Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Renang adalah olahraga yang meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan
manusia. tanpa disadari, sebaliknya aktifitas di kolam renang atau tempat
rekreasi wisata air lainnya ternyata dapat menyebabkan penyakit. Berbagai
penyakit mulai dari yang ringan hingga yang berat dapat terjadi penularannya
lewat air yaitu, tenggelam saat berenang, terpleset di pinggir kolam renang, dan
gigitan serangga air.
Serangga sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati juga
memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu sebagai herbivor,
karnivor, dan detrivor. Disamping itu terdapat fungsi lain dari serangga yaitu
sebagai bioindikator. Jenis serangga ini mulai banyak diteliti karena bermanfaat
untuk mengetahui kondisi kesehatan suatu ekosistem. Serangga akuatik paling
banyak digunakan untuk mengetahui kondisi pencemaran air pada suatu daerah.
Serangga air sangat penting dalam sistem ekologi karena berbagai alasan.
Serangga air adalah utama bioindikator dalam badan air seperti sungai.
Biomonitoring berkaitan dengan penggunaan serangga atau tanggapan terhadap
rangsangan di habitat air untuk menentukan kualitas lingkungan sehat atau
tercemar.
Selain ditemukan di sungai-sungai, serangga air juga dapat ditemukan di
kolam saat melakukan renang. Adanya konsentrasi kaporit yang tinggi, dalam
air kolam renang bisa juga terdapat benda-benda asing seperti pada kolam renang
yang langsung menggunakan air dari sumber mata air alami. Pasti akan banyak
terdapat serangga di sekitar kolam renang. Wisatawan yang tidak mengetahui
hal itu bisa saja terkena dengan serangga tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep dasar gigitan serangga air?
2. Bagiamanakah konsep askep pada pasien dengan gigitan serangga air?

1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dasar gigitan serangga air
2. Untuk mengetahui konsep askep pada pasien dengan gigitan serangga air

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Gigitan Serangga Air


1. Definisi Gigitan Serangga Air
Gigitan serangga adalah adanya kelainan akibat gigitan atau tusukan
serangga yang menyebabkan reaksi terhadap toksin atau alergen yang
dikeluarkan serangga. Gigitan serangga biasanya untuk pertahanan diri dan
untuk melindungi sarang serangga.
Trauma karena serangan binatang laut yang menyengat biasanya tidak
berat/ hebat, namun binatang ini mengeluarkan toksin saat dia menyengat
yang menyebabkan terjadinya reaksi antigen-antibody, bila reaksinya hebat
bisa menyebabkan kematian
Binatang laut yang dikatagorikan menggigit dan menyengat salah
satunya adalah serangga air. Serangga air merupakan kelompok serangga
yang sebagian hidupnya berada di badan air. Serangga air sebagai makanan
ikan dan sebagian dapat menyalurkan patogen pada manusia dan hewan.
Serangga air merupakan indikator yang baik bagi kualitas air. Beberapa dari
serangga air sensitif terhadap polusi sedangkan yang lain dapat hidup dan
berkembang biak air yang terganggu dan sangat terkena polusi (Popoola dan
Otalekor, 2011).
Reaksi gigitan serangga (insect bite) adalah reaksi hipersensitivitas atau
alergi pada kulit akibat gigitan dan kontak dengan serangga. Insect Bite atau
gigitan serangga adalah kelainan akibat gigitan atau tusukan serangga yang
disebabkan reaksi terhadap toksin atau alergen yang dikeluarkan artropoda
penyerang. Kebanyakan gigitan dan sengatan digunakan untuk pertahanan.
Gigitan serangga biasanya untuk melindungi sarang mereka. Sebuah
gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan bisa (racun) yang tersusun dari
protein dan substansi lain yang mungkin memicu reaksi alergi kepada
penderita. Gigitan serangga juga mengakibatkan kemerahan dan bengkak di
lokasi yang tersengat. Insect bites adalah gigitan atau serangan serangga.
Gigitan serangga seringkali menyebabkan bengkak, kemerahan, rasa sakit

3
(senut-senut), dan gatal-gatal. Reaksi tersebut boleh dibilang biasa, bahkan
gigitan serangga ada yang berakhir dalam beberapa jam sampai berhari-hari.
Bayi dan anak-anak labih rentan terkena gigitan serangga dibanding orang
dewasa.

2. Tanda dan Gejala


Beberapa tanda dan gejala yang biasa muncul setelah mengalami
gigitan oleh serangga yaitu:
a. Kulit bengkak
b. Ruam pada kulit yang tergigit
c. Kemerahan
d. Nyeri pada luka
e. Reaksi alergi
f. Demam
g. Sesak nafas
h. Mual

