Anda di halaman 1dari 10

e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha

Jurusan Akuntansi S1 (Volume 2 No.1 Tahun 2014)

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN


DENGAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONCIBILITY
DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL
PEMODERASI
(Studi Kasus Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2012)

1
Luh Eni Muliani, 1Gede Adi Yuniarta, 2Kadek Sinarwati

Jurusan Akuntansi Program S1


Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail:
{Luhenimuliani@yahoo.co.id,gdadi_Ak@yahoo.co.id,Kadeksinar20@yah
oo.com}@undiksha.ac.id

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja keuangan terhadap
nilai perusahaan dengan pengungkapan corporate social responcibility dan good
corporate governance sebagai variabel pemoderasi.Penelitian ini dilaksanakan di Bursa
Efek Indonesia cabang Denpasar dan mengakses laporan keuangannya di alamat
www.idx.com.Variabel independen dalam penelitian ini adalah kinerja
keuangan.Variabel pemoderasi yaitu corporate social responcibility dan good corporate
governance.Variabel dependen yaitu nilai perusahaan.
Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif.Data yang
digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan tahunan
perusahaan.Sampel dalam penelitian ini adalah Perusahaan BUMN non keuangan di
Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah teknik proposive sampling dengan 15 perusahaan sampel dalam
jangka waktu 3 tahun yaitu tahun 2010 sampai 2012. Data dianalisis dengan
menggunakan analisis regresi berganda dengan bantuan program SPSS versi 19.0.
Hasil penelitian menunjukan (1) kinerja keuangan mempunyai pengaruh
terhadap nilai perusahaan secara positif, (2) corporate social responcibility mampu
memoderasi kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan secara positif, (3) good
corporate governance mampu memoderasi kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan
ke arah negatif.

Kata Kunci: Kinerja Keuangan,Corporate Social Responcibility, Good Corporate


Governance, Nilai Perusahaan

Abstract
The study aimed at finding out the effect of financial performances on the company
value with a discovery of corporate social responcibility and good corporate
governanceas moderating variabels. The study was conducted at the Indonesian Stock
Exchange Denpasar branch by accessing its financial report on the following website:
www.idx.com. The independent involved in this study was the financial performances,
while the moderating variables werecorporate social responcibility and good corporate
governance, and the dependent variable was the company value.
It was a quantitative type of study, by utilizing a secondary data such as the
company annual financial reports. There were 15 companies became the samples of
this study involving nonstate-owned enterprises in Indonesia listed in the Indonesian
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi S1 (Volume 2 No.1 Tahun 2014)

Stock Exchane, which were determined based on the purposive sampling technique
during the periode of 3 years from 2010 until 2012.The data were analyzed by using
multiple regressions supported by SPPS version 19.0.
The results indicated that (1) the financial performances had an effect on the
company value, (2) the corporate social responcibilitycould modernize the financial
performances on the value of the companies to a positive direction, (3) the good
corporate governance could modernize the financial performances on the value of the
companies to a negative direction.

Key-words: financial performances, Corporate Social Responcibility, Good Corporate


Governance, value of the companies.

Kemampuan membayar dividen erat


PENDAHULUAN hubungannya dengan kemampuan
Dalam persaingan perusahaan di perusahaan memperoleh laba (Rahayu,
era saat ini, dimana begitu banyak 2010).
perusahaan yang muncul dan berkembang Jika perusahaan memperoleh laba
di Indonesia, hal ini mampu mendongkrak yang besar, maka kemampuan membayar
perekonomian Indonesia dalam mencapai dividen juga besar.Penilaian prestasi suatu
kesatabilan. Dalam persaingannya perusahaan dapat dilihat dari kemampuan
perusahan-perusahaan berusaha untuk perusahaan itu untuk menghasilkan laba.
menempatkan dirinya dalam posisi yang Rahayu (2010), laba perusahaan selain
stabil dan siap bersaing sehingga dapat merupakan indikator kemampuan
bertahan dan berkembang. perusahaan memenuhi kewajiban bagi para
Menurut Rahayu (2010), nilai penyandang dananya juga merupakan
perusahaan adalah sebuah nilai untuk elemen dalam penciptaan nilai perusahaan
menukur tingkat kualitas perusahaan dan yang menunjukkan prospek perusahaan di
sebuah nilai yang menerangakn seberapa masa yang akan datang. Andri dan Hanung
besar tingkat kepentingan sebuah (2007) juga menemukan investment
perusahaan di mata pelanggannya. Nilai opportunity set dan leverage berpengaruh
perusahaan dapat mencerminkan nilai aset terhadap nilai perusahaan.
yang dimiliki perusahaan seperti surat-surat Perusahaan semakin menyadari
berharga. Saham merupakan salah satu pentingnya menerapkan program Corporate
surat berharga yang dikeluarkan oleh Social Responsibility (CSR) sebagai bagian
perusahaan, tinggi rendahnya harga saham dari strategi bisnisnya. Menurut
banyak dipengaruhi oleh kondisi emiten. Wirakusuma dan Yuniasih (2007),
Salah satu faktor yang mempengaruhi akuntabilitas dapat dipenuhi dan asimetri
harga saham adalah kemampuan informasi dapat dikurangi jika perusahaan
perusahaan membayar dividen. melaporkan dan mengungkapkan kegiatan
Nilai perusahaan dapat dilihat dari CSRnya ke para stakeholders. Dengan
kemampuan perusahaan membayar pelaporan dan pengungkapan CSR, para
dividen. Pembayaran deviden dapat stakeholders akan dapat mengevaluasi
dijadikan tolak ukur oleh para bagaimana pelaksanaan CSR dan
pelanggannya dalam menilai perusahaan. memberikan penghargaan/sanksi terhadap
Besarnya dividen ini mempengaruhi harga perusahaan sesuai hasil evaluasinya.
saham. Pembayaran deviden erat Menurut Herdinata (2008),
kaitannya dengan kemampuan perusahaan perusahaan di Indonesia memiliki
memperoleh laba. karakteristik yang tidak berbeda dengan
Apabila laba perusahaan tinggi perusahaan di Asia pada umumnya,
maka dividen yang dibayar tinggi, sehingga dimana perusahaan dimiliki dan dikontrol
akan mempengaruhi harga saham oleh keluarga. Meskipun perusahaan
cenderung tinggi sehingga nilai perusahaan tersebut tumbuh dan menjadi perusahaan
juga tinggi. Sebaliknya bila jika dividen yang publik, namun kendali keluarga masih
dibayarkan kecil maka harga saham signifikan.GCG (Good Corporate
perusahaan tersebut juga rendah. Governance) muncul dan berkembang dari
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi S1 (Volume 2 No.1 Tahun 2014)

