Anda di halaman 1dari 11

PEDIATRIC PALLIATIVE CARE

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak II


Dosen Pembimbing : Ns. Happy Indri Hapsari, M. Kep

Disusun oleh kelompok1 :

1. Agung Hardiyono (ST181001)


2. Agus Nuryanto (ST181002)
3. Agus Triyono (ST181003)
4. Aji Saputro (ST181004)
5. Ali Rosjidi (ST181005)
6. Alif Nurrohim (ST181006)
7. Anindya Sheila Vacuita (ST181007)
8. Ardiana Yuliani (ST181008)
9. Arnia Wahyuningsih (ST181009)
10. Arvian Vendy Sukmawan (ST181010)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN 2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Perawatan untuk anak-anak yang hidup dengan kondisi kronis dan atau
mengancam jiwa secara historis difokuskan pada perawatan dan penyembuhan.
Namun, bahkan dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan
peningkatan ruang lingkup pengetahuan, kematian di masa kanak-kanak masih terus
terjadi. Perawatan paliatif anak bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak-
anak dan keluarga dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa, melalui
pencegahan dan menghilangkan penderitaan dengan identifikasi dan pengobatan dini
dari rasa sakit dan masalah lain, baik fisik, psikologis, sosial,atau spiritual, dan
dimaksudkan untuk disediakan di fasilitas perawatan tersier, pusat kesehatan
masyarakat, maupun di rumah anak-anak tersebut (Dahlin, et all, 2016).
Pada umumnya, penanganan kanker di Indonesia masih tertuju pada upaya
kuratif sampai menjelang akhir kehidupan. Oleh karena itu, perlu disosialisasikan
kepada seluruh tenaga kesehatan yang terkait dengan kasus kanker anak tentang
perlunya program paliatif kanker anak. Prinsip penanggulangan kanker anak saat ini
harus mengintegrasikan upaya kuratif dan paliatif (Kemenkes, 2015). Seringnya jenis
perawatan ini dikaitkan dengan kanker. Padahal, menurut Dr. Endang Windiastuti dari
Divisi Hematologi Onkologi Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo, perawatan paliatif
tak cuma untuk kanker dan tak mengenal batasan usia. Bila anak lahir dengan
penyakit berat pun, semestinya segera mendapat perawatan paliatif (kumparan.com,
2018).

B. Tujuan

C. Manfaat
BAB II
PEMBAHASAN KONSEP

A. Konsep Teori Perawatan Paliatif Anak


a. Definisi
Menurut WHO, perawatan paliatif adalah pendekatan yang
meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka yang menghadapi
masalah yang terkait dengan penyakit yang mengancam jiwa, melalui pencegahan
dan pemulihan penderitaan, dengan cara identifikasi awal dan penilaian sempurna
serta pengobatan nyeri dan masalah lain, fisik , psikososial dan spiritual.
Perawatan paliatif anak menurut WHO adalah perawatan paliatif untuk
anak-anak pada bidang khusus yang sesuai untuk anak-anak dan keluarga mereka
yang prinsip ini berlaku juga untuk gangguan kronis pediatrik lainnya
Perawatan paliatif pada anak adalah perawatan suportif untuk anak-anak
dengan penyakit serius dan keluarganya. Perawatan ini menawarkan dukungan
tambahan berdasarkan kebutuhan unik keluarga, pada apa yang dianggap penting
dalam keluarga (National Institute of Nursing Research, 2015).
Perawatan paliatif anak bersifat interdisipliner yang berpusat pada
keluarga dan berfokus pada anak-anak, bertujuan meningkatkan kualitas hidup
melalui pencegahan dan bantuan dalam mengurangi penderitaan fisik, psikologis,
emosional, spiritual, dan kontinum sosial. Perawatan dapat diberikan pada pasien
rawat inap dan rawat jalan (Dahlin, et al, 2016).

