Anda di halaman 1dari 29

TUGAS MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ORANG DENGAN RESIKO


WAHAM
Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Keperawatan Jiwa II
Dosen Pengampu : Ns. Liyanovitasari, S.Kep., M.Kep

Disusun Oleh Kelompok 1 :


1. Adera Sela D (010117A002)
2. Hamzah Fida Nur A (010117A036)
3. Irfan Soni N (010117A041)
4. Liesmangku Langit (010117A048)
5. Luthfi Oktafiani (010117A052)

PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

i
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan YME, atas rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan Makalah Keperawatan Jiwa dengan judul “ASUHAN
KEPERAWATAN JIWA ORANG DENGAN RESIKO WAHAM”. Makalah ini
ditulis untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan perkembangan ilmu keperawatan dengan
perkembangan kurikulum terbaru, khususnya mata kuliah Keperawatan Jiwa II.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat
untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua dan
para pembaca dapat memahami dan mendapatkan pengetahuan yang lebih baik, sehingga
dapat diaplikasikan untuk mengembangkan kompetensi dalam keperawatan.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk
itu kami selalu bersedia dengan terbuka menerima berbagai saran dan kritik demi
perbaikan di masa mendatang.

Semarang, 10 September 2019

Penyusun,

Tim Penulis

i
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................1
1.2 Rumusan masalah..........................................................................................................1
1.3 Tujuan Penulis................................................................................................................2
1.3.1 Tujuan Umum.........................................................................................................2
1.3.2 Tujuan Khusus........................................................................................................2

Bab II Konsep Teori


2.1 Pengertian Waham.........................................................................................................3
2.2 Tanda dan Gejala Waham...............................................................................................3
2.3 Etiologi Waham..............................................................................................................4
2.4 Jenis-jenis Waham..........................................................................................................5
2.5 Psikopatologi Waham....................................................................................................6
2.6 Penatalaksanaan Waham................................................................................................7

Bab III Asuhan Keperawatan


3.1 Pengkajian....................................................................................................................10
3.2 Diagnosa......................................................................................................................13
3.3 Tindakan Keperawatan................................................................................................15
3.4 Evaluasi........................................................................................................................25

Bab IV Penutup
3.1 Kesimpulan..................................................................................................................26
3.2 Saran............................................................................................................................26

Daftar Pustaka.................................................................................................................27

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat atau
terus menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan. Keyakinan yang salah yang
secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan
bertentangan dengan realita normal (Keliat dkk.2007)

Prevalensi gangguan waham menetap di dunia sangat bervariasi, berdasarkan


beberapa literatur, prevalensi gangguan waham menetap pada pasien yang dirawat
inap dilaporkan sebesar 0,5-0,9% dan pada pasien yang dirawat jalan, berkisar antara
0,83-1,2%. Sementara, pada populasi dunia, angka prevalensi dari gangguan ini
mencapai 24-30 kasus dari 100.000 orang (Ariawan dkk, 2014). Sedangkan di Jawa
Tengah sendiri menurut direktur RSJD Amino Gondohutomo Semarang dr. Sri
Widyayati, Sppk, M.Kes mengatakan di tahun 2009 angka kejadian penderita
gangguan jiwa di jawa tengah berkisar antara 3300 orang sampai 9300 orang, angka
kejadian ini merupakan penderita yang sudah terdiagnosa. Pasien rawat inap yang
mengalami gangguan jiwa skizofrenia paranoid dan gangguan psikotik dengan gejala
curiga berlebihan, sikap eksentrik, ketakutan, murung, bicara sendiri, galak dan
bersikap bermusuhan. Gejala ini merupakan tanda dari skizofrenia dengan perilaku
waham sesuai dengan jenis waham yang diyakininya (Dermawan & Rusdi, 2013).

Intensitas kecemasan yang tinggi, perasaan bersalah dan berdosa, penghukuman


diri, rasa tidak mampu, fantasi yang tak terkendali, serta dambaan-dambaan atau
harapan yang tidak kunjung sampai, merupakan sumber dari waham. Waham dapat
berkembang jika terjadi nafsu kemurkaan yang hebat, hinaan dan sakit hati yang
mendalam (Riyadi & Purwanto, 2013).

