Anda di halaman 1dari 84

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Kata peradaban adalah terjemahan dari kata Arab al-Hadharah. Juga diterjemahkan
kedalam bahasa Indonesia dengan kebudayaan. Padahal istilah peradaban dipakai untuk
bagian dan unsur dari kebudayaan. Peradaban sering juga dipakai untuk menyebut suatu
kebudayaan mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan
dan ilmu pengetahuan yang maju dan kompleks.1
Apa itu islam ? Islam adalah agama Allah yang diperintahkan-Nya kepada Nabi
Muhammad SAW, agar pokok-pokok dan peraturan-peraturannya diajarkan. Beliau juga
ditugaskan oleh Allah SWT. agar menyampaikan agama tersebut kepada umat manusia
dan mengajak mereka untuk memeluknya.2
Islam merupakan agama yang membawa bangsa Arab menjadi bangsa yang maju dan
berperadban. Bahkan kemajuan peradaban bangsa Barat mulanya bersumber dari
peradaban Islam yang masuk ke Eropa melalui Spanyol.3
Menurut Nourouzzaman Shiddiqy sejarah peradaban islam dibagi menjadi tiga periode
yaitu periode klasik, periode pertengahan, dan periode modern.
Saat ini perpecahan antara umat islam sudah mulai terlihat, maka dari itu ada baiknya
kita mempelajari sejarah-sejarah yang sudah terjadi dan mengambil pelajaran berharga
dari para pendahulu kita. Oleh sebab itu kelompok kami akan membahas mengenai
peradaban islam pada periode pertengahan yang diwarnai dengan runtuh dan
berkembannya daulah-daulah besar dalam sejarah islam.

1.2. Rumusan Masalah


 Jelaskan apa itu peradaban, sejarah dan islam?
 Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi peradaban islam?
 Jelaskan sejarah peradaban islam pada masa Khulafaur Rasyidin ?
 Jelaskan sejarah peradaban islam pada masa Bani Ummayah ?

1
Ibid., h.10
2
Prof. Dr. Mahmud Syaltut, IslamAqidah dan Syariah Jilid 1,. h.1
3
Badri Yatim, sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1993), h.2
 Jelaskan sejarah peradaban islam pada masa Daulah Abbasyiah?
 Jelaskan sejarah peradaban islam pada masa Daulah Fatimiyah ?
 Jelaskan sejarah peradaban islam pada masa Turki Utsmani ?
 Jelaskan sejarah peradaban islam pada Daulah Shawafiyah ?
 Jelaskan sejarah peradaban islam pada Daulah Mongoliyah di India ?
 Apakah pengaruh peradaban islam di dunia serta berikan contoh yang dapat
diambil dari peradaban islam?
1.3. Tujuan
Setelah dibuatnya makalah ini diharapkan penulis dan pembaca mengetahui :
 Pengertian peradaban, sejarah dan islam
 Faktor-faktor yang mempengaruhi peradaban islam
 Sejarah peradaban islam pada masa Khulafaur Rasyidin
 Sejarah peradaban islam pada masa Bani Ummayah
 Sejarah peradaban islam pada masa Daulah Abbasyiah
 Sejarah peradaban islam pada masa Daulah Fatimiyah
 Sejarah peradaban islam pada masa Turki Utsmani
 Sejarah peradaban islam pada Daulah Shawafiyah
 Sejarah peradaban islam pada Daulah Mongoliyah di India
 Pengaruh peradaban islam di dunia serta contoh yang dapat diambil dari
peradaban islam .
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian peradaban, sejarah dan islam

Sejarah dalam bahasa Arab, tarikh atau hostory, adalah cabang ilmu pengetahuan
tentang gejala-gejala alam, khususnya manusia yang bersifat kronologis. Sementara itu
pengetahuan serupa yang tidak kronologis diistilahkan dengan science.4

Sejarah juga berarti ilmu pengetahuan yang berikhtiar melukiskan atau menjelaskan
fenomena kehidupan sepanjang terjadinya perubahan karena ada hubungan antara
manusia terhadap masyarakatnya.5

Dari beberapa pengertian sejarah diatas dapat diketahui bahwa sejarah adalah ilmu
pengetahuan yang berusaha melukiskan tentang peristiwa masa lalu umat manusia yang
disusn secara kronologiss ntuk menjadi pelajaran bagi umat manusia yang hidup
sekarang maupun akan datang.

Sebelum masuk ke pengertian peradaban, ada baiknya kita bahas mengenai


kebudayaan. Kata “kebudayaan” dalam bahasa Arab adalah al-Tsaqafah. Banyak
diantara kita yang mensinonimkan kata kebudayaan dengan kata peradaban. Dalam
ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan.

Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud yaitu (1)
wujud ideal, (2) wujud kelakuan (3) Wujud benda.6

Sedangkan kata peradaban dalam istilah bahasa Indonesia digunakna untuk bagian-
bagian dan unsur-unsur dari kebuadayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni
bangunan, seni rupa, seni kenegraan dan ilmu pemgetahuan yang maju dan kompleks.

Jadi kebudayaan mencakup juga peradaban, tetapi tidak sebaliknya sebab peradaban
dipakai untuk menyebut kebudayaan yang maju dalam bentuk ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni.

Islam adalah agama Allah yang diperintahkan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW,
agar pokok-pokok dan peraturan-peraturannya diajarkan. Beliau juga ditugaskan oleh

4
T.Ibrahim Alfian dkk., Bunga Rampai Metode Penelitian Sejara (Yogyakarta: Lembaga Riset IAIN Sunan
Kalijaga, 1984), h.3
5
Nourozzaman Shiddiqi, Pengantar Sejarah Muslim (Yogyakarta: Cakra Donya, 1981), h.7
6
Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (Jakarta: Gramedia, 1985), h.5
Allah SWT. agar menyampaikan agama tersebut kepada umat manusia dan mengajak
mereka untuk memeluknya.7

Islam merupakan agama yang membawa bangsa Arab menjadi bangsa yang maju dan
berperadban. Bahkan kemajuan peradaban bangsa Barat mulanya bersumber dari
peradaban Islam yang masuk ke Eropa melalui Spanyol.8 Menurut Nourouzzaman
Shiddiqy sejarah peradaban islam dibagi menjadi tiga periode yaitu periode klasik,
periode pertengahan, dan periode modern.

Akan tetapi pada masa pertengahan dan periode modern sudah terdapat kebudayan –
kebudayaan dan peradaban-peradaban islam non-arab. Bahkan ketiga kerajaan besar
islam tidak ada satupun yang berasal dari tanah Arab.

2.2. Faktor-faktor Penyebab Kemajuan

Salah satu unsur kejayaan peradaban Islam adalah sains dan teknologi. Bidang ini
mengalami beberapa fase, mulai dari kemunculannya, penyebaran, kemajuan, hingga
kemunduran. Untuk menunjukkan kemajuan sains dan teknologi Islam pada masa
keemasannya, cukuplah kiranya menyebut nama-nama, seperti Jabir bin Hayyan, al-
Kindi, al-Khawarizmi, ar-Razi, al-Farabi, at-Tabari, al-Biruni, Ibnu Sina, dan Umar
Khayyam. Tak seorang pun, baik di Timur ataupun di Barat, yang meragukan kualitas
keilmuan mereka. Tujuh faktor itu adalah agama Islam, pemerintah yang berpihak pada
ilmu pengetahuan, bahasa Arab, pendidikan, penghormatan kepada ilmuwan, maraknya
penelitian, dan perdagangan internasional.
Pertama adalah agama Islam. Menurut Al-Hassan dan Hill, agama yang dibawa oleh
Nabi Muhammad SAW ini memberikan dorongan yang sangat kuat kepada umatnya
untuk melakukan pencapaian-pencapaian di bidang sains dan teknologi.

Alquran memerintahkan umat Islam agar menggunakan akalnya dalam mengamati


hakikat alam semesta. Perintah semacam itu di antaranya termaktub dalam surah Arrum
[30] ayat 22; Albaqarah [2] ayat 164; Ali Imran [3] ayat 190-191; Yunus [10] ayat 5;

7
Prof. Dr. Mahmud Syaltut, IslamAqidah dan Syariah Jilid 1,. h.1
8
Badri Yatim, sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1993), h.2
dan al-An'am [6] ayat 97. Firman Allah SWT juga sering disertai pertanyaan afala
ta'qilun dan afala tatafakkarun (tidakkah kamu sekalian berpikir).

Di samping itu, Islam telah menyatukan seluruh umatnya yang menyebar dari Cina
hingga Samudra Atlantik di bawah pengaruh satu bahasa dan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, semua orang bebas mengembara ke berbagai kota pusat ilmu
pengetahuan, seperti Baghdad, Kairo, Cordoba, dan lain-lain, untuk belajar.

Kedua, pemerintah yang berpihak pada ilmu pengetahuan. Howard R Turner dalam
Sains Islam yang Mengagumkan mengatakan bahwa pencapaian di bidang sains dan
teknologi sudah menjadi ciri-ciri umum semua dinasti Islam, baik itu dinasti kecil
maupun besar. Hampir di setiap kota Islam, ketika itu, terdapat gerakan Arabisasi dan
penerjemahan. Di samping itu, juga didirikan akademi-akademi, observatorium, dan
perpustakaan.

Ketiga, bahasa Arab. Sejak awal pemerintahan Dinasti Umayyah, ilmu pengetahuan
dari Yunani dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Menurut Al-Hassan dan
Hill, para sultan ketika itu sepenuhnya menyadari bahwa tidak mungkin ilmu
pengetahuan berkembang di dunia Islam jika ilmu-ilmu tersebut tertulis dalam bahasa
non-Arab.

Melalui aktivitas terjemahan itu, ilmu pengetahuan menyebar tidak hanya di kalangan
penguasa dan intelektual, tetapi juga di masyarakat awam. Melalui penerjemahan itu
pula, muncul banyak istilah sains dan teknologi yang baru dari bahasa Arab. Bahkan,
bahasa ini dapat dipakai untuk mengekspresikan istilah-istilah ilmu pengetahuan yang
paling rumit sekalipun.

Keempat, pendidikan. Untuk memacu laju perkembangan ilmu pengetahuan itu, para
khalifah mendirikan sekolah-sekolah, lembaga pendidikan tinggi, observatorium, dan
perpustakaan. Perpustakaan yang sangat terkenal pada masa Dinasti Abbasiyah
bernama Bayt Al-Hikmah (Rumah Kearifan).

Perpustakaan ini, seperti dicatat banyak sejarawan Islam, memberikan sumbangan yang
penting dalam penerjemahan karya-karya ilmuwan dari Yunani dan India ke dalam
bahasa Arab. Salah seorang penerjemah buku-buku matematika dari Yunani adalah
Tsabit bin Qurrah (836-901).

Kelima, penghormatan kepada ilmuwan. Al-Hassan dan Hill mencatat bahwa para
ilmuwan pada era keemasan Islam mendapatkan perhatian yang besar dari kerajaan.
Para ilmuwan masa itu dipenuhi kebutuhan finansialnya, bahkan diberi uang pensiun.
Kebijakan ini diambil supaya mereka bisa mencurahkan waktu sepenuhnya untuk
kegiatan mengajar, membimbing murid, menulis, dan meneliti.

Keenam, maraknya penelitian. Kerajaan mendorong para ilmuwan untuk melakukan


penelitian di berbagai bidang. Salah satu contohnya adalah riset ilmu matematika oleh
al-Khawarizmi. Sang ilmuwan telah menghasilkan konsep-konsep matematika yang
begitu populer dan masih tetap digunakan hingga sekarang. Angka nol yang ada saat
ini kita kenal merupakan hasil penemuannya. Angka ini dibawa ke Eropa oleh Leonardo
Fibonanci dalam karyanya Liber Abaci.

Ketujuh, perdagangan internasional. Perdagangan internasional menjadi sarana


komunikasi yang efektif antarperadaban dan mempercepat proses kemajuan teknologi.
Misalnya, karena maraknya kegiatan dagang antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa
lain di dunia, ditemukanlah teknologi navigasi.

2.3. Faktor-faktor Penyebab Kemunduran

a. Kemunduran Islam di Bagdad

Masa-masa kemajuan dunia islam yang telah berjalan beberapa abad lamanya, yang
pengaruhnya telah merebak dan merambah jauh ke berbagai belahan dunia non muslim
pada akhirnya juga mengalami masa-masa kemundurannya. Berbagai macam krisis
yang sangat komplek sekali telah menerpa dunia islam. Jatuhnya kota Bagdad pada
tahun 1258 M ke tangan bangsa mongol bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyah,
tetapi merupakan juga awal kemunduran peradaban islam, karena Bagdad sebagai pusat
kebudayaan dan peradaban islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan
itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan mongol yang di pimpin Hulagu
Khan.
Bagdad yang terkenal sebagai pusat kebudayaan dan pengetahuan islam, pada tahun
1258 M mendapat serbuan tentara mongol. Tentara mongol menyembelih seluruh
penduduk dan menyapu Bagdad bersih dari permukaan bumi. Dihancurkan segala
pusaka dan peradaban yang telah dibuat beratus-ratus tahun lamanya. Diangkut kitab-
kitab yang telah dikarang oleh ahli ilmu pengetahuan bertahun-tahun lalu dihanyutkan
ke dalam sungai dajlah, sehingga berubah warna airnya lantaran tinta yang larut.
Khalifah sendiri beserta keluarganya dimusnahkan sehingga terputuslah keturunan
abbasiyyah dan hancurlah kerajaannya yang telah lama bertahta selama 500 tahun.

b. Kemunduran Islam di Andalusia (Spanyol)

Pada tanggal 19 juli 711 M atas permintaan putra witiza yang kalah saingan dengan raja
Roderick dalam memperebutkan kekuasaan di wilayah Andalusia gubernur afrika utara,
Musa bin Nusair mengutus Thariq bin Ziyad untuk berangkat ke Andalusia untuk
membebaskan rakyat dari tekanan raja Roderick. Thariq membawa 7.000 pasukan yang
sebagian terdiri dari orang-orang barbar. Sedangkan raja Roderick membawa 25.000
orang tetapi pasukan sebesar ini bisa dikalahkan oleh kaum muslimin yang bekerjasama
dengan rakyat Ghatic untuk menggulingkan kekuasaan Roderick.

Setelah mengalahkan Roderick disusul dengan daerah daerah yang lainnya tanpa ada
perlawanan yang berarti. Sehingga wilayah Andalusia seluruhnya telah dikuasai oleh
orang-orang muslim. Dibawah pimpinan Thariq rakyat saling berdampingan baik
muslim atau non muslim, arab atau non arab, merdeka atau budak sehingga dalam
pemerintahannya mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Ketika Bagdad dihancurkan oleh tentara mongol yang dipimpin Hulagu Khan (anak
Jenghiz Khan), sebanarnya Umayah di Andalusia juga sedang mengalami sebuah krisis
pemerintahan dimana kekuasaan Islam sudah banyak yang terlepas karena mengalami
berbagai macam faktor diantaranya mendapatkan serangan dari tentara-tentara kaum
Kristen yang tidak rela tanahnya diduduki oleh pendatang. Satu demi satu wilayah
kekuasaan islam berhasil direbut kembali oleh kaum kristiani, kota Toledo yang
menjadi pusat peradaban islam terbesar di eropa berhasil direbut oleh Alfonso VI dan
Castilia pada tahun 1085, Alfonso VIII pada tahun 1212 berhasil merebut navas de
Tolosa dan Andalusia. Pada tahun 1236 M Cordova jatuh ke tangan Ferdinan III dari
Castilia, dan pada tahun 1492 M kota Granada yang menjadi satu-satunya kota yang
tersisa di tangan bani Umayah jatuh ke tangan raja Ferdinand dari Aragon yang
beraliansi dengan ratu Isabella dari Castilia.

Satu tahun (1493) setelah kemenangan tersebut dalam rangka untuk menghilangkan
symbol-simbol atau jejak-jejak Islam maka mereka menyapu bersih kaum muslimin
dengan cara dipaksa, Masjid-masjid disulap menjadi gereja-gereja dan kebudayaan-
kebudayaan islam yang tak ternilai harganya dihancurkan dengan rasa gembira.

c. Kemunduran Islam di Mongol

Bangsa mongol berasal dari daerah pegungungan Mongolia yang membentang dari asia
tengah sampai Siberia utara, Tibert selatan dan Manchuria barat serta Turkistan timur.
Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan yang mempunyai dua putra kembar Tatar
dan Mongol. Kedua putra ini melahirkan dua suku bangsa besar, Mongol dan Tatar.
Mongol mempunyai anak beranam Ilkhan yang melahirkan keturunan pimpinan bangsa
Mongol di kemudian hari.

Mereka adalah kabilah besar yang menyerupai sebuah bangsa pedalaman penduduk dan
nomadic. Mereka adalah para pengembala yang hidup di dataran luas di daratan yang
luas. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah sebagai penggembala dan pemburu,
sebagaimana orang nomad mereka memiliki karankter kasar, suka berperang, kejam.
Mayoritas mereka adalah para penyembah berhala dan penyembah kekuatan-kekuatan
ghaib seperti jin dan setan. Bangsa Mongol mengalami kemajuan ketika di pimpin oleh
Timujin yang bergelar Jenghis Khan (Raja yang perkasa). Ketika dia memimpin bangsa
Mongol banyak daerah yang ditaklukannya seperti Cina, dan negeri-negeri Islam
lainnya.

Pada saat kondisi fisiknya mulai lemah, Jenghiskan mulai menyerahkan


kepemimpinannya kepada anaknya yang bernama Hulagu Khan. Ia berhasil
mengalahkan pemerintahan abbasyiah yang dipimpin al-Mu’tashim dan menghacurkan
peradaban dunia islam. Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan
kekuasaannya di Bagdad selam dua tahun, sebelum melanjutkan gerakan ke Syiria dan
Mesir, tetapi mereka di Mesir dikalahkan oleh pasukan mamalik dalam perang ‘ain jalut
pada tanggal 3 september 1260.

Bagdad dan daerah-daerah yang ditaklukan Hulagu selanjutnya diperintah oleh dinasti
Ilkhan. Ilkhan adalah gelar ayang diberikan kepada Hulagu Khan. Ilkhan berarti Khan
yang Agung. Selajutnya gelar tersebut diwarisi oleh para keturunannya. Keturunan dari
Hulagu Khan yang beragama islam adalah Ahmad Taguder, tapi beliau mati ditangan
para pembesar kerajaan yang lain. Selain Taguder, Mahmud Ghazan (1295-1304), raja
yang ketujuh, dan raja-raja selanjutnya pemeluk agama islam, dengan masuknya beliau,
islam mengalami kemenangan yang sangat besar terhadap agama syamanisme.

Berbeda dengan raja-raja sebelumnya, Ghazan mulai memperhatikan perkembangan


peradaban. Ia seorang pelindung ilmu pengetahuan dan sastra. Ia amat gemar kepada
kesenian terutama arsitektur dan ilmu pengetahuan alam seperti astronomi, kimia
minerologi, metalurti dan botani. Ia membangun semacam biara untuk para darwi,
perguruan tinggi madzhab Syafi’I dan hanafi, sebuah perpustakaan, observatorium dan
gedung-gedung umum lainnya. Pada masa pemerintahan Abu Sa’id (1317-1334 M),
terjadi kelaparan yang sangat menyedihkan dan angin topan dengan hujan es yang
mendatangkan mala petaka.

Kerajaan Ilkhan yang didirikan oleh hulagu khan terpecah-pecah setelah pemerintahan
Abu Sa’id kerajaan pecahan-pecahan tersebut ditaklukan oleh timur lenk. Penguasa
islam yang terakhir dari keturunan Mongol adalah timur lenk yang berarti timur si
pincang, berbeda dengan penguasa-penguasa islam lainya bahwa timur lenk sejak kecil
sudah masuk islam. Sejak remaja dia sudah kelihatan keberaniannya sehingga ketika
tanah kelahirannya diserbu oleh pasukan Tughluq timur khan, Timur lenk bangkit
meminpin perlawanan untuk membela nasib kaumnya yang tertindas. Ketika Timur
lenk menjadi penguasa tunggal di tanah kelahirannya, ia mulai melakukan invasi-invasi
ke wilayah-wilayah lain.

Di Afganistan ia membangun menara, yang disusun dari 2000 mayat yang dibalut
dengan tanah liat. Di Isfahan, ia membantai lebih kurang 70.000 penduduk. Kepala-
kepala mayat dipisahkan dari tubuhnya dan disusun menjadi menara. Pada tahun 1401
M ia memasuki daerah syiria utara. Tiga hari lamanya aleppo dihancur leburkan. Kepala
dari 20.000 penduduk dibuat pyramid setinggi 10 hasta banyak bangunan dan sekolah
dihancurkan.

Sekalipun ia seorang penguasa yang sangat kejam terhadap penentangnya, sebagai


seorang muslim ia tetap memperhatikan pengembangan islam. Konon, ia adalah
penganut syiah yang taat dan menyukai tasawuf tarekat naqsyabandiyah. Dalam invasi-
invasi ia selalu membawa ulama, sastrawan dan seniman. Ulama dan ilmuan di
hormatinya, dan yang menjadi heran adalah setiap pembantaian di wilayah-wilayah
yang dikuasainya ia tidak membantai para ulama dan ilmuan bahkan ia membawa para
ulama dan ilmuan tersebut ke negerinya.

Setelah kematian timur lenk pada tahun 1404. Kekuasaannya digantikan oleh anaknya
yang bernama Syah Rukh (1404), ia seorang raja yang adil dan lemah lembut. Setelah
wafat, ia diganti oleh anaknya Ulugh Bey, ia seorang raja yang alim dan sarjana ilmu
pasti. Selama dua tahun memerintah ia dibunuh oleh anaknya yang haus kekuasaan,
abul latif. Kerajaan timur lenk dan keturunannya berakhir ditangan abu sa’id, dimana
ketika ia memerintah banyak wilayah-wilayah yang ditaklukannya memisahkan diri
dan banyak huru-hara di sana-sini. Abu said sendiri terbunuh ketika berperang melawan
Uzun Hasan, pengusa Ak Koyunlu.

d. Kemunduran Islam di Mesir

Satu-satunya negeri islam yang selamat dari serbuan-serbuan tentara mongol dan timur
lenk, adalah Mesir. Mongol dan timur lenk tidak mampu mengalah kan negeri mesir
Karena di sana terdapat dinasti Mamalik. Mamalik adalah jamak dari mamluk yang
berarti budak. Dinasti mamlik memang didirikan oleh para budak. Pada awalnya para
budak tersebut dibebaskan dan dijadikan tentara persisnya menjadi bodyguard
(pengawal) para raja pada masa pemerintahan ayyubiyah karena prestasi yang diraihnya
sangat besar maka para raja banyak mengambil para budak sebagai tentara.

Penguasa ayyubiyah yang terakhir al-Malik al-shalih meninggal (1249), kemudian


digantikan oleh anaknya bernama Turansyah. Golongan mamalik merasa terancam
karena Turansyah lebih dekat kepada tentara kurdi, sehingga para mamalik
merencanakan pembunuhan kepada Turansyah dibawah pimpinan Aybak dan Baybars,
keduanya berhasil membunuh Turansyah. Atas kesepakatan mamalik, istrinya (Syajar
al-Durr) al-Malik menjadi raja menggantikan Turansyah selama 80 hari, kemudian ia
menikah dengan aybak dan menyerahkan tampuk kepemimpinanya kepada suaminya.

