Anda di halaman 1dari 177

PANDUAN PERLINDUNGAN TERHADAP KEKERASAN FISIK

PENGERTIAN

 Kekerasan fisik adalah setiap tindakan yang disengaja atau penganiayaan secara langsung
merusak integritas fisik maupun psikologis korban, ini mencakup antara lain memukul,
menendang, menampar, mendorong, menggigit, mencubit, pelecehan seksual, dan lain-
lain yang dilakukan baik oleh pasien, staf maupun oleh pengunjung.
 Kekerasan psikologis termasuk ancaman fisik terhadap individu atau kelompok yang
dapat mengakibatkan kerusakan pada fisik, mental, spiritual, moral atau sosial termasuk
pelecehan secara verbal.
 Menurut Atkinson, tindak kekerasan adalah perilaku melukai orang lain, secara verbal
(kata-kata yang sinis, memaki dan membentak) maupun fisik (melukai atau membunuh)
atau merusak harta benda.
 Kekerasan merupakan tindakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemukulan,
pemerkosaan, dan lain-lain) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan
penderitaan atau menyakiti orang lain, dan hingga batas tertentu tindakan menyakiti
binatang dapat dianggap sebagai kekerasan, tergantung pada situasi dan nilai-nilai sosial
yang terkait dengan kekejaman terhadap binatang. Istilah “kekerasan” juga mengandung
kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang merusak. Kerusakan harta benda
biasanya dianggap masalah kecil dibandingkan dengan kekerasan terhadap orang.

TUJUAN :

Tujuan dari perlindungan terhadap kekerasan fisik, usia lanjut, penderita cacat,anak-anak dan
yang berisiko disakiti adalah melindungi kelompok pasien berisiko dari kekerasan fisik yang
dialkuakn oleh pengunjung, staf rumah sakit dan pasien lain serta menjamin keselamatan
kelompok pasien berisiko yang mendapat pelayanan di Rumah Sakit. Dan juga buku panduan ini
digunakan sebagai acuan bagi seluruh staf Rumah Sakit dalam melaksanakan pelayanan
perlindungan pasien terhadap kekerasan fisik, usia lanjut, penderita, anank-anak dan yang
berisiko disakiti.

TATA LAKSANA :

Tatalaksana dari perlindungan terhadap kekerasan fisik pada pasien sebagai berikut :

1. Petugas Rumah Sakit melakukan proses mengidentifikasi pasien berisiko melalui


pengkajian secara terperinci.
2. Bila tindak kekerasan fisik dilakukan oleh pasien : Perawat unit bertanggung jawab untuk
mengamankan kondisi dan memanggil dokter medis untuk menilai kebutuhan fisik dan
psikologis dan mengecualikan masalah medis pasien tersebut.
3. Bila tindak kekerasan dilakukan oleh anggota sataf rumah sakit : Perawat unit
bertanggung jawab menegur staf tersebut dan melaporkan insiden ke kepala bidang
terkait untuk diproses lebih lanjut.
4. Bila tindak kekerasan dilakukan oleh pengunjung : Staf bertanggung jawab dan memiliki
wewenang untuk memutuskan diperbolehkan atau tidak pengunjung tersebut memasuki
area Rumah Sakit.
5. Monitoring di setiap lobi, koridor rumah sakit, unit rawat inap, rawat jalan maupun di
lokasi terpencil atau terisolasi dengan pemasangan kamera CCTV ( Closed Circuit
Television ) yang terpantau oleh Petugas Keamanan selama 24 ( dua puluh empat ) jam
terus menerus.
6. Setiap pengunjung rumah sakit selain keluarga pasien meliputi : tamu RS, detailer,
pengantar obat atau barang, dan lain-lain wajib melapor ke petugas informasi dan wajib
memakai kartu Visitor.
7. Pemberlakuan jam berkunjung pasien : Senin – jumat pagi : jam 10.00 – 11.00 WIB
Sore : jam 16.00 – 17 .00 WIB
8. Petugas keamanan berwenang menanyai pengunjung yang mencurigakan
danmendampingi pengunjung terebut sampai ke pasien yang dimaksud.
9. Staf perawat unit wajib melapor kepada petugas keamanan apabila menjumpai
pengunjung yan mencurigakan atau pasien yang dirawat membuat keonaran maupun
kekerasan.
10. Petugas keamanan mengunci akses pintu penghubung antar unit pada jam 21.00 WIB.
11. Pengunjung diatas jam 22.00 WIB lapor dan menulis identitas pengunjung pada petugas
keamanan.

Tata laksana perlindungan terhadap pasien usia lanjut dan gangguan kesadaran :

1. Pasien Rawat jalan


o Pendampingan oleh petugas penerimaan poasien dan mengantarkan sampai ke
tempat periksa yang dituju dengan memakai alat bantu bila diperlukan.
o Perawat poli umum, spesialis dan gigi wajib mendampingi pasien saat dilakukan
pemeriksaan sampai selesai.
2. Pasien rawat inap
o Penempatan pasien dikamar rawat inap sedekat mungkin dengan kantor perawat
o Perawat memastikan dan memasang pengaman tepat tidur
o Perawat memastikan bel pasien mudah dijangkau oleh pasien dan dapat
digunakan.
o Meminta keluarga untuk menjaga pasien baik oleh keluarga atau pihak yang
ditunnjuk dan dipercaya.

Tata laksana perlindungan terhadap penderita cacat :

1. Petugas penerima pasien melakukan proses penerimaan pasien penderita cacat baik rawat
jalan maupun rawat inap dan wajib membantu serta menolong sesuai dengan kecacatan
yang disandang sampai proses selesai dilakukan.
2. Bila diperlukan, perawat meminta pihak keluarga untuk memnjaga pasien atau pihak lain
yang ditunjuk sesuai kecacatan yang disandang.
3. Memastikan bel pasien dijangkau oleh pasien dan memastikan pasien dapat
menggunakan bel tersebut.
4. Perawat memasang dan memsatikan pengaman tempat tidur pasien.

Tata laksana perlindungan terhadap anak-anak:

1. Ruang perinatologi harus dijaga minimal satu orang perawat atau bidan, ruangan tidak
boleh ditinggalkan tanpa ada perawat atau bidan yang menjaga.
2. Perawat meminta surat pernyataan secara tertulis kepada orang tua apabila akan
dilakukan tindakan yang memerlukan pemaksaan.
3. Perawat memasang pengamanan tempat tidur pasien.
4. Pemasangan CCTV diruang perinatologi untuk memantau setiap orang yang keluar
masuk dari ruang tersebut.
5. Perawat memberikan bayi dari ruang perinatologi hanya kepada ibu kandung bayi bukan
kepada keluarga yang lain.

Tata laksana perlindungan terhadap pasien yang berisiko disakiti ( risiko penyiksaan, napi,
korban dan tersangka tindak pidana, korban kekeran dalam rumah tangga ) :

1. Pasien ditempatkan dikamar perawatan sedekat mungkin dengan kantor perawat.


2. Pengunjung maupun penjaga pasien wajib lapor dan mencatat identitas dikantor
perawat,berikut dengan penjaga psien lain yang satu kamar perawatan dengan pasien
berisiko.
3. Perawat berkoordinasi dengan satuan pengamanan untuk memantau lokasi perawatan
pasien,penjaga maupun pengunjung pasien.
4. Koordinasi dengan pihak berwajib bila diperlukan.

Daftar kelompok pasien berisiko adalah sebagai berikut :

1. Pasien dengan cacat fisik dan cacat mental.


2. Pasien usia lanjut
3. Pasien bayi dan anak-anak
4. Korban kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT)
5. Pasien Napi,korban dan tersangka tindak pidana.
DOKUMENTASI
Pencatatan kejadian rawat inap dan rawat jalan :
1. Formulir insiden keselamatan pasien
2. Lembar status rawat jalan
3. Lembar catatan Pelayanan
4. Buku pencatatan pengunjung pasien.
PENUTUP
Dengan ditetapkannya Buku Pandean Perlindungan Terhadap Kekerasan Fisik,Usia Lanjut
Penderita Cacat,Anak-anak dan yang Berisiko Disakiti maka setiap personil Rumah Sakit dapat
melaksanakan prosedur perlindungan terhadap kekerasan fisik,usia lanjut,penderita cacat,anak-
anak dan yang berisiko disakiti dengan baik dan benar serta melayani psien dengan memuaskan.
Proceedings of The 1st Annual Internasional Conference on Islamic Early Childhood Education
© 2016 Faculty of Tarbiyah and Teaching Science, State Islamic University Kalijaga, Y
ogyakarta http://ejournal.uin-suka.ac.id/tarbiyah/conference/index.php/iciece/iciece1 Online
ISSN (e- ISSN): 2548-4516
Volume 1, December 2016 (149-158)

Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Al Riza Ayurinanda
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta alrizacheria21@yahoo.com

Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang berbagai tips yang bisa digunakan
oleh para orang tua dan guru dalam melindungi anak usia dini dari bahaya kekerasan seksual.
menjelaskan tentang ciri-ciri anak yang telah menjadi korban kekerapan seksual dan dampak yang
dialami anak, baik dampak fisik, psikis, kesehatan maupun dampaknya terhadap perkembangan otak
anak. Orang tua berperan penting dalam memberikan perlindungan terhadap anak dari bahaya
kekerasan seksual. salah satu cara yang bisa diupayakan oleh para orang tua dan guru adalah
memberikan bekal pendidikan seks sejak dini kepada anak. Pendidikan seks yang dimaksud tidak perlu
yang detail dan mendalam, cukup pengetahuan-pengetahuan dasar yang sesuai dengan bahasa anak-
anak, serta keterampilan-keterampilan dasar yang harus diketahui anak dalam menjaga tubuhnya dari
kejahatan seksual oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
K ata K unci: Anak usia dini, kekerasan seksual

Pendahuluan
Kasus kekerasan seksual di Indonesia semakin sering terjadi dan terus meningkat dari waktu ke waktu.
Korban kekerasan seksual tersebut tidak hanya dari kalangan orang dewasa, bahkan sudah merambah
pada usia remaja, anak-anak bahkan balita. Ironisnya pelaku kekerasan seksual pada anak-anak atau
balita tidak jauh dari orang terdekat yang sehari-hari berinteraksi dengan korban yang berasal dari
lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat sekitar rumah, bahkan lingkungan sekolah.

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak bahwa Negara Kesatuan Republik
Indonesia menjamin kesejahteraan tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak
yang merupakan hak asasi manusia. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan
berkembang serta berkah atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Perlindungan yang
dimaksudkan adalah untuk melindungi anak dari penelantaran secara ekonomi, korban perdagangan,
korban penyalahgunaan zat adiktif dan korban kekerasan seksual. Dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara anak adalah generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa peran strategis, ciri dan sifat
khusus sehingga wajib dilindungi dari segala bentuk perlakuan tidak manusiawi yang mengakibatkan
terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Karena pada dasarnya anak adalah sebuah amanah sekaligus
karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus dijaga dan hak-hak anak sebagai manusia harus
dijunjung tinggi.

Catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang dikutip oleh Liputan6.com menyebutkan
bahwa angka pelecehan seksual terhadap anak semakin tinggi setiap tahun.

pelaku," ujar Sekretaris KPAI Rita Pranawati kepada Liputan6.com di Kantor KPAI, Jakarta, Jumat
(4/3/2016). Rita menjelaskan, modus pelecehan seksual semakin beragam dan aneh. Hal-hal
yang tak terduga dapat terjadi. Selain kemajuan teknologi dan kurangnya pengetahuan orang tua
dalam mengasuh dan mendidik anaknya, lingkungan pergaulan juga menjadi penyebabnya.
"Semakin hari, semakin aneh-aneh yang akan kita dengar, di luar dugaan dan nalar kita. Sebab
modus pelecehan dan kekerasan seksual pada anak terjadi karena cara asuh yang salah, sehingga
peluang pelaku kejahatan semakin lebar," papar dia.1
Artinya bahwa metode yang dipakai oleh para orang tua dalam mengasuh anak masih menggunakan
metode lama yang didapat ketika kecil, tanpa mempelajari perubahan zaman. Menurut pemaparan Rita
Pranawati selaku sekretaris KPAI tersebut bahwa hasil penelitian KPAI menyebutkan bahwa 70 persen
orang tua belum mampu mengasuh anak memakai metode yang sesuai digunakan pada zaman
sekarang. Banyak orang tua di Indonesia yang hanya menerapkan metode yang diperoleh dari ayah ibu
mereka sebelumnya. Sedangkan zaman dan kemajuan teknologi membutuhkan cara atau pola asuh yang
baru.

Berdasarkan pemaparan di atas, menjelaskan bahwa diperlukannya upaya perlindungan terhadap anak
melalui metode pengasuhan sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin kompleks akan modus
kejahatan terhadap anak. Peran orang tua dan guru sangatlah diperlukan dalam upaya perlindungan
anak dari bahaya kekerasan seksual. Orang tua tidak bisa sepenuhnya mengawasi anak ketika anak
berada di lingkungan sekolah, dan begitu pula sebaliknya. Sehingga diperlukan kolaborasi di antara
orang tua dan guru dalam upaya melindungi anak dari tindak kekerasan seksual.

Selain alasan tersebut, anak merupakan pihak yang sangat rentan mengalami tindak kekerasan seksual,
karena usia anak yang masih dini memungkinkan pelaku untuk memperdayai korban dengan sangat
mudah. Maka, anak memerlukan perlindungan berupa pemahaman terkait cara menjaga diri yang baik
agar terhindar dari tindak kekerasan.

Kekerasan Seksual Terhadap Anak


Kekerasan seksual pada anak adalah segala bentuk perbuatan pelecehan seksual yang membuat anak
tersiksa serta menderita kerugian fisik maupun psikis. Kekerasan seksual pada anak juga diartikan
sebagai penggunaan anak dan remaja yang masih dependen, belum matang tingkat perkembangannya,
1
http://news.liputan6.com/read/2451254/kpai-pelecehan-seksual-pada-anak-meningkat-100 Diakses pada
tanggal 27 Desember 2016, pukul 07.13.
dalam kegiatan yang tidak dipahami sepenuhnya oleh mereka, yang mereka tidak mampu melakukannya
secara sukarela, atau melanggar norma sosial dari peran keluarga. 2

Kekerasan seksual yang dirumuskan oleh KOMINFO adalah setiap perbuatan pemaksaan hubungan
seksual, dengan cara tidak wajar dan tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain
untuk tujuan komersial atau tujuan tertentu. Kejahatan seksual belum tentu diawali dengan tindakan
kekerasan. Pelaku bisa melakukannya dengan merayu, berbohong, memberikan janji-janji yang
menyenangkan, atau memberi hadiah, sehingga korban tidak merasa dipaksa oleh pelaku. Bentuk
kekerasan seperti ini biasanya dilakukan oleh orang yang telah dikenal anak, seperti keluarga, tetangga,
guru maupun teman sepermainan.3 Sedangkan usia korban kekerasan seksual yang termasuk usia anak
tersebut mengacu pada Undang-undang Perlindungan Anak, yaitu 0-18 tahun.4

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, jelas bahwa kekerasan seksual sangat merugikan anak.
Hubungan seksual yang dipaksakan akan merusak diri anak baik secara fisik maupun psikis atau mental
anak. Seorang anak yang memperoleh perlakuan kekerasan seksual seperti yang dijelaskan di atas, akan
bisa berubah menjadi pelaku tindak kekerasan seksual di kemudian hari. Alasannya karena saat anak
mengalami kekerasan seksual, maka anak cenderung akan mengalami trauma yang menyakitkan.
Kondisi traumatik ini memaksa korban untuk mengedepankan pengalaman pahitnya ke alam bawah
sadar sehingga kelak akan mempengaruhi sikap, cara pandang dan orientasi seksualnya di fase
kehidupan selanjutnya. Apabila dalam kondisi ini anak tidak mendapatkan pendampingan dari psikolog
atau psikiater, maka anak akan muak terdorong untuk melakukan tindak agresif atau kekerasan seksual
yang sama terhadap orang lain di kemudian hari. Untuk itu perlu adanya upaya melindungi anak dari
bahaya kekerasan seksual yang semakin merambah di Indonesia ini.

Bentuk-bentuk Kekerasan Seksual terhadap Anak


Menurut Konvensi Hak Anak KHA dalam Nainggulan disebutkan bahwa bentuk kekerasan seksual dibagi
menjadi empat bentuk. Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual komersial termasuk penjualan
anak (sale children) untuk tujuan prostitusi (Child prostitustion) dan pornografi (Child phornografy).
Kekerasan seksual bisa berupa hubungan seks, baik melalui vagina, penis, oral, dengan menggunakan
alat, sampai dengan memperlihatkan alat kelaminnya, pemaksaan seksual, sodomi, onani, pelecehan

2
Ahmad Sofian dkk, Kekerasan Seksual terhadap Anak Jermal (Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan
UGM, 1999), 31.
3
Farida Dewi Maharani, dkk, Anak adalah Anugerah: Stop Kekerasan Terhadap Anak (Jakarta: KOMINFO,
2015), 14.
4
Wahyu Agung Hariyadi, Pendampingan Hukum terhadap Anak sebagai Korban Kekerasan Seksual oleh
P2TPA Mutiara di Kabupaten Klaten, Skripsi Hukum, UIN
Sunan Kalijaga, 2014), 35.
seksual, atau perbuatan incest.5 Sedangkan menurut Paola Vireo bentuk-bentuk kekerasan seksual pada
anak adalah:6 1) Eksploitasi seksual komersial adalah kekerasan seksual terhadap anak untuk
mendapatkan keuntungan, 2) Pelacuran anak adalah menggunakan anak untuk tujuan seksual seperti
hubungan seksual, 3) Pornografi anak adalah pertunjukan apapun dan dengan cara apa saja yang
melibatkan anak di dalam aktivitas seksual, 4) Trafficking adalah suatu tindakan perekrutan,
pemindahan, pengiriman anak-anak untuk tujuan eksploitasi, 5) Pariwisata seks anak merupakan
eksploitasi seksual komersial anak yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan yang melakukan
perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain, dan mereka melakukan hubungan seks dengan anak.

Ciri-ciri Korban Kekerasan Seksual


Orang tua maupun guru di sekolah hendaknya juga mengenali ciri-ciri anak korban kekerasan seksual
serta dampak yang terjadi pada anak ketika mendapatkan tindak kekerasan seksual. Tujuannya agar
anak korban kekerasan seksual tersebut tidak terlambat untuk ditangani, baik secara medis maupun
psikologis.

Umumnya anak yang menjadi korban kejahatan seksual tidak langsung melapor pada orang tua atau
guru. Oleh karena itu, baik orang tua maupun guru harus lebih jeli melihat tanda-tandanya, baik fisik
maupun psikis. Adapun perubahan pada anak yang perlu diwaspadai sebagai berikut:7 1) sulit tidur,
mimpi buruk, 2) menerima hadiah yang tidak bisa dijelaskan, 3) takut terhadap orang dewasa tertentu,
4) rewel tidak jelas, 5) penggunaan internet berlebihan, 6) menunjukkan perilaku seksual tidak tepat
usia (misalnya: menyebutkan kata-kata seksual, melakukan masturbasi), 7) tiba-tiba berubah
perilakunya, terlihat tidak nyaman (insecure), 8) kembali mengompol, 9) bersikeras menghindari
seseorang anggota keluarga tertentu, 19) terus menyimpan rahasia, 11) sakit di area intim.

Ciri-ciri anak korban kekerasan seksual lainnya juga dijelaskan dalam sebuah artikel yang disusun oleh
Telepon Sahabat Anak (TESA) menyebutkan tentang tanda atau ciri-ciri anak korban kekerasan seksual,
seperti gerakan berlebihan yang tidak wajar bisa ditunjukkan dengan 1) kedua bahu terangkat sehingga
menutupi leher, 2) kepala tertunduk ke dalam, 3) kedua tangan dan kedua kaki menyimpul erat, 3) lutut
tertekuk ke dalam, 4) tubuh menekuk, 5) mata berkedip kedip, 6) wajah pucat pasi, dan 7) secara fisik
ditandai dengan; mengeluh kesakitan saat BAB dan BAK, sakit jika memakai celana dalam, cara jalan
yang tidak wajar seperti mengangkang, ditemukan bekas bercak darah atau cairan di celana dalam anak,
rasa panas dan nyeri di area genital dan teras sakit jika disentuh, dan ada kemungkinan ditemukan
bagian pakaian yang robek atau kancing yang lepas karena ditarik paksa. 8

5
Lukman Hakim Nainggulan, Bentuk-bentuk Kekerasan Seksual Anak, Jurnal Equality, Vol. 13. 13: 1
(Februari, 2008), 73.
6
Paola Vireo, Melindungi Anak-anak dari Eksploitasi Seksual & Kekerasan Seksual dalam Situasi Bencana
dan Gawat Darurat (Jakarta: Ecpat, 2005), 11-12.
7
Farida Dewi Maharani, dkk, Anak adalah Anugerah: Stop Kekerasan Terhadap Anak,...30-31.
8
http://tesa129.badungkab.go.id/ciri-ciri-anak-sudah-terkena-kekerasan-seksual/ Diakses pada tanggal 27
Desember 2016, pukul 07.43.
Ciri-ciri anak korban kekerasan seksual seperti dijelaskan di atas hendaknya dipahami oleh para orang
tua maupun guru di sekolah. Agar penanganan dan perlindungan terhadap korban tidak terlambat,
sehingga tidak menimbulkan dampak yang terlalu parah untuk korban. Orang tua maupun guru tidak
perlu takut, ragu atau malu melaporkan ciri-ciri anak yang mengalami kekerasan seksual tersebut
kepada pihak yang berwenang seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), psikolog ataupun
dokter jika sampai melukai fisiknya. Namun, orang tua maupun guru hendaknya bisa menjaga rahasia,
artinya bahwa data pribadi anak agar tidak menjadikan rumor yang justru akan menambah beban
mental anak. Berikut akan dijelaskan beberapa dampak yang mungkin terjadi pada anak korban
kekerasan seksual.

Dampak Kekerasan Seksual Terhadap Anak


1. Dampak psikis, yakni biasanya membuat anak merasa cemas, menjadi pendiam, rendah diri,
penakut, menarik diri dari pergaulan dan hanya bisa iri tanpa mampu bangkit.
2. Dampak sosial, yakni membuat anak dikeluarkan dari sekolah, dikucilkan dari lingkungannya,
kehilangan masa anak-anak, menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan mempunyai
perilaku seks menyimpang.
3. Dampak kesehatan, seperti kehamilan tidak diinginkan, terjangkit penyakit seks menular,
terganggunya kesehatan reproduksi, aborsi, dan kematian.9
4. Dampak pada otak anak
Kejahatan juga dapat mempengaruhi otak anak. Hal ini dikarenakan otak anak masih dalam
tahap perkembangan sehingga mudah sekali terpengaruh oleh lingkungan, termasuk jika anak pernah
mengalami trauma kejahatan seksual. Secara medis, akibat dari kejahatan seksual adalah otak anak akan
mengalami penyusutan volume terutama pada bagian hipokampus (bagian yang mempengaruhi memori
dan navigasi ruangan). Penyusutan inilah yang menjadi salah satu penjelasan kenapa seseorang anak
mengalami masalah cenderung akan berperilaku menyimpang psikogenik lanjutan. 10 Penjelasan tersebut
bisa juga menjawab pertanyaan yang selama ini sering muncul, yaitu kaitan antara kejahatan seksual
dengan hafalan banyak yang hilang atau seseorang akan mudah lupa dengan apa yang dipelajari atau
yang dihafalkannya termasuk ayat-ayat suci Al itu menurunnya volume pada bagian
hipokampus tersebut, menurut

asumsi penulis bisa juga menjadi alasan mengapa anak yang menjadi korban kekerasan seksual bisa
menjadi pelaku kekerasan seksual bila tidak adanya penanganan khusus dari pihak yang berwenang dan
dukungan dari lingkungan terdekat yaitu orang tua dan guru di sekolah.

Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

9
Farida Dewi Maharani, dkk, Anak adalah Anugerah: Stop Kekerasan Terhadap Anak,...15.
10
Ibid., 34.
Banyak dari kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi belakangan ini adalah akibat dari pola
asuh yang salah dari orang tua. Para orang tua masih merasa tabu untuk memberikan pendidikan seks
terhadap anak-anak, karena sebagian besar mereka masih menggunakan cara lama dalam mengasuh
anak. Menganggap bahwa masalah pembekalan tentang pemahaman pendidikan seks masih sangat
tabu untuk dibicarakan, padahal saat ini anak-anak dengan mudahnya memperoleh informasi tersebut
melalui berbagai macam media. Hal yang dikhawatirkan adalah anak-anak memperoleh informasi
dengan cara yang salah. Selain itu, pelaku kejahatan seksual terkadang bukanlah berasal dari orang yang
tidak dikenal oleh anak-anak. Kebanyakan dari kasus yang terjadi, pelaku kejahatan tersebut adalah
orang terdekat korban seperti dari keluarga dekat, tetangga, guru, teman sebaya bahkan dari orang tua
korban itu sendiri. Untuk itu, perlu adanya pembekalan kepada anak seputar cara menjaga diri dari
bahaya kejahatan seksual.

Orang tua memegang peranan penting dalam menjaga anak-anak dari ancaman kekerasan seksual.
Namun, posisi orang tua tidak bisa menjadi pihak yang 100 persen menemani, mengasuh dan mendidik,
karena kesibukan orang tua untuk bekerja di luar rumah, dan anak yang harus bersekolah serta hak anak
untuk bermain dengan teman sebayanya. Untuk itu, orang tua sebaiknya membekali anak dengan
informasi mengenai seluk beluk perkembangan tubuh dan psikologi anak. Karena kini anak-anak
cenderung lebih cepat mengalami puber, yakni usia 10-12 tahun, pembekalan tentang seks sebaiknya
dimulai lebih awal, yaitu sejak 8-9 tahun. Pendidikan seks yang diberikan kepada anak tidak perlu terlalu
serius atau mendetail, melainkan melalui obrolan santai selayaknya antara anak dan orang tua. Berikut
ini akan dijelaskan tips atau strategi pemberian pendidikan seks yang sesuai dengan usia anak, yaitu: 11
Anak usia 7-8 tahun
Di usia ini anak akan mulai kritis menanyakan dari mana mereka berasal. Orang tua tidak perlu lagi
berbohong atau mengarang cerita. Justru pertanyaan ini adalah pertanyaan awal yang dapat dijadikan
acuan bagi orang tua menjelaskan secara simpel tentang asal usul anak. Jawab saja semua pertanyaan
anak sesederhana mungkin dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. Jika ada istilah yang tidak
dapat disederhanakan, orang tua harus menunjukkannya melalui cerita. Pendidikan seks pada usia ini
masih bersifat dasar, mencakup perbedaan lelaki dan perempuan, mengungkapkan rasa sayang dengan
ciuman pipi, belaian, yang dilakukan dengan sopan. Intinya bahwa memberikan gambaran kepada anak
bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda, dan mampu menghasilkan anak jika kelak mereka menikah,
dan tetap ada batasan pergaulan antara mereka.
Anak usia 9-11 tahun
Di usia ini, anak akan semakin kritis sebab sudah mampu mencerna media di sekitarnya, seperti
TV, radio, majalah, surat kabar, buku, bahkan internet. Pada usia puber, anak laki-laki mengalami mimpi
basah dan anak perempuan mulai menstruasi dan mulai mampu merasakan stimulasi seks ketika
melihat adegan-adegan tertentu, baik itu dari film maupun bacaan. Periode usia ini memang
mendudukkan orang tua dalam posisi serba salah, ingin menganggap anaknya masih anak-anak, namun
di sisi lain mereka sudah dewasa dari yang dikira.

11
Merry Magdalena, Melindungi Anak Dari Seks Bebas (Jakarta: Grasindo, 2010), 47-52
Hal yang harus orang tua lakukan adalah: 1) penjelasan soal nafsu; periode ini anak sudah layak
dikenalkan dengan asal usul munculnya rangsangan seksual sebab mereka pasti akan mengalaminya.
Bisa dimulai ketika sedang menonton TV, tampak ada adegan ciuman, atau cewek dan cowok sedang
jatuh cinta. Sebelumnya ayah dan ibu perlu membekali diri dari beberapa pengetahuan dan informasi
seputar alat reproduksi, nafsu biologis dan lain-lain. jika ada pertanyaan anak yang orang tua tidak
sanggup menjawabnya, bisa dicoba membuka internet bersama-sama. Sehingga anak tidak mencari atau
memperoleh informasi dengan cara yang salah dan semaunya sendiri. 2) berbagi pengalaman; idealnya,
ayah yang memberi penjelasan kepada anak laki-laki dan ibu kepada anak perempuan. Ayah bisa mulai
berbagi kisah mengenai mimpi basah pertamanya kepada anak, dan ibu berbagi pengalaman tentang
menstruasi pertama pada anak perempuannya. Sehingga anak akan menyadari bahwa mereka
mengalami perubahan setelah memasuki usia tertentu. 3) pembatasan pergaulan; mulai periode ini
perlu ditekankan bahwa antara anak laki-laki dan perempuan mulai ada pembatasan pergaulan. Kaum
laki-laki diarahkan untuk menghormati lawan jenis tidak bersikap kurang ajar. Pada anak perempuan
ditekankan bahwa dia bukan lagi anak-anak yang bisa dengan mudah diraba-raba, dicolek-colek lawan
jenis, terlebih oleh orang dewasa.

Penjelasan di atas lebih khusus ditujukan pendidikan seks pada anak usia sekolah. Berikut juga
dijelaskan tentang strategi atau tips untuk melindungi anak dari kekerasan seksual sejak usia dini. Orang
tua sebaiknya memberikan pengarahan sejak dini bagaimana anak mampu melindungi dirinya sendiri,
seperti: 1) ajarkan kepada anak bahwa bagian tubuh mulut, dada atau payudara, alat kelamin dan
bokong tidak boleh dilihat dan disentuh oleh sembarang orang, 2) bagian tubuh anak hanya boleh
disentuh oleh ayah ibu ketika memandikan, ayah ibu ketika membersihkan setelah buang air, dan juga
oleh dokter ketika memeriksa dengan didampingi oleh orang tua.12

Selain itu, terdapat beberapa hal yang perlu diajarkan kepada anak usia 5-7 tahun dalam
mencegah pelecehan seksual, seperti: 1) kenalkan kepada anak bedanya orang asing, teman, sahabat
dan muhrim, 2) ajarkan anak untuk mempercayai perasaannya sendiri, 3) belajar berkata tidak, 4)
belajar bersikap tegas dan judes ketika merasa dirinya terancam, 5) yakinkan anak untuk bisa berbagi
rahasia dengan orang tua, dan 6) biasakan anak untuk menahan pandangan, menjaga kemaluan sejak
dini, tertib saat tidur tidak menggunakan pakaian minim, menutup kamar dan pisah tidur dengan orang
tua atau lawan jenis, serta tertib saat mandi yakni,
istinja bersama orang lain, menutup tubuh bukan hanya dengan handuk ketika keluar kamar mandi, dan
tidak berganti pakaian di depan orang lain.13

Berdasarkan pemaparan di atas, jelas bahwa peran orang tua dan pola asuh orang tua adalah
faktor penting pencegah kekerasan seksual pada anak sejak dini. Pembekalan pendidikan seks dan
pengawasan lingkungan baik di rumah maupun di sekolah, menjadi peran penting dalam melindungi
anak dari bahaya kekerasan seksual. Sehingga anak bisa membekali diri dengan pertahanan yang kuat.
Namun, masih banyak ditemui anak mengalami kekerasan seksual karena pengaruh dari pola asuh yang
salah. Maka, penjelasan atau tips yang telah dipaparkan di atas bisa digunakan oleh orang tua sebagai

12
Farida Dewi Maharani, dkk, Anak adalah Anugerah: Stop Kekerasan Terhadap Anak,...36.
13
Ibid., 42.
metode baru yang mengikuti perkembangan zaman saat ini, tidak hanya menerapkan metode lama yang
diperoleh dari orang tua mereka sebelumnya.

Simpulan
Anak merupakan amanah sekaligus anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, untuk
senantiasa dijaga dan hak-hak anak sebagai manusia harus dijunjung tinggi. Orang tua adalah sumber
utama anak memperoleh pendidikan dan pengetahuan sebagai bekal anak untuk meneruskan
perjuangan bangsa ini. Pendidikan dan cara asuh yang salah akan memberikan dampak yang kurang baik
pada diri anak. Salah satu dampaknya adalah anak dengan mudahnya menjadi korban kekerasan seksual
bahkan menjadi pelaku kejahatan tersebut. Untuk itu, orang tua dan guru mempunyai andil besar dalam
melindungi anak dari bahaya kekerasan seksual tersebut.

Perlindungan yang diberikan kepada anak salah satunya adalah dengan membekali anak dengan
pendidikan seks sejak dini. Pendidikan seks yang dimaksudkan tidak perlu terlalu detail dan mendalam,
cukup mengajarkan dan memberikan pemahaman seputar kebutuhan seks sesuai dengan usia anak dan
dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Orang tua dianggap perlu mengajarkan cara-cara
menjaga tubuh anak sedini mungkin, misalnya mengajarkan bahwa bagian tubuh anak tidak boleh
disentuh oleh sembarang orang, kecuali orang tua yang sedang memandikan, ataupun dokter yang
memeriksa ketika sakit. Mengajarkan anak untuk selalu berpakaian rapi dan menutup aurat atau
menutup bagian-bagian tubuh anak yang harus dijaga. Kemudian, membiasakan anak untuk
menceritakan berbagai pengalamannya saat di sekolah dan bermain dengan teman-teman sebayanya,
agar orang tua lebih mudah dalam mengontrol kegiatan sehari-hari anak ketika jauh dari pengawasan
orang tua. Keterampilanketerampilan dasar tersebut perlu diajarkan anak memahami bagaimana cara
melindungi dirinya sendiri ketika jauh dari pengawasan orang tua maupun guru.

Selain itu, para orang tua dan guru perlu memahami ciri-ciri anak yang telah menjadi korban kejahatan
seksual. Di zaman yang serba modern ini orang tua dan guru dituntut untuk lebih peka terhadap segala
bentuk perubahan perilaku dari anak yang dianggap mencurigakan. Karena bisa saja anak-anak tersebut
mengalami kejahatan seksual dari orang terdekat di lingkungan sekitarnya, baik dari lingkungan
keluarga, masyarakat atau bahkan sekolah. Jika penanganan terhadap anak korban kejahatan seksual
tersebut terlambat, dikhawatirkan akan berdampak lebih buruk lagi, baik dampak fisik, psikis, kesehatan
maupun pengaruhnya terhadap perkembangan otak anak.

Melindungi anak dari bahaya kekerasan seksual tidaklah bisa dilakukan oleh orang tua saja. Karena
orang tua memiliki keterbatasan ruang dan waktu dalam memberikan pengawasan terhadap anak. Hal
itu sebaiknya dilakukan atas kerja sama dari orang tua, masyarakat terdekat dan guru di sekolah. Anak-
anak khususnya anak usia dini adalah pihak yang rentan mengalami kekerasan seksual tersebut, karena
mereka adalah pihak yang lemah dan masih sangat minim pengetahuan. Untuk itu peran orang dewasa
di sekitarnya adalah melindungi bukanlah menyakiti, bahkan merusak masa depan anak.
Daftar Pustaka

Hariyadi, Wahyu Agung. Pendampingan Hukum terhadap Anak sebagai Korban Kekerasan Seksual oleh
P2TPA Mutiara di Kabupaten Klaten, Skripsi. Yogyakarta:
Hukum, UIN Sunan Kalijaga, 2014.
http://news.liputan6.com/read/2451254/kpai-pelecehan-seksual-pada-anak-meningkat100 Diakses
pada tanggal 27 Desember 2016, pukul 07.13. http://tesa129.badungkab.go.id/ciri-ciri-anak-sudah-
terkena-kekerasan-seksual/ Diakses pada tanggal 27 Desember 2016, pukul 07.43.

Magdalena, Merry. Melindungi Anak Dari Seks Bebas. Jakarta: Grasindo, 2010.

Maharani, Farida Dewi dkk. Anak adalah Anugerah: Stop Kekerasan Terhadap Anak.
Jakarta: KOMINFO, 2015.
Nainggulan, Lukman Hakim. Bentuk-bentuk Kekerasan Seksual Anak, Jurnal Equality, Vol. 13. 13: 1.
Februari, 2008.

Sofian, Ahmad dkk. Kekerasan Seksual terhadap Anak Jermal. Yogyakarta: Pusat Penelitian
Kependudukan UGM, 1999.
Vireo, Paola. Melindungi Anak-anak dari Eksploitasi Seksual & Kekerasan Seksual dalam Situasi Bencana
dan Gawat Darurat. Jakarta: Ecpat, 2005.
PERATURAN
MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 2 TAHUN 2011
TENTANG
PEDOMAN PENANGANAN ANAK KORBAN KEKERASAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi serta bentuk-bentuk eksploitasi baik ekonomi, seksual,
penelantaran, ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya;

b. bahwa Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan


Anak mewajibkan kepada negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang
tua untuk bertanggung jawab menyelenggarakan perlindungan anak terutama
dari kekerasan;

c. bahwa anak yang mengalami kekerasan menderita secara fisik, psikis,


dan mental sehingga diperlukan upaya untuk menyembuhkan kondisinya
seperti semula;

d. bahwa dalam upaya membantu Pemerintah, Pemerintahan Provinsi,


dan Pemerintahan Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam menyelenggarakan
perlindungan anak dari kekerasan diperlukan pedoman tentang Penanganan
Anak Korban
Kekerasan; e. bahwa
berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b,
huruf c, dan huruf d, perlu menetapkan Peraturan Menteri Negara
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tentang Pedoman
Penanganan Anak Korban

Kekerasan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor

4235);

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan


Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4419);

3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi


Korban (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 64,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4635);

4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan


Tindak Pidana Perdagangan Orang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4720);

5. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 181,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4928);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian


Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009 tentang 7. Pembentukan dan
Pengangkatan Menteri Negara Kabinet

Indonesia Bersatu II;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN


PERLINDUNGAN ANAK TENTANG PEDOMAN
PENANGANAN ANAK KORBAN KEKERASAN.

Pasal 1

(1) Pedoman Penanganan Anak Korban Kekerasan meliputi:


a. pelayanan identifikasi;
b. rehabilitasi kesehatan;
c. rehabilitasi sosial;
d. pemulangan;
e. bantuan hukum; dan
f. reintegrasi sosial.
(2) Penanganan anak korban kekerasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan secara khusus sesuai kepentingan terbaik bagi anak.

Pasal 2

Mekanisme dan langkah-langkah penanganan anak korban kekerasan,


koordinasi pelayanan, monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan
pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 serta formulir data anak
korban kekerasan adalah

sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Menteri ini yang


merupakan bagian yang tidak terpisahkan.

Pasal 3
(1) Pedoman Penanganan Anak Korban Kekerasan menjadi acuan Pemerintah,
Pemerintahan Daerah, Organisasi Masyarakat, Lembaga Layanan yang
menangani anak korban kekerasan.
(2) Pedoman Penanganan Anak Korban Kekerasan disusun dan diterapkan
dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib Pemerintahan Provinsi dan
Kabupaten/Kota yang berkaitan dengan perlindungan anak yang sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 4

Pemerintah, Pemerintahan Daerah, Organisasi Masyarakat, Lembaga Layanan


yang menangani anak korban kekerasan dalam melaksanakan Pedoman
Penanganan Anak Korban Kekerasan disesuaikan dengan perkembangan
kebutuhan, kemampuan kelembagaan, sarana, prasarana, dan petugas yang
menangani anak korban kekerasan.

Pasal 5

(1) Pemerintah, Pemerintahan Daerah, Organisasi Masyarakat, Lembaga


Layanan yang menangani anak korban kekerasan dalam melaksanakan
Pedoman Penanganan Anak Korban Kekerasan dapat melakukan
pemberdayaan masyarakat.
(2) Pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan melalui:
a. penguatan kelembagaan masyarakat;
b. peningkatan pendidikan dan keterampilan petugas dalam penanganan
kekerasan terhadap anak; dan
c. pengembangan jaringan kerja sama dan informasi
masyarakat.

Pasal 6

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan


Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri Negara ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik
Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 31


Januari 2011
MENTERI NEGARA
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK
REPUBLIK INDONESIA,

LINDA AMALIA SARI

Diundangkan di Jakarta pada tanggal


31 Januari 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

PATRIALIS AKBAR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 42


LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN
PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 2 TAHUN 2011
TENTANG
PEDOMAN PENANGANAN ANAK KORBAN KEKERASAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Pasal 28 B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
mengamanatkan bahwa “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang
serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi “. Oleh karena itu orangtua,
keluarga, masyarakat, pemerintah dan Negara harus memberi ruang bagi tumbuh kembang anak
secara optimal dan berkewajiban melindungi dari kekerasan.

Dunia anak adalah dunia yang dapat dinikmati oleh anak-anak tanpa ada kekerasan, tanpa ada
rasa takut sehingga anak mampu mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya secara positif
dalam berbagai bentuk. Hal ini merupakan hak dasar bagi anak yang dijamin oleh konstitusi
sebagaimana yang diamanahkan pada Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang
tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat
perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual,
penelantaran, kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan, ketidakadilan dan perlakuan salah
lainnya.selanjutnya dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak mengamanatkan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari
penyalahgunaan dalam kegiatan politik, pelibatan dalam sengketa bersenjata, pelibatan dalam
kerusuhan sosial, pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan dan pelibatan
dalam peperangan.

Dari ke dua pasal di atas memperlihatkan bahwa negara kita memiliki kebijakan untuk melindungi
anak dari berbagai bentuk kekerasan. Siapapun tidak diperboleh kan untuk melakukan tindak
kekerasan terhadap anak dengan alasan apapun, dan harus berperan dalam memberikan
perlindungan terhadap anak dari berbagai tindak kekerasan.

Selain itu dalam Pasal 62 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
mengamanatkan bahwa setiap anak berhak memperoleh layanan kesehatan dan jaminan sosial
secara layak, sesuai dengan kebutuhan fisik dan mental spiritualnya. Selain itu Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004
tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun
2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Undang-Undang Nomor 44
Tahun 2008 tentang Pornografi merupakan lex specialis yang melandasi kebijakan pemerintah
untuk pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak.

Kekerasan terhadap anak telah menjadi perhatian serius dari Perserikatan BangsaBangsa (PBB)
yang ditandai dengan adanya Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 56/138 tahun 2001 yang
menugaskan Sekretaris Jenderal PBB untuk mengadakan studi khusus tentang kekerasan
terhadap anak di dunia. Studi ini merupakan inisiatif global yang secara nyata mengakui
terjadinya kekerasan terhadap anak dalam masyarakat dunia. Kekerasan terhadap anak di
Indonesia mendapatkan perhatian khusus dari Komite Konvensi Hak Anak dalam sidang komite
pada sesi ke-35 (2004) untuk menanggapi laporan Pemerintah Republik Indonesia. Komite
tersebut menyatakan tingginya jumlah anak yang menjadi korban kekerasan, pelecehan dan
ditelantarkan, termasuk pelecehan seksual di sekolah, tempat-tempat umum dan di tempat-
tempat penahanan serta dalam keluarga. Selain hal itu, Komite juga menyatakan bahwa
penghukuman fisik sebagai salah satu bentuk kekerasan terhadap anak masih di praktikkan
secara meluas, diterima secara budaya dan sah menurut hukum.
Berdasarkan hasil Survei Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2006 atas kerjasama
Badan Pusat Statistik dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan menunjukkan bahwa
pada tahun 2006, pada level nasional angkat tindak kekerasan terhadap anak pada tahun 2006
mencapai 3,00 persen. Ini artinya dalam setiap 10.000 anak Indonesia sekitar 300 anak
diantaranya mempunyai peluang pernah menjadi korban tindak kekerasan. Sementara jumlah
anak yang mengalami kekerasan selama tahun 2006 adalah sekitar 2,29 juta jiwa, sebanyak 1,23
juta diantaranya adalah anak laki-laki dan 1,06 juta adalah anak perempuan. Sedangkan menurut
data Kejaksaan Agung pada tahun 2006 terdapat 600 kasus kekerasan terhadap anak yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap yang terdiri dari kasus pencabulan 41,3 %, perkosaan 40,5 %,
penganiayaan 7,2%, pelecehan seksual 5,3%, tindak pidana perdagangan orang 3%, dan
pembunuhan 2,7%. Berdasarkan kelompok umur dari 600 kasus tersebut terdapat 57,3%
berumur 13-18 tahun, 35,4% berumur 6-12 tahun dan 7,3% berumur kurang dari 5 tahun.

Berdasarkan pengaduan masyarakat kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak dan Lembaga
Perlindungan Anak di seluruh Indonesia memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap anak
semakin meningkat dari 1.520 kasus (tahun 2007) menjadi 6.295 kasus (tahun 2008).

Berbagai data di atas merupakan data yang terlaporkan sedangkan data yang tidak terlaporkan
jauh lebih besar dari data yang sesungguhnya. Data kekerasan terhadap anak seperti gunung es
sehingga diperlukan berbagai upaya sinergisitas berbagai pihak akan ungkapan “Stop Kekerasan
Anak” harus menjadi gerakan bersama setiap orang.

Dari berbagai uraian di atas menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak sudah berada pada
tahap yang sangat mengkhawatirkan yang berdampak buruk bagi masa depan bangsa dan
negara. Karena anak adalah asset bangsa dan merupakan generasi penerus bangsa, maka anak
yang mengalami kekerasan perlu mendapatkan penanganan secara optimal untuk
mengembalikannya ke kondisi normal diperlukan suatu kebijakan berupa pedoman penanganan
kekerasan terhadap anak sebagai acuan bagi pemerintah dan masyarakat dalam memberikan
pelayanan terhadap anak yang mengalami kekerasan sesuai yang dibutuhkan.

