Anda di halaman 1dari 6

Nama : Riyan Restu Rinaldi

NIM : SNR 19214050


MK : KDK I
Prodi`: Ilmu Keperawatan (SI
Non Reg B Khusus
Aplikasi Teori Model Keperawatan Jean Watson dengan Kasus Diare
Health is not everything but, without health everything is nothing, menjadi sebuah penyempurna
jika sehat merupakan starting point untuk pembangunan. Menurut, WHO, sehat bukan hanya
keadaan yang bebas dari penyakit melainkan juga keadaan yang sempurna baik fisik, mental
maupun sosial (Sudomo, 2014).
Diare berarti peningkatan frekuensi buang air besar atau penurunan kepadatan dalam bentuk
tinja. Meskipun perubahan pada frekuensi buang air besar dan kelonggaran kepadatan dari
kotoran dapat bervariasi secara independen satu sama lain, perubahan sering terjadi pada
keduanya.
Akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut:
1. Kehilangan air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input),
merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.
2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabikasidosis)
Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak tidak
sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat
karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena
tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion
Na dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan intra seluler.
3. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada anak yang
sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi Karen aadanya gangguan
penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbs glukosa.Gejala
hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan
50% pada anak-anak.
4. Gangguan gizi
Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:
a. Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang
bertambah hebat.
b. Walaupun susu diteruskan, seringdiberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini
diberikan terlalu lama.
c. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena
adanya hiperperistaltik.
5. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi jaringan
berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan
otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klienakan meninggal.

Masalah klien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya gangguan sirkulasi darah,
kebutuhan nutrisi, resiko komplikasi, gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan
orang tua mengenai proses penyakit.
Mengingat diare sebagian besar menular, maka perlu dilakukan penataan lingkungan sehingga
tidak terjadi penularan pada klien lain.
1. Pengkajian
A. Data Umum
• Identitas Pasien
Nama : An. A
Umur : 4 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam

• Identitas Kepala Keluarga


Nama KK : Tn. A
Umur : 32 Tahun
Jenis Kelamin : Laki - laki
Agama : Islam

B. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Diare ±3 hari, frekuensi >5 kali, konsistensi cair berlendir.
2) Riwayat Masuk Puskesmas
An. A pernah dibawa berobat ke puskesmas.
3) Riwayat Kesehatan Dahulu
Sejak lahir anak hanya pernah mengalami batuk pilek dan mencret yang sekarang ini.
4) Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit keturunan seperti
pneumonia, hipertensi, kencing manis, asma, diare kronik.

C. Pengkajian Kebutuhan (Bio – Psiko-Sosial dan Inter-Intrapersonal)


1) KebutuhanBiofisikal (KebutuhanuntukHidup)
• Kebutuhan Makan Minum:
Sebelum sakit : Klien makan dan minum lebih sering dari pada saat sakit
biasanya dapat menyusui 5-6 kali dalam sehari.
Saat sakit: Klien tidak bias makan dan minum, jika menyusui klien langsung
muntah.
• Eliminasi
Sebelum sakit : Klien BAB 2-3 kali dalam sehari dengan konsisten silembek,
BAK >4 kali dalam sehari (tergantung pada kebiasaan makan dan minum).
Saat sakit : Klien BAB ±7 kali dalam sehari, konsistensi cair dan BAK melebihi
dari kebiasaannya.
• Oksigenasi/Ventilasi
Sebelum sakit : RR32 x/m. Denyut nadi 120 x/m. Tidak ada kelainan, tidak ada
bunyi nafas tambahan.
Saat sakit: RR 35 x/m. Denyut nadi 128 x/m. Suhu 37,80C.
2) Kebutuhan Psikofisikal (Kebutuhan Fungsional)
• Istirahat Tidur
Sebelum sakit : Klien bias beraktivitas sebagaimana biasanya anak sebayanya,
klien dapat istirahat cukup tidur pada malam hari kadang bangun 1 kali dan pada
siang hari klien bias tidur pagi dan siang kurang lebih 4 jam.
Saat sakit :Klien kurang dalam beraktivitas dan istirahat tidur pada malam
hari kadang-kadang dapat tidur hanya 1 jam karena klien meriang kadang demam
disertai muntah biasanya waktu menyusui.
• Kebutuhan Seksualitas
Klien berjenis kelamin laki-laki sejak lahir.
3) Kebutuhan Psikososial (Kebutuhan Integrasi)
• Kebutuhan berprestasi
Klien belum ada prestai namun kedua orangtuanya sebagai petani dan
kemungkinan akan menekuni dibidang pertanian.
• Kebutuhan berorganisasi
Klien memiliki organisasisendiri dalam keluarga klien sebagai anggota keluarga
dan berperan sebagai anak.
4) KebutuhanIntra-Interpersonal (Kebutuhan Pengembangan)
• Kebutuhan aktualisasi diri
Kebutuhan klien terpenuhi dari hasil pertanian kedua orangtuanya, klien
mempunyai warisan pembagian sawah dari orang tuanya.

2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon terhadap masalah kesehatan (actual /potensial) yang
dapat diantisipasi perawat dengan menggambarkan masalah, respon, kondisi dan
mengidentifikasi factor etiologi.
Berdasarkan analisa data yang dilakukan dapat dirumuskan diagnosa keperawatan yang
muncul pada An. A yang mengalami diare yaitu :
a. Defisit volume cairan An. A tentang penyakit yang sedang diderita berhubungan dengan
output cairan yang berlebihan yang ditandai dengan frekuensi BAB > 7x dan konsistensi
cair berlendir, mata cekung, ubun-ubun cekung.
b. Hipertermi berhubungan dengan peradangan oleh agen infeksi yang ditandai dengan
peningkatan suhu tubuh diatas batas normal yaitu 37,80 C.
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi perineal, turgor kulit yang jelek.
d. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen, iritasi perineal.

