Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

WIRIDAN SETELAH SHALAT

Ditulis Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aswaja


Dosen Pengampu : Subhan Ansori , M.Pd

Nama Penulis:
M. Zainul Ashfiyak 1745201008
Tutut Triono 1744201021
Wahyu Febrianto 1721201044

UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA BLITAR

MARET 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyusun makalah yang berjudul
“Wiridan Setelah Shalat” ini dengan baik dan tepat pada waktunya.

Dalam pembuatan makalah ini tentunya kami mendapatkan tantangan dan


hambatan. Oleh karena itu, kami mengucap terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Makalah yang berjudul “Wiridan Setelah Shalat” akan membahas Wiridan


Setelah Shalat dengan lebih kompleks dan disusun secara ringkas sehingga lebih
menyegarkan pembaca. Makalah ini juga dapat menjadi sumber inspirasi tentang
Wiridan Setelah Shalat.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan
untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi kita semua.

Blitar, 8 Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................... i


Daftar Isi ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 1
1.3 Tujuan .......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 3
2.1 pengertian wiridan setelah shalat .................................................... 3
2.2 landasan hukum / dalil tentang wiridan sesudah shalat .................... 3
2.3 hukum wiridan setelah shalat ....................................................... 6
2.4 Tata cara wiridan setelah shalat ................................................... 9
BAB III PENUTUP ....................................................................................... 10
3.1 Kesimpulan .................................................................................. 10
3.2 Saran .......................................................................................... 10
Daftar Pustaka ................................................................................................ 11

ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Salah satu ibadah yang ringan dilakukan tapi memiliki keutamaan yang
besar adalah dzikir. Banyak sekali ayat maupun hadits yang menjelaskan tentang
keutamaan ibadah ini. . Kita diperintahkan untuk berdzikir kepada Allah untuk
selalu mengingat akan kekuasaan dan kebesaranNya sehingga kita bisa terhindar
dari penyakit sombong dan takabbur.
Alangkah lebih indahnya apabila kita senantiasa selalu mengingat-Nya
dengan memperbanyak wirid (dzikir) setelah shalat. Ini semua dalam hal untuk
mendekatkan diri kita kepada Allah dan menunjukkan kehambaan kita. Berdzikir
dan berdo’a seharusnya tidak hanya menjadi ritual seremonial sesudah selesai salat.
Karena manusia hidup di dunia tidak lepas dari campur tangan Allah,
dimana manusia itu sangat tergantung kepada Allah dan tidak mungkin bisa berbuat
apa – apa tanpa mendapatkan izin dan Ridho-Nya, maka sangat penting kita
mempunyai kendaraan yang bisa mengantarkan menghadap langsung kepada
Allah, kendaraan itu adalah shalat, dzikir kepada Allah dengan tujuan mendekatkan
diri kepada Allah. Dzikir juga meliputi Do’a dan sembahyang (shalat) yang
merupakan satu pengertian bentuk komunikasi antara manusia dengan Tuhannya.
Berdasarkan hal tersebut maka disini kami akan membahas tentang
pengertian wiridan setelah shalat, landasan hukum / dalil tentang wiridan sesudah
shalat, hukum wiridan setelah shalat, tata cara wiridan setelah shalat.

1.2. Rumusan Masalah


Melihat latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan adalah
sebagai berikut.
1. Apa pengertian wiridan setelah shalat?
2. Apa saja landasan hukum / dalil tentang wiridan sesudah shalat?
3. Apa saja tata cara wiridan setelah shalat?

1.3. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.

1
1. Untuk mengetahui pengertian wiridan setelah shalat.
2. Untuk mengetahui landasan hukum / dalil tentang wiridan sesudah shalat.
3. Untuk mengetahui tata cara wiridan setelah shalat.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Wiridan Setelah Shalat


Wiridan setelah sholat adalah amalan atau dzikir yang dilakukan setelah sholat
dan dilakukan berulang-ulang. Seperti halnya pengertian wiridan, hanya saja
kegiatan ini dilakukan setelah sholat.
2.2 Landasan Hukum / Dalil Wiridan Setelah Shalat
1. Firman Allah subhanahu wa ta’aala:

‫للاُ أَذِنٍَ بُيُوتٍ فِي‬


ٍ ٍ‫ح اس ُم ٍهُ فِيهَا َويُذك ٍََر ت ُرفَ ٍَع أَن‬ َ ُ‫َواْلصَا ٍِل ِبالغُد ٍُِو فِيهَا لَ ٍهُ ي‬
ٍُ ‫س ِب‬
(cahaya itu) di rumrh-rumah yang di sana telah diperintahkan Alloh untuk
memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menycikan) nama-Nya
pada waktu pagi dan petang. (QS. An Nuur : 36)

ٍ‫اج ٍَد َمنَ ٍَع ِم َّمنٍ أَظلَ ٍُم َو َمن‬


ِ ‫س‬ ٍ ٍ‫س َعى اس ُم ٍهُ ِفيهَا يُذك ٍََر أَن‬
َ ‫للاِ َم‬ َ ‫ِإ ٍَّّل َيد ُخلُو َها أَنٍ لَ ُهمٍ كَانٍَ َما أُولَ ِئكٍَ َخ َرا ِبهَا ِفي َو‬
ٍَ‫عذَابٍ اْل ِخ َر ٍِة فِي َولَ ُهمٍ ِخزيٍ الدُّن َيا فِي لَ ُهمٍ َخائِ ِفين‬ َ ٍ‫ع َِظيم‬
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-
masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya? Mereka
itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka
mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat adzab yang berat. (QS. Al
Baqoroh : 114).

2. Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam

ٍ ‫الزبَي ٍِر أَبِي ع‬


‫َن‬ ُّ ُ‫س ِم ٍَع أَنَّ ٍه‬ َ ‫ّللاِ عَب ٍَد‬ ُّ ‫سو ٍُل كَانٍَ َيقُو ٍُل‬
ٍَّ ٍَ‫الزبَي ٍِر بن‬ ٍ ‫صلَّى‬
ُ ‫للاِ َر‬ َ ُ‫للا‬ٍ ‫علَي ٍِه‬ َ ‫سلَّ ٍَم إذَا َو‬
َ ‫سلَّ ٍَم‬ َ ٍ‫ص َََلتِ ٍِه ِمن‬
َ
‫إّل إلَهٍَ ٍَّل اْلعلَى بِصَوتِ ٍِه يَقُو ٍُل‬ ٍ ٍُ‫لَ ٍهُ ش َِريكٍَ ٍَّل َوح َده‬, ُ‫علَى َوه ٍَُو الحَم ٍُد َولَ ٍهُ ال ُملكٍُ لَ ٍه‬
ٍَّ ُ‫للا‬ َ ‫حَو ٍَل َو ٍَّل قَدِيرٍ شَيءٍ ُك ٍِل‬
‫إّل قُ َّو ٍةَ َو ٍَّل‬ ٍَّ ‫النع َم ٍةُ َل ٍهُ إ َّيا ٍُه‬
ٍَّ َ ‫إّل نَعبُ ٍُد َو ٍَّل ِبا‬
ٍَّ ِ‫ّلل‬ ِ ُ‫سنٍُ الثَّنَا ٍُء َولَ ٍهُ الفَض ٍُل َولَ ٍه‬
َ ‫إّل إلَهٍَ ٍَّل ال َح‬ ٍ ٍَ‫َولَوٍ الدَّينٍَ لَ ٍهُ ُمخ ِل ِصين‬
ٍَّ ُ‫للا‬
‫الكَافِ ُرونٍَ ك َِر ٍَه‬
Dari Abi Zubair, sesungguhnya ia pernah mendengar Abdulloh bin Zubair berkata :
“Adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam jika selesai salam dari sholatnya,
beliau berkata dengan suaranya yang tinggi (keras) “Laa ilaaha illallohu wahdahu
laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syaiin qodiir.
Wa laa haula wa laa quwwata illa billaahi wa laa na’budu ilaa iyyaahu, lahun
ni’matu wa lahul fadhlu wa lahuts tsanaa’ul hasanu, laa ilaaha illallohu
mukhlishina lahud diina walau karihal kaafiruun.” (HR, As Syafi’iy dalam
musnadnya).
Pengambilan dalil (istidlal) dari hadits diatas adalah, Bahwa Nabi shollallohu
‘alaihi wasallam pernah mengeraskan suara dalam berdzikir sesudah sholat,
meskipun hal itu jarang dilakukan oleh beliau.