B. Maksud dan Tujuan


1. Maksud
Memberikan acuan kepada pemangku kepentingan dalam upaya melindungi dan menangani anak
korban kekerasan.

2. Tujuan

2.1 Umum
Memenuhi hak setiap anak dari segala bentuk tindak kekerasan berdasarkan prinsip,
non-diskriminasi, kepentingan terbaik untuk anak, tumbuh kembang anak, partisipasi
anak, dan penghormatan dan pemenuhan terhadap hak asasi korban.

2.2 Khusus
a. Tersedianya pedoman perlindungan dan penanganan bagi anak korban kekerasan.
b. Menyamakan pemahaman bagi pemangku kepentingan terkait dengan
perlindungan dan penanganan yang optimal bagi anak korban kekerasan.
c. Adanya berbagai kebijakan daerah dalam upaya perlindungan dan penanganan
yang optimal bagi anak korban kekerasan.

C. Landasan Hukum

2.1 Referensi Hukum Internasional


1) Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (Universal Declaration on Human
Rights).
2) Konvensi PBB Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of the Child).
3) Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 56/138 tahun 2001 tentang Studi Sekretaris
Jenderal PBB mengenai Kekerasan terhadap Anak.

2.2 Landasan Hukum Nasional


1) Pasal 28B ayat (2) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2) Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1979 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3143).
3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Convention Against
Torture and Others Cruel, in Human or Degrading Treatment or Punishment
(Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman lain yang kejam,
tidak manusiawi, atau merendahkan martabat manusia). (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1998 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3783).
4) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3886).
5) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan ILO
Convention 182 Concerning the Prohibition and Unmediate Action for the
Elimination of the Worst Forms of Child Labour (Konvensi ILO No. 182 mengenai
Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk
Untuk Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 30, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3941).

6) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4235).
7) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 95,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4419).
8) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 64, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4635).
9) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Perdagangan Orang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 58,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4720).
10) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi PBB menentang
Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi.
11) Undang undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4967).
12) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2009 tentang Pengesahan Protocol to Prevent,
Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children,
Supelementing the United Nations Convention Against Transnational Organized
Crime) Protokol untuk Mencegah, Menindak, dan Menghukum Perdagangan Orang,
Terumtama Permpuan dan anak-Anak, Melengkapi Konvensi Perserikatan Bangsa-
Banga Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi) (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4990).
13) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2009 tentang Pengesahan United Nations
Convention Against Transnational Organized Crime (Konvensi Perserikatan Bangsa-
Bangsa Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi) (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4960).
14) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5063).
15) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2006 tentang
Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 15, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor
4604).

16) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2008 tentang Tata Cara dan Meknaisme
Pelayanan terpadu bagi Saksi dan/atau Korban Tindak Pidana Perdagangan orang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4818).
17) Peraturan Presiden Nomor 69 Tahun 2008 tentang Gugus Tugas Pencegahan dan
Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
18) Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas
Pembangunan Nasional.
19) Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak-Hak Anak
(Convention on the Rights of the Child).
20) Keputusan Kepala POLRI Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan Ruang
Pelayanan Khusus dan Tatacara Pemeriksaan Saksi dan/atau Korban Tindak Pidana.
21) Peraturan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Nomor :
25/KEP/MENKO/KESRA/IX/2009 tentang Rencana Aksi Nasional Pemberantasan
Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) dan Eksploitasi Seksual Anak (ESA) 2009 –
2014.
22) Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor
01 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Layanan Terpadu Bagi
Perempuan dan Anak Korban Kekerasan.
23) Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor
02 Tahun 2010 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan Terhadap Perempuan.

D. Sasaran
Langsung

Pedoman ini ditujukan untuk para petugas yang secara langsung menangani anakanak korban
kekerasan baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah
Tidak langsung

Pedoman ini ditujukan kepada kelembagaan sebagai berikut :

• Kementerian/lembaga di tingkat pusat;


• SKPD terkait di tingkat Daerah;
• Organisasi masyarakat;
• Lembaga pelayanan penanganan anak korban kekerasan.

E. Pengertian
1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan.
2. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-
haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusian serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.
3. Kekerasan terhadap anak adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, mental, seksual, psikologis, termasuk
penelantaran dan perlakuan buruk yang mengancam integritas tubuh dan merendahkan
martabat anak yang dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas
anak tersebut atau mereka yang memiliki kuasa atas anak tersebut, yang seharusnya dapat
dipercaya, misalnya orang tua, keluarga dekat, guru, dan pendamping.
4. Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka
berat.
5. Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya
diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan
psikis berat pada anak.
6. Kekerasan untuk kepentingan ekonomi adalah kekerasan dengan cara memanfaatkan
potensi yang dimiliki anak untuk keuntungan dan kepentingan pribadi dan/atau
kepentingan orang lain. Atas pemanfaatan tersebut orang yang memanfaatkan potensi
anak mendapatkan keuntungan secara materi dan/atau keuntungan yang lain.
7. Kekerasan seksual adalah pemaksaan hubungan seksual terhadap seorang anak. Sedangkan
eksploitasi seksual penggunaan anak untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau
dalam bentuk lain antara anak, pembeli jasa seks, perantara atau agen, dan pihak lain yang
memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak tersebut.
8. Kekerasan yang diakibatkan oleh tradisi/adat adalah kekerasan yang bersumber pada
praktik-praktik budaya dan interpretasi ajaran agama yang salah sehingga anak
ditempatkan pada posisi sebagai milik orang tua atau komunitas.
9. Perlakuan salah terhadap anak adalah semua bentuk kekerasan terhadap anak yang
dilakukan oleh mereka yang seharusnya bertanggung jawab dan/atau mereka yang
memiliki kuasa atas anak, yang seharusnya dapat dipercaya yaitu orang tua, keluarga dekat,
guru, pembina, aparat penegak hukum, pengasuh dan pendamping (World Health
Organization).
10. Penelantaran anak adalah tindakan segaja atau tidak sengaja yang mengakibatkan tidak
terpenuhi kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang secara fisik, intelektual,
emosional, sosial, dan spiritual (World Health Organization).
11. Rehabilitasi adalah pemulihan dari gangguan terhadap kondisi fisik, psikis, dan sosial agar
dapat melaksanakan perannya kembali secara wajar baik dalam keluarga maupun dalam
masyarakat.
12. Pemulangan adalah upaya mengembalikan anak korban kekerasan ke daerah asal atau
pihak keluarga, keluarga/keluarga pengganti, atau masyarakat yang dapat memberikan
perlindungan dan pemenuhan kebutuhan anak korban kekerasan.
13. Reintegrasi adalah upaya menyatukan kembali anak dengan keluarga, masyarakat, lembaga
atau lingkungan sosial lainnya yang bisa memberikan perlindungan bagi anak.
14. Bantuan hukum adalah merupakan serangkaian kegiatan yang terkait dengan penanganan
dan perlindungan anak korban kekerasan di bidang hukum, mulai dari tingkat penyelidikan
dan penyidikan di kepolisian, penuntutan di Kejaksaan, proses pemeriksaan di sidang
pengadilan sampai adanya kepastian hukum.

BAB II
LINGKUP DAN BENTUK-BENTUK
KEKERASAN TERHADAP ANAK
Kekerasan terhadap anak merupakan kondisi yang sudah sejak lama ada di tengahtengah masyarakat
kita. Kekerasan yang dialami anak tidak mengenal batas wilayah, suku, agama atau tingkat ekonomi,
kekerasan terjadi pada hampir semua lapisan masyarakat. Kekerasan terhadap anak sangat
dipengaruhi oleh kebiasaan yang selama ini berlaku umum sehingga ketika seorang anak mendapat
kekerasan dari orang tuanya atau orang yang memiliki kewenangan atas anak tersebut maka orang
lain yang tidak memiliki hubungan apapun dengan anak yang mengalami kekerasan tersebut, tidak
dapat ikut serta menghentikannya. Anggapan yang selama ini berkembang di tengahtengah
masyarakat bahwa anak tersebut merupakan urusan domestik keluarga atau urusan rumah tangga
yang bersangkutan sehingga orang luar tidak boleh ikut campur.

Akhir-akhir ini terjadi kecenderungan meningkatnya kasus tindak pidana perdagangan orang
termasuk anak dan eksplloitasi seksual pada anak yang berdampak pada kekerasan fisik, mental dan
seksual yang akan merugikan kualitas kehidupan anak. Dengan demikian kekerasan kepada anak
merupakan hal yang serius dan perlu ditangani secara menyeluruh. Sedangkan berdasarkan
dimensinya dapat dilihat dari dimensi domestik dan publik.

A. Lingkup kekerasan terhadap anak


Kekerasan yang dialami anak juga dapat dilihat dari berbagai lingkup antara lain:

1. Domestik
Lingkup domestik merupakan tempat dimana anak mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga
dan yang dilakukan oleh anggota keluarga sendiri.

2. Publik
Lingkup publik atau umum merupakan tempat dimana anak mengalami kekerasan di luar dari
lingkungan tempat tinggal anak, antara lain :

a. Pelayanan Umum
Pada lokasi-lokasi pelayanan umum, anak-anak juga sering mengalami kekerasan yang
dilakukan oleh orang lain dengan berbagai bentuk kekerasan seperti diskriminasi,
pencabulan, pelecehan ataupun kekerasan lainnya seperti pemerasan bahkan penculikan.
Beberapa lokasi yang rentan anak mengalami kekerasan antara lain terminal, pelayanan
kesehatan, bandara, pelabuhan, tempat rekreasi, pasar atau tempat keramaian lainnya.

b. Pelayanan Pendidikan
Tindak kekerasan yang dialami anak di ranah pendidikan formal (sekolah/madrasah), non
formal (lembaga kursus dan pendidikan keagamaan) dan informal (dalam keluarga) sering
terjadi tanpa disadari oleh mereka yang melakukan tindak kekerasan tersebut karena
kekerasan yang dilakukan dianggap sebagai salah satu cara dalam membentuk sikap dan
perilaku anak agar lebih baik.

c. Pelayanan Kesehatan
Anak-anak juga rentan mengalami kekerasan di tempat pelayanan kesehatan yang
disebabkan oleh perlakuan diskriminasi karena anak belum mampu mengungkapkan apa
yang dirasakannya sehingga seringkali anak pasrah menerima berbagai perlakuan yang
diterima termasuk mal praktek.

d. Daerah Konflik
Di daerah konflik sering terjadi pelibatan anak dalam tindak kekerasan, konflik bersenjata
dan konflik sosial.

e. Daerah Bencana
Ketika terjadi bencana maka seringkali kebutuhan yang harus diperoleh oleh anak
disamakan dengan kebutuhan orang dewasa seperti sandang, pangan dan papan. Pada
saat pasca bencana hanya sebagian kecil yang menjadikan kebutuhan psikis anak untuk
pulih menjadi pertimbangan untuk dipenuhi. Hal ini juga merupakan pengabaian
terhadap hak anak di daerah bencana dan hal ini merupakan salah satu bentuk kekerasan
yang dihadapi anak.

3. Politik
Masih ada anak yang dimanfaatkan dalam berbagai kepentingan politik, seperti demonstrasi, kampanye
partai politik dalam proses pemilu dan lain-lain yang tidak berpihak pada kepentingan terbaik bagi anak.

B. Bentuk kekerasan terhadap anak


Adapun bentuk kekerasan yang dialami oleh anak sebagai berikut :
1. Kekerasan Fisik; merupakan tindakan kekerasan yang diarahkan secara fisik kepada anak dan
anak merasa tidak nyaman dengan tindakan tersebut. Adapun beberapa bentuk kekerasan
fisik yang dialami anak antara lain tendangan, pukulan, mendorong, mencekik, menjambak
rambut, meracuni, membenturkan fisik ke tembok, mengguncang, menyiram dengan air
panas, menenggelamkan, melempar dengan barang, dll.

2. Kekerasan Psikis; merupakan tindakan kekerasan yang dirasakan oleh anak yang
mengakibatkan terganggunya emosional anak sehingga dapat mempengaruhi tumbuh
kembang anak secara wajar. Adapun bentuk-bentuk dari kekerasan psikis ini antara lain :
intimidasi (seperti menggertak, mengancam, dan menakuti), menggunakan kata-kata kasar,
mencemooh, menghina, memfitnah, mengontrol aktivitas sosial secara tidak wajar,
menyekap, memutuskan hubungan sosial secara paksa, mengontrol atau menghambat
pembicaraan, membatasi kegiatan keagamaan yang diyakini oleh seorang anak dan lain
sebagainya.

3. Kekerasan Seksual; merupakan tindakan kekerasan yang dialami oleh anak yang diarahkan
peda alat reproduksi kesehatan anak yang mengakibatkan terganggunya tumbuh kembang
anak baik secara fisik, psikis dan social anak. Adapun bentuk kekerasan seksual tersebut
antara lain : hubungan seksual secara paksa/tidak wajar (pemerkosaan/percobaan
pemerkosaan, incest, sodomi), penjualan anak untuk pelacuran/pornografi, pemaksaan
untuk menjadi pelacur, atau pencabulan/pelecehan seksual serta memaksa anak untuk
menikah.

4. Penelantaran; merupakan tindakan kekerasan yang dialami anak baik disengaja atau tidak
sengaja yang mengakibatkan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar anak untuk tumbuh
kembang secara fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual dari orang yang memiliki
kewenangan atas anak tersebut. Adapun bentuk penelantaran tersebut antara lain
pengabaian terhadap kebutuhan dan keinginan anak, membiarkan anak melakukan hal-hal
yang akan membahayakan anak, lalai dalam pemberian asupan gizi atau layanan kesehatan,
pengabaian pemberian pendidikan yang tepat bagi anak, pengabaian pemberian perhatian
dan kasih sayang dan tindakan pengabaian lainnya.

5. Eksploitasi ekonomi yaitu tindakan yang mengeksploitasi ekonomi anak dengan maksud
untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain (Pasal 88 UU PA).

6. Kekerasan lainnya seperti:


a. perlakuan kejam, yaitu tindakan secara zalim, keji, bengis atau tidak belas kasihan (Pasal
80 UUPA);
b. abuse atau perlakuan salah lainnya yaitu tindakan pelecehan dan tidak senonoh (Pasal 81
UUPA);
c. ketidakadilan, yaitu keberpihakan antara anak satu dan lainnya;
d. ancaman kekerasan adalah setiap perbuatan secara melawan hukum berupa ucapan,
tulisan, gambar simbol atau gerakan tubuh baik dengan atau tanpa sarana yang
menimbulkan rasa takut atau mengekang kebebasan hakiki anak (Pasal 1 butir 2 UU
PTPPO);
e. pemaksaan, adalah keadaan dimana anak disuruh melakukan sesuatu sedemikian rupa
sehingga anak melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendak sendiri (Pasal 18
UU PTPPO).
BAB III
PENYEBAB DAN DAMPAK TERJADINYA
KEKERASAN TERHADAP ANAK
Kekerasan sangat dekat dengan kehidupan anak, sejak usia yang sangat dini anakanak telah
diperkenalkan pada berbagai bentuk kekerasan, mulai kekerasan verbal, fisik hingga seksual.
Berdasarkan berbagai temuan dan pengalaman anak-anak berhadapan dengan kekerasan sangat
beraneka ragam.

A. Faktor Penyebab
Berbagai faktor penyebab terjadinya tindak kekerasan terhadap anak, adalah sebagai berikut :

1. Faktor Kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu faktor dominan terjadinya kekerasan terhadap anak, oleh karena
kemiskinan seringkali menyebabkan terjadinya tekanan hidup menjadi berat, sehingga memaksa seluruh
anggota keluarga berkontribusi dalam menopang ekonomi keluarga, termasuk anak. Hal ini dapat
mengakibatkan anak dieksploitasi dan menjadi korban dari tindak kekerasan baik yang dilakukan oleh
anggota keluarga, teman, majikan maupun oleh orang dewasa lainnya.

Beberapa hal yang mempengaruhi dilibatkannya anak dalam ekonomi keluarga antara lain :

a. Anak dianggap sebagai aset


Pada sebagian anggota masyarakat, anak masih dijadikan sebagai aset keluarga, sehingga
sejak usia dini anak diwajibkan membantu orang tua mencari nafkah. Kondisi seperti ini
banyak dijumpai dimana sejak usia bayi, seorang anak sudah dimanfaatkan sebagai alat
penarik rasa iba yang diharapakan akan mendatangkan uang.

b. Pengabaian Hak Anak


Masih kurang dipahaminya hak-hak anak dengan benar pada sebagian anggota
masyarakat. Akibatnya anak masih dianggap sebagai bagian yang bisa diatur dengan
sekehendak hati orang tuanya.

c. Bias Gender dalam Masyarakat


Adanya bias gender yang terjadi di masyarakat merupakan salah satu penyebab
terjadinya tindak kekerasan terhadap anak, khususnya menimpa pada anak perempuan.
Dalam keluarga yang bias gender, anak perempuan seringkali lebih awal terampas haknya
dan menjadi korban tindak kekerasan, seperti dinikahkan diusia yang sangat belia,
disuruh berhenti sekolah karena lebih mengutamakan anak laki-laki dan sebagainya.

d. Pola hidup konsumtif/gaya hidup


Pemenuhan gaya hidup yang konsumerisme dari cenderung menyebabkan anak untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berbagai macam cara, misalnya menjadi pelacur
anak. Begitu pula pola hidup konsumerisme dari orang tua tidak jarang memaksa anak
dieksploitasi guna memenuhi kebutuhan orang tuanya.

2. Pendidikan
Pendidikan orang tua yang rendah merupakan salah satu penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak
yang dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anaknya karena kurangnya pengetahuan orang tua
tentang hak-hak anak dan pola asuh.

3. Faktor Sosial Budaya


Berbagai tindak kekerasan yang dialami anak juga sering diakibatkan oleh sebuah tindakan kekerasan
yang dianggap hal yang wajar yang ada di tengahtengah masyarakat. Dalam membentuk karakter
sebuah masyarakat kekerasan sering digunakan sebagai hal yang wajar.

Contoh: tindakan pemaksaan yang dilakukan oleh orang tua/adat terhadap anak untuk menjadi joki
kuda seperti di NTT. Tindakan pemaksaan yang dilakukan oleh orang tua/adat terhadap anak untuk
memotong jari jika orang yang disayanginya meninggal dunia, seperti di Papua. Menikahkan anak pada
usia yang masih belia karena adanya nilai-nilai budaya yang mengharuskan anaknya untuk dinikahkan
pada golongan masyarakat tertentu.
4. Faktor penggunaan kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi tanpa
bimbingan pengawasan dari orang
dewasa
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui media massa termausk internet dapat menimbulkan
kekerasan terhadap anak, seperti mudahnya anak mengakses internet tanpa adanya pengawasan dari
orang tua/masyarakat/pemerintah sehingga berbagai tayangan pornografi anak yang beredar di
internet, tidak dapat terpantau oleh orang tua. Begitu juga dengan penayangan film-film yang
umumnya mengandung unsur kekerasan pada berbagai siaran televisi dan media cetak yang berakibat
anak melakukan dan meniru adegan tersebut.

5. Faktor perilaku kasar


Kekerasan terhadap anak terjadi, karena perilaku kasar dan temperamental dari pelaku kekerasan,
sehingga bila anak melakukan kesalahan, maka anak selalu mendapatkan kekerasan baik fisik dan psikis.

6. Faktor lingkungan
Kekerasan terhadap anak sering terjadi di daerah mengalami konflik, kerusuhan sosial atau dalam,
bencana alam dan pengungsian

B. Dampak Kekerasan Terhadap Anak


Beberapa dampak kekerasan terhadap anak yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak,
yaitu:

1. Secara fisik
Bagi anak-anak yang mengalami kekerasan secara fisik akan terlihat dari perubahan bentuk fisik yang
ada baik berupa lebam-lebam pada permukaan kulit, benjol-benjol, luka, patah tulang, sehingga
berdampak pada cacat, kehilangan fungsi alat tubuh atau indra, kerusakan pada organ reproduksi anak.

2. Secara psikis
Bagi anak-anak yang mengalami kekerasan secara psikis akan menimbulkan gangguan jiwa pada anak
dari ringan sampai berat antara lain anak menjadi tidak percaya diri dalam pergaulan sosial, ketakutan,
stress, a-sosial, tidak peduli dengan lingkungan, menyendiri, dll.

3. Secara seksual
Anak dapat terinfeksi penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDs bahkan dapat menyebabkan
gangguan fungsi reproduksi. Selain itu berdampak terhadap psikologis anak sehingga anak menjadi takut
dan tidak percaya diri dalam menatap masa depannya. Dampak lebih lanjut dari kekerasan seksual
terhadap anak adalah tidak dapatnya anak menikmati kehidupan seksualnya ketika anak memasuki
jenjang perkawinan. Hal ini akan mendatangkan trauma yang sangat mendalam bagi anak sehingga
anak-anak yang mengalami kekerasan seksual ini banyak yang mengalami depresi, tidak percaya diri
karena hilangnya kesucian diri, rasa takut yang berkepanjangan, gangguan emosional, kecemasan akan
masa depan serta ada yang berdampak ingin mengakhiri hidup karena merasa sia-sia dan tidak punya
harapan masa depan.

4. Terlantar
Akibat orang tua yang tidak memberikan nafkah kepada anaknya maka anak menjadi terlantar tidak
terpenuhi kebutuhan dasarnya dan berakibat tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

5. Sosial
Anak yang mengalami kekerasan cenderung berprilaku menyimpang. Anak dapat menutup diri
dari pergaulan dan tidak memiliki kecerdasan interpersonal dan intra personal.
BAB IV
MEKANISME UPAYA PENANGANAN
ANAK KORBAN KEKERASAN
Dalam penanganan anak korban kekerasan dapat dikatakan bahwa pelayanan masyarakat
merupakan garda terdepan yang melakukan pelaporan kepada polisi melalui Unit Pelayanan
Perempuan dan Anak (UPPA) dan RPK maupun langsung kepada Pusat Pelayanan Terpadu. Di pusat
pelayanan terpadu inilah dilakukan langkah-langkah penanganannya. Pusat Pelayanan Terpadu
merupakan unit kerja fungsional yang menyelenggarakan pelayanan terpadu untuk korban. Pusat
Pelayanan Terpadu sendiri dapat berupa tempat yang bernama shelter/rumah aman, RPTC, RPSA,
P2TP2A maupun Pusat Pelayanan Terpadu yang ada dan berbasis di Rumah Sakit Bhayangkara dan
sebagainya.
Pelayanan terpadu diawali dengan identifikasi korban untuk memastikan seseorang adalah korban
kekerasan atau bukan. Identifikasi ini dilakukan dengan melakukan interview terhadap korban guna
memastikan bantuan apa yang diperlukan oleh korban. Apakah memerlukan rehabilitasi kesehatan,
rehabilitasi sosial, bantuan hukum. atau langsung dipulangkan ke keluarga, atau keluarga pengganti.

