Anda di halaman 1dari 19

CHAPTER 3

Tugas Kelompok Mata Kuliah Manajemen Operasional Stratejik

INOVASI PRODUK DAN


JASA

Vanessa Natalisa P.
Widiananda P.

Magister Manajemen
Program Pasca Sarjana
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya
2019
1|Page
INOVASI PRODUK DAN JASA

Disusun Untuk Menyelesaikan Tugas Kelompok Mata Kuliah Manajemen Operasional Stratejik
Magister Manajemen Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Disusun Oleh :
Vanessa Natalisa Palilingan
Widiananda Prabowo

MAGISTER MANAJEMEN PROGRAM PASCA SARJANA


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2019

2|Page
Manajemen Operasional Strategik
Chapter 3 – Inovasi Produk dan Layanan
Source : Operations and Process Management - Principles and Practice for Strategic Impact 5th Edition
By :
Widiananda Prabowo
Vanessa Natalisa Palilingan
1. Pendahuluan
Dewasa ini, kebutuhan manusia akan suatu produk menjadi semakin pesat dan terus
berkembang. Apalagi dengan situasi dimana saat ini manusia sedang memasuki fase revolusi
industri 4.0 yang menuntut para pelaku industri agar selalu melakukan perubahan di era digital
ini. Sehingga dalam perkembangannya, sebuah inovasi sangatlah dibutuhkan oleh para pelaku
industri sehingga mampu memenuhi permintaan konsumen yang terus berkembang dengan
pesat di era digital ini. Dalam dunia bisnis, kebanyakan pelanggan selalu ingin dengan adanya
inovasi, dan para pelaku bisnis yang dapat menawarkan hal tersebut terbukti dapat lebih dapat
menjadi selangkah lebih maju dibanding kompetitornya yang bergerak di bidang usaha yang
sama yang masih menggunakan cara cara lama. Beberapa perusahaan seperti Google, Amazon,
Netflix, Nike, Airbnb, Apple, dan Dropbox menjadi sukses karena mereka mampu mengetahui
permintaan dari pasar mereka. Mereka selalu memperbarui, merubah, dan memodifikasi produk
dan layanan namun tentunya harus tetap sesuai dengan permintaan dari pangsa pasar mereka.
Beberapa perubahan bersifat skala kecil, hanya berupa penambahan dan adaptasi dari proses-
proses yang ada dalam memproduksi barang dan jasa. Sedangkan lainnya dalam bentuk skala
besar, yang benar benar merombak sebuah proses atau cara yang bertujuan untuk mendapatkan
keuntungan yang lebih besar. Dalam dunia bisnis, sebuah inovasi merupakan hal yang mutlak
yang harus dilakukan. Inovasi bisnis adalah perubahan yang terjadi dalam suatu perusahaan dan
merupakan salah satu cara untuk mengembangkan sebuah perusahaan menuju arah perubahan
yang lebih baik. Inovasi bisnis menjadi sebuah keharusan bagi setiap jenis usaha baik itu
perusahaan dalam skala kecil, skala menengah, maupun dalam skala besar. Maka agar tetap
eksis dalam persaingan bisnis, sebuah perusahaan harus menyelaraskan dengan perubahan yang
seiring dengan perkembangan jaman.
Pada kenyataannya, sebagian besar perusahaan mengabaikan adanya sebuah proses inovasi,
terutama pada perusahaan berskala kecil yang masih menggunakan metode konvensional, yaitu
segala sesuatu yang dilakukan secara manual dan tidak mengikuti perkembangan bisnis saat ini
yang telah menggunakan teknologi canggih untuk segala bagian yang ada dalam perusahaan,
seperti pemasaran, operasional, pelayanan serta keuangan. Penggunaan perangkat lunak akan
mempermudah suatu proses operasional dalam perusahaan dan apabila diterapkan dengan
benar maka akan mempermudah perusahaan untuk melakukan inovasi bisnis. Namun pada
hakikatnya, inovasi dalam sebuah perusahaan tidak bisa timbul secara tiba tiba. Diperlukan
adanya sebuah strategi dalam merancang sebuah inovasi yang biasanya dilakukan setelah
melalui penelitian dan pengembangan dari sebuah perusahaan. Dengan begitu, inovasi yang
diharapkan dapat mampu meningkatkan kualitas produk perusahaan dan memenuhi permintaan
pangsa pasar. Strategi yang dirancang sedemikian rupa oleh perusahaan akan mempengaruhi
kinerja karyawan dalam pengambilan sebuah keputusan. Hal ini dikarenakan semua karyawan
akan berkolaborasi untuk memikirkan langkah yang paling efektif dalam memajukan perusahaan
mereka. Mereka akan bertukar informasi dan pengetahuan yang lebih efektif dan efisien
sehingga terciptalah kecenderungan untuk menghasilkan sebuah inovasi.

2. Peran Strategis Inovasi Produk dan Jasa


Dalam sebuah bisnis, penilaian produk dan jasa suatu perusahaan sangatlah bergantung
pada penilaian pasar, bisa dibilang bahwa produk dan jasa ini adalah “wajah” dari sebuah bisnis
perusahaan. Pada hakekatnya, Inovasi adalah bagaimana sebuah perusahaan membuat atau

3|Page
melakukan sebuah terobosan yang berbeda. Itulah sebabnya mengapa sebuah inovasi pada
produk dan layanan sangat penting dalam dunia bisnis. Hal ini dikarenakan sebuah inovasi
mengubah apa yang perusahaan berikan kepada customer. Namun dalam pengertiannya, inovasi
berbeda dengan kreativitas dan desain. Menurut Nigel Slack dan Michael Lewis dalam bukunya
yang berjudul Operations Strategy (5th Edition), pengembangan sebuah produk atau layanan
yang baru bisa bersifat kreatif, namun terkadang bersifat inovatif. Sebuah kreatifitas, inovasi, dan
desain mempunyai makna yang hampir sama namun dengan pengertian yang berbeda.
Berdasarkan definisi dari Oxford English Dictionary, Inovasi adalah gagasan baru untuk sebuah
metode, ide, produk, dll. Jadi bisa dikatakan inovasi adalah melakukan sebuah terobosan atau
gagasan yang baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya (doing semething new). Sebuah
inovasi dapat menjadi lebih krusial daripada sebuah penemuan. Hal ini dikarenakan sebuah
inovasi tidak hanya sebatas menuangkan sebuah gagasan menjadi hal nyata, namun gagasan
tersebut juga harus memberikan dampak positif baik terhadap konsumen maupun terhadap
perusahaan. Pada hakekatnya sendiri, sebuah inovasi tidak dapat dipisahkan oleh adanya
kreatifitas. Kreatifitas merupakan sebuah elemen penting dari sebuah inovasi. Definisi dari kreatif
sendiri adalah kemampuan mengembangkan (menciptakan) ide dan cara baru yang berbeda dari
sebelumnya. Sedangkan pengertian Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan
hal baru, barik berupa gagasan, karya nyata, dalam bentuk aptitude atau non aptitude. Kreativitas
bisa dibilang sebagai implementasi dari sebuah imajinasi atau sebuah gagasan yang bersifat
orisinil. Sedangkan desain adalah proses pengimplementasian sebuah gagasan inovasi menjadi
sebuah proses. Ada beberapa cara yang dilakukan perusahaan untuk dapat menjadi lebih kreatif. Pertama
adalah merekrut lebih banyak orang yang kreatif, yang mempunyai pikiran dan logika yang terus berputar,
selalu ingin tahu, dan selalu bertanya. Kedua adalah menggunakan alat bantu dan proses kreativitas dalam
memecahkan masalah perusahaan. Alat-alat bantu ini mencakup brainstroming, analisis modifikasi, hubungan
yang diperkuat, dan analisis morfologis. Ketiga adalah sesekali menggunakan jasa agen kreatif, yang dapat
membantu membangkitkan ide-ide besar yang baru bagi perusahaan.

