Anda di halaman 1dari 25

CRITICAL BOOK REPORT (CBR)

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Disusun oleh:

Nama : Espita Nopalinda Br. Barus

NIM : 1183351037

Dosen Pengampu : Rafael Lisinus Ginting, S.Pd, M.Pd

Mata Kuliah : Perkembangan Peserta Didik

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

T.A 2018/2019
Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmatnya saya dapat menyusun dan meneylesaikan tugas Critical
Book Report mata kuliah Perkembangan Peserta Didik. Saya juga berterima kasih
kepada Bapak Rafael Lisinus Ginting, S.Pd, M.Pd. selaku dosen pengampu
karena sudah memberikan bimbingan untuk menyelesaikan tugas ini.

Karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman, saya menyadari bahwa


di dalam critical book report ini masih terdapat kekurangan serta kesalahan. Oleh
karena itu saya mohon maaf jika ada kekurangan ataupun kesalahan yang terdapat
di dalam critical book report ini. Saya juga mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca yang bersifat membangun, untuk penyempurnaan pembuatan critical
book report selanjutnya.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih, semoga critical book report ini
dapat bermanfaat bagi kita semua.

i
Daftar Isi

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 1
C. Manfaat 1

BAB II ISI BUKU

A. Identitas Buku 2
B. Ringkasan Buku 2

BAB III PEMBAHASAN

A. Kelebihan Buku 17
B. Kelemahan Buku 17

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan 18
B. Saran 18
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kreativitas dan bakat pada diri anak perlu dipupuk dan
dikembangkan. Karena dengan kreativitas dan bakat yang dimilikinya itu
mereka dapat menjadi pribadi-pribadi yang kreatif.Sebagai pribadi yang
kreatif,kelak mereka bukan saja dapat meningkatkan kualitas
pribadinya,tetapi juga dapat meningkatkan kualitas kehidupan bangsa dan
negara.Sistem pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan
pembangunan disegala bidang, yang memerlukan jenis-jenis keahlian dan
keterampilan serta dapat meningkatkan kreativitas, produktivitas, mutu,
dan efisiensi kerja.
Perilaku kreatif adalah hasil pemikiran kreatif.Karena itu sistem
pendidikan hendaknya dapat merangsang pemikiran, sikap, dan perilaku
kreatif-produktif, di samping pemikiran logis dan penalaran.Namun dalam
kenyataannya masih sedikit sekolah yang menyelenggarakan upaya
pengembangan kreativitas dan bakat anak. Hal ini disebabkan antara lain
oleh masih sangat langkanya literatur yang membahas secara menyeluruh
dan terinci mengenai kreativitas, bakat, dan upaya-upaya
pengembangannya.

B. TUJUAN
 Untuk memenuhi tugas critical book report dari mata kuliah
Perkembangan Peserta Didik
 Untuk mengetahui perkembangan kreativitas anak
 Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat
kreativitas anak

C. MANFAAT
 Untuk melatih kemampuan penulis/mahasiswa dalam mengkritisi
sebuah buku
 Supaya para pembaca dapat lebih mengetahui tentang perkembangan
kreativitas anak
 Supaya para pembaca dapat lebih mengetahui faktor-faktor apa saja
yang mendukung dan menghambat kreativitas anak

BAB II
ISI BUKU

A. IDENTITAS BUKU
Judul : Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat
Pengarang : Prof. Dr. Utami Munandar
Penerbit : Rineka Cipta
Cetakan : Pertama
Kota terbit : Jakarta
Tahun terbit : 1999
ISBN : 979-518-831-3

B. RINGKASAN BUKU

BAB 1. DASAR PERTIMBANGAN, KEBIJAKAN, DAN KONSEP


KEBERBAKATAN DAN KREATIVITAS

Permasalahan yang dirasakan dewasa ini sehubungan dengan


pengembangan kualitas sumber daya manusia ialah bahwa meskipun
kebijaksanaan di Indonesia sudah sangat mendukung pemberian perhatian khusus
kepada peserta didik yang memilki kemampuan dan kecerdasan luar biasa
(GBHN 1993 UUSPN NO. 2 tahun 1989), disebut juga anak berbakat, dan
kebijaksanaan di Indonesia juga menekankan pentingnya kreativitas dikembangan
sejak usia prasekolah sampai dengan perguruan tinggi. Namun, dalam
kenyataanya pelayanan pendidian bagi anak berbakat belum diterapkan secara
nasional.Demikian pula sistem pendidikan lebih menekankan pengembangan
kecerdasan dalam arti sempit dan kurang memberi perhatian kepada
pengembangan bakat kreatif peserta didik. Konsep kreativitas juga masih kurang
diahami, dan ini mempunyai dampak terhadap cara mengasuh dan mendidik anak.
Padahal kebutuhan akan kreativitas tampak disemua bidang kegiatan.

Adapun dasar pertimbangan untuk pengadaan pendidikan anak berbakat


ialah, bertumpu pada hakikat pendidikan untuk mengusahakan lingkungan
pendidikan yang memungkinkan bakat dan kemampuan seseorang secara
optimal.Karena anak mempunyai potensi yang berbeda-beda, maka pendidikan
perlu memerhatikan perbedaan potensi tersebut.dengan perkataan lain, baik anak-
anak yang kemampuannya jauh dibawah rata-rata maupun anak yang
kemampuannya unggul, perlu mendapatkan pengalaman pendidikan khusus sesuai
dengan taraf kemampuannya. Jika tidak diberikan pengalaman pendidikan yang
dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak berbakat, mereka dapat menjadi
underachiever atau mempunyai konsep diri yang negative.Dengan pengalaman
pendidikan yang sesuai, mereka dapat memberikan sumbangan yang luar biasa
bagi kemajuan dan pembangunan bangsa dan Negara.

