Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS BREAK EVEN POINT DALAM MENENTUKAN HARGA SEWA KAMAR

PADA HOTEL RANGGONANG SEKAYU

Sunanto, S.E., M.M., Ak., CA


Dosen Program Studi Akuntansi Politeknik Sekayu
Email : nanz_plbang@yahoo.com
Hp. 081315876844

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendekatan break even point dalam menentukan harga sewa
kamar pada Hotel Ranggonang Sekayu. Penulis memperoleh data dengan cara wawancara dan teknik
dokumentasi. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh, diketahui bahwa perusahaan belum melakukan
pengklasifikasian biaya ke dalam biaya tetap dan biaya variabel. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan
penulis, dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2016 perusahaan sebaiknya menaikkan harga sewa kamar
sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian. Analisis break even point untuk data tahun 2013 volume
penjualan perusahaan telah mencapai break even point, pada tahun 2014 dan 2015 volume penjualan perusahaan
belum mencapai break even point karena dapat dlihat pada laporan laba rugi perusahaan untuk tahun 2014 dan
2015 perusahaan mengalami kerugian. Margin keamanan perusahaan pada tahun 2013 sebesar 66,85%, pada
tahun 2014 sebesar 22,20% dan tahun 2015 sebesar 26,23%, sedangkan untuk tahun 2016 perusahaan
merencanakan laba sebesar Rp 618.477.315, maka volume penjualan yang harus dicapai perusahaan pada tahun
2016 untuk kamar superior sebesar 3.533 unit kamar, kamar deluxe sebesar 3.645 unit kamar dan kamar suite
sebesar 204 unit kamar.
Kata Kunci : Break Even Point, Harga Sewa Kamar, Margin Keamanan, Perencanaan Laba

1. Pendahuluan harga sewa kamar, dalam hal membuat


1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul perencanaan penjualan dan laba, perusahaan juga
Meningkatnya dunia pariwisata saat ini di harus menentukan harga karena harga merupakan
indonesia menunjukkan arti pentingnya sebuah salah satu keputusan terpenting dalam pemasaran.
hotel. Semakin banyaknya hotel menunjukkan Sehingga untuk memperoleh laba yang diinginkan
bahwa dunia industri perhotelan semakin strategis maka perusahaan harus menentukan harga sewa
untuk menarik karyawan-karyawan baru di kamar yang tepat dan perencanaan laba di masa
berbagai tempat, sekaligus mengurangi tingkat yang akan datang.
pengangguran. Untuk mengantisipasi kedatangan Hotel Ranggonang adalah salah satu
wisatawan dalam negeri maupun luar negeri, maka Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak
suatu daerah memerlukan fasilitas pendukung dibidang jasa, yang merupakan suatu aset
seperti akomodasi untuk tempat menginap salah kebanggaan masyarakat Musi Banyuasin (MUBA).
satunya adalah hotel yang menyediakan fasilitas- Untuk memenuhi target pencapaian laba yang
fasilitas yang berkelas. maksimal Hotel Ranggonang mengadakan
Pada bidang usaha baik jasa maupun kebijakan dalam penetapan harga jual sewa kamar.
dagang tujuan suatu perusahaan adalah mencari Hotel Ranggonang menetapkan harga jual sewa
keuntungan untuk kelangsungan hidup kamar berdasarkan harga jual yang ada dipasaran.
perusahaannya dengan menentukan harga sewa Kondisi ekonomi masyarakat juga menjadi salah
kamar yang tepat, tetapi disamping itu pihak satu bahan pertimbangan dalam penentuan harga
manager harus mengetahui semua biaya yang jual, dikarenakan apabila Upah Minimum Regional
dikeluarkan mereka untuk menghasilkan produk (UMR) naik maka harga jual sewa kamar juga ikut
dengan mengetahui semua biaya yang dikeluarkan. mengalami kenaikan. Hotel Ranggonang setiap
Maka pihak manager harus membuat perencanaan tahunnya selalu merencanakan laba yang mereka
berapa banyak produk yang harus dijual untuk inginkan di masa akan datang, tetapi perencanaan
memperoleh keuntungan, namun sebelumnya pihak laba yang mereka rencanakan sering kali tidak
manager harus memperhitungkan berapa banyak sesuai dengan keinginan dikarenakan penentuan
produk yang dijual untuk mencapai titik impas, harga jual mereka tidak tepat dan mereka belum
dimana perusahaan tidak mengalami kerugian dan mengetahui berapa penjualan yang mereka lakukan
tidak mendapat keuntungan, maka dari itu perlunya untuk mencapai titik impas penjualan tiap tipe
analisis break even point. kamar hotel. Hotel Ranggonang memiliki beberapa
Analisis break even point juga dapat jenis harga jual yang dibedakan berdasarkan tipe
digunakan sebagai alat bantu bagi manajemen kamar dan golongan konsumen. Tipe kamar yang
untuk melakukan perencanaan dan menentukan ada di Hotel Ranggonang yaitu Superior, Deluxe,