ٍ‫سو ٍُل َقا ٍَل َقا ٍَل ه َُري َر ٍةَ أَبِي عَن‬ ٍ ‫صلَّى‬
ُ ‫للاِ َر‬ ٍ ‫علَي ٍِه‬
َ ُ‫للا‬ َ ‫سلَّ ٍَم‬ ٍ ‫ن ِعن ٍَد أَنَا َو َج ٍَّل ع ٍََّز‬
َ ‫للاُ َيقُو ٍُل َو‬ ٍِ ‫ِحينٍَ َمعَ ٍهُ َوأ َ َنا عَبدِي َظ‬
‫س ٍِه فِي ذَك ََرنِي َف ِإنٍ يَذك ُُرنِي‬ ِ ٍ‫ل فِي ذَك ََرنِي َوإِنٍ نَفسِي فِي ذَكَرت ُ ٍهُ نَف‬ ٍَ ‫ل فِي ذَكَرت ُ ٍهُ َم‬ ٍَ ‫ب َوإِنٍ ِمن ٍهُ َخيرٍ َم‬ ٍَّ َ‫إِل‬
ٍَ ‫ي اقتَ َر‬
‫شب ًرا‬ َ َ َ
ِ ٍُ‫ب َوإِنٍ ذ َِراعًا إِلي ٍِه تق َّربت‬ َ َ َ َ
ٍَّ ‫َهر َول ٍة أتيت ٍه يَمشِي أتانِي َو ِإنٍ بَاعًا إِلي ٍِه اقت َربتٍُ ذ َِراعًا إِل‬
ٍَ ‫ي اقت َر‬ َ َ ُ ُ َ َ ً َ

3
Dari Abi Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu- ia berkata : Rosululloh shollallohu ‘alaihi
wasallam bersabda : “Alloh –‘azza wa jalla- berfirman : “Aku menurut prasangka
hamba-Ku pada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku, jika ia
menyebut-Ku dalam hatinya maka Aku mengingatnya, dan jika ia mengingat
(menyebut)Ku dalam keramaian maka Aku menyebutnya dalam kelompok yang
lebih baik, dan jika ia mendekat pada-Ku sejengkal maka Aku mendekatinya satu
dziro’, dan jika mendekat pada-Ku satu dziro’ maka Aku mendekat padanya
sedepa, jika ia mendatangi-Ku seraya berjalan maka Aku mendatanginya sambil
bergegas.” (HR, Muslim).
Sisi pendalilan dari hadits diatas dalam konteks dzikir berjama’ah sesudah sholat
adalah; adanya anjuran berdzikir baik dalam kesendirian atau berjama’ah (di
keramaian).

ٍ ‫ير ٍِة َمولَى َو َّرادٍ ع‬


‫َن‬ َ ‫ن ال ُم ِغ‬ ٍِ ‫ب قَا ٍَل شُع َبةٍَ ب‬ َ ‫ن ُم َعا ِو َيةٍَ ِإلَى ال ُم ِغ‬
ٍَ َ ‫ير ٍةُ َكت‬ ٍِ ‫سف َيانٍَ أ َ ِبي ب‬ ُ ٍَّ‫سو ٍَل أَن‬ ٍ ‫ص َّلى‬
ُ ‫للاِ َر‬ ٍ ‫علَي ٍِه‬
َ ُ‫للا‬ َ
َّ‫سل ٍَم‬ ُ َ َّ
َ ‫سل ٍَم إِذا ص َََلةٍ ك ٍُِل ُدبُ ٍِر فِي َيقو ٍُل كَانٍَ َو‬ َ
َ ‫للاُ إِ ٍَّّل إِلهٍَ ٍَّل‬ َ َ َ
ٍ ٍُ‫على َوه ٍَُو الحَم ٍُد َول ٍهُ ال ُملكٍُ ل ٍهُ ل ٍهُ ش َِريكٍَ ٍَّل َوح َده‬ َ َ ‫ك ٍُِل‬
ٍ‫ي َو ٍَّل أَع َطيتٍَ ِل َما َمانِ ٍَع ٍَّل اللَّ ُه ٍَّم قَدِيرٍ شَيء‬ ٍَ ‫ال َج ٍُّد ِمنكٍَ الج ٍَِد ذَا يَنفَ ٍُع َو ٍَّل َمنَعتٍَ ِل َما ُمع ِط‬
Dari Al Warrod –pembantu Mughiroh- bin Syu’bah, ia berkata : Al Mughiroh
pernah menulis untuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan : Bahwa Rosululloh shollallohu
‘alaihi wasallam disetiap selesai sholatnya beliau membaca :” Laa ilaaha illallohu
wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syaiin
qodiir. Allohumma laa maani’a limaa a’thoita walaa mu’thiya limaa mana’ta
walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu”. (HR, Bukhori, Muslim).

ٍَّ‫عبَّاسٍ ابنٍَ أَن‬


َ ‫ي‬ ٍ ‫ت َرف ٍَع أَنٍَّ أَخبَ َرهٍُ عَن ُه َما‬
ٍَ ‫للاُ َر ِض‬ ٍِ ‫ف ِحينٍَ بِالذِك ٍِر الصَّو‬ ٍُ ‫اس يَنص َِر‬ ٍُ َّ‫ع َلى كَانٍَ ال َمكت ُوبَ ٍِة ِمنٍ الن‬ َ
ٍ ‫ص َّلى النَّ ِب‬
‫ي ِ عَه ٍِد‬ ٍ ‫ع َلي ٍِه‬
َ ُ‫للا‬ َ ‫سلَّ ٍَم‬
َ َ‫و‬ ٍ
‫ل‬
َ ‫ا‬َ ‫ق‬‫و‬َ ٍُ‫ن‬‫اب‬ ‫اس‬
ٍ ‫ب‬
َّ ‫ع‬
َ ٍُ‫ت‬ ‫ُن‬
‫ك‬ ٍ
‫م‬
ُ َ ‫ل‬‫ع‬َ ‫أ‬ ‫ا‬َ ‫ذ‬‫إ‬
ِ ‫وا‬ُ ‫ف‬‫َر‬
َ ‫ص‬‫ان‬ ٍَ‫ك‬ ‫ل‬
ِ َ ‫ذ‬ ‫ب‬ ‫ا‬
ِ َِ ‫ذ‬‫إ‬ ُ ٍ
‫ه‬ ُ ‫ت‬‫ع‬ ‫م‬
ِ ‫س‬
َ
Bahwasannya Ibnu Abbas –rodhiyallohu ‘anhuma- mengkhabarkan kepadanya :
“Sesungguhnya mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang selesai dari sholat
maktubah adalah terjadi sejak masa Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, Ibnu Abbas
berkata : “aku mengetahui bahwa jika mereka selesai sholat melakukan demikian
karena aku mendengarnya.” (HR, Bukhori, Muslim).

