Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

PEMBUATAN NATRIUM TIOSULFAT

OLEH :

NAMA : TUTI AMALIA IRIANTI


STAMBUK : A1L1 16 057
KELOMPOK :IA
ASISTEN : LA ODE INDO

LABORATORIUM JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
HALAMAN PERSETUJUAN

Telah diperiksa secara teliti oleh Asisten Pembimbing Praktikum Kimia

Anorganik “Pembuatan Natrium Tiosulfat“ yang dilaksanakan pada :

Hari/tanggal : Sabtu, 27 Oktober 2018

Waktu : 13.00 WITA – selesai

Tempat : Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia Univrsitas Halu

Oleo

Kendari, Oktober 2018


Menyetujui:
Asisten Pembimbing,

LA ODE INDO
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Garam terbentuk ketika suatu asam dan basa bereaksi dan saling

menetralkan satu sama lain sehingga hasilnya tidak mempunyai sifat-sifat asam

dan basa. Ion hidrogen (H+) dari asam dan ion hidroksida (OH-) dari basa dalam

reaksinya satu sama lain akan membentuk air. Natrium adalah salah satu logam

alkali pembentukan garam yang bersifat basa. Unsur ini berkilau, lunak dan

merupakan konduktor listrik yang baik. Natrium Tiosulfat ( Na2S2O3) adalah salah

satu jenis dari garam terhidrat. Garam terhidrat adalah garam yang terbentuk dari

senyawa-senyawa kimia yang dapat mengikat molekul-molekul air pada suhu

kamar (Sugiarto, 2004).

Natrium Tiosulfat merupakan garam dari suatu senyawa tiosulfat dan

natrium. Garam natrium tiosulfat ini bisanya berbentuk sebuk berwarna putih.

Garam ini sering kali kita jumpai dalam bentuknya hidratnya yaitu Na2S2O3.

5H2O dan Na2S2O3. 10H2O. Asam tiosulfat tidak bisa dibentuk dengan

menambahkan asam kedalam tiosulfat karena adanya dekomposisi asam bebas ini

di dalam air dalam campuran S, H2S, H2Sn, SO2, dan H2SO4 ini bisa dibuat

dengan menhilangkan air. Campuran garam-garam tiosulfat bersifat stabil dan

berasam. Tiosulfat dibuat dengan mendidihkan alkali atau larutan sulfat nitrat

dengan S dan oksidasi polisulfida dengan udara (Olson, 2007).


Pembuatan natrium tiosulfat (Na2S2O3) dapat dilakukan dalam skala

laboratorium dengan memanaskan larutan natrium sulfit dengan sulfur atau

dengan mendidihkan natrium hidroksida berair dan sulfur dengan proses refluks

dan kristalisasi filtrat. Natrium tiosulfat dapat digunakan sebagai antioksidan yaitu

bahan yang dapat menstabilkan sabun sehingga tidak menjadi rancid. Garam

alkali tiosulfat banyak diproduksi terutama untuk kebutuhan bidang fotografi,

dimana garam ini digunakan untuk melarutkan perak bromida yang tidak bereaksi

dalam suatu emulsi (Buchel, 2000).

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dilakukanlah praktikum pembuatan

garam natrium tiosulfat dengan mereaksikan natrium sulfit dengan sulfur dan

menggunakan aquades sebagai pelarut dengan proses pemanasan bersuhu tinggi

yaitu dengan teknik refluks.

1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum ini untuk mempelajari perubahan garam natrium

tiosulfat dan sifat-sifat kimianya.

1.3 Prinsip Dasar Praktikum

Pembuatan garam natrium tiosulfat pada percobaan ini didasarkan pada

proses perefluksan serbuk belerang dengan natrium sulfit pada suhu yang cukup

tinggi melalui teknik pengkristalan filtrat (kristalisasi).


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Natrium Tiosulfat (Na2S2O3)

Natrium tiosulfat berbentuk serbuk kristal atau granula, tidak berwarna

atau putih, tidak berbau, rumus molekul Na2S2O3. Berat Molekul 158,1. pH 50

g/L pada suhu 20oC 6,0-8,5. Titik Lebur 48oC (118,40oF). Titik Didih 100 oC

(212,00oF). Berat (air = 1) 1,73 (atau 1, 66). Bersifat higroskopik (dapat menyerap

kelembapan udara) Kelarutalarut dalam air panas dan sebagian larut dalam air

dingin (Hoffman, 2001).