4
3. Pathway Gigitan Serangga

Gigitan Serangga

Racun Masuk ke Dalam Tubuh

Toksik Menyebar Melalui Darah Toksik Ke Jaringan Sekitar Gigitan

Inflamasi

Gangguan System Neurologist Gangguan System Cardiovaskuler Sistem Imun Nyeri

Gangguan Pada Hipotalamus Reaksi Endotoksik MK : Resiko Infeksi MK : Nyeri Akut

Kontrol Suhu dan Nyeri terganggu Miokard

Gangguan System Pernafasan


Curah Jantung

Obstruksi Saluran Nafas


MK : Penurunan Curah Jantung
Sesak
MK : Hipertermi Sekresi Mediator Nyeri :Histamin, Kelumpuhan otot-otot
Bradinin, Prostaglandin kejaringan pernafasan
MK : Ketidakefektifan Bersihan
Jalan Nafas
MK : Ketidakefektifan pola nafas 5
MK : Nyeri Akut
4. Patofisiologi
Gigitan atau sengatan serangga akan menyebabkan kerusakan kecil
pada kulit, lewat gigitan atau sengatan antigen yang akan masuk langsung
direspon oleh sistem imun tubuh. Racun dari serangga mengandung zat-zat
yang kompleks. Reaksi terhadap antigen tersebut biasanya akan melepaskan
histamin, serotonin, asam formic atau kinin. Lesi yang timbul disebabkan
oleh respon imun tubuh terhadap antigen yang dihasilkan melalui gigitan atau
sengatan serangga. Reaksi yang timbul melibatkan mekanisme imun. Reaksi
yang timbul dapat dibagi dalam 2 kelompok :
a. Reaksi immediate
1) Ditandai dengan reaksi lokal atau reaksi sistemik.
2) Timbul lesi karena adanya toksin yang dihasilkan oleh gigitan atau
sengatan serangga.
3) Nekrosis jaringan yang lebih luas dapat disebabkan karena trauma
endotel yang dimediasi oleh pelepasan neutrofil. Spingomyelinase D
adalah toksin yang berperan dalam timbulnya reaksi neutrofilik. Enzim
Hyaluronidase yang juga ada pada racun serangga akan merusak
lapisan dermis sehingga dapat mempercepat penyebaran dari racun
tersebut.
b. Reaksi delayed
Kebanyakan penderita merespon sesaat setelah merasa digigit
serangga, namun ada pula gejala yang timbul dengan delayed reaction,
misalnya beberapa hari setelah gigitan berlangsung. Keluhan kadang-
kadang diikuti dengan reaksi sistemik gatal seluruh tubuh, urtikaria, dan
angioedema, serta dapat berkembang menjadi suatu ansietas, disorientasi,
kelemahan, GI upset (cramping, diarrhea, vomiting), dizziness, sinkop
bahkan hipotensi dan sesak napas. Gejala dari delayed reaction mirip
seperti serum sickness, yang meliputi demam, malaise, sakit kepala,
urtikaria, limfadenopati dan poliartritis.

6
5. Komplikasi
Salah satu masalah serius yang diakibatkan oleh gigitan atau
serangan gigitan serangga didantaranya adalah reaksi alergi berat
(anaphylaxis). Reaksi ini tergolong biasa, namun dapat mengancam
kahidupan dan membutuhkan pertolongan darurat. Tanda-tanda atau
gejalanya adalah:
a. Terkejut (shock). Dimana ini bisa terjadi bila sistem peredaran darah tidak
mendapatkan masukan darah yang cukup untuk organ-organ penting
(vital)
b. Batuk, desahan, sesak nafas, merasa sakit di dalam mulut atau
kerongkongan/tenggorokan.
c. Bengkak di bibir, lidah, telinga, kelopak mata, telapak tangan, tapak kaki,
dan selaput lendir (angioedema)

6. Pemeriksaan Penunjang
Pada dermis ditemukan pelebaran ujung pembuluh darah dan sebukan
sel radang akut. Pemeriksaan pembantu lainnya yakni dengan pemeriksaan
laboratorium dimana terjadi peningkatan jumlah eosinofil dalam pemeriksaan
darah. Dapat juga dilakukan tes tusuk dengan alergen tersangka.

7. Penatalaksanaan Medis
Prinsip penangannya adalah mengatasi respon dari peradangan, baik
yang bersifat lokal maupun sistemik. Reaksi peradangan lokal dapat
dikurangi dengan segera mungkin dengan mencucui daerah gigitan dengan
air sabun lalu kompres dengan es.
Bila keadaan akut dengan angioderma karena terjadinya obstruksi
saluran nafas. Bila disertai obstruksi slauran nafas diindikasi dengan
pemberian epinefrin subcutan (SC). Dilanjutkan debngan kortikosteroid
prednison 60-80 mg/hari selama 3 hari.
Dalam kondisi stabil , terapi yang dapat diberikan :

7
a. Sistemik
1) Antihistamin sedatif : klofeniramin maleat 2x4 mg/hari selama
7 hari atau setrizin 1x10 mg/hari selama 7 hari
2) Antihistamin non sedatif : loratadin 1x10 mg/hari selama 7 hari
b. Topikal
Kortikosteroid topikal potensi sedang kuat, misalnya krim
mometason furoat 0,1% atau krim betametason valerat 0,5%
diberikan selama 2 kali sehari selama 7 hari.

