Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Judul Percobaan

Friction Loss (kehilangan tekananan akibat gesekan)

B. Tujuan Percobaan

1. Mempelajari dasar-dasar dinamika fluida.

2. Mempelajari sifat fluida Inkompressible dalam jaringan pipa, khususnya


kehilangan tekanan akibat gesekan fluida.

3. Memberikan motif untuk penghematan energy dalam operasi pabrik.

C. Latar Belakang

Perubahan tekanan dalam aliran fluida terjadi karena adanya perubahan ketinggian,
perubahan kecepatan, perubahan penampang dan gesekan fluida. Pada aliran tanpa gesekan
perubahan tekanan dapat dianalisa dengan persamaan Bernoulli yang memperhitungkan
perubahan tekanan ke dalam perubahan ketinggian dan perubahan kecepatan. Sehingga
perhatian utama dalam menganalisa kondisi aliran nyata adalah pengaruh dari gesekan.
Gesekan akan menimbulkan penurunan tekanan atau kehilangan tekanan dibandingkan
dengan aliran tanpa gesekan.

Berdasarkan lokasi timbulnya kehilangan, secara umum kehilangan tekanan ini


digolongkan menjadi 2 yaitu : kerugian mayor dan kerugian minor. Kerugian mayor adalah
kehilangan tekanan akibat gesekan aliran fluida pada system aliran penampang tetap atau
konstan. Sedangkan kerugian minor adalah kehilangan tekanan akibat gesekan yang terjadi
pada katup-katup, sambungan T, sambungan L dan pada penampang yang tidak konstan,
kerugian minor ini disebut juga head loss atau friction loss.
Head loss atau friction loss adalah suatu nilai untuk mengetahui seberapa besarnya
reduksi tekanan total (total head) yang diakibatkan oleh fluida saat melewati
sistem pengaliran. Total head, seperti kita ketahui merupakan kombinasi dari elevation head
(tekanan karena ketinggian suatu fluida), velocity head,(tekanan karena kecepatan alir suatu
fluida) dan pressure head (tekanan normal dari fluida itu sendiri).
BAB II

LANDASAN TEORITIS

Pipa atau tabung adalah suatu saluran yang tertutup, umumnya mempunyai
penampang sirkular dan digunakan untuk mengalirkan fluida melalui tekanan pompa atau
kipas angin. Bila pipa mengalir dengan terisi penuh maka itu disebabkan oleh adanya tekanan
yang menyebabkan mengalir.

Kehilangan tekanan dalam pipa

Fluida yg mengalir dalam pipa akan mengalami hambatan berupa gesekan dengan
dinding pipa hal ini megakibatkan berkurangnya laju aliran dan penurunan tekanan.
Walaupun dapat terjadi berbagai jenis kehilangan energy gerak, umunnya hambatan yang
paling utama adalah akibat gesekan tadi.

Besarnya hambatan aliran karena gesekan sangat tergantung dari kekasaran dinding
pipa. Dari hasil berbagai percobaan diketahui bahwa makin kasar dinding pipa makin besar
terjadinya penurunan /kehilangan tekanan aliran. Jenis gesekan ini dikenal dengan dengan
gesekan aliran dan besarnya tahanan itu sendiri di ukur dengan koefisien gesekan,f.

Bilangan Reynold

Dalam mekanika fluida Bilangan Reynold adalah rasio anatara gaya inersia terhadap
gaya viskos yang mengkuantifikasikan hubungan kedua gaya tersebut dengan suatu kondisi
aliran tertentu. Bilangan ini digunakan untuk mengidentikasikan jenis aliran yang berbeda,
misalnya laminar dan turbulen. Namanya diambil dari Osborne Reynolds (1842–1912) yang
mengusulkannya pada tahun 1883.

Bilangan Reynold merupakan salah satu bilangan tak berdimensi yang paling penting
dalam mekanika fluida dan digunakan, seperti halnya dengan bilangan tak berdimensi lain,
untuk memberikan kriteria untuk menentukan dynamic similitude. Jika dua pola aliran yang
mirip secara geometris, mungkin pada fluida yang berbeda dan laju alir yang berbeda pula,
memiliki nilai bilangan tak berdimensi yang relevan, keduanya disebut memiliki kemiripan
dinamis.
Jenis Aliran

Berdasarkan karakteristik struktur internal aliran, aliran fluida dapat dibedakan


menjadi dua macam yaitu aliran laminer dan turbulen.