3. Apakah Tujuan Produk dan Inovasi Layanan tertentu?


Proses inovasi dapat dinilai dari segi tingkat kualitas, kecepatan,
kehandalan/ketergantungan, fleksibiltas, biaya dan keberlanjutan..
 Kualitas dari proses inovasi
Secara umum, tujuan inovasi di berbagai bidang adalah untuk meningkatkan kualitas dan
juga nilai sesuatu hal yang sudah ada, baik itu produk atau layanan. Dengan adanya inovasi
terbaru, diharapkan produk-produk tersebut memiliki keunggulan dan manfaat yang lebih bernilai
dari sebelumnya.
 Berapa kecepatan dari proses inovasi?
Kecepatan inovasi penting untuk beberapa industri. Misalnya industri pakaian dan
mikrelktronika sedangkan industri yang anbat proses inovasinya yaitu konstraksi dan
kedirgantaraan. Proses inovasi yang epat kadang tergantung pada perubahan mode konsumen.
Namun tidak pedulia motivasinya apa, proses inovasi yang cepat sangat membawa keuntungan:
- Awal pemunculan pasar: meningkatkan kecepatan layanan atau pengembangan produk
memungkinkan pemasaran awal dari penawaran yang baru yang memungkinkan terjadinya
harga premium dan memiliki pendapatan yang jangka panjang.
- Mulai desain akhir : alternatif untuk memulai proses design belakangan juga memiliki
keuntungan, karena permintaan pelanggan dan ketersediaan teknologi yang berifat
takmenentu atau berubah-ubah
- Seringnya stimulasi pasar: inovasi yang cepat menimbulkan terjadinya keseringan
permintaan baru atau sebuah pembaruan untuk diperkenalkan di pasar.

4|Page
 Ketergantungan atau kehandalan dari proses inovasi
Proses inovasi yang cepat tentunya menimbukan ketergantungan atau sangat dibutuhkan
oleh pelanggan dan pasar. Namun kenyataannya untuk melakukan proses inovasi yang cepat itu
tidak mudah dan gampang karena harus menempuh beberapa tahapan untuk membuat sebuah
inovasi yang baru., contohnya seperti kesulitan teknis yang tidak terduga, pemasok yang tidak
tepat waktu, keinginan konsumen yang tidak pasti atau berubah-ubah dan lain sebagainya,
 Fleksibilitas dari proses inovasi
Fleksibilitas yang dimaksud adalah kemampuan untuk menyesuaikan atau mengatasi
perubahan-perbuahan yang terjadi di bidang internal atau eksternal yang mempengaruhi proses
inovasi. Alasan aling umum untuk faktor eksternal yaitu karena permintaan pasar atau pelanggan
yang cenderung mengubah kebutuhan atau keinginan mereka.
 Biaya dari proses inovasi
Inovasi juga bertujuan untuk membantu mengurangi biaya, khususnya biaya tenaga kerja.
Sebagai contoh, sekarang ini banyak diciptakan mesin atau peralatan yang dapat menggantikan
tenaga manusia dalam proses produksi.
Dengan adanya mesin dan peralatan tersebut maka biaya tenaga kerja untuk produksi akan
semakin berkurang. Selain itu, penggunaan mesin dan peralatan pada proses produksi barang/
jasa tertentu akan menghasilkan kinerja lebih baik.
Biaya proses inovasi biasanya dianalisis dari biaya awal saat mulai proses inovasi hingga biaya
layanan atau produk itu sampai kepada pelanggan. Biaya tersebut terbagi 3 bagian yaitu:
- Biaya membeli input untuk proses atau biasa disebut biaya modal (Cost of Capital) adalah
biaya riil yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana baik yg berasal
dari hutang, saham preferen, saham biasa, dan laba ditahan untuk mendanai suatu investasi
atau operasi perusahaan. Penentuan besarnya biaya modal ini dimaksudkan untuk
mengetahui berapa besarnya biaya riil yang harus dikeluarkan perusahaan untuk
memperoleh dana yang diperlukan.
- Biaya penyediaan tenaga kerja untuk proses yaitu biaya yang harus dikeluarkan untuk
menggunakkan tenaga kerja per orang per satuan waktu.Harga tenaga kerja adalah harga
per upahnya (per jam atau per hari). Biaya tenaga kerja bersifat eksplisit dengan asumsi upah
yang dibayarkan adalah sama besardengan upah yang diterima tenaga kerja bila bekerja
ditempat lain. Asumsi ini terpenui di pasar tenaga kerja persaingan sempurna.
- Biaya overhead lainnya saat sedang menjalankan proses adalah pengkombinasian berbagai
faktor produksi untuk ditranformasikan menjadi output berupa barang dan jasa. Dalam
upaya tersebut, perusahaan harus menanggung risiko kegagalan. Atas keberanian
menanggung risiko, pengusaha mendapat balas jasa berupa laba. Makin besar risikonya,
laba yang diharapkan harus semakin besar begitu juga sebaliknya makin kecil risikonya, laba
yang diprediksi semakin kecil. Pengertian laba yang digunakan oleh ekonom adalah laba
ekonomi (economic profit), yaitu kelebihan pendapatan yang diperoleh.

4. Apakah Proses Inovasi Produk dan Layanan Didefinisikan


Evaluasi kinerja sebuah proses inovasi dapat dinilai dalam berbagai cara. Kualitas dari proses
inovasi dapat dinilai dari segi kesesuaian (tidak ada kesalahan dalam penerapan inovasi) dan
spesifikasi (efektivitas sebuah inovasi dalam mencapai permintaan pasar). Kecepatan sebuah
proses inovasi yang masuk ke pangsa pasar sering disebut “Time To Market” (TTM). Bagi
perusahaan yang menangani produk-produk inovatif, kecepatan meluncurkan rancangan-
rancangan yang baru sangatlah penting. Time to market adalah waktu antara gagasan
perancangan produk baru dimulai sampai produk tersebut dipasarkan. Sebagaimana diketahui,
proses merancang produk baru harus melalui berbagai fase kegiatan dan masing-masing kegiatan
tersebut tentunya memakan waktu dan biaya. Proses dari pencarian ide sampai rancangan siap
diluncurkan bisa cukup lama dan di dalamnya sering kali terjadi pengulangan – pengulangan