Mekanisme rehabilitasi kesehatan mengikuti sistem pelayanan kesehatan sebagaimana tercantum


dalam standar pelayanan minimal penanganan perempuan dan anak korban kekerasan. Bila korban
memerlukan rehabilitasi kesehatan maka dapat ditangani di puskesmas mampu tatalaksana KTP/A.
Jika korban memerlukan pelayanan rehabilitasi kesehatan lanjutan (spesialistik) dapat dirujuk ke
Rumah Sakit yang memiliki pelayanan terpadu (PPT). Jika belum tersedia PPT di Rumah Sakit, maka
rujukan kasus yang membutuhkan pelayanan medis spesialistik dapat dilakukan di RS vertikal, RSUD,
TNI Polri maupun swasta.

Bila korban memerlukan rehabilitasi sosial dimana korban mengalami gangguan psikososial dan
psikologis, maka tim psikososial akan memberikan konseling dan terapi sesuai kebutuhan. Bila
kondisi korban baik kesehatan maupun sosial sudah dinyatakan pulih, maka dengan persetujuan
korban, bisa mendapat bantuan hukum berupa pendampingan dan pembelaan oleh unsur penegak
hukum yaitu Kepolisian (UPPA), Kejaksaan, Hakim, serta LBH/LSM/advokat.

Pemulangan dilakukan minimal apabila rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, dan atau bantuan
hukum telah terpenuhi. Pemulangan ini bertujuan untuk mengembalikan korban sampai kepada
keluarga atau keluarga pengganti dengan selamat dan aman. Pemulangan ini dapat dilakukan dengan
didampingi oleh polisi, tenaga pekerja sosial/relawan jika diperlukan.

Setelah pemulangan dilakukan oleh PPT maka akan dilakukan reintegrasi sosial yaitu
pengembalian/penyatuan kembali korban kepada keluarga/lingkungan untuk meningkatkan
keberdayaan korban sehingga korban dapat menjalani kehidupan secara ‘normal’ dalam masyarakat.
Pada saat reintegrasi ini dapat dilakukan berbagai hal seperti konseling lanjutan, pengobatan
lanjutan, pelatihan ketrampilan, pendidikan, pendampingan wirausaha, pendampingan hukum, di
mana keseluruhan proses ini dilakukan di keluarga atau keluarga pengganti. Maksud dari semua
intervensi dari identifikasi, rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, bantuan hukum, pemulangan
dan reintegrasi sosial ini dilakukan agar korban lebih berdaya sesuai kebutuhannya.

Mekanisme upaya penanganan anak korban kekerasan yang ditetapkan dalam pedoman ini akan
mengikuti alur sebagai berikut:
sebagai berikut :

a. Korban yang datang sendiri, melalui proses rujukan maupun yang diperoleh melalui
penjangkauan dilaksanakan proses identifikasi yang meliputi screening, assesmen dan rencana
intervensi sesuai dengan kebutuhan korban.
b. Jika korban jika korban mengalami luka-luka maka korban sesegera mungkin diberikan
rehabilitasi kesehatan yang meliputi pelayanan non kritis, pelayanan semi kritis dan pelayanan
kritis sesuai dengan kondisi korban. Rekam medis harus memuat selengkap mungkin hasil
pemeriksaan korban karena dapat digunakan sebagai bahan peradilan.
c. Jika korban tidak mempunyai luka fisik, dan diidentifikasi memerlukan konseling untuk pemulihan
psikisnya, maka korban masuk dalam tahapan rehabilitasi sosial yang meliputi adanya kontrak
sosial yaitu perjanjian dengan korban untuk persetujuan mendapatkan layanan sosial, dilakukan
konseling awal, konseling lanjutan, clinical assessment, terapi psikososial, bimbingan mental dan
spiritual, pendampingan, home visit serta resosialisasi dan rujukan jika diperlukan. Jika korban
adalah anak maka persetujuan korban atau pendamping korban tidak diperlukan.
d. Jika korban memerlukan bantuan hukum maka dilakukan setelah proses rehabilitasi kesehatan,
rehabilitasi sosial, atau bisa langsung diberikan jika memang korban tidak memerlukan
rehabilitasi tersebut. Bantuan hukum diberikan mulai dari proses pelaksanaan penyelidikan dan
penyidikan di kepolisian, proses penuntutan di kejaksaan sampai pada proses pemeriksaan di
sidang pengadilan. Termasuk di dalamnya bantuan hukum untuk memperoleh restitusi korban
TPPO yang diproses oleh kepolisian meliputi kerugian materil dan non materil yang diderita
korban, dikumpulkan serta dilampirkan bersamaan dengan berkas perkara.
e. Korban yang dipulangkan dari luar negeri maupun dalam negeri ke daerah asal atau negara asal
atau keluarga atau keluarga pengganti, atas keinginan dan persetujuan korban, dengan tetap
mengutamakan pelayanan perlindungan dan pemenuhan kebutuhannya. Berdasarkan kategori
korban dibagi menjadi korban kekerasan lintas batas negara dan domestik/dalam negeri. PPT
melakukan pendampingan terhadap korban yang sudah mendapat layanan dan akan dipulangkan
ke keluarga maupun keluarga pengganti.
f. Dalam hal korban kekerasan berasal dari Negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia,
maka peran PPT perbatasan setelah serah terima dari perwakilan RI di Luar Negeri, maka korban
langsung diberikan pelayanan oleh PPT tersebut setelah itu PPT mengadakan koordinasi dengan
instansi terkait untuk pemulangan korban ke daerah asal.
g. Proses terakhir dari layanan untuk korban adalah proses reintegrasi sosial, dimana korban
dikumpulkan kembali dengan keluarga atau keluarga pengganti serta diupayakan agar korban
dapat diterima kembali oleh keluarga dan masyarakatnya. Dalam proses ini termasuk didalamnya
adalah pemberdayaan ekonomi dan sosial serta pembekalan ketrampilan agar dapat
menghasilkan secara ekonomi, pemberian pendidikan untuk korban yang masih bersekolah dan
terputus karena menjadi korban serta adanya monitoring dan bimbingan lanjutan.
h. Peran PPT dalam reintegrasi sosial adalah melakukan monitoring dan evaluasi serta pelaporan
penanganan terhadap korban dan melakukan koordinasi dengan instansi/dinas sosial dan
instansi/dinas terkait lainnya.
i. Guna mencapai ketertiban administrasi dan pendataan dibutuhkan formulir setiap tahapan
dalam proses pelayanan tersebut. Setiap lembaga layanan untuk menggunakan standar formulir
yang telah disepakati guna memudahkan rekapitulasi.
j. Keseluruhan proses layanan ini juga harus didasari dan tidak terlepas dari prinsip Penghormatan
terhadap Hak Azasi Manusia (HAM), menghindari bias gender dan melaksanakan pemenuhan hak
anak.

Berikut ini adalah jenis layanan yang diberikan dalam mekanisme penanganan anak korban
kekerasan.

1. Pengaduan/Identifikasi
Layanan pengaduan/identifikasi adalah kegiatan pertama yang dilakukan dalam proses
penanganan anak korban kekerasan untuk mendapatkan informasi atau menggali data-data yang
diperlukan dalam rangka pemberian bantuan dan langkah ini merupakan langkah yang akan
mempengaruhi keberhasilan dari langkah-langkah selanjutnya.

Tujuan layanan identifikasi pengaduan ini adalah untuk:

a. mengetahui seseorang yang “dilaporkan sebagai korban” benar merupakan korban kekerasan
atau bukan.
b. mengetahui masalah dan kondisi seseorang yang diduga korban kekerasan berkaitan dengan
kondisi kesehatan fisik, psikis dan psikososial korban, status, kepemilikan dokumen dan
identitas diri, kondisi keuangan, hutang-piutang, kondisi keamanan, serta keinginan korban
berkaitan dengan kasusnya.
c. mengetahui kebutuhan seseorang yang diduga korban kekerasan yang harus segera
dipenuhi (tempat tinggal sementara apabila korban dari luar daerah, perlindungan
apabila korban terancam keselamatan, pengobatan, pendampingan, home visit,
rujukan dsb).

Untuk memudahkan kerja petugas identifikasi dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai,
serta tersedianya form identifikasi beserta panduannya. Layanan Identifikasi pengaduan
dilakukan oleh petugas PPT yang terlatih dalam melakukan identifikasi terhadap seseorang yang
diduga korban kekerasan, hak korban, hak anak, menerima korban apa adanya, menjaga
kerahasiaan klien, tidak menghakimi, sikap-sikap yang empati dan respon terhadap kondisi
korban serta cara-cara yang membuat korban nyaman dan percaya untuk menceritakan
masalah yang dihadapinya.

Mekanisme Pelayanan

a. Identifikasi Pengaduan korban


Proses indentifikasi ini dapat terjadi karena adanya peran serta masyarakat yang datang dan
diterima di tempat-tempat pelayanan korban tindak kekerasan. (Pusat Pelayanan Terpadu,
Shelter, P2TPA, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, Trauma Center, Lembaga Konsultasi
Kesejahteraan Keluarga (LK3), dll).
Setelah mendapat informasi adanya anak korban kekerasan, petugas langsung mencatat
identitas anak secara lengkap, sesuai dengan form yang telah ditetapkan.

b. Menentukan jenis kekerasan yang


dialami
Berdasarkan informasi/observasi yang diperoleh, dapat ditentukan keadaan anak apakah
mengalami kekerasan fisik atau psikis.

c. Menentukan jenis pelayanan yang


dibutuhkan.
Memberikan rujukan sesuai dengan identifikasi kekerasan. Jika anak mendapat kekerasan fisik
maupun psikis dirujuk untuk mendapatkan rehabilitasi kesehatan, psikososial, atau bantuan
hukum.

d. Rekomendasi Layanan Lanjutan


Dari hasil assesmen dan rekomendasi penanganan lanjutan oleh PPT perujuk, maka petugas PPT
memberikan rekomendasi intervensi layanan dengan tujuan untuk menetapkan langkah-langkah tindak
lanjut yang terbaik dalam pemenuhan hak korban.

e. Koordinasi dengan Pihak Terkait


Setelah ada rekomendasi layanan lanjutan dan terbangun kesepakatan dengan korban, petugas
menghubungi lembaga layanan lanjutan untuk mengkoordinasikan langkah selanjutnya.
f. Pengadministrasian Proses Identifikasi
Layanan.
Hasil identifikasi pengaduan dimasukkan ke dalam Buku Rekam Kasus (Lampiran) dan
diadministrasikan bersama dokumen pendukung dan dimasukkan ke dalam sistem data base
terkomputerisasi.

2. Pelayanan yang diberikan


a. Rehabilitasi Kesehatan
Upaya pelayanan kesehatan korban KTA secara komprehensif meliputi promotif, preventif, kuratif,
rehabilitatif, dilakukan melalui pelayanan kesehatan tingkat dasar di “puskesmas mampu tatalaksana
kasus KTA” dan pelayanan rujukan di RS yang memiliki PPT/PKT atau RSUD/RS Bhayangkara.

Tujuan
 Tersedianya pelayanan kesehatan bagi anak korban kekerasan di Puskesmas dan Rumah
Sakit yang sudah terlatih pelayanan korban kekerasan terhadap anak.
 Terlaksananya rujukan medis, medikolegal dan psikososial bagi anak korban kekerasan di
Provinsi dan Kabupaten/Kota.
 Tersedianya data terpilah kasus anak korban kekerasan di Puskesmas dan Rumah Sakit.

Mekanisme Pelayanan
 Pencatatan laporan status anak korban kekerasan.
 Pelayanan kegawatdaruratan.
 Memberikan visum et repertum atau visum psikiatricum atas permintaan atau
keterangan polisi.
 Pelayanan lanjutan berupa rawat jalan, rawat inap sesuai ketentuan medis.
 Memberikan rujukan lanjutan sesuai kebutuhan korban.
 Pengadministrasian Proses Identifikasi Layanan.
 Hasil rehabilitasi kesehatan diadministrasikan bersama dokumen pendukung dan
dimasukkan ke dalam sistem data base terkomputerisasi.
b. Pelayanan Sosial, Pemulangan
(Reunifikasi) dan Reintegrasi Sosial
Rehabilitasi Sosial adalah pemulihan saksi dan/atau korban yang dilakukan oleh petugas rehabilitasi
psikososial yang terdiri dari pekerja sosial, konselor, dan psikolog yang telah mendapatkan pelatihan
penanganan anak korban kekerasan dari gangguan kondisi Psikososial dengan menggunakan bantuan
psikologis serta sosial yang ditujukan untuk membantu meringankan, melindungi dan memulihkan
kondisi fisik, psikologis, sosial dan spiritual korban tindak kekerasan sehingga mampu menjalankan
fungsi sosialnya kembali secara wajar.

Tujuan :
 Tersedianya layanan untuk pemulihan kondisi psikis korban, pemulangan (reunifikasi) dan
reintegrasi sosial bagi anak korban kekerasan
 Terpenuhinya hak anak korban kekerasan atas pemulangan untuk reunifikasi dengan
keluarga.
 Tersedianya sistem jaringan dan mekanisme rujukan untuk menangani anak korban
tindak kekerasan di Kabupaten atau Kota.

Mekanisme Rehabilitasi Sosial


 Penerimaan anak korban kekerasan yang dirujuk dari pengaduan, maupun hasil
penjangkauan.
 Pengungkapan dan pemahaman masalah.
 Rencana intervensi.
 Pelaksanaan intervensi : konseling awal, konseling lanjutan, terapi psikososial, bimbingan
mental dan spiritual, pendampingan, home visit, resosialisasi dan rujukan.
c. Pemulangan (Reunifikasi)
Mengembalikan anak korban kekerasan kepada keluarganya (Reunifikasi) dengan didampingi
pendamping yang berasal dari kepolisian maupun pendamping lainnya dengan cara menyediakan
transport untuk korban pulang kembali ke keluarga atau keluarga pengganti.

d. Reintegrasi Sosial
Dalam reintegrasi sosial meliputi proses beberapa hal, yaitu:

 penelusuran anggota keluarga;


 proses penyiapan anak korban kekerasan dan anggota keluarganya;
 penyatuan anak dengan keluarga/keluarga pengganti, masyarakat/lembaga;  dukungan
keluarga berupa bantuan stimulan atau psikososial;  monitoring dan evaluasi.

Dalam proses ini korban diberikan beberapa layanan yaitu :

 konseling diberikan agar proses penyembuhan korban secara psikis dapat diperoleh;
 pelatihan ketrampilan (lifeskills) sesuai minat anak;
 pendidikan, pemenuhan pendidikan adalah salah satu hak dasar anak yang harus
dipenuhi, khususnya jika korban adalah anak dan ada proses pendidikan yang terputus,
maka anak korban kekerasan diberikan pendidikan formal maupun nonformal dalam hal
ini dilakukan oleh dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota;
 pendampingan hukum;  lanjutan pengobatan.

3. BANTUAN HUKUM
Pelayanan Hukum merupakan serangkaian kegiatan yang terkait dengan penanganan dan
perlindungan anak korban kekerasan di bidang hukum, mulai dari tingkat penyelidikan dan
penyidikan di kepolisian, penuntutan di kejaksaan, proses pemeriksaan di sidang pengadilan
sampai adanya kepastian hukum. Pelayanan Hukum diberikan dalam kerangka pemenuhan hak
asasi korban dan/atau saksi dan dilakukan secara terintegrasi dengan pelayanan lainnya.

Pelayanan hukum ini dilaksanakan oleh advokat, paralegal/pendamping hukum, polisi, jaksa,
hakim, dan pihak penyedia layanan hukum lain. Adapun bentuk pelayanan hukum meliputi
namun tidak sepenuhnya mencakup pemberian konsultasi hukum, bantuan hukum, menjalankan
kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk
kepentingan hukum lain, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Tujuan:
Memberikan rasa aman dan kepastian hukum kepada anak korban kekerasan dan saksi/pelapor
dalam bentuk pendampingan hukum.

Langkah-Langkah Pelayanan:
a. Menempatkan anak dan saksi/pelapor di ruang pelayanan khusus untuk memberikan rasa
aman dan nyaman.
b. Memastikan apakah anak didampingi oleh orang tua, pekerja sosial, LSM, atau pengacara.
c. Mengambil keterangan anak yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
d. Mengumpulkan bukti-bukti yang terkait dengan kekerasan yang dialami anak.
e. Menerbitkan surat permohonan pemeriksaan kesehatan dan visum et repertum atau visum
et Psikiatricum (VeP).
f. Berkoordinasi dengan instansi terkait untuk pemulangan korban ke keluarga atau keluarga
pengganti.
g. Berkoordinasi dengan jaksa dan menerbitkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan
(SPDP).
h. Menerbitkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) kepada
pelapor/keluarga/pendamping untuk mengetahui perkembangan kasusnya.
i. Menyerahkan berkas perkara kepada kejaksaan.
j. Melakukan koordinasi dengan dinas sosial/dinas pendidikan/LSM pendamping dan lembaga
lainnya untuk memberikan pendampingan kepada anak korban kekerasan, baik pada proses
pemeriksaan di sidang pengadilan maupun di luar sidang pengadilan.
k. Menunjuk petugas yang memiliki perspektif anak.
l. Penentuan jadwal sidang dengan mempertimbangkan proses belajar anak yang masih
bersekolah.
m. Melakukan pemeriksaan kepada anak di ruang sidang dengan tidak menggunakan toga.
n. Melakukan persidangan di ruang sidang dengan cara persuasive untuk menghindari anak.
o. Menghindari anak menderita trauma lanjutan.
p. Jika kondisi psikis anak tidak memungkinkan, maka pemeriksaan anak di ruang sidang.
q. Merupakan jalan terakhir dan dapat ditempuh jalan pemeriksaan lain sebagaimana diatur
dalam perundang-undangan.
r. Untuk kasus anak korban tindak pidana perdagangan orang, Jaksa melakukan koordinasi
dengan korban atau keluarganya mengenai tuntutan restitusi apabila hal itu dinginkan oleh
anak korban kekerasan atau keluarganya.
s. Memberikan surat tembusan mengenai pelimpahan perkara kepada anak korban
kekerasan/pelapor/keluarga/pendamping.

BAB V
KOORDINASI PELAYANAN DAN
PENDANAAN PENANGANAN ANAK
KORBAN
KEKERASAN

A. Koordinasi untuk Pelayanan Identifikasi


Pengaduan
1. Koordinasi di Tingkat Pusat
Koordinasi untuk Pelayanan Identifikasi Pengaduan ditingkat pusat difasilitasi oleh Kantor Kemneterian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan anggota/dihadiri/melibatkan oleh pimpinan
instansi/lembaga atau wakil yang ditunjuk dari :

a. Kementerian Dalam Negeri.


b. Kementerian Sosial.
c. Kementerian Kesehatan.
d. Kementerian Pendidikan Nasional.
e. Kementerian Agama.
f. Kementerian Komunikasi dan Informasi.
g. Kementerian Hukum dan HAM.
h. Kementerian Luar Negeri.
i. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
j. Kementerian Perhubungan.
k. Bappenas.
l. Kepolisian RI.
m. Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri
(BNP2TKI).
n.Badan Pusat Statistik.
o.Media massa/organisasi profesi media.
p.Organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatantingkat nasional
q.Kelompok/Forum anak tingkat nasional.
r.Pusat Pelayanan terpadu tingkat pusat.
s.Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.
t.TP PKK Pusat.
u.KPAI.
2. Koordinasi di Tingkat Provinsi
Koordinasi untuk Pelayanan Identifikasi Pengaduan ditingkat provinsi difasilitasi oleh Gubernur melalui
Badan/lembaga yang menangani Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak dengan
anggota/dihadiri/melibatkan oleh pimpinan instansi/lembaga atau wakil yang ditunjuk dari : a. Dinas
Sosial.
b. Dinas Kesehatan.
c. Dinas Pendidikan.
d. Kanwil Kementerian Agama.
e. BP3TKI.
f. Dinas/Biro Hukum.
g. Dinas Perhubungan.
h. Disnakertrans.
i. Bappeda.
j. Kepolisian Daerah.
k. Organisasi profesi/ organisasi sosial.
l. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk Provinsi.
m. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, Lembaga
Konsultasi Kesejahteraan Keluarga, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, dll.
n. Unit yang menangani PP dan PA.
o. TP PKK Provinsi.
p. Dinas Dukcapil.

3. Koordinasi di Tingkat Kabupaten/Kota untuk pelayanan pengaduan ada pada


Bupati/Walikota dan difasilitasi oleh Dinas/Badan yang menangani
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Adapun instansi yang terlibat untuk
pelaksanaaan program baik di tingkat kabupaten/kota adalah sbb: a. Dinas/Suku Dinas
Sosial.
b. Dinas/Suku Dinas Kesehatan.
c. Dinas Pendidikan Kab/Kota.
d. Kantor Kementerian Agama.
e. Dinas/Suku Dinas Nakertrans.
f. Dinas Perhubungan.
g. Bapekab/Bapeko.
h. Kepolisian Resort.
i. Organisasi profesi/organisasi sosial tingkat kab/kota.
j. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk kab/kota.
k. Pusat Pelayananan Terpadu, shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.
l. TP PKK Kabupaten/Kota.
m. Dinas Dukcapil.

B. Koordinasi Untuk Pelayanan Rehabilitasi


Kesehatan
1. Koordinasi di Tingkat Pusat

Penanggung Jawab Pelayanan Rehabilitasi Medis ditingkat pusat ada pada Kementerian Kesehatan.
Namun Koordinasi ada pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak dengan anggota/dihadiri/melibatkan pimpinan instansi/lembaga atau
wakil yang ditunjuk dari :
a. Menkokesra.
b. Kementerian Dalam Negeri.
c. Kementerian Sosial.
d. Kementerian Kesehatan.
e. Kementerian Pendidikan Nasional.
f. Kementerian Agama.
g. Kementerian Komunikasi dan Informasi.
h. Kementerian Hukum dan HAM.
i. Kementerian Luar Negeri.
j. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
k. Bappenas.
l. Kepolisian RI.
m. Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri
(BNP2TKI).
n. Organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan tingkat nasional.
o. Kelompok/Forum anak tingkat nasional.
p. Pusat Pelayanan Terpadu tingkat pusat.
2. Koordinasi di Tingkat Provinsi
Koordinasi untuk Pelayanan Kesehatan itingkat provinsi difasilitasi oleh Gubernur melalui Dinas
Kesehatan dengan koprdinasi dengan Badan/lembaga yang menangani Pemberdayaan Perempuan dan
Perlidungan Anak dengan anggota/dihadiri oleh pimpinan instansi/lembaga atau wakil yang ditunjuk
dari : a. Dinas Sosial.

b. Dinas Diknas.
c. Kanwil Kementerian Agama.
d. Disnakertrans.
e. Bappeda.
f. Kepolisian Daerah.
g. Organisasi profesi/organisasi sosial.
h. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk Provinsi.
i. Pusat Pelayananan Terpadu,Sshelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.

3. Koordinasi di Tingkat Kabupaten/Kota


Penanggung jawab untuk Pelayanan Kesehatan ada pada Bupati/Walikota melalui Dinas/suku Dinas
Kesehatan dan difasilitasi oleh Dinas/Badan/kantor yang menangani Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak. Adapun instansi yang terlibat untuk pelaksanaaan program baik di tingkat
kabupaten/kota adalah sbb:

a. Dinas/suku dinas Sosial.


b. Dinas/Suku Dinas Kesehatan.
c. Dinas Diknas.
d. Kanwil Kementerian Agama.
e. Dinas/Suku Dinas Nakertrans.
f. Bapekab/Bapeko.
g. Kepolisian Resort.
h. Organisasi profesi/organisasi sosial tingkat kab/kota.
i. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk kab/kota.
j. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.