B. Rumusan Masalah

Bagaimana konsep gangguan jiwa, konsep Waham, dan Asuhan Keperawatan


Waham.

1
C. Tujuan Penulis
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa mampu memahami tentang gangguan jiwa dengan masalah
waham.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu memahami Pengertian Konsep Waham
b. Mahasiswa mampu memahami Tanda dan Gejala Waham
c. Mahasiswa mampu memahami Penyebab Waham
d. Mahasiswa mampu memahami Jenis jenis waham
e. Mahasiswa mampu memahami Proses terjadinya (psikopatologi) waham
f. Mahasiswa mampu memahami Penatalaksanaan waham
g. Mahasiswa mampu memberikan Asuhan Keperawatan pada pasien waham

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat/terus
menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan. Keyakinan yang salah yang secara
kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan
dengan realita normal (Keliat dkk,2007)
Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan tetapi
dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain, keyakinan ini
berasal dari pemikiran klien dimana sudah kehilangan kontrol. (Stuart,2007)
B. Tanda dan gejala
1. Kognitif
a. Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
b. Individu sangat percaya pada keyakinannya
c. Sulit berpikir realita
d. Tidak mampu mengambil keputusan
2. Afektif
a. Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
b. Afek tumpul
3. Prilaku dan Hubungan Sosial
a. Hipersensitif
b. Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
c. Depresi
d. Ragu-ragu
e. Mengancam secara verbal
f. Aktifitas tidak tepat
g. Streotif
h. Impulsive
i. Curiga
4. Fisik

3
a. Hygiene kurang
b. Muka pucat
c. Sering menguap
d. Bb menurun
C. Etiologi
Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir waham yaitu Gangguan konsep
diri ,harga diri rendah. Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang
percapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal
diri .Gangguan harga diri rendah dapat digambarkan sebagai perasaan negative
terhadap diri sendiri ,hilang kepercayaan diri, dan merasa gagal mencapai keinginan.
1. Factor predisposisi
Menurut Direja (2011) yaitu
a. Factor perkembangan : hambatan perkembangan yang dapat menggangu
hubungan interpersonal seseorang individu. Hal ini akan meningkatkan stress
dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi, klien menekan
perasaannya sehingga pemtangan fungi intelektual dan emosi menjadi tidak
efektif.
b. Factor social budaya
Seorang individu yang kesepian dan merasa diasingkan dari lingkungan dapat
menyebabkan timbulnya waham
c. Factor psikologis
Waham dapat disebabkan karena hubungan yang tidak ahrmonis ataupun
menjalani peran ganda atau bertentangan. Hal ini dapat menimbulkan ansietas
yang berakhir dengan pengingkaran.
d. Factor biologis
Waham yang diyakini terjadi adanya atrofi otak, pembesaran ventrikel otak,
serta terdapapat perubahan pada selkortikal dan limbik
e. Factor genetic : diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem saraf
yang berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif
2. Factor presipitasi
a. Factor social budaya

4
Waham dapat dipicu karena adainnya juga didapatnya perpisahan dengan
orang yang bearti.selain itu pengasingan atau penguncilan dari kelompok
masyarakat juga dapat menjadi pemicu waham.
b. Factor biokimia
Obat-obat farmakologis seperti dopamine, norepineprin, dan zat halusinogen
lainnya diduga dapat menjadi penyebab waham
c. Factor psikologis
Kecemasan serta terbatasnnya individu dalam mengatasi masalah dapat
menyebabkan waham. Seseorang yang tidak mampu mengembangkan koping
efektif cederung menghindari kenyataan dan hidup DALAM FANTASI
D. Jenis jenis waham
Jenis jenis waham menjadi beberapa macam, menurut (Direja, 2011) yaitu :
1. Waham kebesaran
Meyakini bahwa ia meimiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan
berulang kali tetapi tidak seusuai kenyataan. Contoh : “Saya ini pejabat di
departemen kesehatan lho.” Atau “Saya punya tambang emas”.
2. Waham curiga
Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan/mencederai dirinya, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai
kenyataan. Contoh: “Saya tahu. Anda ingin menghancurkan hidup saya karena
iri dengan kesuksesan saya.”
3. Waham keagamaaan
Memiliki keyakinan terhadap suatu agam secara berlebihan, diucapkan berulang
kali tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh: “Kalau saya mau masuk surga saya
harus menggunakan pakaian putih, setiap hari.”
4. Waham somatik
Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu terserang penyakit,
diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuati kenyataan. Contoh: “Saya sakit
kanker”. Setelah pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan tanda-tanda kanker
namun pasien terus mengatakan bahwa ia terserang kanker.
5. Waham nihilistik
Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meinggal, diucapkan
berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh: “Ini kan alam kubur ya,
semua yang ada di sini adalah roh-roh.