5|Page
untuk menyesuaikan rancangan dengan informasi-informasi terbaru yang diperoleh tim
perancang. Fase-fase kegiatan dalam perancangan produk baru, secara umum, adalah:
 Idea generation
 Business / technical assessment
 Product concept
 Product engineering & design
 Prototype design
 Test and pilot production
 Manufacturing ramp up
 Launch
Lamanya waktu antara ide sampai produk baru diluncurkan ke pasar tentu berbeda-beda
antara satu produk dengan produk lain. Misalnya, untuk produk-produk yang simpel seperti
printer waktunya bisa hanya beberapa bulan, sedangkan produk yang kompleks seperti otomotif
lamanya bisa mencapai 18 – 60 bulan. Produk-produk yang kelihatan relatif sederhana seperti
obat-obatan ternyata juga membutuhkan waktu pengembangan yang lama karena adanya proses
tambahan seperti pengujian dan registrasi di pihak yang berwenang sebelum produk tersebut
diproduksi. Menurut Prasnikar & Skerlj (2004), waktu antara pencarian ide sampai obat bisa
diluncurkan ke pasar bisa mencapai sekitar 60 bulan.
Banyak cara yang bisa dilakukan perusahaan untuk memperpendek time to market.
Beberapa diantaranya adalah :
 Keterlibatan banyak pihak mulai dari wakil-wakil bagian (fungsional) di dalam perusahaan
maupun pihak luar seperti supplier dan pelanggan.
 Manajemen proyek yang bagus.
 Tim perancangan produk yang solid, dinamis, dan enerjik, serta.
 Teknologi yang mendukung.
Keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan sangat penting dilakukan seawal mungkin
untuk menghindari adanya perubahan mendasar pada rancangan produk setelah memasuki fase-
fase akhir. Bagian produksi misalnya perlu dilibatkan sejak awal untuk memberikan masukan
apakah ide atau konsep sebuah produk akan bisa dibuat dengan mesin-mesin yang mereka miliki.
Secara tradisional, bagian produksi baru melakukan perancangan proses setelah produk selesai
dirancang. Apabila ada ketidakcocokan pada fase ini, sering kali rancangan produk harus direvisi.
Tentu saja, perubahan pada fase-fase akhir suatu rancangan produk baru akan menimbulkan
tambahan biaya dan waktu yang tidak sedikit, karena banyak proses yang harus diulang ke fase-
fase yang lebih awal. Dewasa ini, untuk mengurangi pengulangan-pengulangan yang mahal dan
lama, berbagai aktivitas yang terkait dengan perancangan dan peluncuran produk baru dikerjakan
lebih dini. Misalnya, perancangan proses manufaktur sudah dimulai sebelum rancangan produk
selesai dibuat.
Pihak-pihak di luar perusahaan pun sering kali perlu dilibatkan dalam perancangan produk
baru. Dewasa ini, banyak perusahaan yang melibatkan supplier dalam perancangan produk baru.
Mereka diperlukan untuk memberikan masukan tentang material apa yang cocok untuk suatu
rancangan produk baru dan apakah supplier tersebut nantinya bisa memasok material yang
dibutuhkan. Survey yang dilakukan oleh Handfield et al. (1999) menunjukkan bahwa keterlibatan
supplier-supplier kunci dalam proses perancangan produk baru memberikan perbaikan yang
signifikan. Salah satu perusahaan yang banyak melibatkan supplier dalam perancangan produk
baru adalah General Motors (GM). Keterlibatan supplier-supplier kunci mereka merupakan salah
satu kontributor bagi suksesnya GM mereduksi waktu pengembangan produk dari 60 bulan pada
tahun 1996 menjadi hanya 18 bulan pada tahun 2003 (Gutmann 2003).
Tentu saja tidak semua supplier perlu dilibatkan secara dini dalam perancangan produk baru.
Menurut Handfield & Nichols (2002), supplier untuk item-item yang kompleks dan supplier-
supplier kritis perlu dilibatkan sejak awal, sedangkan supplier-supplier untuk material atau

6|Page
komponen yang sederhana dan relatif standar bisa dilibatkan hanya pada fase-fase akhir
perancangan produk.
Melibatkan pihak luar dalam perancangan produk dewasa ini bisa dilakukan dengan lebih
mudah karena adanya teknologi yang bisa digunakan secara bersama-sama. Sebagai contoh, GM
menggunakan aplikasi e-Factory untuk mengkomunikasikan rancangan produk ke supplier-
supplier kunci mereka. Dengan fasilitas ini para supplier kunci, seperti supplier untuk body
systems, bisa bisa mengevaluasi kemungkinan adanya masalah manufaktur maupun ongkos-
ongkos untuk membuat body systems tersebut nantinya. Pada akhirnya, sebuah inovasi yang
terbilang berhasil akan memberikan dampak secara signifikan terhadap para pemangku
kepentingan di dalam perusahaan, atau biasanya disebut dengan “Triple Bottom Lane” – “People,
Planet, and Profit”.

5. Apakah Sumber Daya Untuk Mengembangkan Inovasi Produk dan Layanan Memadai
Dalam prosesnya, sebuah gagasan inovasi memerlukan sumber daya yang memadai agar
dapat mencapai sasaran dan tujuan perusahaan. Detail dari sebuah desain proses yang nantinya
akan dibahas di Bab 5 dan 6 akan sangat digunakan ketika sedang mengembangkan sebuah
layanan produk. Namun, karena proses inovasi biasanya selalu bergerak di awal, ada beberapa
strategi yang perlu untuk dipertimbangkan, diantaranya adalah kapasitas sumber daya
perusahaan untuk mengadakan sebuah inovasi, berapa banyak supplier yang dilibatkan untuk
kegiatan inovasi tersebut dan teknologi seperti apa yang digunakan dalam pengembangan sebuah
inovasi tersebut.

6. Teori Difusi Inovasi


Teori Difusi Inovasi muncul pada tahun 1903, oleh sosiolog Perancis, Gabriel Tarde yang
memperkenalkan kepada publik Kurva Difusi berbentuk S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini
menjelaskan bahwa suatu inovasi dilakukan oleh seseorang diperhatikan melalui dimensi waktu.
Dalam kurva tersebut terdapat dua buah sumbu yakni sumbu yang menjelaskan tingkat adopsi
dan sumbu yang menjelaskan dimensi waktu.
Rogers mendefisinikan difusi inovasi sebagai proses sosial yang mengkomunikasikan
informasi tentang ide baru yang dipandang secara subjektif. Makna inovasi dengan demikian
perlahan-lahan dikembangkan melalui sebuah proses konstruksi sosial.
Teori difusi inovasi pada esensinya menjelaskan bagaimana sebuah gagasan dan ide baru
dikomunikasikan pada sebuah kultur atau kebudayaan. Bahwa teori ini berfokus pada bagaimana
sebuah gagasan atau ide baru dapat dan dimungkinkan diadopsi oleh suatu kelompok sosial atau
kebudayaan tertentu.

a. Konsep Teori Difusi Inovasi


Tujuan utama dari difusi inovasi yaitu diadopsinya suatu inovasi yakni gagasan, ilmu
pengetahuan dan teknologi baik oleh individu maupun kelompok sosial tertentu. Oleh
karenanya Rogers mengemukakan bahwa terdapat 4 karakteristik inovasi yang yang dapat
mempengaruhi tingkat adopsi dari individu maupun kelompok sosial tertentu.
 Keuntungan Relatif (Relative Advantage)
Keuntungan relatif adalah bagaimana suatu inovasi yang baru ini dapat dikatakan lebih baik dari
inovasi sebelumnya atau justru tidak lebih baik dari inovasi sebelumnya. Tolak ukurannya adalah
bagaimana seorang adopter merasakan langsung dampak dari inovasi tersebut yang
menjadikanya puas ataupun tidak puas pada sebuah inovasi. Semakin besar keuntungan relatif
yang dirasakan oleh adpoter akan menjadikan inovasi tersebut semakin capat untuk diadopsi oleh
suatu kelompok.

