Anda di halaman 1dari 25

SISTEM REPRODUKSI

Sistem reprodtuksi berfungsi untuk menghasilkan keturunan dengan tujuan


mempertahankan jenisnya.
Sistem reproduksi terdiri dari sistem reproduksi pria dan sistem reproduksi
wanita.
a. Sistem Reproduksi Pria
Terdiri dari :
 Testis yang berfungsi untuk menghasilkan sperma dan hormone testosterone
 Epididimid yang berfungsi untuk menyimpan sperma sementara dan
mematangkan sperma
 Vas deferens berfungsi untuk mengangkut sperma menuju vesikula
seminalis/kantung semen atau mani
 Uretra yang berfungsi untuk membawa sperma ke luar tubuh
 Tubulus recti berfungsi sebagai tempat bermuaranya saluran dari tubulus
seminiferus
 Penis berfungsi sebagai alat untuk melakukan reproduksi (menyalurkan sel
sperma)
 Skrotum berfungsi sebagai alat untuk pembentkan sel sperma.

b. Sistem Reproduksi Wanita


Terdiri dari :
 Ovarium (indung telur), yang berfungsi untuk menghasilkan sel telur (ovum)
dan hormon (esterogen dan progesterone)
 Oviduk/tuba falopi/saluran telur, berfungsi untuk menyalurkan ovum dari
ovarium menuju uterus
 Uterus(kantung peranakan/rahim), berfungsi sebagai tempat perkembangan
zigot apabila terjadi fertilisasi, menerima pembuahan ovum yang tertanam ke
dalam endometrium, dan juga sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya janin
 Vagina merupakan penghubung rahim ke bagian tubuh luar, juga
menghasilkan berbagai macam sekresi
 Vulva berfungsi sebagai jalan masuk sperma ke dalam tubuh wanita dan
sebagai pelindung organ kelamin dalam dari organisme penyebab infeksi
 Leher rahim (serviks) berfungsi untuk membantu perjalanan sperma dari
vagina menuju rahim.

7. SISTEM SARAF
Sistem saraf pada manusia berperan dalam proses iritabilitas yaitu
kemampuan untuk menanggapi suatu rangsangan dari luar. Untuk
menanggapi rangsangan sistem saraf memiliki 3 komponen, yaitu :
 Reseptor, merupakan alat penerima rangsangan atau impuls. Yang bertindak
sebagai reseptor adalah panca indera
 Konduktor (penghantar impuls), dilakukan oleh sistem saraf itu sendiri
yang terdiri dari sel – sel saraf yang disebut neuron
 Efektor, adalah bagian tubuh yang menanggapi rangsangan. Efektor yang
paling penting dalam tubuh manusia adalah otot dan hormone.
Sel saraf terdiri dari 3 bagian utama yaitu:
1. Badan sel yang merupakan bagian yang paling besar dari sel saraf
yang mengandung inti sel dan sitoplasma. Inti sel berfungsi sebagai pengatur
kegiatan sel saraf. Di dalam sitoplasma terdapat mitokondria yang berfungsi
sebagai penyedia energy untuk membawa rangsangan.
2. Dendrit, merupakan sel saraf pendek dan bercabang – cabang yang
berfungsi untuk menerima dan mengantarkan rangsangan ke badan sel.
3. Neurit (akson), berfungsi untuk membawa rangsangan dari badan sel
ke sel saraf lain.Organ yang berperan dalam sistem saraf selain sel saraf itu
sendiri yaitu:
 Otak. Otak merupakan pusat pengatur dari segala kegiatan manusia yang
terletak di rongga tengkorak dan dibungkus oleh 3 lapis selaput kuat yang disebut
meninges. Selaput paling luar disebut durameter, paling dalam adalah piamater dan
selaput bagian tengah disebut arachnoid. Otak manusia terdiri dari 3 bagian yaitu:
1. Otak besar (cerebrum), berfungsi sebagai pusat kegiatan – kegiatan
yang disadari seperti berfikir, mengingat, berbicara dll
2. Otak kecil (cerebellum), berfungsi untuk mengatur keseimbangan
tubuh dan mengkoordinsi kerja oto – otot ketika bergerak.
3. Sumsum lanjutan, berfungsi sebagai pusat pengendalian pernapasan,
penyempitan pembuluh darah, mengatur denyut jantung, mengatur suhu
tubuh dan kegiatan – kegiatan yang tidak disadari.
 Sumsum Tulang Belakang
Sumsum Tulang Belakang memanjang di dalam rongga tulang belakanh,
mulai dari ruas – ruas tulang leher sampai ruas tulang pinggang kedua.
Sumsum tulang belakang berfungsi untuk menghantarkan impuls dari dan
ke otak serta untuk member kemungkinan jalan terpendek secara reflex.

8. SISTEM INTEGUMEN
Sistem integument merupakan sistem yang paling luas yang ada pada
tubuh manusia. Seluruh tubuh manusia bagian terluar terbungkus oleh
suatu sistem yang disebut sebagai sistem integumen. Sistem ini terdiri dari
kulit dan kelengkapannya termasuk kuku, rambut, kelenjar dan reseptor
saraf khusus. Integument itu sendiri merupakan suatu kata yang bersal dari
bahasa latin “integumentum” yang berarti penutup. Fungsi sistem
integument adalah sebagai penutup organ atau jaringan dalam manusia
untuk melindungi dari kontak luar.
a. Kulit
Kulit berfungsi untuk mencegah terjadinya kehilangan cairan yang
berlebihan dan mencegah masuknya benda – benda asing yang berasal
daari luar seperti bakteri.
Selain itu fungsi kulit lainnya adalah :
 Untuk mengeluarkan keringat
 Untuk pelindung tubuh
 Untuk mengatur suhu tubuh
 Sebagai tempat pembuangan vitamin D dari provitamin D dengan bantuan
sinar matahari
b. Rambut
Rambut adalah organ yang tumbuh di kulit yang berbentuk seperti
benang. Fungsi rambut yaitu :
 Untuk melindungi kulir dari pengaruh buruk
 Menyaring udara pada hidung
 Sebagai pengatur suhu
 Pendorong penguapan keringat
 Dan sebagai indera peraba.
c. Kuku
Kuku merupakan sel yang mirip seperti jel dan mengeras. Fungsi utama
kuku adalah untuk melindungi ujung jari yang lembut dan penuh urat saraf.