Gatal biasanya merupakan keluhan utama. Terapi yang biasanya


digunakan untuk menghindari gatal dan mengontrol terjadinya infeksi
sekunder pada kulit adalah campuran topikal sederhana seperti menthol,
fenol, atau camphor bentuk lotion atau gel dapat membantu untuk
mengurangi gatal, dan juga dapat diberikan antihistamin oral seperti
diphenyhidramin 25-50 mg untuk mengurangi rasa gatal.
Steroid topikal dapat digunakan untuk mengatasi reaksi
hipersensitifitas dari sengatan atau gigitan. Infeksi sekunder dapat diatasi
dengan pemberian antibiotik topikal maupun oral, dan dapat juga dikompres
dengan larutan kalium permanganate
Jika terjadi reaksi berat dengan gejala sistemik, lakukan pemasangan
tourniket proksimal dari tempat gigitan dan dapat diberikan pengenceran
Epinefrin 1 : 1000 dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB diberikan secara subkutan
dan jika diperlukan dapat diulang sekali atau dua kali dalam interval waktu
20 menit. Epinefrin dapat juga diberikan intramuskuler jika syok lebih berat.
Dan jika pasien mengalami hipotensi injeksi intravena 1 : 10.000 dapat
dipertimbangkan.
Untuk gatal dapat diberikan injeksi antihistamin seperti klorfeniramin
10 mg atau difenhidramin 50 mg. Pasien dengan reaksi berat danjurkan untuk
beristirahat dan dapat diberikan kortikosteroid sistemik.

8
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gigitan Serangga Air
1. Pengkajian Keperawatan
Primary Survey
a. Airway : Pastikan kepatenan jalan napas dan kebersihannya segera
b. Breathing : Kaji irama, kedalaman dan keteraturan pernapasan.
c. Circulation : Kaji tanda perdarahan dan risiko syok, mengkaji warna
kulit, disfungsi otonomik yang menyebabkan hipertensi, hipotensi,
aritmia, takikardi dan henti jantung.
d. Disability : Cek adanya penurunan kesadaran
e. Exposure : Pembengkakan pada daerah gigitan, kemerahan sampai
dengan perubahan warna kulit, nyeri, gatal-gatal pada area yang terkena
gigitan dan adanya peningkatan suhu tubuh
Secondary Survey
Cek dengan metode AMPLE serta melakukan pemeriksaan fisik :
a. Kepala : bentuk kepala, keadaan kepala
b. Mata : isokor/anisokor, reaksi pupil, konjungtiva anemis/tidak anemia
c. Hidung : simetris, adanya polip
d. Telinga : bentuk telinga, adanya serumen
e. Mulut : mukosa bibir, simetris.
f. Leher : penggunaan otot bantu pernafasan (sternokleidomastoidius),
tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
g. Dada : pengembangan dada simetris, adanya suara nafas tambahan
h. Abdomen : simetris, bising usus, tidak ada pembesaran hepar, tidak ada
massa.
i. Ekstremitas : akral dingin, adanya jejas, udema, kekakuan otot
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
b. Ketidakefektifan pola nafas
c. Penurunan curah jantung
d. Nyeri akut
e. Hipertermi
f. Risiko Infeksi

9
3. Intervensi Keperawaan
Tujuan dan Kriteria
No Diagnosa Keperawatan Intervensi (NIC)
Hasil (NOC)
1. Ketidakefektifan bersihan jalan Setelah dilakukan Airway Management
nafas tindakan keperawatan □ Buka jalan nafas
Batasan Karakteristik : ..x.. jam diharapkan menggunakan head tilt chin
□ Batuk yang tidak efektif mampu lift atau jaw thrust bila perlu
□ Dispnea mempertahankan □ Posisikan pasien untuk
□ Gelisah kebersihan jalan nafas memaksimalkan ventilasi
□ Kesulitan verbalisasi dengan kriteria : □ Identifikasi pasien perlunya
□ Mata terbuka lebar NOC : pemasangan alat jalan nafas
□ Ortopnea Respiratory status : buatan (NPA, OPA, ETT,
□ Penurunan bunyi nafas Airway Patency Ventilator)
□ Perubahan frekuensi □ Respirasi □ Lakukan fisioterpi dada jika
nafas dalam batas perlu
□ Perubahan pola nafas normal □ Bersihkan secret dengan
□ Sianosis □ Irama suction bila diperlukan
□ Sputum dalam jumlah pernafasan □ Auskultasi suara nafas, catat
yang berlebihan teratur adanya suara tambahan
□ Suara nafas tambahan □ Kedalaman □ Kolaborasi pemberian
□ Tidak ada batuk pernafasan oksigen
Faktor yang berhubungan : normal □ Kolaborasi pemberian obat
Lingkungan : □ Tidak ada bronkodilator
□ Perokok akumulasi □ Monitor RR dan status
□ Perokok pasif sputum oksigenasi (frekuensi, irama,
□ Terpajan asap □ Batuk kedalaman dan usaha dalam
Obstruksi jalan nafas : berkurang/hila bernapas)
□ Adanya jalan nafas ng □ Anjurkan pasien untuk batuk
buatan efektif
□ Benda asing dalam jalan □ Berikan nebulizer jika
nafas diperlukan
□ Eksudat dalam alveoli Asthma Management
□ Hiperplasia pada dinding □ Tentukan batas dasar
bronkus respirasi sebagai pembanding
□ Mukus berlebih