7|Page
 Kesesuaian (Compatibility)
Kesesuaian berkaitan dengan bagaimana suatu inovasi itu dapat dikatakan sesuai dengan kondisi
masyarakat, kebudayaan dan nilai-nilai dalam masyarakat tersebut, serta tentu saja apakah sesuai
dengan kebutuhan yang ada. Jika sesuai dengan apa yang disebutkan makan suatu inovasi itu
akan mudah diadopsi bilamana tidak maka sebaliknya akan sulit diadopsi.
 Kerumitan (Complexity)
Kerumitan berkaitan dengan seberapa rumit suatu inovasi dapat dipahami dan dijalankan oleh
adopter. Semakin rumit tentu saja akan semakin sulit untuk diadopsi begitu pula sebaliknya
semakin mudah dipahami maka inovasi tersebut akan semakin mudah untuk diadopsi.
 Dapat diuji coba (Triability)
Suatu inovasi akan lebih mudah diadopsi manakala inovasi tersebut dapat di uji cobakan dalam
kondisi sebenarnya. Bahwa suatu inovasi tersebut, sesuai atau tidaknya dapat segera diketahui
manakala dapat dilihat melalui suatu uji coba. Dengan uji coba para adopter dapat mengetahui
kelebihan dan kekurangan dari inovasi tersebut sebelum diadopsi seluruhnya.

Gambar 1. Konsep Dasar Difusi Inovasi

b. 4 Elemen Teori Difusi Inovasi


Berikut 4 elemen yang melengkapi teori difusi inovasi, diantaranya:
 Inovasi
Inovasi dapat diartikan sebagai gagasan, ide atau tindakan untuk menciptakan sesuatu
yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam bahasan ini inovasi dapat dikatakan sebagai suatu
hal yang baru atas dasar bagaimana pandangan orang mengatakan bawa ide gagasan, atau
tindakan itu merupakan hal yang baru.
 Saluran Komunikasi
Suatu inovasi dapat diadopsi oleh seseorang apabila inovasi tersebut dikomunikasikan atau di
sampaikan kepada orang lain. Saluran komunikasi yang dimaksud disini juga disesuaikan dengan
siapa yang dituju dari inovasi tersebut. Jika inovasi ditujulkan kepada masyarakat secara luas
maka saluran yang digunakan tentu saja saluran komunikasi masa. Jika yang dituju individu maka
saluran yang digunakan adalah saluran komunikasi personal.
 Jangka Waktu
Jangka waktu merupakan suatu dimensi waktu yang dimulai dari proses inovasi itu
dikomunikasikan atau disampaikan kepada seseorang sampai kepada keputusan untuk
mengadopsi inovasi tersebut.

8|Page
 Sistem sosial
Sistem sosial merupaka kumpulan unit-unit sosial yang membentuk suatu ikatan dalam
kehidupan sosial. Sistem sosial terdiri atas unit-unit yang memiliki perbedaan secara fungsional
namun terikat atas tujuan yang dikeendaki bersama. Sistem sosial ini kiranya menjadi sasaran
bagi sebuah inovasi dan merekalah yang menjadi pihak yang menerima maupun menolak suatu
inovasi.

c. Tahapan Pengambilan Keputusan Inovasi


 Tahap Munculnya Pengetahuan (Knowledge)
Ketika seseorang memahami bagaimana suatu inovasi itu bermanfaat bagi dirinya dan
lingkunganya (masyarakat) maka seseorang tersebut akan lebih mudah untuk mengadopsi suatu
inovasi. Oleh karenanya suatu inovasi disampaikan atau dikomunikasikan yang pertama adala
agar seseorang mengetahui dan memahami bagaimana manfaat inovasi tersebut.
 Tahap Persuasi (Persuasion)
Pada tahapan ini individu atau kelompok sosial mulai menunjukan sikap terhadap suatu inovasi.
Dalam hal ini skikap yang ditunjukan oleh individu maupun kelompok sosial ini dapat berupa sikap
baik maupun sikap yang buruk.
 Tahap Keputusan (Decisions)
Dalam tahap ini individu maupun kelompok sosial tertentu telah sampai kepada tahapan
pengambilan keputusan terkait sebuah inovasi yang dikenakan kepadanya. Dalam hal ini inovasi
sudah sampai pada tahap diadopsi oleh individu atau kelompok tertentu maupun ditolak.
 Tahapan Implementasi (Implementation)
Pada tahap ini ketika individu atau kelompok memutuskan untuk mengadopsi suatu inovasi maka
ia akan menerapkan inovasi tersebut dalam kehidupanya. Bilamana inovasi tersebut diterapkan
dalam suatu aspek kehidupan maka individu maupun kelompok tersebut sudah dapat dikatakan
sebagai adopter dari suatu inovasi.
 Tahapan Konfirmasi (Confirmation)
Dalam tahap ini individu ataupun kelompok sudah sampai pada tahap dimana ia mulai mencari
penguatan-penguatan terhadap keputusanya terkait menolak maupun menerima suatu inovasi
untuk diadopsi.

d. Kategori Adopter dalam Teori Difusi Inovasi


Berikut beberapa kategori yang ada di dalam teori difusi inovasi, antara lain:
 Innovators
Inovator yakni mereka yang pertama mengadopsi suatu inovasi. Hanya ada sekitar 2,5% individu
yang yang berani menjadi seorang inovator. Ciri utama individu tersebut biasanya menyukai
tantangan dan berani mengambil resiko serta memiliki kemampuan ekonomi yang mendukung
untuk menjadi seorang inovator.
 Early Adopters (Perintis/Pelopor)
Perintis atau pelopor merupakan orang yang bersedia memulai inovasi dalam suatu kelompok.
Hanya ada 13,5% orang yang memiliki kategori ini. Biasanya mereka merupakan orang yang
terpandang dan memiliki pengikut dalam suatu kelompok sosial.
 Early Majority (Pengikut Dini)
Mayoritas pengikut awal adalah mereka yang secara mayoritas bersama-sama menjadi pengikut
awal suatu inovasi. Jumlahnya sekitar 34 % dalam suatu kelompok sosial tertentu. Biasanya
mereka yang masuk dalam kategori ini bercirikan memiliki pertimbangan yang matang dalam
mengambil keputusan.
 Late Majority (Pengikut Akhir)
Mayoritas pengikut akhir adalah mereka yang secara bersama-sama menjadi pengikut akhir pada
suatu inovasi. Jumlahnya 34% dalam suatu kelompok sosial dimana mereka lebih memiliki

9|Page
pertimbangan pragmatis kepada kebenaran dan kebermanfaatan suatu inovasi yang akan
diadopsi mereka.
 Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional)
Kelompok ini merupakan kelompok terakhir yang paling sulit menerima suatu inovasi. Jumlahnya
sekitar 16% dari suatu kelompok sosial. Dimana kaum ini merupakan kaum kolot/tradisional yang
sangat sulit menerima perubahan.

e. Manfaat Mempelajari Teori Difusi Inovasi


Sebagai pembelajar komunikasi, teori difusi inovasi menjadi suatu bahasan yang penting untuk
dipelajari. Dengan mempelajari ini seorang pembelajar komunikasi dapat mengetaui bagaimana
sebuah inovasi dan pembaharuan dapat diterima ataupun ditolak oleh individu maupun
kelompok sosial tertentu. Dalam hal ini menjadi penting manakala hal ini juga mempengaruhi
kehidupan manusia baik secara individu maupun dalam lingkungan kelompok masyarakat.
Suatu inovasi tetap dibutuhkan oleh manusia dalam rangka mempermudah segala macam
aktifitasnya dalam berbagai aspek kehidupan. Yang mana hal ini tentu menjadi kajian yang
teramat penting seiring dengan perkembangan zaman.