9. SISTEM HORMON
Kata hormone berasal dari bahasa yunani “hormaein” yang berarti
“memacu”. Hormone diproduksi oleh kelenjar endokrin dan berfungsi untuk
mengatur metabolism dalam tubuh, perkembangan, pertumbuhan,
reproduksi, dan tingkah laku.
Hormone diperlukan dalam jumlah tertentu. Jika kekurangan atau
kelebihan hormone maka akan menyebabkan suatu gangguan pada tubuh
seperti gigantisme (pertumbuhan raksasa) ataupun kerdil. Fungsi hormone
dalam tubuh adalah untuk mengatur kinerja tubuh. Kelenjar endokrin
menghasilkan hormone diantaranya yaitu sebagai berikut :
a. Kelenjar hipofisis dan hipotalamus
Kelenjar hipotalamus memiliku peranan yang sangat penting dalam sistem
koordinasi tubuh manusia.
b. Kelenjar tiroid
Kelenjar tiroid disebut juga sebagai kelenjar gondok. Kelenjar ini terletak di
leher bagian depan dan terdiri dari dua lobus. Kelenjar tiroid
mensekresikan 2 hormon yaitu tiroksin yang berfungsi untuk mengatur
metabolism tubuh dan hormone kalsitonin yang berfungsi untuk
menurunkan kadar kalsium dalam darah.
c. Kelenjar paratiroid
Menghasilkan hormone parathormon yang berfungsi untuk meningkatkan
kadar kalsium dalam darah dengan cara meningkatkan pengambilan
kembali kalsium dari ginjal, merangsang pembebasan kalsium dari tulang
keras sampai kadar kalsium dalam darah normal kembali.
d. Kelenjar timus
Merupakan tempat menimbun hormone pertumbuhan, dan setelah
manusia dewasa hormone ini tidak akan berfungsi lagi.
e. Kelenjar pancreas
Pancreas merupakan sekumpulan sel endokrin yang mensekreskan dua
macam hormone ke sistem sirkulasi.
f. Kelenjar adrenal
Kelenjar ini terdiri dari korteks adrenal dan medulla adrenal.
Korteks adrenal menghasilkan hormone:
 Mineralokortikoid yang berfungsi untuk mengatur metabolism mineral
 Glukokortikoid yang berfungsi untuk mengatuk metabolism glukosa
Medulla adrenal menghasilkan hormone adrenalin (epinefrin dan
noreepinefrin) yang berfungsi untuk mengubah glikogen menjadi glukosa,
menaikan denyut jantung, dan memperluas bronkiolus.
g. Kelenjar kelamin
Kelenjar kelamin terdiri atas testis (pada pria) dan ovarium (pada wanita).
Pada testis mengsilkan hormone mineralokortikoid yang berfungsi untuk
mengatur metabolisme mineral, mendorong pertumbuhan sekunder seperti
suara menjadi besar dll. Ovarium menghasilkan hormone esterogem yang
berfungsi untuk memicu ovulasi dan pertumbuhan sekunder wanita dan
hormone progesterone yang berfungsi untuk memicu pertumbuhan dinding
uterus (rahim) sebagai persiapan untuk ovulasi berikutnya.
Sistem Reproduksi
21FEB
Pendahuluan
Sistem reproduksi sangat esensial dalam kehidupan individu dalam mempertahankan
spesies agar tidak punah. Untuk memahami sistem reproduksi pada manusia maka
pemahaman tidak saja meliputi struktur dan fungsi organ-organ reproduksi, tetapi juga
bagaimana organ reproduksi menghasilkan dan menyimpan sel-sel reproduktif kemudian
menggabungkannya untuk membentuk individu baru serta mekanisme hormonal yang
berperan dalam memelihara fungsi reproduksi secara normal. Dalam modul ini
diketengahkan sistem reproduksi pria dan sistem reproduksi wanita.

SISTEM REPRODUKSI PRIA

1. 1. Pendahuluan
Sistem reproduksi pria, selain menghasilkan gamet juga menghasilkan hormon seks.
Organ utama pada sistem reproduksi pria adalah: Gonad (testis), merupakan organ
reproduksi yang menghasilkan gamet; duktus yang menerima dan membawa gamet;
kelenjar asesoris dan organ-organ yang mensekresikan cairan ke dalam duktus sistem
reproduksi atau ke duktus sekretoris lainnya serta struktur perineal yang secara
keseluruhan dikenal sebagai genetalia eksterna

Untuk memahami sistem reproduksi pada pria, maka pemahaman tidak saja meliputi
struktur dan fungsi organ-organ reproduksi pria, tapi juga bagaimana proses terjadinya
spermatogenesis dan mekanisme hormonal yang mempengaruhinya.

2. Struktur dan Fungsi Sistem Reproduksi Pria


Struktur sistem reproduksi terdiri dari testis, saluran yang membawa sperma yang
dihasilkan, kelenjar asesoris dan genetalia eksterna (Gambar 1.).

2.1. Testis
Pada pria, testis (Gambar 2) terdiri dari 2 buah berbentuk ovoid dengan panjang
sekitar 5 cm, lebar 3 cm, tebal 1.2 cm dengan bobot kira-kira 10-15 gram setiap testis.
Testis tergantung dalam skrotum. Skrotum dibagi ke dalam 2 bagian dimana keduanya
dibatasi oleh penebalan permukaan skrotum yang disebut raphe. Skrotum terdiri dari
lapisan kulit yang tipis dengan lapisan fasia supervisialis di bawahnya. Dermis terdiri dari
lapisan otot polos yaitu otot dartos. Pada saat otot beristirahat testis terangkat sehingga
mengakibatkan permukaan skrotum mengerut. Otot kremaster merupakan otot rangka
yang terdapat pada lapisan dalam. Kontraksi otot ini dapat mendorong terstis mendekati
tubuh sebagai respons terhadap penurunan suhu tubuh atau selama kebangkitan seksual.
Kedalaman tunika vaginanalis ditutupi oleh tunika albugenia yang merupakan lapisan
jaringan ikat padat yang kaya akan serabut-serabut kolagen. Terusan serabut-serabut ini
membentuk pembatas yang dikenal dengan septum.

Pada setiap lobulus terdapat kira-kira 800 tubulus seminiferous berbentuk silinder yang
berbelit rapat tempat dimana sperma dihasilkan. Sperma dihasilkan melalui proses yang
dikenal dengan spermatogenesis.

Spermatogenesis : Pada kehidupan fetal, saat sel-sel benih primordial tiba genetal
ridge mereka bergabung dengan sexs cord dan tetap disana sampai mengalami
pematangan. diwaktu mana sexs cord melubangi membentuk tubulus seminiferous.
 Mitosis : Setelah mencapai gonad maka sel-sel benih akan membagi menjadi
spermatogonium. A.. Pada saat matang maka spermatogonium A membagi lebih
banyak spermatogonium A1 dimana setiap spermatogonium A1 merupakan selsel
batang yang dapat menghasilkan sel baru A2 dan seterusnya A3, A4 dan menurunkan
permatogonium intermedia. Spermatogonium intermedia kemudian menjadi
spermatogonium B yang nantinya membagi secara mitosis menjadi spermatosit primer
 Miosis : Setiap spermatosit primer mengalami pembelahan miosis I membentuk
spermatosit sekunder yang kemudian dilengkapi dengan pembelahnan miosis II
membentuk spermatit
 Spermiogenesis: Merupakan langkah dimana terjadi pematangan sperma serta
diferensiasi sel secara fisik memjadi spermatozoa dewasa.
Selain terdapat sel-sel spermatogenik, juga terdapat sel Sertoli atau sel-sel pemelihara.
Adapun fungsi dari sel pemelihara adalah:

1). Memelihara Blood-testis barrier


2) Menunjang terjadinya proses spermatogenesis

3) Mensekresikan inhibin
4) Mensekresikan Androgen-Binding Protein.
Di antara tubulus terdapat ruangan yang mengandung sejumlah pembuluh darah dan sel-
sel intersisial (sel intersisial Leydig). Sel-sel intersisial Leydig menghasilkan hormon
testosteron, merupakan hormon seks yang banyak terdapat pada pria.

