Anda di halaman 1dari 12

TUGAS INDIVIDU

KOMUNIKASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN KLIEN

DISUSUN OLEH :

NOOR HALIMATUS SA’DIYAH, AMK

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN CENDIKIA UTAMA

KUDUS

2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang
dengan orang lain, dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena
bahwamanusia itu adalah sebagai makluk social, di antara yang dengan yang lainnya
salingmembutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbalk balik.Dalam hubungan
seseorang dengan orang lain tentunya terjadinya proses komunikasiitu tentunya tidak
terlepas dari tujuan yang menjadi topik atau pokok pembahasan, dan jugauntuk tercapainya
proses penyampaian informasi itu akan berhasil apabila ditunjang denganalat atau media
sebagai sarana penyaluran informasi atau berita.
Dalam kenyataannya bahwa proses komunikasi itu tidak selama lancar , hal terjadi
dikarenakan kurangnya memperhatikan unsur-unsur yang mestinya ada dalam
proseskomunikasi.Dari uraian tersebut, bahwa dalam komunikasi itu perlu diperhatikan
mengenaiunsure-unsur yang berkaitan dengan proses komunikasi, baik itu oleh komunikator
maupun oleh komunikan, dan juga bahwa komunikator harus memahami dari tujuan
komunikasi.Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagipembangunan
bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru
sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan denganadanya interaksi
belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam konteks penyelenggaraanini, guru dengan
sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis danberpedoman pada
seperangkatn aturan dan rencana tentang pendidikan yang dikemas dalambentuk
kurikulum.Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan
mutupendidikan dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional, tampaknya
belumdapat direalisasikan secara maksimal. Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia
pendidikan di Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Komunikasi?
2. Apa Tujuan dan unsure-unsur komunikasi?
3. Apa Fungsi-fungsi komunikasi?
4. Apa Efektivitas proses komunikasi dalam proses pembelajaran?
5. Apa Hambatan dalam Proses?
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan
memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya.
Menurut Potter dan Perry (1993), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu
intrapersonal, interpersonal dan publik. Makalah ini difokuskan pada komunikasi
interpersonal yang terapeutik.
Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua orang
atau dalam kelompok kecil, terutama dalam keperawatan. Komunikasi interpersonal yang
sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan, dan
pertumbuhan personal.
Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen
(1995) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulisa dan non-verbal yang
dimanifestasikan secara terapeutik.
1. Komunikasi Verbal
Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan
di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan
dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu.
Katakata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau
perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan
ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji minat
seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap
individu untuk berespon secara langsung. Komunikasi Verbal yang efektif harus:
a) Jelas dan ringkas
Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Makin sedikit
kata-kata yang digunakan makin kecil kemungkinan terjadinya kerancuan.
Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya
dengan jelas. Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk
dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerimaan
pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan dimana.
Ringkas, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara
sederhana. Contoh: “Katakan pada saya dimana rasa nyeri anda” lebih baik
daripada “saya ingin anda menguraikan kepada saya bagian yang anda rasakan tidak
enak.”
b) Perbendaharaan Kata
Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan
kata dan ucapan. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam keperawatan dan
kedokteran, dan jika ini digunakan oleh perawat, klien dapat menjadi bingung dan
tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ucapkan
pesan dengan istilah yang dimengerti klien. Daripada mengatakan “Duduk,
sementara saya akan mengauskultasi paru-paru anda” akan lebih baik jika dikatakan
“Duduklah sementara saya mendengarkan paru-paru anda”
c) Arti denotatif dan konotatif
Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan,
sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam
suatu kata. Kata serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian,
tetapi perawat akan menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang
mendekati kematian. Ketika berkomunikasi dengan klien, perawat harus hati-hati
memilih kata-kata sehingga tidak mudah untuk disalah tafsirkan, terutama sangat
penting ketika menjelaskan tujuan terapi, terapi dan kondisi klien.
d) Selaan dan kesempatan berbicara
Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasila komunikasi
verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain
mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan
sesuatu terhadap klien. Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan cepat sehingga
