Anda di halaman 1dari 13

KASUS KEGAWATDARURATAN PADA WISATA DARAT :

KERAM BETIS

KASUS KEGAWATDARURATAN PADA WISATA DARAT : KERAM BETIS DISUSUN OLEH : NI LUH PUTU ARY APRILIYANTI

DISUSUN OLEH :

NI LUH PUTU ARY APRILIYANTI (P07120216017)

NI MADE TARIANI

(P07120216018)

PUTU INDAH PERMATA SARI

(P07120216019)

NI PUTU NOVIA HARDIYANTI

(P07120216020)

NI WAYAN MUJANI (P07120216021) NI PUTU NUR ADIANA DEWI (P07120216022) NI NYOMAN MURTI APSARI DEWI (P07120216023) I GUSTI AYU INTAN ADRIANA SARI (P07120216024) TK. 4A/ PRODI S.Tr. KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN

2019

KATA PENGANTAR

Om Swastiastu, Atas Asung Kertha Waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah yang berjudulKASUS KEGAWATDARURATAN PADA WISATA DARAT :

KERAM BETIS” dengan baik. Dalam penyusunan makalah ini, penulis sebagai penyusun mencoba untuk membuat makalah sebaik dan selengkap mungkin dengan berbagai macam kajian agar para pembaca dapat mengambil banyak manfaat dan wawasan konsep dasar mengenai kasus kegawatdaruratan pada wisata darat : keram betis. Penulis mohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan dalam pembuatan makalah ini. Selain itu, jika ada kesalahan dalam kata-kata dan penulisan mohon dimaafkan. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dalam penyajian bahasa serta pembahasan yang disajikan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Di dunia ini tidak ada yang sempurna seperti kata pepatah tiada gading yang tak retak untuk itu penulis berharap permakluman pembaca bila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati.

Om Santih, Santih, Santih, Om

ii

Denpasar,

Agustus 2019

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

 

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Rumusan Masalah

 

2

C. Tujuan Penelitian

2

D. Manfaat Penulisan

2

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Konsep Dasar Penyakit

3

B. Konsep

Dasar

Asuhan Keperawatan

6

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

 

9

3.2 Saran

9

DAFTAR PUSTAKA

iii

A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN

Pengkajian pada kasus gawat darurat dibedakan menjadi dua, yaitu :

pengkajian primer dan pengkajian sekunder. Pertolongan kepada pasien gawat

darurat dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan survei primer untuk

mengidentifikasi masalah-masalah yang mengancam hidup pasien, barulah

selanjutnya dilakukan survei sekunder. Tahapan pengkajian primer meliputi :

A: Airway, mengecek jalan nafas dengan tujuan menjaga jalan nafas disertai

control servikal; B: Breathing, mengecek pernafasan dengan tujuan mengelola

pernafasan agar oksigenasi adekuat; C: Circulation, mengecek sistem sirkulasi

disertai kontrol perdarahan; D: Disability, mengecek status neurologis; E:

Exposure, enviromental control, buka baju penderita tapi cegah hipotermia

(Holder, 2002).

Pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi penting di Indonesia

dimana pada tahun 2009, sektor pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal

penerimaan devisa setelah minyak dan gas bumi serta minyak kelapa sawit.

Jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada tahun 2010

yaitu sebesar 7 juta lebih atau tumbuh sebesar 10,74% dibandingkan tahun

sebelumnya dan menyumbangkan devisa bagi negara sebesar 7.603,45 juta

dolar Amerika Serikat. Klinik kegawatdaruratan wisata merupakan suatu

fasilitas kesehatan dimana sifat pelayanan yang diberikan meliputi konsultasi

pra-perjalanan, selama berwisata, setelah berwisata, serta upaya vaksinasi dan

edukasi akan resiko terpapar agen infeksi dimanasebenarnya dapat dicegah

sesuai dengan prinsip ilmu TravelMedicine. Wisata menyebabkan berbagai

risiko kesehatan, tergantung dari keadaan fisik wisatawan maupun tipe

perjalanannya.Wisatawan mungkin terpapar secara tiba-tiba dengan perubahan

ketinggian, kelembaban, suhu, dan mikroba, yang dapat menyebabkan

masalah kesehatan. Risiko kesehatan serius juga bisa terjadi di daerah dimana

mutu akomodasinya buruk dalam hal kualitas, kebersihan dan sanitasi, layanan

medis yang kurang memadai, dan kurangnya penyediaan a ir bersih. Semua

calon wisatawan yang akan melaksanakan perjalanan hendaknya mendapat

1

pengetahuan yang cukup tentang potensi bahaya di tempat tujuan dan memahami apa yangterbaik yang harusdilakukan untukmelindungi kesehatannya danmeminimalkan risiko terhadap penyakit. Wisata Alam merupakan salah satu obyek yang berkaitan dengan rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dan ekosistemnya, baik dalam bentuk asli (alami) maupun perpaduan dengan buatan manusia. Akibatnya tempat-tempat rekreasi di alam terbuka yang sifatnya masih alami dan dapat memberikan kenyamanan semakin banyak dikunjungi orang atau wisatawan. Dalam dunia pariwisata istilah obyek wisata mempunyai pengertian sebagai sesuatu yang menjadi daya tarik bagi seseorang wisatawan untuk berkunjung ke suatu daerah tujuan wisata, bentuk kegiatan rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam, baik dalam keadaan alami maupun setelah ada usaha budidaya, sehingga memungkinkan wisatawan memperoleh kesegaran jasmaniah dan rohaniah, mendapatkan pengetahuan dan pengalaman serta menumbuhkan inspirasi dan cinta terhadap alam.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana konsep dasar penyakit keram betis?

2. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan kegawatdaruratan pada keram betis?

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui konsep dasar penyakit keram betis

2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan kegawatdaruratan pada keram betis

D. MANFAAT

1. Dapat mengetahui konsep dasar penyakit keram betis

2. Dapat mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan kegawatdaruratan pada keram betis

2

BAB II PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi Kram Betis

Kram (strain) adalah tarikan pada otot, ligamen atau tendon yang

disebabkan oleh regangan yang berlebihan (Smeltzer Suzame, 2001).

Menurut Basoeki (2005) kram otot merupakan kontraksi otot tertentu yang

berlebihan, terjadi secara mendadak tanpa disadari. Kram (strain) adalah

kontraksi otot yang memendek atau kontraksi sekumpulan otot yang

terjadi secara mendadak dan singkat dan menyebabkan otot kita tidak

dapat digerakkan untuk sementara. Kram bisa terjadi dalam hitungan detik,

menit atau bahkan sampai jam. Kaki, tangan dan perut adalah daerah yang

biasa mengalami kram.Kram kaki adalah nyeri akibat spasme otot di kaki

yang timbul karena otot berkontraksi terlalu keras. Daerah yang paling

sering mengalami kram adalah otot betis di bawah dan di belakang lutut.

2. Tanda dan Gejala

a. Kelemahan

b. Mati rasa

c. Perdarahan yang ditandai dengan 4 :

1)

Perubahan warna

2)

Bukaan pada kulit

3)

Perubahan mobilitas, stabilitas dan kelonggaran sendi

4) Nyeri

5) oedema

3. Etiologi

Menurut Mohamad (2001) penyebab kram betis :

a. Kekurangan mineral seperti kalium, kalsium, dan magnesium dapat

mengundang kaki kram.

b. Tekanan terhadap saraf pada tulang belakang bisa membuat kaki terasa

nyeri kram yang bisa memburuk bila semakin lama berjalan. Berjalan

dengan posisi sedikit membungkuk ke depan biasanya dapat

meringankan nyeri.