teori agensi, yang menghendaki adanya perusahaan semakin tinggi nilai


pemisahan antara kepemilikan dan perusahaan.Dari perbedaan inilah, saya
pengendalian perusahaan. merasa penelitian ini menarik untuk di teliti
Setyapurnama dan Norpratiwi kembali dan perlu diadakan sebuh
(2004) dalam Rahayu (2010) menyatakan penelitian tentang bagaimana CSR dan
prinsipal adalah pihak yang memberi GCG memoderasi pengaruh ROA terhadap
kontrak atau pemegang saham, sedangkan nilai perusahaan.
agen adalah pihak yang menerima kontrak
dan mengelola dana prinsipal. Kedua pihak
ini memiliki kepentingan yang berbeda, METODE
prinsipal cenderung menginginkan Penelitian ini akan dilakukan pada
perusahaannya terus berjalan (going BEI (Bursa Efek Indonesia) kantor cabang
concern) dan mendapatkan return yang Denpasar. Rancangan penelitian yang akan
sebesar-besarnya dan secepatnya atas digunakan untuk menganalisis penelitian
investasi yang telah dilakukan sehingga mengenai ‘’Pengaruh Kinerja Keuangan
menuntut agen untuk selalu mendapatkan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan
laba yang tinggi, sedangkan agen Pengungkapan Corporate Social
cenderung untuk berusaha Responcibility dan Good Corporate
mempertahankan jabatannya dan Governance Sebagai Variabel Pemoderasi
mendapatkan kompensasi yang tinggi atas (studi kasus di Bursa Efek Indonesia)
kinerjanya sehingga agen akan berupaya periode 2010 - 2012’’ adalah tipe penelitian
semaksimal mungkin dapat diminimalisasi penjelasan atau eksplanatory research,
dengan diterapkan good corporate karena penelitian ini bermaksud untuk
governance tersebut. menjelaskan hubungan kausal antara
Menurut Faisal (2004) dalam Junaidi variabel-variabel melalui pengujian
(2006), semakin tinggi kepemilikan hipotesis yang telah dirumuskan
manajerial diharapkan pihak manajemen sebelumnya.
akan berusaha semaksimal mungkin untuk Penelitian ini termasuk dalam
kepentingan para pemegang saham. penelitian dengan pendekatan kuantitatif
Dimana manajemen memiliki saham dalam karena data yang digunaan berbentuk
perusahaan. Sehingga hal ini menyebabkan angka-angka.Data yang digunakan dalam
pihak manajemen juga akan memperoleh penelitian ini adalah data sekunder. Data
keuntungan bila perusahaan memperoleh sekunder dalam penelitian ini adalah
laba. Berdasarkan uraian di atas berupa laporan keuangan dan data
memberikan inspirasi perlu diadakannya dokumenter perusahaan lainnya.
sebuah penelitian tentang bagaimana Rancangan penelitian ini akan berguna
pengungkapan CSR dan GCG memoderasi untuk menjawab rumusan masalah dalam
pengaruh antara ROA terhadap nilai penelitian dan juga menentukan tujuan
perusahaan. penelitian yang ingin dicapai.
Penelitian yang dilakukan Rahayu Populasi yang digunakan dalam
(2010) menyatakan bahwa ‘’kinerja penelitian ini adalah seluruh perusahaan
keuangan tidak memiliki pengaruh positif yang telah terdaftar di Bursa Efek
terhadap nilai perusahaan, pengungkapan Indonesia. Sampel penelitian ditentukan
Corporate Sosial Responsibiliti (CSR) berdasarkan purposive sampling yang
bukan merupakan variabel moderating berarti pemilihan sampel berdasarkan
terhadap hubungan antara ROE dengan kriteria tertentu yang telah ditentukan oleh
dengan Tobins Q, dan Good Corporate peneliti.
Governance tidak mempengaruhi hubungan Adapun kriteria perusahaan yang
kinerja keuangan dan nilai perusahaan. dijadikan sampel yaitu, a) Semua
Penelitian Zuraedah (2010) memiliki perusahaan yang termasuk dalam
pernyataan yang berbeda, yaitu terdapat kelompok perusahaan BUMN non-
pengaruh yang signifikan antara ROA dan Keuangan yang terdaftar di BEI berturut-
biaya CSR terhadap nilai perusahaan, turut sejak tahun 2010 - 2012. b) Peneliti
menunjukan semakin baik knerja keuangan dapat menemukan laporan keuangan kurun
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi S1 (Volume 2 No.1 Tahun 2014)