Jurnal ACSY Politeknik Sekayu


Vol. V No.2 (Juli-Desember 2016), ISSN : 2407-2184 38
Suite sedangkan golongan konsumen dibedakan memulai dengan menentukan titik impas pada
yaitu masyarakat umum, pemerintah, perusahaan, perusahaan dalam jumlah unit yang terjual, ketika
agent travel yang bekerja sama dengan hotel dan titik impas dicapai, laba bersih akan bertambah
harga lourge stay. sesuai dengan margin kontribusi per unit untuk
Berdasarkan penjelasan di atas dan setiap tambahan produk yang terjual.
mengingat pentingnya break even point sebagai Menurut Siregar dkk (2013: 317) “Titik
salah satu alat bantu dalam menentukan harga sewa impas (break event point) adalah keadaan yang
kamar untuk perencanaan laba dimasa yang akan menunjukkan bahwa jumlah pendapatan yang
datang, penulis tertarik untuk melakukan penelitian diterima perusahaan (pendapatan total) sama
di Hotel Ranggonang yang berjudul “Analisis dengan jumlah biaya yang dikeluarkan
Break Even Point dalam Menentukan Harga perusahaan”.
Sewa Kamar pada Hotel Ranggonang Sekayu”. Menurut Rudianto (2013: 30) “Titik impas
adalah volume penjualan yang harus dicapai agar
1.2 Rumusan Masalah perusahaan tidak mengalami kerugian tetapi juga
Berdasarkan latar belakang masalah yang tidak memperoleh laba sama sekali”.
telah diuraikan di atas maka penulis merumuskan Berdasarkan uraian di atas maka dapat
masalah yang akan dibahas yaitu : disimpulkan bahwa break event point (titik impas)
1. Berapa banyak volume penjualan kamar hotel adalah volume penjualan yang terjadi dimana
yang harus dicapai untuk mencapai break pendapatan yang di peroleh sama dengan biaya-
even point atau titik impas untuk tahun 2016? biaya yang telah dikeluarkan.
2. Berapa besar margin of safetypada penjualan
yang direncanakan? 2.1.2 Dasar Asumsi Analisis BreakEven Point
3. Berapa volume penjualan yang harus dicapai Munawir (2010: 197) mengemukakan
agar perusahaan dapat menghasilkan laba bahwa asumsi atau anggapan dasar yang digunakan
yang diinginkan atau ditargetkan untuktahun dalam analisis BEP adalah sebagai berikut :
2016? 1. Biaya harus dapat dipisahkan atau
4. Bagaimana Break event point dapat digunakan diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap
dalam menentukan harga sewa kamar pada dan biaya variabel. Terhadap biaya
Hotel Ranggonang? semivariabel harus dilakukan pemisahan
menjadi unsur tetap dan unsur variabel dengan
1.3 Pembatasan Masalah menggunakan pendekatan analitis maupun
Penulis membatasi pembahasan agar tidak historis.
menyimpang dari permasalahan yang ada dan lebih 2. Biaya tetap secara total akan selalu konstan
tearah, maka penulis hanya melakukan sampai tingkat kapasitas penuh.
analisisBreak even point, perencanaan 3. Biaya variabel akan berubah secara
labadanperhitunganMargin of safetyuntuk masing- proporsional dengan perubahan voluume
masing tipe kamar pada Hotel Ranggonang untuk penjualan dan adanya sinkronisasi antara
tahun 2013s/d 2015. produksi dan penjualan.
4. Harga jual per satuan barang tidak akan
1.4 Tujuan Penelitian berubah berapapun jumlah satuan barang yang
Berdasarkan latar belakang dan perumusan dijual atau tidak ada perubahan harga secara
masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini umum.
adalah : 5. Hanya ada satu macam barang yang
1. Untuk mengetahui perilaku biaya berhubungan diproduksi atau dijual atau jika lebih dari satu
dengan analisis break even point. macam maka kombinasi atau komposisi
2. Untuk mengetahui besarnya margin of safety penjualan (sales mix) akan tetap konstan.
pada penjualan yang direncanakan.
3. Untuk mengetahui perencanaan laba yang 2.1.3 Perubahan-
diinginkan perusahaan dengan menggunakan perubahanyangMempengaruhi Break
analisis break even point. Even Point
4. Untuk mengetahui harga sewa kamar hotel Salah satu aspek penting dalam analisis
dengan analisis break even point. biaya, volume dan laba adalah perubahan dalam
satu faktor atau lebih yang mempengaruhi laba.
2. LANDASAN TEORI Menurut Munawir (2010: 201) faktor-faktor yang
2.1 Break Even Point dapat berubah dalam hubungannya dengan analisis
2.1.1 Pengertian Break Even Point hubungan biaya, volume dan laba antara lain biaya
Ketertarikan untuk mengetahui tetap, biaya variabel, harga jual maupun volume
pendapatan, beban dan laba berperilaku ketika penjualan.
volume berubah adalah suatu yang lazim untuk

Jurnal ACSY Politeknik Sekayu


Vol. V No.2 (Juli-Desember 2016), ISSN : 2407-2184 39
1. Perubahan biaya tetap Menurut Kotler dan Keller (2009: 67)
Perubahan biaya tetap akan mengakibatkan “Harga adalah salah satu elemen bauran pemasaran
perubahan jumlah biaya secara keseluruhan yang menghasilkan pendapatan, elemen lain
pada berbagai tingkat penjualan akan berubah menghasilkan biaya. Mungkin harga dalah elemen
pula, dengan perubahan jumlah biaya maka termudah dalam program pemasaran untuk
besarnya penjualan pada tingkat break even disesuaikan fitur produk, saluran, dan bahkan
akan berubah pula. komunikasi membutuhkan lebih banyak waktu.
2. Kenaikan biaya variabel Harga juga mengkomunikasikan positioning nilai
Dengan adanya kenaikan biaya variabel maka yang dimaksudkan dari produk atau merek
jumlah biaya juga akan berubah, begitu pula perusahaan ke pasar. Produk yang dirancang dan
dengan besarnya penjualan pada tingkat break dipasarkan dengan baik dapat dijual dengan harga
even juga akan berubah. tinggi dan menghasilkan laba yang besar”.
3. Perubahan harga jual per unit Menurut Tjiptono (2015: 289) “Harga
Dengan adanya kenaikan harga jual dapat memainkan peran strategik dalam pemasaran. Bila
mengakibatkan penurunan volume penjualan harga terlalu mahal, maka produk bersangkutan
yang akhirnya juga akan mengakibatkan bakal tidak terjangkau oleh pasar sasaran atau
perubahan besarnya break even. bahkan customer value menjadi rendah.
4. Perubahan komposisi penjualan Sebaliknya, jika harga terlampau murah,
Apabila perusahaan memproduksi atau menjual perusahaan sulit mendapatkan laba atau sebagian
lebih dari satu macam produk, maka analisa mempersepsikan kualitasnya buruk”.
break even dapat pula diterapkan untuk seluruh Berdasarkan uraian di atas maka, harga
produk yang diproduksi dan dijual oleh merupakan senjata strategik untuk bersaing secara
perusahaan tersebut. Untuk komposisi- efektif. Harga dapat disesuaikan atau diubah secara
komposisi antara produk-produk tersebut harus dramatis, tergantung apa yang ingin dicapai.
tetap sama baik dalam komposisi produksi Penentuan harga secara tepat merupakan faktor
maupun penjualannya (product mix dan sales penting dalam menentukan kesuksesan perusahaan
mix). dalam jangka pendek dan jangka panjang.

