Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Endometriosis adalah suatu penyakit yang lazim menyerang wanita di usia


reproduksi.1 Penyakit ini merupakan kelainan ginekologis yang menimbulkan keluhan
nyeri haid, nyeri saat senggama, pembesaran ovarium dan infertilitas.6 Endometriosis
terjadi ketika suatu jaringan normal dari lapisan uterus yaitu endometrium menyerang
organ-organ di rongga pelvis dan tumbuh di sana. Jaringan endometrium yang salah
tempat ini menyebabkan iritasi di rongga pelvis dan menimbulkan gejala nyeri serta
infertilitas.1
Jaringan endometriosis memiliki gambaran bercak kecil, datar, gelembung atau
flek-flek yang tumbuh di permukaan organ-organ di rongga pelvis. Flek-flek ini bisa
berwarna bening, putih, coklat, merah, hitam, atau biru. Jaringan endometriosis dapat
tumbuh di permukaan rongga pelvis, peritoneum, dan organ-organ di rongga pelvis,
yang kesemuanya dapat berkembang membentuk nodul-nodul. Endometriosis bisa
tumbuh di permukaan ovarium atau menyerang bagian dalam ovarium dan membentuk
kista berisi darah yang disebut sebagai kista endometriosis atau kista coklat. Kista ini
disebut kista coklat karena terdapat penumpukan darah berwarna merah coklat hingga
gelap. Kista ini bisa berukuran kecil seukuran kacang dan bisa tumbuh lebih besar dari
buah anggur. Endometriosis dapat mengiritasi jaringan di sekitarnya dan dapat
menyebabkan perlekatan (adhesi) akibat jaringan parut yang ditimbulkannya.10
Endometriosis terjadi pada 10-14% wanita usia reproduksi dan mengenai 40-
60% wanita dengan dismenorhea dan 20-30% wanita subfertil. Saudara perempuan dan
anak perempuan dari wanita yang menderita endometriosis berisiko 6-9 kali lebih besar
untuk berkembang menjadi endometriosis. Endometriosis menyebabkan nyeri panggul
kronis berkisar 70%. Risiko untuk menjadi tumor ovarium adalah 15-20%, angka
kejadian infertilitas berkisar 30-40%, dan risiko berubah menjadi ganas 0,7-1%.
Endometriosis sekalipun sudah mendapat pengobatan yang optimum memiliki angka
kekambuhan sesudah pengobatan berkisar 30%.22
Penanganan endometriosis baik secara medikamentosa maupun operatif tidak
memberikan hasil yang memuaskan disebabkan patogenesis penyakit tersebut belum
terungkap secara tuntas. Keberhasilan penanganan endometriosis hanya dapat
dievaluasi saat ini dengan mempergunakan laparoskopi. Laparoskopi merupakan
tindakan yang minimal invasif tetapi memerlukan keterampilan operator, biaya tinggi
dan kemungkinan dapat terjadi komplikasi dari yang ringan sampai berat. Alasan yang
dikemukakan tadi menyebabkan banyak penderita endometriosis yang tidak mau
dilakukan pemeriksaan laparoskopi untuk mengetahui apakah endometriosis sudah
berhasil diobati atau tidak
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Endometriosis adalah terdapatnya jaringan endometrium di luar kavum uterus.
Bila jaringan endometrium terdapat di dalam miometrium disebut adenomiosis
(adenometriosis internal) sedangkan bila di luar uterus disebut (endometriorisis
ekterna). Jaringan ini terdiri atas kelenjar-kelenjar dan stroma.1
Kista endometriosis adalah suatu jenis kista yang berasal dari jaringan
endometrium. Ukuran kista bisa bervariasi antara 0.4-4 inchi. Jika kista mengalami
ruptur, isi dari kista akan mengisi ovarium dan rongga pelvis.2