2.2. Rete testis dan duktus efferent


Setiap tubulus melakukan putaran membentuk jalan yang berbelit yang dikenal dengan
rete testis. Rete testis mengalirkan isinya ke duktus efferens dan biasanya 15 -20 duktus
efferens menghubungkan rete testis dengan duktus epididimis.

2.3. Duktus Epididimis


Epididimis dapat diraba melalui kulit skrotum. Panjang salurannya hampir 7 m, berbelit-belit
dan bergulung-gulung sehingga sangat sedikit terdapat ruangan. Epididmis terbagi
menjadi kepala, badan dan ekor. Fungsi epididimis yaitu:

1. Memantau dan mengatur komposisi cairan yang dihasilkan oleh tubulus seminiferous.
Sel-sel epitel kolumnar bertingkat semu dengan steriosilis yang melapisi epididmis
berfungsi untuk meningkatkan tersedianya area absorbsi dan sekresi cairan yang lebih
luas di dalam tubulus,
2. Bekerja untuk mendaur ulang spermatozoa yang rusak. Mengabsorbsinya dalam
epididimis melalui pemecahan secara enzimatik dan melepaskannya ke cairan
intersisial sel sekelilingnya untuk diambil oleh pembuluh darah epididimis.
3. Menyimpan dan melindungi spermatozoa dan menfasilitasi pematangan fungsional.
Spermatozoa melalui epididimis dan melengkapi pematangan sperma dalam waktu
kira-kira 2 minggu. Meskipun pematangan sperma berlangsung di epididimisnamun
mereka masih belum mempunyai kemampuan untuk bergerak.. Untuk mendapatkan
kemampuan bergerak dan fungsional sepenuhnya sperma harus mengalami
kapasitasi. Secara normal, kapasitasi terjadi melalui 2 langkah yaitu: 1) apabila
bercampur dengan sekresi kelenjar seminalis dan 2) apabila sukses melakukan
fertilisasi ketika terpapar dengan kondisi di saluran reproduksi wanita.
Perjalanan sperma di epididimis melibatkan kombinasi pergerakan cairan dan gerakan
peristaltik otot polos dinding epididimis. Setelah melewati epididimis, sperma masuk ke
duktus deferent.

2.4. Duktus Deferens


Setiap duktus deferent panjangnya 40-45 cm, dimulai dari bagian ekor epididimis. Di
dalam rongga abdomen, duktus deferen mengarah ke belakang, melengkung ke bawah
sepanjang permukn samping vesika urinaria kearah atas dan belakang berbatasan dengan
kelenjar prostat. Sebelum mencapai kelenjar prostat dan kelenjar seminalis, terjadi
pembesaran lumen yang dikenal dengan ampula. Dinding duktus deferens mengandung
lapisan tebal otot polos. Kontraksi peristaltik otot polos mendorong spermatozoa dan
cairan sepanjang duktus yang mempunyai epithelium kolumnar bersilia bertingkat semu.
Selain itu, duktus deferens juga berfungsi untuk menyimpan spermatozoa selama beberapa
bulan. Selama waktu ini spermatozoa dalam keadaan mati suri dan memiliki metabolisme
yang rendah. Tempat pertemuan ampula dengan duktus kelenjar seminalis merupakan
permulaan duktus eyakulatoris.

2.5. Uretra

Pada pria, uretra panjangnya 18-20 cm dari vesika urinaria sampai ujung penis yang terdiri
dari daerah prostatik, membranous dan spons. Uretra pada pria merupakan pelintasan
bersama urinaria dan sistem reproduksi.

2.6. Organ genetalia eksterna


Genetalia eksterna pria terdiri dari skrotum dan penis. Penis merupakan organ
tubular dimana terdapat uretra yang berfungsi mengeluarkan urine ke luar tubuh dan
menyalurkan semen ke vagina wanita selama koitus. Susunan kulit yang terdapat di penis
menyerupai yang terdapat pada skrotum. Lipatan kulit yang mengelilingi ujung penis
disebut prepusa yang bersentuhan dengan leher yang relatif sempit dari penis. Kelenjar
prepusial pada kulit dari leher dan permukaan dalam prepusa mensekrsikan material
yang berupa lilin yang disebut smegma. Smegma tidak menguntungkan karena
merupakan sumber nutrisi bagi bakteri. Kebanyakan badan penis terdiri dari 3 kolum
berbentuk silinder jaringan erektil. Permukaan anterior yang lembut penis ditutupi oleh 2
massa jaringan erektil silendris yang disebut korpora kavernosa. Jaringan erektil pada
setiap korpora kavernosa dikelilingi oleh arteri sentral. Penil uretra dikelilingi oleh korpus
spongiosum. Lembaran yang mengelilingi korpus spongiosum mengandung banyak
serabut elastis dan jaringan erektil yang mengandung arteri-arteri kecil.
1. 3. Kelenjar assesoris.
Kontribusi cairan tubulus seminiferous dan epididimis jumlahnya hanya kira-kira 5 %
dari volume semen. Komponen semen merupakan percampuran beberapa kelenjar yaitu
kelenjar seminalis, prostat dan bulbo-uretralis. Fungsi utama kelenjar-kelenjar tersebut
adalah: 1) mengaktifkan spermatozoa, 2) menyediakan nutrisi yang dibutuhkan untuk
motilitas 3) mendorong spermatozoa dan cairan sepanjang traktus reproduksi dan 4)
sebagai penyanggah untuk menghadapi keasaman lingungan uretra dan vagina

3.1. Kelenjar seminalis (Vesikula Seminalis)


Kelenjar seminalis juga disebut vesikula seminalis terselip di antara dinding posterior
vesika urinaria dan rektum, merupakan kelenjar tubular dengan panjang kira-kira 15 cm.
Kelenjar seminalis menyumbang kira-kira 60 volume dari semen. Sekresi dari kelenjar
seminalis mengandung: 1) fruktosa yang mudah dimetabolisme oleh spermatozoa, 2)
prostaglandin yang merangsang kontraksi otot polos sepanjang traktus reproduksi dan 3)
fibrinogen dimana setelah eyakulasi membentuk pmbekuan sementara di vagina. Sekresi
kelenjar seminalis agak alkalis menolong menetralisir asam yang terdapat dalam sekresi
kelenjar prostat dan vagina. Percampuran dengan kelenjar sminalis merupakan langkah
awal spermatozoa mengalami kapasitasi dan peningkatan motilitas.

