Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya, sehingga Kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul ”Ilmu
Dakwah Dalam Perspektif Ontologis, Epistemologis Dan Aksiologis” Di kelas C1BKI
Institut Agama Islam Negeri Kudus Tahun 2019.

Kami dalam menyelasaikan makalah ini tidak terlepas dari bantuan, pengarahan dan
dorongan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan hal tersebut Kami mengucapkan terima
kasih kepada yang terhormat :

1. Bapak Nur Ahmad, S.Sos I, M.S.I, selaku Dosen Pengampu yang telah banyak
memberikan bimbingan dan arahan kepada kami dalam penyusunan makalah ini.

2. Rekan-rekan seperjuangan khusunya teman-teman kelas C1BKI dan semua pihak yang
tidak dapat Kami sebutkan satu persatu.

Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari
isi maupan tulisan. Oleh karena itu, Kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak
yang dapat membangun sehingga dalam penulisan ini bisa disempurnakan.

Akhir kata, Kami berharap semoga makalah ini akan dapat memberikan manfaat bagi
kita semua, khsusnya untuk kemajuan ilmu dakwah.

Kudus, September 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................................................... i


KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 1
C. Tujuan Penelitian .................................................................................................. 1

BAB II ISI
A. Ontologis Dakwah ................................................................................................ 2
B. Epistemologis Dakwah ......................................................................................... 3
C. Persoalan Aksiologis Dalam Dakwah .................................................................. 6

BAB III PENUTUP


A. Simpulan .............................................................................................................. 9

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 10

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dakwah pada mulanya dipahami sebagai perintah Allah yang tertuang dalam al-
Qur’an. Bagi setiap muslim yang taat kepada Allah, maka perintah berdakwah itu wajib
dilaksanakan. Ketika dakwah dilaksanakan dengan baik, lalu disadari bahwa dakwah itu
merupakan suatu kebutuhan hidup manusia. Dan ketika dakwah disadari sebagai suatu
kebutuhan hidup, maka dakwah pun menjadi suatu aktivitas setiap muslim kapan pun dan
dimana pun mereka berada. Kemudian aktivitas dakwah pun berkembang dalam berbagai
situasi dan kondisi dengan berbagai dinamikanya.

Dalam perkembangan terakhir di Indonesia, khususnya dalam lingkungan Perguruan


Tinggi Keagamaan Islam, dakwah berkembang sebagai satu disiplin ilmu dan kedudukannya
disejajarkan dengan disiplin ilmu Islam lainnya, seperti Filsafat, Tasawuf, Hadist dan disiplin
ilmu lainnya.

B. Rumusan Masalah
A. Apakah yang dimaksud dengan Ontologis dalam Dakwah?
B. Apakah yang dimaksud dengan Epistemologis dalam Dakwah?
C. Bagaimana persoalan Aksiologis dakwah Islam?

C. Tujuan
Dalam tujuan pembahasan ini merupakan hal yang sangat penting untuk dijelaskan
sebab dengan tujuan pembahasan ini mudah untuk mengetahui beberapa hal yang menjadi
pokok permasalahan dalam perumusan masalah diatas, maka tujuan dari pembahasan
makalah ini adalah sebagai berikut:

 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Ontologis dalam dakwah


 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Epistemologis dalam dakwah
 Untuk mengetahui persoalam aksiologis dakwah Islam

