Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Banyaknya kasus kontroversi yang terjadi ditengah-tengah masyarakat

mengenai imunisasi Measles-Rubella (MR) yang diprogramkan oleh pemerintah,

membuat beberapa orangtua khususnya ibu enggan melakukan imunisasi MR

kepada anaknya. Masyarakat beranggapan bahwa imunisasi MR dapat

menyebabkan demam, bengkak, nyeri, hingga kelumpuhan. Masyarakat juga

berpendapat bahwa imunisasi MR menggunakan vaksin yang palsu. Padahal

imunisasi MR tersebut bertujuan untuk mempertahankan tingkat kekebalan tubuh

terhadap penyakit Measles dan Rubella. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan

masyarakat yang masih rendah, belum mengerti manfaat apa saja yang diperoleh

dari imunisasi MR, dan dampak yang terjadi jika tidak diberikan imunisasi MR

(British Broadcasting Corporation News, 2018).

Berdasarkan data dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit,

sejak tahun 2014-2016 sekitar 1,7 juta anak belum mendapatkan imunisasi MR

serta belum lengkap status imunisasinya (Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia, 2018). Provinsi Jawa Timur menargetkan cakupan imunisasi MR

sebesar 91,5% akan tetapi masih ada 8 kota salah satunya yaitu kota Blitar yang

tidak dapat mencapai target (Dinas Kesehatan Jawa Timur, 2017).

Pada tahun 2007 di Indonesia diperkirakan 30.000 anak meninggal setiap

tahunnya karena komplikasi dari measles rubella dengan hasil pemeriksaan 12-

39% measles pasti dan 16-43% rubella pasti. Kemudian dari tahun 2010 sampai

1
2

2015 diperkirakan terdapat 23.164 kasus measles dan 30.463 kasus rubella dengan

70% terjadi pada anak usia <15 tahun (Meilisa, 2011).

Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa penyebab

kematian balita tertinggi disebabkan oleh measles yaitu lebih dari 75% (WHO,

2017). Sedangkan di Indonesia, United Nations Children’s Fund (UNICEF)

mencatat sekitar 30.000-40.000 anak setiap tahun menderita penyakit measles

(Farmacia, 2012).

Imunisasi adalah bentuk kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan RI untuk

mencegah penyakit menular, menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009

tentang Kesehatan. Seseorang yang mendapatkan imunisasi berarti telah

mendapatkan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Tahun 2014 imunisasi

pentavalent lanjutan resmi masuk dalam Program Imunisasi Nasional untuk

menurunkan angka kesakitan, kematian, dan kecacatan pada balita akibat suatu

penyakit (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2014).

Sejak tahun 2017, Indonesia menambahkan imunisasi MR menjadi

imunisasi wajib yang harus diikuti oleh anak-anak. Imunisasi MR adalah

imunisasi tambahan yang tergolong sangat penting. Imunisasi MR dibutuhkan

untuk memberikan kekebalan sekaligus mencegah penyakit measles dan rubella

yang dapat berakibat fatal dan berbahaya jika tidak diberikan (Ikatan Dokter Anak

Indonesia, 2014).

Penyakit measles dan rubella dapat menyebabkan kematian janin dalam

kandungan, kecacatan berupa sindrom rubella konginetal, kehilangan

pendengaran, gangguan perkembangan, gangguan pernafasan, bahkan kematian.

Tanpa imunisasi sekitar tiga dari 100 anak meninggal karena penyakit measles.
3

(Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2014). Adanya penolakan masyarakat terhadap

imunisasi MR dikarenakan adanya keraguan akan keaslian dan kehalalan vaksin

MR tersebut (Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian

Kesehatan, 2018).

Peran tenaga kesehatan dalam memberikan informasi tambahan seperti

mengadakan kampanye tentang imunisasi MR merupakan salah satu tindakan

yang paling penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat. Keberhasilan

capaian imunisasi MR sangat ditentukan oleh motivasi keluarga dalam

memberikan imunisasi MR kepada anaknya, hal itu tidak terlepas dari bagaimana

memberikan sosialisasi tentang imunisasi MR, tersedianya sarana pelayanan

imunisasi MR, dan cara pemberian imunisasi yang aman (KemenKes RI, 2018).

Kementerian kesehatan juga menegaskan bahwa paradigma kesehatan sudah

saatnya dimulai melalui pendekatan keluarga dan penguatan puskesmas. Hal ini

diharapkan mampu mengurangi, menghapus, dan memberantas penyakir campak

dan rubella di daerah tertentu. Serta mengurangi efek infeksi secara fisik dan

psikologis diharapkan mampu menekan beban keuangan negara (KemenKes RI,

2017).

Pengetahuan tentang imunisasi MR sangat diperlukan bagi masyarakat

khususnya seorang ibu. Beberapa hal yang terkait dengan pemberian imunisasi

adalah status kesehatan anak ketika akan diberikan imunisasi, pengalaman tentang

imunisasi, pengertian tentang imunisasi, kontraindikasi, dan dampak jika tidak

diberikan imunisasi (Hidayat, 2009). Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor

pendidikan formal yang sangat erat hubungannya, diharapkan bahwa seseorang


4

dengan pendidikan yang tinggi maka akan semakin luas pengetahuan seseorang

tersebut (Notoatmodjo, 2014).

