Anda di halaman 1dari 5

RESUME FILSAFAT ILMU KEDOKTERAN

“FILSAFAT KEDOKTERAN DAN APLIKASINYA DALAM SPESIALISASI”


PROF. DR. dr. AGUS PURWADIANTO, DFM, SH, M.Si., Sp.F(K)
SELASA, 13 AGUSTUS 2019

 Perlu diketahui bahwa Ilmu Filsafat Kedokteran memiliki aplikasi dan hubungan yang baik
dengan keilmuan di bidang spesialisasi kedokteran.
 Adapun tujuan yang menjadi cita – cita dari dibentuknya RUU Pendidikan Kedokteran yang
kemudian menjadi SISDOKNAS  Dokter dan dokter gigi merupakan tenaga kesehatan super
strategis, yang artinya:
- Dalam hal struktur  secara teknis mampu menguasai lahan biomedik yang terdapat di
institusi pendidikan seperti di Fakultas Kedokteran yang disertai dengan fasilitas
laboratorium sebagai penunjang sarana dan prasarana institusi pendidikan kesehatan di
bidang kedokteran, Rumah Sakit, Puskesmas, Kolegium dan kesemua ini merupakan entitas
yang terpilah tetapi tidak terpisah.
- Merupakan profesi mulia, artinya memiliki nilai kemanusiaan dan peradaban masa depan.
- Dalam proses pendidikan sebagai penentu kemampuan:
o Seorang dokter mampu menjadi penolong pasien dan masyarakat  ada sifat
pengabdian.
o Seorang dokter yang mampu menjadi pimpinan aparatur negara  sebagai pemersatu
NKRI, contoh: sebagai Presiden Republik Indonesia (RI – 1)
o Seorang dokter mampu menjadi seorang investor iptekkes (ilmu pengetahuan teknologi
kesehatan) dimana inovasi dalam iptekkes ini menjadi produk unggulan global dan
lokal, contoh: saat ini seluruh civitas akademisi yang berada dalam lingkungan FKUI
didorong untuk lebih gencar menghasilkan publikasi ilmiah yang diterbitkan secara
nasional dan internasional.
o Seorang dokter mampu menjadi pendidik masyarakat dan masyarakat profesi kesehatan,
contoh: seorang dokter memiliki keilmuan tentang kesehatan dan teknologi terkini
mampu mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sosial masyarakat, tidak hanya
untuk kepentingan klinisi saja.
o Seorang dokter mampu menjadi peneliti yang berbasis pelayanan (harus bisa
translasional)
o Seorang dokter mampu menjadi supespesialis dan supergeneralis, contoh seorang dokter
SpOG di kota Kulonprogo mampu menjadi Kepala BKKBN Kota Kulonprogo.
- Secara sosiologis, cita – cita hukum RUU Pendidikan Dokter harus memiliki:
o Kemampuan menjadi model atau pionir dalam pendidikan akademik dan profesional
o Dana pendidikan kedokteran  negara hadir sebagai penyandang dana utama untuk
kelancaran proses pendidikan kedokteran.
o Membuat masyarakat sehat dan puas sehingga tenaga kesehatan tidak mudah digugat.
o Memiliki mutu yang mumpuni aritnya mampu mengejar ketertinggalan
o Memiliki adaptabilitas global yang baik.

 Empat pilar utama yang menjadi kewajiban Fakultas Kedokteran dalam pengembangan SDM
tenaga pengajar (dosen) sampai dengan strata tertinggi sesuai dengan UU No.20/2013 tentang
Pendidikan Kedokteran dan Disiplin Pendidikan Dokter:

1. BIOMEDIK
Hanya keilmuan eksak kedokteran saja, merupakan struktur utama ilmu kedokteran,
seringkali menganggap tubuh manusia sebagai objek tubuh. Berbeda dengan bioetika –
humaniora yang memiliki paradigma manusia terdiri dari tubuh dan jiwa lalu diselubungi
ilmu pengetahuan, budaya dan etika.
Merupakan bagian pokok dalam Ilmu Kedokteran karena menjadi fondasi ilmu kedokteran
klinik, kedokteran komunitas/kesehatan masyarakat, dan bioetika/humaniora kedokteran.
Menjadi tolok ukur keilmuan dalam penyelenggaran pendidikan kedokteran.