waktu 2010 sampai 2012 perusahaan yang bahwa terjadi perbedaan nilai independensi
terdaftar di BEI. c) Perusahaan sampel yang diteliti terhadap nilai rata-rata 0,07986.
melakukan pengungkapan CSR selama Variabel prosentase kepemilikan
kurun waktu tahun 2010 sampai dengan manajerial (X3) mempunyai nilai minimum
2012. d) Perusahaan tidak mengalami sebesar 0,79 nilai maksimum sebesar 1,25
kerugian selama kurun waktu tahun 2010 mean sebesar 1,1431 dan standar deviasi
sampai dengan 2012. e) Manajerial sebesar 0,08715. Ini berarti bahwa terjadi
memiliki kepemilikan saham (kepemilikan perbedaan nilai independensi yang diteliti
saham direksi dan komisaris) dan terhadap nilai rata-rata 0,08715. Variabel
melampirkannya dalam laporan prosentase nilai perusahaan (Y)
keuangannya. mempunyai nilai minimum sebesar 1,02
Variabel dalam penelitian ini yaitu, nilai maksimum sebesar 1,20 mean
variabel dependen (dependent variable) sebesar 1,1258 dan standar deviasi
nilai perusahaan (Y), variabel independen sebesar 0,05154. Ini berarti bahwa terjadi
(independent variable) kinerja keuangan perbedaan nilai independensi yang diteliti
(X1), variabel pemoderasi corporate social terhadap nilai rata-rata 0,05154.
responcibility (X2), dan good corporate Semakin besar nilai standar deviasi
governance (X3). Instrumen pengumpulan yang dimiliki maka akan semakin besar
data dalam penelitian ini menggunakan kemungkinan nilai riil menyimpang dari
data sekunder berupa laporan keuangan yang diharapkan. Jika nilai mean masing
tahunan perusahaan. -masing variabel lebih kecil dari standar
Analisis data yang digunakan yaitu: (1) uji deviasinya, biasanya dalam data tersebut
asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas terdapat outlier (data yang terlalu ekstrim).
data, autokorelasi, uji multikolinearitas, dan Outlier merupakandata yang memiliki
uji heteroskedastisitas. Dan (2) uji hipotesis karakteristik unik yang terlihat sangat
dengan menggunakan analisis regresi berbeda jauh dari observasi-observasi
berganda, uji koefisien determinasi (R2), lainnya dan muncul dalam bentuk nilai
dan Uji hipotesi (uji t). ekstrim (Ghozali, 2006).
Hasil pengujian uji normalitas
HASIL DAN PEMBAHASAN menunjukkan bahwa nilai Kolmogorov
Hasil -Smirnov 0,616 dan signifikan pada 0,843
Data yang diperoleh dari Bursa Efek hal ini berarti data residual terdistribusi
Indonesia yang dia akses di alamat normal dan model regresi di atas dapat
www.idx.com menyatakan bahwa Badan diterima untuk dilakukan analisis tahap
Usaha Milik Negara yang terdaftar di Bursa selanjutnya.
Efek Indonesia sebanyak 20 Hasil uji autokorelasi dengan
perusahaan.Kemudian Badan Usaha Milik signifikansi 0,05 atau 5persen, dengan
Negara non keuangan yang terdaftar di jumlah sampel 45, dan jumlah variabel
Bursa Efek Indonesia sebanyak 16 independen adalah 1, variabel pemoderasi
perusahaan. Badan Usaha Milik Negara 2 maka diperoleh nilai DW sebesar 2,174
yang dapat dia akses laporan keuangan nilai ini akan dibandingkan dengan nilai
tahunanya dari periode 2010 sampai 2012 tabel dengan menggunakan signifikansi
adalah sebanyak 15 perusahaan. 5%. Untuk jumlah sampel n = 45, nilai dl
Variabel kinerja keuangan (X 1) = 1,3832 dan du = 1,6662. Nilai DW hitung
mempunyai nilai minimum sebesar 0,90 ini kemudian akan dibandingkan dengan
nilai maksimum sebesar 1,25 mean nilai DW tabel. Oleh karena nilai Du < D
sebesar 1,1549 dan standar deviasi < 4-Du atau 1,6662< 2,174 < 2,338, maka
sebesar 0,06818. Ini berarti bahwa terjadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada
perbedaan nilai independensi yang diteliti autokorelasi positif atau negatif.
terhadap nilai rata-rata 0,06818. Variabel Hasil uji heteroskedastisitas
pengungkapan CSR (X2) mempunyai nilai ditunjukkan pada gambar 1 berikut:
minimum sebesar 0,53 nilai maksimum
sebesar 0,88 mean sebesar 0,7667 dan
standar deviasi sebesar 0,07986. Ini berarti
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi S1 (Volume 2 No.1 Tahun 2014)