3

c. Suplai darah yang tidak memadai. Penyempitan arteri yang mengalirkan darah ke kaki dapat menimbulkan nyeri, misalnya kram di kaki saat sedang berolahraga. Kram ini biasanya hilang secepatnya setelah berhenti berolahraga.

d. Dehidrasi sehingga tubuh kehilangan banyak cairan.

e. Cedera atau menggunakan otot secara berlebihan. Terlalu lama duduk, berdiri lama di atas permukaan yang keras, atau meletakkan kaki pada posisi yang tidak nyaman selama tidur juga dapat membuat otot kaki menegang atau kram.

f. Terpapar suhu dingin, khususnya air dingin. Biasanya terjadi setelah mandi dengan air dingin atau kehujanan.

g. Efek samping dari obat- obatan seperti pil kontrasepsi, obat antipsikotik, diuretik, statin, dan steroid.

h. Infeksi seperti tetanus juga bisa menyebabkan kejang otot dan kram.

i. Penyakit hati juga bisa mengundang kram pada kaki. Ketika organ hati tidak bisa bekerja dengan baik, racun di dalam darah akan meningkat dan bisa membuat otot kram.

j. Kondisi medis lainnya seperti penyakit ginjal, penyakit tiroid, multiple sclerosis, atau masalah aliran darah (penyakit arteri periferal). Menurut Basoeki (2005) beberapa obat juga dapat menyebabkan terjadinya kram otot, seperti obat pelancar kemih, penurun lemak, kekurangan vitamin B1 (thiamine), vitamin B5 (pantothenic acid) dan B6 (pyridoxine). Kram otot juga dapat terjadi akibat sirkulasi darah ke otot yang kurang baik.

4. Mekanisme Terjadinya Kram Betis Ganong (1998) menguraikan bahwa rangsang berulang yang diberikan sebelum masa relaksasi akan menghasilkan penggiatan tambahan terhadap elemen kontraktil, dan tampak adanya respon berupa peningkatan kontraksi. Fenomena ini dikenal sebagai penjumlahan kontraksi. Tegangan yang terbentuk selama penjumlahan kontraksi jauh lebih besar dibandingkan dengan yang terjadi selama kontraksi kedutan otot tunggal. Dengan rangsangan berulang yang cepat, penggiatan

4

5.

mekanisme kontraktil terjadi berulang-ulang sebelum sampai pada masa relaksasi. Masing-masing respon tersebut bergabung menjadi satu kontraksi yang berkesinambungan yang dinamakan tetanik atau kontraksi otot yang berlebihan (kram otot). Kram pada tungkai biasanya terjadi di kaki dan mempengaruhi otot di betis atau bagian belakang paha. Mereka datang tiba-tiba dan tanpa

peringatan. Kadang-kadang ketika seseorang tertidur lelap. Pada kram, otot serat kontraksi menjadi simpul keras, yang dapat berlangsung dari beberapa detik hingga beberapa menit. Kram bisa disebabkan oleh sirkulasi yang buruk, yang mengakibatkan kurangnya pasokan darah mencapai otot-otot pada tungkai. Hal ini dapat kita kaitkan dengan mekanisme fisiologis dan reaksi biokimia yang berkaitan dengan kontraksi-relaksasi otot. Penatalaksanaan

a. Hentikan aktivitas dan lemaskan otot dengan peregangan ringan. Gerakkan kaki dengan berjalan perlahan-lahan. Hal ini bertujuan mengirimkan sinyal di dalam tubuh bahwa otot Anda butuh berkontraksi kemudian relaksasi.

b. Pijat pada bagian otot yang menegang.

c. Kompres dengan air hangat atau mandi dengan air hangat. Namun, cara ini tidak dianjurkan bagi mereka yang mengidap diabetes, cedera saraf tulang belakang, atau kondisi lainnya yang tidak memungkinkan Anda merasakan suhu panas.

d. Minum air putih atau minuman yang mengandung elektrolit secukupnya untuk menghidrasi tubuh. Cara ini mungkin membutuhkan waktu yang relatif lebih lama. Namun, hal ini bisa mencegah terjadi kram berikutnya.

e. Ganjal ujung kaki dengan bantal saat tidur untuk mencegah kram.

f. Konsumsi makanan kaya magnesium seperti kacang- kacangan dan biji-bijian bila Anda sering mengalami kram kaki yang tidak terkait dengan kondisi kesehatan lainnya. Gunakan obat-obatan pereda

5

sakit, seperti

ibuprofen

atau

gel

penghilang

nyeri

sesuai

petunjuk

penggunaan.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Keperawatan

a.

