bpk E (Cc P)

4.3.3 Perencanaan Asuhan Keperawatan Keluarga


Diagnosa keperawatan pertama : Perilaku kesehatan cenderung berisiko pada
anggota keluarga Bpk E yakni Cc P tentang kesehatan reproduksi. Tujuan Umum
: setelah dilakukan asuhan keperawatan keluarga selama 7 minggu pada keluarga
Bpk E, perilaku kesehatan reproduksi menjadi tidak berisiko. Tujuan Khusus : 1)
Keluarga mampu menyebutkan pengertian, lingkup dan faktor resiko kesehatan
reproduksi dan dapat diidentifikasi anggota keluarga yang berisiko terjadi masalah
kesehatan reproduksi; 2) Keluarga mampu menyebutkan akibat lanjut dari
masalah kesehatanr eproduksi remaja dan memutuskan untuk mengatasi masalah
kesehatan reproduksi yang dialami anggota keluarga; 3) Keluarga mampu
melakukan perawatan di rumah dengan mengajarkan cara membersihkan organ
reproduksi, menjaga kebersihan diri, menggunakan terapi menajemen perilaku,
teknik asertif, dan teknik BPIM; 4) Keluarga mampu memodifikasi lingkungan
rumah untuk menunjang perawatan dengan menjaga kebersihan rumah yang
menunjang terlaksannya kebersihan reprodksi anggota keluarga; 5) Keluarga
mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan dan layanan kesehatan yang ada di
puskesmas.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


103

Rencana intervensi dari diagnosa keperawatan pertama: 1) Lakukan diskusi


bersama keluarga Bpk E dengan melibatkan Cc P untuk mengenali masalah
kesehatan reproduksi remaja; 2) Lakukan diskusi bersama keluarga tentang akibat
lanjut dampaknya terhadap perilaku kesehatan reproduksi yang cenderung
berisiko pada Cc P; 3) Lakukan teknik BPIM pada keluarga Bpk E dalam
mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga Cc P yang berisiko; 4)
Jelaskan mengenai perawatan dan pencegahan terjadinya masalah kesehatan
reproduksi; 5) Lakukan terapi manajemen perilaku pada Cc P; 6) Lakukan teknik
BPIM pada anggota keluarga remaja (CC. P) tentang cara menghindari perilaku
berisiko terjadinya hubungan seksual pranikah; 7) Latih teknik komunikasi pada
anak remaja dan asertif menolak ajakan negatif dan tidak bermanfaat pada Cc P;
8) Bantu keluarga memodifikasi lingkungan psikologis di keluarga yang kondusif
dan meningkatkan kondisi rumah yang bersih; 9) Anjurkan keluarga
memanfaatkan fasilitas pelayanan yang ada di masyarakat, khususnya pelayanan
konseling PKPR di Puskesmas setempat.

Pembenaran : Masa transisi remaja ini sering dikaitkan dengan proses pubertas
(kematangan) reproduksi dan seksual (Papalia, Old, & Feldman, 2011). Remaja
akan mengalami masa perubahan-perubahan secara alamiah baik fisik dan
kepribadian, seperti perubahan mood, tantrum yang sering, dan pikiran-pikiran
yang penuh kebingungan serta keinginan untuk mencoba hal-hal yang berisiko.
Oleh karena itu, diperlukan pendidikan kesehatan yang dapat mengarahkan pada
perilaku yang positif.

Pendidikan kesehatan tentang kesehatan adalah salah satu bentuk intervensi untuk
meningkatkan pengetahuan keluarga (Allender, Warner, & Rector, 2010;
Maglaya, et al, 2009). Metode pendidikan kesehatan juga dimodofikasi dengan
teknik BPIM yang dapat memberikan kesempatan keluarga untuk
mengekspresikan masalah yang dihadapi dan mampu mengambil keputusan untuk
merawat anggota keluarga. Coaching komunikasi asertif, konseling, dan terapi
menajamen perilaku merupakan pendekatan terapeutik yang dapat digunakan oleh

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


104

perawat dalam bekerjasama dengan keluarga untuk mengubah perilaku anggota


keluarga, sehingga memungkinkan remaja dapat lebih berperilaku positif dan
menghindari perilaku berisiko.

Diagnosa keperawatan kedua : Resiko terjadinya Harga Diri Rendah (HDR)


pada anggota keluarga Bpk E yakni Cc P. Tujuan Umum : Setelah dilakukan
kunjungan rumah 6 kali selama 45-60 menit selama kunjungan, diharapkan HDR
tidak terjadi pada Cc P. Tujuan Khusus : Setelah kunjungan ke rumah keluarga
mampu : 1) Keluarga mampu mengenal masalah resiko terjadinya HDR
(pengertian, etiologi, tanda dan gejala HDR) dan dapat mengidentifikasi anggota
keluarga yang berisiko terjadinya HDR; 2) Keluarga Bpk E mampu menyebutkan
akibat lanjut HDR dan mengambil keputusan untuk mengatasi masalah dari
anggota keluarganya; 3) Keluarga mampu melakukan perawatan dan pencegahan
terjadinya HDR pada Cc P melaksanakan tugas dan fungsi keluarga dengan baik;
4) keluarga mampu memodifikasi lingkungan rumah untuk menunjang
pencegahan HDR pada anggota keluarga Cc P; 5) Keluarga mampu
memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan puskesmas dalam pencegahan HDR
pada anggota keluarga Cc P.

Rencana intervensi keperawatan dari diagnosa keperawatan yang kedua: 1)


Lakukan diskusi bersama keluarga Bpk E dengan melibatkan Cc P untuk
mengenali risiko masalah HDR; 2) Lakukan diskusi bersama keluarga tentang
akibat lanjut dari risiko HDR pada Cc P; 3) Lakukan konseling dengan teknik
BPIM pada keluarga dalam mengambil keputusan untuk merawat anggota
keluarga yang berisiko; 4) Jelaskan mengenai perawatan dan pencegahan
terjadinya HDR; 5) Bantu keluarga memodifikasi lingkungan psikologis di
keluarga yang kondusif agar mampu meningkatkan harga diri anggota keluarga
Cc P; dan 6) Anjurkan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan konseling yang
ada di puskesmas.

Pembenaran : Perkembangan psikososial yang terjadi membuat remaja termasuk


kelompok berisiko masalah kesehatan. Perkembangan psikososial remaja menurut

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


105

Erikson (1963), pada tahap identitas vs kebingungan identitas (Santrock, 2007).


Perubahan-perubahan psikososial tersebut, menjadikan remaja cenderung
berperilaku risiko (termasuk perilaku seksual) yang dapat menurunkan kualitas
kesehatannya. Hal ini dapat memicu masalah HDR pada yang akan berdampak
pada pola kesehatan yang tidak sehat (Stuart, 2007). Oleh karena itu, masalah
psikososial memerlukan pendampingan dan konseling yang diharapkan mampu
meningkatkan kepercayaan diri (Lesmana, 2008). Seseorang yang memiliki
kepercayaan diri yang tinggi dalam menjalankan peran dan tugas yang sesuai
dengan ia yakini, cenderung dapat menyelesaikannya dengan baik (Bandura,
1986; Suryoputro, Ford, & Shaluhiyah, 2006).

4.3.4 Implementasi dan Evaluasi Asuhan Keperawatan Keluarga


Implementasi dari intervensi masalah keperawatan pertama yang telah
dilakukan mencakup; melakukan diskusi bersama keluarga Bpk E dengan
melibatkan Cc P untuk mengenali masalah kesehatan reproduksi remaja. Hasil
yang didapat dari diskusi dengan kombinasi teknik BPIM ini adalah keluarga
mengatakan merasakan manfaatnya dan lebih tahu tentang masalah kesehatan
reproduksi. Cc P mengatakan hal yang sama bahwa setelah diberikan intervensi
menjadi lebih tahu tentang bahaya dari perilaku kesehatan reproduksi (pacaran)
yang berisiko.

Implementasi kedua yakni melakukan diskusi bersama keluarga tentang akibat


lanjut dampaknya terhadap perilaku kesehatan reproduksi yang cenderung
berisiko pada Cc P dan dilanjutkan dengan implementasi yang ketiga yakni
melakukan teknik BPIM pada keluarga Bpk E dalam mengambil keputusan untuk
merawat anggota keluarga Cc P yang berisiko. Hasil evaluasi didapatkan bahwa
keluarga lebih tahu bahaya dari perilaku yang berisiko diantaranya adalah seks
bebas dan HIV. Cc P mengungkapkan sikapnya bahwa akan mencoba dan
berkomitmen menghindari faktor-faktor yang memicu perilaku berisiko agar
terhindar dari perilaku seks bebas dan bahaya HIV.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


106

Implementasi keempat yakni menjelaskan mengenai perawatan dan pencegahan


terjadinya masalah kesehatan reproduksi yang dilanjtukan dengan implementasi
kelima yakni melakukan terapi manajemen perilaku pada Cc P. Hasil evaluasi
didapatkan bahwa keluarga menyetujui untuk melakukan perubahan perilaku yang
lebih sehat. Cc P mampu membuat identifikasi kegiatan harian positif yang
dipraktekkan dalam kesehraiannya. Cc P merasa bahwa dengan adanya
manajemen perilaku membuat aktivitas harian akan lebih positif dan teralihkan
dari aktivitas yang negatif.

Implementasi yang keenam adalah melakukan konseling pada anggota keluarga


remaja (CC. P) tentang cara menghindari perilaku berisiko terjadinya hubungan
seksual pranikah dan dilanjutkan dengan implemetasi ketujuh yakni melatih
teknik komunikasi pada anak remaja dan asertif menolak ajakan negatif dan tidak
bermanfaat pada Cc P. Hasil evaluasi didapatkan bahwa Cc P merasa lebih
percaya diri untuk menolak pengaruh lingkungan teman sebaya yang diketahui
telah melakukan perilaku berisiko. Cc P telah mampu mendemosntrasikan
langkah-langkah dari teknik komunikasi asertif dan memiliki komitmen untuk
mempraktekkannya dalam aktivitas sehari-hari.

Implementasi yang kedelapan adalah membantu keluarga memodifikasi


lingkungan psikologis di keluarga yang kondusif dan meningkatkan kondisi
rumah yang bersih yang dilakjutkan dengan implementasi kesembilan yakni
menganjurkan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan yang ada di
masyarakat, khususnya pelayanan konseling PKPR di Puskesmas setempat. Hasil
evaluasi didapatkan bahwa keluarga telah mengkondisikan rumah agar merasa
nyaman untuk ditinggali dan menunjang pelaksanaan pemeliharaan kesehatan
reproduksi anggota keluarganya. Cc P mengatakan bahwa telah ada perubahan
situasi di rumah dan merasa lebih nyaman. Keluarga juga memilii komitmen
untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan di Puskesmas, hal ini didukung juga
karena letaknya yang dekat dari rumah.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


107

Implementasi dari intervensi masalaha keperawatan kedua yang dilakukan


mencakup; melakukan diskusi bersama keluarga Bpk E dengan melibatkan Cc P
untuk mengenali risiko masalah HDR. Hasil evaluasi didapatkan bahwa keluarga
Bpk E telah mengerti tentang HDR, sebabnya, dan tanda gejalanya. Keluarga
mengatakan bahwa HDR merupakan masalah psikososial yang disebabkan oleh
stres yang ditandai dengan kemurungan dan menyendiri. Cc P menyatakan bahwa
tanda lain dari HDR adalah sulit diajak komunikasi karena minder.

Implementasi kedua adalah melakukan diskusi bersama keluarga tentang akibat


lanjut dari risiko HDR pada Cc P. Hasil evaluasi diperoleh bahwa keluarga
mengatakan akibat fatal dari HDR adalah menjadi gila atau bahkan ingin bunuh
diri. Cc P juga mengatakan bahwa HDR dapat berakibat depresi berat dan sulit
diterima di pergaulan, bahkan bisa menjadi korban ejekan teman-teman.

Implementasi yang ketiga adalah melakukan konseling dengan teknik BPIM pada
keluarga dalam mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga yang
berisiko HDR. Hasil evaluasi didapatkan bahwa Cc P merasa lebih percaya diri
dan mampu membuat keputusan yang tepat dengan mengupayakan melakukan
kegiatan yang positif sehingga terhindar dari HDR. Hal ini didukung oleh
keluarga, bahwa Cc P harus mampu memotivasi diri dan lebih banyak bergaul
dengan teman-temanya.

Implementasi yang keempat adalah menjelaskan mengenai perawatan dan


pencegahan terjadinya HDR yang dilanjutkan dengan membantu keluarga
memodifikasi lingkungan psikologis di keluarga yang kondusif agar mampu
meningkatkan harga diri anggota keluarga Cc P. Hasil evaluasi didapatkan bahwa
keluarga telah membuat situasi di rumah yang nyaman dengan cara memberikan
pujian sepantasnya atas hasil usaha Cc P ayng telah melakukan aktivitas positif.
Cc P merasa kenyamanan di rumah menjadi lebih baik dan juga merasakan
komunikasi keluarga lebih lancar seperti pembagian tugas keluarga terlaksana
sesuai dengan perannya masing-masing.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


108

Implementasi keenam adalah menganjurkan keluarga memanfaatkan fasilitas


pelayanan konseling yang ada di puskesmas. Hasil evaluasi didapatkan bahwa
keluarga memiliki komitmen untuk menggunakan fasilitas konseling puskesmas.
Cc P menyatakan bahwa sangat terbantu dengan jarak puskesmas yang dekat,
sehingga pemanfaatan layanan kesehatan dapat dijalankan dengan baik.

Hasil evaluasi perilaku (total domain) kesehatan reproduksi dari kesepuluh


keluarga didapatkan peningkatan nilai rata-rata 85,1 menjadi 95,9. Beda rata-rata
10,8 dan standar deviasi 3,1, sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan
signifikan sebesar 10,8/120*100 = 9,0%. Hasil uji T-test Paired (data berdistribusi
normal, Uji S-W 0,848 sebelum intervensi dan 0,167 sesudah intervensi)
didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,000 dengan nilai α = 0,05. Artinya terjadi
peningkatan perilaku (total domain) kesehatan reproduksi yang signifikan dari
kesepuluh keluarga binaan.

Hasil evaluasi domain pengetahuan kesehatan reproduksi dari kesepuluh keluarga


didapatkan peningkatan nilai rata-rata 19,6 menjadi 23,5. Beda rata-rata 3,9 dan
standar deviasi 2,1, sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan
sebesar 3,9/48*100 = 19,5%. Hasil uji Wilcoxon (data berdistribusi tidak normal,
Uji S-W 0,098 sebelum intervensi dan 0,000 sesudah intervensi) didapatkan p-
value 1-tailed sebesar 0,0025 dengan nilai α = 0,05. Artinya terjadi peningkatan
domain pengetahuan kesehatan reproduksi yang signifikan dari kesepuluh
keluarga binaan.

