Anda di halaman 1dari 90

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.1.1 Stunting
Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya
dalam SDGs adalah status gizi anak balita.Balita merupakan kelompok yang
rentan mengalami kekurangan gizi yang akan ditandai dengan terjadinya stunting.
Stunting (pendek) merupakan gangguan pertumbuhan linier yang disebabkan
adanya malnutrisi asupan zat gizi kronis atau penyakit infeksi kronis maupun
berulang yang ditunjukkan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur
(TB/U) kurang dari -2 SD. Stunting menggambarkan status gizi kurang yang
bersifat kronik pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan.
(1; 2)

(2)
Secara global, sekitar 1 dari 4 balita mengalami stunting . Di Indonesia,
berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018, terdapat 30,8%
keseluruhan balita yang mengalami stunting. Diketahui dari jumlah presentase
tersebut, 19,3% anak pendek dan 11,5% sangat pendek. Prevalensi stunting ini
mengalami penurunan dibandingkan hasil Riskesdas tahun 2013 yaitu sebesar
37,2%. Angka stunting pada baduta di Indonesia sebesar 29,9% terdiri dari 17,1%
anak pendek dan 12,8% sangat pendek, sedangkan sesuai provinsi, angka stunting
di Jawa Tengah masih melebihi jumlah tersebut (3)
Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi, diantaranya 1000 Hari
Pertama Kehidupan (HPK) anak, yang tergambar dari faktor pemberian ASI
eksklusif, Pemberian MP-ASI yang tepat, faktor pengetahuan ibu mengenai
masalah kesehatan termasuk masalah perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan
sanitasi, gizi sebelum kehamilan dan pada masa kehamilan, penyakit infeksi pada
anak, dan kelengkapan imunisasi yang dapat berpengaruh pada penyakit infeksi
dan angka kesakitan anak (4)
Masalah kurang gizi dan stunting merupakan dua masalah yang saling
berhubungan.Stunting pada anak merupakan dampak dari defisiensi nutrien

1
selama seribu hari pertama kehidupan.Hal ini menimbulkan gangguan
perkembangan fisik anak yang irreversible termasuk gangguan dalam
perkembangan otak sehingga menyebabkan penurunan kemampuan kognitif dan
motorik.Anak dengan status gizistunting memiliki rerata skor Intelligence
Quotient (IQ) sebelas poin lebih rendah dibandingkan rerata skor IQ pada anak
normal. Gangguan tumbuh kembang yang terjadipada anak akibat kekurangan gizi
bila tidak mendapatkan intervensi sejak dini akan berlanjut hingga
dewasasehingga dapat menyebabkan penurunan performa kerja di kemudian hari.
Studi terkini menunjukkan anak yang mengalami stunting berkaitan dengan
prestasi di sekolah yang buruk, tingkat pendidikan yang rendah dan pendapatan
yang rendah saat dewasa. (5)
Stunting pada balita perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan status
kesehatan pada anak.Anak yang mengalami stunting memiliki kemungkinan lebih
besar tumbuh menjadi individu dewasa yang tidak sehat.Stunting pada anak juga
berhubungan dengan peningkatan kerentanan anak terhadap penyakit, baik
penyakit menular maupun Penyakit Tidak Menular (PTM).Stunting juga berisiko
untuk meningkatkan angka kejadian terjadinyaoverweight dan obesitasyang dapat
kemudian dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit degeneratif.Kasus
stunting pada anak dapat dijadikan prediktor rendahnya kualitas sumber daya
manusia suatu negara. Keadaan stunting menyebabkan buruknya kemampuan
kognitif, rendahnya produktivitas, sertameningkatnya risiko penyakit
mengakibatkan kerugian jangka panjang bagi Indonesia (6; 7)

1.1.2 Puskesmas
Puskesmas sesuai dengan Permenkes 75 Tahun 2014 merupakan fasilitas
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upayakesehatan masyarakat dan
upaya kesehatan perseorangan tingkatpertama, dengan lebih mengutamakan upaya
promotif dan preventif,untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginyadi wilayah kerjanya.

2
Fasilitas Pelayanan Kesehatan sendiri merupakan suatu tempat yang
digunakanuntuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif,
preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan olehpemerintah, pemerintah
daerah danatau masyarakat.
Sesuai dengan Pasal 2 pada Permenkes 75 Tahun 2014 Tujuan Puskesmas sendiri
adalah :
a. Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas
bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang:
i. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat;
ii. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu
iii. Hidup dalam lingkungan sehat; dan
iv. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat.
Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mendukung terwujudnya
kecamatan sehat.

1.1.3 Peran Puskesmas terhadap Stunting


Penurunan jumlah stunting telah ditetapkan sebagai program prioritas
nasional yang dimasukkan kedalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang
membutuhkan pendekatan multi-sektor melalui program-program nasional, lokal,
dan masyarakat di tingkat pusat maupun daerah. Salah satu instansi yang terkait
program penurunan angka stunting adalah instansi kesehatan, dimana puskesmas
merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan. Program-program penurunan
angka stunting dapat difasilitasi oleh puskesmas, seperti Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA), program konseling gizi, dan intervensi gizi, yang dapat dilakukan didalam
maupun diluar gedung contohnya dengan posyandu yang dilakukan rutin satu
bulan sekali.

3
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, kami mengadakan kegiatan yang
berjudul Upaya Pencegahan Stunting Pada Usia 0-24 Bulan di Wilayah Kerja
Puskesmas Rowosari II dengan tujuan mengetahui gambaran nyata stunting pada
usia 0-24 bulan selama bulan Juli sampai Agustus 2019 di wilayah kerja
Puskesmas Rowosari II yang terdiri dari 8 desa yaitu Desa Wonotenggang, Desa
Tambaksari, Desa Tanjungsari, Desa Pojoksari, Desa Randusari, Desa Karangsari,
Desa Parakan, dan Desa Tanjunganom, serta melakukan intervensi yang sesuai
supaya masyarakat lebih mengetahui betapa pentingnya mencegah stunting dan
mengaplikasikan upaya pencegahannya dalam kehidupan sehari hari untuk
mencapai Indonesia bebas stunting.

1.3 Tujuan Penulisan


Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kemungkinan
stuntingpada anak usia 0-24 bulan, dan untuk mengetahui faktor risiko yang
berperan dalam terjadinya stunting diwilayah kerja UPTD Puskesmas Rowosari
II, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah.

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi Penulis
a. Melaksanakan kegiatan mini project dalam rangka Program Internsip
Dokter Indonesia.
b. Berperan serta dalam upaya pengumpulan data anak dengan kemungkinan
stunting khususnya di wilayah kerja UPTD Puskesmas Rowosari II,
Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah.

1.4.2 Manfaat bagi Puskesmas


Membantu puskesmas dalam pengumpulan data anak dengan
kemungkinan stunting, mengetahuigambaran faktor-faktor yang mempengaruhi
kejadian stunting di wilayah kerja UPTD Puskesmas Rowosari II, Kabupaten
Kendal, Provinsi Jawa Tengah.

4
1.4.3 Manfaat bagi Masyarakat
a. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang stunting.
b. Mendorong masyarakat untuk melakukan pencegahan stunting kepada
anak usia 0-24 bulan sehingga meningkatkan kualitas hidup anak kelak.

5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Stunting


Stunting atau perawakan pendek menggambarkan status gizi kurang yang
bersifat kronik pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal
kehidupan.Keadaan ini dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut
umur (TB/U) kurang dari -2 Standar Deviasi (SD) berdasarkan standar
(8).
pertumbuhan menurut WHO Salah satu indikator kesehatan yang dinilai
keberhasilan pencapaiannya dalam SDGs adalah status gizi anak balita.Masa anak
balita merupakan kelompok yang rentan mengalami kurang gizi salah satunya
stunting (9).Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak
saat anak berusia dua tahun (10).
Stunting pada anak merupakan dampak dari defisiensi nutrien selama 1000
Hari Pertama Kehidupan (HPK).Hal ini menimbulkan gangguan perkembangan
fisik anak yang irreversible, sehingga menyebabkan oenurunan performa
kerja.Anak stunting memiliki rerata skor Intelligence Quotient (IQ) sebelas poin
lebih rendah dibandingkan rerata skor IQ pada anak normal. Gangguan tumbuh
kembang anak akibat kekurangan gizi bila tidak mendapatkan intervensi sejak dini
akan berlanjut hingga dewasa (11).

2.2 Etiologi
Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi. Banyak hal yang
menyebabkan terjadinya stunting terutama kesalahan pola asuh yang terjadi pada
1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). Contoh kesalahan yang dapat terjadi
dalam hal ini antara lain adalah :
1. Praktek pengasuhan yang tidak baik
- Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum
dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan.
- 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatlan ASI eksklusif.

6
- 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan Pengganti
ASI (MP-ASI)
2. Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan Ante Natal Care
(ANC), Post Natal dan pembelajaran dini yang berkualitas.
- 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun tidak terdaftar di Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD).
- 2dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi suplemen zat besi yang
memadai.
- Menurunnya tingkat kehadiran anak di posyandi (dari 79% di 2007
menjadi 64% di 2013).
- Tidak mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi
3. Masih kurangnya akses kepada makanan bergizi.
- 1 dari 3 ibu hamil anemia.
- Makanan bergizi mahal.
4. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.
- 1 dari 5 rumah tangga masih BAB diruang terbuka.
- 1 dari 3 rumah taangga belum memiliki akses keair minum bersih
(12).

2.3 Faktor Risiko


Beberapa faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian stunting, antara
lain :
1. Berat badan lahir rendah
Berat badan lahir rendah (BBLR) sering dihubungkan dengan tinggi dan
yang kurang atau stunting.
2. Riwayat infeksi balita
Kejadian infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernafasan.
3. Riwayat penyakit kehamilan
Ibu yang mengalami kekurangan anemia akan melahirkan bayi dengan
berat badan lahir rendah (BBLR).

7
4. Tinggi badan orang tua
Ibu yang memiliki tinggi badan <145cm memiliki risiko lebih tinggi
untuk tumuh menjadi stunting pada anaknya.
5. Faktor sosial ekonomi.
Faktor sosial ekonomi meliputi pendapatan perkapita, pendidikan orang
tua, pengetahuan iu tentang gizi dan jumlah anggota dalam rumah
tangga secara tidak langsung juga berhubungan dengan kejadian
stunting. Rendahnya pendidikan disertai rendahnya pengetahuan gizi
sering dihubungkan dengan kejadian malnutrisi (13).

2.4 Epidemiologi
Kejadian balita berperawakan pendek (stunting) merupakan salah satu
masalah gizi yang dialami oleh baliya di dunia saat ini. Pada tahun 2017 terdapat
22,2% atau sekitar 10,8 juta balita di dunia mengalami stunting. Namun angka ini
mengalami penurunan jika dibandingkan pada tahun 2000 yaitu 32,6%.

Gambar 2.1 Prevalensi Balita Pendek (stunting) di Dunia Tahun 2000-2017


Sumber Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehata, Kementerian
Kesehatan Pusat Data dan Informasi, 2018

Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada negara-negara lain di


Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%)
(14)
.Di Indonesia, sekitar 39% atau hampir 9 juta balita mengalami stunting dan
Indonesia adalah negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar di Dunia

8
(15).
Di Indonesia pravelensi stuntingsecara nasional pada tahun 2013 adalah
37,2%, berarti ada peningkatan dibanding tahun 2010 (35,6%) dan tahun 2007
(36,8%) (10). Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017 menunjukkan bahwa
presentasi balita (bawah lima tahun) stunting pada kelompok balita 26% lebih
besar jika dibanding dengan usia baduta (bawah dua tahun) (16). Pada tahun 2017,
prevalensi balita usia 0-59 bulan yang sangat pendek adalah sebesar 9,8% dan
balita pendek sebesar 19,8% (17).

Gambar 2.2 Peta Prevalensi Balita Pendek di Indonesia Tahun 2017


Sumber :Situasi Balita Pendek ( Stunting ) Di Indonesia, Pusat Data Dan
Informasi, Kementrian Kesahatan RI.

Terdapat 20 provinsi dengan prevalensi diatas nasional (37,2%) dengan


(18).
yang tertinggi terdapat di Nusa Tenggara Timur, terendah di Bali Prevalensi
stunting di Jawa Tengah mencapai 36,7. Sedangkan, prevalensistunting pada
balita di Kabupaten Kendal mencapai 42% dengan kejadian tertinggi di
Kecamatan Patebon 38,7% (19).

9
Gambar 2.3 Kecenderungan Prevalensi Status Gizi TB/U <-2SD Menurut
Provinsi, Indonesia 2007, 2010, dan 2013
Sumber :Faktor penyebab anak Stunting usia 25-60 bulan di Kecamatan
Sukorejo Kota Blitar. Sri, Mugianti, et al., et al, Poltekkes Kemenkes

2.5 GejalaKlinis
Gejala klinis stunting (20) :
1. Pubertas terlambat
2. Performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar
3. Pertumbuhan gigi terlambat
4. Usia 8- 10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan
eye contact
5. Pertumbuhan melambat
6. Wajah tampak lebih muda dari usianya

2.6 Pencegahan Stunting


Upaya untuk pencegahan terjadinya stunting dilakukan melalui dua
intervensi, yaitu intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan
intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung.

2.6.1 Intervensi Gizi Spesifik

10
Intervensi gizi spesifikmerupakan kegiatan yang langsung mengatasi
terjadinya stunting seperti asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit
menular, dan kesehatan lingkungan.Intervensi spesifik ini umumnya diberikan
oleh sektor kesehatan. (21)

Intervensi gizi spesifik dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu:


1. Intervensi prioritas, merupakan intervensi yang diidentifikasi memilik
dampak paling besar pada pencegahan stunting dan ditujukan untuk
menjangkau semua sasaran prioritas;
2. Intervensi pendukung, merupakan intervensi yang berdampak pada
masalah gizi dan kesehatan lain yang terkait stunting dan diprioritaskan
setelah intervensi prioritas dilakukan
3. Intervensi prioritas sesuai kondisi tertentu, yaitu intervensi yang
diperlukan sesuai dengan kondisi tertentu, termasuk untuk kondisi darurat
bencana (program gizi darurat)

Intervensi gizi spesifik dilakukan dengan salah satu gerakan yang dikenal
sebagai 1000 HPK (HariPertamaKehidupan). Berikut ini merupakan penjabaran
dari setiap intervensi yang dilakukan dalam 1000 HPK: (22; 21)
Kelompok sasaran 1.000 HPK
1. Ibu hamil
- Intervensi Prioritas :
o Pemberian makanan tambahan (PMT) pada ibu hamil pada
kelompok miskin atau Kurang Energi Kronik (KEK)
o Suplementasi tablet tambah darah untuk mengatasi
kekurangan zat besi dan asam folat
- Intervensi Pendukung
o Suplementasi kalsium
o Pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali
o Memberikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
- Prioritas sesuai kondisi tertentu

11
o Pencegahan HIV
o Pemberian obat cacing untuk menanggulangi kecacingan
pada ibu hamil
o Program melindungi ibu hamil,dari Malaria
2. Ibu menyusui dan anak usia 0-6 bulan
- Intervensi Prioritas
o Memberikan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
o Mendorong Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
o Pemberian ASI jolong/colostrum
o Mendorong pemberian ASI Ekslusif
o Promosi dan konseling menyusui
- Intervensi Pendukung
o Imunisasi dasar
o Pantau tumbuh kembang secara rutin setiap bulan
o Penanganan bayi sakit secara tepat

3. Ibu menyusui dan anak 7-23 bulan


- Intervensi Prioritas :
o Promosi dan konseling menyusui untuk mendorong
penerusan pemberian ASI hingga usia 23 bulan
o Promosi dan konseling pemberian MP-ASI
o Tatalaksana gizi buruk
o Pemberian makanan tambahan pemulihan bagi anak yang
kurus
o Pemantauan dan promosi pertumbuhan
- Intervensi Pendukung
o Suplementasi kapsul vitamin A
o Suplementasi zinc untuk pengobatan diare
o Menyediakan obat cacing
o Memberikan imunisasi lengkap
o Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)

12
- Prioritas sesuai kondisi tertentu
o Pencegahan kecacingan

2.6.2 Intervensi Gizi Sensitif


Intervensi gizi sensitif ini mencakup aspek-aspek seperti dibawah ini: (22)
1. Menyediakan dan Memastikan Akses pada Air Bersih melalui program
PAMSIMAS (Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi berbasis
Masyarakat)
Selain pemerintah pusat, PAMSIMAS juga dilakukan dengan
kontribusi dari pemerintah daerah serta masyakart melalui pelaksanaan
beberapa jenis kegiatan seperti dibawah:
 Meningkatkan praktik hidup bersih dan sehat di masyarakat
 Meningkatkan jumlah masyarakat yang memiliki akses air
minum dan sanitasi yang berkelanjutan
 Meningkatkan kapasitas masyarakat dan kelembagaan lokal
(pemerintah daerah maupun masyarakat) dalam
penyelenggaraan layanan air minum dan sanitasi berbasis
masyarakat
 Meningkatkan efektifitas dan kesinambungan jangka panjang
pembangunan sarana dan prasarana air minum dan sanitasi
berbasis masyarakat

2. Menyediakan dan Memastikan Akses pada Sanitasi melalui Kebijakan


Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
STBM merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan
sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat menekankan pada 5 (lima)
perubahan perilaku hygienis, yang biasa dikenal sebagai 5 pilar
STBM.
Lima Pilar STBM terdiri dari: (23)
a) Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS)

13
Tidak ada masyarakat yang buang air besar di tempat terbuka/
sembarangan (di kebun, sungai, semak-semak, pantai, dll )

Gambar 2.4 Pilihan Jamban Untuk MCK


SumberYayasan Dian and AMPL, Pokja. Modul Pelatihan Desa
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

b) Cuci tangan pakai sabun (CTPS)


Perilaku cuci tangan dengan menggunakan air bersih yang
mengalir dan sabun.Golongan penyakit infeksi dapat dicegah
dengan ctps : diare, ispa, flu burung, cacingan, infeksimata,
hepatitis a, polio. Ctps yang benar mencegah: 80% penyakit infeksi
umum dan45 % penyakit infeksi berat

14
Gambar 2.5 Cara Mencuci Tangan Dengan Sabun dan Air
Sumber Yayasan Dian and AMPL, Pokja. Modul Pelatihan Desa
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

EnamwaktupentingCPTS :
- Sebelum makan
- Setelah buang air besar
- Setelah menceboki anak
- Sebelum memegang bayi
- Sebelum menyiapkan makanan
- Setelah kontak dengan binatang

c) Pengelolaan Air Minum dan Makanan di Rumah Tangga (PAMM-


RT)
Melakukan kegiatan mengelola air minum dan makanan di rumah
tangga untuk memperbaiki dan menjaga kualitas air dari sumber air
yang akan digunakan untuk air minum, serta untuk menerapkan

15
prinsip hygiene sanitasi pangan dalam proses pengelolaan makanan
di rumah tangga.