7. Henderson-Clark Model
Investigasi yang dilakukan oleh Henderson dan Clark membuahkan hasil bahwa pengetahuan
teknologi sangatlah dibutuhkan dalam pengembangan suatu produk, dan konsistensi dalam
pengenalan produk tersebut, bersamaan dengan dimunculkannya dua teori baru : pengetahuan
tentang komponen baru dalam produk yang akan dikembangkan (yang disebut Modular
Innovation) dan pengetahuan tentang komponen yang sama namun hal hal yang berkaitan
dengan non-teknisnya berbeda (yang disebut Architectural Innovation).

Gambar 2. Henderson-Clark Model

Pengaplikasian contoh dari Henderson-Clark Model ini sangatlah banyak, sebagai contohnya
evolusi dan perkembangan dari hard disk, sebuah produk yang telah berkembang sangat pesat
dalam kurun waktu 50 tahun terakhir ini. Menurut model dari Henderson-Clark ini, sebuah
Incremental Innovation akan dikembangkan berdasarkan komponen yang telah dikembangkan
sebelumnya, dan tentunya dengan Architectural Knowledge yang telah ada. Jika diambil contoh
dari produk hard disk, maka pengembangan di piringan bundar yang terbuat dari bahan tertentu
(logam atau plastik) dengan permukaan dilapisi bahan yang dapat di magnetasi (Magnetic Disk)
dan pengembangan di kecepatan rotasi sebuah hard disk merupakan dua contoh dari Incremental
Innovation.
Elemen kedua dalam model Henderson-Clark adalah Modular Innovation. Untuk
mengembangkan Modular Innovation diperlukan sebuah pengetahuan tentang satu atau lebih

10 | P a g e
komponen baru yang digunakan dalam pengembangan produk tersebut, namun pengetahuan
akan Architectural Knowledge tetap digunakan dalam elemen ini. Pada kisaran tahun 1980an ,
sebagian besar produsen hard disk mengganti komponen Ferrite Head dengan Thin-Metal Heads,
penggantian komponen ini adalah salah satu contoh dari Modular Innovation.
Dalam perkembangannya, industri hard disk telah melakukan perubahan yang signifikan
pada ukuran hard disk. Hard disk yang pertama kali dikembangkan mempunyai ukuran diameter
14 inchi, setelah beberapa tahun ukuran tersebut menyusut menjadi berdiameter 8’, 5.25’ , 3.5’,
dan yang terakhir hanya berdiameter 1.8’. Setiap perubahan ukuran yang dilakukan, namun
dengan tetap menggunakan komponen yang sama disebut dengan Architectural Innovation.
Elemen terakhir dalam model Henderson-Clark ini adalah Radical Innovation. Inovasi jenis ini
digunakan ketika terjadi pengembangan secara keseluruhan, baik dari segi teknis seperti
komponen, dll maupun dari segi non-teknisnya. Jika dilihat dari contohnya, maka revolusi hard
disk dengan menggunakan Radical Innovation dapat dilihat dari perkembangan Magnetic Hard
Drive ke Optical Hard Drive. Pengenalan teknologi laser di dunia hard disk tidak hanya
membutuhkan pengetahuan tentang sebuah komponen baru, namun juga membutuhkan
pengetahuan tentang sistem konfigurasi yang terdapat di dalam hard disk.
Meskipun pada akhirnya beberapa inovasi dilakukan secara Inremental Innovation, namun
pada kenyataannya tetaplah dibutuhkan pengetahuan yang berimbang antara segi teknis dan non
teknis suatu produk yang akan dikembangkan. Perusahaan tetap harus berhati hati dalam
menggunakan strategi dalam inovasi produknya, dikarenakan satu strategi yang digunakan belum
tentu cocok jika diterapkan pada jenis stretegi yang lain. Contohya pada perusahaan Canon,
Canon mampu merebut pasar dari Xerox dikarenakan Canon mampu mengembangkan
kemampuan dan pengetahuan mereka akan hal non-teknis dengan mendesain ulang mesin
fotokopi yang telah dikembangkan oleh Xerox namun dengan ukuran dimensi yang lebih kecil.

8. Apakah Pengembangan Produk Dan Layanan Dan Proses Yang Menciptakannya Secara
Simultan?
Setiap inovasi produk dan layanan pada akhirnya harus diciptakan; inilah mengapa adalah
sebuah kesalahan memisahkan desain layanan dan produk dari desain proses yang akan
disampaikan kepada mereka. Menggabungkan kedua proses ini disebut desain simultan (atau
interaktif). Manfaat utamanya adalah mengurangi waktu yang telah berlalu untuk seluruh
aktivitas inovasi. Seperti disebutkan sebelumnya, mengurangi waktu ke pasar (TTM) dapat
memberikan keunggulan kompetitif yang penting.
Jika sebuah bisnis membutuhkan dua tahun untuk mengembangkan penawaran dengan
serangkaian sumber daya yang diberikan, ia hanya dapat memperkenalkan penawaran baru
setiap dua tahun. Jika saingannya dapat mengembangkan penawaran dalam satu tahun, ia dapat
memperkenalkan inovasi ke pasar dua kali lebih sering. Ini berarti saingannya tidak harus
melakukan perbaikan yang radikal pada kinerja setiap kali memperkenalkan penawaran baru
karena telah memperkenalkannya lebih sering.
Faktor-faktor yang dapat secara signifikan mengurangi waktu ke pasar untuk inovasi meliputi
yang berikut ini:
 Mengintegrasikan desain penawaran layanan-produk dan desain proses yang digunakan
buat dan kirimkan.
 Tumpang tindih tahapan dalam proses inovasi.
 Sebuah penyebaran awal pengambilan keputusan strategis dan resolusi
konflik desain.
 Struktur organisasi yang mencerminkan sifat penawaran.

11 | P a g e
a. Mengintegrasikan desain penawaran dan desain proses
Apa yang tampak bagus sebagai penawaran yang elegan di atas kertas mungkin terbukti sulit
untuk dibuat dan dipenuhi secara berkelanjutan. Sebaliknya, proses yang dirancang untuk satu
set layanan atau produk mungkin tidak mampu membuat yang berbeda. Jelas masuk akal untuk
merancang penawaran dan proses operasi bersama. Untuk layanan, organisasi tidak punya
banyak pilihan selain melakukan ini karena proses pengiriman biasanya merupakan bagian dari
penawaran. Namun, penting untuk mengintegrasikan desain penawaran dan prosesnya, terlepas
dari jenis organisasi. Fakta bahwa banyak bisnis tidak melakukan ini hanya sebagian karena
ketidaktahuan atau ketidakmampuan mereka. Ada hambatan nyata untuk melakukannya.
Pertama, skala waktu yang terlibat bisa sangat berbeda. Penawaran mungkin dimodifikasi, atau
bahkan didesain ulang, relatif sering. Proses yang digunakan untuk membuat dan mengirimkan
penawaran mungkin terlalu mahal untuk diubah setiap kali penawaran berubah. Kedua, orang-
orang yang terlibat dengan inovasi di satu sisi, dan desain proses yang sedang berlangsung di sisi
lain, cenderung terpisah secara organisasi. Akhirnya, kadang-kadang tidak mungkin untuk
merancang proses yang berkelanjutan untuk penciptaan dan pengiriman layanan dan produk
sampai mereka sepenuhnya ditetapkan.
Namun tak satu pun dari hambatan ini tidak dapat diatasi. Meskipun tidak mungkin untuk
mengubah proses yang sedang berlangsung setiap kali ada perubahan pada penawaran, mereka
dapat dirancang untuk mengatasi berbagai layanan dan produk potensial. Fakta bahwa staf
desain dan staf operasi sering terpisah secara organisasional juga dapat diatasi. Bahkan jika tidak
masuk akal untuk bergabung dua fungsi, ada mekanisme komunikasi dan organisasi untuk
mendorong dua fungsi untuk bekerja bersama. Bahkan klaim bahwa proses yang sedang
berlangsung tidak dapat dirancang sampai mereka tahu sifat penawaran tidak sepenuhnya benar.
Mungkin ada petunjuk yang cukup muncul dari kegiatan inovasi untuk staf desain proses untuk
mempertimbangkan bagaimana mereka dapat memodifikasi proses yang sedang berlangsung. Ini
adalah prinsip dasar dari desain simultan yang dipertimbangkan selanjutnya.

