Anda di halaman 1dari 10

HAKEKAT PENDIDIKAN MIPA

Pendidikan Suatu proses untuk membantu manusia mengembangkan dirinya sehingga mampu
menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka serta pendekatan kreatif
tanpa kehilangan identitas dirinya.
1. Tujuan Pendidikan Nasional
a. Meningkatkan kualitas manusia
Perwujudan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa.yaitu: Berbudi pekerti yang luhur, berkepribadian, Berdisiplin, Bekerja
keras, Tangguh,Bertanggungjawab, Mandiri, Cerdas, Sehat jasmani dan rohani
b. Pendidikan MIPA
MIPA sebagai suatu kumpulan mata pelajaran, hendaknya jangan hanya dipandang sebagai :
 Sekumpulan informasi hasil kajian orang terdahulu yang harus diteruskan kepada peserta didik,
tetapi harus pula dipandang.
 Sebagai alat pendidikan yang potensial dapat memberikan uriman (sumbangan) nyata untuk
perwujudan manusia Indonesia yang utuh.
c. Implikasi dari Ciri MIPA
 Pendidikan MIPA menghendaki pendekatan – pendekatan tertentu dan metode – metode tertentu
yang sesuai, serta sarana yang mendukung untuk memantapkan berbagai konsep MIPA pada
anak didik
 membuat mereka mampu berpikir kritis
 menggunakan nalar (akal budi) mereka secara efektif dan efisien.
 menanamkan benih sikap ilmiah pada diri mereka

Dengan ciri perilaku ini, lulusan sekolah menengah atas akan merupakan potensi tenaga kerja
berkualitas yang merupakan sumber daya manusia bagi pembangunan.

6. HAKEKAT TUGAS GURU DAN TUGAS GURU MIPA


Dalam upaya menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional seperti yang selalu
dikemukakan, seorang guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar melainkan juga sebagai
pendidik.
Misi utama guru sebagai pengajar ialah mengupayakan tercapainya tujuan – tujuan instruksional
mata pelajaran yang diajarkannya, sedangkan misi utama guru.
Sebagai pendidik ialah mengupayakan terwujudnya perkembangan kepribadian peserta
didik dalam dimensi yang lebih luas untuk memberikan iuran (sumbangan) nyata bagi
pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Sejalan dengan pikiran pokok di atas, tugas guru MIPA tidak hanya sekedar:
 Mengupayakan diperolehnya berbagai pengetahuan dan ketrampilan dalam MIPA dikalangan
peserta didik.
 Lebih penting dari itu, seorang guru MIPA hendaknya dapat mendorong berkembangnya
pemahaman dan penghayatan akan prinsip – prinsip dan nilai – nilai IPA dikalangan peserta
didik dalam rangka menumbuhkan daya nalar, cara berpikir logis, sistematis dan kreatif,
kecerdasan, serta sikap kritis, terbuka dan ingin tahu.
Sehubungan dengan itu, seorang guru MIPA
 Hendaknya tidak sekedar menyampaikan informasi/ceritera tentang MIPA kepada peserta didik
tetapi betul – betul membimbing para siswanya berbuat sesuai dengan prinsip – prinsip dan nilai
– nilai yang terkandung dalam MIPA.
 Dengan kata lain, guru MIPA hendaknya dapat membawa peserta didiknya untuk menjalani proses
MIPA itu sendiri melalui kegiatan pengamatan, percobaan, pemecahan masalah, diskusi dengan
teman – temannya dan sebagainya.
 Dapat menumbuhkan kesenangan belajar MIPA dikalangan peserta didik. Ini akan besar
pengaruhnya terhadap pencapaian hasil yang diharapkan dari pengajaran MIPA
 Hendaknya memiliki rasa percaya diri yang tinggi sehingga tidak segan mengakui keterbatasan
pengetahuannya tentang hal – hal tertentu kepda peserta didik tanpa mengabaikan
tanggungjawabnya membantu mereka menemukan jawaban terhadap persoalan – persoalan yang
diajukan.