Hasil evaluasi domain sikap tentang kesehatan reproduksi dari kesepuluh keluarga
didapatkan peningkatan nilai rata-rata 32,6 menjadi 36,6. Beda rata-rata 4,0 dan
standar deviasi 2,6, sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan
sebesar 4,0/48*100 = 8,3%. Hasil uji T-test paired (data berdistribusi normal, Uji
S-W 0,324 sebelum intervensi dan 0,435 sesudah intervensi) didapatkan p-value
1-tailed sebesar 0,0005 dengan nilai α = 0,05. Artinya terjadi peningkatan domain
sikap tentang kesehatan reproduksi yang signifikan dari kesepuluh keluarga
binaan.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


109

Hasil evaluasi domain tindakan kesehatan reproduksi dari kesepuluh keluarga


didapatkan peningkatan nilai rata-rata 32,9 menjadi 35,8. Beda rata-rata 2,9 dan
standar deviasi 1,3, sehingga didapatkan peningkatan pengetahuan signifikan
sebesar 2,9/48*100 = 6,1%. Hasil uji T-test paired (data berdistribusi normal, Uji
S-W 0,324 sebelum intervensi dan 0,369 sesudah intervensi) didapatkan p-value
1-tailed sebesar 0,717 dengan nilai α = 0,05. Artinya terjadi peningkatan domain
tindakan tentang kesehatan reproduksi yang signifikan dari kesepuluh keluarga
binaan.

4.3.5 Rencana Tindak Lanjut


Rencana tindak lanjut yang bisa dilakukan adalah meotivasi keluarga yang telah
melakukan hal-hal yang telah diajarkan agar perilaku anggota keluarga (Cc P)
lebih baik dan jauh dari resiko masalah kesehatan reproduksi. Selain itu,
memotivasi keluarga agar mampu membuat keputusan untuk melakukan
kunjungan ke pelayanan kesehatan puskesmas apabila dirasakan memerlukan
bantuan atau konseling.

4.3.6 Kemandirian Keluarga


Asuhan keperawatan telah dilakukan pada sepuluh keluarga binaan yang dapat
dievaluasi dari peningkatan tingkat kemandirian. Hasil yang diperoleh
dicerminkan dalam tingkat kemandirian keluarga pada rentang tingkat
kemandirian III hingga IV. Evaluasi hasil intervensi dari 10 keluarga yang dilihat
dari pencapaian kemandirian keluarga dalam pelaksanaan lima tugas kesehatan
keluarga dengan kesehatan reproduksi remaja. Pembinaan keluarga pada masing-
masing dilakukan selama kurang lebih 3-4 bulan dengan kunjungan rata-rata 12
kali kunjungan. Terapi modalitas yang diberikan kepada 10 keluarga binaan
berupa terapi manajemen perilaku, coaching, teknik komunikasi efektif, latihan
asertif, dan konseling dengan teknik BPIM.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


110

Tabel 4.1
Indikator Dampak Asuhan Keperawatan Keluarga Terhadap Tingkat Kemandirian
Keluarga Binaan Kesehatan Reproduksi Remaja Di Kelurahan Curug Tahun 2014

Keluarga Binaan
No Kriteria
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Menerima petugas (Perkesmas) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Menerima pelayanan kesehatan sesuai
2 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
rencana Keperawatan
Tahu dan dapat mengungkapkan
3 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
masalah kesehatannya secara benar
Memanfaatkan fasilitas pelayanan
4 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
kesehatan sesuai anjuran
Melakukan tindakan keperawatan
5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
sederhana sesuai anjuran
Melakukan tindakan pencegahan secara
6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
aktif
Melakukan tindakan peningkatan
7 √ √ - √ - √ - √ √ √
kesehatan (promotif) secara aktif
Tingkat Kemandirian 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4

Pada tabel 4.1 terlihat bahwa keluarga mampu mengidentifikasi masalah yang
dialami dan melakukan perawatan sederhana yaitu menyelesaikan masalah yang
dialami (kemandirian III) sebesar 30%. Keluarga yang telah mampu melakukan
pencegahan dengan melakukan komunikasi secara terbuka dalam keluarga dan
mampu melakukan promosi kesehatan dengan mampu memberikan pertimbangan
pada remaja lainnya dalam mengambil keputusan (kemandirian IV) sebesar 70%.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


111

BAB 5
PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan perbnadingan kesenjangan dan pencapaian hasil dengan
teori, konsep, dan hasil penelitian lain yang terkait. Beberapa pokok bahasan yang
dibahas meliputi manajemen pelayanan keperawatan, asuhan keperawatan
komunitas, dan asuhan keperawatan keluarga yang terkait dengan pembinaan
kesehatan reproduksi pada agreggrat remaja di SMP A. Selain itu, akan dibahas
implikasi terhadap pelayanan dan penelitian dalam keperawatan komunitas.

5.1 Analisa Pencapaian dan Kesenjangan


5.1.1 Manajemen Pelayanan Keperawatan Kesehatan Komunitas
Hasil evaluasi dari asuhan manajemen pelayanan keperawatan dari masalah upaya
pembinaan kesehatan reproduksi siswa tidak efektif didapatkan bahwa
pembentukan peer educator PEKA mendapat respon dan daya guna yang baik
dalam membantu pengelolaan pelayanan keperawatan kesehatan di sekolah SMP
A. Hal ini dapat dilhat dari dukungan pihak sekolah yang telah memberikan ijin,
waktu, sarana dan prasarana dalam pelaksanaannya dan dukungan siswa yang
telah bersedia dan komitmen untuk melaksanakan fungsi dan tugas dari peer
educator.

Pembentukan peer educator telah dijadikan model pelayanan kesehatan berbasis


siswa yang dilaksanakan di sekolah berfokus pada masalah kesehatan reproduksi.
Hal ini telah direkomendasikan oleh BKKBN (2008), yang menyatakan bahwa
peer educator atau pendidik sebaya kesehatan repoduksi remaja adalah orang atau
siswa yang menjadi narasumber bagi kelompok remaja sebayanya yang telah
mengikuti pelatihan pendidik sebaya dalam membantu remaja untuk mendapatkan
informasi kesehatan reproduksi. Konsep dari model peer educator sama dengan
program pendidikan kesehatan remaja di sekolah seperti program intervensi Teen
PEP (Prevention Education Program) yang dilaksanakan di New Jersey, USA
sejak tahun 1995, kolaborasi dari Center for Supportive Schools (Formerly

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


112

Princeton Center for Leadership Training); HiTOPS, Inc.; and the New Jersey
Department of Health (CSS, 2014).

Peer educator oleh BKKBN (2008), dianjurkan dilaksanakan pada remaja usia 10-
24 tahun dan mulai berlatih secara berkelompok yang berjumlah 12 orang.
Adapun progran Teen PEP memberikan rentang usia antara 15-20 tahun (Lenoir,
Walters, dan Vasapolli, 2000). Perbedaan rentang usia tidak terlalu signifikan
karena program keduanya direkomendasikan dilaksanakan pada level pendidikan
SMP dan SMA.

Terbentuknya peer educator sejalan dengan tujuan program pertama dari Trias
UKS yakni pendidikan kesehatan. Tujuan pendidikan kesehatan adalah
meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa untuk melaksanakan
prinsip hidup sehat serta berpartisipasi aktif di dalam usaha meningkatkan
kesehatan di sekolah dan di lingkungan masyarakat (Marfu & Sofyan, 2010).
Adanya peer educator bisa menjadi subtitusi dari ketidakmampuan sekolah
mnyelenggarakan progran Trias UKS secara menyeluruh.

Sekolah SMP A mengaku bahwa dalam kondisi keterbatasan sumberdaya guru


tetap dan keberatan jika diberikan tugas-tugas baru yang menyita waktu
pelaksanaan tugas utama yakni melaksanakan proses belajar mengajar
intrakurikuler. Oleh karena itu, program peer educator yang berprinsip pada peran
aktif dari siswa dan tidak menuntut peran besar dari guru yang menjadi pembina,
sangat sesuai dengan mengupayakan pelayanan keperawatan kesehatan di sekolah
(BKKBN, 2008).

Pembentukan peer educator merupakan bagian dari pelaksanaan salah satu fungsi
manajemen pelayanan keperawatan yakni pengorganisasian (organizing). Fungsi
pengorganisasian bertujuan untuk menghimpun semua sumber daya yang dimiliki
daerah dan memanfaatkannya secara efisien sesuai dengan tugas yang diberikan
guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (Swansburg, 2000;
Marquis & Huston, 2010). Pembentukan peer educator yang didukung oleh

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


113

seluruh stakeholder sekolah akan menjadi salah fondasi dari model


Comprehensive School Health Model (CSHM) dan trias UKS untuk perbaikan
pendidikan siswa tentang kesehatan sekolah (Marfu & Sofyan, 2010; Joint
Consortium fo School Health, 2012).

Organisasi peer educator ditinjau dari teori Health Promotion Model’s (HPM)
merupakan bagian dari pengaruh interpersonal yang mampu memberikan
pengetahuan dan informasi kesehatan (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2002). Hal
ini diperkuat oleh Santrock (2007), yang menyebutkan bahwa peer (teman
sebaya) dapat memiliki kontribusi pembentukan perilaku kesehatan yang berasal
dari hasil interaksi sosial. Teman sebaya memiliki cara komunikasi dan budaya
yang sama, sehingga dalam berinteraksi memberikan informasi kesehatan mudah
diterima.

Peer educator perlu pembekalan dan pengarahan tentang materi kesehatan


reproduksi agar memiliki bekal dalam menjalankan tugas menyebarkan informasi
kesehatan kepada teman sebaya. Kegiatan ini merupakan upaya penyelesaian
masalah manajemen keperawatan kesehatan komunitas yang kedua yakni tidak
terlaksananya supervisi dan motivasi keberlanjutan dari pelatihan PKPR
(Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja). Selama ini tidak pernah dilakukan
supervisi dan monitoring perkembangan siswa yang mendapatkan pembekalan
kesehatan reproduksi pada tahun 2012 oleh puskesmas.

Hasil evaluasi pembekalan didapatkan peningkatan pengetahuan yang signifikan


materi tentang konsep seksualitas (p-value 0,0015), sistem reproduksi (p-value
0,0005), dan bahaya HIV/AIDS (p-value 0,0015). Peer educator diajarkan juga
tentang teknik BPIM yang renaca akan digunakan dalam konseling kelompok.
Pembekatan teknik BPIM kepada siswa peer educator bertujuan untuk
mengenalkan metode konseling yang terstruktur dengan menggunakan teknik
komunikasi BPIM. Selain itu, memberikan bekal agar lebih percaya diri serta
mampu mengatasi atau memberikan solusi teman sebaya yang mengalami
masalah kesehatan reproduksi.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


114

Hasil evaluasai secara observasi dari redemonstrasi 2 peer educator teknik BPIM
tampak masih sangat kesulitan menerapkan teknik BPIM. Hal ini dapat
dimengerti bahwa sesuatu keterampilan yang baru tidak mudah dipahami dan
dijalankan dalam waktu yang singkat. Namun demikian, hasil pengukuran
pengetahuan tentang materi BPIM yang diterima oleh peer educator
menggambarkan peningkatan yang signifikan. Hal ini terlihat dari hasil uji
signifikasi dengan Uji Wilcoxon didapatkan p-value 1-tailed sebesar 0,0210
dengan nilai α = 0,05. Artinya terdapat peningkatan pengetahuan peer educator
yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan penjelasan tentang materi
teknik BPIM.

Pembekalan peer educator merupakan wujud dari pelaksanaan fungsi manajemen


personalia (staffing) yang bertujuan meningkatkan kualitas dari SDM peer
educator. Hal ini sesuasi dengan tujuan dari pelaksanaan fungsi manajemen
personalia yakni memperbaiki dan meningkatkan kualitas kemampuan SDM
dengan cara merekrut, memilih, menempatkan, dan mengajarkan personel untuk
mencapai tujuan organisasi (Swanburg, 2000; Marquis & Huston, 2010). Adanya
kegiatan pembekalan peer educator diharapkan siswa mampu menyebarkan
informasi kesehatan reproduksi kepada teman sebaya dengan benar.

Kegiatan supervisi latihan penkes peer educator kepada teman sebaya merupakan
pelaksanaan dari fungsi manajemen pengarahan (directing) yang bertujuan untuk
memberikan bimbingan, motivasi dan memastikan bahwa peer educator mampu
melaksanakan tugas dan perannya. Fungsi pengarahan berfokus pada upaya
pemberdayaan bawahan, peningkatan kualitas tindakan, dan kepemimpinan untuk
mendapatkan hasil yang diinginkan (Swanburg, 2000). Materi yang
diinformasikan kepada teman sebaya merupakan bagain dari materi yang telah
didapat saat pembekalan. Materi PMS merupakan bagian dari bahaya HIV/AIDS,
sedangkan materi menstruasi dan penanganannya merupakan bagian dari sistem
reproduksi. Sebelum memberikan pendidikan kesehatan, peer educator tetap

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


115

diberikan waktu untuk mereview materi yang akan diberikan pada 1 hari
sebelumnya.

Efektifitas pendidikan kesehatan yang dilakukan oleh peer educator terlihat dari
hasil test pengetahuan teman sebaya yang terjadi peningkatan signifikan materi
tentang PMS (p-value 0,000), menstruasi (p-value 0,003), dan cara menangani
menstruasi (p-value 0,000). Artinya peer educator telah mampu memberikan
informasi kesehatan dengan metode ceramah (materi PMS) dan diskusi kelompok
kecil (menstruasi dan cara penanganannya).

5.1.2 Asuhan Keperawatan Komunitas


Hasil pengukuran perilaku kesehatan siswa khusunya tentang kesehatan
reproduksi didapatkan peningkatan yang signifikan baik perilaku total,
pengetahuan, sikap, maupun tindakannya (p-value 0,000). Hal ini menandakan
bahwa terjadi perubahan perilaku kesehatan reproduksi yang lebih baik pada
siswa SMP A. Besar peningkatan nilai rata-rata perilaku total sebesar 11,4 (9,5%),
pengetahuan 4,0 (16,7%), sikap 4,2 (8,8%), dan tindakan 3,2 (6,7%). Data
tersebut menunjukkan bahwa beberapa intervensi dari asuhan keperawatan
memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan perilaku kesehatan
reproduksi siswa SMP A.