b. Tumpang tindih tahapan proses inovasi


Kami telah menggambarkan proses inovasi sebagai satu set individu, tahapan yang telah
ditentukan, dengan satu tahap yang diselesaikan sebelum yang berikutnya dimulai. Pendekatan
selangkah demi selangkah ini, atau berurutan, telah umum diterapkan di banyak organisasi. Ini
memiliki beberapa keunggulan. Mudah untuk mengelola dan mengendalikan proses inovasi yang
diatur dengan cara ini karena setiap tahap didefinisikan dengan jelas. Selain itu, karena setiap
tahap diselesaikan sebelum tahap berikutnya dimulai, setiap tahap dapat memusatkan
keterampilan dan keahliannya pada serangkaian tugas yang terbatas. Masalah utama dari
pendekatan sekuensial adalah bahwa itu memakan waktu dan mahal. Ketika setiap tahap
terpisah, dengan serangkaian tugas yang jelas, setiap kesulitan yang dihadapi selama desain pada
satu tahap mungkin mengharuskan desain dihentikan sementara tanggung jawab bergerak
kembali ke tahap sebelumnya. Seringkali hanya ada sedikit kebutuhan untuk menunggu hingga
finalisasi absolut dari satu tahap sebelum memulai tahap selanjutnya. Misalnya, mungkin sambil
menghasilkan konsep, kegiatan evaluasi penyaringan dan seleksi bisa dimulai. Sangat mungkin
bahwa beberapa konsep dapat dinilai sebagai 'non-permulaan' relatif sejak awal dalam proses
pembuatan ide. Demikian pula, selama tahap penyaringan, ada kemungkinan bahwa beberapa
aspek desain akan menjadi jelas sebelum fase akhirnya selesai. Oleh karena itu, pekerjaan awal
pada bagian-bagian desain ini dapat dimulai pada saat itu. Prinsip ini dapat diambil melalui semua
tahap, satu tahap dimulai sebelum yang sebelumnya selesai, sehingga ada pekerjaan simultan
atau bersamaan pada tahap.
Kita dapat mengaitkan gagasan ini dengan gagasan pengurangan ketidakpastian, yang
dibahas sebelumnya, ketika kita buat titik ketidakpastian berkurang seiring dengan
perkembangan desain. Ini juga berlaku untuk setiap tahap inovasi. Jika ini masalahnya, pasti ada
tingkat kepastian bahwa tahap selanjutnya bisa ambil sebagai titik awal sebelum akhir tahap

12 | P a g e
sebelumnya. Dengan kata lain, desainer bisa terus bereaksi terhadap serangkaian keputusan dan
petunjuk yang diberikan kepada mereka oleh mereka yang bekerja pada tahap sebelumnya.
Namun, ini hanya dapat berfungsi jika ada komunikasi yang efektif di antara masing-masing
sepasang tahap.

c. Menyebarkan intervensi strategis dan menyelesaikan konflik sejak dini


Keputusan desain, sekali dibuat, tidak perlu membentuk penawaran akhir yang tidak dapat
dibatalkan. Semua keputusan bisa diubah, tetapi menjadi semakin sulit untuk dilakukan ketika
proses inovasi berlangsung. Pada saat yang sama, keputusan awal seringkali yang paling sulit
untuk dibuat karena tingkat ketidakpastian yang tinggi seputar apa yang mungkin atau tidak
mungkin berfungsi sebagai desain akhir. Salah satu pendekatan adalah menunda pengambilan
keputusan dengan harapan bahwa 'jawaban' yang jelas akan muncul. Masalahnya adalah bahwa
jika keputusan untuk perubahan dibuat kemudian dalam proses inovasi, perubahan ini akan lebih
mengganggu daripada jika mereka dibuat sejak dini. Implikasi dari hal ini adalah bahwa pertama,
ada baiknya mencoba mencapai konsensus pada tahap awal proses inovasi bahkan jika ini
tampaknya menunda total proses dalam jangka pendek, dan kedua, ada kebutuhan khusus untuk
intervensi strategis ke dalam proses inovasi oleh manajemen senior selama tahapan awal ini.
Sayangnya, ada kecenderungan bagi manajer senior, setelah menetapkan tujuan awal dari proses
inovasi, untuk 'meninggalkan detail' kepada para ahli teknis. Mereka mungkin hanya terlibat
dengan proses itu lagi pada tahap-tahap selanjutnya ketika masalah mulai muncul yang
membutuhkan rekonsiliasi atau
sumber daya tambahan.

d. Mengatur proses inovasi dengan cara yang mencerminkan sifat penawaran


Proses inovasi hampir pasti akan melibatkan orang-orang dari berbagai bidang bisnis yang akan
memiliki beberapa bagian dalam membuat keputusan membentuk penawaran akhir. Namun
setiap proyek desain juga akan memiliki eksistensinya sendiri. Itu akan memiliki nama proyek,
seorang manajer individu atau kelompok staf yang memperjuangkan proyek, anggaran dan,
tujuan strategis yang jelas dalam organisasi. Pertanyaan organisasi adalah mana dari dua gagasan
ini - berbagai fungsi organisasi yang berkontribusi pada inovasi atau proyek itu sendiri - harus
mendominasi cara di mana kegiatan desain dikelola?
Ada berbagai kemungkinan struktur organisasi - dari bentuk proyek yang murni fungsional hingga
murni. fungsional organisasi secara murni, semua staf yang terkait dengan proyek inovasi
didasarkan jelas dalam kelompok fungsional mereka. Tidak ada grup berbasis proyek sama sekali.
Mereka mungkin bekerja penuh waktu di proyek tetapi semua komunikasi dan penghubung
dilakukan melalui manajer fungsional mereka. Pada ekstrem yang lain, semua anggota staf
individu dari setiap fungsi yang terlibat dalam proyek inovasi dapat dipindahkan dari fungsinya
dan bahkan mungkin ditempatkan bersama dalam satuan tugas yang didedikasikan semata-mata
untuk proyek. Seorang manajer proyek yang mungkin memegang seluruh anggaran yang
dialokasikan untuk proyek inovasi dapat memimpin gugus tugas. Tidak semua anggota gugus
tugas harus tetap di tim selama periode desain, tetapi inti yang substansial mungkin melihat
proyek dari awal hingga selesai. Beberapa anggota tim desain bahkan mungkin berasal dari
perusahaan lain. Di antara kedua ekstrem ini ada berbagai jenis organisasi matriks dengan
berbagai penekanan pada dua aspek organisasi ini.
 Organisasi fungsional: proyek inovasi dibagi menjadi beberapa segmen dan ditugaskan untuk
area fungsional yang relevan dan / atau kelompok dalam area fungsional. Proyek ini terkoordinasi
oleh manajemen fungsional dan senior.
 Matriks fungsional (atau manajer proyek ringan): seseorang secara resmi ditunjuk untuk
mengawasi proyek di berbagai area fungsional. Orang ini mungkin memiliki wewenang terbatas
atas staf fungsional yang terlibat dan melayani terutama untuk merencanakan dan mengoordinasi

