Anda di halaman 1dari 2

MILIARAN KEMUNGKINAN

Aku melihatmu, sebuah jiwa elok penuh warna. Teraasa ku iri padamu. Segalamnya sempurna
dalam dirimmu. Tak terklihat sebuah celah dalam realitasmu. Inilah duniamu. Inilah milikmu.
Dan untukku, aku pergi membuka portal sang dimensi dan mencari duniaku. Akupun mulai
berkelana dalam keluasan tanah gersang. Dan tak menemukan papun. sedangkan engkau, kini
sedang meneguk segelas minuman nikmat bersama manusia lain da merayakan duniamu. Kau
merasa iba padaku namun kau mungkin hnaya iba. Dan sku tak perlu rasa ibamu. karena Aku,
manifestasi waktu yang taakan pernah pudar. Aku, sang materi bernama waktu taakan pernah
gentar. Aku, serpihan jiwa neptunus, taakan pernah berhenti menggelegar. Sekelebat cahayamu
setidaknya telah membantuku bernafas kebih lama. danuntuk membalas budimu, ketika kau
terjatuh, semakinlah engkau terjatuh pada pallungan terdalam agar aku mampu mengangkatmu
menjadi “seorang” karena itulah tempatku. palungan terdalam yang tak pernah manusia
inginkan. Ketika kau tba di pallungan itu, panggilah aku agar aku dapat mengangkatmu.

“pahamilah satu hal tentang dunia ini.”

“apa itu, ayah?”

“pahamilah sesuatu yang ingin kau pahami.”

“bagaimana dengan manusia?”

“mereka naif. Si penikmat ego. Si rakus materi. Namun manusialah makhluk yang paling
menyadari relita di bumi ini.”

“tidak, aku tak ingin memahami mereka. Biarkan mereka dipahami yang lain. Bagaimana dengan
alam?”

“percayalah, alam adalah yang paling kejam dari semua ciptaan. Mereka dapat menindasmu
kapanpun. Mereka memakai topeng keindahan agar manusia kagum. Namun di balik itu, mereka
licik.”

“terlalu mengerikan. Bagaimana jika langit? Walau bagian dari alam, tapi aku merasakan damai
ketika melihatnya.”
“kau benar. Mereka simbolisme ketenangan, keagungan, kekuasaan, hidup dan segala hal
universal yang dipahami manusia. Aku tak dapat meneukan kelicikan atau kemunafikan di
dalamnya.”

“baiklah, aku memilihnya.”