A. Pendidikan
Suatu proses untuk membantu manusia mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi
segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka serta pendekatan kreatif tanpa kehilangan
identitas dirinya.
Tujuan Pendidikan Nasional
2.1 Meningkatkan kualitas manusia
Perwujudan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ø Berbudi pekerti yang luhur
Ø Berkepribadian
Ø Berdisiplin
Ø Bekerja keras
Ø Tangguh
Ø Bertanggungjawab
Ø Mandiri
Ø Cerdas
Ø Sehat jasmani dan rohani

Pendidikan MIPA
MIPA sebagai suatu kumpulan mata pelajaran, hendaknya jangan hanya dipandang sebagai :
1) Sekumpulan informasi hasil kajian orang terdahulu yang harus diteruskan kepada peserta didik,
tetapi harus pula dipandang
2) Sebagai alat pendidikan yang potensial dapat memberikan uriman (sumbangan) nyata untuk
perwujudan manusia Indonesia yang utuh.

Implikasi dari Ciri MIPA


1. Pendidikan MIPA menghendaki pendekatan – pendekatan tertentu dan metode – metode tertentu
yang sesuai, serta sarana yang mendukung untuk memantapkan berbagai konsep MIPA pada anak didik,
Ø membuat mereka mampu berpikir kritis,
Ø menggunakan nalar (akal budi) mereka secara efektif dan efisien.
Ø menanamkan benih sikap ilmiah pada diri mereka
Dengan ciri perilaku ini, lulusan sekolah menengah atas akan merupakan potensi tenaga kerja
berkualitas yang merupakan sumber daya manusia bagi pembangunan.

2.3 Hakikat Tugas Guru dan Guru MIPA

Dalam upaya menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional seperti yang selalu dikemukakan,
seorang guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar melainkan juga sebagai pendidik.
· Misi utama guru sebagai pengajar ialah mengupayakan tercapainya tujuan – tujuan instruksional
mata pelajaran yang diajarkannya, sedangkan misi utama guru
· Sebagai pendidik ialah mengupayakan terwujudnya perkembangan kepribadian peserta didik dalam
dimensi yang lebih luas untuk memberikan iuran (sumbangan) nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan
nasional.
Sejalan dengan pikiran pokok di atas, tugas guru MIPA tidak hanya sekedar
· Mengupayakan diperolehnya berbagai pengetahuan dan ketrampilan dalam MIPA dikalangan
peserta didik.
· Lebih penting dari itu, seorang guru MIPA hendaknya dapat mendorong berkembangnya
pemahaman dan penghayatan akan prinsip – prinsip dan nilai – nilai IPA dikalangan peserta didik dalam
rangka menumbuhkan daya nalar, cara berpikir logis, sistematis dan kreatif, kecerdasan, serta sikap
kritis, terbuka dan ingin tahu.
Sehubungan dengan itu, seorang guru MIPA
· Hendaknya tidak sekedar menyampaikan informasi/ceritera tentang MIPA kepada peserta didik
tetapi betul – betul membimbing para siswanya berbuat sesuai dengan prinsip – prinsip dan nilai – nilai
yang terkandung dalam MIPA.
Dengan kata lain, guru MIPA hendaknya
· Dapat membawa peserta didiknya untuk menjalani proses MIPA itu sendiri melalui kegiatan
pengamatan, percobaan, pemecahan masalah, diskusi dengan teman – temannya dan sebagainya.
Masih berkaitan dengan sifat dikemukakan di atas, seorang guru MIPA hendaknya
· Dapat menumbuhkan kesenangan belajar MIPA dikalangan peserta didik. Ini akan besar
pengaruhnya terhadap pencapaian hasil yang diharapkan dari pengajaran MIPA.
Disamping itu, seorang guru MIPA
· Hendaknya memiliki rasa percaya diri yang tinggi sehingga tidak segan mengakui keterbatasan
pengetahuannya tentang hal – hal tertentu kepda peserta didik tanpa mengabaikan tanggungjawabnya
membantu mereka menemukan jawaban terhadap persoalan – persoalan yang diajukan.
I. Pendekatan dan metode pendidikan mipa
A. Pengertian Pendekatan dan Metode
pendekatan pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh guru dalam menyajikan suatu
materi yang memungkinkan siswa belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan guru
dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
B. Macam-macam Pendekatan dan metode pembelajaran
B.1. Macam-macam pendekatan
Pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran MIPA antara lain sebagai
berikut :

1. Pendekatan Tujuan Pembelajaran


Pendekatan ini berorientasi pada tujuan akhir yang akan dicapai. Sebenarnya pendekatan
ini tercakup juga ketika seorang guru merencanakan pendekatan lainnya, karena suatu
pendekatan itu dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran. Semua pendekatan dirancang untuk
keberhasilan suatu tujuan.