10
□ Penyakit paru obstruksi □ Bandingkan status sebelum
kronis dan selama dirawat di rumah
□ Sekresi yang tertahan sakit untuk mengetahui
□ Spasme jalan nafas perubahan status pernapasan
Fisiologis : □ Monitor tanda dan gejala
□ Asma asma
□ Disfungsi □ Monitor frekuensi, irama,
neuromuskular kedalaman dan usaha dalam
□ Infeksi bernapas
□ Jalan nafas alergik
2. Ketidakefektifan pola nafas Setelah dilakukan tindakan NIC
keperawatan ..x.. jam Oxygen Therapy
Batasan Karakteristik : diharapkan pola nafas □ Bersihkan
□ Bradipnea pasien teratur dengan mulut, hidung
□ Dispnea kriteria : dan secret
□ Fase ekspirasi memanjang NOC : trakea
□ Ortopnea Respiratory status : □ Pertahankan
□ Penggunaan otot bantu Ventilation jalan nafas
pernafasan □ Respirasi dalam yang paten
□ Penggunaan posisi tiga titik batas normal □ Siapkan
□ Peningkatan diameter (dewasa: 16- peralatan
anterior-posterior 20x/menit) oksigenasi
□ Penurunan kapasitas vital □ Irama pernafasan □ Monitor
□ Penurunan tekanan ekspirasi teratur aliran oksigen
□ Penurunan tekanan inspirasi □ Kedalaman □ Monitor
□ Penurunan ventilasi semenit pernafasan normal respirasi dan
□ Pernafasan bibir □ Suara perkusi dada status O2
□ Pernafasan cuping hidung normal (sonor) □ Pertahankan
□ Pernafasan ekskursi dada □ Retraksi otot dada posisi pasien
□ Pola nafas abnormal (mis., □ Tidak terdapat □ Monitor
irama, frekuensi, orthopnea volume aliran
kedalaman) □ Taktil fremitus oksigen dan
□ Takipnea normal antara dada jenis canul
kiri dan dada kanan yang
digunakan.

11
Faktor yang berhubungan □ Ekspansi dada □ Monitor
□ Ansietas simetris keefektifan
□ Cedera medulaspinalis □ Tidak terdapat terapi oksigen
□ Deformitas dinding dada akumulasi sputum yang telah
□ Deformitas tulang □ Tidak terdapat diberikan
□ Disfungsi neuromuskular penggunaan otot □ Observasi
□ Gangguan muskuluskeletal bantu napas adanya tanda
□ Gangguan Neurologis tanda
(misalnya : hipoventilasi
elektroenselopalogram(EE □ Monitor
G) positif, trauma kepala, tingkat
gangguan kejang) kecemasan
□ Hiperventilasi pasien yang
□ Imaturitas neurologis kemungkinan
□ Keletihan diberikan
□ Keletihan otot pernafasan terapi O2
□ Nyeri
□ Obesitas
□ Posisi tubuh yang
menghambat ekspansi paru
□ Sindrom hipoventilasi

3. Penurunan curah jantung/ Setelah diberikan asuhan Cardiac Care


Risiko penurunan curah keperawatan selama □ Evaluasi adanya nyeri dada
jantung …..x…. jam diharapkan (Intesitas, lokasi,
masalah penurunan curah rambatan, durasi, serta
Batasan Karakteristik: jantung dapat teratasi faktor yang menimbulkan
Perubahan Frekuensi/Irama dengan kriteria hasil : dan meringankan gejala).
Jantung NOC: □ Monitor EKG untuk
□ Bradikardia Cardiac Pump perubahan ST, jika
□ Perubahan EKG (Contoh Effectiveness diperlukan.
: aritmia, abnormalitas □ Tekanan darah sistolik □ Lakukan penilaian
konduksi, iskemia) dalam batas normal komprehenif untuk
□ Palpitasi □ Tekanan darah diastolik sirkulasi perifer (Cek nadi
□ Takikardia dalam batas normal perifer, edema,CRT, serta

12
Perubahan Preload □ Heart rate dalam batas warna dan temperatur
□ Penurunan tekanan vena normal ekstremitas) secara rutin.
sentral (Central venous □ Peningkatan fraksi □ Monitor tanda-tanda vital
pressure, CVP) ejeksi secara teratur.
□ Peningkatan tekanan □ Peningkatan nadi □ Monitor status
vena sentral (Central perifer kardiovaskuler.
venous pressure, CVP) □ Tekanan vena sentral □ Monitor disritmia jantung.
□ Penurunan tekanan arteri (Central venous □ Dokumentasikan disritmia
paru (Pulmonary artery pressure) dalam batas jantung.
wedge pressure, PAWP) normal □ Catat tanda dan gejala dari
□ Peningkatan tekanan □ Gejala angina penurunan curah jantung.
arteri paru (Pulmonary berkurang □ Monitor status repirasi
artery wedge pressure, □ Edema perifer sebagai gejala dari gagal
PAWP) berkurang jantung.
□ Edema □ Gejala nausea □ Monitor abdomen sebagai
□ Keletihan berkurang indikasi penurunan perfusi.
□ Murmur □ Tidak mengeluh □ Monitor nilai laboratorium
□ Distensi vena jugularis dispnea saat istirahat terkait (elektrolit).
□ Peningkatan berat badan □ Tidak terjadi sianosis □ Monitor fungsi
Perubahan Afterload peacemaker, jika
□ Warna kulit yang Circulation Status diperlukan.
abnormal (Contoh : □ MAP dalam batas □ Evaluasi perubahan
pucat, kehitam- normal tekanan darah.
hitaman/agak hitam, □ PaO2 dalam btas normal □ Sediakan terapi antiaritmia
sianosis) (60-80 mmHg) berdasarkan pada
□ Perubahan tekanan darah □ PaCO2 dalam batas kebijaksanaan unit
□ Kulit lembab normal (35-45 mmHg) (Contoh medikasi
□ Penurunan nadi perifer □ Saturasi O2 dalam batas antiaritmia, cardioverion,
□ Penurunan resistensi normal (> 95%) defibrilator), jika
vaskular paru □ Capillary Refill Time diperlukan.
(Pulmonary Vascular (CRT) dalam batas □ Monitor penerimaan atau
Resistance, PVR) normal (< 3 detik) respon pasien terhadap
□ Peningkatan resistensi medikasi antiaritmia.
vaskular paru