Natrium tiosulfat pentahidrat tak berwarna hingga kristal putih. Bahaya

kereaktifan : reaksi dengan agen oksidasi (seperti halogen, nitrat, nitrit oksida)

aktif dan eksotermal. Sulfur dioksida diproduksi ketika reaksi dengan asam.

Dekomposisi pentahidrat ketika dipanaskan,termasuk produksi hidrogen sulfida,

sulfur dioksida, sulfur trioksida. Ledakan hebat terjadi jika dicampurkan dengan

bubuk natrium nitrat dan cukup panas menekan air pada proses kristalisasi

(Young, 2002).

“Sodium thiosulfate pentahydrat of chromatic do not till white crystal.

Reactivity danger : reaction of with oxidation agent ( Thus halogen, nitrate, oxide

nitrit) active and eksotermal. Dioxide sulphur produced when reaction of with

acid of decomposition pentahydrat when heated the including sulphur dioxide

sulphur sulfide hydrogen production of trioksida super. Explosion happened if


mixed with powder of natrium nitrate and hot to enough depress water at process

of crystalllization” (Young, 2002).

2.2 Sulfur/Belerang (S)

Sulfur alami terdiri dari campuran isotop stabil dengan jumlah massa 32,

33, 34 dan 36, kandungan relatifnya dari yang 95,04%, 0,75%, 4,20% dan

0,015%, masing-masing. Isotop sulfur biasa diterapkan dalam biologi, geologi,

geokimia, ekologi, arkeologi dan obat-obatan. Sulfur heksafluorida digunakan

sebagai zat kerja dalam teknologi pemisahan sentrifugal belerang isotop.

Parameter teknologi pemisahan sentrifugal dan sifat dari SF6 dapat diketahui.

Setelah memperoleh SF6, senyawa ini diubah menjadi unsur belerang yang cocok

untuk penyimpanan dan penjualan. Proses ini seharusnya dilakukan dengan

persyaratan berikut: untuk meminimalkan kerugian, untuk menghilangkan

pengenceran isotop dan untuk menyediakan kemurnian kimia yang diperlukan.

Diketahui bahwa belerang memiliki banyak modifikasi allotropik dan bentuk

kristal, pembentukannya bergantung pada metode dan kondisi penyimpanan

(Egorov, 2015).

“Natural sulfur consists of a mixture of stable isotopes with mass numbers

32, 33, 34 and 36, the relative content of which is 95.04%, 0.75%, 4.20% and

0.015%, respectively. Isotopes of sulfur are applied in biology, geology,

geochemistry, ecology, agrochemistry, archeology and medicine. Sulfur

hexafluoride is used as a working substance in the technology of centrifugal

separation of the sulfur isotopes. Parameters of technology of centrifugal

separation and properties of SF6 are known. After obtaining SF6 we should
convert this compound into elemental sulfur which is suitable for storing and

selling. This process should be done with the next requirements: to minimize the

losses, to eliminate the isotope dilution and to provide necessary chemical purity“

(Egorov, 2015).

2.3 Natrium Sulfit

Senyawa sulfit yang biasa digunakan berbentuk bubuk kering, misalnya

natrium atau kalium sulfit, natrium atau kalium bisulfit dan natrium atau kalium

metabisulfit. Ada dua tujuan yang diinginkan dari penggunaan sulfit, yaitu: (1)

untuk mengawetkan (sebagai senyawa anti mikroba), dan (2) untuk mencegah

perubahan warna bahan makanan menjadi kecoklatan. Umumnya senyawa sulfit

efektif terhadap mikroba jenis A. niger, Aspergillus, Penicillium, dan efektif untuk

mengawetkan bahan makanan yang bersifat asam, serta tidak efektif untuk bahan

makanan yang bersifat netral atau alkalis. Sulfit juga dapat menghambat

pertumbuhan mikroba yang dapat merusak atau membusukkan bahan makanan

serta sebagai antioksidan yang mampu mencegah ketengikan pada bahan makanan

(Rianto, 2008).