3.2. Kelenjar prostat


Kelenjar prostat merupakan organ yang kecil, muskular, berbentuk bulat dengan
diamteter kira-kira 4 cm. Kelenjar prostat mengelilingi bagian proksimal uretra ketika
uretra meninggalkan vesika urinaria. Jaringan kelenjar prostat terdiri dari kumpulan 20-30
kelenjar tubuloalveolar yang menghasilkan cairan prostat. Cairan prostat merupakan cairan
yang agak sedikit asam dan menyumbang kira-kira 20-30% volume semen. Mengandung
plamin seminalis yang merupakan antiibiotik untuk mencegah infeksi traktus urinaria pada
pria.

3.3. Kelenjar Bulbouretralis (Kelenjar Cowper)


Kelenjar bulbouretralis terdapat sepasang di dasar penis., berbentuk bulat dengan
diameter kira-kira 10 mm. Duktus dari setiap kelenjar berjalan 3-4 cm di sepanjang sisi
penil uretra sebelum mengosongkan isinya ke dalam lumen uretra. Sekresinya berbentuk
mukus yang kental, bersifat alkalis yang berfungsi menetralkan keasaman urin dan tetap di
uretra meminyaki glanpenis atau ujung penis.

3.4. Semen
Pada umumnya, eyakulasi mengeluarkan 2-5 ml semen. Ketidaknormalan dimana
jumlah volume yang rendah merupakan indikasi kegagalan kelenjar prostat atau kelenjar
seminalis. Volume cairan yang dihasilkan ketika eyakulasi disebut eyakulat.

4. Hormon Reproduksi pria


Interaksi antara hormon-hormon yang mengatur fungsi reproduksi pria seperti terlihat
pada Gambar 4. Adenohipofisis melepaskan Follicle Stimulating Hormon
(FSH) dan Luteinizing Hormon (LH) akibat respons terhadap Gonadotropin Releasing
Hormon (GnRH) yang disekresikan oleh hipotalamus dan dibawa ke hipofisis melalui
sistem portal hipofisial.
4.1. Follicle Stimulating Hormone (FSH)
Pada pria target utama FSH adalah sel-sel pemelihara (sel Sertoli) di tubulus
seminiferous. Di bawah rangsangan FSH dan dengan adanya testosteron dari sel-sel
intersisial, maka sel-sel Sertoli meningkatkan proses spermatogenesis dan
nensekresikan androgen-binding protein(ABP). Laju spermatogenesis diatur melalui
mekanisme umpan balik yang meliputi GNRH, FSH dan inhibin. Di bawah rangsangan
GNRH, FSH memacu proses spermatogenesis di tubulus seminiferous dan ketika terjadi
peningkatan spermatogenesis maka laju sekresi inhibin meningkat yang pada akhirnya
menghambat produksi FSH pada adenohipofisis dan mungkin menekan sekresi GnRH oleh
Hipotalamus. Pada akhirnya, kadar FSH kembali ke keadaan normal.
4.2. Luteinizing Hormon (LH)
Pada pria LH merangsang sel-sel intrsisial Leydig untuk menghasilkan testosteron
oleh karena itu, sering disebut juga Interstitial cell Stimulating Hormone (ICSH). Testosteron
merupakan androgen yang paling penting yang berfungsi :
1). Merangsang proses spermatogenesis dan memacu pematangan fungsional
spermatozoa
2). Mempengaruhi fungsi Sistem Saraf Pusat (SSP) termasuk libido seksual dan yang
berkaitan dengan tingkah laku

3). Merangsang metabolisme seluruh tubuh khususnya yang berhubungan dengan


sintesis protein, pembentukan sel-sel darah merah dan pertumbuhan otot

4) Membentuk dan memelihara karakter seks sekunder seperti distribusi rambut di wajah,
meningkatkan massa tubuh dan ukuran tubuh, cadangan jaringan lemak

5) Memelihara kelenjar assesoris dan organ traktus reproduksi.

RANGKUMAN

Dari uraian mengenai system reproduksi pria maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut:

Sistem reproduksi pria, selainmenghasilkan gamet juga menghasilkan hormon seks.


Struktur sistem reproduksi pria terdiri dari testis, saluran yang membawa sperma, kelenjar
asesoris dan genetalia eksterna. Testis merupakan organ reproduksi utama karena
merupakan tempat dimana sperma dihasilkan. Proses spermatogenesis berlangsung
dalam tubulus seminiferous. Sperma yang dihasilkan di salurkan ke rete testis, duktus
eferens, duktus epididimis, duktus deferens. Selama perjalanannya sperma mendapatkan
proses pematangan di duktus epididimis. Selama belum dieyakulasikan, sperma disimpan
di duktus deferens. Sperma selanjutnya dikeluarkan melalui uretra.

Selama melalui saluran-saluran reproduksi semen menerima cairan tambahan dari


kelenjar-kelenjar asesoris : kelenjar seminalis, prostat dan bulbouretralis membentuk
volume eyakulat.

Sistem reproduksi pria dipengaruhi oleh hormon yang berasal dari adenohipofisis
yaitu gonadotropin yang terdiri dari FSH dan LH. Bersama testosteron yang dihasilkan oleh
sel sel intersisiel, FSH meningkatkan proses spermatogenesis. LH berfungsi merangsang
sel-sel intersisial untuk menghasilkan testosteron yang berperan penting dalam proses
spermatogenesis dan membentuk serta memelihara karakter seks sekunder pria.

SISTEM REPRODUKSI WANITA


1. 1. Pendahuluan
Sistem reproduksi wanita, selain menghasilkan gamet, hormon seks, juga menunjang
pemeliharaan pertumbuhan embrio dan memberikan nutrisi pada anak yang baru
dilahirkan. Organ utama pada sistem reproduksi wanita adalah: Gonad (ovarium)
merupakan organ reproduksi yang menghasilkan gamet, tuba/saluran yang menerima dan
membawa gamet dan tempat dimana terjadi fertilisasi, uterus yang merupakan tempat
dimana embrio berkembang serta struktur penunjang lainnya seperti vagina dan genetalia
eksterna.

2. Struktur dan Fungsi Sistem Reproduksi Wanita


Organ utama pada sistem reproduksi wanita adalah : ovarium, tuba uterus, uterus dan
genetalia eksterna (Gambar 5 ).

2.1. Ovarium
Ovarium terdapat sepasang, merupakan organ yang berbentuk almond berada dekat
dinding lateral rongga pelvis. Fungsi ovarium adalah: 1) menghasilkan ovum (oosit), 2)
mensekresikan hormon seks wanita dan 3) mensekresikan inhibin yang terlibat dalam
pengaturan mekanisme umpan balik produksi FSH di pituitari. Ovarium memiliki panjang
kira-kira 5 cm, lebar 2.5 cm dan ketebalan 8 mm dengan bobot kira-kira 6-8 g. Posisi setiap
ovarium diseimbangkan oleh mesovarium dan ligamen penunjang ligament ovarium dan
ligament infundibulopelvis.