Gambar 2.6 Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga


Sumber Yayasan Dian and AMPL, Pokja. Modul Pelatihan Desa
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

d) Pengamanan Sampah Rumah Tangga


Melakukan kegiatan pengolahan sampah di rumah tangga dengan
mengedepankan prinsip mengurangi, memakai ulang, dan mendaur
ulang.
PrinsipUtama :
- Meminimalkan resiko kesehatan;
-
Sampah tidak dapat dijangkau oleh binatang seperti
lalat, babi, anjing, dll.

e) Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga.


Melakukan kegiatan pengolahan limbah cair di rumah tangga yang
berasal dari sisa kegiatan mencuci, kamar mandi dan dapur yang
memnuhi standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan
kesehatan yang mampu memutusa mata rantai penularan penyakit.

16
Prinsip :
- Tidak mencemari sumber air minum (air permukaan
maupun air tanah);
- Tidak menjadi media berkembang biaknya binatang
pembawa penyakit;
- Tidak mengotori permukaan tanah, menimbulkan bau;
- Konstruksi sederhana dengan bahan yang murah dan
mudah didapat;
- Pelestarian sumber saya air (misalnya, pemanfaatan
kembali air limbah rumah tangga).

3. Melakukan Fortifikasi Bahan Pangan (Garam, Terigu, dan Minyak


Goreng)
4. Menyediakan Akses kepada Layanan Kesehatan dan Keluarga
Berencana (KB)
5. Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
6. Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal)
7. Memberikan Pendidikan Pengasuhan pada Orang tua
8. Memberikan Pendidikan Gizi Masyarakat.
Kegiatan yang dilakukan berupa:
• Peningkatan pendidikan gizi.
• Penanggulangan Kurang Energi Protein.
• Menurunkan prevalansi anemia, mengatasi kekurangan zinc dan zat
besi, mengatasi Ganguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) serta
kekurangan Vitamin A
• Perbaikan keadaan zat gizi lebih.
• Peningkatan Survailans Gizi.
• Pemberdayaan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga/Masyarakat
9. Memberikan Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi, serta Gizi
pada Remaja.
10. Menyediakan Bantuan dan Jaminan Sosial bagi Keluarga Miskin.

17
11. Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Gizi
12. Kegiatan yang dilakukan berupa:
• Menjamin akses pangan yang memenuhi kebutuhan gizi terutama
ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak.
• Menjamin pemanfaatan optimal pangan yang tersedia bagi semua
golongan penduduk.
• Memberi perhatian pada petani kecil, nelayan, dan kesetaraan
gender.
• Pemberdayaan Ekonomi Mikro bagi Keluarga dengan Bumil KEK
(Kurang Energi Protein).
• Peningkatan Layanan KB

Upaya penurunan stunting akan lebih efektif apabila intervensi gizi


spesifik dan sensitif dilakukan secara terintegrasi atau terpadu. Pada beberapa
penelitian baik dari dalam maupun luar negeri telah menunjukkan bahwa
keberhasilan pendekatan terintegrasi yang dilakukan pada sasaran prioritas fokus
untuk mencegah dan menurunkan stunting. (22)

2.7 Terapi Stunting


Untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia masa depan maka usaha
yang paling efisien adalah mencegah terjadinya malnutrisi dengan
mensosialisasikan praktik pemberian makan yang benar pada 1000 hari pertama
kehidupan yang berbasis bukti.Sosialisasi dan edukasi kepada keluarga terutama
kepada ibu tentang 1000 HPK sangat penting untuk dilakukan. Hal ini disebabkan
karena pengetahuan ibu tentang pola asuh yang benar sangat berpengaruh
terhadap status gizi anaknya di kemudian hari (24)

Dalam penanganan kasus stunting di Indonesia, pemerintah memiliki


peran yang sangat besar untuk menekan angka terjadi kekurangan gizi kronis
ini.oleh karena itu pemerintah mengeluarkan banyak kebijakan dan stategi untuk
menangani masalah ini. Adapun Kebijakan dan strategi yang mengatur pola asuh

18
ini ada pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal
128, Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012 tentang ASI, dan Rencana
Strategis Kementerian Kesehatan 2015-2019, Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 (25).
Dalam Amanat pada UU Nomor 36 Tahun 2009 menyatakan tentang
pemberian ASI pada bayi yang berisikan:
1. Setiap bayi berhak mendapatkan ASI Eksklusif sejak dilahirkan selama 6
bulan, kecuali atas indikasi medis.
2. Selama pemberian ASI pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah,
dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan
penyediaan waktu dan fasilitas khusus.
Amanat tentang UU tersebut diatur dalam PP Nomor 33 Tahun 2013
tentang ASI yang menyebutkan:
1. Setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI Eksklusif. Pengaturan
pemberian ASI Eksklusif bertujuan untuk: a. menjamin pemenuhan hak
bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif sejak dilahirkan sampai dengan
berusia 6 (enam) bulan dengan memperhatikan pertumbuhan dan
perkembangannya; b. memberikan perlindungan kepada ibu dalam
memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya; dan c. meningkatkan peran
dan dukungan keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah
terhadap pemberian ASI Eksklusif.
2.
Tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan wajib
melakukan inisiasi menyusui dini terhadap bayi yang baru lahir kepada
ibunya paling singkat selama 1 (satu) jam. Inisiasi menyusui dini
sebagaimana dimaksud dilakukan dengan cara meletakkan bayi secara
tengkurap di dada atau perut ibu sehingga kulit bayi melekat pada kulit
ibu. (25)
Selain mengeluarkan serangkaian kebijakan dan regulasi,
kementerian/lembaga (K/L) juga sebenarnya telah memiliki program baik terkait
intervensi gizi spesifik maupun intervensi gizi sensitif, yang berpotensial untuk
menurunkan stunting. Intervensi Program Gizi Spesifik dilakukan oleh

19
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) melalui Gerakan 1.000 Hari
Pertama Kegiatan (HPK). Berikut ini adalah identifikasi beberapa program gizi
spesifik yang telah dilakukan oleh pemerintah:

1. Program terkait Intervensi dengan sasaran Ibu Hamil, yang dilakukan


melalui beberapa program/kegiatan berikut:
• Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi
kekurangan energi dan protein kronis
• Program untuk mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat
• Program untuk mengatasi kekurangan iodium
• Pemberian obat cacing untuk menanggulangi kecacingan pada
ibu hamil
• Program untuk melindungi ibu hamil dari Malaria.

Jenis kegiatan yang telah dan dapat dilakukan oleh


pemerintah baik di tingkat nasional maupun di tingkat lokal
meliputi pemberian suplementasi besi folat minimal 90 tablet,
memberikan dukungan kepada ibu hamil untuk melakukan
pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali, memberikan imunisasi
Tetanus Toksoid (TT), pemberian makanan tambahan pada ibu
hamil, melakukan upaya untuk penanggulangan cacingan pada ibu
hamil, dan memberikan kelambu serta pengobatan bagi ibu hamil
yang positif malaria.

2. Program yang menyasar Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6 bulan
termasuk diantaranya mendorong IMD/Inisiasi Menyusui Dini
melalui pemberian kolostrum dan memastikan edukasi kepada ibu
untuk terus memberikan ASI Eksklusif hingga usia 6 bulan. Kegiatan
terkait termasuk memberikan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), promosi menyusui ASI
eksklusif (konseling individu dan kelompok), imunisasi dasar,

20
pantau tumbuh kembang secara rutin setiap bulan, dan penanganan
bayi sakit secara tepat. (26)

Selain pemberian intervensi secara spesifik, langkah penanganan terjadinya


stunting juga dilakukan dengan melakukan Intervensi Gizi Sensitif.Idealnya
dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dan
berkontribusi pada 70% Intervensi Stunting.Sasaran dari intervensi gizi spesifik
adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1.000
Hari PertamaKehidupan (HPK).

1. Menyediakan dan Memastikan Akses pada Air Bersih.


2. Menyediakan dan Memastikan Akses pada Sanitasi.
3. Melakukan Fortifikasi Bahan Pangan.
4. Menyediakan Akses kepada Layanan Kesehatan dan Keluarga Berencana
(KB).
5. Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
6. Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal).
7. Memberikan Pendidikan Pengasuhan pada Orang tua.
8. Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini Universal.
9. Memberikan Pendidikan Gizi Masyarakat.
10. Memberikan Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi, serta Gizi pada
Remaja.
11. Menyediakan Bantuan dan Jaminan Sosial bagi Keluarga Miskin.
12. Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Gizi. (27)

2.8 Komplikasi Stunting


Sejak lahir sampai usia 2 tahun, bayi mengalami perkembangan otak yang
pesat,Sehingga pada usia pertumbuhan kritis ini harus dijaga agar gizi terpenuhi
dengan baik dan pertumbuhan tidak terhambat. Demikian pula dengan
pertumbuhan linear, batita perempuan mencapai 50% tinggi badan pada usia 18
bulan, sedangkan laki-laki pada usia 2 tahun. Terhambatnya pertumbuhan pada
masa kritis ini akan menimbulkan dampak yang luas. (28)

21
Dampak yang ditimbulkan stunting dapat dibagi menjadi dampak jangka
pendek dan jangka panjang.
1. Dampak Jangka Pendek.
a) Peningkatan kejadian kesakitan dan kematian;
b) Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal
c) Peningkatan biaya kesehatan.
2. Dampak Jangka Panjang.
a) Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek
dibandingkan pada umumnya);
b) Meningkatnya risiko obesitas dan penyakit lainnya
c) Menurunnya kesehatan reproduksi;
d) Kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa
sekolah
e) Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal. (17)

2.9 Puskesmas
2.9.1 Profil UPTD Puskesmas Rowosari II
Sejarah berdirinya UPTD Puskesmas Rowosari II, Berdasarkan Surat
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal Daerah Tingkat II Kabupaten Kendal
Nomor : 400-75-87 tertanggal 30 Maret 1987 perihal tentang pembentukan Pusat
Masyarakat (Puskesmas) Weleri III INPRES 6/1986/1987, kemudian untuk
memenuhi kebutuhan di bidang kesehatan ditingkat menjadi Puskesmas Rawat
Inap (Perawatan) berdasarkan surat Kepala Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II
Kabupaten Kendal tertanggal 10 Desember 1987 Nomor 445.4407 tentang usulan
perubahan status menjadi Puskesmas Perawatan (29).

22
Gambar 2.7 Peta Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Rowosari
Sumber :Profil UPTD Puskesmas Rowosari II Tahun 2019

Situasi geografis di wilayah kerja Puskesmas Rowosari II dapat dilihat


pada gambar di atas (29).
 Tahun 1987 berdiri dengan nama Puskesmas Weleri 03
 Tahun 1995 berganti nama menjadi Puskesmas Rowosari II
a. Nama instansi : UPTD. Puskesmas Rowosari II
b. Luas tanah : 18.700 m2
c. Luas bangunan : 2.946 m2
d. Alamat : Jalan Raya Soekarno Hatta Desa Wonotenggang,
Kec. Rowosari Kab. Kendal.
e. Telephone : (0294) 641541
f. Email : pkmsrowosari02@gmail.com

2.9.2 Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan


Sarana yang ada di Puskesmas Rowosari II berupa bangunan fisik,
peralatan medis, peralatan non medis, dan obat-obatan (29)
1. Bangunan fisik
Bangunan fisik terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut :
a. Bangunan depan (sebelah timur) terdiri dari :
- Ruang UGD

23
- Ruang Pendaftaran dan Kasir
- Ruang BP
- Ruang Farmasi
- Ruang Gudang Obat
- Ruang Promkes / gizi dan Kesling
- Ruang KB
- Kamar mandi 2 bh
- Kamar pemeriksa gigi dan mulut
- Ruang MTBS/BP anak
- Ruang KIA / KB
b. Bangunan sebelah Selatan untuk rawat inap, terdiri dari :
- Ruang perawat jaga
- Ruang anak 2 kmr dengan 4 tempat tidur
- Ruang dewasa 5 kmr dengan 10 tempat tidur
c. Bangunan Tengah sebelah timur terdiri dari :
- Ruang pimpinan Puskesmas
- Ruang bendahara dan staf
- Kamar mandi 2 bh
d. Bangunan tengah membujur ke utara terdiri dari :
- Masjid
- Ruang laborat
- Ruang pemeriksaan rontgen
- Ruang pelayanan P2P dan Juru imunisasi
e. Bangunan tengah sebelah barat barupa bangunan Ruang
operasi mata, dan BP mata
f. Bangunan Paling belakang sebelah barat, berupa :
- Kamar jenazah ( Rusak Berat )
- Bangunan dapur
- Ruang dinas dokter gigi (rusak berat)
g. Bangunan Baru Ruang PONED / Persalinan sebelah utara
membujur ke barat yang belum di fungsikan.

24
h. Bangunan paling utara untuk kantor TU, bendahara barang
dan staf rumah tangga
i. Bangunan fisik Pustu ada 2 dan PKD ada 4
j. Banguan ditengah-tengah merupakan gedung aula.
k. Sarana Transportasi
1. Kendaraan roda dua 2 buah
2. kendaraan roda empat 3 unit
 2 unit kendaraan Pusling, 1unit dengan kondisi
baik dan 1unit rusak berat
 1 unit kendaraan khusus Ambulan

2.9.3 Visi dan Misi Puskesmas Rowosari II


Visi Puskesmas Rowosari II adalah Menjadi Puskesmas Unggulan Menuju
Masyarakat Rowosari yang sehat dan Produktif (29).
Misi Puskesmas Rowosari II adalah :
1. Menggerakkanpengembangan dan pelayanan kesehatan di wilayah
kerja
2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat
3. Meningkatkan dan memelihara mutu pelayanan kesehatan di
puskesmas
4. Bekerja secara profesional dengan penuh semangat menuju pelayanan
prima.
5. Menjaga Kekompakan dan Kebersamaan antar karyawan sehingga
tercipta suasana kerja yang harmonis.

Tata Nilai Puskesmas Rowosari II :


1. Sopan
Hormat dan takzim dalam memberikan pelayanan baik kepada pasien
maupun masyarakat
2. Ikhlas
Tulus dalam memberikan pelayanan

25
3. Akuntabel
Sistem pengelolaan administrasi dan keuangan di puskesmas dapat
dipertanggungjawabkan berdasarkan peraturan yang ada
4. Profesional
Memberikan pelayanan sesuai dengan keahlian.

Strategi UPTD Puskesmas Rowosari II :


1. Optimalisasi sumber tenaga kesehatan dengan meningkatkan
kemampuan, kualitas dan profesionalisme tenaga kesehatan dalam
memberikan pelayanan.
2. Meningkatkan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan yang
terjangkau oleh masyarakat.
3. Optimalisasi SOP menuju pelayanan bermutu.
4. Meningkatkan infrastruktur dan manajemen puskesmas.
5. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan.
6. Optimalisasi lintas sektoral melalui rapat koordinasi.