1. Aliran Laminer

Aliran laminer adalah aliran fluida yang bergerak dengan kondisi lapisan-lapisan
(lanima-lanima) membentuk garis-garis alir yang tidak berpotongan satu sama lain. Hal
tersebut ditunjukkan oleh percobaan Osborne Reynold, pada laju aliran rendah aliran laminer
tergambar sebagai filament panjang yang mengalir sepanjang aliran. Aliran ini mempunyai
Bilangan Reynold lebih kecil dari 2300.

2. Aliran Turbulen

Aliran turbulen adalah aliran fluida yang partikel-partikelnya bergerak secara acak
dan tidak stabil dengan kecepatan berfluktuasi yang saling interaksi. Akibat dari hal tersebut
garis alir antar partikel fluidanya saling berpotongan. Oleh Osborne Reynold digambarkan
sebagai bentuk yang tidak stabil yang bercampur dalam waktu yang cepat yang selanjutnya
memecah dan menjadi tak terlihat. Aliran turbulen mempunyai bilangan Reynold yang lebih
besar dari 4000.

Head Loss

Head loss adalah suatu nilai untuk mengetahui seberapa besarnya reduksi tekanan
total (total head) yang diakibatkan oleh fluida saat melewati sistem pengaliran. Total head,
seperti kita ketahui merupakan kombinasi dari elevation head (tekanan karena ketinggian
suatu fluida), Velocity head (tekanan karena kecepatan alir suatu fluida) dan pressure head
(tekanan normal dari fluida itu sendiri) .
Headloss tidak dapat dihindarkan pada penerapan sistem pengaliran fluida dilapangan. Head
loss dapat terjadi karena :
1. Gesekan antara fluida dan dinding pipa
2. Friksi antara sesama partikel pembentuk fluida tersebut
3. Turbulensi yang diakibatkan saat aliran di belokkan arahnya atau hal lain seperti misalnya
perubahan akibat komponen perpipaan (valve, gate, globe, reducer, atau kran).
Kehilangan karena friksi/gesekan adalah bagian dari total headloss yangterjadi saat
aliran fluida melewati suatu pipa lurus. Headloss pada suatu fluida pada umumnya
berbanding lurus dengan panjang pipa , nilai kuadrat dari kecepatan fluida dan nilai friksi
fluida yang disebut faktor friksi. dan juga nilai headloss berbanding terbalik dengan diameter
pipa.

Istilah Head Loss muncul sejak diawalinya percobaan-percobaan hidrolika abad ke


s e m b i l a n b e l a s , ya n g s a m a d e n g a n e n e r g i p e r s a t u a n berat fluida. Namun
perlu diingat bahwa arti fisik dari head loss adalah kehilangan energi mekanik
persatuan massa fluida. Sehingga satuan head loss adalah satuan panjang yang setara dengan
satu satuan energy yang dibutuhkan untuk memindahkan satu satuan massa fluida per satuan
panjang yang bersesuaian. Sehingga satuan headloss adalah satuan panjang yang setara
dengan satu satuan dibutuhkan untuk memindahkan satu satuan massa fluida etinggi satu
satuan panjang yang bersesuaian.

Aliran fluida pada belokan atau elbow menimbulkan head loss yang lebih daripada
aliran pada pipa lurus. Hal ini terutama timbulnya aliran sekunder akibat perubahan orientasi
penampang pada belokan. Koefisien lossnya dipengaruhi oleh radius kelengkungan kurva
belokan. Untuk sambungan yang kelengkungannya halus, koefisien lossnya akan lebih kecil.