C. Pelayanan Rehabilitasi Sosial,


Pemulangan dan Reintegrasi Sosial
1. Koordinasi di Tingkat Pusat
Penanggung Jawab Pelayanan Program ini di tingkat pusat ada pada Kementerian Sosial RI.
Namun Koordinasi ada pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak dengan anggota/dihadiri/melibatkan pimpinan instansi/lembaga atau
wakil yang ditunjuk dari :
a. Kemenkokesra.
b. Kementerian Dalam Negeri.
c. Kementerian Kesehatan.
d. Kementerian Hukum dan HAM.
e. Kementerian Luar Negeri.
f. Bappenas.
g. Kepolisian Negara Republik Indonesia.
h. Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri
(BNP2TKI).
i. Organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan tingkat nasional.
j. Kelompok/Forum anak tingkat nasional.

2. Koordinasi di Tingkat Provinsi


Penanggung jawab untuk program ini di tingkat provinsi adalah Gubernur melalui Dinas Sosial dengan
koordinasi dengan Badan/Lembaga yang menangani Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak
dengan anggota/dihadiri oleh pimpinan instansi/lembaga atau wakil yang ditunjuk dari : a. Dinas Sosial.

b. Dinas Diknas.
c. Disnakertrans.
d. Kanwil Kementerian Agama.
e. Disnakertrans.
f. Bappeda.
g. Kepolisian Daerah.
h. Organisasi profesi/organisasi sosial.
i. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk Provinsi.
j. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.

3. Koordinasi di Tingkat Kabupaten/Kota


Penanggung jawab untuk Pelayanan Kesehatan ada pada Bupati/Walikota melalui Dinas/Suku Dinas
Sosial dan difasilitasi oleh Dinas/Badan/kantor yang menangani Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak. Adapun instansi yang terlibat untuk pelaksanaaan program baik di tingkat
kabupaten/kota adalah sbb:

a. Dinas/Suku Dinas Sosial.


b. Dinas/Suku Dinas Kesehatan.
c. Dinas Pendidikan.
d. Kantor Kementerian Agama Kab/Kota.
e. Dinas/Suku Dinas Nakertrans.
f. Bapekab/Bapeko.
g. Kepolisian Resort.
h. Organisasi profesi/organisasi sosial tingkat kab/kota.
i. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk kab/kota.
j. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, LK 3, dll.

D. Koordinasi Untuk Pelayanan Hukum


1. Koordinasi di Tingkat Pusat

Penanggung Jawab Pelayanan Program ini ditingkat pusat ada pada Kementerian Hukum dan HAM RI.
Namun Koordinasi ada pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak dengan anggota/dihadiri/melibatkan pimpinan instansi/lembaga atau wakil yang
ditunjuk dari :
a. Mahkamah Agung.
b. Kejaksaan Agung.
c. Kementerian Sosial.
d. Kementerian Dalam Negeri.
e. Kementerian Kesehatan.
f. Kementerian Hukum dan HAM.
g. Kementerian Luar Negeri.
h. Bappenas.
i. Kepolisian RI.
j. Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri
(BNP2TKI).
k. Organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan tingkat nasional.
l. Kelompok/forum anak tingkat nasional.

2. Koordinasi di Tingkat Provinsi


Penanggung jawab untuk program ini di tingkat provinsi adalah Gubernur melalui Dinas/Badan/Biro
Hukum dengan koordinasi dengan Badan/Lembaga yang menangani Pemberdayaan Perempuan dan
Perlidungan Anak dengan anggota/dihadiri/melibatkan pimpinan instansi/lembaga atau wakil yang
ditunjuk dari :
a. Kejaksaan Tinggi.
b. Pengadilan Tinggi.
c. Dinas Sosial.
d. Dinas Pendidikan.
e. Disnakertrans.
f. Kanwil Kementerian Agama.
g. Disnakertrans.
h. Bappeda.
i. Kepolisian Daerah.
j. Perguruan Tinggi.
k. Organisasi profesi/organisasi sosial.
l. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk Provinsi.
m. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.

3. Koordinasi di Tingkat Kabupaten/Kota


Penanggung jawab untuk Pelayanan Hukum ada pada Bupati/Walikota melalui Dinas/Suku/Biro Hukum
Sosial berkoordinasi dengan Dinas/Badan/Kantor yang menangani Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak. Adapun instansi yang terlibat untuk pelaksanaaan program baik di tingkat
kabupaten/kota adalah sbb:

a. Kejaksaan Negeri.
b. Pengadilan Negeri.
c. Dinas/Suku Dinas Sosial.
d. Dinas/Suku Dinas Kesehatan.
e. Dinas Pendidikan.
f. Kantor Kementerian Agama Kab/Kota.
g. Dinas/Suku Dinas Nakertrans.
h. Bapekab/Bapeko.
i. Kepolisian Resort.
j. Perguruan Tinggi.
k. Organisasi profesi/organisasi sosial tingkat kab/kota.
l. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk kab/kota.
m. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.

E. Pendanaan
1. APBN
Anggaran pelaksanaan penanganan anak korban kekerasan di tingkat pusat dibebankan kepada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara c.q. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak.

2. APBD
a. Anggaran pelaksanaan penanganan anak korban kekerasan di tingkat provinsi dibebankan
kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Provinsi.

b. Anggaran pelaksanaan penanganan anak korban kekerasan ditingkat kabupaten/kota


dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota.

3. SUMBER LAIN
Sumber dana diperoleh dari sumber lain yang tidak mengikat.

BAB VI
PEMANTAUAN, EVALUASI DAN
PELAPORAN
Untuk mengoptimalkan pelaksanaan pedoman penanganan anak korban kekerasan yang dilakukan
unit yang menangani kekerasan terhadap anak baik milik pemerintah maupun masyarakat seperti
Pusat Pelayanan Terpadu, shelter/rumah aman, RPTC, RPSA, P2TP2A maupun Pusat Pelayanan
Terpadu yang ada dan berbasis di Rumah Sakit Bahayangkara dan sebagainya Pemerintah dan
Pemerintah Daerah perlu melaksanakan pengawasan yang berbentuk pemantauan dan evaluasi
dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan penanganan anak korban
kekerasan dan mengetahui capaian kinerjanya, Pemerintah dan Pemerintah dalam melakukan
pemantauan ini dilakukan secara berkesinambungan. Pemantauan terhadap pelaksanaan pedoman
ini dilakukan dengan cara meminta laporan tertulis setiap 6 (enam) bulan, meminta laporan
insindentil dalam hal tertentu dan melakukan rapat kerja serta dilakukan dengan mereview laporan
per semester yang telah diberikan dengan laporan-laporan terakhir. Sedangkan rapat kerja dilakukan
sekurang kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Atas nama Pemerintah Daerah, unit yang menangani
pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di daerah maupun wadah yang dibentuk terkait
perlindungan perempuan dan anak misalnya gugus tugas pencegahan dan penanganan kekerasan
terhadap anak dapat melakukan pemantauan dan evaluasi.
Pemantauan dilakukan secara berjenjang sesuai dengan hierarkhi fungsi mulai dari pusat, provinsi
sampai dengan kabupaten/kota baik sendiri sendiri atau bersama-sama. Pemantauan dapat
dilakukan dengan menggunakan perangkat pemantauan berupa daftar pertanyaan, wawancara,
maupun kunjungan ke unit yang menangani anak korban kekerasan untuk melihat secara langsung
kegiatan, sarana dan prasarana SDM yang tersedia serta kendala yang dihadapi dalam hal melayani
anak korban kekerasan.

Sedang evaluasi dilakukan dengan cara meminta rencana kerja tahunan penanganan anak korban
kekerasan, meminta hasil pelaksanaan tugas, melakukan perbandingan antara perencanaan dan hasil
kerja yang dicapai dalam penanganan anak korban korban kekerasan. Hasil evaluasi dapat digunakan
oleh Pemerintah dan Pemerintah daerah sebagai pertimbangan dalam meningkatkan kinerja dari unit
yang menangani anak korban. Evaluasi dilakukan dengan cara mengolah data hasil pemantauan dan
pelaporan yang dilakukan secara berjenjang dan dilakukan secara berkala setiap 6 bulan sekali atau
sesuai kebutuhan. Setelah dilakukan evaluasi dilakukan tindak lanjut berupa pembinaan untuk
memperbaiki kinerja.

Unit yang menangani perlindungan anak pada Pemerintah Daerah menyampaikan laporan tentang
pelaksananaan penanganan anak korban kekerasan kepada Pemerintah Daerah. Laporan
disampaikan setelah diketahui hasil pengawasan berupa pemantauan dan evaluasi yang telah
dilakukan, serta perubahan perbaikan pelayanan anak korban kekerasan sesuai dengan evaluasi
yang telah disampaikan. Laporan disampaikan baik dalam bentuk laporan kemajuan (progress
report) maupun laporan akhir tahun (annual report). Laporan disusun, baik atas permintaan
Pemerintah atau Pemerintah Daerah maupun atas inisiatif Unit yang menangani anak korban
kekerasan. Hasil pelaporan ini akan digunakan untuk mengukur pelaksanaan pelayanan yang telah
dilakukan oleh masing-masing pelaksana pelayanan.
VII
PENUTUP
Penanganan terhadap anak korban kekerasan merupakan serangkaian upaya berbagai pihak, baik
pemerintah maupun masyarakat yang dilakukan secara integratif dan komprehensif.

Pada pelaksanaan penanganannya dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak baik nasional, provinsi
maupun kabupaten/kota secara lintas sektoral serta masyarakat sesuai dengan tugas, fungsi dan
kewenangan masing masing.

Pada kerangka tersebut maka perlu adanya persamaan persepsi/pemahaman tentang partisipasi
anak bagi semua jajaran pelaksana program/kegiatan baik nasional, provinsi maupun
kabupaten/kota, serta masyarakat. Dengan adanya kesamaan pemahaman tersebut diharapkan lebih
mempermudah dalam melakukan koordinasi dan kerjasama lintas sektoral dalam rangka
mengefektifkan pelaksanaan penanganan pelayanan anak korban kekerasan.

Upaya untuk mewujudkan kesamaan pemahaman tersebut salah satunya dengan menyusun buku
pedoman penanganan anak korban kekerasan. Semua pihak yang menerima buku ini diharapkan
dapat melakukan upaya perlindungan anak disektor kerja masing-masing.

Keberhasilan pelaksanaan pelayanan penanganan anak korban kekerasan ini sangat tergantung pada
komitmen dan peranserta semua pihak dalam rangka pemenuhan hakhak anak Indonesia. Untuk
menjamin keberhasilan harus dilakukan monitoring dan evaluasi secara bersama-sama agar apa yang
menjadi tujuan program terhadap perlindungan anak Indonesia dapat tercapai.
LAMPIRAN

FORMULIR DATA ANAK KORBAN


KEKERASAN

No. Reg. : Hari/Tgl. : Ca ra da t an g :


_
Relawan/Staf : 1. Datang Se n.d ir i
Manager/Staf : _ 2. Rujukan
 Polisi
 Rumah Sakit
 Lembaga lain (sebutkan)

A. IDENTITAS KLIEN
1. Nama :

_ _ 2. Tempat/tgl.
Lahir :

_ _ 3. Nama
Orangtua :
_ _ _
4. Alamat :

_ _
Kel.: _ Kec.: _
No. Tel.: HP : _
5. Pendidikan saat ini : a. Tidak sekolah b. TK c. SD
d. SLTP e. SLTA f. PT

6. Agama/Kepercayaan:a.Islam b. Kristen c. Khatolik


d. Hindu e. Budha f. KongHuCu

7. Pekerjaan orangtua : a. Guru/Dosen b. Peg. Swasta c. Buruh


d. TNI/Polri e. Pelajar/Mhs f.PNS/BUMN
g. Pedagang h. Wiraswasta j. Ibu RT
k. Lainnya:

8. Status Perkawinan Orangtua : Menikah/Tidak Menikah/Sirri/Cerai/Dipoligami

_ _ _ 9. Hubungan
dengan Pelaku :
_ _
10. Jumlah Saudara :
_ _
11. Nama Saksi Pelapor :
___ _

B. IDENTITAS PELAKU
1. Nama :

_ _ 2. Tempat/tgl.
Lahir :

_ _

3. Alamat :

_ _

Kel.: Kec.: _ _ No. Tel.:


_ HP: _
4. Pendidikan : a. Tidak sekolah b. TK c. SD
d. SLTP e. SLTA f. PT/D3/D2

5. Agama/Kepercayaan:a. Islam b. Kristen c. Khatolik


d. Hindu e. Budha f. KongHuCu

6. Pekerjaan : a. Guru/Dosen b. Peg. Swasta c. Buruh


d. TNI/Polri e. Pelajar/Mhs f.PNS/BUMN
g. Pedagang h. Wiraswasta j. Ibu RT
k. Lainnya:

7. Status Perkawinan : Menikah/Tidak Menikah/Sirri/Cerai/Dipoligami

_ _ 8. Hubungan
Korban :
_ _

C. ASESSMENT (Pengungkapan Masalah)


Kronologis :
Upaya Yang Pernah dilakukan :

Permasalahan yang didalami :


Harapan klien (Keinginan Klien) :

D. Penilaian Mental (Menggunakan


Hamilton Scale)
E. Jenis dan Dampak Kekerasan
a. Jenis
Kekerasan
Bentuk :
* Kekerasan terhadap perempuan :
Seksual Fisik Psikis Penelantaran Berlapis

* Kekerasan terhadap Anak :


Seksual Fisik Psikis Penelantaran Berlapis

Lokasi :
Rumah tangga Tempat kerja Sekolah Tempat umum Lainnya
b. Dampak
Kesehatan Fisik

Kesehatan Jiwa

Perilaku Tidak Sehat

Kesehatan Reproduksi

Kondisi Kronis

Ekonomi

Anak/Keluarga

Lain-lain

F. Rencana Intervensi
a. Jenis Pelayanan
Pelayanan medis : ya / tidak

Bila ya klien dirujuk ke .......................................................................................


Pelayanan psikososial

* konseling individu oleh ....................................................................................


* support group .................................................................................................
* konseling keluarga oleh...................................................................................

Pelayanan hukum

* konseling hukum .............................................................................................


* mediasi ...........................................................................................................
* pendampingan hukum ....................................................................................
* proses hukum ................................................................................................. b. Jangka waktu
pelayanan
pendek (3-6 Bulan) menengah (6-9 Bulan) panjang (< - 9 Bulan)

G. Pelaksanaan Intervensi
Layanan yang diberikan

No Jenis Layanan-layanan Waktu Hasil


H. Terminasi
- Waktu terminasi : ........................................................................................
- Alasan : .......................................................................................

Jakarta,.............................................
Manager Kasus

( )

FD.2

Lembar Persetujuan Intervensi


Dengan ini Saya yang mendatangani dibawah ini menyatakan bahwa petugas P2TP2A Provinsi DKI
Jakarta telah menjelaskan kepada saya tentang tujuan, manfaat dan langkah-langkah penanganan
dan saya telah memahami sepenuhnya.

Selanjutnya saya menyetujui dilakukannya proses penanganan tersebut terhadap diri Saya/terhadap
anak/anak perwalian/.......

Tanda tangan saya / Orang tua / Wali

Laporan Pemeriksaan Psikologis / Konseling

Nama Konselor :

_ _ Tanggal
Konselor :
_

_ _
_

_ __

___

_
Jakarta, ..................................

Konselor

( ................................................ )
Laporan Pendampingan / Home Visit
Staff / Relawan yang melakukan pendampingan / Home Visit :

Tanggal Pendampingan / Home Visit :

_ _

_
_

Jakarta, ..................................

Pendamping

( ................................................ )
PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN
ANAK (P2TP2A) PROVINSI DKI JAKARTA

Jl. Raya Bekasi Timur Km.18, Pulo Gadung, Jakarta Timur 13250
Telp. 021-4788 2898, Fax. 021-4788 2899

No. :
Hal : Rujukan Kepada :
Yth, ............

Dengan hormat,

Mohon bantuan untuk penanganan lebih lanjut bagi :

Nama :

.............................................................................................................
Umur :

.............................................................................................................
Masalah/Kasus :

.............................................................................................................
Hasil Pemeriksaan :

.............................................................................................................

.............................................................................................................
Pertolongan yang :

............................................................................................................. telah diberikan

.............................................................................................................
.............................................................................................................
Bantuan lebih lanjut :

.............................................................................................................
Yang diharapkan

.............................................................................................................

.............................................................................................................

Atas perhatian dan kerjasama yang baik diucapkan terima kasih.

Jakarta, ..........................

Ketua P2TP2A

(.........................................)

Lembar 1. Untuk Intitusi Rujukan

2. Arsip P2TP2A

MENTERI NEGARA
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
REPUBLIK INDONESIA,

LINDA AMALIA SARI


PERATURAN
MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 6 TAHUN 2011
TENTANG
PANDUAN PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP ANAK DI LINGKUNGAN
KELUARGA, MASYARAKAT, DAN LEMBAGA PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK


REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi serta bentuk-bentuk eksploitasi baik ekonomi, seksual,
penelantaran, ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya;

b. bahwa Pasal 72 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang


Perlindungan Anak mengamanatkan orang perorangan, masyarakat,
lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga pendidikan untuk berperan
dalam perlindungan anak, termasuk didalamnya melakukan upaya
pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungannya;

c. bahwa di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan


masih banyak anak yang mengalami kekerasan fisik maupun psikis
sehingga diperlukan upaya untuk melakukan pencegahan terjadinya
kekerasan terhadap anak;

d. bahwa untuk meningkatkan peran keluarga, masyarakat dan lembaga


pendidikan dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak,
diperlukan panduan pencegahan kekerasan terhadap anak di
lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan;

e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam


huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu menetapkan Peraturan Menteri
Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tentang
Panduan Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di
Lingkungan Keluarga, Masyarakat dan Lembaga Pendidikan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4235);

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan


Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4419);

3. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak


Pidana Perdagangan Orang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4720);

4. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 181,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4928);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian


Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi
dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

6. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014;

7. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009


tentang
Pembentukan dan Pengangkatan Menteri Negara Kabinet
Indonesia Bersatu II;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN


DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA TENTANG
PANDUAN PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP ANAK DI
LINGKUNGAN KELUARGA, MASYARAKAT, DAN LEMBAGA
PENDIDIKAN.

Pasal 1

Panduan Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Keluarga,


Masyarakat dan Lembaga Pendidikan meliputi program yang perlu dilakukan
di lingkungan keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan dalam upaya
mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.

Pasal 2

Program pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga


sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 1 meliputi:
a. peningkatan pemahaman hak asasi manusia termasuk di dalamya hak-
hak anak dan kesetaraan gender;
b. peningkatan kesadaran hukum dan dampak kekerasan terhadap anak;
c. pengintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak dalam
program pemberdayaan keluarga; dan
d. penguatan pendidikan anti kekerasan sejak dini di tingkat keluarga.

Pasal 3

Program pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan


masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 meliputi:
a. peningkatan pemahaman hak asasi manusia termasuk di dalamnya hak-
hak ada dan kesetaraan gender;
b. peningkatan kesadaran masyarakat tentang hukum dan dampak
kekerasan terhadap anak;
c. penintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak dalam
program pemberdayaan masyarakat;
d. penguatan peran komunitas peduli anak melalui pelatihan pola
pengasuhan anak; dan
e. mendorong upaya penegakan ketentuan peraturan perundang-
undangan untuk mencegah kekerasan terhadap anak.

Pasal 4
Program pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan lembaga
pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 meliputi:
a. peningkatan pemahaman tenaga pendidikan, tenaga kependidikan dan
peserta didik tentang hak-hak anak dan kesetaraan gender; dan
b. pengembangan tata tertib dan peraturan sekolah yang ramah anak yang
berperspektif gender.

Pasal 5

Mengenai kegiatan dan pelaksana dari pencegahan kekerasan terhadap anak


di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3 dan Pasal 4 adalah sebagaimana
ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.

Pasal 6

Panduan Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Lingkungan Keluarga,


Masyarakat dan Lembaga Pendidikan menjadi acuan bagi
kementerian/lembaga masyarakat, lembaga swasta, perguruan tinggi dan
lembaga pendidikan dalam melaksanakan program pencegahan kekerasan
terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan.

Pasal 7

Keluarga dalam melaksanakan program Panduan ini dapat dilakukan dengan


mengintegrasikan pencegahan kekerasan terhadap anak melalui pola
pengasuhan dalam keluarga yang bebas dari kekerasan.

Pasal 8

Masyarakat dalam melaksanakan program Panduan ini dapat dilakukan


dengan mengintegrasikan pencegahan kekerasan melalui penguatan peran
komunitas peduli anak.

Pasal 9

Lembaga pendidikan dalam melaksanakan program Panduan ini dapat


dilakukan dengan mengintegrasikan pencegahan kekerasan terhadap anak
melalui mata pelajaran yang relevan dan ekstrakurikuler

Pasal 10
(1) Dalam melaksanakan Panduan Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di
Lingkungan Keluarga, Masyarakat dan Lembaga Pendidikan, Deputi
Bidang Perlindungan Anak melaksanakan:
a. rapat koordinasi secara berkala minimal 2 (dua) kali dalam 1 (satu)
tahun yang diikuti oleh seluruh kementerian/lembaga terkait,
organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat yang
terlibat dalam pelaksanaan program dan kegiatan; dan
b. sosialisasi dan advokasi kepada Pemerintah Daerah tentang Panduan
Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Lingkungan Keluarga,
Masyarakat dan Lembaga Pendidikan.

(2) Rapat koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a bertujuan
untuk memantau, membahas masalah dan hambatan serta mensinergikan
pelaksanaan langkah-langkah kegiatan pencegahan kekerasan terhadap
anak di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan.

Pasal 11

Pemerintah Daerah dalam melaksanakan Panduan Pencegahan Kekerasan


Terhadap Anak di Lingkungan Keluarga, Masyarakat dan Lembaga
Pendidikan melakukan:
a. fasilitasi, sosialisasi dan advokasi tentang pencegahan kekerasan
terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat, atau lembaga
pendidikan;
b. kerjasama dan koordinasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
c. pemantauan dan evaluasi tentang pelaksanaan pencegahan kekerasan
terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat, dan lembaga
pendidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; dan
d. pencatatan dan pelaporan tentang pelaksanaan upaya pencegahan
kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat, dan
lembaga pendidikan.

Pasal 12

(1) Pendanaan pelaksanaan kegiatan pencegahan kekerasan terhadap anak


di lingkungan keluarga, masyarakat, dan pendidikan dibebankan pada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kementerian/lembaga
yang bersangkutan, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), serta
dari sumber-sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Pendanaan penyelenggaraan kegiatan pencegahan kekerasan terhadap
anak di lingkungan keluarga, masyarakat, dan pendidikan dapat diperoleh
dari : a. swadaya;
b. bantuan dari pemerintah baik melalui APBN atau APBD; dan
c. bantuan dari swasta.

(3) Pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diberikan


sesuai dengan kemampuan anggaran Pemerintah/Pemerintah daerah.

Pasal 13
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 Februari 2011
MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN
PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA,

LINDA AMALIA SARI

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 7 Februari 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
PATRIALIS AKBAR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 66

LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN
PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 6 TAHUN 2011
TENTANG
PANDUAN PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA,
MASYARAKAT DAN LEMBAGA PENDIDIKAN
PANDUAN
PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP
ANAK
DI LINGKUNGAN MASYARAKAT DAN
LEMBAGA PENDIDIKAN

ASISTEN DEPUTI URUSAN KEKERASAN TERHADAP ANAK


DEPUTI PERLINDUNGAN ANAK
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
2010
Daftar Isi
hal
Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang

1.2. Analisa Situasi

1.3. Maksud dan Tujuan

1.3.1. Maksud
1.3.2. Tujuan
1.4. Landasan Hukum

1.5. Pengertian

Bab II Arah Kebijakan 2.1. Arah Kebijakan

2.2. Strategi

Bab III Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan


Masyarakat dan Lembaga Pendidikan
3.1. Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Masyarakat
3.1.1. Peningkatan Pemahaman bahwa Hak Anak dan gender adalah Hak Azasi
Manusia
3.1.2. Peningkatan Kesadaran Anti Kekerasan Terhadap Anak
3.1.3. Pengintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak dalam program
pemberdayaan masyarakat
3.1.4. Penguatan pendidikan anti kekerasan sejak dini di tingkat keluarga 3.1.5.
Penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan terhadap anak
3.2. Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lembaga Pendidikan

3.2.1. Peningkatan pemahaman guru /pendidik / pengasuh dan peserta didik /


anak asuh / santri tentang Hak anak, Anti Kekerasan dan Jender
3.2.2. Pengembangan dan sosialisasi aturan tentang pencegahan kekerasan terhadap anak
di lembaga pendidikan

Bab IV Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan


BAB V Penutup
Bab I
Pendahulua
n

1.1. Latar Belakang

Kekerasan terhadap anak yang dilakukan dalam lingkungan keluarga, masyarakat, lembaga
pendidikan atau dimanapun tidak dapat dibenarkan karena melanggar hak azasi manusia.
Meskipun demikian, kekerasan terhadap anak seringkali terjadi baik di publik baik di lingkungan
keluarga, masyarakat dan lingkungan pendidikan dalam berbagai bentuk yang pelakunya adalah
orang-orang terdekat dengan anak yang seharusnya melindungi anak itu sendiri seperti
orangtua atau guru.

Kekerasan terhadap anak tidak dapat dibenarkan baik yang dilakukan dalam lingkungan keluarga,
masyarakat, lembaga pendidikan maupun negara dan harus dilakukan upaya-upaya
pencegahan. Meskipun demikian, kekerasan terhadap anak tetap saja terjadi baik di ranah
publik maupun domestik dalam berbagai bentuknya.

Undang Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945 Pasal 28B (2) menyatakan bahwa
“Setiap anak berhak .... atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Sedangkan untuk
mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak Pasal 69 (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA) menyebutkan bahwa “Perlindungan khusus bagi anak
korban kekerasan fisik, psikis, dan seksual dilakukan melalui upaya: (a) penyebarluasan dan
sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang melindungi anak korban tindak
kekerasan; dan (b) pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi. Sedangkan ayat (2)
menyebutkan bahwa “Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh
melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan.” Sedangkan Pasal 54 menyebutkan bahwa
“Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang
dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau temantemannya di dalam sekolah yang
bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.” Dengan demikian menjadi tanggung jawab
semua pihak untuk mengimplementasikan dalam aktivitas keseharian.

Selain itu pada Pasal 72 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 mengamanatkan masyarakat dan
lembaga untuk berperan dalam perlindungan anak, termasuk di dalamnya melakukan upaya
pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungannya.
Kekerasan terhadap anak merupakan kasus yang kadang tersembunyi, tidak terlaporkan, tidak tercatat
dan tidak terpublikasikan. Dikarenakan berbagai faktor antara lain karena faktor budaya yang
memposisikan anak

sebagai objek dan milik penuh orang tua. Anak merasa takut mengadukan atau menyampaikan
kepada pihak lain, karena ketidaktahuan dan ketidakmampuannya mengenali bentuk-bentuk
kekerasan yang menimpa dirinya seperti kekerasan fisik, psikis dan seksual.

Kekerasan pada anak dapat menimbulkan dampak jangka pendek maupun jangka panjang yang
bersifat serius terhadap tumbuh kembang anak. Dampak fisik yang dialami anak berupa lebam,
luka lecet, luka bakar, patah tulang yang dapat menyebabkan kecacatan dan dampak psikis yang
dialami seumur hidup bahkan kematian. Oleh kerana itu jika hal ini tidak ditangani secara
komperehensif dapat menurunkan kualitas hidup anak sebagai generasi penerus bangsa.

Untuk melakukan pencegahan kekerasan terhadap anak sudah seharusnya menjadi tanggung jawab
bersama antara Pemerintah dan masyarakat dalam berbagai bentuk organisasi baik organisasi
sosial maupun organisasi keagamaan. Khusus untuk lembaga sosial, dan keagamaan dapat
digunakan sebagai wadah sosialisasi yang efektif untuk kampanye hidup damai tanpa kekerasan
terhadap anak. Upaya lain memberikan pelatihan pada orang tua mengenai pengasuhan ramah
anak, pelatihan guru bagaimana cara memperlakukan anak, dan bentuk upaya lain yang
memberi dampak pada terkuranginya kasus kekerasan terhadap anak. Atas dasar inilah yang
mendorong Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyusun
“Panduan Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak Di Lingkungan Masyarakat dan Lembaga
Pendidikan.

1.2. Analisa Situasi


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2006 secara nasional, selama tahun 2006 telah terjadi sekitar
2,81 juta kekerasan terhadap anak dan sekitar 2,29 juta anak pernah menjadi korbannya. Dari
sejumlah kejadian, penganiayaan merupakan jenis kekerasan yang terbayak dialami oleh anak
yaitu 53,7% (L.59.1%; P.41,5%), selanjutnya Penghinaan 36,7% (L.31,7%; P.42,6%), Penelantaran
10,3%, Pelecehan 3,9% (L.2,7%; P.5,4%), dan lainnya 15,2% (L.14%; P.16,5%).

Banyak kejadian kekerasan terhadap anak baik di perkotaan dan perdesaan ternyata penyebabnya
karena ketidakpatuhan, yakni 51,9% (Perkotaan 47,4%; Perdesaan 54,9%) sedangkan faktor
ekonomi yang dianggap oleh banyak pihak ternyata hanya sekitar 9,9% (Perkotaan 10,2%;
Perdesaan 9,7%) sebagai penyebab kekerasan. Penyebab lain terjadinya kekerasan terhadap
anak adalah perilaku buruk 18,7% (Perkotaan 18,7%; Perdesaan 13,7%) dan cemberut 4,8%
(Perkotaan 5,7%; Perdesaan 4,3%).
Bila ditelusuri siapa pelaku kekerasan, ternyata orang tua merupakan orang yang
semestinya menjadi pembimbing, pelindung, penerima pengaduan, pendendar,
pemberi rasa aman dan kasih sayang justru sebagai pelaku kekeraan. Menurut BPS,
2006, pelaku kekerasan secara berurut Orang tua 61,4%, tetangga 6,7%, famili 3,8%,
guru 3%, lengkapnya lihat tabel.

Tabel. Kekerasan Terhadap Anak Menurut Pelaku (%)


Pelaku Perkotaan Pedesaan Total
Orangtua 56,5 64,6 61,4
Famili 4,1 3,6 3,8
Tetangga 8 5,8 6,7
Majikan 0,8 0,1 0,4
Rekan kerja 0,9 0,7 0,8
Guru 2,8 3,1 3
Lainnya 26,8 21,9 23,9
Sumber: BPS, 2006

Rumah menurut BPS merupakan tempat kejadi perkara yang tertinggi yaitu
73,1%, selanjutnya tempat umum 23,2%, dan selebihnya tempat kerja
(lihat gbr).

Gbr. Kekerasan terhadap anak menurut Tempat

Kejadian

100

50

0 Rumah L uar T 4 kerja Dua t4


Total 73,1 23,2 0,8 3,1
Perkotaan 70,5 27,2 0,8 1,4
Pedesaan 74,8 20,7 0,5 4

Sumber: BPS, 2006

Dari sejumlah kejadian kekerasan terhadap anak yang sangat dirasakan akibatnya adalah sakit hati.
Menurut BPS, 2006 dari sejumlah akibat yang dirasakan oleh anak korban kekerasan sakit hati
merupakan hal yang sangat terekam dengan baik dalam hati korban. Jika sejumlah persentase
korban ini akan berontak, maka dikhawatirkan anak-anak tersebut menjadi pendendam.
Persentase lengkap lihat tabel berikut.

Tabel. Kekerasan Terhadap Anak menurut Akibat terberat dirasakan (%)

Akibat Perkotaan Perdesaan Total


Luka/cacat 8,4 7,7 8,0
Stress/depresi 10,2 5,5 7,4
Sakit hati 49,3 52,5 51,2
Materi 6,5 6,2 6,3
Lainnya 25,7 28,1 27,1
Sumber: BPS, 2006

1.3. Maksud dan Tujuan


1.3.1. Maksud
Panduan ini menjadi acuan bagi instansi pemerintah dan lembaga masyarakat dalam melaksanakan
pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat dan di lembaga
pendidikan.

1.3.2. Tujuan
Tujuan Umum
Mewujudkan lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan yang ramah anak.

1.4. Tujuan Khusus


1. Tersedianya media KIE tentang pencegahan kekerasan terhadap anak di keluarga,
masyarakat dan lembaga pendidikan.
2. Tersosialisasinya program-program anti kekerasan terhadap anak di keluarga,
masyarakat dan lembaga pendidikan
3. Terbentuknya forum peduli anak yang melaksanakan kegiatan pencegahan
kekerasan terhadap anak di tingkat masyarakat
4. Terbentuknya forum peduli anak yang melibatkan partisipasi siswa sekolah dalam
melaksanakan kegiatan pencegahan kekerasan terhadap anak di lembaga
pendidikan
5. Tersedianya data tentang kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga,
masyarakat dan lembaga pendidikan yang ramah anak
6. Terlaksanya pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pencegahan kekerasan
terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan yang
ramah anak
7. Meningkatnya kerjasama keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan dalam
upaya pencegahan kekerasan terhadap anak.

Sasaran
1.5. Langsung
Pendidik, orangtua, toga, toma, ormas, teman sebaya, pengelola program lintas
sektor terkait

Tidak Langsung
Akademisi, organisasi profesi, LSM, aparat penegak hukum

1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang
masih dalam kandungan.
2. Diskriminasi adalah segala bentuk perlakuan yang menghasilkan
pembedaan baik di lingkup keluarga, masyarakat dan negara.
3. Kekerasan terhadap anak adalah setiap perbuatan terhadap anak
dengan atau tanpa tujuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara
seksual, fisik, mental, termasuk diskriminasi penelantaran dan perlakuan buruk yang
mengancam integritas tubuh anak dan merendahkan martabat dalam masa tumbuh
kembangnya.

4. Kekerasan seksual adalah tindakan seksual yang dilakukan pada anak


pemaksaan hubungan seksual terhadap seorang anak dalam berbagai
bentuk Bentuk-bentuk kekerasan ini antara lain diperkosa, pemaksaan
hubungan seksual, perkawinan usia dini, anak disodomi, diraba-raba alat
kelaminnya, diremas-remas payudaranya, dicolek pantatnya, dan diraba-
raba pahanya.
5. Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh
sakit, atau luka berat. Bentuk-bentuk kekerasan ini antara lain dipukul,
dijambak, ditendang, diinjak, dicubit, dicekik, dicakar, ditempel besi
panas, dipukul dengan karet timba, dijewer, dan lain-lain (Studi Sekretaris
Jenderal PBB tentang kekerasan terhadap anak).
6. Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan,
hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa
tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada anak. Bentuk-
bentuk kekerasan ini antara lain dihina, dicaci-maki, diejek, dipaksa
melakukan sesuatu dan atau tidak melakukan yang tidak dikehendaki, dan
diancam.
7. Kekerasan yang diakibatkan tradisi adat adalah kekerasan yang
bersumber pada praktik-praktik budaya dan interpretasi ajaran agama
yang salah sehingga anak ditempatkan pada posisi sebagai milik orang tua
atau komunitas. Bentuk-bentuk kekerasan ini antara lain dipaksa kawin
pada usia muda bagi anak perempuan, ditunangkan, dipotong jari jika
keluarganya meninggal, mahar pernikahan (belis), menjadi joki kuda, dan
lain-lain.
8. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terisiri dari suami
istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau
keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan
derajat ketiga
9. Lingkungan masyarakat terdiri dari ranah domestik dan ranah publik
10. Lembaga pendidikan formal, informal, dan non formal adalah tempat
tersedianya layanan dan fasilitas yang bertujuan untuk memberikan
kontribusi dalam pendidikan dan pengetahuan terhadap anak.
11. Perlakuan salah terhadap anak adalah semua bentuk kekerasan
terhadap anak yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya bertanggung
jawab dan/atau mereka yang memiliki kuasa atas anak, yang seharusnya
dapat dipercaya yaitu orang tua, keluarga dekat, guru, pembina, aparat
penegak hukum, pengasuh dan pendamping (World Health Organization).
12. Penelantaran anak adalah tindakan segaja atau tidak sengaja yang
mengakibatkan tidak terpenuhi kebutuhan dasar anak untuk tumbuh
kembang secara fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual (World
Health Organization).
13. Pencegahan adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan
berbagai faktor yang menyebabkan dan melestarikan segala bentuk
kekerasan terhadap anak.
14. Kesetaraan Gender adalah hasil dari ketiadaan diskriminasi berdasarkan
jenis kelamin atas dasar kesempatan, alokasi sumber daya atau manfaat
dan akses terhadap pelayanan.

Bab II
Arah Kebijakan

2.1. Arah Kebijakan


1. Upaya pencegahan kekerasan terhadap anak merupakan bagian integral dari hak asasi manusia yang
harus di lakukan oleh keluarga, masyarakat, pemerintah termasuk lembaga pendidikan 2.
Penyelenggaraan perlindungan anak yang dilakukan oleh Kelurga, masyarakat, pemerintah termasuk
lembaga pendidikan harus mengutamakan kepentingan terbaik untuk tumbuh kembang anak secara
optimal yang bebas dari diskriminasi dan kekerasan.

3. Pelaksanaan upaya pencegahan terhadap kekerasan pada anak dilakukan melalui kerjasama semua
unsur terkait di lingkungan pemerintah dan pemerintah daerah dan melibatkan partisipasi
masyarakat.

2.2 Strategi
Strategi upaya pencegahan adalah sebagai berikut:

1. Penyusunan media KIE tentang upaya pencegahan kekerasan terhadap keluarga,


masyarakat dan lembaga pendidikan
2. Penggalangan peran serta berbagai media komunikasi dalam penyebar luasan
media KIE tentang pencegahan kekerasan terhadap anak
3. Peningkatan peran serta lembaga pemerintah, masyarakat, keagamaan dan
dunia usaha dalam optimalisasi pencegahan kekerasan terhadap anak di
lingkungan masyarakat dan lingkungan pendidikan.
4. Pemanfaatan rumah ibadah dan institusi pendidikan formal dan non formal
sebagai wadah sosialisasi mengenai dampak kekerasan terhadap anak di
lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan.
5. Pemberdayaan keluarga dalam kegiatan program pencegahan kekerasan
terhadap anak.
6. Penguatan kemampuan teman sebaya sebagai agen perubah dalam mengurangi
akibat kekerasan terhadap anak di lingkungan masyarakat dan lingkungan
pendidikan.
7. Pemanfaatan forum-forum anak yang ada di semua wilayah.
8. Pengawasan dan monitoring berbagai program pencegahan di lingkungan
keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan.
9. Meningkatkan upaya pencegahan kekerasan pada anak melalui program UKS
10. Penggalangan peran serta berbagai media komunikasi dalam penyebar luasan
informasi.
11. Peningkatan peran serta lembaga pemerintah, masyarakat, keagamaan dan
dunia usaha dalam optimalisasi pencegahan kekerasan terhadap anak di
lingkungan masyarakat dan lingkungan pendidikan.
12. Pemanfaatan rumah ibadah sebagai wadah sosialisasi mengenai bahaya
kekerasan terhadap anak di lingkungan masyarakat dan lingkungan pendidikan.
13. Pemberdayaan keluarga dalam pencegahan kekerasan terhadap anak.
14. Penguatan kemampuan teman sebaya sebagai agen perubah dalam mengurangi
akibat kekerasan terhadap anak di lingkungan masyarakat dan lingkungan
pendidikan.
15. Pemanfaatan forum-forum anak yang ada di semua wilayah

Bab III
Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan
Keluarga, Masyarakat dan Lembaga
Pendidikan
3.1. Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan
Keluarga
3.1.1. peningkatan pemahaman hak asasi manusia termasuk di dalamnya hakhak anak dan
kesetaraan gender
Output:
1. Setiap anggota keluarga memahami hak dan kewajibannya masingmasing
2. Keluarga memahami bahwa anak mempunyai hak yang harus dihargai,
dihormati dan dipenuhi
3. Keluarga memahami tentang kesetaraan dan keadilan gender yang harus
dihargai, dihormati dan dipenuhi
Kegiatan dan Pelaksana:
1. Peningkatan pemahaman anggota keluarga (pendidikan keorangtuaan, pola asuh,
komunikasi dg anak) : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak, Kemnterian Agama, Lembaga Masyarakat, Perguruan Tinggi, Kementrian
Pendidikan Nasional

2. Peningkatan peran anggota keluarga dalam melindungi dan memenuhi hak anak
dan gender: Unit yang menangani PP dan PA Kab/Kota, Kantor Agama di Kab/Kota,
Lembaga Masyarakat,
Perguruan Tinggi, kementrian pendidikan

3.1.2. Peningkatan kesadaran hukum dan dampak kekerasan terhadap anak;

Output:
1. Keluarga menyadari bahwa kekerasan terhadap anak adalah tindakan pidana
2. Keluarga menyadari bahwa perlunya perlindungan bagi anak dari segala bentuk
kekerasan Kegiatan dan Pelaksana:
1. Keluarga mengembangkan keharmonisan, budaya damai dalam keluarga:
Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Agama, Kementerian Komunikai
dan Informatika, dan Media Massa
2. Keluarga mengembangkan pola asuh yang ramah anak (child friendly):
Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial,
BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

3.1.3. aPengintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak dalam program


pemberdayaan keluarga;

Output:
1. Adanya program pencegahan kekerasan terhadap anak yang terintegrasi dalam
program pemberdayaan keluarga
2. Meningkatnya pemahaman keluarga sebagai sasaran program pemberdayaan
tentang anti kekerasan terhadap anak Kegiatan dan Pelaksana:
1. Menyusun materi pengintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak
dalam program pemberdayaan keluarga: Kementerian Sosial, Kementerian
Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,
Kementerian Dalam Negeri
2. Melakukan advokasi pada lembaga terkait yang mengelola program
pemberdayaan keluarga untuk mengintegrasikan program pencegahan kekerasan
thd anak: Kemementerian Sosial, Kementerian Kesehatan,
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

3.1.4.. . Penguatan pendidikan anti kekerasan sejak dini di tingkat keluarga

Output:
Anak memahami, mampu mencegah dan melaporkan kekerasan
yang terjadi pada dirinya, di lingkungan atau dalam keluarga
Kegiatan dan Pelaksana:
3.1.5. Peningkatan pemahaman konsekwensi hukum pelaku kekerasan terhadap anak
Output:
Meningkatkan pemahaman keluarga terhadap konsekwensi hukum bagi pelaku kekerasan
terhadap anak

3.2. Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan


Masyarakat
3.2.1. Peningkatan pemahaman hak asasi manusia termasuk didalamnya hakhak anak dan
kesetaraan gender ;

Output:
1. Masyarakat memahami bahwa anak mempunyai hak anak yang harus dihargai,
dihormati dan dipenuhi
2. Masyarakat memahami tentang kesetaraan dan keadilan jender yang harus
dihargai, dihormati dan dipenuhi Kegiatan dan Pelaksana:
1. Pengintegrasian pemahaman hak anak dan gender dalam pelatihan pra
nikah: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,
Kemeterian Agama, Lembaga Masyarakat, Perguruan Tinggi
2. Peningkatan pemahaman kader masyarakat (toga, toma dll): Unit yang
menangani PP dan PA Kab/Kota, Kantor Agama di Kab/Kota, Lembaga
Masyarakat, Perguruan Tinggi
3. Peningkatan peran kader masyarakat (toma, toga dll) dalam memberikan
penyuluhan tentang hak anak dan gender, pemberdayaan keluarga
kepada masyarakat: Unit yang menangani PP dan PA Kab/Kota, Kantor
Agama di Kab/Kota, Lembaga Masyarakat, Perguruan Tinggi

3.2.2. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang hukum dan dampak kekerasan terhadap anak;
Output:
1. Masyarakat menyadari bahwa kekerasan terhadap anak adalah tindakan pidana
2. Masyarakat menyadari bahwa perlunya perlindungan bagi anak dari segala bentuk
kekerasan Kegiatan dan Pelaksana:
1. Mengerakkan anggota masyarakat untuk mensosialisasikan anti kekerasan :
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kominfo, Pemda
Provinsi/Kab/Kota, Lembaga Masyarakat, Perguruan Tinggi
2. Peningkatan peran serta masyarakat untuk ikut mengawasi ekspos kekerasan di
media massa tanpa mengeksploitasi kasus anak: Orsos,
Lembaga Masyarakat, Forum Anak, perguruan tinggi

3. Menyebarluaskan informasi anti kekerasan terhadap anak melalui forum


komunikasi yang ada: Pemda Provinsi/Kab/Kota, Orsos, Lembaga Masyarakat,
Forum Anak, Perguruan Tinggi
4. Membentuk dan mengembangkan kelompok sebaya (peer group) dalam
melakukan kampanye pencegahan kekerasan terhadap anak: Pemda
Provinsi/Kab/Kota, Orsos, Lembaga Masyarakat, Forum Anak

3.2.3. Pengintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak dalam program


pemberdayaan masyarakat;

Output:
1. Adanya program pencegahan kekerasan terhadap anak yang terintegrasi dalam
program pemberdayaan masyarakat
2. Meningkatnya pemahaman keluarga dan masyarakat sasaran program
pemberdayaan tentang anti kekerasan terhadap anak Kegiatan dan Pelaksana:
1. Menyusun materi pengintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak
dalam program pemberdayaan masyarakat: Kementerian Sosial, Kementerian
Kesehatan, Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Dalam Negeri