2. KEDOKTERAN KLINIK  terdapat poin – poin berupa diagnosis, terapi dan prognosis,
tetapi pendidikan prognosis sering dilupakan oleh para klinisi saat sedang mengajar peserta
didiknya.
Gunanya prognosis  untuk kepentingan pasien, “dahsyatnya” adalah pasien dimanusiakan
saat diperiksa di fasilitas kesehatan yang akhirnya memunculkan nilai kepercayaan
masyarakat/public trust.
Gunanya diagnosis  untuk kepentingan dokter

Kedokteran klinik  menurut William Osler, merupakan ilmu pengetahuan tentang


ketidakpastian dan seni tentang kemungkinan.
 Dalam kedokteran klinik, dokter berupaya mengurangi ketidakpastian medik untuk
mencapai kebutuhan pasien dimulai dari anamnesa  mencari tahu keluhan utama dan
riwayat penyakit saat ini beserta riwayat penyakit masa lalu, riwayat penyakit keluarga
dan riwayat penyakit masyarakat, hal ini merupakan penentu kualitas hidup pasien
selanjutnya dan disebut fitur kontekstual dan mengumpulkan data; setelah anamnesa,
dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium (sebagai iptek kedokteran),
selanjutnya menghasilkan diagnosis kerja dan diagnosis banding serta bisa melihat
prognosis yang ada (dari diagnosis kerja  diagnosis banding + prognosis merupakan
bagian dari ilmu pengetahuan tentang ketidakpastian dan seni tentang kemungkinan),
dan terakhir dilakukan pemenuhan kebutuhan pasien dengan memberikan terapi dan
rehabilitasi beserta prognosis dan paliatif yang tepat.
 Perlu diingat bahwa kita perlu mengesampingkan yang diinginkan pasien dan utamakan
kepentingan terbaik yang menjadi kebutuhan bagi pasien karena kualitas hidup adalah
kepentingan terbaik bagi pasien. Dan pendapat klinis adalah proses membuat keputusan
baik yang konsisten di tengah ketidakpastian terhadap pasien/klien.

3. KEDOKTERAN KOMUNITAS / KESEHATAN MASYARAKAT


 merupakan asal muasal komunikasi kesehatan antara dokter dan masyarakat.

4. BIOETIKA/HUMANIORA KEDOKTERAN (PENDIDIKAN KEDOKTERAN)


 sebagai penentu utama dalam kategori Prognosis  pasien merasa dimanusiakan saat
sedang diperiksa dan masuk ke fasilitas kesehatan.
 Paradigma manusia dianggap sebagai tubuh yang memiliki jiwa dan mempunyai
pendapat etis dalam mendukung keputusan klinik.

 Filsafat  diingat lagi sebagai pokok untuk mencari kebenaran (atheletia, kalliston theorian)
bukan mencari ketenaran (doxa).
o Logika dan penalaran disertai dengan perenungan yang koheren.
o Ada 3 hal, yaitu: dunia sekitar, dunia dalam diri dan perbuatan berpikir.
 Ilmu filsafat dapat membawa ilmu kedokteran memiliki hubungan yang baik dengan
humaniora.

APLIKASI EPISTEMOLOGIK  Struktur Ilmu Kedokteran


Ilmu Biomedik sebagai pokok utama Ilmu Kedokteran Klinik; dan dalam Ilmu Kedokteran Klinik
menghasilkan pendapat medik dan pendapat etis yang menjadi keputusan klinik dipengaruhi oleh
bioetika-humaniora (yang memiliki pengaruh yang kuat menghasilkan pendapat etis), biostatistik
klinik dan kedokteran komunitas.

Diagram pembagian bidang Filsafat berdasarkan modifikasi Susan Langer:


1. Kelompok Ontologi dan Metafisika.
a. Ontologi  “ada” (being), apa yang nyata, eksistensi.
Sifat : khusus, yaitu “ada” yang tak disangsikan lagi.
b. Metafisika (luar fisika)  merupakan realita dibalik fisika atau tidak inderawi;
yakni objek yang melampaui fisik.
Sifat: abstraksi – transenden.
2. Kelompok Epistemologi, Filsafat Ilmu, Metodologi, dan Logika.
a. Epistemologi  merupakan asal muasal/sumber, struktur, keabsahan dan ruang
lingkup/batas pengetahuan; ciri dan cara metodologi mencari kebenaran.
[Arti kata Epistemologi adalah teori ilmu pengetahuan terutama berdasarkan
metode, validitas dan area tertentu.] Epistemology merupakan investigasi untuk
membedakan antara keyakinan justifikasi dan opini. Ada 3 kondisi utama
epistemology: kebenaran, keyakinan dan justifikasi.
b. Filsafat Ilmu  salah satu jenis keilmuan dan paradigma; sebuah perspektif dan
pendekatan; memiliki hubungan atau kaitan keilmuan dengan Metodologi
c. Logika  merupakan teknik dan kaidah penalaran tepat; ungkapan putusan;
proposisi (berupa afirmasi yang berlawanan dengan konteks negasi); secara
premis adalah inferensi. Ciri – cirinya dalam pola yang terstruktur seperti subyek
– predikat – kopula dan induktif – deduktif.
3. Kelompok Etika dan Estetika.
a. Etika  aksiologi deskriptif dan preskriptif untuk hidup baik, berupa disiplin
ilmu dan justifikasi.
Adanya justifikasi memicu bioetika sehingga menjadikan hidup yang lebih baik
(teori bahagia).
b. Estetika  aksiologi untuk keindahan; merupakan bagian dari filsafat manusia.

Petinggi yang duduk di MKDKI jika membuat keputusan berdasarkan justifikasi maka sudah pasti
menjadi represif bagi orang – orang yang menjalani keputusan di bawahnya.

Rumpun penelitian kesehatan  translasi jalur logika linear dalam ilmu pengetahuan alam:
Biomedik dan teknologi dasar  klinik terapan dan epidemiologi  kesehatan masyarakat
interventif  humaniora dan pemberdayaan masyarakat

- Biomedik dan teknologi dasar merupakan basic sciences contoh “benda” seperti agen
penyakit, dna, molekul obat, unsur material alat
- Klinik terapan dan epidemiologi  bersifat individual, contoh: mengobati manusia yang
sakit
- Kesehatan Masyarakat Interventif  menilai manusia yang sehat tetapi beresiko
Perlu diketahui FKM di Indonesia dulunya diisi oleh orang – orang yang kurang memahami
dengan baik tatanan promotor kesehatan masyarakat sehingga Public Health Medicine
dijadikan translational research project dengan dimasukkan ilmu bioetika dalam kuliah –
kuliah FKM. Lalu target selanjutnya menerapkan status pragmatic dengan meningkatkan
unggulan teknologi kesehatan untuk menunjang kinerja dokter Indonesia dan menjamin
prognosis yang baik, benar dan tepat guna bagi masyarakat.
- Translasi jalur logika linear:
o Menunjukkan bahwa ilmu public health masih banyak kekurangan
o Promotif lebih mulia karena promotr tidak punya interest, preventif biasanya masih
punya interest (bisnis)
o Dokter hanya memahami biomedik dan teknologi dasar + klinik terapan dan
epidemiologi
Paradigma  sesuatu hal yang bisa dimengerti dan dirasakan melalui indra sensitivitas,
tetapi tidak bisa dijelaskan secara ilmiah konkrit.
Medical goals  sudah fragmented dan dipersatukan oleh peraturan patient’s safety

ETIKA KEDOKTERAN SPESIALIS


===========================
Terdapat 3 model etika, yaitu:
 Sebagai pemimpin profesi
Berintegritas dan memiliki attitude terbaik:
 Role model – via etika keutamaan – yang peduli dan memiliki afirmasi pasien atau
calon pasien (dalam kaitan dengan humaniora kesehatan)
 Kognitif dan skill tercanggih  dalam kaitan dengan bioetika memiliki prinsip kisaran
tengah.
 Perilaku profesional managerial global:
o Etika kesejawatan dan sosial untuk para sejawat yang menjadi pemangku
kepentingan (gotong royong, jiwa korsa  keluhuran)

Kesimpulan:
Penyeimbangan ilmu filsafat dalam aplikasinya di sosialisasi paradigma infomedik dan biokultural
 menjadi jembatan penghubung antara satu spesialisasi dengan spesialisasi lainnya untuk
meningkatkan performa layanan kesehatan di masyarakat; berusaha membantu sejawat spesialisasi
yang profesinya akan mengalami rudimenter atau yang profesinya semakin terkenal di kalangan
masyarakat agar tidak terjadi benturan kepentingan.