Jenis Alat Ukur Aliran Fluida

Jenis alat ukur aliran fluida yang paling banyak digunakan diantara alat ukur lainnya
adalah alat ukur aliran fluida jenis beda tekanan. Hal ini dikarenakan oleh konstruksinya yang
sederhana dan pemasangannya yang mudah. Alat ukur aliran beda tekanan dibagi atas tiga
jenis, yaitu :

1. Tabung Venturi

Tabung Venturi adalah suatu alat yang terdiri dari pipa dengan penyempitan dibagian
tengah yang dipasang di dalam suatu pipa aliran untuk mengukur kecepatan aliran suatu zat
cair. Fluida yang digunakan pada venturi meter ini dapat berupa cairan gas dan uap.

Tabung Venturi ini merupakan alat primer dari pengukuran aliran yang berfungsi
untuk mendapatkan beda tekanannya. Sedangkan alat untuk menunjukkan besaran aliran
fluida yang diukur atau alat sekundernya adalah manometer tabung U. Tabung Venturi
memiliki kerugian praktek tertentu karena harganya mahal, memerlukan ruang yang besar
dan rasio diameter throatnya dengan diameter pipa tidak dapat diubah. Untuk sebuah tabung
venturi tertentu dan sistem manometer tertentu, kecepatan aliran yang dapat diukur adalah
tetap sehingga jika kecepatan aliran maka diameter throatnya dapat diperbesar untuk
memberikan pembacaan yang akurat atau diperkecil untuk mengakomodasi kecepatan aliran
maksimum yang baru.

Pada venturi ini fluida masuk melalui bagian inlet dan diteruskan kebagaian inlet
cone. Pada bagian inlet ini ditempatkan titik pengambilan tekanan awal. Pada bagian inlet
cone fluida akan mengalami penurunan tekanan yang disebabkan oleh bagian inlet cone yang
berbentuk kerucut atau semakin mengecil kebagian throat. Kemudian fluida akan masuk
kebagian throat, pada bagian throat inilah tempat-tempat pengambilan tekanan akhir dimana
throat ini berbentuk bulat datar. Laju fluida akan melewati bagian akhir dari tabung venturi
yaitu outlet cone. Outlet cone ini berbentuk kerucut dimanan bagian kecil berada pada throat
dan pada outlet cone ini tekanan akan kembali normal.

Jika aliran melalui tabung venturi benar-benar tanpa gesekan, maka tekanan fluida
yang meninggalkan meteran tentulah sama persis dengan tekanan fluida yang memasuki
meteran dan keberadaan meteran dalam jalur tersebut tidak akan menyebabkan kehilangan
tekanan yang bersifat permanen dalam tekanan.

Penurunan tekanan pada inlet cone akan dipulihkan dengan sempurna pada outlet
cone. Gesekan tidak dapat ditiadakan dan juga kehilangan tekanan yang permanen dalam
sebuah meteran yang dirancang dengan tepat.

Tabung Venturi terdiri dari 4 bagian yaitu:

a. Bagian inlet

Bagian yang berbentuk lurus dengan diameter yang sama seperti diameter pipa atau
cerobong aliran. Lobang pengambilan tekanan awal ditempatkan pada bagian ini.

b. Inlet cone

Bagian inlet yang berbentuk seperti kerucut yang berfungsi untuk menaikkan tekanan fluida
c. Throat (leher)

Bagian tempat pengambilan beda tekanan akhir, dimana pada bagian ini berbentuk
bulat datar. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengurangi atau menambah kecepatan dari aliran
yang keluar dari inlet cone

d. Outlet cone

Bagian akhir dari venturi meter yang merupakan kebalikan dari inlet cone.

2. Plat Orifice

Plat orifice merupakan pengukur aliran yang paling murah, paling mudah
pemasangannya tetapi kecil juga ketelitiannya di antara pengukur-pengukur aliran jenis head
flow meter. Pelat orifice merupakan plat yang berlubang dengan piringan tajam. Pelat-pelat
ini terbuat dari bahan-bahan yang kuat. selain terbuat dari logam, ada juga orificenya yang
terbuat dari plastic agar tidak terpengaruh oleh fluida yang menglir (erosi atau korosi).