2.4 Refluks

Refluks merupakan metode ekstraksi dengan bantuan panas. Hal yang

sangat berpengaruh terhadap ekstraksi menggunakan refluks adalah adanya

penambahan pemanasan dan pelarut yang digunakan akan tetap dalam keadaan

segar karena adanya penguapan kembali pelarut yang terendam pada bahan.

sedangkan pada metode ekstraksi menggunakan refluks, adanya penambahan


panas dapat membantu meningkatkan proses ekstraksi karena suhu merupakan

faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan ekstraksi (Susanti, 2015).

Refluks merupakan metode ekstraksi dengan bantuan pemanasan dan

mampu mengekstraksi senyawa tahan panas. Beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi proses ekstraksi diantaranya jumlah pelarut dan waktu ekstraksi.

Jumlah pelarut menjadi faktor kritis dalam ekstraksi karena pada prinsipnya

volume pelarut harus mencukupi untuk melarutkan senyawa yang akan

diekstraksi. Ekstraksi senyawa dilakukan dengan metode refluks menggunakan

pelarut etanol 96%. Dilakukan ekstraksi dengan variasi waktu selama 3, 6, 9 dan

12 jam pada suhu 70°C. Hasil ekstraksi disaring dengan kertas saring kemudian

ditera dengan etanol 96% hingga diperoleh volume sesuai dengan jumlah pelarut

yang digunakan. Diambil sebanyak 5 mL dan disimpan dalam vial untuk

dianalisis (Laksmiani, 2014).

2.5 Kristalisasi

Karakteristik kristal yang terbentuk selama proses kristalisasi sangat

penting terutama ukuran dan bentuknya hal ini karena akan mempengaruhi proses

pemisahan, yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil dan kualitas dari fraksi

yang dihasilkan. Karakteristik tersebut diatur oleh kondisi kristalisasi yang

dilakukan. Hasil kristalisasi yang cepat dalam pembentukan kristal yang tinggii

akan menghasilkan jumlah kristal dengan ukuran yang lebih kecil sedangkan

kristalisasi lambat menghasilkan kristal yang lebih besar dengan jumlah yang

sedikit (Normah, 2013).


“The characteristics of crystals formed during the crystallization process

especially and shape are very important as this will influence the separation

process which will in turn affect the yield and quality of the resulting fractions.

Such characteristics are governed the crystallization conditions being performed.

Rapid crystallization results in formation of high number of nuclei and thus the

formation of numerous crystals with smaller size whereas slow crystallization

produced larger crystals which are lesser in number” (Normah, 2013).

Kristalisasi adalah proses pemisahan penting yang memurnikan cairan

dengan membentuk padatan. Kristalisasi juga merupakan proses pembentukan

partikel dimana molekul dalam larutan atau uap yang berubah menjadi fase padat

dari struktur kisi teratur, yang tercermin pada tampilan eksternal. kristalisasi

selanjutnya dapat digambarkan sebagai self-assembly proses pembangunan

molekul. faktor Crystallo-grafis dan molekuler yang demikian sangat penting

dalam mempengaruhi bentuk (kebiasaan), kemurnian dan struktur kristal,

sebagaimana dimaksud dalam rinci oleh, misalnya. dalam bab ini struktur kristal

internal dan karakteristik partikel eksternal ukuran dan bentuk dianggap, yang

indikator penting dari kualitas produk dan dapat mempengaruhi pengolahan hilir,

seperti pemisahan padat cair nyata. Partikel yang lebih besar memisahkan dari

cairan lebih cepat dengan baik dan kurang rentan terhadap pembentukan debu

sementara partikel yang lebih kecil larut lebih cepat (Jones, 2002).

”Crystallization is an important separation process that purifies fluids by

forming solids. Crystalization is also a particle formation process by which

molecules in solution or vapour are transformed into a solid phase of regular


lattice structure, which is reflected on the external faces crystallization may be

further described as self-assembly molecular building process. crystallo-graphic

and molekuler factors are thus very important in affecting the shape (habit),

purity and structure of crystals, as considered in detail by, for example. in this

chapter the internal crystal structure and external particle characteristics of size

and shape are considered, which are important indicator of product quality and

can affect downstream processing, such as solid liquid separation markedly.

larger particles separate out from fluids more quickly than fines and are less

prone to dust formation whilst smaller particles dissolve more rapidly”

(Jones, 2002).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Kimia Anorganik “Pembuatan Natrium Tiosulfat”

dilaksanakan pada hari Sabtu 27 Oktober 2018 pukul 13:00 WITA-selesai di

Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Universitas Halu Oleo, Kendari.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini, yaitu satu set alat refluks,

batang pengaduk, tabung reaksi, hot plate, gelas kimia 100 mL, botol semprot,

spatula, pipet volume 10 mL, botol timbang, cawan penguap dan filler. Sedangkan

bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu natrium sulfit (Na2SO3),

serbuk belerang, larutan HCl encer, larutan KI, kertas saring, dan aquades.