Ligamen infundibulopelvis mengandung pembuluh darah utama arteri dan vena ovari
yang dihubungkan ke ovarium pada hilum dimana ovarium berhubungan dengan
mesovarium. Ovarium terdiri dari bagian korteks dan medulla. Dibagian korteks terdapat
banyak folikel mulai dari folikel primer sampai folikel de Graff, korpus luteum hingga korpus
albikans sedangkan pada bagian medulla terdapat banyak kapiler darah.

1). Oogenesis
Produksi ovum dimulai sebelum lahir, meningkat pada waktu pubertas dan berakhir
pada waktu menopause. Antara pubertas dan menopause oogenesis terjadi setiap bulan
berdasarkan siklus ovarium. Oogonium atau sel-sel benih (stem cells) melengkapi
pembagian mitosisnya antara bulan ke-3 dan ke-7 perkembangan fetal. Oogonium
membagi secara mitosis menjadi sel-sel anak oosit primer yang kemudian mengalami
miosis. Oosit primer tetap melangsung pada profase kemudian terhenti, sampai kemudian
dilanjutkan ketika individu mencapai pubertas, ketika level FSH meningkat. Tidak semua
oosit primer mencapai pubertas. Pada waktu lahir, ovarium mengandung kira-kira 2 juta
folikel primordial yang setiap folikel mengandung oosit primer dan pada waktu lahir
berkurang menjadi 400.000. Sisanya mengalami atresia. Oosit primer kemudian
mengalami miosis I menjadi oosit sekunder dan miosis ke II menjadi oosit.
2). Siklus ovarium
Folikel ovarium merupakan struktur khusus yang terdapat di korteks dimana pertumbuhan
oosit dan miosis I berlangsung. Oosit primer terdapat di bagian luar korteks ovarium dekat
dengan tunika albugenia. Setiap oosit primer dikelilingi oleh lapisan sel-sel folikel selapis
skuamosa. Oosit primer bersama folikel disebut dengan folikel primordial. Pembentukan
folikel adalah sebagai berikut :

a. Pembentukan folikel primer. Perkembangan folikel dimulai dari pengaktivan folikel


primordial dalam folikel primer. Sel-sel folikel membesar, membagi, membentuk beberapa
lapisan di sekeliling oosit primer yang bertumbuh. Sel-sel folikel ini di kenal dengan sel-sel
granulosa. Mikrovili dari sekeliling sel-sel folikular membaur dengan mikrovili yang berasal
dari permukaan oosit membentuk zona pellusida. Seiring dengan membesarnya sel-sel
granulosa, sel-sel yang bersebelahan di dalam stroma ovarium membentuk lapisan yang
dikenal dengan sel teka. Sel-sel teka dan granulosa bersama-sama menghasilkan hormon
estrogen.
b. Pembentukan folikel sekunder. Dimulai dengan penebalan dinding folikel dan bagian
dalam folikel mulai mensekresikan sejumlah kecil cairan. Cairan folikular atau liquor
folliculi terakumulasi pada kantung kecil secara perlahan-lahan meluas dan memisahkan
lapisan luar dan dalam folikel. Pada tahapan ini dikenal sebagai folikel sekunder.
c. Pembentukan folikel tertier. Terjadi pada 8 sampai 10 hari setelah mulai siklus
ovarium dan biasanya hanya terdapat 1 folikel sekunder yang berkembang lebih lanjut.
Pada siklus folikel 10 sampai 14 hari berkembang menjadi folikel tertier atau folikel Graaf
dengan diameter kira-kira 15 mm. Oosit menonjol ke dalam antrum atau meluas ke pusat
kantung folikel. Pada saat ini oosit primer masih tertahan pada meiosis I. Seiring dengan
berakhirnya perkembangan folikel tertier, kadar LH mulai meningkat memicu oosit primer
melengkapi miosis I. Oosit sekunder memasuki miosis II namun brhenti kembali pada saat
metafase dan tidak sepenuhnya lengkap sampai terjadi fertilisasi.
d. Ovulasi. Pada saat ovulasi, folikel tertier melepaskan oosit sekunder. Dinding folikel
yang menggelembung tiba-tiba pecah, melemparkan isi folikel termasuk oosit sekunder
dan korona radiata ke dalam rongga pelvis. Oosit kemudian ditangkap oleh fimbria dan
masuk ke tuba uterus.
e. Pembentukan dan degenerasi korpus luteum. Setelah ovulasi, sisa-sisa sel-sel
granulosa menyerbu area bekas folikel tertier, mengadakan proliferasi membangun struktur
endokrin yang dikenal dengan korpus luteum. Proses ini terjadi dibawah pengaruh LH.
Kolesterol yang terdapat di korpus luteum digunakan untuk menghasilkan progesteron.
f. Degenerasi korpus luteum. Dimulai kira-kira pada 12 hari setelah ovulasi kecuali
apabila terjadi fertilisasi. Konsentrasi progesteron dan estrogen turun, fibroblast menyerbu
masuk ke korpus luteum yang nonfungsional membentuk jaringan parut yang dikenal
dengan korpus albikans. Disintegrasi atau involusi korpus luteum merupakan akhir dari
siklus ovarium dan siklus baru dimulai lagi.

2.2. Tuba uterus


Tuba uterus (oviduk atau tuba Fallopi) adalah saluran yang berotot dengan panjang
kira-kira 13 cm. Tuba uterus ditutupi oleh sel-sel epitel berbentuk torak bersilia dengan sel-
sel yang mensekresikan lendir. Selain untuk transportasi oosit dan juga sperma, tuba
uterus juga berfungsi menyediakan nutrisi yang lingkungan yang kaya nutrisi lipid dan
glikogen. Tuba uterus dibagi dalam beberapa segmen yaitu:

 Infundibulum: Ujungnya berdekatan dengan ovarium membentuk sejumlah tonjolan


yang berbentuk jari-jari ke rongga pelvis yang disebut fimbria .Permukaan dalam
infundibulum terdapat silia yang mengayuh kearah segmen tengah tuba uterus yaitu
ampula.
 Ampulla : Merupakan segmen dengan lapsan dinding tebal dari otot polos yang secara
berangsur-angsur meningkat seiring tuba mencapai uterus.
 Isthmus : Merupakan segmen yang menghubungkan tuba dengan dinding uterus.