kata-kata tidak jelas. Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu,
memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata.
Selaan yang tepat dapat dilakukan denganmemikirkan apa yang akan dikatakan
sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat nonverbal dari pendengar yang
mungkin menunjukkan. Perawat juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia
berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang.
e) Waktu dan relevansi
Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Bila klien sedang
menangis kesakitan, tidak waktunya untuk menjelaskan resiko operasi. Kendatipun
pesan diucapkan secara jelas dan singkat, tetapi waktu tidak tepat dapat
menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Oleh karena itu, perawat harus peka
terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal
akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat dan
kebutuhan klien.
f) Humor
Dugan (1989) mengatakan bahwa tertawa membantu pengurangi ketegangan dan
rasa sakit yang disebabkan oleh stres, dan meningkatkan keberhasilan perawat
dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988)
melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan hormon yang
menimbulkan perasaan sehat, meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit,
mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernapasan dan menggunakan humor
untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidak mampuannya
untuk berkomunikasi dengan klien.
2. Komunikasi Non-Verbal
Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan
katakata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada
orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan
klien mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat
non-verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Perawat yang mendektesi suatu
kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Komunikasi non-verbal
teramati pada:
a) Metakomunikasi
Komunikasi tidak hanya tergantung pada pesan tetapi juga pada hubungan antara
pembicara dengan lawan bicaranya. Metakomunikasi adalah suatu komentar
terhadap isi pembicaraan dan sifat hubungan antara yang berbicara, yaitu pesan di
dalam pesan yang menyampaikan sikap dan perasaan pengirim terhadap
pendengar. Contoh: tersenyum ketika sedang marah.
b) Penampilan Personal
Penampilan seseorang merupakan salah satu hal pertama yang diperhatikan selama
komunikasi interpersonal. Kesan pertama timbul dalam 20 detik sampai 4 menit
pertama. Delapan puluh empat persen dari kesan terhadap seserang berdasarkan
penampilannya (Lalli Ascosi, 1990 dalam Potter dan Perry, 1993). Bentuk fisik,
cara berpakaian dan berhias menunjukkan kepribadian, status sosial, pekerjaan,
agama, budaya dan konsep diri. Perawat yang memperhatikan penampilan dirinya
dapat menimbulkan citra diri dan profesional yang positif. Penampilan fisik
perawat mempengaruhi persepsi klien terhadap pelayanan/asuhan keperawatan
yang diterima, karena tiap klien mempunyai citra bagaimana seharusnya
penampilan seorang perawat. Walaupun penampilan tidak sepenuhnya
mencerminkan kemampuan perawat, tetapi mungkin akan lebih sulit bagi perawat
untuk membina rasa percaya terhadap klien jika perawat tidak memenuhi citra
klien.
c) Intonasi (Nada Suara)
Nada suara pembicara mempunyai dampak yang besar terhadap arti pesan yang
dikirimkan, karena emosi seseorang dapat secara langsung mempengaruhi nada
suaranya. Perawat harus menyadari emosinya ketika sedang berinteraksi dengan
klien, karena maksud untuk menyamakan rsa tertarik yang tulus terhadap klien
dapat terhalangi oleh nada suara perawat.
d) Ekspresi wajah
Hasil suatu penelitian menunjukkan enam keadaan emosi utama yang tampak
melalui ekspresi wajah: terkejut, takut, marah, jijik, bahagia dan sedih. Ekspresi
wajah sering digunakan sebagai dasar penting dalam menentukan pendapat
interpesonal. Kontak mata sangat penting dalam komunikasi interpersonal. Orang
yang mempertahankan kontak mata selama pembicaraan diekspresikan sebagai
orang yang dapat dipercaya, dan memungkinkan untuk menjadi pengamat yang
baik. Perawat sebaiknya tidak memandang ke bawah ketika sedang berbicara
dengan klien, oleh karena itu ketika berbicara sebaiknya duduk sehingga perawat
tidak tampak dominan jika kontak mata dengan klien dilakukan dalam keadaan
sejajar.
e) Sikap tubuh dan langkah
Sikap tubuh dan langkah menggambarkan sikap; emos, konsep diri dan keadaan
fisik. Perawat dapat mengumpilkan informasi yang bermanfaat dengan mengamati
sikap tubuh dan langkah klien. Langkah dapat dipengaruhi oleh faktor fisik seperti
rasa sakit, obat, atau fraktur.
f) Sentuhan
Kasih sayang, dudkungan emosional, dan perhatian disampaikan melalui sentuhan.
Sentuhan merupakan bagian yang penting dalam hubungan perawat-klien, namun
harus mnemperhatikan norma sosial. Ketika membrikan asuhan keperawatan,
perawat menyentuh klien, seperti ketika memandikan, melakukan pemeriksaan
fisik, atau membantu memakaikan pakaian. Perlu disadari bahwa keadaan sakit
membuat klien tergantung kepada perawat untuk melakukan kontak interpersonal
sehingga sulit untuk menghindarkan sentuhan. Bradley & Edinburg (1982) dan
Wilson & Kneisl (1992) menyatakan bahwa walaupun sentuhan banyak
bermanfaat ketika membantu klien, tetapi perlu diperhatikan apakah penggunaan
sentuhan dapat dimengerti dan diterima oleh klien, sehingga harus dilakukan
dengan kepekaan dan hati-hati.