Dinasti mamalik mengalami perkembangan yang sangat pesat ketika dipimpin oleh
baybars, ia seorang pimpinan militer yang tangguh dan cerdas. Pada masa ini banyak
para ilmuan yang muncul baik ilmu pasti, umum ataupun agama. Diantra para ilmuan
tersebut, Ibn Khaldun, Ibn Hajr al-Asqalani, Ibn Taimiyah, Ibn Qayyim al-Jauziyah.
Kemunduran dinasti mamalik disebabkan karena para sultan tidak lagi memperhatikan
kesejahtraan rakyatnya mereka lebih mementingkan dirinya sendiri, menerapkan pajak
yang sangat memberatkan rakyat.

2.4. Masa Pemerintahan Khulafaur Rasyidin


2.4.1. Masa Pemerintahan Rasulullah SAW
Peradaban atau kebudayaan pada masa rasulullah SAW. yang paling
dahsyat adalah perubahan sosial. Suatu perubahan mendasar dari masa
kebobrokan moral menjadi moralitas yang beradab. Dalam tulisan Ahmad AL-
Husairy diuraikan bahwa peradaban pada masa nabi di landasi dengan asa-asas
yang diciptakan sendiri oleh Muhammad di bawah bimbingan wahyu. Di
antaranya sebagai berikut
1. Pembangunan Masjid Nabawi
Dikisahkan bahwa unta tunggangan Rasulullah berhenti di suatu tempat
maka Rasulullah memerintahkan agar di tempat itu di bangun sebuah
masjid.
2. Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar
Rasulullah mempersaudarakan di antara kaum mislimin . mereka kemudian
membagikan rumah yang mereka miliki , bahkan juga istri-istri dan harta
mereka.
3. Kesepakatan untuk Saling Membantu antara kaum Muslimin Non-
Muslimin
Di madinah, ada tiga golongan manusia, yaitu kaum muslimin, orang orang
Arab , serta kaum non-muslim , dan orang orang yahudi (bani Nadhir, bani
Quraizhah, dan bani Qainuq’).
4. Peletakan Asas-asas Politik , Ekonomi, dan Sosial
Islam adalah agama sudah sepantasnya jika didalam Negara diletakan
dasar-dasar islam maka turunlah ayat-ayat AL-Quran pada priode ini untuk
membangun legalitas dari sisa-sisa tersebut sebagaimana dijelaskan oleh
Rasulullah dengan perkataanya dan tindakanya. Hiduplah kota madinah
dalam sebuah kehidupan yang mulia dan penuh dengan nilai-nilai utama.9

9 Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam


2.4.2. Islam Pada Masa Pemerintahan Khulafaur Rasyidin

Sepeninggal Rasulullah, muncul beda pendapat di antara orang Anshar dan orang
Muhajirin tentang siapa sebenarnya yang berhak menjadi khalifah pengganti
Nabi, karena Nabi tidak meninggalkan wasiat tentang penunjukan seseorang
menjadi khalifah sepeninggalnya.

Lain halnya dengan Ahl al-Bait yang berpendapat bahwa Nabi telah menunjuk
Ali sebagai khalifah pengganti Rasul berdasarkan wasiat Nabi. Hal itu, dibantah
pihak orang Anshar dan orang Muhajirin. Kalau Nabi pernah berwasiat menunjuk
Ali sebagai khalifah pengganti beliau, tidak mungkin orang Anshar dan Muhajirin
bermusyawarah mencari khalifah pengganti Nabi.

Abu Bakar yang ditunjuk menjadi khalifah pengganti Nabi berdasarkan


musyawarah yang diadakan di Tsaqifah bani Sa’idah antara orang Anshar dengan
orang Muhajirin mendapat bai’at dari mayoritas umat Islam, tetapi tidak dari Ali
bin Abi Thalib kecuali enam bulan kemudian.

1. Abu Bakar Siddiq (11-13 H / 632 – 634 M)


1.1. Riwayat Singkat Abu Bakar

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin
Sa’id bin Taim bin Murrah al-Tamimi, yang lebih dikenal dengan Abd al-Ka’bah di
masa Jahiliyah. Masalah yang pertama timbul dalam Islam sesudah Nabi wafat
adalah politik, yaitu mengenai pengganti Nabi sebagai kepala negara dalam
kapasitasnya sebagai kepala negara di Madinah, sedang kedudukannya sebagai
Rasul tidak dapat digantikan oleh siapapun. Sementara Nabi tidak meninggalkan
wasiat tentang penunjukan seseorang yang akan menggantikannya sebagai kepala
negara sepeninggalnya.

Rupanya, semangat keagamaan Abu Bakar mendapat penghargaan yang tinggi dari
umat Islam. sehingga masing-masing pihak menerima dan membai’atnya sebagai
pemimpin umat Islam pengganti Rasulullah yang dalam perkembangan selanjutnya
disebut “Khalifah” saja.
Abu Bakar adalah orang yang paling tepat menggantikan Nabi. Mengingat
prestasinya dalam tiga hal yang tidak dimiliki oleh sahabat lainnya. Pertama, sebagai
orang yang pertama masuk Islam dari kalangan dewasa. Kedua, menemani Nabi
sewaktu hijrah ke Yatsrib. Ketiga, satu-satunya orang yang ditunjuk oleh Nabi
menjadi imam shalat ketika beliau sakit.10

Pidato yang di bacakan oleh Abu Bakar dalam kepemerintahan nya


sebagai berikut :
“Wahai manusia sungguh aku telah memangku jabatan yang kamu
percayakan , padahal aku bukan orang yang terbaik diantara kamu.
Apabila aku melaksanakan tugasku dengan baik, bantulah aku, dan jika
aku berbuat salah luruskanlah aku. Kebenaran adalah satu kepercayaan
dan kedustaan adalah suatu penghianatan. Orang yang lemah diantara
kamu adalah orang kuat bagiku sampai aku memenuhi hak-haknya dan
orang kuat diantara kamu adalah lemah bagiku hingga aku mengambil
haknya. Insya Allah janganlah salah seorang dari kamu meninggalkan
jihad. Sesungguhnya kaum yang tidak memenuhi panggilan jihad maka
Allah akan menimpakan atas mereka suatu kehinaan. Patuhlah kepadaku
selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya . jika aku tidak menaati
Allah dan Rasulnya sekali kali jangan lah kamu mentaatiku. Dirikanlah
shalat, semoga Allah merahmati kamu “.
Ucapan pertana ketika di bai’at , ini menunjukan garis besar politik dan
kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan.

Diantara kebijaksanaan nya ialah sebagai berikut :

a) Kebijaksanaan Pengurus Terhadap Agama .


Pada awal pemerintahan nya ia di uji dengan adanya ancaman yang datang
dari umat Islam sendiri yang menentang kepemimpinan nya di antara
perbuatan makar tersebut ialah timbulnya orang-orang yang murtad,
orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat, orang-orang yang mengaku
jadi Nabi dan pemberontakan dari beberapa kabilah.

10
Nasution, Syamsuddin. 2013. Sejarah Peradaban Islam. Hal: 61-65
b) Kebijaksanaan Kenegaraan
Diantara kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan atau kenegaraan
sebagai pulungan ,di uraikan sebagai berikut :

1. Bidang eksekutif
Pendelegasian terhadap tugas tugas pemerintahan di Madinah maupun
daerah.
2. Pertahanan dan keamanan
Dengan mengorganisasikan pasukan–pasukan yang ada untuk
mempertahan kan eksistensi keagamaan dan pemerintahan.
3. Yudikatif
Fungsi kehakiman dilaksanakan oleh Umar bin Khathab dan selama
masa pemerintahan Abu Bakar tidak ditemukan suatu permasalahan
yang berarti untuk di pecahkan.
4. Sosial ekonomi
Sebuah lembaga mirip Bait Al Mal, di dalam nya di kelola harta benda
yang di dapat dari Zakat , Infaq , Sedekah , Ghanimah dan lain lain.

Dari pembahasan–pembahasan di atas, dapat di simpulkan


bahwa, pengangkatan khalifah dalam kekhalifahan pertama berjalan
dengan musyawaroh dengan aklamasi menerima dan mengangkat Abu
Bakar, walaupun di antara sahabat, ada yang tidak ikut dalam pembai’atan
dan pada akhirnya mereka melakukan sumpah setia. Dengan demikian,
secara nyata pengengkatan Abu Bakar sebagai khalifah di setujui.

1.2. Penyebaran Islam Pada Masa Abu Bakar


Setelah pergolakan dalam negeri berhasil di padamkan ( terutama
memerangi orang-orang murtad ) Khalifah Abu Bakar menghadapi
kekuatan Persia dan Romawi yang setiap saat berkeinginan
menghancurkan eksistensi islam. Untuk menghadapi Persia, Abu Bakar
mengirim tentara Islam dibawah pimpinan Khalid bin Walid dan Mutsana
bin Haritsa dan berhasil merebut beberapa daerah penting Irak dan
kekuasaan Persia. Adapun untuk menghadapi romawi Abu Bakar memilih
empat panglima Islam terbaik untuk memimpin beribu ribu pasukan di
empat front .

1.3. Faktor keberhasilan khalifah Abu Bakar


Faktor keberhasilan Abu Bakar yang lain adalah dalam membangun
pranata sosial di bidang politik dan pertahanan keamanan .
Untuk menjalankan tugas –tugas pemerintahan di madinah ia mengangkat
Ali bin Abi Thalib , Utsman bin Affan dan Zaid bin Tsabit sebagai katib
(sekertaris ) dan Abu Ubaidah sebagai bendaharawan untuk menurus
Baitul Mal .

1.4. Peradaban Pada Masa Abu Bakar


Bentuk peradaban paling besar dan luar biasa dan merupakan satu kerja
besar yang di lakukan masa pemerintahan Abu Bakar adalah
penghimpunan Al-Quran. Abu Bakar Ash Siddiq memerintah Zaid bin
Tsabit untuk menghimpun Al-qur’an dari pelepah qurma, kulit binatang
dan dari hapalan kaum muslimin. Hal ini dilakukan sebagai usaha
menjaga kelestarian Al-Qur’an setelah syahidnya beberapa orang
penghafal Al-Qur’an pada perang Yamamah .
Selain itu peradaban islam yang terjadi pada praktik pemerintahan Abu
Bakar terbagi beberapa tahapan yaitu :
 Dalam bidang pranata sosial ekonomi adalah mewujudkan keadilan
dan kesejahteraan sosial rakyat
 Praktik pemerintahan khalifah Abu Bakar terpenting lain nya adalah
mengenai suksesi kepemimpinan atas inisiatif nya sendiri dengan
menunjukan Umar bin Khatab untuk menggantikan nya .
Sesuai dengan isi perjanjian tertulis tersebut, dan telah mendapat
persetujuan dari sebagian muslimin, setelah ia meninggal, Umar bin
Khatab di kukuhkan oleh kaum muslimin menjadi khalifah kedua dalam
satu bai’at umum yang berlangsung di mesjid nabawi . Dari penunjukan
umar tersebut, ada beberapa hal yang perlu dicatat :
 Abu bakar dalam menunjukan umar tidak meninggalkan asas
musyawarah
 Abu bakar tidak menunjuk salah seorang putranya atau kerabatnya
melainkan memilih seorang yang mempunyai nama dan
mendapatkan tempat di hati masyarakat serta di segani oleh rakyat
karena sifat sifat yang terpuji yang dimilikinya.
 Pengukuhan umar menjadi khalifah sepeninggalan abu bakar
berjalan dengan baik dalam satu bai’at umum dan terbuka tanpa ada
pertentangan di kalangan kaum muslimin sehingga obsesi Abu
Bakar untuk mempertahankan keutuhan umat Islam dengan cara
penunjukan itu terjamin .
Akhirnya tatkala abu bakar merasa kematian nya telah dekat dan sakitnya
semakin parah, dia ingin untuk memberikan kekhalifahan kepada
seseorang sehingga di harafkan manusia tidak banyak terlibat konflik
jatuhlah pilihan nya kepada Umar bin Khathab . dia meminta
pertimbangan dari sahabat-sahabat senior . mereka semua mendukung
pilihan Abu Bakar dia pun menulis wasiat untuk itu , lalu dia mambai’at
Umar, beberapa hari setelah itu, Abu Bakar meninggal ini terjadi pada
bulan Jumadil Akhir tahun 13 H /634 M.

Abu Bakar memanggil Utsman dan mendikktekan teks perintah yang


menunjuk Umar sebagai penggantinya. Beliau meninggal dunia pada hari
Senin 23 Agustus 624 M. Shalat jenazah di pimpin oleh Umar, dan beliau
di makamkan di rumah Aisyah, di samping makam Nabi beliau berusia
63 tahun ketika meninggal dunia , dan ke khalifahan nya berlangsung
selama 2 tahun 3 bulan 11 hari ( Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban
Islam).

2. Umar bin Khaththab (13 – 23 H / 634 – 644 M)


Nama lengkapnya adalah Umar bin Khaththab bin Nafil bin Abd al-Uzza bin
Rabah bin Ka’ab bin Luay al-Quraisy. Silsilah Umar bertemu dengan
Rasulullah pada kakek ketujuh, sedangkan dari pihak ibunya pada kakek
keenam. Umar dilahirkan di Makkah empat tahun sebelum perang Fijar, tetapi
menurut Ibn Atsir dia dilahirkan tiga belas tahun sesudah kelahiran Rasulullah
s.a.w. Hal ini berarti beliau lebih muda tiga belas tahun dari Nabi Muhammad
s.a.w. Dia fasih berbicara, tegas dalam menyatakan pendapat dan membela
yang hak.11

Ketika Abu Bakar sakit, dia memperhatikan sahabatnya, siapa di antara mereka yang
sesuai diangkat menjadi khalifah, “yang tegas tidak kejam dan yang lembut tidak
lemah”. Dia mendapatkan kriteria pilihannya itu, di antara dua sahabat, yaitu antara
Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib. Tetapi kemudian pilihannya jatuh kepada
Umar.72

Yang pertama sekali dilakukan Umar setelah diangkat menjadi khalifah adalah memecat
Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai komandan 4 pasukan di utara
danmenyerahkannya kembali kepada komandan semula Abu Ubaidah bin Jarrah. Tentang
pemecatan ini Umar menyatakan orang terlalu mengagungkan Khalid dan ini bisa
berbahaya, sementara ada sejarawan mengatakan Abu Ubaidah lebih mampu membenahi
administrasi dibanding Khalid yang lebih mahir berperang. Sedangkan Khalid
menerimanya dengan rela dan patuh. dc

2.1. Perluasan Wilayah


Bagian Utara: Abu Ubaidah melanjutkan peperangan yang dimenangkan Khalid di
Ajnadin, sasaran berikutnya adalah Damaskus, ibu kota Syiria. Kota ini dikepung
selama 6 bulan dan akhirnya menyerah. Untuk membalas kekalahan Romawi di
Damaskus, Heraklius, Kaisar Bizantium menyiapkan pasukan sebanyak 200.000
orang. Di pihak Islam hanya 25.000 orang.

Bagian Barat: Untuk menjaga stabilitas keamanan di Palestina, maka Mesir yang
terletak sebelah barat harus ditakhlukkan. Khalifah Umar memerintahkan Amr bin
Al-Ash untuk tugas itu, ia bersama 4000 pejuang berangkat ke Mesir dan sampai
di kota paling timur Al-Farama pada bulan Januari 640 M.

Bagian Timur: Di bagian timur guna memperkuat pasukan Mutsanna bin Haritsah
yang dulu dikirim Abu Bakar, kini Umar mengirim Sa’ad bin Abi Waqqash dengan
kekuatan 10.000 pejuang. Sa’ad melakukan pertempuran pertama di Qadisiah
dengan tentara Persia yang dipimpin panglimanya Rustam pada bulan Mei 637
dengan kekuatan 30.000 orang.

Khalifah Umar mengutus kurir menyampaikan surat pengangkatan Salman al-


Farisi menjadi gubernur Persia (daerah kelahirannya) yang berkedudukan di ibu

11
Hasan Ibrahim Hasan, op.cit., h.401 - 402
kota Madain, walaupun Sa’ad ibn Abi Waqqash yang terkenal sebagai sang
Penakluk Persia.

2.2. Mengatur Administrasi Negara.


Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan administrasi negara, sebagai berikut;
1) Menertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah.
2) Mendirikan Pengadilan Negara dalam rangka memisahkan lembaga
yudikatif dengan lembaga eksekutif.
3) Kepala negara dalam rangka menjalankan tugas eksekutifnya, ia dibantu
oleh pejabat yang disebut al-Katib (sekreteris negara). Di masa Umar dijabat
oleh Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Arqam.
4) Membentuk Jawatan Kepolisian untuk menjaga keamanan dan ketertiban
serta menangkap penjahat.
5) Membentuk Jawatan Militer, terdaftar secara resmi di negara, bertugas di
daerah-daerah perbatasan seperti di Kufah, Basrah dan Fusthah, dan diberi
gaji secara teratur setiap bulannya.
6) Umar juga mendirikan Baitul Mal, keuangan negara yang dipungut dari
pajak dan lain-lain disimpan di Baitul Mal dan penggunaannya diatur oleh
Dewan.
7) Menempa/mencetak mata uang sebagai alat tukar yang resmi dari negara
dan Menciptakan kelender Islam atau tahun Hijrah.12

Sungguh pun Umar menjadi kepala negara dari suatu negara terbesar saat itu, tetapi
ia tetap hidup sederhana. Ia hanya memiliki sehelai kemeja dan sebuah mantel, serta
tidur di atas dedaunan korma. Ia dikenal adil dan bijaksana. Sehingga para sejarawan
sepakat menyebutnya “Khalifah Yang Terbesar Sesudah Nabi”.

Tetapi sungguh suatu ironi, pribadi yang mengagumkan dan mempesona itu akhirnya
terbunuh di tangan budak Persia, bernama Abu Lu’lu’ (Abd Mughiroh). Karena
orang-orang Persia sangat merasa dendam kepada Umar yang menaklukkan dan
telah menghancurkan negeri mereka, dan sebab itu mereka mempergunakan budak
tersebut untuk membunuhnya. Umar meninggal dunia dalam usia 63 tahun, setelah
memerintah selama sepuluh tahun.

3. Utsman bin Affan (23 – 35 H / 644 – 656 M)


3.1. Riwayat Singkat Utsman bin Affan

12
Ahmad Syalabi, op.cit., h.263
Nama lengkapnya Utsman bin Affan bin Abu al-Ash bin Umayah bin Abd al-Syams
bin Abd al-Manaf bin Qushai. Lahir pada tahun kelima dari kelahiran Rasulullah
s.a.w. Tapi ada yang mengatakan dia lahir pada tahun keenam sesudah tahun gajah.

Utsman melanjutkan perluasan wilayah yang dilakukan khalifah Umar. Di fron utara
Armenia direbut dari orang-orang Bizantium. Demikian juga pulau Cyprus, pulau
Rhodes di fron timur, Thabaristan, Khurasan, dan bagian yang tersisa dari Persia. Di
fron barat Tunisia direbut dari Romawi. Sampai di sini ekspansi pertama dalam Islam
terhenti, karena disibukkan menhadapi pergolakan dalam negeri pada masa
pemerintahan Ali.

3.2. Kebijaksanaan Utsman


Kepemimpinan Utsman sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Utsman
mengambil beberapa kebijaksanaan yang menimbulkan keresahan masyarakat yang
berlanjut pada kerusuhan. Pada bidang yang pertama ialah:
1. dia mengangkat kaum kerabatnya pada jabatan-jabatan tinggi negara atau
yang dikenal dengan politiknepotisme, yaitu sebagai gubernur dan
sekretaris negara;a. Saudara sesusuannya Abdullah bin Sa’ad diangkat
menjadigubernur Mesir menggantikan Amr bin Al-Ash.
2. Saudara sepupunya Walid bin Uqbah diangkat menjadi gubernur Kufah
menggantikan Mughirah bin Syu’bah. Walid bin Uqbah kemudian diganti
pula dengan saudara sepupunya Sa’ad bin al-Ash.
3. Anak bibinya Abdullah bin Amir diangkat menjadi gubernur Basrah
menggantikan Abu Musa al-Asy’ari.
4. Muawiyah bin Abi Sofyan yang masih sama-sama keturunan Bani Umaiyah
dikukuhkan menjadi gubernur Syria dan ditambah dengan wilayah Hims,
Yordania, Libanon dan Palestina, semuanya berada di tangannya.
5. Saudara sepupunya sekaligus menantunya Marwan bin Hakam diangkat
menjadi sekretaris Negara menggantikan Zaid ibn Tsabit. Sehingga
terkumpullah seluruh kekuasaan di tangan satu keluarga saja.13

Akibat dari politik nepotisme tersebut menyebabkan muncul protes-protes dan


kecaman-kecaman dari rakyat. Sebab meskipun mereka terdiri dari orang-orang
yang telah menunjukkan kemampuan militer yang tinggi dan administrator kelas
utama, namun mereka belum memiliki moral yang baik, karena baru masuk Islam
waktu penakhlukkan kota Makkah, sehingga Islam belum meresap dalam hati

13
Abul A’la Maududi, Khilafah dan Kerajaan, c.7 (Bandung: Mizan, 1998), h.137 - 138
sanubari mereka. Abdullah bin Sa’ad misalnya pernah murtad, demikian juga Walid
bin Uqbah dikenal sebagai seorang pemabuk.14

Kedua, membubarkan dewan pengelola Baitul Mal yang dulu dibentuk pada masa
khalifah Umar dan dijabat oleh Abdullah ibn Arqam yang terkenal sangat jujur dan
berpotensi mengelola Baitul Mal. Kini badan itu dihapuskan sehingga pengelola
Baitul Mal langsung berada di tangan khalifah. Akibatnya orang yang dulu mendapat
tunjangan dari negara, kini tidak ada lagi.

Ketiga, tanah-tanah rampasan perang atau ditinggalkan pemiliknya pada waktu


perluasan wilayah di masa khalifah Umar dulu dijadikan milik negara. Tanah itu
diolah rakyat, dan negara memperoleh bagian dari hasil tanah itu. Kini, di masa
Usman tanah-tanah itu diperjual-belikan. Seperti tanah negara yang ada di Basrah
dan Kufah dijual kepada Talhah dan zubeir. Juga memberikan tanah Fadak di Persia
kepada Marwan ibn Hakam dan membolehkan Muawiyah mengambil alih tanah-
tanah negara di seluruh wilayah Syiria, suatu hal yang dilarang keras oleh Khalifah
Umar sebelumnya.99

Akibatnya, banyak keluarga Bani Umaiyah dan sahabat-sahabat tertentu yang kaya
mendadak yang hidup mewah melimpah berkecukupan, sebaliknya sangat banyak
pula rakyat yang menjadi miskin mendadak karena lahan kehidupan mereka terputus,
hilang mata pencaharian. Dari tiga macam kebijaksanaan yang dilakukan khalifah
Utsman di atas menimbulkan kekecewaan dan kemarahan rakyat.

Karya besar monumental khalifah Utsman bin Affan adalah membukukan


Mushaf AL-Qur’an. Pembukuan ini di dasarkan atas alasan dan pertimbangan
untuk mengakhiri perbedaan bacaan di kalangan umat islam yang di ketahui pada
saat ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijian. Pembukuan ini di laksanakan
oleh suatu panitia yang di ketuai oleh Zaid bin Tsabit.

Para pemberontak mengepung rumah Utsman selama 40 hari, dalam pada itu salah
seorang di antara mereka terkena panah yang datang dari kediaman khalifah. Mereka
mendesak agar si pemanah diserahkan kepada mereka. Namun tidak juga dipenuhi
khalifah. Akhirnya mereka menyerbu kediaman khalifah dan membunuhnya dalam

14
Ibid., h. 140 - 142
usia sekitar 82 tahun. (Nasution, Syamsuddin. 2013. Sejarah Peradaban Islam. Hal:
66-90)

4. Ali bin Abi Thalib (35 – 40 H / 656 – 661 M)

Pengukuhan Ali menjadi khalifah tidak semulus pengukuhan tiga orang


sebelumnya. Ali dibai’at di tengah-tengah susunan berkabung atas
meninggalnya Utsman, pertentangan dan kekacauan, serta kebingungan umat
islam Madinah .