13
(Pulmonary Vascular □ Monitor dispnea,
Resistance, PVR) keletihan, takipnea,
□ Penurunan resistensi ortopnea.
vaskular sistemik
Systemic Vascular Cardiac Care : Acute
Resistance, PVR) □ Monitor kecepatan pompa
□ Peningkatan resistensi dan ritme jantung.
vaskular sistemik □ Auskultasi bunyi jantung.
(Systemic Vascular □ Auskultasi paru-paru
Resistance, PVR) untuk crackles atau suara
□ Dispnea nafas tambahan lainnya.
□ Oliguria □ Monitor efektifitas terapi
□ Pengisian kapiler oksigen, jika diperlukan.
memanjang □ Monitor faktor-faktor yang
Perubahan Kontraktilitas mempengaruhi aliran
□ Batuk oksigen (PaO2, nilai Hb,
□ Crackle dan curah jantung), jika
□ Penurunan indeks diperlukan.
jantung □ Monitor status neurologis.
□ Penurunan fraksi ejeksi □ Monitor fungsi ginjal
□ Penurunan indeks kerja (Nilai BUN dan kreatinin),
pengisian ventrikel kiri jika diperlukan.
(Left ventricular stroke □ Administrasikan medikasi
work index, LVSWI) untuk mengurangi atau
□ Penurunan indeks mencegah nyeri dan
volume sekuncup (Stroke iskemia, sesuai kebutuhan.
volume index, SVI)
□ Ortopnea
□ Dispnea parokismal
nokturnal
□ Bunyi S3
□ Bunyi S4
Perilaku/Emosi
□ Kecemasan atau ansietas
Gelisah

14
Berhubungan dengan:
□ Perubahan frekuensi
jantung (Heart rate, HR)
□ Perubahan ritme jantung
□ Perubahan afterload
□ Perubahan kontraktilitas
□ Perubahan preload
□ Perubahan volume
sekuncup
4. Nyeri Akut Setelah dilakukan Analgesic Administration
Batasan Karakteristik asuhan keperawatan □ Tentukan lokasi,
□ Bukti nyeri dengan selama ...x….. jam karakteristik, kualitas,
menggunakan standar diharapkan nyeri dan derajat nyeri
daftar periksa nyeri berkurang dengan sebelum pemberian
untuk pasien yang tidak kriteria hasil : obat
dapat NOC: □ Cek riwayat alergi
mengungkapkannya Pain Level terhadap obat
(mis., Neonatal Infant □ Melaporkan □ Pilih analgesik yang
Pain Scale, Pain gejala nyeri tepat atau kombinasi
Assesment Checklist berkurang dari analgesik lebih
for Senior with Limited □ Melaporkan dari satu jika
Ability to lama nyeri diperlukan
Communicate) berkurang □ Tentukan analgesik
□ Diaphoresis □ Tidak tampak yang diberikan
□ Dilatasi pupil ekspresi wajah (narkotik, non-
□ Ekspresi wajah nyeri kesakitan narkotik, atau NSAID)
(mis., mata kurang □ Tidak gelisah berdasarkan tipe dan
bercahaya, tampak □ Respirasi keparahan nyeri
kacau, gerakan mata dalam batas □ Tentukan rute
berpencar atau tetap normal pemberian analgesik
pada satu focus, (dewasa: 16- dan dosis untuk
meringis) 20 kali/menit) mendapat hasil yang
□ Focus menyempit maksimal
(mis., persepsi waktu, □ Pilih rute IV
proses berfikir, dibandingkan rute IM

15
interaksi dengan orang untuk pemberian
dan lingkungan) analgesik secara teratur
□ Focus pada diri sendiri melalui injeksi jika
□ Keluhan tentang diperlukan
intensitas □ Evaluasi efektivitas
menggunakan standar pemberian analgesik
skala nyeri (mis., skala setelah dilakukan
Wong-Baker FACES, injeksi. Selain itu
skala analog visual, observasi efek samping
skala penilaian pemberian analgesik
numerik) seperti depresi
□ Keluhan tentang pernapasan, mual
karakteristik nyeri muntah, mulut kering
dengan menggunakan dan konstipasi.
standar isntrumen nyeri □ Monitor vital sign
(mis., McGill Pain sebelum dan sesudah
Questionnaire, Brief pemberian analgesik
Pain Inventory) pertama kali
□ Laporan tentang
perilaku
nyeri/perubahan
aktivitas (mis., anggota
keluarga, pemberi
asuhan)
□ Mengekspresikan
perilaku (mis., gelisah,
merengek, menangis,
waspada)
□ Perilaku distraksi
□ Perubahan pada
parameter fisiologis
(mis., tekanan darah,
frekuensi jantung,
frekuensi pernafasan,
saturasi oksigen, dan

