Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KEGIATAN MINI PROJECT

DETEKSI DINI DAN ALUR PENATALAKSANAAN


HIPERTENSI DAN KRISIS HIPERTENSI DI
PUSKESMAS PAMOTAN KECAMATAN DAMPIT
KABUPATEN MALANG

Disusun oleh:
dr. Tegar Widyantoro
dr. Putri Dewanti
dr. Lisa Pratiwi
dr. Meutia Gustiari
dr. Anizzada Intan Pratiwi

Pembimbing:
dr. Ruli

1
PUSKESMAS PAMOTAN KABUPATEN MALANG
PERIODE JUNI 2019 – OKTOBER 2019

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kegiatan Mini Project ini diajukan oleh:
dr. Tegar Widyantoro, dr. Putri Dewanti, dr. Lisa Pratiwi, dr. Meutia Gustiari, dr.
Anizzada Intan Pratiwi

Judul :Deteksi Dini dan Alur Penatalaksanaan Hipertensi dan Krisis


Hipertensi di Puskesmas Pamotan Kecamatan Dampit Kabupaten
Malang

Telah disetujui sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk


kelengkapan tugas program internsip dokter periode Oktober 2018-
Oktober 2019

Mengetahui,
Kepala Puskesmas Dokter Internsip

dr. Ruli dr. Putri Dewanti


NIP. 197506052005011009

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................... 1
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................... 2
DAFTAR ISI ............................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................ 4
1.3 Tujuan .................................................................................................................. 5
1.4 Manfaat ................................................................................................................ 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................... 6


2.1 Hipertensi............................................................................................................. 6
2.1.1 Definisi ....................................................................................................... 7
2.1.2 Epidemiologi .............................................................................................. 7
2.1.3 Faktor Risiko .............................................................................................. 8
2.1.4 Klasifikasi dan Manifestasi Klinis .............................................................. 9
2.1.5Tatalaksana Farmakologi ...........................................................................10
2.1.6Tatalaksana Non Farmakologi …................................................................13
BAB III BENTUK KEGIATAN..............................................................................15
BABIV HASIL INTERVENSI DAN INDIKATOR KEBERHASILAN….........18

BABV DISKUSI DAN PEMBAHASAN….............................................................19

BABVI KESIMPULAN DAN SARAN…...............................................................20

DAFTAR PUSTAKA…............................................................................................22

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang memiliki prevalensi
cukup tinggi di dunia maupun Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2013 didapatkan prevalensi hipertensi pada usia 18 tahun ke atas
sebanyak 9,5% yang naik sekitar 2% dibandingkan dengan data Riskesdas 2007.
Provinsi Jawa Timur adalah salah satu provinsi yang memiliki prevalensi stagnan
dari tahun 2007.

Krisis hipertensi adalah bentuk kegawatdaruratan dalam bidang hipertensi. Seorang


pasien tergolong dalam krisis hipertensi ketika memiliki tekanan darah sistolik di
atas 180 mmHg dan diastolik di atas 120 mmHg. Krisis hipertensi dapat terbagi
menjadi hipertensi urgensi dan hipertensi emergensi bergantung pada ada dan
tidaknya kerusakan organ target.

Puskesmas Pamotan merupakan salah satu faskes layanan primer di Kabupaten


Malang yang dilengkapi dengan fasilitas IGD dan rutin mendapatkan pasien dengan
krisis hipertensi. Berdasarkan keterangan dari petugas kesehatan di Puskesmas
Pamotan, penanganan pasien dengan krisis hipertensi masih belum memiliki alur
yang jelas sehingga beberapa pasien tidak terdiagnosis bahkan sebagian belum
ditangani dengan baik. Mengingat krisis hipertensi merupakan kasus
kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan segera karena dapat mengakibatkan
komplikasi yang serius hingga kematian, maka penulis mengangkat topik
penanganan krisis hipertensi sebagai Quality Assurance (QA) di IGD Puskesmas
Pamotan. Dengan adanya QA ini diharapkan pasien krisis hipertensi yang datang di
IGD Puskesmas Pamotan dapat dideteksi dan ditangani dengan baik

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang diatas maka dirumuskan masalah:
1. Belum tersedianya alur penanganan hipertensi dan krisis hipertensi di Puskesmas
Pamotan.
2. Belum adanya sosialisasi kepada petugas kesehatan di Puskesmas Pamotan
mengenai penanganan krisis hipertensi.