Ali adalah putra Abi Thalib ibn Abdul Muthallib, ia adalah sepupu Nabi
Muhammad SAW yang kemudian menjadi menantunya karena menikahi putri
Nabi Muhammad SAW, Fatimah. Iya telah ikut bersama Rasulullah SAW
sejak bahaya kelaparan mengancam kota Mekah dan tinggal di rumahnya. Ia
masuk Islam ketika usianya sangat muda dan termasuk orang yang pertama
masuk Islam dari golongan pria. Pada saat Nabi menerima wahyu pertama, Ali
berumur 13 tahun, menurut A.M. Saban, sedangkan menurut Mahmudunnasir,
Ali berumur 9 tahun.

Ali termasuk orang yang pandai memainkan pedang dan pena, bahkan dia
dikenal sebagai seorang orator. Ia juga seorang yang pandai dan bijaksana.
Pemerintahan Khalifah Ali dapat dikatakan sebagai pemerintahan yang tidak
stabil karena adanya pemberontakan dari kaum Muslimin. Pemberontakan
diawali oleh penarikan bai’at oleh Thalhah dan Zubair, karena alasan bahwa
Ali tidak memenuhi tuntutan mereka untuk menghukum pembunuh khalifah
Ustman.

Khalifah Ali telah berusaha untuk menghindari pertumpahan darah dengan


mengajukan kompromi, tetapi beliau tidak berhasil sampai akhirnya terjadi
pertempuran antara khalifah Ali bersama pasukannya dengan Thalhah, Zubair,
dan Aisyah bersama pasukannya. Perang ini terjadi pada tahun 36 H. Thalhah
dan Zubair terbunuh ketika hendak melarikan diri dan Aisyah dikembalikan
ke Madinah. Dan puluhan ribu umat Islam gugur dalam peperangan ini.
Peperangan antar umat Islam terjadi lagi yaitu antara khalifah Ali bersama
pasukannya dan Muawiyah sebagai gubernur Suriah bersama
pasukannya. Peperangan ini terjadi di kota Shiffin pada tahun 37 yang hampir
saja dimenangkan oleh khalifah Ali. Namun, atas kecerdikan Muawiyah, yang
mengacungkan Al-Qur’an dengan tombaknya, yang mempunyai arti bahwa
mereka mengajak berdamai. Khalifah Ali mengetahui bahwa hal tersebut
adalah tipu muslihat, namun karena didesak pasukannya, khalifah Ali
menerima tawaran tersebut. Akhirnya terjadi peristiwa tahkim yang secara
politis khalifah Ali mengalami kekalahan.

4.1. Peristiwa Tahkim Pada Masa Ali bin Abi Thalib


Konflik politik antara Ali ibn Abi Thalib dengan Mawiyah ibn Abi
sufyan diakhiri dengan tahkim. Dari pihak Ali ibn Abi Thalib di utus
seorang ulama yang terkenal sangat jujur dan tidak ‘’cerdik ‘’ dalam
politik , yaitu Abu Musa Al-Asy’ari sebaliknya, dari pihak Muawuyah
Ibn Abi Sufyan diutus seorang yang terkenal ‘’cerdik ‘’ dalam
berpolitik yaitu Amr ibn Ash.

Dalam kisah lain di ceritakan bahwa kematian khalifah Ali di akibatkan


oleh pukulan pedang beracun Abdurrohman ibn Muljah, sebagai mana
di jelaskan Philip K hitty bahwa :
“Pada 24 Januari 661 Ali sedang dalam perjalanan menuju
mesjid Kufah ia terkena hantaman pedang beracun di dahinya. Pedang
yang mengenai otaknya tersebut diayunkan oleh seorang pengikut
kelompok khawarij Abd Ar-Rahman ibn Muljah yang ingin membalas
dendam atas kematian keluarga seorang wanita ,temannya yeng
terbunuh di Nahrawan. Suatu tempat terpencil di dekat Kufah yang
menjadi makam ali, kini masyad ali di Najaf, ber kembang menjadi
salah satu pusat ziarah terbesar dalam agama Islam . .( Supriyadi, Dedi.
2008. Sejarah Peradaban Islam)

2.4.2. Kemajuan Islam Pada Masa Pemerintahan Khulafaur Rasyidin

1. Pembukuan Al-Qur’an
Penulisan ayat-ayat al-Qur’an sudah dimulai semenjak masa Rasulullah. Setiap kali
menerima wahyu, Nabi selalu membacakan dan mengajarkannya kepada para sahabat
serta memerintahkan mereka menghafalnya. Rasulullah juga mempunyai sekretaris
penulis wahyu, di antara mereka adalah sahabat Abdullah bin Abbas, Zaid bin Tsabit,
Muawiyah bin Abi Sofyan, kepada mereka diperintahkan Nabi menulis wahyu yang
baru saja diterimanya. Al-Qur’an telah dibukukan saat zaman utsman Bin Affan

2. Ilmu Qira’at
Sejalan dengan perluasan wilayah Islam, banyak orang Islam yang tidak dapat membaca
al Qur’an, oleh karena itu muncul kekhawatiran terjadinya kesalahan dalam
membacanya. Selain itu terdapat beberapa dialek di kalangan umat Islam dalam
membaca al-Qur’an. Oleh sebab itu, diperlukan kaidah-kaidah tentang tata cara
membaca al-Qur’an. Untuk mempelajari bacaan al-Qur’an, Umar bin Khathab telah
mengutus Muadz bin Jabal ke Palestina, Ibadah bin al-Shamit ke Hims, Abu Darda’ ke
Damaskus, Ubai bin Ka’ab dan Abu Ayub tetap di Madinah.15

3. Ilmu Tafsir
Ilmu Tafsit diperlukan dalam rangka memahi ayat-ayat al-Qur’an. Sahabat menafsirkan
al-Qur’an pada masa Khulafa al-Rasyidun sesuai dengan apa yang mereka dengarkan
dari Rasulullah. Artinya pada masa ini belum dikenal tafsir bi al-ra’yi. Inilah tahap awal
munculnya Ilmu Tafsir. Beberapa sahabat telah ada yang menafsirkan al-Qur’an, sesuai
dengan yang mereka terima dari Rasulullah. Di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib,
Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Ka’ab.16

4. Ilmu Hadits
Ilmu Hadits belum dikenal pada masa Khulafa’ al- Rasyidun ini, tetapi ilmu
pengetahuan tentang hadits Nabi telah tersebar luas di kalangan umat Islam. Rasulullah
melarang sahabat menulis hadits karena dikhawatirkan bercampur baur dengan al-
Qur’an. Sehingga, hadits Rasul pada masa Khulafa’ al-Rasyidun belum dibukukan, baru
ada usaha membukukannya pada masa khalifah Umar bin Abd al-Aziz. Pada masa
khalifah Umar terdapat beberapa sahabat yang diperintahkan beliau untuk menyebarkan
hadits ke wilayah-wilayah Islam, seperti Abdullah bin Mas’ud ke Kufah, Ma’qal bin
Yasar ke Basrah, Ibadah bin Samit dan Abu Darda’ ke Syria.17

15
Dirjen Depag., Sejarah dan Kebudayaan Islam, J.1 (Ujung Pandang : Proyek Pembinaan IAIN Alauddin, 1982),
h.86
16
Ahmad Amin., op.cit., h.202
17
Dirjen Depag., op.cit., h.104
5. Ilmu Nahwu
Ilmu nahwu lahir dan berkembang di Basrah dan Kufah, karena di dua kota tersebut
banyak tinggal kabilah Arab yang berbicara dengan bermacam dialek bahasa. Selain
orang Arab, terdapat juga orang-orang Persia. Untuk itu, perlu disusun tata bahasa
mempelajari bahasa Arab. Ali bin Abi Thalib adalah Pembina dan penysun pertama
dasar-dasar Ilmu Nahwu.18

6. Ilmu Fiqih
Ilmu Fiqih sudah mulai muncul pada masa Khulafa’ al-Rasyidun karena wilayah Islam
semakin luas, semakin banyak permasalahan yang dihadapi umat Islam yang
memerlukan ketetapan hukum. Beberapa sahabat ada yang mempunyai keahlian dalam
bidang fiqih ini, seperti Umar bin Khathab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit tinggal
di Madinah, Abdullah bin Abbas tinggal di Makkah, Abdullah bin Mas’ud tinggal di
Kufah, Anas bin Malik tinggal di Basrah, Muadz bin Jabal tinggal di Syria, dan
Abdullah bin Amr bin ‘Ash tinggal di Mesir.19

7. Ilmu Arsitektur
Ilmu arsitektur pertama dalam Islam adalah arsitektur masjid, kemudian baru ada
arsitektur kota, selanjutnya arsitektur bangunan. Bangunan dalam seni arsitektur
masjid pada masa Khulafa’ al-Rasyidun adalah:
a. Masjid Kuba, pada mulanya didirikan oleh Rasulullah dalam perjalanan hijrah,
sebelum sampai di Madinah beliau mendirikan masjid tersebut dan belum
mempunyai nilai seni. Karena dindingnya hanya terdiri dari tanah liat yang
dikeraskan dan atapnya terdiri dari pelepah-pelepah daun korma. Masjid ini
diperbaharui dan diperbaiki kembali pada masa Khulafa’ al-Rasyidun.
b. Masjid al-Haram adalah satu dari tiga masjid yang paling mulia dalam Islam.
Pada mulanya masjid ini dibangun disekitar Ka’bah oleh Nabi Ibrahim. Kalifah
Umar mulai memperluas masjid yang masih sederhana
c. Masjid Al-Atik adalah masjid yang pertama kali didirikan di Mesir (21 H), terletak
di utara benteng Babylon, berukuran 50 x 30 hasta. Masjid ini tidak bermihrab,
mempunyai tiga pintu dan dilengkapi dengan tempat berteduh para musafir.20
perkotaan dalam Islam.

Bangunan dalam seni arsitektur kota pada masa Khulafa’ al-Rasyidun adalah:

18
A.Hasjmy, op.cit., h.104
19
Dirjen Depag, op.cit., h.87
20
Siti Maryam, dkk., op.cit., h.62
1. Basrah dibangun pada tahun 14-15 H. Dengan arsiteknya Utbah bin Ghazwah,
dibangun dengan mempekerjakan 800 tukang. Lokasinya ditentukan sendiri oleh
Umar bin Khathab, kira-kira 10 mil dari sungai Tigris. Untuk memenuhi keperluan
air bagi penduduk, saluran air dibuat dari sungai menuju kota.
2. Kufah dibangun di bekas ibu kota kerajaan Arab sebelum Islam, yaitu Manadzir,
kira-kira 2 mil dari sungai Efhrat pada tahun 17 H. Pembangunannya dipercayakan
kepada sahabat Salman al-Farisi dan kawan-kawan. Itu sebabnya Arsitek asal
Persia ini memperoleh dana pension selama hidupnya21
3. Fusthah dibangun pada tahun 21 H. Kota ini dibangun disebabkan khalifah Umar
tidak menyetujui usul Amr bin ‘Ash untuk menjadikan kota Iskandariyah sebagai
ibu kota propinsi Mesir, karena letaknya dibatasi sungai Nil dengan Madinah
sehingga menyulitkan hubungan dengan pemerintahan pusat. Fusthah dibangun di
sebelah timur sungai Nil dilengkapi dengan bangunan-bangunan gedung.22

2.5. Masa Pemerintahan Bani Ummayah

Masa Umayah di Timur (661-680)


Hampir semua sejarawan membagi dinasti Umayah (umawiyah ) menjdi dua
yaitu :
1. Dinasti umayah yang di rintis dan didirikan oleh muawiyah ibn abi sofyan yang
berpusat di damaskus (siria).fase ini berlangsung sekitar satu abad dan mengubah
system pemerintahan dari system khalifah pada system mamlakat (kerajaan atau
monarik ) .
2. Dinasti umayah di Andalusia (sirebia) yang pada awalnya merupakan wilayah
taklukan umayah di bawah pimpinan seorang gubernur pada zaman walid ibn abd
Al-malik :kemudian menjadi kerajaan yang terpisah dan kekuasaan dinasti bani
abbas setelah berhasil menaklukan dinasti umayah di damaskus.

Perintisan Dinasti Umayah dilakukan oleh Muawiyah dengan cara menolak membaiat
Ali, berperang melawan Ali, dan melakukan perdamaian (tahkim) dengan pihak Ali
yang secara politik sangat menguntungkan Muawiyah.

21
Ibid., h.63
22
Israr, op.cit., h.92 -93
Keberuntungan Muawiah berikutnya adalah keberhasilan pihak Khawarij membunuh
Khalifah Ali r.a. jabatan Khalifah setelah Ali r.a. wafat, dipegang oleh putranya , Hasan
Ibn Ali selama beberapa bulan.

Pada masa itu, umat Islam telah bersentuhan dengan peradaban Persia dan Bizantium.
Oleh karena itu, Muawiyah juga bermaksud meniru sukses kepemimpinan yang ada di
Persia dan Bizantium, yaitu Monarki (Kerajaan).

1. Pola Administratif Pemerintahan Umayah

Khalifah Muawiyah mendirikan suatu pemerintahan yang terorganisasi dengan


baik. Ketika Muawiyah menjadi penguasa terjadi banyak kesulitan . Pemerintahan
Imperium yang didesentralisasikan itu tanpak kacau . munculnya berbagai
anarkisme dan ketidak disiplinan kaum nomad yang tidak lagi dikendalikan oleh
ikatan agama dan moral menyebabkan ketidakstabilan dimana-mana dan hilangnya
kesatuan.

Pemerintahan Bani Umayah dinisbatkan kepada Umayah bin Abd Syams bin Abdi
Manaf. Muawiyah melaksanakan perubahan-perubahan besar dan menonjol dalam
pemerintahan Negara itu. Angkatan daratnya kuat dan efisien. Dia dapat
mengandalkan pasukan orang-orang siria yang taat dan setia, yang tetap berdiri di
sisinya dalam keadaan yang paling berbahaya sekalipun.

2. Ekspansi Pada Masa Umayah


Secara umum, penaklukan Pemerintahan Bani Umayah , meliputi tiga wilayah .
pertama, melawan pasukan Romawi di Asia Kecil . penaklukan ini sampai dengan
pengepungan Konstantinopl dan beberapa kepulauan di laut Tengah. Kedua ,
Wilaya Afrika Utara , penaklukan ini sampai ke samudra Atlantikdan menyebrang
ke gunung Thariq hingga ke Spanyol. Ketiga , Wilaya Timur. Penaklukan ini
sampai ke sebelah timur irak. Kemudian , meluas ke wilayah Turkistan di Utara, ke
wilayah sindh di bagian selatan .

Secara operasional , ahmad Al-Usairy menjelaskan lekak-likuk penaklukan


tersebut bahwa ke wilayah Romawi (Turki) ketika itu selalu dilakukan pengintaian
dan ekspedisi ke sana. Tujuan nya adalah melakukan Konstantinopel . Kota itu di
kepung pada tahun 50H/670M dan tahun 53-61/672-680 M namun tidak berhasil
di taklukan Muawiyah membentuk pasukan laut yang besar yang siaga di laut
tengah dengan kekuatan 1.700 kapal .dengan kekuatan itu dia berhasil menaklukan
pulau Jabra di Tunisia pada tahun 49 H /669 M ,.kepulauan Kreta pada tahun 55 H/
680 M .

3. Peradaban Pada Masa Umayah Timur


A. Penyempurna Tulisan Al-Qur’an
Menurut salah satu riwayat , ulama pertama yang memberikan baris dan titik
pada huruf-huruf Al-Qur’an adalah hasan Al-Basri (642-728 M ) atas perintah
Abd Malik Ibn Marwan (yang menjadi khalifah antara 685-705 M.

Abd Malik Ibn Marwan mengintruksikan kepada Al-Hajjaj untuk


menyempurnakan tulisan Al-Qur’an : Al-Hajjaj meminta Hasan Al-Basri
untuk menyempurnakannya dan Hasan Al-Basri di bantu oleh Yahya Ibn
Ya’mura. Dalam Riwayat lain dikatakan bahwa yang pertama membuat baris
dan titik pada huruf huruf Al-Qur’an adalah Abu Al-aswad Ad-Dawuli .

B. Penulisan Hadis
Umar Ibn Abd Al-Aziz adalah khalifah yang memelopori penulisan (Tadwid)
Hadis Beliau memerintahkan kepada Abu Bakar Ibn Muhammad Ibn Amr Ibn
Hajm (120 M) , Gubernur Madinah , untuk menuliskan hadis yang ada dalam
hafalan –hafalan penghafal hadis .

Atas perintah khalifah , pengunpulan hadis dilakukan oleh ulama ,di antaranya
adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Muslim Ibn Ubaidillah Ibn Syihab Az-
Zuhri (guru Imam Malik ) Akan tetapi , buku hadis yang di kumpulkan oleh
Imam Az-Zuhri tidak diketahui dan tidak sampai kepada kita . Dalam sejarah
tercatat bahwa ulama yang pertama membuktikan hadis adalah imam Az-zuhri

4. Aliran –Aliran Keagamaan Pada Masa Umayah


A. Khawarij
Khawarij adalah kaum yang mendesak ali untuk menghentikan peperangan pada
perang siffin dan menjalankan proses hokum melalui Al-Qur’an . namun
kemudian menolak hasil perundingan antara pihak ali dan muawiyah .setelah itu
mereka melakukan pemberontakan di harura dan melakukan kerusakan di muka
bumi .

Orang –orang khawarij adalah manusia –manusia kampungan yang kaku , keras
kepala , dan menginginkan manusia hanya ada dalam dua kubu yaitu kafir dan
mukmin .
B. Murji’ah
Murji’ah secara bahasa murjiat berasal dari kata al-irja (mengakhirkan )arti
pertama relavan dengan khawarij karena pandangan yang mereka gunakan
yaitu maksiat tidak akan merusak iman dan taat tidak akan bermanfaat bagi
kekafiran . makna kedua relavan dengan Khawarij karena tidak mau
menentukan hokum bagi yang melakukan dosa besar di dunia ini apakah ia
akan di tempatkan di surga atau di neraka dan sebagai antisetis dari Syi’ah
yang menempatkan Ali sebagai sahabat Nabi Muhammad SAW.

C. Aliran Fiqh
Dalam (analisis Nurcholish Madjid) , di bawah pimpinan Khalifah Muawiyah.
Masa kekhalifahanya disebut Ibn Taymiyyah sebagai permulaan masa
kerajaan dengan rahmat (Al-Mulk Bi Al-Rahmah). Pada saat itu, kaum
muslimin dapat di katakana kembali pada keadaan , seperti pada zaman Abu
Bakar dan Umar zaman(Asy-Syaykhani, “dua tikoh”) yang amat di rindukan
banyak orang , termasuk para akitvis militant yang membunuh Utsman (dan
yang kemudian (ikut)mensponsori pengangkatan Ali, namun akhirnya
berpisah dan menjadi golongan Khawarij) .

PENDIRIAN UMAYAH DI ANDALUSIA (705-1031 M.)

Andalusia adalah nama bagi Semenanjung Iberia pada zaman kejayaan Umayah.
Andalusia berasal dari Vandal , yang berarti negeri bangsa Vandal ; karena Semenanjung
Iberia pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum terusir oleh bangsa Ghotia Barat(
abat ke 5 M). Umat Islam mulai menaklukkan Semenanjung Iberia pada zaman Khalifah
Al-Walid Ibn Abd Al-Malik (86-96 H. /705-715 M .).

Dari sisi operasional, pengintaian pertama dilakukan pada bulan Juli 710 M. Ketika
Tharif, orang kepercayaan Musa bin Nushari, gubernur terkemuka di Afrika Utara pada
priode Umayah, mendarat di Semenanjung kecil-membawa balatentara kekuataan seratus
pasukan Kavaleri dan empat ratus pasuka Infanteri- yang terletak hamper di ujung paling
selatan benua Eropa.

Dengan kekuatan tambahan , Thariq yang mengepalai 12.000 pasukan, pada 19 Juli 711
M., berhadapan dengan pasukan raja Roderick dimulut sungai Barbate di pesisir Laguna
Janda: Roderick berhasil naik tahta setelah menggulingkan pendahulunya , putra Witiza.
Kendati berjumlah 25.000 orang, tentara Gotik Barat bias dikalahkan karena adanya
penghianatan dari tentaranya . akhirnya, Thariq bin Ziyad berhasil menguasai hampir
seluruh kota yang ada di semenanjung Iberia atas bantuan Musa bin Nusyair.

2.6. Islam di Andalusia


A. PENDAHULUAN
Sebelum Islam masuk ke Spanyol, sekitar abad ke-5 M. Bangsa Jerman mendatangi
Semenanjung Iberia. Theodoric, Raja Ostogoth, mendirikan istananya di Toledo
sekitar tahun 513 M. Kemudian, pada tahun 569 M, Leovigildo, seorang Raja
Visigoth, menjadikan Toledo sebagai ibukota kerajaan Visigoth Spanyol. Sejak itulah,
Toledo mengalami kejayaan yang pertama . Pada tahun 689 M. Raja Recaredo
menjadikan Katholik sebagai agama resmi di Spanyol .

Pada awal abad ke-8 M. para pedatang baru berdatangan kedarataan Eropa (Spanyol).
Pendatang tersebut adalah bangsa arab yang membawa agama Islam . sejak ekspansi
Bani Umayah Spanyol menjadi bagian wilayah kekuasaan Islam (Ira M. Lapidus,
1993; 3790). Umat Islam berkuasa di Spanyol hampir delapan abad , yaitu dari tahun
711-1942 M .

B. SEJARAH SINGKAT PERLUASAN ISLAM ATAS SPANYOL


Sebelum menaklukkan Spanyol, umat Islam terlebih dahulu menguasai Afrika Utara
dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari Dinasti Bani Umayah.
Ekspansi umat Islam ke Spanyol terjadi pada masa Al-Walid menjabat khalifah. Al-
Walid mengizinkan gubernurnya untuk mengirimkan pasukan militer ke Spanyol.
Pada awalnya Musa bin Nusair mengutua Tharif bin Malik untuk memimpin pasukan
ekspedisi yang bertujuan menjaga daerah-daerah sasaran. Musa bin Nusyair
menugaskan Tariq bin Ziyad untuk memimpin pasukan tentara sebanyak 7000 orang.
Thariq berlayar melalui Laut Tengah menuju daratan Spanyol dan berhasil mendarat
di sebuah bukit yang kemudian dinamakan Gibraltar.

Ketika Roderick mengetahui bahwa Thariq dengan pasukannya telah memasuki


negeri Spanyol, ia mengumpulkan pasukan penangkal sejumlah 25.000 tentara.
Menyadari jumlah musuh yang jauh berbeda, Thariq meminta bantuan kepada Musa
bin Nusyair, dan Thariq mendapat tambahan pasukan sebanyak 12.000 tentara.

Pada hari minggu tanggal 18 Juli 711 M, kedua pasukan bertemu di Danau Janda dekat
mulut sungai Barbate. Pertemuan berlangsung selama 8 hari dan kemenangan berada
pada pihak Thariq. Tentara Thariq dalam peperangan itu mendapat bantuan dari
pasukan Roderick yang membelot, Thariq kemudian melakukan penaklukan di
Toledo. Kemudian Archidona dan Granada dapat ditundukkan, dan satu datasemen
yang dipimpin oleh Mughtr Ar-Rumi dapat menaklukkan kota Cordova yang
kemudian dijadikan ibokota pemerintahan Islam.
Setelah Spanyol dan kota-kota yang pentingnya jatuh ke tangan umat Islam, sejak saat
itu secara politik Spanyol berada di bawah kekuasaan Khalifah Bani Umayah.