5
6. Waham cemburu
Selalu cemburu dengan orang lain

7. Waham pengaruh
Pikiran ,emosi ,dan perbuatannya dipengaruhi atau di awasi oleh orang lain.
8. Waham dikejar
Individu merasa dirinya senantiasa dikejar-kejar oleh orang lain atau kelompok
orang yng bermaksud berbuat jahat padanya.
9. Waham berdosa
Timbul perasaan salah yang luar biasa dan meraskan suatu dosa yang
besar.Penderita sudah percaya selayaknya ia sudah dihukum berat.

E. Psikopatologi (Proses Terjadinya Waham)


Fase Lack of Human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik
maupun psikis. Secara fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang
dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Ada juga klien yang secara sosial
dan ekonmi terpenuhi tetapi kesenjangan antara reality dengan self ideal sangat
tinggi. Waham terjadi karena sangat pentingnya pengakuan bahwa ia eksis di dunia
ini. Dapat dipengaruhi juga oleh rendahnya penghargaan saat tumbuh kembang.
Fase Lack of Self Esteem
Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal
dan self reality ( kenyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak
terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya.
Fase Control Internal Eksternal
Klien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia
katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan
kenyataan. Tetapi menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang sangat
berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan
diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut
belum terpenuhi sejak kecil secara optimal.
Fase Environment Support
Adanya beberapa orang yang mempercayai dengan lingkungannya menyebabkan
klien merasa di dukung, lama-kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan
tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai
6
terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (super ego) yang
ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong.
Fase Comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap
bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan
sering disertai halusinasi pada saat klien menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya
klien lebih sering menyendiri dan menghindari interaksi sosial (isolasi sosial).
Fase Improving
Apabila tidak ada konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan yang
salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan
traumatik masa lalu atau kebutuhan kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang
hilang). Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham yang dapat
menimbulkan ancaman diri dan orang lain. Penting sekali untuk mengguncang
keyakinan klien dengan cara konfrontatif serta memperkaya keyakinan religiusnya
bahwa apa-apa yang dilakukan menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi
sosial.
F. Penatalaksanaan
1. Psikofarmakologi
2. Pasien hiperaktif atau agitasi anti psikotik low potensial
3. Penarikan diri high potensial
4. ECT tipe katatonik
5. Psikoterapi
6. Perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, terapi supportif