dan nilai tolerance sebesar 0,933 > 0,10


sehingga dinyatakan tidak terjadi gejala
multikolinearitas.
Pengujian hipotesis yang dilakukan
dalam penelitian ini menggunakan analisis
regresi linier berganda yang dihitung
dengan memakai program Statistical
Package for The Social Sciences (SPSS).
Dengan menggunakan tiga persamaan
regresi linier yaitu :
Y = α + β1 X1
Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X1 X2
Y = α + β1 X1 + β3 X3 + β4 X1 X3
Tujuan digunakannya analisis regresi
linear berganda adalah untuk mengetahui
pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai
Gambar 1. Hasil Uji Heteroskedastisitas perusahaan dengan pengungkapan
Sumber: Data Sekunder Diolah, 2014 corporate social responcibility dan good
Berdasarkan gambar 1 dapat corporate governance sebagai variabel
diketahui bahwa data (titik-titik) menyebar pemoderasi pada perusahaan BUMN non
secara merata diatas dan dibawah garis keuanganyang terdaftar di Bursa Efek
nol, tidak membentuk suatu pola tertentu, Indonesia periode 2010-2012.
serta tidak berkumpul di satu tempat Dari persamaan regresi yang pertama
sehingga dapat disimpulkan bahwa pada uji yang dilakukan pada pengujian hipotesis
regresi ini tidak terjadi masalah pertama nilai Adjusted R Square sebesar
heteroskedastisitas 0,706. Nilai ini menerangkan besarnya
Hasil uji multikolinearitas peran atau kontribusi variabel independen
menunjukkan bahwanilai VIF dan nilai ROA yang mampu menjelaskan variabel
tolerance masing-masing variabel lebih Tobins Q hanya sebesar 70,6%. Nilai
besar dari 10persen atau 0,1. Demikian Standard Error of the Estimate (SEE) yang
juga dengan nilai VIF masing-masing kecil yaitu sebesar 0,02795 membuat
variabel yang lebih kecil dari 10. Nilai VIF model regresi ini tepat digunakan dalam
untuk variabel kinerja keuangan sebesar memprediksi variabel dependen.
2,056 < 10 dan nilai tolerance sebesar Nilai t (t-hitung) dalam regresi
0,468 > 0,10 sehingga pada variabel ini menunjukkan pengaruh variabel
tidak terjadi gejala multikolinearitas.Nilai independen secara parsial terhadap
VIF untuk variabel kinerja keuangan variabel dependen.ROA memiliki t hitung
dengan moderasi CSR adalah 2,158 < 10 sebesar 10,326 dengan signifikansi 0,000
dan nilai tolerance sbesar 0,463 > 0,10 berarti terdapat pengaruh ROA terhadap
sehingga variabel ini dinyatakan tidak Tobins Q secara positif. Dengan katalain
terjadi gelaja multikolinearitas. Nilai VIF variasi variable dependendapat dijelaskan
untuk variabel kinerja keuangan dengan oleh variabel independennya.
moderasi GCG adalah sebesar 1,072 < 10

Tabel 1. Hasil Uji t ROA Terhadap Tobins Q

Model Unstandardized Standardized T Sig.


Coefficients Coefficients
B Std. Error Beta
(Constant) ,389 ,071 5,437 ,000
1
x1 ,638 ,062 ,844 10,326 ,000
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2014
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi S1 (Volume -- Tahun 2014)

Dari persamaan regresi kedua yang variasi variabel dependen dapat dijelaskan
dilakukan pada pengujian hipotesis kedua oleh variabel independennya. Semakin
nilai adjusted R² sebesar 0,769 hal ini tinggi ROA maka nilai perusahaan juga
berarti 76,9% variasi Tobins Q yang dapat akan semakin meningkat dimata
dijelaskan oleh variasi variabel independen pelangganya.
ROA, dan Moderasi CSR. Dengan kata lain

Tabel 2. Hasil Uji t ROA dan Moderasi CSR

Model Unstandardized Standardized t Sig.