2.2 Margin Keamanan (Margin of safety) 2.3.2 Peranan Harga


Margin keamanan berguna bagi manager Menurut Tjiptono (2015: 291) secara garis
perusahaan dalam menghadapi masalah resiko. besar, peranan harga dapat dijabarkan sebagai
Apabila hasil penjualan pada tingkat break even berikut :
dihubungkan dengan penjualan yang dibudgetkan 1. Harga yang dipilih berpengaruh langsung
atau pada tingkat penjualan tertentu, maka akan terhadap tingkat permintaan dan menentukan
diperoleh informasi tentang seberapa jauh volume tingkat aktivitas. Harga yang terlampau murah
penjualan boleh turun sehingga perusahaan tidak atau sebaliknya terlalu murah berpotensi
menderita rugi. Hubungan atau selisih antara menghambat pengembangan produk. Oleh
penjualan yang dibudget atau tingkat penjualan sebab itu, pengukuran sensitivitas harga amat
tertentu dengan penjualan pada tingkat break even penting dilakukan.
point merupakan tingkat keamanan (margin of 2. Harga jual secara langsung menentukan
safety) bagi perusahaan dalam melakukan profitabilitas operasi.
penurunan penjualan. 3. Harga yang ditetapkan oleh perusahaan
Menurut Siregar dkk (2013: 330) “Margin mempengaruhi persepsi umum terhadap
of safety adalah unit penjualan atau yang produk atau merek dan berkontribusi pada
diharapkan dapat dijual di atas volume impas”. postioning merek dalam evoked set konsumen
Berdasarkan uraian di atas maka dapat potensial. Komsumen sering kali menjadikan
disimpulkan bahwa margin keamanan (margin of harga sebagai indikator kualitas, khususnya
safety) adalah unit penjualan yang terjual di atas dalam pasar produk konsumen.
volume penjualan karena semakin tinggi margin 4. Harga merupakan alat atau wahana langsung
keamanan maka semakin rendah resiko untuk tidak untuk melakukan perbandingan antar produk
balik modal. Rumus margin kemananan menurut atau merek yang saling bersaing.
Munawir (2010: 199) sebagai berikut. 5. Strategi penetapan harga harus selaras dengan
Marjin of safety = Penjualan per budget – Penjualan break even komponen bauran pemasaran lainnya. Harga
Penjualan per budget harus dapat menutup biaya pengembangan,
promosi, dan distribusi produk.
6. Akselerasi perkembangan teknologi dan
2.3 Harga semakin singkatnya siklus hidup produk
2.3.1 Pengertian Harga menuntut penetapan harga yang akurat sejak
awal.