Dalam konteks hadits di atas Al Hafizh An Nawawi menjelaskan :

‫ض قَالَ ٍهُ ِل َما َد ِليلٍ َهذَا‬


ٍُ ‫ف َبع‬ َّ ‫َب أ َ َّن ٍهُ ال‬
ٍِ َ‫سل‬ ٍُّ ‫ت َرف ٍُع يُستَح‬
ٍِ ‫ب َوالذِك ٍِر ِبالتَّك ِبي ٍِر الصَّو‬ َ ‫ال َمكت ُو َب ٍِة‬, ٍ‫ِمنٍَ اِستَ َح َّب ٍهُ َو ِم َّمن‬
ٍَ ‫ع ِق‬
ٍَ‫اَل َّظا ِه ِري حَزمٍ بنٍُ ال ُمتَأ َ ِخ ِرين‬

Ini adalah dalil bagi pendapat sebagian salaf : Bahwasannya disunnahkan


mengeraskan suara bacaan takbir, dzikir, sesudah sholat fardhu. Dan diantara para
ulama dari kalangan mutaakhkhirin yang menganjurkan hal tersebut adalah Ibnu
Hazm Azh Zhohiri. (Syarah Nawawi Ala Muslim, vol 5, hal 85).

ٍ‫سو ٍُل كَانٍَ قَا ٍَل ثَوبَانٍَ عَن‬ ٍ ‫صلَّى‬


ُ ‫للاُ َر‬ ٍَّ ‫علَي ٍِه‬
َ ُ‫ّللا‬ َ ‫سلَّ ٍَم‬ ٍَ ‫أَنتٍَ اللَّ ُه ٍَّم َوقَا ٍَل ث َ ََلثًا استَغفَ ٍَر ص َََلتِ ٍِه ِمنٍ انص ََر‬
َ ‫ف إِذَا َو‬
‫س ََل ٍُم‬
َّ ‫س ََل ٍُم َو ِمنكٍَ ال‬ َ ‫ام الج َََل ٍِل ذَا ت َ َب‬
َّ ‫اركتٍَ ال‬ ٍِ ‫اْلك َر‬
ِ ‫َو‬
Dari Tsauban, ia berkata: “Adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam ketika
beliau selesai dari sholatnya beliau beristighfar tiga kali dan berdo’a “Allohumma
antas Salaamu, waminkas salaamu, tabaarokta Dzal Jalaali wal Ikroomi” (HR,
Muslim).

4
ٍ ‫سو ٍِل عَنٍ ه َُري َر ٍةَ أَبِي ع‬
‫َن‬ ُ ‫للاِ َر‬ٍ ‫صلَّى‬ َ ُ‫للا‬ٍ ‫علَي ٍِه‬َ ‫سلَّ ٍَم‬
َ ‫ح َمنٍ َو‬ ٍَ َّ‫سب‬ ٍ ‫للاَ َوح َِم ٍَد َوث َ ََلثِينٍَ ث َ ََلثًا ص َََلةٍ ك ٍُِل ُدبُ ٍِر فِي‬
َ َ‫للا‬ ٍ
ً‫للاَ َو َكبٍَّ ٍَر َوثَ ََل ِثينٍَ ث َ ََلثا‬ ً َ َ َ َ
ٍ ‫للاُ إِ ٍَّّل إِلَهٍَ ٍَّل ال ِمائ َ ٍِة ت َ َما ٍَم َوقا ٍَل َوتِسعُونٍَ تِسعَةٍ فت ِلكٍَ َوث ََل ِثينٍَ ث ََلثا‬
ٍ ٍُ‫لَ ٍهُ ش َِريكٍَ ٍَّل َوح َده‬
ُ‫ع َلى َوه ٍَُو الحَم ٍُد َولَ ٍهُ ال ُملكٍُ لَ ٍه‬ َ ‫غ ِف َرتٍ قَدِيرٍ شَيءٍ ك ٍُِل‬ُ ‫ال َبح ٍِر َز َب ٍِد ِمث ٍَل كَانَتٍ َو ِإنٍ َخ َطا َيا ٍُه‬
Dari Abi Huroiroh, dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam : “Barangsiapa
disetiap habis sholatnya bertasbih 33 kali, memuji Alloh 33 kali, dan bertakbir 33
kali, (jumlah) semuanya menjadi 99 kali dan untuk menggenapkan menjadi seratus
kali ia membaca; ‘Laa ilaaha illallohu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa
lahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syaiin qodiir’ maka dosanya diampuni, meskipun
menyamai buih dilautan” (HR, Muslim).