3.3 Prosedur Kerja

A. Pembuatan Natrium Tiosulfat-5-Hidrat

Dirangkai alat refluks, kemudian dimasukkan 10 gram natrium sulfit ke

dalam labu refluks. Ditambahkan 50 mL aquades dan 1,5 gram serbuk belerang,

lalu direfluks selama 75 menit. Setelah direfluks, larutan didinginkan dan

disaring. Dipindahkan filtrat kedalam gelas kimia dan diuapkan sampai

volumenya menjadi 10 mL. Dibiarkan sampai larutannya dingin dan dikeringkan


kristal yang terbentuk dengan menekan kristal di antara dua kertas saring,

kemudian ditimbang kertas saring yang berisi kristal.

B. Mempelajari Sifat-Sifat Kimia Natrium Tiosulfat

1. Reaksi dengan Iod

Sebanyak 2 gram kristal natrium tiosulfat dilarutkan dengan 20 mL

aquades dan direaksikan dengan 3 mL larutan iod dalam KI. Kemudian diamati

perubahannya.

2. Pengaruh Asam Encer

Sebanyak 3 mL larutan natrium tiosulfat ditambahkan dengan asam

klorida encer sebanyak 3 mL. Kemudian diamati perubahan warna dan bau yang

ditimbulkan setelah beberapa menit.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan

4.1.1 Pembuatan Natrium Tiosulfat-5-Hidrat

Tabel 4.1 Pembuatan Natrium Tiosulfat-5-Hidrat


No. Perlakuan Pengamatan
1. 10 gram natrium sulfit + 50 mL Natrium sulfit berwarna putih
aquades + 1,5 gram serbuk belerang dan serbuk belerang berwarna
kuning dan tidak larut dalam
aquades
2. Direfluks selama 75 menit Larutan berwarna keruh dan
terdapat endapan belerang

3. Larutan didinginkan dan disaring Filtratnya berwarna keruh


4. Filtrat diuapkan hingga volume Terbentuk kristal yang
menjadi 10 mL, lalu didinginkan dan berwarna putih
disaring
5. Ditimbang kristal yang diperoleh Diperoleh kristal natrium
tiosufat sebanyak 0,631 gram

4.1.2 Mempelajari Sifat Kimia Natrium Tiosulfat

Tabel 4.2 Sifat-sifat Kimia Natrium Tiosulfat


No. Perlakuan Pengamatan
1. 2 gram natrium tiosulfat + 20 mL Larutan keruh
aquades + 3 mL larutan iod
2. 3 mL larutan natrium tiosulfat + 3 Larutan berwarna putih susu
mL HCl encer

4.2 Reaksi yang Terjadi

Reaksi pembentukan natrium tiosulfat

Na2SO3 + S + 5H2O  Na2S2O3.5H2O


Reaksi dengan iod

Na2S2O3 + I2 2NaI + S2O32-

Reaksi pengaruh asam encer

Na2S2O3 + Cl2 2NaCl + S2O32-

Na2S2O3 + HCl + H2O 2NaCl + H2S + SO2 + H2O

4.3 Pembahasan

Reagen atau dikenal juga dengan Reaktan merupakan istilah yang sering

digunakan didunia kimia. Reagen memiliki banyak kegunaan dan sebagian besar

melibatkan menyelamatkan nyawa aplikasi. Zat atau dua zat membuat, mengukur

atau membangun keberadaan reaksi kimia dengan bantuan reagen. Kimia organik

mungkin juga menetapkan reagen sebagai campuran atau zat-zat yang berbeda

yang akan membuat perubahan pada substrat pada kondisi tertentu.

