Anda di halaman 1dari 42

1

MARKAS BESAR ANGKATAN LAUT


SEKOLAH STAF DAN KOMANDO

STUDI KASUS PERTEMPURAN LAUT SOLOMON


TINJAUAN APLIKASI ASAS OPERASI TEMPUR
(PERSPEKTIF AMERIKA SERIKAT)

BAB I
PENDAHULUAN

1. Umum.
Kepulauan Solomon terletak di Samudera Pasifik. Salah satu pulau dari Kepulauan
Solomon adalah Pulau Guadalcanal, pulau ini menjadi pulau yang sangat diperebutkan oleh
Jepang dan Amerika Serikat saat itu. Pulau Guadalcanal menjadi Center of Gravity bagi
Jepang maupun Amerika karena posisinya yang Strategis di Samudera Pasifik yang dapat
digunakan sebagai Pangkalan terdepan dalam melaksanakan proyeksi kekuatan laut dan
udara serta sebagai Sea Line of Communication (SLoC) bagi kedua negara tersebut.
Walaupun secara geografis kondisi Pulau Guadalcanal merupakan sebuah pulau endemi
Malaria yang nantinya juga akan berdampak pada pasukan Jepang dan Amerika yang
menduduki pulau tersebut.

Gambar 1.1 Wilayah Pasifik Selatan, Kepulauan Solomon


Sumber: Images of War; The War in the South Pacific
2

Kekalahan Jepang pada pertempuran di Midway memaksa Laksamana Yamamoto


mengambil keputusan untuk merebut kepulauan Solomon dengan tujuan memutus garis
perhubungan laut antara Amerika dan Australia. Pulau demi pulau diserang demi
memudahkan Jepang untuk merebut Samoa, Fiji dan New Caledonia. Sebagai langkah
pertama untuk mencapai tujuan itu, pulau Guadalcanal harus dikuasai.
Pada bulan Juli 1942 Jepang berhasil mendaratkan pasukannya di Pulau
Guadalcanal tanpa diketahui oleh pihak Amerika. Setelah berhasil menguasai pulau
tersebut, Jepang segera membangun lapangan udara sesuai dengan rencana dan
menjadikan Gualdalcanal sebagai pangkalan utamanya yang secara strategis penting bagi
Jepang untuk membangun kembali efektifitas dan efisiensi superioritas udara dengan
tujuan memutus garis perhubungan laut sebagai jalur komunikasi dan transportasi laiut
antara Amerika Serikat dan Australia dalam rangka pengendalian laut (sea control). Namun
pembangunan lapangan udara tersebut akhinya diketahui oleh pihak Amerika dan
menimbulkan kekhawatiran apbila Jepang berhasil membangun lapangan udara disana
maka akan dapat mangancam pangkalan – pangkalan sekutu di New Caledonia dan Efate.
Pucuk pimpinan Armada Amerika saat itu Laksamana Ernest King berpendapat bahwa
lapangan udara di Pulau Guadalcanal harus direbut.1

Gambar 1.2 Aksi permukaan Cruiser dan Destroyer di Guadalkanal


Sumber: Naval History and Heritage Command, 80-G-30550

1
P.K. Ojong (2008). Perang Pasifik. Jakarta: Kompas. Hal. 60
3

Mengapa pulau Guadalcanal begitu diminati Jepang untuk diduduki? Kembali Pada
bulan Mei 1942, Jepang berhasil menguasai Pulau Tulagi di Kepulauan Solomon.
Kemudian mendarat di Guadalcanal dan segera membangun lapangan udara. Taktik
Jepang adalah merebut satu demi satu pulau, kemudian dibangun pangkalan udara dan
begitu seterusnya sampai tiba di New Caledonia. Jepang beranggapan bahwa dengan
penguasaan terhadap kepulauan ini akan menjadi ancaman bagi jalur komunikasi Sekutu.
Pada 7 Agustus 1942, pasukan Sekutu (terutama Amerika Serikat) mendarat di
Guadalkanal, Tulagi, dan Kepulauan Florida di Kepulauan Solomon. Pendaratan Sekutu di
pulau-pulau tersebut dimaksudkan untuk mencegah Jepang menggunakan Guadalkanal
sebagai pangkalan militer untuk mengancam rute perbekalan antara Amerika Serikat dan
Australia, serta mengamankan pulau-pulau tersebut sebagai titik awal untuk kampanye
yang bertujuan akhir mengisolasi pangkalan utama Jepang di Rabaul, serta secara tidak
langsung mendukung kampanye Nugini yang dilancarkan Sekutu.

Gambar 1.3: Pendaratan Sekutu di Guadalcanal


Sumber: Guadalcanal Diary

Pendaratan Sekutu di Guadalkanal merupakan awal dari Kampanye Guadalkanal


yang berlangsung selama enam bulan. Pendaratan Sekutu secara langsung didukung oleh
tiga kapal induk dari gugus tugas: Task Force 11 (Saratoga), Task Force 16 (USS
Enterprise), dan Task Force 18 (USS Wasp), berikut grup udara masing-masing, serta
kapal-kapal perang pendukung, termasuk 1 (satu) kapal tempur, kapal-kapal penjelajah,
dan kapal-kapal perusak. Komandan sepenuhnya untuk ketiga gugus tugas kapal induk
4

adalah Laksamana Madya Frank Jack Fletcher yang mengibarkan bendera di atas kapal
induk USS Saratoga. Pesawat-pesawat di ketiga kapal induk disiapkan untuk memberikan
bantuan tembakan udara untuk pasukan invasi Sekutu, dan mempertahankan kapal induk
dari serangan udara Jepang yang datang dari Rabaul. Setelah pendaratan berhasil
dilakukan, ketiga gugus tugas kapal induk tetap berada di daerah Pasifik selatan dengan
tugas menjaga garis komunikasi antara pangkalan-pangkalan utama Sekutu di Kaledonia
Baru dan Espiritu Santo, mendukung pasukan darat Sekutu di Guadalkanal dan Tulagi
terhadap setiap serangan balik Jepang, melindungi gerak kapal-kapal perbekalan yang
menuju ke Guadalkanal, serta menyerang dan menghancurkan setiap kapal perang Jepang
yang berada dalam jangkauan.
Pertempuran Laut Solomon adalah pertempuran laut dari tanggal 24 - 25 Agustus
1942 antara Angkatan Laut Jepang dan Armada Angkatan Laut Sekutu. Pertempuran ini
merupakan pertempuran antar kapal induk yang ketiga dalam sejarah Perang Pasifik di era
Perang Dunia II, sekaligus pertempuran laut terbesar kedua antara Jepang dan Amerika
Serikat sepanjang Guadalcanal Campaign. Armada Angkatan Laut Sekutu yang dipimpin
Amerika melawan armada Angkatan Laut Jepang saling mengerahkan kekuatan
armadanya dalam upaya memenangkan berbagai pertempuran laut di wilayah Pasifik ini
guna mendukung dan memperlancar kepentingan nasionalnya dimana masing masing
negara mengembangkan berbagai strategi pertempuran laut guna mencapai tujuannya. 2

Gambar 1.4: Peperangan Laut Guadalcanal


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942

2 https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Kepulauan_Solomon_Timur diakses pada tanggal 13 Februari 2019 pukul 23.45 wib


5

2. Maksud dan Tujuan.


a. Maksud. Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk menganalisis
pertempuran laut di Kepulauan Solomon antara Angkatan Laut Amerika Serikat
dengan Angkatan Laut Jepang di Samudera Pasifik pada tahun 1942 ditinjau dari asas
operasi tempur dari perspektif Amerika Serikat.
b. Tujuan. Tujuan dari analisis ini adalah memberi masukan dan pelajaran penting
kepada pemimpin TNI AL dalam rangka pengambilan kebijakan dan keputusan terkait
penerapan asas-asas operasi pertempuran laut di TNI AL.

3. Metode dan Pendekatan.


Metode penulisan makalah ini menggunakan metode deduktif, deskriptif analisis dan
akademis yaitu dengan menarik kesimpulan dari fakta-fakta yang terjadi pada pertempuran
di kepulauan Solomon serta dengan melakukan pendekatan studi literatur dan studi
kepustakaan.

4. Ruang Lingkup dan Tata Urut.


a. Analisis ini terbatas pada tinjauan operasi terhadap aplikasi asas-asas
operasi tempur yang ditarik dari pertempuran laut Solomon antara angkatan laut
Sekutu yang didominasi oleh Amerika Serikat melawan Angkatan Laut Jepang
ditinjau dari perspektif Amerika Serikat.
b. Tata urut penulisan Kertas Karya Kelompok ini adalah sebagai berikut:
1) BAB I PENDAHULUAN
2) BAB II KRONOLOGIS KEJADIAN
3) BAB III LANDASAN PEMIKIRAN
4) BAB IV PEMBAHASAN
5) BAB V MANFAAT YANG DAPAT DIAMBIL BAGI TNI AL
6) BAB VI PENUTUP

5. Pengertian-pengertian
a. Center of Gravity. Center Gravity (CoG) adalah Pusat dari kekuatan dan
pergerakan yang menjadi ketergantungan dan sumber utama dari semua aspek.
b. Sea Line of Communication. Sea Lines of Communication (SLOCs)
adalah jalur utama maritim yang memfasilitasi volume lalu lintas pengiriman dan
transportasi perdagangan maritim utama.
c. Guadalcanal Campaign. Guadalcanal Campaign atau dikenal sebagai
pertempuran Guadalkanal adalah kampanye militer yang berlangsung di pulau
6

Guadalkanal antara sekutu melawan Jepang yang merupakan bagian dari perang
Pasifik pada Perang Dunia II.3
d. Tokyo Express. Tokyo Express adalah pengangkutan atau transportasi
menggunakan kapal perang jenis destroyer oleh Angkatan Laut Jepang dalam
rangka mengangkut alat berat, perbekalan, artileri, kendaraan, makanan, amunisi
dan sekaligus personil pasukan Jepang dengan menempuh rute Rabaul –
Guadalkanal melalui selat Georgia. Pengangkutan ini untuk menghindari terdeteksi
dan serangan pesawat udara sekutu di siang hari.4
e. Iron Bottom adalah nama yang diberikan oleh pelaut Sekutu untuk perairan di
ujung selatan antara Guadalcanal, Pulau Savo, dan Pulau Florida di Kepulauan
Solomon, karena banyaknya kapal dan pesawat yang tenggelam di sana selama
Pertempuran Guadalcanal pada tahun 1942– 43.5

BAB II
KRONOLOGIS KEJADIAN

6. Pra Kejadian
Jepang mendarat di Guadalcanal pada 6 Juli 1942 untuk membangun lapangan
terbang,6 dengan tanpa diketahui oleh pasukan Sekutu yang saat itu sudah menduduki New
Caledonia dan Efate. Jepang bertujuan membuat lapangan terbang di Guadalcanal untuk
membangun Pangkalan Udara bagi militer Jepang. Setelah Sekutu mengetahui keberadaan
Jepang tersebut, mereka merasa terancam akan aksi yang telah dilakukan Jepang
sehingga Laksamana Ernest King segera memerintahkan Marinir AS untuk melaksanakan
operasi pendaratan guna merebut lapangan udara Jepang yang sedang dibangun
tersebut.7 Secara strategis, penguasaan lapangan terbang di Guadacanal sangat penting
untuk mengendalikan jalur pelayarandan komunikasi antara Amerika Serikat dan Australia. 8
Sehingga mereka menganggap negara mana yang dapat menguasai wilayah udara di
sekitar Kepulauan Solomon maka negara itu akan menang dan menguasai wilayah Pasifik
saat itu.

