Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

SEJARAH ARSITEKTUR TIMUR


ARSITEKTUR TRADISIONAL PADANG DAN PALEMBANG

DISUSUN OLEH :
NAMA : RAHMADANTI ADMAJA
NRP : 142018009
DOSEN : RENY KARTIKA SARY, ST.MT

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan saya kemudahan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya saya
tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam
semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang
kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya,
baik itu berupa sehar fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah Sejarah Arsitektur Timur dengan judul Arsitektur
Tradisional Padang dan Palembang.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, saya mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi
makalah yang lebih baik lagi.

Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon
maaf yang sebesar-besarnya.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Palembang, 11 April 2019


ARSITEKTUR TRADISIONAL PADANG

A. SEJARAH RUMAH MINANGKABAU


Rumah gadang merupakan rumah adat Minangkabau. Rumah gadang ini mempunyai
ciri-ciri yang sangat khas. Bentuk dasarnya adalah balok segi empat yang mengembang ke
atas. Garis melintangnya melengkung tajam dan landai dengan bagian tengah lebih rendah.
Lengkung atap rumahnya sangat tajam seperti tanduk kerbau, sedangkan lengkung badan
dan rumah landai seperti badan kapal. Atap rumahnya terbuat dari ijuk. Bentuk atap yang
melengkung dan runcing ke atas itu disebut gonjong. Karena atapnya membentuk gonjong,
maka rumah gadang disebut juga rumah bagonjong.
Rumah Gadang atau rumah Godang adalah nama untuk rumah adat tradisional
Minangkabau yang banyak dijumpai di provinsi Sumatera Barat. Rumah ini juga disebut
dengan nama lain oleh masyarakat setempat dengan nama rumah Bagonjong atau Rumah
Baanjuang.
Rumah Gadang sebagai tempat tinggal bersama mempunyai ketentuan-ketentuan
tersendiri. Contohnya saja seperti jumlah kamar yang bergantung pada jumlah perempuan
yang tinggal di dalamnya. Rumah Gadang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik
keluarga induk dari suku atau kelompok tertentu secara turun menurun dan hanya dimiliki
dan diwarisi dari dan kepada perempuan kelompok tersebut.
Rumah Gadang, di samping sebagai tempat tinggal, juga dapat berfungsi sebagai tempat
musyawarah keluarga, tempat mengadakan upacara-upacara, pewarisan nilai-nilai adat, dan
merupakan representasi dari budaya matrilineal. Rumah Gadang sangat dimuliakan dan
bahkan dipandang sebagai tempat suci oleh masyarakat Minangkabau. Status rumah
Gadang yang begitu tinggi ini juga melahirkan berbagai macam tata krama. Setiap orang
yang ingin naik ke rumah Gadang harus terlebih dahulu mencuci kakinya.

B. ASAL USUL BENTUK RUMAH GADANG


Pengaruh kental adat istiadat mencetuskan banyak versi cerita tentang Asal-usul Rumah
Gadang Minangkabau. Cerita itu mayoritas berasal dari tambo Minangkabau. Ada juga yang
bersumber dari berbagai tulisan sejarah yang ditulis pada masa itu. Setiap cerita mempunyai
fakta tersendiri. Sulit untuk mengetahui yang mana sumber yang lebih valid.
1. Ada versi yang menceritakan, bentuk gonjong rumah gadang itu menyerupai tanduk
seekor kerbau. Erat sekali kaltannya dengan tambo yang menyatakan, orang
Minangkabau Menang (Minang) dalam adu kerbau dengan raja dari Jawa pada
jaman itu. Untuk melestarikan kemenangan tersebut, masyarakat Minangkabau
membuat rumah dengan gonjong di bagian atap rumahnya sehingga terlihat seperti
tanduk kerbau.
2. Cerita Versi lain menyebutkan, corak rumah gadang yang legendaris itu mirip bentuk
kapal. Kapal itu mereka namakan “lancang”. Pada zaman Dahulu kala Kapal lancang
itu datang dari arah timur melewati sungai Kampar. Ketika sampai di muara sungai,
kapal ditarik ke daratan. Supaya kapal tidak cepat lapuk, pemilik memasangkan atap
pada kapal. Layar yang tergantung pada tiang-tiangnya dan diikat denga tali,
berfungsi sebagai atap. Oleh karena layar terlalu berat, tiang-tiang itu melengkung
menyerupai gonjong seperti atap rumah gadang sekarang. Penumpang lancang
(kapal) membentuk rumah yang mirip dengan kapal itu. Dari sinilah asal usul rumah
gadang Minangkabau.
3. Cerita berikutnya lain pula versinya. Bentuk rumah gadang itu menyerupai susunan
sirih dan cerano. Tulang sirih itu melentik seperti bubungan atap. Pendapat itu
diperkuat dengan fungsi sirih di Minangkabau, yakni sebagai lambang persaudaraan
dan kekeluargaan menyambut tetamu.