Setelah diagnosa keperawatan dirumuskan, dibuatlah kriteria skala prioritas masalah


keperawatan dengan mengelompokkan kriteria masalah yang terdiri dari sifat masalah,
kemungkinan masalah dapat diubah, potensial masalah untuk dicegah, menonjolnya masalah
yang muncul.
Konsep perumusan diagnose keperawatan yang diutarakan Jean Watson sesuai dengan
kondisi atau masalah kesehatan An. A saat ini. Untuk mencapai kesejahteraan An. A perawat
harus berperan dalam meningkatkan status kesehatan, mencegah terjadinya penyakit,
mengobati berbagai penyakit, dan penyembuhan kesehatan.
3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Perencanaan
1 Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari Devisi tcairan dan elektrolit teratasi 1. Observasi tanda-tanda vital.
kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan 2. Observasi tanda-tanda dehidrasi.
yang berlebihan. Dengan Kriteria Hasil : 3. Ukur input dan output cairan (balance
cairan).
1. Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, 4. Berikan dan anjurkan keluarga untuk
2. Mukosa mulut dan bibir lembab, memberikan minum yang banyak
3. Balance cairan seimbang Kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari.
5. Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian therafi cairan,
pemeriksaan lab elektrolit.
6. Kolaborasi dengan tim gizi dalam
pemberian cairan rendah sodium

2 Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi 1. Kaji pola nutrisi klien dan perubahan
tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah. teratasi yang terjadi.
2. Timbang berat badan klien.
Kriteria Hasil : 3. Kaji factor penyebab gangguan
pemenuhan nutrisi.
1. Intake nutrisi klien meningkat, 4. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen
2. diet habis 1 porsi yang disediakan, (palpasi,perkusi,dan auskultasi).
3. mual,muntah tidak ada. 5. Berikan diet dalam kondisi hangat dan
porsi kecil tapi sering.
6. Kolaborasi dengan tim gizi dalam
penentuan diet klien.

3 Gangguan integritas kulit berhubungan dengan Gangguan integritas kulit teratasi 1. Ganti popok anak jika basah.
iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan. 2. Bersihkan bokong perlahan sabun non
Kriteria Hasil : alcohol.
3. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi
1. Integritas kulit kembali normal, iritasi pada kulit.
2. Iritasi tidak ada, 4. Observasi bokong dan perineum dari
3. tanda-tanda infeksi tidak ada infeksi.
5. Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian therafi antipungi sesuai
indikasi.

4 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan Nyeri dapat teratasi 1. Observasi tanda-tanda vital.
distensi abdomen. 2. Kaji tingkat rasa nyeri.
Kriteria Hasil : 3. Atur posisi yang nyaman bagi klien.
4. Beri kompres hangat pada daerah
1. Nyeri dapat berkurang / hilang, abdoment.
2. Ekspresi wajah tenang 5. Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian therafi analgetik sesuai
indikasi.
4. Implementasi Keperawatan
Pada tahap implementasi ini, perawat memberikan dan mendemontrasikan proses
keperawatan individu dan keluarga dalam memelihara kesehatan. Pada tahap ini juga
rencana yang telah disusun dilaksanakan dengan melibatkan individu, keluarga, dalam
mengatasi masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi serta memanfaatkan
potensi dan sumber daya yang ada.Seperti yang kita ketahui bahwa factor pendukung
dalam proses kesembuhan pasien adalah terpenuhinya kebutuhan dasar pada anak dan
keluarga atau dukungan keluarga dalam mempertahankan kesehatan pasien.
Ada pun tindakan yang sudah dilakukan dalam memberikan asuhan keperawatn pada An.
A dan keluarga antara lain :
a. Mengobservasi tanda-tanda vital. – Mengobservasi tanda-tanda dehidrasi. Mengukur
input dan output cairan (balance cairan). Memberikan dan anjurkan keluarga untuk
memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari.
b. Mengkaji tanda kerusakan integritas kulit. – Membersihkan bokong perlahan sabun
non alkohol. – Memberikan Zinc 1x 24 jam. – Mengobservasi bokong dan perineum
dari infeksi. -Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi.
c. Mengkaji tingkat pendidikan keluarga klien. – Mengkaji tingkat pengetahuan
keluarga tentang proses penyakit klien. - Menjelaskan tentang proses penyakit klien
dengan melalui penkes. - Memberikan kesempatan pada keluarga bila ada yang
belum dimengertinya. – Melibatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
5. Evaluasi
Tujuan akhir pelaksanaan asuhan keperawatan ini adalah kebutuhan keluarga
yang terkait dengan lima tugas kesehatan, yaitu:
a. Mengenal masalah kesehatan
b. Mengambil keputusan tindakan kesehatan
c. Merawat anggota keluarga
d. Menciptakan lingkungan yang dapat mendukung upaya peningkatan kesehatan
keluarga serta
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia

Berdasarkan hasil evaluasi asuhan keperawatan pada An. A dengan diare menggunakan
konsep Jean Watson yaitu menunjukkan perbaikan keadadaan yang lebih baik, kemampuan
dalam menjalankan proses keperawatan mandiri yang telah diselenggarakan di pusat
pelayanan kesehatan, mampu menerapkan dan mempraktikan proses keperawatan pada kasus
diare.
Proses evaluasi yang dipaparkan oleh Watson cukup konkrit dengan kasus diare, yaitu
bagaimana pasien/keluarga mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan, merawat
keluarga yang sedang sakit dan bagaimana keluarga memodifikasi kebutuhan lingkungan
sosial mendasar yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan pasien.