4
3. Belum tersedianya media promosi kesehatan mengenai tanda dan gejala serta
deteksi dini krisis hipertensi di Puskesmas Pamotan.

1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan Umum
Meningkatkan kualitas penanganan krisis hipertensi melalui penyelesaian
berdasarkan penyebab masalah yang ditemukan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi masalah yang tedapat pada Puskesmas Pamotan
2. Mengidentifikasi penyebab masalah yang telah ditentukan pada
Puskesmas Pamotan.
3. Mendapatkan pemecahan masalah berdasarkan penyebab masalah yang
ditemukan pada Puskemas Pamotan.

1.4 MANFAAT
1.4.1 Manfaat bagi Masyarakat
1. Masyararakat mendapat pelayanan yang lebih maksimal, terutama pada
kasus krisis hipertensi.
2. Masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai krisis hipertensi
melalui media promosi di Puskesmas Pamotan.
1.4.2 Manfaat bagi Puskesmas
1 Petugas Puskesmas memiliki alur penanganan krisis hipertensi sehingga
dapat diterapkan oleh petugas kesehatan yang bertugas di IGD maupun
balai pengobatan.
2 Petugas Puskesmas mendapatkan pelatihan mengenai definisi, deteksi
dini, dan pengelolaan krisis hipertensi.
3 Puskesmas memiliki media promosi dalam bentuk flyer mengenai krisis
hipertensi.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 HIPERTENSI
Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di

dalam arteri. Istilah “tekanan darah” berarti tekanan pada pembuluh nadi dari

peredaran darah sistemik di dalam tubuh manusia. Tekanan darah di bedakan antara

tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik.

Hipertensi dapat di definisikan sebagai tekanan darah persisten di mana

tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg, pada

populasi manula hipertensi di defenisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan

tekanan diastolik 90 mmHg. (Brunner & Suddarth vol 2 : 896).

Hipertensi menurut Manjoer dkk (2001) hipertensi adalah tekanan sistolik ≤

140 mmHg dan tekanan darah diastolic ≥ 90 mmHg atau bila pasien memakai obat

anti hipertensi. Hipertensi (HTN) adalah peningkatan tekanan darah arteial abnormal

yang langsung terus-menerus (Aplikasi Klinis Patofisiologi edisi 2:1).

Tekanan darah sistolik adalah tekanan darah pada waktu jantung menguncup

(sistole). Adapun tekanan darah diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung

mengendor kembali (diastole). Dengan demikian, jelaslah bahwa tekanan darah

sistolik selalu lebih tinggi dari pada tekanan darah diastolik.tekanan darah manusia

selalu berayun-ayun antara tinggi dan rendah sesuai dengan detak jantung.

Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala,di mana

tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko

terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal.

Pada pemeriksaan tekanan darah akan di dapat dua angka. Angka yang lebih

tinggi di peroleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah

akan di peroleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah di tulis

6
sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik,misalnya 120/80 mmHg, di

baca seratus dua puluh per delapan puluh.

Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau

lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik dalam

kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. Sejalan dengan

bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah,

tekanan

sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat

sampao usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan bahkan menurun

drastis.

Hipertensi maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak diobati

akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan. Hipertensi ini jarang terjadi,

hanya 1 dari setiap 200 penderita hipertensi. Tekanan darah dalam kehidupan

seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki

tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada orang dewasa. Tekanan darah juga

diperngaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan

aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga

berbeda; paling tinggi di waktu pagi ahri dan paling rendah pada saat tidur malam

hari.