C. Filosofi Rumah Adat Minang - Rumah Gadang

Sebagai suku bangsa yang menganut falsafah alam, garis dan bentuk rumah gadang
tampak serasi dengan bentuk alam Bukit Barisan yang bagian puncaknya bergaris lengkung
yang meninggi pada bagian tengahnya serta garis lerengnya melengkung dan mengembang
ke bawah dengan bentuk bersegi tiga pula.
Garis alam Bukit Barisan dan garis rumah gadang merupakan garis-garis yang
berlawanan, tetapi merupakan komposisi yang harmonis jika dilihat secara estetika. Jika
dilihat dan segi fungsinya, garis-garis rumah gadang menunjukkan penyesuaian dengan alam
tropis. Atapnya yang lancip berguna untuk membebaskan endapan air pada ijuk yang
berlapis-lapis itu, sehingga air hujan yang betapa pun sifat curahannya akan meluncur cepat
pada atapnya.
Bangun rumah yang membesar ke atas, yang mereka sebut silek, membebaskannya dan
terpaan tampias. Kolongnya yang tinggi memberikan hawa yang segar, terutama pada
musim panas. Di samping itu rumah gadang dibangun berjajaran menurut arah mata angin
dari utara ke selatan guna membebaskannya dari panas matahari serta terpaan angin.
Jika dilihat secara keseluruhan, arsitektur rumah gadang itu dibangun menurut syarat-
syarat estetika dan fungsi yang sesuai dengan kodrat atau yang nilai-nilai kesatuan,
kelarasan, keseimbangan, dan kesetangkupan dalam keutuhannya yang padu.
Dari sisi filosofinya, rumah gadang dikatakan gadang (besar) bukan karena bentuknya
yang besar melainkan fungsinya yang gadang. Ini ternukil dalam ungkapan yang sering kita
dengan bila tetua-tetua adat membicarakan masalah rumah gadang tersebut.
“Rumah Gadang basa batuah, Tiang banamo kato hakikat, Pintunyo banamo dalil
kiasan, Banduanyo sambah-manyambah, Bajanjang naik batanggo turun, Dindiangnyo
panutuik malu, Biliaknyo aluang bunian “.
Dari ungkapan tersebut, artinya fungsi rumah gadang tersebut menyelingkupi bagian
keseluruhan kehidupan sehari-hari orang Minangkabau, baik sebagai tempat kediaman
keluarga dan merawat keluarga, pusat melaksanakan berbagai upacara, sebagai tempat
tinggal bersama keluarga dan inipun diatur dimana tempat perempuan yang sudah
berkeluarga dan yang belum, sebagai tempat bermufakat, rumah gadang merupakan ba-
ngunan pusat dari seluruh anggota kaum dalam membicarakan masalah mereka bersama
dalam sebuah suku, kaum maupun nagari dan sebagainya. Memang sebuah fungsional dari
rumah gadang tersebut bila kita pahami dengan baik.

D. Fungsi dari Rumah Gadang

Rumah Gadang kaya dengan makna yang merupakan gambaran umum dari kehidupan
masyarakat minangkabau secara keseluruhan. Dalam kehidupan sehari-hari, rumah gadang
memiliki fungsi-fungsi tersendiri, fungsi tersebut adalah:
1. Fungi Adat
Sebuah rumah gadang, merupakan rumah utama yang dimiliki oleh
sekelompok masyarakat minangkabau yang diikat oleh suatu suku tertentu. Sebagai
rumah utama, rumah gadang merupakan tempat untuk melangsungkan acara-acara
adat dan acara-acara penting lain dari suku yang bersangkutan.
Kegiatan-kegiatan adat pada masyarakat minangkabau dapat kita uraikan
berdasarkan kepada siklus kehidupan mereka, yaitu: Turun Mandi, Khitan,
Perkawinan, Batagak Gala (Pengangkatan Datuak), dan Kematian.
Fungsi-fungsi di atas dapat disebut juga fungsi temporer yang berlangsung
pada suatu rumah gadang, karena kegiatan tersebut tidak berlangsung setiap hari
dan berlangsung pada waktu-waktu tertentu saja.
2. Fungsi Keseharian
Rumah gadang merupakan wadah yang menampung kegiatan sehari-hari dari
penghuninya. Rumah gadang adalah rumah yang dihuni oleh sebuah keluarga besar
dengan segala aktifitas mereka setiap harinya. Pengertian dari keluarga besar disini
adalah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu serta anak wanita, baik itu yang
telah berkeluarga ataupun yang belum berkeluarga, sedangkan anak laki-laki tidak
memiliki tempat di dalam rumah gadang.
Jumlah kamar bergantung kepada jumlah perempuan yang tinggal di
dalamnya. Setiap perempuan dalam kaum tersebut yang telah bersuami
memperoleh sebuah kamar. Sementara perempuan tua dan anak-anak memperoleh
tempat di kamar dekat dapur. Gadis remaja memperoleh kamar bersama di ujung
yang lain.
Fungsi inilah sebenarnya yang lebih dominan berlangsung pada suatu rumah
gadang. Sebagaimana lazimnya rumah tinggal bagi masyarakat umumnya, disinilah
interaksi antar anggota keluarga berlangsung. Aktifitas sehari-hari seperti makan,
tidur, berkumpul bersama anggota keluarga dan lain sebagainya lebih dominan
berlangsung disini, disamping kegiatan-kegiatan adat seperti yang telah diuraikan
diatas.

