Anda di halaman 1dari 35

Manajemen

Gawat Darurat
Luka Bakar
Emergency Management of Burns

Ns. Muhamad Adam, M.Kep, Sp.KMB


muhamad.adam31@ui.ac.id
Lingkup Bahasan
Definisi, Penyebab, Lokasi Kejadian & Prevalensi Luka
Bakar

Patofisiologi Luka bakar

Jenis, Derajat dan Keparahan Luka Bakar

Luas Luka Bakar

Penalaksanaan Prehospital, Awal dan Lanjut

muhamad.adam31@ui.ac.id
Pendahuluan
• Luka Bakar (Combustio)
merupakan cedera pada
jaringan yang disebabkan oleh
kontak dengan panas kering
(api), panas lembab (uap atau
cairan panas), kimiawi dan listrik
• Luka bakar merupakan cedera
yang memiliki morbiditas dan
mortalitas yang tinggi sehingga
memerlukan penatalaksanaan
khusus mulai dari fase awal
hingga lanjut.
muhamad.adam31@ui.ac.id
Pendahuluan (Lanjutan)

Penyebab Cedera Luka Bakar

KIMIAWI LAIN-LAIN

LISTRIK

API
PENYEBAB
LUKA BAKAR
KONTAK
BENDA PANAS CAIRAN/UAP
PANAS

Sumber:
American Burn Association (2016)
muhamad.adam31@ui.ac.id
Pendahuluan (Lanjutan)
Lokasi Kejadian Luka Bakar

RUMAH
INDUSTRI

JALANAN

TEMPAT REKREASI

LAIN-LAIN

Sumber:
American Burn Association (2016) muhamad.adam31@ui.ac.id
Pendahuluan (Lanjutan)

Di Amerika, terdapat 1 orang


mengalami luka bakar setiap
34 menit
Terdapat 1 orang meninggal akibat
luka bakar setiap 2 jam 35
menit
Sumber: American Burns Association (2016)

Di Indonesia, prevalensi sekitar


0,7% (1,7 juta orang).
Sumber: Riskesdas – Kemkes (2013)
muhamad.adam31@ui.ac.id
Perbedaan utama antara LUKA
BAKAR dengan cedera lainnya ialah
dampaknya disebabkan secara
langsung oleh respons inflamasi.
Luka Bakar
Patofisiologi
↑ Permeabilitas
vaskuler

↓ Volume
Edema
intravaskuler

• Luka bakar mulai terjadi ↓ Volume darah ↑ Hematokrit


pada suhu 44°
• Berlangsung dalam 24
jam pertama luka
↑ Viskositas
bakar
• Syok luka bakar adalah
syok hipovolemik dan
syok seluler ↑ Viskositas
Sumber:
Lewis et al (2013), ENA (2013)

Syok Luka Bakar


muhamad.adam31@ui.ac.id
Jenis Luka Bakar
• Dulu disebut dengan Luka
Luka Bakar Bakar Mayor
Kompleks • Luas >10% pada anak
• Luas >15% pada dewasa

• Dulu disebut dengan Luka


Luka Bakar Bakar Minor
Non-Kompleks • Luas <10% pada anak
• Luas <15% pada dewasa

Sumber:
Wounds International (2014)
muhamad.adam31@ui.ac.id
Derajat Luka Bakar
Superfisial
(Derajat 1)
Merah, kering

Parsial
(Derajat 2)
Pink, lembab, bulla

Dalam
(Derajat 3)
Coklat/Hitam, kering

muhamad.adam31@ui.ac.id
Sumber: ATLS (2018), Lewis et al (2013), White, Duncan, Wendy (2013)
Keparahan Luka Bakar
(Burn Severity)
Keparahan luka bakar dapat dihitung dengan Burn Index (BI)
𝟏
𝐁𝐈 = × 𝒍𝒖𝒂𝒔 𝒅𝒆𝒓𝒂𝒋𝒂𝒕 𝒅𝒖𝒂 + 𝒍𝒖𝒂𝒔 𝒅𝒆𝒓𝒂𝒋𝒂𝒕 𝒕𝒊𝒈𝒂
𝟐
Jika BI >10 dianggap PARAH