2.9.4 Struktur Organisasi di Puskesmas Rowosari II


Pola struktur organisasi di Puskesmas Rowosari II telah disesuaikan
dengan Permenkes No 75 tahun 2014 adalah sebagai berikut (29):
1. Kepala Puskesmas
Kriteria Kepala Puskesmas yaitu tenaga kesehatan dengan tingkat
pendidikan paling rendah Sarjana Kesehatan, memiliki kompetensi
manajemen kesehatan masyarakat, masa kerja di Puskesmas minimal 2
(dua) tahun, dan telah mengikuti pelatihan manajemen Puskesmas.
2. Kasubag Tata Usaha
Membawahi beberapa kegiatan diantaranya SistemInformasi
Puskesmas, kepegawaian, rumah tangga, dan keuangan.
3. Tim Manajemen Mutu
Terdiri dari : Tim PMKP, Tim Audit Internal Tim Survey mempunyai
tugas dan wewenang :

26
a. Tugas
1. Melakukan koordinasi penyusunan dokumen sistem
manajemen mutu.
2. Melaksanakan koordinasi dengan pihak terkait dalam
penyusunan dokumen mutu.
3. Melakukan analisa indikator prioritas mutu.
4. Melaksanakan dan mengkoordinasikan administrasi
manajemen mutu.
5. Memimpin rapat tinjauan manajemen mutu.
6. Memutuskan dan merekomendasikan hasil tinjauan
manajemen mutu.
7. Menyampaikan hasil rapat tinjauan mutu kepada kepala
puskesmas.
8. Mengkoordinir pemeliharaan dokumen / rekaman.
b. Wewenang
1. Menyusun dan mengembangkan dokumen
2. Mengelola dan memelihara dokumen atau rekaman
3. Melakukan menjamin mutu proses dan hasil
4. Membantu kapus dalam mengendalikan proses pelayanan
kesehatan
4. Penanggungjawab UKM esensial dan keperawatan kesehatan
masyarakat yangmembawahi:
a. Pelayanan Promosi Kesehatan termasuk UKS
b. Pelayanan Kesehatan Lingkungan
c. Pelayanan KIA-KB yang bersifat UKM
d. Pelayanan Gizi yang bersifat UKM
e. Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Menular
5. Penanggungjawab UKM Pengembangan
Membawahi upaya pengembangan yang dilakukan Puskesmas, antara
lain:

27
a. Pelayanan Kesehatan Jiwa
b. Pelayanan Kesehatan Gigi Masyarakat
c. Pelayanan Kesehatan Lansia
d. Pelayanan Kesehatan Indera
e. Pelayanan Kesehatan dan Keselamatan Kerjadan Olah
Raga
6. Penanggungjawab UKP, kefarmasian, dan laboratorium
Membawahi beberapa kegiatan, yaitu:
a. Pelayanan Pemeriksaan Umum
b. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
c. Pelayanan Kia-KB yang Bersifat Ukp
d. Pelayanan Gizi yang Bersifat Ukp
e. Pelayanan Gawat Darurat
f. Pelayanan Rawat Inap
g. Pelayanan Kefarmasian
h. Pelayanan Laboratorium
i. Pelayanan Kesehatan Calon Jemaah / Pasca Haji
7. Penanggungjawab jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring
fasilitaspelayanan kesehatan, yang membawahi:
a. Puskesmas Pembantu
b. Puskesmas Keliling
c. PKD
d. Bidan Desa
e. Jejaring fasilitas pelayanan kesehatan

28
2.9.5 Sumber Daya Manusia Puskesmas Rowosari II
Jumlah karyawan di UPTD Puskesmas Rowosari II adalah 75 orang dengan
rincian sebagai berikut (29):

JUMLAH SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN


Tabel 2.1 Jumlah Sumber Daya Manusia Kesehatan UPTD Puskesmas
UPTD PUSKESMAS ROWOSARI II
Rowosari II Bulan BULAN : JANUARI 2018
Januari 2018
PNS
Lainny
PTT JUM L
NO NAMA Pelaks a
Pertam M adya Pemul Pelaks Penyel Pusat AH
M uda M adya ana ( THL,
a Utama a ana ia
Lanjut W iyata
I. Medis
1 Dokter 2 2
2 Dokter Gigi 1 1
II. Paramedis
1 Bidan 1 4 3 7 2 17
2 Perawat 2 5 3 20 30
3 Perawa Gigi 1 1
4 Tenaga Gizi 1 1 2
5 Kesehatan Masyarakat 1 1
6 Kesehatan Lingkungan 1 1
7 Analis Farmasi 1 1 2
8 Analis Kesehatan 2 2
0
III. Tenaga Umum 0
1 Tata Usaha 1 1 2 2 6
2 Administrasi Loket 1 1 3 5
3 Driver 0 0
4 Petugas Dapur 1 1
5 Clening Service 2 2
6 Petugas Loundry 1 1
7 Penjaga Malam 1 1
0
0 5 1 0 5 11 6 11 0 36 75
JUMLAH 39 36 75

Kendal, Januari 2018


2.9.6 Kepala II
Bentuk Kegiatan oleh Puskesmas Rowosari UPTD
(29) Puskesmas Rowosari II

a. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan swasta dalam


dr. ISTIROH
pembangunan kesehatan melalui kerja NIP.
sama lintas program
196812162009042001
dan lintas sektoral

29
- Mengoptimalkan koordinasi dan jejaring lintas sektoral
dan lintas program di tingkat kecamatan.
- Membuat jejaring dengan lembaga di tingkat desa dalam
rangka implementasi program kesehatan.
- Membuat jejaring dengan kader sebagai pelaksana
program kesehatan di masyarakat.
- Membina posyandu, desa siaga yang telah ada di
masyarakat
- Meningkatkan jejaring pelayanan kesehatan di sekolah
ataupun pondok pesantren
b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau,
bermutu dan berkeadilan, serta berbasis bukti, menyeluruh
dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif.
- Mengoptimalkan bentuk pelayanan kesehatan sesuai
dengan fasilitas yang tersedia
- Mengoptimalkan peran SDM sesuai tupoksi pelayanan
yang ada
- Melengkapi fasilitas penunjang pelayanan medis secara
bertahap sesuai perkembangan jaman
- Memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar
- Meningkatkan koordinasi antar unit pelayanan.
c. Meningkatkan cakupan pembangunan kesehatan, melalui
pendanaan yang ada di puskesmas dan masyarakat
- Mendorong masyarakat untuk mendukung pendanaan
kesehatan yang bersumber dari masyarakat
- Merencanakan anggaran kegiatan kesehatan yang sesuai
dengan permasalahan yang ada di masyarakat
- Mendukung pencapaian SPM (Standar Pelayanan
Minimal) MDG’s (Millennium Development Goals).

30
d. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM
kesehatan yang merata dan bermutu.
- Melaksanakan transfer ilmu (kalakarya) dari SDM yang
mengikuti pelatihan kepada rekan-rekan lainnya.
- Membuat peta jabatan sesuai dengan kompetensi yang ada
- Melaksanakan analisis beban kerja dan mutasi internal
e. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan
obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat,
kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
makanan.
- Mengoptimalkan peran apotek dan gudang obat dalam
pelayanan kesehatan
- Mengoptimalkan monitoring dan evaluasi penggunaan
obat pelayanan kesehatan
- Mengoptimalkan pencatatan dan pelaporan obat dan alkes
- Merencanakan kebutuhan obat dan alkes secara rutin
f. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel,
transparan berdayaguna dan berhasilguna untuk
memantapkan pelayanan kesehatan yang bertanggungjawab
- Melaksanakan monitoring dan evaluasi terpadu setiap
bulan
- Menanggapi dengan segera setiap keluhan konsumen yang
disampaikan
- Melaksanakan lokmin bulanan
2.9.7 Cakupan Program Puskesmas Rowosari II
Kegiatan Puskesmas yang dilakukan pada tahun 2016 sesuai dengan tugas
pokok dan fungsi Puskesmas meliputi (29):
1. Program Upaya Kesehatan Masyarakat Essensial
a. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana
(KB)
i. Pelayanan rawat jalan umum yaitu meliputi :

31
1. Pelayanan tes ibu hamil untuk kunjungan lengkap
(K4)
2. Pelayanan KN
ii. Pelaksanaan komunikasi Edukasi dan Inovasi mencakup
1. ANC, DNC
2. Kunjungan gizi buruk
3. Kunjungan Bumil resti
4. Kunjungan ibu hamil KEK
5. Sweeping Imunisasi
6. Lomba Balita
7. Konseling
b. Upaya Pelayanan Perbaikan Gizi Mencakup
1. Pemberian suplemen gizi
2. Pemberian vitamin A
3. Pelayanan gizi
4. Konsultasi dan penyuluhan gizi seimbang
5. Melakukan PSG – PKG, TBABS
6. Kunjungan gizi kurang/ gizi buruk
7. Administtrasi Gizi
8. Pemantauan dan pelaksanaan MP-ASI
9. Kunjungan UKTK
10. Kunjungan neonatal dan gizi buruk
c. Upaya Pelayanan Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit
Menular (P2), mencakup :
1. Konseling Penderita TB, Malaria, HIV/AIDS
2. Pemantauan Kepatuhan Minum Obat Penderita TB
3. Upaya penemuan dan pengobatan Pneumonia serta
rujukan
4. Upaya penemuan dan pengobatan TB paru dengan DOTS
5. Upaya penemuan DBD serta penyelidikan epidemologi

32
6. Pelayanan imunisasi pada bayi, ibu hamil dan anak
sekolah dewasa
7. Penyuluhan penyakit menular pada masyarakat
8. Promosi Aku Bangga Aku Tahu (ABAT) Penderita
HIV/AIDS
d. Upaya Pelayanan Kesehatan Lingkungan, mencakup
1. Upaya penyehatan air
2. Upaya hygienis dan sanitasi
3. Upaya penyehatan tempat lingkungan pemukiman dan
jamban keluarga
4. Pemicuan STOP BABS
5. Upaya penyehatan lingkungan tempat pembuangan
sampah dan limbah
6. Pengendalian vektor melalui pengawasan tempat potensial
perumahan vektor dari pemukiman penduduk
7. Jumat sehat dan bersih
e. Upaya Promosi Kesehatan

2. Pelayanan Upaya Kesehatan Perorangan


 Klinik / BP Umum
 Klinik Gigi
 Pelayanan Imunisasi
 Pelayanan Obat
 Pelayanan Laboratorium
 Pelayanan KB
 Pelayanan Gizi
 Kesehatan Ibu dan Anak (KIA),
 Pelayanan Konseling Remaja
 Pelayanan Kesehatan Indra Mata
 Pelayanan Kesehatan Haji

33
 Pelayanan IGD 24 Jam dan Rawat Inap Tingkat Pertama

3. Program Upaya Kesehatan Masyarakat


Mencakup program :
a. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), dan KB
b. Upaya Pelayanan Perbaikan Gizi
c. Upaya Pelayanan Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit
Menular (P2M)
d. Upaya Pelayanan Kesehatan Lingkungan
e. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
Kegiatan Yang dilaksanakan baik di dalam gedung maupun di
luar gedung dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan usia
lanjut untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna.
Kegiatan tersebut meliputi :
 Pembinaan kelompok usia lanjut melalui posyandu lansia
 Pemantauan kesehatan pada anggota kelompok usia lanjut
yang dibina
 Pelayana kesehatan pada lansia melalui pemeriksaan,
pengobatan dan rujukan baik dalam gedung maupun diluar
gedung puskesmas
 Penyuluhan kesehatan bagi kelompok lansia bersama
dengan lintas sektor terkait
f. Posyandu Balita
g. Pelayanan Kesehatan Lingkungan
h. Pelayanan Imunisasi
i. Upaya Kesehatan Sekolah
Mencakup upaya kesehatan
1. Promotif : Pembinaan sekolah sehat, pelatihan dan
pembinaan dokter kecil, penyuluhan kesehatan gigi dengan
lintas sektor terkait
2. Preventif : Imunisasi anak sekolah

34
j. Promosi kesehatan
4. Upaya Kesehatan Pengembangan
Program pengembangan mencakup :
1. Pelayanan Lansia
2. Pelayanan Kesehatan Prolanis
3. Pelayanan BP Mata dan Operasi Katarak Massal
5. Peran Serta Masyarakat, mencakup
1. Posyandu Balita
2. Puskesling
3. Inspeksi sanitasi
4. Desa Siaga / Desa Sehat

2.9.8 Kepadatan Penduduk Puskesmas Rowosari II


Jumlah Penduduk Wilayah UPTD Puskesmas Rowosari II pada tahun
2016 berjumlah 18695 Jiwa dengan jumlah Rumah Tangga 5850 KK. Wilayah
Kerja Puskesmas Rowosari II meliputi 8 desa di Kecamatan Rowosari Kabupaten
Kendal dengan jumlah penduduk pada tahun 2016 menurut sumber data Kantor
BPS Kecamatan Rowosari sebanyak 18695 jiwa terdiri dari 1923 jiwa penduduk
laki laki dan 9297 jiwa perempuan dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak
9398 KK (Kepala Keluarga) . Jumlah penduduk per-desa di wilayah kerja
Puskesmas Rowosari II yang paling banyak adalah desa Tambaksari 3851 jiwa
(22,63 %), sedangkan penduduk yang paling sedikit adalah desa Parakan yaitu
1.308 jiwa (7,01 %) (29).
Dilihat dari tabel diatas dapat diketahui bahwa desa Tanjungsari adalah
paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya yaitu 5519 jiwa per km2 , dan
kepadatan paling rendah adalah desa Randusari dengan tingkat kepadatan
penduduk 1293 jiwa per km2 (29)
Berdasarkan UU No. 56/1960 tentang kategori jumlah penduduk, maka
kriteria kepadatan penduduk dapat dilihat pada Tabel 2.2

35
Tabel 2.2.Klasifikasi Kepadatan Penduduk

Kepadatan Penduduk Klasifikasi

0 – 50, Jiwa / km2 Tidak padat


51 – 250 Jiwa / km2 Sedang
251 – 400 Jiwa / km2 Padat
> 400 Jiwa / km2 Sangat padat

Luas wilayah kerja puskesmas Rowosari II menurut data yang kami


peroleh dari Kecamatan Rowosari adalah kurang lebih 8,74 km2 meliputi 8 desa.
Dengan cara pembagi jumlah penduduk dengan luas daerah maka dapat diketahui
kepadatan penduduk Kecamatan Rowosari rata-rata 2111,2 jiwa/km2,
klasifikasi penduduknya tergolong sangat padat, dengan tingkat hunian 3,87
jiwa/rumah, ini merupakan tingkat hunian yang cukup sehat karena jumlah
anggota keluarga tidak terlalu banyak dalam 1 rumah (29).
Sex ratio merupakan perbandingan penduduk laki-laki dengan banyaknya
penduduk perempuan dalam satu daerah dan waktu tertentu, biasanya dinyatakan
dalam banyaknya penduduk laki-laki untuk tiap 100 penduduk perempuan Rasio
jenis kelamin biasanya dihitung dengan menggunakan jumlah pria yang terdapat
dalam penduduk tertentu dan kemudian di bagi oleh jumlah perempuan yang
temasuk kedalam penduduk itu juga, dengan demikian ratio jenis kelamin sesuai
dengan definisi tersebut akan mencerminkan/100 penduduk perempuan (29).
Rasio jenis kelamin penduduk wilayah kerja Puskesmas Rowosari II dapat
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Jumlah penduduk laki-laki
Sex Ratio = . x 100

Jumlah penduduk perempuan

Sex Ratio = 9197 X 100


9255

Berdasarkan dari data yang ada ternyata jumlah penduduk perempuan (


9255 jiwa) di wilayah kerja Puskesmas Rowosari II lebih banyak dari jumlah

36
penduduk laki-laki (9197 jiwa) dengan SexRatio 99,37 %, atau hampir seimbang
antara penduduk laki-laki dibanding penduduk perempuan oleh karenanya selain
perlu memberikan perhatian pada penduduk golongan perempuan upaya yang
lebih intensif juga perlu dilakukan terhadap penduduk golongan laki-laki sebagai
pencari nafkah pada keluarganya (29).

2.9.9 Data 10 Besar Penyakit UPTD Puskesmas Rowosari II


Tabel2.3 Data 10 Besar Penyakit Terbanyak tahun 2016 di rawat Jalan
Sumber: Profil UPTD Puskesmas Rowosari II
10 BESAR PENYAKIT RAWAT JALAN UPTD PUSKESMAS ROWOSARI II
BULAN JANUARI 2016
No Diagnosa Kode Penyakit Jumlah
1 ISPA 7279
2 PERIODONTITIS 1652
3 GASTRITIS 2003 1368
4 HYPERTENSI 1314
5 DM 1268
6 PERIODONTITIS 1253
7 REMATIK 662
8 DIARE 651
9 KATARAK 642
10 BRONCHITIS 616

10 BESAR PENYAKIT RAWAT JALAN UPTD PUSKESMAS ROWOSARI II


BULAN JAN-DES TAHUN 2016

8000
7000
6000
5000
4000 7279
3000 Jumlah
2000 Kode Penyakit
1000 1652 1368 1314 1268 1253 662 651 642 616
0 0

37
10 BESAR PENYAKIT RAWAT INAP TAHUN 2016
UPTD PUSKESMAS ROWOSARI II
No Diagnosa Kode Penyakit Jumlah
1 OBS FEBRIS 229
2 FEBRIS THYPOID 208
3 GE 118
4 DHF 86
5 GASTRITIS 51
6 HIPERTENSI 40
7 DM 25
8 ANEMIA 16
9 Br Pr 15
10 ASTHMA 14

10 BESAR PENYAKIT RAWAT INAP


BULAN JAN-DES TAHUN 2016
250

200

150
229 208
100 Jumlah
118
50 86 Kode Penyakit
51 40 25 16 15 14
0

2.9.10 Data Gizi Puskesmas Rowosari II

Pada tahun 2016, pemantauan status gizi di Puskesmas Rowosari II


dilaksanakan setiap bulannya di Posyandu melalui penimbangan bayi dan balita,
yang dilaporkan pada setiap akhir bulan setelah semua kegiatan posyandu selesai
dilaksanakan dalam bulan berjalan (29).
Jumlah sasaran bayi dan balita yang tersebar di 8 desa di wilayah kerja
Puskesmas Rowosari II pada tahun 2016 menurut data dari program gizi adalah
292bayi dan 1168 balita. Dari jumlah tersebut yang aktif mengikuti penimbangan
setiap bulan di posyandu bayi dan balita (85.1 %) Sedangkan Bayi dan balita
dengan berat badan naik sebanyak 902 bayi dan balita (82.22 %) dari seluruh bayi
dan balita yang rutin mengikuti penimbangan setiap bulannya, hal itu
disebabkanmasih kurangnya kesadaran dan pengertian masyarakat akan
pentingnya posyandu (29).
Kurangnya cakupan D/S menggambarkan kurangnya partisipasi
masyarakat dan pemerintah Desa dalam kegiatan posyandu ,Hal ini disebabkan
diantaranya karena kondisi sosial ekonomi masyarakat yang mayoritas
pekerjaannya adalah petani sehingga sering kali pada saat jadwal posyandu
mereka tidak bisa datang karena alasan yang berbeda-beda, di samping itu

38
kurangnya kepedulian masyarakat terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak
setelah berusia 12 bulan ke atas (29).
Masalah gizi bukan hanya masalah sektor kesehatan, dan keberhasilan
penanggulangannya tidak akan maksimal jika sektor kesehatan berjalan sendiri
tanpa adanya dukungan sektor terkait serta dukungan politik dari kebijakan
pemerintah setempat. Masih terdapatnya balita BGM di Kecamatan Rowosari
IIyaitu 54 balita (2,7%), sedangkan gizi buruk sebanyak 2 balita hal ini
disebabkanoleh beberapa faktor antara lain sosial budaya dan ekonomi keluarga,
tingkat pengetahuan dan kekurang pedulian keluarga.Balita Gizi buruk dan BGM
ini semuanya telah mendapat makanan pendamping ASI.Sepanjang tahun 2016
tidak ada kasus gizi buruk (29).

