Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi fraktur mandibula


Fraktur adalah discontinuitas dari jaringan tulang yang biasanya
disebabkan oleh adanya kecelakaan yang timbul secara langsung. Fraktur
mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula. Hilangnya
kontinuitas pada rahang bawah (mandibula), yang diakibatkan trauma oleh
wajah ataupun keadaan patologis, dapat berakibat fatal bila tidak ditangani
dengan benar.1
B. Anatomi
Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia dan berfungsi sebagai
tempat menempelnya gigi geligi rahang bawah. Mandibula berhubungan
dengan basis kranii dengan adanya temporo-mandibular joint dan disangga oleh
otot – otot mengunyah.2

Gambar 1. Anatomi Mandibula3


Mandibula dipersarafi oleh saraf mandibular, alveolar inferior, pleksus
dental inferior dan nervus mentalis.2
Sistem vaskularisasi pada mandibula dilakukan oleh arteri maksilari interna,
arteri alveolar inferior, dan arteri mentalis.2

C. Klasifikasi fraktur mandibula


Secara umum, fraktur diklasifikasikan menurut penyebab terjadinya,
menurut hubungan dengan jaringan sekitarnya, dan menurut bentuknya.
1. Menurut penyebab terjadinya
a. Fraktur traumatik
Frakur traumatik, dapat disebabkan baik oleh trauma langsung
maupun tidak langsung. Trauma langsung yang mengenai anggota
tubuh penderita, gaya yang diterima oleh tubuh dapat menyebabkan
fraktur. Trauma tidak langsung terjadi seperti pada penderita yang jatuh
dengan tangan menumpu dan lengan atas-bawah lurus, berakibat fraktur
kaput radii atau klavikula.4 Gaya tersebut dihantarkan melalui tulang-
tulang anggota gerak atas dapat berupa gaya berputar,
pembengkokan (bending) atau kombinasi pembengkokan dengan
kompresi yang berakibat fraktur butterfly, maupun kombinasi gaya
berputar, pembengkokan dan kompresi seperti fraktur oblik dengan
garis fraktur pendek. Fraktur juga dapat terjadi akibat tarikan otot seperti
fraktur patela karena kontraksi quadrisep yang mendadak.5
b. Fraktur stress
Trauma yang berulang dan kronis pada tulang yang
mengakibatkan tulang menjadi lemah. Contohnya pada fraktur fibula
pada olahragawan.6
c. Fraktur patologis
Pada tulang telah terjadi proses patologis yang mengakibatkan
7
tulang tersebut rapuh dan lemah. Biasanya fraktur terjadi spontan.
2. Menurut hubungan dengan jaringan sekitar6
a. Fraktur simple/tertutup, disebut juga fraktur tertutup, oleh karena kulit
di sekeliling fraktur sehat dan tidak sobek.
b. Fraktur terbuka, kulit di sekitar fraktur sobek sehingga fragmen
tulang berhubungan dengan dunia luar (bone expose) dan berpotensi
untuk menjadi infeksi. Fraktur terbuka dapat berhubungan dengan
ruangan di tubuh yang tidak steril seperti rongga mulut.
c. Fraktur komplikasi, fraktur tersebut berhubungan dengan kerusakan
jaringan atau struktur lain seperti saraf, pembuluh darah, organ visera
atau sendi.
3. Menurut bentuknya8

Gambar 2. Tipe Fraktur Mandibula1


a. Fraktur komplit, Garis fraktur membagi tulang menjadi dua fragmen
atau lebih. Garis fraktur bisa transversal, oblik atau spiral. Kelainan
ini dapat menggambarkan arah trauma dan menentukan fraktur stabil
atau unstabil.
b. Fraktur inkomplit, Kedua fragmen fraktur terlihat saling impaksi
atau masih saling tertancap.
c. Fraktur komunitif, Fraktur yang menimbulkan lebih dari dua fragmen.
d. Fraktur kompresi, Fraktur ini umumnya terjadi di daerah tulang
kanselus.
Sedangkan klasifikasi fraktur mandibula, di antaranya:
1. Berdasarkan regio anatomis 9
Menunjukkan regio-regio pada mandibula yaitu : badan, simfisis, sudut,
ramus, prosesus koronoid, prosesus kondilar, prosesus alveolar. Fraktur
yang terjadi dapat pada satu, dua atau lebih pada region mandibula ini.