Prognosis luka bakar dapat dihitung dengan Prognostic Burn


Index (PBI)
𝐏𝐁𝐈 = 𝑩𝑰 + 𝒖𝒔𝒊𝒂
Jika BI >85 dianggap MORTALITAS TINGGI

Sumber: ATLS (2018); Yoshino et al (2016)


muhamad.adam31@ui.ac.id
Luas Luka Bakar
Metode Rule of Nine’s
• Membagi luas
permukaan tubuh
secara anatomis
dengan kelipatan 9.
• Telapak tangan pasien
(termasuk jari-jari)
sama dengan 1%.

Sumber:
TETAF (2016). Burn Clinical Practice Guidelines.
Austin: Texas EMS Trauma & Acute
Care Foundation Trauma Division

muhamad.adam31@ui.ac.id
Luas Luka Bakar (Lanjutan)

Metode Lund & Browder


• Mempertimbangkan usia dan perkembangan
• Lebih akurat dibanding Rule of 9’s
• Digunakan dewasa dan terutama untuk anak

Sumber: TETAF (2016). Burn Clinical Practice


Guidelines. Austin: Texas EMS Trauma & Acute Care
muhamad.adam31@ui.ac.id Foundation Trauma Division
Penatalaksanaan Gawat Darurat
pada Cedera Luka Bakar
PENATALAKSANAAN

PREHOSPITAL
AWAL
LANJUT

muhamad.adam31@ui.ac.id
Penatalaksanaan Prehospital
Menghentikan Proses Kebakaran

STOP
DROP

ROLL

muhamad.adam31@ui.ac.id
Penatalaksanaan Prehospital
Pertolongan Pertama
• Alirkan air selama setidaknya 20

3C Cool
menit
• Bahan kimia dialirkan air 1 jam

• Singkirkan apapun yang dapat


membakar (yang tidak menempel).
Clear • Lepas perhiasan
• Lepaskan pakaian yang
terkontaminasi bahan kimia
Cover
• Balut dengan non-adherent
dressing (balutan tidak lengket)

PERHATIAN:
- Jangan gunakan es
- Jangan oleskan pasta gigi, putih
telur, mentega, dll
muhamad.adam31@ui.ac.id - Jangan pecahkan lepuhan
Penatalaksanaan Awal
MANAJEMEN JALAN NAPAS
Airway Kontrol Jalan Napas

DUKUNGAN VENTILASI
Breating Pastikan Ventilasi Adekuat

MANAJEMEN SYOK
Circulation Atasi Syok Luka Bakar

PEMANTAUAN NEUROLOGIS
Disability Kaji Status Neurologis
Sumber:
ATLS (2018), ENA (2013) MANAJEMEN NYERI &
HIPOTERMIA
Exposure Atasi Nyeri dan Cegah
muhamad.adam31@ui.ac.id Hipotermia
Airway
• Obstruksi jalan napas terjadi
pada 25-33% pasien luka bakar
• Obstruksi jalan napas tidak
hanya diakibatkan oleh trauma
inhalasi, namun juga edema
masif
• Luka bakar yang disertai trauma
inhalasi mengalami angka
mortalitas 27,3% dibandingkan
tanpa trauma inhalasi hanya
sebesar 4,5%
• Kerusakan silia pada jalan
napas  sulit mengeluarkan
sekret
muhamad.adam31@ui.ac.id
Airway (Lanjutan)

Edema pada Wajah Edema pada Wajah


setelah 24 jam

Intubasi kemungkinan akan sulit dilakukan akibat edema


pada wajah dan hipolaring
Sumber: ENA (2013), Lewis et al (2013) muhamad.adam31@ui.ac.id
Airway
Manajemen Jalan Napas
• Periksa kepatenan jalan napas 
adanya obstruksi/edema?
• Pertahankan jalan napas tetap
terbuka dengan head tilt – chin lift
atau jaw thrust
• Pasang collar neck jika curiga cedera
servikal
• Pertimbangkan pemasangan ETT
dengan ukuran yang sesuai
Dewasa ≥7,5 mm
Anak (usia ÷ 4) + 4

muhamad.adam31@ui.ac.id
Airway: Manajemen Jalan Napas (Lanjutan)