1
BAB II
ISI

A. ONTOLOGIS DAKWAH
Ontologi merupakan bagian dari filsafat sistematis metafisika. Ontologi menyelidiki
sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara-cara yang berbeda dalam mana
entitas dari kategori-kategori logis yang berlainan (seperti obyek-obyek fisis, hal universal,
abstraksi, bilangan dan lain-lain) dapat dikatakan ada. Dalam kerangka tradisional ontologi
dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum mengenai hal ada, sedangkan dalam
pemakaiannya pada akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.
Namun dalam kaitannya dengan filsafat keilmuan, masalah ontologi dari filsafat
dakwah berkaitan dengan pandangan tentang hakekat ilmu atau pengetahuan ilmiah di sekitar
persoalan dakwah. Dengan demikian, aspek ontologi pada eksistensi dakwah adalah apa yang
nyata secara fundamental dalam dakwah. Yaitu, objek kajian ilmu dakwah.
 Objek Kajian Ilmu Dakwah
Ilmu dakwah pada hakikatnya adalah ilmu yang menyadarkan dan
mengembalikan manusia pada fitrahnya, pada fungsi dan tujuan hidup manusia
menurut Islam. Maka, ilmu dakwah adalah ilmu transformatif untuk mewujudkan
ajaran yang bersifat fitri (Islam) menjadi tatanan Khairu al-ummah atau mewujudkan
iman menjadi amal saleh kolektif yang tumbuh dari kesadaran intelektual yang
sepenuhnya berpihak kepada kemanusiaan.
Objek material ilmu dakwah, menurut penjelasan Cik Hasan Bisri adalah
unsur substansial ilmu dakwah yang terdir dari enam komponen, yaittu da’i, mad’u,
metode, materi, media dan tujuan dakwah. Sedangkan obyek forma ilmu dakwah
adalah sudut pandang tertentu yang dikaji dalam disiplin utama ilmu dakwah, yaitu
disiplin tabligh, pengembangan masyarakat Islam dan management dakwah.
Amrullah Achmad berpendapat, obyek material ilmu dakwah adalah semua
aspek dalam ajaran Islam (Al-Qur’an dan al-Sunnah), hasil ijtihad dan realisasinya
dalam sistem pengetahuan, teknologi, sosial, hukum, ekonomi, pendidikan dan
lainnya, khususnya kelembagaan Islam. Obyek material ilmu dakwah inilah yang
menunjukkan bahwa ilmu dakwah adalah satu rumpun dengan ilmu-ilmu keislaman
lainnya, karena obyek yang sama juga dikaji oleh ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti

2
fiqih, ilmu kalam dan lainnya. Ilmu dakwah menemukan sudut pandang yang berbeda
dengan ilmu-ilmu keislaman itu pada forma-nya yaitu kegiatan mengajak umat
manusia supaya kembali kepada fitrahnya sebagai muslim dalam seluruh aspek
kehidupannya. Secara kategoris obyek forma ilmu dakwah adalah ruang persentuhan
antara perilaku keagamaan, perilaku keislaman dan perilaku teknologis dalam dimensi
ruang dan waktu. Secara terperinci obyek forma ilmu dakwah itu terdiri dari realitas
dakwah berupa proses interaksi unsur-unsur dakwah.[1]
 Interaksi Tuhan, Manusia dan Alam
Ciptaan Tuhan itu tak terhitung jumlah dan jenisnya. Namun, terhdap ciptaan-
ciptaan Tuhan itu dapat dikelompokkan ke dalam 2 macam. Yaitu, ciptaan Tuhan
yang dapat ditangkap oleh indera dan instrumen yang dimiliki manusia. Ciptaan jenis
ini dikenal dengan dunia empiris. Dan lainnya adalah ciptaan Tuhan yang tidak akan
dapat ditangkap oleh kemampuan manusia. Ciptaan jenis ini dikenal dengan dunia
non-empiris. Di antara semua ciptaan Tuhan itu, manusia menduduki tempat amat
khusus. Manusia adalah satu-satunya ciptaan Tuhan yang memiliki dua potensi
sekaligus: potensi untuk mengelola dan merusak alam semesta.[2]

B. EPISTEMOLOGIS DAKWAH
Kata epistemologi dari bahasa yunani, episteme (pengetahuan, ilmu pengetahuan) dan
logos (pengetahuan, informasi). Dapat dikatakan, pengetahuan tentang pengetahuan.
Adakalnya disebut “Teori Pengetahuan”.[3] Dalam kamus ilmiah popular juga diterangkan
bahwa epistemologi termasuk cabang dari filsafat yang menyelidiki sumber serta kebenaran
pengetahuan.[4] Dan dakwah dilihat dari segi bahasa yang berarti mengajak dan secara istilah
mengajak manusia kepada jalan yang diridhoi Allah.
Dari dua pengertian diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa Epistemologi
Dakwah adalah kajian filosofis terhadap sumber, metode, esensi, dan validitas (kebenaran
ilmu) dakwah. Sumber menjelaskan asal-usul ilmu dakwah, sedangkan metode menguraikan
bagaimana cara memperoleh ilmu tersebut dari sumbernya, dan validitas dakwah adalah
pengetahuan yang diperoleh dari sumbernya melalui metode ilmiah, dan belum bisa disebut
sebagai ilmu apabila belum terujI secara ilmiah atau tidak memiliki validitas ilmiah. Dalam
1
Muhammad Sulthon, “Desain Ilmu Dakwah Kajian Ontologis, Epistemologis Dan Aksiologis”, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2003)
2
Fuad Amsyari, “islam kaaffah, tantangan sosial dan aplikasinya di indonesia”, (jakarta: gema insani press.
1995), hlm. 57-59
3
Lorens Bagus “Kamus Filsafat”
4
M. Dahlan Yaqub Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Yogayakarta : Arkola, 2001)