13 | P a g e
proyek. Manajer fungsional mempertahankan tanggung jawab utama untuk segmen spesifik
proyek mereka.
 Matriks seimbang: seseorang ditugaskan untuk mengawasi proyek dan berinteraksi dengan dasar
yang sama dengan manajer fungsional. Orang ini dan manajer fungsional bekerja bersama untuk
mengarahkan kegiatan inovasi dan menyetujui keputusan teknis dan operasional
 Matriks proyek (atau manajer proyek kelas berat): seorang manajer ditugaskan untuk mengawasi
proyek dan bertanggung jawab untuk penyelesaiannya. Keterlibatan manajer fungsional terbatas
pada penugasan personel sesuai kebutuhan dan memberikan keahlian penasihat.
 Tim proyek (atau tim harimau): seorang manajer diberikan tanggung jawab untuk tim proyek yang
terdiri dari sekelompok personel inti dari beberapa area fungsional yang ditugaskan secara penuh
waktu. Manajer fungsional tidak memiliki keterlibatan formal.

14 | P a g e
MANAJEMEN OPERASIONAL STRATEGIK
PEMBAHASAN JURNAL
Technical Product Innovation In Building Material
Industry In The Czech Republic
Oslíková Eva*, Tichá Alena, Bartoš Miroslav
Brno University of technologie, Fakulty of Civil Engineering, Institute of structural economics and
management, Veveří 331/95, 602 00 Brno, Czech Republic

1. Latar Belakang Penelitian


Dalam beberapa dekade terakhir, dengan perkembangan berkelanjutan dari sistem ekonomi
dunia, evaluasi kinerja dari inovasi telah menjadi bagian penting dari studi ekonomi makro terhadap
pembangunan ekonomi sebuah negara. Saat ini keunggulan kompetitif hanya dapat dibangun
melalui peran inovasi, pengetahuan ekonomi dan kreativitas dari sumber daya manusianya. Union of
Innovations dibentuk sebagai salah satu inisiasi dari negara Uni Eropa yng bertujuan memantau
kemajuan yang dicapai dalam penelitian, pengembangan dan inovasi. Tabel komparatif dibentuk
dengan berbagai macam indikator kunci dengan tujuan untuk mengevaluasi di sektor mana sebuah
inovasi dapat dilakukan. Indikator-indikator ini nantinya dimasukkan dalam Ringkasan Indeks Inovasi
(Summary Innovation Index). Atas dasar rekomendasi yang dirumuskan oleh Union of Innovations,
maka Republik Ceko telah menyiapkan Strategi Inovasi yang bertujuan mendukung pembangunan
nasional negaranya. Pemantauan penelitian, pengembangan dan inovasi di Republik Ceko dilakukan
oleh Badan Pusat Statistik Republik Ceko.

2. Metodologi Penelitian
2.1. Kerangka Penelitian
Menemukan metode yang cocok untuk pengukuran kinerja inovasi yang cocok di Uni Eropa
dan evaluasinya adalah tugas yang sulit. Kesulitan ini disebabkan subjek pengukurannya itu sendiri
yang berbentuk kualitatif. Mengukur kinerja inovasi itu sendiri adalah mengukur perubahan secara
kualitatif, bukan kuantitatif. Karena itu, setiap inovasi harus berbeda satu dengan yang lainnya. Tapi
segala sesuatu pun dapat diukur. Proses inovasi adalah sesuatu yang dapat diukur meskipun sulit
untuk dilakukan. Cara menghitung indikator kinerja inovasi mau tidak mau diawali dengan
pengembangan skema model inovasi yang berbentuk kerangka kerja konseptual. Sumber data
diambil dari EUROSTAT Statistics dan CIS (Survey of Community Innovations). Data sekunder diambil
dari OECD (Organization for Economic Cooperation and Development), UNCTAD (UN Conference for
Trade and Development), FIBV (Global Federation of Stock Exchanges). Salah satu indikator ringkasan
memungkinkan perbandingan posisi negara yang jelas dan komprehensif untuk serangkaian faktor
yang dipilih dan perkembangannya dalam waktu adalah ringkasan indeks inovasi - SII. Tujuan dari ini
indeks adalah untuk menyediakan alat yang mudah diinterpretasikan untuk evaluasi berbagai
indikator yang terpisah untuk inovasi dan karenanya memperoleh peringkat obyektif dari negara-
negara yang dievaluasi. Metodologi pembuatan indeks ini diperbarui setiap tahun. Pemrosesan
didasarkan pada analisis input-output. Analisis didasarkan pada asumsi bahwa hasilnya akan
ditampilkan dalam konteks pemeriksaan hubungan antara sumber (input) dan kinerja inovasi sistem
(keluaran) . Analisis input-output pada awalnya digunakan untuk keseimbangan interdisipliner di
tingkat nasional dengan lebih lanjut aplikasi yang dikembangkan kemudian. Analisis ini misalnya
telah bermanfaat untuk pengukuran dampak ekonomi terhadap budaya. Analisis menggunakan
hitungan matriks, tabel input - output simetris dengan input yang relevan yang mempengaruhi satu
sama lain. Inti dari metode ini adalah bekerja dengan matriks invers Leontief.
L = (I-A)-1
Matriks invers L-Leontief, matriks unit-I dengan urutan yang sama dengan matriks A, matriks
koefisien-A.Ringkasan indeks inovasi 2014 merangkum kinerja berbagai indikator yang berbeda. Ada

15 | P a g e
3 jenis indikator puncak yang khas - Pengaktif, kegiatan dan Output Perusahaan dan 8 dimensi
inovasi lebih lanjut dibagi menjadi 25 indikator rinci.

2.2. Evaluasi Pengukuran Kinerja Inovasi di Republik Ceko


Penelitian inovasi harmonis umum pertama di UE berlangsung pada tahun 1993. Survei statistik saat
ini tentang inovasi diatur oleh Peraturan Komisi UE no. 995/2012 dan dilakukan di semua negara UE
setiap 2 tahun dengan periode referensi 3 tahun. Di Republik Ceko survei percontohan pertama
dilakukan untuk referensi periode 1999–2001. Data yang ditemukan digunakan untuk memetakan
lingkungan inovasi dan potensi inovasi perusahaan di masing-masing Negara Anggota UE. Inovasi
produk dan proses sangat penting bagi perusahaan dan daya saingnya. Fungsi yang mendukung
adalah dilakukan oleh inovasi pemasaran dan organisasi yang memungkinkan menemukan cara-cara
baru yang efektif untuk mempromosikan produk dan layanan baru dan memperkenalkan perubahan
fleksibel dalam tata kelola perusahaan sebagai reaksi terhadap pasar baru tren dan persyaratan
pelanggan. Statistik kegiatan inovasi perusahaan (statistik inovasi) bertujuan pemetaan bidang
kegiatan inovasi dari keputusan suatu perusahaan untuk berinovasi, sumber informasi dan mitra
melalui inovasi itu sendiri (jenis inovasi) dan biaya terkait dengan manfaat ekonomi dari inovasi
penyebaran (pendapatan dari produksi yang inovatif). Bahan metodologis dasar untuk kegiatan
inovasi pengukuran adalah Manual Oslo (OECD, 2005). Inovasi produk berarti pengenalan barang
layanan yang baru atau meningkat secara signifikan terkait dengan karakteristik atau tujuan
penggunaannya. Istilah "produk" digunakan untuk barang dan jasa. Inovasi produk berarti
pengenalan barang dan jasa baru dan peningkatan signifikan dalam karakteristik fungsional atau
pengguna barang dan jasa yang ada.8 Pengukuran inovasi produk di Republik Ceko didasarkan pada
statistik data Kantor Statistik Ceko.