Dicurigai Trauma Inhalasi dan


Indikasi Intubasi Dini (Early Intubation)
• Terdapat tanda obstruksi jalan napas
• Stridor, otot bantu napas, retraksi
sternum
• Luka bakar luas (>40%)
• Luka bakar pada wajah dan/atau
sekitar mulut
• Sulit menelan
• Penurunan kesadaran
Sumber:
American Burn Life Support (ABLS)

muhamad.adam31@ui.ac.id
Breathing
• Gangguan pernapasan
diakibatkan oleh aspirasi
gas panas yang memicu
inflamasi pada mukosa
• Keracunan karbon Afinitas karbon
monoksida terjadi akibat monoksida terhadap Hb
kebakaran pada ruang 240 kali lebih tinggi
tertutup diibanding oksigen

Kulit pasien keracunan karbon monoksida


tampak berwarna merah cerry

muhamad.adam31@ui.ac.id
Breathing (Lanjutan)

Dampak Karbon Monoksida (CO)


Kadar CO dalam Darah Gejala

<20% Tidak ada gejala

20 – 30% Sakit kepala dan mual

30 – 40% Konfusi, takipnea (sesak)

40 – 60% Koma

>60% Meninggal
muhamad.adam31@ui.ac.id
Breathing
Dukungan Ventilasi
• Periksa kecepatan dan kedalam
napas serta auskultasi bunyi paru
bilateral
• Tinggikan kepala tempat tidur 30°
• Untuk mencegah edema pada leher
dan dinding dada
• Berikan oksigen 100% via NRM
• Jangan percaya oksimetri nadi!
• Tidak dapat membedakan antara
oksihemoglobin & karboksihemoglobin
• Pertimbangkan ventilasi mekanik

muhamad.adam31@ui.ac.id
Circulation

• Kehilangan cairan terjadi akibat


peningkatan permeabilitas vaskuler
• Keterlambatan resusitasi cairan >2
jam  MORTALITAS meningkat
• Edema terjadi pada 4-6 jam
pertama dan terus berlangsung
hingga >18-24 jam
• Resusitasi cairan diperlukan pada
LLB ≥15 (dewasa) dan ≥10 (anak)

muhamad.adam31@ui.ac.id
Circulation
Manajemen Syok
• Pasang akses intravena dua jalur
• Dipasang pada area yang tidak luka
• Diutamakan vena pada tangan dan lengan. Risiko flebitis
tinggi pada kaki
• Hitung kebutuhan resusitasi cairan sesuai LLB
• Hitung luas luka bakar derajat 2 dan derajat 3. Derajat 1
tidak dihitung
• Berikan cairan Ringer Laktat
• Berikan separuh kebutuhan cairan pada 8 jam
pertama dan sisanya dalam 16 jam berikutnya
• Waktu pemberian dihitung sejak kejadian luka bakar,
bukan saat masuk RS
• Pasang kateter urine untuk mengukur output urine

muhamad.adam31@ui.ac.id
Circulation: Manajemen Syok (Lanjutan)

Perhitungan Resusitasi Cairan


Kategori Usia dan Berat Resusitasi Cairan Target Urine
Badan Output
Api Dewasa 2 mL RL x kg x %LLB 0,5 mL/kg/jam
Anak (≥14 tahun)
Anak (<14 tahun) 3 mL RL x kg x %LLB 1 mL/kg/jam

Bayi atau anak 3 mL RL x kg x %LLB 1 mL/kg/jam


≤30 kg
Ditambah cairan glukosa
(dekstrosa)
Listrik Seluruh usia 4 mL RL x kg x %LLB 1-1,5 mL/kg/jam