Jurnal ACSY Politeknik Sekayu


Vol. V No.2 (Juli-Desember 2016), ISSN : 2407-2184 40
7. Proliferasi merek dan produk yang seringkali harga sebuah perusahaan dan harga pemimpin
tanpa dibarengi difereniasi memadai industri (industry leader).
berimplikasi pada pentingnya postioning 5. Tujuan-tujuan lainnya
harga yang tepat. Harga dapat pula ditetapkan dengan tujuan
8. Peraturan pemerintah, etika, dan mencegah masuknya pesaing, mempertahankan
pertimbangan sosial (seperti pengendalian loyalitas pelanggan, mendukung penjualan
harga, penetapan margin laba maksimum, ulang, mendapatkan aliran kas secepatnya, atau
otorisasi kenaikan harga, dan seterusnya) menhindari campur tangan pemerintah.
membatasi otonomi dan fleksibilitas 2.3.4 Faktor-faktor Pertimbangan dalam
perusahaan dalam menetapkan harga. Penetapan Harga
9. Berkurangya daya beli di sejumlah dunia Menurut Tjiptono (2015: 295) secara
berdampak pada semakin tingginya umum, faktor-faktor pertimbangan dalam
sensitivitas harga, yang pada gilirannya penetapan harga dapat dikategorikan ke dalam dua
memperkuat peranan harga sebagai instrumen kelompok, yaitu faktor internal perusahaan dan
pendorong penjualan dan pangsa pasar. faktor eksternal :
1. Faktor Internal Perusahaan
2.3.3 Tujuan Penetapan Harga a. Tujuan Pemasaran Perusahaan
Menurut Tjiptono (2015: 291) pada Faktor utama yang menentukan dalam
dasarnya ada beraneka ragam tujuan penetapan penetapan harga adalah tujuan pemasaran
harga. Berikut ini adalah beberapa di antaranya : perusahaan. Tujuan tersebut bisa berupa
1. Tujuan Berorientasi pada Laba mempertahankan kelangsungan hidup
Asumsi teori ekonomi klasik menyatakan setiap (survival) perusahaan, maksimisasi laba,
perusahaan selalu memilih harga yang dapat aliran kas, atau return on investment (ROI).
menghasilkan laba terbesar. Tujuan ini dikenal b. Strategi Bauran Pemasaran
dengan istilah maksimisasi laba. Dalam era Harga hanyalah salah satu komponen dari
persaingan global yang kondisinya sangat bauran pemasaran. Oleh karena itu, harga
kompleks dan banyak variabel yang wajib terintegrasi, dan saling mendukung
berpengaruh terhadap daya saing setiap bauran pemasaran lainnya, yaitu produk,
perusahaan, maksimisasi laba sangat sulit distribusi, dan promosi.
divapai, karena sukar sekali untuk c. Biaya
memperikirakan secara akurat jumlah penjualan Biaya merupakan faktor yang menentukan
yang dapat dicapai pada tingkat harga tertentu. harga minimal yang harus ditetapkan agar
2. Tujuan Berorientasi pada Volume perusahaan tidak mengalami kerugian. Oleh
Selain tujuan berorientasi pada laba, ada pula karena itu, setiap perusahaan pasti menaruh
perusahaan yang menetapkan harganya perhatian besar pada aspek struktur biaya
berdasarkan tujuan yang berorientasi pada (tetap dan variabel), serta jenis-jenis biaya
volume tertentu atau biasa dikenal dengan lainnya.
istilah volume pricing objectives. Harga d. Pertimbangan Organisasi
ditetapkan sedemikian rupa agar dapat Manajemen perlu memutuskan siapa di
mencapai target volume penjualan, nilai dalam organisasi yang harus menetapkan
penjualan, dan pangsa pasar. harga.
3. Tujuan Berorientasi pada Citra 2. Faktor Eksternal
Citra (image) sebuah perusahaan dapat dibentuk a. Karakteristik Pasar dan Permintaan
melalui strategi pnetapan harga. Perusahaan Setiap perusahaan perlu memahami sifat
dapat menetapkan harga mahal untuk pasar dan permintaan yang dihadapinya,
membentuk atau mempertahankan citra apakah termasuk pasar persaingan
prestisius. Sementara itu, harga murah dapat sempurna, persaingan monopolistik,
digunakan untuk membentuk citra nilai tertentu oligopoli, atau monopoli.
(image of value). b. Persaingan
4. Tujuan Stabilisasi Harga Menurut porter, ada lima kekuatan produk
Dalam pasar yang konsumenya sangat sensitif yang berpengarauh dalam persaingan sebuah
terhadap harga, bila sebuah perusahaan industri, yaitu persaingan dalam industri
menurunkan harganya, maka para pesaingnya yang bersangkutan, produk substitusi,
harus menurunkan pula harga mereka. Tujuan pemasok, pelanggang, dan ancaman
sepeprti ini yang mendasari terbentuknya pendatang baru.
stabilisasi harga. Tujuan stabilisasi harga c. Unsur-unsur Lingkungan Eksternal Lainnya
dilakukan dengan jalan menetapkan harga untuk Selain faktor-faktor diatas, perusahaan juga
mempertahankan hubungan yang stabil antara perlu mempertimbangkan faktor kondisi
ekonomi (inflasi, booming, atau resesi, serta