Coefficients Coefficients

B Std. Error Beta


(Constant) 1,957 ,501 3,903 ,000
x1 -,833 ,445 -1,102 -1,872 ,007
1 x2 -2,085 ,719 -3,230 -2,899 ,006
Interaksi 1,945 ,627 4,891 3,101 ,003
(x1*x2)
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2014

Variabel ROA memberikan koefisien 2,101 sehingga dapat disimpulkan bahwa


parameter -0,833 dengan tingkat variabel Moderasi CSR merupakan variabel
signifikansi 0,007 variabel CSR moderating secara positif. Semakin banyak
memberikan koefisien parameter -2,085 pengungkapan CSR akan menujukan
dengan tingkat signifikansi 0,006. Variabel semakin tinggi kinerja keuangan
moderasi CSR yang memiliki koefisien perusahaan yang akan berdampak pada
parameter 1,945 ternyata signifikan karena menigkatnya nilai perusahaan dimata
nilai Sig. 0,003 < 0,05 mempunyai t hitung pelangganya.

Tabel 3. Hasil Uji t ROA dan Moderasi GCG

Model Unstandardized Standardized t Sig.


Coefficients Coefficients
B Std. Error Beta
(Constant) -2,833 1,128 -2,511 ,016
x1 3,372 ,984 4,460 3,428 ,001
1 x3 2,702 ,947 4,569 2,855 ,007
Interaksi -2,292 ,826 -5,460 -2,775 ,008
(X1*x3)
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2014

Dari persamaan regresi ketiga yang parameter 2,702 dengan tingkat signifikansi
dilakukan pada pengujian hipotesis ketiga 0,007. Variabel moderasi KM yang memiliki
nilai adjusted R² sebesar 0,756 hal ini koefisien parameter -2,292 signifikan
berarti 75,6% variasi Tobins Q yang dapat karena nilai Sig. 0,008 < 0,05 mempunyai
dijelaskan oleh variasi variabel independen t hitung -2,775 sehingga dapat disimpulkan
ROA, dan Moderasi KM. Dengan kata lain bahwa variabel Moderasi KM merupakan
variasi variabel dependen dapat dijelaskan variable moderating secara negatif.
oleh variabel independennya dan variabel Semakin tinggi kepemilikan manajerial
moderasi. maka kinerja keuangan akan semakin
Variabel ROA memberikan koefisien menurun sehingga berdampak pada
parameter 3,372 dengan tingkat signifikansi menurunnya nilai perusahaan dimata para
0,001 variabel KM memberikan koefisien pelangganya.
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi S1 (Volume -- Tahun 2014)

PENGARUH KINERJA KEUANGAN keuangan perusahaan yang bersangkutan.