b. Prinsip Perawatan Paliatif Anak


Prinsip Perawatan Paliatif Anak menurut WHO antara lain :
 Perawatan paliatif untuk anak-anak adalah perawatan total aktif mulai dari
tubuh/fisik, pikiran dan jiwa anak, dan juga melibatkan memberikan
dukungan kepada keluarga.
 Perawatan dimulai ketika penyakit pertama didiagnosis, dan berlanjut -
terlepas dari apakah seorang anak menerima perawatan yang diarahkan pada
penyakit tersebut atau tidak.
 Penyedia layanan kesehatan harus mengevaluasi dan mengurangi tekanan
fisik, psikologis, dan sosial anak.
 Perawatan paliatif yang efektif membutuhkan pendekatan multidisiplin luas
yang mencakup keluarga dan memanfaatkan sumber daya masyarakat yang
tersedia. Ini dapat berhasil diimplementasikan bahkan jika sumber daya
terbatas.
 Perawatan dapat disediakan di fasilitas perawatan tersier, di pusat kesehatan
masyarakat dan bahkan di rumah anak-anak.

c. Kondisi-kondisi Terminal Pada Anak


Kondisi-kondisi yang menyebabkan kematian pada anak dalam
Hockenberry & Wilson (2015) antara lain:
1. Kanker
2. Komplikasi prematuritas
3. Anomali kongenital
 Trisomi 13, 18
 Anencephaly
 Holoprosencephaly
 Lissencephaly
 Kesalahan metabolisme bawaan
4. Cystic fibrosis
5. Infeksi virus human immunodeficiency
6. Disfungsi atau kegagalan organ utama
 Penyakit atau cacat jantung bawaan atau didapat
 Kelainan hati
 Gagal ginjal
7. Penyakit neurodegeneratif
 Distrofi otot
 Atrofi otot tulang belakang
 Adrenoleukodistrofi
 Ataxia-telangiectasia
8. Kecacatan neurologis dan / atau fisik yang parah
9. Gangguan pencernaan berat atau malformasi
10. Epidermolysis bullosa
11. Imunodefisiensi parah
12. Osteogenesis imperfecta yang parah
13. Trauma (misal karena kecelakaan)

d. Tujuan Perawatan Paliatif pada Anak


Tujuan dari perawatan paliatif anak antara lain :
1. Memberikan perawatan dan dukungan pada pasien dan keluarga dengan
kondisi terminal dimana sudah tidak mungkin kembali ke kondisi sehat
(Doenges, Moorhouse & Murr, 2010).
2. Memberikan kenyamanan secara fisik, emosional, sosial dan spiritual dari
beban yang diakibatkan penyakit yang mengancam jiwa, mendampingi dalam
pengambilan keputusan yang kompleks dan meningkatkan kualitas hidup
(Hockenberry & Wilson, 2015)
3. Meningkatkan kualitas hidup melalui pencegahan dan bantuan dalam
mengurangi penderitaan fisik, psikologis, emosional, spiritual, dan kontinum
sosial. Perawatan dapat diberikan pada pasien rawat inap dan rawat jalan
(Dahlin, et al, 2016)
Dari beberapa tujuan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan
perawatan paliatif anak adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien dan
keluarga yang menderita penyakit mengancam jiwa baik akut maupun kronis
dengan cara memberikan dukungan secara fisik, emosional, sosial dan spiritual.