Jurnal ACSY Politeknik Sekayu


Vol. V No.2 (Juli-Desember 2016), ISSN : 2407-2184 41
tingkat suku bunga), kebijakan dan biaya semivariabel seperti listrik, air, gas,
peraturan pemerintah, dukungan dan reaksi bensin, batu bara, beberapa perlengkapan,
distributor terhadap harga. pemeliharaan, beberapa tenaga kerja tidak
langsung, asuransi jiwa kelompok untuk
2.4 Biaya karyawan, biaya pensiun, pajak penghasilan,
2.4.1 Pengertian Biaya biaya perjalanan dinas, dan biaya representasi.
Menurut Raiborn dan Kinney (2011: 34)
“biaya merefleksikan pengukuran moneter dari 2.5 Laba
sumber daya yang dibelanjakan untuk mendapatkan 2.5.1 Pengertian Laba
sebuah tujuan seperti membuat atau mengantarkan Padadasarnyatujuanutamasuatuperusahaana
jasa”. dalahinginmemperolehlaba yang sebesar-
Menurut Alexandri dkk (2011: 40) “Biaya besarnyakarenauntukkelangsunganhidupperusahaan
adalah jumlah kotor dari penurunan aktiva atau nyadimasa yang akandatang.Menurut Harrison
kenaikan utang. Biaya timbul dari kegiatan danHorngren dkk (2012:11) “laba (income) adalah
perusahaan dalam usaha perusahaan untuk kenaikanmanfaatekonomiselamaekonomiselamasua
mendapatkan pendapatan dalam satu periode”. tuperiodeakuntansi (misalnya, kenaikan
Berdasarkan uraian di atas bahwa biaya assetataupenurunankewajiban yang
secara umum adalah pengorbanan sumber menghasilkanpeningkatanekuitasselain yang
ekonomis yang diukur dengan satuan uang, untuk menyangkuttransaksidenganpemegangsaham”.
memperoleh barang atau jasa yang diharapkan Sedangkan menurut Alexandri dkk (2011:
memberikan manfaat saat ini maupun yang akan 40) “Laba adalah selisih lebih dari pendapatan di
datang. atas biayanya dalam suatu periode, dan disebut rugi
apabila terjadi keadaan sebaliknya”.
2.4.2 Klasifikasi Biaya Berdasarkan uraian di atas dapat
Keberhasilan dalam merencanakan dan disimpulkan bahwa laba dari suatu perusahaan atau
mengendalikan biaya bergantung pada pemahaman unit usaha dijadikan sebagai tujuan utama, maka
yang menyeluruh atas hubungan antara biaya, laba merupakan alat yang tepat untuk mengukur
aktivitas biaya dengan aktivitas bisnis. Studi dan prestasi dari manajemen perusahaan atau dengan
analisis yang hati-hati atas dampak aktivitas bisnis kata lain efektivitas dan efisien dari suatu
terhadap biaya umumnya akan menghasilkan perusahaan secara garis besar dilihat dari laba yang
klasifikasi dari setiap pengeluaran sebagai biaya diperoleh walaupun tidak semua dari perusahaan
tetap, biaya variabel, atau semivariabel. atau organisasi menjadikan laba sebagai tujuan
Menurut Carter (2009: 68) Klasifikasi utama.
biaya dibedakan sebagai berikut:
1. Biaya tetap 3. METOTOLOGI PENELITIAN
Biaya tetap adalah biaya yang secara total 3.1 Objek Penelitian
berubah ketika aktivitas bisnis meningkat atau Objek penelitian ini dilakukan pada Hotel
menurun. Meskipun beberapa jenis biaya Ranggonang yang beralamatkan di Jl. Merdeka No.
terlihat sebagai biaya tetap, semua biaya 245 Sekayu, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi
sebenarnya bersifat variabel dalam jangka Banyuasin.
panjang.
2. 3.2 Data yang Digunakan B
iaya variabel Pada penelitian ini penulis memperoleh
Biaya variabel adalah biaya yang totalnya data primer berupa laporan laba/rugi, daftar harga
meningkat secara proposional terhadap sewa kamar, rincian biaya-biaya, total pendapatan,
peningkatan dalam aktivitas dan menurun sejarah hotel, dan struktur organisasi melalui
secara proposional terhadap penurunan dalam wawancara secara langsung dengan pihak Hotel
aktivitas. Biaya variabel termasuk biaya bahan Ranggonang, sedangkan data sekunder yang
baku langsung, tenaga kerja langsung, beberapa diperoleh penulis berupa referensi buku serta
perlengkapan, beberapa tenaga kerja tidak literatur lainnya relevan dengan masalah yang
langsung, alat-alat kecil, pengerjaan ulang, dan dibahas.
unit-unit yang rusak. Biaya variabel biasanya
dapat diidentifikasikan langsung dengan 3.3 Metode Pengumpulan Data
aktivitas yang menimbulkan biaya tersebut. Pada penelitian ini penulis mengumpulkan
3. data menggunakan cara wawancara
B dengan
iaya Semivariabel memberikan daftar pertanyaan kepada pihak-pihak
Biaya Semivariabel adalah biaya yang Hotel Ranggonang dan menggunakan cara
memperlihatkan baik karakteristik-karakteristik dokumentasi dengan mengumpulkan data laporan
dari biaya tetap maupun biaya variabel. Contoh laba/rugi, rincian biaya-biaya, daftar harga sewa

Jurnal ACSY Politeknik Sekayu


Vol. V No.2 (Juli-Desember 2016), ISSN : 2407-2184 42
kamar, struktur organisasi, peraturan-peraturan dan 4. PEMBAHASAN
sejarah Hotel Ranggonang. 4.1 Analisis Break Even Point
Analisis break even point merupakan
3.4 Analisis Data analisis yang sangat penting bagi pihak
Pada penelitian ini penulis menggunakan manajemen, karena dengan adanya analisis break
teknik analisis kuantitatif, penulis memperoleh data even point suatu perusahaan bisa mengetahui
dan menggunakan rumus-rumus untuk perhitungan volume penjualan minimum yang harus dicapai
angka-angka yang digunakan untuk menganalisis perusahaan supaya tidak menderita rugi dan juga
data.Menurut Sunyoto (2013: 24) teknik “analisis tidak memperoleh laba. Berdasarkan
data kuantitatif adalah analisis yang menggunakan pengklasifikasian yang telah dilakukan penulis,
rumus-rumus statistik yang disesuaikan judul maka dapat dihitung break even point totalitas
penelitian dan rumusan masalah, untuk perhitungan untuk tahun 2013 s/d 2015 dengan mengunakan
angka-angka dalam rangka menganalisis data yang rumus pada teori munawir (2010: 206). Berikut
diperoleh. Analisis kuantitatif ini dapat dilakukan rekapitulasi pendapatan, total biaya tetap dan biaya
perhitungan manual atau dengan komputer program variabel tahun 2013 s/d 2015 dapat dilihat pada
statistik seperti SPSS”. tabel 1.