Gambar 3. Regio mandibula6


Simfisis – fraktur terjadi pada insisivus tengah yang berjalan dari alveolar
melalui perbatasan inferior dari mandibula.10
Parasimfisis – fraktur terjadi dibatasi oleh garis vertikal kaninus.10
Gambar 4. Fraktur parasimfisis mandibula kanan11
Badan – Fraktur yang terjadi dari distal simfisis bertepatan dengan
perbatasan alveolar otot masseter.12
Ramus mandibula – Dibatasi oleh aspek superior dari sudut dua saluran
yang membentuk puncak pada sigmoid.12

Gambar 5. Fraktur ramus mandibula dan parasimfisis mandibula kiri11


2. Berdasarkan ada tidaknya gigi12
Klasifikasi berdasarkan gigi pasien penting diketahui karena akan
menentukan jenis terapi yang akan kita ambil. Dengan adanya gigi,
penyatuan fraktur dapat dilakukan dengan jalan pengikatan gigi dengan
menggunakan kawat. Berikut derajat fraktur mandibula berdasarkan ada
tidaknya gigi :
a. Fraktur kelas 1 : gigi terdapat di 2 sisi fraktur, penanganan pada fraktur
kelas 1 ini dapat melalui interdental wiring (memasang kawat pada gigi)
b. Fraktur kelas 2 : gigi hanya terdapat di salah satu fraktur
c. Fraktur kelas 3 : tidak terdapat gigi di kedua sisi fraktur, pada keadaan
ini dilakukan melalui open reduction, kemudian dipasangkan plate and
screw, atau bisa juga dengan cara intermaxillary fixation.
D. Diagnosis
Diagnosis fraktur mandibula berdasarkan atas anamnesa, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
Pada kasus trauma, pemeriksaan penderita dengan kecurigaan
fraktur mandibula harus mengikuti kaidah ATLS, dimana terdiri dari
pemeriksaan awal (primar survey) yang meliputi pemeriksan airway,
breathing, circulation dan disability. Pada penderita trauma dengan fraktur
mandibula harus diperhatikan adanya kemungkinan obstruksi jalan nafas
yang bisa diakibatkan karena fraktur mandibula itu sendiri ataupun akibat
perdarahan intraoral yang menyebabkan aspirasi darah dan bekuan darah.13
Jika pasien stabil, perlu diketahui riwayat trauma. Mekanisme
trauma merupakan informasi yang penting sehingga dapat menggambarkan
tipe fraktur yang terjadi. Bila trauma ragu-ragu atau tidak ada maka
kemungkian fraktur patologis tetap perlu dipikirkan. Riwayat penderita
harus dilengkapi apakah ada trauma daerah lain (kepala, torak, abdomen,
pelvis dll). 14
Pertanyaan-pertanyaan kepada penderita maupun pada orang yang
lebih mengetahui harus jelas dan terarah, sehingga diperoleh informasi
mengenai; keadaan kardiovaskuler maupun sistem respirasi, apakah
penderita merupakan penderita diabetes, atau riwayat alergi. 15
2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Inspeksi dimulai dari ektraoral kemudian ke intraoral.
Perhatikan adanya deformitas. Pembengkakan preaurikular sering
menunjukkan adanya fraktur kondilus. Kulit di sekitar wajah dan
leher perlu diperhatikan apakah hiperemis, ekimosis, laserasi, atau
hematom. Pada luka yang mengarah ke fraktur terbuka harus
diidentifikasi dan ditentukan menurut derajatnya menurut
klasifikasi Gustillo. Dilihat juga apakah terdapat gigi yang hilang.
Perhatikan juga apakah terdapat maloklusi. 16
b. Palpasi
Pada palpasi dievaluasi daerah TMJ dengan jari pada daerah
TMJ dan penderita disuruh buka-tutup mulut, menilai ada tidaknya
nyeri, deformitas atau dislokasi. Untuk memeriksa apakah ada
fraktur mandibula dengan palpasi dilakukan evaluasi false
movement dengan kedua ibujari di intraoral, korpus mandibula
kanan dan kiri dipegang kemudian digerakkan keatas dan kebawah
secara berlawanan sambil diperhatikan disela gigi dan gusi yang