Kreativitas, disamping bermakna baik untuk pengembangan diri maupun


untuk pembangunan masyarakat, juga merupakan salah satu kebutuhan pokok
manusia, yaitu kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuan aling
tinggi bagi manusia (Maslow, 1968). Sehubungan dengan itu kita perlu
membedakan antara “kreativitas aktualisai diri” dan kreativitas “talenta khusus”,
kedua jenis kreativitas ini perlu diperkembangkan dalam pendidikan. Kreativitas
dalam perkembanganya sangat terkait dengan empat aspek, yaitu aspek pribadi,
pendorong, proses, dan produk.Ditinjau dari aspek pribadi, kreativitas muncul dari
interaksi yang unik dengan lingungannya. Ditinjau sebagai proses, menurut
Torrance (1988), kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya
masalah, membuat dugaan tentang kekurangan , menilai dan menguji dugaan atau
hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan
hasil-hasilnya. Proses kreatif meliputi beberapa tahap yaitu persiapan, inkubasi,
iluminasi, dan verifikasi. Definisi mengenai produk kreativitas menekankan
bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreativitas, ialah sesuatu yang baru,
orisinal dan bermakna. Ditinjau dari aspek pendorong kreativitas dalam
perwujudannya memerlukan dorongan internal maupun eksternal dari lingkungan.

Konsep atau definisi keberbakatan yang saat ini dianut dibanyak Negara,
dan juga diadopsi di Indonesia dalam Proyek Pendidikan Anak Berbakat ialah
definisi USEO dan definisi Renzulli.Manfaat dari definisi USEO adalah mengakui
adanya enam bidang keberbakatan yaitu bakat intelektual, umum, bakat akademik
khusus, bakat kreatif-produktif, bakat dalam salah satu bidang seni, bakat dalam
bidan psikososial atau bakat memimpin, dan bidang psikomotor.Definisi ini juga
membedakan antara bakat sebagai potensi dan bakat yang sudah tampak dari
prestasi, tetapi keduanya memerlukan pelayanan khusus.Menurut ThreeRing
conception dari Rezulli dan kawa-kawan keberbakatan merupakan keterpautan
antara kemampuan umum diatas rata-rata, dan pengikatan diri terhadap tugas atau
motivasi internal.Definisi ini memberi arah untuk metode identifikasi
keberbakatan, dan untuk praktek pendidikan khusus anak berbakat. Suatu definisi
tentang keberbakatan mempunyai dampak terhadap kebijakan dan peraturan yang
dibentuk, oleh karena itu harus memenuhi kriteria .Berdasarkan riset tentang
karakteristik orang berbakat, memberi arah dalam prosedur seleksi dan
identifikasi, dan memberi arah pada praktek program anak berbakat.

BAB 2. PENDEKATAN EMPAT DALAM PENGEMBANGAN


KREATIVITAS

Kebutuhan sosial akan kreativitas dirasakan dimana-mana, dan tampak


dalam sistem pendidikan, penggunaan waktu luang, pengembangan ilmu
pengetahuan, pemimpin perusahaan, dan dalm kehidupan keluarga. Makna dari
pengembangan kreativitas berkaitan dengan kualitas perwujudan diri, peningkatan
kemampuan berpikir kreatif, kepuasan dalam mencipta, dan peningkatan kualitas
hidup. Teori tentang pembentukan pribadi kreatif meliputi dua aliran yang paling
berpengaruh, yaitu teori psikoanalitis, antara lain dari Freud, Kris, dan Jung, dan
teori humanistik dari Maslow dan Rogers. Teori psikoanalistis menekankan peran
alam pikiran tidak sadar dalam timbulnya kreativitas, sedangkan teori humanistik
lebih melihat kreativitas sebagai suatu yang dilakukan secara sadar dan
intensional.

Banyak seali peneltian di luar negeri yang dilakukan mengenai ciri-ciri


kepribadian kreatif. Penelitian di Indonesia yang dilaksanakan pada tahun 1977
menggunakan checklist dari Torrance, menunjukkan bahwa tidak banyak
kesamaan antara pendapat kelompo psikolog mengenai ciri-ciri murid yang ideal.
Implikasi penelitian ini terhadap pengembangan kreativitas dalam sistem
pendidikan dapat diduga. Teori tentang pendorong kreativitas mengetengahkan
teori Rogers tentang kondisi internal dan kondisi eksternal yang mendorong
perwujudan perilau kreatif. Teori tentang proses kreatif bertumpu pada teori
Wallas tentang tahap-tahap proses kreatif (yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi,
dan verifikasi), dan teori tentang belahan otak kiri dan kanan. Beberapa penelitian
menunjukan bahwa terutama belahan otak kanan yang berkaitan dengan fungsi-
fungsi kreatif. Teori tentang produk kreatif memaparkan model Basemer da
Treffinger (1981) bahwa produk kreatif dapat digolongkan menjadi tiga kategori,
yaitu berdasarkan kriteria kebaruan, pemecahan, dan kerincian serta sintesis.
Manfaat dari penentuan kriteria penilaian produk kreatif, ialah bahwa diketahui
kekuatan dan kelemahan dari suatu produk.Namun suatu produk tidak perlu
memenuhi semua kriteria.Penelitian tentang produk kreatif di Indonesia telah
dilakukan penulis pada tahun 1987 yang menghasilkan suatu sistem penilaian
kreativitas siswa dalam mengarang.Kriteria penilaian kreatif berkaitan dengan
aspek-aspek berpikir kreatif, yaitu kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan
kerincian (elaborasi).Strategi 4P dalam pengembangan kreativitas yaitu pribadi,
pendorong, proses, dan produk.
BAB 3. IDENTIFIKASI DAN PENGUKURAN KREATIVITAS