TERHADAP NILAI PERUSAHAAN Penilaian kinerja keuangan merupakan
Berdasarkan hasil perhitungan SPSS salah satu cara yang dapat dilakukan oleh
19.0 ROA berpengaruh signifikan terhadap pihak manajemen agar dapat memenuhi
Tobins Q. Yang berarti semakin tinggi kewajibannya terhadap para penyandang
kinerja keuangan maka nilai perusahaan dana dan juga untuk mencapai tujuan yang
akan semakin meningkat. Hasil uji koefisien telah ditetapkan oleh perusahaan. Kinerja
determinasi menunjukkan besarnya nilai Keuanganmerupakan salah satu bentuk
Adjusted R Square sebesar 0,706. Nilai ini tanggungjawab manajemen terhadap
menerangkan besarnya peran atau pemilik perusahaan. Manajemen dapat
kontribusi variabel independen ROA yang berinteraksi dengan lingkungan interen
mampu menjelaskan variabel Tobins Q maupun eksteren melalui informasi.
hanya sebesar 70,6%. Informasi tersebut lebih lanjut dituangkan
Hasil uji t menjelaskan nilai t (t-hitung) atau dirangkum dalam laporan keuangan
dalam regresi menunjukkan pengaruh perusahaan.
variabel independen secara parsial Laporan keuangan sebagai alat
terhadap variabel dependen. ROA memiliki penilaian kinerja perusahaan. Menurut
t hitung sebesar 10,326 dengan signifikansi Ikatam Akuntansi Indonesia (2007), laporan
0,000 yang berarti terdapat pengaruh ROA keuangan merupakan gambaran dari suatu
terhadap Tobins Q. perusahaan pada waktu tertentu (biasanya
Dari hasil uji parsial ROA terhadap ditunjukkan dalam periode atau siklus
nilai perusahaan diketahui bahwa ROA akuntansi), yang menunjukkan kondisi
berpengaruh terhadap nilai perusahaan. keuangan yang telah dicapai suatu
Menurut IAI (2007), informasi kinerja perusahaan dalam periode tertentu.
perusahaan terutama profitabilitas Dengan kata lain, laporan keuangan
diperlukan untuk menilai perubahan merupakan ringkasan dari suatu proses
potensial di masa yang akan datang. pencatatan, yaitu merupakan suatu
Informasi kinerja juga bermanfaat untuk ringkasan dari transaksi-transaksi
memperediksi kapasitas perusahaan dalam keuangan yang terjadi selama tahun buku
menghasilkan arus kas dari sumber daya yang bersangkutan. Laporan keuangan
yang ada.Serta juga berguna dalam yang lengkap biasanya meliputi neraca,
perumusan perimbangan tentang efektifitas laporan laba rugi, laporan perubahan posisi
perusahaan dalam memanfaatkan sumber keuangan (yang dapat disajikan dalam
daya. berbagai cara seperti, misalnya sebagai
Menurut Rahayu (2010), kinerja laporan arus kas atau laporan arus dana),
adalah suatu gambaran mengenai tingkat catatan dan laporan lain serta materi
pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan penjelasan yang merupakan bagian integral
perusahaan dalam mewujudkan sasaran, dari laporan keuangan.
misi, visi, dan tujuan perusahaan. Menurut Rahayu (2010), penilaian
Keberhasilan dalam mencapai tujuan terhadap kinerja keuangan suatu
perusahaan merupakan prestasi perusahaan merupakancara yang dapat
manajemen. Selain itu, kinerja keuangan dilakukan oleh pihak manajemen agar
perusahaan merupakan suatu gambaran dalam memenuhi kewajiban terhadap para
tentang kondisi dan keadaan keuangan penyandang dananya dan merupakan
suatu perusahaan yang dianalisis dengan suatu bentuk pertanggung jawaban atas
alat-alat analisis keuangan sesuai kaidah, kinerja yang telah dilakukannya dan atas
sehingga dapat diketahui mengenai baik dana yang yelah diinvestasikan sesuai
buruknya keadaan keuangan suatu dengan tujuan yang telah ditetapkan
perusahaan yang mencerminkan prestasi perusahaan. Penilaian kinerja juga dapat
kerja dalam periode tertentu. digunanak sebangai penilaian atas segala
Menurut Rahayu (2010), kinerja keputusan yang telah dilakuakn oleh
keuangan adalah prestasi kerja yang telah manajemen
dicapai oleh perusahaan dalam suatu Jadi dalam menilai kinerja keuangan
periode tertentu dan tertuang pada laporan perusahaan, dapat digunakan suatu ukuran
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi S1 (Volume -- Tahun 2014)