Pendidikan kesehatan dalam menyelesaikan masalah ketidakefektifan


pemeliharaan kesehatan mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. Hal ini dapat
dilihat dari hasil test pengetahuan siswa yang memperlihatkan peningkatan yang
signifikan (p-value 0,000) antara sebelum dan sesudah diberikan pendidikan
kesehatan tentang materi sistem reproduksi (2,0; 10,0%), jerawat dan
penanganannya (1,2; 5,9%), menstruasi, mimpi basah, keputihan dan
penanganannya (1,5; 7,4%), HIV/AIDS dan PMS (2,2; 11,1%), SADARI dan
SAPENI (1,0; 4,9%), dan bahaya pornografi (1,0; 5,1%). Hasil test pengetahuan
tentang komunikasi asertif didapatkan peningkatan yang signifikan, hal ini dilihat
dari nilai p-value 0,000 dengan beda rata-rata sebesar 1,3 (6,5%).

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


116

Upaya peningkatan pengetahuan yang dilakukan dengan pendidikan kesehatan


sejalan dengan Kebijakan Nasional Kesehatan Reproduksi Indonesia (KNKRI)
2005 yang menyebutkan bahwa upaya pendidikan kesehatan reproduksi remaja
dilaksanakan dapat melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal. Konsep
pendidikan kesehatan lebih pada upaya merubah perilaku terutama pada domain
pengetahuan dan pemahaman, sehingga berdampak pada pembentukan perilaku
reproduksi remaja. Menurut Yazachew dan Alem (2004) menyatakan bahwa
tujuan pendidikan kesehatan adalah memotivasi individu untuk mengadopsi
pengetahuan yang tepat, mengembangkan sikap positif, membuat keputusan
tentang kesehatan, memperoleh kepercayaan diri dan keterampilan untuk
menunjang terwujudnya status kesehatan yang optimal. Hal ini dibuktikan dari
hasil penelitian dari Martinez, Abma, & Copen, (2010), yang menemukan bahwa
pendidikan kesehatan pada remaja usia 15-19 tahun di Amerika dapat
menurunkan angka dampak perilaku seksual seperti kehamilan yang tidak
diinginkan daripada hanya sekedar melarang remaja melakukan seks bebas.

Pendidikan kesehatan sebagai bagian dari program Trias UKS. Pelaksanaan


pendidikan kesehatan dapat dimasukkan ke dalam dengan kurikulum satuan
pendidikan berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan No. 22 tahun 2006 dalam
mata ajar Pendidikan Jasmani, Olah raga, dan Kesehatan (Penjasorkes), atau
kegiatan ekstrakurikuler (Marfu & Sofyan, 2010). Pendidikan kesehatan bagian
dari model CSHM dalam kategori pengajaran dan pembelajaran (Joint
Consortium fo School Health, 2012). Pendidikan merupakan subvariabel dari teori
CAP yang berupa pendidikan formal dan informal yang mempengaruhi perilaku
kesehatan masyarakat (Anderson & McFarlane, 2011). Artinya pendidikan
kesehatan merupakan bagian penting dari upaya pembinaan kesehatan reproduksi
remaja yang telah menjadi program-program kesehatan di banyak model/teori.

Kampanye kesehatan merupakan bagian dari penyampaian informasi kesehatan


melalui media leaflet dan poster. Penggunaan media massa sebagai faktor
pengaruh situasi ditinjau dari teori HPM. Pender, Murdaugh, dan Parsons (2002),
menyatakan bahwa pengaruh situasi yang memberikan pengaruh signifikan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


117

terhadap perilaku promosi kesehatan sebesar 56%. Adanya kampanye diharapkan


dapat menekan pengaruh media yang memberikan stimulasi/paparan materi
negatif yang berdampak pada munculnya pemenuhan keinginan tentang
seksualitas yang salah. Hal ini dikuatkan oleh Neinstein et al. (2008), menyatakan
bahwa remaja muncul rasa ingin tahu tentang seksualitas yang sering dipuaskan
melalui lingkungan disekitarnya seperti keluarga, teman sebaya dan media massa.
Media selain sebagai sumber informasi, juga sebagai sarana komunikasi. Hal ini
sesuai dengan teori CAP yang dicetuskan oleh Anderson & McFarlane (2011),
mengungkapkan bahwa subvariabel komunikasi baik dari sumber-sumber
informasi dan cara komunikasi.

Beberapa intervensi untuk mengatasi masalah perilaku kesehatan reproduksi siswa


SMP A cenderung berisiko, menghasilkan manfaat yang signifikan. Hal ini dapat
dilihat dari hasil intervensi konseling kelompok dengan teknik komunikasi BPIM
yang berdampak pada pandangan, kepercayaan diri, dan komitmen remaja untuk
menjaga kesehatan reproduksi dibandingkan dengan kelompok intervensi dengan
menggunakan teknik edukasi biasa. Hasil evaluasi selama kegiatan intervensi
dengan teknik komunikasi BPIM didapatkan bahwa siswa merasa lebih nyaman,
terbuka dan percaya diri dalam menyampaikan permasalahan, ide, saran, gagasan,
dan kemampuan dalam mengikuti kegiatan sampai selesai.

Hal tersebut diperkuat dengan hasil uji beda antara kelompok intervensi BPIM
dan non BPIM didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada materi
kemampuan menerima masukan dan evaluasi diri (p-value 0,012), manajemen
perilaku; kemampuan identifikasi hobi, dan cita-cita (p-value 0,005), kemampuan
mengidetifikasi manfaat, kerugian dan waktu ideal berpacaran (p-valuei 0,022),
kemampuan mengidentifikasi perbedaan perasaan suka atau cinta (p-value 0,048),
kemampuan mengenal potensi diri dengan Johari window (p-value 0,005), dan
kemampuan meningaktkan sikap positif dan tanggung jawab diri (p-value 0,033).
Artinya intervensi BPIM memberikan dampak yang lebih baik daripada intervensi
edukasi biasa.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


118

Adapun hasil uji beda pada materi pacaran, seks bebas dan aborsi tidak
didapatkan perbedaan yang signifikan (p-value 0,099). Hal ini diperkuat dari nilai
rata-rata kedua kelompok yang tidak jauh berbeda yakni 18,4 pada kelompok
intervensi BPIM dan 17,7 pada kelompok intervensi non BPIM dengan selisih
nilai rata-rata 0,7 dan standar deviasi sebesar 1,1. Hal ini berarti bahwa siswa
SMP A memiliki pandangan yang sama mengenai permasalahan pacaran, seks
bebas & aborsi.

Teknik Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM) merupakan intervensi inovasi


kombinasi dari 2 (dua) intervensi promosi kesehatan yakni Brief Intervention dan
PLISSIT Intervention Model yang telah dimodifikasi oleh penulis. Efektifitas
intervensi dengan menggunakan teknik BPIM dikuatkan dari hasil penelitian
Janssen dan Davis (2009) yang telah menggunakan model PLISSIT Intervention
Model terhadap kelompok remaja pekerja di Australia dalam pencegahan penyakit
menular dari perilaku seks bebas, bahwa teknik ini dapat meningkatkan
pengetahuan remaja pekerja tentang seks yang aman dan dapat membantu
meningkatkan perilaku sehat. Hal ini dikuatkan dari NIHCE, (2006) yang
menggunakan Brief Intervention untuk meningkatkan aktivitas fisik remaja
sehingga mampu menjauhi perilaku berisiko. Penggunaan model Brief
intervention telah umum digunakan oleh perawat primer profesional di komunitas
dengan melibatkan saran oportunistik, diskusi, negosiasi, atau motivasi yang
terfokus pada identifikasi dan perubahan faktor-faktor untuk memperbaiki
perilaku atau aktivitas berisiko remaja (NIHCE, 2006).

Intervensi konseling kelompok dengan teknik BPIM dapat membentuk komitmen


remaja untuk menjaga kesehatan reproduksi. Komitmen akan mempengaruhi
seseorang berperilaku kesehatan. Hal ini sejalan dengan teori HPM yang
menjelaskan bahwa komitmen akan menginisiasi sebuah perilaku promosi
kesehatan (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2002).

Pelaksanaan kegiatan konseling teknik BPIM dilakukan secara langsung oleh


residen. Selama pelaksanaan tidak ada kesempatan untuk ditinjau oleh perawat

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


119

puskesmas yang disebabkan karena keterbatasan waktu. Perlunya gambaran


pelaksanaan kegiatan agar diketahui oleh perawat puskesmas dilakukan dengan
cara diskusi secara langsung di puskesmas dengan PJ program kesehatan sekolah
dan remaja.

Hasil evaluasi komunikasi asertif didapatkan terdapat peningkatan pengetahuan


yang signifikan (p-value 0,000) dengan perbedaan nilai rata-rata 1,9 (6,5%). Hal
ini diperkuat dari hasil pemantauan latihan redemonstrasi dari skenario menolak
rayuan dengan teknik komunikasi asertif didapatkan 84,2% dari 38 siswa mampu
mempraktekkan dengan baik.

Adanya latihan komunikasi asertif diharapkan dapat meningkatkan perilaku asertif


remaja dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku asertif merupakan keterampilan
hidup yang berupa menyatakan secara langsung suatu ide, opini, dan keinginan
(Hidayat & Lyrawati, 2008). Tujuan perilaku asertif adalah untuk
mengkomunikasikan pendapat pada orang lain dengan suasana saling percaya.
Hasil intervensi latihan komunikasi asertif didukung oleh hasil penelitian dari
Hidayat, Sahar, dan Widyatuti (2013), mendapatkan hasil signifikan dari
peningkatan pengetahuan siswa SMP F.

5.1.3 Asuhan Keperawatan Keluarga


Asuhan keperawatan pada keluarga Bpk E dengan remaja (Cc P) yang bersekolah
di SMP A membutuhkan intervensi keperawatan keluarga secara langsung
disebabakan karena remaja Cc P membutuhkan pembinaan kesehatan reproduksi.
Masalah keperawatan keluarga yang diperoleh dari hasil pengkajian yakni
perilaku kesehatan cenderung berisiko pada anggota keluarga Bpk E yakni Cc P
tentang kesehatan reproduksi dan resiko terjadinya harga diri rendah pada anggota
keluarga Bpk E (Cc P).

Hasil pengukuran perilaku kesehatan remaja di keluarga binaan khusunya tentang


kesehatan reproduksi didapatakan peningkatan yang signifikan baik perilaku total,
pengetahuan, sikap, maupun tindakannya (p-value 0,000). Hal ini menandakan

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


120

bahwa terjadi perubahan perilaku kesehatan reproduksi yang lebih baik pada
remaja di keluarga binaan. Besar peningkatan nilai rata-rata perilaku total sebesar
10,8 (9,0%), pengetahuan 3,9 (19,5%), sikap 4,0 (8,3%), dan tindakan 2,9 (6,1%).
Data tersebut menunjukkan bahwa beberapa intervensi dari asuhan keperawatan
memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan perilaku kesehatan
reproduksi remaja di keluarga binaan.

Beberapa intervensi yang sudah dilakukan diantaranya adalah konseling dengan


teknik BPIM, terapi manajemen perilaku, latihan teknik komunikasi asertif, dan
diskusi tentang perawatan dan pencegahan terjadinya masalah kesehatan
reproduksi bersama keluarga Bpk E. Intervensi dilakukan bertujuan untuk
meningkatkan kemandirian keluarga dalam menjaga kesehatan reproduksi.

Hasil intervensi diperoleh keluarga lebih memahami masalah kesehatan


reproduksi yang dialami Cc P. Keluarga mengatakan merasakan manfaatnya dan
lebih tahu tentang masalah kesehatan reproduksi. Cc P mengatakan hal yang sama
bahwa setelah diberikan intervensi menjadi lebih tahu tentang bahaya dari
perilaku kesehatan reproduksi (pacaran) yang berisiko. Keluarga Bpk E telah
mengerti tentang HDR, sebabnya, dan tanda gejalanya. Keluarga mengatakan
bahwa HDR merupakan masalah psikososial yang disebabkan oleh stres yang
ditandai dengan kemurungan dan menyendiri. Cc P menyatakan bahwa tanda lain
dari HDR adalah sulit diajak komunikasi karena minder.

Hasil evaluasi dari 10 keluarga yang dilihat dari pencapaian kemandirian keluarga
dalam pelaksanaan lima tugas kesehatan keluarga dengan kesehatan reproduksi
remaja didapatkan keluarga mampu mengidentifikasi masalah yang dialami dan
melakukan perawatan sederhana yaitu menyelesaikan masalah yang dialami
(kemandirian III) sebesar 30%. Keluarga yang telah mampu melakukan
pencegahan dengan melakukan komunikasi secara terbuka dalam keluarga dan
mampu melakukan promosi kesehatan dengan mampu memberikan pertimbangan
pada remaja lainnya dalam mengambil keputusan (kemandirian IV) sebesar 70%.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


121

Hasil ini didukung oleh penelitian Hidayat, Sahar, dan Widyatuti (2013) pada
keluarga remaja dengan masalah kesehatan reproduksi di kelurahan Cisalak Pasar
didapatkan perubahan kemampuan dan kemandirian keluarga dalam melakukan
perawatan dan pencegahan perilaku berisiko serta HDR. Artinya intervensi
keperawatan yang diberikan langsung kepada keluarga dapat meningkatkan
kemandirian keluarga dalam menjaga kesehatan anggota keluarganya. Hal ini
sejalan dengan keputusan Menteri Kesehatan RI No 279/MENKES/SK/IV/2006
tentang pedoman penyelenggaraan upaya keperawatan kesehatan masyarakat di
Puskesmas.

5.2 Keterbatasan
Beberapa keterbatasan pelaksanaan asuhan keperawatan di sekolah diantaranya
adalah kurangnya fasilitas dan prasarana pelayanan kesehatan sekolah seperti
penyediaan ruang khusus kesehatan beserta bahan dan alat-alatnya. Kurang SDM
baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang menjadi penghambat berjalannya
program pembentukan kader kesehatan guru di sekolah. Keterbatasan pelaksanaan
kegiatan konseling dengan teknik BPIM terkait alokasi waktu siswa yang banyak
tersita pada kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstrakurikuler.

Keterbatasan lain yang muncul selama penerapan intervensi konseling dengan


teknik BPIM mencakup lingkungan tempat pelaksanaan keagiatan yang tidak
berada pada ruang khusus sehingga kadang teralihkan dengan siswa lain yang
sedang beraktivitas lainnya. Pelaksanaan kegiatan sering kali mundur dari jadwal
yang ditentukan, hal ini dikarenakan masih banyak siswa yang belum berkumpul.
Jumlah siswa yang mengikuti kegiatan tidak selalu sama setiap pertemuan,
sehingga ada beberapa siswa yang tidak mengikuti semua materi.