3. Nozzle

Flow nozzle sama halnya dengan Plat Orifice yaitu terpasang diantara dua flens. Flow
nozzle biasa digunakan untuk aliran fluida yang besar, sedangkan plat orifice digunakan
untuk aliran fluida yang kecil. Karena flow nozzle mempunyai lubang besar dan kehilangan
tekanan lebih kecil dari pada plat orifice sehingga flow nozzle dipakai untuk fluida kecepatan
tinggi seperti uap tekanan tinggi pada temperatur tinggi dan untuk penyediaan air ketel. Flow
nozzle ini merupakan alat primer dari pengukuran aliran yang berfungsi untuk mendapatkan
beda tekanannya. Sedangkan alat untuk menunjukkan besaran aliran fluida yang diukur atau
alat sekundernya adalah berupa manometer. Pada flow nozzle kecepatan bertambah dan
tekanan semakin berkurang seperti dalam venturi meter. Dan aliran fluida akan keluar secara
bebas setelah melewati lubang flow nozzle sama seperti pada plat orifice.

Flow nozzle terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian yang melengkung dan bagian
yang silinder. Pada flow nozzle tap-up stream atau tap awal ditempatkan pada jarak yang
sama dengan diameter dari pipa yang digunakan, sedangkan untuk tap-down stream atau tap
akhir ditempatkan pada jarak setengah dari diameter pipa yang digunakan.
BAB III
MATERI DAN METODE

A. Materi

1. Alat

- Cock

- Drain valve

- Elbow

- Gate valve

- Globe valve

- Manometer U tebalik

- Nozzle

- Orifice

- Pipa

- Pompa sirkulasi

- Reducer

- Rota meter

- Thermometer

- Vent valve

- Venturi

2. Bahan

- Air
B. Metode

1. Ditutup semua vent valve dan drain valve, kemudian dibuka semua.

2. Dijalankan pompa sirkulasi.

3. Diatur laju arus dengan katub pengendali aliran.

4. Laju arus diukur dengan rota meter sampai 0,3 m³/jam.

5. Kemudian dibuka vent valve dan drain valve.

6. Diukur beda tegangan tekanan dengan manometer U terbalik dan dicatat perbedaan
tekanannya.

7. Percobaan diulangi untuk laju arus 0,5 m³/jam ; 0,7 m³/jam ; 0,9 m³/jam.
C. Gambar Rangkaian Percobaan
BAB V
HASIL KERJA PRAKTIKAN dan PEMBAHASAN

A. Hasil Kerja

TABEL 1

PERCO LAJU ARUS PERBEDAAN TEKANAN (mmHg) TEMPERATUR


BAAN
Q (m³/jam) PIPA½’’ (25-26) PIPA¾’’ (23-24) PIPA 1’’ (21-22) °C

1 0,5 15 16 40 30

2 0,6 14 17 20 30

3 0,7 20 25 28 30

TABEL 2

P LAJU TEM PERBEDAAN TEKANAN (mmHg)


ARUS
E °C ELBOW REDUCER REDUCER GATE GLOBE COCK ELB TIBA² TIBA²
Q OW
R 1-2 3–4 5–6 7-8 9-10 11-12 29-30 31-32
(m³/jam) 27-28

1 0,5 30 50 30 24 30 24 32 5 5 19

2 0,6 30 26 15 20 17 25 17 15 20 24

3 0,7 30 35 20 22 20 27 20 18 24 28
TABEL 3

PER LAJU ARUS TEMPE PERBEDAAN TEKANAN (mmHg)