2.3. Uterus
Uterus merupakan organ yang berbentuk buah pir dengan panjang kira-kira 7.5 cm,
lebar maksimum 5 cm dengan bobot 30-40 g. Uterus sangat penting dalam pertumbuhan
dan perkembangan embrio dan fetus karena berfungsi memberikan perlindungan
mekanik, suplai nutrisi dan membuang sisa metabolisme. Selanjutnya dinding otot uterus
sangat penting dalam mengeluarkan fetus pada saat kelahiran. Uterus difiksasi
ditempatnya oleh 3 pasang ligamen untuk membatasi pergerakannya yaitu ligamen
uterosakral, ligamen round dan ligament cardinal.
Uterus terdiri dari daerah fundus yang merupakan bagian yang berhubungan dengan
tuba uterus, korpus yang merupakan bagian yang terbesar dari uterus dan isthmus bagian
akhir dari korpus. Bagian bawah isthmus meluas ke vagina yang dikenal dengan serviks.
Uterus menerima darah dari percabangn arteri uterin yang muncul dari percabangan arteri
iliaka internal dan dari arteri ovarium yang berasal dari aorta abdominal inferior. Uterus
dipersarafi oleh saraf otonom yang berasal dari pleksus hipogastrik (simpatis) dan dari
segmen sakral S3 dan S4 (parasimpatis). Informasi sensoris mencapai SSP dalam akar
dorsal saraf spinal T11 dan T12..

Dinding uterus terdiri dari endometrium yang merupakan lapisan sebelah dalam yang
tipis, banyak mengandung kelenjar, sedangkan sebelah luar adalah lapisan otot yang tebal
miometrium. Uterus dibungkus oleh membran serosa perimetrium. Endometrium
memberikan kontribusi 10% sedangkan miometerium 90 % terhadap bobot uterus.

2.4. Vagina
Vagina merupakan saluran elastis yang berotot yang terletak antara serviks dan vestibula
dengan panjang 7.5-9 cm, namun bervariasi dalam diameter karena dapat
menggelembung. Pada ujung proksimal vagina terdapat tonjolan masuk ke kanal vagina.
Vagina disuplai darah oleh percabangan vagina dari arteri iliaka internal (uterine).
Persarafan berasal dari pleksus hipogastrik, saraf sakral S2-S4 dan percabangan saraf
pudendal. Vagina berfungsi:

1). Bekerja sebagai pelintasan untuk mengeluarkan cairan menstrual

2). Menerima penis selama koitus dan menampung spermatozoa sebelum masuk ke
uterus

3) Membentuk kanal inferior saluran kelahiran pada saat melahirkan. Antara vagina dan
vestibula dipisahkan oleh lipatan epithelial elastis yang disebut hymen.
2.5. Genetalia eksterna
Daerah genetalia eksterna pada wanita adalah vulva atau pudendum. Vagina terbuka
ke vestibulum ruangan sentral yang dikelilingi oleh lipatan kecil yang disebut labia minora
yang ditutupi oleh kulit yang kurang rambut. Uretra terbuka ke dalam vestibula tepat
anterior jalan masuk vagina. Kelenjar parauretralis menyalurkan isinya ke dalam uretra
dekat bukaan uterta eksternal. Tepat di depan bukaan terdapat klitoris berbatasan dengan
baian luar vulva mons pubis dan labia mayora.
3. Hormon-hormon reproduksi wanita
Aktivitas sistem reproduksi wanita di bawah pengaturan hormon. Hormon-hormon yang
terlibat yaitu:

1). Gonadotrophin Releasing Hormon (GnRH) : Dihasilkan oleh hipotalamus yang


berfungsi mengatur sekresi Gonadotropin di adenohipofisis.
2). Gonadotropin: Terdiri dari Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing
Hormon (LH) yang disekresikan oleh adenohipofisis. FSH merangsang pertumbuhan folikel
di ovarium sedangkan LH merangsang pematangan dan ovulasi serta memelihara korpus
luteum mensekresikan hormon progesteron
3). Estrogen : Dihasilkan oleh sel-sel granulosa folikel ovarium. Adapun fungsinya adalah
:
a. Memacu pematangan folikel dan sel telur.

b. Penebalan mukosa dan deposit glikogen di serviks

c. Mengatur kecepatan migrasi sel telur di tuba Fallopi

d Kapasitasi sperma untuk penetrasi sel telur

e. Mengatur keseimbagan air dan garam pada ginjal

f. Meningkatkan kerja osteoblas

g. Meningkatkan metabolisme lipid

h Melembutkan dan menghaluskan kulit

i. Efek terhadap tingkah laku seksual, sosial dan reaksi psikis.

4). Progesteron : Dihasilkan oleh korpus luteum. Adapun fungsinya adalah:


a. Menyiapkan traktus genetalia untuk menerima dan pematangan sel telur

b. Memelihara kehamilan

c. Merangsang pertumbuhan kelenjar susu.


Pengaturan hormon pada wanita lebih kompleks dibandingkan pada pria karena
harus ada koordinasi antara siklus ovarium dan uterus. Frekuensi sentakan dan
amplitudo (tinggi-rendahnya) jumlah yang disekrsikan setiap sentakan pengeluaran
hormon berubah sepanjang siklus ovrarium. Pada pase folikuler awal, estrogen rendah
dan frekuensi sentakan GnRH adalah 16-24 kali /hari. Pada frekuensi itu FSH merupakan
hormon dominan yang dilepaskan oleh adenohipofisis. Estrogen dilepaskan oleh folikel
yang bertumbuh menghambat sekresi LH. Seiring dengan berkembangnya folikel
sekunder, FSH menurun karena mekanisme umpan balik inhibin. Perkembangan dan
pematangan folikel berlangsung terus akitat kombinasi estrogen, FSH dan LH. Seiring
dengan terbentuknya 1 atau lebih folikel tertier konsentrasi estrogen meningkat tajam.
Akibatnya frekuensi sentakan GnRH meningkat kira-kira 36 kali/hari yang pada akhirnya
merangsang sekresi LH.. Tingginya level LH memicu terjadi ovulasi dan memicu sekresi
progesteron dan pembentukan korpus luteum. Seiring dengan peningkatan progesteron
dan penurunan estrogen maka GnRH merangsang sekresi LH lebih dari FSH. LH
berfungsi mempertahankan struktur dan fungsi sekretoris korpus luteum.

RANGKUMAN

Dari uraian mengenai sistem reproduksi wanita dapatlah disimpulkan sebagai berikut:

Sistem reproduksi wanita selain menghasilkan gamet dan hormon seks, juga
menunjang pemeliharaan dan pertumbuhan embrio serta anak yang baru dilahirkan. Organ
utama sistem reproduksi wanita adalah ovarium yang menghasilkan gamet, tuba uterus,
uterus dan genetalia eksterna. Ovarium terdapat sepasang, tempat dimana oosit atau sel
telur dihasilkan melalui proses oogenesis. Ovarium mengalami siklus dimulai dari
pembentukan folikel primer sampai folikel tertier yang siap diovulasikan dan pembentukan
korpus luteum. Tuba uterus merupakan tempat lintasan oosit maupun sperma untuk
mengadakan fertilisasi. Uterus merupakan kompartemen dimana embrio berkembang
menjadi fetus hingga siap dilahirkan.

Aktivitas sistem reproduksi wanita sangat dipengaruhi oleh hormon: GN-RH yang
dihasilkan oleh hipotalamus, gonadotropin yang dihasilkan oleh adenohipofisis dan
estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh ovarium.