5.3 Implikasi
5.3.1 Pelayanan Keperawatan Komunitas
Intervensi konseling dengan teknik komunikasi BPIM tepat digunakan untuk
meningkatkan kesadaran, kepercayaan diri, keterbukaan, dan perilaku
pemeliharaan kesehatan reproduksi. Teknik ini seharusnya dilakukan oleh perawat

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


122

atau tenaga kesehatan profesional, namun karena keterbatasan sumber daya


manusia dalam mengelola pelayanan kesehatan di sekolah maka peer educator
telah dikenalkan dan dilatih agar dapat menyelesaikan permasalahan kesehatan
reproduksi pada teman sebaya.

Bagi puskemas bahwa hasil kegiatan intervensi konseling dengan teknik


komunikasi BPIM dapat diaplikasikan di layanan konseling remaja PKPR agar
lebih memberikan manfaat bagi masyarakat remaja di luar sekolah. Bagi dinas
kesehatan diharapkan membuat kebijakan untuk perawat puskesmas berupa
pelaksanaan program pelatihan dan dukungan baik materi dan non materi.

5.3.2 Perkembangan Ilmu Keperawatan


Pelayanan keperawatan kepada remaja tidak terlepas dari peranan institusi
pendidikan keperawatan. Institusi pendidikan keperawatan perlu meningkatkan
dan memperdalam teori/konsep keperawatan yang berkaitan dengan berbagai
tindakan mandiri perawat dalam pembinaan kesehatan reproduksi remaja. Teori
dan konsep yang berkaitan dengan terapi atau intervensi keperawatan dapat
diintegrasikan seperti teknik Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM).
Intervensi tersebut dapat digunakan untuk pembinaan masalah kesehatan remaja.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


123

BAB 6
SIMPULAN DAN SARAN

Bagian ini diuraikan tentang hasil dan pembahasan secara singkat terkait
pengelolaan manajemen keperawatan komunitas, asuhan keperawatan komunitas,
dan asuhan keperawatan keluarga.

6.1 Simpulan
6.1.1 Pembekalan dan latihan teknik BPIM kepada 10 peer educator didapatkan
bahwa teknik ini masih sulit dipahami oleh siswa dan 2 peer educator masih
sangat kesulitan menerapkan teknik BPIM. Namun tetap terjadi peningkatan
pengetahuan peer educator secara signifikan tentang teknik Brief-PLISSIT
Intervention Model (BPIM), demikian juga pada pembekalan materi konsep
seksualitas, sistem reproduksi, dan bahaya HIV/AIDS.
6.1.2 Anggota peer educator dapat melakukan pendidikan kesehatan yang efektif
dilihat dari peningkatan pengetahuan audience yang signifikan kepada
teman sebaya tentang materi kesehatan reproduksi (PMS, Menstruasi, dan
Cara penanganan nyeri menstruasi).
6.1.3 Terjadi peningkatan pengetahuan siswa SMP A yang signifikan setelah
mendapatkan pendidikan kesehatan tentang sistem reproduksi, jerawat &
penanganannya, menstruasi, mimpi basah, keputihan & penanganannya,
HIV/AIDS & PMS, SADARI & SAPENI, dan bahaya pornografi.
6.1.4 Terdapat perbedaan pandangan, kepercayaan diri dan komitmen yang
signifikan antara kelompok intervensi dengan teknik BPIM dalam menjaga
kesehatan reproduksi dibandingkan dengan kelompok intervensi dengan
menggunakan teknik edukasi biasa, kecuali pada materi pacaran, seks bebas,
dan aborsi.
6.1.5 Terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan tentang materi komunikasi
asertif dan sebagian besar siswa mampu melakukan redemonstrasi menolak
asertif serta berkomitmen untuk mempraktekkanya dalam kehidupan sehari-
hari.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


124

6.1.6 Perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) kesehatan reproduksi siswa


SMP A mengalami peningkatan yang signifikan setelah diberikan asuhan
keperawatan.
6.1.7 Perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) kesehatan reproduksi remaja di
keluarga binaan mengalami peningkatan yang signifikan yang disertai
peningkatan kemandirian yang terkait pencegahan dan pembinaan kesehatan
reproduksi.

6.2 Saran
6.2.1 Pelayanan Kesehatan
6.2.1.1 Dinas Kesehatan
a Praktik keperawatan komunitas dengan program inovasi BPIM dapat
dijadikan evidence base bagi Dinas Kesehatan sebagai dasar
pengembangan program PKPR kepada pemegang kebijakan yaitu PJ
PKPR di puskesmas.
b Program pelatihan konseling PKPR yang telah dilaksanakan Dinas
Kesehatan, dapat dikembangkan dengan menggunakan teknik BPIM untuk
pengembangan kemampuan perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan di puskesmas.
c Dinas Kesehatan perlu melakukan perencanaan anggaran dan pelatihan
dalam pelaksanaan pengarahan, pendampingan, dan motivasi kepada
pelaksana program PKPR khususnya terkait proses pemberian layanan
konseling remaja secara berkala.

6.2.1.2 Puskesmas
a Puskesmas dapat mengadopsi teknik BPIM dalam meningkatkan
kemampuan perawat dalam memberikan konseling remaja terkait masalah
kesehatan reproduksi.
b PJ PKPR Puskesmas perlu melakukan supervisi dan monitoring berkala
yaitu kunjungan langsung ke peer educator dan guru untuk berdiskusi dan
memberikan arahan agara dapat mempertahankan performa dan motivasi
dalam melaksanakan pengelolaan layanan kesehatan reproduksi.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


125

c Puskesmas diharapkan perlu melakukan perencananaan program pelatihan


bagi guru dan siswa terkait layanan kesehatan reproduksi di sekolah
termasuk cara pemberian konseling dengna teknik BPIM.

6.2.1.3 Perawat Komunitas


a Menggunakan teknik BPIM sebagai bagian dari intervensi konseling pada
asuhan keperawatan keluarga dan komunitas
b Membantu memberikan pendampingan pada kader kesehatan sekolah
untuk meningkatkan kemampuan memberikan pendidikan kesehatan atau
bahkan mampu menjadi konselor sebaya dalam rangka meningkatkan
perilaku kesehatan reproduksi remaja di sekolah

6.2.2 Mahasiswa Residen Periode Berikutnya


Melaksanakan program-program pendidikan atau konseling kesehatan
dengan menggunakan teknik BPIM yang telah dimodifikasi dari
kelemahannya atau menggunakan model yang lainnya.

6.2.3 Sekolah dan Peer Educator Sekolah


a Aktif meningkatkan kemampuan memberikan informasi kesehatan melalui
peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam melakukan
pendidikan kesehatan serta konseling kepada teman sebaya
b Melakukan sosialisasi berkelanjutan pada siswa dalam rangka
meningkatkan motivasi siswa untuk mempertahankan dan meningkatkan
perilaku sehat terkait kesehatan reproduksi serta menjauhi faktor-faktor
resiko timbulnya perilaku seks bebas

6.2.4 Perkembangan Riset Keperawatan


a Melakukan penelitian untuk menguji efektivitas konseling kesehatan
reproduksi remaja teknik BPIM dengan menggunakan kaidah penelitian
kualitatif.
b Melakukan penelitian tentang efektifitas pelatihan terhadap peningkatkan
performa peer edukator dalam menjalankan teknik teknik BPIM

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


126

c Melakukan penelitian tentang pengaruh supervisi terhadap peningkatan


performa peer edukator dalam menjalankan teknik teknik BPIM
d Melakukan penelitian tentang tingkat kepuasan siswa setelah diberikan
konseling dengan teknik BPIM terhadap peningkatan perilaku kesehatan
reproduksi remaja
e Mengembangkan riset yang bersifat kualitatif pada siswa dan guru terkait
pengalaman melakukan konseling dengan teknik BPIM dalam rangka
mencari manfaat dan kerugian penggunaan teknik tersebut secara lebih
dalam.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


127

DAFTAR PUSTAKA

Allender, J.A. dan Spradley, B.W. (2005). Community health nursing promoting
and protecting the public’s health. Sixth edition. Philadelphia:
Lippincott Williams and Wilkins.

Allender, J.A., Rector, C., & Warner, K.D. (2010). Community Health Nursing;
Promoting & Protecting The Public’s Health. (7th ed). Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.

Annon, J. (1976). The PLISSIT model: A proposed conceptual scheme for the
behavioural treatment of sexual problems, Journal of Sex Education
Therapy, v.2, n.1, pp.1-15.

Antory, D. (2011). Addressing Sexuality. Diakses dari


http://www.networks.nhs.uk/nhs-networks/sexual-rehabilitation-after-
cancer/documents/Addressing%20Sexuality. pdf

Anderson, E., & Mc Farlane, J. (2011). Community As Partner:Theory and


Practice in Nursing, 4th edition. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins.

Arfan, M., Wilopo, A.S., & Wahyuni, B. (2010). Efektivitas Pendidikan


Kesehatan Melalui E-File Multimedia Materi Krr Dan Tatap Muka Di
Kelas Terhadap Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi
Remaja. Berita Kedokteran Masyarakat, Vol. 26, No. 3, September
2010. Hal 1007-114.

Barahah, V. F. (2010). Perilaku Seksual Remaja Di Indonesia.


http://health.detik.com/read/2010/06/23/165015/1384945/763/perilakus
eksual- remaja-di-indonesia, diperoleh Rabu 5 Maret, 2013, pukul
20:54 WIB.

BKKBN. (2008). Kurikulum dan Modul Pelatihan Pemberian Informasi


Kesehatan Reproduksi Remaja oleh pendidik Sebaya. Jakarta : Ceria
BKKBN, Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi.

BKKBN. (2010a). Usia perkawinan & hak-hak reproduksi bagi remaja indonesia.
Jakarta: Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-hak Reproduksi.

BKKBN. (2010b). Penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja; ditijau dari


aspek 8 fungsi keluarga: kesehatan, ekonomi, psikologi, pendidikan,
agama & sosial. Jakarta: Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-hak
Reproduksi.

BKKBN. (2013). Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja


(PIK-KRR). Diakses dari

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


128

https://www.k4health.org/sites/default/files/Bagian_II_Program_Pemeri
ntah_PIK-KRR.pdf

Bonino, S., Cattelino, E., & Ciairano, S. (2005). Adolescents and risk: behavior,
fungsions, and protective factors. Milan: Springer-Verlag Italia.

BPS & Macro International. (2007). Survei Kesehatan Reproduksi Remaja


Indonesia 2007, Calverton, Maryland, USA : BPS & Macro
International.

Cowan, F. M. (2002). Adolescent Reproductive Health Interventions. Sex Transm


Infect 2002; 78:315-318 doi:10.1136/sti.78.5.315

Colorado Clinical Guidelines. (2008). Guideline for Alcohol and Substance Use
Screening, Brief Intervention, Referral to Treatment : Descriptions of
Brief Intervention and Brief Therapy. Diunduh dari
http://www.integration.samhsa.gov/clinical-
practice/sbirt/SBIRT_Brief_Therapy_Brief_Intervention_descriptions.pd
f. pada tanggal 04 Desember 2013.

Davis, S. & Taylor, B. (2006). From PLISSIT to Ex-PLISSIT’, in Rehabilitation:


The use of theories and models in practice, ed. S. Davis, Elsevier,
Edinburgh, pp.101-29.

Depkes RI. (2001). Yang Perlu Diketahui Petugas Kesehatan Tentang :


Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia Bekerjasama dengan United Nations Population Fund.
DeLaune, S.C., & Ladner, P.K. (2011) Fundamental of nursing: standarts and
practice. (4th ed). New York: Delmar.

Dewi, A.P., Sahar, J., Gayatri. D. (2012). Hubungan karasteristik remaja, peran
teman sebaya dan paparan pornografi dengan perilaku seksual remaja di
kelurahan Pasir Gunung Selatan Depok. Tesis. Universitas Indonesia,
Depok-- Indonesia.

Ditjen PP & PL Kemenkes RI. (2013). Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia


Dilapor s/d Desember 2013. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia. Diakses dari http://www.spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf.

Dwijayanti, Y.R., & Herdiana, I. (2011). Perilaku seksual anak jalanan ditinjau
dengan Teori Health Belief Model (HBM). INSAN Vol. 13 No 02,
Agustus 2011. Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya.

Ervin, N.F. (2002). Advanced community health nursing : Concept and practice.
(5 th ed). Philadelphia: Lippincot.

Friedman, M. M., Bowden, V. R, & Jones, E.G. (2010), Family Nursing ;


Research, Theory, & Practice, Fifth Edition, New Jersey: Prentice Hall.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


129

Gullotta, T.P., Adams, G.R., & Ramos, J.M. (2005). Handbook Of Adolescent
Behavioral Problems: Evidence-Based Approaches To Prevention And
Treatment. New York: Springer Science.

Greenberg, G., Ganshorn, K., & Danilkewich, A. (2001). Solution-focused


therapy : Counseling model for busy family physicians. Canadian
Family Physician. Vol 47. November 2001.

Hall, C. (2013). The PLISSIT Model of Sex Therapy. Diakses dari


http://www.mbft.org/Resources/Sex_Therapy/The%20PLISSIT%20Mod
el%20of%20Sex%20Therapy.pdf

Helvie, C.O. (1998). Advanced practice nursing in the community. California:


Sage Publication, Inc.

Hidayat, M. R., & Lyrawati, D. (2008). Keterampilan Komunikasi pasa Praktek


Farmasi. Diakses dari
http://lyrawati.files.wordpress.com/2008/07/keterampilan-komunikasi-
pada-praktek-farmasi4.pdf

Hidayat, T., Sahar, J., & Widyatuti. (2013). Konseling Berbasis IT (KB-IT)
Sebagai Intervensi Keperawatan dalam Meningakatkan Kesehatan
Reproduksi Remaja di SMP F Kelurahan Cisalan Pasar Kecamatan
Cimanggis Kota Depok. KIA. Jakarta: Fakultas Ilmu Keperawatan
Program Studi Ners Spesialis Keperawatan Komunitas.

Imron, A. (2012). Pendidikan kesehatan reproduksi remaja: peer edukator &


efektivitas program PIK-KRR di sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Janssen, M. & Davis, J. (2009). The Youth Worker’s Role in Young People’s
Sexual Health: A Practice Framework. Journal Stidies Australia.
Volume, 28 Number 4 2009.

Joint Consortium fo School Health. (2012). What is Comprehensive School


Health?. Canada.

Kelly, P. (2010). Essentials of Nursing Leadership & Management. (2nd ed). New
York: Delmar.