39
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini akan membahas tentang metode penelitian yang akan digunakan
dalam penelitian gambaran faktor-faktor pencegahan terjadinya Stunting. Pokok
bahasan yang akan disajikan mencangkup desain penelitian, populasi dan
sampel, tempat dan waktu penelitian, etika, alat pengumpulan data, metode
pengumpulan data, pengolahan dan analisis data, serta jadwal kegiatan.

3.1. Desain Penelitian


Penelitian ini menggunakan desain deskriptif yaitu metode penelitian
meliputi survei dan penelusuran fakta-fakta terhadap berbagai permasalahan.
(30)
Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu untuk memperoleh informasi
seputar upaya pencegahan Stunting.

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian


3.2.1 Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh bayi berusia 0-24 bulan di seluruh
desa cakupan wilayah binaan Puskesmas Rowosari 2.

3.2.2 Sampel Penelitian


Sampel peneitian ini terdiri dari seluruh populasi yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi sampel pada penelitian ini adalah seluruh
bayi berusia 0-24 bulan, yang datang ke Posyandu untuk diukur tinggi badan dan
berat badannya serta bersedia menjadi responden dengan cara mengisi kuesioner.

3.2.3 Teknik Pengambilan Sampel Penelitian


Besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil dengan teknik
total sampling yaitu pengambilan sampel sama dengan populasi yang memenuhi
(30)
kriteria inklusi. Pada penelitian ini sampel yang digunakan berjumlah x
responden.

40
3.3. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di desa cakupan wilayah binaan Puskesmas
Rowosari 2. Peneliti memilih Desa Tambaksari, Tanjungsari, Karangsari,
Wonotenggang, Randusari, Pojoksari, Tanjunganom, dan Parakan sebagai
tempat penelitian karena merupakan wilayah binaan puskesmas Rowosari 2.
Pengumpulan data dilakukan pada Juli 2019.

3.4. Etika Penelitian


Responden yang terlibat dalam penelitian, terlebih dahulu diminta
kesediaannya secara sukarela, bebas dari tekanan dan paksaan. Setiap responden
diberi penjelasan informasi (informed consent) tentang tujuan penelitian dan
manfaat penelitian. Peneliti memberikan jaminan kerahasiaan (confidentiality)
semua informasi yang telah dikumpulkan dan hanya digunakan untuk
kepentingan penelitian.

3.5. Alat Pengumpulan Data


Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa
kuesioner, timbangan berat badan dan pita ukur. Timbangan berat badan dan pita
ukur digunakan untuk mengukur antropometri anak berupa berat badan dan
tinggi badan yang akan digunakan untuk menentukan status gizi responden
berdasarkan grafik pertumbuhan WHO.
Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data-data tentang faktor
risiko terdapat pada responden yang dapat menyebabkan terjadinya
stunting.Prosespenyusunankuesionermengacupadapenelitian-penelitianyangtelah
dilakukan sebelumnya dan disesuaikan dan dikembangkan oleh peneliti dengan
melihat kerangka konsep dan tinjauan teori yang telah dibuat.
Kuesioner terdiri dari 2 bagian besar. Bagian yang pertama yaitu identitas
responden berupa identitas ibu anak usia 0-24 bulan dan identitas anak. Identitas
ibu meliputi nama, usia, berat badan, tinggi badan, pendidikan terakhir,

41
penghasilan dan jumlah anak yang ditanggung. Identitas anak berupa nama, usia,
tanggal lahir, jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, berat badan
sekarang, panjang badan sekarang dan anak ke berapa dari berapa bersaudara.
Bagian yang kedua berupa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Pertanyaan yang diajukan dibagi menjadi 4 bagian dengan total pertanyaan
sebanyak 19 pertanyaan, yaitu : (a) Bagian pertama merupakan pertanyaan
mengenai pola asuh dengan jumlah pertanyaan sebanyak 6 pertanyaan yang akan
menggambarkan tentang pemberian ASI eksklusif dan makanan bergizi. (b)
Bagian kedua merupakan pertanyaan mengenai infeksi dan imunisasi anak yang
terdiri dari 2 pertanyaan yang akan menggambarkan penyakit infeksi yang
pernah terjadi pada anak dan riwayat pemberian imunisasi pada anak. (c) Bagian
ketiga merupakan pertanyaan mengenai kebersihan dan sanitasi yang terdiri dari
5 pertanyaan seputar kebiasaan mencuci tangan, kebersihan alat makan,
penggunaan alas kaki dan ketersediaan MCK. (d) Bagian keempat merupakan
pertanyaan mengenai riwayat kehamilan ibu selama mengandung anak yang
didata, berisikan 6 pertanyaan yang menggambarkan tentang riwayat antenatal
care, pemberian suplemen besi dan folat selama kehamilan serta riwayat
persalinan.

3.6 Proses Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan metode pengisian kuesioner dan
wawancara.Pengumpulan data kuesioner dan wawancara dilakukan oleh peneliti
pada satu waktu.Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan tahapan berikut.
1. Peneliti mengajukan permohonan izin kepada pembimbing PIDI
Puskesmas Rowosari 2 untuk mendapatkan surat keterangan
pelaksanaan penelitian di Desa Tambaksari,Tanjungsari, Karangsari,
Wonotenggang, Randusari, Pojoksari, Tanjunganom, dan Parakan.
2. Peneliti menjelaskan langkah yang akan dilakukan dalam mengukur
berat badan dan panjang badan anak serta akan dibagikannya
kuesioner kepada responden, menjelaskan tentang hak-hak responden
termasuk hak untuk menolak mengisi kuesioner sebelum pengisian

42
kuesionerdilaksanakan.
3. Jika responden menyetujui permohonan pengisian kuesioner,
selanjutnya responden diberikan informed consent
untukditandatangani.
4. Peneliti mengukur berat badan dan dan panjang badan anak
5. Peneliti membagikan kuesioner dan menjelaskan cara pengisian
kuesioner.
6. Peneliti memberikan waktu dan mendampingi responden dalam
mengisi kuesioner.
7. Peneliti memeriksa kejelasan dan kelengkapankuesioner.

3.7 Analisis Data

Setelah data didapat lalu dikumpulkan dan ditabulasi.Data yang


terkumpul kemudian disajikan dalam bentuk tabel, grafik maupun matrikulasi
masalah.

3.8 Alur Penelitian

Populasi
Semua balita usia 0-24 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Rowosari II
Kendal

Sampel penelitian

Kuesioner

Pengumpulan data

Pengolahan Data dan Analisis Data

Penyuluhan dan Konseling tentang Pencegahan "Stunting"


43

Pembahasan
Kesimpulan

3.9 Definisi Operasional


 Stunting
Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau
tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur
seusianya.Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang < -2
standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO.Stunting
pada anak merupakan dampak dari defisiensi nutrien selama seribu hari
pertama kehidupan.Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang
disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat
hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita
stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam
mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. (31)

 Baduta (Bawah dua tahun)


Usia 0-2 tahun merupakan periode emas untuk pertumbuhan dan
perkembangan manusia yang dikenal dengan "golden age", karena pada
usia tersebut sedang terjadi pertumbuhan yang pesat. Periode usia 0-2
tahun juga merupakan periode 1000 hari pertama kehidupan, yaitu dimulai
dari sejak pembuahan sampai usia dua tahun setelah lahir, dimana periode
ini salah satu penentu kualitas manusia.

44
 Status Gizi Baduta
Pada penelitian ini, status gizi anak meliputi berat badan dan panjang
badan saat lahir serta berat badan dan panjang badan saat diukur di
Posyandu. Kekurangan gizi pada awal kehidupan anak akan berdampak
pada kualitas sumber daya manusia. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR),
yaitu berat bayi lahir <2.500 gram akan membawa risiko kematian,
gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk dapat berisiko
(18)
menjadi pendek jika tidak tertangani dengan baik. Panjang badan lahir
pendek (<48 cm) juga disebut stunting pada neonatus dan dapat menjadi
(32; 33)
faktor resiko terjadinya stunting di kemudian hari. Hasil analisa
hubungan antara berat badan lahir dengan stunting didapatkan bahwa
proposi baduta dengan berat badan lahir rendah lebih cenderung menjadi
stunting yaitu sebesar 3,63 kali dibandingkan dengan baduta yang berat
badan lahirnya normal. Baduta dengan panjang badan lahir rendah
mempunyai risiko 6,29 kali lebih besar untuk menjadi stunting daripada
baduta dengan panjang badan lahir normal. (32)

 Situasi Ibu
Situasi Ibu pada penelitian ini meliputi status gizi ibu, pendidikan ibu dan
riwayat kehamilan ibu.Kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum dan saat
kehamilan serta setelah persalinan mempengaruhi pertumbuhan janin dan
risiko terjadinya stunting.Perawakan ibu yang pendek (<145 cm) juga
(33)
memiliki hubungan penting terhadap kejadian anak stunting. Jika
pendidikan dan pengetahuan ibu rendah akibatnya ia tidak mampu untuk
memilih hingga menyajikan makanan untuk keluarga memenuhi syarat
gizi seimbang. Kategori pendidikan berdasarkan wajib belajar yaitu
kategori rendah bila tingkat pendidikan SMP kebawah, dan kategori tinggi
bila tingkat pendidikan SMA keatas. (34)

 Faktor Sosial Ekonomi

45
Kejadian stunting secara tidak langsung dipengaruhi oleh faktor sosial
ekonomi, seperti tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, dan
ketersediaan pangan.Faktor sosial ekonomi pada penelitian ini meliputi
tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, penghasilan sebulan dan jumlah
anggota keluarga. Menurut penelitian Irwansyah (2016) di Lombok Barat
menyimpulkan bahwa pendidikan ibu yang rendah kemungkinan 3,6 kali
lebih banyak ditemukan pada balita stunting dibandingkan pada balita
(35)
yang tidak stunting. Ketersediaan pangan merupakan kemampuan
keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan yang cukup baik segi
kuantitas dan kualitas dan keamanannya. Status ekonomi keluarga
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pekerjaan orang tua, tingkat
pendidikan dan pendapatan orang tua dan jumlah anggota keluarga. Status
ekonomi keluarga akan mempengaruhi kemampuan pemenuhan gizi
keluarga maupun kemampuan mendapatkan layanan kesehatan. Umk
Kabupaten Kendal 2019 Rp 2.084.393,48. Anak pada keluarga dengan
tingkat ekonomi rendah lebih berisiko mengalami stunting karena
kemampuan pemenuhan gizi yang rendah, meningkatkan risiko terjadinya
malnutrisi. (36)

 Pola Asuh
Pola asuh merupakan pola pemberian makan dalam hal pemberian ASI
(37)
dan MP-ASI. Pola Asuh gizi dalam penelitian ini menggunakan 3
variabel yaitu ASI eksklusif, MPASI, dan penyapihan.Stunting juga
dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik
dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita. ASI eksklusif
adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam
bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau
minuman lain (kecuali obat, vitamin dan mineral). (18) Pemberian ASI yang
kurang sesuai di Indonesia menyebabkan bayi menderita gizi kurang dan
gizi buruk.. (38) Air Susu Ibu (ASI) eksklusif 6 bulan pertama kehidupan
dan dilanjutkan dengan pengenalan MP-ASI dengan terus memberikan

46
ASI sampai usia 2 tahun. Menurut penelitian Teshome et al. (2009)
menyatakan bahwa pengenalan MP-ASI terlalu dini (< 4 bulan) berisiko
menderita kejadian stunting.Nutrisi yang diperoleh sejak bayi lahir
tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya termasuk risiko
terjadinya stunting. Tidak terlaksananya inisiasi menyusu dini (IMD),
gagalnya pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, dan proses penyapihan
dini dapat menjadi salah satu faktor terjadinya stunting. Sedangkan dari
sisi pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) hal yang perlu
diperhatikan adalah kuantitas, kualitas, dan keamanan pangan yang
diberikan.Setiap bayi 6-23 bulan mengonsumsi sekurangnya 4 kelompok
jenis makanan (dari 7 kelompok bahan makanan) dengan frekuensi
minimal 3x sehari. (39)

 Infeksi dan Imunisasi


Penyakit infeksi yang disebabkan oleh higiene dan sanitasi yang buruk
(misalnya diare dan kecacingan) dapat menganggu penyerapan nutrisi
pada proses pencernaan, dapat menyebabkan berat badan bayi turun. Jika
kondisi ini terjadi dalam waktu yang cukup lama dan tidak disertai dengan
pemberian asupan yang cukup untuk proses penyembuhan maka dapat
(39)
mengakibatkan stunting. Imunisasi bertujuan untuk memberikan
kekebalan terhadap antigen tertentu untuk mencegah penyakit dan
kematian bayi dan anak.Sudah lama diketahui bahwa imunisasi ada
hubungannya dengan malnutrisi kaitannya dengan penyakit infeksi yang
dapat secara langsung mempengaruhi status gizi anak. (40)

 Kebersihan dan Sanitasi


Faktor lain yang mempengaruhi stunted yaitu perilaku hygiene sanitasi
makanan yang kurang baik. Faktor kebersihan dan sanitasi pada penelitian
ini meliputi pengetahuan tentang cuci tangan pada anak dan balita,

47
kebersihan alat makan anak, pemakaian alas kaki dan MCK
keluarga.Balita yang mengkonsumsi makanan dengan hygiene sanitasi
yang kurang baik dapat menyebabkan penyakit infeksi.Penyakit infeksi
biasanya disertai gangguan seperti pengurangan nafsu makan dan muntah-
muntah sehingga asupan makan balita kurang terpenuhi. Kondisi ini dapat
menurunkan keadaan gizi balita dan berimplikasi buruk terhadap
(41)
kemajuan pertumbuhan anak (stunted). Rendahnya akses terhadap
pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air
bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi.Untuk itu,
perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak
buang air besar sembarangan. (42)

 Riwayat Kehamilan
Kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum dan saat kehamilan serta setelah
persalinan mempengaruhi pertumbuhan janin dan risiko terjadinya
stunting.Riwayat Kehamilan pada penelitian ini meliputi ANC, Penolong
Persalinan, Inisiasi Menyusu dini, Masalah yang terjadi pada Kehamilan
dan Usia Hamil Pertama Kali.Antenatal Care (ANC) merupakan
pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan untuk ibu
selama kehamilannya guna mendeteksi risiko terjadinya komplikasi
kehamilan.ANC dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan. Sebuah
penelitian menyatakan bahwa ibu yang melakukan perawatan antenatal
kurang dari tiga kali dan tidak memeriksakan kehamilannya kepada
dokter, perawat maupun bidan dapat memiliki risiko untuk terjadi stunting
(43)
pada anak-anak mereka.. Kondisi lain yang banyak terjadi pada ibu
hamil adalah anemia, terutama anemia defisiensi besi. Hal ini dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan berkembangan janin/bayi saat kehamilan
maupun setelahnya.adar hemoglobin ibu hamil berhubungan dengan
panjang bayi yang nantinya akan dilahirkan, semakin tinggi kadar Hb
semakin panjang ukuran bayi yang akan dilahirkan. Pada ibu hamil dengan
anemia terjadi gangguan pen yaluran oksigen dan zat makanan dari ibu ke

48
plasenta dan janin, yang mempengaruhi fungsi plasenta.Fungsi plasenta
yang menurun dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang janin. (44).
Usia kehamilan ibu yang terlalu muda (di bawah 20 tahun) berisiko
melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Bayi BBLR
mempengaruhi sekitar 20% dari terjadinya stunting. (39)

49
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini menggambarkan dan menjelaskan hasil penelitian yang telah


dilakukan di Desa Karangsari. Hasil penelitian meliputi karakteristik orangtua
responden yaitu umur ibu, pendidikan terahir ibu, pekerjaan ibu, penghasilan
perbulan dan jumlah anak dalam keluarga, kemudian data tentang responden yang
masuk kategori stunting dan faktor yang mempengaruhinya diantaranya adalah
berat badan lahir, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, pola asuh (ASI dan
makanan pendamping ASI), infeksi, imunisasi, kebersihan, sanitasi serta riwayat
kehamilan.