2.1.1 Krisis Hipertensi


Krisis hipertensi merupakan suatu kondisi gawat darurat dimana tekanan darah
meningkat dengan cepat sehingga berpotensi menimbulkan berbagai morbiditas
maupun kematian. Maka dari itu kondisi ini memerlukan penanganan segerra berupa
penurunan tekanan darah. Selanjutnya diperlukan evaluasi untuk menilai fungsi
organ untuk menentukan penanganan yang sesuai.

2.1.2 Epidemiologi
Krisis hipertensi adalah salah satu penyebab terbesar dari global burden of disease.
Adanya hipertensi menyebabkan resiko penyakit kardiovaskular meningkat dua kali

7
lipat, termasuk penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke iskemik dan
hemoragik, gagal ginjal, dan penyakit arteri perifer.Penyakit kardiovaskular
menyebabkan sekitar 17 juta kematian setahun, dan hipertensi menyebabkan 45%
kematian karena penyakit jantung dan 51% kematian dari stroke.

Di Indonesia, prevalensi hipertensi di Indonesia pada populasi di atas usia 18 tahun


adalah 26.5%. Hipertensi sering disebut sebagai silent killer, dimana sering tidak
menimbulkan gejala pada awalnya. Maraknya hipertensi disebut oleh WHO sebagai
sebuah krisis kesehatan global, karena selain banyaknya mortalitas yang disebabkan
hipertensi, kematian dan burden yang disebabkan oleh hipertensi juga akan menjadi
beban negara secara ekonomi.

2.1.3 Faktor Risiko


Peningkatan tekanan darah disebabkan dan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti
genetik dan gaya hidup. Faktor risiko yang berperan besar secara independen antara
lain adalah obesitas dan kenaikan berat badan. Tingginya konsumsi NaCl juga
merupakan faktor yang mempengaruhi kenaikan tekanan darah, beserta konsumsi
alkohol, stress psikososial, dan gaya hidup yang sedentari.

Gambar 1. Faktor risiko peningkatan tekanan darah

8
2.1.4 Klasifikasi dan Manifestasi Klinis

DIAGNOSIS
Dalam menegakan diagnosis hipertensi, diperlukan beberapa tahapan pemeriksaan
yang harus dijalani sebelum menentukan terapi atau tatalaksana yang akan diambil.
Algoritme diagnosis ini diadaptasi dariCanadian Hypertension Education Program.
The CanadianRecommendation for The Management of Hypertension 2014

9
Krisis hipertensi dibagi menjadi dua yaitu:
1. Hipertensi Urgensi
Kondisi peningkatan tekanan darah dimana tekanan darah sistolik ≥ 180
mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 120 mmHg tanpa disertai kerusakan
organ spesifik. Gejala yang dapat timbul pada pasien hipertensi urgensi
adalah sakit kepala hebat, mimisan, dan kecemasan hebat.
2. Hipertensi Emergensi
Kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan darah sehingga mengakibatkan
kerusakan organ. Kriteria tekanan darah sama dengan hipertensi urgensi yaitu
sistolik ≥ 180 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 120 mmHg disertai
gejala jejas organ target. Gejala jejas organ target yang dapat timbul adalah:
a) Neurologi
o Stroke
o Penurunan kesadaran
o Hilang ingatan
o Peningkatan tekanan intrakranial karena perdarahan intrakranial
b) Kardiovaskular
o Gagal jantung akut
o Diseksi aorta
o Angina
o Edema paru
c) Ginjal
o Gagal ginjal akut
o Hematuria
o Proteinuria
d) Preeklamsia/eklamsia

2.1.5 Tatalaksana Farmakologi


Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi dimulai bila pada pasien hipertensi
derajat 1 yang tidak mengalami penurunan tekanan darah setelah > 6 bulan menjalani
pola hidup sehat dan pada pasien dengan hipertensi derajat ≥ 2. Beberapa prinsip
dasar terapi farmakologi yang perlu diperhatikan untuk menjaga kepatuhan dan
meminimalisasi efek samping, yaitu :