E. PROSES PEMBUATAN
Menurut tradisinya, tiang utama Rumah Gadang yang disebut tonggak tuo yang
berjumlah empat buah/batang diambil dari hutan secara gotong royong oleh anak nagari,
terutama kaum kerabat, dan melibatkan puluhan orang. Batang pohon yang ditebang
biasanya adalah pohon juha yang sudah tua dan lurus dengan diameter antara 40 cm hingga
60 cm. Pohon juha terkenal keras dan kuat. Setelah di bawa ke dalam nagari pohon tersebut
tidak langsung di pakai, namun direndam dulu di kolam milik kaum atau keluarga besar
selama bertahun-tahun.
Setelah cukup waktu batang pohon tersebut diangkat atau dibangkit untuk dipakai
sebagai tonggak tuo. Prosesi mengangkat/membangkit pohon tersebut disebut juga sebagai
mambangkik batang tarandam (membangkitkan pohon yang direndam), lalu proses
pembangunan Rumah Gadang berlanjut ke prosesi berikutnya, mendirikan tonggak tuo atau
tiang utama sebanyak empat buah, yang dipandang sebagai menegakkan kebesaran.
F. ARSITEKTUR RUMAH GADANG
Ketika kita membicarakan tentang
arsitektur rumah Gadang, pasti yang
akan pertama kali terbayang adalah
bentuk atapnya yang runcing. Atap ini
disebut sebagai atap gonjong. Ciri khas
bentuk atap gonjong ini selalu ada di
setiap rumah khas Minangkabau, bahkan
pada rumah modern mereka. Dahulunya
atap rumah Gadang dibuat dari bahan
ijuk yang dapat tahan hingga puluhan tahun. Namun, belakangan atap rumah banyak
berganti dengan atap seng.
Bentuk gonjong yang runcing diibaratkan seperti harapan untuk mencapai Tuhan dan
dindiang, yang secara tradisional terbuat dari potongan anyaman bambu, melambangkan
kekuatan dan utilitas dari masyarakat Minangkabau yang terbentuk ketika tiap individu
menjadi bagian masyarakat yang lebih besar dan tidak berdiri sendiri.
Ada pula yang mengatakan bahwa atap gonjong merupakan simbol dari tanduk kerbau,
simbol dari pucuk rebung, simbol kapal, dan simbol dari bukit. Kerbau karena kerbau dinilai
sebagai hewan yang sangat erat kaitannya dengan nama Minangkabau. Pucuk rebung
karena rebung merupakan bahan makanan adat. Kapal karena orang Minangkabau dianggap
berasal dari rombongan Iskandar Zulkarnaen yang berlayar. Bukit karena daerah
Minangkabau yang berbukit.
Pilar rumah Gadang yang ideal disusun dalam lima
baris yang berjajar sepanjang rumah. Baris ini
membagi bagian interior menjadi empat ruang
panjang yang disebut Lanjar. Lanjar di belakang
rumah dibagi menjadi kamar tidur (Ruang). Menurut
adat, sebuah rumah Gadang harus memiliki minimal
lima Ruang, dan jumlah ideal adalah sembilan. Lanjar
lain digunakan sebagai area umum yang disebut
labuah gajah (jalan gajah) yang digunakan untuk
kegiatan sehari-hari dan acara seremonial.

Setiap rumah gadang di Minangkabau mempunyai


rangkiang. Rangkiang adalah bangunan yang merupakan
tempat menyimpan padi milik kaum. Rangkiang ini tegak
berjejer di halaman depan rumah. Bentuk rangkiang sesuai
dengan gaya bangunan rumah gadang. Atap rangkiang juga
memiliki gonjong dan terbuat dari ikuk. Rangkiang memiliki
pintu kecil yang terletak di bagian atas dari salah satu
dinding singkok (singkap). Dinding singok adalah dinding
segitiga pada bagian loteng dari rangkiang tersebut. Untuk
naik ke rangkiang digunakan tangga yang terbuat dari bambu. Tangga ini dapat dipindahkan,
bila tidak digunakan maka tangga ini disimpan di bawah kolong rumah gadang.
Rangkiang Sitinjau Lauik berisi beras untuk upacara adat. Rangkiang Sitangka Lapa berisi
beras untuk sumbangan ke desa miskin dan desa yang kelaparan. Rangkiang Sibayau-bayau
berisi beras untuk kebutuhan sehari-hari keluarga. Di halaman depan rumah Gadang
terdapat pula ruang Anjuang, tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala
adat. Maka, rumah Gadang juga dinamakan sebagai rumah Baanjuang.

Rumah Gadang ini dibuat berbentuk


empat persegi panjang dan dibagi atas dua
bagian, muka dan belakang. Pada bagian
depan dinding rumah Gadang dibuat dari
bahan papan, sedangkan bagian belakang
dari bahan bambu. Papan dinding dipasang
vertikal dan semua papan yang menjadi
dinding atau menjadi bingkai diberi ukiran
sehingga seluruh dinding menjadi penuh
ukiran. Penempatan motif ukiran tergantung pada susunan dan letak papan pada dinding
rumah Gadang.

Sesuai dengan ajaran falsafah


Minangkabau yang bersumber dari alam,
“alam takambang jadi guru”, ukiran-ukiran
pada rumah Gadang juga merupakan
simbolisasi dari alam. Pada dasarnya ukiran
pada Rumah Gadang merupakan ragam
hias dalam bentuk garis melingkar atau
persegi. Biasanya bermotif tumbuhan
merambat, akar yang berdaun, berbunga
dan berbuah.
Pola akar biasanya berbentuk lingkaran,
akar berjajaran, berhimpitan, berjalinan dan juga sambung menyambung. Cabang atau
ranting akar berkeluk ke luar, ke dalam, ke atas dan ke bawah. Motif lain yang dijumpai
adalah motif geometri segi tiga, empat dan genjang. Motif daun, bunga atau buah dapat
juga diukir tersendiri atau secara berjajaran.