Airway (mempertahankan kepatenan jalan nafas) 1) Ada tidaknya sumbatan jalan nafas 2) Distress pernafasan 3) Kemungkinan fraktur servikal

Korban sadar atau tidak ? (sumber GELS)

 

a) Sadar ajak bicara

b) jika suara jelas =

airway bebas

c) Tak sadar bebaskan jalan nafas

d) head tilt chin lift

e) jaw thrust

 

Sumbatan Parsial Jalan Napas

 

a) Ada kesulitan bernapas

b) Retraksi suprasternal

c) Masih terdengar suara napas

d) Suara stridor

 

Sumbatan

Total Jalan Napas

 

a) Tidak ada suara napas

b) Ada kesulitan bernapas

c) Retraksi intercostal

d) Tidak dapat berbicara atau batuk

e) Memegang leher

f) Ada tanda-tanda kepanikan

g) Wajah pucat, sianotik

b.

Breathing

1)

Frekuensi nafas

2)

Suara pernafasan

6

3) Adanya udara keluar dari jalan nafas

c. Circulation 1) Kaji adanya bukti perdarahan dan kontrol perdarahan dengan penekanan langsung. 2) Untuk pasien dengan kram betis kaji adanya nyeri dengan menggunakan teknik PQRST

d. Disability Kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan penilaian GCS.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik dibuktikan dengan pasien mengeluh nyeri, tampak meringis, bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghindari nyeri), gelisah, frekuensi nadi meningkat, tekanan darah meningkat, pola napas berubah.

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dibuktikan dengan mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas, rentang gerak (ROM) menurun, nyeri saat bergerak, enggan melakukan pergerakan, merasa cemas saat bergerak, sendi kaku, gerakan terbatas

c. Risiko infeksi dibuktikan dengan faktor risiko ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer : kerusakan integritas kulit

3. Intervensi Keperawatan

No

Diagnosa

Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)

Keperawatan

1.

Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik dibuktikan dengan pasien mengeluh nyeri, tampak meringis, bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghindari nyeri),

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x2 jam diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil :

Manajemen Nyeri (I.08238)

1. Identifikasi lokasi, karakteristisk, durasi, frekuensi, kualitas,

intensitas nyeri

2. Identifikasi skala nyeri

1. Keluhan nyeri (5)

3. Identifikasi respons nyeri

2. Meringis (5)

nonverbal

3. Sikap Protektif (5)

4. Berikan teknik nonfarmakologis

7

 

gelisah,

frekuensi

nadi

4.

Gelisah (5)

untuk mengurangi rasa nyeri

meningkat,

tekanan

 

5. Jelaskan penyebab, periode, dan

darah

meningkat,

pola

pemicu nyeri

napas berubah.

6. Kolaborasi pemberian analgetik

2.

Gangguan mobilitas

Setelah dilakukan asuhan

Dukungan Ambulasi (I.06171)

fisik berhubungan

keperawatan selama 1x6

1. Identifikasi adanya nyeri atau

dengan nyeri dibuktikan

jam diharapkan mobilitas

keluhan fisik lainnya

dengan mengeluh sulit

fisik meningkat dengan

2. Identifikasi toleransi fisik

menggerakkan

 

kriteria hasil :

melakukan ambulasi

ekstremitas, rentang

1. Pergerakan

3. Fasilitasi aktivasi ambulasi

gerak (ROM) menurun,

 

ekstremitas (5)

dengan alat bantu (mis. Tongkat,

nyeri saat bergerak,

2. Kekuatan otot (5)

kruk)

enggan melakukan

3. Nyeri (5)

4. Jelaskan tujuan dan prosedur

pergerakan, merasa

4. Kecemasan (5)

ambulasi

cemas saat bergerak,

5. Gerakan terbatas

5. Anjurkan melakukan ambulasi

sendi kaku, gerakan

 

(5)

dini

terbatas

 

3.