Kemenkes RI. (2006). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No


279/Menkes/SK/IV/2008 tentang pedoman Penyelenggaraan Upaya
Keperawatan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas. Jakarta : Kemenkes
RI.

Kemenkes RI. (2010). Buku Pemantauan Kesehatan Remaja. Jakarta : Direktorat


Bina Kesehatan Anak, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat,
Kementrian Kesehatan RI.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


130

Kemenkes RI. (2013). Pedoman Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja Di


Puskesmas. Diakses dari
https://www.k4health.org/sites/default/files/Program_PKPR_0_0.pdf

Lesmana, J.M. (2008). Dasar-dasar konseling. Jakarta: UI-Press.

Lenoir, C.D., Walters, E., & Vasapolli, F. (2000). Locally-Developed HIV/AIDS


Prevention Intervention Profile : Teen Prevention Education Program
(PEP). New Jersey : National Alliance of State & Teritorial AIDS
Directors.

Maglaya, A. S., Cruz-Earnshaw, R. G., Pambid-Dones, L. B. L., Maglaya, M. C.


S., Lao-Nario, M. B. T., & Leon, W. O. U.-D. (2009). Nursing Practice
in the Community. Marikina: Argonauta Corporation.

Marfu, K.A., & Sofyan, Y. (2010). Pedoman pembimbingan dan pengembangan


pelatihan bagi guru UKS di Jawa Barat. Jawa Barat: Dinas Pendidikan
Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Marte, R.M. (2008). Adolescent problem behaviors : deliquency, aggression, and


drug use. New York: LFB Scholarly Publishing LLC.

Martinez, G., Abma, J., & Copen, C. (2010). Education teenagers about sex in the
United States. NCHS Data Brief. No 44. September 2010. U.S
Departement of Health and Human Services. Center for Disease Control
and Prevention. National Centre for Health Statistics.

Marquis, B.L., & Huston, C.J. (2010), Leadership Roles And Roles Management
Functions In Nursing: Theory And Application. 5th ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.

Maurer, F.A., & Smith, C.M. (2005). Community/public health nursing practice:
health for families and populations. (3th ed). St. Louis: Elsevier
Saunders.

McMurray, A. (2003). Community Helath And Wellness; A Socioecological


Approach. 2nd ed. Australia: Harcourt, Mosby

Mulyana, H., & Purnamasari, S.E. (2010). Hubungan antara harga diri dengan
sikap terhadap perilaku seksula pranikah pada remaja dari keluarga
broken home. Psycho Idea, Tahun 8 No 2, Juli 2010 ISSN 1693-1076.

National Institute for Health and Clinical Excellence. (2006). Four commonly
used methods to increase physical activity: brief interventions in
primary care, exercise referral schemes, pedometers and community-
based exercise programmes for walking and cycling. Public Health
Intervention Guidance no. 2. Issue Date: March 2006.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


131

Nicolson, D., & Ayers H. (2004). Adolescent problems: a practical guide for
parents, techers and counsellors. (2nd ed). London: David Fulton
Publisher Ltd.

Papalia, D.E., Old, S.W., & Feldman, R.D. (2011). Human development
(psikologi perkembangan). (Edisi Ke-9). Jakarta: Kencana.

Pender, N. J., Murdaugh, C. L., & Parsons, M. A. (2002). Health Promotion In


Nursing Practice. Ed 4th. New Jersey: Prentice Hall.

Santrock, J.W. (2007). Adolesence (Remaja). (Edisi ke-11). Terjemahan oleh


Soedjarwo. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sari, A. (2012). Strategi dan Inovasi Pencapaian MDGs 2015 di Indonesia.


Diakses dari
http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/pdfprosiding2/fisip201236.pdf.

Stanhope, M. & Lancaster, J. (2004). Community & public health nursing. (6th
ed). St Louis: Mosby.

Sarwono, S.W. (2006). Seksualitas & fertilitas remaja. Jakarta: CV Rajawali.

Sugiyono. (2010). Statistika Untuk Penelitian. Cetakan Ke-16. Bandung :


Alvabeta.

Suryoputro, A., Ford, N.J., & Shaluhiyah, Z. (2006). Faktor-faktor yang


mempengaruhi perilaku seksual remaja di Jawa Tengah: implikasinya
terhadap kebijakan dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi.
Makara Kesehatan., Vol. 10, No. 1, Juni 2006: 29-40.

Surjadi C., Prato H., & Handajani Y. S., (2001). Kesehatan Reproduksi, Narkoba,
dan Kota Sehat. Jakarta : Jaringan Epidemiologi Nasional.

Stuart, G.W. (2007). Buku saku keperawatan jiwa. (Edisi Ke-5). Jakarta: EGC.

Swanburg, R. C. (2000). Pengantar Kepeemimpinan Dan Manajemen


Keperawatan Untuk Perawat Klinis. Jakarta : EGC.

Trepper, S. T., McCollum, E. E., De Jong, P., Korman, H., Gingerich, W., &
Franklin, C. (2013). Solution Focused Therapy Treatment Manual for
Working with Individuals Research Committee of the Solution Focused
Brief Therapy Association 2010. SFBTA 2013.

Wahyuni D., & Rahmadewi. (2011). Kajian profil penduduk remaja (10-24
tahun): ada apa dengan remaja?. Jakarta: Pusat penelitian dan
Pengembangan Kependudukan Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


132

WHO. (2011a). WHO Guidelines on preventing early pregnancy and poor


reproduktive outcomes: among adolescents in developing countries.
Genewa: WHO Press.

WHO. (2012a). Maternal, newborn, child and adolescent health: adolescent


development.http://www.who.int/maternal_child_adolescent/topics/adole
scence/dev/en/index.html, diperoleh 13 Februari, 2013, pukul 02:09
WIB.

WHO. (2012b). Maternal, newborn, child and adolescent health: adolescent


health epidemiology.
http://www.who.int/maternal_child_adolescent/epidemiology/adolescenc
e/en/, diperoleh 13 Februari, 2013, pukul 02:16 WIB.

Williamson, A. (2008). Brief Psycological Intervention in Clinical Practice.


Chichester : John Wiley & Sons Ltd.

Yazachew, Meseret and Alem, Yihenew (2004), Introduction to Health


Education, In collaboration with the Ethiopia Public Health Training
Initiative, The Carter Center, the Ethiopia Ministry of Health, and the
Ethiopia Ministry of Education, USA : USAID.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 1

HASIL UJI STATISTIK


PENGELOLAAN LAYANAN MANAJEMENEN KEPERAWATAN

Tabel Hasil Uji Pre-Post Pengetahuan Peer Educator

Beda ̅ p-value
No Materi n ̅ Pre ̅ Post SD Beda ̅
(%) 1-tailed*
1 15
Konsep Seksualitas 14,8 17,4 1,6 2,6 13,0 0,0015
2 15
Sistem Reproduksi 15,6 19,7 2,3 4,1 20,3 0,0005
3 Bahaya HIV/AIDS12 16,8 19,8 2,2 3,0 15,0 0,0015
4 Teknik BPIM 10 14,6 16,3 2,3 1,7 8,5 0,0210
Keterangan : * Uji Wilcoxon

Tabel Hasil Uji Pre-Post Pengetahuan Audience Hasil Penkes oleh Peer Educator

Beda ̅ p-value
No Materi n ̅ Pre ̅ Post SD Beda ̅
(%) 1-tailed*
1 Penyakit Menular Seksual 32 16,2 18,0 1,7 1,8 9,1 0,000
2 Menstruasi 32 17,9 18,6 2,3 0,7 3,4 0,003
Cara menangani
3 menstruasi
32 16,8 18,2 2,5 1,3 6,7 0,000
Keterangan :* Uji Wilcoxon

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 2

HASIL UJI STATISTIK


ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

Tabel Hasil Uji Pre-Post Tingkat Pengetahuan Hasil Intervensi Pendidikan Kesehatan

Beda ̅ p-value
No Materi n ̅ Pre ̅ Post SD Beda ̅
(%) 1-tailed*
1 Sistem reproduksi 45 17,7 19,7 1,3 2,0 10,0 0,000
Jerawat &
2 101 16,7 17,9 1,0 1,2 5,9 0,000
Penanganannya
Menstruasi, mimpi
3 basah, keputihan & 95 16,6 18,1 1,1 1,5 7,4 0,000
penanganannya
4 HIV/AIDS & PMS 107 16,4 18,6 0,7 2,2 11,1 0,000
5 SADARI & SAPENI 92 15,9 16,9 0,6 1,0 4,9 0,000
6 Bahaya Pornografi 182 16,2 17,1 1,3 1,0 5,1 0,000
Keterangan : * Uji Wilcoxon

Tabel Hasil Uji Efektifitas Intervensi Teknik Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM)

Kelompok Kelompok Non


Intervensi Intervensi Selisih p-value
No Materi SD
(Kelas IX A) (Kelas IX B) Mean 2-tailed*
n ̅ n ̅
Kemampuan menerima masukan
1 18 18,3 16 17,1 1,3 1,3 0,012
dan evaluasi diri
2 Pacaran, Seks bebas, & Aborsi 20 18,4 18 17,7 0,7 1,1 0,099
Manajemen perilaku :
3 kemampuan identifikasi hobi, dan 15 18,4 15 17,5 0,9 0,8 0,005
cita-cita
Manajemen perilaku :
kemampuan identifikasi manfaat,
4 20 18,0 18 17,4 0,6 0,7 0,022
kerugian, dan waktu ideal
berpacaran
Manajemen perilaku :
kemampuan identifikasi
5 18 18,6 12 18,0 0,6 0,7 0,048
perbedaan perasaan suka atau
cinta
Manajemen perilaku :
6 kemampuan pengenalan potensi 22 18,9 20 18,3 0,7 0,8 0,005
diri dengan Johari Window
Manajemen perilaku :
7 kemampuan meningkatkan sikap 22 18,0 18 17,3 0,7 1,0 0,033
positif dan tanggung jawab diri
Keterangan : * Uji Mann-Whitney

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Tabel Hasil Uji Pre-Post Tingkat Pengetahuan Hasil Intervensi Pendidikan Kesehatan
Tentang Komunikasi Asertif

Beda ̅ p-value
No Materi n ̅ Pre ̅ Post SD Beda ̅
(%) 1-tailed*
Komunikasi
1 36 17,7 19,6 1,9 1,3 6,5 0,000
Asertif
Keterangan : * Uji Wilcoxon

Tabel Hasil Uji Pre-Post Perilaku Kesehatan Reproduksi Siswa SMP A (n =159)

Beda ̅ p-value
No Materi ̅ Pre ̅ Post SD Beda ̅
(%) 1-tailed*
1 Perilaku Total 82,9 94,3 9,6 11,4 9,5 0,000
2 Pengetahuan 19,3 23,3 2,2 4,0 16,7 0,000
3 Sikap 31,5 35,7 5,5 4,2 8,8 0,000
4 Tindakan 32,2 35,4 4,6 3,2 6,7 0,000
Keterangan : * Uji Wilcoxon

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 3

HASIL UJI STATISTIK


ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Tabel Hasil Uji Pre-Post Perilaku Kesehatan Reproduksi Keluarga (n =10)

Beda ̅ p-value
No Materi ̅ Pre ̅ Post SD Beda ̅
(%) 1-tailed
1 Perilaku Total 85,1 95,9 3,1 10,8 9,0 0,000*
2 Pengetahuan 19,6 23,5 2,1 3,9 19,5 0,0025**
3 Sikap 32,6 36,6 2,6 4,0 8,3 0,0005*
4 Tindakan 32,9 35,8 1,3 2,9 6,1 0,000*
Keterangan : * T-Test paired; **Uji Wilcoxon

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 4

PRIORITAS MASALAH MANAJEMEN PELAYANAN KEPERAWATAN


KOMUNITAS

Bagaimana Perubahan Peningkatan Peringkat


Pentingya positif untuk kualitas semua
untuk komunitas jika kehidupan jika masalah dari
dipecahkan dipecahkan dipecahkan 1 sampai 6
Diagnosa Total
Rendah =1 Tidak ada = 0 Tidak ada = 0 Kurang
Rata-rata = 2 Rendah =1 Rendah =1 penting = 1
Tinggi = 3 Rata-rata = 2 Rata-rata = 2 Sangat
Tinggi = 3 Tinggi = 3 penting = 6

Kegiatan pembinaan
kesehatan reproduksi
remaja belum menjadi
prioritas kerja dari 3 3 2 1 9
Kebijakan Renstra 2011-
2015 Dinas Kesehatan
Kota Depok
Belum adanya pengarahan
dan bimbingan PKPR ke 3 2 3 4 12
tingkat sekolah
Tidak terlaksananya
supervisi dan motivasi
3 3 3 5 14
keberlanjutan dari
pelatihan PKPR
Alur koordinasi dan
komunikasi tidak berjalan
efektif antara dinas
3 3 2 2 11
kesehatan, dinas
pendidikan, puskesmas,
dan sekolah
Upaya pembinaan
kesehatan reproduksi 3 3 3 6 15
siswa tidak efektif
Belum optimalnya
pengembangan program
3 2 2 3 10
pelayanan kesehatan pada
remaja di sekolah

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 5

PRIORITAS DIAGNOSIS KEPERAWATAN KOMUNITAS

Diagnosis 1 :Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan reproduksi siswa SMP A

Total
Komponen penilaian Skor Bobot
(Skor x Bobot)
Kesadaran masyarakat terhadap masalah 6 5 30
Motivasi masyarakat untuk
10 8 80
menyelesaikan masalah
Kemampuan masyarakat untuk
8 7 56
menyelesaikan masalah
Tersedianya fasilitas di masyarakat 10 10 100
Derajat keparahan masalah 6 8 48
Waktu utnuk menyelesaikan masalah 4 5 20
Total 334

Diagnosis 2 :Perilaku kesehatan reproduksi siswa SMP A cenderung berisiko

Total
Komponen penilaian Skor Bobot
(Skor x Bobot)
Kesadaran masyarakat terhadap masalah 6 5 30
Motivasi masyarakat untuk
10 8 80
menyelesaikan masalah
Kemampuan masyarakat untuk
8 7 56
menyelesaikan masalah
Tersedianya fasilitas di masyarakat 10 10 100
Derajat keparahan masalah 5 8 40
Waktu utnuk menyelesaikan masalah 4 5 20
Total 326

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Diagnosis 3: Ketidakefektifan koping Komunitas SMP A dalam memecahkan
masalah yang terkait kesehatan reproduksi siswa SMP A