dicurigai ada frakturnya. Bila ada pergerakan yang tidak sinkron
antara kanan dan kiri maka false movement +. 17
Periksa juga status gusi, apakah terdapat ekimosis, perdarahan,
atau hematom, bila terdapat hal tersebut, menunjukkan adanya
fraktur. 18
3. Pemeriksaan penunjang11
a. Pemeriksaan rontgen
Pada fraktur mandibula dapat dilakukan pemeriksaan penunjang
foto Rontgen untuk mengetahui pola fraktur yang terjadi. Timbulnya
kecurigaan fraktur mandibula tergantung dari jenis frakturnya,
apakah cedera tunggal atau multipel. Jika dicurigai cedera tunggal,
pemeriksaan dapat dimulai dengan foto AP, Towne, dan oblik.
b. CT Scan
CT scan dapat digunakan untuk mengidentifikasi fraktur kondilus
kompleks, terutama fraktur sagital atau dislokasi fossa glenoid. CT
scan juga berguna pada pasien dengan cedera serius, seperti luka
tembak atau fraktur komunitif.
E. Penatalaksanaan
Prinsip penanganan fraktur mandibula pada langkah awal bersifat
kedaruratan seperti jalan nafas (airway), pernafasan (breathing), sirkulasi
darah termasuk penanganan syok (circulaation), penaganan luka jaringan
lunak dan imobilisasi sementara serta evaluasi terhadap kemungkinan cedera
otak. Tahap kedua adalah penanganan fraktur secara definitif yaitu
reduksi/reposisi fragmen fraktur (secara tertutup (close reduction) dan
secara terbuka (open reduction).17
1. Reposisi tertutup
Adapun indikasi untuk reposisi tertutup di antaranya:19
 Fraktur displace atau terbuka derajat ringan sampai sedang.
 Fraktur kondilus
 Fraktur pada anak
 Fraktur komunitif berat atau fraktur dimana suplai darah menurun.
 Fraktur eduntulous mandibula
 Fraktur mandibula yang terdapat hubungan dengan fraktur panfacial
 Fraktur patologis
Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed
reduction adalah fiksasi intermaksiler. Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu
pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari
mandibula.20 Beberapa teknik fiksasi intermaksila diantaranya:
 Ivy loop
Penempatan Ivy loop menggunakan kawat 24-gauge antara 2
gigi yang stabil, dengan penggunaan kawat yang lebih kecil untuk
memberikan fiksasi maxillomandibular (MMF) antara loop Ivy.21

Gambar 6. Ivy loop20


Gambar 7. Fiksasi maksilomandibular20
 Teknik arch bar
Indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak
cukup untuk pemasangan cara lain, disertai fraktur maksila, didapatkan
fragmen dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu
direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi
intermaksilaris22
 Reduksi tertutup pada edentulous mandibula
Pada edentulous mandibula, gigi palsu dapat ditranfer ke
rahang dengan kabel circummandibular. Gigi tiruan rahang atas dapat
ditempelkan ke langit-langit. (Setiap screw dari maxillofacial set dapat
digunakan sebagai lag screw). Arch bar dapat ditempatkan dan
intermaxillary fixation (IMF) dapat tercapai. Gunning Splints juga
telah digunakan pada kasus ini karena memberikan fiksasi dan dapat
diberikan asupan makanan. Pada kasus fraktur kominitif, rekonstruksi
mandibula mungkin diperlukan untuk mengembalikan posisi anatomis
dan fungsi.23
2. Reposisi terbuka
Indikasi reposisi terbuka di antaranya:24
 Fraktur terbuka atau displace derajat sedang sampai berat
 Fraktur yang tidak tereduksi dengan reposisi tertutup
 Unfavorable fracture
Reposisi terbuka pada fraktur mandibula memiliki pendekatan intra
dan ekstraoral. Pendekatan ekstraoral dapat dilakukan melalui
submandibula, submental, atau preaurikular.