DAFTAR PUSTAKA
Berne, R.M., M.N. Levy. 1990. Principles of Physiology.Wolfe Publication, Ltd. USA.

Campbell, N.A., J.B. Reece., L.G. Mitchell. 2004. Biologi. 5th ed. Alih bahasa : Wasmen
Manalu. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Despopoulos, A. dan S. Silbernagl. 1991. Color Atlas of Physiology. Georg Thieme Verlag.
Stuttgart, Germany.

Guyton, A.C. 1991. Fisiologi kedokteran. 5th ed. Alih bahasa A. Dharma dan P. Lukmanto.
Penerbit Buku Kedokteran jakarta

Gilbert, S.F. 1988. Developmental Biology. Sinauer Associates, Inc Publishers.


Sunderland, Massachusetts

Knobil, E., J. D. Neil. 1988. The Physiology of Reproduction. Raven Press. New York.

Martini, F.H. and J. L. Nath 2009. Fundamental of Anatomy and Physiology. Pearson
International. USA.

McDonald, L.E. , M.H. Pineda. 1989. Veterinary Endocrinology and Reproduction. Lea
and Febiner. Philadelphia, London.
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia. 2nd ed. Alih bahasa Brahm U.Pendit. Penerbit
Buku Kedokteran. Jakarta.

Setchell, B.P. 1982. Spermatogenesis and Spermatozoa. Dalam Germ Cells and
Fertilitation. Austin C.R. and R.V. Short. Cambridge University Press. Cambridge.
Sistem Koordinasi pada Manusia
Semua sistem organ dalam tubuh manusia bekerja secara teratur dan selaras, kecuali jika ada
gangguan atau kelainan. Hal ini disebabkan karena ada sistem yang mengatur kerja
berbagai sistem organ. Sistem organ ini disebut sistem koordinasi. Sistem koordinasi pada
manusia terdiri dari sistem saraf, sistem indera, dan sistem hormon (endokrin). Sistem saraf
bersama-sama dengan sistem hormon berfungsi untuk mengatur dan memelihara fungsi tubuh,
misalnya mengatur kontraksi otot, perubahan alat-alat tubuh bagian dalam, dan sekresi
berbagai kelenjar dalam tubuh.

1. Organisasi Sistem Saraf


Sistem saraf berperan penting untuk merasakan perubahan-perubahan yang terjadi di luar atau
di dalam tubuh, menafsirkannya, dan memberi respon (menjawab) dalam bentuk kontraksi otot
atau dapat berupa sekresi kelenjar. Fungsi sistem saraf pada manusia adalah sebagai berikut.

 Menerima informasi atau rangsangan berupa perubahan yang terjadi di dalam


lingkungan melalui reseptor.
 Mengatur dan memproses informasi atau rangsangan yang diterima.
 Mengatur dan memberi tanggapan (respon) terhadap rangsangan dalam bentuk gerak
atau sekresi kelenjar.

Sel saraf atau neuron merupakan unit struktural dan fungsional yang terkecil dari sistem saraf.
Sel-sel ini sudah tidak mengalami pembelahan lagi, sehingga bila mengalami kerusakan tidak
dapat diperbaiki.
a. Sel Saraf (Neuron)
Sel saraf berfungsi untuk menghantarkan impuls. Bagian-bagian sel saraf adalah

sebagai berikut.
 Badan sel, di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel yang terbungkus oleh selaput
plasma. Fungsi badan sel saraf adalah menerima dan meneruskan impuls dari dendrit ke
neurit atau akson.
 Dendrit, merupakan juluran dan bercabang-cabang yang keluar dari badan sel, berfungsi
menerima dan membawa rangsang ke badan sel.
 Neurit atau akson merupakan juluran badan sel yang berfungsi untuk menghantarkan
rangsang dari badan sel ke sel saraf lainnya.

Daerah pertemuan ujung-ujung neurit dengan dendrit disebut sinapsis. Di tempat inilah
rangsangan diteruskan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lain.

Berdasarkan fungsinya, sel saraf dapat dibedakan menjadi sel saraf sensorik, motorik, dan
perantara.

 Sel saraf sensorik, berfungsi untuk menerima rangsang dari reseptor (indera) dan
meneruskan ke otak atau sumsum tulang belakang.
 Sel saraf motorik, berfungsi untuk menyampaikan perintah dari otak atau sumsum
tulang belakang menuju reseptor (otot/kelenjar tubuh).
 Sel saraf perantara/asosiasi (interneuron), sebagai perantara neuron sensorik dengan
neuron motorik.

Mekanisme kerja sistem saraf adalah sebagai berikut. Rangsangan yang diterima reseptor

diteruskan menuju susunan saraf pusat. Dendrit membawa rangsang ke badan sel dan
diteruskan menuju neurit. Rangsang diteruskan ke dendrit sel saraf yang lain melalui sinapsis.
Pada sinapsis terdapat cairan neurotransmitter berupa asetilkolin. Asetilkolin dihasilkan oleh
ujung neurit yang berfungsi untuk menghantarkan impuls dari neurit ke dendrit sel saraf lain.
Kerja asetilkolin dapat terganggu oleh obat-obatan tertentu. Apabila kerja asetilkolin terganggu,
sinapsis tidak akan mampu menghantarkan impuls saraf. Akibatnya akan terjadi gangguan pada
koordinasi tubuh.
b. Susunan Saraf pada Manusia
Susunan saraf manusia terdiri dari susunan saraf sadar dan saraf tak sadar (otonom). Sistem
saraf sadar terdiri dari saraf pusat dan saraf tepi. Sedangkan sistem saraf tak sadar terdiri
dari saraf simpatik dan parasimpatetik. Untuk lebih jelasnya perhatikan bagan berikut.

1) Sistem Saraf Sadar


Sistem saraf sadar terdiri dari sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dan sistem
saraf tepi.
a) Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Otak manusia dapat

dibedakan menjadi otak besar (serebrum), otak kecil (serebelum) dan sumsum lanjutan
(medula oblongata). Otak besar mencakup 80% berat otak, permukaan luarnya disebut korteks
yang berwarna kelabu (disebut substansi grisea). Bagian ini tersusun dari enam lapisan sel
yang berfungsi sebagai penerima, menganalisis, dan menyimpan informasi. Oleh karena itu
bagian otak besar memegang peranan penting dalam aktivitas intelektual. Di bawah korteks
terdapat bagian medula yang berwarna putih (disebut substabsi alba). Medula terdiri dari
akson-akson yang bermielin dan banyak serabut saraf. Otak besar terbagi menjadi dua belahan
yang mengendalikan kegiatan tubuh yang berbeda. Belahan kiri mengendalikan kegiatan
tubuh sebelah kanan dan sebaliknya belahan kanan mengendalikan kegiatan tubuh sebelah kiri.