Total
Komponen penilaian Skor Bobot
(Skor x Bobot)
Kesadaran masyarakat terhadap masalah 6 5 30
Motivasi masyarakat untuk
9 8 72
menyelesaikan masalah
Kemampuan masyarakat untuk
7 7 49
menyelesaikan masalah
Tersedianya fasilitas di masyarakat 10 10 100
Derajat keparahan masalah 5 8 40
Waktu utnuk menyelesaikan masalah 3 5 15
Total 306

Diagnosis 4: Defisiensi kesehatan reproduksi komunitas siswa SMP A


Total
Komponen penilaian Skor Bobot
(Skor x Bobot)
Kesadaran masyarakat terhadap masalah 5 5 25
Motivasi masyarakat untuk
8 8 64
menyelesaikan masalah
Kemampuan masyarakat untuk
7 7 49
menyelesaikan masalah
Tersedianya fasilitas di masyarakat 9 10 90
Derajat keparahan masalah 5 8 40
Waktu utnuk menyelesaikan masalah 3 5 15
Total 283

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 6

PRIORITAS DIAGNOSIS KEPERAWATAN KELUARGA

Diagnosis 1 : Perilaku kesehatan cenderung berisiko pada anggota keluarga Bpk E


yakni Cc P tentang kesehatan reproduksi
Total
Kriteria Skor Bobot (Skor/Skor
tertinggi x Bobot)
Sifat masalah
- Sejahtera 3
- Ancaman kesehatan (risiko) 2 1 2/3 x 1 = 2/3
- Tidak sehat (aktual) 1
Kemungkinan masalah dapat diubah
- Mudah 2
- Sebgian 1 2 ½ x 2 =1
- Tidak dapat 0
Potensi masalah untuk dicegah
- Tinggi 3
- Cukup 2 1 3/3 x 1 = 1
- Rendah 1
Menonjolnya masalah
- Masalah berat harus segera ditangani 2
- Ada masalah tapi tidak perlu segera ditangani 1 1 2/2 x 1 = 1
- Merasa tidak ada masalah 0
TOTAL 3,67

Diagnosis 2 : Resiko terjadinya harga diri rendah pd anggota keluarga Bpk E (Cc P)
Total
Kriteria Skor Bobot (Skor/Skor
tertinggi x Bobot)
Sifat masalah
- Sejahtera 3
- Ancaman kesehatan (risiko) 2 1 2/3 x 1 = 2/3
- Tidak sehat (aktual) 1
Kemungkinan masalah dapat diubah
- Mudah 2
- Sebgian 1 2 ½ x 2 =1
- Tidak dapat 0
Potensi masalah untuk dicegah
- Tinggi 3
- Cukup 2 1 2/3 x 1 = 2/3
- Rendah 1
Menonjolnya masalah
- Masalah berat harus segera ditangani 2
- Ada masalah tapi tidak perlu segera ditangani 1 1 2/2 x 1 = 1
- Merasa tidak ada masalah 0
TOTAL 3,34

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 7

Lembar Penilaian Kemampuan Penkes Oleh Peer Educator

Nama peserta :

Dilakukan
No Item
Ya Tidak

1 Mempersiapkan media penyuluhan (modul, leafleat, dll)

2 Media penyuluhan sudah sesuai dengan materi yang


akan disampaikan

3 Menyiapkan alat dan tempat untuk penyuluhan

4 Menyampaikan salam pembuka

5 Kontrak waktu, tempat dan tema

6 Menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan yang akan


dilaksanakan

7 Mengatur lingkungan yang kondusif seperti lingkungan


yang nyaman, terhindar dari kebisingan, tidak berbau,
tidak panas, dan tidak sempit

8 Mempertahankan kontak mata ke peserta

9 Menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta

10 Menjelaskan tentang materi kesehatan reproduksi secara


benar dan berurutan

11 Bertanya kembali tentang apa yang telah disampaikan


oleh pendidik sebaya

12 Melakukan kontrak untuk pertemuan atau kegiatan


selanjutnya

13 Menyampaikan salam penutup

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 8

Kuesioner Pengetahuan Tentang Konsep Seksualitas


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Benar Salah


1 Gender adalah perbedaan jenis kelamin berdasarkan peran seseorang 2 1
2 Seksualitas melingkupi fisik saja 1 2
3 Pubertas merupakan proses perubahan tubuh dari remaja ke dewasa 2 1
3 Pubertas ditandai dengan kematangan organ reproduksi 2 1
4 Laki-laki terjadi pubertas antara umur 11-12 tahun 1 2
5 Hormon estrogen membentuk sifat kewanitaan 2 1
6 Hormon testosteron membentuk sifat kelelakian 2 1
7 Mimpi basah terjadi pada perempuan 1 2
8 Rata-rata siklus menstruasi terjadi setiap 28-29 hari 2 1
9 Menstruasi paling lambat pada usia 12 tahun 1 2
10 Ciri emosi remaja adalah sering stres 2 1

Kuesioner Pengetahuan Tentang Sistem Reproduksi Remaja


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Benar Salah


1 Kesehatan reproduksi hanya masalah penyakit fisik saja 1 2
2 Rahim adalah salah satu organ reproduksi perempuan 2 1
3 Sakit saat menstruasi disebut dismenore 2 1
4 Kompres hangat dapat mengurangi nyeri haid 2 1
5 Selaput dara dinamakan juga sebagai hymen 2 1
6 Rerata siklus menstruasi adalah 30 hari 1 2
7 Mimpi basah merupakan tanda akil baligh 2 1
8 Kehamilan hanya butuh kesiapan fisik 1 2
9 Sunat merupakan cara menjaga kebersihan reproduksi 2 1
10 Seks pranikah sekali saja tidak menyebabkan kehamilan 1 2

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 9

Kuesioner Pengetahuan Tentang Bahaya HIV/AIDS


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Benar Salah


1 HIV adalah sejenis bakteri 1 2
2 Orang dengan HIV saja tidak memiliki gejala 2 1
3 AIDS adalah penyakit-penyakit yang timbul setelah HIV 2 1
4 HIV dapat ditularkan melalui seks bebas 2 1
5 HIV dapat ditularkan dari cairan tubuh 2 1
6 Orang dengan HIV tidak boleh diajak bersalaman 1 2
7 Jumlah HIV di dalam tubuh dapat ditekan dengan obat ARV 2 1
8 Kondom dapat mencegah penularan HIV sebesar 100% 1 2
9 Berganti-ganti pasangan meningkatkan risiko penularan HIV 2 1
10 Orang dengan HIV tidak dapat sembuh seperti semula 2 1

Kuesioner Pengetahuan Tentang Penyakit Menular Seksual (PMS)


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Benar Salah


1 PMS tidak selalu diakibatkan oleh seks bebas 1 2
2 PMS tidak selalu diawali dengan HIV 2 1
3 Kencing nanah disebabkan oleh kuman Gonore 2 1
4 PMS meningkatkan resiko kemandulan 2 1
5 Herpes genital disebabkan oleh virus 2 1
6 Orang dengan kutil kelamin disebabkan oleh Hepatitis 1 2
7 Orang dengan HIV mudah terkena PMS 2 1
8 Kondom dapat mencegah semua PMS 1 2
9 Berganti-ganti pasangan meningkatkan risiko penularan PMS 2 1
10 Orang dengan PMS tanpa HIV tidak dapat sembuh seperti semula 1 2

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 10

Kuesioner Pengetahuan Tentang Menstruasi


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Benar Salah


1 Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim disertai perdarahan 2 1
2 Perempuan yang telah haid, artinya telah dapat terjadi kehamilan 2 1
3 Menstruasi teratur terjadi setiap bulan 2 1
4 Akhir dari panjang siklus menstruasi adalah 2 hari sebelum haid 1 2
5 Lama waktu menstruasi normal adalah 15-21 hari 1 2
6 Jika siklus lebih pendek/lebih panjang, maka haid tidak teratur 2 1
7 Jika siklus memendek/memanjang tetapi rutin, maka haid tetap teratur 2 1
Haid dikatakan terlambat jika tidak mengalami haid selama 2 bulan
8 1 2
berturut-turut
9 Perempuan yang hamil tidak akan mengalami menstruasi 2 1
10 Menstruasi akan berakhir, dimulai pada usia 40 tahun 2 1

Kuesioner Pengetahuan Tentang Nyeri Menstruasi


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Benar Salah


1 Menandai kalender membuat remaja lebih siap menghadapi haid 2 1
Memakai pakaian ketat saat haid dapat membuat merasa lebih
2 1 2
nyaman
3 Memakan makanan yang tinggi zat besi baik bagi yg sedang haid 2 1
Istirahat yang cukup dapat membuat remaja siap menghadapi nyeri
4 2 1
haid
5 Mampu mengontrol emosi dapat menghindari stres saat nyeri haid 2 1
6 Mengompres perut dg bantalan air panas dapat mengurangi nyeri haid 2 1
7 Menekuk badan tidak dapat mengurangi sara nyeri saat menstruasi 1 2
8 Memijat lembut bagian bawah perut dapat meredakan nyeri haid 2 1
Berjalan kaki yang dapat mengurangi nyeri haid dilakukan selama 2
9 1 2
jam
Olahraga yoga dapat membuat pernapasan teratur dan rileks dalam
10 2 1
menghadapi nyeri menstruasi

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 11

Kuesioner Pengetahuan Tentang Brief-PLISSIT Intervention Model (BPIM)


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Benar Salah


BPIM merupakan teknik komunikasi yang digunakan dalam bidang
1 2 1
konseling
2 Tahap permission adalah meminta iji menginisiasi diskusi 2 1
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan media yang
3 2 1
dibutuhkan
4 Saat melakukan BPIM tidak perlu menanyakan perasaan kenyamanan 1 2
5 Tahapam membahas topik diskusi adalah limited information 2 1
Saat memberikan saran atau sugesti pertama kali dilakukan membangun
6 2 1
kesadaran diri
Salah satu langkah dari tahapan intensive therapy adalah membangun
7 1 2
situasi positif
Memberikan kesempatan untuk menceritakan hal-hal bebas dilakukan
8 1 2
pada tajap spesific suggestions
9 Tidak boleh memaksakan solusi yang dirasakan sulit dikerjakan 2 1
10 Evaluasi perasaan pada saat akhir diskusi 2 1

Kuesioner Pengetahuan Tentang Jerawat dan Penanganannya


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Benar Salah


1 Jerawat merupakan sejenis infeksi pada kulit 2 1
2 Penurunan hormon sebagai pencetus jerawat pada remaja 1 2
3 Keadaan kulit berminyak meningkatkan munculnya jerawat 2 1
4 Mencegah jerawat dapat dilakukan dengan rutin mencuci muka 2 1
5 Mengurangi makan gorengan dapat mencegah munculnya jerawat 2 1
6 Cuci muka sebelum tidur tidak mengurangi munculnya jerawat 1 2
7 Dianjurkan untuk sering menyentuh jerawat dengan tangan 1 2
8 Memijat jerawat dapat memperparah infeksi 2 1
9 Tidur yang cukup dapat menambah parah jerawat 1 2
10 Sabun mandi tidak cocok untuk mengatasi jerawat 2 1

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 12

Kuesioner Pengetahuan Tentang Menstruasi, Mimpi Basah, Keputihan, dan


Penanganannya
Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Benar Salah


1 Menstruasi adalah tanda wanita telah dewasa secara fisik 2 1
2 Mimpi basah bukan sebagai tanda laki-laki telah dewasa secara fisik 1 2
3 Menstruasi yang teratur dialami setiap bulan 2 1
4 Keputihan yang berlebihan sebagai tanda adanya penyakit 2 1
5 Remaja yang telah mimpi basah artinya organ reproduksi telah matang 2 1
6 Ganti celana maksimal 2 kali sehari dapat mencegah infeksi reproduksi 1 2
7 Keputihan sering diakibatkan oleh infeksi virus 1 2
8 Stres dapat memicu munculnya keputihan 2 1
9 Kelelahan tidak meningkatkan resiko keputihan 1 2
10 Penggunaan cairan pembersih meningkatkan resiko keputihan 2 1

Kuesioner Pengetahuan Tentang SADARI & SAPENI


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Benar Salah


1 SADARI kepanjangan dari Periksa Payudara Sendiri 2 1
2 SADARI merupakan cara deteksi kanker rahim 1 2
3 Menstruasi yang teratur dialami setiap bulan 2 1
4 Keputihan yang berlebihan sebagai tanda adanya penyakit 2 1
5 Remaja yang telah mimpi basah artinya organ reproduksi telah matang 2 1
6 Ganti celana maksimal 2 kali sehari dapat mencegah infeksi reproduksi 1 2
7 Keputihan sering diakibatkan oleh infeksi virus 1 2
8 Stres dapat memicu munculnya keputihan 2 1
9 Kelelahan tidak meningkatkan resiko keputihan 1 2
10 Penggunaan cairan pembersih meningkatkan resiko keputihan 2 1

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 13

Kuesioner Pengetahuan Tentang Bahaya Pornografi


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Benar Salah


1 Pornografi selalu berupa video yang memuat kecabulan 1 2
2 Video pornografi terkategori media elektronik 2 1
3 Menonton pornografi tidak pernah disebabkan oleh pengaruh teman 1 2
4 Bahaya kecanduan pornografi banyak tidak dipahami remaja 2 1
5 Iseng-iseng sering menjadi alasan pertama remaja menonton pornografi 2 1
6 Pornografi berdampak positif pada perkembang otak 1 2
7 Kekerasan seksual tidak pernah dipicu oleh pornografi 1 2
8 Berdoa dapat mencegah keinginan menonton pornografi 2 1
9 Berolahraga tidak dapat mengalihkan menonton pornografi 1 2
10 Keluarga perlu terlibat dalam mencegah dampak pornografi 2 1

Kuesioner Tentang Kemampuan Menerima Masukan dan Evaluasi Diri


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Ya Tidak
1 Saya sering melakukan kesalahan 2 1
2 Saya siap untuk menerima kritikan dari orang lain 2 1
3 Saya akan marah jika orang lain mengatakan saya salah 1 2
4 Saya siap membuka diri atas teguran dari orang lain 2 1
5 Saya akan menghindar jika dikritik orang lain 1 2
6 Saya sering berfikir dua kali sebelum berbuat 2 1
7 Saya akan mengutamakan hidup sehat daripada kesenangan 2 1
8 Saya akan selalu mendengarkan perkataan yang baik 2 1
9 Saya ragu untuk sanggup berubah menjadi pendengar yang baik 1 2
10 Saya siap menjaga hubungan yang baik dengan teman saya 2 1