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Evaluasi Kinerja Inovasi di Negara Uni Eropa
Dari hasil kinerja performa inovasi suatu negara yang diukur oleh Summary Innovation Index (dapat
dilihat pada gambar 1), Republik Ceko (CZ) berada pada grup tengah (Moderate Innovators). Rata-
rata performa dari negara Uni Eropa adalah 0.54, dan rata-rata dari Republik Ceko adalah 0.45.

3.2. Evaluasi Kinerja Inovasi Penyedia Bahan Bangunan di Republik Ceko


Di negara Republik Ceko , 468 perusahaan yang memproses bahan bangunan kesemuanya telah
disurvei. Mereka menjalankan bisnis mereka dengan julah karyawan lebih dari sepuluh dan jenis
usaha mereka telah terdaftar dan telah diklasifikasikan menurut National Association of Corrosion
Engineers (NACE)-CZ Section C, Manufacturing Section 23rd.Hasil survei Badan Pusat Statistik
Republik Ceko yang dilakukan pada periode 2010-2012 menunjukkan bahwa hampir setengah dari

16 | P a g e
perusahaan yang terdaftar terlibat dalam proses inovasi (Penjelasan dapat dilihat pada Gambar 2(a).
Jenis inovasi yang mereka lakukan, baik inovasi dari segi non-teknologi (inovasi pemasaran dan
inovasi organisasi) maupun inovasi dari segi teknologi (inovasi produk dan inovasi proses) dapat
dilihat pada Gambar 2(b). Survei selanjutnya hanya berfokus pada perusahaan yang mengeluarkan
inovasi pada produknya.
l

Hasil dari survey menunjukkan bahwa inovasi yang bertipe hanya “meningkatkan layanan jasa”
memiliki persentase terkecil (5%) (dapat dilihat pada gambar 3a), sedangkan menurut survey,
pendapatan yang dihasilkan dari sebuah inovasi yang memiliki persentase terendah adalah dari
"Pendapatan yang dihasilkan dari produk baru di pasar" (11%) (dapat dilihat pada gambar 3b). Di sisi
lain, kategori "Pendapatan yang didapat dari produk yang tidak mengalami inovasi atau hanya sedikit
dimodifikasi" menunjukkan persentase yang sangat tinggi, yakni mencapai 70%. Hal ini menunjukkan
bahwa sebagian besar pendapatan yang berasal dari inovasi berasal dari langkah-langkah rasional
perusahaan yang mempertimbangkan biaya dan kapasitasnya daripada dari harus melakukan inovasi
yang benar benar baru. Kerjasama yang dilakukan para penyedia bahan bangunan dengan mitra
masing masing dalam menggagas sebuah inovasi ditunjukkan oleh Gambar 4. Inovasi yang dilakukan
secara mandiri atau internal memiliki persentase yang paling tinggi, diikuti dengan inovasi yang
dilakukan dengan melakukan kerjasama atau partnership dengan perusahaan lain.

17 | P a g e
3.3. Inovasi di Beberapa Perusahaan Manufaktur Bahan Bangunan
Dalam sub bab ini, akan dibahas kinerja proses inovasi produk beberapa perusahaan yang telah
disurvey. Skema yang ditunjukkan pada gambar 5 menunjukkan hubungan yang relatif kompleks
dimulai dari perumusan gagasan hingga ke pemasaran produk. Diagram dibawah juga menunjukkan
hubungan antara si pembuat inovasi dengan model paten, industri dan utilitas. Skema ini juga
menunjukkan bahwa in-house innovation tetap dirahasiakan oleh pihak perusahaan. Alasannya
adalah agar skema pengembangan produk tersebut tidak bocor ke tangan kompetitor. Dalam hal
kerjasama dengan universitas atau penelitian institusi inovasi yang dihasilkan sebagian besar
terdaftar sebagai paten atau model utilitas. Publisitas melalui artikel diterbitkan oleh universitas
dalam jurnal profesional dan presentasi konferensi juga merupakan bagian dari kerja sama ini. Untuk
Pembentukan produk di pasar pemasaran produk juga penting bersama dengan kegiatan penjualan
departemen penyedia bahan bangunan. Daerah ini merupakan bidang kerja sama lain dengan
universitas dan lembaga penelitian. Pada awal inovasi di perusahaan itu mengarah pada keputusan
dewan perusahaan konstruksi jika sampai pembiayaan ide atau dapat diolah kembali atau diarsipkan
(ditandai dengan warna hitam). Pengembangan dan proses produksi tergantung pada keputusan
Dewan Direksi. Bisnis hasil bersama dengan proses pembuatan. Entitas yang bekerja sama
(perusahaan konstruksi dan universitas) mereka disorot dalam warna hijau, serta mereka kerja sama.

Catatan untuk gambar 5


A : Perusahaan mendapatkan keuntungan dari kerjasama dengan universitas, yakni berupa : ujicoba
produk, analisis produk, atau mendapatkan hak untuk dipromosikan teknologinya ke ranah peneliti
atau ahli profesional lainnya, dan aset jangka panjang perusahaan yang diwujudkan dalam bentuk
tesis mahasiswanya.
B : Universitas mendapatkan keuntungan dari kerjasama dengan perusahaan, yakni berupa : suntikan
dana, konferensi, topik untuk mata kuliah umum, dan mampu menaikkan akreditasi untuk program
diploma dan sarjana di universitas tersebut.
C : Persiapan untuk prosedur manufaktur, lembar data teknis, dokumentasi penjualan (gambar dan
petunjuk penggunaan), sertifikasi, serta pelatihan untuk dealer.

18 | P a g e
D : Justification : Hal-hal yang diperlukan untuk perlindungan hak si pemilik paten dari inovasi
tersebut - instruksi singkat.
E : Justification : Universitas mendapatkan kredit dari publikasi artikel dan penilaian produk.

4. Kesimpulan
Dari hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa Republik Ceko masih memiliki pekerjaan rumah
yang besar untuk dapat mencapai tingkat Pemimpin Inovasi (Innovation Leader). Hal ini dikarenakan
masih banyaknya perusahaan yang belum menerapkan prinsip inovasi. Sama halnya di sektor
pengolahan bahan bangunan di Republik Ceko, masih banyak perusahaan yang belum menerapkan
proses inovasi (dilihat dari hasil survey pada gambar 2a). Dari segi jenis inovasi, Inovasi pada produk
relatif seimbang dengan inovasi produk-jasa seperti yang disebutkan oleh hasil survey diatas. Hal
yang paling mengejutkan adalah bahwa untuk perusahaan yang melakukan inovasi, keuntungan
terbesar didapat dari produk yang tidak berinovasi atau produk yang hanya dikembangkan sedikit.
Hasil diatas juga mengemukakan bahwa sebagian besar perusahaan yang bergerak di sektor
pengolahan bahan bangunan melakukan inovasi dan pengembangan secara mandiri atau internal
tanpa adanya kerjasama dengan pihak lain. Sedangkan kerja sama yang dengan pihak universitas dan
lembaga penelitian sebenarnya lebih dibutuhkan dalam proses inovasi, untuk manfaat kedua belah
pihak.

19 | P a g e