Ada beberapa faktoryang mendukung proses penguasaan umat islam atas Spanyol :
1. Sikap penguasa Ghotic –sebutan lazim kerajaan Visighotie-yang tidak toleran
terhadap aliran agama yang berkembang saat itu. Penguasa Visighotie
memaksakan aliran agamanya kepada masyarakat. Penganut agama Yahudi
yang merupakan komunitas terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis
dan dibunuh23.
2. Perselisihan antara Raja Roderick dengan Witiza (Wakilkota Toledo)di satu
pihak dan Ratu Julian di pihak lain. Oppas dan Achila, kakek dan anak Witeza,

23
Syed Mahmudunnasir, 1981: 213
menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick, bahkan berkoalisi
denagan kaum muslimin di Afirika Utara. Demikian pula, Ratu Julian , ia
bahkan memberikan pinjaman 4 buah kapal yang di pakai oleh Tharif, Thariq,
dan Musa24.
3. Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah bahwa tentara Roderick tidak
mempunyai semangat perang25.

C. KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN KEBUDAYAAN


Masuknya Islam di Spanyol pada sekitar permulaan abad ke 8 M., telah membuka
cakrawala baru dalam sejarah Islam. Dalam rentang waktu selama kurang lebih tujuh
setengah abad, umat Islam di Spanyol telah mencapai kemajuan yang pesat, baik di
bidang ilmu pengetahuan maupun kebudayaan.

Kemajuan peradaban di Spanyol Islam pada saat ini berimbas pada bangkitnya
renaisans dunia barat pada abad pertengahan sehingga dapat dikatakan bahwa Arab
Spanyol adalah guru bagi Eropa dan Universitas Cordova, Toledo, sedangkan
Seville berfungsi sebagai sumber asli kebudayaan Arab, non-Arab, Muslim, Kristen,
Yahudi, dan agama lain sampai beberapa abad kemudian.

Cordova sebagai ibukota Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang tinggi
yang dapat menyamai kemasyhuran Baghdad di tmur, dan Kairo di Mesir.

Kemajuan yang di raih umat Islam di Spanyol adalah maju dalam bidang filsafat,
sains, bahasa sastra dan musik, sejarah dan geografi, fiqh serta kemajuan dalam
pembangunan fisik.

1. Filsafat
Dalam bidang ini , Spanyol islam telah merintis pembangunannya sekitar abad
ke-9 M. sejak abad ini , minat terhadap Filsafat dan ilmu pengetahuan mulai di
kembangkaan, yakni selama pemerintahan Bani Umayah ke-5, Muhammad Ibn
abd Ar-Rahman (832-886)26.

24
Ahmad Salabi III, 1965; 30
25
Ahmad Salabi, Jilid III, 1965; 30
26
Majid Fahri, 1986;357
2. Sains
Spanyol islam banya melahirkan tokoh dalam lapangan sains. Dalam bidang
matematika, pakar yang sangat terkenal adalah Ibn sina. Dalam bidang Fisika
dikenal seorang tokoh Ar-Razi . dialah yang meletakan dasar ilmu kimia dan
menolak kegunaan yang bersifat takhayul.
3. Bahasa Sastra dan Musik
Bahasa arab dengan ketinggian sastra dan tata bahasanya telah mendorong
lahirnya minat yang besar masyarakat Spanyol. Hal ini dibuktikan dengan
dijadikanya bahasa ini menjadi resmi, bahasa pengantar, bahasa ilmu
pengetahuan, dan administrasi .
4. Sejarah dan Geografi
Dalam bidang sejarah dan geografi, Spanyol islam khususnya wilayah islam
bagian barat telah banyak melahirkan penulis terkenal, seperti Ibn Zubairdari
Valancia, yang telah menulis sejarah tentang negri-negeri muslim Mediterania
serta sisilia . Ibn Al-Khatib(1317-1375 M.)
5. Fiqh
Umat islam Spanyol di kenal sebagai penganut madzhab Maliki. Madzhab ini
diperkenalkan oleh Ziyad Ibn abd Rahman yang selanjutnya dikembangkan
oleh Ibn yahya yang menjadi Qadi pada masa Hisyam Ibn Abd Rahman .
6. Kemajuaan Pembangunan Fisik
Kemajuan pesat pada bidang intelektual tidak melalaikan para penguasa
Spanyol islam untuk memerhatikan pembangunan fisik. Dalam pembangunan
fisik umat islam di Spanyol telah membuat bangunan-bangunan fasilitas,
seperti perpustakaan yang jumlahnya sangat banyak , gedung pertanian,
jembatan-jembatan air, irigasi, roda air, dan lain-lain. Disamping itu , istana-
istana, masjid yang besar-besar dan megah serta tempat pemandian dan taman-
taman yang kesemuanya dipersatukan dalam kota yang di tata dengan teratur27.

Philip K. Hitti menyebutkan bahwa di Cordova terdapat 700 Masjid dan 300
pemandian umum. Kemudian, istana Raja Az-Zahra mempunyai 400 buah ruangan.
Istana megah itu sengaja di bangun di kaki gunung dan menghadap sungai

27
Abd Rochim, 1983; 113
QuadaIquiurr yang di atasnya terdapat jembatan yang melintas sungai tersebut
dengan konstruksi lengkung sebagai penyangga28.

D. KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN


Suatu kebudayaan tentu akan mengalami pasangan surut sebagai mana berputarnya
sebuah roda , kadang diatas kadang dibawah, hal ini tentu telah menjadi hukum
alam, Demikian juga dengan kekuasaan sebuah imperium , satu saat dia muncul ,
berkembang pesat , lalu jatuh dan lilang.

1. Munculnya Khalifah-Khalifah yang Lemah


Masa kejayaan Islam Di Spanyol mulai dari priode Abd. Rahman III yang kemudian di
lanjutkan oleh putranya, yaitu Hakam. Sang penguasa yang cinta ilmu pengetahuan dan
kolektor buku serta pendirian perpustakaan29. Pada masa kedua penguasa tersebut,
keadaan politik dan ekonomi mengalami puncak kejayaan dan kestabilan.
2. Konflik Antara Islam dan Kristen
Setelah menaklukan Spanyol, para penguasa muslim tidak menjalankan kebijakan
Islamisasi secara sempurna. Penduduk Spanyol dibiarkan memeluk agamanya ,
mempertahankan hukum dan tradisi mereka. Penguasa Islam hanya mewajibkan
mereka membayar upeti, dan tidak memberontak. Kebijakan ini ternyata menjadi
bumerang.
3. Munculnya Muluk Ath-Thawaif
Munculnya Muluk Ath-Thawaif (dinasti-dinasti kecil), secara politis telah menjadi
indikasi akan memundurkan Islam di Spanyol, karena dengan terpecahnya kekuasaan
khalifah menjadi dinasti-dinasti kecil, kekuatan pun terpecah-pecah dan lemah .

Melemahnya kekuasaan Islam secara politis telah di baca oleh orang-orang Kristen dan
tak di sia-siakan oleh pihak musuh untuk menyerang imperium tersebut. Pada tahun
1080 M. Al-Fonso dengan tiga kerajaan Kristen (Galicia, Leon, Castile,) berhasil
menguasai Toledoda Bani Dzu An-Nur30. Demikian juga , kerajaan Kristen Aragon

28
Philip K. Hitti, Terjemah : 162
29
K. Ali, 1981; 311
30
Philip K. Hitti, 1974: 555
berhasil merebut Huesea (1096 M. )Saragosa , (1118 M.), Tyortosa (1148 M.), dan
Kenida(1149 M.)31.

Pada tahun 1212 M, penaklukan Las Navas De Tolosa oleh koalisi raja-raja Kristen
mengakibatkan dinasti Al-Muwahiddin yang selama beberapa waktu telah memulihkan
keamanan Negara, stabilitas politik, dan lain-lain harus menarik diri dari Spanyol .

Pada pertengahan abad ke-13, satu-satunya kota penting yang masih dikuasai islam
adalah Granada di bawah pemerintahan Gani Ahmar.
4. Kemerosotan Ekonomi
Di paruh kedua masa islam Spanyol, para penguasa mementingkan pembangunan fisik
dengan mendirikan bangunan-bangunan megah dan monumental . demikian juga,
bidang IPTEK.
5. Sistem Peralihan Kekuasaan Yang Tidak Jelas
Salah satu penyebab kemunduran dan kehancuran satu dinasti adalah perebutan
kekuasaan antara elit penguasa maupun antara putra mahkota. Dari uraian diatas , dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut.
a. Islam masuk Spanyol melalui arab Barbar. Hal ini terkait erat dengan sejarah
penguasanya
b. Spanyol islam dipimpin banyakdaulah yang silih berganti dengan berbagai
karakter dalam rentang waktu yang cukup panjang ;
c. Terlepas dari perbedaan corak kemajuaan yang dicapai oleh setiap pemerintah,
perlu dicatat beberapa hal berikut.
a. Selama berlangsungnya kekuasaan islam di Spanyol telah lahir beberapa
tokoh politik, ilmuan yang telah mengharumkan islam Spanyol, yang
berpengaruh besar atas kemajuan peradaban Eropa sampai saat ini .
b. Adanya kemanuan kehidupan sosial, ekonomi
c. Perkembangan ilmu pengetahuan, kesusatraan, seni, dan arsitektur.

2.7. Peradaban Islam Pada Masa Abbasiyah


A. PERIODESASI MASA ABBASIYAH

31
Ira M, Lapidus, 1993: 384
Para sejarahwan mengklarifikasi peride Abbasiyah berbeda-beda. Al-Khudri, Guru
Besar Ilmu Sejarah dari Universitas Mesir membagi ke dalam 5 masa :
1. Masa kuat-kuasa dan bekerja membangun, berjalan 100 tahun lamanya, dari 132
sampai 232 H.
2. Masa berkuasanya panglima-panglima Turki, berjalan 100 tahun lamanya dari 232
sampai 334 H.
3. Masa berkuasanya Bani Buyah (Buwayhid), berjalan 100 tahun lamanya, dari 334
sampai 447 H.
4. Masa berkuasanya Bani Saljuk (Seljuqiyak), berjalan 100 tahun lamanya, dari 447
sampai 530 H.
5. Masa gerak balik kekuasaan politik khalifah-khalifah Abbasiyah dengan
merajalelanya para panglima perang, selama 125 tahun, dari 530 H. sampai
musnahnya Abbasiyah dibawah serbuan Jengis Khan dan putranya Hulagu Khan
dari Tartar pada tahun 656 H.

Menurut B.G. Stryzewki membagi masa pemerintahan dinasti Abbasiyah menjadi


lima priode, yaitu;
1. Priode pertama (132 H./750M.s,d.232 H./847M.).disebut priode pengaruh Persia
pertama
2. Priode kedua (232 H./874M.s,d.334 H,/945M.). disebut priode pengaruh Turki
pertama
3. Priode ketiga (334 H./945M.s,d.447 H./1105M.), masa kekuasaan dinasti Buwaihi
dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah . priode ini disebut juga pengaruh Persia
kedua;
4. Priode keempat (447H,/1105M.s.d.590H./1195M.), masa kekuasaan dinasti Saljuk
yang bias di sebut masa pengaruh Turki kedua;
5. Priode kelima (590H./1194M.s.d. 656 H ./1258 M.), masa khalifah bebas dari
pengaruh dinasti lain ,tetapi kekuasaanya hanya efektif di Baghdad .

B . PENDIRIAN BANI ABBAS (750-857M.-132-232 H.)


Babak ketiga dalam drama besar politik Islam di buka oleh Abu Al-Abbas (750-
754) yang berperan sebagai pelopor. Irak menjadi punggung drama besar itu.
Dalam khotbah penobatanya, yang disampaikan setahun sebelumnya di masjid
Khufa, khalifah Abbasiyah pertama itu menyebut dirinya As-Saffih, penumpah
darah, yang kemudian menjadi julukanya, julukan itu merupakan pertanda buruk
karena dinasti yang buruk muncul ini mengisaratkan bahwa mereka lebih
mengutamakan kekuatan dalam menjalankan kebijakannya. As-saffah menjadi
pendiri dinasti arab Islam ketiga–setelah Khulafa Ar-Rasyidun dan dinasti
Umayah–yang sangat besar dan berusia lama. Dari 750 M. hingga 1258 M..sebagai
ciri khas keagamaan dalam istana kerajaannya, dalam berbagai kesempatan
seremonial, seperti ketika dinobatkan sebagai khalifah dan pada salat Jumat’
khalifah mengenakan jubah (burdah) yang pernah dikenakan oleh saudara
sepupuhnya, Nabi Muhammad. Akan tetapi, masa pemerintahanya, begitu singkat,
As-Saffah meninggal (754-775). Karena penyakit cacar air ketika berusia 30-an.

Masa kejayaan Abbasiyah terletak pada khalifah setelah As-Saffah. Penulis Philip
K. Hitty mengatakan bahwa masa keemasan Abbasiyah terletak pada 10 khalifah,
kesepuluh khalifah tersebut adalah As-Saffah (750), Al-Mansur (754), Al-Mahdi
(775), Al-Hadi (785), Ar-Rasyid (786), Al-Amin (809), Al-Ma’mun (813), Al-
Mu’tashim (833), Al-Watsiq (842), dan Al-Mutawakkil (847).

C . KEMAJUAN MASA ABBASIYAH


Masa ini adalah masa kejayaan umat Islamsebagai pusat dunia dalam berbagai
aspek peradaban. Kemajuan itu hampir mencakup semua aspek kehidupan yaitu :
1. Administratif pemerintahan dengan biro-bironya
2. Sitem organisasi militer
3. Administrasi wilayah pemerintahan
4. Pertanian, perdagangan dan industri
5. Kajian dalam bidang kedokteran, astronomi, matematika, geografi,
historiografi, filsafat Islam, teologi, hukum (fiqh) dan etika Islam, sastra,
seni, dan penerjemahan
6. Pendidikan, kesenian, arsitektur, meliputi pendidikan mendasar (kuttab),
menengah,
dan perguruan tinggi, perpustakaan, dan toko buku, media tulis, seni rupa,
seni musik dan arsitek.

D. KEMUNDURAN DINASTI ABBASIYAH


Faktor-faktor penyebab kemunduran:
 Faktor intern:
1. Kemewahan hidup di kalangan penguasa
2. Perebutan kekuasaan antara keluarga Bani Abbasiyah
3. Konflik keagamaan
 Faktor ekstern:
1. Banyaknya pemberontakan
2. Dominasi bangsa Turki
3. Dominasi bangsa Persia.32

2.8. Peradaban Islam Pada Masa Daulah Fatimiyah


2.8.1 Sejarah Daulah Fatimiyah di Mesir

Islam masuk Mesir pada masa pemerintahan Ummar bin Khatab, pada saat
itukhalifah memerintahkan tentara untuk membawa tentara islam menduduki
Mesir, karena Palestina yang saat itu sudah ditaklukkan oleh tentara islam tidak
aman tanpa menduduki Mesir yang berbatasan langsung.

Setelah berhasil menaklukkan Mesir Amr ibn Ash diangkat menjadi gubernurnya
dan menjadikan Futsah (dekat Cairo) menjadi ibu kotanya. Selanjutnya Daulah
islamiyah silih berganti menduduki Mesir antara lain, Daulah Umayyah, Daulah
Abbasiyah dan Daulah Fatimiyah (909 – 1171), yang ditandai dengan berhasilnya
didirikan salah satu universitas tertua di dunia Al-Azhar pada tahun 972 M, lalu
ada Daulah Ayubiyah (1174 – 1250) yang ditandai dengan serangan tentara
Perang Salib ke Mesir, Daulah Mamluk (1250-1517) yang dibawah pimpinan
Khalifah Baybas (1260) dapat membendung serangan mongol yang hendak
menguasai Mesir. Selanjutnya Mesir menjadi bagian dari Kerajaan Turki
Utsmani. 33

Di abad modern, Mesir berada di bawah penjajahan Barat, pada tahun 1798
tentara Napoleon mendarat di Mesir, tanpa mendapat perlawanan berarti dari

32
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam
33
Tim Penulis, Ensiklopedi Islam, Jilid 3, Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve,2001, j.227.
umat islam. Inggris mulai campur tangan di pemerintahan Mesir tahun 1882 dan
Mesir merdeka dari Inggris tahun 1992.34

2.8.2 Awal Pembentukkan Pemerintahan

Menjelang akhir abad ke-10 kondisi Daulah Abbasiyah sudah mulai memasuki
proses disintegrasi karena daerahnya yang cukup luas sudah tidak
terkonsolidasikan. Kondisi inilah yang membuat peluang munculnya Daulah-
Daulah kecil di daerah yang membebaskan diri dari pemerintahan pusat,
terutama bagi gubernur dan Khalifahnya yang sudah memiliki pasukan sendiri.
Salah satunya adalah Daulah Fatimiyah.

Kemunculan Daulah ini seperti yang dikatakan JJ. Sounders yang dikutip oleh
Catur Prasetyo adalah diakibatkan oleh tuntutan Imamah sebagai Khalifah atau
pengganti Rasulullah setelah wafat. Lebih jauh ia mengatakan gerakan Syi’ah
tersebut merupakan sebuah protes politik terhadap penguasa dan sebagai
tandingan bagi penguasa dunia Islam pada saat itu yang terpusat di Baghdad.
Protes politik tersebut dilakukan dengan jalan konfrontasi, sehingga para
penguasa (Mu’awiyah dan Abbasiyah) tidak ragu-ragu membunuh keluarga Ahl
al-Bayt dan mengintimidasi para pengikutnya.35

Hubungan antara daulah Abbasiyah dan sekte syi’ah selalu dalam kondisi
konflik, karena Daulah Abbasiyah pernah mengkhianati Syia’ah, maka sekte
Syi’ah bersikap oposisi terhadap pemerintahan Abbasiyah. Akibatnya, orang-
orang Syi’ah selalu berada dalam kejaran Daulah Abbasiyah, dan akhirnya pada
masa Khalifah al-Hadi, Imam Idris Ibn Abdullah beserta pengikutnya melarikan
diri ke Maroko dan mendirikan Daulah Idrisiyah tahun 172H.

Imam Abdullah As-Syi’i (Imam Syi’ah) termasuk orang yang akan ditangkap
oleh Daulah Abbasiyah sehingga dia melarikan diri dari Baghdad dan berhasil
sampai ke desa Salmajah dekat Syiria dan menetap disana. Kemudian dia
menjadikannya sebagai markas dakwah orang-orang Syi;ah. Tidak lama
menetap di Salmajah dia melanjutkan perjalanannya le Maroko.36

34
Ibid., h.228.
35
JJ. Sounders, A History of Medival Islam (London: Redwood Book, 1981),.125. lihat juga, Philip K. Hitti,
Hirtory of The Arabs, terj. (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006)
36
Ali Husin Al-Karbutali, Al-Islam wa Al-Khilafah, Bairut : Daul Bairut, 1969, h.171
Setibanya di Maroko dia menyerukan kepada penduduk Maroko agar melantik
Ubaidillah Al-Mahdi menjadi pemimpin mereka yang saat itu masih berada di
desa Salmajah. Tawaran tersebut diterima dan Ubaidillah Al-Mahdi diminta
datang ke Maroko, namun kedatangannya diketahui Daulah Abbasiyah dan dia
ditangkap tahun 296 H.

Abdullah As-Syi’i berusaha mengumpulkan kekuatan untuk membebaskan


Ubaidillah Al-Mahdi dari penjara. Mendengar adanaya pasukan besar gubernur
Daulah Abbasiyah untuk Afrika melarikan diri, dan hal itu memberikan
kesempatan pada Ubaidillah Al-Mahdi untuk bebas dari penjara dan dilantik
pendukungnya menjadi pemimpin mereka dan akhirnya berdirilah Daulah
Fatimiyah pada tahun 297 H / 909 M.37

Mulanya pusat ibu kota Daulah Fatimiyah berada di Maroko untuk menghindari
pengejaran Daulah Abbasiyah, karena letak Maroko yang jauh dari jangkauan
Baghdad sehingga khalifah Daulah Abbasiyah tidak bisa berbuat apa-apa.
Tetapi setelah kekuatan mereka semakin besar mereka pindah ke Mesir untuk
mempermudah pengaruh ke timur dan barat karena letak Mesir berada di anatar
keduanya, terlebih dari itu mereka ingin membebaskan kawasan ini dari
kekuasaan Daulah Abbasiyah.

Daulah ini diberi nama “Fatimiyah” karena dibangsakan kepada Fatimah putri
Rasulullah SAW, sebab mereka mengaku masih keturunan Nabi Muhammad
SAW melalui Ali dan Fatimah. Mereka adalah sekte Syi’ah Isma’iliyah. 38

Daulah ini berkuasa selama kurang lebih 262 tahun, diperintah oleh 12 orang
khalifah. Dengan pembagiaan tiga periode yaitu pertumbuhan, kejayaan dan
kemajuan kemudian masa kemunduran.

2.8.3 Masa Pertumbuhan Pemerintahan

Masa pertumbuhan terjadi pada masa pemerintahan Ubaidillah Al-Mahdi (909-


934), Al-Qaim (934-946) dan Al-Mansur (946-953) pada masa ini ibu kota
masih berada di Maroko.

37
Ibid., h.173
38
Hamka, Sejarah Umat Islam, jilid 2, Jakarta: Bulan Bintang,1975, h.185.
Tidak lama setelah berdirinya Daulah Fatimiyah, Abdurrahman III yang
memerintah Daulah Ummyah di Spanyol tidak mau lagi memakai gelar Sultan
dan memproklamirkan diri dengan gelar Khalifah di Cordova setelah
memahami kelemahan Khalifah Abbasiyah di Bhagdad.39

Saat itu terdapat tiga Khalifah dalam dunia islam yang satu sama lainnya tidak
saling berhubungan di bidang politik tetapi berhubungan di bidang ilmu
pengetahuan.

Dalam perkembangannya Daulah Fatimiyah ingin memindahkan ibu kota ke


Mesir , sementara Daulah Abbasiyah ingin mempertahankan Mesir. Maka
selama dua puluh tahun pertama berdirinya Daulah Fatimiyah terjadi
pergolakkan antara mereka dan Daulah Abbasiyah untuk memerebutkan
Mesir.40

Pada 301 H, setelah empat tahun Ubaidillah Al-Mahdi memimpin, dia


mengirimkan pasukan dalam usaha hendak merebut Mesir. Pasukkan mereka
berhasil menanklukkan kota Iskandariyah. Namun Khalifah Daulah Abbasiyah
mengirim pasukkan dalam jumalh besar yang berhasil mengalahkan pasukan
Daulah Fatimiyah sehingga mereka terpaksa harus mundur. Dengan membawa
bibit permusuhan yag semaikn membara.41

Enam tahun kemudian Ubaidillah Al-Mahdi kembali mengirim pasukkan yang


kali ini berhasil menaklukkan Iskandariyah dan Al-Jarirah, tetapi Daulah
Abbasiyah kembali mengrimkan pasukkan yang lebih besar lagi, kali ini Daulah
Abbasiyah kembali mengalahkan pasukan Daulah Fatimiyah dan membakar
kapal-kapal meereka. Pasukan Daulah Fatmiyah kembali harus mundur ke
Maroko.

Usaha ketiga dilakukan pada tahun 321 H. Pertempuran sengit kembali terjadi
selama 3 tahun diantara kedua pasukan tersebut, saat peperangan tersebut
Ubaidillah Al-Mahdi wafat dan digantikkan oleh anaknya al-Qasim. Percobaan

39
Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, Bandung: Rosda Bandung, 1988, h.302
40
Ali Husin Al-Karbutali, op.cit., h.175.
41
Ibid., h.176
ketiga ini kembali gagal karena Daulah Abbasiyah mendapat bantuan dari
Daulah Ikhsyad yang dulu pernah berkuasa di Mesir.