COBAAN Q (m³/jam) RATUR


ORIFICE VENTURI NOZZLE
°C
17-18 15-16 13-14

1 0,5 33 1 13 27

2 0,6 33 31 32 41

3 0,7 33 9 30 41

B. Pembahasan

Tabel 1

Q = 0,6 m3/jam x 1 jam/3600 detik

Q = 0,1666 x 10-3 m3/detik

Kecepatan air dalam pipa

V½ = Q

Π/4 (d½)2

V½ = 0,1666 x 10-3 m3/detik

3,14/4 (0,0161 m)2

V½ = 0,1666 x 10-3 m3/detik

0,785. 0,000259 m2

V½ = 0,833 m/detik
V¾ = Q

Π/4 (d¾)2

V¾ = 0,1666 x 10-3 m3/detik

3,14/4 (0,0216 m)2

V¾ = 0,1666 x 10-3 m3/detik

0,785. 0,000467 m2

V¾ = 0,245 m/detik

V1 = Q

Π/4 (d1)2

V1 = 0,1666 x 10-3 m3/detik

3,14/4 (0,0296 m)2

V1 = 0,1666 x 10-3 m3/detik

0,785. 0,000876 m2

V1 = 0,4627 m/detik

Faktor gesekan

h½ = 35 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

h½ = 0,476 mH₂O

λ½ = 2.g.h½.d½

(V½)2.L
λ½ = 2. 9,8 m/det2. 0,476 mH₂O. 0,0161 m

(0,833 m/det)2. 2 m

λ½ = 0,1502 x m3/det2

1,3877 m3/det2

λ½ = 0,1082

h¾ = 39 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

h¾ = 0,530 mH₂O

λ¾ = 2.g.h¾.d¾

(V¾)2.L

λ¾ = 2. 9,8 m/det2. 0,530 mH₂O. 0,0216 m

(0,68195 m/det)2. 2 m

λ¾ = 0,1672 m3/det2

0,4281 m3/det2

λ¾ = 0,06190

h1 = 42 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

h1 = 0,571 mH₂O

λ1 = 2.g.h1.d1
(V1)2.L

λ1 = 2. 9,8 m/det2. 0,571 mH₂O. 0,0296 m

(0,36355 m/det)2. 2 m

λ1 = 0,3312 m3/det2

0,1200 m3/det2

λ1 = 2,7605

Bilangan Reynold

Red½ = d½ x V½

Red½ = 0,0161 m x 0,833 m/det

0,00764 x 104 m2/det

Red½ = 1,753 x 104 = 1753

Red¾ = d¾ x V¾

Red¾ = 0,0216 m x 0,4627 m/det

0,00764 x 104 m2/det

Red¾ = 1,295 x 104 = 1295

Red1 = d1 x V1

Red1 = 0,0296 m x 0,245 m/det

0,00764 x 104 m2/det


Red1 = 0,942 x 104 = 942

Tabel 2

Elbow

h₁-₂ = 45 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

h₁-₂ = 0,612 mH₂O

Ʃₒ ₁-₂ = h₁-₂

(V1)²/2g

Ʃₒ ₁-₂ = 0,4624 mH₂O

(0,245 m/det)² / 2. 9,8 m/det²

Ʃₒ ₁-₂ = 0,612 mH₂O

0,0030 m

Ʃₒ ₁-₂ = 204

Reducer

h3-4 = 33 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

h3-4 = 0,4488 mH₂O

Ʃₒ 3-4 = h3-4

(V1½ - V1)²/2g
Ʃₒ 3-4 = 0,4488 mH₂O

(0,245/2 m/det)² / 2. 9,8 m/det²

Ʃₒ 3-4 = 0,4488 mH₂O

0,00076 m

Ʃₒ 3-4 = 590,52

Reducer

h₁-₂ = 30 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

h₁-₂ = 0,408 mH₂O

Ʃₒ 5-6 = h5-6

(V1)²/2g

Ʃₒ 5-6 = 0,408 mH₂O

(0,245/2 m/det)² / 2. 9,8 m/det²

Ʃₒ ₁-₂ = 0,408 mH₂O

0,00076 m

Ʃₒ ₁-₂ = 536,84
Gate

h7-8 = 38 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

h7-8 = 0,5168 mH₂O

Ʃₒ 7-8 = h7-8

(V1)²/2g

Ʃₒ 7-8 = 0,5168 mH₂O

(0,245 m/det)² / 2. 9,8 m/det²