4.1 Karakteristik Orangtua Responden

Karakteristik Kategori N %
Usia <20 1 1,8%
20 – 29 24 42,8%
30 – 39 23 41.0%
≥ 40 8 14,4%
Pendidikan Terahir Ibu Tidak Sekolah 1 1,8%
SD 11 19,6%
SMP 27 48,2%
SMA 11 19,6%
Perguruan Tinggi 6 10,8%
Pekerjaan Ibu Bekerja 14 25%
Tidak Bekerja 42 75%
Penghasilan < 2 Juta 30 53,5%
> 2 Juta 26 46,5%
Jumlah Anak Dalam ≤2 50 89,2%
Keluarga >2 6 10,8%
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden (N=56)
Karakteristik Orang Tua Responden Desa Karangsari

50
Dari tabel 4.1 didapatkan gambaran bahwa umur orang tua responden di
desa Karangsari meliputi 1 orang yang berumur kurang dari 20 tahun (1,8%), 24
orang yang berumur antara 20 sampai 29 tahun (42,8%), 23 orang yang berumur
antara 30 sampai 39 tahun (41%) dan 8 orang yang berumur lebih dari 40 tahun
(14,4%).
Dari keseluruhan 56 orang orangtua responden yang mengisi kuesioner
didapatkan data bahwa semua ibu responden memiliki riwayat pendidikan formal
dengan 1 orang tidak menamatkan pendidikan SD (1,8%), 11 orang menjalani
pendidikanhingga SD (19,6%), 27 orang berpendidikan SMP (48,2%), 11 orang
berpendidikan SMA (19,6%) dan 6 orang yang berpendidikan hingga kuliah
(10,8%). Tingkat pendidikan ini dapat menjadi salah satu indikator tingkat
pengetahuan ibu. Hal ini berpengaruh pada pengetahuan ibu terhadap pola pikir
terhadap pola asuh untuk anaknya. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa 30.4%
ibu responden memiliki latar belakang pendidikan hingga sekolah lanjutan yaitu
SMA dan kuliah, sehingga hal ini diharapkan mempengaruhi tentang pola pikir
dan kepedulian ibu terhadap pentingnya kesehatan anak.
Kebanyakan ibu responden yang mengisi kuesioner tidak bekerja.
Sebanyak 42 orang ibu tidak bekerja (75%) dan 14 orang bekerja (25%). Faktor
pekerjaan ini berpengaruh pada waktu ibu untuk berinteraksi dan mengurus anak.
Kesibukan di luar rumah seperti melakukan pekerjaan dapat menyita waktu dan
energi ibu, sehingga dapat menyebabkan ibu tidak terlalu memperhatikan masalah
kesehatan anak secara terperinci. Waktu untuk dapat memberikan ASI eksklusif
juga mungkin terganggu akibat ibu harus bekerja, sehingga anak tidak
mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan seperti seharusnya.
Pada tahun 2019 Kabupaten Kendal memiliki nilai upah minimal
(45).
kota/kabupaten (UMK) sebesar Rp 2.084.393,48 Angka ini yang menjadi
dasar untuk menentukan penggolongan kondisi perekonomian dari masing-masing
keluarga responden. Sebanyak 30 keluarga responden memiliki penghasilan rata-
rata perbulan dibawah Rp 2.000.000 (53.5%).Sedangkan keluarga responden yang
memiliki penghasilan rata-rata perbulan lebih dari UMK ada sebanyak 26
keluarga (46.5%).Jumlah penghasilan keluarga sangat berpengaruh terhadap

51
kesehatan dan status gizi anak. Penghasilan keluarga yang cukup dapat
dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi untuk seisi keluarga dan
dapat menjamin kesejahteraan kehidupan dasar anggota keluarga. Dengan adanya
kecukupan ekonomi juga mempengaruhi factor kebersihan dan sanitasi yang dapat
dimiliki di rumah.Selain itu kesadaran akan kesehatan juga akan makin meningkat
ketika setiap keluarga sudah terpenuhi kebutuhan hidup dasarnya.
Dari data yang didapatkan di desa Karangsari didapatkan keterangan
bahwa keluarga dengan jumlah anak kurang dari atau sama dengan 2 anak ada 50
keluarga (89,2%) dan yang memiliki jumlah anak lebih dari 2 orang ada sebanyak
6 keluarga (10,8%). Pemerintah memiliki sebuah program kesehatanya itu
kegiatan Keluarga Berencana (KB) yang memiliki semboyan “Dua anak cukup”.
Hal ini merupakan sebuah langkah yang penting untuk dilakukan dan
diedukasikan kepada masyarakat Indonesia karena jumlah anak dalam satu
keluarga sangat mempengaruhi kesejahteraan setiap anggota keluarga yang ada di
dalamnya. Semakin banyak anak yang ada di keluarga maka jumlah anak yang
harus ditanggung secara ekonomi akan bertambah, sehingga besarnya penghasilan
harus sebanding dengan jumlah anak apabila ingin mencapai kesejahteraan
anggota keluarga. Apabila jumlah anak banyak sedangkan jumlah pendapatan
tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar yang berkualitas untuk seluruh
anak, maka kualitas kebutuhan dasar pasti akan diturunkan atau dikurangi,
sehingga kebutuhan pangan yang bergizi akan berkurang, tingkat pendidikan yang
lebih rendah dan berbagai macam dampak negative lainnya. Dengan adanya
ledakan penduduk akibat tidak terkontrolnya jumlah anak dalam satu keluarga
maka dapat menyebabkan dampak negatif seperti meningkatnya kemiskinan,
kekurangan pangan, timbulnya pemukiman kumuh, kesulitan pemerintah dalam
menyediakan sarana pendidikan, kesehatan dan perumahan. Peningkatan
penduduk juga pada akhirnya berpengaruh pada keseimbangan lapangan
pekerjaan yang berefek pada penghasilan keluarga di kemudian hari (46).
4.2 Status Jumlah Anak usia 0-24 Bulan dengan Status Gizi Stunting
Selama bulan Juli dan Agustus 2019 dilakukan pengukuran antropometri
anak usia 0-24 bulan di desa Karangsari berupa tinggi badan dan berat badan serta

52
pengisian kuesioner oleh ibu responden yang membawa anaknya ke posyandu.
Dari hasil pengukuran ini dilakukan penilaian status gizi anak berdasarkan data
antropometri tersebut, terutama status gizi tinggi badan per umur berdasarkan
grafik z-score dari WHO. Dari z-score ini dapat ditentukan kecenderungan status
gizi anak apakah anak yang diukur memiliki status gizi normal, stunting atau
perawakan pendek, severely stunting atau perawakan sangat pendek, atau
memiliki kecenderungan beperawakan sangat tinggi atau very tall. Stunting
ditentukan bila dari grafik tinggi badan per umur setelah diukur status gizi anak
berada di bawah -2 standar deviasi (SD), dan dinyatakan severely stunting bila
berada di bawah -3 standar deviasi (SD) (47).

Status Gizi berdasaekan Panjang Badan


Normal Stunted Severe Stunted

37

11
8

Panjang Badan / Umur (WHO Chart)

Grafik 4.2.1. Status Gizi berdasarkan Panjang Badan

Dari keseluruhan responden yang diukur dan ditentukan status gizinya di


desa Karangsari, didapatkan ada 37 anak usia 0-24 bulan yang memiliki status
gizi normal yaitu di antara -2 SD hingga 3 SD. Sedangkan untuk anak usia 0-24
bulan yang memiliki status gizi stunted ada 11 anak dan 8 anak memiliki status
gizi severely stunted. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa dari pengukuran

53
responden sebanyak 56 anak usia 0-24 bulan di desa Karangsari terdapat 66%
anak dengan status gizi normal, 19,7% anak yang memiliki kecenderungan
stunted pada usia 2 tahun, 14,3% anak yang memiliki kecenderungan berstatus
gizi severely stunted pada usia 2 tahun.

Presentase Status Gizi Anak Usia 0-24


Bulan di Desa Karangsari

14.30%
Normal
19.70% Stunted
66.00% Severe Stunted

Grafik 4.2.2. Presentase Status Gizi Anak Usia 0-24 Bulan di Desa Karangsari

4.3 Gambaran Faktor Risiko Stunted

4.3.1 Berat Badan dan Panjang Badan Lahir


4.3.2 Tinggi Badan Ibu
4.3.3 Pola Asuh ( ASI dan Makanan Bergizi)
4.3.4 Riwayat Infeksi dan Imunisasi
4.3.5 Kebersihan dan Sanitasi
4.3.6 Riwayat Kehamilan

4.3.1. Berat Badan dan Panjang Badan Lahir Rendah

4.3.1.1 Berat Badan Lahir Rendah

54
Menurut World Health Organization (WHO) Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR) didefinisikan sebagai bayi yang lahir dengan berat < 2500 gram. BBLR
menunjukkanjanin yang kekurangan gizi dalam kandungan sementara
underweight mengindikasikan kondisi kekurangan gizi akut. Menurut penelitian
(Wiwin dkk, 2016), hasil analisa hubungan antara berat badan lahir dengan
stunting didapatkan bahwa proposi baduta dengan berat badan lahir rendah lebih
cenderung menjadi stunting yaitu sebesar 3,63 kali dibandingkan dengan baduta
(32)
yang berat badan lahirnya normal. Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi
kronis. Bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari normal (<2500 gr)
mungkin masih memiliki panjang tubuh normal saat lahir. Karena itu, anak yang
lahir dengan berat kurang atau anak-anak yang dilahirkan dengan berat badan
rendah harus waspada akan menjadi stunting. Pencegahan malnutrisi yang
dilakukan lebih awal, akan memperkecil risiko stunting.

Berat Badan Lahir


BBL < 2500,
3.60%

BBL > 2500


BBL < 2500

BBL > 2500,


96.40%

Grafik 4.3.1 Berat Badan Lahir

Dari grafik 4.3.1 diketahui dari 56 responden yang dinilai, sebanyak 54


responden (96,40%) memiliki berat badan lahir ≥ 2500 gram, dan sebanyak 2
responden (3,6%). Kekurangan gizi pada awal kehidupan anak akan berdampak

55
pada kualitas sumber daya manusia. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), yaitu
berat bayi lahir <2.500 gram akan membawa risiko kematian, gangguan
pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk dapat berisiko menjadi pendek
jika tidak tertangani dengan baik. (48)

4.3.1.2 Panjang Badan Lahir Rendah

Panjang badan lahir pendek (<48 cm) juga disebut stunting pada neonatus dan
(32);
dapat menjadi faktor resiko terjadinya stunting di kemudian hari.
(33)
Berdasarkan hasil penelitian (Meilyasari & Isnawati, 2014) di wilayah Kendal
menyebutkan bahwa panjang badan lahir rendah merupakan faktor risiko
terjadinya stunting 16,43 kali lebih besar daripada balita dengan panjang badan
lahir normal. (49)

Panjang Badan Lahir

PBL < 48 cm,


30.40% PBL ≥ 48 cm
PBL < 48 cm
PBL ≥ 48 cm,
69.60%

Grafik 4.3.2. Panjang Badan Lahir

Grafik 4.3.2 menunjukkan 39 responden (69,6%) memiliki panjang badan


lahir normal (≥ 48 cm) dan 17 responden (30,4%) memiliki panjang badan lahir
pendek (<48 cm). Artinya, panjang badan yang jauh di bawah rata-rata lahir
disebabkan karena sudah mengalami retardasi pertumbuhan saat dalam

56
kandungan. Retardasi pertumbuhan saat masih dalam kandungan menunjukkan
kurangnya status gizi dan kesehatan ibu pada saat hamil sehingga menyebabkan
anak lahir dengan panjang badan yang kurang. (50)

Panjang Badan Lahir Bayi Desa Karangsari


yang Lahir di PONED
<48 cm, 0

<48 cm
>48 cm

>48 cm, 100%

Grafik 4.3.3 Panjang Badan Lahir Desa Karangsari yang Lahir di PONED PKM
Rowosari 2

Selain data panjang badan lahir yang didapatkan dari kuesioner yang telah
diisi ibu responden pada saat posyandu di Desa Karangsari dilakukan juga
pengukuran panjang badan lahir pada bayi yang mendapatkan pertolongan
persalinan di PONED Puskesmas Rowosari 2 .Di bulan Juli didapatkan 2 bayi dari
Desa Karangsari yang lahir di PONED Puskesmas Rowosari 2. Kedua bayi ini
memiliki panjang badan lahir 48 cm.
Faktor yang dapat menyebabkan anak lahir dengan berat badan lahir
rendah salah satunya adalah karena status gizi ibu pada saat hamil.Ibu yang pada
saat hamil memiliki status gizi kurang memiliki kemungkinan yang lebih besar
untuk melahirkan bayi yang BBLR.Ukuran anak saat lahir mempengaruhi
pertumbuhan anak dikemudian hari karena mempengaruhi pertumbuhan linear
anak. Namun hal ini dapat diperbaiki dengan pemberian makanan dengan gizi

57
yang baik dan tepat sehingga panjang badan anak dapat dikejar seiring dengan
pertambahan usia anak (51).
Dari 56 anak Desa Karangsari yang diambil datanya, didapatkan 2 anak
(3,6%) yang lahir dengan berat <2500 gram, yaitu anak pertama yang lahir dengan
berat 2200 gram dan panjang badan lahir 46 cm, namun setelah berusia 15 bulan
anak terserbut tidak termasuk anak dengan risiko stunting. Anak kedua yang lahir
dengan berat <2500 lahir dengan berat 2100 gram dan panjang badan lahir 45 cm,
setelah usia 13 bulan anak tersebut masuk katagori underweight dan severly
stunted. Panjang badan lahir <48 cm didapatkan sebanyak 17 anak (30,40%),
sedangkan anak dengan panjang badan lahir normal didapatkan sebanyak 39 anak
(69,60%). BBLR menunjukkan janin yang kekurangan gizi dalam kandungan
sementara underweight mengindikasikan kondisi kekurangan gizi akut. Stunting
itu sendiri disebabkan oleh kekurangan gizi kronis. Bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari normal (<2500 gram) mungkin masih memiliki panjang tubuh
normal saat lahir. Stunting akan terjadi beberapa bulan kemudian, meskipun
demikian seringkali tidak disadari oleh orang tua. Orang tua tahu bahwa anak
mereka kerdil biasanya setelah anak mulai bermain dengan teman-teman sehingga
anak terlihat lebih pendek dari teman seusianya. Karena itu, anak yang lahir
dengan berat kurang atau anak-anak yang dilahirkan dengan berat badan rendah
harus waspada akan menjadi stunting. Pencegahan malnutrisi yang dilakukan
lebih awal, akan memperkecil risiko stunting (47)

4.3.3 Tinggi Badan Ibu Pendek

Salah satu faktor risiko anak stunting adalah tinggi badan ibu pendek
(<145 cm). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kartikawati (2011) yang
menyatakan bahwa faktor genetik pada ibu yaitu tinggi badan berpengaruh
terhadap kejadian stunting pada anak balita. Tetapi hal ini tidak berlaku apabila
sifat pendek orangtua disebabkan karena masalah gizi atau patologis yang dialami
orang tua. Sehingga, hal tersebut tidak akan berpengaruh terhadap tinggi badan
anak. (52)

58
Kondisi postur tubuh ibu sebelum lahir, baik itu berat badan maupun
tinggi badan, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting
pada anak. Status gizi perempuan sebagai calon ibu harus memiliki status gizi
yang baik karena akan menentukan status gizi anaknya kemudian. Pada tahun
2017, persentase remaja putri dengan kondisi pendek dan sangat pendek
meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu 7,9% sangat pendek dan 27,6% pendek
(53)
.
Maternal stunting atau stunting yang terjadi pada ibu hamil adalah ibu
memiliki tinggi kurang dari 145 cm. Keadaan ini dapat menyebabkan restriksi
pada aliran darah pada uterus sehingga menghambat pertumbuhan uterus, palsenta
dan fetus. Bila perkembangan fetus tidak baik maka berisiko terjadinya
Intrauterine Growth Restriction (IUGR). Bila anak dengan riwayat IUGR lahir
dan hidup maka anak tersebut memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena banyak
penyakit dikemudian hari seperti terjadinya keterlambatan perkembangan saraf
dan perkembangan intelektual serta tinggi badan yang lebih rendah daripada
oranglain saat dewasa (54).

Tinggi Badan Ibu


< 145 cm, 5.40%

> 145 cm
> 145 cm, 94.60% < 145 cm

Grafik 4.3.4 Tinggi Badan Ibu

59
Dari data keseluruhan, ibu responden yang memiliki tinggi kurang dari
145 cm sebanyak 3 orang (5,4%), sedangkan sisanya sebanyak 53 orang (94,6%)
memiliki tinggi badan normal. Terdapat 2 ibu dengan tinggi badan pendek dan
memiliki anak risiko stunting, sedangkan ibu lainnya memiliki tinggi badan
normal. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitan yang dilakukan oleh
Zottarelli (2014) di Mesir bahwa ibu yang memiliki tinggi badan <150 cm lebih
beresiko memiliki anak stunting dibandingkan ibu dengan tinggi badan >150 cm.
Perempuan yang sejak kecil mengalami stunting maka akan tumbuh dengan
berbagai macam gangguan pertumbuhan termasuk gangguan reproduksinya,
komplikasi selama kehamilan, kesulitan dalam melahirkan, bahkan kematian
perinatal. Ibu dengan stunting akan berpotensi melahirkan anak yang akan
mengalami stunting dan hal ini disebut dengan siklus kekurangan gizi antar
generasi (55)

4.3.4 Pola Asuh (ASI dan Makanan Bergizi)

Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh


yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.
Gizi yang diperoleh sejak bayi lahir tentunya sangat berpengaruh
terhadap masa pertumbuhananak termasuk risiko terjadinya stunting. Tidak
terlaksananya inisiasi menyusu dini (IMD), gagalnya pemberian air susu ibu
(ASI) eksklusif, dan proses penyapihan dini dapat menjadi salah satu faktor
terjadinya stunting. Sedangkan dari sisi pemberian makanan pendamping ASI
(MP ASI) hal yang perlu diperhatikan adalah kuantitas, kualitas, dan keamanan
pangan yang diberikan (53). ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi
sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti
dengan makanan atau minuman lain (kecuali obat, vitamin dan mineral). (18)

60
Tidak Mendapat ASI Eksklusif
ASI Eksklusif,
10.70%

Mendapat ASI Eksklusif

Mendapat ASI Tidak Mendapat ASI Eksklusif


Eksklusif, 89.30%

Grafik 4.3.5. ASI Eksklusif

Hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden memberikan


ASI Eksklusif yaitu 50 responden (89,3%). Hal ini menunjukkan bahwa capaian
ASI eksklusif di tempat penelitian sudah melebihi target Nasional yang
diharapkan yaitu sebesar 80%. ASI Eksklusif menurut Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu
Eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) tanpa menambahkan dan atau
mengganti dengan makanan atau minuman lain yang diberikan kepada bayi sejak
baru dilahirkan selama 6 bulan. Pemberian ASI eksklusif memberikan berbagai
manfaat untuk ibu dan bayi dimana ASI merupakan makanan alamiah yang baik
untuk bayi, praktis, ekonomis, mudah dicerna, memiliki komposisi zat gizi yang
ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi dan ASI
mendukung pertumbuhan bayi terutama tinggi badan karena kalsium ASI lebih
efisien diserap dibanding susu pengganti ASI (56)

4.3.5 Kolostrum

Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh payudara


yang dihasilkan tiga hari pertama setelah melahirkan yang diberikan sedini

61
mungkin setelah dilahirkan. Kolostrum adalah cairan pelindung yang kaya akan
zat anti infeksi dan berprotein tinggi, berwarna kuning dan jernih yang
menyerupai darah daripada susu, karena mengandung sel hidup yang menyerupai
sel darah putih yang dapat membunuh penyakit.
Berdasarkan Riskesdas pada tahun 2013 didapatkan bahwa ada
kecenderungan peningkatan pemberian kolostrum pada anak dari tahun 2010 yang
berjumlah 74,7 menjadi 85,3 pada tahun 2013. Beberapa diantaranya yang tidak
memberikan akibat adanya kesalahan pengetahuan yang menyatakan bahwa
kolostrum adalah ASI kotor yang tidak boleh diberikan pada anak dan harus
dibuang (57).