2.2 Etiologi
Teori tentang terjadinya endometriosis adalah sebagai berikut:
a) Teori retrograde menstruasi
Teori pertama yaitu teori retrograde menstruasi, juga dikenal sebagai teori
implantasi jaringan endometrium yang viable (hidup) dari Sampson. Teori ini didasari
atas 3 asumsi:
1. Terdapat darah haid berbalik melewati tuba falopii
2. Sel-sel endometrium yang mengalami refluks tersebut hidup dalam rongga
peritoneum
3. Sel-sel endometrium yang mengalami refluks tersebut dapat menempel ke
peritoneum dengan melakukan invasi, implantasi dan proliferasi.1
b) Teori Metaplasia Soelomik
dimana akibat stimulus tertentu terutama hormon, sel mesotel dapat mengalami
perubahan menjadi sel endometrium ektopik. Teori ini ter- bukti dengan ditemukannya
endometriosis pada perempuan pramenarke dan pada daerah yang tidak berhubungan
langsung dengan refluks haid seperti di rongga paru. Di samping itu, endometrium
eutopik dan ektopik adalah dua bentuk yang jelas ber-beda, baik secara morfologi
maupun fungsional.1
c) Teori transplantasi langsung
Transplantasi langsung jaringan endometrium pada saat tindakan yang kurang
hati-hati seperti saat seksio sesaria, operasi bedah lain, atau perbaikan episiotomi, dapat
mengakibatkan timbulnya jaringan endometriosis pada bekas parut operasi dan pada
perineum bekas perbaikan episiotomi tersebut.3
d) Teori genetik dan imun
Semua teori diatas tidak dapat menjawab kenapa tidak semua wanita yang
mengalami haid menderita endometriosis, kenapa pada wanita tertentu penyakitnya
berat, wanita lain tidak, dan juga tidak dapat menerangkan beberapa tampilan dari lesi.
Penelitian tentang genetik dan fungsi imun wanita dengan endometriosis dan
lingkungannya dapat menjawab pertanyaan diatas.4,
Endometriosis 6-7 kali lebih sering ditemukan pada hubungan keluarga ibu dan
anak dibandingkan populasi umum, karena endometriosis mempunyai suatu dasar
genetik. Matriks metaloproteinase (MMP) merupakan enzim yang menghancurkan
matriks ekstraseluler dan membantu lepasnya endometrium normal dan pertumbuhan
endometrium baru yang dirangsang oleh estrogen. Tampilan MMP meningkat pada
awal siklus haid dan biasanya ditekan oleh progesteron selama fase sekresi. Tampilan
abnormal dari MMP dikaitkan dengan penyakit-penyakit invasif dan destruktif. Pada
wanita yang menderita endometriosis, MMP yang disekresi oleh endometri-um luar
biasa resisten (kebal) terhadap penekanan progesteron. Tampilan MMP yang menetap
didalam sel-sel endometrium yang terkelupas dapat mengakibatkan suatu potensi
invasif terhadap endometrium yang berbalik arah sehingga menyebabkan invasi dari
permukaan peritoneum dan selanjutnya terjadi proliferasi sel.4,
Pada penderita endometriosis terdapat gangguan respon imun yang
menyebabkan pembuangan debris pada darah haid yang membalik tidak efektif.
Makrofag merupakan bahan kunci untuk respon imun alami, bagian sistem imun yang
tidak antigen-spesifik dan tidak mencakup memori imunologik. Makrofag
mempertahankan tuan rumah melalui pengenalan, fagositosis, dan penghancuran
mikroorganisme yang jahat dan juga bertindak sebagai pemakan, membantu untuk
membersihkan sel apoptosis dan sel-sel debris. Makrofag mensekresi berbagai macam
sitokin, faktor pertumbuhan, enzim dan prostaglandin dan membantu fungsi-fungsi
faktor diatas disamping merangsang pertumbuhan dan proliferasi tipe sel yang lain.
Makrofag terdapat dalam cairan peritoneum normal dan jumlah serta aktifitasnya
meningkat pada wanita dengan endometriosis. Pada penderita endometriosis, makrofag
yang terdapat di peritoneum dan monosit yang beredar teraktivasi sehingga
penyakitnya berkembang melalui sekresi faktor pertumbuhan dan sitokin yang
merangsang proliferasi dari endometrium ektopik dan menghambat fungsi
pemakannya. Natural killer juga merupakan komponen lain yang penting dalam proses
terjadinya endometriosis, aktifitas sitotoksik menurun dan lebih jelas terlihat pada
wanita dengan stadium endometriosis yang lanjut.4,
e) Faktor endokrin
Perkembangan dan pertumbuhan endometriosis tergantung kepada estrogen
(estrogendependent disorder). Penyimpangan sintesa dan metabolisme estrogen telah
diimplikasikan daam patogenesa endometriosis. Aromatase, suatu enzim yang
merubah androgen, androstenedion dan testosteron menjadi estron dan estradiol.
Aromatase ini ditemukan dalam banyak sel manusia seperti sel granulosa ovarium,
sinsisiotrofoblas di plasenta, sel lemak dan fibroblas kulit.
Kista endometriosis dan susukan endometriosis diluar ovarium menampilkan
kadar aromatase yang tinggi sehingga dihasilkan estrogen yang tinggi pula. Dengan
kata lain, wanita dengan endometriosis mempunyai kelainan genetik dan membantu
perkembangan produksi estrogen endometrium lokal. Disamping itu, estrogen juga
dapat merangsang aktifitas siklooksigenase tipe-2 lokal (COX-2) yang membuat
prostaglandin (PG)E2, suatu perangsang poten terhadap aromatase dalam sel stroma
yang berasal dari endometriosis, sehingga produksi estrogen berlangsung terus secara
local.4, 21
2.3 Klasifikasi
Endometriosis dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori berdasarkan lokasi dan
tipe lesi, yaitu:6
1. Peritoneal endometriosis
Pada awalnya lesi di peritoneum akan banyak tumbuh vaskularisasi sehingga
menimbulkan perdarahan saat menstruasi. Lesi yang aktif akan menyebabkan
timbulnya perdarahan kronik rekuren dan reaksi inflamasi sehingga tumbuh jaringan
fibrosis dan sembuh. Lesi berwarna merah dapat berubah menjadi lesi hitam tipikal dan
setelah itu lesi akan berubah menjadi lesi putih yang miskin vaskularisasi dan
ditemukan debris glandular.
2. Ovarian Endometrial Cysts (Endometrioma)
Ovarian endometrioma diduga terbentuk akibat invaginasi dari korteks ovarium
setelah penimbunan debris menstruasi dari perdarahan jaringan endometriosis. Kista
endometrium bisa besar (>3cm) dan multilokus, dan bisa tampak seperti kista coklat
karena penimbunan darah dan debris ke dalam rongga kista.
3. Deep Nodular Endometriosis
Pada endometriosis jenis ini, jaringan ektopik menginfiltrasi septum
rektovaginal atau struktur fibromuskuler pelvis seperti uterosakral dan ligamentum
utero-ovarium. Nodul-nodul dibentuk oleh hiperplasia otot polos dan jaringan fibrosis
di sekitar jaringan yang menginfiltrasi. Jaringan endometriosis akan tertutup sebagai
nodul, dan tidak ada perdarahan secara klinis yangberhubungan dengan endomeriosis
nodular dalam.