Hasil perhitungan hanya acuan untuk memulai resusitasi cairan, BUKAN


TARGET. Selanjutnya, resusitasi cairan harus disesuaikan dengan urine
output
Sumber: ATLS (2018) muhamad.adam31@ui.ac.id
Disability
Pemantauan Neurologis
• Periksa respons pasien dengan
AVPU
A • Alert
V • Verbal
P • Pain
U • Unresponsive

• Monitor tingkat kesadaran dengan


GCS dan respons pupil
• Penurunan kesadaran dapat
diakibatkan oleh hipoksemia,
hiperkarbia, hipovolemia
muhamad.adam31@ui.ac.id
Exposure
Manajemen Nyeri dan Hipotermia
• Tutupi luka dengan Cling Film
• Meminimalkan nyeri, mencegah kontaminasi , mencegah
kehilangan cairan, memungkinkan monitor luka
• Selimuti untuk mencegah kehilangan panas tubuh
• Tinggikan area luka bakar melebihi jantung
• Untuk menurunkan edema dengan meningkatkan alir balik vena
• Berikan suhu cairan infus mendekati suhu tubuh

muhamad.adam31@ui.ac.id
Exposure: Manajemen Nyeri dan Hipotermia
(Lanjutan)

Penggunaan analgesik pada pasien luka bakar

Atasi hipoksia dan syok sebelum pemberian


analgesik!
muhamad.adam31@ui.ac.id
Penatalaksanaan Lanjut
Cegah Sindrom Kompartemen
• Lepas cincin, gelang, kalung, balutan, pakaian yang melingkar
• Hindari membalut dengan cara melingkar
• Fasiotomi/eskarotomi

Cegah Tetanus
• Kaji riwayat imunisasi tetanus
• Untuk luka yang terkontaminasi, berikan tetanus toxoid (TT)

Cegah Muntah dan Aspirasi


• Pasang selang nasogastrik jika mengalami LLB >20%, mual,
distensi abdomen

Transfer ke Unit Luka Bakar

Sumber: ATLS (2018) muhamad.adam31@ui.ac.id


Penatalaksanaan Lanjut (Lanjutan)

Fasiotomi/eskarotomi merupakan prosedur pembedahan


memotong fasia/eskar untuk mencegah sindrom
kompartemen
Transfer Pasien
Kriteria pasien ditransfer ke Unit
Luka Bakar:
• LLB derajat dua ≥10%
• Luka bakar pada wajah, tangan,
kaki, genitalia, perineum
• Luka bakar derajat tiga
• Luka bakar listrik, termasuk kilta
• Luka bakar kimiawi
• Luka bakar pada pasien penyakit
kronis (seperti diabetes, gagal
ginjal)
• Pasien anak
Sumber: American Burn Association

muhamad.adam31@ui.ac.id
Referensi
Ahuja, R.B, et al (2016). ISBI Practice Guideline for Burn Care.
Burn, 42, 953-1021.
American College of Surgeon (2018). Advanced Trauma Life
Support (ATLS) (10th ed.). Chicago: ACS
Atiyeh, et al (2014). Effective skin and wound management of
noncomplex burns. Wounds International
ENA (2013). Sheehy’s Manual Emergency Care (7th ed.). St. Louis,
Missouri: Mosby Elsevier.
Lewis, et al (2014). Medical-surgical nursing: Assessment and
management of clinical problems (9th ed.). St. Louis, Missouri:
Mosby Elsevier.
Tagami, et al (2015). Validation of the prognostic burn index: a
nationwide retrospective study. Burns, 41(6), 1169-75.
TETAF (2016). Burn Clinical Practice Guideline. Austin: TETAF.
Yati, et al (2015). Guideline and treatment algorithm for burn
injuries. Ulus Travma Acil Cerrahi Derg, 21(2): 79-89.
Yoshino, et al. (2016). The wound/burn guidelines - 6: Guidelines
for the management of burns. The Journal Of Dermatology,
43(9), 989-1010.

muhamad.adam31@ui.ac.id