Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

BIPOLAR DISORDER

Dosen Pembimbing :

Arum Pratiwi, S.Kp, M.Kes, Ph.D

Disusun Oleh :

Wiwik Suprihatin (J210170062)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN (S1)


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2019
A. Pengertian Bipolar Disorder
Bipolar disorder adalah penyakit otak serius yanh disebuit juga manic-
depresive illness atau manic depression. Orang dengan gangguan bipolar
terjadi perubahan mood yang tidak biasa. Sewaktu-waktu mereka merasa
sangat bahagia dan “up”, sangat energik dan aktif dari biasanya. Ini yang
disebut manic-episode. Sewaktu-waktu mereka merasa sangat sedih dan
terpuruk serta tidak bersemangat. Ini yang disebut periode depresi.
Gangguan bipolar adalah suatu gangguan yang ditandai dengan
perubahan mood antara rasa girang yang ekstrim dan depresi yang parah.
Orang dengan gangguan bipolar (bipolar disorder) seperti mengendarai
suatu roller coaster emosional, berayun dari satu ketinggi rasa girang ke
kedalaman depresi tanpa adanya penyebab eksternal (Nevid, 2015).
Menurut PPDGJ III, gangguan afektif bipolar adalah suatu gangguan
suasana perasaan yang ditandai oleh adanya episode berulang (sekurang-
kurangnya dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitas jelas
terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai
penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu
lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas
(depresi). Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna
antar episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan
berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung
berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi
satu tahun kecuali pada orang usia lanjut. Kedua macam episode tersebut
sering terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stres atau trauma mental
lain (adanya stres tidak esensial untuk penegakan diagnosis) (Depkes RI
2012).

2
B. Faktor Penyebab
Penyebab gangguan bipolar bersifat komplek atau multi faktor.
Gangguan bipolar bukan hanya disebabkan oleh adanya gangguan
keseimbangan kimia didalam otak yang cukup disembuhkan dengan minum
obat obatan. Para ahli berpendapat bahwa gangguan bipolar disebabkan oleh
kombinasi faktor biologis, psikologis dan sosial.
Ada beberapa faktor yang diduga meningkatkan resiko terkena
gangguan bipolar, yaitu :
a. Mempunyai hubungan darah atau saudara penderita gangguan bipolar
b. Periode pengalaman hidup yang sangat menekan (stressful).
c. Penyalah guna obat atau alcohol.
d. Perubahan hidup yang besar, seperti ditinggal mati orang yang dicintai.
e. Saat ini berumur di awal 20an tahun.
Menurut teori stress-vulnerability model, ada beberapa resiko atau
faktor penyebab gangguan jiwa bipolar, yaitu:
a. Genetika dan riwayat keluarga. Penderita bipolar lebih sering dijumpai
pada penderita yang mempunyai saudara atau orang tua dengan gangguan
bipolar. Riwayat pada keluarga dengan penyakit bipolar bukan berarti
anak atau saudara akan pasti menderita gangguan bipolar. Penelitian
menunjukkan bahwa pada orang orang dengan riwayat keluarga penderita
bipolar maka kemungkinannya terkena bipolar akan sedikit lebih besar
dibandingkan masyarakat pada umumnya. Artinya ada factor predisposisi
terhadap gangguan bipolar. Hanya saja, tanpa adanya factor pemicu,
maka yang bersangkutan tidak akan terkena gangguan bipolar. Faktor
predisposisi gangguan bipolar bisa terjadi juga karena anak meniru cara
bereaksi yang salah dari orang tuanya yang menderita gangguan bipolar.
b. Kerentanan psikologis (psychological vulnerability). Kepribadian dan
cara seseorang menghadapi masalah hidup kemungkinan juga berperanan
dalam mendorong munculnya gangguan bipolar.
c. Lingkungan yang menekan (stressful) dan kejadian dalam hidup (live
events). Riwayat pelecehan, pengalaman hidup yang menekan.

