Anda di halaman 1dari 3

MANUSIA QUANTUM

DI TEMPAT ITULAH KEDUANYA MENJADI SATU. ILMU DAN SENI. SEGALANYA


MEMBAUR DALAM LOGIKA ESTETIKA SANG ALAM.

Bawa aku ke tempat itu, agar aku dapat


memaafkan diriku dan semua materi yang sedang
bervibrasi menyalahkanku.

“sebuah” manusia dengan tatapan kosong


bertubuh ringkih, kini dalam keluasan hamparan
tanah gersang. serta utusan langit berupa awan
kelabu beserta segaris cahaya dengan lebar 32cm.
Badannya sangat kurus hingga cahaya mampu
menembus kursi yang ia duduki. Kursi itu adalah
raga. Manusia itu adalah jiwa yang kosong. Awan
kelabu itu hanyalah mimpi yang perlahan pudar.
Ruang kosong dengan hamparan tanah gersang
hanyalah peluang kegagalan yang menanti.

Ia nyaris “tewas” dibunuh oleh mimpi mimpinya.


Dibunuh oleh keidealisannya. Dicabik oleh rong-
rongan kaum najis si penghujat. Namun cahaya selebar 32 cm itu terus membuatnya bertahan.
Ketika awan menutup cahaya itu, maka tertutuplah segala kemungkinan ia berhasil berjuang
dalam mewujudkan mimpi. Takkan ada lagi yang namanya “manusia” dalam hatinya. Dia telah
menyerah.

Ketika dia menyerah, sepucuk surat dari sang waktu tiba di imajinya. Ia membuka surat itu
perlahan dan seketika dunianya berubah. Tanah gersang menjadi ladang rimbun penuh bunga
berwarna-warni. Langit kelabu tetap menjadi kelabu. Bukan. Bukan kelabu. Perlahan semakin
gelap. Seakan membuka tirai menuju langit baru. langit baru itu gelap. Hitam. Tak bercahaya.
Saat itu, perlahan muncullah cahaya-cahaya menghiasi langi, menerangi malamnya. Cahaya itu
membentuk kumpulan bidadari langit (bintang) beserta galakasi-galaksi dan segala
keindahannya. Bunga-bunga di sekitarnya perlahan mekar, mengeluarkan cahaya semurni
sebelum cahaya penciptaan semesta ada. Kemudian, dari dalam bunga-bunga itu, terdengar suara
merdu yang menyanyikan mada agung untuk si manusia. Itulah malam terindah bagi si manusia.
Ia menemukan tempat untuk memaafkaan dirinya. Tempat yang menghentikan hinaan dari
vibrasi di dalam materi tubuhnya. Tempat berkumpulnya keindahan dan pengetahuan.

Mimpinya terwujud. Ketika segala peluang kegaglan terlihat jelas sebagai realita, maka kekuatan
magis dari semesta baru akan bekerja. Itulah yang mereka sebut waktu. Dan saat waktu
mengirimkan suratnya, itulah saatnya memanen apa yang telah ia tuai.

Namun itu hanya surat dalam imajinya. Sang waktu tak pernah mengirimkan pesan karena ia
hanya sibuk menghitung angka-angka yang selalu dikejar oleh manusia.”sebuah” manusia
ringkih itu mengadu pada sang IA. Manusia itu berkata “tak tahu apalagi yang harus
kukorbankan. Segalanya musnah. Mimpiku tak lebih dari sekedar debu. Inilah titik nolku.
Bukan, inilah titik kurang dari nolku. Dan tanpa bantuan dayamu, titik ini akan terus berada pada
kondisi negatif. Bolehkah aku melampiaskan ini pada suatu hal?” sang ia hanya terdiam menatap
“sebuah” manusia itu dari langit kekuasaannya. Ia tau hati busuk manusia ini. ia juga tahu
perjuangan manusia ini. namun ia tak mau bertindak. Ia lebih senang mengamat. Itulah
pandangan manusia. Namun sebenarnya sang ia sedang mencoba membuat kejutan terindah. Ia
sedang melamun dan pergi ke masa depan untuk mempersiapkan “kepulangan” si manusia dari
gersangnya tanah luas itu.

Namun ketidakpahaman manusia menjadi roh naif yang melampiaskan segalanya dan
terbentuklah sesuatu yang bernama dosa. Inilah asal muasal salah satu dosa. Sebuah kondisi
negatif yang terlampiaskan melalui sebuah tindakan. Pendendam yang haus akan amarah.

Ketika sang ia masih sibuk mempersiapkan kepulangan manusia, si manusia terus melampiaskan
kekecewaannya itu pada sang amarah pendendam. Ia mencuri, merampok, korupsi, membunuh,
bahkan memperkosa untuk memenuhi nafsu birahinya.

Sang ia mengetahui semua tindakan manusia ini. Sang ia menantikan waktu yang tepat untuk
memberikan hukuman yang disebut karma, hingga kondisi manusia itu berada pada titik nol.
Setelah dihukum, titik manusia itu malah kembali pada nol, bukanya semakin negatif. Inilah
sebuah paradoks kehidupan yang terdistorsi pada pemikiran sang IA.
Setelah manusia menjalani hukuman itu, kejutan masa depanpun diberikan. “sebuah” manusia
ringkih kini menjadi “SEORANG” manusia gagah. Ia telah diakui dunia. Kini pengukuran
martabatnya lebih dari sebuah debu dan lebih dari “sebuah” “sesuatu” atau apapun yang rendah.
Ketika ia menengok ke belakang, segala usahanya yang gagal, ia merasa bahwa ini bukan
paradoks kehidupan yang terdistorsi dari pencipta. Namun ini adalah distorsi dari paradoks
komedi.

Hidup seperti sebuah topeng. kau menjadi sesuatu yang tidak kau harapkan. Namun itulah
engkau. Kau memparadokskan dirimu sehingga terjadi pemutarbalikan fakta namun orang tidak
menyadari. Kau menutup segalanya dengan sebuah topeng sehingga dirimu terdistorsi sebagai
“sebuah” manusia yang elok. Disitulah esensi komedinya. Bahwa kau memparadokskan sembari
mendistorsi pandangn manusia disekitarmu. Dan ketika kau mendistorsi dirimu menjadi sebuah
manusia, siapakah engkau sebenarnya? Inilah paradoks keduanya. Laksana paradoks ship of
thesesus, setelah semua perubahan itu, apakah kau tetaplah engkau? Atau kau adalah kau yang
lain?

Pada kondisi seperti ini, Sang Ia tertawa melihat tingkah kita. Ia melihat prinsip ketidakpastian
yang tertera pada topeng-topeng itu laksana quanta ciptaanya.