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 14

Kuesioner Tentang Kemampuan Mengidentifikasi Hobi dan Cita-cita


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Ya Tidak
1 Saya saat ini memiliki cita-cita yang mulia 2 1
2 Saya ragu untuk menjawab pertanyaan tentang cita-cita 1 2
3 Saya memiliki keinginan yang jelas untuk menjadi seperti apa saat dewasa 2 1
4 Saya yakin bahwa hobi saya mampu membuat saya berfikir positif 2 1
5 Saya siap berusaha sekuat tenaga untuk mencapai cita-cita 2 1
6 Saya yakin cita-cita yang saya inginkan akan tercapai 2 1
7 Saya tidak yakin jika hobi saya bermanfaat 1 2
8 Saya lebih suka melakukan hobi positif daripada melakukan hal negatif 2 1
9 Saya ragu bahwa cita-cita saya akan tercapai 1 2
10 Saya harus berusaha keras untuk mendapatkan masa depan yang cerah 2 1

Kuesioner Tentang Kemampuan Mengidentifikasi Manfaat, Kerugian,


Dan Waktu Ideal Berpacaran
Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Ya Tidak
1 Saya yakin berpacaran bermafaat pada peningkatan prestasi sekolah 1 2
2 Saya ragu mampu menghindari kerugian ddari berpacaran 2 1
3 Saya merasa siap berpacaran saat masih sekolah 1 2
4 Saya sanggup tidak berpacaran saat masih sekolah 2 1
Saya merasa akan memperoleh manfaat lebih besar saat berpacaran
5 1 2
semasa sekolah
6 Saya yakin bahwa saat sekolah merupakan waktu ideal berpacaran 1 2
7 Saya ragu bahwa jika berpacaran saat sekolah dapat menggangu belajar 1 2
8 Saya siap untuk mengutamakan belajar daripada pacaran 2 1
9 Saya sanggup untuk berpacaran secara wajar 2 1
10 Saya yakin dapat memutuskan kapan waktu yang tepat untuk pacaran 2 1

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 15

Kuesioner Tentang Kemampuan Mengidentifikasi Perbedaan


Perasaan Suka Atau Cinta
Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Ya Tidak
1 Saat-saat yang terindah jika sengan berduaan dengan pacar 1 2
2 Saya yakin bahwa jatuh cinta akan terjadi berulang-ulang 2 1
3 Saya percaya orang yang sering menyatakan cinta hanya sekedar suka saja 2 1
4 Saat merasa nyaman jalan berdua, saya yakin itu sebagai tanda cinta 1 2
5 Saya ragu pada cinta pacar yang suka memberikan janji 2 1
6 Saya siap meminta maaf jika saya salah pada pacar saya 2 1
7 Saya merasa biasa saja jika diputus oleh pacar 1 2
8 Saya selalu menyiapkan diri dengan baik jika dijemput paca 2 1
9 Saat pacar saya jalan dengan temannya, saya merasa emosi 1 2
10 Saya percaya cinta tidak harus kepada pacar 2 1

Kuesioner Tentang Kemampuan Mengenal Potensi/


Kesasdaran Diri Johari Window
Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Ya Tidak
1 Saya tidak memiliki banyak kekurangan 1 2
2 Kekurangan diri tidak boleh dibicarakan 1 2
3 Saya siap mendengar kritikan orang lain 2 1
4 Ejekan orang tidak perlu didengar 1 2
5 Saya yakin saya orang yang bersifat terbuka 2 1
6 Saya suka dengan orang yang sering menasehati saya 2 1
7 Saya marah pada orang yang sering mengkritik saya 1 2
8 Saat orang tua memberi nasehat adalah waktu yang saya senangi 2 1
9 Saya lebih menghargai pujian daripada kritikan 1 2
10 Saya merasa nyaman dipuji daripada dinasehati orang tua 1 2

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 16

Kuesioner Tentang Kemampuan Meningkatkan Sikap Positif


Dan Tanggung Jawab Diri
Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Ya Tidak
1 Saya sendiri yang akan menentukan siapa teman saya 2 1
2 Saya akan belajar kalau besok ada ujian 1 2
Saya merasa biasa saja jika teman saya mengejek saya karena tidak pernah
3 2 1
pacaran
Agar teman-teman mau menerima saya, maka saya harus mau mengikuti
4 1 2
apa yang mereka lakukan
5 Orang tua tidak berhak mengatur-ngatur saya 1 2
6 Remaja gaul adalah remaja yang memiliki pacar 1 2
7 Saya menyakini bahwa pacaran sebagai pencetus seks bebas 2 1
8 Saya tidak yakin jika berpacaran dapat meningkatakn prestasi belajar 2 1
9 Cewek cabe-cabean berisiko terkena HIV/AIDS 2 1
10 Berciuman saat berpacaran adalah hal yang wajar 1 2

Kuesioner Tentang Komunikasi Asertif


Isilah kolom berikut dengan memberikan tanda checklist (√)
pada jawaban yang Kamu pilih!

No Pernyataan Ya Tidak
1 Saya saat berbicara selalu mengutamakan perasaan orang lain 2 1
2 Saya yakin jika saya berbicara santun, maka akan didengar orang lain 2 1
3 Orang yang salah tidak perlu diajak bicara 1 2
4 Pacar yang mengajak jalan tanpa ijin orang tua perlu diomelin 1 2
5 Menghujat orang yang sulit diberi nasehat adalah sah-sah saja 1 2
6 Saya yakin dapat menolak ajakan berbuat jelek tanpa menghujat 2 1
7 Saya selalu memikirkan dampak dari omongan sayaS 2 1
Saya yakin berbicara blak-blakan tanpa berfikir dahulu adalah cara yang baik
8 1 2
menyapaikan pendapat
9 Saya tida perlu berbicara untuk menolak apa yang diinginkan pacar saya 1 2
10 Saya percaya bahwa bericara santun adalah cara komunikasi paling baik 2 1

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lampiran 17

Tabel
Indikator Dampak Asuhan Keperawatan Keluarga Terhadap Tingkat Kemandirian
Keluarga Binaan Kesehatan Reproduksi Remaja Di Kelurahan Curug Tahun 2014

Keluarga Binaan
No Kriteria
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Menerima petugas (Perkesmas) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Menerima pelayanan kesehatan
2 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
sesuai rencana Keperawatan
Tahu dan dapat mengungkapkan
3 masalah kesehatannya secara √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
benar
Memanfaatkan fasilitas pelayanan
4 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
kesehatan sesuai anjuran
Melakukan tindakan keperawatan
5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
sederhana sesuai anjuran
Melakukan tindakan pencegahan
6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
secara aktif
Melakukan tindakan peningkatan
7 √ √ - √ - √ - √ √ √
kesehatan (promotif) secara aktif
Tingkat Kemandirian 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4

Tabel
Perubahan Tingkat Kemandirian Keluarga Binaan Kesehatan Reproduksi Remaja
Di Kelurahan Curug Tahun 2014 (n=10)

Tingkat Tingkat
Kemandirian Kemandirian
No Keluarga Binaan
Sebelum Sesudah
Intervensi Intervensi
1 1 1 4
2 2 2 4
3 3 1 3
4 4 2 4
5 5 1 3
6 6 2 4
7 7 1 3
8 8 1 4
9 9 2 4
10 10 2 4

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


No :

PROGRAM MAGISTER DAN SPESIALIS PASCASARJANA


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA

LEMBAR ANGKET KESEHATAN REMAJA

Jawablah Pernyataan Berikut Ini Yang Sesuai Dengan Pendapat Dan Keadaan Kamu
Sebenarnya TANPA Bertanya Kepada Orang Lain

Petunjuk pengisian :
Isilah titik-titik dan berilah tanda checklist (√) pada pilihan yang tersedia.

1. Nama : .............................................
2. Alamat : RT ....... / RW ................. Kelurahan .................. Kecamatan .........................
3. Umur : .................. tahun
4. Jenis Kelamin : Laki-laki / perempuan* (*coret yang tidak dipilih)
5. Suku : ......................................
6. Pendidikan : SMP/SMA sederajat * Kelas .....................

7. Bagaimana status tinggal kamu saat ini? (pilih SALAH SATU saja)
Satu rumah dengan keluarga
Kos atau kontrak rumah sendiri

8. Apakah kamu pernah/masih berpacaran? (pilih SALAH SATU saja)


Ya, jika ya: berapa kali berpacaran............................ kali
Tidak

9. Fasilitas kesehatan remaja yang pernah kamu gunakan? (boleh pilih LEBIH dari SATU)
Klinik konsultasi di Puskesmas
Konseling remaja di Sekolah (BP/BK/UKS)
Lainnya :.................................................
Tidak pernah

10. Kegiatan apa sajakah yang kamu lakukan untuk memanfaatkan waktu luang? (boleh pilih
LEBIH dari SATU)
Olah raga
Kesenian
Berpacaran
Bermain internet
Lainnya :..................................
Tidak ada kegiatan

11. Berapa rupiah uang saku kamu setiap hari : Rp.......................

12. Dari mana sumber uang saku yang kamu peroleh? (boleh pilih LEBIH dari SATU)
Orang tua
Lainnya : .................................

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


13. Berikan tanda cheklist (√) pada keadaan di bawah ini yang pernah kamu alami/rasakan!! (boleh
pilih LEBIH dari SATU)
Nongkrong dengan teman-teman
Mengalami Keputihan
Terlambat menstruasi
Gatal di daerah kelamin
Nyeri di alat kelamin
Merasa kurang percaya diri jika tidak memiliki pacar
Diejek teman karena tidak memiliki pacar
Berduaan dengan pacar
Ribut dengan pacar
Pulang malam karena berpacaran
Berbohong pada orang tua
Prestasi di sekolah menurun
Sulit konsentrasi untuk belajar
Ditawari obat-obatan terlarang (narkoba)
Merokok
Menonton pornografi
Lainnya:............................

14. Informasi kesehatan remaja apa saja yang pernah kamu dapatkan? (boleh pilih LEBIH dari
SATU):
Bahaya merokok
Cara menjaga kesehatan alat reproduksi (alat kelamin)
Bahaya seks bebas
Bahaya narkoba
HIV-AIDS
Lainnya:.................................
Tidak pernah

14. Saya memiliki teman yang telah mengalami hal berikut ini? (boleh pilih LEBIH dari SATU)
Mengalami mimpi basah
Mengalami menstruasi
Memiliki tumor/kanker payudara/rahim
Berganti jenis kelamin
Memiliki pacar
Bermasalah dengan pacarnya
Telah berciuman
Telah melakukan hubungan intim
Telah hamil diluar nikah
Putus sekolah karena masalah hamil/menikah
Lainnya :.......................................

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


BERILAH TANDA CHECKLIST (√) PADA KOLOM PILIHAN YANG TERSEDIA!!

No Pertanyaan Ya Tidak
Apakah kamu memiliki teman yang berpengaruh besar dalam mempengaruhi
1
kehidupan kamu?
2 Apakah kamu merasa telah diberi kasih sayang yang memuaskan oleh keluarga?
3 Apakah kamu merasa telah diperlakukan dengan baik oleh orang tua?
4 Apakah kamu merasa lebih nyaman bergaul dengan teman daripada keluarga?
5 Apakah kamu merasa lebih nyaman berada di dalam rumah daripada di luar?
Apakah kamu merasa lebih nyaman curhat masalah yang kamu alami dengan
6
teman daripada dengan korang tua?
Apakah kamu merasa bahwa keluarga tidak bisa memahami keadaan kamu saat
7
ini?
8 Apakah kamu punya permasalahan dengan keluarga?
Apakah ada keluarga kamu yang memiliki masalah riwayat tumor
9
payudara/rahim?
10 Apakah kamu merasa bangga dengan kondisi kamu saat ini?
Apakah kamu selalu memiliki semangat yang tinggi dalam menjalankan kegiatan
11
sehari-hari?
Apakah kamu merasa memiliki kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari
12
secara mandiri?

No Pernyataan Benar Salah


1 Mimpi basah sebagai tanda anak laki-laki telah menjadi remaja
2 Hanya anak perempuan yang mengalami perubahan fisik saat menjadi remaja
3 SADARI adalah cara mengetahui benjolan tumor payudara secara dini
4 Menstruasi yang berarti, secara fisik remaja perempuan dapat mengalami hamil
5 SAPENI adalah cara mengetahui kesehatan alat kelamin laki-laki secara mandiri
6 Pendidikan kesehatan reproduksi dapat mengontrol dorongan seksual remaja
Menjaga kesehatan alat kelamin cukup hanya dengan mengganti celana dalam 2
7
hari sekali
8 Pacaran sehat adalah pacaran tanpa aktivitas seksual
Berciuman merupakan aktivitas seks tanpa ada kemungkinan risiko penularan
9
penyakit seksual
10 Berhubungan seks satu kali saja tidak menimbulkan kehamilan
11 Pornografi dapat menimbulkan keinginan untuk melakukan seks bebas
12 HIV-AIDS tidak dapat ditularkan oleh orang yang tampak sehat

Sangat
Sangat Tidak
No Pernyataan Setuju tidak
setuju setuju
setuju
1 Kebersihan alat kelamin adalah masalah pribadi
2 Masalah berpacaran perlu melibatkan sekolah
3 Menikah sebelum usia 20 tahun
4 Remaja hamil dikeluarkan dari sekolah
5 Remaja gaul adalah remaja yang punya pacar
6 Berciuman saat pacaran adalah tanda kesetiaan cinta
Berganti identitas jenis kelamin adalah pilihan hidup yang
7
wajar

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Sangat
Sangat Tidak
No Pernyataan Setuju tidak
setuju setuju
setuju
8 Berpacaran dapat meningkatkan prestasi belajar
9 Berhubungan intim boleh dilakukan setelah bertunangan
Seks saat berpacaran boleh dilakukan dengan alat
10
kontrasepsi
11 Pornografi boleh ditonton sendiri
12 Penderita HIV-AIDS perlu dijauhi

Tidak
No Pernyataan Sering Jarang Pernah
Pernah
1 Memeriksa kebersihan alat reproduksi sendiri
2 Melakukan konsultasi kesehatan alat reproduksi ke UKS
3 Curhat kepada guru
4 Memiliki keinginan berpacaran
5 Memiliki keinginan berganti jenis kelamin
6 Mencari informasi seksualitas di internet
7 Mencari informasi pencegahan kehamilan
8 Mencari informasi HIV-AIDS
9 Menonton pornografi dengan sengaja
10 Membeli alat kontrasepsi
11 Mendapat informasi bahaya seks bebas dari keluarga
12 Mendapat informasi pacaran sehat dari sekolah

Bagi Kamu Yang Punya Pacar, Jawablah Pertanyaan Berikut Ini Dengan Memberi Tanda
Checklist (√) Pada Pilihan Yang Tersedia!!