Fungsi otak besar yaitu untuk menyimpan memori, tempat berpikir, pusat kesadaran dan
kemauan, tempat menerjemahkan rangsangan yang masuk baik melalui pendengaran maupun
penglihatan, dan mengoordinasikan gerak serta mengendalikan semua kegiatan yang disadari.

Otak kecil berbentuk seperti kupu-kupu dan terletak di belakang otak besar. Otak kecil terdiri
dari dua belahan kanan dan kiri. Ada bagian yang berbentuk bulat (disebut vermis) dan seperti
sayap (disebut hemisfer). Fungsi otak kecil adalah mengatur gerak tak sadar dari otot-otot
rangka, bekerja sama dengan telinga dalam untuk mengatur keseimbangan tubuh, dan
mempertahankan postur tubuh.

Sumsum lanjutan merupakan penghubung antara otak kecil dan sumsum tulang belakang.
Terletak di bawah otak besar dan di depan otak kecil. Sumsum lanjutan tersusun dari
dua lapisan, yaitu lapisan berwarna putih di sebelah luar, sedangkan lapisan berwarna abu-abu
di sebelah dalam. Fungsinya adalah untuk mengatur kegiatan tubuh yang tidak disadari,
misalnya pengaturan suhu tubuh, denyut jantung, dan pernapasan.

Sumsum tulang belakang berbentuk silinder agak gepeng. Letaknya memanjang di antara
ruas-ruas tulang belakang dimulai dari ruas tulang leher sampai dengan tulang pinggang kedua.
Susunan sumsum tulang belakang sama dengan sumsum lanjutan. Lapisan luar berwarna
putih (substansi alba), terdiri dari dendrit dan neurit. Lapisan dalam berwarna abu-abu
(substansi grisea) yang banyak mengandung sel saraf. Kalau kamu perhatikan, susunan ini
berkebalikan dengan susunannya pada otak. Pada bagian dalam sumsum tulang belakang
terdapat bagian yang berbentuk seperti sayap kupu-kupu. Sayap ini ada yang mengarah ke
depan dan ada yang ke belakang. Bagian sayap yang mengarah ke depan disebut akar ventral
yang banyak mengandung sel saraf motorik. Sedangkan sayap yang mengarah ke belakang
disebut akar dorsal yang banyak mengandung sel saraf sensorik. Kedua sel saraf ini
dihubungkandengan saraf konektor (saraf penghubung).

Fungsi sumsum tulang belakang yaitu sebagai pusat gerak refleks, pengantar rangsangan
sensorik dari indera ke otak, dan membawa impuls motorik dari otak ke alat tubuh.
b) Sistem Saraf Tepi
Sistem saraf tepi merupakan saraf penghubung antara sistem saraf pusat dengan organ-organ
tubuh. Terdiri dari serabut-serabut saraf yang keluar dari otak dan sumsum tulang belakang,
yaitu 12 pasang serabut saraf otak dan 31 pasang serabut saraf sumsum tulangbelakang.
Serabut saraf yang keluar dari otak disebut sistem saraf kranial, arahnya menuju ke alat tubuh
atau otot tertentu. Serabut saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang disebut sistem saraf
spinal, arahnya menuju alat-alat tubuh misalnya kaki dan tangan.
2) Sistem Saraf Tak Sadar
Sistem saraf tak sadar/saraf otonom bekerja di luar pengaruh sistem saraf sadar. Sistem saraf
tak sadar terdiri dari sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik. Kedua saraf itu bekerja pada
efektor (alat/organ tubuh) yang sama, tetapi sifat kerjanya sering berkebalikan.

 Sistem Saraf Simpatetik. Terdiri dari 25 pasang simpul saraf/ganglion yang terletak di
sepanjang tulang belakang sebelah depan, dimulai dari ruas tulang leher sampai tulang
ekor. Masing-masing simpul saraf dihubungkan dengan sistem saraf spinal yang keluar
menuju organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal, pembuluh darah,
dan pencernaan. Perhatikan fungsi saraf simpatetik pada Tabel.
 Sistem Saraf Parasimpatetik Susunan saraf parasimpatetik ini berkaitan
dengan ganglion yang tersebar di seluruh tubuh. Sarafparasimpatetik menuju organ
yang dikendalikan oleh saraf simpatetik, sehingga bekerja pada efektor yang sama.
Fungsi sistem saraf parasimpatetik disajikan pada Tabel.

c. Gerak Sadar dan Gerak Refleks


Aktivitas sehari-hari seperti makan, lari, dan melompat merupakan gerak sadar, artinya gerakan
yang dikontrol oleh pusat kesadaran. Pada gerak itu, otakmu memberi perintah kepada otot-
otot untuk melakukan gerakan tersebut.Jalannya impuls pada gerak sadar adalah sebagai
berikut.
impuls dari reseptor → neuron sensorik → pusat saraf (otak) → respon efektor → neuron
motorik → efektor (gerak anggota tubuh)
Selain gerak sadar, kamu juga dapat melakukan gerakan spontan tanpa disadari yang disebut
gerak refleks. Contohnya bila tanganmu menyentuh benda panas tanpa sengaja, maka secara
spontan kamu akan menarik tangan menjauhi benda panas itu. Perhatikan jalannya impuls
pada gerak refleks berikut ini.
impuls dari reseptor→neuron sensorik → sumsum tulang belakang respon efektor →
neuron motorik → efektor
Impuls yang menyebabkan gerakan tersebut dibawa oleh sel saraf sistem eferen somatik dan
suatu jalur rangsangan pendek yang disebut lengkung refleks. Gerak refleks dibedakan menjadi
dua yaitu refleks kranial dan refleks spinal. Pada refleks kranial (yang terjadi di kepala, misalnya
bersin), jalur ini hanya melibatkan sebagian kecil dari otak. Namun pada refleks spinal (yang
terjadi di bagian tubuh lainnya), hanya sumsum tulang belakang yang terlibat secara aktif,
sedangkan otak tidak terlibat. Jalan impuls pada gerak refleks di atas melibatkan lengkung
refleks spinal.

2. Kelainan pada Sistem Saraf

 Epilepsi, merupakan kelainan pada sel-sel saraf di otak sehingga penderita tidak dapat
merespon berbagai rangsangan. Otot-otot rangka penderita sering berkontraksi secara
tidak terkontrol. Epilepsi dapat disebabkan karena cacat sejak kelahiran, kelainan
metabolisme, infeksi, adanya racun yang merusak sel-sel saraf, kecelakaan pada
kepala, dan tumor.
 Neuritis, adalah luka pada neuron atau sel-sel saraf. Disebabkan oleh infeksi,
kekurangan vitamin, karena pengaruh obat-obatan dan racun.
 Amnesia, atau penyakit lupa, yaitu sulit mengingat kejadiankejadian yang telah berlalu.
Amnesia dapat disebabkan karena goncangan batin atau cidera pada otak.
 Stroke, adalah kerusakan otak akibat pecah, penyempitan, atau tersumbatnya pembuluh
darah di otak. Strok sering terjadi pada orang yang menderita tekanan darah tinggi