 Bila memungkinkan, berikan obat dosis tunggal


 Berikan obat generik (non-paten) bila sesuai dan dapat mengurangi biaya

10
 Berikan obat pada pasien usia lanjut ( diatas usia 80 tahun ) seperti pada usia
55 – 80 tahun, dengan memperhatikan faktor komorbid
 Jangan mengkombinasikan angiotensin converting enzymeinhibitor (ACE-i)
dengan angiotensin II receptor blockers (ARBs)
 Berikan edukasi yang menyeluruh kepada pasien mengenai terapi
farmakologi
 Lakukan pemantauan efek samping obat secara teratur.

Algoritme tatalaksana hipertensi yang direkomendasikan berbagai guidelines


memiliki persamaan prinsip, dan dibawah ini adalah algoritme tatalaksana hipertensi
secara umum, yang disadur dari A Statement by theAmerican Society of Hypertension
and the International Society of Hypertension2013;

11
Tatalaksana farmakologi krisis hipertensi melihat berdasarkan kondisi pasien
apakahkrisis hipertensi urgensi atau sudah masuk kedalam kondisi krisis hipertensi
emergensi.
1. Hipertensi Urgensi
Tekanan darah diturunkan menggunakan antihipertensi oral. Target tekanan
darah normal dicapai dalam satu hingga dua hari. Setelah tekanan darah
normal perlu diidentifikasi penyebab terjadinya hipertensi urgensi. Selain itu
untuk mengontrol tekanan darahnya, perlu diberikan antihipertensi jangka
panjang.

Tabel 1. Daftar Antihipertensi Hipertensi Urgensi


Obat Dosis Keterangan

Kaptopril 12,5 – 25 Dapat diulang setiap 15 menit. Merupakan drug of


mg choice karena keamanan dan penurunan tekanan darah
yang cepat.

Klonidin 75 – 150 ug Dapat diulang setiap 1 jam.

Propanolol 10 – 40 mg Dapat diulang setiap 30 menit.

Nifedipin 5 – 10 mg Tidak direkomendasikan karena menyebabkan


penurunan tekanan darah yang sangat cepat sehingga
meningkatkan risiko iskemia serebral dan iskemia
jantung.

2. Hipertensi Emergensi
Tekanan darah diturunkan menggunakan antihipertensi parenteral. Target
penurunan tekanan darah tidak lebih dari 25% dari mean arterial pressure
dalam waktu 1 jam. Dua hingga enam jam kemudian setelah tekanan darah
stabil, diberikan antihipertensi lagi untuk menurunkan tekanan darah hingga
mencapai 160/100 mmHg. Bila tekanan darah masih stabil, diturunkan sesuai
target dalam 24-48 jam.
Tekanan darah pada kasus hipertensi emergensi tidak boleh diturunkan secara
mendadak karena dapat menyebabkan iskemia organ target. Pemantauan
tekanan darah pada kasus hipertensi emergensi lebih baik dilakukan di
intensive care unit (ICU), maka dari itu apabila ditemui pasien dengan

12
hipertensi emergensi di layanan kesehatan sebaiknya dirujuk ke layanan
kesehatan yang memiliki ICU.

Tabel 2. Daftar Antihipertensi untuk Hipertensi Emergensi


Obat Dosis Keterangan

Nikardipin 5 – 15 mg/jam Diindikasikan pada kasus stroke,


perdarahan intracranial, diseksi aorta

Nitrogliserin 5 – 100 ug/menit Diindikasikan pada kasus edema


paru dan sindrom coroner akut.