Risiko

infeksi

Setelah dilakukan asuhan

Pencegahan Infeksi (I.14539)

dibuktikan

dengan

keperawatan selama 1x2

1. Monitor tanda dan gejala infeksi

faktor

risiko

jam diharapkan tingkat

local dan sistemik

ketidakadekuatan

infeksi menurun dengan

2. Berikan perawatan kulit pada area

pertahanan

tubuh

kriteria hasil :

edema

primer

:

kerusakan

1. Demam (5)

3. Pertahankan teknik aseptikpada

integritas kulit

 

2. Kemerahan (5)

pasien beresiko tinggi

 

3. Nyeri (5)

4. Jelaskan tanda dan gejala infeksi

4. Bengkak (5)

5. Kolaborasi pemberian antibiotic,

jika perlu

8

BAB III

PENUTUP

A. SIMPULAN Kram (strain) adalah kontraksi otot yang memendek atau kontraksi

sekumpulan otot yang terjadi secara mendadak dan singkat dan menyebabkan

otot kita tidak dapat digerakkan untuk sementara. Kram bisa terjadi dalam

hitungan detik, menit atau bahkan sampai jam. Kaki, tangan dan perut adalah

daerah yang biasa mengalami kram.Kram pada tungkai biasanya terjadi di

kaki dan mempengaruhi otot di betis atau bagian belakang paha. Mereka

datang tiba-tiba dan tanpa peringatan. Kadang-kadang ketika seseorang

tertidur lelap. Pada kram, otot serat kontraksi menjadi simpul keras, yang

dapat berlangsung dari beberapa detik hingga beberapa menit. Kram bisa

disebabkan oleh sirkulasi yang buruk, yang mengakibatkan kurangnya

pasokan darah mencapai otot-otot pada tungkai. Hal ini dapat kita kaitkan

dengan mekanisme fisiologis dan reaksi biokimia yang berkaitan dengan

kontraksi-relaksasi otot.

B. Saran

Melalui makalah yang berjudul Kasus Kegawatdaruratan pada Wisata

Darat : Keram Betis penulis berharap dapat membantu pembaca dalam

menambah wawasan tentang kegawatdaruratan keram betis serta penulis

berharap melaluis makalah ini pembaca dapat mengetahui penatalaksanaan

yang tepat.

9

DAFTAR PUSTAKA

Ali satia Graha.2009 . Terapi Masase Frirage Penatalaksanaan Masase dan Cedera Olahraga Pada Lutut dan Engkel. Yogyakarta: Klinik Terapi Fisik UNY Corwin, elizabeth. 2009. Buku saku patofisiologi. EGC : Jakarta Hidayat, A.Azis alimul. 2006. Kebutuhan dasar manusia 1. salemba medika:

Jakarta Kowalak, Jennifer P. 2011. Buka Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC Nursalam. 2001. Proses & dokumentasi keperawatan. salemba medika: Jakarta Paula, Krisyanty. Santa, Manurung, dkk. 2009. Asuhan keperawatan gawat darurat. CV.trans info medika : jakarta timur Smeler, Suzanne. C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikat Bedah Brunner Dan Suddarth. Edisi 8. Jakarta : EGC. Tim Pokja SDKI PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan Pengurusan Pusat PPNI Tim Pokja SDKI PPNI. 2017. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta :

Dewan Pengurusan Pusat PPNI Tim Pokja SDKI PPNI. 2017. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia .Jakarta : Dewan Pengurusan Pusat PPNI

10