ٍ‫سو ٍُل َقا ٍَل َقا ٍَل ه َُري َر ٍةَ أَ ِبي عَن‬ ٍ ‫صلَّى‬
ُ ‫للاِ َر‬ َ ُ‫للا‬ٍ ‫علٍَي ٍِه‬ َ ‫سلَّ ٍَم‬َ ‫س َمنٍ َو‬ ٍَ ‫ب ِمنٍ كُربَ ٍةً ُمؤ ِمنٍ عَنٍ نَ َّف‬ ٍِ ‫س الدُّنيَا ك َُر‬ ٍَ َّ‫للاُ نَف‬
ٍ
ُ‫ب ِمنٍ كُر َبةًٍ عَن ٍه‬ ٍِ ‫س ٍَر َو َمنٍ ال ِق َيا َم ٍِة َيو ٍِم ك َُر‬ َّ َ ‫ي‬ ‫ى‬ َ ‫ل‬‫ع‬ َ ‫ِر‬
ٍ ‫س‬ ‫ع‬ ‫م‬ ٍ
‫ر‬ ‫س‬ ‫ي‬ ٍ
‫للا‬
ُ َ َّ َ ُ ِ ٍ
‫ه‬ ‫ي‬ َ ‫ل‬‫ع‬َ ‫ي‬ ‫ف‬
ِ َ‫ا‬‫ي‬ ‫ُّن‬
‫د‬ ‫ال‬ ٍ
‫ة‬
ِ َ ِ َ َ َ َ َ ً ِ ‫ُم‬
‫ر‬ ‫خ‬ ‫اْل‬ ‫و‬ ‫ن‬
ٍ ‫م‬ ‫و‬ ٍ
‫ر‬ َ ‫ت‬‫س‬ ‫ا‬‫م‬ ‫ل‬‫س‬
ٍُ‫ستَ َره‬ َ ُ‫للا‬
ٍ ‫للاُ َواْل ِخ َر ٍِة الدُّنيَا فِي‬ ٍ ‫ن فِي َو‬ ٍِ ‫ن فِي العَب ٍُد كَانٍَ َما العَب ٍِد عَو‬ َ
ٍِ ‫سلَكٍَ َو َمنٍ أ ِخي ٍِه عَو‬ َ ‫س َط ِري ًقا‬ ٍُ ‫فِي ٍِه يَلتَ ِم‬
‫س َّه ٍَل ِعل ًما‬ َ ُ ٍ
‫للا‬ ُ ٍ
‫ه‬ َ ‫ل‬ ٍ
‫ه‬
ِِ ‫ب‬ ‫ا‬ ً ‫ق‬‫ي‬ ‫ر‬ ِ َ
‫ط‬ ‫ى‬ َ
‫ل‬ ‫إ‬ ٍ
‫ة‬
ِ ِ َّ ‫ن‬‫ج‬َ ‫ال‬ ‫ا‬‫م‬ ‫و‬ ٍ
‫ع‬
َ َ َ َ ‫م‬ َ ‫ت‬‫اج‬ ‫م‬
ٍ ‫و‬ َ ‫ق‬ ‫ي‬ ‫ف‬ ‫ت‬
ٍ
ِ َ ِ ‫ي‬‫ب‬ ‫ن‬
ٍ ‫م‬ ٍ
‫ت‬ ِ ‫و‬‫ي‬ ‫ب‬
ُُ ِ ٍ
‫للا‬ ٍَ‫ون‬ ُ ‫ل‬‫ت‬ ‫ي‬ ٍ
‫اب‬
َ َ ِ ِ َ ‫ت‬‫ك‬ ٍ
‫للا‬ ُ ٍ
‫ه‬ َ‫سون‬ ُ ‫َار‬َ ‫َو َيتَد‬
َ
ٍ‫علي ِهمٍ نَ َزلتٍ إِ ٍَّّل بَينَ ُهم‬ َ ُ
َ ‫س ِكينَ ٍة‬ َّ ‫شيَت ُهمٍ ال‬ َ ُ
ِ ‫الرح َم ٍة َوغ‬ َّ ُ َ
َّ ٍ‫للاُ َوذك ََرهُمٍ ال َم ََلئِك ٍَة َو َحفت ُهم‬ ٍ ٍ‫بِ ٍِه َب َّطٍأ َو َمنٍ ِعن َدهٍُ فِي َمن‬ َ
َ ٍ‫سبُ ٍهُ ِب ٍِه يُس ِرعٍ لَم‬
ُ‫ع َملُ ٍه‬ َ َ‫ن‬
Dari Abi Huroiroh, ia berkata : Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa melapangkan kesusahan seorang mukmin satu permasalahan didunia,
maka Alloh melapangkan satu kesusahan baginya di akhirat, dan barangsiapa
memudahkan kesulitan seseorang maka Alloh memudahkan baginya urusan dunia
dan akhirat, barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim maka Alloh menutupi
(kesalahan)nya di dunia dan di akhirat, dan Alloh senantiasa menolong hamba-Nya
selama hamba tersebut menolong saudaranya, dan barangsiapa menempuh jalan
dalam rangka mencari ilmu maka Alloh memudahkan baginya jalan menuju sorga,
Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah dari rumah-rumah Alloh
(masjid) seraya membaca kitab Alloh dan saling mempelajarinya (tadaarus)
diantara mereka, melainkan turun ketenangan atas mereka, dicurahkan rahmat bagi
mereka, para malaikat mengerumuni mereka dan Alloh menyebut (membanggakan)
mereka dihadapan makhluk yang ada disisi-Nya.” (HR, Muslim).
Sisi pendalilan (wajhul istidlal) dari hadits diatas adalah adanya anjuran berkumpul
di masjid untuk membaca al qur’an dan tadaarus. Dan dzikir dapat diqiyaskan
dengan membaca al qur’an.

ٍ‫ي ه َُري َر ٍةَ أَ ِبي عَن‬ ٍَّ ُ‫ي ِ ِإلَى الفُقَ َرا ٍُء جَا ٍَء َقا ٍَل عَن ٍه‬
ٍَ ‫ّللاُ َر ِض‬ ٍ ‫صلَّى ال َّن ِب‬ َ ُ‫للا‬ٍ ‫علَي ٍِه‬ َ ‫ب َفقَالُوا َو‬
َ ‫سلَّ ٍَم‬ ٍَ ‫ور أَه ٍُل ذَ َه‬ٍِ ُ ‫ِمنٍ ال ُّدث‬
َ
‫ت اْلم َوا ٍِل‬ ٍِ ‫َل بِالد ََّرجَا‬ ٍَ ُ‫يم الع‬ٍِ ‫يم َوالنَّ ِع‬ٍِ ‫صلونٍَ ال ُم ِق‬ ُّ َ ُ‫صو ُمونٍَ نُص َِلي َك َما ي‬ ُ َ‫صو ٍُم َك َما َوي‬ ُ َ‫أَم َوالٍ ِمنٍ فضلٍ َول ُهمٍ ن‬
َ َ
ٍَ‫ص َّدقُونٍَ َويُجَا ِهدُونٍَ َويَعتَ ِم ُرونٍَ ِبهَا يَ ُحجُّون‬ َ َ‫سبَقَكُمٍ َمنٍ أَد َركت ُمٍ أ َ َخذت ُمٍ ِإنٍ أُح َِدثُكُمٍ أ َ ٍَّل َقا ٍَل َويَت‬ َ ٍ‫أَحَدٍ يُد ِرككُمٍ َولَم‬
َ َ َ َ َّ
ٍ‫سبِ ُحونٍَ ِمثل ٍهُ ع َِم ٍَل َمنٍ إِ ٍّل ظه َراني ٍِه بَينٍَ أنت ُمٍ َمنٍ خي ٍَر َوكُنت ُمٍ بَع َدكُم‬ َ َ ُ ‫ف َوتُكَبِ ُرونٍَ َوتَح َمدُونٍَ ت‬ ٍَ ‫ث َ ََلثًا ص َََلةٍ ك ٍُِل َخل‬
ٍَ َ‫ض َنا َفقَا ٍَل بَينَ َنا َفاختَلَف َنا َوث‬
ٍَ‫َلثِين‬ ُ ‫ح بَع‬ ٍُ ‫س ِب‬ َ ُ‫َف َرجَعتٍُ َوث َ ََلثِينٍَ أَربَعًا َونُك َِب ٍُر َوث َ ََلثِينٍَ ث َ ََلثًا َو َنح َم ٍُد َوث َ ََلثِينٍَ ث َ ََلثًا ن‬
َ َ َ ُ َ
‫سبحَانٍَ تقو ٍُل فقا ٍَل إِلي ٍِه‬ ُ ِ‫ّللا‬
ٍَّ ‫ّللِ َوالحَم ٍُد‬ ٍ ‫َوث َ ََلثِينٍَ ث َ ََلثًا ك ُِل ِهنٍَّ ِمن ُهنٍَّ يَكُونٍَ حَ تَّى أَكبَ ٍُر َو‬
ٍَّ ِ ُ‫للا‬
Dari Abi Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu- ia berkata : Orang-orang faqir datang
menemui Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, mereka berkata; orang-orang yang
berhata menuju derajat yang tinggi dan An Na’iimil Muqiim dengan harta (mereka),
mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka puasa seperti puasa kami, dan
mereka memiliki kelebihan, dengan harta mereka dapat menunaikan hajji, umroh,
mereka dapat berjihad (dengan harta) dan mereka dapat bersedekah.” Nabi
menjawab : “Maukah kalian aku tunjukkan (amal) jika kalian mau melakukan maka
kalian dapat menyusul orang-orang yang mendahului kalian (dalam kebaikan) dan
tidak seorangpun sesudah kalian dapat menyusul kalian, maka kalian menjadi orang