Ʃₒ 7-8 = 0,5168 mH₂O

0,0030 m

Ʃₒ 7-8 = 172,26

Globe

h9-10 = 59 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

h9-10 = 0,8024 mH₂O

Ʃₒ 9-10 = h9-10

(V1)²/2g

Ʃₒ 9-10 = 0,8024 mH₂O

(0,245 m/det)² / 2. 9,8 m/det²


Ʃₒ 9-10 = 0,8024 mH₂O

0,0030 m

Ʃₒ 9-10 = 267,46

Cock

h₁₁-₁₂ = 35 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

h₁₁-₁₂ = 0,476 mH₂O

Ʃₒ ₁₁-₁₂ = h₁₁-₁₂

(V1)²/2g

Ʃₒ ₁₁-₁₂ = 0,476 mH₂O

(0,245 m/det)² / 2. 9,8 m/det²

Ʃₒ ₁₁-₁₂ = 0,476 mH₂O

0,0030 m

Ʃₒ ₁₁-₁₂ = 158,66

Elbow

H27-28 = 23 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

H27-28 = 0,3128 mH₂O

Ʃₒ 27-28 = h27-28
(V1)²/2g

Ʃₒ 27-28 = 0,3128 mH₂O

(0,245 m/det)² / 2. 9,8 m/det²

Ʃₒ 27-28 = 0,0316 mH₂O

0,0030 m

Ʃₒ 27-28 = 104,26

Tiba-tiba

h29-30 = 34 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

h29-30 = 0,4624 mH₂O

Ʃₒ 29-30 = h29-30

(V1)²/2g

Ʃₒ 29-30 = 0,4624 mH₂O

(0,36355 m/det)² / 2. 9,8 m/det²

Ʃₒ 29-30 = 0,4624 mH₂O

0,0030 m

Ʃₒ 29-30 = 154,13
h3₁-3₂ = 34 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O
1 mmHg 1 mmH₂O

h3₁-3₂ = 0,4624 mH₂O

Ʃₒ 3₁-3₂ = h3₁-3₂

(V1)²/2g

Ʃₒ 3₁-3₂ = 0,4624 mH₂O

(0,245 m/det)² / 2. 9,8 m/det²

Ʃₒ 3₁-3₂ = 0,4624 mH₂O

0,0030 m

Ʃₒ 3₁-3₂ = 154,13

Tabel 3

Orifice

ho = 31 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

ho = 0,4216 mH₂O

Qo = Π do² √2g x ho
4
Qo = 3,14/4 (0,0147 m)² √2. 9,8 m/det². 0,4216 mH₂O
Qo = 0,785 (0,00021609 m²) √8,26336 m²/det²

Qo= 0,00016963 m2 (2,8746 m/det)

Qo = 0,0004876 m³/det
Q0 = 0,4876 X 10-3

Venturi

hv = 32 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

hv = 0,4352 mH₂O

Qv = Π dv² √2g x hv
4
Qv = 3,14/4 (0,0119 m)² √2. 9,8 m/det². 0,4352 mH₂O
Qv = 0,00111163 m2 x 2,9206 m/det

Qv= 0,003246 m3/det

Qv = 0,3246 x 10-2

Nozzle

hn = 41 mmHg x 13,6 mmH₂O x 0,001 mH₂O


1 mmHg 1 mmH₂O

hn = 0,5576 mH₂O

Qn = Π dn² √2g x hn
4
Qn = 3,14/4 (0,0131 m)² √2. 9,8 m/det². 0,5576 mH₂O
Qn = 0,000134713 m2 x 2,4686 m/det

Qn = 0,0003325 m3/det
Qn = 0,3325 x 10-3

Koefisien arus

Co = Q
Qo
Co = 0,1666 x 10-3 m³/det

0,4876 x 10-3 m³/det

Co = 0,3416

Cv = Q
Qv
Cv = 0,1666 x 10-3 m³/det

0,3325 x 10-3 m³/det

Cv = 0,5010

Cn = Q
Qn
Cn = 0,1666 x 10-3 m³/det

0,3246 x 10-3 m3/det

Cn = 0,5132
C. Grafik
D. Tabulasi Data

Tabel 1

P LAJU PERBEDAAN TE KECEPATAN AIR FAKTOR BILANGAN


E ARUS TEKANAN (mmHg) M DALAM PIPA GESEKAN REYNOLD
R Q (m/det)
(m³/ja P
m) PIPA PIPA PIPA PIPA PIPA PIPA λ½ λ¾ λ1 Red ½ Red ¾ Red 1
°C
1’’ ½’’ ¾’’ 1’’
½’’ ¾’’