3
d. Gangguan neurotransmitter di otak.
e. Gangguan keseimbangan hormonal.
f. Faktor biologis. Ada beberapa perubahan kimia di otak yang diduga
terkait dengan gangguan bipolar. Hal ini menunjukkan adanya factor
biologis dalam masalah gangguan bipolar. Beberapa kondisi kesehatan
yang biasanya menyertai gangguan jiwa bipolar. Pada seseorang yang
menderita gangguan jiwa bipolar, sebelum mendapat diagnosa atau
beberapa saat setelah didiagnosa, sering ditemukan beberapa penyakit
lain. Kondisi tersebut perlu didiagnosa dan diobati karena dapat
memperburuk gangguan bipolar. Beberapa kondisi tersebut adalah :
1) Anxiety disorder, gangguan kecemasan termasuk didalamnya post
traumatic stress disorder (PTSD yang banyak diderita tentara
Amerika yang berperang di Afghanistan), phobia social, dan
generalized anxiety disorder.
2) Attention-deficit/ hyperactivity disorder (ADHD), Gangguan
hiperaktivitas dan kurang atensi/ perhatian, ADHD mempunyai
gejala yang tumpang tindih (overlap) dengan gangguan bipolar. Oleh
karena itu, gangguan bipolar sering sulit dibedakan dari ADHD.
Gangguan ADHD sering keliru didiagnosa gangguan bipolar, atau
sebaliknya. Bahkan kadang seseorang didiagnosa dengan 2 penyakit
sekaligus.
3) Kecanduan obat bius. Banyak penderita gangguan bipolar juga
kecanduan rokok, alcohol atau obat obatan. Obat obatan atau alcohol
seperti dapat meringankan gejala bipolar, namun sebenarnya akan
dapat memicu, memperparah atau memperlama depresi atau mania.
4) Gangguan kesehatan fisik. Penderita gangguan jiwa bipolar sering
menderita sakit jantung, kelenjar gondok atau kegemukan.

4
C. Psikofisiologi

(Maramis, W.F. 2015)


Patofisiologi gangguan bipolar (BD). Gambar ini menyoroti fakta bahwa
pemahaman lengkap patofisiologi BD harus mengatasi neurobiologinya
pada tingkat fisiologis yang berbeda (yaitu, molekuler, seluler, sistem, dan
perilaku). PKC, protein kinase C, MARCKS, substrat C kinase kaya alanin
yang termristulasi, GSK-3, glikogen sintase kinase-3, MAP kinase, protein
kinase yang diaktifkan-mitogen, Bcl-2, leukemia / limfoma sel-B, proteome,
populasi spesies protein seluler dan tingkat ekspresinya; transkriptome,
populasi spesies RNA kurir seluler dan tingkat ekspresinya.
1. Teori Neurotransmiter
Gangguan mood disebabkan karena ketidakseimbangan
neurotransmiter di SSP. Kelebihan senyawa amin (NE dan dopamin)
menimbulkan mania. Kekurangan NE, Dopamin, 5-HT menimbulkan
depresi.Ketidakseimbangan antara aktivitas/rasio DA dan NE perubahan
mood dari depresi ke mania Jika NE turun dopamin mendominasi switch
ke hipomania atau mania.

5
2. Teori Kation dan Membran
Perubahan keseimbangan elektrolit, terutama Ca dan Na diduga
terkait dgn fluktuasi mood pada bipolar perubahan [Ca] ekstrasel dan
intrasel dpt mempengaruhi pelepasan dopamin, NE dan 5-HT
eksitabilitas saraf mempengaruhi variasi perasaan dan switch dari depresi
ke mania atau sebaliknya
D. Tanda dan Gejala
Gejala Gangguan Jiwa Bipolar bervariasi antara satu orang dengan
lainnya. Pada sebagian orang, masalah timbul ketika dalam kondisi mania,
pada orang lain masalah timbul pada kondisi depresi. Kadang kadang gejala
mania dan depresi muncul bersamaan (campuran).
Pada kondisi mania, beberapa gejala yang muncul antara lain:
1. Euphoria (gembira)
2. Inflated self-esteem (percaya diri berlebihan)
3. Poor judgment (kemampuan menilai menjadi jelek)
4. Bicara cepat
5. Racing thoughts (pikiran saling berkejar-kejaran)
6. Aggressive behavior (perilaku agresif)
7. Agitation or irritation (agitasi atau iritasi)
8. Kegiatan fisik meningkat
9. Risky behavior (perilaku yang berbahaya)
10. Spending sprees or unwise financial choices (tidak mampu mengelola
uang, mengeluarkan uang tanpa perhitungan)
11. Meningkatnya dorongan untuk berprestasi atau mencapai tujuan
12. Meningkatnya dorongan seksual
13. Berkurangnya dorongan untuk tidur, tidak merasa mengantuk.
14. Gampang terganggu konsentrasi
15. Berlebihan dalam mengkonsumsi alkohol atau obat-obatan
16. Sering bolos sekolah atau kerja

6
17. Mempunyai waham atau keluar dari realitas
18. Prestasi kerja atau sekolah menurun
Pada kondisi depresi, gejala yang muncul antara lain:
1. Kesedihan
2. Merasa tanpa harapan
3. Keinginan atau tindakan bunuh diri
4. Anxiety (kecemasan)
5. Perasaan bersalah
6. Gangguan tidur
7. Nafsu makan menurun atau bahkan naik.
8. Merasa lelah berlebihan
9. Hilangnya minat pada kegiatan yang dulu dinilainya menarik/
menyenangkan
10. Sulit berkonsentrasi
11. Mudah tersinggung
12. Rasa nyeri kronis tanpa alasan yang jelas
13. Sering mangkir sekolah/kerja
14. Prestasi rendah di sekolah atau tempat kerja
Gangguan jiwa bipolar, sering juga mempunyai gejala gejala sebagai
berikut:
1. Seasonal changes in mood, perubahan suasana hati musiman. Seperti
pada penyakit Seasonal Affective Disorder (gangguan affektif
musiman), suasana hati atau mood penderita bipolar dapat berubah
selaras dengan perubahan musim. Beberapa penderita menjadi mania
atau hipomania dimusim semi dan musim panas, kemudianberubah
menjadi depresi dimusim gugur atau musim dingin. Pada beberapa
penderita bipolar lain, gejalanya malah kebalikannya, yaitu depresi di
musim panas namun hipomania atau mania dimusim dingin.
2. Rapid cycling bipolar disorder. Pada beberapa penderita gangguan
bipolar perubahan suasana hati berlangsung cepat, yaitu mengalami
perubahan mood (suasana hati) 4 kali atau lebih dalam setahun. Namun

7
kadang kadang, perubahan perasaan bisa berlangsung lebih cepat, yaitu
dalam hitungan jam.
3. Psikosis. Pada penderita bipolar dengan gejala mania atau depresi berat,
sering muncul gejala psikosis yaitu pemikiran yang tidak berdasar
realita. Gejalanya bisa berupa halusinasi (suara atau penglihatan) dan
delusi (percaya sesuatu yang berbeda dengan kenyataan).
Gejala gangguan bipolar pada anak anak dan remaja biasanya tidak jelas
perubahan dari mania ke depresi atau sebaliknya, pada anak anak dan
remaja, gejala yang menonjol adalah sikap yang mudah meledak (marah
atau menangis), perubahan suasana hati yang cepat, agresif dan ugal-
ugalan/sembrono (reckless). Sebagai contoh, seorang anak dengan gangguan
bipolar bisa terlihat sangat gamang atau pandir/bodoh, dan kemudian diikuti
dengan tangisan atau kemarahan panjang dalam kurun waktu satu hari.
E. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan dengan cara mengidentifikasi faktor
presdisposisi, perubahan perilaku, sumber stressor, mekanisme koping,
sumber koping dan penilaian stressor.
a. Faktor predisposisi
Beberapa teori di temukan untuk menjelaskan gangguan alam
perasaan.Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan gangguan
alam perasaan adalah :
1. Faktor genetik
Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan
mulai garis keturunan.
2. Teori agresi berbalik pada diri sendiri.
Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan
marah yang dialihkan pada diri sendiri.
3. Teori kehilangan.
Menunjukkan adanya perpisahan yang bersifat traumatis
dengan orang yang di cintai

8
4. Teori kepribadian.
Mengambarkan bagaimana konsep diri yang negatif dan harga
diri yang rendah mempengaruhi kepercayaan dan penilaian
terhadap stressor
5. Teori kognitif
Mengemukakan bahwa depresi adalah masalah kognitif yang
di dominasi oleh penilaian negatif terhadap diri
sendiri,lingkungan dan masa depan.
6. Model ketidak berdayaan yang dipelajari
Mengemukakan bahwa bukan trauma yang menghasilkan
depresi,tetapi keyakinan individu akan ketidakmampuanya
mengontrol kehidupanya
7. Model perilaku
Belajar dari pengalaman belajar di masa lalu,depresi di anggap
terjadi karena kurangnya reinforcement positif selama
berinteraksi dengan lingkungan
8. Model biologi
Menggambarkan perubahan kimiawi di dalam tubuh yang
terjadi pada keadaan depresi,termasuk defisiensi dari
katekolamin,tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi
cortisol.
b. Faktor presipitasi
1. Kehilangan kasih sayang secara nyata atau bayangan,termasuk
kehilangan cinta seseorang, fungsi tubuh, status atau harga diri.
2. Banyaknya peran dan konflik peran mempengaruhi
berkembangnya depresi terutama pada wanita.
3. Kejadian penting dalam kehidupan, sering kali sebagai
keadaan yang mempengaruhi episode depresi dan mempunyai
dampak pada individu untuk menyelesaikan masalah.
4. Sumber koping termasuk status sosial ekonomi, keluarga,
hubungan interpersonal dan organisasi kemasyarakatan.

9
2. Diagnosa Keperawatan
a. Insomnia b.d Faktor lingkungan
b. Ketidakefektifan kopping b.d Tingkat Persepsi Kontrol yang tidak
adekuat
c. Risiko bunuh diri b.d Perilaku Impulsif
d. Gangguan sensori persepsi : Halusinasi
3. Rencana Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi (NIC)
Keperawatan Hasil (NOC)

1. Insomnia b.d Setelah dilakukan 1. Monitor keluhan sesak


Faktor tindakan keperawatan nafas pasien termasuk
lingkungan selama …. x 24 jam kegiatan yang
diharapkan : meningkatkan atau
memperburuk sesak
1. Pola tidur tidak
nafas tersebut
terganggu
2. Palpasi kesimetrisan
2. Kualitas tidur ekspansi paru
tidak tergaggu 3. Perkusi thorak

3. Efisiensi tidur anterior dan posterior

terpenuhi. dari apeks ke basis


paru kanan dan kiri
4. Ajarkan relaksasi
napas dalam
5. Kolaborasi dengan
dokter untuk
memberikan bantuan
terapi napas
(nebulizer)
2. Ketidakefektif Setelah dilakukan 1. Kaji klien terhadap
an kopping b.d tindakan keperawatan presepsi penyakit yang

10
Tingkat selama ...x 24 jam, dideritanya
Persepsi diharapkan : 2. Intruksikan pasien
Kontrol yang untuk menggunkan
1. Tidak pernah
tidak adekuat teknik relaksasi sesuai
menunjukkan
dengan kebutuhan
perilaku impulsif
3. Dukung kemampuan
yang berbahaya
mengatasi situasi secara
2. Sering berangsur-angsur.
menunjukkan 4. Dukung keterlibatan
mendapatkan keluarga dengan cara
bantuan ketika yang tepat
merasakan
.
impuls

3. Risiko bunuh Setelah dilakukan 1. Tentukan motif atau


diri b.d tindakan keperawatan alasan tingkah laku.
Perilaku …x24 jam,
2. Monitor pasien untuk
Impulsif diharapkan Tidak
adanya impuls menyakiti
pernah menunjukkan
diri yang mungkin
verbalisasi ide-ide
memburuk menjadi
bunuh diri
pikiran atau sikap bunuh
diri.

3. Pindahkan barang yang


berbahaya dari
lingkungan sekitar pasien

4. Sediakan terus -menerus


pengecekan terhadap
pasien dan

11
lingkungannya

5. Intruksikan pasien untuk


melakukan strategi
koping (misalnya latihan
asertif, impuls kontrol
training dan relaksasi
otot progresif) dengan
cara yang tepat

6. Komunikasikan tingkah
laku yang diharapkan
dari pasien dan
konsekuensinya bagi
pasien

7. Ajarkan dan kuatkan


pasien untuk melakukan
tingkah laku koping yang
efektif dan untuk
mengekspresikan
perasaan dengan cara
yang tepat

8. Berikan pengobatan
dengan cara yang tepat
untuk menurunkan
cemas, menstabilkan
alam perasaan/mood dan
menurunkan stimulasi
diri

4. Gangguan Setelah dilakukan 1. Monitor status fisik


sensori tindakan keperawatan pasien

12
persepsi : …x24 jam, 2. Monitor delusi untuk
Halusinasi diharapkan: mengetahui adanya isi
delusi yang
1. Tidak ada
membahayakan diri
gangguan
atau kekerasan
konsentrasi
3. Dukung pasien untuk
2. Nafsu makan menfalidasi
meningkat kepercayaan delusi

3. Tidak ada pikiran dengan orang yang

bunuh diri yang dipercaya (tes realita)

berulang 4. Ajarkan keluarga


mengenai cara-cara
mengatasi pasien yang
mengalami delusi
5. Berikan obat anti
psikotik dan anti cemas
secara rutin dan sesuai
kebutuhan

F. Daftar Pustaka
Keliat, B.A. 2016. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Keliat, B.A. 2015. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. Jakarta: EGC.

Yosep, Iyus. 2014. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Bandung: Reflika


Aditama.

Maramis, W.F. 2015. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga


University Press.
Keliat, B. A., Windarwati, H. D., Pawirowiyono, A., & Subu, M. A. 2015.
Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

13

Anda mungkin juga menyukai