Dasar pertimbangan untuk menemukenali atau mengukur bakat kreatif


anak, terutama menampilkan lima alasan, yaitu untuk tujuan pengayan, remedial,
bimbingan kejujuran, evaluasi pendidikan, dan untuk mengkaji kreativitas pada
berbagai tahap kehidupan. Davis (1992) melihat tiga kegunaan utama tes
kreativitas, yaitu tujuan identifikasi bakat kreatif, penelitian, serta untuk bimbigan
dan konseling. Kita harus membedakan antara pengertian “precocious” yang
berarti lebih cepat matang, tetapi belum tentu mewujudkan karya yang unggul,
dari pengertian “prodiguous”yang berate menghasilkan sesuatu yang luar biasa
dan langka, produktivitas yang orisinil. Kreativitas atau bakat kreatif dapat diukur
secara langsung dan tidak langsung, dan dapat menggunakan metode tes atau
nontes.Adapula alat untuk mengukur ciri-ciri kepribadian kreatif, dan dapat
dilakukan pengamatan langsung terhadap kinerja kreatif.Sesuai denan definisi
USEO yang membedakan enam jenis bakat dikembangkan alat identifikasi untuk
masing-masing bidang tersebut.

Untuk mengukur kemampuan intelektual umum, tes individual lebih


cermat, tetapi lebih banyak makan waktu dan biaya. Yang sudah digunakan di
Indonesia adalah tes Stanford-Binet dan Wechsler intelligence scale for children.
Tes inteligensi kelompok lebih efisien dalam ukuran waktu dan biaya,
keterbatasannya ialah kita tidak tahu apakah prestasi anak sudah optimal. Di
Indonesia yang sudah banyak digunakan ialah tes Progressive Matrices, Culture-
Fair Intelligence Test, dan Tes Inteligensi Kolektif Indonesia, yang terakhir
khusus dikontruksi untuk Indonesia. Tes Potensi Akademik yang khusus
dirancang untuk Indonesia dapat digunakan untuk menemukenali bakat akademik,
msalnya sejauh mana seseorang mampu untuk mengikuti pendidikan tersier.Tes
luntuk mengukur bakat kepemimpinan belum banyak digunakan di Indonesia,
demikian pula tes untuk menemukenali bakat dalam salah satu bidang seni, atau
bakat psikomotorik.Tes luar negeri yang mengukur tes kreatif adalah tes dari
Guilford yang mengukur kemampuan berpikir divergen, dengan membedakan
aspek kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan kerincian dalam berpikir.

Tes Torrance untuk mengukur berpikir kreatif dapat digunakan mulai usia
prasekolah sampai tamat sekolah menengah, mempunyai bentuk verbal dan
figural. Tes ini sudah digunakan di Indonesia untuk tujuan penelitian.Tes lainnya
untuk mengukur berfikir kreatif dan termasuk baru, ialah Tes Berpikir Kreatif-
Produksi Menggambar dari Jellen dan Urban (1985).Penilainnya mencakup
Sembilan dimensi.Tes yang khusus dikontruksi untuk Indonesia ialah Tes
Kreativitas Verbal. Tes ini disusun berdasarkan model Struktur Intelek dari
Guilford, dengan dimensi operasi berpikir divergen, dimensi konten, dimensi
berpikir verbal, dan berbeda dalam dimensi produk. Untuk setiap kategori produk
ada satu sub-tes. Ada enam sub-tes, yaitu pemulaan kata, menyusun kata,
membentuk kalimat tiga kata, sifat-sifat yang sama, macam-macam penggunaan
dan apa akibatnya. Setiap sub-tes terdiri dati empat butir.Pada bentuk paralel
hanya dua butir.Tes ini seperti tes Guilford mengukur kelancaran, kelenturan,
orisinalitas, dan elaborasi dalm berpikir. Tahun 1986 dilakukan penelitian
pembakuan TKV yang menghasilkan nilai baku untuk umur 10-18 tahun,
pengukurn Creativity Quotient.

Tes kreativitas Figural diadaptasi dari Torrance “Circles Test”, dan


dibukukan untuk umur 10-18 tahun oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia,
bagian Psikologi Pendidikan. TKF kecuali mengukur aspek kreativitas terseebut
di muka, juga mengukur kreativitas sebagai kemampuan untuk kombinasi antara
unsur-unsur yang diberikan.Skala Sikap Kreatif juga khusus disusun untuk
Indonesia mengukur dimensi efektif dari kreativitas, yaitu sikap kreatif, yang
dioperalisasi dalm tujh dimensi.Skala ini disusun untuk siswa SD dan SMP. Skala
penilaian anak berbakat oleh Guru disusun pleh Renzulli dan terdiri atas empat
sub-skala, yaitu untuk mengukur fungsi kognitif, motivasi, kreativitas, dan
kepemimpinan. Sub-skala untuk kreativitas meliputi 10 butir untuk dinilai oleh
guru. Karena guru mengalami kesulitan menggunakan alat dari Rezulli maka
disusun alat sederhana untuk identifikasi kreativitas, dangan format untuk sekolah
dasar dan format untuk sekolah menengah. Disini dimensi kreativitas digabung
dengan dimensi lain dari keberbakatan. Skala nominasi keberbakatan yang dapat
digunakan oleh guru, teman sebaya, dan diri sendiri.Ketika skala tersebut ternyata
mempunyai hubungan yang bermakna dengan perubahan keberbakatan.