3
menguji keilmuan ada dua teori yang dapat digunakan untuk menguji validitas suatu disiplin
ilmu, yaitu teori koherensi dan teori korespondensi. Teori koherensi menyebutkan bahwa
kebenaran ditegakkan atas hubungan keputusan baru dengan keputusan-keputusan yang telah
diketahui dan diakui kebenarannya terlebih dahulu. Suatu proposisi dikatakan benar jika ia
berhubungan dengan keberanian yang telah ada dalam pengalaman manusia. Teori
korespondensi menyatakan bahwa kebenaran atau keadaan benar itu merupakan kesesuaian
antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh-sungguh merupakan
halnya atau fakta-faktanya. Kebenaran adalah sesuatu yang bersesuaian dengan fakta, yang
selaras dengan realitas, yang sesuai dengan situasi aktual. Dari teori korespondensi dapat
diketahui bahwa yang pertama ada pernyataan dan kedua ada kenyataan. Dengan demikian,
kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan tentang
sesuatu, misalnya di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya ada Progam Studi
Psikologi, dan jika kenyataan bahwa di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya ada
Progam Studi Psikologi (melalui observasi), maka terdapat kesesuaian antara pernyataan
dengan kenyataan. Menrut Aristoteles, teori korespondensi disebut teori penggambaran, yang
premisnya berbunyi “kebenaran adalah kesesuaian antara pikiran dengan kenyataan”.

 Model-model Epistemologi Islam

Dalam kajian pemikiran Islam terdapat juga beberapa aliran besar dalam kaitannya
dengan teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya ada tiga model sistem berpikir dalam
Islam, yakni: bayani, irfani, dan burhani, yang masing-masing mempunyai pandangan yang
sangat berbeda tentang pengetahuan.

 Epistemologi Bayani

Adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks(nash), secara
langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan
jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti
memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski
demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya,
tetapi tetap harus bersandar pada teks.

4
 Epistemologi Irfani

Pengetahuan irfani tidak didasarkan atas teks seperti bayan, tetapi pada kasyf,
terungkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Oleh karena itu, pengetahuan irfani tidak
diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati,
diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam
pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian
pengetahuan irfani setdaknya diperoleh melalui tiga tahapan:

1. Tahap persiapan
2. Tahap penerimaan
3. Tahap pengungkapan, dengan lisan atau tulisan

 Epistemologi Burhani

Berbeda dengan bayani dan irfani yang masih berkaitan dengan teks suci, burhani
sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks. Burhani mendasarkan diri pada kekuatan rasio,
akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika.

Perbedaan ketiga epistemologi Islam ini adalah bayani menghasilkan pengetahuan


lewat analogi furu’ dan pengetahuan bayani didasarkan atas teks suci; irfani menghasilkan
pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Tuhan (intuisi); burhani menghasilkan
pengetahuan lewat prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini
kebenarannya (rasio). Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk bayani,
karena hanya mendasarkan diri pada teks, ia menjadi terfokus pada hal-hal yang bersifat
aksidental bukan substansial, sehingga kurang bisa dinamis mengikuti perkembangan sejarah
dan sosial masyarakat yang begitu cepat. Pada kenyataannya, pemikiran Islam pada saat ini
masih banyak yang didominasi oleh pemikiran bayani fiqhiyah yang kurang bisa merespon
dan mengimbangi perkembangan peradaban dunia. Dan burhani tidak mampu mengungkap
seluruh kebenaran dan realitas yang mendasari semesta. Misalnya burhani tidak mampu
menjelaskan seluruh eksistensi diluar pikiran seperti soal warna, bau, rasa, atau bayangan.