Gagalnya ketiga usaha ekspansi tersebut dikarenakan Daulah Fatimiyah kurang


memperhatikkan situasi keamanan dalam negeri terlebih dahulu sebab
keberhasilan ekspansi ditetukan oleh stabilitas kaeamanan dalam negeri atau
rapuhnya kondisi sosial ekonomi negara sasaran.

2.8.4 Masa Kejayaan


Setelah al-Mansur meninggal dunia pada hari Jum’at akhir Shawal 341H/952
M., ia digantikan putranya, Abu Tamim Ma’ad dengan gelar al-Mu’izz li Din
Allah. Penobatan al-Mu’izz sebagai khalifah keempat menandai era baru
Dinasti Fatimiyyah, karena di samping pusat pemerintahan sudah berpindah dari
al-Mahdiyah ke al-Qahirah (Kairo) yang dibangun oleh panglima perangnya,
Jauhar al-Siqilli (al-Saqali)42 setelah menguasai ibu kota Fustat sebagai lambang
kemenangan dan dilanjutkan membangun Masjid al-Azhar setelah Mesir dapat
ditaklukannya pada bulan Pebruari 969 M./Rabi’ al-Akhir 358 H., juga
keberhasilan dalam ekspansi kekuasaan yaitu ke Maroko, Sycilia, Palestina dan
Suriah Damaskus serta mampu mengambil penjagaan atas tempat-tempat suci
di Hejaz.43

Dari sumber lain disebutkan bahwa Al-Mu’izz li Din Allah merupakan khalifah
Fathimiyah yang paling besar. Ia berhasil membawa rakyat damai dan makmur,
di samping wilayahnya yang semakin dapat diperluas. Setelah melakukan
konsolidasi ke dalam, hingga mendapatkan pengakuan sukses dari rakyat, ia
baru melakukan perluasan wilayah. Tidak lama ia dapat menguasai Maroko dari
Bani Umayyah di Spanyol dengan pimpinan panglima Jauhar al-Shaqilli,
selanjutnya ia mengutus Hasan ibn Ali merebut wilayah pantai Spanyol, tetapi
justru Abdurrahman III dari Spanyol menyerbu wilayah Susa’.

42
Ali Mufrodi, Islam di Kawasan, 117

43
Philip K.Hitti,Hirtory,790. lihat,Hasan Ibrahim ,Ta>rikh al-Dawlah,92,dan140. lihat juga, Hasan Ibrahim
Hasan, Ta>rikh al-Isla>mi,136. lihat juga, Ajid Thohir, Perkembangan,114
Sementara Romawi memanfaatkan situasi dengan menyerbu Crete pada 967 M.
yang semula dikuasai oleh Islam sejak AI-Makmun. Namun, Fathimiyyah
berhasil mengambil Sicilia dari kekuasaan Bizantine, kemudian membangun
Universitas kedokteran yang sama besarnya dengan universitas-universitas di
Cardova.

Prestasi politik Muiz yang paling besar adalah penaklukkan Mesir. Penaklukkan
kota Fustat (Kairo Lama) tanpa perlawanan berarti pada 969 M. oleh panglima
Jauhar al-Shaqili. Pada saat itu di Mesir sedang terjadi bencana kelaparan hebat
sehingga tanpa kesulitan, Mesir jatuh ke tangan Jauhar. Meski pada saat itu
seorang pangeran Ikhsidi secara resmi masih berkuasa tapi rezim Ikhsidiyah
sudah tidak berfungsi lagi dan tidak memberikan perlawanan pada Jauhar.44
Nama khalifah Abbasiyah serta merta dihilangkan dari doa ibadah Jum`at,
walau cara-cara ibadah Isma`iliyah hanya dimasukkan secara bertahap. Jauhar
segera membangun kota ini menjadi kota baru dengan nama Qahirah (Kairo)
yang artinya kota kemenangan. Sejak 973 kota ini dijadikan sebagai kediaman
imam atau khalifah Fatimiyyah dan pusat pemerintahan (ibukota
Fathimiyyah).45 Selanjutnya, Mu’iz mendirikan masjid Al-Azhar yang
kemudian beralih menjadi Universitas Al-Azhar yang berkembang hingga
sekarang.46 Selain memindahkan ibu kota ke Kairo dan membina Universitas
Al-Azhar, Muiz juga menyebarluaskan ideologi Fatimiyyah yaitu Syi’ah, ke
Palestina, Syiria dan Hijaz.47

44
Montgomery Watt, W. Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis. 1990. Cetakan pertama.
Yogyakarta: Tiara Wacana. h. 216.
45
Ibid.
46
Seperti nama kedinastiannya, nama Jami’ Al-Azhar dinisbahkan kepada nama julukan dari Fatimah, putri
Rasulullah saw, yaitu “Az-Zahra”. Ada juga yang berpendapat bahwa nama Al-Azhar mempunyai makna
“cemerlang” yang diambil dari kata “zuhra” atau “zahrah” (planet Venus). Selanjutnya, dengan nama tersebut
diharapkan Jami’ Al-Azhar dapat bersinar cemerlang dan menyinari kehidupan umat Islam. Paling tidak ada
empat fungsi yang diharapkan dari pembangunan Jami’ Al-Azhar saat itu. Antara lain: pertama, sebagai pusat
peribadatan umat Islam; kedua, sebagai pusat pengembangan sosial religius; ketiga, sebagai sentral pendidikan;
keempat, sebagai pusat kegiatan (politik) pemerintahan Dinasti Fatimiyah (www.
warungbaca.blogspot.com/2008/09/dinasti-fatimiyah.html+dinasti+fatimiyah&cd)
47
Zainal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Ummatnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 109
1. Abu Mansur Nizar al-'Aziz billah (975 M – 996 M).
Abu Mansur Nizar (lahir pada tahun 344 H./954 M.) adalah putra Muiz, ia
menggantikan ayahnya pada bulan Rabi’ al-Awwal 365 H. memasuki tahun
ke-22 dari umurnya dengan gelar al-‘Aziz bi Allah, ia merupakan khalifah
yang paling bijaksana dan pemurah, sehingga mampu membawa rakyat lebih
makmur. Dalam pemerintahannya, ia sangat liberal dan memberi kebebasan
kepada setiap agama untuk berkembang, kerukunan antar umat beragama
terjalin dengan sangat baik, bahkan seorang wazirnya, Isa ibn Nastur
beragama kristen dan Manasah seorang Yahudi menjadi salah seorang
pejabat tinggi di istananya.

Pembangunan fisik dan seni arsitektur merupakan lambang kemajuan


pemerintahannya, ia juga ahli Sya’ir, dalam bidang pendidikan ia mendirikan
The Golden Palace, The Pearl Pavillion dan masjid Karafa, ia juga
meresmikan masjid al-Azhar sebagai al-Jami’ah/Universitas dengan
bangunan megah di Kairo. Ia berhasil membawa Fatimiyyah pada puncak
kemajuan. Pada saat pemerintahannya kekuasaanya meliputi wilayah Eufrat
sampai Atlantik, melampaui kekuasaan dinasti Abbasiyah di Baghdad yang
sedang memasuki masa kemunduran di bawah kekuasaan Buwaihiyah.

Meski pada masa pemerintahannya mengalami puncak kejayaan, tetapi salah


satu kebijakan al-Aziz membawa akibat yang cukup fatal yaitu penarikan
orang Turki dan Negro sebagai basis pasukan militer. Hal ini dimaksudkan
untuk menandingi kekuatan Barbar. Ketika kelompok Barbar mulai
menguasai jajaran militer, terjadilah persaingan antar ras di tubuh militer
Fatimiyyah yang pada gilirannya jadi salah salah satu faktor kemunduran
Fatimiyyah. Pada masa-masa belakangan militer Turki semakin besar
kekuatannya dan ketika kekuatan Fatimiyyah mulai melemah, unsur-unsur
militer mendirikan dinasti-dinasti yang merdeka. Al-Aziz meninggal pada
tahun 386 H/996 M. dan bersamaan dengan ini dimulailah berakhirnya
kejayaan dinasti Fatimiyyah.
2. Abu 'Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amrullah (996 M- 1021 M).

Al-‘Aziz digantikan oleh anaknya yang bernama Abu `Ali Mansur (lahir
pada bulan Rabi’ al-Awwal 875 H./985 M.) dengan gelar al-Hakim bi
Amrullah yang masih berumur 11 tahun. Selama tahun-tahun pertama, ia
berada di bawah pengaruh gubernurnya yang bernama Barjawan yang
sedang terlibat konflik dengan panglima militer Ibn ‘Ammar, setelah
berhasil menyingkirkan sang panglima, Barjawan menjadi pelaku utama
dalam pemerintahannya meskipun pada tanggal 26 Rabi’ Al-Tsani 390
H./1000 M. Bajarwan dibunuh karena tuduhan penyalah-gunaan kekuasaan
negara. Pemerintahannya ditandai dengan tindakan-tindakan kejam yang
menakutkan, ia membunuh beberapa orang wazirnya, menghancurkan
beberapa gereja, orang kristen dan orang yahudi harus memakai jubah
hitam dan hanya dibolehkan menunggangi keledai, ia mengeluarkan
maklumat untuk menghancurkan seluruh gereja di Mesir dan menyita tanah
serta seluruh harta kekayaan mereka sehingga mereka merasa kehilangan
hak-haknya sebagai warga negara.48

Hakim memerintah selama 25 tahun, prestasi besar dalam pemerintahannya


adalah pembangunan sejumlah masjid, perguruan-perguruan dan pusat
observatorium astrologi, tahun 395 H./1005 M. Ia menyelesiakan
pembangunan Dar al-Hikmah pada tahun 403 H./1013 M. Dar al-Hikmah
berfungsi sebagai akademi yang sejajar dengan lembaga di Cordova dan
Bagdad. Dar al-Hikmah dilengkapi dengan perpustakaan yang bermana Dar
al-Ulum yang diisi dengan bermacam-macam buku dengan berbagai ilmu.
Selain sebagai pusat ilmu, Dar al-Hikmah sekaligus dijadikan sebagai
sarana penyebaran teologi Syi’ah.

Ia juga mendirikan al-Jam’iyyah al-‘Ilmiyyah “Akademia” dari berbagai


disiplin ilmu seperti Fiqh, Mantiq, Filsafat, Matematika, kedokteran dan
lainnya, setelah itu seluruh kitab yang ada di Dar al-Hikmah ia pindahkan

48
http://caturhadiprasetyo.wordpress.com/2012/05/27/dinasti-fatimiyyah.
ke Masjid al-Azhar. Tetapi pada tangaal 13 Februari 1021 M./411 H, Ia
terbunuh di Mukatam, kemungkinan konspirasi yang dipimpin oleh adik
perempuannya yang bernama Sitt al-Mulk yang telah diperlakukan tidak
hormat oleh khalifah.49

2.8.5 Kemajuan Ekonomi


1. Pajak
Mesir dikenal sebagai negara yang kaya dengna hasil pertanian karena
tanah yang subur di dekat lembah sungai nil. Maka pajak pertanian ikut
serta menjadi sumber pendapatan negara. Selain pertanian, peternakan di
Mesir juga merupakan pemasukkan tambahan kas negara.
Pajak yang dipungut oleh perdana menteri Ya’qub ibn Keles menghasilkan
pendapatan yang luar biasa untuk kota Dimyat saja pajak bisa melebihhi
200.000 dinar oer harinya. Hal tersebut belum pernah terjadi di Mesir
sebelumnya. 50
2. Jizyah
Yaitu pungutan yang diwajibkan kepada orang kafir Zimmi yang tinggal di
wilayah islam merdeka lagi baligh, tetapi tidak diwajibkan terhadap wanita
dan anak-anak.
3. Al-Makus
Yaitu pajak bae cukai yang diwajibkan bagi industri.Terdaoat dua cara yang
diterapkan dalam pemungutan bea cukai ini. Pertama, bea sukai yang
dipungut dari barang-barang luar negeri yang datang ke Mesir. Sedangkan
jenis kedua, adalah bea cukai yang diwajibkan pada industri-industri yang
berada di wilayah Mesir.51

2.8.6 Masa Kemunduran

Pada masa kemunduran ini Khalifah yang memimpin diantaranya.

49
ibid
50
Joesoef Sou’yb, op.cit., h.546
51
Ibid., h.550
1. Abu'l-Hasan 'Ali al-Zahir li-I'zaz Dinillah (1021 M - 1036M).
2. Abu Tamim Ma'add al-Mustansir bi-llah (1036 M – 1094 M).
3. Al-Musta'li bi-llah (1094 M – 1101 M).
4. Al-Amir bi-Ahkamullah (1101 M -1130 M)
5. 'Abd al-Majid al-Hafiz (1130 M -1149 M).
6. al-Zafir (1149 M – 1154 M).
7. al-Fa'iz (1154 M – 1160 M).
8. al-'Adid (1160 M – 1171M).

Kemunduran Dinasti Fatimiyah dengan cepat terjadi setelah kekuasaan al-


Aziz. Pengganti al-Aziz, Abu Ali Manshur al-Hakim (996-1021) baru
berumur Sebelas tahun ketika naik tahta. Pemerintahannya di tandai dengan
tindakan-tindakan kejam yang menakutkan. Ia membunuh beberapa orang
wazirnya, menghancurkan beberapa gereja Kristen, termasuk di dalamnya
kuburan suci umat Kristen (1009). Dia memaksa umat Kristen dan Yahudi
untuk memakai jubah hitam, dan mereka hanya dibolehkan menunggangi
keledai, setiap orang Kristen diharuskan menunjukkan salib yang
dikalungkan di leher ketika mandi, sedangkan orang Yahudi diharuskan
memasang semacam tenggala berlonceng. Al-Hakim adalah Khalifah ketiga
dalam Islam, setelah al-Mutawakil dan Umar II, yang menetapkan aturan-
aturan yang ketat kepada kalangan non Muslim. Jika tidak, tentu saja
kekuasaan Fatimiyah akan sangat nyaman bagi kalangan Dzimmi.
Maklumat untuk menghancurkan kuburan suci ditandatangani oleh
sekretarisnya yang beragama Kristen, Ibn Abdun, dan tindakan itu
merupakan salah satu sebab utama terjadinya Perang Salib. Akhirnya,
khalifah bermata biru ini mengikuti perkembangan ekstern ajaran Syi‟ah
Ismailiyah, dan menyatakan dirinya sebagai penjelmaan tuhan. Keyakinan
itu diterima dan diakui oleh sekte keagamaan terbaru yang disebut
Druziyah. Nama sekte itu diambil dari nama pendakwa mereka yang
pertama, al-Darazi (1019) yang berasal dari Turki. Pada 13 Pebruari 1021,
al-Hakim terbunuh di Mukatam, kemungkinan oleh persekongkolan yang
dipimpinadik perempuannya Sitt al-Muluk yang telah diperlakukan tidak
hormat oleh Khalifah.52 Karena al-Hakim masih terlalu muda ketika diangkat
menjadi Khalifah, kekuasaan sesungguhnya berada di tangan wazir, yang
kemudian sering mendapat julukan kebangsawanan “al-Malik”. Anak dan
pengganti al-Hakim, yaitu al-Zhahir (1021-1035) berumur enam belas tahun
ketika naik tahta. Khalifah inilah yang mendapatkan izin dari Konstantian VIII
agar namanya disebutkan di masjid-masjid yang berada di bawah kekuasaan
sang Kaisar. Ia juga mendapatkan izin untuk memperbaiki masjid di
Konstantinopel sebagai balasan terhadap restu sang khalifah untuk membangun
kembali gereja yang di dalamnya terdapat kuburan Suci. Pengganti al-Zhahir
adalah anaknya yang sebelas tahun, Ma‟ad al-Muntashir (1035-1094), yang
berkuasa selama hampir enam puluh tahun, sebuah periode kekuasaan
terpanjang dalam sejarah Islam. Pada periode awal kekuasaannya, Ibunya
seorang budak dari Sudan yang dibeli dari seorang Yahudi, menikmati
kekuasaan anaknya dengan leluasa. Sejak saat itu, kekuasaan Dinasti Fatimiyah
mulai menyusut sedikit demi sedikit, bahkan lebih kecil dari Mesir. Pada 1043,
kekuasaan Fatimiyah atas wilayah Suriah, yang memiliki ikatan longgar pada
Mesir, mulai terkoyak dengan cepat.53 Di Palestina sering terjadi
pemberontakan terbuka. Sebuah kekuatan besar yang datang dari Timur, yaitu
Bani Saljuq dari Turki, kini membayang-bayangi wilayah Asia Barat. Pada
waktu yang bersamaan, provinsi-provinsi Fatimiyah di Afrika memutuskan
hubungan dengan pusat kekuasaan, berhasrat untuk memerdekakan diri, atau
kembali kepada sekutu lama mereka, yaitu Dinasti Abbasiyah. Suku Arab
yang sering menyusahkan penguasa, yaitu Banu Hilal dan Banu Sulaim,
yaitu berasal dari kawasan Nejed dan sekarang mendiami dataran tinggi
Mesir, pada 1052 memberontak, dan bergerak sendiri ke bagian Barat,
kemudian menduduki Tripoli dan Tunisia selama beberapa tahun.

Pada 1071, sebagian Barat wilayah Sisilia, yang mengakui kedaulatan


Fatimiyah setelah Aglabiyah, dikuasai oleh bangsa Normandia, yang daerah
kekuasaannya terus meluas hingga meliputi sebagian pedalaman Afrika.

52
Philip K. Hitti, History of The Arab, Terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi (Jakarta: PT
Serambi Ilmu Semesta, 2010), 792.
53
Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik; perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam
(Bogor: Kencana, 2003), 145.
Hanya kawasan semenanjung Arab yang tetap mengakui kekuasaan Syiah.
Disaat itu, hanya ada seberkas cahaya terang dari kesuksesan sementara
yang dicapai di Baghdad oleh seorang panglima dan penakluk Turki yaitu
Al-basasiri (1060). Kota Wasit dan Bashrah menggikuti Baghdad. Kain
surban Khalifah Abbasiyah, yaitu al-Qa‟im (yang bahkan menyerahkan
semua hak ke Khalifahannya kepada lawannya dari Dinasti Fatimiyah)
jubah Nabi, dan sebuah jendela yang indah dari istananya, dibawa Ke Kairo
sebagai hadiah. Surban, jubah dan dokumen–dokumen penyerahan
dikembalikan ke Bahgdad sekitar satu Abad kemudian oleh Shalah Al-Din,
tapi jendela rampasan itu digunakan disalah satu istana hingga sultan
Baybar al-Jasynakir dari Dinasti Mamluk menggunakannya untuk
menghiasi kuburan, tempat Ia di makamkan pada 1309.54 Sejak masa
kekuasaaan Ma‟add Al-Muntashir kekacauan terjadi di mana– mana.
Kericuan dan pertikaian terjadi diantara orang–orang Turki, suku Berber
dan pasukan Sudan. Kekuasaan negara lumpuh. Kelaparan yang terjadi
selama Tujuh tahun telah melumpuhkan perekonomian Negara. Ditenggah
kerisauannya, pada 1073 Khalifah memangil seorang Armenia Badr Al-
Jamali, seorang bekas budak, dari pasukan kegubernuran Akka, dan
memberinya wewenang untuk bertindak sebagai wazir dan panglima
tertinggi. Amir al-Juyusyi (komandan pasukan) yang baru ini mengambil
komando dengan segenap kekuatan yang ia punya untuk memadamkan
berbagai kekacauan dan memberikan nyawa baru pada rezim Fatimiyah.
Tapi keadaan ini tidak berlangsung lama. Usaha Badr maupun anak dan
penerus al-Mustanshir yaitu al-Malik al-Afdhal, yang naik tahta setelah
ayahnya meningal pada 1094, tidak dapat menahan kemunduran dinasti itu.

Tahun–tahun terakhir kekuasaan Fatimiyah ditandai dengan munculnya


perseteruan terus menerus antara para wazir yang didukung oleh kelompok
tentaranya masing–masing. Ketika al-Mustanshir mati, al-Malik al-Afdhal
menempatkan anak Khalifah paling muda sebagai Khalifah dengan julukan
al-Musta‟li dengan harapan bahwa ia akan memerintah di bawah
pengaruhnya. Setelah al-Musta‟li anaknya yang berumur lima tahun,

54
Muhammad Ash-Shayim, Shalahuddin al-Ayyubi: Sang pejuang Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 2003),
30.
dinyatakan sebagai Khalifah oleh al-Afdhal, dan memberinya gelar
kehormatan al-Amir (1101–1130). Ketika al-Hafizh (1130-1149)
meninggal, kekuasaannya benar-benar hanya sebatas istana kekhalifahan.
Anak dan penggantinya, al-Zhafir (1149-1154) masih sangat muda hingga
kemudian kekuasaannya direbut oleh seorang wazir dari Kurdistan Ibn al-
Sallar, yang menyebut dirinya sebagai al-Malik al-Adil. Catatan-catatan
Usamah, yang menghabiskan waktu antara 1144 dan 1154 di istana
Fatimiyah, menunjukkan bahwa tidak ada istana yang bersih dari tipu daya,
permusuhan dan kecemburuan. Pembunuhan Ibn al-Sallar (1153) oleh istri
cucunya Nashr ibn Abbas, yang kemudian dihasut oleh khalifah untuk
menghabisi nyawa ayahnya, Ibn Abbas, pengganti Ibn al-Sallar sebagai
wazir, juga pembunuh misterius al-Zhafir sendiri oleh suatu
persengkongkolan, menorehkan satu bagian paling gelap dalam sejarah
Mesir. Hari kedua setelah meninggalnya Khalifah, Abbas mengumumkan
anak al-Zhafir yang berusia empat tahun, yakni al-Fa‟iz, sebagai khalifah
(1154-1160). Khalifah kecil ini meninggal pada usia sebelas tahun, dan
digantikan oleh sepupunya, al-Adhid yang berumur sembilan tahun. Ia
menjadi khalifah yang ke empat belas dan yang terakhir dalam garis Dinasti
Fatimiyah yang berkuasa selama lebih dari dua abad setengah.55

Al-Mu’tadhid mengirim utusan dari Baghdad dan mengantar surat kepada


Nuruddin. Dalam surat itu ia meminta agar Nuruddin menarik pasukan
tentara Turki dari Mesir. Namun Nuruddin menolak permintaan khalifah
Fatimiyah itu. Ia juga memberitahu Fatimiyah bahwa saat ini Mesir berada
dalam kekuasaan kerajaannya.

Dengan penolakannya itu, makin jelas betapa lemahnya kekhalifahan


Fatimiyah. Bahkan, Shalahuddin al-Ayyubi kemudian mendeklarasikan
kemerdekaan Mesir dari Daulah Fatimiyah. Dengan demikian, khalifah
Fatimiyah tidak lagi memiliki kekuasaan atas Mesir. Hal itu mendorong

Shalahuddin al-Ayyubi untuk mendirikan Daulah Ayyubiyah di Mesir.56

55
Hitti, History of The Arab, 794.
56
Moh. Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun: Menyingkap Sejarah Kegemilangan dan Kehancuran Imperium
Khalifah Islam (Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia, 2012), 121.
Raja Nuruddin di Syam bersepakat dengan Shalahuddin al-Ayyubi untuk
meruntuhkan kekhalifahan Fatimiyah. Namun, Shalahuddin masih
menunda-nunda rencana itu. Ia khawatir jika tindakannya akan
membangkitkan kemarahan rakyat Mesir terhadapnya.