e. Karakteristik
Dalam Juknis Program Paliatif Kanker Anak Kemenkes (2015)
disebutkan perbedaan antara paliatif kanker anak dengan dewasa. Beberapa hal
yang membedakannya, antara lain:
1. Faktor Tumbuh Kembang
Tumbuh kembang anak merupakan faktor penting dalam
pelaksanaan program paliatif kanker anak. Perawatan dan perlindungan anak
sepenuhnya tergantung pada orangtua sebagai pengambil keputusan. Ketika
anak tersebut tumbuh dan berkembang, kemampuan untuk mengurus diri
sendiri dan mengambil keputusan semakin bertambah dan seringkali
menyulitkan orangtua dan orang lain yang turut memberikan perawatan.
Tingkat perkembangan anak akan berpengaruh pada semua aspek
paliatif, yang meliputi:
1) Komunikasi dalam hal harapan, ketakutan, dan kondisi yang dialami.
2) Pengertian tentang penyakit dan kematian.
3) Penilaian masalah dan cara mengatasinya.
4) Pengambilan keputusan.
5) Pentingnya belajar dan bermain.
6) Pentingnya taman bermain dan sekolah.
Perkembangan anak dan penyakit berhubungan timbal balik sangat
erat. Perubahan status perkembangan anak memengaruhi kondisi penyakit
yang mereka alami, dan penyakit tersebut, pada gilirannya akan
memengaruhi perkembangan anak. Penyakit kronis dapat menunda
perkembangan, tetapi pengalaman hidupitu mungkinjuga membuatseorang
anak tampak lebih tua dari usia mereka sebenarnya (Watson, et all, 2009).
2. Pendekatan Waktu Konsultasi
Tingkat perkembangan dan kemampuan kognitif sangat bervariasi
dan tidak selalu sesuai dengan usia anak. Oleh karenaitu, dibutuhkan
komunikasi yang baik dan fleksibel, yangdisesuaikan dengan kondisi
masing-masing anak dan orangtua.
3. Fisiologi dan Farmakologi
Kondisi fisiologi dan farmakologi berubah seiring dengantumbuh
kembang anak. Waktu paruh obat pada anak dapat lebih panjang daripada
orang dewasa karena anak memiliki kemampuan absorbsi obat yang relatif
tinggi dan ekskresi yanglebih rendah daripada orang dewasa.
4. Fungsi Keluarga
Orangtua mempunyai tanggung jawab untuk merawat dan
melindungi anaknya. Jika terjadi penyakit yang mengancam keselamatan
anaknya, maka orangtua akan merasa bersalah, kecewa, marah, dan berusaha
mencari upaya pengobatan yang maksimal, sekalipun mungkin dapat
mengakibatkan anaknya lebihmenderita. Pada saat seperti inilah biasanya
dokter dan perawat mengalami kesulitan untuk membicarakan dengan jujur
mengenai apa yang sedang terjadi pada anak tersebut.
Meskipun sulit, namun harus tetap diupayakan suatu komunikasi
yang efektif dengan dasar empati, khususnya bila keadaan anak telah menuju
pada akhir kehidupan. Kakak dan atau adik perlu mendapat perhatian juga
karena sebenarnya mereka juga bersedih, namun tidak dapat berbagi
kesedihan tersebut dengan orangtua mereka. Hal ini dapat berakibat negatif
terhadap perkembangannya, misalnya kegagalan sekolah dan masalah
perilaku (jika tidak mendapat penanganan yang adekuat).
5. Sekolah, Belajar, dan Bermain
Sekolah, belajar, dan bermain merupakan hak setiap anak. Kegiatan
ini merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari seorang anak. Jika terputus,
anak akan merasa terisolasi. Kondisi ini dapat diatasi dengan cara anak harus
tetap dapat bermain, mengikuti kegiatan belajar mengajar, dan kehidupan
mereka menyenangkan sesuai dengan usianya.

f. Pemberi Pelayanan pada Perawatan Paliatif Anak


Anggota tim pemberi pelayanan pada perawatan paliatif anak menurut
Watson, et all (2009) antara lain :
1. Perawat perawatan paliatif anak (yang mungkin memberikan saran dalam
baik dalam pengaturan perawatan di rumah sakit dan di rumah / di
komunitas)
2. Dokter anak spesialis perawatan paliatif
3. Pekerja sosial
4. Psikolog dan atau psikiater
5. Rohaniawan
Seringkali diperlukan pendapat dari anggota lain selain tersebut diatas
sesuai dengan perkembangan kondisi pasien (Watson, et al, 2009)

g. Peran Perawat Dalam Perawatan Paliatif Anak


Peran perawat paliatif pediatrik adalah untuk meningkatkan perawatan
pada anak dengan penyakit baik akut maupun kronis yang mengancam jiwa
melalui berbagai dukungan untuk anak dan manajemen nyeri (Dahlin, et al,
2016).
Peran perawat dalam perawatan anak menurut Hockenberry & Wilson
(2015) antara lain :
1. Pemberi perawatan terapeutik
2. Merawat (caring) dan mendampingi keluarga (advokasi)
3. Pencegahan penyakit dan promosi kesehatan
4. Edukasi kesehatan
5. Pencegahan cedera
6. Dukungan dan konseling
7. Koordinasi dan kolaborasi antar tenaga kesehatan
8. Pendampingan pengambilan keputusan