16
endtidal karbon
dioksida (CO2))
□ Perubahan posisi untuk
menghindari nyerii
□ Perubahan selera
makan
□ Putus asa
□ Sikap melindungi area
nyeri
□ Sikap tubuh
melindungi
Faktor yang berhubungan :
□ Agens cedera biologis
(mis., infeksi, iskemia,
neoplasma)
□ Agens cedera fisik
(mis., abses, amputasi,
luka bakar, terpotong,
mengangkat berat,
prosedur bedah,
trauma, olahraga
berlebihan)
□ Agens cedera kimiawi
(mis., luka bakar,
kapsaisin, metilen
klorida, agens
mustard)

5. Hipertermia Setelah dilakukan NIC :


Batasan tindakan Temperature Regulation
Karakteristik : keperawatan ..x.. □ Monitor suhu paling tidak setiap 2 jam , sesuai
□ Apnea jam diharapkan kebutuhan

17
□ Bayi tidak mampu □ Pasang alat monitor suhu inti secara kontinu,
dapat mempertahankan sesuai kebutuhan
mempertahan suhu tubuh dalam □ Monitor tekanan darah, nadi, dan respirasi,
kan rentang normal sesuai kebutuhan
menyusui dengan kriteria : □ Monitor suhu dan warna kulit
□ Gelisah NOC : □ Monitor dan laporkan adanya tanda dan gejala
□ Hipotensi Thermoregulation dari hipertermia
□ Kejang □ Suhu tubuh □ Tingkatkan intake cairan dan nutrisi adekuat
□ Koma dalam □ Instruksikan pasien bagaimana mencegah
□ Kulit rentang keluarnya panas dan serangan panas
kemerahan normal □ Diskusikan pentingnya termoregulasi dan
□ Kulit terasa (36,50C – kemungkinan efek negatif dari demam yang
0
hangat 37,5 C) berlebihan, sesuai kebuthan
□ Letargi □ Denyut □ Informasikan pasien mengenai indikasi adanya
□ Postur nadi dalam kelelahan akibat panas dan penanganan
abnormal rentang emergensi yang tepat, sesuai kebutuhan
□ Stupor normal □ Gunakan matras pendingin, selimut yang
□ Takikardia □ Respirasi mensirkulasikan air, mandi air hangat, kantong
□ Takipnea dalam batas es atau bantalan jel, dan kateterisasi pendingin
□ Vasodilatasi normal (16 intravaskuler untuk menurunkan suhu tubuh,
– sesuai kebutuhan
Faktor yang 20x/menit) □ Sesuaikan suhu lingkungan untuk kebutuhan
berhubungan : □ Tidak pasien
□ Agen menggigil □ Berikan medikasi yang tepat untuk mencegah
farmaseutikal □ Tidak atau mengontrol menggigil
□ Aktivitas dehidrasi □ Berikan pengobatan antipiretik, sesuai
berlebihan □ Tidak kebutuhan
□ Dehidrasi mengeluh
□ Iskemia sakit kepala Fever Treatment
□ Pakaian yang □ Warna kulit □ Pantau suhu dan tanda-tanda vital lainnya
tidak sesuai normal □ Monitor warna kulit dan suhu
□ Peningkatan Vital Sign □ Monitor asupan dan keluaran, sadari perubahan
laju □ Suhu tubuh kehilangan cairan yang tak dirasakan
metabolisme dalam □ Beri obat atau cairan IV (misalnya, antipiretik,
rentang agen antibakteri, dan agen anti menggigil )

18
□ Penurunan normal □ Tutup pasien dengan selimut atau pakaian
perspirasi (36,50C – ringan, tergantung pada fase demam (yaitu :
□ Penyakit 37,50C) memberikan selimut hangat untuk fase dingin ;
□ Sepsis □ Denyut menyediakan pakaian atau linen tempat tidur
□ Suhu jantung ringan untuk demam dan fase bergejolak /flush)
lingkungan normal (60- □ Dorong konsumsi cairan
tinggi 100 □ Fasilitasi istirahat, terapkan pembatasan
□ Trauma x/menit) aktivitas-aktivitas jika diperlukan
□ Irama □ Berikan oksigen yang sesuai
jantung □ Tingkatkan sirkulasi udara
normal □ Pantau komplikasi-komplikasi yang
□ Tingkat berhubungan dengan demam serta tanda dan
pernapasan gejala kondisi penyebab demam (misalnya,
dalam kejang, penurunan tingkat
rentang kesadaran,ketidakseimbangan asam basa, dan
normal (16- perubahan abnormalitas sel)
20 x/menit) □ Pastikan tanda lain dari infeksi yang terpantau
□ Irama pada orang karena hanya menunjukkan demam
napas ringan atau tidak demam sama sekali selama
vesikuler proses infeksi
□ Tekanan □ Pastikan langkah keamanan pada pasien yang
darah gelisah
sistolik □ Lembabkan bibir dan mukosa hidung yang
dalam kering
rentang
normal (90- Vital Sign Monitoring
120 □ Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan status
mmHg) pernapasan dengan tepat
□ Tekanan □ Monitor dan laporkan tanda dan gejala
darah hipertermia
diastolik □ Monitor warna kulit, suhu, dan kelembaban
dalam □ Monitor sianosis sentral dan perifer
rentang □ Monitor akan adanya kuku berbentuk clubbing
normal (70- □ Monitor terkait dengan adanya tiga tanda
90 mmHg) Cushing Reflex (misalnya : tekanan nadi lebar,