Penundaannya itu membuat Nuruddin berkali-kali mengirim surat untuk


mengingatkan Shalahuddin. Akhirnya, ia mengirim peringatan tegas kepada
Shalahuddin pada musim panas pada tahun 566 H atau 1171 M, untuk
segera melaksanakan rencana mereka.

Shalahuddin akhirnya segera menjalankan rencana itu. Ia menghilangkan


penyebutan nama al-Adhid dan menggantinya dengan Khalifah al-
Mustadhi‟ dari kekhalifahan Abbasiyah. Hal itu ia lakukan saat ia
menyampaikan khotbah Jum‟at. Tiga hari kemudian khalifah al-Adhid
meninggal dunia.

Dengan demikian, punahlah kekhalifahan Fatimiyah yang telah memerintah


negara Islam selama dua abad lamanya. Sebagai gantinya tampillah
kekhalifahan Abbasiyah. Namun, kondisi tersebut belum membuat
Shalahuddin al-Ayyubi tenang. Ia mengambil tindakan untuk mendirikan
Daulah Ayyubiyah.

Tindakannya itu membuat Nuruddin yang berada di Syam marah besar.


Namun Shalahuddin tidak memiliki pilihan lain. Hanya dua pilihan baginya,
yaitu terus menjadi bawahan Nuruddin, yang dapat kapan saja
memindahkan atau memberhentikannya, atau mendeklarasikan daulahnya

sendiri. Dari kedua pilihan itu Shalahuddin memilih tindakan yang kedua.45

2.9. Peradaban Islam Pada Masa Daulah Fatimiyah


2.9.1. Turki Utsmani
Setelah Daulah Abbasyiah di Baghdad, Daulalah Ummayah II di Cordova,
Dualah Ftimiyah dan Daulah Mammalik di Mesir yang berlomba untuk
memajukkan ilmu pengetahuan dan peradaban sehingga berhasil memrikan
sumbangan kepada dunia islam dalam bidang kemajuan ilmu pengetahuan.
Selanjutnya ada Turki Utsmani yang kembali menyubangkan wilayah yang
cukup luas bagi dunia Islam, mereka berhasil melakukan ekspansi ke Eropa
Timur, bahkan menjadi satu-satunya yang berhasil menaklukkan
Konstantinopel yang merupakan ibu kota kerajaan Romawi.

Puncak kejayaan Turki Utsmani dalam memperluas wilayah ekspansi ada di


tangan Sultan Sulaiman I (1520 – 1566) yang terkenal dengan sebutan
Sulaiman Agung dan Sulaiman al-Qanun. Dibawah pemerintahannya
wilayah Turi Utsmani meliputi; Afrika Utara, Mesir Hijaz, Irak, Armenia,
Asia kecil, Balkan, Yunani, Bosnia, Bulgaria, Hongaria, Rumania sampai ke
batas sungai Danube, dengan tiga lautan yaitu Laut Merah, Laut Tengah dan
57
Laut Hitam. Selain memiliki daerah yang luas, Daulah Turki Utsmani
merupakan Daulah yang paling besar dan paling lama berdiri dibanding
Daulah islam lainnya.

2.9.2. Sejarah Berdirinya Turki Utsmani

Dinasti Turki Usmani berasal dari suku Qayigh Aghuz yang di pimpin oleh
Sulaeman Syah. Upaya menghindari serangan Mongol yang sedang
berusaha menguasai dunia Islam. Sulaeman Syah dan sukunya meminta
perlindungan kepada Jalaludin (Dinasti Khawarizmi Syah) di Transoxiana.
Jalaludin meminta agar Sulaeman dan anggota sukunya tinggal di Asia
kecil. Masih dalam menghindari serangan Mongol. Kemudian mereka
pindah ke Syam.58

Dalam jangka waktu kira kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan
kemudian Persia dan Irak .Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau
kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Dibawah tekanan
serangan serangan Mongol pada abad ke 13 M, mereka melarikan diri
kedaerah barat dan mencari tempat pengungsian ditengah saudara saudara
mereka, orang orang Turki Seljuk, didaratan tinggi Asia Kecil .Disana,
dibawah pimpinan Ertoghrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan
Alauddin II, Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang melawan
Bizantium .Berkat bantuan mereka, Sultan Alaudin mendapat kemenangan
.Atas jasa baik itu, Allaudin menghadiakan sebidang tanah di Asia kecil yang

57
Tim Penulis, Ensiklopedi Islam, Jilid 4, Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve,h.115
58
Jaih Mubarok. Sejarah Peradaban Islam. Bandung Pustaka Bani Quraisy. 2004. h. 113
berbatasan dengan Bizantium .Sejak itu mereka terus membina wilayah
barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibu kota.59

Setelah Erthogrol meninggal dunia pada tahun 1289 M, kepemimpinan


dilanjutkan oleh puteranya bernama Usman. Putra Erthogrol inilah yang
dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun
1290 M-1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan
Alaudin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium
yang berdekatan dengan kota Broessa.

Pada tahun 1300 M, Mongol menyerang dinasti Saljuk dan Sultan Allaudin
II mati terbunuh. sepeninggal Sultan Allaudin II, Saljuk terpecah menjadi
dinasti-dinasti kecil, dalam keadaan demikian, Utsman menyatakan
kemerdekaannya dan berkuasa penuh atas daerah yang dikuasainya. Maka
sejak itulah kerajaan Usmani dinyatakan berdiri, dan Penguasa pertamanya
adalah Usman, yang disebut juga dengan Usman I.

Setelah itu Usman I menyatakan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (Raja


besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M). Usman pun mengirim surat
kepada Raja-raja tetangganya; kepada mereka diberi kesemoatan memilih
satu diantara tiga; pertama, masuk islam, kedua, membayar upeti, dan ketiga,
perang. Segera setlah itu, di anatar Raja-raja tersebut ada yang langsung
tunduk dan bergabung dengannya sehingga setapak demi setapak wilayah
kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan
menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M
dijadikan sebagai kota kerajaan. Dengan lahirnya daulah Usman dapatlah
islam kembali kepermukaan dan memperlihatkan kegagahperkasaannya
yang luar biasa dan dapat menyambung usaha dan kemegahannya yang lama
sampai abad ke-20.

Usman I meninggal dunia tahun 1326 M, Sultan Turki Usmani diganti oleh
Orkhan (1326 – 1359M), pada masa pemerintahannya, Daulah Turki dapat
menaklukkan Azmir tahun 1327 M, Thawasyanli (1330 M), Iskandar (1338

59
Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II), Bandung . PT Raja Grapindo Persada. 2000. h.
129
M), Ankara (1354 M) dan Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian dari
benua Eropa yang pertama kali ditaklukkan Daulah Turki Utsmani.60

Setelah Orkhan meninggal kemudian digantikan oleh Murad I, yang berkuasa


pada tahun (761 H/ 1359 M -789 H-1389 M), selain memantapkan keamanan
dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke Benua Eropa. Ia dapat
menaklukan Adrianopel yang kemudian dijadikannya sebagai ibu kota
kerajaan yang baru, Meaedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian
utara yunani.61

Dengan berhasilnya ditaklukkan kota-kota diatas jalur transportasi


perdagangan hampir seluruhnya dipegang oleh Turki Utsmani sehingga
kerajaan-kerajaan sekitarnya tidak mempunyai pilihan selain berdamai dan
mengakui eksistensi Daulah Turki Utsmani.

Karena kesuksesan yang diperlihatkan oleh Daulah Utsmani timbullah


kecemasan dari kerajaan-kerajaan Balkan.62 Mereka meminta bantuan Paus
Urban V agar bersebia menjadi perantara untuk meminta bantuan eaja- raja
dari eropa Barat untuk bersama-sama membendung keukatan Turki Utsmani.
Paus pun mengeluarkan surat khusus kepada raja-raja Eropa tersebut.

Karena ketidak sabaran Orokh V Raja Serbia, Balkan pun masuk ke dalam
wilayah kekuasaan Sultan Murad I. Sebab belum lagi bala bantuan datang
dia sudah melancarkan serangan yang dibantu oleh Raja Bosnia di Maritza.

Setelah jatuhnya Balkan, Paus Urban V mengobarkan tanda perang.


Sejumlah pasukan besar disiapkan untuk memukul mundur Turki Utsmani.
Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria, namun Bayazid
(pengganti Sultan Murad I) dapat menghancurkan pasukan tersebut. Hal itu
juga merupakan pencapaian yang gemilang bagi umat islam di tangan Turki
Utsmani.63

60
Ibid., h. 130-131
61
Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1, Jakarta: UI Press, 1979, h.83
62
Balkan adalah nama suatu Semenanjung di Eropa Tenggara. Negara yang masuk wilayahnya adalah Albania,
Bulgaria, Rumania, Yugoslovia, dan Yunani.
63
Badri yatim, op.cit., h.131
Daerah-daerah taklukkan Turki Utsmani tidak pernah dipaksa untuk masuk
islam. Kepemimpinan pemerintahan pun tetap mereka pegang, yang ada
hanya mereka diharuskan membayar jizyah.

Tidak hanya di Eropa keberhasilan Sultan Murad I dalam bidang ekspansi


wilayah juga terjadi daerah Asia. Kerajaan Karman ditaklukkan. Setelah
Sultan Murad I wafat, beliau digantikkan oleh anaknya di usianya yang ke
34 tahun. Perluasan wilayah tetap dilanjutkan, bahkan pada tahun pertama
pemerintahannya ia dapat merebut Kossova, hingga akhirnya Stephen Raja
Lazar bergabung dengan Sultan dan siap sedia membayar upeti.

Tahun 1393 M, Bayazid mengirim pasukan dibawah komando anaknya


sulaiman untuk menyerang Bulgaria, Setelah mengepung 3 minggu, Rajanya
Sisman melarikan diri dan jatuhlah Bulgaria ke tangan Bayazid. Tidak lama
kemudian kota-kota Nicopolia, Weddes dan Silistria juga dapat ditaklukkan,
sehingga pintu masuk menuju Hongaroa sangat terbuka.

Ketika Bayazid mulai mempersiapakan ekspansi ke Konstantinopel, tentara


mongol yang dipimpin Timur Lank hendak melakukan penyerangan ke Asi
kecil. Karena murka Bayazid tidak meggunakan akal sehatnya dan hanya
mengirimkan 120.000 pasukan sedangkan Timur Lank membawa 800.000
pasukan. Bayazid dan putranya ditawan dan wafat 1 tahun kemudian.

Karena kekalahan Bayazid, kerajaan Turki Utsmani mulai terpecah belah,


banyak penguasa Turki Saljuk di Asia Kecil yang melepaskan diri, bahkan
wilayah Serbia dan Bulgaria meproklamirkan kemerdekaan, belum lagi
masalah perebutan kekuasaan di internal Turki Utsmani semakin
memperkeruh keadaan. Akhirnya Daulah Turki Utsmani mengalami
kevacuman kekuasaan.

Keadaan mulai membaik saat Sultan Muhammad I memimpin. Selama


kurang lebih sepuluh tahun dia bekerja keras untuk dapat menyatukan
negaranya dan mengembalikkan kekuasaan Turki Utsmani seperti sedia kala.
Akibat keberhasilannya menyatukan kembali Turki Utsmani, kerajaan-
kerajaan kristen Eropa kembali merasa terancam.
Setelah Timur Lank meninggal tahun 1405 M kesultanan Mongol terpecah
belah. Hal ini dimanfaatkan Turki Utsmani untuk bisa terbebas dari
kekuasaan Mongol. Usaha Muhammad I yang meletakkan dasar-dasar
keamanan dalam negeri dilanjutkan oleh anaknya yaitu Sultan Murad II
(1421 – 1451 M), dan berlanjut kepemimpin berikutnya yaitu Sulatan
Muhammad II.

2.9.3. Masa Kejayaan

Setelah Sultan Murad II meninggal dunia, pemerintahan kerajaan Turki


Usmani dipimpin oleh putranya Muhammad II atau Muhammad Al-Fatih.
Ia diberi gelar Al-fatih karena dapat menaklukkan Konstantinopel.
Muhammad Al-Fatih berusaha membangkitkan kembali sejarah umat
Islam sampai dapat menaklukkan Konstantinopel sebagai ibukota
Bizantium. Konstantinopel adalah kota yang sangat penting dan belum
pernah dikuasai raja-raja Islam sebelumnya.

Seperti halnya raja-raja dinasti Turki Usmani sebelumnya, Muhammad


Al-Fatih dianggap sebagi pembuka pintu bagi perubahan dan
perkembangan Islam yang dipimpin Muhammad. Tiga alasan Muhammad
menaklukkan Konstantinopel, yaitu:

1. Dorongan iman kepada Allah SWT, dan semangat perjuangan


berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan ajaran
Islam.
2. Kota Konstantinopel sebagai pusat kemegahan bangsa Romawi.
3. Negrinya sangat indah dan letaknya strategis untuk dijadikan pusat
kerajaan atau perjuangan.

Usaha mula-mula umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel


dengan cara mendirikan benteng besar dipinggir Bosporus yang
berhadapan dengan benteng yang didirikan Bayazid. Benteng Bosporus
ini dikenal dengan nama Rumli Haisar (Benteng Rum).

Benteng yang didirikan umat Islam pada zaman Muhammad Al-Fatih itu
dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota
Konstantinopel. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, dilakukan
pengepungan selama 9 bulan. Akhirnya kota Konstantinopel jatuh ke
tangan umat Islam (29 Mei 1453 M) dan Kaitsar Bizantium tewas bersama
tentara Romawi Timur. Setelah memasuki Konstantinopel disana terdapat
sebuah gereja Aya Sofia yang kemudian dijadikan mesjid bagi umat Islam.

Setelah kota Konstantinopel dapat ditaklukkan, akhirnya kota itupun


dijadikan sebagai ibukota kerajaan Turki Usmani dan namanya diganti
menjadi Istanbul. Jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan umat Islam,
berturut-turut pula dapat dikuasai negri sekitarnya seperti Servia, Athena,
Mora, Bosnia, dan Italia.

2.9.4. Kemajuaan Saat Daulah Turki Utsmani

Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Turki Osmani yang


demikian luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti oleh kemajuan-
kemajuan dalam bidang-bidang lainnya. Adapun kemajuan yang
terpenting diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Bidang Kemiliteran
Para pemimpin kerajaan Turki Usmani pada masa-masa pertama
adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan
ekspansi dengan cepat dan luas. Faktor terpentiang adalah
keberanian, keterampilan, ketangguhan, dan kekuatan militernya
yang sanggup bertempur kapan dan dimana saja.

b. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya


Kebudayaan turki Usmani merupakan perpaduan bermacam-macam
kebudayaan, diantaranya kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab.
Dari kebudayaan Persia mereka banyak mengambil ajaran-ajaran
etika dan tata karma dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan
dan kemiliteran banyak mereka serap dari Bizantium, sedangkan
ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial dan kemasyarakatan,
keilmuan, dan huruf mereka terima dari bangsa Arab.

c. Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar
dalam lapangan sosial dan politik. Karena itu, ulama mempunyai
tempat tersendiri dan berperan besar dalam kerajaan dan
masyarakat. Dalam kajian-kajian keagamaan seperti fikih, ilmu
kalam, tafsir dan hadits bisa dikatakan tidak mengalami
perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk
menegakkan satu paham ( Madzhab) keagamaan dan menekan
madzhab lainnya, seperti yang dilakukan Sultan Abdil al-Hamid II,
ia begitu fanatik terhadap aliran Asy'ariyah. Untuk itu ia memerintah
Syekh Husein al-Jisri menulis kitab Al-Husnu al-Hamidiyyah untuk
melestarikan aliran yang dianutnya. Akibat lainnya adalah ijtihad
tidak berkembang. Ulama hanya suka menulis dalam bentuk sarah
(penjelasan) terhadap karya-karya klasik.

2.9.5. Masa Kemunduran Turki Utsmani

Kemunduran dan kehancuran kerajaan Turki Usmani berawal sejak


wafatnya Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1566 M). Sementara pengganti-
penggantinya seperti Salim II (1566-1573 M), Sultan Murad III (1574-
1595 M), Sultan Muhammad III (1595-1603 M), Sultan Ahmad I (1603-
1617 M), Mustafa I (1617-1618 M), dan seterusnya ternyata kurang
mampu mempertahankan kejayaan yang pernah dicapai kerajaan Turki
Usmani pada masa-masa sebelumnya.

Saat masa pemerintahan Sultan Salim II, terjadi peperangan antara


anngkatan laut Turki Usmani dengan Spanyol di selat Liponto. Dalam
peperangan itu Turki Usmani kalah dan Tunisia berhasil direbut Spanyol.
Sultan Murad III memiliki kepribadiaan yang buruk dan memperturutkan
hawa nafsu, namun Tunisia dapat direbut kembali, dan juga berhasil
menguasai Tiflis di Laut Hitam dan mengalahkan guberbur Bosnia pada
tahun 1593 M.64

64
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudyaan Islam, Yogyakarta: Kota Kembang, 1989, h.339
Namun akibat moral Sultan Murad III yang jelek, Austria berhasil
memukul Turki Utsmani. Di dalam negeri mulai terjadi banyak
pemberontakkan. Bahkan tentara elit kerajaan pun melakukan
pemberontakkan.

Dalam rentang waktu tersebut sudah tumbuh negara-negara yang kuat,


seperti Rusia di bawah Peter Yang Agung. Dengan memudarnya kejayaan
Turki Utsmani, Yunani memproklamirkan kemerdekaannya tahun 1829
M, demikian juga dengan Rumania lepas 1856 M.

Maka Daulah Turki Utsmani yang dulunya pernah jaya di berbagai


pertempuran baik di timur maupun barat, kini hanya mendapat julukan
“The sick man of Europe” yang tinggal menunggu detik-detik
kematiannya. 65

Faktor-faktor lain yang menyebabkan kemunduran kerajaan Turki Usmani


adalah sebagai berikut :

1. Karena amat luasnya kekuasaan Turki Usmani, administrasi


pemerintahannya amat rumit dan komplek. Sementara dilain pihak
memang pengaturannya tidak ditunjang dengan sumber daya yang
berkualitas, malahan keinginannya terus memperluas daerahnya dengan
peperangan terus menerus sehingga banyak mengorbankan tenaga dan
waktu bukan dipakai untuk membangun negara.
2. Beragamnya penduduk, baik ditinjau dari suku, budaya, bahkan perbedaan
agama menyebabkan pengaturannya pun beragam pula.
3. Karena lemahnya para penguasa sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni akibat
dari kepemimpinan para sultan yang lemah sehingga membuat Negara
hancur dan melemah.
4. Maraknya budaya 'pungli' dikalangan para pejabat yang ingin naik
jabatan-jabatan penting, sehingga pudarlah moral para penguasa Turki.
5. Akibat pemberontakan tentara Jenissari yang semula pendukung kekuatan
Turki Usmani, sekarang menjadi terbalik menyerang Turki Usmani.
6. Merosotnya perekonomian karena banyaknya peperangan.

65
Harun Nasution, Islam ditinjau, op.cit. h.87
7. Akibat terhentinya kegiatan ilmu pengetahuan.

2.10. Peradaban Islam Pada Masa Daulah Safawiyah di Persia


Daulah Safawiyah (1501 – 1736) berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di
Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan, Iran.66 Oleh sebab itu Daulah ini dianggap sebagai
peletak pertama dasar terbentuknya negara Iran.67

Tarekat dengan nama Safawiyah ini berdiri hampir bersamaan dengan Daulah Turki
Utsmani. Nama Safawiyah diambil dari nama pendirinya Safi al-Din, nama tersebut
dipertahankan sampai tarekat ini bergerak diarah politik, bahkan menjadi nama bagi
Daulah yang mereka dirikan.

Safi al-Din adalah seorang kaya yeng memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Dia
merupakan keturunan dari Imam Syi’ah yang keenam Musa Al-Khazim. Karena
prestasi dan ketekunannya Safi al-Din diambil menantu oleh gurunya Zahid al-Gilani.68

Setelah gurunya wafat, Safi al-Din mendirika tarekat Safawiyah ini, yang tujan awalnya
adalah memerangi orang yang ingkar dan orang yang disebut ahlul bid’ah. Tarekat ini
lalu berkembang pesat di Persia, Syria dan Anatolia. Di luar Arbadil Safi al-Din
menempatkan wakilnya yang memimpin murid-muridnya dan diberi gelar Kalifah.69

Murid-murid dalam tarekat ini lalu berubah menjadi tentara yang teratur dan fanatik
dalam kepercayaan mazhab Syi’ah dan menentang semua orang yang tidak bermazhab
syi’ah. Tarekat ini semakin berkembang dan akhirnya menjadi gerakan politik.

Setelah Safi al-Din, gerakan ini dipimpin oleh Ismail. Dia bersama pasukannya
bermasrkas di Gillan selam 5 tahun untuk mempersiapkan kekuatan dan berhubungan
dengan pengikutnya di Azerbaijan, Syria, dan Anatolia.70 Pasukan yang dipersiapkan
bernama pasukan Qizilbash.

66
P.M. Holt, dkk. (ed), The ambridge History of Islam, Vol. 1A, London: Cambridge University Press, 1977, h.394
67
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Persada Grapindo, 1993, h.138
68
Ibid., h.138-139
69
Hamka, Sejarah Umat Islam, Jilid 3, Jakarta: Bulan Bintang, 1981, h.60.
70
P.M. Holt, op.cit. h.397-398
Tahun 1501 M pasukan Qizilbash dibawah pimpinan Ismail, berhasil mengalahkan AK.
Koyunlu di Sharur dekat Nakhcivan. Akhirnya di kota Tabriz yang merupakan ibu kota
AK. Koyunlu Ismail memproklamirkan berdirinya Daulah Safawiyah.71

2.9.1 Kemajuan Pemerintahan dan Ilmu Pengetahuan


Selama berkuasa di Persia(Iran) sekitar abad ke-16 dan ke-17, masa kejayaan
Daulah Safawiyah hanya berlangsung ditangan dua orang Sultan, yaitu : Ismail
I (1501 – 1524 M), dengan puncak kejayaan pada amsa Sultsn Syah Abbas I
(1558 – 1622 M).

Sultan Ismail I memerintah kurang lebih selama 23 tahun, 10 tahun pertama


masa pemerintahannya dia habiskan untuk memperluas wilayah kekuasaannya.
Ia dapat membersihkan sisa-sisa pasukan AK. Kuyunlu dan berhasil menguasai
seluruh Persia. Selain itu dia juga berambisi untuk mengambangkan sayap
untuk menguasai wilayah Turki Utsmani.

Pada 1541 M Daulah Safawiyah terlibat perang dengan Turki Utsmani di


daerah dekat tabriz. Karena keunggulan dan organisasi tentara yang baik Turki
Utsmani memenangkan pertempuran bahkan berhasil menguasai Tabriz.
Untung saja saat itu Sultan Salim I langsung kembali ke Turki Utsmani
sehingga Daulah Safawiyah bisa selamat.72

Akibat kekalahan ini Sultan Ismail memilih untuk menyendiri, menempuh


kehidupan berhura-hura dan berburu. Keadaan ini membawa dampak negatif
bagi Daulah Safawiyah.

Sultan Tahmash I pengganti Sultan Ismail I, terus melakukan permusuhan


dengan Turki Utsmani, yang disertai dengan peperangan. Sama halnya dengan
Sultan Islamil dan Sultan Muhammad Khudabandar. Ditangan mereka bertiga
Daulah Safawiyah menjadi lemah, karena tenaganya terkuras untuk

71
Ibid,. H.399
72
Hasan Ibrahim Hasan, Seajarh Kedaulatan Islam, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1989, h.337)
peperangan terlebih di internal Daulah Safawiyah itu sendiri sering terjadi
pertentangan.