Gambar 8. Fraktur favorable dan unfavorable24

Gambar 9. Approach ekstraoral25


Gambar 10. Insisi retromandibular25
Dengan pendekatan intraoral, regio mandibula dicapai melalui insisi
vestibular di mukosa. Jika dibandingkan dengan pendekatan ekstraoral,
.pendekatan intraoral lebih cepat dilakukan, tidak memiliki parut ekstraoral,
dan risiko lebih kecil untuk mengenai saraf wajah.25
Adapun material yang bisa digunakan pada reposisi terbuka
diantaranya wire, wire mesh, plat dan screw, dll.
 Wiring (kawat)
Kawat dibuat seperti mata, kemudian mata tadi dipasang disekitar dua
buah gigi atau geraham dirahang atas ataupun bawah. Rahang bawah
yang patah difiksasi pada rahang atas melalui mata di kawat atas dan
bawah. Jika perlu ikatan kawat ini dipasang di berbagai tempat untuk
memperoleh fiksasi yang kuat.
 Plating
Pemasangan plat bertujuan untuk memberi tahanan pada daerah fraktur,
sehingga dapat menyatukan bagian fraktur dengan alveolus superior.
Setelah plat tepasang, maka tidak dibutuhkan lagi fiksasi maksila.
Dengan catatan pemasangan screw pada plat tidak dengan penekanan
yang terlalu kuat. Karena dengan pemasangan screw yang terlalu kuat
akan mengkibatkan terjadinya kesulitan pada saat pelepasan, oleh
karena itu, pemasangan dengan teknik yang tidak terlalu menekan lebih
dipilih dalam pemasangan plat pada fraktur mandibula.
F. Komplikasi22
Komplikasi setelah dilakukannya perbaikan pada fraktur mandibula
umumnya jarang terjadi. Komplikasi yang paling umum terjadi pada fraktur
mandibula adalah infeksi atau osteomyelitis, yang nantinya dapat menyebabkan
berbagai kemungkinan komplikasi lainnya. Tulang mandibula merupakan
daerah yang paling sering mengalami gangguan penyembuhan fraktur baik
itu malunion ataupun non-union, hal ini akan memberi keluhan berupa rasa
sakit dan tidak nyaman (discomfort) yang berkepanjangan pada sendi
rahang (Temporo mandibular joint) oleh karena perubahan posisi dan
ketidakstabilan antara sendi rahang kiri dan kanan. Hal ini tidak hanya
berdampak pada sendi tetapi otot-otot pengunyahan dan otot sekitar wajah
juga dapat memberikan respon nyeri (myofascial pain) Terlebih jika pasien
mengkompensasikan atau memaksakan mengunyah dalam hubungan oklusi
yang tidak normal. Kondisi inilah yang banyak dikeluhkan oleh pasien
patah rahang yang tidak dilakukan perbaikan atau penanganan secara adekuat.
Ada beberapa faktor risiko yang secara spesifik berhubungan dengan
fraktur mandibula dan berpotensi untuk menimbulkan terjadinya malunion
ataupun non-union. Faktor risiko yang paling besar adalah infeksi, kemudian
aposisi yang kurang baik, kurangnya imobilisasi segmen fraktur, adanya benda
asing, tarikan otot yang tidak menguntungkan pada segmen fraktur.
Malunion yang berat pada mandibula akan mengakibatkan asimetri wajah
dan dapat juga disertai gangguan fungsi. Kelainan-kelainan ini dapat
diperbaiki dengan melakukan perencanaan osteotomi secara tepat untuk
merekonstruksi bentuk lengkung mandibula.
DAFTAR PUSTAKA