Komunikasi Terapeutik Sebagai Tanggung Jawab Moral Perawat


Perawat harus memiliki tanggung jawab moral yang tinggi yang didasari atas sikap peduli
dan penuh kasih sayang, serta perasaan ingin membantu orang lain untuk tumbuh dan
berkembang. Addalati (1983), Bucaille (1979) dan Amsyari (1995) menambahkan bahwa
sebagai seorang beragama, perawat tidak dapat bersikap tidak perduli terhadap ornag lain adalah
seseorang pendosa yang memntingkan dirinya sendiri.
Selanjutnya Pasquali & Arnold (1989) dan Watson (1979) menyatakan bahwa “human
care” terdiri dari upaya untuk melindungi, meningkatkan, dan menjaga/mengabdikan rasa
kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan
keberadaanya: membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri,
“Sesungguhnya setiap orang diajarkan oleh Allah untuk menolong sesama yang memrlukan
bantuan”. Perilaku menolong sesama ini perlu dilatih dan dibiasakan, sehingga akhirnya menjadi
bagian dari kepribadian.
Tehnik Komunikasi Terapeutik
Tiap klien tidak sama oleh karena itu diperlukan penerapan tehnik berkomunikasi yang
berbeda pula. Tehnik komunikasi berikut ini, treutama penggunaan referensi dari Shives (1994),
Stuart & Sundeen (1950) dan Wilson & Kneisl (1920), yaitu:
1. Mendengarkan dengan penuh perhatian
Berusaha mendengarkan klien menyampaikan pesan non-verbal bahwa perawat perhatian
terhadap kebutuhan dan masalah klien. Mendengarkan dengan penuh perhatian
merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan non-verbal yang sedang
dikomunikasikan. Ketrampilan mendengarkan sepenuh perhatian adalah dengan
2. Pandang klien ketika sedang bicara
Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan.
3. Sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan.
Hindarkan gerakan yang tidak perlu. Anggukan kepala jika klien membicarakan hal
penting atau memerlukanumpan balik. Condongkan tubuh ke arah lawan bicara.
4. Menunjukkan penerimaan
Menerima tidak berarti menyetujui. Menerima berarti bersedia untuk mendengarkan
orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju. Tentu saja sebagai perawat kita
tidak harus menerima semua prilaku klien. Perawat sebaiknya menghindarkan ekspresi
wajah dan gerakan tubuh yang menunjukkan tidak setuju, seperti mengerutkan kening
atau menggelengkan kepala seakan tidak percaya. Berikut ini menunjukkan sikap perawat
yang menggelengkan kepala seakan tidak percaya.