Nenek moyang orang Minang ternyata berpikiran jauh maju melampaui zamannya
dalam membangun rumah. Konstruksi rumah gadang ternyata telah dirancang untuk
menahan gempuran gempa bumi. Rumah gadang di Sumatera Barat membuktikan
ketangguhan rekayasa konstruksi yang memiliki daya lentur dan soliditas saat terjadi
guncangan gempa hingga berkekuatan di atas 8 skala Richter. Bentuk rumah Gadang
membuat rumah Gadang tetap stabil menerima guncangan dari bumi. Getaran yang datang
dari tanah terhadap bangunan terdistribusi ke semua bangunan.
Rumah gadang tidak menggunakan paku
sebagai pengikat, tetapi berupa pasak sebagai
sambungan. Hal ini membuat bangunan
memiliki sifat sangat lentur. Selain itu, kaki
atau tiang bangunan bagian bawah tidak
pernah menyentuh bumi atau tanah. Tapak
tiang dialasi dengan batu sandi. Batu ini
berfungsi sebagai peredam getaran
gelombang dari tanah sehingga tidak
mempengaruhi bangunan di atasnya.
Jika ada getaran gempa bumi, rumah Gadang
hanya akan berayun atau bergoyang
mengikuti gelombang yang ditimbulkan getaran tersebut. Darmansyah, seorang ahli
konstruksi di Sumatera Barat menyebutkan, dari sisi ilmu konstruksi bangunan rumah
gadang jauh lebih maju setidaknya 300 tahun dibanding konstruksi yang ada di dunia pada
zamannya.

G. SIMBOLIS RUMAH GADANG

 Gonjong, struktur atap yang seperti tanduk


 Singkok, dinding segitiga yang terletak di bawah ujung gonjong
 Pereng, rak di bawah singkok
 Anjuang, lantai yang mengambang
 Dindiang ari, dinding pada bagian samping
 Dindiang tapi, dinding pada bagian depan dan belakang
 Papan banyak, fasad depan
 Papan sakapiang, rak di pinggiran rumah
 Salangko, dinding di ruang bawah rumah
ARSITEKTUR TRADISONAL PALEMBANG

Berdasarkan catatan sejarah kota Palembang yang berada di wilayah Sumatera


Selatan dahulu merupakan pusat kerajaan Sriwijaya. Hal ini diperkuat oleh adanya Prasasti
Kedukan Bukit yang ditemukan di daerah Bukit Siguntang, sebelah barat kota Palembang.
Kata Palembang berasal dari kata Limbang yang berarti mencuci air sungai yang
berlumpur untuk mendapatkan emas ditambah dengan awalan pa berarti menunjuk suatu
tempat. Namun, ada versi lain yang menyebutkan bahwa kata Palembang berasal dari kata
Lembang yang berarti genangan air dengan awalan pa berarti menunjuk suatu tempat.
Dengan demikian kata Palembang dapat diartikan sebagai suatu tempat yang selalu
tergenang air.
Pada saat ini yang disebut orang Palembang bukan lagi “Penduduk asli” melainkan
keturunan hasil asimilasi pendatang dengan latar belakang etnik yang beragam. Orang
Palembang asli sendiri serint disebut sebagai Melayu Palembang mereka sendiri menyebut
dirinya sebagai wong Palembang.
Mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat kota ini adalah menangkap
ikan, membuat perahu dan nambangi yaitu mendayung perahu tambangan untuk
penumpang yang akan menyeberangi sungai. Disamping itu kaum wanita dan anak-anak
juga bekerja membuat rokok godong (dari daun nipah), kerupuk kemplang, dan mpek-mpek
yang terbuat dari ikan tenggiri.
Mayoritas masyarakat Palembang beragama Islam dan sebagian kecil Protestan,
Katholik dan Budha. Mereka memiliki kerajinan khas, seperti nyaman rotan, ukitan emas
dan tenunan kain yang menghasilkan berbagai kain songket dengan motif hiasan yang
beraneka ragam, seperti songket Lepus, janda berhias, bunga intan tretes midar, kembang
siku hijau dan sebagainya.
RUMAH ADAT PALEMBANG.

Masyarakat Palembang mengenal tiga bentuk bangunan tempat tinggal seperti


rumah Limas, rumah gudang, dan rumah rakit.

1. RUMAH LIMAS

a. PENGERTIAN
RUMAH LIMAS merupakan rumah tradisional khas provinsi sumatra selatan,bangunan
nya bertingkat-tingkat dengan pilosopi budaya tersendiri untuk setiap tingkatnya rumah
limas sangat liuas dan seringkali digunakan sebagai tempat berlangsungnya hajatan atau
upacara pernikahan liasnya mulai dari 400 hingga 1000 meter persegi bahan meterial dan
pembuat dinding lantai serta pintu menggunakan kayu tembesu berbedah dengan rumah
yangterbuat dari kayu selain berbentuk limas rumah tradisional sumatra selatan ini juga
tampak seperti rumah panggung dengan tiang-tiangnya dipanculkan hingga kedalam tanah.
Tingkatan yang dimilikih rumah ini disertai dengan 5 ruangan yang disebut dengan
KEKIJING .
Kata limas sendiri berasal dari kata “lima” dan “emas” maknanya adalah tujuan yang
ingin dicapai dari keberadaan rumah limas yaitu keagungan dan kebesaran, rukun damai
adat sopan santun, aman subur sentosa, dan makmur sejahtera. Rumah limas adalah
sebuah rumah berbentuk rumah panggung, tapi yang kita lihat saat ini, masyarakat banyak
memugar rumah mereka menjadi rumah permanen tanpa menghilangkan ciri dari rumah
limas, karena rumah limas merupakan peninggalan sejarah tradisi budaya dan kebanggaan
bagi masyarakat Sumatera Selatan khususnya masyarakat Palembang.