1. R Laub D. Mandibular Fractures [Internet]. 2016 [dikutip 1 Mei 2018].


Tersedia pada: https://emedicine.medscape.com/article/1283150-
overview#showall
2. Cornelius C-P, Audigé L, Kunz C, Rudderman R, Buitrago-Téllez CH,
Frodel J, et al. The Comprehensive AOCMF Classification System:
Mandible Fractures- Level 2 Tutorial. Craniomaxillofac Trauma Reconstr
[Internet]. Desember 2014 [dikutip 1 Mei 2018];7(Suppl 1):S015-30.
Tersedia pada: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25489388
3. Koshy JC, Feldman EM, Chike-Obi CJ, Bullocks JM. Pearls of mandibular
trauma management. Semin Plast Surg [Internet]. November 2010 [dikutip
1 Mei 2018];24(4):357–74. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22550460
4. Lin K-C, Peng S-H, Kuo P-J, Chen Y-C, Rau C-S, Hsieh C-H. Patterns
Associated with Adult Mandibular Fractures in Southern Taiwan-A Cross-
Sectional Retrospective Study. Int J Environ Res Public Health [Internet].
2017 [dikutip 1 Mei 2018];14(7). Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28737727
5. Zhou H, Lv K, Yang R, Li Z, Li Z. Mechanics in the Production of
Mandibular Fractures: A Clinical, Retrospective Case-Control Study. PLoS
One [Internet]. 2016 [dikutip 1 Mei 2018];11(2):e0149553. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26900699
6. Natu SS, Pradhan H, Gupta H, Alam S, Gupta S, Pradhan R, et al. An
epidemiological study on pattern and incidence of mandibular fractures.
Plast Surg Int [Internet]. 2012 [dikutip 1 Mei 2018];2012:834364. Tersedia
pada: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23227327
7. Carlsen A, Marcussen M. Spontaneous fractures of the mandible concept
& treatment strategy. Med Oral Patol Oral Cir Bucal [Internet]. 1
Januari 2016 [dikutip 1 Mei 2018];21(1):e88-94. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26636905
8. Yu YY, Lieu S, Hu D, Miclau T, Colnot C. Site specific effects of zoledronic
acid during tibial and mandibular fracture repair. PLoS One [Internet]. 2012
[dikutip 1 Mei 2018];7(2):e31771. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22359627
9. Atilgan S, Erol B, Yaman F, Yilmaz N, Ucan MC. Mandibular fractures: a
comparative analysis between young and adult patients in the southeast
region of Turkey. J Appl Oral Sci [Internet]. 2010 [dikutip 1 Mei
2018];18(1):17–22. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20379677
10. Gadicherla S, Sasikumar P, Gill SS, Bhagania M, Kamath AT, Pentapati KC.
Mandibular Fractures and Associated Factors at a Tertiary Care Hospital.
Arch trauma Res [Internet]. Desember 2016 [dikutip 1 Mei
2018];5(4):e30574. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28144599
11. Naeem A, Gemal H, Reed D. Imaging in traumatic mandibular fractures.
Quant Imaging Med Surg [Internet]. Agustus 2017 [dikutip 1 Mei
2018];7(4):469–79. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28932703
12. Ghodke MH, Bhoyar SC, Shah S V. Prevalence of mandibular fractures
reported at C.S.M.S.S Dental College, aurangabad from february 2008 to
september 2009. J Int Soc Prev Community Dent [Internet]. Juli 2013
[dikutip 1 Mei 2018];3(2):51–8. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24778980
13. Furr AM, Schweinfurth JM, May WL. Factors Associated with Long-Term
Complications after Repair of Mandibular Fractures. Laryngoscope
[Internet]. 1 Maret 2006 [dikutip 1 Mei 2018];116(3):427–30. Tersedia pada:
http://doi.wiley.com/10.1097/01.MLG.0000194844.87268.ED