19
□ Kedalaman bradikardia, dan peningkatan tekanan darah
inspirasi sistolik)
dalam □ Identifikasi kemungkinan perubahan tanda-
rentang tanda vital
normal
Infection Severity Infection Control
□ Tidak ada □ Bersihkan lingkungan dengan baik setelah
kemerahan digunakan oleh setiap pasien
□ Cairan □ Ganti peralatan perawatan per pasien sesuai
(luka) tidak protokol institusi
berbau □ Pertahankan teknik isolasi yang sesuai
busuk □ Batasi jumlah pengunjung
□ Tidak ada □ Annjurkan pasien mengenai teknik mencuci
sputum tangan dengan tepat
purulen □ Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan
□ Tidak ada pada saat memasuki dan meninggalkan ruangan
rrainase pasien
purulent □ Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
□ Tidak ada yang sesuai
piuria/ □ Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
nanah tindakan perawatan pasien
dalam urine □ Pakai sarung tangan sebagaimana dianjurkan
□ Suhu tubuh oleh kebijakan pencegahan universal
stabil □ Pakai pakaian ganti atau jubah saat menangani
(36,50C – bahan-bahan yang infeksius
37,50C) □ Pakai sarung tangan steril dengan tepat
□ Tidak ada □ Pertahankan lingkungan aseptik selama
nyeri pemasangan alat
□ Tidak □ Ganti letak IV perifer dan line central dan
mengalami dressing sesuai dengan petunjuk umum
lethargy □ Pastikan penanganan aseptik dari semua saluran
□ Nafsu IV
makan □ Gunakan kateter intermiten untuk mengurangi
normal kejadian infeksi kandung kemih
□ Berikan terapi antibiotik yang sesuai

20
□ Jumlah sel □ Anjurkan pasien meminum antibiotik seperti
darah putih yang diresepkan
normal □ Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala
dalam infeksi dan kapan harus melaporkannya kepada
rentang penyedia perawatan kesehatan
normal □ Ajarkan pasien dan anggota keluarga cara
(4,10 – menghindari infeksi.
11,00
10^3/µl) Infection Protection
Hidration □ Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan
□ Turgor lokal
kulit elastis □ Monitor hitung mutlak granulosit, WBC, dan
□ Membran hasil-hasil diferensial
mukosa □ Monitor kerentanan terhadap infeksi
lembab □ Batasi jumlah pengunjung yang sesuai
□ Intake □ Skrining jumlah pengunjung terkait penyakit
cairan menular
adekuat □ Partahankan teknik asepsis pada pasien yang
□ Output urin beresiko
□ Tidak □ Pertahankan teknik isolasi yang sesuai
merasa □ Berikan perawatan kulit yang tepat untuk area
haus (yang mengalami) edema
□ Warna urin □ Periksa kulit dan selaput lender untuk adanya
tidak keruh kemerahan, kehangatan ekstrim, atau drainase
□ Tekanan □ Periksa kondisi setiap sayatan bedah atau luka
darah □ Tingkatkan asupan nutrisi yang cukup
dalam □ Anjurkan asupan cairan dengan tepat
rentang □ Anjurkan istirahat
normal □ Pantau adanya perubahan tingkat energi atau
□ Denyut malaise
nadi dalam □ Instruksikan pasien untuk minum antibiotik yang
rentang diresepkan
normal dan □ Jaga penggunaan antibiotik dengan bijaksana
adekuat □ Jangan mencoba pengobatan antibiotik untuk
infeksi virus

21
□ Tidak ada □ Ajarkan pasien dan keluarga pasien mengenai
peningkata perbedaan-perbedaan antara infeksi virus dan
n bakteri
hematokrit □ Ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan
□ Tidak ada gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya
penurunan kepada pemberi layanan kesehatan
berat □ Lapor dugaan infeksi pada personil pengendali
badan’ infeksi
□ Otot rileks □ Lapor kultur positif pada personal pengendali
□ Tidak infeksi.
mengalami
diare Fluid Management
□ Suhu tubuh □ Jaga intake yang adekuat dan catat output pasien
dalam □ Monitor status hidrasi (misalnya : membran
rentang mukosa lembab, denyut nadi adekuat, dan
normal tekanan darah ortostatik)
□ Monitor hasil laboratorium yang relevan dengan
retensi cairan (misalnya : peningkatan berat
jenis, peningkatan BUN, penurunan hematokrit,
dan peningkatan kada osmolalitas urin)
□ Monitor tanda-tanda vital pasien
□ Monitor perubahan berat badan pasien
□ Monitor status gizi
□ Distribusikan asupan cairan selama 24 jam
□ Konsultasikan dengan dokter jika tanda-tanda
dan gejala kelebihan volume cairan memburuk