STRATEGI PELAKSANAAN KOMUNIKASI PADA PASIEN DENGAN WAHAM

7
SP 1 P : Membina hubungan saling percaya ; mengidentifikasi kebutuhan yang
tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan ; mempraktekkan pemenuhan
kebutuhan yang tidak terpenuhi.
ORIENTASI :
“Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Citto, saya perawat yang dinas pagi ini di
Ruang melati. Saya dinas dari jam 07.00–14.00, saya yang akan membantu perawatan
bapak hari ini. Nama bapak siapa? senangnya dipanggil apa?”
“Bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang bapak R rasakan sekarang?”
“Berapa lama bapak R mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang pak?”
KERJA :
“Saya mengerti pak R merasa bahwa pak R adalah seorang Nabi, tapi sulit bagi saya
untuk mempercayainya, karena setahu saya semua Nabi tidak hidup didunia ini, bisa kita
lanjutkan pembicaraan yang tadi terputus pak?”
“Tampaknya pak R gelisa sekali, bias pak R ceritakan kepada saya apa yang pak R
rasakan?”
“Oooo, jadi pak R merasa takut nanti diatur-atur oleh orang lain dan tidak punya hak
untuk mengatur diri pak R sendiri?”
“Siapa menurut pak R yang sering mengatur-atur diri pak R?”
“Jadi teman pak R yang terlalu mengatur-atur ya pak, juga adik pak R yang lain?”
“Kalau pak R sendiri inginnya seperti apa?”
“Ooo, Bagus pak R sudah punya rencana dan jadwal unutk diri sendiri.”
“Coba kita tuliskan rencana dan jadwal tersebut pak R.”
“Wah, bagus sekali, jadi setiap harinya pak R ingin ada kegiatan di luar rumah sakit
karena bosan kalau dirumah sakit terus ya?”
TERMINASI :
“Bagimana perasaan pak R setelah berbincang-bincang dengan saya?”
“Apa saja tadi yang telah kita bicarakan? Bagus.”
“Bagaimana kalau jadwal ini pak R coba lakukan, setuju pak?”
“Bagaimana kalau bincang-bincang kita saat ini kita akan lanjutkan lagi.”
“Saya akan datang kembali dua jam lagi.”
“Kita akan berbincang-bincang tentang kemampuan yang pernah pak R miliki?”
“Bapak mau kita berbincang-bincang dimana? Bagaimana kalau disini saja pak R?”

SP 2 P : Mengidentifikasi kemampuan positif pasien dan membantu


mempraktekannya.
ORIENTASI :
“Assalamualaikum pak R, bagaimana perasaannya saat ini? Bagus”
“Apakah pak R sudah mengingat-ngingat apa saja hobi atau kegemaran pak R?”
“Bagaimana kalau kita bicarakan hobi tersebut sekarang?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang tentang hobi pak R tersebut?”
“Berapa lama pak R mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit?”
8
KERJA :
“Apa saja hobi pak R? Saya catat ya pak, terus apa lagi?”
“Wah, rupanya pak R pandai main suling ya.”
“Bisa pak R ceritakan kepada saya kapan pertama kali belajar main Suling, siapa yang
dulu mengajarkannya kepada pak R, dimana?”
“Bisa pak R peragakan kepada saya bagaiman bermain suling yang baik itu.”
“Wah, bagus sekali pak. Bagaimana kalau kita buat jadwal untuk kemampuan pak R ini.
Berapa kali sehari/seminggu pak R mau bermain suling?”
“Apa yang pak R harapkan dari kemampuan bermain suling ini?”
“Ada tidak hobi atau kemampuan pak R yang lain selain bermain suling?”

TERMINASI :
“Bagaimana perasaan pak R setelah kita berbincang-bincang tentang hobi dan
kemampuan pak R?”
“Setelah ini coba pak R lakukan latihan bermain suling sesuai denga jadwal yang telah
kita buat ya?”
“Bagaimana kalau bincang-bincang kita saat ini kita akan lanjutkan lagi.”
“Bagaiman kalau nanti sebelum makan siang? Nanti kita ketemuan di taman saja, setuju
pak?”
“Nanti kita akan membicarakan tentang obat yang harus pak R minimum, setuju?”

SP 3 P : Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar.

ORIENTASI :
“Assalamualaikum pak R.”
“Bagaimana pak, sudah dicoba latihan main sulingnya? Bagus sekali.”
“Sesuai dengan janji kita tadi, kita akan membicarakan tentang obat yang harus pak R
minum, Bagaimana kalau kita mulai sekarang pak?”
“Berapa lama pak R mau kita membicarakannya? Bagaimana kalau 20 atau 30 menit
saja?”

KERJA:
“Pak R berapa macam obat yang diminum, jam berapa saja obat yang diminum?”
“Pak R perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang, tidurnya juga tenang.”
“Obatnya ada tiga macam pak, yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya agar
tenang, yang putih ini namanya THP gunanya agar rileks, dan yang merah jambu ini
namanya HLP gunanya agar pikiran jadi teratur. Semuanya ini diminum 3 kali sehari, jam
7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam.”
“Bila nanti setelah minum obat mulut pak R terasa kering, untuk membantu
mengatasinya pak R bisa banyak minum dan mengisap-isap es batu.”
“Sebelum minum obat ini pak R mengecek dulu label dikotak obat apakah benar nama
pak R tertulis disitu, berapa dosis atau butir yang harus diminum, jam berapa saja harus
diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar!”

9
“Obat-obat ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar harus diminum
dalam waktu yang lama. Agar tidak kambuh lagi, sebaiknya pak R tidak menghentikan
sendiri obat yang harus diminum sebelum berkonsultasi dengan dokter.”

TERMINASI :
“Bagaiman perasaan pak R setelah kita becakap-cakap tentang obat yang pak R minum?
Apa saja nama obatnya? Jam berapa minum obat?”
“Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan! Jangan lupa minum obatnya dan nanti saat
makan minta sendiri obatnya pada perawat!”
“Jadwal yang telah kita buat kemarin dilanjutkan ya pak!”
“Pak besok kita ketemu lagi untuk melihat jadwal kegiatan yang telah dilaksanakan.
“Bagaimana kalau seperti biasa, jam 10 dan ditempat sama?”
“Sampai besok ya pak.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

10
A. Asuhan Keperawatan Masalah Waham
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar proses keperawatan secara
menyeluruh. Pada tahap ini pasien yang dibutuhkan dikumpulkan untuk
menentukan masalah keperawatan. (Prabowo, 2014) Setiap melakukan
pengkajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat. Isi pengkajiannya
meliputi:
1. Identifikasi klien

Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien
tentang: Nama klien, panggilan klien, Nama perawat, tujuan, waktu
pertemuan, topik pembicaraan.
2. Keluhan utama / alasan masuk

Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga
datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi
masalah dan perkembangan yang dicapai.
3. Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan
jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami, penganiayaan fisik,
seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan
tindakan kriminal.
Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang mungkin
mengakibatkan terjadinya gangguan:
 Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon psikologis dari klien.
 Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP, pertumbuhan
dan perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anak-
anak.
 Sosial Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan, kerusuhan,
kerawanan), kehidupan yang terisolasi serta stress yang
menumpuk.

4. Aspek fisik / biologis


Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi, suhu,
pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan, kalau perlu kaji fungsi
organ kalau ada keluhan.

5. Aspek psikososial
11
 Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi yang
dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga, masalah yang
terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.
 Konsep diri
 Citra tubuh: mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian
yang disukai dan tidak disukai.
 Identitas diri: status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan
klien terhadap status dan posisinya dan kepuasan klien sebagai
laki-laki / perempuan.
 Peran: tugas yang diemban dalam keluarga / kelompok dan
masyarakat dan kemampuan klien dalam melaksanakan tugas
tersebut.
 Ideal diri: harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas, lingkungan
dan penyakitnya.
 Harga diri: hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan
penghargaan orang lain terhadap dirinya, biasanya terjadi
pengungkapan kekecewaan terhadap dirinya sebagai wujud harga
diri rendah.
 Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam
kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat.
 Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.
 Status mental
 Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien,
aktivitas motorik klien, alam perasaan klien (sedih, takut,
khawatir), afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi klien,
proses pikir, isi pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat
konsentasi dan berhitung, kemampuan penilaian dan daya tilik diri.

 Kebutuhan persiapan pulang


 Kemampuan makan klien, klien mampu menyiapkan dan
membersihkan alat makan.
 Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan
WC serta membersihkan dan merapikan pakaian.
 Mandi klien dengan cara berpakaian, observasi kebersihan tubuh
klien.
 Istirahat dan tidur klien, aktivitas di dalam dan di luar rumah.

12
 Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan
setelah minum obat.
 Masalah psikososial dan lingkungan dari data keluarga atau klien
mengenai masalah yang dimiliki klien.
 Pengetahuan
Data didapatkan melalui wawancara dengan klien kemudian tiap
bagian yang dimiliki klien disimpulkan dalam masalah.

6. Aspek medik
Terapi yang diterima oleh klien: ECT, terapi antara lain seperti terapi
psikomotor, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spiritual, terapi
okupasi, terapi lingkungan. Rehabilitasi sebagai suatu refungsionalisasi
dan perkembangan klien supaya dapat melaksanakan sosialisasi secara
wajar dalam kehidupan bermasyarakat.

Berikut ini beberapa contoh pertanyaan yang dapat digunakan sebagai panduan untuk
mengkaji pasien dengan waham:
1. Apakah pasien memiliki pikiran/isi pikir yang berulang-ulang diungkapkan dan
menetap?
2. Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu, atau apakah pasien cemas
secara berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya?
3. Apakah pasien pernah merasakan bahwa benda-benda di sekitarnya aneh dan tidak
nyata?
4. Apakah pasien pernah merasakan bahwa ia berada di luar tubuhnya?
5. Apakah pasien pernah merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain?
6. Apakah pasien berpikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol oleh orang lain atau
kekuatan dari luar?
7. Apakah pasien menyatakan bahwa ia meimliki kekuatan fisik atau kekuatan lainnya
atau yakin bahwa orang lain dapat membaca pikirannya?
Selama pengkajian dengarkan dan perhatikan semua informasi yang diberikan oleh
pasien tentang wahamnya. Untuk mempertahankan hubungan saling percaya yang
telah terbina jangan menyangkal, menolak, atau menerima keyakinan pasien.

13
B. Diagnosis Keperawatan
Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari hasil
pengkajian adalah:
1. Perubahan proses pikir waham
2. Resiko mencederai diri ,orang lain dan lingkungan
C. Perencanaan dan Intervensi Keperawatan
1) Perencanaan Keperawatan
Tindakan keperawatan untuk pasien
Tujuan tindakan :
1. Pasien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap.
2. Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar.
3. Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan.
4. Pasien menggunakan obat dengan teratur.

Tindakan Keperawatan:
1. Bina Hubungan saling percaya. Sebelum memulai mengkaji pasien dengan
waham, bina hubungan saling percaya terlebih dahulu agar pasien merasa aman
dan nyaman saat berinteraksi. Tindakan yang harus dilakukan dalam rangka
membina hubungan saling percaya:
a. Mengucapkan salam terapeutik
b. Berjabat tangan
c. Menjelaskan tujuan interaksi
d. Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien.
2. Bantu orientasi realita.
a. Tidak mendukung atau membantah waham pasien.
b. Yakinkan pasien berada dalam keadaan aman.
c. Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari

14
d. Jika pasien terus-menerus membicarakan wahamnya dengarkan tanpa
memberikan dukungan atau menyangkal sampai pasien berhenti
membicarakannya.
e. Fokuskan pembicaraan pada realitas, (mis., memanggil nama pasien,
menjelaskan hal yang sesuai realita).
f. Berikan pujian bila penampilan dan orientasi pasien sesuai dengan realita.
3. Diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi sehingga
menimbulkan kecemasan, rasa takut, dan marah. Misalnya yang menyangkut
masalah-masalah masa kecil, dirumah, dikantor, hubungan dengan keluarga,
ditempat pekerjaan atau harapan-harapan yang selama ini tidak tercapai.
4. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan emosional pasien.
5. Berdiskusi tentang kemampuan positif yang dimiliki pada saat yang lalu dan saat
ini.
6. Bantu melakukan kemampuan yang dimiliki.
7. Libatkan pada kegiatan sehari-hari di rumah sakit serta tingkatkan aktifitas yang
dapat memenuhi kebutuhan fisik dan emosional klien, misalnya menggambar,
bernanyi, membuat puisi, religious terapi, dsb.
8. Lakukan kontrak dengan klien untuk berbicara dalam konteks realita seperti cara-
cara mengisi waktu, cara meningkatkan ketrampilan yang mendatangkan uang,
cara belajar menjahit, menjaga kebersihan, dsb.
9. Berdiskusi tentang obat yang diminum (manfaat, dosis obat, jenis, dan efek
samping obat yang diminum serta cara meminum obat yang benar).
10. Libatkan dan diskusikan dengan keluarga tentang waham yang dialami klien, cara
merawat klien dengan waham dirumah, follow up dan keteraturan pengobatan
serta lingkungan yang tepat untuk klien.

2) Intervensi dan Rasional


15
N Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
o

R resiko mencederai Tujuan umum :


diri, orang lain dan
1 lingkungan Klien tidak
berubungan menciderai diri,
dengan waham.
orang lain, dan
lingkungan

Tujuan khsus :

a. Klien - Bina hubungan saling - -- Hubungan saling


percaya : salam percaya merupakan dasar
dapat
terapeutik, perkenalkan untuk kelancaran
membina hubungan interaksinya.
diri, jelaskan tujuan
hubungan interaksi, ciptakan
saling lingkungan yang tenang,
buat kontrak yang jelas
percaya
(topik, waktu, tempat).
dengan
-Jangan membantah dan
perawat
mendukung waham
klien : katakan perawat
menerima keyakinan
klien "saya menerima
keyakinan anda" disertai
ekspresi menerima,
katakan perawat tidak
mendukung disertai
ekspresi ragu dan empati,
tidak membicarakan isi
waham klien.

-Yakinkan klien berada


dalam keadaan aman dan
terlindungi : katakan
perawat akan menemani - Dengan mengetahui
klien dan klien berada di kemampuan yang

16
tempat yang aman, dimiliki klien, maka akan
gunakan keterbukaan dan memudahkan perawat
kejujuran jangan untuk mengarahkan
tinggalkan klien kegiatan yang bermanfaat
sendirian. bagi klien dari pada
- Observasi apakah hanya memikirkannya.
wahamnya mengganggu
aktivitas harian dan
perawatan diri.

Tujuan khusus :

b. Klien - Beri pujian pada


penampilan dan
dapat kemampuan klien yang
mengiden realistis.
- Diskusikan bersama
tifikasi klien kemampuan yang
kemampu dimiliki pada waktu lalu
dan saat ini yang realistis.
an yang - Tanyakan apa yang
dimiliki. biasa dilakukan
kemudian anjurkan untuk
melakukannya saat ini
(kaitkan dengan aktivitas
sehari hari dan perawatan
diri).
- Jika klien selalu bicara - Dengan mengetahui
tentang wahamnya,
dengarkan sampai kebutuhan klien yang
kebutuhan waham tidak belum terpenuhi
ada. Perlihatkan kepada
klien bahwa klien sangat perawat dapat
penting. merencanakan untuk
memenuhinya dan lebih
memperhatikan
kebutuhan klien
tersebut sehingga klien

17
merasa nyaman dan
aman
Tujuan khusus :

c. Klien dapat - Observasi kebutuhan


mengidenti klien sehari-hari.
fikasikan
kebutuhan - Diskusikan kebutuhan
yang tidak klien yang tidak
terpenuhi. terpenuhi baik selama di
rumah maupun di rumah
sakit (rasa sakit, cemas,
marah).
- Hubungkan kebutuhan
yang tidak terpenuhi dan
timbulnya waham.

- Tingkatkan aktivitas
yang dapat memenuhi
kebutuhan klien dan
memerlukan waktu dan - Menghadirkan realitas
dapat membuka pikiran
tenaga (buat jadwal jika
bahwa realita itu lebih
mungkin). benar dari pada apa yang
dipikirkan klien sehingga
- Atur situasi agar klien
klien dapat
tidak mempunyai waktu
menghilangkan waham
untuk menggunakan
yang ada.
wahamnya.

- Penggunaan obat yang


secara teratur dan benar
Tujuan khusus :
- Berbicara dengan klien akan mempengaruhi
dalam konteks realitas proses penyembuhan dan
d. Klien memberikan efek dan
(diri, orang lain, tempat
dapat dan waktu). efek samping obat.
- Sertakan klien dalam
berhubun
terapi aktivitas
gan kelompok : orientasi

18
dengan realitas.
- Berikan pujian pada tiap
realitas
kegiatan positif yang
dilakukan klien.

Tujuan khusus :

e. Klien
dapat
menggun - Diskusikan dengan
klien tentang nama obat,
akan obat dosis, frekuensi, efek dan - Dukungan dan
dengan efek samping minum perhatian keluarga dalam
obat. merawat klien akan
benar - Bantu klien mambentu proses
menggunakan obat penyembuhan klien.
dengan prinsip 5 benar
(nama pasien, obat, dosis,
cara dan waktu).
- Anjurkan klien
membicarakan efek dan
efek samping obat yang
dirasakan.
- Beri reinforcement bila
klien minum obat yang
benar.
Tujuan khusus :

f. Klien dapat
dukungan
dari
keluarga. - Diskusikan dengan
keluarga melalui
pertemuan keluarga
tentang : gejala waham,
cara merawat klien,
lingkungan keluarga dan
follow up obat.
- Beri reinforcement atas - klien dapat menyadari
keterlibatan keluarga tanda-tanda kekerasan
sehigga perawat dapat
2
memberikan intervensi
Tujuan umum : selanjutnya.
Resiko mencederai

19
a. klien tidak
diri dan orang lain mencederai
serta lingkungan diri - klien dapat
sendiri,ora
ng lain dan mengungkapkan
lingkungan penyebab prilaku
sekitarnya
kekerasan

tujuan khusus :
- Lingkungan yang
- Klien dapat aman akan menghambat
memahami kognisi pasien untuk
benda-
benda berbuat kekerasan.
tajam yang - Kaji pengetahuan
dapat
membahay klien dengan prilaku
akan kekerasan sehingga
dirinya.
dapat di cegah lebih
- Klien dapat awal.
menghindari
factor factor
resiko yang
dapat - Beri kesempatan klien
memicunya untuk mengungkapkan
untuk perasaannya terutama
berperilaku penyebab prilaku
kekerasan. kekerasan.

- Berikan klien
lingkungan yang
aman,jauhkan benda
benda tajam dari
jangkauan klien

20
21
22
23
24
D. Evaluasi
1. Klien percaya dengan perawat, terbuka untuk ekspresi waham
2. Klien menyadari kaitan kebutuhan yang tidak terpenuhi dengan keyakinannya
(waham) saat ini
3. Klien dapat melakukan upaya untuk mengontrol waham
4. Keluarga mendukung dan bersikap terapeutik terhadap klien
5. Klien menggunakan obat sesuai program

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola prilaku yang secara klinis bermakna
yang berkaitan langsung distress (penderitaan) dan menimbulkan hendaya (disabilitas)
pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia. Salah satu gangguan jiwa yang sering
terjadi pada masyarakat, yaitu waham. Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai
dengan kenyataan tetapi dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang
lain, keyakinan ini berasal dari pemikiran klien dimana sudah kehilangan control.
3.2 Saran
Diharapkan bagi pembaca setelah membaca makalah ini khususnya perawat dan
memahami dan mengerti serta dapat mengaplikasikan tindakan keperawatan secara
intensif serta mampu berfikir kritis dalam melaksanakan proses keperawatan apabila
mendapati klien dengan penyakit gangguan kejiwaan.

25
Daftar Pustaka

Ariawan D, Made. Ratep, Nyoman. Westa, Wayan. GANGGUAN WAHAM MENETAP


PADA PASIEN DENGAN RIWAYAT PENYALAHGUNAAN GANJA: SEBUAH
LAPORAN KASUS. 2014. [Diakses: 10 Sept 2019] Diambil dari:
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/download/9635/7146.

Dermawan, D & Rusdi. 2013. Keperawatan Jiwa: Konsep dan Kerangka Kerja
Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Keliat, Anna Budi. Akemat. Helena, Novy, dkk. 2007. Keperawatan Kesehatan Jiwa
Komunitas: CMHN (Basic Care). Jakarta: EGC
Prabowo, Eko. 2014. Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:
Nuha Medika.
Riyadi, T dan Purwanto, T. 2013. Asuhan Keperawatn Jiwa. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Stuart, Gail W.2007. Buku Saku Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
S. N. Ade Herma Direja. 2011. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha
Medika.

27