3 https://id.wikipedia.org/wiki/Kampanye_Guadalkanal#Tokyo_Express, diakses pada tgl 22 Feb 2019, jam 19.30


4
https://id.wikipedia.org/wiki/Kampanye_Guadalkanal#Tokyo_Express diakses pada tgl 22 Feb 2019, jam 20.03
5
https://en.wikipedia.org/wiki/Ironbottom_Sound. Diakses pada tgl 22 Feb 2019, jam 21.11
6
https://www.britannica.com/event/Battle-of-Guadalcanal, diakses tanggal 16 Februari 2019 pukul 01.35 WIB.
7
P.K. Ojong, Januari 2008, “Perang Pasifik”, Editor R.B. Sugiantoro, Jakarta, Kompas.hal 60
8
https://www.history.com/topics/world-war-ii/battle-of-guadalcanal, diakses tanggal 16 Februari 2019 pukul 01.37 WIB.
7

Divisi I Marinir Amerika Serikat melaksanakan penyerbuan terhadap Tulagi, Florida


dan Guadalcanal di bagian Selatan hamparan Kepulauan Solomon pada tanggal 7 Agustus
1942.9 Penyerbuan ini adalah kegiatan pertama yang akan melanjutkan serangkaian
serbuan pasukan Sekutu terhadap Jepang di Kepulauan Solomon, Pasifik. Pendaratan
pasukan Marinir Amerika dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus 1942 sebanyak 11.000
personil, pendaratan tersebut dilaksanakan pada malam hari dan menjadi pendaratan
pertama sejak tahun 1898 termasuk dalam lingkungan Perang Dunia II. Pendaratan
tersebut berhasil dilaksanakan walaupun mendapat perlawanan yang cukup sengit dari
pihak Jepang. Pendaratan pasukan Marinir Amerika ini juga dilaksanakan di Pulau Tulagi
pada waktu yang bersamaan dan mendpatkan perlawanan yang tak kalah sengit dari
pasukan Jepang. Akhirnya kedua pulau tersebut dapat dikuasai oleh pasukan Marinir
Amerika termasuk Lapangan terbang yang baru saja dibuat oleh Jepang.
Antara 29 Agustus dan 4 September, beberapa kapal penjelajah ringan, kapal
perusak, dan kapal patroli Angkatan Laut Jepang sukses mendaratkan hampir 5.000 prajurit
di Tanjung Taivu, termasuk hampir seluruh anggota Brigade Infanteri 35, beberapa besar
Resimen IV Aoba, dan sisa resimen Ichiki. Mayor Jenderal Kawaguchi ditempatkan sebagai
panglima semua kekuatan militer Jepang di Guadalkanal setelah tiba di Tanjung Taivu
dengan menumpang Tokyo Express 31 Agustus.10 Sebuah konvoi lainnya membawa 1.000
prajurit lainnya dari brigade Kawaguchi di bawah komando Kolonel Akinosuke Oka ke
Kamimbo yang ada di sebelah barat perimeter Lunga.11
Kerusakan yang dialami konvoi Tanaka selama Pertempuran Kepulauan Solomon
Timur menyebabkan Jepang menghentikan pengiriman pasukan bantuan dengan
menggunakan kapal berkecepatan rendah ke Guadalkanal. Sebagai penggantinya Brigade
Kawaguchi diantar hingga ke Rabaul, menggunakan kapal perang jenis Destroyer untuk
melewati pangkalan angkatan laut Jepang di Kepulauan Shortland. Destroyer Jepang
biasanya dapat melakukan perjalanan menempuh Selat Georgia Baru dalam waktu
semalam, hal ini bermaksud untuk memperkecil kemungkinan dijadikan sasaran udara
Sekutu. Pihak Sekutu menyebut rute antara Rabaul–Guadalkanal yang diterapkan Jepang
sebagai "Tokyo Express", sementara Jepang menyebutnya "Transportasi Tikus".12

9
https://id.wikipedia.org/wiki/ Pertempuran_Pulau_Savo, diakses tanggal 16 Februari 2019 pukul 01.50 WIB.
10
Frank, p. 218-219
11
Frank, p. 219-220; dan Smith, p. 113-115 & 243. Beberapa besar anggota pasukan kedua Ichiki berasal dari Asahikawa, Hokkaido.
“Kuma” berarti beruang coklat yang hidup di Kawasan mereka.
12
Morison, p. 113-114.
8

Gambar 1.5 Tokyo Express


Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Guadalcanal_Campaign

Metode pengiriman pasukan seperti yang diterapkan Jepang ini tidak memungkinkan
untuk menyertai juga peralatan berat dan perbekalan, seperti artileri berat, kendaraan,
makanan, serta amunisi tambahan diangkut bersama pasukan ke Guadalkanal. Selain itu,
kegiatan pengiriman pasukan ini secara tidak langsung membuat kapal-kapal Angkatan
Laut Jepang yang sebetulnya sangat diperlukan untuk mengawal kapal dagang memiliki
tugas tambahan yaitu menjadi expedisinya sendiri. Ketidakmampuan atau mungkin
keengganan pimpinan angkatan laut Sekutu menantang angkatan laut Jepang pada malam
hari menyebabkan kapal-kapal Jepang melaksanakan penyerangan ke Kepulauan
Solomon saat malam hari, dimana pada siang hari, kapal-kapal Jepang akan menghindari
bahaya serangan udara yang ada dalam jarak jelajah pesawat udara dari Lapangan Udara
Henderson (320 km). Situasi taktis seperti ini berlangsung hingga beberapa bulan
berikutnya.13

7. Kejadian
Pertempuran Solomon merupakan gabungan dari serangkaian pertempuran antara
Jepang dengan pihak Sekutu (Amerika Serikat dan Australia) antara di tahun 1942.
Pertempuran tersebut antara lain:

13
Franl, p. 201-203; Griffith, p. 116-124; and Smith, p. 87-112
9

a. Pertempuran Laut Savo 1 (satu)14


Pertempuran Savo disebut juga dengan Pertempuran Savo Pertama. Terjadi
pada tanggal 8-9 Agustus 1942 di sekitar Pulau Savo, Kepulauan Solomon.
Pertempuran Savo melibatkan kekuatan antara pihak Jepang dan pihak Sekutu
(Amerika Serikat dan Australia), dengan pimpinan Laksamana Muda Victor Crutchley
di pihak Sekutu, serta Laksamana Madya Gunichi Mikawa di pihak Jepang.
Pertempuran ini melibatkan kekuatan laut Sekutu kurang lebih 6 Kapal Penjelajah
Berat, 2 Kapal Penjelajah Ringan dan 15 Kapal Perusak. Sedangkan kekuatan laut
Jepang terdiri dari 5 Kapal Penjelajah Berat, 2 Kapal Penjelajah Ringan dan 1 Kapal
Perusak.
Pertempuran Savo atau Pertempuran Savo Pertama ini membuktikan
kecerdikan Jepang dalam melaksanakan siasat Pertempuran Malam. Laksamana
Madya Gunichi Mikawa dengan gagah berani memimpin langsung kekuatan Jepang
saat itu guna melawan kekuatan laut Sekutu pada tanggal 9 Agustus 1942 pukul
01.33 LT. Praktis seluruh kekuatan laut Sekutu yang saat itu sedang terlelap tidur
terhenyak dan terhempas dengan serangan mendadak tersebut. Bahkan Laksdya
Samuel Elliot Morison, sang penulis sejarah dari Amerika Serikat, menyebutkan saat
itu para Prajurit Sekutu pengawak kapal perang sedang dalam kondisi Lack of
Battlemindedness. Sehingga pertempuran ini memakan banyak korban dari pihak
Sekutu dan menenggelamkan begitu banyak kapal perang milik Sekutu.15

Gambar 1.6 Jepang mengirim pembom G4M dengan torpedo


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942

14
Murray, Williamson (2001). A War to Be Won: Fighting the Second World War. United States of America: Belknap Press. ISBN 0-
674-00680-1.
15
https://id.wikipedia.org/wiki/ Pertempuran_Pulau_Savo, diakses tanggal 16 Februari 2019 pukul 01.50 WIB.
10

Pertempuran ini adalah pertempuran laut semasa Perang Pasifik Perang


Dunia II antara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dan armada Angkatan Laut
Sekutu. Pertempuran ini berlangsung pada 8-9 Agustus 1942 dan merupakan
pertempuran laut dalam skala besar yang pertama sepanjang Kampanye
Guadalkanal. Untuk menghadapi pendaratan amfibi Sekutu di timur Kepulauan
Solomon, Laksamana Madya Gunichi Mikawa membawa gugus tugasnya yang
terdiri dari tujuh kapal penjelajah dan satu kapal perusak ke Selat New Georgia dari
pangkalan Jepang di Britania Baru dan Irlandia Baru untuk menyerang armada
amfibi Sekutu dan armada pelindungnya. Armada pelindung Sekutu terdiri dari
delapan kapal penjelajah dan 15 kapal perusak di bawah komando Laksamana
Muda (Inggris) Victor Crutchley VC, tetapi hanya lima kapal penjelajah dan tujuh
kapal perusak terlibat dalam pertempuran. Mikawa membuat armada Sekutu terkejut
dan memukul mundur kapal-kapal Sekutu, serta menenggelamkan satu kapal
penjelajah Australia dan tiga kapal penjelajah Amerika. Sebaliknya Jepang hanya
menderita kerusakan ringan. Armada Mikawa segera mundur seusai pertempuran
tanpa berusaha menghancurkan kapal pengangkut Sekutu yang mendukung
pendaratan pasukan.

Gambar 1.7 Peta Area Pertempuran Savo 1


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942
11

b. Pertempuran Laut Savo 2 (dua)16


Pertempuran Tanjung Esperance atau Pertempuran Laut Savo Kedua
berlangsung pada tanggal 11 s.d 12 Oktober 1942 di dekat Tanjung Esperance dan
Pulau Savo, Guadalcanal. Pertempuran ini melibatkan pihak Sekutu (Amerika
Serikat) dan Jepang dengan kekuatan laut masing-masing yaitu 4 Kapal Penjelajah
dan 5 Kapal Perusak di pihak Sekutu, serta 3 Kapal Penjelajah, 6 Kapal Perusak dan
2 Kapal Induk Pesawat Terbang Laut di pihak Jepang. Adapun pimpinan Armada
masing-masing adalah Laksamana Muda Norman Scott (Sekutu), serta Laksamana
Madya Gunichi Mikawa dan Laksamana Muda Aritomo Goto (Jepang).
Pertempuran ini terjadi di jalan masuk selat antara Pulau Savo dan
Guadalkanal di Kepulauan Solomon. Pertempuran ini terjadi pada saat kekuatan laut
Jepang yang terdiri dari 3 Kapal Penjelajah Berat dan 2 Kapal Perusak pimpinan
Laksamana Muda Aritomo Goto berlayar dalam formasi menuju Guadalcanal guna
mengirimkan bala bantuan besar-besaran bagi tentara Jepang disana. Namun tanpa
disangka oleh pihak Jepang, kekuatan armada laut Sekutu yang terdiri dari 4 Kapal
Penjelajah Berat dan 5 Kapal Perusak dibawah pimpinan Laksamana Muda Norman
Scott menghadang kekuatan laut Jepang di sekitar Tanjung Esperance, dekat
Guadalcanal. Pada malam itu armada angkatan laut Jepang di kawasan Kepulauan
Solomon di bawah komando Gunichi Mikawa mengirimkan konvoi pengangkut bala
bantuan dan perbekalan secara besar-besaran untuk pasukan Jepang di
Guadalkanal. Konvoi Mikawa terdiri dari dua kapal induk pesawat terbang laut dan
enam kapal perusak di bawah komando Laksamana Muda Takatsugu Jojima. Pada
saat yang bersamaan namun dalam operasi terpisah, tiga kapal penjelajah berat dan
dua kapal perusak di bawah komando Laksamana Muda Aritomo Gotō
diberangkatkan untuk melakukan misi bombardemen terhadap lapangan terbang
Sekutu di Guadalkanal (Henderson) dengan maksud menghancurkan pesawat-
pesawat dan fasilitas lapangan terbang Sekutu.