BAB 4. PERANAN KELUARGA DALAM MENGEMBANGKAN


BAKAT DAN KREATIVITAS ANAK

Amabile menekankan keberhasilan dalam perwujudan kreativitas


ditentukan oleh tiga faktor, yaitu keterampilan dalam bidang tertetu, keterampilan
berpikirdam bekerja kreatif, dan motivasi intrinsik. Penelitian Dacey (1989)
membandingkan karakteristik keluarga yang anak remajanya kreatif dengan
keluarga yang anaknya biasa saja.Hasil penelitian ini menunjukkan peran besar
dari lingkungan keluarga, dalam keluarga yang anak remaja kreatif, tidak banyak
aturan diberlakukan dalam keluarga dibandingkan keluarga yang biasa. Banyak
diantara remaja yang kreatif pernah mengalami masa krisis atau trauma dalam
hidup mereka. Humor juga merupakan ciri yang sering tampil dalam keluarga
kreatif. Orangtua menemukenali tanda-tanda kekreatifan anak sudah pada usia
dini, dan mereka mendorong dan memberi banyak kesempatan untuk
mengembangkan bakat anak. Orangtua dan anak dari keluarga kreatif
beranggapan bahwa peranan sekolah tidak penting dalam pengembangan
kreativitas anak.Tetapi remaja kreatif cenderung untuk bekerja lebih keras
daripada teman sekolah mereka.

Beberap penelitian di Indonesia mengenai hubungan antara latar belakang


keluarga, tingkat pendidikan orang tua, nilai-nilai yang dipentingkan orangtua
dalam mengasuh dan mendidik anak, baik pada jenjang pendidikan dasar maupun
pada pendidikan menengah dan tinggi pada umumnya memperkuat teori dan hasil
penelitian di luar negeri mengenai faktor-faktor penentu dalam memupuk dan
meningkatkan bakat dan kinerja kreatif anak. Ciri-ciri sikap orang tua yang
memupuk kreativitas anak ialah memberi lebih banyak kebebasan kepada anak,
menghormati keunikan anak, mempunyai hubungan sosial yang tidak
menyebabkan ketergantungan, orang tua lebh menghargai prestasi dibandingkan
dengan angka semata-mata, orangtua itu sendiri aktif, mandiri dan menghargai
kreativitas anak, serta menjadi model bagi anak. Sikap orangtua yang emupuk
kreativitas anak sangat berbeda dari sikap orangtua yang tidak menunjang
kreativitas anak.

BAB 5. PERANAN SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN


KREATIVITAS ANAK

Karakteristik guru anak berbakat dapat digolongkan menjadi karakteristik


filosofis, professional, dan pribadi.Karakteristik filosofis penting karena
pandangan guru mengenai pendidikan ikut menentukan pendekatan mereka
terhadap siswa dikelas. Guru anak berbakat perlu mencerminkan sikap kooperatif
dan demokratis, serta mempunyai kompetensi dan minat terhadap proses
pembelajaran. Karakteristik professional meliputi strategi untuk mengoptimalkan
belajar siswa berbakat, keterampilan bimbingan dan penyuluhan, pengetahuan dan
pemahaman psikologi siswa berbakat.Karakteristik pribadi meliputi empati,
toleransi terhadap ketaksaan, kesejatian, aktualisai diri, dan antusiasme.Persiapan
guru anak berbakat dapat melalui program bergelar ataupun program pelatihan
dalam jabatan atau pelatihan jangka pendek.Orangtua dapat membantu dalam
penyelenggaraan rogram anak berbakat di sekolah, misalnya ikut merancang
berbagai kegiatan belajar, mencari narasumber, merencanakan karya wisata, dan
sebagainya. Peranan dari psikolog dan konselor dibahas dengan penekanan
kebutuhan akan interaksi yang terus-menerus dan dialogis untuk memberi nasihat,
dukungan, dan bantuan dalam membantu pengembangan sepenuhnya dari anak
berbakat.

Sikap guru dalam pembelajaran yang meningkatkan motivasi internal dan


prestasi belajar siswa, ialah jika memberi intruksi tanpa mmengatasi tetapi
mengarahkan, dibandingkan dengan pemberian intruksi tanpa pengarahan , yang
terakhir sangat membatasi otonomi anak . Anak akan kreatif jika guru mendorong
otonomi anak. Strategi mengajar yang meningkatkan kreativitas , memperhatikan:

a. Pemberian penilaian tidak hanya oleh guru tetapi juga melibatkan


siswa
b. Pemberian hadiah sebaiknya yang intangible, dan yang berkaitan
dengan kegiatan yang sedang dilakukan
c. Memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih topik atau
kegiatan belajar sampai batas tertentu

BAB 6. PERANAN MASYARAKAT DALAM


MENGEMBANGKAN KRETIVITAS

Kebudayaan Cretivogenic menurut Arieti (1976) mempunyai karakteristik,


yaitu:

- Tersedianya sarana-prasarana kebudayaan


- Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan
- Penekan pada becoming, tidak hanya being
- Kesempatan bebas terhadap media kebudayaan
- Kebebasan, dengan pengalaman tekanan dan rintangan sebagai
tantangan
- Menghargai dan dapat mengintegrasi rangsangan dari kebudayaan
yang berbeda
- Toleransi dan minat terhadap pandangan yang divergen
- Interaksi antara pribadi-pribadi yang berarti
- Adanya insentif, penghargaan atau hadiah

Kesembilan faktor tersebut merupakan penunjang, tetapi yang paling


menentukan adalah unsur-unsur intrapsikis individu, seperti rasa aman dan ebas
secara psikologis. Tujh perubahan mempengaruhi perkembangan kreativitas
individu menurut Simonton ialah pendidikan formal, adanya model peran, Zeit-
geist,fragmentasi politis, keadaan perang, dangguan sipil, dan ketidakstabilan
politis Ia menyarankan pengurangan komitmen yang berlebihan terhadap aspek
formal dalam pendidikan dan menekankan pada tersedianya model peran yang
unggul. Pendapat dan gagasan beberapa pakar Indonesia mengenai kaitan dan
perana faktor-faktor sosial-budaya dengan pengembangan krativitas anggota
masyarakat mnunjukkan kesamaan dengan temuan pakar dan peneliti diluar negeri
sehubungan dengan kondisi sosial-budaya yang menunjang dan menghambat
kreativitas bangsa. Faktor penentu yang dimaksud melalui interaksi antara dua
gerak psikologis, yaitu pengendalian koservatif dan tantangan menghadapi
pembaruan, perkembangan teknologi tingkat tinggi yang digunakan secara efektif,
keterbukaan terhadap rangsangan budaya baru yang memungkinkan pembuahan
silang antar budaya, adanya kebebasan untuk ungkapan kreatif dan komunikasi,
dan keterpaduan kebudayaan Indonesia yang baru dengan kebudayaan dunia yang
sedang tumbuh. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan
pendidikan anak berbakat dapat terwujud melalui berbagai bentuk
kerjasama.Anak berbakat dapan mengunjungi beberapa tempat kerja bisnis dan
organisasi, dan memperoleh pelatihan disana.Pemimpin perusahaan, tokoh-tokh
masyarakat yang memiliki keahlian atau keterampilan dalam bidang tertentu dapat
memberi ceramah di sekolah anak berbakat.

Program Luar Sekolah dapat mmembantu memenuhi kebutuhan kognitif,


afektif, dan generatif. Akhir akhir ini makin tampak peran serta masyarakat untuk
memupuk bakat dan talenta siswa berbakat dalam berbagai bidang dengan
menyelenggarakan kursus, pelatihan, sanggar, dan sebagainya.Namun masih perlu
lebih digalakkan ialah kerjasama tiga lingkungan pendidikan (sekolah, keluarga,
dan masyarakat) dalam pengadaan berbagai alternative program pendidikan anak
berbakat.

BAB 7. KURIKULUM BERDIFERENSIASI UNTUK SISWA


BERBAKAT
Kurikulum 1994 menunjang pendiferensiasi kurikulum untuk siswa
berbakat melalui pilihan metode dan cara pembelajaran yang dapat ditentukan
sendiri oleh guru/sekolah dan disesuikan dengan tingkat kemampuan siswa. Mata
pelajaran yang termasukmuatan lokal memberi peluang untuk mengembangkan
kemampuan siswa yang dianngap perlu oleh daerah. Kegiatan ekstra-kurikuler
dan pembelajaran tambahan dapat dimanfaatkan untuk program pengayaan bagi
siwa berbakat.Kurikulum berdiferensiasi bertujuan memberi pengalaman
pendidikan yang disesuiakan dengan minat dan kemampuan intelektual
murid.MAkna dari kurikulum berdiferensiasi bagi siswa berbakat ialah
menumbuhkan rasa keberhasilan, kepuasan, dan tantangan, membuat siswa aktif
dan tidak merasa bosan disekolah, dan dengan demikian menghindari
underachievement atau putus sekolah. Bagi siswa berbakat empat faktor yang
perlu dimodofikasi, yaitu lingkungan belajar, konten pembelajaran, proses atau
metode pembelajaran, dan prose belajar siswa. Sehingga siswa berbakat menjadi
pelajar yang aktif dalam lingkungan yang memupuk perkembangan keterampilan
dan kemampuan baru.

Sains dan matematika amat penting dalam pendidikan siswa sat ini dan
memerlukan pengmbangan terus-menerus. Bahasa tidak hanya merupakan alat
sosisalisasi, tetapi juga sebagai dasar perkembangan kecerdasan.Dalam
pembelajaran IPS untuk siswa berbakat, penekanannya adalah memeberikan siswa
berbakat alat untuk memberikan sumbangan orisinal terhadap masyarakat dan
menjadi warga Negara yang betanggungjawab.Salah satu tugas guru IPS adalah
mendominsai sikap, gagasan, dan pendapat siswa. Guru hendaknya mendorong
diskusi terbuka, dari bahan dan masalah yang sensitive dan kontraversial.