atau tolok ukur tertentu.Menurut Putri moderatingdiketahui bahwa pengungkapan


(2009) dalam Rahayu (2010), ada dua CSR mempengaruhi hubungan antara
macam kinerja yang diukur dalam berbagai kinerja keuangan dan nilai perusahaan.
penelitian, yaitu kinerja operasi perusahaan Secara teori, pengungkapan CSR
dan kinerja pasar.Kinerja operasi seharusnya dapat menjadi pertimbangan
perusahaan diukur dengan melihat investor sebelum berinvestasi, karena
kemampuan perusahaan yang tampak didalamnya mengandung informasi sosial
pada laporan keuangannya. Rasio yang telah dilakukan perusahaan.Menurut
profitabilitas merupakan salah satu dari Wirakusuma dan Yuniasih (2007),
kinerja operasi, return on asset merupakan akuntabilitas dapat dipenuhi dan asimetri
salah satu dari pengukuran rasio informasi dapat dikurangi jika perusahaan
profitabilitas. Rasio profitabilitas mengukur melaporkan dan mengungkapkan kegiatan
kemampuan perusahaan menghasilkan CSRnya ke para stakeholders. Dengan
keuangan pada tingkat penjualan, aset, dan pelaporan dan pengungkapan CSR, para
modal saham tertentu, rasio yang sering stakeholders dapat mengevaluasi
digunakan adalah ROA (Ken Zuraedah, bagaimana pelaksanaan CSR dan
2010). Rasio ROA adalah salah satu bentuk memberikan penghargaan/sanksi terhadap
dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan perusahaan sesuai hasil evaluasinya.
untuk mengukur kemampuan perusahaan Rahayu (2010) menjelaskan program
untuk mengasilkan laba atas keseluruhan corporate social renponcibilityakan
dana yang ditanamkan dalam aktivitas yang berdampak positif terhadap perusahaan,
digunakan untuk aktivitas operasi dimana selain membangun image yang
perusahaan dengan memanfaatkan aktiva baik di mata para stakeholder karena
yang dimilikinya (Ken Zuraedah, 2010). kepedulian perusahaan terhadap sosial
lingkungan, juga akan menaikkan laba
PENGARUH KINERJA KEUANGAN perusahaan melalui peningkatan penjualan.
TERHADAP NILAI PERUSAHAAN Karene dalam jangka panjang dipandang
DENGAN MODERASI CSR jika perusahaan melakukan CSR dapat
Berdasarkan hasil perhitungan SPSS menjamin keberlangsungan hidup
19.0 Pengungkapan Corporate Social perusahaan.
Responsibility (CSR) merupakanvariabel Para konsumen akan lebih
moderating terhadap hubungan antara ROA mengapresiasi perusahaan yang
dengan Tobins Q. Yang berati semakin mengungkapkan CSR dibandingkan
banyak pengungkapan CSR maka kinerja dengan perusahaan yang tidak
keuangan semakin tinggi dan berdampak mengungkapkan CSR, mereka akan
pada tingginya nilai perusahaan dimata membeli produk yang sebagian laba dari
para pelanggannya. Hasil uji koefisien produk tersebut disisihkan untuk
determinasi menunjukkan besarnya kepentingan sosial lingkungan, misalnya
adjusted R² sebesar 0,769 hal ini berarti untuk beasiswa, pembangunan fasilitas
76,9% variasi Tobins Q yang dapat masyarakat, program pelestarian
dijelaskan oleh variasi variabel independen lingkungan, dan lain sebagainya.
ROA dan Moderasi CSR. Dengan kata lain
variasi variabel dependen dapat dijelaskan PENGARUH KINERJA KEUANGAN
oleh variabel independennya. TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
Hasil uji t menjelaskan Variabel ROA DENGAN MODERASI GCG
memberikan koefisien parameter -0,833 Berdasarkan hasil perhitungan SPSS
dengan tingkat signifikansi 0,007 variabel 19.0 Kepemilikan manajerial berpengaruh
CSR memberikan koefisien parameter signifikan terhadap hubungan antara ROA
-2,085 dengan tingkat signifikansi 0,006. terhadap Tobins Q, walaupun mempunyai
Variabel moderasi CSR yang memiliki koefisien parameter negatif. Yang berarti
koefisien parameter 1,945 ternyata semakin tinggi kepemilikan manajerial
signifikan karena nilai Sig. 0,003 < 0,05, maka akan menurunkan kinerja keuangan
sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel dan akan berdampak pada menurunnya
Moderasi CSR merupakan variabel nilai perusahaan dimata para pelangannya.
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi S1 (Volume -- Tahun 2014)

Hasil uji koefisien determinasi menunjukkan asimetri informasi dapat dikurangi jika
besarnya adjusted R² sebesar 0,756 hal ini perusahaan melaporkan dan
berarti 75,6% variasi Tobins Q yang dapat mengungkapkan kegiatan CSRnya ke para
dijelaskan oleh variasi variabel independen stakeholders. Dengan pelaporan dan
ROA dan Moderasi KM. Dengan kata lain pengungkapan CSR, para stakeholders
variasi variabel dependen dapat dijelaskan dapat mengevaluasi bagaimana
oleh variabel independennya. pelaksanaan CSR dan memberikan
Hasil uji t menjelaskan Variabel ROA penghargaan/sanksi terhadap perusahaan
memberikan koefisien parameter 3,372 sesuai hasil evaluasinya. Semakin tinggi
dengan tingkat signifikansi 0,001 variabel tingkat pengungkapan CSR menunjukan
KM memberikan koefisien parameter 2,702 semakin tinggi pula tingkat operasional
dengan tingkat signifikansi 0,007. Variabel perusahaan yang berarti kinerja keangan
moderasi KM yang memiliki koefisien perusahaan meningkat dan akan
parameter -2,292 signifikan karena nilai mempengaruhi nilai perusahaan. Ketiga,
Sig. 0,008 < 0,05 mempunyai t hitung good corporate governance mempengaruhi
-2,775, sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kinerja keuangan dan nilai
variabel Moderasi KM merupakan variabel perusahaan secara negative. Semakin
moderating. tinggi kepemilikan manajerial suatu
Variabel interaksi ROA dan KM perusahaan maka nilai perusahaan akan
memiliki hubungan terbalik. Dari hasil semakin turun.dengan adanya kepemilkikan
penelitian diketahui bahwa seiring kenaikan manajerial, manajemen dan pemilik akan
KM, maka hubungan ROA dan Tobins Q cenderung bersikap oportunistik. Manajer
akan menurun. Teori keagenan akan cenderung melakukan tindakan atas
menimbulkan konflik akibat perbedaan kepentingannya sendiri. Control antara
kepentingan antara agent (manajer) dan pemilik dengan manajemen tidak optimal
principal (pemegang saham/pemilik). sehingga dianggap mekanisme control tidak
Menurut Rahayu (2010), kepemilikan berjalan dengan baik sehingga
manajerial kemudian dipandang sebagai mengakibatkan turunnya nilai perusahaan.
mekanisme control yang tepat untuk Menurut Weston (1998) dalam
mengurangi konflik tersebut, karena Rahayu (2010), secara empiris telah
kepemilikan oleh manajer dipandang dapat membuktikan adanya entrenchment
menyamakan kepentingan antara pemilik hypothesis, dan menemukan bahwa tidak
dan manajer, sehingga semakin tinggi terjadi control yang baik antara menejemen
kepemilikan manajer, semakin tinggi pula dan pemilik mengakibatkan manajer
nilai perusahaan. cenderung berperilaku oportunistik pada
level kepemilikan saham yang tinggi dan
SIMPULAN DAN SARAN membuat keputusan non optimal yang
Simpulan mengesampingkan kepentingan pemilik.
Berdasarkan hasil penelitian ditarik Karena tidak ada yang mengawasi dan
simpulan bahwa Pertama, kinerja keuangan mengontrol setiap keputusan dan tindakan
berpengaruh positif terhadap nilai yang diambil manajemen. Kemungkinan
perusahaan. Hal ini berarti kinerja praktik korupsi,kolusi dan nepotisme
keuangan [erusahaan dapat meningkatkan memiliki peluang besar.
nilai perusahaan.dengan tingkat kinerja Menurut Fama dan Jansen (1983)
keuangan yang tinggi, berarti perusahaan dalam Rahayu (2010), dalam kepemilikan
melakukan oprasional dengan baik, dengan manajemen yang rendah, akan terjadi
tingkat oprasional yang baik akan control yang baik kemampuan
diharapkan perusahaan mampu menyamakan kepentingan antara pemilik
memperoleh laba yang tinggi dan pada dan manajer akan bertindak saling
akhirnya akan pembayaran deviden tinggi. mengawasi sehingga akan berdampak
Kedua,corporate social responcibility signifikan terhadap nilai perusahaan.
mempengaruhi hubungan antara kinerja Kepemilikan manajemen yang tinggi, akan
keuangan dan nilai perusahaan secara terjadi control yang kurang baik
positif. Akuntabilitas dapat dipenuhi dan kemampuan menyamakan kepentingan
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi S1 (Volume -- Tahun 2014)