Kondisi yang memprihatinkan tersebut baru mulai membaik setelah Sultan


kelima yaitu Abbas I, dia memimpin Daulah Safawiyah selama 40 tahun.
Segera setelah diangkat ia mengambil langkah-langkah pemulihan kekuasaan.
Pertama, dia berusaha menghilangkan dominasi Qizilbash dengan cara
membentuk pasukan baru yang disebut pasukan Ghullam.73

Lalu yang kedua, dia mengadakan oerjanjian damai dengan Turki, dengan
syarat dia harus rela menyerahkan Azerbaijan, Georgia dan sebagian wilayah
Luristan ke tangan Turki Utsmani. Selian itu dia berjanji untuk tidak menghina
tiga khalifah pertama islam dalam khutbah shalat jumat. Dan sebagai jaminan
atas syarat tersebut dia mengirimkan saudara sepupunya, Haidar Mirza sebagai
Sandera di Istambul.74

Usaha Abbas I berhasil memprkuat Daulah Safawiyah, dia lalu memindahkan


ibu kota ke Ishafan, sebagai persiapan untuk melakukan ekspansi ke wilayah
timur, setelah berhasil menaklukkan wilayah tumur, Abbas I mengalihkan
serangannya ke wilayah barat, berhadapan dengan Turki Utsmani.

Pada tahun 1602 M Turki Tusmani dipimpin oleh Sultan yang lemah, Abbas I
mengirimkan pasukannya ke Turki Utsmani dan berhasil menguasai Tabriz,
Sirwan dan Baghdad.

Kemajuan yang dicapai Abbas I bukan hanya di bidang ekspansi tepai juga
kemajuan dibidang lain diantaranya bidang ekonomi, kemajuan ilmu
pengetahuan yang bila dibandingkan dengan Turki Utsmani dan Mughal lebih
unggul, serta Kemajuaan Kebudayaan dan Seni.

2.9.2 Masa Kemunduran

73
Ibid,. H.413.
74
Badri Yatim, op.cit., h.142-143
Pada masa kepemimpinan Syah Syafi’i di kerajaan Safawi menggantikan
kakeknya Syah Abbas I yang tidak mampu lagi melanjutkan kerajaan Safawi,
dengan sikapnya yang kasar dan otoriter, membawa kerajaan safawi dalam
kehancuran.

Pada saat turki usmani berhasil menjatuhkan Baghdad dan merebut Qandahar,
Delhi dan Georgis memberontak untuk melepaskan diri. Dan syah Abbas II
berusaha untuk mengembalikan kerajaan safawi dengan memerintah secara
adil dan berusaha membenahi militer, namun dampak negatif yang diahasilkan
oleh ayahnya tidak dapat diatasi.

Pada tahun 1667, Syah Abbas digantikan oleh Syah Sulaiman. Tetapi Syah
Sulaiman pun tidak mampu membawa kembali kejayaan kerajaan Safawi. Dan
digantikan oleh Syah Husain, namun dengan kelemahan Syah Husain,
kerajaan Safawi dapat ditaklukkan oleh pemberontak Afghanistan yang
dipimpin oleh Mir Mahmud dan akhirnya kerajaan Safawi lumpuh dan
berakhirlah kerajaan Safawi.75

Adapun sebab-sebab runtuhnya kerajaan safawi diantaanya yaitu:

a) Adanya konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani, yang


dikarenakan perbedaan paham yang dipegang oleh kerajaan ini.
b) Kurangnya perhatiannya raja terhadap persoalan social kemasyarakatan
dan kenegaraan.76
c) Terjadinya dekandensi moral yang melanda sebagian pemimpin
kerajaaan Safawi
d) Pasukan ghulam (budak-budak) tidak memiliki semangat perjuangan
yang tinggi, karena lemahnya system pemerintahan dinasti Safawi yang
diciptakan oleh Syeh Abbas.77
e) Terjadinya konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan
keluarga istana.78

75
Didin Saepudin, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press. 2007, h. 178
76
Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam (Khilafah). Jakarta PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, tt. h. 277
77
Ibid, h. 278
78
http://codegyzer.wordpress.com/category/kerajaan-safawi-di-persia/
Selain hal tersebut di atas,pada abad 17 beberapa kalangan Ulama Syiah tidak
lagi mau mengakui bahwa Safawiyah telah mewakili pemerintahan sang imam
tersembunyi. Pertama, ulama mulai meragukan otoritas Syah yang
berlangsung secara turun temurun tersebut sebagai penanggung jawab pertama
atas ajaran islam Syiah. Kedua, selaras dengan keyakinan Syi’ah, bahkan
semenjak masa keghaiban besar tahun 941 sang imam tersembunyi tidak lagi
terwakili di muka bumi oleh Ulama.Selanjutnya Ulama menegaskan
bahwasannya Mujtahid menduduki otoritas keagamaan yang tertinggi.

Kehancuran rezim ini juga di sebabkan sejumlah perubahan yang luar biasa
dalam hal hubungan negara dan agama. Safawiyah semula merupakan sebuah
gerakan, tetapi setelah berkuasa rezim ini justru menekan bentuk bentuk Islam
sufi yang cenderung kepada pembentukan lembaga ulama negara.

Krisis abad 18 mengantarkan kepada berakhirnya sejarah Iran pramodern.


Hampir diseluruh wilayah muslim, periode pramodern yang berakhir dengan
Interfensi, penaklukan bangsa eropa, dan dengan pembentukan beberapa razim
kolonial, maka dalam hal ini konsolidasi ekonomi dan pengaruh politik bangsa
eropa telah didahului dengan kehancuran Inperium Safawiyah dan dengan
liberalisasi ulama. Demikianlah, Rezim safawiyah telah meninggalkan
warisan kepada Iran modern berupa tradisi persia perihal sistem kerajaan yang
agung, yakni sebuah rezim yang dibangun berdasarkan kekuatan unsur
kesukuan yang utama, dan mewariskan sebuah kewenangan keagamaan syiah
yang kohesif, monolitik dan mandiri.79

2.11. Peradaban Islam Pada Masa Daulah Mughal

Dunia Islam pada Abad ke-17 bertumpu kepada tiga kerajaan besar, yaitu Kerajaan
Syafawi di Persia, Mughal di India, dan Turki Utsmani di Turki dengan dua
periode. Periode 1500-1700 merupakan fase kemajuan Islam melalui tiga kerajaan
besar tersebut. Secara eksternal, di masa itu, pusat kekuasaan imperium Romawi
Timur yaitu Konstantinopel jatuh ke tangan Turki dan kemajuan ekspansi Islam ke
Eropa Timur berjalan lancar. Adapun secara internal, ketiga kerajaan tersebut

79
http://varysnico.wordpress.com/2011/01/30/3-kerajaan-besar-2/
memiliki kecenderungan teologi-politik yang berbeda. Kerajaan Syafawi di Persia
menjadikan aliran Syi’ah sebagai madzhab resmi dari kerajaan, dan semenjak itu
sampai kini Iran adalah pusat aliran Syi’ah. Kerajaan Utsmani merupakan
Kekhalifahan Sunni. Sementara Kerajaan Mughal di India berusaha memperkecil
pertentangan antara Sunni dan Syi’ah.80 Kerajaan Mughal berdiri seperempat abad
sesudah berdirinya Kerajaan Syafawi. Jadi, di antara tiga kerajaan besar Islam
tersebut, kerajaan inilah yang termuda. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam
pertama di anak Benua India.81 Jauh sebelum Kerajaan Mughal berdiri, sebenarnya
semenjak abad I hijriyah, Islam sudah masuk ke India. Ekspedisi pertama pada
zaman Khalifah Umar bin al-Khattab, tapi akhirnya Khalifah umar mencela
penjarahan tersebut dan menarik eskpedisi tersebut. Padatahun 634 M, setelah
Khalifah Umar wafat, barulah orang-orang Arab menaklukan Makram di
Balukistan. Kemudian setelah kekuasaan Islam berada pada Dinasti Umaiyah di
bawah Khalifah Walid Ibn Abd al-Malik, tentara Islam sekali lagi mengadakan
invasi ke wilayah India di bawah panglima Muhammad Ibn al-Qasim dan berhasil
menguasai wilayah Sind. Dan pada tahun 871 M, orng-orang Arab sudah menghuni
tetap di sana.82 Kemudian muncul kekuasaan Islam melalui Dinasti Ghaznawi (977-
1186 M), Khalji (1296-1316 M), Thuglaq (1320-1412 M), Sayyid (1414-1415 M),
dan Dinasti Lodhi (1451-1526 M). Jadi, Mughal adalah kerajaan Islam yang
terakhir di India (1526-1858 M), tepatnya setelah Dinasti Lodhi jatuh, hingga
berganti dengan pemerintahan imperialiasme Inggris yang memerintah di sana.83
Demikian, peradaban Islam di India tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Dinasti
Mughal. Selama tiga abad dinasti ini mampu memberi warna di negeri yang
mayoritas beragama Hindu ini. Setidaknya agama Islam menjadi tersebar di seluruh
penjuru India84.

KELAHIRAN, PERKEMBANGAN DAN KEMAJUAN

80
Dedi Supriyadi. Sejarah Peradaban Islam. (bandung: Pustaka Setia, 2008), 252
81
Ibid., 261
82
Ah. Zakki Fu’ad. Sejarah Peradaban Islam: Paradigma Tekas, Reflektif dan Filosofis (Bandung:
Indo Pramaha, 2012), 198
83
Moh. Nurhakim. Sejarah dan Peradaban Islam (Malang: UMM Press, Cet.2, 2004), 147
84
Siti Maryam, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam: Dari Klasik hingga Modern (Yogyakarta: LESFI, Cet.3, 2009),
184
A. Masa Kelahiran

Mughal adalah sebuah dinasti yang diperintah oleh raja-raja yang berasal
dari daerah Asia Tengah, keturunan Timur Lenk, seorang Turki-Mughal yang lahir
di Kesh di Transoksania (Turkistan) pada tahun 1336. Pemimpinnya dikenal
sebagai seorang muslim fanatik, dan pertama kali melakukan penyerangan ke India
pada tahun 1398. Selain itu, beliau mengangkat Khizer Khan sebagai gubenur di
Multan sekaligus wakilnya untuk India.685 Timur Lenk meninggal pada usia 70
tahun (1405), tahtanya diberikan kepada anaknya Syah Rukh Mirza. India dapat
ditaklukan oleh Zahiruddin Muhammad Babur, salah satu keturunan Timur Lenk
pada tahun 1503. 86

Secara geneologis, Babur merupakan cucu Timur Lenk (dari pihak ayah)
dan keturunan Jenghiz Khan (dari pihak ibu). Babur lahir pada 14 Februari 1483
hari Jum’at di Farghana di bagian utara Transoksania (kini Uzbekistan).
Sepeninggal ayahnya, Umar Mirza, ia menggantikannya menjadi penguasa di
Farghana. Ekspansinya ke India dimulai dengan menundukkan penguasa setempat
yaitu Ibrahim Lodi dengan bantuan Alam Khan (Paman Lodi) dan gubernur Lahore.
Ia menghadapi Dinasti Lody yang terakhir (Ibrahim Lody) yang tentaranya
berjumlah 40.000 orang diluar kota Panipat pada April 1526. Dalam peperangan
ini, Lody terbunuh dan Babur menguasai Delhi dan Agra. Sejak itu Babur dapat
menguasai India dan mendirikan dinasti Mughal yang beribukota di Delhi.

Kerajaan Mughal didirikan pada tahun 1526. Jumlah keseluruhan sultan Mughal
29 orang.87 Kerajaan ini memiliki sultan-sultan yang besar dan terkenal pada abad
ke-17, yaitu Akbar (1556-1606), Jehangir (1605-1627), dengan permaisurinya
Nurjannah, Syah Jehan (1628-1606), dan Aurangzeb (1659-1707).

B. Masa Perkembangan Dan Kemajuan


a. Humayyun (1530-1540 M dan 1555-1556 M)

85
Zafar Iqbal. Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve), hlm, 282
86
Badrim Yatim. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta, PT. Rajagrafindo Persada, 2003),
hlm, 175
87
Moh. Nurhakim. Sejarah dan Peradaban...., 148
Babur mempunyai empat orang putra, yaitu Humayyun, Kamran, Hindal,
dan Aksari. Di antara empat anaknya ini, hanya Humayyun yang melanjutkan
kekuasaan ayahnya. Beliau lahir pada Maret 1508 di Kabul (Afghanistan). Ketika
kecil ia mempelajari bahasa Arab, Turki, dan Persia. Ketika berusia 20 tahun, ia
berkuasa di Badakhshan, saat ayahnya masih masih memegang tampuk
kekuasaannya. dalam pemerintahannya, ia bisa menguasai Kalanjir, Chunar,
Malwa, dan Gurajat (1531).88

Sepanjang pemerintahannya kondisi negara tidak stabil, karena banyak


terjadi perlawanan dari musuh-musuhnya. Pada tahun 1540 terjadi pemberontakan
yang dipimpin oleh Sher Kkhan di Qanuj. Dalam pertempuran ini, Humayun kalah
dan melarikan diri ke Qandahar dan kemudian ke Persia. Atas bantuan Raja Persia
ia menyusun kekuatannya kembali. Setelah merasa kuat ia melakukan pembalasan
dan menguasai India lagi tahun 1555 M.89

Setelah perluasan daerah kekuasaannya, ia menaklukkan penyerangan di


Bengal untuk membantu penguasa daerah itu (Sultan Mahmud) yang sedang
melawan Sher Syah Syah Suri. Ketika peperangan terjadi, beliau kehilangan kontak
untuk mengontrol kekuasaannya di Delhi dan Agra. Ternyata kedua wilayah
tersebut dikendalikan oleh saudaranya (Hindal). Peperangan tersebut mengalami
kekalahan. Pasukan beliau dipukul mundur oleh Sher Syah, hingga melarikan diri
ke Iran pada Juli 1543 untuk meminta bantuan dari raja Persia (Syah Tahmasp).
Raja Persia membantu beliau dan bisa menaklukan Qandahar dan Kabul.

Di luar India Syah Syah Suri memperkokoh kekuasaanya dan melakukan


pembaruan dibidang administrasi, keuangan, perdagangan, komunikasi keadilan,
perpajakan, dan pertanian. Namun ia wafat pada 22 Mei 1545. Tahtanya digantikan
kepada putranya Ismail Syah yang memerintah dari 1545-1553. Ia tidak sesukses
ayahnya, setelah ia wafat. Tahtanya digantikan kepada anaknya Firuz yang masih
muda, berumur 12 tahun. Namun ia dibunuh oleh pamannya sendiri, Mubariz Khan,
yang menjadi penguasa meskipun menghadapi tantangan.

88
Zafar Iqbal. Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve), hlm, 283.
89
Siti Maryam, dkk, Sejarah..., 184
Humayyun memanfa’atkan kekacauan pemerintahan musuhnya, sehingga
bisa merebut kembali Delhi dan Arga. Namun ia wafat karena kecelakaan, jatuh
dari lantai dua perpustakaan Sher Mandal, di Delhi, pada Januari 1556.

b. Akbar Khan (1556-1605 M)

Kekuasaan Humayun dilanjutkan oleh anaknya, Akbar Khan. Gelarnya


Sultan Abdul Fath Jalaluddin Akbar Khan. Sewaktu naik tahta berumur 15 tahun
dan memerintah India selama 50 tahun (1556-1605 M). Karena usianya masih
muda, pemerintahan diserahkan kepada Bairam Khan, seorang penganut Syi’ah. Di
periode pertama, Akbar menghadapi berbagai pemberontakan. Di Punjab, Khan
Syah melancarkan pemberontakan setelah menggalang sisa-sisa pengikutnya. Di
Agra pemberontakan kaum Hindu dipimpin oleh Hemu, berhasil menguasai kota
itu dan Delhi. Di wilayah barat lahir gerakan yang dipimpin oleh saudara seayah
dengan Akbar, Mirza Muhammad Hakim. Kasmir, Multan, Bengala, Sind, Gujarat,
Bijapur dan lain-lain berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Mughal.90

Namun, setelah Akbar berumur dewasa, ia dapat mengembalikan wilayah-wilayah


yang pernah melepaslan diri, dan memperluas wilayah-wilayah baru secara
gemilang. Strateginya, pertama, ia menyingkirkan Bairam Khan karena terlalu
memaksakan paham syi’ah. Kedua, melancarkan serangan kepada para penguasa
yang menyatakan merdeka. Ketiga, memperkuat militer dan mewajibkan pejabat
sipil mengikuti latihan militer. Keempat, membuat kebijakan shalahul (toleransi
universal). Kebijakan ini memberikan hak persamaan kepada semua penduduk,
mereka tidak dibedakan berdasarkan etnis maupun agama. Bahkan, ia menawarkan
konsep penyatuan agama-agama menjadi satu bentuk agama yang disebut din ilahi.
Dengan strategi ini, wilayah Mughal menjadi sangat luas, dua kota penting sebagai
pintu gerbang ke luar, Kabul dan Kandahar, dikuasai.91

90
Moh. Nurhakim. Sejarah dan Peradaban...., 148
91
Ibid, 149
Sistem pemerintahan Akbar adalah militeristik. Pemerintahan pusat
dipegang oleh raja. Pemerintahan daerah dipegang oleh Sipah Salar atau kepala
komandan.92 Sedangkan subdistrik dikepalai oleh Faudjar atau komandan. Jabatan-
jaatan sipil juga memakai jenjang militer dimana para pejabatnya diwajibkan
mengikuti latihan militer.93

Selama menjalankan pemerintahan, Akbar menekankan terciptanya


stabilitas dan keamanan dalam negeri. Dia menyadari bahwa masyarakat India
merupakan masyarakat yang plural, baik dari segi agama maupun etnis. Kebijakan-
kebijakannya dibuat untuk tetap menjaga persatuan di wilayahnya. Akbar
menerapkan politik “Sulh-E-Kul” atau toleransi universal, yang memandang semua
rakyat sama derajatnya.2394 Dalam bidang agama Akbar menciptakan Din-i-Ilaihi,
yaitu menjadikan semua agama yang ada di India menjadi satu. Tujuannya adalah
kepentingan stabilitas politik. Dengan adanya penyatuan agama ini diharapkan
tidak terjadi permusuhan antar pemeluk agama. Untuk merealisasikan ajarannya,
Akbar mengawini putri Hindu sebanyak dua kali, berkhutbah dengan menggunakan
simbol hindu, melarang menulis dengan huruf Arab, tidak mewajibkan khitan dan
melarang menyembelih dan memakan daging sapi.

Usaha lain Akbar adalah membentuk Mansabdharis, yaitu lembaga public


service yang berkewajiban menyiapkan segala urusan kerajaan, seperti menyiapkan
sejumlah pasukan tertentu. Lembaga ini merupakan merupakan satu kelas penguasa
yang terdiri dari berbagai etnis yang ada, yaitu Turki, afghan, Persia dan Hindu.

c. Jahanghir (1605-1628 M)

Penguasa Mughal ketiga adalah Jahanghir, putera Akbar. Masa


pemerintahannya kurang lebih 23 tahun (1605-1628). Jahanghr adalah pengikut

92
Semacam Pangdam yang memimpin divisi
93
Siti Maryam, dkk, Sejarah..., 184
94
Ibid., 184
Ahlussunnah wal jama’ah, sehingga Din-i-ilahi yang dibentuk ayahnya menjadi
hilang pengaruhnya. Pemerintahannya diwarnai dengan pemberontakan, seperti
pemberontakan di Ambar yang tidak mampu dipadamkan. Pemberontakan juga
muncul dari dalam istana yang dipimpin Kurram, putranya sendiri. Dengan bantuan
panglima Muhabbat Khan, Kurram menangkap dan menyekap Jahanghir. Berkat
usaha permaisuri, permusuhan ayah dan anak dapat didamaikan. Akhirnya setelah
Jahangir meninggal (1627 M), Kurram naik tahta dan bergelar Abu Muzaffar
Shahabuddin Muhammad Shah Jahan Padsah Ghazi.

d. Syah Jihan (1628-1658)

Syah Jihan tampil meggantikan Jihangir. Bibit-bibit disintegrasi mulai


tumbuh pada pemerintahannya. Hal ini sekaligus menjadi ujian terhadap politik
toleransi Mughal. Dalam masa pemerintahannya terjadi dua kali pemberontakan.
Tahun pertama masa pemerintahannya, Raja Jujhar Singh Bundela berupaya
memberontak dan mengacau keamanan, namun berhasil dipadamkan. Raja Jujhar
Singh Bundela kemudian diusir. Pemberontakan yang paling hebat datang dari
Afghan Pir Lodi atau Khan Jahan, seorang gubernur dari provinsi bagian Selatan.
Pemberontakan ini cukup menyulitkan. Namun pada tahun 1631 pemberontakan
inipun dipatahkan dan Khan Jahan dihukum mati.

Aurangzeb (1658-1707) menghadapi tugas yang berat. Kedaulatan Mughal


sebagai entitas Muslim India nyaris hancur akibat perang saudara. Maka pada masa
pemerintahannya dikenal sebagai masa pengembalian kedaulatan umat Islam.
Penulis menilai periode ini merupakan masa konsolidasi II Kerajaan Mughal
sebagai sebuah kerajaan dan sebagai negeri Islam. Aurangzeb berusaha
mengembalikan supremasi agama Islam yang mulai kabur akibat kebijakan politik
keagamaan Akbar. Raja-raja pengganti Aurangzeb merupakan penguasa yang
lemah sehingga tidak mampu mengatasi kemerosotan politik dalam negeri. Raja-
raja sesudah Aurangzeb mengawali kemunduran dan kehancuran Kerajaan
Mughal.95

C. Bentuk Kemajuan Kerajaan Mughal

Kemajuan yang dicapai pada masa dinasti Mughal merupakan


sumbangan yang berarti dalam mensyiarkan dan membangun peradaban Islam
di India. Kemajuan-kemajuan tersebut antara lain:96

a. Bidang Politik dan Militer

Sistem yang menonjol adalah politik sulh e-kul atau toleransi


universal. Sistem sangat tepat karena mayoritas masyarakat India adalah
Hindu sedangkan Mughal adalah sistem Islam. Di sisi lain terdapat juga rasa
atau etnis lain yang juga terdapat di India. Lembaga yang merupakan produk
dari system ini adalah Din-i-Ilahi dan Mansabdhari.

Di bidang militer, pasukan Mughal dikenal sebagai pasukan yang kuat.


Mereka terdiri dari paukan gajah, berkuda dan meriam. Wilayahnya dibagi
dalam system distrik-distrik. Setiap distrik dikepalai oleh sipah salar dan
sub distrik dikepalai oleh Faujdar. dengan system inilah pasukan Mughal
berhasil menaklukkan daerah-daerah disekitarnya.

b. Bidang Ekonomi

Kontribusi Mughal dibidang ekonomi adalah memajukan pertanian


terutama untuk tanaman padi, kacang, tebu, rempah-rempah, tembakau dan
kapas. Pemerintah membentuk lembaga khusus untuk mengatur masalah
pertanian. Wilayah terkecil disebut deh, dan beberapa deh tergabung dalam

95
http://www.istijabangel.wordpress//2012/07/10/Kerajaan-Mughal-Kegemilangan-Sejarah-Islam-di-India.
96
Siti Maryam, dkk, Sejarah..., 187-188
bargana (kawedanan) setiap komunitas petani dipimpin oleh mukaddam.
Melalui mukaddam inilah pemerintah berhubungan dengan petani.

Disamping pertanian, pemerintah juga memajukan industry tenun.