2. Pendekatan Pengorganisasian Konsep


Pendekatan pengorganisasian konsep dari D. Ausubel adalah suatu pendekatan mengajar
yang didasari oleh teori bahwa belajar adalah suatu proses mental, yang mengembangkan cara
berpikir kritis, logis dan kreatif.
Menurut D. Ausubel belajar berlangsung pada struktur kognitif yang ada.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pengorganisasian konsep berarti siswa
dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya.
Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus.
Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep.

3. Pendekatan Lingkungan
Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses
belajar mengajar. Lingkungan digunakan sebagai sumber belajar. Untuk memahami materi yang
erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sering digunakan pendekatan lingkungan.

4. Pendekatan Inkuiri
Pendekatan inkuiri adalah suatu proses dimana dalam suatu kegiatan siswa dan guru
secara berkelanjutan menjadi seorang penanya, menjadikan siswa sebagai orang yang selalu
ingin mencari sebab dalam pikirannya terdapat pertanyaan dan ingin tahu.
Penggunaan pendekatan inkuiri berarti membelajarkan siswa untuk mengendalikan situasi yang
dihadapi ketika berhubungan dengan dunia fisik yaitu dengan menggunakan teknik yang
digunakan oleh para ahli peneliti ( Dettrick, G.W., 2001 ). Pendekatan inkuiri dibedakan menjadi
inkuiri terpempin dan inkuiri bebas atau inkuiri terbuka. Perbedaan antara keduanya terletak
pada siapa yang mengajukan pertanyaan dan apa tujuan dari kegiatannya.
Dalam pembelajaran MIPA berpikir dengan proses inkuiri dapat terlihat melalui kegiatan yang
lebih luas lagi seperti, kegiatan berikut:
a. Mengobservasi objek atau fenomena tertentu,
b. Mengemukakan hasil pengamatan,
c. Menggunakan alat ukur yang tepat,
d. Mengembangkan keterampilan menggunakan alat laboratorium, dll.

5. Pendekatan Penemuan ( Discovery )


Penggunaan pendekatan penemuan berarti dalam kegiatan belajar mengajar siswa diberi
kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan konsep tentang fenomena ilmiah. Penemuan
tidak terbatas pada menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Pada umumnya materi yang akan
dipelajari sudah ditentukan oleh guru, demikian pula situasi yang menunjang proses pemahaman
tersebut. Siswa akan melakukan kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan hal yang
akan ditemukan.

6. Pendekatan Proses
Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan
siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan,
dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak
kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam
kegiatan belajar.

7. Pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving Approach)


Pendekatan pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan melalui
praktikum atau pengamatan. Dalam pendekatan ini ada dua versi. Versi pertama siswa dapat
menerima saran tentang prosedur yang digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan
menyusun serangkaian pertanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah. Versi kedua, hanya
masalah yang dimunculkan, siswa yang merancang pemecahannya sendiri. Guru berperan hanya
dalam menyediakan bahan dan membantu memberi petunjuk.
Dengan pendekatan pemecahan masalah, menekankan agar pembelajaran memberikan
kemampuan bagaimana cara memecahkan masalah yang objektif dan tahu benar apa yang
dihadapi. Kesimpulan yang secara mendasar dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena
sepanjang orang hidup, ia akan dihadapkan pada masalah.

8. Pendekatan Terpadu
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang intinya memadukan dua unsur atau lebih
dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pemaduan dilakukan dengan menekankan pada prinsip
keterkaitan antar satu unsur dengan unsur lain, sehingga diharapkan terjadi peningkatan
pemahaman yang lebih bermakna dan peningkatan wawasan karena satu pembelajaran
melibatkan lebih dari satu cara pandang.