Klonidin 0,3 ug/kgBB/jam dlm 250 cc Dibutuhkan penyesuaian dosis pada


Dx 5% insufisiensi renal

Nitroprusid 0,25 – 10 ug/kgBB/menit Pilihan antihipertensi terakhir karena


memiliki risiko toksisitas sianida

Hidralazin 10 – 20 mg IV bolus Dapat diguankan pada kasus


preeklamsia dan eklamsia

Fenoldopam 0,1 mg/kg/menit Dapat digunakan pada pasien


dengan gangguan fungsi ginjal

2.1.6 Tatalaksana Non Farmakologi


Berdasarkan JNC 8, tatalaksana hipertensi dimulai dari perubahan gaya hidup, yang
jika gagal akan dilanjutkan ke tatalaksana farmakologik. Perubahan gaya hidup ini
mencakup mengurangi berat badan, merubah diet, aktivitas fisik, dan mengurangi
konsumsi alkohol.

Penurunan berat badan 4.5 kg sudah dapat menurunkan tekanan darah pada sebagian
besar populasi overweight, walaupun berat badan ideal sebaiknya dapat dicapai.
Salah satu pola diet yang dapat membantu menurunkan tekananan darah adalah
DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension). DASH adalah pola diet yang
kaya akan buah-buahan, sayur, dan produk dairy yang rendah lemak, disertai dengan
rendahnya kadar kolesterol dan lemak. Pada penderita hipertensi, konsumsi garam
juga harus dikurangi. Jumlah yang disarankan adalah kurang dari 2.4 gram natrium
per harinya.

13
Pada pasien yang tidak memiliki keterbatasan bergerak, aktivitas fisik harus
dilakukan minimal 30 menit sehari, "most days of the week". Jika pasien sering
mengkonsumsi alkohol, maka konsumsi alkohol harus dibatasi hingga sekitar 1-2
porsi minuman sehari. Merokok juga harus dihentikan untuk mengurangi risiko
kardiovaskular secara keseluruhan.
Tabel 3. Jenis makanan dan jumlah sajian
Jenis Makanan Jumlah sajian untuk Sajian dalam diet 2000
kalori 1600-3100 kalori

Gandum dan produk gandum 6-12 7-8


(paling sedikit 3 jenis gandum
utuh per hari)

Buah-buahan 4-6 4-5

Sayur 4-6 4-6

Produk susu tidak berlemak atau 2-4 2-3


rendah lemak

Daging, ikan, unggas 1,5-2,5 2 atau kurang

Kacang, biji-bijian, dan tumbuhan 3-6 per minggu 4-5 per minggu
kacang-kacangan

Lemak dan makanan manis 2-4 Terbatas

Dengan mengikuti perubahan gaya hidup tersebut, maka sebagian pasien tidak perlu
mendapatkan intervensi farmakologi. Pada sebagian pasien, hanya dengan mengikuti
pola diet DASH dengan 1600 mg natrium per hari, efeknya serupa dengan terapi
farmakologis menggunakan satu obat.

14
BAB III
BENTUK KEGIATAN

PELAKSANAAN SUMB
NO KEGIATAN TUJUAN SASARAN Juni Juli Agustus September ER METODE
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV DANA
I PERENCANAAN

1. Identifikasi - Menentukan masalah i. Kepala - Diskusi


Masalah yang terjadi yaitu : Puskesmas dan
- Hipertensi Pamotan Konsultasi
termasuk dalam
10 penyakit
terbesar di
Puskesmas
Pamotan

- Banyak pasien
hipertensi yang
belum rutin
mengonsumsi
obat hipertensi

- Banyak pasien
yang belum
mengetahui
bagaimana
memodifikasi

15
gaya hidup sehat

2. Persiapan - Menentukan jadwal i. Kepala - Diskusi


pelaksanaan Puskesmas dan
- Menyusun kerangka Pamotan Konsultasi
acuan kegiatan yang ii. Kader
diajukan ke Kepala kesehatan
Puskesmas Pamotan
untuk persetujuan
diadakan kegiatan.