Hasil industry ini banyak dekspor keluar negeri seperti Eropa, Arabia, Asia
Tenggara dan lain-lain. Pada masa Jahangir, banyak investor asing yang
diizinkan menanamkan investasinya, seperti mendirikan pabrik pengolahan
hasil pertanian di Surath.

c. Bidang Seni dan Arsitektur

Hasil karya seni dan arsitektur Mughal sangat terkenal dan dapat
dinikmati sampai sekarang. Ciri yang menonjol dari arsitektur Mughal
adalah pemakaian ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi
warna-warni. Bangunan yang menunjukkan ciri ini antara lain: benteng
merah, istaa-istana, makam kerajaan dan yang paling tujuh keajaiban dunia
yang dibangun oleh Syekh Jehan khusus untuk istrinya Noor Mahal yang
cantik jelita. Bangunan lain yang bermotif sama adalah Masjid Raya Delhi
yang berlapis marmer dan sebuah istana di Lahore.

Kebijakan-kebijakan dalam pengembangan kebudayaan ditampakkan


adanya bentuk perpaduan antara unsur Islam dengan Hindu. Bentuk ini
misalnya dapat dilihat secara jelas pada arsitektur dan lukisan pada beberapa
benteng dan istana di Ajmer, Agra, Allahabad, Lahore, dan Fathepur Sikri.
Sejumlah bangunan dinding yang berkelok-kelok untuk menyangga bagian
atap, bentuk-bentuk zoomorphic, motif lonceng dan rantai, dan sejumlah
sarana lainnya, seluruhnya telah digunakan dalam konstruksi bangunan
masjid dan istana zaman sebelumnya. Kubah yang lahir dari tradisi
arsitektur Muslim dipakai baik untuk masjid maupun kuil.
Bidang sastra juga menonjol. Banyak karya sastra yang diubah dari bahasa
Persia ke bahasa India. Pada masa Akbar berkembang bahasa Urdu, yang
merupakan perpaduan dari berbagai bahasa yang ada di India. Bahasa urdu
ini kemudian banyak dipakai di India dan Pakisan sekarang. Sastrawan
Mughal yang terkenal adalah malik Muhammad Jayashi, dengan karya
monumentalnya Padmavat, sebuah karya alegoris yang mengandung
kebajikan jiwa manusia. Sastrawan lain adalah Abu Fadhl yang juga
sejarawan. Karyanya berjudul Akbar Nama dan Ain e-Akbari, yang
mengupas sejarah Mughal berdasarkan figure pimpinannya.

d. Bidang Ilmu Pengetahuan

Dinasti Mughal juga banyak memberikan sumbangan dibidang di


bidang ilmu pengetahuan. Sejak berdiri, banyak ilmuwan yang dating ke
India untuk menuntut ilmu pengetahuan. Bahkan istana Mughal pun
menjadi pusat kegiatan kebudayaan. Hal ini karena adanya dukungan dari
penguasa dan bangsawan serta ulama. Aurangzeb misalnya, memberikan
sejumlah besar uang dan tanah untuk membangun pusat pendidikan di
Lucknow.

Di tiap-tiap masjid memiliki lembaga ingkat dasar yang dikelola oleh


seorang guru. Pada masa Syah Jehan didirikan sebuah pergurua tinggi di
Delhi. Jumlah ini semakin bertambah ketika pemerintah dipegang oleh
Aurangzeb. Dibidang ilmu agama berhasil dikodifikasika hokum islam yang
dikenal dengan sebutan Fatwa-I-Alamgri.

MASA KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN

A. Periode Kekuasaan di Era kemunduran dan kehancuran


Bahadur Syah menggantikan kedudukan Aurangzeb. Lima tahun kemudian
terjadi perebutan antara putra-putra Bahadur Syah. Jehandar dimenangkan dalam
persaingan tersebut dan sekaligus dinobatkan sebagai raja Mughal oleh Jenderal
Zulfiqar Khan meskipun Jehandar adalah yang paling lemah di antara putra
Bahadur. Penobatan ini ditentang oleh Muhammad Fahrukhsiyar, keponakannya
sendiri. Dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1713, Fahrukhsiyar keluar
sebagai pemenang. Ia menduduki tahta kerajaan sampai pada tahun 1719 M. Sang
raja meninggal terbunuh oleh komplotan Sayyid Husein Ali dan Sayyid Hasan Ali.
Keduanya kemudian mengangkat Muhammad Syah (1719-1748). Ia kemudian
dipecat dan diusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadzir Syah. Tampilnya
sejumlah penguasa lemah bersamaan dengan terjadinya perebutan kekuasaan ini
selain memperlemah kerajaan juga membuat pemerintahan pusat tidak terurus
secara baik. akibatnya pemerintahan daerah berupaya untuk melepaskan loyalitas
dan integritasnya terhadap pemerintahan pusat.

Pada masa pemerintahan Syah Alam (1760-1806) Kerajaan Mughal


diserang oleh pasukan Afghanistan yang dipimpin oleh Ahmad Khan Durrani.
Kekalahan Mughal dari serangan ini, berakibat jatuhnya Mughal ke dalam
kekuasaan Afghan. Syah Alam tetap diizinkan berkuasa di Delhi dengan jabatan
sebagai sultan.

Akbar II (1806-1837 M) pengganti Syah Alam, memberikan konsesi kepada


EIC untuk mengembangkan perdagangan di India sebagaimana yang diinginkan
oleh pihak Inggris, dengan syarat bahwa pihak perusahaan Inggris harus menjamin
penghidupan raja dan keluarga istana. Kehadiran EIC menjadi awal masuknya
pengaruh Inggris di India.

Bahadur Syah (1837-1858) pengganti Akbar II menentang isi perjanjian yang telah
disepakati oleh ayahnya. Hal ini menimbulkan konflik antara Bahadur Syah dengan
pihak Inggris. Bahadur Syah, raja terakhir Kerajaan Mughal diusir dari istana pada
tahun (1885 M). Dengan demikian berakhirlah kekuasaan kerajaan Islam Mughal
di India.

Demikianlah, setelah Aurangzeb (1707), tahta kerajaan diduduki raja-raja


yang lemah. Sementara itu dipertengahan abad ke-18, Inggris sudah mulai
menancapkan kukunya di India. Pada 1761 Inggris menguasai sebagian wilayah
kerajaan. Pada 1803 Delhi dikuasai dan penguasa Mughal berada di bawah
pengaruh Inggris. Pada 1857 penguasa Mughal mencoba membebaskan diri dari
penjajahan Inggris, tetapi ia dapat dikalahkan. Pada 1858, Bahadur II, raja Mughal
yang terakhir itu diusir Inggris dari istananya.

Kelemahan Mughal menjadi sebab makin leluasanya Inggris memperluas


wilayah jajahan. Pada masa pemerintahan Akbar II terjadi konsesi antara Mughal
dan EIC. Inggirs bebas mengembangkan usahanya dan sebagai imbalannya Inggris
memberikan jaminan kehidupan raja dan keluarga istana. Sejak itu kedudukan raja
tak ubahnya seorang pensiunan Inggris yang tidak punya kekuasaan sedikitpun.
Puncak kekuasaan Inggris diraih ada tahun 1857 ketika kerajaan Mughal benar-
benar jatuh dan rajanya terakhir, Bahadur Syah diusir ke Rangun (1858). Inggris
juga berusaha menguasai Afghanistan (1879) dan kesultanan Muslim Balucistan
juga ditaklukan (1899). Dengan demikian, imperialisme Inggris telah merata di
seluruh anak benua India.97

B. Sebab Kemunduran Dan Kehancuran

Dari masa panjang sekitar tiga setengah abad Mughal berkuasa, tetapi masa
perkembangan dan kejayaannya hanya dapat dipertahankan sekitar satu abad, yaitu
sampai dengan masa Aurangzeb (1658-1707 M). Setelah masa Aurangzeb, Mughal
mengalami kemunduran secara berangsur-angsur dalam waktu sekitar kurang dekiti
dari dua abad. Di masa Sultan Bahadur Syah, Mughal mengalami kejatuhannya
yaitu ketika sultan terakhir Bahadur Syah diusir dari istananya.

97
Ibid., 189
Banyak faktor penyebab kemunduran dan kehancurannya, antara

lain:98

1. Perebutan kekuasaan antara keluarga. Hampir semua keturunan Babur


umumnya memiliki watak yang keras dan ambisius sebagai keturunan
Ttimur Lenk yang juga wataknya demikian.

2. Pemberontakan oleh umat hindu. Umat hindu yang mayoritas dan umat
Islam yang minoritas tapi memegang otoritas kekuasaan. Hal ini
menimbulkan ketidaksenangan sebagian garis keras orang-orang hindu
kepada pemerintahan Islam. Pemberontakan-pemberontakan dari pihak
hindu beberapa kali terjadi seperti yang dipimpin oleh Hemu di Delhi dan
Agra masa Akbar I, pemberontakan yang dipimpin oleh guru Tegh Bahadur
di masa Aurangzeb, Pemberontakan di Panipat yang dipimpin oleh Rraja
Udaipur, dll.

3. Serangan dari kerajaan atau kekuatan luar. Serangan pihak luar semula
dilakukan oleh Raja Safawi di Persia, kemudian dari Afghanistan. Pangkal
perselisihan antara Mughal dan Safawi karena rebutan daerah Kandahar.

4. Kelemahan Ekonomi. Kemunduran politik Mughal sangat menguntungkan


bangsa-bangsa Barat untuk menguasai jalur perdagangan. Akhirnya
terjadilah persaingan dagang di pantai selatan India antara Inggris, Portugis,
Belanda dan Perancis, yang dimenangkan Inggris. Selanjutnya Inggris
melalui Persyarikatan Dagang India Timur atau The East India Company
(EIC) menguasai perdagangan India.

5. Intervensi Politik dan Militer dari kekuatan imperialis Barat. Konflik laten
antara kekuasaan Islam dengan umat hindu dimanfaatkan oleh Barat dengan
melakukan politik devide et impera.

6. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer


Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan
maritim Mughal.

98
Ibid., 150-151
7. Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik, yang
mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.Pendekatan

Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan


kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antaragama sangat sukar
diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya

8. Semua pewaris tahta kerajaan pada paro terakhir adalah orang-orang


lemah dalam bidang kepemimpinan.

2.12. Pengaruh Peradaban Islam Terhadap Dunia Barat

Hal yang menarik perhatian dari pergantian peradaban-peradaban adalah


sesungguhnya peradaban yang datang belakangan berdiri di atas peradaban yang
lama. Seperti inilah letak pengaruh peradaban Islam terhadap peradaban barat
modern yang datang setelahnya. Pengaruh tersebut mencakup berbagai bidang
dan mendominasi berbagai tingkat peradaban di barat modern secara umum.
Oleh karena itu, ada beberapa pengaruh peradaban Islam yang paling menonjol
terhadap peradaban barat, sebagai berikut:

1. Bidang Akidah dan Undang-Undang

Islam mempengaruhi peradaban barat dari sisi akidah. Padahal jika meninjau
peradaban mereka kini, sangatlah jauh perbedaan yang terjadi dari sisi akidah
antara akidah Islam atau dunia Timur dan dunia barat/ modern. Tetapi apabila
ditinjau akar historisnya maka tidak dapat disangkal akidah barat sebelum Islam
hadir , terdapat banyak sekali paham bodoh dengan penyembahan yang tidak
jelas sama sekali, singkatnya itulah tradisi kaum pagan.

Orang yang mempelajari sejarah agama Eropa dan gereja Nasrani dapat melihat
pengaruh rasionalitas Islam dalam kecenderungan pembaharu dan pemberontak
sistem keuskupan yang berlaku. Antaranya, ada pemberontakan oleh Martin
Luther King yang memunculkan Kristen Protestan. Gerakan ini muncul atas
penolakan Martin Luther terhadap sistem Katolik yang berada di Vatikan.99

99
Ragib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam untuk Dunia (Cet. I; Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2011), h.
781.
Selanjutnya, dikalangan Nasrani muncul gerakan penolakan tradisi pengakuan
dosa dihadapan pastur yang dianggap tidak relevan. Mereka mengajak agar
manusia mengakui dosa dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah
selayaknya yang dilakukan oleh kalangan muslimin. Gerakan ini terjadi di
Septimania sekita abad VIII M atau II/ III Hijriah. Lalu pada tahun 108 H./ 726
M Imperatur Romawi Louis III mengeluarkan aturan mengenai larangan
pensakralan gambar-gambar dan patung-patung. Kemudian tahun 112 H./ 730
M mengeluarkan keputusan lagi terhadap gambar-gambar dan patung patung
adalah bentuk paganisme.100

Pengaruh peradaban Islam lainnya dalam bidang hukum dan undang-undang


terdapat pada proses penerjemahan maszhab-mazhab fikih dan undang undang
Islam ke semua bahasa karena saat itu eropa tidak memilki sistem yang
sistematis dan undang undang yang adil. Hal ini dapat dibuktikan dengan
kemiripan undang-undang Perancis dengan Mazhab Maliki. Ketika itu
Napoleon sekitar awal abad XIX menaklukkan Mesir, kitab kitab mazhab
Maliki yang termahsyur diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis.

2. Bidang Ilmu Pengetahuan

Salah satu bidang yang paling menonjol untuk menunjukkan pengaruh Islam
terhadap dunia barat adalah dalam bidang ilmu pengetahuan. Nama-nama
seperti Averroes, Avicenna dan lain lain adalah sekian dari beberapa ilmuan
muslim yang diakui oleh barat. Ilmu kedokteran, farmasi, matematika, kimia,
optik, geografi, astronomi dan lain sebagainya adalah bukti terkuat pengaruh
Islam di bidang Ilmu pengatahuan. Banyak kalangan barat atau orientalis yang
mengakui bahwa kaum muslimin menjadi guru mereka selama kurang lebih
enam ratus tahun.

Bidang sastra sangat banyak kontribusi kaum muslimin, dapat dilihat dari
menyebarnya manuskrip Alf Laila wa Laila atau One Thousand Nigths and One
yang belakangan dikenal dengan nama Arabian Nights yang telah diterjemahkan
kedalam berbagai bahasa salah satunya bahasa Perancis dengan judul Les Mille
et Une Nuits oleh orientalis Antoine Galland. Adapun karya lainnya seperti

100
Ibid, h. 780.
Cerita Ali Baba dan Empat Puluh Pencuri atau Sinbad Sang Pelaut. Selain itu
karya mistik Jalaluddin Rumi yang berjudul Matsnawi berupa kumpulan puisi
40.000 syair rimaganda, yang telah didiktekan Rumi kepada murid dan
asistennya, Husamuddin. Terjemahan Matsnawi ke dalam bahasa Eropa telah
dikerjakan selama abad ke XIX.101

Dalam bidang Kedokteran, dua ahli kedokteran muslim telah menuliskan buku
teks-teks ilmu pengobatan yang menjadi buku standar bagi sekolah ilmu
pengobatan Eropa hingga mendekati abad ketujuh belas. Mereka adalah ar-Razi
atau Rhazes yang telah mempelopori penemuan karakter penyakit menular dan
memberikan penanganan klinis pertama terhadap penakit cacar, serta Ibnu Sina
atau Avicenna yang telah menemukan karakter penyakit menular terhadap air.
Konsep mereka berdua dikembangkan oleh Ibnul Khatib dan Ibnul Baitar
seorang diantara ahli farmasi muslim besar, yang telah menemukan sebanyak
1400 jenis obat-obatan. Adapun Ibnu Haitsam dikenal sebagai Alhazen, menulis
sebuah buku besar tentang optik berjudul Optical Thesaurus. Ia
mengembangkan teori “pemfokusan, pembesaran dan inversi bayangan
mata”.102

Dalam bidang musik, umat muslim saat itu memperkenalkan banyak instrumen
musik islami seperti lute (al-lud), pandore (tanbur) dan gitar (gitara). Kontirbusi
Muslim yang penting terhadap warisan musik mensural dalam noot dan mode
ritmik. Tarian Morris di Inggris berasal dari Moorish mentas (Morise). Spanyol
banyak menerapkan model model musikal untuk sajak dan rima syair dari
kebudayaan Muslim.103

Dalam bidang industri yang masuk kategori ilmu pengetahuan pengembangan


kertas oleh kaum muslimin menjadi salah satu bukti nyata betapa kuatnya
pengaruh Islam terhadap barat. Pengembangan kertas ini dimulai ketika kaum
muslimin memindahkan tawanan dari China ke Samarkand. Di antara tawanan
tersebut ada yang ahli membuat kertas sehingga industri kertas tampak semarak
di Samarkand. Kemudian improvisasi dilakukan sehingga bahan yang lebih

101
Mehdi Nakosteen, Kontribusi Intelektual Islam atas Dunia Barat (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), h.
256-258.

102
Ibid,. H.260
103
Ibid., h.261
halus seperti katun dan kapas menjadi bahan kertas selanjutnya. Pada masa
Harun Ar-Rasyid pabrik kertas tersebut bermunculan diwilayah kekuasaan
Abbasiyah. Sehingga dunia barat sudah mulai mengenal industri kertas yang
sebenarnya merupakan salah satu penopang dunia ilmiah dan dunia rohani104

Selanjutnya pengaruh peradaban Islam terhadap dunia modern dapat dilihat dari
minat mereka terhadap filsafat dari para filusuf Islam. Filsafat dan ilmu
pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan
penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd al-Rahman (832-886
M). Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr
Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh utama
yang kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asa, sebuah
dusun kecil di sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut
Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Rusyd dari
Cordova.105

3. Kemegahan Arsitektur

Sudah menjadi konsekuensi logis dari sebuah kemajuan keilmuan adalah


pesatnya pembangunan fisik yang disertai dengan nuansa-nuansa arsitektur
yang megah, baik di bidang laboratorium, istana, tempat ibadah, perpustakaan
maupun terkait dengan pertanian. Orang-orang memperkenalkan pengaturan
hidrolik untuk tujuan irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek curah air
waduk dibuat untuk konservasi. Pengaturan hydrolik itu dibangun dengan
memperkenalkan roda air asal Persia yang dinamakan na’urah (Spanyol Noria).

Namun pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-


gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, taman-taman.
Di antara pembangunan yang megah adalah masjid Cordova yang di bangun
pada masa ‘Abd al-Rahman al-Dakhili, kota al-Zahra, kota termegah yang
dibangun oleh ‘Abd al-Rahman III dan kota Granada yang cantik dan megah
dengan istana al-Hamra’ yang sangat terkenal di dunia, Istana Ja’fariyah di
Saragosa, tembok Toledo, istana al-Makmun dan mesjid Seville. Cordoba juga

104
Ragib As-Sirjani, op. cit. h. 785.
105
Badri Yatim, op.cit., h. 101.
terkenal dengan universitasnya, yaitu Universitas megah Cordoba yang di
bangun oleh al-Haqam II ‘Abd al-Rahman III (961- 976).106

Pada saat penaklukan oleh orang orang Islam, keadaan sosial, politik dan
ekonomi Spanyol sangat menyedihkan. Berada dibawah kepemimpinan umat
Kristen Roma yang korup dan sangat tidak efisien. Sehingga ketika Islam hadir
segalanya menhadi lebih baik. Mulai dari pertaniaan dengan pembangunan
irigasi yang baik memacu produksi yang baik pula sehingga mereka dapat
membangun kebun tebu, kapas, padi , jeruk , anggur, dan sebagainya. Karena
kemajuaan ekonomi, Spanyol mampu membangun beberapa kota yang megah
dan mempunyai banyak bangunan menumental.

Walaupun akhirnya Islam terusir dari wilayah Barat dengan cara yang sangat
kejam, tetapi Islam telah membidangi gerakan kebangkitan di Eropa, gerakan
kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik padan abad 14 M yang bermula
di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17
M dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke 18 M.

Berdasarkan dari beberapa rumusan masalah di atas maka dapat dirumuskan


pula beberapa kesimpulan mengenai pengaruh peradaban Islam di dunia modern
(barat), sebagai berikut:

1. Proses masuknya Islam ke dunia barat setidaknya ada tiga jalur utama,
pertama melalui penaklukan Spanyol pada tahun 711 M, pada masa
pemerintahan Walid bin Abdul Malik yang mengijinkan Musa bin Nusair
untuk menginvasi Spanyol. Selanjutnya, Musa bin Nusair mengutus Tarik
bin Ziyad untuk menjalankan operasi tersebut dengan 12.000 pasukan.
Tahapan selanjutnya dilangsungkan pada masa pemerintahan Umar bin
Abdul Aziz pada tahun 717 M. Kedua, ekspansi wilayah kaum muslimin ke
Sisilia pada tahun 813 M merupakan titik awal penguasaan wilayah tersebut
dengan dikuasainya kota Palermo. Ketiga, Reaksi gereja Vatikan dengan
mengawali Perang Salib pada abad ke XI M. Akhirnya perang salib yang
berlangsung lama ini, menjadi faktor yang paling nyata dari pertukaran
peradaban antara Islam dan barat kala itu.

106
Ensiklopedia Islam, op.cit, h. 148-147.
2. Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi bukti mengenai pengaruh
peradaban Islam terhadap dunia modern (barat). Pertama, dari sektor akidah
serta undang-undang (sistem pemerintahan/ hukum) yang menjadi
kekurangan dunia barat selama berabad-abad. Kedua, dari sektor Ilmu
pengetahuan yang sangat fundamental karena beragam ilmu pengetahuan
dan kecanggihan teknologi kini tidak terlepas dari pengaruh Islam. Ketiga,
yang paling terlihat dari bidang arsitektur seperti Cordoba dan lain-lainnya.
BAB III
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam (Khilafah). Jakarta PT. Ichtiar Baru Van
Hoeve, tt.

As-Sirjani, Ragib. Sumbangan Peradaban Islam untuk Dunia Cet. I; Jakarta: Pustaka Al
Kautsar, 2011.

Departemen Pendidikan Nasional, Ensiklopedia Islam Jilid I Jakarta, Bagian Proyek


Pengembangan Sistem dan Standar, 2003.

Hamka, Sejarah Umat Islam Jilid III. Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

Hassan, Hassan Ibrahim. Sejarah dan Kebudayaan Islam Cet I; Yogyakarta: Kota Kembang,
1989

Hitti, Philip K. Histrory of the Arabs Cet. I; Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2010.

http://codegyzer.wordpress.com/category/kerajaan-safawi-di-persia/

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/01/24/ok99r1313-7-faktor-
pemicu-kemajuan-sains-dan-teknologi-peradaban-islam
http://referensiagama.blogspot.co.id/2011/01/kemajuan-dan-kemunduran-islam.html
http://varysnico.wordpress.com/2011/01/30/3-kerajaan-besar-2/

http://www.freedomsiana.com/2017/02/faktor-faktor-kemajuan-peradaban-islam.html#
Http://www.istijabangel.wordpress//2012/07/10/Kerajaan-Mughal-Kegemilangan-Sejarah-
Islam-di-India.

Mahmudunnasir, Syed. Islam Konsepsi dan Sejarahnya Cet. I; Bandung: CV. Rosda, 1988.

Nakosteen, Mehdi. Kontribusi Intelektual Islam atas Dunia Barat Surabaya: Risalah Gusti,
1995.
Nasution, Harun. Ensiklopedi Islam Indonesia. cet. 2, ed. Revisi. Jakarta: Djambatan. 2002

Nasution, Syamruddin. Sejarah Peradaban Islam Cet.III. Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau.
2103
Poeradisastra, S.I. Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern Cet. II; Jakarta:
P3M, 1986.

Rosyada, Dede. Kerajaan Mughal, Ensiklopedi Islam, Nina M. Armando,et al., (ed), (Jakarta:
Ikhtiar Baru, 2005), 147

Saefudin, Didin. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press, cet. 1, 2007.

Siti Maryam, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam: Dari Klasik hingga Modern. Yogyakarta:
LESFI, Cet.3, 2009), 184

Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2008), 252 Ibid.,
261

Watt, W. Montgemary. Islam dan Peradaban Dunia Jakarta: PT. Gramedia Pustaka, 1997.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam Jakarta: PT. Gravindo Persada, 2003.