5
Jadi ketiga hal tersebut harus disatukan dalam sebuah pemahaman. Maksudnya ketiga
model tersebut diikat dalam sebuah jalinan kerjasama untuk saling mendukung dan mengisi
kekurangan masing-masing. Sehingga terciptalah Islam yang “Shalih li Kulli Zaman wa
Makan”, Islam yang aktual dan kontekstual dalam semua tingkat peradaban.

C. PERSOALAN AKSIOLOGI DAKWAH ISLAM


Aksiologi adalah cabang ilmu filsafat yang mempelajari cara-cara yang berbeda di
mana sesuatu hal dapat baik atau buruk. Aksiologi adalah perluasan dari bidang etika
tradisional. Nilai dalam etika tradisional diartikan sama dengan baik dan jahat sedangkan
dalam aksiologi, nilai memiliki arti lebih luas lagi meliputi baik dan buruk/jahat (dalam
pengertian etika), indah dan jelek (dalam pengertian estetika), serta benar dan salah (dalam
pengertian logika). Aksiologi adalah teori tentang nilai dalam berbagai makna yang
dikandungnya.[5]
Tujuan dasar ilmu dakwah, dengan merujuk pada beberapa ayat Al-Qur’an yang
relevan, adalah untuk :
1. Menjelaskan realitas dakwah sebagai suatu kebenaran
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa
AlQur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa
sesungguhnya dia menyaksikan segala sesuatu?(QS. 41:53)
2. Mendekatkan diri kepada Allah sebagai kebenaran
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembahku(QS. 51:56)
3. Merealisasikan kesejahteraan untuk seluruh alam (Rahmat lil al-Alamin)
Dan tiadalah Kami mengutus kamu. Melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam (QS. 21:107)

5
The Liang Gie, suatu konsepsi Ke Arah Penertiban Bidang Filsafat, terj. Ali Mudhofir, (Yogyakarta: Karya
Kencana, 1977), hlm. 144-145

6
 Memahami Kebenaran
Dalam Al-Qur’an, kebenaran itu disebut dengan istilah al-haq. Dalam Al-
Qur’an, kebenaran berhubungan dengan keadilan dan persamaan. Hal itu
mengindikasikan bahwa setiap kebenaran terkait secara inheren di dalamnya keadilan
dan persamaan.
Dalam salah satu karyanya, Yusuf Qardhawi mengemukakan penggunaan kata
al-Haq oleh beberapa kalangan dalam pengertian masing-masing. Al-Haq bagi filosof
adalah perpaduan antara kebenaran, kebajikan dan keindahan. Mereka yang menekuni
bidang etika mengartikan Al-Haq sebagai sisi lain dari kewajiban.[6]
Kebenaran harus ditegakkan. Para penganut agama pada umumnya sepakat
bahwa kebenaran agama bersifat absolut sedangkan kebenaran ilmu bersifat nisbi.
Kebenaran nisbi dapat diberi pengertian dengan kesesuian antara pikiran dan
kenyataan.[7]

 Persoalan Nilai-Nilai Islam


Merujuk pada pengertian dakwah yang meliputi proses tabligh (penyiaran),
tatbig (penerapan/pengamalan), dan tandlim (pengelolaan), maka beberapa
pendapat tersebut dapat diikhtisarkan sebagai berikut. Bahwa dakwah pada pokoknya
berkaitan dengan persoalan penanaman nilai-nilai Islam di masyarakat. Penanaman
nilai-nilai Islam itu dapat mengambil beberapa pola yang terdiri dari proses
internalisasi (I), sosialisasi (S) dan eksternalisasi (E). Dengan ketiga proses utama
dakwah itu, maka ditemukan sedikitnya tiga pola penanaman nilai-nilai Islam sebagai
proses dakwah.
Pola pertama adalah I-S-E, meliputi tahap-tahap menerapkan, mengamalkan
dan mengaktualisasikan nilai-nilai Islam ke dalam diri pribadi, nilai-nilai Islam yang
telah teramalkan itu kemudian disebarluaskan kepada orang lain secara terus menerus
sampai menjadi bagian dari budaya di masyarakat.
Pola kedua adalah E-I-S, yaitu nilai-nilai Islam yang secara nyata telah
menjadi milik publik dan menjadi elemen budaya yang telah hidup di masyarakat dan
dengan sadar diikuti, diaplikasikan dan diaktualisasikan dalam diri pribadi.