No Pertanyaan Ya Tidak
Apakah kamu merasa bahagia saat ini?
Apakah kamu pernah diperlakukan kasar oleh pacar kamu?
Apakah keluarga kamu melarang berpacaran?
Apakah kamu memiliki keinginan untuk berhenti berpacaran?
Menurut kamu, apakah berhenti berpacaran sulit dilaksanakan saat ini?
Apakah kamu yakin bahwa kamu memiliki kemampuan untuk berhenti berpacaran?
Apakah kamu yakin bahwa tidak berpacaran dapat membuat kamu lebih
berprestasi?
Apakah kamu pernah curhat ke guru sebagai upaya mengatasi masalah dalam
berpacaran?
Apakah keluarga mengharapkan kamu untuk berhenti berpacaran?
Apakah keluarga kamu sudah mengetahui bahwa kamu berpacaran?
Apakah kamu merasa bahwa keluarga mampu membantu kamu untuk berhenti
berpacaran?
Apakah kamu merasa bahwa keluarga telah membantu memanfaatkan fasilitas
kesehatan untuk berhenti berpacaran?
Apakah kamu pernah berganti-ganti pacar?
Apakah kamu pernah berpelukan?
Apakah kamu pernah berciuman?
Apakah kamu pernah berhubungan intim?

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Lembar Wawancara Ke Dinas dan Puskesmas
No Pertanyaan
Adakah visi dan misi mulai dari Dinas Kesehatan, Bidang, sampai ke program
1
berkaitan?
Bagaimana sistem pembiayaan dan besarnya anggaran program kesehatan reproduksi
2
remaja di sekolah?
Bagaimana system rekrutmen, jumlah, jenis, dan jenjang SDM staf yang akan
3
ditugaskan untuk mengelola program kesehatan reproduksi remaja di sekolah?
Bagaimana metode yang dilakukan dalam menyusun perencanaan program kesehatan
4
reproduksi remaja di sekolah?
Apakah tujuan program terkait remaja di sekolah, khususnya kesehatan kesehatan
5 reproduksi, visibilitas, dan menunjang program pokok remaja sehingga sering
terdapat keterkaitan?
Apakah ada renstra, renop, dan renbang berjenjang, mulai dari 1 tahunan sampai 5
6
tahunan?
7 Apakah ada program kesehatan reproduksi remaja di sekolah?
Bagaimana sistem anggaran yang dialokasikan bagi program kesehatan reproduksi
8
remaja di sekolah?
Bagaimana cara menentukan satandar tujuan yang akan dicapai dalam penyusunan
9
perencanaan program
Bagaimana system pelatihan dan kursus yang diikuti SDM terkait dengan program
10
kesehatan reproduksi?
Bagaimana struktur organisai terkait dengan program kesehatan reproduksi remaja di
11
sekolah?
Bagaimana sistem uraian tugas bagi pelaksana program kesehatan reproduksi remaja
12
di sekolah?
Upaya apa yang dilakukan dalam memberikan motivasi terhadap pelaksan program
13
kesehatan reproduksi remaja di sekolah?
Pelatihan apa yang diberikan bagi staf pengelola program kesehatan reproduksi
14
remaja di sekolah?
Bagaimana system pendelegasian kewenangan dalam pelaksanaan program pada
15
situasi khusus?
Bagaimana upaya supervisi (jadwal, materi, sumber / SDM) yang dilakukan terhadap
16
pelaksanaan program kesehatan reproduksi remaja di sekolah?
Apakah spesifikasi pengelola program sudah sesuai dengan program yang akan
17
dilaksanakan?
18 Bagaimana upaya pengembangan program kesehatan reproduksi remaja di sekolah?
19 Bagaimana kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan program yang dibuat?
20 Apakah pelaksanaan program sudah sesuai dengan kebijakan yang dibuat?
Bagaimana upaya negosiasi dilakaukan dalam pelaksanaan program kesehatan
21
reproduksi remaja di sekolah?
Bagaimana upaya melibatkan lintas sector dalam rangka pelaksanaan program
22
kesehatan reproduksi remaja di sekolah?
Bagaimana upaya melibatkan masyarakat remaja, kader, sekolah dalam pencapaian
23
program kesehatan reproduksi remaja di sekolah?
Bagaimana bentuk kegiatan monitoring evaluasi program (metode, cara, instrumen,
24
dan SDM)?
25 Bagaimana upaya evaluasi yang dilakukan terhadap perencanaan program yang sudah

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


dibuat?
Bagaimana upaya evaluasi yang dilakukan terhadap pengorganisasian program yang
26
sudah dibuat?
Bagaimana upaya evaluasi yang dilakukan terhadap pengarahan program yang sudah
27
dilakukan?
Bagaimana upaya evaluasi yang dilakukan terhadap pelaksanaan program yang sudah
28
dilakukan?
Bagaimana upaya evaluasi yang dialakukan terhadap puskesmas terkait pelaksanaan
29
program kesehatan reproduksi remaja di sekolah?
Adakah tindak lanjut temuan hasil evaluasi ?
30 Apa upaya yang dilakukan tim gugus kendali mutu dalam tiap program dalam rangka
menjamin kualitas kegiatan ?

Lembar Wawancara Ke Sekolah


No Pertanyaan
1 Berapa jumlah siswa?
2 Visi dan misi sekolah?
Bagiamana sekolah membina hubungan yang kondusif antar siswa, guru, dan
3
keluarga siswa?
4 Aturan di sekolah yang berkaitan dengan masalah kespro?
Bagaimana sekolah menyediakan dan menggunakan media dalam promosi kesehatan
5
di sekolah?
6 Bagaimana sekolah menjaga kebersihan lingkungan di sekolah?
7 Bagaimana sekolah mengadakan kantin sehat?
Bagaimana sekolah mengakomodasi materi kesehatan di dalam kurikulum
8
pengajaran?
Bagaimana sekolah mengakomodasi materi kesehatan di dalam kegiatan
9
ekstrakurikuler sekolah?
10 Media pembelajaran kesehatan di sekolah?
11 Bagaimana pelayanan kesehatan yang di selenggarakan oleh sekolah?
12 Bagaimana pelaksanaan UKS dan pengembangannya? (strata UKS)
Bagaimana sekolah menjalin kerjasama lintas sektor dalam mewujudkan sekolah
13
sehat?
14 Apakah sekolah melarang siswa berpacaran?

Lembar Observasi Keluarga Binaan

No Pertanyaan
1 Apakah keluarga dapat menerima kunjungan petugas perawatan kesehatan
masyarakat?
2 Apakah keluarga menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan
rencana keperawatan?
3 Apakah keluarga tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara
benar?
4 Apakah keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan sesuai anjuran?
5 Apakah keluarga melakukan perawatan sederhana sesuai yang dianjurkan?
6 Apakah keluarga melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif?
7 Apakah keluarga melaksanakan tindakan promotif secara aktif?

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


Standard Operating Procedure (SOP)
Brief-PLISSIT Intervention Model

Skor
No Tahapan
0 1 2
Tahap Pra Interaksi (modifikasi lingkungan)
Mempersiapkan media/alat peraga (modul, leafleat, lembar balik, dll) yang
1
sesuai dengan topik
Mengatur lingkungan yang kondusif seperti lingkungan yang nyaman,
2 terhindar dari kebisingan, tidak berbau, tidak panas, dan tidak sempit

Tahap Permission
Meminta ijin dan menginisiasi diskusi dengan klien tentang hubungan dan
masalah kesehatan reproduksi dan seksual.
3 Menyampaikan salam pembuka
Memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud serta tujuan kegiatan yang
4
akan dilaksanakan
Menjelaskan prosedur kegiatan (tahapan-tahapan atau sesi kegiatan) dan
5
menyepakati lama waktu yang dibutuhkan
Meminta persetujuan topik yang akan dibicarakan, contoh kalimatnya
adalah
“Topik pembahasan yang akan kita diskusikan pada pertemuan saat ini
6
adalah kesehatan reproduksi apakah ada yang tidak setuju dengan topik
ini? Atau apakah ada yang merasa tidak nyaman dengan topik ini?”.

Tahap Limited Information


Membahas tentang segala informasi, termasuk sumber informasi yang
diperoleh oleh remaja mengenai permasalahan seksualitas, dan membahas
juga informasi-informasi yang mungkin salah dipahami oleh remaja
7 Mempertahankan kontak mata ke peserta
8 Menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta
Melaksanakan apresepsi kepada peserta kegiatan (klarifikasi informasi
masalah kesehatan reproduksi/seksualitas dan mengeksplor sumber-sumber
media informasi yang digunakan baik tingkat pengetahuan atau kemampuan
tentang materi yang akan disampaikan). Contoh kalimat yang bisa
digunakan adalah
a. “Apakah yang kalian ketahui dengan topik pembicaraan ini?”.
b. “Menurut kamu, bahaya perilaku kesehatan reproduksi yang berisiko
9 itu apa atau seperti apa?”.
c. “Dari manakah kalian mendapatkan informasi tentang kesehatan
reproduksi dan bahaya perilaku berisiko?”
d. Jika menemukan pertanyaan yang sulit dijawab, kita dapat
menggunakan sumber media yang disiapkan“Informasi yang kalian
tanyakan belum bisa aku jawab, mari kita cari di media internet yang
telah saya sediakan”.

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


No Tahapan Skor
Tahap Specific Suggestions
Melakukan eksplorasi saran atau sugesti yang kongkrit terhadap topik yang
dibahas pada kelompok. Pada tahap ini terdiri dari 2 (dua) langkah, yakni
langkah ke-1 sampai ke-2:
a. Langkah 1: Membangun kesadaran akan akibat perilaku negatif yang
telah dilakukan. Kalimat yang dapat digunakan sebagia berikut :
• “Apa kerugian yang kamu peroleh jika melakukan perilaku
10 kesehatan berisiko?”.
• “Apa yang kamu peroleh jika kamu jauh dari perilaku kesehatan
berisiko?”
• “Jika perilaku kesehatan berisiko tidak pernah dan tidak akan kamu
lakukan, betapa beruntungnya kamu?”
b. Langkah 2: Menciptakan situasi harapan positif dari hasil pengukuran
perbedaan perilaku dari sebelumnya. Kalimat yang dapat digunakan
sebagia berikut :
11 • “Dari nilai terendah 1-10, kira-kira berapakah nilai manfaat positif
dari perilaku kesehatan yang kamu lakukan saat ini?”
• “Berapa kira-kira nilai perubahan gaya perilaku kesehatan positif
yang telah kamu lakukan sampai saat ini?”
Tahap Intensive Therapy
Mengeksplor lebih dalam tentang permasalah yang dihadapi klien.
Melakukan eksplorasi masalah-masalah yang dirasakan oleh klien yang
berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan seksual. Pada tahap ini terdiri
dari 3 (tiga) langkah, yakni langkah ke-3 sampai ke-5:
c. Langkah 3: Membantu mengidentifikasi kendala-kendala yang dialami
dalam perubahan perilaku berserta solusi yang dapat mengatasinya.
Kalimat yang dapat digunakan sebagia berikut :
• “Apa saja hambatan yang kamu alami dalam usaha menjalankan
perubahan tersbut?”
12 • “Ceritakan apasaja masalah yang kalian hadapi dalam menjaga
kesehatan reproduksi dan perilaku pacaran?”
• “Bisakah kalian ceritakan pengalaman masalah yang kalian miliki
saat menjaga kesehatan reproduksi dan perilaku pacaran tersebut?”
• “Apa sajakah yang sudah kamu lakukan untuk mengatasinya?”
d. Langkah 4: Memberikan suasana kegaguman kepada remaja atas
pencapaian apa yang telah dilakukan. Kalimat yang dapat digunakan
sebagia berikut :
13 • “Bagaimana kamu dapat melakukan perubahan perilaku kesehatan
positif yang hal luar biasa ini, dapatkan kah kamu ceritakan?”
• “Bagaimana kamu dapat melakukan hal luar biasa ini?”
• “Bagaimana perasaanmu saat ini setelah mampu melakukannya?”
e. Langkah 5 : Memberikan kesempatan untuk menceritakan atau
membicaran hal bebas tentang dirinya, seperti hobi, aktivitas yang
menyenangkan, tentang keluarga, dll. Kalimat yang dapat digunakan
14
adalah :
“Sekarang ini adalah sesi bebas, apa yang ingin kamu ceritakan,
seperti hobi, aktivitas yang menyenangkan, tentang dukungan keluarga,

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014


No Tahapan Skor
atau bahkan dukungan pacar tentang masalah yang kita bahas saat
ini?”.
Jika menghadapi kebuntuan dalam memecahkan masalah, perawat
menawarkan bantuan kepada pihak lain yang tentu atas persetujuan
kelompok. kalimat yang bisa digunakan adalah :
15 • “Apakah kalian setuju untuk saya pertemukan dengan teman saya
yang saya yakin dapat membantu menyelesaikan masalah ini?”
• “Saya rasa kita perlu bantuan yang lain untuk menyelesaikan
masalah yang kalian hadapi ini?”
Tahap Review & Evaluation
Tahap ini perawat melakukan identifikasi perasaan klien terhadap efektifitas
intervensi yang telah dilakukan. Pada tahapan ini dilakukan juga evaluasi
teknik yang dirasakan ketidaknyamaan yang sebelumnya tidak
terungkapkan pada tahapan sebelumnya.

Mengevaluasi dan menanyakan kembali perasaan klien setelah dilakukan


tindakan. Kalimat yang dapat digunakan sebagai berikut :
• “Bagaimana perasaan kalian setelah mengikuti kegiatan ini?
Apakah sekarang menjadi lebih baik?”
16 • “Apakah setelah kalian mengikuti kegiatan ini, merasa lebih yakin
dan percaya diri dapat melakukan perilaku kesehatan yang lebih
positif?”
• “Apakah selama mengikuti kegiatan ini ada yang merasa tidak
nyaman?”
Memberikan kesempatan untuk bertanya kembali tentang apa yang telah
17
disampaikan
Memberikan reinforcement positif kepada peserta selama penyampaian
18
materi atau proses diskusi
Terminasi
Mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan keaktifan selama mengikuti
19
kegiatan
20 Melakukan kontrak untuk pertemuan atau kegiatan selanjutnya
21 Menyampaikan salam penutup

22 Membereskan media kegiatan dan alat pendukung lainnya


Dokumentasikan evaluasi struktur, proses, dan hasil kegiatan di dalam
23
laporan
Yogyakarta, ...................................
Keterangan :
0 : Tidak dilakukan
Penguji
1 : Dilakukan tetapi kurang lengkap dan benar
2 : Dilakukan dengan lengkap dan benar

Brief-PLISSIT ..., Muflih, FIK UI, 2014