Kolostrum
Tidak Mendapat
Kolostrum, 3.60%

Mendapat Kolostrum
Tidak Mendapat Kolostrum
Mendapat
Kolostrum,
96.40%

Grafik 4.3.6. Kolostrum

Sebagian orang mempunyai kepercayaan sosio-budaya gizi saat menyusui


antara lain praktik membuang kolostrum ASI. Kolostrum tidak diberikan pada
bayi karena dianggap kotor oleh ibu. Seharusnya ibu balita tidak membuang
kolostrum. Bayi yang tidak memperoleh kolostrum akan memiliki kekebalan
tubuh yang kurang jika dibandingkan bayi yang diberi kolostrum. Kekebalan

62
tubuh berfungsi sebagai proteksi bayi terhadap penyakit infeksi. Penyakit infeksi
(58)
berhubungan positif terhadap status gizi balita. Hal ini menunjukkan bahwa
secara tidak langsung pemberian kolostrum pada bayi memiliki dampak terhadap
status gizi balita. Pada hasil penelitian ini sebanyak 54 ibu (96,4%) memberikan
asi pertama yang keluar pada anaknya, sisanya tidak karena berbagai macam
alasan, salah satunya tidak diinisiasi menyusui dini.

4.3.6 MPASI

Pada grafik dibawah ini dari 56 anak, sebanyak 12 anak (21,40%) belum
waktunya untuk diberikan MP-ASI, sebanyak 21 ibu (50%) sudah memberikan
MP-ASI tepat waktu yaitu pada usia 6 bulan, selebihnya ibu tidak memberikan
MP-ASI tepat waktu. Kebanyakan stunting terjadi dalam 1000 hari pertama, dari
konsepsi hingga usia dua tahun, ketika pertumbuhan anak-anak paling sensitif
terhadap kekurangan nutrisi dan tekanan lingkungan. Mulai dari konsepsi hingga
sekitar 6 bulan, anak sepenuhnya bergantung pada nutrisi dari ibu, baik melalui
plasenta selama kehamilan atau melalui ASI selama periode 6 bulan menyusui
eksklusif awal. Namun, proporsi terbesar pengerdilan terjadi selama periode
pemberian makanan pendamping ASI (6-23 bulan), waktu transisi 500 hari dari
pemberian ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama kehidupan, untuk mengonsumsi
berbagai makanan keluarga saat menyusui. Pemberian makanan pendamping yang
adekuat sangat penting untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan
otak yang optimal pada anak-anak. Makanan pelengkap harus kaya nutrisi dan
sering diberi makan untuk mencegah stunting.

Pemberian makanan bergizi untuk balita sangat penting dalam mendukung


pertumbuhan sesuai dengan grafik pertumbuhannya agar tidak terjadi gagal
tumbuh (growth faltering) yang dapat menyebabkan terjadinya stunting. Pada
tahun 2017, 43,2% balita di Indonesia mengalami defisit energi dan 28,5%
mengalami defisit ringan. Untuk kecukupan protein, 31,9% balita mengalami
defisit protein dan 14,5% mengalami defisit ringan. Dari hasil ini maka harus

63
diperhatikan tentang pemberian makanan pada anak karena akan sangat
mempengaruhi pertumbuhannya (59).
4.3.6.1 Usia Mulai Pemberian MPASI

Pemberian Makanan Pendamping ASI atau MP-ASI merupakan hal yang


disarankan oleh kementrian kesehatan RI untuk menurunkan angka stunting di
Indonesia. Pemberian MP-ASI diberikan mulai usia 6 bulan dan terus diberikan
sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. MP-ASI ini tetap diberikan bersamaan
dengan pemberian ASI eksklusif setelah usia 6 bulan (60).
Orang tua harus mulai memberikan MPASI ketika anaknya sudah
memiliki ciri-ciri tahap perkembangan seperti anak sudah dapat menggenggam
benda dan memasukannya ke dalam mulut, sudah mulai belajar duduk tegap
secara mandiri tanpa bantuan, sudah menunjukan respon membuka mulut ketika
sendok didekatkan ke mulut, sudah dapat member sinyal lapar dengan cara
mencoba meraih makanan, sudah dapat memindahkan makanan dari sendok ke
mulut (61).
Terdapat 4 strategi pemberian MPASI yaitu:
1. Tepat Waktu
2. Adekuat
3. Aman dan higienis
4. Diberikan secara responsif
Pada usia 0-6 bulan kebutuhan energi dan nutrisi anak dapat tercukupi
oleh pemberian ASI saja. Namun setelah berusia lebih dari 6 bulan kebutuhan
energi dan nutrisinya sudah bertambah sehingga tidak dapat sepenuhnya terpenuhi
dengan pemberian ASI saja. Oleh karena itu dibutuhkan penambahan pemberian
makanan pendamping yang diberikan bersama dengan ASI ketika anak sudah
berusia lebih dari 6 bulan. (61).

64
Usia Pemberian MPASI
> 6 Bulan, 7.20%

Belum, 21.40% Belum


< 6 Bulan
6 Bulan
6 Bulan, 50% < 6 Bulan,
21.40% > 6 Bulan

Grafik 4.3.7. Usia Pemberian MPASI

Berdasarkan grafik 4.3.7 diketahui bahwa di Desa Karangsari sebanyak 12


orang responden (21,4%) diberikan MPASI mulai usia < 6 bulan, 28 orang
responden (50%) mulai diberikan MPASI pada usia 6 bulan, sedangkan sekitar 4
orang (7,2%) yang mulai diberikan MPASI pada usia > 6 bulan. Selain itu, masih
ada 12 orang (21,4%) yang belum mendapatkan MPASI karena belum mencapai
usia 6 bulan. Menurut penelitian Teshome et al. (2009) menyatakan bahwa
pengenalan MP-ASI terlalu dini (< 4 bulan) berisiko menderita kejadian stunting.
Selain usia pemberian MP-ASI yang tepat, jenis MP-ASI yang diberikan
kepada anak adalah hal penting yang lainnya yang harus diperhatikan oleh orang
tua. Pemberian makanan yang tidak mengandung gizi yang cukup dan baik untuk
anak juga akan meningkatkan risiko terjadinya stunting pada anak.Pemberian
MPASI harus adekuat.Yang dimaksud dengan adekuat adalah MPASI harus
terdiri dari makanan yang memenuhi kebutuhan energi protein dan micronutrient
(61)
yang dibutuhkan anak .Asupan zat gizi pada balita sangat penting dalam
mendukung pertumbuhan sesuai dengan grafik pertumbuhannya agar tidak terjadi
gagal tumbuh (growth faltering) yang dapat menyebabkan stunting. Pada tahun
2017, 43,2% balita di Indonesia mengalami defisit energi dan 28,5% mengalami

65
defisit ringan. Untuk kecukupan protein, 31,9% balita mengalami defisit protein
dan 14,5% mengalami defisit ringan (25).
Pemberian MP-ASI harus memperhatikan tersedianya makanan dengan
kandungan karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral.Sumber karbohidrat
bisa didapatkan dari makanan pokok seperti nasi, ubi, sagu, jagung, kentang dan
lain sebagainya.Protein hewani dan nabati sudah dapat diberikan kepada anak
sejak usia 6 bulan.Pemberian telur, daging dan ikan kepada anak harus dipastikan
dalam keadaan benar-benar matang.Memberian minyak, mentega atau santan juga
dapat dipikirkan untuk menambahkan kalori pada makanan anak.Sayur dan buah
(61;
juga harus diberikan sebagai sumber mineral dan vitamin untuk anak
62)
.Berdasarkan data SKMI 2014 menunjukan bahwa supan anak usia lebih dari 6
bulan di Indonesia cenderung lebih banyak diberikan makanan yang mengandung
karbohidrat yaitu sekitar 95% dari makanan yang diberikan sehingga sangat
sedikit protein, buah dan sayur yang diberikan (25).
Pemberian MP-ASI sebelum waktunya berarti memberikan makanan
sebelum usia 6 bulan sehingga anak tersebut tidak mendapatkan ASI Eksklusif..
Menurut penelitian Teshome et al. (2009) menyatakan bahwa pengenalan MP-ASI
terlalu dini (< 4 bulan) berisiko menderita kejadian stunting.
4.3.6.2 Jenis MPASI yang terlewat

MPASI yang terlewat


MPASI yang terlewat

Buah 0

Lemak 15

Sayuran 4

Lauk 5

Makanan Pokok 3

Grafik 4.3.8. MPASI yang terlewat

66
Di Desa Karangsari diketahui bahwa dari 56 responden didapatkan 3 orang
diantaranya saat masa MPASI tidak diberikan makanan pokok, 5 orang yang tidak
diberikan lauk pauk, 4 orang yang tidak diberikan sayur, dan 15 orang yang tidak
diberikan lemak (26,7%).Hal ini menunjukan bahwa masih terdapat anak-anak
yang mendapat MPASI yang disarankan untuk diberikan.Pemberian MPASI yang
tidak mengandung gizi yang diperlukan oleh anak ini kebanyakan disebabkan
karena ketidaktahuan orang tua tentang jenis makanan yang boleh diberikan pada
anak pada masa penyapihan.
Dalam pemberian MP-ASI terdapat pula makanan-makanan yang harus
dihindari agar tidak diberikan kepada anak.makanan dengan garam, pewarna,
pengawet, pemanis seperti gula dan penyedap rasa tambahan tidak boleh
diberikan kepada anak. Pemberian madu dan jus buah pada anak disarankan
diberikan setelah anak berusia 1 tahun. Pemberian jus buah mengandung gula
dalam jumlah cukup banyak sehingga anak akan cenderung kenyang dan tidak
berselera untuk makan pada saat jam makan tiba. Disarankan pemberian buah
dengan cara dipotong untuk pengganti jus. (61; 62).

4.3.6.3 Menu MPASI Tambahan

Terdapat berbagai pilihan untuk meningkatkan nutrisi wanita hamil dan


menyusui dan anak-anak mereka dalam dua tahun pertama kehidupan. Pilihan-
pilihan ini termasuk diversifikasi diet dan peningkatan asupan makanan kaya
nutrisi, peningkatan makanan pelengkap dan praktik pemberian makan untuk
anak-anak dan suplemen mikronutrien, makanan yang diperkaya dan produk yang
dirancang khusus untuk bayi, anak kecil, wanita hamil dan wanita menyusui,
namun pada praktiknya mayoritas ibu belum mengerti betul apa yang harus
dihidangkan di piring anak dan apa yang tidak boleh diberikan kepada anak saat
usia MP-ASI. Mayoritas ibu yaitu sejumlah 15 orang tidak memberikan tambahan
lemak (sebagai contoh butter, minyak, margarin) pada makanan anak, disusul
sayuran dan buah-buahan yang terlewat tidak diberikan pada anak. Menu yang
tidak seharusnya diberikan kepada anak adalah produk gula yang berlebihan,

67
makanan dengan penyedap rasa dan pengawet, dan ibu yang memberikan
minuman lain selain ASI seperti susu formula, maupun teh. (63)

MPASI Tambahan
MPASI Tambahan

Biskuit 37

Kopi 0

Teh 5

Penyedap Rasa 5

Garam 14

Gula 11

Grafik 4.3.9. Menu MPASI Tambahan

Berdasarkan grafik 4.9 diperoleh bahwa dari 56 responden baduta yang


sudah mendapatkan MPASI di Desa Karangsari, menu MPASI tambahan yang
paling banyak diberikan adalah produk gula. Terdapat 11 responden yang
mendapatkan tambahan produk gula, 14 responden mendapatkan tambahan
garam dan 5 orang responden mendapat tambahan bumbu penyedap rasa pada
menu MPASInya. Selain ini ada terdapat 37 responden yang mendapatkan
tambahan biskuit bayi untuk menu MPASI. Tidak ada responden yang
mendapatkan tambahan kopi menu MPASInya di Desa Karangsari.

4.3.7 Infeksi

Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stunting


pada anak. Semakin sering anak mengalami penyakit infeksi maka semakin
meningkat kemungkinan anak itu mengalami kekurangan gizi. Anak yang sering

68
sakit cenderung tidak bisa makan dengan baik pada saat sakit, sehingga asupan
gizi yang diperlukan bisa tidak terpenuhi. Demikian pula sebaliknya, kondisi
kekurangan gizi pada anak juga menyebabkan anak menjadi mudah terkena
penyakit infeksi terutama infeksi saluran cerna dan saluran nafas. Sehingga baik
infeksi dan kekurangan gizi dapat memberikan efek yang berkepanjangan satu
(64)
sama lain . Penyakit infeksi yang disebabkan oleh higiene dan sanitasi yang
buruk (misalnya diare dan kecacingan) dapat menganggu penyerapan nutrisi pada
proses pencernaan. Beberapa penyakit infeksi yang diderita bayi dapat
menyebabkan berat badan bayi turun. Jika kondisi ini terjadi dalam waktu yang
cukup lama dan tidak disertai dengan pemberian asupan yang cukup untuk proses
penyembuhan maka dapat mengakibatkan stunting (53).

Penyakit yang sering terjadi


INFEKSI

55
50
47

24

3 1
0 0 0 0 0 0

Grafik 4.3.10 Penyakit yang sering terjadi

Hasil penelitian menunjukkan penyakit yang paling sering diderita adalah


panas, dari 56 anak di desa Karangsari sebanyak 55 anak pernah mengalami
demam, sebanyak 50 anak pernah mengalami batuk, sebanyak 47 anak pernah
mengalami pilek, sebanyak 24 orang pernah menderita diare, 3 orang anak pernah
mengderita cacar dan hanya 1 anak yang pernah mengalami demam berdarah.

69
4.3.8 Imunisasi

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan


kekebalan seseirang terhadap suatu penyakit secara aktif sehingga dapat
mencegah terjangkit penyakit tersebut dikemudian hari.Imunisasi merupakan
salah satu langkah usaha untuk menurunkan angka terjadinya penyakit yang
terjadi pada anak.Pemerintah sudah melakukan program pengadaan imunisasi
dasar yang gratis untuk semua anak di Indonesia agar dapat menurunkan angka
kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sesuai dengan jadwal
yang sudah ditentukan berdasarkan aturan yang sudah ditetapkan oleh Ikatan
Dokter Anak Indonesia. Dengan adanya pencegahan terjadinya infeksi pada anak,
makan akan tercegah pula terjadinya kekurangan gizi pada anak (65).

Status Imunisasi
Tidak Lengkap
4%

Lengkap
Tidak Lengkap

Lengkap
96%

Grafik 4.3.11 Status Imunisasi

Berdasarkan grafik 4.3.11 diperoleh bahwa sebanyak 2 anak (4%)


tidak imunisasi lengkap dan sebanyak 54 anak (96%) sudah imunisasi secara
lengkap, sebanyak 2 anak yang tidak diimunisasi lengkap dikarenakan ada
yang terlewat. Salah satu anak yang terlewat imunisasi, termasuk dalam

70
kategori stunting, imunisasi yang terlewat adalah campak di usia 9 bulan.
Anak kedua yang terlewat imunisasinya tidak alam kategori stunting.

4.3.9 Sanitasi

Perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tangga seperti akses pada air
bersih dan fasilitas sanitasi serta kebersihan lingkungan sangat berpengaruh
terhadap kesehatan keluarga yang apabila tidak terpenuhi juga dapat
mengakibatkan stunting pada anak. Dengan melakukan PHBS dapat menurunkan
angka terjadinya penyakt infeksi yang dapat membuat energi untuk pertumbuhan
teralihkan kepada perlawanan tubuh terhadap infeksi yang terjadi pada tubuh
sehingga gizi sulit diserap oleh tubuh dan menyebabkan pertumbuhan yang
terlambat (53).