BAB 8. MODEL BELAJAR MENGAJAR KREATIF

Banyak model belajar mengajar yang dapat digunakan dan bermanfaat


bagi siswa pada umumnya dan khususnya bagi siswa berbakat di dalam kelas
biasa atau di kelas khusus.Model-model dapat digabung atau dipilih untuk
digunakan dalam tujuan tertentu. Pembelajaran akan paling berhasil jika kita
mengetahui model mana yang penting untuk digunakan. Khususnya untuk
pengembangan kreativitas anak berbakat, setiap model mempunyai kelebihan dan
keunikannya:

a. Taksonomi Bloom tentang sasaran pendidikan ranah kognitif


memungkinkan peningkatan berfikir kreatif melalui proses sistesis.
b. Model Struktur Intelek dari Guillford, melalui kategori berpikir
divergen, aspek-aspek seperti kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan
elaborasi dalam berfikir dapat dilatih.
c. Model Talenta Berganda dari taylorterutama bidang kreatif-produktif
dapat mengembangkan keterampilan berfikir kreatif.
d. Model Treffinger untuk mendorong belajar kreatif mengajukan tiga
tingkat, mulai dari yang relatif sederhana (tingkat1yang
memperkenalkan teknik-teknik kreatifdasar) sampai dengan yang
majemuk (tingkat 3 dimana siswa bekerja dengan masalah nyata)
untuk belajar kreatif.
e. Model Enrichment Triad dari Renzulli memberi kesempatan
pengalaman pengayaan, dan khususnya tingkat tiga merupakan
tantangan bagi siswa berbakat, namun ketiga tipe pengayaan ini dapat
memupuk kreativitas.
f. Model Williams tentang perilaku kognitif-afektif di dalam kelas
mengingatkan kita bahwa perilaku kreatif tidak hanya menuntut
kemampuan berpikir kreatif, tetapi juga ciri-ciri afektif dari kreativitas.
Keduanya perlu ditumbuhkan didalam kelas.
g. Model Taksonomi Sasaran Pendidikan Afektif dari Krathwohl
menekankan pentingnya mengembangkan sistem nilai pada semua
siswa berbakat, yang mendasari perilaku mereka secara konsisten. Hal
ini penting untuk membantu mereka untuk mewujudkan kreativitas
yang konstruktif daan tidak yang destruktif.
h. Model Pendidikan Integratif daru Clark mengajukan konsep yang
terpadu tentang kreativitas, yang memerlukan perpaduan antara fungsi
berpikir, perasaan, pengindraan, dan firasat.

BAB 9. TEKNIK DAN PEMECAHAN MASALAH SECARA KREATIF

Teknik-teknik kreatif digolongkan menurut tiga tingkatan dari Treffinger,


pada tingkat 1 diperkenalkan teknik sumbang saran dan teknik daftar periksa atau
pertanyaan yang memacu gagasan.Mengajukan pertanyaan yang memberikan
kesempatan timbulnya berbagai macam jawaban atau mendorong siswa
mengajukan pertanyaan sendiri terhadap suatu masalah.

Teknik tingkat 1 dimaksudkan untuk merangsang berpikir divergen,


menumbuhkan rasa ingin tahu, dan keterbukaan terhadap gagasan baru serta
kepekaan terhadap masalah.Teknik sumbang saran mempersyaratkan empat
aturan dasar, yaitu kebebasan dalam memberikan gagasan, tidak boleh
memberikan kritik pada tahap pencetusan gagasan, penekanan pada kuantitas, dan
kombinasi atau pengembangan gagasan.Teknik tingkat II melatih proses-proses
pemikiran yang lebih majemuk, seperti yang dituntut pada teknik Synectics dan
teknik futuristics.Pada teknik synectics yang melatih siswa untuk berfikir
berdasarkan analogi dalam pemecahan masalah, siswa diperkenalkan dalam
penggunaan analogi fantasi, analogi langsung, dan analogi pribadi. Teknik
futuristics membantu siswa untuk mengantisipasi dan mencita masa depannya,
antara lain dengan menggambarkan garis waktu yang mencakup masa lalu, asa
kini, dan masa depan. Keterampilan khusus yang dapat digunakan dalam futuristic
adalah menulis scenario, menggambar roda masa depan, dan trending yang
menggunakan pertanyaan untuk mengidentifikasi kecenderungan yang ada dan
yang akan timbul.

Teknik tingkat III menghadapkan siswa pada tantangan dan masalah nyata.
Pendekatan pertama ialah pemecahan masalah secara kreatif, yang meliputi lima
tahap, didahului oleh pemikiran dan perasaan kacau ketika masalahnya masih
samar, yang kemudian diikuti oleh tahap penemuan fakta, masalah, gagasan,
solusi, dan penemuan penerimaan atau tahap implementasi. Pada setiap tahap ada
selang-seling antara berpikir divergen dengan berpikir konvergen. Pendekatan
kedua dikemukakan oleh Shallcross sebagai suatu pemecahan masalah yang pada
dasarnya tidak berbeda dari PMK, hanya tahap masalah samar dan tahap
penemuan masalh dijadikan satu tahap yaitu tahap orientasi untuk menentukan
tahap dan tujuan. Teknik PMK sejak tahun 1980 diterapkan di Indonesia sebagai
lokakarya pemecahan masalah secara kreatif untuk berbagai kelompok, baik orang
dewasa maupun anak.

BAB 10. KENDALA DALAM PENGEMBANGAN KREATIVITAS

Sumber kendala ditinjau dari aspek historis, biologis, fisiologis, sosiologis,


psikologis, dan diri sendiri.Sejarah umat manusia mengenal kurun waktu yng
kondusif dan yang tidak kondusif untuk pengembangan kreativitas, baik dibudaya
barat maupun di budaya timur, termasu Indonesia. Lingkungan sosial masyarakat
dengan nilai, norma, dan tradisi yang tidak dapat menerima penyimpangan dari
pola perilaku kelompok termasuk gagasan inovatif dapat menjadi kendala
pengembangan kreativitas anggota masyarakat. Kendala psikologis terhadapa
perilaku kreatif merupakan kendala utama yang perlu mendapat perhatian
pendidik, khususnya faktor-faktor internal seperti tidak dapat melepaskan diri dari
kebiasaan, kecenderungan untuk terlalu membatasi bidang masalahnya,
ketidakmampuan untuk melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang,
melihat apa yang diharapkan akan dilihat, terpaku pada penyelesaian yang
konvensional. Empat cara menurut hasil penelitian dapat enghabat kreativitas
siswa adalah cara pemberian evaluasi dan hadiah yang tidak tepat, penekanan
pada kompetisi dan lingkungan yang membatasi, tidak memberi kesempatan
kepada siswa untuk memilih.