1 0,5 42 33 41 33 0,639 0,354 0,189 0,22 0,25 4,52 0,1347 0,1003 0,007
4 9 0 04 42 81 3

2 0,6 35 39 42 33 0,833 0,462 0,245 0,10 0,39 2,76 1,7554 1,3081 0,919
7 82 05 05 2

3 0,7 32 58 70 33 0,953 0,530 0,282 0,07 0,59 3,47 0,20 0,14 0,109
55 43 35 2

Tabel 2

P LAJU TEM PERBEDAAN TEKANAN (mmHg)


ARUS
E °C ELBOW REDUCER REDUCER GATE GLOBE COCK ELB TIBA² TIBA²
Q OW
R 1–2 3–4 5-6 7-8 9-10 11-12 29-30 31-32
(m³/jam) 27-28

1 0,5 33 58 43 25 41 46 55 28 32 34

2 0,6 33 33 45 33 30 38 59 35 23 34

3 0,7 33 64 39 41 43 62 46 10 22 30
ELBOW REDUCER GATE GLOBE COCK ELBOW TIBA² TIBA² KECEPATA BIL. REY
N AIR NOLD
(m³/det)

432,49 1299,5 755,55 306,03 335,89 410,53 209 238,8 0,1300 x 10-3 0,0073
5
x 10-4

204 590,52 172,26 267,46 158,66 104,26 154,1 154,1 0,1666 x 10-3 942
3 3

229 38,7153 40,700 153,8997 221,89 175,36 35,78 48,73 0,194 x 10-3 0,0764
7 47 94 68
x 10-4

Tabel 3

PER LAJU TEM PERBEDAAN TEKANAN LAJU ARUS TEORITIS (m³/det)


ARUS (mmHg)
Q °C
(m³/jam) ORIFICE VENTURI NOZZLE ORIFICE VENTURI NOZZLE

1 0,5 33 0,8400 x 0,204 x 0,204 x 1,5476 0,6372 0,3621


10-4 10-4 10-4

2 0,6 33 0,3246 x 0,3325 x 0,3325 x 0,4216 0,4352 0,5576


10-2 10-3 10-3

3 0,7 33 0,26 x 0,44 x 10-3 0,88 x 0,0746 0,0220 0,0440


10-3 10-3

KECEPATAN BILANGAN
AIR DALAM REYNOLD
PIPA (m/det)

0,1300 x 10-3 0,0073 x


10-4

0,1666 x 10-3 942

0,282 x 10-3 0,109 x 10-4


BAB VI

KESIMPULAN

Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Laju arus berbanding lurus dengan bilangan reynold. Semakin besar laju arus,
semakin besar juga bilangan reynold. Sebaliknya, semakin kecil laju arus semakin
kecil juga bilangan reynold.

2. Laju arus berbanding lurus dengan faktor gesekan. Semakin besar laju arus, semakin
besar juga faktor gesekan. Sebaliknya, semakin kecil laju arus semakin kecil juga
faktor gesekan.

3. Laju arus berbanding lurus dengan kecepatan air dalam pipa. Semakin besar laju arus,
semakin besar juga kecepatan air dalam pipa. Sebaliknya, semakin kecil laju arus
semakin kecil juga kecepatan air dalam pipa.

4. Diameter pipa berbanding terbalik dengan kecepatan air dalam pipa. Semakin kecil
diameter pipa, semakin besar kecepatan air dalam pipa. Sebaliknya, semakin besar
diameter pipa semakin kecil kecepatan air dalam pipa.

5. Diameter pipa berbanding terbalik dengan bilangan reynold. Semakin kecil diameter
pipa, semakin besar bilangan reynold. Sebaliknya, semakin besar diameter pipa
semakin kecil bilangan reynold.

6. Koefisien kehilangan tekanan yang paling besar terjadi pada sambungan globe valve.
BAB VI

DAFTAR PUSTAKA