9. Pendekatan Tingkat Perkembangan Dari Piaget


Pendekatan tingkat perkembangan ini dirintis berdasarkan teori Belajar dari Piaget yang
merupakan salah satu pendekatan yang beranggapan bahwa belajar adalah memerulukan
pengembangan aspek kognitif sebagai bekal untuk dapat memecahkan persoalan yang dihadapi
siswa dalam kehidupannya dan untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik.

10. Pendekatan Induktif-Deduktif


Pendekatan Induktif-Deduktif data pembelajaran adalah salah satu pendekatan yang
berorientasi pada paham bahwa belajar pada dasarnya adalah pengembangan intelektual.
Pengembangan intelektual seseorang akan berkembang melalui dua cara yaitu:
Secara Induktif: Jika teori yang diperoleh menjadi generalisasi dan faktor-faktor empiris. Dengan
pendekatan induktif orang mulai dari teori-teori kecil yang telah diuji berkali-kali kemudian
disusun ke atas menjadi suatu generalisasi.
Secara deduktif: Teori dibangun dengan dasar logis dan kemudian diuji berkali-kali melalui
eksperimen yang sifatnya ditentukan oleh teori tersebut.
Dalam pendekatan induktif sering orang menggabungkan dengan pendekatan inkuiri menjadi
pendekatan induktif inkuiri untuk dapat menemukan sesuatu, “discover” sesuatu yang baru.
Suatu kegiatan “discovery” ialah suatu kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa
sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya
sendiri.

11. Pendekatan Open-Ended


Pembelajaran dengan pendekatan Open-ended diawali dengan memberikan masalah
terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran harus mengarah dan mengantarkan siswa dalam
menjawab masalah dengan banyak cara serta mungkin juga dengan banyak jawaban yang benar,
sehingga merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan
sesuatu yang baru.
Pendekatan Open-ended memberikan kesempatan kepada siswa untuk menginvestigasi berbagai
strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya untuk
mengelaborasi permasalahan. Tujuannya tiada lain adalah agar kemampuan berpikir matematika
dan sains siswa dapat berkembang secara maksimal dan pada saat yang sama kegiatan-kegiatan
kreatif dari setiap siswa terkomunikasikan melalui proses pembelajaran. Inilah yang menjadi
pokok pikiran pembelajaran dengan pendekatan Open-ended, yaitu pembelajaran yang
membangun kegiatan interaktif antara MIPA dan siswa sehingga mendorong siswa untuk
menjawab permasalahan melalui berbagai strategi.
Pembelajaran dengan pendekatan Open-ended mengharapkan siswa tidak hanya mendapatkan
jawaban tetapi lebih menekankan pada proses pencarian suatu jawaban.
B.II. Macam-macam Metode Pendidikan dan Pembelajaran.

Beberapa metode yang sering digunakan dalam pembelajaran adalah :

1. Metode Ceramah Bermakna


Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Metode ini
banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus serta
tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang menggunakan metode ceramah
terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta
mencatat tanpa komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal
dalam diri siswa terdapat mekanisme psikologis yang memungkinkannya untuk menolak
disamping menerima informasi dari guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan
mengarahkan diri.
Salah satu ciri adanya metode ceramah bermakna yaitu guru mengajukan pertanyaan-
pertayaan yang membuat siswa berfikir. Selain itu, guru harus mempersiapkan pertanyaan yang
akan diajukan dan guru harus mempertimbangkan dimana pertanyaan itu harus digunakan.
2. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan
mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya pikir.
Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam mengemukakan pokok – pokok pikirannya
dapat terdeteksi ketika menjawab pertanyaan. Metode ini dapat menjadi pendorong bagi siswa
untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut pada berbagai sumber belajar. Metode ini akan lebih
efektif dalam mencapai tujuan apabila sebelum proses pembelajaran siswa ditugasi membaca
materi yang akan dibahas.

3. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah cara pembelajaran dengan memunculkan masalah. Dalam diskusi
terjadi tukar menukar gagasan atau pendapat untuk memperoleh kesamaan pendapat. Dengan
metode diskusi keberanian dan kreativitas siswa dalam mengemukakan gagasan menjadi
terangsang, siswa terbiasa bertukar pikiran dengan teman, menghargai dan menerima pendapat
orang lain, dan yang lebih penting melalui diskusi mereka akan belajar bertanggung jawab
terhadap hasil pemikiran bersama.
Dalam pembelajaran, yang dimaksud dengan metode diskusi adalah terlibatnya suatu kelompok
belajar yang saling berinteraksi secara verbal di kelas. Interaksi tersebut dapat berlangsung
antara siswa antara siswa dengan siswa atau guru.

4. Metode Belajar Kooperatif


Dalam metode ini terjadi interaksi antar anggota kelompok dimana setiap kelompok
terdiri dari 4-5 orang. Semua anggota harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok
ditunjang oleh aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu. Model
belajar kooperatif yang sering diperbincangkan yaitu belajar kooperatif model jigsaw yakni tiap
anggota kelompok mempelajari materi yang berbeda untuk disampaikan atau diajarkan pada
teman sekelompoknya.

5. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses
kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat-alat bantu
pengajaran seperti benda-benda miniatur, gambar, perangkat alat-alat laboratorium dan lain-lain.
Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat
fungsinya yang multi proses. Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat
menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain
peragaan konsep serta fakta yang memungkinkan.
Secara garis besar persiapan guru untuk menggunakan metode demonstrasi ini sama
dengan metode eksperimen. Perbedaanya antara lain adalah pada metode demonstrasi tiap
percobaan tidak dilakukan oleh setiap siswa tetapi satu atau dua siswa, dan yang lain sebagai
pengamat.

6. Metode Ekspositori atau Pameran


Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan menggunakan benda dua
dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan gagasan atau sebagai alat untuk
membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.
Metode ini sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan interaksi pada guru
sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Tetapi pada metode ekspositori dominasi guru
banyak berkurang, karena tidak terus bicara saja. Ia berbicara pada awal pelajaran, menerangkan
materi dan contoh soal, dan pada waktu yang diperlukan saja.

7. Metode Karyawisata/Widyamisata
Metode karyawisata/widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa
mempelajari materi pelajaran di luar kelas. Karyawisata memanfaatkan lingkungan sebagai
sumber belajar, dapat meransang kreativitas siswa, informasi dapat lebih luas dan aktual, siswa
dapat mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi karyawisata memerlukan waktu yang
panjang dan biaya, memerlukan perencanaan dan persiapan yang tidak sebentar.

8. Metode Penugasan
Metode ini berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.
Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, meransang untuk belajar lebih banyak,
membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah
sendiri informasi. Tetapi dlam metode ini sulit mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak
bekerja secara mandiri.

9. Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan.
Dengan melakukan eksperimen, siswa menjadi akan lebih yakin atas suatu hal daripada hanya
menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah,
dan hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa. Metode ini paling tepat apabila
digunakan untuk merealisasikan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri atau pendekatan
penemuan.

10. Metode Bermain Peran


Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah –
olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep.
Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami
konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama.

11. Metode Pemecahan Masalah


Metode pemecahan masalah digunakan guru bila bertujuan untuk mengembangkan
proses berpikir siswa melalui pemberian masalah yang harus dipecahkan. Tergantung dari sifat
masalah yang dibawa ke dalam kelas, teknik pemecahan masalahnya dapat dilaksanakan secara
berkelompok atau secara individual, dapat dikerjakan di dalam kelas atau sebagai tugas di luar
kelas.

12. Metode Penemuan


Kata penemuan sebagai metode mengajar merupakan penemuan yang dilakukan siswa.
Dalam belajarnya ia menemukan sendiri sesuatu yang baru. Ini tidak berarti yang ditemukannya
benar-benar baru, sebab sudah diketahui yang lain.
Dengan metode ini, siswa didorong oleh rasa ingin tahu (coriousity) untuk mengeksplorasi dan
belajar sendiri. Pemahaman suatu konsep didapat siswa melalui proses. Dengan metode ini lebih
ditekankan kepada proses penemuan konsep dan bukan produknya.
Secara umum individu mengorganisasikan pikirannya hingga ia menemukan pola piker yang
baru yang membawa ia lebih dekat pada keseimbangan internal dan eksternal.