antara pemilik dan manajer akan bertindak Ken Zuraedah, Isnaeni. 2010. Pengaruh
sesuai kepentingan sendiri sehingga akan Kinerja Keuangan Terhadap Nilai
berdampak signifikan terhadap nilai Perusahaan Dengan Pengungkapan
perusahaan, hal ini akan menyebabkan Corporate Social Respontibility
turunnya nilai perusahaan karena tidak Sebagai Variaber
terjadi ketidaksamaan kepentingan antara Pemoderasi.Universitas
manajer dan pemilik yaitu pemegang Pemabngunan Nasioanal Veteran
saham minoritas. Yang di sebut dengan Jakarta.
Management Entrenchment.
Rahayu, Sri. 2010. Pengaruh Kinerja
Saran Keuangan Terhadap Nilai
Penelitian selanjutnya diharapkan Perusahaan Dengan Pengungkapan
menambah jumlah sampel penelitian dan Corporate Social Respocibility dan
memeperpanjang waktu penelitian. Selain Good Corporate Governance
itu peneliti selanjutnya dapat menggunakan Sebagai Variabel Pemoderasi.
proksi kinerja lainnya, misalnya ROE, GCG, Universitas Diponogoro, Semarang.
PBV, atau Leverge dan dengan sampel
yang berbeda. Weston, J. Fred dan Thomas E Copeland.
2008. Manajemen Keuangan. Edisi
Kesembilan. Jakarta: Penerbit
DAFTAR PUSTAKA Binarupa Aksara.
Andri, Racmawati dan Hanung Triatmoko.
2007. Analisis Faktor-Faktor Yang Yuniasih, Ni Wayan dan, Made Gede
Mempengaruhi Kualitas Laba dan Wirakusuma. Pengaruh Kinerja
Nilai Perusahaan. Simposium Keuangan Terhadap Nilai
Nasional AkuntansiX.Makasar. Perusahaan dengan Pengungkapan
Corporate Social Responcibility dan
Ghozali, Imam. 2006. Analisis Multivariate Good Corporate Governance
dengan Program SPSS. Edisi Ke Sebagai Variabel Pemoderasi.
4.Badan Penerbit Universitas Jurnal Akuntansi dan Keuangan,
Diponegoro:Semarang. Bali.

Herdinata, Cristian. 2008. Good Corporate http://www.idx.com/ (tanggal 25 maret


Gavernance vs Bed Corporate 2014)
Governance: Pemenuhan
Kepentingan Antara Para
Pemegang Saham Mayoritas dan
Pemegang Saham Minoritas. The
2nd National Conference UKWMS,
Surabaya.

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI).2007.


Standar Akuntansi Keuangan
2007.Selemba Empat.Jakarta.

Junaidi, Muhammad AR .2006. Pengaruh


Kepemilikan Manajemen dan
Kebijakan Hutang Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan Manufaktur
yang Terdaftar di BEJ.Thesis,
Unsyiah.