b. PEMBUATAN RUMAH LIMAS


1. Bahan bahan
 Rumah tradisional limas sebagian besar terbuat dari kayu. Jenis kayu yang digunakan
dalam pembuatan rumah limas adaah jenis kayu bermutu baik, misalnya sebagai bahan
tiang digunakan kayu jenis petanang, unglen, besi dan tembesu dan untuk lantai dan
dinding menggunakan kayu merawan.
 Belah buluh. Belah buluh adalah bambu yang di belah dua . sebagian orang
menggunakan belah buluh digunakan untuk atap rumah.
 Namun pada zaman sekarang genteng dan seng yang kebanyakan digunakan sebagai
atap
 Pengumpulan bahan bangunan biasanya sudah terkumpul sebelum atau sesudah
upacara. Kayu yang digunakan akan direndam terlebih dahulu dalam air yang mengalir
sekitar 3 – > 6 bulan bahkan ada yang setahun. Sampai pada waktu pembangunannya,
bahan tersebut dikeringkan dan dipilih sesuai dengan elemen konstruksi yang akan
digunakan

2. Tenaga Kerja
Untuk mendirikan rumah, masyarakat menggunakan tenaga perancang yang
memiliki pengetahuan dan adat membangun rumah. Tenaga ini biasanya memiliki ilmu
turun temurun sebagai ahli dalam bangunan tradisional. Mereka bukan hanya mengetahui
sistem struktur konstruksi dan detail rumah, namun juga bisa memilih bahan
bangunan/kayu yang baik

3. Waktu dan Pemilihan Tempat


Masyarakat palembang meyakini bahwa waktu yang terbaik untuk membangun
rumah tempat tinggal adalah hari senin. Hari senin dianggap sebagai hari yang paling baik
karena pada hari tersebut Rasulullah Muhammad di lahirkan. Sedangkan tempat yang paling
baik untuk mendirikan rumah adalah berada di dekat sungai. Tujuannya adalah agar bagian
belakang rumah dapat berbatasan langsung dengan sungai. Disamping itu, rumah limas
selalu diusahakan agar menghadap ke arah timur.
4. Upacara
Setelah mencapai kesepakatan bersama, mereka mengadakan upacara mendirikan
rumah. Upacara ini biasanya dilakukan dengan menyembelih hewan berkaki dua ataupun
empat. Seperti ayam, sapi, kambing dan diadakan pada malam jumat. Untuk di makan
bersama keluarga serta tetangga dekat.
5. Tahap Pembangunan
Sebelum memulai konstruksi diadakan upacara pendirian tiang dengan menyembelih
hewan ternak seperti kambing atau sapi. Upacara ini dengan mengundang seluruh tenaga
kerja pembangunan rumah besarta masyarakat sekitarnya. Tahap pertama dari
pembangunan rumah limas Palembang dilakukan dengan menggali tanah terlebih dahulu.
Yang pertama kali dipasang adalah tiang tengah (sako sunan), yang dirangkai dengan balok2
penguatnya, kemudian baru memasang tiang-tiang lain dan merangkainya dengan balok lain
pula.
Pemasangan tiang-tiang ini berurutan dengan proses penggalian dan pengurugan
tanah kembali. Pekerjaan struktur ini dilanjutkan dengan pemasangan kuda-kuda dan
kerangka atap sampai dengan penyelesaian konstruksi atap beserta penutupnya.
Setelah bangunan memiliki atap, barulah dibuat elemen konstruksi lantai dan dinding.
Sebelum memasang kerangka atap diadakan upacara naik atap. Demikian pula jika seluruh
bagian rumah telah selesai, sebelum ditempati juga diadakan upacara yang bernama
nunggu rumah.
Konstruksi bangunan rumah limas memakai bahan kayu unglen atau merbau yang
tahan air.U;ntuk penutup dinding-dindingnya dibuat dari papan kayu yang disusun
datar/horisontal. Secara konstruksi bentuk ini ternyata lebih kokoh daripada dipasang pada
posisi tegak/vertikal, terutama jika terjadi guncangan. Papan-papan kayu ukuran lebar
sekitar 2%cm dan panjang sesuai jarak tiang kayu, dipaku pada tiang-tiang kayu. Tetapi
banyak juga ditemukan rumah Bari dengan papan penutup dinding dipasang pada posisi
tegak/vertikal yang dipaku pada balok pengikat antara tiang satu dan lainnya. Konstruksi
inipun boleh dibilang kuat dan kokoh, tergantung dari balok ikat pada tiangnya.
Atap rumah Limas, menggunakan rangka atap dari bahan kayu dan atapnya
menggunakan seng atau genteng. Dibawah atap limasan dibuat tritisan/kantilever sebagai
pelindung untuk tangga dan dinding rumah dari hujan. Tritisan ini ada yang dibuat hanya
bagian depannya saja, ada juga yangmengelilingi bangunan. Karena tritisan ini cukup lebar
maka dibuatlah penopang atau semacam kanopi dari kayu yang dipasang pada jarak-jarak
tertentu. Setelah rumah sudah siap di tempati, namun sebelum itu dilakukan upacara
tunggu rumah.
c. BAGIAN RUMAH LIMAS

1. Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang disebut tenggalung.
Makna filosofis di balik pagar kayu itu adalah untuk menahan supaya anak perempuan
tidak keluar dari rumah.
2. Perbedaan ketinggian lantai yang menjadikanruang tamu ini terbagi menjadi tiga bagian.
Hal ini dikarenakan pada zaman dulu ada pembagian kedudukan, seperti pada
bagian paling bawah untuk golongan Ki Agus, Kemudian diatasnya Mas Agus, kemudian
yang paling tinggi Radenatau juga orang yang di tuakan dan dianggap agung. Namun
pada masa sekarang ini hal itu sudah jarang berlaku lagi. Lantai pada kekijing biasa di
sebut bengkilas.
3. Bagian depan rumah Limas, pada sisi kanan dan kirinya, terdapat dua buah tangga yang
jumlah anak tangga selalu berjumlah ganjil. Tangga-tangga tersebut langsung munuju
pintu masuk rumah.Jogan berfungsi sebagai penghubung dengan pintu rumah dan
sebagai tempat istirahat pada siang dan malam hari. Di samping itu jogan di pergunakan
untuk menyimpan peralatan, tempat upacara untuk anak!anak, dan sebagai tempat
untuk menyaksikan jika di dalam rumah terdapat kegiatan.
4. Pada rumah limas terdapat beberapa kekijing yang pada sisi kanan dan kirinya terdapat
sebuah jendela. Di antara kekijing tersebut terdapat beberapa penyekat seperti dinding
yang dapat di angkat. Dinding pada kekijing yang dapat di angkat disebut ciyam atau
orang menyebut nya lawang kipas. Namun perlu diketahui bah&a, penyekat antara
kekijing hanya terdapat pada kekijing pertama, sedangkan undakan berikutnya tidak.
5. Ruang utama yang berada di tengah rumahdisebut dengan ruang gajah. Ruang gajah
adalah tempatyang paling dihormati, posisinya dibatasi dengan tiang-tiang utama yang
disebut dengan sako sunan. Kamar-kamar tidur terletak di sisi kiri dan kanan
berhubungandengan dinding luar, sedangkan bagian belakang rumah berfungsi sebagai
ruang makan (garang) juga berfungsi sebagai dapur (pawon)

d. FUNGSI RUMAH ADAT


Selain menjadi ikon budaya, di masa silam rumah adat Limas Sumatera Selatan juga
berfungsi sebagai tempat tinggal masyarakat Suku Palembang. Untuk menunjang fungsi
tersebut, rumah Limas dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan peruntukannya.
Pada bagian depan terdapat jogan, ruang kerja, gegajah, dan amben. Kesemua
ruangan tersebut menjadi ruangan utama saat pemilik rumah menggelar acara (hajat)
seperti kendur, upacara adat, penerimaan tamu, serta pertemuan-pertemuan penting. Oleh
karenanya, di bagian-bagian ruangan ini kita akan menemukan banyak hiasan, misalnya
lemari kaya yang berisi pajangan sebagai pemisah antara ruang depan dan tengah.
Pada bagian tengah terdapa kamar Kepala Keluarga, Pangkeng Kaputren (kamar anak
perempuan), Pangkeng Keputran (kamar anak laki-laki), Ruang Keluarga, dan Ruang Anak
Menantu, Pangkeng Penganten (kamar pengantin). Ruangan pada bagian tengah bersifat
privat. Tak semua orang diijinkan masuk kecuali anggota dalam keluarga pemilik rumah.
Pada bagian belakang terdapat Dapur atau pawon, Ruang Hias, Ruang Pelimpahan,
dan Toilet. Remaja putri dan kaum wanita biasanya lebih banyak beraktivitas di bagian ini

e. CIRI KHAS DAN NILAI FILOSOFIS

Ada beberapa ciri khas rumah adat Limas yang membedakan rumah adat ini dengan
rumah adat dari provinsi lain di Indonesia. Ciri khas tersebut bukan hanya terletak pada
bentuk fisik bangunannya, melainkan juga terkandung dalam nilai-nilai filosofis yang
disimbolkan dalam aturan-aturan khusus.
Rumah adat Sumatera Selatan ini memiliki pagar di bagian berandanya. Pagar yang
tinggi dan mengelilingi semua bagian beranda mengandung nilai filosofis bahwa anak
perempuan atau gadis palembang haruslah terjaga dari lingkungan luar. Ini juga
menyimbolkan bahwa mereka harus punya tameng untuk menjaga harkat dan harga dirinya
di lingkungan. Lantai rumah ini memiliki tingkatan-tingkatan yang berundak (kekijing).
Sedikitnya ada 3 tingkatan di bagian depan rumah yang biasa digunakan untuk
menggelar acara adat. Semakin tinggi tingkat lantai, maka tamu yang duduk pada lantai itu
kedudukannya di dalam tata adat dan pemerintahan juga semakin tinggi. Rumah limas
dibangun dengan menghadap timur dan barat.
Aturan ini berlaku karena suku Palembang menganut falsafat “Matoari eedoop dan
matoari mati” yang artinya matahari terbit dan matahari terbenam. Falsafah ini memiliki
nilai filosofis bahwa orang Palembang harus secara proporsional mengingat bahwa
kehidupan di dunia hanya sementara.
Dalam budaya kehidupan rumah limas berbentuk rumah panggung untuk menyikapi keadaan
lingkungan, dengan kondisi tanah yang basah dan suhu udara yang panas.Dengan kondisi tanah
yang basah dan suhu udara yang panas, rumah panggung adalah pemecahan masalah yang tepat.
rumah tidak akan terendam banjir atau air pasang, sedangkan dengan udara yang panas pun dapat
di minimalisir. Dengan ornamen yang mendukung, penggunaan gambar tumbuhan yang
menggunakan warna cerah menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan lingkungan. Makna filosofis
di balik pagar kayu itu adalah untuk menahan supaya anak perempuan tidak keluar dari rumah.
Dalam religius pemilihan hari senin sebagai hari untuk memulai pembangunan, yang juga karena
Nabi Muhammad SAW lahir pada hari senin. Nilai ini juga dapat dilihat dalam ritual-ritual yang di
adakan masyarakat dalam tahap pembangunan rumah Limas. Anak tangga yang
digunakan berjumlah ganjil, mereka percaya dengan jumlah yang ganjil memberikan keberuntungan
dan membawa keberkahan bagi penghuni rumah. Nilai Sosial pun terlihat dari setiap kijing
menentukan garis keturunan status sosial mereka.
2. RUMAH GUDANG

