Anda di halaman 1dari 3

PPH PASAL 23 ATAS SEWA

Sewa (rent expense) atau imbalan lainnya sehubungan dengan penggunaan


harta, juga merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23. Dalam artikel ini,
kita akan membahas mengenai pengertian sewa, tarif PPh Pasal 23 dan DPP
atau dasar pengenaan pajaknya.

Pengertian Sewa

Sewa (atau imbalan dengan nama apapun) adalah penghasilan sehubungan


dengan penggunaan harta gerak atau harta tak gerak, misalnya sewa mobil,
sewa mesin fotokopi, sewa lukisan dan harta lainnya.

Dalam Surat Edaran (SE) Nomor SE-35/PJ/2010 tanggal 9 Maret 2010,


Dirjen Pajak menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan
kata “sewa” adalah penghasilan atau imbalan sehubungan dengan
kesepakatan untuk memberikan hak menggunakan harta selama jangka
waktu tertentu, baik dengan perjanjian tertulis maupun lisan, sehingga
harta tersebut hanya digunakan oleh penerima hak (penyewa) selama
jangka waktu yang telah disepakati. Penjelasan ini diharapkan dapat
menghilangkan perdebatan yang selama ini sering terjadi, misalnya dalam
soal sewa gudang dengan jasa penitipan/penyimpanan, jasa angkutan
umum kendaraan dengan sewa (charter)kendaraan, dan beberapa transaksi
sejenis.

Objek PPh Pasal 23

Sewa harta (rent expenses) yang menjadi objek pemotongan PPh Pasal 23
adalah imbalan sewa yang terutang atau kita bayarkan kepada Subjek
Pajak dalam negeri—baik orang pribadi maupun badan—dan kepada BUT
(bentuk usaha tetap atau permanent establishment).

Tarif dan DPP

Tarif PPh Pasal 23 atas sewa harta ditetapkan sebesar 2% dengan


ketentuan jika si penerima imbalan sewa tidak memiliki NPWP, maka
tarifnya dinaikkan menjadi 4% [Pasal 23 ayat (1a) UU PPh]. Sedangkan
yang menjadi DPP adalah jumlah bruto sewa, dalam bentuk apapun
(barang atau uang). Dengan demikian, PPh Pasal 23 atas sewa harta
dihitung = 2% (atau 4%) dikalikan dengan jumlah bruto imbalan sewa.

Pengecualian

Tidak semua imbalan sewa (rent expenses) harus dipotong PPh Pasal 23.
Berikut ini jenis sewa yang tidak dipotong PPh Pasal 23, yaitu:

1. Imbalan sewa yang dibayarkan atau terutang kepada perbankan yang


berstatus Subjek Pajak dalam negeri [Pasal 23 ayat (4) UU PPh];
2. Imbalan sewa tanah maupun bangunan, karena khusus untuk
imbalan sewa ini ditetapkan sebagai objek pemotongan PPh Final
Pasal 4 ayat (2) oleh Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996
stdd Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2002;
3. Imbalan sewa kapal laut, yang dibayarkan atau terutang kepada
pihak yang mempunyai surat izin usaha di bidang pelayaran atau
pengangkutan di laut. Sebab khusus untuk sewa ini ditetapkan
sebagai objek PPh Pasal 15 sesuai Keputusan Menteri Keuangan
(KMK) Nomor 416/KMK.04/1996 dan KMK Nomor
417/KMK.04/1996;
4. Imbalan sewa kapal terbang (pesawat udara), yang dibayarkan atau
terutang kepada pihak yang mempunyai izin usaha di bidang
penerbangan atau pengangkutan di udara. Sebab sewa ini ditetapkan
sebagai objek PPh Pasal 15 sesuai KMK Nomor 475/KMK.04/1996.

Kriteria terkait

a. Undang-undang republik indonesia nomor 36 tahun 2008 tentang


Perubahan keempat atas undang-undang nomor 7 tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan :

Pasal 4
Ayat (1) Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap
tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh
Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari
luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan,
dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk:
Huruf i. sewa dan penghasilan lain sehubungan
dengan penggunaan harta;

Pasal 23 :
Ayat (1) Atas penghasilan tersebut di bawah ini dengan nama dan dalam
bentuk apa pun yang dibayarkan, disediakan untuk
dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan
pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara
kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan
luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau
bentuk usaha tetap, dipotong pajak oleh pihak yang wajib
membayarkan:
Huruf c. sebesar 2% (dua persen) dari jumlah bruto atas:
angka 1. sewa dan penghasilan lain sehubungan
dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan
penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta yang telah dikenai Pajak
Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (2);
b. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
141/Pmk.03/2015 Tentang Jenis Jasa Lain Sebagaimana Dimaksud
Dalam Pasal 23 Ayat (1) Huruf C Angka 2 Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan Sebagaimana Telah Beberapa
Kali Diubah Terakhir Dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008
Pasal 1 :
Ayat (1) Imbalan sehubungan dengan jasa lain selain jasa yang telah
dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf
c angka 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, dipotong
Pajak Penghasilan sebesar 2% (dua persen) dari jumlah bruto
tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai.

c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005


Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah ;
Pasal 64 Bendahara pengeluaran sebagai wajib pungut Pajak
Penghasilan (PPh) dan pajak lainnya, wajib menyetorkan
seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke
rekening Kas Negara pada bank pemerintah atau bank lain
yang ditetapkan Menteri Keuangan sebagai bank persepsi atau
pos giro dalam jangka waktu sesuai ketentuan perundang-
undangan

d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 13 tahun


2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah ;
Pasal 135 Bendahara pengeluaran sebagai wajib pungut pajak
penghasilan (PPh) dan pajak lainnya, wajib menyetorkan seluruh
penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke rekening kas
negara pada bank yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebagai bank
persepsi atau pos giro dalam jangka waktu sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.