Sehubungan dengan kendala lingkungan sekolah, kecuali keempat faktor


tersebut banyak bergantung pada sikap guru, cara pembelajaran, pengalaman
kegagalan siswa, tuntunan akan konformitas secara berlebih dikelas da oleh teman
sebaya, serta sistem sekolah yang kurang memahami kebutuhan siswa berbakat
kreatif sehingga mereka sering merasa bosan di sekolah.Corplay menyimpulkan
karakteristik guru yang cenderung menghambat kreativitas siswa, penekanan
bahwa guru selalu benar, perbedaan yang kaku antara bekerja dan bermain,
manakala bekerja adalah bermanfaat, sedangkan bermain hanyalah untuk rekreasi.
Hendaknya guru dalam embelajaran dapat mencapai keseimbangan antara materi
kurikulum baku dan merupakan pembaruan, antara evaluasi eksternal dan evaluasi
oleh siswa sendiri, antara penyesuaian terhadap aturan dan norma kelas dengan
memberikan kebebasan kepada siswa, antara pembelajaran tradisional betujuan
untuk meningkatkan kreativitas siswa bebas dari berbagai kendala. Untuk
mengatasi kendala konseptual tersebut dapat dilakukan secara sadar dengan sikp
mempertanyakan dan menyelidiki, pemikiran lancer dan lentur, dan dengan
menggunakan teknik-teknik kreatif. Cara lain ialah dengan memanfaatkan
masukan dari pemikiran prasadar atau tak sadar, antara lain menunda memberikan
penilaian terhadap suatu gagasan da dengan berinkubasi.

BAB 11. ANAK BERBAKAT BERPRESTASI KURANG

Konsep anak berbakat kurang berprestasi yaitu Underachievement adalah


adanya diskrepansi antara potensi unggul siswa dan prestasi sekolah yang rendah
atau rata-rata.Underachievement dapat ditemukenali melalui tes inteligensi,
kreativitas, dan prestasi, atau melalui observasi oleh guru dan orang tua.Tiga
tingkat karakteristik dasar pada anak berbakat berprestasi kurang ialah tingkat
primer yaitu rasa harga diri yang rendah, tingkat sekunder yaitu perilaku
menghindari tugas akademik yang mengancam, tingkat tersier yaitu kebiasaan
belajar dan disiplin yang buruk. Kondisi pribadi yang menyebabkan kerentanan
anak berbakat ialah kecenderungan akan profesionisme, kepekaan yang sangat,
dan kurangnya keterampilan sosial. Kondisi lingkungan yang menyebabkan
kerentanan anak berbakat ialah harapan yang terlalu tinggi, isolasi sosial dan
kurangnya pelayanan pendidikan yang sesuai.Idenrifikasi yang tidak tepat dengan
orang tua dapat memupuk Underchievement, demikian pula identifikasi balik
orang tua dengan anak berbakat.Kurikuum yang tidak menentang dapat
menghambat perkembangan potensi anak berbakat sehingga berprestasi
kurang.Sebagai kompensasi anak dapat menemukan tantangan. Ada ima angkad
strategi untuk mengatasi underachievement adaah:

 Menilai kemampuan siswa dan menentukan sejauh mana ada


penguatan dirumah dan disekoah yang memupuk prestasi dibawah
potensi
 Mengubah penguatan disekoah dan rumah untuk menunjang prestasi
akademis siswa
 Mengubah harapan orang lain yang penting bagi anak
 Menemukan mode identifikasi seseorang dari jenis kelamin yang sama,
bersifat terbuka dan hangat, dan berprestasi
 Mengoreksi kekurangan keterampian akademis

Masalah yang dihadapi perempuan daam pengembangan bakat dan


kemampuan ialah adanya stereotip peranan jenis kelamin, perakuan yang berbeda
terhadap perempuan, diskriminasi, dan kurang memberi kesempatan pada
perempuan.Perbedaan karakteristik antara dua jenis kelamin dapat ditinjau dari
aspek bioogis, sosia budaya, dan perbedaan kemampuan, khususnya daam
matematika.Secara bioogis, riset menemukan perbedaan daam tingkat aktivitas
fisik dan agresi.Beberapa penelitian menemukan spesiaisasi fungsi beahan otak,
yang kiri untuk kemampuan verbal, logis, dan sekuensial, dan yang kanan untuk
kemampuan spasia dan non-verbal lainnya.Perbedaan perlakuan terhadap kedua
jenis kelamin secara sosial-budaya sudah tampak sejak anak lahir.