Pada dasarnya bentuk umum dari rumah cara gudang tidak berbeda dengan rumah
limas. Rumah ini berupa rumah panggung dan mempunyai atap yang berbentuk limas. Yang
membedakannya dengan rumah limas adalah tidak terdapatnya kekijing di rumah cara
gudang.
Berdasarkan keletakannya, rumah cara gudang terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian
depan, bagian tengah, dan bagian belakang. Bagian depan rumah cara gudang terdiri dari
tangga naik, garang, dan beranda. Pada umumnya rumah cara gudang memiliki 1 buah
tangga naik. Garang adalah bagian di ujung tangga naik yang merupakan ruang persiapan
sebelum memasuki rumah. Denah garang berbentuk bujur sangkar. Beranda pada rumah
cara gudang berfungsi sebagai tempat istirahat. Pada saat upacara adat, beranda ini
diperuntukkan sebagai tempat para petugas pelaksana upacara yang terdiri dari kerabat
dekat pemilik rumah.
Bagian tengah rumah cara gudang merupakan ruang utama. Bagian ini berfungsi
sebagai ruang tamu dan pada upacara adat digunakan untuk tamu yang tua-tua dan
undangan yang dihormati.
Bagian belakang rumah cara gudang terdiri dari kamar tidur, ruang dalam, dan
dapur. Ruang dalam pada rumah cara gudang berfungsi sebagai ruang serbaguna, di mana
kegiatan sehari-hari dilakukan di ruangan tersebut. Selain itu ruang dalam ini berfungsi juga
sebagai tempat menerima tamu wanita atau kerabat dekat. Sama seperti rumah limas,
dapur pada rumah cara gudang juga terdiri dari dari 3 bagian, yaitu tempat menyiapkan
masakan, tempat memasak, dan tempat mencuci peralatan masak.
3. RUMAH RAKIT