5
yang terbaik diantara orang-orang sebelum dan sesudah kalian, kecuali orang-orang
yang mau mengamalkan hal yang sama (dengan kalian). Bertasbih, bertahmid, dan
bertakbirlah kalian setiap selesai sholat sebanyak 33 kali.” Terjadi perbedaan
diantara kami, sebagian ada yang berkata : Kami bertasbih 33 kali, bertahmid 33
kali, bertakbir 34 kali. Maka kami kembali kepada Nabi shollallohu ‘alaihi
wasallam dan beliau bersabda : “Ucapkanlah olehmu -Subhanalloh Walhamdu
Lillah Wallohu Akbar- hingga jumlah dari kesemuanya tigapuluh tiga.” (HR,
Bukhori, Muslim).
Dari beberapa hadits diatas, dan tentunya masih cukup banyak hadits-hadits lain
yang berkaitan dengan masalah dzikir (wirid) ba’da sholat juga dzikir berjama’ah,
kita dapati adanya anjuran untuk membaca setidaknya dzikir atau wirid ma’tsuroh
yang dilakukan setiap selesai sholat, juga kita mendapati adanya anjuran berkumpul
untuk berdzikir baik di masjid atau di tempat lain.

2.3 Hukum Wiridan Setelah Shalat

a. Menurut Madzhab Malikiyah

ٍُ‫ٍو ِمثلُه‬،ٍ
َ ‫ارهُم‬ ُ َ‫شع‬ ِ ٍُ‫اٍ؛ٍْلَنَّه‬
ِ ‫َار‬ ً ‫ٍونَه‬َ ‫س ِهمٍلَي ًَل‬ ِ ‫يرٍ)ٍفِيٍح ََر‬ ِ ِ‫َار ِسٍ َبحرٍ(ٍ ِبالتَّكب‬ ِ ‫ٍ)ٍوح‬ َ ‫ٍ(ٍرف ُعٍصَوتٍِ ُم َرابِط‬ َ ‫َاز‬َ ‫(ٍوٍ)ٍج‬ َ
ٍ‫ع ِة ٍَّل‬
َ ‫ٍمنٍال َج َما‬ ِ ‫ي‬ َ ‫أ‬ ٍ ٍ
‫س‬ ِ ‫م‬ َ
‫خ‬ ‫ٍِال‬
‫ت‬ ‫ا‬ ‫و‬ َ
َ َّ‫ل‬ ‫ص‬ ‫ٍَال‬‫د‬‫ع‬‫ب‬ ٍ ‫ع‬
َ ُِ َ‫ق‬‫ا‬ ‫و‬ ‫ٍُال‬‫ح‬ ‫ي‬ ‫ب‬
ِ ‫س‬ َّ ‫ت‬‫ال‬ ‫ٍُو‬
َ ِ‫ل‬‫ي‬‫ل‬ ‫ه‬ َّ ‫ت‬‫اٍال‬ َ ‫ذ‬ َ
‫ك‬ ‫ٍو‬،ٍ َّ
َ ِ َ ِ ِ َ ِ ِ ِ ِ ُ ‫َرف‬
‫ة‬ ‫ي‬ ‫ب‬‫ل‬ ‫ت‬ ‫ال‬ ‫ب‬‫ٍِو‬
‫د‬ ‫ي‬ ‫ع‬ ‫ٍال‬‫ير‬‫ب‬ ‫ك‬ َ ‫ت‬‫ب‬ٍُ ‫ه‬ ‫ع‬
َّ َ
َ ٍَ‫علىٍال ُمص َِلينَ ٍأوٍالذا ِك ِرين‬
ٍ‫ٍ(ٍوك ُِر َه‬ َ ُ ‫ٍمنٍالجَه ِرٍالتَّش ِو‬
َ ٍ‫يش‬ َ
ِ ‫َبٍإنٍل ِز َم‬ َ ‫ٍُو َوج‬
َ ‫ضل‬ َ
َ ‫غي ِرٍذَ ِلكَ ٍأف‬ َ ٍ‫ٍوالس ُِّرٍفِي‬،
َ ٍِ‫ال ُمنفَ ِرد‬
.ٍ‫ير‬ِ ‫يبٍ)ٍأَيٍالتَّغَنِيٍ ِبالتَّك ِب‬ ُ ‫التَّط ِر‬

(Dan) boleh (mengeraskan suara bagi Murobith/pemimpin pasukan) dan


penjaga pantai (membaca takbir) dalam wilayah penjagaan mereka baik
malam atau siang hari, karena hal tersebut menjadi tanda bagi mereka. Dan Begitu
juga dengan takbir hari raya, talbiyah, tahlil, tasbih yang terjadi setelah sholat lima
waktu dalam berjama’ah bukan ketika sholat sendiri. Sedang membaca pelan pada
selain yang tersebut lebih baik, bahkan wajib (memelankan suara) jika kerasnya
suara dapat mengakibatkan gangguan bagi orang yang sholat atau orang yang
berdzikir. (dan dimakruhkan) melagukan bacaan takbir. (Hasyiyatud Dasuqi Alas
Syarhil Kabir, vol 7. hal 179)

b. Menurut Madzhab Syafi’iyah

ٍ ٍ‫اٍوصَفٍتٍجَه ًرا‬ َ ‫يٍإ َمامٍذَك ََرٍللاٍَبِ َم‬ ُّ َ ‫ٍَوأ‬


َ ‫ومٍ َقال‬
ِ ‫غي ِرٍال َمأ ُم‬ َ ‫ٍو‬َ ‫َل َم ِام‬ ِ ‫اٍمنَ ٍال ُمبَاحٍِ ِل‬ ِ َ‫ٍ)ٍو َهذ‬َ ‫(ٍقالٍالشَّافِ ِع ُّي‬
ٍ ٍ‫ان‬ ‫ي‬‫ف‬ ‫خ‬‫ي‬‫ٍو‬
ِ َِ ُ َ ِ ‫ة‬ٍ َ
‫ََّل‬‫ص‬ ‫ٍال‬ َ‫ن‬ ‫ٍم‬ ‫اف‬ ‫ر‬
ِ ِ َ ِ ‫ص‬ ‫ن‬‫ٍَاّل‬
ِ ‫د‬‫ع‬ ‫ب‬ ٍ ‫للا‬
َ َ َ َ ٍ‫ا‬ ‫ُر‬
‫ك‬ ‫ذ‬‫ي‬ٍ ‫ن‬ َ ‫أ‬ ٍ ‫وم‬‫م‬ ‫أ‬ ‫م‬ ‫ال‬ ‫ٍو‬
ِ ُ َ َ ِ َِ ِ ُ‫ام‬ ‫م‬ ‫َل‬ ‫ل‬ ٍ ‫ار‬ َ ‫ت‬ ‫خ‬َ ‫أ‬ ‫ٍو‬ ‫ن‬ ‫س‬ ‫ح‬َ َ
َ َ ٍِ‫س ًّراٍأوٍ ِبغَي ِره‬
‫ف‬ ِ ٍ‫أو‬
ُ َ َ َ
ِ ‫ٍمنهٍُفيَجه ََرٍ َحتَّىٍ َي َرىٍأنَّهٍُقدٍتُعُ ِل َم‬
ٍُّ ‫ٍمنهٍُث َّمٍيُس‬
‫ِر‬ َّ
ِ ‫بٍأنٍيُتَعَل َم‬ َ َ
ُ ‫ٍإّلٍأنٍيَكُونَ ٍإ َما ًماٍيَ ِج‬ َّ ‫الذِك َر‬