Tabel 1. Rekapitulasi Pendapatan, Total Biaya Tetap dan Biaya Variabel Tahun 2013 s/d 2015
No Keterangan 2013 (Rp) 2014 (Rp) 2015 (Rp)
1. Pendapatan 7.583.704.529,40 4.930.544.417,39 4.131.590.783,92
2. Biaya Tetap 4.366.176.892,00 4.013.073.178,00 3.025.568.435,00
3. Biaya Variabel 2.343.782.220,00 2.272.201.432,00 1.371.204.857,00
Sumber : Data diolah, 2016

4.2 Perhitungan Break Even Point dengan Berdasarkan hasil perhitungan break even
Menggunakan Pendekatan Matematis point dalam Unit Penjualan dari tahun 2013 s/d
Berdasarkan perhitungan break even point 2015 sebesar 0,8333, 1,5095 dan 1,0961. Dari
totalitas yang telah dilakukan, maka dapat perhitungan di atas maka break even point
diketahui bahwa perusahaan harus menghasilkan perusahaan akan tercapai jika masing-masing
pendapatan secara keseluruhan selama tahun 2013 kamar dijual dengan mengalikan besarnya volume
s/d 2015 sebesar Rp 6.319.549.706, Rp penjualan dengan nilai break even point agar bisa
7.442.643.134dan Rp 4.528.616.128, jika diketahui komposisi volume penjualan dalam
perusahaan mampu menghasilkan pendapatan tingkat break even point.
sebesar nilai tersebut maka perusahaan tidak akan Berdasarkan hasil perhitungan break even
mengalami kerugian dan juga tidak memperoleh point dalam Rupiah Penjualan dan dalam Unit
keuntungan, karena pendapatan yang diperoleh Penjualan di atas, berikut ini rekapitulasi
perusahaan hanya mampu menutupi seluruh biaya- perhitungan break even point totalitas tahun 2013
biaya yang terjadi. s/d 2015.

Tabel 2. Rekapitulasi Break Even Point Totalitas dalam Rupiah Penjualan dan UnitPenjualan Tahun
2013 s/d 2015
Hasil Perhitungan
Keterangan
BEP Rupiah Penjualan BEP dalam Unit Penjualan
2013 Rp 6.319.549.706 0,8333 Unit
2014 Rp 7.442.643.134 1,5095 Unit
2015 Rp 4.528.616.128 1,0961 Unit
Sumber : Data diolah, 2016
mencari break even point masing-masing kamar
Penulis telah melakukan perhitungan perlu diketahuinya sales mix yang berasal dari
break even point totalitas, setelah melakukan perbandingan penjualan masing-masing kamar
perhitungan tersebut, maka akan dilakukan dengan penjualan total.
perhitungan break even point untuk masing-masing Berdasarkan perhitungan sales mix di atas,
jenis kamar yang ada di Hotel Ranggonang Sekayu. berikut ini disajikan tabel rekapitulasi sales mix
Jenis kamar yang ada di Hotel Ranggonang Sekayu tahun 2013 s/d 2015.
ada 3 jenis yaitu superior, deluxe dan suite. Untuk

Jurnal ACSY Politeknik Sekayu


Vol. V No.2 (Juli-Desember 2016), ISSN : 2407-2184 43
Tabel 3. Rekapitulasi Sales Mix Tahun 2013 s/d 2015
Sales Mix
No Jenis Kamar
2013 2014 2015
1. Superior 0,1675 0,2170 0,2833
2. Deluxe 0,2094 0,2712 0,3542
3. Suite 0,0209 0,0272 0,0355
Sumber : Data diolah, 2016

Berdasarkan perhitungan break even point disajikan tabel rekapitulasi break even point dalam
masing-masing jenis kamar, maka dapat diketahui Rupiah Penjualan dan dalam Unit Penjualan Tahun
tingkat volume penjualan dimana kondisi 2013 s/d 2015 dapat dilihat pada tabel 4.
perusahaan tidak mengalami kerugian dan juga
tidak memperoleh keuntungan. Berikut ini

Tabel 4. Rekapitulasi Break Even Point dalam Rupiah Penjualan Tahun 2013 s/d 2015
Break Even Point dalam Rupiah Penjualan (Rp)
No Jenis Kamar
2013 2014 2015
1. Superior 1.058.524.576 1.615.053.560 1.282.956.949
2. Deluxe 1.323.313.708 2.018.444.818 1.604.035.833
3. Suite 132.078.589 202.439.893 160.765.873
Jumlah 2.513.916.873 3.835.938.271 3.047.758.655
Sumber : Data diolah, 2016

Berdasarkan data yang diperoleh penulis untuk kamar deluxe perusahaan harus menjual
pada Hotel Ranggonang Sekayu mengenai sebanyak 3.808 unit tetapi perusahaan hanya
rekapitulasi unit kamar yang terjual selama tahun mampu menjual sebanyak 2.523 unit, untuk kamar
2013 s/d 2015 dapat diketahui bahwa pada tahun suite perusahaan harus menjual 213 unit tetapi
2013 perusahaan telah mencapai break even point perusahaan hanya mampu menjual sebanyak 141
karena menurut analisis break even point unit. Pada tahun 2015 perusahaan belum
perusahaan harus menjual kamar superior sebanyak mencapai break even pointkarena berdasarkan
2.421 unit jika ingin mencapai titik impas analisis break even point perusahaan harus menjual
sedangkan perusahaan telah menjual sebanyak kamar superior sebanyak 2.933 unit tetapi
2.905 unit, untuk kamar deluxe berdasarkan analisis perusahaan hanya mampu menjual 2.676 unit,
break even point harus menjual sebanyak 2.497 untuk kamar deluxe perusahaan harus menjual
unit sedangkan perusahaan telah menjual 2.996 sebanyak 3.026 unit tetapi perusahaan hanya
unit, untuk kamar suite berdasarkan analisis break mampu menjual sebanyak 2.761 unit, untuk kamar
even point harus menjual sebanyak 139 unit suite perusahaan harus menjual 169 unit tetapi
sedangkan perusahaan telah menjual sebanyak 167. perusahaan hanya mampu menjual sebanyak 154
Pada tahun 2014 perusahaan belum unit. Perbandingan kamar yang terjual menurut
mencapai break even point karena berdasarkan perusahaan dengan perhitungan analisis break even
analisis break even point perusahaan harus menjual point dan dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini.
kamar superior sebanyak 3.692 unit tetapi
perusahaan hanya mampu menjual 2.446 unit,