Ketelitian dalam perhitungan sangat diperlukan karena kesalahan dalam

perhitungan dapat menyebabkan kesalahan dalam pembuatan larutan reagen.

Pengaruh pengocokan terhadap pembuatan larutan terdapat pada waktu

pengocokanya itu semakin lama waktu yang digunakan dalam pengocokan

pembuatan larutan CaCl2.2H2O maka semakin homogen larutan CaCl2.2H2O

yang terbentuk. Pengaruh penambahan aquadest terhadap pembuatan larutan

CaCl2.2H2O yaitu penambahan aquadest yang dilakukan secara bertahap hingga

100 ml akan menghasilkan larutan yang lebih homogen daripada larutan yang

dibuat dengan penambahan aquadest secara langsung. Larutan reagen yang

dihasilkan pada percobaan ini adalah larutan homogen dengan warna biru pekat.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan ini adalah bahwa garam

natrium tiosulfat dapat dibuat dengan mereaksikan natrium sulfit dan belerang

pada suhu tinggi agar ikatan cincin 8 atom dari belerang dapat terputus melalui

refluks. Kristal yang dihasilkan sebanyak 0,631 gram dan rendemen yang

diperoleh sebesar 5,42 % dan sifat-sifat kimia dari natrium tiosulfat dapat

diketahui, direaksikan dengan Iod dan HCl encer.

5.2 Saran
Saran yang dapat diajukan yaitu sebaiknya dilakukannya semua pengujian

sifat-sifat kimia dari natrium tiosulfat agar praktikan dapat lebih memahami

tentang bagaimana sifat-sifat kimia garam natrium tiosulfat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Egorov, Nikolay., Dmitry Akimov., dan Nikolay Zhuravlev. 2015. Obtaining


Sulfur From Sulfur Hexafluoride And Studying The Sulfur Isotopes
Properties By Using Vibrational Spectroscopy. Procedia Chemistry, 15(1).

Hoffman, R. S. 2001. Pedoman Penatalaksanaan Keracunan untuk Rumah Sakit.


Sentra Informasi Keracunan (SIKer), katalog.
Jones, A.G. 2002. Crystallization Process System. Departement of Chemical
Engineering,UCL (University College London). London

Laksmiani, N. P. L., Susanti, N.M.P., Widjaja, I. N. K., Rismayanti, A. A. M. I.,


dan Wirasuta IM.A.G. 2014. Pengembangan Metode Refluks Untuk
Ekstraksi Andrografolid Dari Herba Sambiloto (Andrographis paniculata
(Burm.f.) Nees). Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Udayana. 1(10).
Normah, I., Cheow, C. S. dan Chong, C. L. 2013. Crystal Habit During
Crystallization Of Palm Oil: Effect Of Time And Temperature.
International Food Resesarch Journal, 20(1)

Rianto, Nyoman Kukuh., Otik Nawansih., Maria Erna. 2008. Kajian Penggunaan
Narium Bisulfit Dalam Pengawetan Krim Santan Kelapa. Jurnal Fakultas
Peternakan Unila.1(2).
Young, Jay A. 2002. Chemical Laboratory Information Profil. Journal Of
Chemical, 79(7).

Lampiran Analisis Data

Berat natrium sulfit = 10 gram

Volume aquades = 50 mL

Berat serbuk belerang = 1,5 gram

Berat Kristal = 0,631 gram

Warna Kristal = Putih

Bentuk Kristal = Monoklin

Secara teoritis
Mol 8Na2SO3 gram Na₂SO₃
=
Mr Na₂SO₃

10 gram
=
1.008 gram/mol

= 0,00992 mol

Mol S8 gram S
=
Mr S

1,5 gram
=
256 gram/mol

= 0,00586 mol

8Na2SO3 + S8 + 5H2O 8Na2S2O3.5H2O

M 0,00992 0,00586

B 0,00586 0,00,586 0,04688

S 0,00406 - 0,04688

Mol Na2S2O3.5H2O = 8/1 × 0,00586

= 0,04688 mol

Massa Na2S2O3.5H2O = mol × Mr

= 0,04688 × 248

= 11,626 gram

Perhitungan rendeman:

% Rendemen Berat Na₂S₂O₃ secara praktek


= × 100%
Berat Na₂S₂O₃ secara teori

0,631 gram
= × 100%
11,626 gram
= 5,42 %