6
Yusuf Qardhawi, Epsitemologi Al-Qur’an (al-Haq), terj. Luqman Hakiem, (Surabaya: Risalah Gusti, 1993), hlm.
3-4
7
Kenneth T Gallagher, Epistemologi, Filsafat Pengetahuan, terj. P Pardono Hadi, (Yogyakarta: Kanisius, 1994),
hlm. 145

7
Pola ketiga S-E-I adalah langkah-langkah mengaktualisasikan,
memperkenalkan, menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang belum menjadi milik publik
bahkan juga belum teraplikasi ke dalam diri pribadi. Upaya itu telah sampai pada
tahapan eksternalisasi di mana nilai-nilai Islam yang sebenarnya belum diamalkan
secara pribadi itu menjadi milik publik, menjadi bagian dari pola budaya masyarakat
setempat. Namun dalam perkembangan berikutnya, karena telah menjadi bagian dari
pola budaya yang dimiliki masyarakat tersebut, seseorang yang telah berperan aktif
itupun mengamalkan dan mengaktualisasikan pula nilai-nilai tersebut.

8
BAB III
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Semua bahasan di atas merupakan cabang ilmu yang dipelajari dalam
ilmu komunikasi. Ilmu ini sangat penting untuk dikuasai karena berkaitan
dengan bagaimana cara menggunakan ilmu pengetahuan tersebut yang tidak
bertentangan dengan kaidah-kaidah moral di masyarakat. Ilmu ini juga
berkaitan erat dengan operasionalisasi metode ilmiah dalam menciptakan
teori dan aplikasi ilmu komunikasi. Tentu dengan mempertimbangkan norma
moral dan profesional yang berlaku di masyarakat.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa ontologi adalah eksistensi, epistemologis adalah
perkembangannya dan aksiologi adalah nilainya pada suatu berita. Dalam hal ini,
kebutuhan untuk mempengaruhi, kemampuan berbicara di ranah publik, penyebaran
informasi, propaganda, adalah merupakan beberapa manfaat yang didapatkan dari
pengaplikasian Ilmu Komunikasi. Secara pragmatis, aspek aksiologisnya mampu
menjawab kebutuhan manusia.
Dari bahasan diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa aksiologi dapat
diartikan sebagai ilmu tentang nilai-nilai etika yang harus dimiliki seorang ilmuwan.
Mempelajari bidang ilmu ini akan menjawab pertanyaan apa sebenarnya manfaat dari
ilmu pengetahuan. Selain itu apa hubungan ilmu pengetahuan dengan kaidah-kaidah
moral dan profesional jika dihubungkan dengan metode ilmiah. Semua jawaban ini
akan mengarahkan kita pada cabang ilmu filsafat yang sedang berkembang.
Dan pada akhirnya aksiologi dianggap sebagai teori nilai. Dan dalam
perkembangannya mampu melahirkan sebuah masalah yang berkaitan dengan
kebebasan pengetahuan pada nilai. Inilah yang disebut sebagai netralitas pengetahuan
atau value free. Sementara itu ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada
keterikatan nilai atau disebut value bound. Dengan begitu kita dapat memilih mana
yang lebih baik antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang berkaitan dengan
nilai. Demikian pembahasan ini membuat kita sadar betapa pentingnya ilmu
komunikasi dalam menunjang kehidupan manusia.

9
DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Sulthon, “Desain Ilmu Dakwah Kajian Ontologis, Epistemologis Dan Aksiologis”, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2003)

Fuad Amsyari, “islam kaaffah, tantangan sosial dan aplikasinya di indonesia”, (jakarta: gema insani press.
1995), hlm. 57-59

Lorens Bagus “Kamus Filsafat”

M. Dahlan Yaqub Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Yogayakarta : Arkola, 2001)

The Liang Gie, suatu konsepsi Ke Arah Penertiban Bidang Filsafat, terj. Ali Mudhofir, (Yogyakarta: Karya
Kencana, 1977), hlm. 144-145

Yusuf Qardhawi, Epsitemologi Al-Qur’an (al-Haq), terj. Luqman Hakiem, (Surabaya: Risalah Gusti, 1993), hlm. 3-
4

Kenneth T Gallagher, Epistemologi, Filsafat Pengetahuan, terj. P Pardono Hadi, (Yogyakarta: Kanisius, 1994),
hlm. 145

10