h. Isu etik dalam Perawatan Paliatif Anak


Watson, et al (2009) menyebutkan bahwa seperti halnya isu etik pada
pasien dewasa, perawatan paliatif pada pasien anak meliputi proses
menyeimbangkan 4 prinsip, yaitu :
1. Autonomy
Prinsip autonom pada anak ada dalam suatu rentang, tergantung dari tingkat
perkembangan dan pengalaman hidupnya, mulai dari bayi baru lahir hingga
remaja. Anak bisa membuat keputusan mandiri dalam beberapa hal misal
memilih cara kontrol nyeri dan dimana tempat penusukan jarum pemeriksaan
dilakukan.
2. Non-maleficence
Perawatan dilakukan dengan menghindarkan cedera pada pasien
3. Beneficence
Perawatan yang dilakukan harus memberikan manfaat yang diharapkan pada
pasien.
4. Justice
Perawatan harus dilakukan secara adil tanpa membeda-bedakan.
Dilema etik yang sering terjadi pada perawatan paliatif anak menurut
Hockenberry & Wilson (2010) antara lain :
1. Kontrol nyeri
Pengendalian nyeri akan meningkatkan kenyamanan pada pasien, sehingga
membantu meningkatkan kualitas hidup dan memberikan akhir kehidupan
dan nyaman. Tetapi memiliki dilema dari efek samping opioid, penurunan
kognisi dan kekhawatiran akan ketergantungan obat.
2. Kemoterapi
Kemoterapi diharapkan dapat memperpanjang kemungkinan hidup pasien,
meningkatkan kualitas hidup dan membuat keluarga merasa telah melakukan
semua usaha yang dapat dilakukan. Tetapi memiliki dilema akan penurunan
fungsi darah, peningkatan resiko infeksi, resiko perdarahan dan efek samping
dari kemoterapi bisa jadi pengalaman yang tidak menyenangkan.
3. Suplemen nutrisi dan terapi hidrasi
Pada pasien bayi, tangisan sering diartikan bayi lapar atau haus, apalagi pada
anak dengan kesulitan makan karena gangguan pada saluran makanannya.
Orangtua seringkali merasa bersalah saat bayi menangis dan takut anak
kelaparan dan akan meninggal, karena tugas orangtua adalah memenuhi
nutrisi bagi anaknya. Dilema dari pemberian terapi ini bahwa asupan berlebih
dapat menyebabkan anak mual dan muntah, meningkatkan resiko gagal
jantung kongestif karena kelebihan cairan, meningkatkan resiko kongesti
pulmonal dan diuresis.
4. Resusitasi
Dilema resusitasi muncul dari ketidaksiapan keluarga untuk melepas
kepergian anak, menolak kematian anak dan bertolak belakang dengan kultur
serta kepercayaan. Di sisi lain perlu membiarkan kematian berjalan secara
alami dan meringankan penderitaan pasien.
5. Autopsi
Autopsi dapat menjadi cara untuk menolong anak lain dan sebagai cara untuk
mengecek rantai genetik. Tetapi hal ini dapat bertentangan dengan
kepercayaan dan budaya dari keluarga pasien, keluarga tidak siap secara
emosi dan ketakutan bahwa tubuh pasien tidak dapat dikuburkan secar utuh.

B. Konsep Asuhan Keperawatan Paliatif Anak


a. Pengkajian

b. Diagnosa
c. Intervensi
d. Implementasi teori
e. Evaluasi teori
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar pustaka

Anak Sakit Kronis Perlu Mendapat Perawatan Paliatif, Apa Maksudnya?.


(2018). Diakses tanggal 09 Januari 2019 pukul 05.00 WIB dari
https://kumparan.com/@kumparanmom/anak-sakit-kronis-perlu-mendapat-perawatan-
paliatif-apa-maksudnya-1539703281238209423
Dahlin, C, Coyne, PJ, Ferrel, BR. (2016). Advanced Practice Palliative
Nursing. New York : Oxford University Press
Doenges, ME, Moorhouse, MF, Murr, AC. (2010). Nursing Care Plans :
Guidelines For Individualizing Client Care Across The Life Span. Philadelphia : F. A.
Davis Company
Hockenberry, MJ, Wilson, D. (2015). Wong’s Nursing Care of Infants and
Children. Ed 10. Saint Louis : Elsevier Mosby
Petunjuk Teknis Program Paliatif Kanker Anak. (2015). Jakarta : Kementrian
Kesehatan RI
Watson, M, Lucas, C, Hoy, A, Wells, J. (2009). Oxford Handbook of
Palliative Care. New York : Oxford University Press
World Health Organization. WHO Definition of Palliative Care. Diakses 09
Januari 2019 pukul 02.00 WIB, https://www.who.int/cancer/palliative/definition/en/.