14. Cornelius C-P, Audigé L, Kunz C, Rudderman R, Buitrago-Téllez CH,
Frodel J, et al. The Comprehensive AOCMF Classification System:
Mandible Fractures-Level 3 Tutorial. Craniomaxillofac Trauma Reconstr
[Internet]. Desember 2014 [dikutip 1 Mei 2018];7(Suppl 1):S031-43.
Tersedia pada: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25489389
15. Samman M, Ahmed SW, Beshir H, Almohammadi T, Patil SR. Incidence
and Pattern of Mandible Fractures in the Madinah Region: A Retrospective
Study. J Nat Sci Biol Med [Internet]. 2018 [dikutip 1 Mei 2018];9(1):59–64.
Tersedia pada: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29456395
16. Mah D-H, Kim S-G, Moon S-Y, Oh J-S, You J-S. Relationship between
mandibular condyle and angle fractures and the presence of mandibular third
molars. J Korean Assoc Oral Maxillofac Surg [Internet]. Februari 2015
[dikutip 1 Mei 2018];41(1):3–10. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25741462
17. Krishnan B. The Role of a Conservative Minimal Interventional
Management Protocol in the Fractures of the Dentate Portion of the Adult
Mandible. Craniomaxillofac Trauma Reconstr [Internet]. Maret 2016
[dikutip 1 Mei 2018];9(1):20–8. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26889344
18. De Feudis F, De Benedittis M, Antonicelli V, Pittore P, Cortelazzi R.
Decision-making algorithm in treatment of the atrophic mandible fractures.
G Chir [Internet]. 2014 [dikutip 1 Mei 2018];35(3–4):94–100. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24841687
19. El-Anwar MW, Sayed El-Ahl MA, Amer HS. Open Reduction and Internal
Fixation of Mandibular Fracture without Rigid Maxillomandibular Fixation.
Int Arch Otorhinolaryngol [Internet]. Oktober 2015 [dikutip 1 Mei
2018];19(4):314–8. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26491477
20. Ghasemzadeh A, Mundinger GS, Swanson EW, Utria AF, Dorafshar AH.
Treatment of Pediatric Condylar Fractures: A 20-Year Experience. Plast
Reconstr Surg [Internet]. Desember 2015 [dikutip 1 Mei 2018];136(6):1279–
88. Tersedia pada: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26595021
21. Zhou H-H, Lv K, Yang R-T, Li Z, Li Z-B. Risk factor analysis and
idiographic features of mandibular coronoid fractures: A retrospective case-
control study. Sci Rep [Internet]. 19 Mei 2017 [dikutip 1 Mei
2018];7(1):2208. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28526860
22. Pickrell BB, Serebrakian AT, Maricevich RS. Mandible Fractures. Semin
Plast Surg [Internet]. Mei 2017 [dikutip 1 Mei 2018];31(2):100–7. Tersedia
pada: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28496390
23. Oruç M, Işik VM, Kankaya Y, Gürsoy K, Sungur N, Aslan G, et al. Analysis
of Fractured Mandible Over Two Decades. J Craniofac Surg [Internet].
September 2016 [dikutip 1 Mei 2018];27(6):1457–61. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27536913
24. Franciosi E, Mazzaro E, Larranaga J, Rios A, Picco P, Figari M. Treatment
of edentulous mandibular fractures with rigid internal fixation: case series
and literature review. Craniomaxillofac Trauma Reconstr [Internet]. Maret
2014 [dikutip 1 Mei 2018];7(1):35–42. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24624255
25. Sadhwani BS, Anchlia S. Conventional 2.0 mm miniplates versus 3-D plates
in mandibular fractures. Ann Maxillofac Surg [Internet]. Juli 2013 [dikutip
1 Mei 2018];3(2):154–9. Tersedia pada:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24205475