B. TUJUAN DAN UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI


Tujuan komunikasi adalah :
1. Menentapkan dan menyebarkan maksud dari pada suatu usaha
2. Mengembangkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan.
3. Mengorganisasikan sumber-sumber daya manusia dan sumber daya lainnya
sepertiefektif dan efisien.
4. Memilih, mengembangkan, menilai anggota organisasi.
5. Memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan suatu iklim kerja di
manasetiap orang mau memberikan kontribusi.
Selanjutnya Oteng Sutisna mengemukakan bahwa dalam proses komunikasi
tentunyamemerlukan unsur-unsur komunikasi, yaitu :
1. Harus ada suatu sumber, yaitu seorang komunikator yang mempunyai sejumlah
kebutuhan,ide atau infromasi untuk diberikan.
2. Harus ada suatu maksud yang hendak dicapai, yang umumnya bias dinyatakan dalam kata-kata
permbuatan yang oleh komunikasi diharapkan akan dicapai
3. Suatu berita dalam suatu bentuk diperlukan untuk menyatakan fakta, perasaan, atau
ideyang dimaksud untuk membangkitkan respon dipihak orang-orang kepada siapa
berita ituidtujukan
4. Harus ada suatu saluran yang menghubungkan sumber berita dengan penerima berita.
5. Harus ada penerima berita. Akhirnya harus ada umpan balik atau respon dipihak
penerimaberita. Umpan balik memungkinkan sumber berita untuk mengetahui apakah
berita itutelah diterima dan dinterprestasikan dengan betul atau tidak.Berdasarkan dari
unsure-unsur tersebut, jelaslah bahwa dalam kegiatan komunikasi itu didalamnya
terdapat unsure-unsur yang ada dalam komunikasi, baik itu unsur sumber
yangmerupakan sebagai komunikator yang memiliki informasi atau berita yang akan
disapaikanterhadap penerima informasi dengan melalui atau menggunakan saluran
atau mediakomunikasi, antar unsur yang satu dengan yang lainnya jelas sekali adanya
suatu keterkaitan,dan apabila salah satu unsur itu tidak ada kemungkinan proses
komunikasi akan mengalamihambatan.
C. Fungsi-Fungsi Komunikasi
Sesuai dengan tujuan dari komunikasi, maka dalam suatu organisasi komunikasi
mempunyai beberapa fungsi. Hal ini sebagaimana menurut Maman Ukas bahwa fungsi
komunikasi adalah :
1. Fungsi informasi
2. Fungsi komando akan perintah
3. Fungsi mempengaruhi dan penyaluran
4. Fungsi integrasi
Suatu perintah akan berisikan aba-aba untuk pelaksanaan kerja yang harus
dipahami dan dimengerti serta yang dijalankan oleh bawahan. Dengan perintah terjadi
hubungan atasan danbawhaan sebagai yang diberikan tugas.Dalam fungsi pengaruh berarti
memasukan unsure-unsur yang meyakinkan dari padaatasan baik bersifat motivasi
maupun bimbingan, sehingga bawahan merasa berkewajibanharus menjalankan pekerjaan atau
tugas yang harus dilaksanakannya. Dan dalam mepengaruhi bahwa komunikator harus luwes
untuk melihat situasi dan kondisi di manabawahan akan diberikan tugas dan tanggung
jawab, sehingga tidak merasa bahwa sebenarnyaapa yang dilakukan bawahannya itu
merupakan beban, ia akan merasakan tugas dan tanggung jawab.Pada fungsi integrasi
bahwa organisasi sebagai suatu sistem harus berintegrasi dalamsatu total kesatuan yang
saling berkaitan dan semua urusan satu sama lain tak dapatdipisahkan, oleh karena itu
orang-orang yang berada dalam suatu organisasi atau kelompok merupakan suatu
kesatuan sistem, di mana seseorang itu akan saling berhubungan dan salingmemberikan
pengaruh kepada satu sama lain dalam rangka terciptanya suatu proseskomunikasi untuk
mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan
D. Efektivitas Komunikasi dalam Proses Pendidikan
Dalam prosesnya bahwa komunikasi merupakan suatu proses social
untuk mentranmisikan atau menyampaikan perasaan atau informasi baik yang berupa ide-
ide ataugagasan-gagasan dalam rangka mempengaruhi orang lian. Agar komunikasi
berjalan efektif,komunikator hendaknya mampu mengatur aliran pemberitaan ke tiga
arah, yakni ke bawah,ke atas, ke samping atau mendatar. Bagi setiap orang atau
kelompok dalam organisasihendaknya mungkin untuk berkomunikasi dengan setiap
orang atau kelompok lain, dan untuk menenrima respon sikap, itu diminta oleh
komuniktor.Menurut Marsetio Donosepoetro mengemukakan bahwa dalam proses
komunikasi adabeberapa ketentuan, antara lain :
1. Karena komunikasi mempunyai suatu maksud, maka suatu messege atau stimulus
selaluditujukan kepada sekumpulan orang tertentu. Ini disebut penerima yang
terntetu.
2. Komunikator berkeinginan menimbulkan suatu respon kepada penerima yang
sesuaidengan maksud yang dibawakan oleh messege atau stimulus tertentu.3. Suatu
komunikasi dinyatakan berhasil jika respon yang timbul pada penerima, sesuaidengan
maksud komunikasi.Dalam melaksanakan suatu program pendidikan aktivitas
menyebarkan,menyampaikan gagasan-gagasan dan maksud-maksud ke seluruh
struktur organisasi sangatpenting. Proses komunikasi dalam menyampaikan suatu
tujuan lebih dari pada sekedarmenyalurkan pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan dan
maksud-maksud secara lisan atautertulis.Komunikasi secara lisan pada umumnya
lebih mendatangkan hasil dan pengertianyang jelas dari pada secara tertulis.
Demikian pula komunikasi secara informal dan secaraformal mendatangkan hasil
yang berbeda pengaruh dan kejelasannya.Terjadinya proses komunikasi dalam
organisasi atau lembaga itu bisa terjadi secaraformal maupun secara informal, sebagai
mana menurut Oteng Sutisna mengemukan bahwa “Komunikasi formal terjadi, dalam
memilih informasi untuk keperluan pelaporan, penyimpangan bias dengan mudah
menyelinap. Selanjutnya biasanya orang ingin mendengarlaporan-laporan yang
menyenangkan. Akibatnya ialah sering pemindahan informasi yang diperindah atau
dibiaskan.”