4.3.9.1 Cuci Tangan

Penyakit infeksi yang dapat terjadi akibat kurangnya higinitas dan sanitasi
yang buruk misalnya adalah diare dan cacingan. Penyakit ini mengganggu
penyerapan nutrisi pada proses pencernaan. Beberapa penyakit infeksi yang
terjadi pada balita akan menyebabkan berat badan bayi menjadi turun. Bila situasi
ini sering terjadi dan bayi tidak diberikan asupan gizi yang cukup maka proses
penyembuhan akan berlangsung lama dan kelamaan akan terjadi stunting (25).
Salah satu cara sederhana yang diajarkan di dalam keluarga untuk
mencegak terjadi penyakit infeksi seperti diare dan cacingan adalah mencuci
tangan dengan sabun.Kebiasaan cuci tangan harus di mulai dari ibu.Ibu harus
memiliki kebiasaan cuci tangan yang tepat seperti mencuci tangan sebelum
makan, sesudah makan, sebelum menyiapkan makan anak dan sesudah buang air
besar.

71
Cuci Tangan Ibu Cuci Tangan Anak
Tidak
Tidak
Tepat,
Tepat
5.40%
21% Belum
diajari
Belum
Tepat diajari Tepat
Tepat, Tidak Tepat Tepat 45%
94.60% 34% Tidak Tepat

Grafik 4.3.12 Cuci Tangan Ibu dan Anak

Berdasarkan grafik 4.3.12 diperoleh data bahwa sebanyak 3 ibu


responden (5,4%) belum melakukan cuci tangan pakai sabun dengan tepat.
Seluruh ibu responden memang cuci tangan pakai sabun namun kebanyakan
ibu hanya mencuci tangannya sebelum dan sesudah makan, atau hanya
sebelum dan sesudah membuat makanan untuk anak atau hanya sesudah
buang air besar. Sebanyak 53 ibu (95,6%) yang mempraktikkan kapan harus
cuci tangan dengan tepat.
Selain itu cuci tangan ibu, ternyata di Desa Karangsari sebanyak 34%
responden anak usia 0-24 bulan (25 anak) belum diajarkan kapan harus cuci
tangan pakai sabun dengan tepat. Kebanyakan anak hanya diajarkan mencuci
tangan sebelum dan sesudah makan, atau hanya sesudah buang air besar atau
hanya sesudah bermain. Hanya 34% responden (19 anak) yang sudah
diajarkan kapan harus mencuci tangan dengan tepat. Sedangkan 21%
responden lainnya (19 orang) belum diajarkan cuci tangan pakai sabun karena
usia yang masih sangat dini.

4.3.9.2 Kebersihan Alat Makan (Cuci alat makan dengan air mengalir dan sabun)

72
Mencuci alat makan dengan sabun dan air mengalir

YA
TIDAK

100%

Grafik 4.3.13 Mencuci alat makan dengan sabun dan air mengalir

Kebersihan alat makan yang digunakan oleh anak-anak yang sudah


memulai MPASI atau pada anak yang menggunakan botol susu untuk tempat
minum juga berpengaruh terhadap kejadian infeksi terutama untuk penyakit
infeksi pada saluran cerna seperti diare dan typhoid. Di Desa Karangsari menurut
hasil kuesioner yang dibagikan kepada orang tua responden semua orangtua telah
membersihkan alat makan yang digunakan oleh anaknya dengan menggunakan
sabun dan air mengalir
4.3.9.3 AlasKaki

Penggunaan Alas Kaki pada


Anak
BELUM
MULAI YA
BERJALAN,
28.50% TIDAK
YA, 59%
BELUM MULAI
TIDAK,
BERJALAN
12.50%

Grafik 4.3.14 Penggunaan Alas Kaki pada Anak

73
Penggunaan alas kaki disarankan untuk mengurangi terjadi cacingan pada
anak. Dari 56 responden terdapat 12,5% anak yang tidak menggunakan alas kaki
untuk berjalan, didapatkan 78,6% dari responden menggunakan alas kaki saat
berjalan di luar rumah dan didapatkan 28.5% belum memakai alas kaki karena
belum dapat berjalan.

4.3.9.4 Ketersediaan MCK

Sanitasi yang layak merupakan salah satu faktor yang penting untuk
mencegah terjadinya infeksi pada setiap anggota keluarga.Rumah tangga yang
memiliki sanitasi layak menurut Susenas adalah apabila fasilitas sanitasi yang
digunakan memenuhi syarat kesehatan, antara lain dilengkapi dengan jenis kloset
leher angsa atau plengsengan dengan tutup dan memiliki tempat pembuangan
akhir tinja tangki (septic tank) atau Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL), dan
merupakan fasilitas buang air besar yang digunakan sendiri atau bersama.
Persentase rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak di Indonesia tahun
2017 adalah 67,89%. (36).

Ketersediaan MCK
TIDAK, 5.40%

YA
TIDAK

YA, 94.60%

Grafik 4.3.15. Ketersediaan MCK

74
Dari 56 responden ibu anak usia 0-24 bulan yang mengisi kuesioner
didapatkan bahwa 53 responden (94,6% ) memiliki akses pada MCK dan sanitasi
yang baik dan memadai. Namun masih terdapat 3 responden (5,4%) yang
menyatakan bahwa keluarganya tidak memiliki sarana MCK yang baik. Ketiga
responden yang belum memiliki MCK tidak termasuk dalam kondisi stunting.

4.3.10 Ante Natal Care (ANC)

Kondisi kesehatan dan gizi ibu pada saat sebelum kehamilan, pada saat
hamil dan setelah persalinan mempengaruhi pertumbuhan janin dan risiko
terjadinya stunting. Pemeriksaan pada masa kehamilan yang dikenal dengan Ante
Natal Care merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk memantau
pertumbuhan anak sejak saat masih ada di dalam kandungan.Bukan hanya
pertumbuhan anak saja, namun pada saat ANC juga akan diperhatikan status gizi
ibu yang juga berpengaruh pada pertumbuhan anak. Masih terbatasnya layanan
kesehatan ANC untuk ibu hamil juga merupakan salah satu yang menjadi risiko
anak yang lahir mengalami stunting.Kunjungan ANC yang tidak sesuai anjuran
yang telah ditetapkan memiliki risiko besar terhadap kejadian stunting (66).

Menurut hasil penelitian yang diperoleh, di Desa Karangsari sebanyak 3


responden (5,4%) melakukan kunjungan ANC <4x sesuai anjuran. Sebanyak 53
responden lainnya (94,6%) sudah melakukan kunjungan ANC >4x

75
Jumlah Kunjungan ANC
<4 kali, 5.40%

Tidak Pernah
<4 kali
≥4 kali, 94.60% ≥4 kali

Grafik 4.3.16 Jumlah Kunjungan ANC

Kondisi pada ibu hamil lainnya yang berpengaruh pada pertumbuhan dan
perkembangan anak adalah kondisi anemia.Anemia yang sering terjadi pada ibu
hamil adalah anemia defisiensi Fe atau defisiensi besi. Menurut Riskesdas 2013
(53)
terdapat 37,1% ibu hamil di Indonesia yang mengalami anemia . Untuk
mencegah anemia maka pemerintah membuat program untuk pemberian tablet Fe
disertai juga dengan pemberian tablet B6 atau asam folat.

Pemberian Tablet Fe, Asam Folat


dan B6
TIDAK, 0%

YA
TIDAK
YA, 100%

Grafik 4.3.17 Pemberian Fe, Asam Folat, B6

76
Menurut data yang diperoleh semua responden yang mengisi kuesioner
sudah mendapatkan tablet besi, asam folat dan B6 pada masa kehamilan
responden.
Stunting juga tidak terlepas dari proses persalinan. Persalinan yang
ditolong oleh tenaga ahli akan mengurangi risiko terjadinya infeksi pada ibu dan
bayi juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Penolong yang ahli
juga dapat mengetahui kondisi-kondisi bahaya pada saat persalinan yang perlu di
rujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dari dokter spesialis yang lebih
berkompeten sehingga mencegah terjadinya asfiksia pada bayi.Asfiksia yang
terjadi pada bayi baru lahir menyebabkan kematian bayi dan bila bayi tersebut
hidup setelah terjadi asfiksia dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan
perkembangan sistem saraf termasuk cerebral palsy, retardasi mental dan
gangguan kemampuan belajar (66; 54).

Selain Tenaga
Penolong Persalinan
Kesehatan, 0%

Tenaga Kesehatan
Selain Tenaga Kesehatan
Tenaga
Kesehatan ,
100%

Grafik 4.3.18 Penolong Persalinan

Seluruh ibu responden yaitu sebanyak 56 orang, pada saat bersalin


menerima pertolongan dari tenaga kesehatan seperti dokter atau bidan. Hal ini
menunjukan bahwa kesadaran untuk melakukan persalinan yang aman dengan
pertolongan tenaga kesehatan seperti dokter dan bidan sudah ada di masyarakat
Desa Karangsari.

77
Masalah kesehatan selama masa kehamilan juga berpengaruh pada tumbuh
dan kembang anak selama dalam masa kandungan.Penyakit yang berhubungan
dengan nutrisi dan gizi sangat berpengaruh pada kesehatan anak di dalam
kandungan.Masalah kesehatan seperti infeksi juga berpengaruh pada kesehatan
bayi dalam kandungan.

Masalah Kehamilan
ADA, 10.80%

TIDAK ADA
ADA
TIDAK ADA,
89.20%

Grafik 4.3.19 Masalah Kehamilan

Terdapat 6 orang ibu yang mengalami masalah selama masa kehamilan.


Penyakit yang diderita selama kehamilan diantaranya adalah Asma, Hipertensi,
Diabetes Melitus, Mumps, Caries Dentis, Plasenta Previa dan Ketuban Pecah
Dini.

Salah satu rekomendasi WHO dan UNICEF dalam mendukung ASI


eksklusif adalah dengan melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) pada satu jam
setelah lahir (34).Pada tahun 2017, secara nasional persentase bayi baru lahir yang
mendapat IMD sebesar 73,06%, artinya mayoritas bayi baru lahir di Indonesia
sudah mendapat inisiasi menyusu dini (53).

Rendahnya angka IMD pada bayi baru lahir memicu terjadinya angka ASI
eksklusif yang rendah dan tidak memadainya pemberian makanan pendamping

78
ASI.Selain itu IMD sangat penting dilakukan karena pada saat setelah persalinan
kolostrum akan keluar dan dengan IMD maka kolostrum akan ikut juga
diberikan. Selain itu IMD juga berfungsi untuk menjalin ikatan psikologis antara
ibu dan anak mulai sejak dini. IMD merangsang pengeluaran ASI pada ibu
sehingga sangat baik untuk dilakukan (25).

Inisiasi Menyusui Dini


TIDAK, 3.60%

YA
TIDAK
YA, 96.40%

Grafik 4.3.20 Inisiasi Menyusui Dini

Di Desa Karangsari didapatkan 96,4% ibu responden melakukan inisiasi


menyusui dini setelah persalinan .sisanya sebanyak 4,6% terdapat ibu responden
yang tidak melakukan inisiasi menyusui dini.
Usia ibu yang terlalu muda saat hamil yaitu dibawah 20 tahun
meningkatkan risiko melahirkan bayi yang memiliki berat lahir rendah atau
BBLR. Bayi yang lahir dengan berat badan kurang mempengaruhi sekitar 20%
terjadinya stunting.Usia hamil bertama kali yang ideal menurut Susenas adalah
pada usia diatas 20 tahun. Di Indonesia sendiri masih terdapat setengah dari
perempuan yang pernah hamil di Indonesia dan mengalami kehamilan pertama
pada usia muda atau remaja(21).

79
> 35 tahun,
Usia Hamil Pertama Kali
1.70% < 20 tahun,
5.40%

< 20 tahun
20-35

20-35, 92.90% > 35 tahun

Grafik 4.3.21 Usia Hamil Pertama Kali

Di Desa Karangsari sendiri terdapat 5,4% perempuan yang pernah


mengalami kehamilan pertama pada usia kurang dari 20 tahun. Sedangkan
92,90% yang lain memiliki riwayat kehamilan pertama pada usia diatas 20 tahun
namun tidak lebih dari 35 tahun, dan sebanyak 1,7% memiliki riwayat kehamilan
pertama pada usia lebih dari 35 tahun. Kehamilan pada usia ibu tua juga berisiko
terhadap kondisi pertumbuhan dan lahirnya bayi.

80
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Dari data setiap kuesioner yang telah diisi oleh 56 orang ibu responden
anak berusia 0-24 bulan di DesaKarangsari didapatkan bahwa ibu yang memiliki
anak yang berusia 0-24 bulan pada bulan Juli 2019 paling banyak berusia sekitar
20-29 tahun (42,5%) dan sekitar 30-39 tahun ( 41%). Usia ini merupakan usia
yang masih dikatakan produktif dan tidak memiliki risiko tinggi dalam masa
kehamilan maupun persalinan. Sebanyak 48,2% ibu responden memiliki riwayat
pendidikan formal SMP dan 30,4% memiliki riwayat pendidikan formal lanjutan
yaitu SMA dan perguruan tinggi sebanyak 30,4% yang dapat disimpulkan
memiliki status pendidikan yang cukup baik. Sebanyak 75% ibu responden tidak
bekerja di luar rumah dan menjadi ibu rumah tangga. Sebanyak 53,5% dari
keluarga responden memiliki penghasilan perbulan dibawah 2.000.000 yang
berarti ini kurang dari UMK Kabupaten Kendal. Penghasilan dibawah UMK ini
bias berpengaruh pada kemampuan satu keluarga untuk bias mencukupi
kebutuhan makanan bergizi untuk seluruh anggota keluarga dan kebutuhan pokok
lainnya terutama untuk masalah kesehatan keluarga.
Pengukuran antropometri yang dilakukan pada saat posyandu di bulan Juli
2019 di 4 posyandu DesaKarangsari memberikan data kecenderungan status gizi
anak yang berusia 0-24 bulan di Desa Karangsari. Dari interpretasi status gizi
anak berdasarkan Z-Score didapatkan bahwa dari 56 orang responden terdapat 37
anak dengan status gizi normal ( 66%), 11 anak yang memiliki kecenderungan
berstatus gizi stunted (19,7%), dan 8 anak yang memiliki kecenderungan berstatus
gizi severely stunted (14,3%). Masih terdapat anak berusia 0-24 bulan yang
memiliki status gizi stunted dan severely stunted di DesaKarangsari. Hal ini
menjadi tugas untuk setiap tenaga kesehatan untuk bersama dengan keluarga anak
dalam mengejar pertumbuhan dan perkembangan anak dengan status gizi yang
masih kurang dan mengurangi factor risiko yang masih ada dan dapat
meningkatkan angka terjadinya stunting di kemudian hari,

81
Dari kuesioner yang telah diisi oleh ibu responden terdapat banyak
pertanyaan yang menggali tentang faktor risiko yang dapat menyebabkan stunting
baik itu antropometri anak saat lahir, tinggi badan ibu, pola asuh, riwayat infeksi
dan imunisasi, kebersihan dan ketersediaan sanitasi yang baik serta riwayat
kehamilan ibu. Dari 56 responden didapatkan sebanyak 96,4% memiliki berat
badan lahir ≥2500 gram dan masih terdapat 3,6% anak yang lahir dengan berat
badan < 2500 gram. Sebanyak 69,6% anak lahir dengan panjang badan lahir ≥ 48
cm dan 30,4% anak lahir dengan panjang badan <48 cm yang berarti mengalami
neonatal stunting. Dari data bayi yang lahir di PONED Puskesmas Rowosari II
sepanjang bulan Juli 2019 tidak didapatkan adanya neonatal stunting. Faktor
risiko tinggi badan ibu yang < 145 cm didapatkan pada 5,4% ibu responden.
Faktor risiko pola asuh yang mempengaruhi terjadinya stunting yang
masih ada di Desa Karangsari adalah belum seluruh ibu memberikan ASI
Eksklusif kepada anaknya. Masih terdapat 10,7% ibu yang tidak memperikan
ASI eksklusif. Sebanyak 96,4% ibu responden sudah memberikan kolostrum dan
3,6% masih belum memberikan kolostrum pada anaknya. Dari keseluruhan
responden terdapat 78,6% responden yang sudah diberikan MPASI dan 50%
diantaranya diberikan MPASI tepat waktu, sedangkan 12% diberikan sesudah 6
bulan dan 7% diberikan sebelum usia 6 bulan. Kebanyakan dalam pemberian
MPASI terdapat ketidaktepatan dalam jenis MPASI yang diberikan kepada anak.
Lemak merupakan salah satu jenis MPASI yang paling sering tidak diberikan
kepada responden yaitu 26,7% dari seluruh responden diikuti dengan lauk berupa
protein hewani dan nabati. Sebaliknya masih banyak jenis makanan atau minuman
yang seharusnya tidak diberikan kepada anak pada masa MPASI yang masih
diberikan kepada anak terutama bahan makanan seperti garam, produk tinggi gula,
penyedap rasa, dan teh.
Riwayat penyakit infeksi yang sering terjadi pada anakusia 0-24 bulan di
Desa Karangsari adalah infeksi saluran nafas dan saluran pencernaan. Infeksi
saluran pernapasan berupa batuk dan pilek, sedangkan infeksi saluran cerna
berupa diare yang berhubungan juga dengan higinitas tangan dan makanan.
Penyakit lain yang terjadi pada anak namun jumlahnya tidak banyak adalah cacar.,

82
dan ada 1 anak yang pernah terkena demam berdarah. Dari keseluruhan responden
96% diantaranya sudah mendapatkan imunisasi lengkap sesuai dengan jadwal
yang ditetapkan, namun masih ada 4% yang tidak lengkap.
Sebanyak 94,6% ibu sudah mencuci tangan dengan tepat sesuai dengan
momen yang dianjurkan sedangkan 5,4% masih belum tepat. Dari 78,5% anak
usia 0-24 bulan yang sudah memasuki usia makan atau pemberian MPASI
sebanyak 34% sudah diajar kan cuci tangan pada momen yang tepat namun masih
terdapat 21% yang belum diajarkan secara tepat. Dari keseluruhan responden
terdapat 71.5% anak yang sudah mulai berdiri, belajar berjalan dan berjalan. Dari
84% ini masih terdapat 12,5% yang memiliki kebiasaan tidak menggunakan alas
kaki saat bermain di luar rumah. Masih terdapat 5,4% keluarga responden yang
tidak memiliki akses MCK mandiri yang memadai. Faktor risiko kebersihan dan
sanitasi ini masih menjadi tugas untuk tenaga kesehatan terutama di Desa
Karangsari agar bias lebih berkurang.
Dalam faktor risiko pada masa kehamilan, terdapat 5,4% ibu responden yang
selama masa kehamilannya melakukan pemeriksaan ANC kurang dari 4 kali
ketenaga kesehatan seperti bidan atau dokter. Selama masa kehamilan terdapat 6
orang ibu yang mengalami masalah kehamilan seperti Asma, Hipertensi, Diabetes
Melitus, Parotitis, Caries Dentis, Plasenta Previa dan Ketuban Pecah Dini.