Ada banyak klasifikasi stadium yang digunakan untuk mengelompokkan


endometriosis dari ringan hingga berat, dan yang paling sering digunakan adalah sistem
American Fertility Society (AFS) yang telah direvisi (Tabel 1). Klasifikasi ini
menjelaskan tentang lokasi dan kedalaman penyakit berikut jenis dan perluasan adhesi
yang dibuat dalam sistem skor. Berikut adalah skor yang digunakan untuk
mengklasifikasikan stadium:6,12
- Skor 1-5 : Stadium I (penyakit minimal)
- Skor 6-15 : Stadium II (penyakit sedang)
- Skor 16-40 : Stadium III (penyakit berat)
- Skor >40 : Stadium IV (penyakit sangat berat)

Menurut ASRM, Endometriosis dapat diklasifikasikan kedalam 4 derajat


keparahan tergantung pada lokasi, luas, kedalaman implantasi dari sel endometriosis,
adanya perlengketan, dan ukuran dari endometrioma ovarium9
Klasifikasi Enzian score dapat juga digunakan sebagai instrumen untuk
mengklasifikasikan endometriosis dengan infiltrasi dalam, terutama difokuskan pada
endometriosis bagian retroperitoneal yang berat. Pada penelitian ini, didapatkan 58
pasien yang menurut Enzian Score diklasifikasikan sebagai endometriosis dengan
infiltrasi dalam, namun pada AFS revisi tidak didiagnosis demikian6
2.4. Kista Endometriosis

Kista endometriosis merupakan salah satu dari tiga jenis mayor subtype
endometriois. Kista endometriosis digambarkan sebagai kita coklat yang berada pada
ovarium. Kista endometriosis sering dibungkus oleh jaringan fibrosa khususnya pada
lesi berwarna putih. Warna dinding internal kista endometriosis dapat digunakan untuk
memperkirakan usia lesi.21
Kista endometriosis berisi cairan berwarna coklat yang merupakan hasil
akumulasi darah menstruasi yang terperangkap. Perdarahan berulang menandakan
cedera jaringan berulang sehingga terbentuk jaringan fibrosis. Platelet secara signifikan
beragregasi pada kista dan platelet yang teraktivasi menginduksi epithelial-
mesenchymal transition (EMT) dan selanjutnya terjadi aktivasi miofibroblas sehingga
terjadi akuisisi smooth muscle cell marker, kontraktilitas meningkat, dan peningkatan
produksi kolagen I. miofibrobals dikenal sebagai matriks ektraseluler primer (ECM)
yang terlibat dalam proses penyembuhan luka dan fibrosis.21
20-50% perempuan dengan endometriosis didapati kista endometriosis.
Penilaian preoperatif didasarkan pemeriksaan klinis dan USG transvaginal. Kista
endometriosis sering menunjukkan gambaran tekstur typical echo pada USG. Beberapa
kasus menunjukkan gambaran heterogen sehingga sulit untuk membedakan dengan
kista fungsional, kista dermoid, maupun kanker ovarium.22