PELAKSANAAN SUMB
Juni Juli Agustus September ER
II PELAKSANAAN TUJUAN SASARAN METODE
DANA
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

Pengelompokan Mengetahui berapa Pasien - Anamnesis


pasien pengidap banyak pasien hipertensi yang
hipertensi yang rutin berobat di poli
hipertensi
berobat dan yang tidak umum
rutin berobat puskesmas
Pamotan
III EVALUASI

16
Kontrol berkala - Mengetahui Dokter - Anamnesis
perkembangan Internsip

kondisi pasien
sesudah dan sebelum
pemberian obat
hipertensi
- Mengetahui
bagaimana efek obat
hipertensi pada
pasien

17
BAB IV

HASIL INTERVENSI DAN INDIKATOR KEBERHASILAN

Pasien dengan:

 Tekanan Darah Sistolik ≥ 180 mmHg


Atau
 Tekanan Darah Diastolik ≥ 120 mmHg

Pengukuran tekanan darah ulang setelah


menunggu selama 5 menit di ruang tunggu
pasien

Tekanan darah ulangan Tekanan darah ulangan

 Sistolik ≥ 180 mmHg  Sistolik <180 mmHg


 Diastolik ≥ 120 mmHg  Diastolik< 120 mmHg

Kasus Krisis Hipertensi Bukan Kasus Krisis Hipertensi

Ada salah satu / lebih gejala:

Nyeri Kepala; Nyeri Dada;


Sesak napas; Mimisan; Tidak Ada
Kejang pada ibu hamil;
Kencing berkurang;
Pandangan kabur,
Kelemahan anggota gerak Hipertensi
Urgensi

Ada
 Pasien dimonitoring di IGD selama
maksimal 45 menit
 Terapi: Captopril 25 mg per oral diulang
Hipertensi
Emergensi maksimal 3 kali tiap 15 menit
 Evaluasi tekanan darah tiap 15 menit
setelah pemberian Captopril
 Target penurunan tekanan darah sistolik
 Survey ABC + pasang IV + pasang dan diastolik = 10% MAP (penurunan 10
O2 bila ada gangguan napas s.d 20 mmHg) dalam 45 menit
 Beri Captopril 1 x 25 mg bila  Pasien diberi obat rawat jalan Captopril
pasien bisa minum obat 2 x 25 mg ATAU Amlodipin 1 x 10 mg
 Langsung Rujuk ke IGD RS  Pasien kontrol ke BP esok hari untuk
evaluasi tekanan darah
18
BAB V
DISKUSI DAN PEMBAHASAN
Triase memiliki tujuan sebagai pedoman bagi dokter dan perawat puskesmas
untuk mengkaji secara cepat dan fokus dalam menangani pasien berdasarkan tingkat
kegawat daruratan, trauma, atau penyakit dengan mempertimbangkan penanganan
dan sumber daya yang ada.

Sasaran pengobatan hipertensi untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas


kardiovaskuler, cerebrovascular dan ginjal. Dengan menurunkan tekanan darah
kurang dari 140/90 mmHg diharapkan komplikasi akibat hipertensi berkurang.
Terapi non farmakologi antara lain mengurangi asupan garam, olah raga,
menghentikan rokok dan mengurangi berat badan, dapat dimulai sebelum atau
bersama-sama dengan obat farmakologi. Diharapkan dengan diberikannya obat
farmakologi, risiko kardiovaskuler, cerebrovascular dan ginjal dapat diturunkan.
Setelah diberikan pengobatan farmakologis, pasien juga diharapkan untuk kontrol
rutin kesehatannya agar kualitas hidup pasien stabil atau dapat meningkat.