Anak berbakat yang cacat lebih dikenal dan dilayani kecacatannya


daripada keberbakatannya.Praktis tidak ada program pengemanga bakat dan
talenta bagi mereka.Identifikasi anak berbakat yang anak cacat sulit, karena cacat
mereka dapat mengaburkan ungkapan bakat mereka. Guru perlu mengikuti
pelatihan tentang karakteristik dan metode identifikasi anak cacat yang berbakat.
Tes inteligensi, tes kreativitas, dan Skala Renzulli-Hartman antara lain dapat
digunakan sebagai alat identifikasi. Program bakat dan talenta meliputi bakat dan
komponen yang sama, yaitu percepatan pengayaan, pengelompokan dan
konseling. Mengembangkan konsep diri yang positif merupakan tujuan utama
dalam program bagi anak berbakat yang cacat, yaitu bahwa mereka belajar
menghargai prestasi diri sendiri yang unggul, dan siswa lain menghargai potensi
siswa yang berbakat.

BAB 12. BIMBINGAN KONSELING ANAK BERBAKAT KREATIF

Anak berbakat kreatif memerlukan program bimbingan yang


berdiferensiasi yang berkenaan dengan karakteristik, kebutuhan, dan masalah-
masalh mereka.Diperlukan dukungan dari lingkungan yang meliputi fleksibilitas
dalam meberikan kesempatan, model yang positif, bimbingan dan dukungan
untuk membangun kepercayaan dari dalam, melakukan kegiatan kreatif, empati
dan menghargai rasa humor anak berbakat kreatif.Kebutuhan anak akan anak
berbakat akan koseling meliputi bidang perkembangan psiko-sosial, perencanaan
akademis, dan karir. Fungsi umum program bimbingan dan konseling meliputi
tiga proses dasar yaitu konseling, konsultasi, dan koordinasi. Layanan konseling
anak berbakat lebih bersifat developmental dan proaktif, daripada remedial dan
reaktif.Pendekatan konseling dan strategi intervensi yang digunakan dikaitkan
dengan karakteristik dan kebutuhan anak berbakat.Strategi untuk kebutuhan
konseling meliputi pemberian informasi, menerapkan bidang subjek akademis
dalam kehidupan nyata.Strategi untuk kebutuhan konseling karir meliputi
beberapa topic kunci untuk didiskusikan, dan kegiatan yang membantu siswa
merencenakan karir.Karakteristik anak berbakat dan kondisi lingkungan rumah,
sekolah dan masyarakat yang menghambat ungkapan kreatif, mengakibatkan
berbagai ketegangan pada anak berbakat yang pada gilirannya dapat
mengakibatkan berbagai kesulitan dalam belajar dan perilaku bermasalah.
Untuk dapat membantu siswa mengatasi ketegangan ini, konselor perlu
memahami arti keberbakatan, karakteristik dan kebutuhan anak
berbakat.menemukenali kondisi yang menghambat perkembangan dan ungkapan
kreativitas, serta membantu siswa berbakat memperoleh keterampilan
interpersonal dan intelektual dalam menghadapi ketegangan sejak awal.Gagasan
Arieti dan Simonton mengenai kondisi sosial-budaya yang mempunyai dampak
terhadap perwujudan bakat dan kreativitas individu, dapat digunakan untuk
menyususn strategi bimbingan anak berbakat dengan perspektif budaya.
BAB III
PEMBAHASAN

A. KELEBIHAN
 Menurut saya buku ini sangat bagus, karena materi-materi yang
dibahas dibuat dengan konsep-konsep di setiap materi yang
dijelaskan
 Materi buku ini sudah lengkap
 Buku ini memuat tentang perkembangan kreativitas anak yang bisa
menjadi pedoman untuk mengembangkan kreativitas anak
 Tulisan yang dimuat dalam buku ini rapi, setiap ada materi yang
penting diberikan tanda yang dapat memudahkan pembaca
menemukan materi-materi penting tersebut

A. KELEMAHAN
 Menurut saya buku ini memang bagus tapi kurang menarik karena
tidak dilengkapi dengan gambar yang berkaitan dengan materi
yang dijelaskan sehingga membuat para pembaca menjadi cepat
bosan
 Sampul buku tidak menarik dan terlihat kusam
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Anak-anak yang kreatif biasanya selalu ingin tahu, memiliki minat yang
luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif
biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani
mengambil resiko (tetapi dengan perhitungan) dari pada anak-anak pada
umumnya. Siswa berbakat kreatif biasanya mempunyai rasa humor yang tinggi,
dapat melihat masalah dari berbagai sudut tinjau, dan memiliki kemampuan untuk
bermain dengan ide, konsep, atau kemungkinan-kemungkinan yang dikhayalkan.
Perkembangan kreativitas pada usia 5-6 tahun ketika anak-anak siap
memasuki sekolah, mereka belajar bahwa meraka harus menerima otoritas dan
konformis dengan aturan dan tata tertib yang dibuat orang dewasa. Usia 8 sampai
10 tahun ketika keinginan anak untuk diterima sebagai anggota gang mencapai
puncaknya.

B. SARAN

Berdasarkan kenyataan dilapangan, kita dapat menemukan beberapa


pengajar yang masih kurang memperhatikan pengembangan kreativitas anak
didiknya, maka dari itu orang tua, pendidik dan masyarakat harus mempersiapkan
sejak dini rencana-rencana pengajaran yang merujuk pada pengembangan
kreativitas anak-anak didik dengan berbagai teori dan peran-perannya demi
kemajuan kreativitas anak-anak bangsa dimasa yang akan datang.
Dalam penulisan critical book report ini, saya menyadari bahwa
penyusunan critical book report ini masih terdapat kekurangan serta kesalahan.
Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat
membangun, untuk penyempurnaan pembuatan critical book report berikutnya.
Semoga critical book ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan
terimakasih.
Daftar Pustaka
Munandar, Utami. 1999. Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta