Anda di halaman 1dari 1

KETIKA LANGIT DAN BUMI BERSATU, BANGUNKAN AKU DI TEMPAT KITA BERJANJI

Si bocah itu bernama Cakera. Ia menatap langit dengan mesra seakan itu adalah kekasihnya. Ia berdiri
diatas bebatuan pantai dengan posisi badan tegak menahan kencangnya angin laut. Saat ia menatap
lebih dalam ke arah langit, ia meneteskan air matanya.

“Sampai kapan kau akan menatap si biru itu?” teriak temannya dari kejauhan. Temannya itu bernama
Abimanyu, ia lebih tinggi 5 senti dari Cakera. Disisi kanan dan kiri Abimanyu adalah Bamantara dan
Cakera, keduanya juga teman Cakera.

“Yang kau maksud biru itu, yang atas atau yang bawah?” Tanya Cakera sembari mengalihkan perhatian
kedua temannya dari tetesan air mata yang ada di pipinya.

“Atas. Ketika kita berkumpul di pantai ini, kau selalu bermesraan dengan si biru di atas itu.” Jawab
Abimanyu.

Cakera hanya membalasnya dengan senyuman manis kemudian berlari kearah mereka bertiga. Disinilah
mereka pertama kali bertemu dan akan berakhir juga disini. Inilah tempat segalanya berawal sekaligus
tempat segalanya berakhir. Tempat dimana sang bumi dan langit bersatu dengan sangat jelas.

Mereka berempat berjalan melawan arus angin, bersiap menghadapi tantangan yang ada di depannya.
Haripun mulai petang, sang surya malu-malu menenggelamkan dirinya. Sang surya tahu, ini adalah
tenggelamnya yang terakhir untuk cakera. Ia terlihat semakin indah dari sudut pandang Cakera.