(Imam As Syafi’iy berkata) Dan ini adalah termasuk perkara mubah


bagi imam dan selain makmum. Dan siapapun imam yang berdzikir

6
menyebut Allah dengan dzikir yang telah aku sifati atau dengan dzikir yang lain,
baik dengan keras maupun pelan, maka hal itu baik. Dan aku memilih untuk imam
dan makmum hendaknya mereka berdzikir kepadaAllah setelah selesai
dari sholat seraya memelankan dzikir-nya, kecuali bagi imam yang berkewajiban
dijadikan belajar (oleh makmum) maka imam mengeraskan suaranya sehingga sang
imam berpendapat bahwa makmum sungguh telah belajar darinya, baru kemudian
imam memelankan (dzikirnya). (Al Umm, vol 1. hal 127)

َ ‫صَلَ ِة‬
ٍ ٍ‫ٍوجَا َءتٍفِي ِه‬،ٍ َّ ‫بٍال ِذك ِرٍبَعدٍَال‬ َ ٍ‫صَلَ ِة)ٍأَج َم َعٍالعُلَ َما ُء‬
ِ ‫ع َلىٍاِستِحبَا‬ َّ ‫ابٍاْلَذك َِارٍبَعدٍَال‬
ُ َ‫(ب‬
َ َ
.‫اٍمنٍأه ِمهَا‬ ً َ َ َ َ ُ
ِ ‫ٍفنذك ُُرٍط َرف‬،ٍ‫ٍمنهٍ ُمتعَ ِددَة‬ ِ ‫أَحَادِيثٍكثِي َرةٍص َِحيحَةٍفِيٍأن َواع‬
َ َ ُ

(Bab dzikir ba’da shalat) Para ulama telah bersepakat


disunnahkannya dzikir ba’da shalat, dan telah ada hadits-hadits yang cukup banyak
dan sohih (yang menjelaskan) macam-mazam dzikir. (Al Adzkar, vol 1. hal 70)

ِ ‫ارةٍُشَر ِحيٍٍِلل ُعبَا‬


ٍ ٍ‫بٍ َم َعٍ َمتنِ ِه‬ َ ‫ٍإّلٍ ِل ُمقتَض‬
َ َ‫ٍو ِعب‬ َّ ‫ار‬ ِ ‫ٍواْلَذك َِار‬
ُ ‫ٍاْلس َر‬ َ ‫سنَّةٍُفيٍأَكث َ ِرٍاْلَد ِعيَ ِة‬ َ ‫فَأَج‬
ُّ ‫َابٍ ِبقَو ِل ِهٍال‬
‫س ُّروا‬ َ َّ
َ ‫ومينَ ٍفإذاٍتَعَل ُمواٍٍأ‬ ِ ‫ٍاْل َما ُمٍ ِلتَع ِل‬
ِ ‫يمٍال َمأ ُم‬ َ
ِ ‫سَل ِم‬ َّ ‫اٍويَجه َُرٍبِ ِه َماٍبَعدٍَال‬
َ ‫س ًّر‬ ِ ٍ‫ٍوالذِك ُر‬َ ‫سنُّ ٍال ُّدعَا ُء‬
َ ُ‫َوي‬

Ibnu Hajar Al Haitami ketika ditanya tentang mengeraskan suara


dalam berdzikirsesudah shalat hingga mengganggu orang yang sedang shalat,
beliau menjawab dengan pernyataannya : “Yang sunnah dalam banyak do’a
dan dzikir adalah dengan memelankan suara kecuali ada hal yang mendorong
(untuk mengeraskan). Redaksi penjelasanku atas kitab Al ‘Ubaab berikut matannya
adalah : “Dan disunnahkan berdo’a dan dzikir dengan pelan, sedang Imam dapat
mengeraskan do’a dan dzikir sesudah salam untuk mengajari makmum,
selanjutnya jika makmum telah belajar maka mereka (imam dan makmum)
memelankan (dzikir-nya). (Al Fatawa Al Fiqhiyah Al Kubro, vol 1. hal 70)