Keberhasilan pemberian pendidikan kesehatan kepada masyarakat

tergantung pada komponen pembelajaran. Media penyuluhan kesehatan

merupakan salah satu komponen dari proses pembelajaran. Terdapat beberapa

media pendidikan kesehatan, salah satunya adalah media audiovisual

(Notoatmodjo, 2012).

Media audiovisual merupakan salah satu media penyuluhan kesehatan yang

penyerapannya melalui indra penglihatan dan pendengaran untuk membantu

tulisan dan kata yang diucapkan dalam menularkan pengetahuan, sikap, dan ide.

Kelebihan dari media audiovisual ini adalah penyampaian materi akan lebih jelas

maknanya sehingga sasaran dapat memahami informasi yang diberikan

(Notoatmodjo, 2012). Dari hasil penelitian pendidikan kesehatan dengan media

audiovisual oleh Desi Permatasari (2013) sangat membantu dalam proses

pembelajaran. Dari hasil penelitian oleh Fatahillah Sang Lubis (2016) tentang

perbedaan pendidikan kesehatan menggunakan metode ceramah dan audiovisual

terhadap tingkat pengetahuan dan sikap perawatan karies gigi anak menunjukkan

nilai rata-rata post test kelompok metode ceramah sebesar 15,03 sementara nilai

rata-rata post test kelompok media audiovisual sebesar 18,26. Hal ini dapat

disimpulkan bahwa media audiovisual lebih efektif dalam mempengaruhi

pengetahuan responden.

Menurut penelitian-penelitian sebelumnya mengatakan bahwa faktor-faktor

yang mempengaruhi status imunisasi MR adalah pengetahuan, pendidikan ibu,

pekerjaan ibu, dan faktor-faktor pendukung lainnya. Penelitian yang dilakukan


5

oleh Palupi (2011) juga mengatakan bahwa adanya pengaruh penyuluhan

imunisasi terhadap pengetahuan dan sikap ibu tentang imunisasi dasar. Dari hasil

penelitian Merlinta (2018) juga menunjukkan bahwa adanya hubungan antara

pengetahuan tentang MR dengan minat keikutsertaan vaksinasi MR.

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Posyandu Desa

Bendosewu didapatkan data di tahun 2017 jumlah balita usia 18-24 bulan

sebanyak 106 dan yang mengikuti imunisasi MR adalah 104. Sedangkan di tahun

2018 jumlah balita usia 18-24 bulan adalah 112 dan yang mengikuti imunisasi MR

sebanyak 109 balita. Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa di

tahun 2017 terdapat 2 orang yang tidak mengikuti imunisasi MR, dan di tahun

2018 terdapat 3 orang yang tidak mengikuti imunisasi MR karena keluarga bayi

tersebut tidak menyetujui anaknya diberi imuniasi MR. Mereka beranggapan

imuniasi MR haram dan dapat menimbulkan anaknya sakit. Dari hasil wawancara

dengan ibu peserta posyandu didapatkan dari 7 ibu peserta posyandu yang

mengikuti imunisasi MR 6 ibu peserta posyandu belum mengetahui tentang

imunisasi MR. Mereka mengikuti program imunisasi hanya untuk memenuhi

kewajiban pemberian imunisasi dari posyandu. Dari hasil wawancara dengan

salah satu staf di Posyandu tersebut didapatkan bahwa belum ada yang

memberikan pendidikan kesehatan dengan menggunakan media audiovisual

sebagai medianya. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Media Audiovisual

Terhadap Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi MR.


6

1.2 Rumusan Masalah

Adakah pengaruh pendidikan kesehatan dengan media audiovisual terhadap

pengetahuan ibu tentang imunisasi MR?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui adanya pengaruh pendidikan kesehatan dengan media

audiovisual terhadap pengetahuan ibu tentang imunisasi MR.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang imunisasi MR sebelum diberikan

pendidikan kesehatan dengan media audiovisual.

b. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang imunisasi MR setelah diberikan

pendidikan kesehatan dengan audiovisual.

c. Menganalisa pengaruh pendidikan kesehatan dengan media audiovisual

terhadap pengetahuan ibu tentang imunisasi MR.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai sumbangan khususnya

dalam bidang kepustakaan yang terkait dengan pengaruh pendidikan kesehatan

terhadap pengetahuan ibu tentang imunisasi MR, serta sebagai referensi mata

kuliah Keperawatan Anak.

1.4.2 Manfaat Praktis

a. Bagi Responden

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan responden

tentang imunisasi MR pada anak.


7

b. Bagi Perawat

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi perawat dalam

memberikan pendidikan kesehatan tentang imunisasi MR pada anak.

c. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi tenaga

kesehatan setempat dalam membuat kebijakan dan penyuluhan tentang manfaat

mengenai program imunisasi MR pada anak.

d. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran atau informasi dasar untuk

penelitian imunisasi MR yang berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang

imunisasi MR pada anak.