2. Melakukan advokasi pada lembaga terkait yang mengelola program


pemberdayaan masyarakat untuk mengintegrasikan program pencegahan
kekerasan thd anak: Kemementerian Sosial, Kementerian Kesehatan,
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

3.2.4. Penguatan peran komunitas peduli anak melalui pelatihan pola pengasuhan anak
Output:
Anak memahami, mampu mencegah dan melaporkan kekerasan yang

terjadi pada dirinya, di lingkungan atau dalam lingkungan masyarakat Kegiatan


dan Pelaksana:

1. Mengembangkan budaya damai dalam masyarakat : Kementerian Sosial,


Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, Kementerian Agama,
Kementerian Komunikai dan Informatika, dan Media Massa
2. Integrasi pencegahan kekerasan dalam kurikulum PAUD: Kementerian Pendidikan
Nasional, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, BKKBN, Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
3. Memberdayakan anggota masyarakat dalam mengembangkan anti kekerasan
terhadap anak (pola asuh anti kekerasan terhadap anak): Kementerian Pendidikan
Nasional, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, BKKBN, Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lembaga Masyarakat dan
Lembaga Swasta

3.2.5. mendorong upaya penegakan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk


mencegah kekerasan terhadap anak.
Output:
Pemberian sanksi hukum yang berat terhadap pelaku kekerasan terhadap anak

Kegiatan dan Pelaksana:


1. Meningkatkan peran masyarakat dalam mengawasi proses penegakan
hukum terhadap pelaku tindak kekerasan terhadap anak: Kementerian
Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, Lembaga Masyaraka, Lembaga Swasta, dan Media
Massa
2. Pemberdayaan pemolisian masyarakat (polmas) dalam pencegahan
kekerasan terhadap anak: Mabes Polri, Polda, Polres, Polsek

3.3. Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lembaga


Pendidikan
3.3.1. Peningkatan pemahaman tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik
tentang hak-hak anak dan kesetaraan gender;
Output:
Guru / pendidik / pengasuh dan peserta didik /anak asuh / santri memahami tentang hak anak,
anti kekerasan dan jender

Kegiatan dan Pelaksana:


1. Peningkatan pemahaman tentang hak anak, anti kekerasan dan gender kepada
guru/pendidik/pengasuh : Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian
Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Agama, BKKBN, Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lembaga Masyarakat dan
Lembaga Swasta
2. Peningkatan pemahaman tentang hak anak, anti kekerasan dan gender kepada
peserta didik/anak asuh/santri: Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian
Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Agama, BKKBN, Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lembaga Masyarakat dan
Lembaga Swasta
3. Memantapkan pembentukan kelompok sebaya (peer group) dalam
pencegahan kekerasan terhadap anak di lembaga pendidikan: Pemda Provinsi/Kab/Ko,
Orsos, Lembaga Masyarakat, Forum Anak

4. Mengintegrasikan program pencegahan kekerasan terhadap anak di lembaga


pendidikan pada wadah kegiatan yang telah ada (Pramuka, UKS, Paskibra, PMR,
Kelompok Jurnalistik Sekolah, dll): Polri Kementerian Pendidikan Nasional,
Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Agama, BKKBN,
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lembaga
Masyarakat dan Lembaga Swasta, Kwarnas

5. Perbaikan kurikulum nasional yang lebih responsif gender dan responsif anak :
Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak, Kementerian
Agama, Kementerian Pemuda dan Olahraga

3.3.2. Pengembangan tata tertib dan peraturan sekolah yang ramah anak dan
berperspektif gender;

Output:
Adanya aturan yang tersosialisasi tentang pencegahan kekerasan terhadap anak di lembaga pendidikan
Kegiatan dan Pelaksana:

1. Advokasi penyusunan aturan pencegahan kekerasan terhadap anak di lembaga


pendidikan : Dinas Pendidikan, Kantor Agama Kab/Kota.
2. Sosialisasi peraturan pencegahan kekerasan terhadap anak di lembaga
pendidikan: Dinas pendidikan, Kantor Agama Kab/kota, Orsos, Lembaga
Masyarakat, Forum Anak
3. Memantapkan partisipasi anak dalam menyusun dan mengembangkan aturan
pencegahan kekerasan terhadap anak di lembaga pendidikan: Dinas pendidikan,
Kantor Agama Kab/kota, Orsos, Lembaga Masyarakat, Forum Anak, Unit yang
menangani PP dan PA
4. sosialisasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perlindungan
anak dan kesetaraan gender

Bab IV
Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan

4.1. Pemantauan
Untuk memastikan semua upaya dalam pencegahan sebagaimana yang ada di bab III,
maka dibutuhkan pemantauan yang bertujuan untuk melihat pelaksanaan
program dan kegiatan pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan
keluarga, masyarakat dan di lembaga pendidikan. Melalui pemantauan ini
diharapkan dapat diidentifikasi adanya hambatan, kendala dan tantangan
(anggaran, peraturan dan kapasitas) yang terjadi dalam pelaksanaan program
dan kegiatan tersebut.

Pemantauan dilakukan oleh tim secara berkala melalui koordinasi dan monitoring langsung
terhadap pelaksanaan program dan kegiatan.

Pemantauan dilakukan mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan program dan
kegiatan (siapa yang melakukan pemantauan)

4.2. Evaluasi
Unuk mengetahui dan memahami semua proses, tim melakukan pertemuan untuk
membahas hasil pemantauan. Hal ini bertujuan untuk menanggulangi
kendala/hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan program dan kegiatan yang
telah dilakukan.

4.3. Pelaporan
Pencatatan dan Pelaporan
SKPD dan Kementerian mencatat dan melaporkan pelaksanaan kegiatan.

Pencatatan dan pelaporan melalui database pencatatan dan pelaporan perempuan


dan anak korban kekerasan dilakukan setahun sekali atau apabila diperlukan.

Bentuk pencatatan dan pelaporan disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundangan yang ada.

Bab V
Penutup
Kekerasan terhadap anak terjadi di rumah, komunitas, tempat bermain, sekolah, dan tempat umum
lainnya. Kekerasan terhadap anak merupakan kejahatan terhadap hak-hak anak. Pasal 80 (1) UUPA
menyebutkan bahwa “Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan,
atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam)
bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah). Untuk
mengoptimalkan aturan ini membutuhkan kesadaran, dan komitmen semua pihak ambil bagian
guna mencegah kekerasan terhadap anak di lingkungan masyarakat dan lingkungan pendidikan.

Demikian panduan ini disusun dengan harapan dapat mencegah kekerasan terhadap anak di
lingkungan keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Untuk mengoptimalkan panduan ini
dibutuhkan kesadaran dan komitmen semua pihak guna mencegah kekerasan terhadap anak.
Proceedingsof The 1st Annual Internasional Conferenceon IslamicEarly Childhood Education
© 2016Faculty of Tarbiyah and Teaching Science, State Islamic University Kalijaga, Yogyakarta
http://ejournal.uin-suka.ac.id/tarbiyah/conference/index.php/iciece/iciece1
Online ISSN (e-ISSN): 2548-4516
Volume 1, December 2016(149-158)

Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual


Al Riza Ayurinanda
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
alrizacheria21@yahoo.com

Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang berbagai tips yang bisa digunakan
oleh paraorang tuadan guru dalam melindungi anak usiadini dari bahayakekerasan seksual. menjelaskan
tentang ciri-ciri anak yang telah menjadi korban kekerapan seksual dan dampak yang dialami anak, baik
dampak fisik, psikis, kesehatan maupun dampaknya terhadap perkembangan otak anak. Orang tua
berperan penting dalam memberikan perlindungan terhadap anak dari bahaya kekerasan seksual. salah satu
cara yang bisa diupayakan oleh para orangtuadan guru adalah memberikan bekal pendidikan sekssejak
dini kepadaanak. Pendidikan seks yang dimaksud tidak perlu yang detail dan mendalam, cukup
pengetahuan-pengetahuan dasar yang sesuai dengan bahasa anak-anak, serta keterampilan-keterampilan
dasar yang harus diketahui anak dalam menjaga tubuhnya dari kejahatan seksual oleh orang yang tidak
bertanggung jawab.
Kata Kunci: Anak usiadini, kekerasan seksual

Pendahuluan
Kasus kekerasan seksual di Indonesia semakin sering terjadi dan terus meningkat dari waktu ke waktu.
Korban kekerasan seksual tersebut tidak hanya dari kalangan orang dewasa, bahkan sudah merambah pada
usia remaja, anak-anak bahkan balita. Ironisnya pelaku kekerasan seksual padaanak-anak atau balita tidak
jauh dari orang terdekat yang sehari-hari berinteraksi dengan korban yang berasal dari lingkungan
keluarga, lingkungan masyarakat sekitar rumah, bahkan lingkungan sekolah.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014Tentang Perubahan Atas
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak bahwa Negara Kesatuan Republik
Indonesia menjamin kesejahteraan tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang
merupakan hak asasi manusia. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta
berkah atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Perlindungan yang dimaksudkan adalah untuk
melindungi anak dari penelantaran secara ekonomi, korban perdagangan, korban penyalahgunaan zat
adiktif dan korban kekerasan seksual. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara anak adalah generasi muda
penerus cita-cita perjuangan bangsa peran strategis, ciri dan sifat khusus sehingga wajib dilindungi dari
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

segala bentuk perlakuan tidak manusiawi yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia.
Karena pada dasarnya anak adalah sebuah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa
harusdijagadan hak-hak anak sebagaimanusia harusdijunjungtinggi.
Catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang dikutip oleh Liputan6.com
menyebutkan bahwa angka pelecehan seksual terhadap anak semakin tinggi setiap tahun.
pelaku," ujar Sekretaris KPAI Rita Pranawati kepada Liputan6.com di Kantor KPAI, Jakarta, Jumat
(4/3/2016). Rita menjelaskan, modus pelecehan seksual semakin beragam dan aneh. Hal-hal yangtak

terdugadapat terjadi. Selain kemajuan teknologi dan kurangnya pengetahuan orang tua dalam
mengasuh dan mendidik anaknya, lingkungan pergaulan juga menjadi penyebabnya. "Semakin hari,
semakin aneh-aneh yang akan kita dengar, di luar dugaan dan nalar kita. Sebab moduspelecehan dan
kekerasan seksual padaanak terjadi karenacaraasuh yang salah, sehinggapeluang pelaku kejahatan
semakin lebar," papar dia.1
Artinya bahwa metode yang dipakai oleh para orang tua dalam mengasuh anak masih
menggunakan metode lama yang didapat ketika kecil, tanpa mempelajari perubahan zaman. Menurut
pemaparan Rita Pranawati selaku sekretaris KPAI tersebut bahwa hasil penelitian KPAI menyebutkan
bahwa 70 persen orang tua belum mampu mengasuh anak memakai metode yang sesuai digunakan pada
zaman sekarang. Banyak orang tua di Indonesia yang hanya menerapkan metode yang diperoleh dari ayah
ibu merekasebelumnya. Sedangkan zaman dan kemajuan teknologi membutuhkan caraatau pola asuh
yang baru.
Berdasarkan pemaparan di atas, menjelaskan bahwa diperlukannya upaya perlindungan terhadap
anak melalui metode pengasuhan sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin kompleks akan modus
kejahatan terhadap anak. Peran orang tua dan guru sangatlah diperlukan dalam upaya perlindungan anak
dari bahaya kekerasan seksual. Orang tua tidak bisa sepenuhnya mengawasi anak ketika anak berada di
lingkungan sekolah, dan begitu pulasebaliknya. Sehinggadiperlukan kolaborasi di antara orang tuadan guru
dalam upayamelindungi anak dari tindak kekerasan seksual.
Selain alasan tersebut, anak merupakan pihak yangsangat rentan mengalami tindak kekerasan seksual,
karena usia anak yang masih dini memungkinkan pelaku untuk memperdayai korban dengan sangat
mudah. Maka, anak memerlukan perlindungan berupa pemahaman terkait cara menjaga diri yang baik
agar terhindar dari tindak kekerasan.

1
http://news.liputan6.com/read/2451254/kpai-pelecehan-seksual-pada-anak-meningkat-100
Diaksespadatanggal 27 Desember 2016, pukul 07.13.

150
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Kekerasan Seksual Terhadap Anak


Kekerasan seksual pada anak adalah segala bentuk perbuatan pelecehan seksual yang membuat anak
tersiksaserta menderitakerugian fisik maupun psikis. Kekerasan seksual pada anak juga diartikan sebagai
penggunaan anak dan remaja yang masih dependen, belum matang tingkat perkembangannya, dalam
kegiatan yang tidak dipahami sepenuhnyaoleh mereka, yangmerekatidak mampu
melakukannyasecarasukarela, atau melanggar normasosial dari peran keluarga.2
Kekerasan seksual yang dirumuskan oleh KOMINFO adalah setiap perbuatan pemaksaan hubungan
seksual, dengan cara tidak wajar dan tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk
tujuan komersial atau tujuan tertentu. Kejahatan seksual belum tentu diawali dengan tindakan kekerasan.
Pelaku bisa melakukannyadengan merayu, berbohong, memberikan janji-janji yangmenyenangkan, atau
memberi hadiah, sehingga korban tidak merasa dipaksa oleh pelaku. Bentuk kekerasan seperti ini biasanya
dilakukan oleh orang yang telah dikenal anak, seperti keluarga, tetangga, guru maupun teman
sepermainan.3 Sedangkan usiakorban kekerasan seksual yang termasuk usia anak tersebut mengacu pada
Undang-undang Perlindungan Anak, yaitu 0-18 tahun.4
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, jelas bahwa kekerasan seksual sangat merugikan anak.
Hubungan seksual yangdipaksakan akan merusak diri anak baik secara fisik maupun psikis atau mental
anak. Seorang anak yang memperoleh perlakuan kekerasan seksual seperti yang dijelaskan di atas, akan bisa
berubah menjadi pelaku tindak kekerasan seksual di kemudian hari. Alasannya karena saat anak mengalami
kekerasan seksual, maka anak cenderung akan mengalami trauma yang menyakitkan. Kondisi traumatik ini
memaksakorban untuk mengedepankan pengalaman pahitnya ke alam bawah sadar sehingga kelak akan
mempengaruhi sikap, carapandang dan orientasi seksualnya di fase kehidupan selanjutnya. Apabila dalam
kondisi ini anak tidak mendapatkan pendampingan dari psikolog atau psikiater, maka anak akan muak
terdorong untuk melakukan tindak agresif atau kekerasan seksual yang sama terhadap orang lain di
kemudian hari. Untuk itu perlu adanya upaya melindungi anak dari bahaya kekerasan seksual yang semakin
merambah di Indonesiaini.

2
Ahmad Sofian dkk, Kekerasan Seksualterhadap Anak Jermal (Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan UGM,
1999), 31.
3
Farida Dewi Maharani, dkk, Anak adalah Anugerah: Stop Kekerasan Terhadap Anak (Jakarta: KOMINFO,
2015), 14.
4
Wahyu Agung Hariyadi, Pendampingan Hukum terhadap Anak sebagaiKorban Kekerasan Seksual olehP2TPA
Mutiara di Kabupaten Klaten, Skripsi Hukum, UIN
Sunan Kalijaga, 2014), 35.

151
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Bentuk-bentuk Kekerasan Seksual


terhadap Anak
Menurut Konvensi Hak Anak KHA dalam Nainggulan disebutkan bahwa bentuk kekerasan seksual dibagi
menjadi empat bentuk. Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual komersial termasuk penjualan anak
(salechildren) untuk tujuan prostitusi (Child prostitustion) dan pornografi (Child phornografy).
Kekerasan seksual bisa berupa hubungan seks, baik melalui vagina, penis, oral, dengan menggunakan alat,
sampai dengan memperlihatkan alat kelaminnya, pemaksaan seksual, sodomi, onani, pelecehan seksual, atau
perbuatan incest.5 Sedangkan menurut Paola Vireo bentuk-bentuk kekerasan seksual pada anak
adalah:6 1) Eksploitasi seksual komersial adalah kekerasan seksual terhadap anak untuk mendapatkan
keuntungan, 2) Pelacuran anak adalah menggunakan anak untuk tujuan seksual seperti hubungan seksual, 3)
Pornografi anak adalah pertunjukan apapun dan dengan cara apa saja yang melibatkan anak di dalam
aktivitas seksual, 4) Trafficking adalah suatu tindakan perekrutan, pemindahan, pengiriman anak-anak
untuk tujuan eksploitasi, 5) Pariwisata seks anak merupakan eksploitasi seksual komersial anak yang
dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan yang melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain,
dan mereka melakukan hubungan seksdengan anak.

Ciri-ciri Korban Kekerasan Seksual


Orang tua maupun guru di sekolah hendaknya juga mengenali ciri -ciri anak korban kekerasan seksual
serta dampak yang terjadi pada anak ketika mendapatkan tindak kekerasan seksual. Tujuannya agar anak
korban kekerasan seksual tersebut tidak terlambat untuk ditangani, baik secaramedismaupun psikologis.
Umumnya anak yang menjadi korban kejahatan seksual tidak langsung melapor pada orang tua atau
guru. Oleh karena itu, baik orang tua maupun guru harus lebih jeli melihat tanda-tandanya, baik fisik
maupun psikis. Adapun perubahan pada anak yang perlu diwaspadai sebagai berikut:7 1) sulit tidur, mimpi
buruk, 2) menerima hadiah yang tidak bisa dijelaskan, 3) takut terhadap orang dewasa tertentu, 4) rewel
tidak jelas, 5) penggunaan internet berlebihan, 6) menunjukkan perilaku seksual tidak tepat usia (misalnya:
menyebutkan kata-kata seksual, melakukan masturbasi), 7) tiba-tibaberubah perilakunya, terlihat tidak
nyaman (insecure), 8) kembali mengompol, 9) bersikeras menghindari seseoranganggotakeluargatertentu,
19) terusmenyimpan rahasia, 11) sakit di areaintim.

5
Lukman Hakim Nainggulan, Bentuk-bentuk Kekerasan SeksualAnak, Jurnal Equality, Vol. 13. 13: 1 (Februari,
2008), 73.
6
Paola Vireo, Melindungi Anak-anak dari Eksploitasi Seksual & Kekerasan Seksual dalam Situasi Bencana dan
Gawat Darurat (Jakarta: Ecpat, 2005), 11-12.
7
Farida Dewi Maharani, dkk, Anak adalah Anugerah: Stop Kekerasan Terhadap Anak,...30-31.

152
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Ciri-ciri anak korban kekerasan seksual lainnya juga dijelaskan dalam sebuah artikel yangdisusun oleh
Telepon Sahabat Anak (TESA) menyebutkan tentangtandaatau ciri-ciri anak korban kekerasan seksual,
seperti gerakan berlebihan yang tidak wajar bisa ditunjukkan dengan 1) kedua bahu terangkat sehingga
menutupi leher, 2) kepala tertunduk ke dalam, 3) kedua tangan dan kedua kaki menyimpul erat, 3) lutut
tertekuk kedalam, 4) tubuh menekuk, 5) mataberkedip kedip, 6) wajah pucat pasi, dan 7) secara fisik
ditandai dengan; mengeluh kesakitan saat BAB dan BAK, sakit jikamemakai celana dalam, cara jalan yang
tidak wajar seperti mengangkang, ditemukan bekas bercak darah atau cairan di celanadalam anak, rasa
panasdan nyeri di areagenital dan terassakit jika disentuh, dan adakemungkinan ditemukan bagian
pakaian yangrobek atau kancingyang lepaskarena ditarik paksa.8
Ciri-ciri anak korban kekerasan seksual seperti dijelaskan di atas hendaknya dipahami oleh para
orang tua maupun guru di sekolah. Agar penanganan dan perlindungan terhadap korban tidak terlambat,
sehingga tidak menimbulkan dampak yang terlalu parah untuk korban. Orang tua maupun guru tidak
perlu takut, ragu atau malu melaporkan ciri-ciri anak yangmengalami kekerasan seksual tersebut
kepadapihak yang berwenang seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), psikolog ataupun
dokter jika sampai melukai fisiknya. Namun, orang tua maupun guru hendaknya bisa menjaga rahasia,
artinya bahwa data pribadi anak agar tidak menjadikan rumor yang justru akan menambah beban mental
anak. Berikut akan dijelaskan beberapa dampak yang mungkin terjadi padaanak korban kekerasanseksual.

Dampak Kekerasan Seksual Terhadap


Anak
1. Dampak psikis, yakni biasanya membuat anak merasa cemas, menjadi pendiam, rendah diri,
penakut, menarik diri dari pergaulan dan hanya bisa iri tanpa mampu bangkit.
2. Dampak sosial, yakni membuat anak dikeluarkan dari sekolah, dikucilkan dari
lingkungannya, kehilangan masaanak-anak, menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga
dan mempunyai perilaku seksmenyimpang.
3. Dampak kesehatan, seperti kehamilan tidak diinginkan, terjangkit penyakit seks menular,
terganggunya kesehatan reproduksi, aborsi,dan kematian.9
4. Dampak padaotak anak
Kejahatan juga dapat mempengaruhi otak anak. Hal ini dikarenakan otak anak masih dalam tahap
perkembangan sehingga mudah sekali terpengaruh oleh lingkungan, termasuk jika anak pernah mengalami
trauma kejahatan seksual. Secara medis, akibat dari kejahatan seksual adalah otak anak akan mengalami
penyusutan volume terutama
8
http://tesa129.badungkab.go.id/ciri-ciri-anak-sudah-terkena-kekerasan-seksual/ Diakses pada
tanggal 27 Desember 2016, pukul 07.43.

9
Farida Dewi Maharani, dkk, Anak adalah Anugerah: Stop Kekerasan Terhadap Anak,...15.

153
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

pada bagian hipokampus (bagian yang mempengaruhi memori dan navigasi ruangan). Penyusutan inilah
yang menjadi salah satu penjelasan kenapaseseoranganak mengalami masalah cenderung akan berperilaku
menyimpang psikogenik lanjutan.10 Penjelasan tersebut bisa juga menjawab pertanyaan yang selama ini
sering muncul, yaitu kaitan antarakejahatan seksual dengan hafalan banyak yang hilangatau seseorang
akan mudah lupa dengan apa yang dipelajari atau yang dihafalkannya termasuk ayat-ayat suci Al itu
menurunnya volume pada bagian hipokampus tersebut, menurut
asumsi penulis bisa juga menjadi alasan mengapa anak yang menjadi korban kekerasan seksual bisamenjadi
pelaku kekerasan seksual bilatidak adanyapenanganan khususdari pihak yang berwenang dan dukungan
dari lingkungan terdekat yaitu orang tuadan guru di sekolah.