16
Frank, Richard B. (1990). Guadalcanal: The Definitive Account of the Landmark Battle. New York: Penguin Group. ISBN 0-14-
016561-4.
12

Gambar 1.8 Peta Area Pertempuran Savo 2


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942

Sesaat sebelum tengah malam 11 Oktober 1942, armada Amerika Serikat


yang terdiri dari empat kapal penjelajah dan lima kapal perusak di bawah komando
Laksamana Muda Norman Scott mengadang armada Jepang yang berada di bawah
komando Gotō ketika sedang mendekati Pulau Savo, dekat Guadalkanal. Pihak
Sekutu pun mampu memukul kekuatan laut Jepang serta menenggelamkan 1 Kapal
Penjelajah beserta Laksamana Muda Aritomo Goto yang berada disana. Di sisi lain,
4 Kapal Perusak milik Jepang berhasil berlabuh di Guadalcanal guna memberi
bantuan logistik. Namun ketika 4 Kapal Perusak tersebut kembali berbalik arah guna
membantu kapal-kapal Armada Goto, pesawat-pesawat tempur milik Sekutu yang
terbang dari Lapangan Udara Henderson menyerang dan menenggelamkan 2 dari 4
Kapal Perusak tersebut.
Armada laut Jepang pun mundur dan kembali ke Pangkalan mereka di
Rabbaul dengan posisi mengalami kekalahan dari kekuatan laut pihak Sekutu. 17
Meskipun pertempuran berakhir dengan kemenangan armada Amerika Serikat,
pertempuran ini hanya sedikit memiliki nilai strategis secara langsung. Hanya dua
malam setelah pertempuran, dua kapal tempur Jepang sudah datang kembali
melakukan bombardemen dan hampir menghancurkan Lapangan Udara Henderson.

17
https://id.wikipedia.org/wiki/ Pertempuran_Tanjung_Esperance, diakses tanggal 16 Februari 2019 pukul 01.45 WIB.
13

Jepang juga kemudian berhasil mendaratkan lebih banyak pasukan bala bantuan di
Guadalkanal.
c. Pertempuran Laut Savo 3 (tiga)18
Pertempuran laut yang terjadi pada 12-15 November 1942 adalah
pertempuran menentukan dalam serangkaian pertempuran laut antara Sekutu
(terutama Amerika Serikat) dan Kekaisaran Jepang dalam kampanye militer
Guadalkanal yang berlangsung berbulan-bulan di Kepulauan Solomon. Pertempuran
laut ini melibatkan kapal-kapal dan pesawat tempur selama lebih dari empat hari,
sebagian besar terjadi di dekat Guadalkanal. Pada awal November 1942, Jepang
mengirimkan konvoi kapal angkut yang membawa 7.000 prajurit infanteri dan
peralatannya ke Guadalkanal. Beberapa kapal perang Jepang ditugaskan untuk
melakukan bombardemen terhadap Lapangan Udara Henderson dengan tujuan
menghancurkan pesawat tempur Sekutu yang mengancam konvoi kapal Jepang.

Gambar 1.9 Peta Area Pertempuran Savo 3


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942

Setelah rencana Jepang diketahui Sekutu, kapal-kapal perang dan pesawat-


pesawat tempur Amerika Serikat mulai melancarkan serangan terhadap konvoi kapal
Jepang. Pertempuran berakhir dengan kerugian besar bagi kedua belah pihak.
Sejumlah kapal perang tenggelam dalam dua kali pertempuran laut di malam hari.
Amerika Serikat menderita kerugian dan kerusakan lebih parah daripada Jepang.

18
Ibid
14

Namun Amerika Serikat berhasil menghalau bombardemen kapal-kapal perang


Jepang terhadap Lapangan Udara Henderson. Serangan udara pesawat tempur
Sekutu juga menenggelamkan sebagian besar dari kapal angkut pasukan dan
menghalangi usaha Jepang mendaratkan sebagian besar pasukan dan peralatan di
Guadalkanal. Pertempuran ini mengandaskan usaha terakhir Jepang mengusir
tentara Sekutu dari Guadalkanal dan Pulau Tulagi yang berdekatan, dan berakibat
pada kemenangan strategis bagi militer Amerika Serikat dan sekutunya, serta
menentukan hasil akhir kampanye militer Guadalkanal sebagai kemenangan Sekutu.

Gambar 1.10 Battle of Esperance


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942

d. Pertempuran Laut Savo 4 (empat)19


Pertempuran laut ini adalah pertempuran laut yang berlangsung pada malam
hari tanggal 30 November 1942 antara Angkatan Laut Amerika Serikat dan Angkatan
Laut Kekaisaran Jepang di Ironbottom Sound dekat kawasan Tanjung Tassafaronga
di Guadalkanal. Dalam pertempuran ini, armada kapal perang Amerika Serikat yang
berkekuatan lima kapal penjelajah dan empat kapal perusak di bawah komando
Laksamana Muda Carleton H. Wright mencoba melakukan serangan dadakan
dengan tujuan menghancurkan armada kapal perang Jepang yang berkekuatan
delapan kapal perusak di bawah komando Laksamana Muda Raizo Tanaka yang

19
Ibid
15

sedang mencoba mengirimkan pasukan makanan ke pasukan Jepang yang berada


di Guadalkanal.
Dengan menggunakan radar, kapal-kapal perang Amerika Serikat
melepaskan tembakan dan menenggelamkan satu kapal perusak Jepang. Namun,
Tanaka dan para perwira di kapal Jepang lainnya bereaksi cepat dengan
meluncurkan torpedo ke arah kapal-kapal perang Amerika Serikat. Torpedo-torpedo
Jepang menghantam dan menenggelamkan satu kapal penjelajah Amerika Serikat
dan tiga kapal penjelajah lainnya rusak berat. Armada Tanaka dapat melarikan diri
tanpa kerusakan tambahan yang berarti, namun misi mengantarkan pasokan
makanan ke Guadalkanal tidak dapat diselesaikan. Meskipun berakhir dengan
kekalahan besar secara taktis bagi Amerika Serikat, pertempuran ini hanya memiliki
dampak strategis yang kecil. Jepang tetap tidak dapat memanfaatkan kemenangan
di Tassafaronga untuk mendukung upaya-upaya mereka dalam mengusir pasukan
Sekutu dari Guadalkanal.

Gambar 1.11 Peta Area Pertempuran Guadalcanal


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942

Pertempuran Guadalcanal atau Pertempuran Laut Savo Ketiga dan Keempat


berlangsung pada tanggal 12 s.d 15 November 1942 di Guadalcanal, Kepulauan
Solomon. Adapun kekuatan laut yang terlibat dari pihak masing-masing adalah 1
Kapal Induk, 2 Kapal Tempur, 5 Kapal Penjelajah dan 12 Kapal Perusak di pihak
Sekutu, serta 2 Kapal Tempur, 8 Kapal Penjelajah dan 16 Kapal Perusak di pihak
16

Jepang. Adapun pimpinan Armada masing-masing adalah Laksamana Daniel


Callaghan (Sekutu), serta Laksamana Hiroaki Abe (Jepang).
Pertempuran Guadalcanal ini melibatkan pertikaian antara armada laut
Jepang yang sedang berlayar menuju Guadalcanal guna memberikan bala bantuan
bagi pasukan darat Jepang yang sedang berada di Guadalcanal, melawan Armada
laut Sekutu yang dipimpin langsung oleh Laksamana Daniel Callaghan di kapal
perang San Fransisco. Beberapa kapal perang Jepang ditugaskan melakukan
bombardement terhadap lapangan udara Henderson dengan tujuan menghancurkan
pesawat tempur Sekutu yang berada disana. Namun pihak Sekutu mengetahui
rencana tersebut dan melaksanakan penghadangan dan penghancuran terhadap
kapal-kapal perang Jepang tersebut. Banyak korban jatuh di kedua belah pihak.
Laksamana Daniel Callaghan pun gugur bersama dengan kapal perang San
Fransisco yang tenggelam akibat tembakan dari armada laut Jepang, demikian pula
dengan Laksamana Hiroaki Abe yang mengalami luka berat akibat dari kapal perang
Hiei yang tertembak.

Gambar 1.12 Kapal Perang Jepang, Hiei


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942

Hiei dijadikan bulan-bulanan oleh pesawat angkut torpedo TBF Avenger


Marinir Amerika Serikat yang berpangkalan di Lanud Henderson. Abe dan para staf
diungsikan ke Yukikaze pada pukul 08.15 LT. Kirishima diperintahkan Abe untuk
menarik Hiei sambil mendapat perlindungan dari Nagara dan beberapa kapal
perusak, namun usaha tersebut dibatalkan mengingat kemungkinan serangan dari
17

kapal selam. Lagi pula Hiei sudah makin tidak laik laut. Setelah makin rusak parah
akibat serangan udara, Hiei karam di barat laut Kepulauan Savo di akhir senja 13
November 1942. Portland, San Francisco, Aaron Ward, Sterett, dan O'Bannon
akhirnya selamat kembali ke pelabuhan di garis belakang untuk direparasi. Untuk
Atlanta karam dekat Guadalcanal pada 13 November 1942 pukul 20.00. Masih pada
hari yang sama, Juneau berangkat dari kawasan Kepulauan Solomon bersama-
sama San Francisco, Helena, Sterret, dan O'Bannon, namun Juneau karam terkena
torpedo yang ditembakkan kapal selam Jepang I-26. Akibat kacaunya jalan
pertempuran, pihak Amerika Serikat percaya bahwa mereka telah menenggelamkan
7 kapal Jepang. Selain itu, kapal-kapal Jepang juga mengundurkan diri dari arena
sehingga pihak Amerika Serikat percaya mereka telah memenangkan pertempuran
dengan kerugian besar di pihak Jepang. Setelah perang berakhir, Amerika Serikat
baru mengetahui bahwa pihaknya menderita kekalahan total dalam strategi.
Di lain sisi meskipun banyak korban berjatuhan di pihak Jepang, Laksamana
Hiroaki Abe hampir mampu menghancurkan lebih banyak lagi kekuatan laut Sekutu
dan mencapai Guadalcanal, namun Laksamana Abe memutuskan untuk menarik
mundur pasukannya, akibat dari luka yang dideritanya serta persediaan amonisi
guna menghancurkan lapangan terbang Henderson sudah habis. Pertempuran
Guadalcanal ini mengkandaskan usaha terakhir dari pihak Jepang untuk
menghancurkan lapangan terbang Henderson dan menguasai wilayah Kepulauan
Solomon sehingga berakibat memberikan kemenangan strategis bagi kekuatan laut
Sekutu.20

8. Pasca Kejadian
Tekanan terus-menerus untuk memperkuat Guadalcanal telah melemahkan upaya
Jepang di medan yang lain, dan secara tidak langsung turut mendorong keberhasilan
serangan balik Australia dan Amerika di Nugini yang berpuncak pada direbutnya
pangkalan-pangkalan militer kunci di Buna dan Gona pada awal 1943. Sejak itu pula inisiatif
strategis telah beralih ke tangan Sekutu. Juni 1943, Sekutu melancarkan Operasi Cartwheel
yang setelah diperbaharui pada bulan Agustus 1943 secara resmi merupakan strategi
mengisolir Rabaul dengan cara memutus jalur komunikasi laut. Setelah Rabaul dan
pasukan Jepang yang berada di sana berhasil dinetralisir, Sekutu melanjutkannya dengan
mandala perang Pasifik Barat Daya Perang Dunia II di bawah komando Jenderal Douglas
MacArthur dan strategi lompat pulau di Pasifik Tengah di bawah komando Laksamana

20
https://id.wikipedia.org/wiki/Kampanye_Guadalcanal, diakses tanggal 16 Februari 2019 pukul 01.43 WIB.
18

Chester Nimitz. Pertahanan Jepang yang tersisa di kawasan Pasifik Selatan kemudian
dihancurkan atau dilewati oleh Sekutu menjelang berakhirnya perang.
Berbagai Pertempuran yang telah terjadi di Kepulauan Solomon memberikan
dampak yang besar bagi kedua belah pihak, baik bagi pihak Sekutu dalam hal ini Amerika
Serikat dan Australia, maupun kepada pihak Jepang. Kedua pihak telah banyak kehilangan
banyak korban, baik tenggelamnya berbagai kapal mereka mereka, maupun korban beratus
ribu prajuritnya.
Pertempuran Laut Guadalkanal atau Purla P. Savo Ketiga dan Keempat merupakan
upaya terbesar sekaligus terakhir dari Jepang untuk merebut pulau Guadalkanal atau
menguasai laut sekitarnya. Sebaliknya, Angkatan Laut Amerika Serikat dapat mengirimkan
pasokan bagi militer Amerika Serikat yang berada di Guadalkanal, termasuk pendaratan
dua divisi pada akhir Desember 1942. Ketidakmampuan Jepang untuk menetralisasi
lapangan terbang Henderson berakibat fatal bagi tentara Jepang yang berusaha
memerangi usaha penaklukan Guadalkanal oleh pihak Amerika Serikat. Seusai terjadinya
Pertempuran Guadalcanal atau Pertempuran Savo Ketiga dan Keempat, pihak Jepang
mulai berpikiran untuk menarik seluruh kekuatan militernya dari Kepulauan Solomon,
dikarenakan kerugian korban manusia dan kapal perang yang sangat besar serta kondisi
para prajurit Jepang di Guadalcanal yang semakin memburuk akibat kekurangan pasokan
gizi dari luar.
Armada Laut Jepang mempunyai kapal-kapal perang yang lebih baik dan relatif
menggunakan strategi yang baik pula dalam pertempuran. Dengan didukung oleh
semangat tinggi para prajuritnya. Namun sejak kejadian Pertempuran Laut Guadalcanal,
para pemimpin Jepang seperti telah kehilangan nyali dan berbagi strateginya. Sebaliknya
pihak Sekutu dalam hal ini Amerika Serikat tak henti-hentinya untuk terus berbenah dan
menjadikan diri mereka menjadi lebih baik. Sejak itu armada laut Jepang tak pernah lebih
baik lagi daripada armada laut Amerika Serikat. Hingga akhirnya pada tanggal 31
Desember 1942 Kaisar Jepang setuju untuk mengevakuasi semua Prajuritnya dari
Guadalcanal dan membentuk garis pertahanan baru untuk Kepulauan Solomon di New
Georgia.
Tanggal 13 November 1942, Laksamana Yamamoto menunda rencana pendaratan
kapal angkut. Kapal-kapan angkut dipulangkan ke Kepulauan Shortlands untuk menunggu
perintah selanjutnya. Saat terang tanah, tiga kapal Jepang yang rusak (Hiei, Yudachi, dan
Amatsukaze) dan tiga kapal Amerika Serikat yang rusak (Portland, Atlanta, dan Aaron
Ward) terlihat secara visual di dekat Kepulauan Savo. Ketika sedang mengundurkan diri
berlayar menuju Truk, Amatsukaze diserang pesawat pengebom tukik Amerika Serikat.
Namun Amatsukaze lolos tanpa kerusakan lebih lanjut, dan bisa kembali bertugas
19

beberapa bulan kemudian. Yudachi yang sudah ditinggalkan para awaknya akhirnya
ditenggelamkan oleh Portland yang persenjataannya masih berfungsi walaupun bagian
kapal yang lain mengalami kerusakan. Kapal tunda Bobolink berkeliling sekitar Selat
Ironbottom sepanjang hari 13 November 1942 membantu kapal-kapal Amerika Serikat yang
rusak, memunguti awak kapal Amerika Serikat yang selamat dari laut, dan menurut laporan,
menembaki awak kapal Jepang yang selamat di laut.
Pihak Amerika Serikat dan Jepang keduanya memilih untuk menarik mundur secara
total kapal-kapal perang mereka dari daerah pertempuran, dan pertempuran berakhir. Dari
60.000 tentara Amerika Serikat yang pernah bertempur di Guadalcanal, hamper 1.600
orang tewas. Dari pihak Armada Amerika Serikat kira-kira 2.000 jiwa. Sedangkan dari pihak
Jepang kerugian hampir 24.000 orang, 1.000 orang jadi tawanan Amerika Serikat. Berikut
tabel perbandingan kerugian kapal di kedua belah pihak hampir sama:

Jenis kapal Amerika Serikat/ Sekutu Jepang


Kapal tempur 0 0
Kapal induk berat 2 0
Kapal induk ringan 0 1
Penjelajah berat 6 3
Penjelajah ringan 2 1
Perusak 14 11
Kapal selam 0 6
Total 24 22
Tabel 1.1 Perbandingan Kerugian Kapal
Sumber: P.K. Ojong ; perang pasifik. 21

Februari tahun 1943 secara diam-diam selama tiga malam berturut-turut Jepang
dengan menggunakan kapal perusak memindahkan 12.000 tentaranya dari Guadalcanal
yang dalam kondisi setengah kelaparan dan sakit malaria. Evakuasi ini tidak diketahui pihak
Amerika Serikat. Angkatan Laut Jepang mengusulkan agar Guadalcanal ditinggalkan.
Sebuah delegasi, yang dipimpin oleh kepala seksi operasi markas umum, Kolonel (AD)
Joichiro Sanada mengunjungi Rabaul pada 19 Desember untuk berkonsultasi dengan
Imamura dan stafnya. Sekembalinya delegasi ke Tokyo, Sanada mengeluarkan
rekomendasi untuk meninggalkan Guadalcanal. Pemimpin puncak markas besar setuju
dengan rekomendasi Sanada, dan memerintahkan staf mereka untuk mulai menyusun
rencana penarikan mundur dari Guadalcanal, pembentukan garis pertahanan baru di bagian

21
P.K. Ojong, Juni 2001, Perang Pasifik, Editor R.B. Sugiantoro, Jakarta, Kompas.Hal. 71
20

tengah Kepulauan Solomon, serta pergeseran prioritas dan sumber daya untuk kampanye
Nugini.
Jenderal Hajime Sugiyama dan Laksamana Osami Nagano secara pribadi memberi
tahu Kaisar Hirohito tentang keputusan untuk mundur dari Guadalcanal. Hirohito secara
resmi didukung keputusan tersebut. Jepang secara diam-diam mulai mempersiapkan
operasi evakuasi yang diberi nama “Operasi Ke”. Operasi penarikan mundur dari
Guadalcanal menurut rencana dimulai pada akhir Januari 1943. Setelah tentara Jepang
ditarik mundur, Guadalcanal dan Tulagi dibangun sebagai pangkalan militer utama untuk
mendukung gerak maju Sekutu hingga Kepulauan Solomon. Walaupun sudah ada
Lapangan Udara Henderson, dua landas pacu tambahan untuk pendaratan pesawat tempur
dibangun di Tanjung Lunga, dan sebuah lapangan terbang pesawat pengebom dibangun di
Tanjung Koli. Pelabuhan laut dan fasilitas logistik dibangun dalam skala besar di
Guadalcanal, Tulagi, dan Florida. Pelabuhan sekitar Tulagi merupakan tempat persinggahan
penting bagi kapal-kapal perang dan transpor Sekutu dalam kampanye Kepulauan Solomon.
Unit-unit pasukan dikonsentrasikan di perkemahan besar dan barak-barak di Guadalcanal
sebelum dikirim ke Kepulauan Solomon. Setelah kehilangan Guadalcanal, Jepang secara
nyata berada dalam posisi bertahan di Pasifik.

BAB III

LANDASAN PEMIKIRAN

9. Umum
Operasi perang laut adalah serangkaian kegiatan pertempuran laut (Sea Battles) yang
dilaksanakan oleh satuan armada/gabungan satuan armada patroli maritim lainnya dalam
waktu tertentu yang dilakukan mandiri atau kerjasama dengan angkatan laut terkait oleh
satu tujuan dan terrencana serta diarahkan untuk mencapai tujuan strategis atau taktis
operasional.
Pada aplikasi pertempuran laut Solomon ini, apa yang dilaksanakan oleh pihak AS
bertujuan untuk mempertahankan Command Of The Sea di wilayah laut Pasifik dimana AS
memiliki superioritas terhadap Jepang dalam rangka menjamin kelancaran alur komunikasi
dan transportasi perhubungan laut antara AS dengan Australia. Kemampuan AS
mempertahankan Command Of The Sea secara strategis mampu memegang Sea Control
di wilayah laut Pasifik dan memberikan keuntungan bagi pasukan AS yang berada di
kepulauan Salomon bahkan hingga Pearl Harbour. Berdasarkan tinjauan operasi tempur
21

terhadap pertempuran laut kepualauan Solomon ini, pihak AS mampu mengaplikasikan


aspek asas-asas operasi tempur yang digunakan sebagai pedoman dasar.

10. Landasan Teori


a. Teori A. T. Mahan22.
Alfred Thayer Mahan dalam bukunya “The Influence of Sea Power Upon
History 1660-1783”, mengemukakan bahwa untuk menjadikan bangsa yang besar
harus dapat menguasai kepentingan-kepentingannya di laut.Tujuannya adalah untuk
menguasai jalur atau selat penting agar dapat mendesak kekuatan bahari lawan.
Kekuatan laut kemudian dapat dikalahkan dengan tekanan tidak langsung termasuk
blokade atau dengan penyerangan terhadap sasaran tertentu dilaut. Penguasaan
jalur transportasi atau komunikasi laut oleh kekuatan maritim merupakan
prasyarat bagi tercapainya suatu tingkat penguasaan terhadap lawan serta
pengendalian terhadap situasi konflik secara keseluruhan.
Beberapa prinsip armada: pentingnya lokasi-lokasi atau basis tertentu yang
strategis, komunikasi yang efektif sehingga kekuatan bisa dikoordinasikan.
Semuanya itu dibutuhkan agar supaya Angkatan Laut dapat mencapai sasaran-
sasaran utama yaitu pengendalian laut, kemampuan untuk menggunakan laut bagi
diri sendiri dan tidak dapat digunakan oleh musuh.
Keunggulan sepihak dalam perang laut tidak hanya memberikan pihak yang
kuat saja. Sebaliknya keunggulan tersebut merupakan penguasaan laut yang khas
dan luar biasa dimana hal tersebut memberikan kekuatan untuk mempengaruhi
secara efektif. Penguasaan laut dapat dapat dikatakan kebal terhadap tindakan
balasan sehingga dapat bertindak secara bebas pada tempat dan waktu yang
dikehendaki. Kekuatan pengendalian laut dapat berada dimana-mana dan bersifat
mobile, sehingga dapat mencegah pendadakan dan konsentrasi musuh untuk
mengadakan pengepungan. Dengan cara demikian maka kekuatan laut yang unggul
dapat melumpuhkan kekuatan laut yang kuat sekalipun.
b. Teori J.S Corbett23
Menurut J.S Corbett dalam bukunya “Some Principles of Maritime Strategy”,
tujuan dari perang Laut adalah “Command Of the Sea” dalam bentuk Pengendalian
Laut (Sea Control), yang berdasarkan perilaku perang laut, melalui metode :
1) Mengamankan penguasaan (Securing Command).
2) Penentuan penguasaan (Obtaining a Decision) dengan Decessive

22
A.T. Mahan (1983), “The Influence of Sea Power Upon History”. New York: Little Brown Company.
23
J.S Corbett (2012), “SomePrinciples Of Maritime Strategy”, England: Emereo Publishing.
22

battle (pertempuran yang menentukan).


3) Blokade (Laut maupun Niaga).
4) Teori Henry E. Eccles
“Strategi maritime adalah pengerahan menyeluruh kekuatan laut untuk
pengendalian situasi dan daerah, demi tercapainya pengendalian laut,
sehingga tercipta dampak keunggulan laut terhadap pihak lain”.24
c. Teori Sun Tzu
“Tunda untuk memasuki wilayah pertempuran sampai seluruh pihak yang
bertikai mengalami kelelahan akibat pertempuran yang terjadi antar mereka.
Kemudian serang dengan kekuatan penuh dan habiskan”.25
b. Doktrin
1) Doktrin Pertahanan Negara
2) Doktrin TNI Tri Dharma Eka Karma

BAB IV
PEMBAHASAN

11. Analisis Penyelenggaraan Pertempuran Solomon


a. Doktrin Pertempuran Malam Angkatan Laut AS
Memasuki kampanye Guadalcanal, doktrin pertempuran malam Amerika tidak
memadai. Ini terlepas dari kenyataan bahwa diakui bahwa bagian dari setiap
keterlibatan permukaan yang menentukan akan diperangi di malam hari dan taktik
malam telah dikembangkan sejak tahun 1932. Taktik malam Amerika menekankan
pertempuran senjata dan menampilkan doktrin torpedo yang cacat. Ini berarti bahwa
komandan selama kampanye Guadalcanal merancang taktik yang diarahkan untuk
meriam meriam sementara mengabaikan potensi serangan kapal perusak.
Ketidakseimbangan ini berasal dari penekanan pada apa yang disebut "Taktik
Utama" yang dirancang dan dipraktikkan sebagai bagian dari keterlibatan yang
diharapkan antara garis pertempuran yang berlawanan.
"Minor Tactics" untuk unit lampu tidak dianggap penting. Kapal penjelajah dan
kapal perusak dibor dengan baik dalam memaksa lubang di layar musuh untuk
memungkinkan kapal perusak menyerang kapal perang musuh dalam jarak dekat

24
Marsetio (2013). Strategi TNI Angkatan Laut Dalam Pengamanan Batas Maritim NKRI: Kajian Historis Strategis. Jakarta: Jurnal
Sejarah CITRA LEKHA. Hal 3.
25
Lionel Giles, M.A. (2009). The Art of War. Pax Librorum. Hal 29
23

dengan torpedo. Tembakan perusak akan diarahkan pada jembatan kapal perang
musuh dan bangunan atas untuk mengurangi tembakan pertahanannya. Taktik ini
memperkuat Gagasan bahwa hanya kapal perang yang layak untuk serangan
torpedo dan bahwa targetnya akan lambat dan diterangi dengan baik. Ini memiliki
sedikit kemiripan dengan kondisi aktual di luar Guadalkanal. Meskipun taktik torpedo
Amerika dan torpedo kurang, penembakan Amerika lebih efektif.
Di awal kampanye Guadalcanal, daya tembak cruiser berat dengan 8in yang
lebih berat. Shell lebih disukai karena memiliki kekuatan penetrasi untuk
mengalahkan penjelajah berat Jepang. 6in cepat dalam. senjata pada kapal
penjelajah ringan lebih disukai terhadap kapal perusak karena volume tembakan
mereka. Dengan menggunakan radar, para laksamana Amerika diyakinkan bahwa
mereka dapat melakukan target pada jarak 10.000yard dan menghancurkannya
sebelum dapat menembakkan torpedo. Sayangnya untuk orang Amerika, ini kurang
dari kisaran efektif torpedo Jepang Type 93. Orang Amerika tetap tidak mengetahui
kemampuan sebenarnya dari Tipe 93 sepanjang kampanye.26
b. Perencanaan Amerika Serikat
Dibandingkan dengan rencana Jepang, Amerika memiliki satu set tugas
sederhana yang menduduki pulau itu, menjaga lapangan udara terbuka, dan
bereaksi terhadap operasi penguatan Jepang yang besar. Selama lapangan udara
dapat mengoperasikan pesawat, Amerika mendominasi perairan di sekitar
Guadalcanal pada siang hari. Ini membuat pergerakan bala bantuan ke pulau
dengan mengangkut semua tapi mustahil.
Karena Jepang tidak dapat beroperasi di dekat Guadalcanal pada siang hari,
mereka terpaksa mengandalkan kapal perusak untuk menjalankan pasukan dan
pasokan ke pulau pada malam hari. Ini merupakan sarana transportasi yang tidak
efisien dan tidak memungkinkan perpindahan peralatan pendukung berat. Orang
Amerika lambat menanggapi pergerakan pasukan dan pasokan Jepang yang
konstan di malam hari. Setelah pertempuran Pulau Savo, Jepang berada dalam
kendali yang tak perlu dari perairan sekitar Guadalkanal setelah gelap.
Baru pada pertengahan Oktober Ghormley mengambil tindakan untuk
menghentikan Tokyo Express, yang mengakibatkan pertempuran Cape Esperance.
Ketika Jepang menggunakan kapal perang untuk menetralisir lapangan terbang
sementara pada bulan Oktober, Amerika harus mengambil langkah-langkah untuk
mencegah pemboman lainnya. Ini adalah alasan di balik pertempuran laut yang

26
Mark Stille (2013). The Naval Battles for Guadalcanal 1942. New York: Osprey. p. 66-67
24

menentukan pada bulan November ketika Amerika melemparkan gugus tugas


terhadap pasukan pengeboman kapal perang Jepang pada dua kesempatan. 27
c. Pertempuran
Purla Savo Order of Battle Angkatan Laut Amerika Task Force 62 Rear
Admiral Richmond K. Turner; Southern Group, Rear Admiral Victor Crutchley; RN
Heavy cruisers Australia (RAN), Canberra (RAN), Chicago Destroyers Bagley,
Patterson; Northern Group Captain, Frederick Riefkohl, Heavy cruisers Astoria,
Quincy, Vincennes, Destroyers Helm, Wilson; Eastern Group, Rear Admiral Norman
Scott Light cruisers San Juan, Hobart (RAN) Destroyers Monssen, Buchanan; Picket
Ships, Destroyers Blue, Ralph Talbot.28
Total pasukan Sekutu dari enam penjelajah berat, dua penjelajah ringan, dan
delapan kapal perusak memiliki cara untuk menghadapi kekuatan Mikawa yang lebih
kecil. Namun, penyebaran pasukan Sekutu terlalu tersebar dan karenanya harus
dikalahkan secara terperinci. Kedua kapal perusak yang bertugas piket di utara dan
selatan Pulau Savo sama-sama dilengkapi dengan radar, tetapi karena mereka
dapat terpisah sejauh 20 mil pada waktu-waktu tertentu, masih ada celah besar bagi
Jepang untuk memasuki Suara Bawah Besi tanpa terdeteksi.
Selain itu, penghancur piket tidak dikerahkan cukup jauh di depan kelompok
penjelajah untuk memberikan peringatan yang memadai. Selain itu, pada malam 8
Agustus, Crutchley membawa Australia keluar dari posisi untuk konferensi dengan
Turner. Dia meninggalkan kapten Chicago yang bertanggung jawab atas Grup
Selatan. Ketika konferensi berakhir, dia tidak kembali ke Grup Selatan, tetapi
mengabaikan untuk memberitahu para komandan kelompok lain tentang semua
ini.29
1) Gambaran Strategis
Untuk mencapai tujuan ini, Jepang pada awal 1942 telah
menghancurkan armada AS di Pearl Harbor, menggerakkan armada AS dari
Filipina, dan menenggelamkan armada gabungan Belanda, Australia, dan AS
di Hindia Belanda. Selain itu, mereka menghukum Angkatan Laut Kerajaan di
Malaya dan Ceylon, merebut Asia Tenggara, Filipina, sumber daya di Hindia
Timur, dan mendirikan pos-pos di Aleut di Pasifik utara dan pulau-pulau
Bismarck di Pasifik selatan.

27 Mark Stille (2013). The Naval Battles for Guadalcanal 1942. New York: Osprey. p. 72
28 Mark Stille (2013). The Naval Battles for Guadalcanal 1942. New York: Osprey. p. 81
29 Colonel Thomas McCool, Battle of Savo Island-Lessons Learned and Future Implications; New York: Pickle Partners. p. 8-9.
25

Keberhasilan ini menempatkan Jepang di posisi untuk merebut Port


Moresby di pantai selatan New Guinea, lokasi yang ideal untuk melakukan
invasi ke Australia. Pasukan Sekutu Pasifik, dalam pertahanan strategis
hingga saat ini, mampu mencetak kemenangan signifikan pertama mereka
dalam perang dengan menghentikan kemajuan selatan Jepang di Australia
melalui Papua di Pertempuran Laut Karang pada bulan Maret 1942. Di
Midway di Juni 1942, AS memenangkan pertempuran laut yang menentukan
yang mengakibatkan tidak hanya penghancuran gugus tugas kapal induk
Jepang, tetapi yang lebih penting, dalam hilangnya inisiatif strategis Jepang.
Staf Gabungan AS, merasakan peluang dan dipengaruhi oleh Admiral
King (Kepala Operasi Angkatan Laut yang secara konsisten mendesak
perlunya menghentikan Jepang di Pasifik dan khususnya untuk
mempertahankan jalur komunikasi AS-Australia), bertekad strategi AS di
Pasifik harus dengan cepat bertransisi dari pertahanan improvisasi ke
pertahanan terbatas ke pertahanan terbatas. pelanggaran. Namun, tantangan
bagi para perencana Pasifik adalah ketersediaan tenaga dan peralatan yang
terbatas karena penumpukan pasukan Sekutu dalam persiapan untuk invasi
ke Afrika Utara. Untungnya, para pemimpin di Britania Raya bahkan setuju
bahwa prioritas teater Eropa di atas Pasifik tidak dapat direalisasikan sampai
garis komunikasi Australia aman.30
2) Para Laksamana
a) Laksamana Ernest J. King (Kepala Operasi Angkatan Laut dan
Panglima Tertinggi, Armada A.S.).
King yakin bahwa Jepang telah mencapai titik puncaknya pada
pertempuran di Midway, dengan keras mendesak Staf Gabungan
untuk menyetujui operasi ofensif di Pasifik. Dia mengarahkan
penyitaan Guadalcanal untuk mencegah pengembangan lapangan
udara Jepang yang akan digunakan untuk mendukung isolasi
Australia. Dia menyebut Pertempuran Pulau Savo sebagai "hari paling
gelap" bagi pasukan angkatan laut AS.
b) Wakil Laksamana Frank J. Fletcher (Komandan, Pasukan
Ekspedisi Sekutu).
Fletcher memerintahkan pasukan pendukung amfibi dan udara
Sekutu di Guadalcanal. Dia telah kehilangan dua kapal induk dalam

30
Colonel Thomas McCool, Battle of Savo Island-Lessons Learned and Future Implications; New York: Pickle Partners. p. 10-13
26

delapan bulan sebelumnya, masing-masing satu di Battles of Coral


Sea dan Midway. Pengalaman-pengalaman yang berulang ini
membuatnya sangat berhati-hati dan, berkaitan dengan kemampuan
bertahan dan keberlanjutan, menarik kapal-kapal induk Angkatan Laut
Guadalcanal di malam hari sebelum keterlibatan Pulau Savo, yang
mengakibatkan kerusakan yang tidak proporsional pada pasukan
Sekutu. Laksamana Nimitz membebaskan Fletcher karena
memerintah dua bulan setelah bencana Pulau Savo.31
3) Area Operasi
Kepulauan Solomon berjarak 1200 mil dari Australia dan terdiri dari
delapan pulau utama dan banyak pulau kecil yang tersebar di 700 mil lautan.
Kepulauan Solomon membentang ke barat laut hingga tenggara, dengan
Bougainville di utara, Georgia Baru di tengah, dan Guadalcanal di Selatan.
Guadalcanal memiliki panjang 92 mil, lebar 33 mil, dan 20 mil selatan Pulau
Florida, Tulagi terletak di lepas pantai di selatan. Perairan antara Solomon
disebut sebagai "Slot" (Gambar 3 - Slot). Di ujung timur 400 mil Slot panjang
adalah Savo Sound, dinamai Pulau Savo terdekat.32
4) Situasi yang Dihadapi
Tidak ada satu pun komandan Sekutu keseluruhan di wilayah Pasifik.
Ini adalah keputusan sadar berdasarkan argumen bahwa dengan front
meluas dari Aleutians ke Australia, isu-isu strategis yang disajikan berada di
luar kemampuan satu individu. Komando dibagi menjadi Wilayah Pasifik Barat
Daya di bawah Jenderal Douglas MacArthur dan Wilayah Samudra Pasifik di
bawah Laksamana Nimitz. Wilayah Samudra Pasifik dibagi lagi menjadi
Utara, Tengah, dan Selatan. Wakil Laksamana Robert Ghormley
memerintahkan Area Pasifik Selatan dan pada 10 Juli 1942 menerima
perintah untuk merebut Guadalcanal dan Tulagi. Laksamana Ghormley
membentuk tiga Gugus Tugas untuk melaksanakan operasi. Wakil
Laksamana Frank Fletcher memerintahkan Satuan Tugas 61 - kelompok
pengangkut dan pasukan ekspedisi.
Pada tahun-tahun sebelumnya kepemimpinan, mewujudkan perang
dengan AS tak terhindarkan dan industri Jepang pangkalan tidak dapat
menandingi upaya AS dalam hal kapal dan pesawat, memberikan tekanan
besar pada pertempuran malam hari. Pelatihan keras, realistis, baik siang hari

31
Colonel Thomas McCool, Battle of Savo Island-Lessons Learned and Future Implications; New York: Pickle Partners. p. 17
32 Colonel Thomas McCool, Battle of Savo Island-Lessons Learned and Future Implications; New York: Pickle Partners. p. 19
27

dan terutama di malam hari, adalah norma di Angkatan Laut Jepang.


Keuntungan lain adalah penggunaan elemen kejutan, yang telah menjadi
komponen utama pemikiran Jepang selama beberapa dekade. Perang Rusia-
Jepang pada tahun 1904 dimulai dengan serangan mendadak, seperti halnya
serangan terhadap AS di Pearl Harbor pada tahun 1941.
5) Satuan Pemukul
Pada awal kampanye, Angkatan Laut AS memiliki lima kapal induk.
Karena tidak ada lagi kapal induk yang tersedia untuk sisa tahun 1942,
beberapa kapal ini harus digunakan dengan bijaksana. Amerika memiliki
keunggulan tertinggi di lapangan terbang di Guadalkanal, yang berarti kapal
induk dapat dijaga kesiapannya dan dilakukan hanya jika benar-benar
diperlukan. Sebagian dari armada permukaan harus dikhususkan untuk tugas
penyaringan untuk kapal induk, termasuk kapal perang paling modern, yang
sangat berguna sebagai platform anti-pesawat terbang. Ini diperkuat oleh dua
unit modern dari kelas North Carolina dan unit pertama dari kelas South
Dakota.
a) USS Enterprise, memainkan peran sentral dalam kampanye.
Dia mengalami kerusakan pada pertempuran Solomon Timur dan
Santa Cruz, tetapi dia selamat sampai pertempuran puncak pada
November ketika pesawatnya memainkan peran penting dalam
menghancurkan konvoi besar Jepang yang menuju ke pulau itu. (Naval
History and Heritage Command, 19-N-47849)

Gambar 1.13 USS Enterprise


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942
28

b) North Carolina adalah kapal utama kelas dua kapal perang,


yang pada tahun 1942 bisa dibilang yang paling kuat di dunia. Setelah
ditugaskan underwater search and screen, North Carolina ditorpedo
oleh kapal selam Jepang pada 15 September dan melewatkan fase
penting pada pertempuran. (Naval History and Heritage Command, NH
80988).

Gambar 1.14 USS North Carolina


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942

c) Cruisers, Desain kapal penjelajah Perjanjian Amerika awal jelas


menunjukkan preferensi untuk senjata lebih dari perlindungan. Dua
kapal dari kelas Pensacola, Pensacola dan Salt Lake City, masing-
masing membawa sepuluh 8in dan delapan 5in senjata serba guna.
Kapal-kapal itu sebenarnya kurang berat 900ton dan perlindungan
lapis baja secara keseluruhan kurang. Lima kapal dari kelas
Northampton (Northampton, Chester, Louisville, Chicago, Houston dan
Augusta) lebih banyak lapis baja, dan masih membawa sembilan 8in
di dalamnya. senjata dalam tiga menara tiga. Dua kelas cruiser
berikutnya adalah desain yang lebih seimbang. Dua kapal kelas
Portland (Portland dan Indianapolis) lebih baik lapis baja dan
membawa baterai utama yang sama dengan kelas Portland. Desain
kapal penjelajah berat terbaik Amerika sebelum perang adalah kelas
enam kapal New Orleans. Kapal-kapal ini memiliki campuran
perlindungan, daya tembak, dan kecepatan yang baik, dengan
penekanan pada perlindungan. Lima dari kapal ini melihat layanan
29

dalam kampanye (Astoria, Minneapolis, New Orleans, Quincy dan


Vincennes), dengan tiga hilang. Setiap kapal membawa sembilan 8in.
senjata dalam tiga menara triple dan delapan 5in dual-purpose tunggal.
senjata. Pada saat kampanye Guadalcanal, semua penjelajah berat
membawa radar.

Gambar 1.15 Heavy Cruiser USS Northc Carolina


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942

d) Destroyers, Perusak Amerika sebelum perang adalah kelas


Mahan 18-unit, yang semuanya terlihat beraksi di Pasifik. Kapal-kapal
ini memiliki perpindahan standar 1.500ton dan membawa lima 5in.
senjata dan 12 tabung torpedo. Di akhir kampanye, kelas perusak
Amerika pertama yang dirancang benar-benar bebas dari pembatasan
perjanjian mencapai Solomon. Ini adalah kelas Fletcher, yang
menghadirkan perpaduan kecepatan yang baik (38 knot), dan
kemampuan ofensif dan defensif. Setiap kapal menaikkan lima 5in.
senjata, dan sepuluh tabung torpedo. Seperti semua perusak Amerika
lainnya, Fletcher membawa radar.
Senjata utama perusak dalam pertempuran permukaan adalah
torpedo-nya. Kapal perusak Amerika sangat cacat oleh kinerja torpedo
mereka yang lebih rendah, dan selama kampanye Guadalcanal
masalah ini bahkan tidak diakui, apalagi ditangani. Torpedo perusak
standar Amerika adalah Mark 15. Bila dibandingkan dengan torpedo
Jepang standar, itu jauh lebih rendah.
30

6) Pukulan
Pihak Amerika dengan kekuatan 1 kapal induk, 2 kapal tempur, 5 kapal
penjelajah, 12 kapal perusak. Armada tersebut dipimpin oleh Laksamana
William Halsey Jr., Laksamana Daniel Callaghan, Laksamana Willis Lee.
Pasukan Sekutu secara agresif berjuang untuk menyelamatkan kapal mereka
yang rusak sepanjang pagi hari tanggal 9 Agustus. Terlepas dari upaya yang
berani, kapal penjelajah Australia Canberra, mati di air, ditenggelamkan pada
pukul 0800 oleh tembakan persahabatan. Awak kapal penjelajah Astoria
memerangi api selama sepuluh jam, tetapi pada 1215 kapal ini juga
tenggelam tepat di selatan Pulau Savo.
Kapal penjelajah Chicago dan kapal perusak Ralph Talbot dan
Patterson mengalami kerusakan parah tetapi tetap bertahan. Dalam analisis
terakhir, kerugian Sekutu meliputi penghancuran empat kapal penjelajah dan
kerusakan tiga lainnya, dan pasukan itu mempertahankan 1.023 orang tewas
atau meninggal karena luka-luka, dengan 709 luka-luka. Ini hampir 50 persen
dari total korban yang terjadi di Pearl Harbor, semuanya dalam waktu kurang
dari satu jam. Lima kapal Jepang sedikit rusak, dengan 58 pelaut tewas dan
70 lainnya cedera.33
d. Implementasi PKAL
Pertempuran Laut Solomon berlangsung selama kurang lebih 3 bulan, dimulai
dengan Pertempuran Laut Pulau Savo (8-9 Agustus 1942), Pertempuran Laut
Tanjung Esperance atau Battle of Cape Esperance (11-12 Oktober 1942) serta
Pertempuran Laut Guadalcanal atau Naval Battle of Guadalcanal (12-15 November
1942).
Jepang berusaha mengirimkan bala bantuan bagi pasukan darat yang
berusaha merebut kembali Guadalcanal, terutama Lanud Henderson. Akibat
ancaman terus-menerus dari skuadron pesawat dan armada Jepang, pihak Sekutu
tidak dapat mengirimkan perbekalan untuk pasukan mereka di Guadalcanal yang
sering diserang Jepang dari darat dan laut. Beberapa kali usaha Angkatan Darat
Kekaisaran Jepang dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang untuk merebut kembali
Lapangan Udara Henderson gagal walaupun sudah dibantu pasukan tambahan
yang didatangkan ke Guadalcanal lewat laut. Pada awal November 1942, rencana
Jepang untuk mengambil alih Lanud Henderson bocor ke intelijen Sekutu.

33 Colonel Thomas McCool, Battle of Savo Island-Lessons Learned and Future Implications; New York: Pickle Partners. p. 32
31

1) Tujuan
Amerika melaksanakan operasi laut untuk melindungi garis
perhubungan laut sendiri (PGPLS). Operasi dimaksudkan untuk menghalangi
Jepang menggunakan pulau-pulau dan lapangan udara tersebut sebagai
pangkalan untuk mengancam rute pengiriman perlengkapan militer antara
Amerika Serikat dan Australia. Selain itu, Amerika mengamankan pulau-pulau
tersebut sebagai titik awal operasi militer untuk membungkam pangkalan
militer utama Kekaisaran Jepang di Rabaul dan mendukung kampanye militer
New Guinea.
a) Menangkal dan menindak ancaman kekuatan udara dan laut
armada Jepang yang dilaksanakan di perairan kepulauan Solomon.
b) Menjamin pengendalian laut di wilayah Pasifik dan mencegah
penggunaan laut oleh armada Jepang dalam rangka menguasai
wilayah Pasifik.
c) Terciptanya keamanan laut di wilayah Pasifik dalam rangka
menjaga aktifitas jalur komunikasi dan transportasi antara Amerika dan
Australia.
2) Sasaran
a) Armada Amerika bertugas mencegah pendaratan pasukan
darat Jepang di Guadalcanal yang diangkut oleh konvoi kapal, untuk
merebut kembali Lapangan Udara Henderson dan pulau Guadalcanal.
b) Armada AS bertugas mengatasi serangan armada Jepang.
c) AS merebut Kepulauan Solomon dan memaksa Jepang untuk
mundur dengan alasan tidak ada lagi tindakan positif dan bahkan
menjadi negatif pada pertempuran perebutan kepulauan Solomon.
c) Memulihkan situasi jalur komunikasi dan transportasi antara AS
dan Australia dari ancaman-ancaman serangan Jepang.
32

Gambar 1.16 Lapangan Udara Henderson


Sumber: The Naval Battle for Guadalcanal 1942

3) Faktor yang Mempengaruhi Tercapainya Tujuan AS


a) Keberhasilan pasukan AS mengambil kendali pangkalan udara
yang sedang dibangun.
b) Dengan menguasai landasan pacu, AS mampu membangun
lalu lintas dan superioritas udara yang tangguh.
c) Kegagalan Jepang untuk mencapai superioritas
udara membuat Jepang terpaksa mengirim bala bantuan dengan
mengandalkan kapal tongkang, kapal perusak, dan kapal selam,
dengan hasil yang tidak memuaskan.
d) Jepang mengalami kerugian yang massif dimana 24.000
personil gugur dan yang terutama adalah berkurangnya penerbang-
penerbang Angkatan Laut mereka.
e) Jarak antara pangkalan armada Jepang yang jauh dari medan
pertempuran menyebabkan distribusi logistik Jepang terbatas oleh
waktu bahkan pesawat tempur tidak bisa melanjutkan operasi.
4) Tujuan Strategis dan Taktis
a) Perubahan kekuatan AS yang memiliki kemampuan anti udara
pada kapal perang kelas Cruiser USS North Caroline dimana terdapat
senjata otomatis tipe paling modern kala itu yaitu Meriam 38MM
sejumlah 9 unit on board.
33

b) Dengan merebut landasan pacu Henderson mampu


memperluas sistem pangkalan armada AS.
c) Dengan menguasai pulau Guadalcanal, AS mampu menjamin
penggunaan laut wilayah Pasifik sehingga jalur komunikasi dan
transportasi AS dengan Australia mampu terjaga.34
e. Penerapan Asas-Asas Operasi Tempur
1) Asas Tujuan dan Keteguhan Dalam Sasaran.
Tiap operasi laut harus diarahkan pada tujuan yang dinyatakan secara
jelas dan tegas Tujuan harus dipegang teguh tanpa meninggalkan kekenyalan
bertindak dalam menghadapi situasi yang berubah ubah. Oleh karena itu asas
tujuan dan keteguhan dalam sasaran merupakan “Asas Utama” dan
menempati urutan pertama35.
Sasaran dan tugas pokok Amerika dalam pertempuran ini adalah
merebut kembali wilayah kepulauan Solomon termasuk lapangan terbang di
Guadalcanal dari kekuasaan Jepang dan melaksanakan perlindungan
terhadap Garis Perhubungan Laut antara Amerika Serikat (Pearl Harbour)
dengan Australia yang merupakan jalur logistik dan jalur komunikasinya.
Dengan menguasai Kepulauan Solomon terutama lapangan udara
Henderson di Guadalcanal dapat mengamankan jalur laut pendekat antara
Pearl Harbour dengan pasukan sekutu yang berada di Australia sekaligus
mengeliminir kemampuan udara Jepang yang bisa mengancam pangkalan –
pangkalan sekutu di New Caledonia dan di Efate. Dan pada pertempuran itu
Amerika membuktikan dengan Asas Tujuan dan Keteguhan dalam Sasaran
dapat memenangkan pertempuran itu, meskipun banyak kerugian kapal
perang dan pasukan, Amerika tetap teguh pada tujuan untuk merebut
kekuatan dan kekuasaan Jepang atas kepulauan Solomon.
2) Asas Ofensif.
Kemenangan suatu peperangan sangat ditentukan oleh aksi ofensif,
dalam suatu pertandingan dikenal istilah “pertahanan terbaik adalah
menyerang”. Oleh karenya ofensif sangat penting dalma memenangkan
perang.
Keberhasilan sekutu (Amerika dan Australia) merebut dan menduduki
Guadalcanal merupakan aksi ofensif sekutu yang didahului oleh kegiatan
intelijen Amerika Serikat. Dengan kemampuannya tersebut, Amerika Serikat

34
Paket Instruksi Pendidikan Reguler Seskoal (2010). Jenis dan Seni Operasi Laut. Jakarta: Seskoal
35
Paket Instruksi Pendidikan Reguler Seskoal (2010). Jenis dan Seni Operasi Laut. Jakarta: Seskoal
34

dapat memegang inisiatif penyerangan dengan melaksanakan serangkaian


persiapan penyerangan, penyergapan maupun blokade dalam
mengantisipasi pergerakan dari armada laut Jepang. Meskipun pada
pertempuran awal Amerika mengalami kekalahan atas Jepang dengan
gugurnya Laksamana Callaghan, namun tidak mengurungkan niatnya untuk
mengamankan Solomon dari infasi Amerika dan sekutunya. Amerika tetap
melaksanakan strategi menyerang hingga memperoleh kejayaan. Dari hal ini
dapat disimpulkan Amerika memerankan 2 asas secara bersamaan yaitu
asas teguh pada tujuan dan asas ofensif.
3) Asas Kesatuan Komando.
Asas Komando mutlak diperlukan dalam pelaksanaan operasi. Adanya
operasi – operasi yang terkait pada suatu tujuan pembagian/pemisahan
dalam sasaran, ruang dan waktu diperlukan adanya pengendalian terpusat
dan desentralisasi dalam pelaksanaan.
Kegagalan Amerika pada saat pertempuran Guadalcanal babak I
membuktikan bahwa kesatuan komando dibutuhkan saat pertempuran.
Terganggunya sistem komunikasi pada saat pertempuran babak I yang
menyebabkan Amerika mengalami kekalahan dimana Laksamana Callaghan
tidak dapat memberikan komando yang jelas kepada unsur – unsurnya.
Rencana yang semula Callaghan menggunakan taktik Crossing the T pada
akhirnya tidak dapat dilaksanakan, dari kejadian tersebut bisa disimpulkan
kesatuan komando membutuhkan sarana dan prasarana pendukung
dilapangan dalam hal ini komunikasi, namun dipertempuran lainnya Amerika
dapat melaksanakan asas kesatuan komando dengan baik seperti pada
perebutan Lanud Henderson kekuatan udara Amerika Serikat pada
pertempuran Solomon tanggal 13 November 1942 dapat dilancarkan melalui
lapangan udara tersebut dan menghancurkan semua kapal transport Jepang
sebanyak 11 buah. Tragedi pada Laksamana Callaghan erat kaitannya
dengan Commanders Intent (keinginan komandan), dimana aksi yang cepat
membutuhkan desentralisasi yang luas, yang memberikan kebebasan untuk
menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi saat itu dan tidak mungkin
diputuskan dengan cepat oleh satuan atasnya.
4) Asas Pemusatan.
Dalam melaksanakan tugas pokok perlu adanya pemusatan kekuatan
pada tempat dan waktu yang menentukan. Dengan terkosentrasinya waktu
35

penggunaan kekuatan maka kemampuan terhimpun untuk keberhasilan


tugas.
Pada pertempuran babak I dibawah pimpinan Callaghan, kapal – kapal
Amerika tidak dapat melaksanakan pemusatan kekuatan diakibatkan faktor
intern yang menyebabkan kapal bermanuver berpencar pencar sehingga
pemusatan kekuatan tidak tercapai. Namun pada pertempuran babak II
Amerika sudah mempelajari dari kejadian babak I dengan memusatkan
kekuatan tempurnya diatas pulau savo sehingga dapat menemukan Critical
Vulnerabilty dan Centre of Gravity dari armada Jepang, dibawah pimpinan
Laksda Willis A. Lee pertempuran dapat dimenangkan.
5) Asas Pendadakan36
Pendadakan tanpa mengubah imbangan daya tempur. Pendadakan
dilaksanakan dengan menggunakan faktor waktu, tempat dan cara-cara yang
tidak diharapkan oleh musuh. Amerika berhasil melaksanakan pendadakan di
Guadalcanal untuk merebut dan menguasai Guadalcanal terutama Lapangan
udara Henderson yang sedang dibangun oleh Jepang dan dalam proses
finishing. Sebanyak 11.000 pasukan marinir dikerahkan Amerika Serikat dan
menjadikan lapangan tersebut sebagai titik perlindungan perhubungan laut
sekutu. Namun di pertempuran Guadalcanal, Amerika juga mendapatka
pendadakan dari pihak Jepang sehingga menyebabkan kapal Canbera milik
Australia dan kapal Amerika lainnya tenggelam. Dapat disimpulkan bahwa
pendadakan sangat penting dan bisa dijadikan sebagai taktik dan strategi
dalam memenangkan suatu pertempuran.
6) Asas Moril
Keberhasilan perang pada akhirnya lebih ditentukan moril prajurit
disamping senjata. Kepercayaan kepada atasan, kepercayaan kepada
senjata dan semangat setia kawan perlu ditumbuhkan sebagai landasan
“moril tempur”.
Lack of Battlemindedness atau tidak adanya semangat tempur yang
diperagakan oleh pasukan Amerika pada pertempuran pertama tanggal 9
Agustus 1942 merupakan contoh yang baik dalam peperangan laut bahwa
tanpa semangat tempur akan menderita kekalahan meskipun memiliki
kekuatan tempur yang baik dan kuat. Kekalahan total Amerika dalam
serangan malam hari mejadi perhatian serius petinggi Amerika Serikat dalam

36 Paket Instruksi Pendidikan Reguler Seskoal (2010). Jenis dan Seni Operasi Laut. Jakarta: Seskoal
36

membangunan sumber daya manusianya sebagai kekuatan pokok pengawak


senjata.
7) Asas Penggunaan Kekuatan Secara Ekonomis
Dalam operasi laut harus dipertimbangkan penggunaan kekuatan
secara ekonomis. Segala faktor harus diperhitungkan dengan cermat,
sehingga pada tempat yang tepat dapat dikerahkan kekuatan secara tepat
guna.
Dilihat dari pertempuran babak I, Amerika dibawah pimpinan
Laksamana Callaghan banyak sekali membuang sia-sia amunisi ke sasaran-
sasaran yang tidak jelas. Perintah Callaghan kepada kapal bernomor
lambung genap menembak kearah kanan, dan yang berlambung ganjil
menembah kearah kiri tidaklah tepat karena hanya membuang – buang
amunisi. Berbeda saat armada Amerika dipimpin oleh Laksda Lee yang
menerapkan asas penggunaan kekuatan secara ekonomis dapat
memenangkan pertempuran Guadalcanal di kepualauan Solomon.
8) Asas Fleksibilitas37
Tanggap terhadap setiap perkembangan keadaan dan setiap
perubahan, untuk selanjutnya diadakan penyesuaian yang tepat. Dengan
direbutnya Tulagi oleh Jepang pada Juli 1942 dan membangun lapangan
udara. Jepang melanjutkan pendudukannya ke Guadalcanal. Strategi Jepang
ini dapat dibaca dengan baik oleh Sekutu yang tentunya akan mengganggu
dan mengancam pangkalan – pangkalan sekutu di New Caledonia dan di
Efate. Hal ini direspon langsung oleh sekutu dengan melaksanakan
pendaratan ampibi merebut Guadalcanal dan lapangan udara Henderson
sekaligus mengamankan kapal tranportnya yang akan ke Australia.
9) Asas Kerahasiaan
Kerahasiaan merupakan faktor yang sangat penting dalam setiap
pertempuran. Apabila dapat menciptakan kerahasiaan yang baik maka akan
diperoleh keunggulan bertindak.
Tingkat kerahasiaan dari pergerakan armada Amerika Serikat cukup
tinggi dan dapat dibuktikan dengan melaksanakan suatu penyerangan secara
tiba-tiba kepada pihak Jepang dengan armada besarnya dari Pearl Harbour
mendapatkan informasi rahasia terhadap berita kawat Jepang maupun dari

37 Paket Instruksi Pendidikan Reguler Seskoal (2010). Jenis dan Seni Operasi Laut. Jakarta: Seskoal
37

pesawat intainya. Dan pada pertempuran di Guadalcanal pihak Jepang tidak


bisa membaca kerahasiaan operasi maupun sandi dari pihak Amerika.
10) Asas Administrasi
Merupakan penyediaan segala kebutuhan logistik dan materiil yang
diperlukan secara tepat sehingga kesatuan tempur dapat melaksanakan
tugasnya dengan efektif.
Perlindungan garis perhubungan lautnya merupakan kunci
keberhasilan dalam seluruh kampanye militernya. Dengan memperhitungkan
letak dan penyebaran pasukan yang strategis dalam merebut kepulauan
Solomon dapat meraih perlindungan garis perhubungan lautnya sehingga
kebutuhan logistic maupun penyampaian komando dapat didistribusikan
dengan baik dan efektif.
11) Asas Kerjasama
Dibutuhkan adanya interaksi dan koordinasi antar kesatuan dalam
melaksanakan kegiatan tempur dan non tempur sehingga tercapai hasil yang
optimal.
Di pihak Amerika bisa dilihat dari kepemimpinan Callaghan dan Laksda
Willis A. Lee. Dimana saat dipimpin Callaghan kapal – kapal milik sekutu tidak
bisa bekerja sama malah sebaliknya Jepang berhasil membuat kapal – kapal
sekutu terpisah satu sama lainnya, hal ini berbanding terbalik saat
pertempuran babak ke II.38
f. Pengakhiran Operasi.
Hasil lain dari pertempuran Tassafaronga adalah bahwa Halsey memutuskan
untuk berhenti menggunakan kapal perusak dan kapal penjelajah untuk melawan
misi transportasi Jepang ke Guadalcanal. Selama sisa kampanye, hanya kapal PT
yang digunakan melawan Jepang.
Kerugian Angkatan Laut Amerika Serikat berjumlah 25 unit permukaan utama
sementara IJN kehilangan 18 lainnya. Total ini tidak termasuk banyak kapal yang
rusak. Keganasan pertempuran ditunjukkan oleh fakta bahwa semua 11 kapal
penjelajah berat Amerika yang berkomitmen untuk berperang di permukaan telah
tenggelam atau rusak pada akhir kampanye. Sifat kerugian yang sebenarnya
diberikan dalam tabel di bawah ini. Total ini tidak termasuk kerugian di kapal selam
dan transportasi, yang sangat merugikan Jepang.39

38 Paket Instruksi Pendidikan Reguler Seskoal (2010). Jenis dan Seni Operasi Laut. Jakarta: Seskoal
39 Mark Stille (2013). The Naval Battles for Guadalcanal 1942. New York: Osprey. p. 192-194
38

BAB V
MANFAAT BAGI TNI ANGKATAN LAUT

12. Aspek Edukatif.


a. Kemampuan menciptakan suatu teknologi dalam bidang persenjataan,
perkapalan dan kedirgantaraan Negara Jepang patut dicontoh dan diteladani.
b. Latihan yang keras dalam keadaan cuaca buruk dan gelapnya malam dapat
melatih kemampuan serta naluri bertempur prajurit matra laut, dengan segala resiko
yang akan dihadapi.
c. Kejelian Amerika Serikat dalam membaca taktik lawan mampu memberikan
ketepatan bertindak untuk mencegah ancaman yang datang.
d. Keuletan dan semangat pantang menyerah sangat mendukung dalam
keberhasilan pencapaian tugas pokok dalam operasi mliter.
e. Pentingnya aspek perencanaan yang baik dalam suatu pertempuran laut.
Perencanaan yang baik akan semakin memperbesar peluang suatu kekuatan
tempur guna meraih kemenangan.
f. Pentingnya aspek penguasaan informasi intelijen dalam suatu
pertempuran laut. Informasi intelijen yang akurat akan memberikan gambaran
pertempuran yang lengkap kepada Pimpinan agar dapat mengambil keputusan yang
tepat dalam suatu pertempuran.
g. Dalam keadaan kritis diperlukan kepemimpinan yang lebih agresif untuk dapat
mengatasinya.
h. Selain itu ada beberapa prinsip yang dapat dipedomani dalam melaksanakan
perang laut agar memperoleh kemenangan yaitu:
1) Pemusatan kekuatan dapat menentukan keberhasilan suatu serangan.
2) Manfaatkan kesalahan bertindak dari lawan.
3) Selalu berusaha mengetahui musuh dari aspek “siapabidime.”
Sehingga mampu merumuskan komposisi kekuatan yang mampu
mengalahkan musuh.
4) Menempatkan kapal-kapal perang sesuai kemampuannya sehingga
diperoleh kekuatan gugus tugas laut yang kuat.
5) Senantiasa melatih kemampuan prajurit sesuai jabatan yang diemban.
39

13. Aspek Inspiratif.


a. Suatu taktik yang mengandalkan pendadakan dan didahului perencanaan
yang dilaksanakan dengan penuh kerahasiaan memberikan efek yang sangat besar
bagi keberhasilan suatu operasi.
b. Amerika Serikat yang mampu bangkit dan pantang menyerah dari kekalahan
dalam pertempuran pertama di Kepulauan Solomon, sehingga berhasil memperoleh
kemenangan dalam pertempuran selanjutnya. Dapat memberikan inspiratif agar kita
punya sikap pantang menyerah dan mau maju untuk menjadi lebih baik demi
mewujudkan kemenangan.
c. Tanpa perencanaan yang baik suatu pertempuran mustahil dapat
dimenangkan.
d. Moril Prajurit yang tinggi dapat membuat kemenangan semakin dekat.
e. Intelijen yang baik akan mendukung operasional satuan tempur berjalan
dengan baik pula.
f. Kemampuan anti udara pada kapal AS yang menunjukkan betapa pentingnya
inovasi secara terus menerus dalam system persenjataan dalam rangka
meningkatkan kemampuan penghancuran terhadap lawan.
g. Penggunaan kekuatan yang kompleks sebagai kekuatan operasi gabungan
yang lengkap sangat mendukung tetrcapainya tujuan dan sasaran operasi.
h. Kemampuan kapal perang yang digunakan oleh AS yang tergolong sangat
canggih kala itu sangat mempengaruhi dalam mengaplikasikan taktik peperangan
yang dilakukan.
i. Penguasaan ilmu dan seni berperang yang tinggi serta kemampuan intuisi
menilai potensi strategis sangat berpengaruh terhadap proses pengambilan
keputusan yang akurat, didukung dengan kemampuan prajurit dalam mengawaki
alutsista dan persenjataan dengan memiliki ketrampilan tinggi diharapkan mampu
mensukseskan upaya penyelesaian perang.

14. Aspek Instruktif.


a) Peningkatan moril prajurit yang tinggi terhadap nasionalisme melalui
pengorbanan jiwa dan raga untuk negara yang sungguh-sungguh dan jiwa
patriotisme tertinggi bagi seorang warga negara terhadap negaranya.
b) Peningkatan profesionalisme personil yang tinggi baik di satuan tingkat atas
dan satuan tingkat bawah, diharapkan mampu mensukseskan upaya penyelesaian
perang.
40

c) Peningkatan kemampuan alutsista menjadi modern dan inovatif harus terus


dilakukan agar siap mampu melaksanakan operasi tempur dengan maksimal
sehingga tujuan memenangkan pertempuran semakin mudah tercapai.
d) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sangat penting
dalam pengembangan doktrin, strategi dan taktik yang digunakan dalam suatu
pertempuran.
e) Perlunya pengembangan taktik pertempuran di laut guna mengoptimalkan
kemampuan tempur yang ada.
f) Perlunya perencanaan, motivasi dan dukungan intelijen yang baik guna
mendukung kesuksesan pertempuran.
g) Penguasaan laut secara mutlak tidak akan dapat tercapai tanpa didukung
dengan adanya struktur kekuatan dan kemampuan yang memadai. Dengan
demikian, memiliki struktur kekuatan dan kemampuan yang memadai sangatlah
diperlukan bagi TNI AL dalam rangka melaksanakan penguasaan laut di seluruh
perairan yurisdiksi nasional Indonesia.
h) Ancaman datang secara tiba-tiba bersifat pendadakan, untuk itu diperlukan
kondisi yang siap siaga menghadapinya.
i) Operasi gabungan mutlak dibutuhkan guna mencapai keberhasilan suatu
operasi militer.
j) Pangkalan-pangkalan TNI AL yang strategis perlu dikembangkan serta
dibangun, guna menjamin keamanan bagi pengguna jalur pelayaran di dan atau
lewat laut.

BAB VI

PENUTUP

15. Kesimpulan.
a. Keberhasilan mengambil kendali pangkalan udara mampu membangun lalu lintas
dan superioritas udara yang tangguh, memperkuat kondisi strategis AS dan memperluas
sistem pangkalan armada AS sehingga upaya menguasai wilayah pasifik mampu dicapai.
b. Jarak antara pangkalan armada Jepang yang jauh dari medan pertempuran
menyebabkan distribusi logistik Jepang terbatas oleh waktu bahkan pesawat tempur tidak
bisa melanjutkan operasi.
41

c. Dengan menguasai pulau Guadalcanal, AS mampu menjamin penggunaan laut


wilayah Pasifik sehingga jalur komunikasi dan transportasi AS dengan Australia mampu
terjaga, penguasa wilayah Pasifik berada di tangan AS.
d. Pertempuran Laut Solomon yang melibatkan kekuatan laut Jepang dan Sekutu
memberikan gambaran akan pentingnya suatu perencanaan, pengembangan taktik, moril
Prajurit serta kemampuan intelijen yang baik guna memenangkan suatu pertempuran laut.
e. Tugas pokok Angkatan Laut Amerika Serikat dalam pertempuran laut di Kepulauan
Solomon adalah merebut pangkalan-pangkalan dan kekuatan depan Jepang sampai
menyerah tanpa syarat, dan melaksanakan perlindungan terhadap Garis Perhubungan Laut
antara Amerika Serikat (Pearl Harbour) dengan Australia yang merupakan jalur logistik dan
jalur komunikasinya. Dengan menguasai Kepulauan Solomon terutama lapangan udara
Henderson di Guadalcanal dapat mengamankan jalur laut pendekat antara Pearl Harbour
dengan pasukan sekutu yang berada di Australia sekaligus mendapatkan pangkalan
terdepan Jepang dan memanfaatkan sebagai titik awal memukul balik kekuatan Jepang di
Pasifik (turning point).
f. Amerika mampu menghadirkan perimbangan kekuatan terhadap kekuatan Armada
Jepang yang dikirim pada tiap – tiap masa pertempuran, hal ini yang menyebabkan
kemenangan yang diraih oleh Amerika adalah dikarenakan keunggulan strategi dan taktis
bukan karena keunggulan jumlah kekuatan dari Jepang.
g. Pemanfaatan Amerika terhadap Pulau Guadlkanal yang sangat maksimal
mengakibatkan Jepang kesulitan untuk melaksanakan tujuan awalnya memutus Garis
Perhubungan Laut Amerika dan Australia, hal itu menunjukkan bahwa posisi strategis Pulau
Guadalcanal terhadap pengaruhnya di sekitar Pasifik dinilai sama penting baik oleh Jepang
maupun oleh Amerika, terbukti bahwa Jepang tidak berusaha menguasai pulau lain selain
Pulau Guadalcanal.

16. Saran.
a. Peningkatan strategi, peran intelijen dan teknologi TNI Angkatan Laut.
b. Operasi peperangan atau pertempuran laut, merupakan operasi yang
bersifat kompleks, berdimensi ruang, serta menggunakan kesenjataan berbasis
heavy technology. Oleh karenanya perlu untuk senantiasa dikaji dan dipelajari,
dikembangkan serta dibina dalam rangka meningkatkan kompetensi inti TNI AL
sebagai alat pertahanan negara di laut.
c. Perlu adanya peningkatan intensitas latihan tempur di laut dengan
mengutamakan selalu pengembangan taktik guna meningkatkan kemampuan
tempur.
42

d) Perlunya sinergitas yang baik antar aspek operasional dan intelijen guna
mendukung keberhasilan setiap pelaksanaan pertempuran.
e. Perlunya membangun superioritas udara yang tangguh agar mampu
melaksanakan operasi lain selanjutnya.
f. Perlunya meningkatkan operasi laut dalam rangka menjaga terjaminnya
penggunaan laut jalur komunikasi dan transportasi.
g. Perlunya peningkatkan moril prajurit yang tinggi.
h. Perlunya meningkatkan profesionalisme personil yang tinggi baik di satuan
tingkat atas dan satuan tingkat bawah.
i. Perlunya meningkatkan kemampuan alutsista menjadi modern dan
inovatif.
j. Perlunya penekanan terhadap penerapan asas-asas pertempuran laut
pada setiap operasi yang akan dilakukan sehingga didapat keberhasilan secara
maksimal.

Ketua Taskapok,

Ronald Ernst Lengkong, S.T.


Mayor Laut (P) NRP. 16576/P