19
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di


dalam arteri. Istilah “tekanan darah” berarti tekanan pada pembuluh nadi dari
peredaran darah sistemik di dalam tubuh manusia.Secara umum, hipertensi
merupakan suatu keadaan tanpa gejala,di mana tekanan yang abnormal tinggi di
dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal
jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Krisis hipertensi merupakan suatu
kondisi gawat darurat dimana tekanan darah meningkat dengan cepat sehingga
berpotensi menimbulkan berbagai morbiditas maupun kematian. Maka dari itu
kondisi ini memerlukan penanganan segerra berupa penurunan tekanan darah.
Selanjutnya diperlukan evaluasi untuk menilai fungsi organ untuk menentukan
penanganan yang sesuai.
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang memiliki
prevalensi cukup tinggi di dunia maupun Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) 2013 didapatkan prevalensi hipertensi pada usia 18 tahun ke atas
sebanyak 9,5% yang naik sekitar 2% dibandingkan dengan data Riskesdas 2007.
Provinsi Jawa Timur adalah salah satu provinsi yang memiliki prevalensi stagnan
dari tahun 2007. Peningkatan tekanan darah disebabkan dan dipengaruhi oleh banyak
faktor, seperti genetik dan gaya hidup. Faktor risiko yang berperan besar secara
independen antara lain adalah obesitas dan kenaikan berat badan. Tingginya
konsumsi NaCl juga merupakan faktor yang mempengaruhi kenaikan tekanan darah,
beserta konsumsi alkohol, stress psikososial, dan gaya hidup yang tidak seimbang.

Hampir semua consensus/ pedoman utama baik dari dalam walaupun luar
negeri, menyatakan bahwa seseorang akan dikatakan hipertensi bila memiliki
tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg,
pada pemeriksaan yang berulang.

Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan tekanan
darah, dan secara umum sangat menguntungkan dalam menurunkan risiko
permasalahan kardiovaskular.Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi
dimulai bila pada pasien hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami penurunan
tekanan darah setelah > 6 bulan menjalani pola hidup sehat dan pada pasien dengan
hipertensi derajat ≥ 2.

20
Saran

1. Untuk Masyarakat

Agar lebih meningkatkan pengetahuan tentang upaya pencegahan terjadinya

penyakit hipertensi dengan mengikuti penyuluhan kesehatan yang diberikan

oleh petugas kesehatan terdekat agar dapat terhindar penyakit hipertensi

secara dini.

2. Untuk Petugas Kesehatan

Diharapkan bagi petugas kesehatan agar dapat lebih meningkatkan sosialisasi

tentang penyakit tekanan darah tinggi dan memberikan penyuluhan tentang

upaya mencegah kekambuhan penyakit hipertensi secara dini dan tindakan

apa saja yang harus dilakukan jika tekanan darah meningkat serta

menjelaskan pentingnya memeriksakan tekanan darah secara teratur ke

pelayanan kesehatan terdekat.

3. Untuk Penderita Hipertensi

Agar lebih rajin dalam memeriksakan tekanan darahnya ke pelayanan

kesehatan terdekat atau rumah sakit serta mengikuti kegiatan yang berkaitan

dengan kesehatan untuk mencegah kekambuhan penyakit hipertensi serta

dapat termotivasi untuk menghindari hal-hal yang dapat menambah penyakit

hipertensi menjadi lebih parah lagi misalnya menghindari makanan yang

mengandung lemak seperti gorengan, daging kambing, santan, mengurangi

konsumsi garam dapur, minuman yang mengandung kafein, alkohol,

merokok, malas berolahraga, menjauhi stress, dan meminum obat secara

rutin.

21
DAFTAR PUSTAKA

Arora. 2008. 5 langkah mencegah dan mengobati tekanan darah tinggi. Jakarta :
Bhauana Ilmu Populer.

Bustan. 2000. Epidemiologi Penyakit tidak Menular. Jakarta : Rineka Cipta

Gunawan Lany. 2000. Hipertensi Tekanan darah tinggi. Yogjakarta : Kanisus

Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3. Jakarta : Media
Aesculapius: FKUI

Notoatmodjo, Soekidjo. 2002


Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Sarwono Warpadzi, Soeparman,dkk. 2006.


Ilmu Penyakit Dalam jilid VI. Jakarta : Balai Penerbitan FKUI.

Wolf Harf Peter. 2006.Hipertensi. Jakarta : Buana Ilmu Populer

22