22
Resiko infeksi NOC : NIC :
6.  Immune Status  Infection Control
 Knowledge : 1. Pertahankan teknik aseptif.
Infection 2. Batasi pengunjung bila perlu.
control. 3. Cuci tangan setiap sebelum
 Risk control dan sesudah tindakan
Setelah dilakukan keperawatan.
tindakan keperawatan 4. Gunakan baju, sarung tangan
selama 1x20 menit sebagai alat pelindung.
diharapkan pasien 5. Ganti letak IV perifer dan
mengerti dengan resiko dressing sesuai dengan
infeksi yang bisa terjadi petunjuk umum.
dengan kriteria hasil: 6. Tingkatkan intake nutrisi.
1. Klien bebas dari 7. Berikan terapi antibiotik
tanda dan gejala 8. Monitor tanda dan gejala
infeksi. infeksi sistemik dan lokal.
2. Menunjukkan 9. Pertahankan teknik isolasi
kemampuan k/p.
untuk mencegah 10. Inspeksi kulit dan membran
timbulnya mukosa terhadap kemerahan,
infeksi. panas, drainase.
3. Jumlah leukosit 11. Monitor adanya luka.
dalam batas 12. Dorong masukan cairan.
normal. 13. Dorong istirahat.
4. Menunjukkan 14. Ajarkan pasien dan keluarga
perilaku hidup tanda dan gejala infeksi
sehat.
5. Status imun,
gastrointestinal,
genitourinaria
dalam batas
normal

23
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Gigitan serangga adalah adanya kelainan akibat gigitan atau tusukan
serangga yang menyebabkan reaksi terhadap toksin atau alergen yang
dikeluarkan serangga. Gigitan serangga biasanya untuk pertahanan diri dan
untuk melindungi sarang serangga.
Trauma karena serangan binatang laut yang menyengat biasanya tidak berat/
hebat, namun binatang ini mengeluarkan toksin saat dia menyengat yang
menyebabkan terjadinya reaksi antigen-antibody, bila reaksinya hebat bisa
menyebabkan kematian.
Binatang laut yang dikatagorikan menggigit dan menyengat salah satunya
adalah serangga air. Serangga air merupakan kelompok serangga yang sebagian
hidupnya berada di badan air. Serangga air sebagai makanan ikan dan
sebagian dapat menyalurkan patogen pada manusia dan hewan. Serangan
binatang laut berbahaya merupakan salah satu resiko yang dihadapi oleh para
wisatawan dan orang yang berada/bekerja diair laut. Disamping itu resiko karena
sifat alamiah laut seperti arus, pasang surut, ombak, suhu air laut, kondisi didasar
laut dan jenis pekerjaan/kegiatan yang dilaukan dilaut juga menimbulkan resiko
trauma diair laut.

A. Saran
Sebagai tenaga kesehatan professional, perawat hendaknya dapat
memberikan asuhan keperawatan keperawatan pada pasien yang mengalami
Gigitan Serangga Air untuk mencegah atau meminimalkan komplikasi yang
mungkin terjadi. Sehingga dapat diharapkan dapat terwujud kesehatan pada
klien yang mengalami Gigitan Serangga Air secara optimal dan mumpuni.

24
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M. Butcher, Howard K. Dochterman, Joanne. Wagner, Cherly.


2013. Nursing Intervensions Classification (NIC). USA : ELSEVIER.
Carie, 2012. Sengatan Hewan Laut. Terdapat :
http://www.healthline.com/health/marine-animal-stings-or-bites (diakses
tanggal 21 Agustus 2019)
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made
Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC
Gilbert, Gregory., D’Souza, Peter., Pletz, Barbara. (2009). Patient Assessment
Routine Medical Care Primary And Secondary Survey. San Mateo County
EMS Agency.
Kasihsa, Dian. 2013. Askep Gadar Gigitan Binatang. (online). Available :
https://www.scribd.com/doc/172297625/Askep-Gadar-Gigitan-Binatang
(diakses tanggal 21 Agustus 2019)
Lombardo, M.C. 2006. Cedera Sistem Saraf Pusat. Price, S. A, dan Wilson, L. M.
Patofisiologis: Konsep Klinis Proses- proses Penyakit. Jakarta :EGC
Moorhead, Sue. Johnson, Mario. Maas, Meridean. Swanson, Elizabeth. 2013.
Nursing Outcomes Classification (NOC). USA : ELSEVIER
NANDA International. 2015. Diagnosa Keperawatan Defisinisi dan Klasifikasi
2015-2017 Edisi 10. Jakarta: EGC
NANDA.2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan NANDA Nic Noc. Yogyakarta;
Mediaaction
Thygerson,A.,Gulli,B.,&Krohmer,J.R.(2011). First AID; Pertolongan pertama (5th
ed.). Jakarta : Erlangga.
Thok, Fian. 2015. Askep Gigitan Binatang. (online). Available.
https://www.scribd.com/document/260918651/ASKEP-GIGITAN-
BINATANG. (diakses tanggal 22 Agustus 2019)
Wiratni, Ayu. 2017. Pathway Gigitan Binatang. (Online) Available :
https://www.scribd.com/document/338433722/Pathway-Gigitan-Binatang,
(diakses tanggal 22 Agustus 2019)

25