2.5. Histopatogenesis
Teori histogenesis dari endometriosis yang paling banyak dianut adalah teori
dari Sampson. Menurut teori ini, endometriosis terjadi karena darah haid mengalir
kembali (regurgitasi) melalui tuba ke dalam rongga pelvis. Sudah dibuktikan bahwa
dalam darah haid didapati sel-sel endometrium yang masih hidup. Sel-sel endometrium
yang masih hidup ini kemudian dapat mengadakan implantasi di pelvis.1
Teori lain dikemukakan oleh Robert Meyer bahwa endometriosis terjadi karena
rangsangan pada sel-sel epitel berasal dari selom yang dapat mempertahankan
hidupnya di daerah pelvis. Rangsangan ini akan menyebabkan metaplasia dari sel-sel
epitel itu sehingga terbentuk jaringan endometrium.1
Teori hormonal bermula dari kenyataan bahwa kehamilan dapat
menyembuhkan endometriosis. Rendahnya kadar FSH, LH dan E2 dapat
menghilangkan endometriosis. Pemberian steroid seks dapat menekan sekresi FSH, LH
dan E2. Pendapat yang sudah lama dianut ini mengemukakan bahwa pertumbuhan
endometriosis sangat tergantung dari kadar estrogen dalam tubuh. Pendapat ini mulai
diragukan karena pada tahun 1989 Baziad dan Jacoeb menemukan kadar E2 yang
cukup tinggi pada kasus-kasus endometriosis. Jacoeb pada tahun 1990 pun menemukan
kadar E2 serum pada setiap kelompok derajat endometriosis hampir semuanya tinggi.
Keadaan ini juga tidak bergantung pada beratnya derajat endometriosis. Kalau memang
dianggap perkembangan endometriosis bergantung pada kadar estrogen dalam tubuh,
seharusnya terdapat hubungan bermakna antara beratnya derajat endometriosis dengan
kadar E2 di lain pihak, apabila kadar E2 dalam tubuh maka senyawa ini akan diubah
kembali menjadi androgen melalui proses aromatisasi. Akibatnya, kadar testosterone
pun akan meninggi. Tetapi kenyataannya pada penelitian ini, kadar T tidak berubah
secara bermakna menurut beratnya penyakit.23
Sedangkan teori terakhir, endometriosis dikaitkan dengan aktivitas imun. Teori
imunologis menerangkan bahwa secara embriologis, sel epitel yang membungkus
peritoneum parietal dan permukaan ovarium memiliki asal yang sama, oleh karena itu
sel-sel endometriosis akan sejenis dengan mesotel. Telah diketahui bahwa CA-125
merupakan suatu antigen permukaan sel yang semula diduga khas untuk ovarium.
Karena endometriosis merupakan proses proliferasi sel yang bersifat destruktif, maka
lesi ini tentu akan meningkatkan kadar CA-125. Banyak yang berpendapat bahwa
endometriosis adalah suatu penyakit autoimun karena memiliki kriteria yang
cenderung lebih banyak pada wanita, bersifat familiar, menimbulkan gejala klinik,
melibatkan multiorgan dan menunjukkan aktivitas sel B-poliklonal.23
Patogeneis kista endometriosis memiliki proses yang sedikit berbeda. Deposit
mencapai parenkim ovarium dan tumbuh seiring dengan siklus menstruasi.
Lingkungan hormonal dengan kadar steroid yang tinggi menyebabkan kista
endometriosis (kista coklat) dan tumbuh besar pada ovarium. Kista tumbuh seiring
siklus menstruasi dan secara progresif menginvaginasi seluruh korteks ovarium.
Beberapa kista endometriosis memiliki lapisan internal korteks, medulla, korteks
eksternal.24
Gambar 4. Patogenesis kista endometriosis yang menginvaginasi korteks. (A)
Proses diawali dengan fokus endometriosis yang menempel pada permukaan
ovarium yang berdinding kavitas peritoneum. (B) Terjadi invaginasi gradual
korteks akibat akumulasi cairan menstrual.24

Gambar 5. Patogenesis kista endometriosis dengan inklusi permukaan. (A)


Endometriosis berasal dari metaplasia mesotelium menempati permukaan kista
dan mulai bertunas pada korteks. (B) Kista endometriosis terbentuk melalui
akumulasi cairan menstruasi.24
Gambar 6. Patogenesis kista fisiologis ovarium yang berhubungan dengan
endometriosis. (A) permukaan endometriosis menempadi folikel dominan yang
ruptur. (B) akumulasi cairan menstruasi.24