E. Hambatan Dalam Proses Komunikasi


Melakukan komunikasi yang efektif tidaklah mudah. Beberapa ahli
menyatakanbahwa tidak ada proses komunikasi yang sebenar-benarnya efektif, karena
selalu terdapathambatan. Hambatan komunikasi pada umumnya mempunyai dua sifat
berikut ini :
Hambatan yangbersifat objektif , yaitu hambatan terhadap proses komunikasi yangtidak
disengaja dibuat oleh pihak lain tetapi lebih disebabkan oleh keadaan yang
tidak menguntungkan. Misalnya karena cuaca, kebisingan kalau komunikasi di tempat
ramai,waktu yang tidak tepat, penggunaan media yang keliru, ataupun karena tidak kesamaan atau
tidak “in tune” dari frame of reference dan field of reference antara komunikator dengan
komunikan.
Hambatan yang bersifat subjektif , yaitu hambatan yang sengaja di buat orang
lainsebagai upaya penentangan, misalnya pertentangan kepentingan, prasangka, tamak,
irihati, apatisme, dan mencemoohkan komunikasi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan Komunikasi ialah proses menyalurkan informasi, ide, penjeleasan,
perasaan,pertanyaan dari orang ke orang lain atau dari kelompok ke kelompok. Ia adalah
proses interaksi antara orang-orang atau kelompok-kelompok yang ditujukan
untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang-orang dan kelompok-kelompok di dalam
suatu Komunikasi merupakan suatu yang sangat pokok yang dalam prosesnya ada tujuankomunikasi,
yaitu :1. Menentapkan dan menyebarkan maksud dari pada suatu usaha. 2. Mengembangkan
rencana-rencana untuk mencapai tujuan.3. Mengorganisasikan sumber-sumber daya
manusia dan sumber daya lainnya sepertiefektif dan efisien.4. Memilih, mengembangkan,
menilai anggota organisasi.5. Memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan
suatu iklim kerja di manasetiap orang mau memberikan kontribusi.
DAFTAR PUSTAKA

http://meiliemma.wordpress.com/2006/10/17/definisi-komunikasi-dan-tingkatan-proses-
komunikasi/ 14.

www.teknologipendidikan.wordpress.com15.

http://kampuskomunikasi.blogspot.com/2008/06/hambatan-dalam-proses-komunikasi.html16.

http://etika-filsafat-komunikasi.blogspot.com/2007/09/evasi-komunikasi.html

https://id.scribd.com/document/85563669/Makalah-Komunikasi-Dalam-Proses-Pembelajaran