a. SEJARAH
Rumah ini diperkirakan sudah ada sejak masa Kerajaan Sriwijaya berdiri. Rumah rakit ini
disebut demikian karena memiliki bentuk yang unik seperti rakit. Rumah ini juga dibangun di
atas air di sekitar atau di daerah tepi Sungai Musi, Sungai Ogan, dan Sungai Komering, yang
merupakan sungai di Provinsi Sumatera Selatan.
Pada masa Kesultanan Palembang, semua pendatang harus tinggal atau menetap di
rumah rakit, kecuali bangsa Arab dan pendatang muslim yang memiliki kedekatan dengan
Kesultanan Palembang. Selain tempat tinggal, rumah rakit dapat digunakan sebagai
penginapan, gudang, dan tempat kegiatan ekonomi. Warga asing yang banyak
memanfaatkan rumah rakit adalah warga keturunan Tionghoa yang umumnya bermata
pencaharian sebagai pedagang. Bagi mereka, rumah rakit yang terletak di sepanjang sungai
mempunyai sifat komersial.
Kantor dagang milik Belanda pertama kali di Palembang menggunakan rumah rakit. Bagi
masyarakat Eropa, tinggal di rumah rakit dengan segala hiruk pikuk suasana kehidupan
sungai menjadi daya tarik tersendiri sebagai tempat hiburan dan rekreasi. Bahkan, pada
tahun 1900-an telah dibangun rumah sakit di atas rakit.
Kehadiran rumah rakit diperkirakan berawal saat masyarakat pribumi yang berasal dari
daerah Uluan (pedalaman Sumatera Selatan) membawa dan menjual hasil bumi seperti
kelapa, pisang, dan hasil bumi lainnya ke daerah Palembang melalui jalur sungai dengan
menggunakan rakit besar. Karena mereka tidak membawa kembali rakitnya untuk pulang ke
daerah asal dan tinggal di rakit tersebut, lama-kelamaan rakit tersebut mereka “sulap”
menjadi tempat tinggal. Dengan demikian, keberadaan rumah rakit merupakan adaptasi
masyarakat yang membaca dan memahami alam dan situasi sosial Palembang yang
merupakan kota air dan banyak dialiri oleh sungai.
Bagi masyarakat Sumatera Selatan, keberadaan sungai sangat vital. Sungai dianggap
sebagai sumber makanan, mata pencaharian, dan sumber air. Dengan kondisi geografis
seperti itu, fungsi rumah rakit tidak hanya sebagai alat transportasi untuk membawa orang
yang ada di atasnya ke suatu tempat, tetapi juga untuk tempat tinggal.
Sejak Belanda menaklukkan Kesultanan Palembang, rumah rakit tidak lagi menjadi
tempat orang diasingkan atau terpinggirkan. Para pendatang atau warga asing yang semula
harus tinggal rumah rakit mulai berangsur-angsur menepi dan tinggal di daratan. Setelah
masa kemerdekaan, jumlah rumah rakit semakin berkurang, di antaranya disebabkan oleh
sulitnya mencari bambu sebagai alat pengapung, mahalnya harga pembuatan rumah rakit,
dan terbatasnya lahan untuk menempatkan dan mengikat rumah rakit. Meskipun demikian,
fungsi rumah rakit tetap digunakan sebagai tempat berdagang yang dulunya banyak
dilakukan masyarakat keturunan Tionghoa.
Saat ini, di bantaran sungai Ogan, kawasan Seberang Ulu Kota Palembang, masih terlihat
jajaran sejumlah rumah rakit. Rumah rakit tidak hanya dijadikan sebagai tempat tinggal bagi
puluhan keluarga tetapi menjadi lokasi strategis untuk berniaga. Di sungai Musi, tepatnya di
kawasan 13 Ulu banyak ditemukan rumah rakit yang berfungsi sebagai tempat menjual
bahan bakar minyak. Kebanyakan penghuni rumah rakit merupakan warga perantau yang
terpaksa tinggal di rumah rakit karena tak mampu membeli maupun menyewa rumah di
daratan. Tidak heran dengan alasan tersebut, rumah rakit terkesan tidak terawat meskipun
terdapat aktivitas di dalamnya.
Seiring dengan pembangunan turap di kawasan Benteng Kuto Besak, Pasar 16,
Kelenteng Dewi Kwan Im, dan Kampung Kapiten, serta adanya revitalisasi pemukiman
kumuh di seberang Ulu, rumah-rumah rakit yang dulu banyak dijumpai di kawasan yang
tidak jauh dari Jembatan Ampera itu mulai tersingkir. Rumah rakit sebagai salah satu potret
kehidupan yang unik bagi kota Palembang seharusnya memiliki potensi untuk
dikembangkan menjadi salah satu objek wisata utama. Semoga saja pemerintah Kota
Palembang melakukan revitalisasi terhadap eksistensi rumah rakit ini, minimalnya
mengalihfungsikan rumah rakit sebagai tempat yang ideal untuk menikmati pemandangan
sungai Musi sambil menikmati makan dan minum di atas rumah tersebut.
b. BAGIAN RUMAH RAKIT
Rumah rakit memiliki bentuk persegi panjang yang berukuran kurang lebih sekitar 36
sampai 64 meter persegi, serta mempunyai bentuk atap mirip pelana. Atap rumah ini
disebut sebagai atap kajang yang terbuat dari daun nipah kering. Tembok rumah rakit
terbuat dari kayu dengan serat yang cukup padat serta memiliki fondasi yang berasal dari
bambu yang berusia cukup tua agar dapat bertahan lama. Bambu besar yang memiliki
ukuran diameter variatif ini digunakan sebagai fondasi rumah dengan cara saling diikatkan
satu dengan yang lainnya, kemudian diikatkan dengan sebuah pasak. Fungsi bambu adalah
sebagai alat pelampung rumah tersebut.
Rumah rakit memiliki dua buah pintu. Satu di antaranya menghadap ke sungai,
sedangkan satu lagi menghadap ke daratan dengan jendela yang terdapat di bagian sisi
kanan dan kiri rumah atau tepatnya berdekatan dengan pintu. Ruang utama rumah rakit
digunakan untuk menerima tamu dan ruang lainnya digunakan sebagai kamar-kamar tidur.
Dapur rumah rakit memiliki letak yang variatif bagi beberapa rumah, di antaranya ada yang
terletak di dalam dan ada juga yang terletak di luar rumah. Selain menggunakan papan kayu
sebagai dinding rumah rakit, beberapa rumah rakit menggunakan ‘pelupuh’ atau bambu
yang telah dicacah dan direntangkan sebagai dinding rumah. Pelupuh ini biasanya digunakan
oleh keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.
Karena rumah rakit menggunakan dari bahan yang mampu terapung di atas permukaan
air, dapat dipastikan bahwa ketinggian rumah rakit mengikuti tingkat ketinggian permukaan
air sungai. Dengan demikian rumah, ini termasuk rumah yang antibanjir. Rumah rakit pun
tidak akan berpindah-pindah tempat meskipun arusnya deras. Keempat sudut rumah ini
telah disangga menggunakan tiang yang kokoh yang ditancapkan di dasar sungai dan juga
diikatkan ke tonggak utama yang terbuat dari kayu tembesu di tanah pinggir sungai dengan
tali cukup besar yang terbuat dari rotan.
Apabila pemilik rumah menginginkan rumah rakitnya berpindah tempat, rumah rakit
harus berfungsi sebagai rakit yang mampu berjalan di atas sungai dengan lantai rumah tetap
dalam kondisi kering tidak tersentuh air. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Farida R. Wargadalem, rumah rakit sangat kental dengan pengaruh dari masyarakat
Tionghoa. Pada rumah rakit yang dimiliki oleh masyarakat Tionghoa, ada tiga bagian utama:
bagian muka sebagai tempat berdagang, bagian tengah untuk ruang terbuka, dan bagian
belakang sebagai tempat tinggal.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.beritasatu.com/saujana/477533/rumah-gadang-arsitektur-nusantara-yang-
inspiratif

http://ranahminangnansalilikpulaupaco.blogspot.com/2016/01/galeri-rumah-tradisional-di-
minangkabau.html

ttps://www.arsitag.com/article/rumah-gadang-rumah-tradisional-minangkabau

http://smkwp.blogspot.com/2011/07/sejarah-rumah-minangkabau.html

http://rumahadatistiadat.blogspot.com/2017/08/rumah-adat-minangkabau-sumatera-
barat.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Gadang

https://infokito.wordpress.com/2019/02/23/arsitektur-tradisional-palembang/

https://www.scribd.com/document/344199258/Makalah-Rumah-Limas

https://www.senibudayaku.com/2017/11/rumah-adat-sumatera-selatan.html

http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-sumatera-selatan-rumah-
limas.html

http://www.gosumatra.com/rumah-limas-sumatera-selatan/

https://www.google.com/search?q=rumah+gudang+dan+rakit+palembang+makalah&safe=s
trict&client=firefoxbd&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiy2J6v4sfhAhUQY48KH
ZS5D7MQ_AUIDigB&biw=1366&bih=654

http://majalah1000guru.net/2017/04/rumah-rakit/

http://aryandininovita.blogspot.com/2010/03/rumah-tradisional-palembang-wujud.html