2.6 Patologi
Gambaran mikroskopik dari endometrium sangat variabel. Lokasi yang sering
terdapat ialah pada ovarium dan biasanya bilateral. Pada ovarium tampak kista-kista
biru kecil sampai besar berisi darah tua menyerupai coklat. Darah tua dapat keluar
sedikit-sedikit karena luka pada dinding kista dan dapat menyebabkan perlekatan
antara permukaan ovarium dengan uterus, sigmoid dan dinding pelvis. Kista coklat
kadang-kadang dapat mengalir dalam jumlah banyak ke dalam rongga peritoneum
karena robekan dinding kista dan menyebabkan akut abdomen. Tuba pada
endometriosis biasanya normal.1
Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan ciri-ciri khas bagi endometriosis
yakni kelenjar-kelenjar dan stroma endometrium dan perdarahan bekas dan baru
berupa eritrosit, pigmen hemosiderin dan sel-sel makrofag berisi hemosiderin.
Disekitarnya tampak sel-sel radang dan jaringan ikat sebagai reaksi dari jaringan
normal disekelilingnya. Jaringan endometriosis seperti juga jaringan endometrium di
dalam uterus dapat dipengaruhi oleh estrogen dan progesteron. Sebagai akibat dari
pengaruh hormon-hormon tersebut, sebagian besar sarang endometriosis berdarah
secara periodik yang menyebabkan reaksi jaringan sekelilingnya berupa radang dan
perlekatan.1
Pada kehamilan dapat ditemukan reaksi desidual jaringan endometriosis.
Apabila kehamilannya berakhir, reaksi desidual menghilang disertai dengan regresi
sarang endometriosis. Pengaruh baik dari kehamilan kini menjadi dasar pengobatan
endometriosis dengan hormone untuk mengadakan apa yang dinamakan kehamilan
semu (pseudopregnancy).1

Gambar 7. Specimen kista endometriosis25

Gambar 8. Cairan coklat yang berasal dari kista.25


Gambar 9. Gambaran histopatologi kista endometriosis.25

2.7 Gejala Klinis


Gejala-gejala yang sering ditemukan pada kista endometriosis adalah:10, 11,12,18
- Nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada dan selama
haid (dismenore). Sebab dari dismenore ini tidak diketahui tetapi mungkin ada
hubungannya dengan vaskularisasi dan perdarahan dalam sarang endometriosis pada
waktu sebelum dan semasa haid. Nyeri tidak selalu didapatkan pada endometriosis
walaupun kelainan sudah luas sebaliknya kelainan ringan dapat menimbulkan gejala
nyeri yang hebat. Nyeri yang hebat dapat menyebabkan mual, mntah, dan diare.
Dismenore primer terjadi selama tahun-tahun awal mestruasi, dan semakin meningkat
dengan usia saat melahirkan anak, dan biasanya hal ini tidak berhubungan dengan
endometriosis. Dismenore sekunder terjadi lebih lambat dan akan semakin meningkat
dengan pertambahan usia. Hal ini bisa menjadi tanda peringatan akan terjadinya
endometriosis, walaupun beberapa wanita dengan endometriosis tidak terlalu
merasakannya.
- Dispareunia merupakan gejala yang sering dijumpai disebabkan oleh karena
adanya endometriosis di kavum Douglasi.
- Nyeri waktu defekasi, terjadi karena adanya endometriosis pada dinding
rekstosigmoid Kadang-kadang bisa terjadi stenosis dari lumen usus besar tersebut.
- Poli dan hipermenorea, dapat terjadi pada endometriosis apabila kelainan pada
ovarium sangat luas sehingga fungsi ovarium terganggu.
- Infertilitas, hal ini disebabkan apabila motilitas tuba terganggu karena fibrosis
dan perlekatan jaringan disekitarnya. Sekitar 30-40% wanita dengan endometriosis
menderita infertilitas.

2.8 Diagnosis
Tidak ada pemeiksaan yang sederhana untuk mendiagnosis endometriosis.
Dalam kenyataannya, satu-satunya cara untuk mendiagnosis pasti endometriosis adalah
dengan melakukan laparoskopi dan melakukan biopsi jaringan. Pemeriksaan ini
merupakan standar emas dalam mendiagnosis endometriosis.16
Endometriosis dicurigai bila ditemukan adanya gejala nyeri di daerah pelvis
dan adanya penemuan-penemuan yang bermakna selama pemeriksaan fisik. Melalui
pemeriksaan rektovaginal (satu jari di dalam vagina dan satu jari lagi di dalam rectum)
akan teraba nodul (jaringan endometrium) di belakang uterus dan di sepanjang
ligamentum yang menyerang dinding pelvis. Suatu saat bisa saja nodul tidak teraba,
tetapi pemeriksaan ini sendiri dapat menyebabkan rasa nyeri dan tidak nyaman.26, 28