Tabel 5. Rekapitulasi Perbandingan Kamar yang Terjual Menurut Perusahaan dengan Analisis Break
Even Point Tahun 2013 s/d 2015
No Jenis Kamar Kamar Terjual Menurut Perusahaan Analisis Break Even Point (Unit)
(Unit)
2013 2014 2015 2013 2014 2015
1. Superior 2.905 2.446 2.676 2.421 3.692 2.933
2. Deluxe 2.996 2.523 2.761 2.497 3.808 3.026
3. Suite 240 141 154 139 213 169
Sumber : Data diolah, 2016

4.3Margin Pengaman (Margin of Safety) perusahaan mempunyai margin of safety yang besar
Berdasarkan hasil perhitungan margin of yaitu 66,85% yang berarti jika perusahaan
safety, maka diketahui bahwa pada tahun 2013 mengalami penurunan penjualan maka perusahaan

Jurnal ACSY Politeknik Sekayu


Vol. V No.2 (Juli-Desember 2016), ISSN : 2407-2184 44
mampu menutupi penurunan penjualan tersebut Tabel 7. Rekapitulasi Target Pendapatan dan
sebesar 66,85% sehingga walaupun terjadi Unit Kamar yang Harus Dicapai
penurunan penjualan tetapi perusahaan tidak Tahun 2016
mengalami kerugian dan tidak memperoleh laba. Jenis Target Unit Kamar
Pada tahun 2014 margin of safety perusahaan Kamar Pendapatan yang Harus
menurun dari tahun 2013 yaitu sebesar 22,20% dicapai
yang bearti jika perusahaan mengalami penurunan Superior Rp 1.545.175.775 3.533 Unit
penjualan maka perusahaan hanya mampu Deluxe Rp 1.931.878.784 3.645 Unit
menutupi penurunan penjualan tersebut sebesar Suite Rp 193.624.215 204 Unit
22,20% agar perusahaan tidak mengalami kerugian Sumber : Data diolah, 2016
dan juga tidak memperoleh laba, sedangkan pada
tahun 2015 margin of safety sebesar 26,23% yang 4.5 Analisis Break Even Point dalam
bearti jika sewaktu-waktu perusahaan mengalami Menentukan Harga Sewa Kamar
penurunan penjualan maka perusahaan hanya Menentukan harga dengan sedemikian
mampu menutupi penurunan penjualan tersebut rupa sesuai dengan laba yang dikehendaki adalah
sebesar 26,23% agar perusahaan tidak mengalami merupakan langkah yang harus dilakukan
kerugian dan juga tidak memperoleh laba. Berikut perusahaan untuk mencapai laba semaksimal
Rekapitulasi margin of safety tahun 2013 s/d 2015, mungkin. Analisis break even point dapat
dapat dilihat pada tabel 6. dilakukan dalam menentukan harga sewa kamar
apabila perusahaan telah mengetahui tingkat
Tabel 6. Rekapitulasi Margin of Safety Tahun volume penjualan pada break even point, maka
2013 s/d 2015 perusahaan dapat menentukan harga sewa kamar
Keterangan 2013 2014 2015 (harga jual). Jika ingin menurunkan volume
Margin of 66,85 % 22,20 % 26,23 % penjualan dan memperoleh laba yang lebih besar,
Safety karena harga merupakan salah satu keputusan
Sumber : Data diolah, 2016 terpenting dalam pemasaran, sehingga untuk
memperoleh laba yang diinginkan maka
4.4 Perencanaan Laba dengan Analisis Break perusahaan harus menentukan harga sewa kamar
Even Point yang tepat.
Melalui analisis break even point, maka Manajemen perusahaan dalam usahanya
dapat diketahui perencanaan laba jangka pendek untuk meningkatkan pendapatan (penjualan) yang
yang tepat dan merupakan tujuan yang harus akhirnya diharapkan untuk menaikkan keuntungan
dicapai perusahaan. Jika perusahaan merencanakan dapat dilakukan dengan menaikkan harga jual.
laba untuk memperoleh laba, maka perusahaan Akan tetapi, perusahaan harus memperhatikan
harus mampu meningkatkan volume penjualan kondisi ekonomi masyarakat karena dengan adanya
melebihi titik impas. Berdasarkan hasil wawancara kenaikan harga jual dapat berakibat pada
yang telah dilakukan penulis dengan pihak Staf menurunnya volume penjualan yang akhirnya juga
Accounting Hotel Ranggonang Sekayu bahwa mengakibatkan perubahan besarnya break even
perusahaan merencanakan laba pada tahun 2016 point.
sebesar Rp 618.477.315 dengan asumsi harga jual Berdasarkan perhitungan yang telah
masing-masing kamar masih sama seperti tahun dilakukan, maka dapat diketahui jika pada 2015
sebelumnya. perusahaan tidak menaikkan harga jual maka
Berdasarkan perhitungan di atas, maka perusahaan akan mengalami kerugian dan volume
dapat diketahui jika perusahaan ingin mendapatkan penjualan tidak mencapai break event point, tetapi
laba sebesar Rp 618.477.315 pada tahun 2016, melalui analisis break even point yang telah
maka perusahaan harus menjual kamar superior dilakukan bahwa pada tahun 2015 volume
sebanyak 3.533 unit atau memperoleh pendapatan penjualan perusahaan tidak mencapai break even
sebesar Rp 1.545.175.775, untuk kamar deluxe point, maka pada tahun 2016 perusahaan harus
sebanyak 3.645 unit atau memperoleh pendapatan membuat kebijakan dengan menaikkan harga jual,
sebesar Rp 1.931.878.784, sedangkan untuk kamar jika pada tahun 2016 perusahaan menaikkan harga
suite perusahaan harus menjual sebanyak 204 unit jual 15% dari harga jual yang lama dengan asumsi
atau memperoleh pendapatan sebesar Rp kamar yang terjual pada 2016 sama dengan 2015,
193.624.215. Berikut ini disajikan rekapitulasi maka berdasarkan perhitungan break even point
target pendapatan dan unit kamar yang harus dengan harga yang telah dinaikkan, maka
dicapai pada tahun 2016. perusahaan pada tahun 2016 mencapai break even
point dengan pendapatan pada break even point
untuk kamar superior sebesar Rp 1.475.319.606
atau 2.933 unit, untuk kamar deluxe sebesar Rp

Jurnal ACSY Politeknik Sekayu


Vol. V No.2 (Juli-Desember 2016), ISSN : 2407-2184 45
1.844.544.533 atau 3.026 unit dan untuk kamar pada tingkat break even point maka
suite sebesar Rp 184.643.315 atau 169 unit. perusahaan sebaiknya menaikkan harga jual
sewa kamar sebesar 15%.
5. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan, maka penulis menarik beberapa DAFTAR PUSTAKA
kesimpulan bahwa :
1. Berdasarkan analisis break even point pada Alexandri , Benny M dan Nenden Kostini, dkk.
pembahasan maka : 2011. Dasar-Dasar Akuntansi Teori, Soal
a. Untuk data tahun 2013, perusahaan telah dan Latihan. Bandung: Widya Padjadjaran.
mencapai BEP dengan tingkat volume Carter K, William. 2009. Akuntansi Biaya, Edisi
penjualan sebanyak 5.057 unit kamar 14. Jakarta: Salemba Empat.
(kamar superior sebanyak 2.421 unit Harrison, Walter T JR dan Charles T Horngren,
kamar, kamar deluxe sebanyak 2.497 unit dkk. 2012. Akuntansi Keuangan
kamar dan kamar suite sebanyak 139 unit Internasional Financial Reporting Standars.
kamar). Jakarta: Erlangga.
b. Untuk data tahun 2014 perusahaan tidak Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. 2009.
mencapai BEP, dengan tingkat kerugian Manajemen Pemasaran. Edisi 13 Jilid 2.
Rp 1.335.235.493,42. BEP terpenuhi jika Jakarta: Erlangga.
volume penjualan sebanyak 7.713 unit Munawir S, 2010. Analisis Laporan Keuangan.
kamar (kamar superior sebanyak 3.692 Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
unit kamar, kamar deluxe sebanyak 3.808 Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
unit kamar dan kamar suite sebanyak 213 Republik Indonesia Nomor
unit kamar). PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang
c. Untuk data tahun 2015 perusahaan juga Standar Usaha Hotel.
tidak mencapai BEP, dengan tingkat Raiborn, Cecely A dan Michael R Kinney. 2011.
kerugian Rp 265.099.358,30. BEP Akuntansi Biaya Dasar dan Perkembangan.
terpenuhi jika volume penjualan Buku 1. Edisi 7. Jakarta: Salema Empat.
sebanyak 6.128 unit kamar (kamar Rudianto. 2013. Akuntansi Manajemen Informasi
superior sebanyak 2.933 unit kamar, Untuk Pengambilan Keputusan. Jakarta:
kamar deluxe sebanyak 3.026 unit kamar Erlangga.
dan kamar suite sebanyak 169 unit Sanusi, Anwar. 2011. Metodologi Penelitian
kamar). Bisnis. Jakarta: Salemba Empat.
2. Hotel Ranggonang Sekayu memiliki margin Siregar, Baldrick dan Bambang Suripto. 2013.
keamanan untuk tahun 2013 sebesar 66,85%, Akuntansi Manajemen. Jakarta: Salemba
pada tahun 2014 sebesar 22,20%, dan untuk Empat.
tahun 2015 sebesar 26,23%. Semakin tinggi Sunyoto, Danang. 2013. Metode Penelitian
margin keamanan perusahaan maka semakin Akuntansi. Bandung: Refika Aditama
baik karena rentang penurunan penjualan Tjiptono, Fandy. 2015. Strategi Pemasaran. Edisi
yang dapat ditanggung perusahaan lebih besar 4. Yogyakarta: Andi.
sehingga kemungkinan menderita kerugian Wiharjo, Nelly. 2011. Analisis Hubungan Cost
rendah, namun sebaliknya jika margin Volume Profit (CVP) untuk Perencanaan
keamanan rendah kemungkinan perusahaan Laba pada Hotel Losari Beach. Makassar:
menderita kerugian semakin besar. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas
3. Hotel Ranggonang Sekayu merencanakan laba Hasanudin.
pada tahun 2016 sebesar Rp 618.477.315.
Dengan demikian yang harus dicapai
perusahaan sebanyak 7.382 unit kamar (kamar
superior sebanyak 3.533 unit kamar, kamar
deluxe sebanyak 3.645 unit kamar dan kamar
suite sebanyak 204 unit kamar) dengan harga
yang sama dengan tahun 2015.
4. Analisis break even point dapat digunakan
dalam menentukan harga sewa kamar. Dengan
diketahuinya volume penjualan yang
sesunguhnya, maka perusahaan bisa
menentukan harga sewa kamar (harga jual)
dalam mencapai break even point. Jika
perusahaan ingin mencapai volume penjualan

Jurnal ACSY Politeknik Sekayu


Vol. V No.2 (Juli-Desember 2016), ISSN : 2407-2184 46