ٍ ،ٍَ‫عنٍعَائِشَة‬ ٍَ ٍِ‫حَارث‬ ِ ‫ٍر َوىٍعَبدٍُللاٍِبنُ ٍال‬ َ ‫صَلَ ِةٍ َفقَد‬ َّ ‫ٍمنَ ٍال‬ ِ ‫س ََل ِم‬ َّ ‫س ََل ِمٍ َماٍيُقَالٍُ َبعدٍَال‬ َّ ‫ٍوأ َ َّماٍبَعدٍَال‬:ٍ َ ‫فَصل‬
َ
ٍ :ٍَ‫ٍمنٍصََلتِ ِهٍقال‬ َ ِ ‫ح ُدكُم‬ َ َّ
ٍَ ‫سل َمٍأ‬ َ
َ ٍ‫ٍإِذا‬:ٍَ‫سل َمٍقال‬ َ َّ َ ‫ٍو‬ َ ‫علي ِه‬ َ َ ٍُ‫صلىٍللا‬ َّ َ ٍِ‫سولٍَللا‬ ُ ‫ٍر‬ َّ‫ن‬ َ
َ ‫ٍأ‬،ٍ‫ٍّللاٍُعَنهَا‬ َّ ‫ٍ َر ِض َي‬
ٍ ٍ َّ‫ٍالز َبي ِرٍأَن‬
ُّ ُ‫ٍُّللاٍِبن‬ َّ ‫امٍٍ َو َر َوىٍعَبد‬ ٍِ ‫اْلك َر‬ ِ ِ ‫ٍو‬
َ ‫ل‬ َ
‫ََل‬ ‫ج‬ ‫اٍال‬ َ ‫ذ‬ ٍ‫ا‬ ‫ي‬
َ ٍ َ‫ت‬ ‫ك‬ ‫ار‬َ ‫ب‬
َ َ ‫ت‬ ٍ،ٍ ‫م‬
ُ ‫َل‬َ ‫س‬ َّ ‫ٍال‬ َ‫ك‬ ‫ن‬ ‫م‬ِ ‫ٍو‬،ٍ
َ ‫م‬
ُ َ
‫َل‬ ‫س‬َّ ‫ٍال‬ َ‫ت‬ ‫ٍاللَّ ُه َّمٍأَن‬
ٍ ٍَ‫ٍوح َد ُه ٍَّلٍش َِريك‬ َ ُ‫ٍ”ٍأَش َهدٍُأَن ٍَّلٍ ِإلَهٍَ ِإ َّّلٍللا‬:ٍِ‫صٍَل َوات‬ َّ ‫سلَّ َمٍكَانَ ٍ َيقُولٍُ ِفيٍأَد َب ِارٍال‬ َ ‫ٍو‬ َ ‫علَي ِه‬ َ ٍُ‫صلَّىٍللا‬ َ ٍ‫النَّ ِب َّي‬
ُ
ٍ ‫خبَ َري ِنٍيَب َدأٍبِ ٍُد‬ ٍَ ‫َبٍأنٍ َيج َم َعٍفِيٍ ُدعَائِ ِهٍبَينَ ٍال‬ َ ُّ ‫ٍويُستَح‬ َ
َ ‫علَىٍك ُِلٍشَيءٍقدِير‬ َ ٍ‫ٍُوه َُو‬ َ ‫ٍولَهٍُالحَمد‬ َ ُ‫ٍلَهٍُلَهٍُال ُملك‬
ٍ ٍ‫ٍمنٍدِين‬ ِ َ ‫ء‬ ‫َا‬
‫ش‬ ٍ‫ا‬ ‫م‬
َ ٍِ َ‫ك‬ ‫ل‬َ ‫ذ‬ٍ‫ى‬ َ
‫ل‬ ‫ع‬
َ ٍَ
‫د‬ ‫ي‬‫ز‬َِ ‫ي‬ ٍ ‫ن‬َ ‫ٍأ‬ ‫َب‬
َّ ‫ح‬ َ ‫ٍأ‬ ‫ن‬ ‫إ‬ ٍ
ِ َّ‫م‬ ُ ‫ث‬ ٍ،ٍ‫َا‬ ‫ه‬ ‫َن‬‫ع‬ ٍ ‫ٍّللا‬
ُ َّ َ ِ َ ‫ي‬ ‫ض‬ ‫ٍر‬،ٍ َ ‫َة‬ ‫ش‬ ‫ئ‬ ‫َا‬
ِ ِ ِ َّ ‫ع‬ ٍ ‫َاء‬ ‫ع‬ ‫د‬ ُ ‫ب‬ ٍ ‫م‬ ُ ‫ث‬ٍ،ٍ ‫ر‬
ِ ‫ٍالز َبي‬ ُّ ‫َاءٍاب ِن‬ ِ ‫ع‬
ٍ ٍ‫سٍأنٍٍيَجه ََر‬ َ َ
َ ‫ٍف ََلٍ َبأ‬،ٍ‫اسٍال ُّدعَا َء‬ ِ َّ‫ٍو َّلٍ َيجه َُرٍإِ َّّلٍأنٍيَكُونَ ٍإِ َما ًماٍيُ ِريدٍُتَع ِلي َمٍالن‬ َ َ ‫ٍويُس ُِّرٍبِ ُدعَائِ ِه‬،ٍَ َ
َ ‫ٍ َودُنيَاٍفعَل‬
ٍ ٍ‫ٍ َمعنَاهٍٍُ َّلٍتَجهَر‬:ٍ‫ٍقَالٍَالشَّافِ ِع ُّي‬.ٍ]‫اء‬ ِ ‫َاٍ[اْلس َر‬ ِ ‫ه‬ ‫ب‬
ِ ٍ ‫ت‬ ‫ف‬
ِ ‫ا‬ َ
‫خ‬ ُ ‫ت‬ ٍ َ
‫ّل‬ ‫ٍو‬َ َ‫ك‬ ‫ت‬
ِ َ
‫ََل‬ ‫ص‬ ‫ب‬ِ ٍ ‫َر‬‫ه‬ ‫ج‬ َ ‫ت‬ ٍ ‫ّل‬ َ ‫ٍو‬:ٍ‫ى‬
َ َ ‫ل‬ ‫ِب ِهٍقَالٍَللاٍُتَعَا‬
َ َ
‫ٍوّلٍتُخافِتٍبِهَاٍإِخفاتاٍّلٍيُس َم ٍُع‬،ٍ َ َ َ ‫ٍبِص َََلتِكَ ٍجَه ًراٍّلٍيُس َم ُع‬َ

Fasal : Adapun setelah salam, yakni tentang apa yang dibaca setelah
salamnya shalat, maka Abdulloh bin Al Harits meriwayatkan dari ‘Aisyah –
rodhiyallohu ‘anha- bahwasannya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam
bersabda : “Jika seseorang dari kalian selesai salam dari sholatnya hendaknya
ia berdo’a ; “Allohumma Antas Salaam Waminkas Salaam Tabaarokta Yaa Dzal
Jalaali Wal Ikrrom”. Abdulloh bin Az Zubair meriwayatkan; Bahwasannya Nabi
shollallohu ‘alaihi wasallam disetiap selesai dari shalat-nya beliau membaca :
“Asyhadu an laa ilaaha illallohu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa
lahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syaiin qodiir.” Dan dianjurkan (bagi orang yang
selesai shalat) menggabungkan dua hadits tersebut dalam do’anya, dimulai dengan

7
riwayat Ibnu Zubair kemudian riwayat ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha-, selanjutnya
jika ia ingin menambahkan-nya dengan do’a yang ia inginkan baik berupa urusan
agama atau urusan dunia maka ia dapat melakukannya. Dan hendaknya ia
memelankan suara do’anya dan tidak mengeraskannya, kecuali ia menjadi imam
yang bertujuan ingin mengajari manusia dengan do’a tersebut, maka tidaklah
mengapa mengeraskan do’anya. Alloh Ta’aala berfirman : “dan janganlah engkau
mengeraskan suaramu dalam sholat dan janganlah (pula) merendahkannya “
(Al Isroo’ : 110) Imam As Syafi’iy berkata : “Maksudnya adalah; Jangan engkau
mengeraskan suaramu dalam shalat dengan terlalu keras hingga tidak dapat
didengar, dan janganlah (pula) engkau merendahkannya dengan terlau rendah
hingga tidak didengar.” (Al Haawi Fi Fiqhis Syafi’iy, vol 2. hal 147)

c. Menurut Madzhab Hanabilah / Hanbaliyah

ٍ ٍ‫ار‬ َ ‫اّلستِغ َف ِارٍ َك َم‬


ٍِ َ‫اٍو َردٍَفِيٍاّلَخب‬ ِ ‫ٍو‬َ ‫صَلَ ِة‬ َّ ‫بٍال‬ َ ‫ع ِقي‬ َ َ‫َبٍذِك ُرٍللاٍِتَعَال‬
َ ٍ‫ىٍوال ُّدعَا ُء‬ ُّ ‫)ٍويُستَح‬ َ ‫(فَصل‬
َّ َ‫ٍ َّلٍإلَه‬:ٍ‫سلَّ َمٍيَقُولٍُفِيٍ ُدبُ ِرٍك ُِلٍص َََلةٍ َمكت ُوبَة‬
ٍ ٍُ‫ٍإّلٍللا‬ َ ‫ٍو‬ َ ‫علَي ِه‬َ ٍُ‫صلَّىٍللا‬ َ ٍ‫ٍكَانَ ٍالنَّ ِب ُّي‬:َ‫فَ َر َويٍاَل ُم ِغي َرةٍُ َقال‬
َ
ٍ ٍ،ٍ‫علىٍك ُِلٍشَيءٍقدِير‬ َ َ ‫ٍولهٍُالحَمد‬،ٍ
َ ٍ‫ٍوه َُو‬،ٍُ َ َ ُ‫ٍلَهٍُال ُملك‬،ٍُ‫َوح َدهُ ٍَّلٍش َِريكَ ٍلَه‬
،‫ٍِمنكَ ٍال َجدٍُّ”ٍمتفقٍعليه‬ ِ ‫ٍو َّلٍيَنفَ ُعٍذَاٍالجَد‬،ٍ َ َ‫ٍو َّلٍ ُمع ِط َيٍ ِل َماٍ َمنَعت‬،ٍَ َ‫اللَّ ٍُه َّم ٍَّلٍ َمانِ َعٍ ِل َماٍأَع َطيت‬