2.9 Penatalaksanaan
Endometriosis bisa diterapi dengan medikamentosa dan/atau pembedahan.
Pengobatan endometriosis juga bertujuan untuk menghilangkan nyeri dan/atau
memperbaiki fertilitas.13,14,15,17
- Endometriosis dan subfertilitas
 Adhesi peritubal and periovarian dapat menginterferensi dengan transportasi
ovum secara mekanik dan berperan dalam menyebabkan subfertilitas. Endometriosis
peritoneal telah terbukti berperan dalam menyebabkan subfertilitas dengan cara
berinterferensi dengan motilitas tuba, follikulogenesis, dan fungsi korpus luteum.
Aromatase dipercaya dapat meningkatkan kadar prostaglandin E melalui peningkatan
ekspresi COX-2. Endometriosis juga dapat menyebabkan subfertilitas melalui
peningkatan jumlah sperma yang terikat ke epitel ampulla sehingga mempengaruhi
interaksi sperm-endosalpingeal.
 Pemberian medikamentosa pada endometriosis minimal atau sedang tidak
terbukti meningkatkan angka kehamilan. Endometriosis sedang sampai berat harus
dioperasi.
 Pilihan lainnya untuk mendapatkan kehamilan ialah inseminasi intrauterin,
superovulasi, dan fertilisasi invitro. Pada suatu penelitian case-contol, rata-rata
kehamilan dengan injeksi sperma intrasitoplasmik tidak dipengaruih oleh kehadiran
endometriosis. Lebih jauh, analisi lainnya menunjukkan peningkatan kejadian
kehamilan akibat fertilisasi in vitro dengan preterapi endometriosis tingkat 3 dan 4
dengan agonis gonadotropin-releasing hormone (GnRH).
- Terapi interval
 Beberapa peneliti percaya bahwa endometriosis dapat ditekan dengan
pemberian profilaksis berupa kontrasepsi oral kombinasi berkesinambungan, analog
GnRH, medroksiprogesteron, atau danazol sebagai upaya untuk meregresi penyakit
yang asimtomastik dan mengatasi fertilitas subsekuen.
 Ablasi melalui pembedahan untk endometriosis simptomatik juga dapat
meningkatkan kesuburan dalam 3 tahun setelah follow-up.
- Tidak ada hubungan antara endometriosis dengan abortus rekuren dan tidak ada
penelitian yang menunjukkan bahwa terapi medikamentosa atau pembedahan dapat
mengurangi angka kejadian abortus.
- Terapi medis: pil kontrasepsi oral kombinasi, danazol, agen progestational, dan
analog GnRH. Semua obat ini memiliki efek yang sama dalam mengurangi nyeri
dan durasinya.
 Pil kontrasepsioral kombinasi berperan dalam supresi ovarium dan
memperpanjang efek progestin.
 Semua agen progesteron berperan dalam desidualisasi dan atrofi endometrium.
 Medroksiprogesteron asetat berperan dalam mengurangi nyeri.
 Megestrol asetat juga memiliki efek yang sama
 The levonorgestrel intrauterine system (LNG-IUS) berguna dalam
mengurangi nyeri akibat endometriosis.
 Analog GnRH berguna untuk menurunkan gejala nyeri, namun tidak berefek
dalam meningkatkan angka fertilitas. Terapi dengan GnRH menurunkan gejala nyeri
pada 85-100% wanita dengan endometriosis.
 Danazol berperan untuk menghambat siklus follicle-stimulating hormone
(FSH) and luteinizing hormone (LH) dan mencegah steroidogenesis di korpus luteum.

Terapi Bedah
Terapi bedah bisa diklasifikasikan menjadi terapi bedah konservatif jika fungsi
reproduksi berusaha dipertahankan, semikonservatif jika kemampuan reproduksi
dikurangi tetapi fungsi ovarium masih ada, dan radikal jika uterus dan ovarium
diangkat secara keseluruhan. Usia, keinginan untuk memperoleh anak lagi, perubahan
kualitas hidup, adalah hal-hal yang menjadi pertimbangan ketika memutuskan suatu
jenis tindakan operasi.19, 20
- Pembedahan konservatif
 Tujuannya adalah merusak jaringan endometriosis dan melepaskan
perlengketan perituba dan periovarian yang menjadi sebab timbulnya gejala
nyeri dan mengganggu transportasi ovum. Pendekatan laparoskopi adalah
metode pilihan untuk mengobati endometriosis secara konservatif. Ablasi bisa
dilakukan dengan dengan laser atau elektrodiatermi. Secara keseluruhan, angka
rekurensi adalah 19%. Pembedahan ablasi laparoskopi dengan diatermi bipolar
atau laser efktif dalam menghilangkan gejala nyeri pada 87%. Kista
endometriosis dapat diterapi dengan drainase atau kistektomi. Kistektomi
laparoskopi mengobati keluhan nyeri lebih baik daripada tindakan drainase.
Terapi medis dengan agonis GnRH mengurangi ukuran kista tetapi tidak
berhubungan dengan hilangnya gejala nyeri.
 Flushing tuba dengan media larut minyak dapat meningkatkan angka
kehamilan pada kasus infertilitas yang berhubungan dengan endometriosis.
 Untuk dismenorhea yang hebat dapat dilakukan neurektomi presakral. Bundel
saraf yang dilakukan transeksi adalah pada vertebra sakral III, dan bagian
distalnya diligasi.
 Laparoscopic Uterine Nerve Ablation (LUNA) berguna untuk mengurangi
gejala dispareunia dan nyeri punggung bawah.
 Untuk pasien dengan endometriosis sedang, pengobatan hormonal adjuvant
postoperative efektif untuk mengurangi nyeri tetapi tidak ada berefek pada
fertilitas. Analog GnRH, danazol, dan medroksiprogesteron berguna untuk hal
ini.
- Pembedahan semikonservatif
 Indikasi pembedahan jenis ini adalah wanita yang telah melahirkan anak
dengan lengkap, dan terlalu muda untuk menjalani pembedahan radikal, dan
merasa terganggu oleh gejala-gejala endometriosis. Pembedahan yang
dimaksud adalah histerektomi dan sitoreduksi dari jaringan endometriosis
pelvis. Kista endometriosis bisa diangkat karena sepersepuluh dari jaringan
ovarium yang berfungsi diperlukan untuk memproduksi hormon. Pasien yang
dilakukan histerektomi dengan tetap mempertahankan ovarium memiliki risiko
enam kali lipat lebih besar untuk mengalami rekurensi dibandingkan dengan
wanita yang dilakukan histerektomi dan ooforektomi.
 Terapi medis pada wanita yang telah memiliki cukup anak yang juga memiliki
efek dalam mereduksi gejala.
- Pembedahan radikal
 Histerektomi total dengan ooforektomi bilateral dan sitoreduksi dari
endometrium yang terlihat. Adhesiolisis ditujukan untuk memungkinkan
mobilitas dan menormalkan kembali hubungan antara organ-organ di dalam
rongga pelvis.
 Obstruksi ureter memerlukan tindakan bedah untuk mengeksisi begian yang
mengalami kerusakan. Pada endometriosis dengan obstruksi usus dilakukan
reseksi anastomosis jika obstruksi berada di rektosigmoid anterior.

2.10 Diagnosis Banding


Adenomiosis uteri, radang pelvik, dengan tumor adneksa dapat menimbulkan
kesukaran dalam diagnosis. Pada kelainan di luar endometriosis jarang terdapat
perubahan-perubahan berupa benjolan kecil di kavum Douglasi dan ligamentum
sakrouterina. Kombinasi adenomiosis uteri atau mioma uteri dengan endometriosis
dapat pula ditemukan. Endometriosis ovarii dapat menimbulkan kesukaran diagnosis
dengan kista ovarium. Sedangkan endometriosis yang berasal dari rektosigmoid perlu
dibedakan dari karsinoma.24, 26

2.11 Prognosis
Endometriosis dapat mengalami rekurensi kecuali telah dilakukan dengan
histerektomi dan ooforektomi bilateral. Angka kejadian rekurensi endometriosis
setelah dilakukan terapi pembedahan adalah 20% dalam waktu 5 tahun. Ablasi komplit
dari endometriosis efektif dalam menurunkan gejala nyeri sebanyak 90% kasus.
Beberapa ahli mengatakan eksisi lesi adalah metode yang baik untuk menurunkan
angka kejadian rekurensi dari gejala-gejala endometriosis.29
Pada kasus infertilitas, keberhasilan tindakan bedah berhubungan dengan
tingkat berat ringannya penyakit. Pasien dengan endometriasis sedang memiliki
peluang untuk hamil sebanyak 60%, sedangkan pada kasus-kasus endometriosis yang
berat keberhasilannya hanya 35%.29
DAFTAR PUSTAKA

1. Mohamad Anwar. 2011. Ilmu Kandungan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, p.240-245
2. Oepomo TD. Concentration of TNF-α in the peritoneal fluid and serum of
endometriotic patients
https://www.researchgate.net/publication/275516354_Concentration_of_TNF-
a_in_the_peritoneal_fluid_and_serum_of_endometriotic_patients
3. M Lee, Brian. 2008. Cyst Endometriosis Article Source:
http://EzineArticles.com/1794678
4. C.Y. Liu, MD. 2011. What cause endometriosis? source :
http://www.obgyn.net/hysterectomy/what-causes-endometriosis
5. Wellberry C. Diagnosis and Treatment of Endometriosis 2015
(https://www.aafp.org/afp/1999/1015/p1767.html)
6. Medicine ASFR. Revised American Society for Reproductive Medicine
Classification of Endometriosis. Fertil Steril. 1996;67:817.
7. Comparison of revised American Fertility Society and ENZIAN staging: a critical
evaluation of classifications of endometriosis on the basis of our patient
population
8. Haas D, Chvatal R, Habelsberger A, Wurm P, Schimetta W, Oppelt P.
Comparison of revised American Fertility Society and ENZIAN staging: a critical
evaluation of classifications of endometriosis on the basis of our patient
population. Fertil Steril. 2011;95(5):1574
9. ESHRE. Management of women with endometriosis. 2013 source :
https://www.eshre.eu/~/media/sitecore-files/Guidelines/Endometriosis/ESHRE-
guideline-on-endometriosis-2013.pdf.
10. Karen Ballard PD, Hazel Lane BS, Gernot Hudelist MDS, Saikat Banerjee
MBBS, Jeremy Wright MBBS. Can spesific pain symtoms help in the diagnosis
of endometriosis? A cohort study of women with chronic pelvic pain. Fertility
and Sterility. 2010;94:20-7.
11. As-Sanie S, Harris RE, Napadow V, Kim J, Neshewat G, Kairys A, et al. Changes
in regional gray matter volume in women with chronic pelvic pain: a voxel-based
morphometry study. Pain. 2012;153(5):1006-14. Epub 2012/03/06.
12. Martin DC. Using location, color, size, and depth to characterize and identify
endometriosis lesions in a cohort of 133 women source : https://sci-
hub.tw/https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2505050/
13. Tairney R, Prentice A. The medical management of endometriosis. Review in
Gynaecological Practice. 2002;2:91-8.
14. Davis L, Kennedy S, Moore J, Prentice A. Oral contraceptives for pain associated
with endometriosis. Cochrane Database of Systematic Reviews 2007. 2009(3).
15. Schweppe KW. The place of dydrogesterone in the treatment of endometriosis
and adenomyosis. Maturitas. 2009;65 Suppl 1:S23-7. Epub 2009/12/01.
16. Leyland N, Casper R, Laberge P, Singh SS. Endometriosis : Diagnosis and
Management. SOGC Practice Guideline. Journal of Obstetrics and Gynaecology
Canada. 2010;32(7):S1-S28.
17. Soares SR, Martinez-Varea A, Hidalgo-Mora JJ, Pellicer A. Pharmacologic
therapies in endometriosis: a systematic review. Fertility and Sterility.
2012;98:529-55.
18. Chapron C, al e. Deep infiltrating endometriosis: relation between severity of
dysmenorrhoea and extent of the disease. Hum Reprod. 2007;18(4):760-6.
19. Wattiez A, Puga M, Albornoz J, Faller E. Surgical strategy in endometriosis. Best
Practice & Research Clinical Obstetrics and Gynaecology. 2013;27:381-92.
20. Proctor M, Latthe P, Farquhar C, Khan K, Johnson N. Surgical interruption of
pelvic nerve pathways for primary and secondary dysmenorrhoea. Cochrane
Database of Systematic Reviews. 2010
21. Guo SW, Ding D, Shen M, Liu X. Dating Endometriotic Ovarian Cysts Based on
the Content of Cyst Fluid and its Potential Clinical Implications. Reprod Sci.
2015; 22(7): 873-883.
22. Ulrich U, Buchweitz O, Greb R, et al. National German Guideline (S2k):
Guideline for the Diagnosis and Treatment of Endometriosis. Geburtshilfe und
Frauenheilkunde. 2014; 74(12):114-1118.
23. Brown J, Pan A, Hart RJ. Gonadotrophin-releasing hormone analogues for pain
associated with endometriosis. Cochrane database of systematic reviews
(Online). 2010(12):CD008475. Epub 2010/12/15.
24. Scurry J, Whitehead J, Healey M. Classification of ovarian Endometriotic Cysts.
International Journal of Gynecological Pathology. 2001; 20:147-154.
25. Hoffman BL, Schroge JO, Bradshaw K, et al. Williams Gynecology. New York:
McGraw-Hill;2016.
26. Kennedy S, Bergqvist A, Chapron C, et.al. ESHRE guideline for the diagnosis
and treatment of endometriosis. Hum Reprod. 2005 20(10):2698.
27. Christian M. Becker, M.D, Marc R. Laufer, et.al. World Endometriosis Research
Foundation Endometriosis Phenome and Biobanking Harmonisation Project: I.
Surgical phenotype data collection in endometriosis research
28. Kapoor D, Davila. Endometriosis: Treatment & Medication
29. Tulandi T, Felemban A, Chen M. Nerve fibers and histopathology of
endometriosis-harboring peritoneum. J Am Assoc Gynecol Laparosc.
2001;8(1):95-8.