Masih terdapat 4% ibu yang tidak melakukan inisiasi menyusui dini


setelah proses persalinan. Sebanyak 92,9% ibu berusia sekitar 20-35 tahun pada
saat ibu hamil anak yang pertama dan masih ada 5,4% ibu yang berusia sangat
muda yaitu kurang dari 20 tahun saat hamil pertama kali. Faktor risiko pada masa
kehamilan yang sudah tidak ada pada 56 responden adalah tidak ada ibu
responden yang pada masa kehamilannya tidak mendapatkan suplemen tablet Fe
dan B6 serta seluruh persalinan yang dilakukan ibu responden sudah ditolong oleh
tenaga medis seperti bidan atau dokter.
Masih terdapat banyak faktor risiko yang masih ada di Desa Karangsari
yang masih bias dicegah agar angka anak yang berisiko stunting tidak bertambah
.Faktor risiko tertinggi yang terdapat di Desa Karangsari adalah tingginya angka

83
kejadian infeksi saluran nafas (89,2%) dan saluran cerna (42%), waktu pemberian
MPASI yang belum tepat (28,6%), kurangnya pemberian lemak pada jenis
MPASI (26,7%%), kurang tepatnya cuci tangan ibu dan anak (21%), dan ASI
Eksklusif yang tidak diberikan kepada 10,7% dari responden.
Oleh karena itu terdapat saran yang dapat dilakukan kedepannya oleh
seluruh tenaga kesehatan di Desa Karangsari agar factor risiko yang masih tingggi
ini bias berkurang. Salah satunya adalah dengan melakukan edukasi kepada
masyarakat terutama ibu bahkan edukasi kepada wanita usia subur yang akan
menikah tentang stunting. Pentingnya dilakukan edukasi dan penyuluhan baik
secara kelompok maupun perorangan kepada ibu yang hamil maupun pada masa
menyusui tentang pemberian ASI eksklusif dan pemberian MPASI yang benar.
Perlu ditingkatkan kembali pelaksanaan PHBS rumah tangga terutama untuk cuci
tangan dalam keluarga. Kebiasaan cuci tangan harus dimulai sedini mungkin
ketika anak sudah mulai akan masuk usia MPASI agar terhindar dari terjadinya
penyakit infeksi.
Dalam mini project ini sudah dilakukan intervensi kepada masyarakat
terutama kepada 56 orang ibu responden yang dating dan mengisi kuesioner di
Desa Karangsari tentang stunting cara pencegahannya dengan menhindari faktor-
faktor risiko yang bias menyebabkan stunting. Selain itu juga diberikan MPASI
tambahan untuk anak yang sudah masuk usia untuk MPASI untuk menambah
asupan gizi anak.

84
DAFTAR PUSTAKA
1. Faktor risiko kejadian stunting pada balita usia 24-36 bulan di kecamatan Semarang
Timur. R, Nasikhah. Semarang : JKM, 2012, JKM, hal. 56-64.

2. UNICEF. Improving child nutrition, the achievable imperative for global progress. New
York : New York:United Nations Children's Fund, 2018. conference.

3. Kemenkes. Hasil Utama Riskesdas 2018. Jakarta : Badan Penelitian dan


Pengembangan Kesehatan, 2018.

4. Kemenkes RI. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Jakarta : Pusdatin


Kemenkes RI, 2018. ISSN: 2088-270 X.

5. —. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 39 tahun 2016 tentang


pedoman penyelenggaraan program Indonesia Sehat. Jakarta : Kemenkes RI, 2016.

6. Trihono, dkk. Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya. Jakarta :


Lembaga Penerbit Balitbangkes, 2015.

7. BPPN. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010. Jakarta : KPPN/BPPN, 2007.

8. Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Khoirun, Ni'mah dan
Sri, Rahayu Nadhiroh. Surabaya, Indonesia : Departemen Gizi Kesehatan Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.

9. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak Balita di Wilayah


Pedesaan dan Perkotaan (The Factors Affecting Stunting on Toddlers in Rulal and Urban
Areas. Farah, Okky Aridiyah, Ninna, Rohmawati dan Mury, Ririanty. s.l. : Bagian Gizi
Kesehatan Masyarakat Bagian Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan
MAsyarakat, Universitas Jember.

10. Faktor penyebab anak Stunting usia 25-60 bulan di Kecamatan Sukorejo Kota Blitar.
Sri, Mugianti, et al. s.l. : Poltekkes Kemenkes Malang, 28 desember 2018.

11. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 24-59
Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Kecamatan Padang Timur Kota Padang
Tahun 2018. Eko, Setiawan, Rizanda, Machmud dan Masrul.

12. Buku Saku Desa dalam Penanganan Stunting. Jakarta : s.n., 2017.

13. Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-36 Bulan di Kecamatan
Semarang Timur. Roudhotun, Nashikah dan Ani, Margawati. Semarang : Journal of
Nutrition College, Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,
2012, Vol. 1, Nomor 1, Halaman 176-184.

85
14. Analisis Faktor-Faktor Risiko terhadap Kejadian Stunting pada Balita (0-59 Bulan) di
Negara Berkembang dan Asi Tenggara. Gladys, Apriluana dan Sandra, Fikawati. Depo,
Jawa Barat, Indonesia : Departemen Gizi Fakultas Kesehatan MAsyarakat Universitas
Indonesia, Jl. Lingkar Kampus Raya Universitas Indonesia, 2018.

15. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Jakarta Pusat :
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Agustus 2017. halaman 1-37.

16. Keragaman pangan, pola asuh makan dan kejadian stunting padabalita usia 24-59
bulan. Novita, Nining Widyaningsih, Kusnandar dan Sapja, Anantanyu. s.l. : Jurnal Gizi
Indonesia (The Indonesian Journal of Noutrition), 2018, Vol. 7, No. 1.

17. pusat data dan informasi, kementrian kesahatan RI. situasi balita pendek ( stunting
) di indonesia. jakarta : pusat data dan informasi, kementrian kesahatan RI, 2018. 12.

18. RI, Infodatin Depkes. Situasi Balita Pendek 2016. Infodatin Depkes. [Online] 2016.
[Dikutip: 14 Agustus 2019.]
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/situasi-balita-
pendek-2016.pdf.

19. Journal of Nutrition College Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Usia 12 Bulan
diDesa Purwokerto Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal. Friska, Meilyasari dan
Muflihah, Isnawati. Semarang : Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro, 2014, Vol. 3, Nomor 2, Halaman 16-25.

20. Transmigrasi, Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan. Buku Saku
Desa dalam Penanganan Stunting. Jakarta : Kementerian Desa Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia, 2017. 13.

21. Nasional, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan


Perencanaan dan Pembangunan. Pedoman Pelaksanaan Intervensi Penurunan Stunting
Terintregasi di Kabupaten/Kota. Jakarta : Kementrian PPN/Bappenas, 2018.

22. Kemiskinan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan. 100 Kabupaten/Kota


Prioritas Untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Jakarta : TNP2K, 2017.

23. Desa, Yayasan Dian dan AMPL, Pokja. Modul Pelatihan Desa Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat. [Online] [Dikutip: 18 Agustus 2019.]
file:///D:/INTERNSHIP/MINIPRO/ModulPelatihanDesa%20(1).pdf.

24. Indonesia, Ikatan Dokter Anak. Rekomendasi Praktik Pemberian Makanan Berbasis
bukti pada Bayi dan Batitadi Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi. Jakarta : Unit kerja
Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik, 2015. 7.

86
25. Pusat Data Dan Informasi, Kementrian Kesehatan RI. situasi balita pendek ( stunting
) di indonesia. jakarta : Pusat Data Dan Informasi, Kementrian Kesehatan RI, 2018. 20.

26. KEMISKINAN, TIM NASIONAL PERCEPATAN PENANGGULANGAN. 100


kabupaten/kota prioritas untuk intervensi anak kerdil ( stunting ). jakarta : TIM
NASIONAL PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN, 2017. 9-10.

27. Kementrian desa, pembangunan desa tertinggal dan transmigrasi. BUKU SAKU
DALAM PENANGANAN STUNTING. jakarta : Kementrian desa, pembangunan desa
tertinggal dan transmigrasi, 2017. 12.

28. Indonesia, Ikatan Dokter Anak. Rekomendasi Praktek pemberian Makanan Berbasis
Bukti Pada bayi dan Batita di Indonesia Untuk Mencegah malnutrisi. jakarta : Unit Kerja
Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik, 2015. 9.

29. II, UPTD Puskesmas Rowosari. Profil UPTD Puskesmas Rowosari II Tahun 2019.
Kendal : s.n., 2019.

30. Heryana, Ade. Buku Ajar Metodologi Penelitian pada Kesehatan Masyarakat (e-
book). s.l. : Tidak untuk dipublikasikan, 2019.

31. WHO. Stunting in a nutshell. WHO. [Online] 2019. [Dikutip: 14 Agustus 2019.]
https://www.who.int/nutrition/healthygrowthproj_stunted_videos/en/.

32. Faktor risiko stunting pada anak umur 12-24 bulan. Wellina, Wiwien Fitrie ,
Kartasurya, Martha I. dan Rahfilludin, M. Zen . 1, s.l. : Jurnal Gizi Indonesia, 2016, Vol.
5.

33. Maternal Short Stature And Neonatal Stunting: An Intergenerational Cycle Of


Malnutrition. Sumarmi, Mamik A. Surabaya : International Conference on Health and
Well-Being, 2016.

34. Risiko Pendidikan Ibu Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak 6-23 Bulan. Rahayu A,
dkk. 2, s.l. : Penel Gizi Makanan, 2014, Vol. 37.

35. Kehamilan remaja dan kejadian stunting anak usia 6 – 23 bulan di Lombok Barat.
Irwansyah Irwansyah, Djauhar Ismail , Mohammad Hakimi. 6, Lombok Barat : Berita
Kedokteran Masyarakat (BKM Journal of Community Medicine and Public Health), 2016,
Vol. 32.

36. Hubungan Tingkat Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59
Bulan Di Desa Karangrejek Wonosari Gunung Kidul. Fikrina, Lutfia Tazki dan
Rokhanawati, Dewi. Yogyakarta : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS AISYIYAH
YOGYAKARTA, 2017.

87
37. Riwayat Pola Asuh, Pola Makan, Asupan Zat Gizi Berhubungan Dengan Stunting
Pada Anak 24-59 Bulan di Biboki Utara, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.
Nabuasa, Christin Debora , Juffrie, M. dan Huriyati, Emy . [penyunt.] 151-163. No. 3,
Nusa Tenggara Timur : JURNAL GIZI DAN DIETETIK INDONESIA, September 2013, Vol.
Vol. 1.

38. Pengan, Johan , Kawengian, Shirley dan Rombot, Dina V. Hubungan Antara Riwayat
Pemberian ASI Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 12-36 Bulan Di
Wilayah Kerja Puskesmas Luwuk Kecamatan Luwuk Selatan Kabupaten Banggai Sulawesi
Tengah. Manado : Fakultas Keshetana Masyrakat Sam Ratulangi.

39. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. RI, Pusdatin Kemenkes. Jakarta : s.n.,
2018.

40. Hubungan Pengetahuan Ibu Dan Status Imunisasi Dengan Status Gizi Balita 2-3
Tahun (Studi di Puskesmas Klego 1 Boyolali). Susiloningrum, Wuri Rekawati. Surakarta :
PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA, 2017.

41. Oktaviana, Herni. Hubungan Pengetahuan Gizi dan Perilaku Higiene Sanitasi
Terhadap Kejadian Stunted Pada Balita Usia 7-24 Bulan di Desa Hargorejo Kulon Progo.
Surakarta : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah , 2016.

42. RI, Kemenkes. Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh dan
Sanitasi. Kemenkes. [Online] 7 April 2018. [Dikutip: 15 Agustus 2019.]
http://www.depkes.go.id/article/view/18040700002/cegah-stunting-dengan-perbaikan-
pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi-2-.html.

43. AMINI, AULIA. Hubungan Kunjungan Antenatal Care (ANC) dengan Kejadian Stunting
Pada Balita Usia 12-59 Bulan di Kabupaten Lombok Utara Provinsi NTB Tahun 2016. s.l. :
PROGRAM STUDI MAGISTER KEBIDANAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS
‘AISYIYAH, 2016.

44. Sudisa, Amni. Hubungan Ibu Hamil Anemia Dengan Stunting Pada Bayi Baru Lahir Di
RSUD Wonosari Gunungkidul Tahun 2016. yOGYAKARTA : PROGRAM STUDI BIDAN
PENDIDIK JENJANG DIPLOMA IV FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS AISYIYAH,
2017.

45. Rahayu, Suci. UMK 2019 Kabupaten Kendal, Perubahan Terbaru UMK Kendal. Tribun
Jateng. [Online] Tribun, 22 November 2018. [Dikutip: 26 Agustus 2019.]
https://jateng.tribunnews.com/2018/11/22/umk-2019-kabupaten-kendal-perubahan-
terbaru-umk-kabupaten-kendal.

88
46. Waspadai Ledakan Penduduk. BkkbN. Jakarta : Direktorat Advokasi dan KIE, 2018,
Jurnal Keluarga.

47. Organization, World Health. Child Growth Standarts. World Health Organization.
[Online] World Health Organization, 2019. [Dikutip: 27 Agustus 2019.]
https://www.who.int/childgrowth/standards/chart_catalogue/en/.

48. RI, Infodatin Depkes. Situasi Balita Pendek 2016. Infodatin Depkes. [Online] 2016.
[Dikutip: 14 Agustus 2019.]
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/situasi-balita-
pendek-2016.pdf..

49. Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Usia 12 Bulan Di Desa Purwekerto
Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal. Meilyasari, Friska dan Isnawati, Muflihah. 2,
Semarang : Journal of Nutrition College, 2014, Vol. 3, hal. 16-25.

50. Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita. Ni’mah, Khoirun
dan Nadhiroh, Siti Rahayu. 1, Surabaya : Media Gizi Indonesia, 2015, Media Gizi
Indonesia, Vol. 10, hal. 13-19.

51. Hubungan BBLR dan ASI Eksklusif Dengan Kejadian Stunting di Puskesmas Lima
PUluh Pekan Baru. Fitri, Lidia. Pekanbaru : Kopertis, 2018.

52. Hubungan tinggi badan ibu dengan kejadian stunting pada balita usia 24 -59 bulan.
Fitriahadi, Enny. 1, 2018, Jurnal Keperawatan dan Kebidanan Aisyiyah, Vol. 14, hal. 15-
24.

53. Situasi Balita Pendek. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI, 2016.

54. Long-term consequences of stunting in early life. Dewey, Kathryn G dan Begum,
Khadija. California : Blackwell Publishing, 2011, Maternal and Child Nutrition, Vol. 7.

55. Influence of Parental and Socioeconomics Factors onStunting in Childern Under 5


Years in Egypt. Zotarelli LK, Sunil TS, Rajaram D. s.l. : Eastern Mediterranean Health
Journal, 2014.

56. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 2-3
tahun di Desa Karangrejek Wonosari Gunungkidul. Sri Indrawati, Warsiti. 2016.

57. Situasi dan Analisis ASI Eksklusif. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan
RI. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI, 2013.

58. Masithah, T., Soekirman, dan D, Martianto. Hubungan Pola Asuh Makan dan
Kesehatan dengan Status Gizi Anak Balita di Desa Mulya Harja. s.l. : Media Gizi Keluarga,
2005. 29(2), 29-39.

89
59. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Pusdatin Kemenkes RI. Jakarta : s.n.,
2018.

60. Situasi Balita Pendek. RI, Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan. Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI, 2016.

61. IDAI. Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Ikatan Dokter Anak
Indonesia. [Online] 10 Oktober 2018. [Dikutip: 1 September 2019.]
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-makanan-pendamping-air-susu-ibu-
mpasi.

62. Kementerian Kesehatan RI. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta : Kementerian
Kesehatan RI, 2016.

63. Victor Aguayo, Purnima Menon. Stop stunting: Improving Child Feeding, Women
nutrition and Houshold Sanitation in South Asia. [Online] [Dikutip: 3 September 2019.]
www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5084809/pdf/MVN-12-3.pdf.

64. Factors associated with stunting in healthy children aged 5 years and less living in
Bangui. Vonaesch, Pascale, et al. France : Institut de recherche pourle developpement,
2017.

65. Buku Ajar Imunisasi. Kementerian Kesehatan RI. Jakarta : Kementerian Kesehatan
RI, 2015.

66. Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggaal dan Transmigrasi. Buku Saku
Desa dalam Penanganan Stunting. Jakarta : Kementerian Desa, Pembangunan Desa
Tertinggaal dan Transmigrasi, 2017.

90

Anda mungkin juga menyukai