(Fasal) Dan disunnahkan berdzikir kepada Allah, berdo’a dan istighfar sesudah
sholat sebagaimana yang ada dalam beberapa hadits. Al Mughiroh meriwayat-kan,
ia berkata : “Adalah Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- disetiap selesai sholat
maktubah beliau membaca : “Laa ilaaha illallohu wahdahu laa syariika lahu,
lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syaiin qodiir, Allohumma laa
maani’a limaa a’thoita walaa mu’thiya limaa mana’ta walaa yanfa’u dzal jaddi
minkal jaddu” (Muttafaq ‘Alaih) (As Syarhul Kabiir Libni Qudamah, vol 1. hal 70)

ٍ ٍ،ٍ‫اٍو َردٍَبِ ِهٍاْلَثَ ُر‬


َ ‫ٍمنٍذَ ِلكَ ٍ َم‬ِ ‫ب‬ ُّ ‫ٍويُستَ َح‬،ٍَ ‫يبٍص َََلتِ ِه‬ َ ‫ع ِق‬َ ٍ‫ٍوال ُّدعَا ُء‬،ٍ‫ى‬
َ ‫ٍّللاٍِتَعَا َل‬
َّ ‫َبٍذِك ُر‬ َ ‫فَصل‬
ُّ ‫ٍويُستَح‬:ٍ
ٍ ٍ:ٍ‫ََلةٍ َمكت ُوبَة‬ ٍَ ‫سلَّ َمٍ َيقُولٍُفِيٍ ُدبُ ِرٍك ُِلٍص‬ َ ‫علَي ِه‬
َ ‫ٍو‬ َ ٍُ‫صلَّىٍللا‬ َ ٍ‫ٍ{ٍكَانَ ٍالنَّ ِب ُّي‬:ٍَ‫ٍ َقال‬،ٍُ‫يرة‬ َ ‫اٍر َوىٍال ُم ِغ‬
َ ‫ِمثلٍُ َم‬
َ َّ َ
ٍ ٍ‫ٍالٍل ُه َّمٍّلٍ َمانِ َع‬،ٍ‫علىٍك ُِلٍشَيءٍقدِير‬ َ َ ٍ‫ٍوه َُو‬،ٍُ
َ ‫ٍولهٍالحَمد‬،ٍُ َ ُ َ ُ َ
َ ُ‫ٍلهٍال ُملك‬،ٍ‫ٍوح َدهٍُّلٍش َِريكَ ٍله‬ َ َّ َ‫َّلٍإلَه‬
َ ُ‫ٍإّلٍللا‬
ِ ‫ٍو َّلٍيَنفَ ُعٍذَاٍالجَد‬،ٍ
ٍَ ‫ٍِمنكَ ٍال‬
}ٍُّ‫جد‬ َ َ‫ٍو َّلٍ ُمع ِط َيٍ ِل َماٍ َمنَعت‬،ٍ َ َ‫ِل َماٍأَع َطيت‬

(Fasal) Dan disunnahkan berdzikir kepada Allah, dan


berdo’a sesudah sholatnya, dan dianjurkan pula hendaknya
diantara dzikir dan do’a yang dibaca terdapat bacaan yang telah ada dalam atsar,
seperti bacaan dan do’a yang diriwayatkan Al Mughiroh, ia berkata : “Adalah
Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- disetiap selesai shalat maktubah beliau
membaca : “Laa ilaaha illallohu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku
walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syaiin qodiir, Allohumma laa maani’a limaa
a’thoita walaa mu’thiya limaa mana’ta walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu”
(Al Mughni, vol. 2, hlm. 471)

Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulah bahwa hukum dzikir berjamaah
setelah shalat fardhu tidaklah haram (bid’ah) sebagaimana pendapat sebagian
kecil umat Islam. Bahkan penjelasan di atas mengisyaratkan bahwa hukum dzikir
berjamaah setelah shalat fardhu itu hukumnya sunnah.

8
2.4 Tata Cara Wiridan Setelah Shalat
Kurang sempurna apabila orang yang telah menunaikan ibadah shalat, setelah
salam Ia lantas meninggalkan tempat shalatnya tanpa melakukan dzikir (wiridan)
terlebih dahulu. Jadi alangkah lebih baiknya apabila ketika selesai mengerjakan
shalat kita lantas melakukan Dzikir (wiridan).
Dzikir (wirid) dari segi Bahasa berarti “ingat”. Secara istilah berarti mengingat
Allah dengan memperbanyak kalimat-kalimat Thoyyibah sesuai dengan yang
diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat, dan orang-orang shaleh.

oleh sebab itu kita perlu memperhatikan adab (tata cara) berdzikir (wiridan)
setelah shalat berikut ini :
a. Ikhlas hanya mengharap ridho Allah, membersihkan amal dari campuran sesuatu.
Artinya menghadirkan makna berdzikir dalam hati, sesuai dengan tingkatan dalam
musyahadah.
b. Berdzikir dengan dzikir (wirid) yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, karena ini
merupakan ibadah.
c. Mencoba memahami maknanya dan khusyuk dalam melakukannya.
d. Tetap duduk ditempat shalat, karena tempat tersebut asti sudah terbukti
kesuciannya dan sangat dianjurkan.
e. Untuk lebih memberikan penghayatan makna dzikir (wirid) kepada Allah maka
alangkah lebih baiknya sambil memejamkan mata.
f. Memakai wewangian.

9
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Wirid adalah bacaan yang terdiri atas dzikir, doa, dan amalan-amalan
lainnya yang dikutip dari dari ayat-ayat Al-qur’andan hadist, yang membiasakan
membacanya (mengamalkanya). Wirid biasanya dibaca pada setiap selesai solat.
Adapun susunan wirid yang diamalkan umat islam beragam. Namun hal itu
bukanlah masalah, karena pada intinya bacaan yang di bacakan adalah sama. Kita
juga diharapakan mampu melakukan wirid ini ketika setelah shalat dengan tidak
melupakan adab ataupun tata cara melakukannya. Dan alangkah lebih baiknya
wiridan itu dilakukan di saat setelah melaksanakan shalat. Karena pada saat itu lah
kita dalam keadaan suci dan berada dalam kondisi masih mendekatkan diri kepada
Allah.
3.2 Saran

10
Tertuju kepada pembaca, dalam penulisan makalah ini tidak tertutup
kemungkinan terdapat kekurangan baik dari segi isi maupun penulisannya. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan untuk pembuatan
makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

 Qayyim, Ibnul. 2014. Faedah Dzikir yang Menakjubkan. Pustaka Ibnu ‘Umar
 Hilya, abu. 2012. Dalil dzikir berjamaah wiridan ba’da shalat fardu. Yogyakarta:
PT. Grafindo Persadal

11