Anda di halaman 1dari 5

BAB 5 : Permasalahan Lingkungan Hidup

Pencemaran
Pencemaran adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan/ atau komponen
lain ke dalam air atau udara. Pencemaran juga bisa berarti berubahnya tatanan (komposisi) air
atau udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/ udara menjadi kurang
atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.
Ada bebarapa jenis pencemaran di dunia yaitu :
Pencemaran air : adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air
seperti danau sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Pencemaran air merupakan
masalah global utama yang membutuhkan evaluasi dan revisi kebijakan sumber daya air pada
semua tingkat (dari tingkat internasional hingga sumber air pribadi dan sumur). Telah dikatakan
bahwa pousi air adalah penyebab terkemuka di dunia untuk kematian dan penyakit,
Akibatnya :
 Dapat menyebabkan banjir
 Erosi
 Kekurangan sumber air
 Dapat membuat sumber penyakit
 Tanah Longsor
 Dapat merusak Ekosistem sungai
 Kerugian untuk Nelayan
Pencemaran udara : adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia,
atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan,
dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.
Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia.
Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap
sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat
langsung dan lokal, regional, maupun global.
Hujan asam
pH biasa air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan
NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari
hujan asam ini antara lain:
 Mempengaruhi kualitas air permukaan
 Merusak tanaman
 Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga memengaruhi
kualitas air tanah dan air permukaan
 Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan
Efek rumah kaca
Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di
lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi.
Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan
global.
Dampak dari pemanasan global adalah:
 Peningkatan suhu rata-rata bumi
 Pencairan es di kutub
 Perubahan iklim regional dan global
 Perubahan siklus hidup flora dan fauna
 Kerusakan lapisan ozon
Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami bumi
yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian
molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai
stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih
cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.
Pencemaran Tanah : adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan
mengubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah
cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air
permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan
pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta
limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Dampaknya :
Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan
kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan
pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan
perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan
tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai
makanan.
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat
menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada
konservasi tanaman dimana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa
bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia
derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.
Penanganannya :
Remediasi
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis
remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-siteadalah
pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari
pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.
Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah
yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya
yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke
bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah
dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.
Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan
mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat
pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).
Menurut Dr. Anton Muhibuddin, salah satu mikroorganisme yang berfungsi sebagai
bioremediasi adalah jamur vesikular arbuskular mikoriza (vam). Jamur vam dapat berperan
langsung maupun tidak langsung dalam remediasi tanah. Berperan langsung, karena
kemampuannya menyerap unsur logam dari dalam tanah dan berperan tidak langsung karena
menstimulir pertumbuhan mikroorganisme bioremediasi lain seperti bakteri tertentu, jamur dan
sebagainya.
Jenis-jenis Masalah lingkungan hidup di Indonesia :
Masalah Lingkungan hidup di Indonesia saat ini:
– penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan;
– polusi air dari limbah industri dan pertambangan;
– polusi udara di daerah perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3
di dunia);
– asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan;
– penghancuran terumbu karang;
– pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju;
– pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur liar di Sidoarjo,
Jawa Timur;
– hujan asam yang merupakan akibat dari polusi udara.

Peningkatan Keasaman Air laut

Planet bumi sama seperti tubuh kita. Bumi terdiri dari sebagian besar air yang sebagian besar
berada di laut. Bila ada suatu peristiwa terjadi pada keadaan air dilaut, maka, hal tersebut akan
mempengaruhi kehidupan semua makhluk yang ada dibumi. Peristiwa yang terjadi saat ini
adalah peningkatan keasaman air laut. Sebenarnya, peningkatan kadar keasaman air laut dibumi
sudah terdeteksi sejak tahun 1751.

Ilmuwan menemukan bahwa antara tahun 1751 sampai 1994, kadar pH air laut menurun dari
8.25 ke sekitar 8.14. Semakin rendah kadar pH air, maka semakin tinggi tingkat keasaman air
tersebut. Dan, bila kita mencari tahu penyebab dari peristiwa ini, tentu kita semua sudah tahu
bahwa penyebabnya adalah manusia.

Penurunan kadar pH ini disebabkan karena penyerapan gas CO2 oleh air laut yang berlebihan.
Gas CO2 yang terlarut didalam air laut menguraikan partikel air laut dan menambah partikel H
didalam air yang menyebabkan meningkatnya kadar keasaman air laut. CO2 ini berasal dari
pembakaran bahan bakar fosil. Akan tetapi, bila kita hanya menganggap enteng masalah kadar
keasaman laut ini, maka kita perlu melihat dampak yang bisa ditimbulkannya pada bumi.

Dampak Pada Makhluk Hidup;


55 juta tahun yang lalu pada masa Paleocene sampai Eocene, terjadi juga peristiwa peningkatan
kadar keasaman air laut yang melebih batas normal yang ditentukan. Hasilnya, tidak terjadi
perubahan signifikan pada permukaan air laut. Akan tetapi, dibawah permukaan air laut, terjadi
proses kepunahan secara besar-besaran.
Hampir semua jenis makhluk laut yang hidup pada masa itu, terancam punah. Dampak nyatanya
pada kehidupan makhluk laut ada banyak. Contohnya adalah pada ikan badut atau clownfish
yang kita kenal dari film Finding Nemo. Makhluk ini tidak dapat mengenali predator mereka
karena tingkat keasamanan yang berbeda diair laut menyebabkan air laut mempunyai gerakan
dan arus yang berbeda dari biasanya.

Banyak juga makhluk hidup yang hidup dilaut menderita suatu kelainan yang disebut
hypercapnia, yaitu meningkatnya kadar keasaman didalam darah mereka. Hal ini menyebabkan
banyak ikan menjadi beracun dan tidak layak konsumsi. Dan, hilanglah salah satu komoditas
ekspor unggulan banyak negara di dunia.

Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa peningkatan kadar CO2 didalam air laut juga
berpengaruh pada kehidupan batu koral. Koral dan tumbuhan dan hewan yang hidup dibatu
karang cenderung tidak mampu bertahan. Bila batu karang hilang maka tembok alami yang
menghambat ombak juga akan hilang. Hal ini akan memperbesar efek dari erosi yang disebabkan
oleh air laut dan ombak pada pantai dan daratan yang artinya, kehidupan manusia juga terancam.

Dampak Lainnya;
Selain kehidupan makhluk laut yang terancam, ternyata meningkatnya kadar keasaman air laut
juga memperburuk dampak global warming. Air laut menyimpan gas karbon sangat banyak
hanya kalah dengan lapisan litosfer. Dan, air laut selalu melepaskan gas ini ke udara dan menarik
gas karbon yang ada diudara ke dalam. Hal ini disebut sebagai siklus karbon.

Karena jumlah gas karbondioksida di dalam air laut yang berlebihan, maka jumlah gas
karbondioksida yang dilepaskan juga akan sangat banyak. Hal ini menambah jumlah gas rumah
kaca yang meningkatkan suhu bumi dan menyebabkan global warming bertambah pula. Jadi,
sudah seharusnya kita mengurangi penggunaan bahan bakar yang dapat menambah kadar gas
CO2 diatmosfir. Bila kita mampu melakukannya, kita akan dapat mengurangi dampak buruk dari
global warming dan mencegah terjadinya peristiwa meningkatnya keasaman air laut.