Melindungi Anak Usia Dini dari


Kekerasan Seksual
Banyak dari kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi belakangan ini adalah akibat dari pola asuh
yang salah dari orang tua. Paraorang tua masih merasa tabu untuk memberikan pendidikan seks terhadap
anak-anak, karena sebagian besar mereka masih menggunakan cara lama dalam mengasuh anak.
Menganggap bahwa masalah pembekalan tentang pemahaman pendidikan seksmasih sangat tabu untuk
dibicarakan, padahal saat ini anak-anak dengan mudahnya memperoleh informasi tersebut melalui berbagai
macam media. Hal yang dikhawatirkan adalah anak-anak memperoleh informasi dengan cara yang salah.
Selain itu, pelaku kejahatan seksual terkadang bukanlah berasal dari orang yang tidak dikenal oleh anak-
anak. Kebanyakan dari kasus yangterjadi, pelaku kejahatan tersebut adalah orangterdekat korban seperti
dari keluarga dekat, tetangga, guru, teman sebaya bahkan dari orang tuakorban itu sendiri. Untuk itu,
perlu adanya pembekalan kepada anak seputar cara menjaga diri dari bahaya kejahatan seksual.
Orang tua memegang peranan penting dalam menjaga anak-anak dari ancaman kekerasan seksual.
Namun, posisi orang tua tidak bisa menjadi pihak yang 100 persen menemani, mengasuh dan mendidik,
karena kesibukan orang tua untuk bekerja di luar rumah, dan anak yang harus bersekolah serta hak anak
untuk bermain dengan teman sebayanya. Untuk itu, orang tua sebaiknya membekali anak dengan
informasi mengenai seluk beluk perkembangan tubuh dan psikologi anak. Karena kini anak-anak
cenderung lebih cepat mengalami puber, yakni usia10-12tahun, pembekalan tentang sekssebaiknya dimulai
lebih awal, yaitu sejak 8-9 tahun. Pendidikan seks yang diberikan kepada anak tidak perlu terlalu serius
atau mendetail, melainkan melalui obrolan santai selayaknya antara anak dan orang tua. Berikut ini akan
dijelaskan tips atau strategi pemberian pendidikan seks yang sesuaidengan usiaanak,yaitu:11

10
Ibid., 34.
11
Merry Magdalena, Melindungi Anak Dari SeksBebas(Jakarta: Grasindo, 2010), 47-52

154
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Anak usia 7-8 tahun


Di usia ini anak akan mulai kritis menanyakan dari mana mereka berasal. Orang tua tidak perlu
lagi berbohong atau mengarang cerita. Justru pertanyaan ini adalah pertanyaan awal yang dapat dijadikan
acuan bagi orang tua menjelaskan secara simpel tentang asal usul anak. Jawab saja semua pertanyaan anak
sesederhana mungkin dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. Jika ada istilah yang tidak dapat
disederhanakan, orang tua harus menunjukkannya melalui cerita. Pendidikan seks pada usia ini masih
bersifat dasar, mencakup perbedaan lelaki dan perempuan, mengungkapkan rasasayang dengan ciuman pipi,
belaian, yangdilakukan dengan sopan. Intinya bahwa memberikan gambaran kepada anak bahwa laki-laki
dan perempuan itu berbeda, dan mampu menghasilkan anak jika kelak mereka menikah, dan tetap ada
batasan pergaulan antaramereka.
Anak usia 9-11 tahun
Di usia ini, anak akan semakin kritis sebab sudah mampu mencerna media di sekitarnya, seperti
TV, radio, majalah, surat kabar, buku, bahkan internet. Pada usia puber, anak laki-laki mengalami mimpi
basah dan anak perempuan mulai menstruasi dan mulai mampu merasakan stimulasi seks ketika melihat
adegan-adegan tertentu, baik itu dari film maupun bacaan. Periodeusiaini memangmendudukkan
orangtuadalam posisi serba salah, ingin menganggap anaknya masih anak-anak, namun di sisi lain mereka
sudah dewasa dari yangdikira.
Hal yang harus orang tua lakukan adalah: 1) penjelasan soal nafsu; periode ini anak sudah layak
dikenalkan dengan asal usul munculnya rangsangan seksual sebab merekapasti akan mengalaminya.
Bisadimulai ketika sedang menonton TV, tampak ada adegan ciuman, atau cewek dan cowok sedangjatuh
cinta. Sebelumnyaayah dan ibu perlu membekali diri dari beberapa pengetahuan dan informasi seputar alat
reproduksi, nafsu biologis dan lain-lain. jika ada pertanyaan anak yang orang tua tidak sanggup
menjawabnya, bisa dicoba membuka internet bersama-sama. Sehingga anak tidak mencari atau
memperoleh informasi dengan cara yang salah dan semaunya sendiri. 2) berbagi pengalaman; idealnya, ayah
yang memberi penjelasan kepada anak laki-laki dan ibu kepada anak perempuan. Ayah bisa mulai berbagi
kisah mengenai mimpi basah pertamanyakepadaanak, dan ibu berbagi pengalaman tentang menstruasi
pertamapada anak perempuannya. Sehingga anak akan menyadari bahwa mereka mengalami perubahan
setelah memasuki usia tertentu. 3) pembatasan pergaulan; mulai periode ini perlu ditekankan bahwa
antara anak laki-laki dan perempuan mulai ada pembatasan pergaulan. Kaum laki-laki diarahkan untuk
menghormati lawan jenis tidak bersikap kurangajar. Padaanak perempuan ditekankan bahwadiabukan
lagi anak-anak yangbisa dengan mudah diraba-raba, dicolek-colek lawan jenis, terlebih oleh orang dewasa.
Penjelasan di ataslebih khususditujukan pendidikan sekspadaanak usiasekolah. Berikut juga
dijelaskan tentang strategi atau tips untuk melindungi anak dari kekerasan seksual sejak usia dini. Orang
tua sebaiknya memberikan pengarahan sejak dini

155
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

bagaimana anak mampu melindungi dirinya sendiri, seperti: 1) ajarkan kepada anak bahwa bagian tubuh
mulut, dada atau payudara, alat kelamin dan bokong tidak boleh dilihat dan disentuh oleh sembarang
orang, 2) bagian tubuh anak hanya boleh disentuh oleh ayah ibu ketikamemandikan, ayah ibu ketika
membersihkan setelah buang air, dan juga oleh dokter ketikamemeriksadengan didampingi oleh orang
tua.12
Selain itu, terdapat beberapahal yang perlu diajarkan kepadaanak usia 5-7 tahun dalam mencegah
pelecehan seksual, seperti: 1) kenalkan kepada anak bedanya orang asing, teman, sahabatdan muhrim, 2)
ajarkan anak untuk mempercayai perasaannya sendiri, 3) belajar berkatatidak, 4) belajar bersikap tegasdan
judes ketikamerasadirinya terancam, 5) yakinkan anak untuk bisaberbagi rahasiadengan orangtua, dan 6)
biasakan anak untuk menahan pandangan, menjaga kemaluan sejak dini, tertib saattidur tidak
menggunakan pakaian minim, menutup kamar dan pisah tidur dengan orang tua atau lawan jenis, serta
tertib saat mandi yakni,
istinja bersama orang lain, menutup tubuh bukan hanya dengan handuk ketika keluar
kamar mandi, dan tidak berganti pakaian di depan orang lain. 13
Berdasarkan pemaparan di atas, jelasbahwa peran orang tuadan pola asuh orang tua adalah faktor
penting pencegah kekerasan seksual pada anak sejak dini. Pembekalan pendidikan seksdan pengawasan
lingkungan baik di rumah maupun di sekolah, menjadi peran pentingdalam melindungi anak dari
bahayakekerasan seksual. Sehingga anak bisa membekali diri dengan pertahanan yang kuat. Namun, masih
banyak ditemui anak mengalami kekerasan seksual karena pengaruh dari pola asuh yang salah. Maka,
penjelasan atau tipsyang telah dipaparkan di atasbisa digunakan oleh orang tuasebagai metode baru yang
mengikuti perkembangan zaman saat ini, tidak hanya menerapkan metode lamayang diperoleh dari orang
tuamerekasebelumnya.

Simpulan
Anak merupakan amanah sekaligusanugerah yangdiberikan oleh Tuhan Yang MahaEsa, untuk
senantiasadijagadan hak-hak anak sebagai manusiaharusdijunjung tinggi. Orang tua adalah sumber utama
anak memperoleh pendidikan dan pengetahuan sebagai bekal anak untuk meneruskan perjuangan bangsa
ini. Pendidikan dan cara asuh yang salah akan memberikan dampak yangkurangbaik padadiri anak. Salah
satu dampaknyaadalah anak dengan mudahnya menjadi korban kekerasan seksual bahkan menjadi pelaku
kejahatan tersebut. Untuk itu, orang tua dan guru mempunyai andil besar dalam melindungi anak dari
bahayakekerasan seksual tersebut.
Perlindungan yangdiberikan kepadaanak salah satunya adalah dengan membekali anak dengan
pendidikan seks sejak dini. Pendidikan seks yang dimaksudkan tidak perlu terlalu detail dan mendalam,
cukup mengajarkan dan memberikan pemahaman seputar

12
Farida Dewi Maharani, dkk, Anak adalah Anugerah: Stop Kekerasan Terhadap Anak,...36.
13
Ibid., 42.

157
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

kebutuhan seks sesuai dengan usia anak dan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Orang tua
dianggap perlu mengajarkan cara-cara menjaga tubuh anak sedini mungkin, misalnya mengajarkan bahwa
bagian tubuh anak tidak boleh disentuh oleh sembarang orang, kecuali orang tua yang sedang
memandikan, ataupun dokter yang memeriksa ketika sakit. Mengajarkan anak untuk selalu berpakaian
rapi dan menutup aurat atau menutup bagian-bagian tubuh anak yang harus dijaga. Kemudian,
membiasakan anak untuk menceritakan berbagai pengalamannya saat di sekolah dan bermain dengan
teman-teman sebayanya, agar orangtualebih mudah dalam mengontrol kegiatan sehari-hari anak ketika
jauh dari pengawasan orang tua. Keterampilan- keterampilan dasar tersebut perlu diajarkan anak
memahami bagaimanacaramelindungi dirinya sendiri ketikajauh dari pengawasan orang tuamaupun
guru.
Selain itu, para orang tua dan guru perlu memahami ciri -ciri anak yang telah menjadi korban
kejahatan seksual. Di zaman yang serba modern ini orang tua dan guru dituntut untuk lebih peka
terhadap segala bentuk perubahan perilaku dari anak yang dianggap mencurigakan. Karena bisa saja anak-
anak tersebut mengalami kejahatan seksual dari orang terdekat di lingkungan sekitarnya, baik dari
lingkungan keluarga, masyarakat atau bahkan sekolah. Jika penanganan terhadap anak korban kejahatan
seksual tersebut terlambat, dikhawatirkan akan berdampak lebih buruk lagi, baik dampak fisik, psikis,
kesehatan maupun pengaruhnyaterhadap perkembangan otak anak.
Melindungi anak dari bahayakekerasan seksual tidaklah bisadilakukan oleh orang tua saja. Karena
orang tua memiliki keterbatasan ruang dan waktu dalam memberikan pengawasan terhadap anak. Hal itu
sebaiknya dilakukan atas kerja sama dari orang tua, masyarakat terdekat dan guru di sekolah. Anak-anak
khususnya anak usia dini adalah pihak yang rentan mengalami kekerasan seksual tersebut, karena mereka
adalah pihak yang lemah dan masih sangat minim pengetahuan. Untuk itu peran orang dewasa di
sekitarnya adalah melindungi bukanlah menyakiti, bahkan merusak masa depan anak.

Daftar Pustaka
Hariyadi, Wahyu Agung. Pendampingan Hukum terhadap Anak sebagaiKorban Kekerasan Seksual oleh P2TPA
Mutiara di Kabupaten Klaten, Skripsi. Yogyakarta:
Hukum, UIN Sunan Kalijaga, 2014.
http://news.liputan6.com/read/2451254/kpai-pelecehan-seksual-pada-anak-meningkat-
100Diaksespada tanggal 27 Desember 2016, pukul 07.13.
http://tesa129.badungkab.go.id/ciri-ciri-anak-sudah-terkena-kekerasan-seksual/ Diaksespadatanggal 27
Desember 2016, pukul 07.43.
Magdalena, Merry. Melindungi Anak Dari SeksBebas. Jakarta: Grasindo, 2010. Maharani, Farida Dewi dkk.
Anak adalah Anugerah: Stop Kekerasan Terhadap Anak.
Jakarta: KOMINFO, 2015.

157
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual
Nainggulan, Lukman Hakim. Bentuk-bentuk Kekerasan SeksualAnak, Jurnal Equality, Vol. 13. 13: 1. Februari, 2008.
Sofian, Ahmad dkk. Kekerasan Seksual terhadap Anak Jermal. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan UGM, 1999.
Vireo, Paola. Melindungi Anak-anak dari Eksploitasi Seksual& Kekerasan Seksualdalam Situasi Bencana dan Gawat Darurat.
Jakarta: Ecpat, 2005.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

PERATURAN
MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK
INDONESIA
NOMOR 2 TAHUN 2011
TENTANG
PEDOMAN PENANGANAN ANAK KORBAN KEKERASAN DENGAN
RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK
INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi serta bentuk-bentuk eksploitasi baik ekonomi, seksual,
penelantaran, ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya;

bahwa Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak


mewajibkan kepada negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang
b. tua untuk bertanggung jawab menyelenggarakan perlindungan anak
terutama dari kekerasan;

bahwa anak yang mengalami kekerasan menderita secara fisik, psikis, dan
mental sehingga diperlukan upaya untuk menyembuhkan kondisinya
seperti semula;
c.
bahwa dalam upaya membantu Pemerintah, Pemerintahan Provinsi, dan
Pemerintahan Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam menyelenggarakan
perlindungan anak dari kekerasan diperlukan pedoman tentang Penanganan
d. Anak Korban Kekerasan;
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu menetapkan

e.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan


Anak tentang Pedoman Penanganan Anak Korban Kekerasan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235);

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan


Dalam Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
2. Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4419);

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi Korban


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 64, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4635);

3.
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Perdagangan Orang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4720);

4. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 181, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4928);

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan


Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan
5. Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4737);

Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan dan


6. Pengangkatan Menteri Negara Kabinet Indonesia Bersatu II;

7.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN


ANAK TENTANG PEDOMAN PENANGANAN ANAK KORBAN KEKERASAN.

Pasal 1

(1) Pedoman Penanganan Anak Korban Kekerasan meliputi:


a. pelayanan identifikasi;
b. rehabilitasi kesehatan;
c. rehabilitasi sosial;
d. pemulangan;
e. bantuan hukum; dan
f. reintegrasi sosial.
(2) Penanganan anak korban kekerasan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan secara khusus sesuai kepentingan terbaik bagi anak.

Pasal 2

Mekanisme dan langkah-langkah penanganan anak korban kekerasan,


koordinasi pelayanan, monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan
pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 serta formulir data anak
korban kekerasan adalah

sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Menteri ini yang


merupakan bagian yang tidak terpisahkan.

Pasal 3

(1) Pedoman Penanganan Anak Korban Kekerasan menjadi acuan


Pemerintah, Pemerintahan Daerah, Organisasi Masyarakat, Lembaga
Layanan yang menangani anak korban kekerasan.
(2) Pedoman Penanganan Anak Korban Kekerasan disusun dan diterapkan
dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib Pemerintahan Provinsi dan
Kabupaten/Kota yang berkaitan dengan perlindungan anak yang sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Pasal 4

Pemerintah, Pemerintahan Daerah, Organisasi Masyarakat, Lembaga Layanan


yang menangani anak korban kekerasan dalam melaksanakan Pedoman
Penanganan Anak Korban Kekerasan disesuaikan dengan perkembangan
kebutuhan, kemampuan kelembagaan, sarana, prasarana, dan petugas yang
menangani anak korban kekerasan.

Pasal 5

(1) Pemerintah, Pemerintahan Daerah, Organisasi Masyarakat, Lembaga


Layanan yang menangani anak korban kekerasan dalam melaksanakan
Pedoman Penanganan Anak Korban Kekerasan dapat melakukan
pemberdayaan masyarakat.
(2) Pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan melalui:
a. penguatan kelembagaan masyarakat;
b. peningkatan pendidikan dan keterampilan petugas dalam
penanganan kekerasan terhadap anak; dan
c. pengembangan jaringan kerja sama dan informasi
masyarakat.

Pasal 6

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Menteri Negara ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik
Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 31 Januari 2011 MENTERI
NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK
INDONESIA,

LINDA AMALIA SARI

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 31 Januari 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

PATRIALIS AKBAR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 42

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 2 TAHUN 2011
TENTANG
PEDOMAN PENANGANAN ANAK KORBAN KEKERASAN

BAB I
PENDA
HULUA
N
A. Latar Belakang.

Pasal 28 B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
mengamanatkan bahwa “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang
serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi “. Oleh karena itu orangtua,
keluarga, masyarakat, pemerintah dan Negara harus memberi ruang bagi tumbuh kembang anak
secara optimal dan berkewajiban melindungi dari kekerasan.

Dunia anak adalah dunia yang dapat dinikmati oleh anak-anak tanpa ada kekerasan, tanpa ada
rasa takut sehingga anak mampu mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya secara positif
dalam berbagai bentuk. Hal ini merupakan hak dasar bagi anak yang dijamin oleh konstitusi
sebagaimana yang diamanahkan pada Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang
tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat
perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual,
penelantaran, kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan, ketidakadilan dan perlakuan salah
lainnya.selanjutnya dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak mengamanatkan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari
penyalahgunaan dalam kegiatan politik, pelibatan dalam sengketa bersenjata, pelibatan dalam
kerusuhan sosial, pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan dan pelibatan
dalam peperangan.

Dari ke dua pasal di atas memperlihatkan bahwa negara kita memiliki kebijakan untuk
melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan. Siapapun tidak diperboleh kan untuk
melakukan tindak kekerasan terhadap anak dengan alasan apapun, dan

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

harus berperan dalam memberikan perlindungan terhadap anak dari berbagai tindak kekerasan.

Selain itu dalam Pasal 62 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
mengamanatkan bahwa setiap anak berhak memperoleh layanan kesehatan dan jaminan sosial
secara layak, sesuai dengan kebutuhan fisik dan mental spiritualnya. Selain itu Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004
tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun
2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Undang-Undang Nomor 44
Tahun 2008 tentang Pornografi merupakan lex specialis yang melandasi kebijakan pemerintah
untuk pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak.

Kekerasan terhadap anak telah menjadi perhatian serius dari Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB)
yang ditandai dengan adanya Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 56/138 tahun 2001 yang
menugaskan Sekretaris Jenderal PBB untuk mengadakan studi khusus tentang kekerasan
terhadap anak di dunia. Studi ini merupakan inisiatif global yang secara nyata mengakui terjadinya
kekerasan terhadap anak dalam masyarakat dunia. Kekerasan terhadap anak di Indonesia
mendapatkan perhatian khusus dari Komite Konvensi Hak Anak dalam sidang komite pada sesi ke-
35 (2004) untuk menanggapi laporan Pemerintah Republik Indonesia. Komite tersebut
menyatakan tingginya jumlah anak yang menjadi korban kekerasan, pelecehan dan ditelantarkan,
termasuk pelecehan seksual di sekolah, tempat-tempat umum dan di tempat-tempat penahanan
serta dalam keluarga. Selain hal itu, Komite juga menyatakan bahwa penghukuman fisik sebagai
salah satu bentuk kekerasan terhadap anak masih di praktikkan secara meluas, diterima secara
budaya dan sah menurut hukum.

Berdasarkan hasil Survei Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2006 atas kerjasama
Badan Pusat Statistik dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan menunjukkan bahwa
pada tahun 2006, pada level nasional angkat tindak kekerasan terhadap anak pada tahun 2006
mencapai 3,00 persen. Ini artinya dalam setiap 10.000 anak Indonesia sekitar 300 anak
diantaranya mempunyai peluang pernah menjadi korban tindak kekerasan. Sementara jumlah
anak yang mengalami kekerasan selama tahun 2006 adalah sekitar 2,29 juta jiwa, sebanyak 1,23
juta diantaranya adalah anak laki-laki dan 1,06 juta adalah anak perempuan.
Sedangkan menurut data Kejaksaan Agung pada tahun 2006 terdapat 600 kasus kekerasan
terhadap anak yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang terdiri dari kasus pencabulan
41,3 %, perkosaan 40,5 %, penganiayaan 7,2%, pelecehan

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

seksual 5,3%, tindak pidana perdagangan orang 3%, dan pembunuhan 2,7%. Berdasarkan
kelompok umur dari 600 kasus tersebut terdapat 57,3% berumur 13-18 tahun, 35,4% berumur 6-
12 tahun dan 7,3% berumur kurang dari 5 tahun.

Berdasarkan pengaduan masyarakat kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak dan Lembaga
Perlindungan Anak di seluruh Indonesia memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap anak
semakin meningkat dari 1.520 kasus (tahun 2007) menjadi 6.295 kasus (tahun 2008).

Berbagai data di atas merupakan data yang terlaporkan sedangkan data yang tidak terlaporkan
jauh lebih besar dari data yang sesungguhnya. Data kekerasan terhadap anak seperti gunung es
sehingga diperlukan berbagai upaya sinergisitas berbagai pihak akan ungkapan “Stop Kekerasan
Anak” harus menjadi gerakan bersama setiap orang.

Dari berbagai uraian di atas menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak sudah berada pada
tahap yang sangat mengkhawatirkan yang berdampak buruk bagi masa depan bangsa dan
negara. Karena anak adalah asset bangsa dan merupakan generasi penerus bangsa, maka anak
yang mengalami kekerasan perlu mendapatkan penanganan secara optimal untuk
mengembalikannya ke kondisi normal diperlukan suatu kebijakan berupa pedoman penanganan
kekerasan terhadap anak sebagai acuan bagi pemerintah dan masyarakat dalam memberikan
pelayanan terhadap anak yang mengalami kekerasan sesuai yang dibutuhkan.

B. Maksud dan Tujuan


1. Maksud
Memberikan acuan kepada pemangku kepentingan dalam upaya melindungi dan menangani
anak korban kekerasan.

2. Tujuan
2.1 Umum
Memenuhi hak setiap anak dari segala bentuk tindak kekerasan berdasarkan prinsip,
non-diskriminasi, kepentingan terbaik untuk anak, tumbuh kembang anak, partisipasi
anak, dan penghormatan dan pemenuhan terhadap hak asasi korban.

2.2 Khusus

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

a. Tersedianya pedoman perlindungan dan penanganan bagi anak korban


kekerasan.
b. Menyamakan pemahaman bagi pemangku kepentingan terkait dengan
perlindungan dan penanganan yang optimal bagi anak korban kekerasan.
c. Adanya berbagai kebijakan daerah dalam upaya perlindungan dan penanganan
yang optimal bagi anak korban kekerasan.

C. Landasan Hukum
2.1 Referensi Hukum Internasional
1) Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (Universal Declaration on Human Rights).
2) Konvensi PBB Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of the Child).
3) Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 56/138 tahun 2001 tentang Studi Sekretaris
Jenderal PBB mengenai Kekerasan terhadap Anak.

2.2 Landasan Hukum Nasional


1) Pasal 28B ayat (2) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2) Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1979 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3143).

3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Convention Against


Torture and Others Cruel, in Human or Degrading Treatment or Punishment
(Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman lain yang
kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat manusia). (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3783).
4) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3886).
5) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan ILO Convention 182
Concerning the Prohibition and Unmediate Action for the Elimination of the Worst
Forms of Child Labour (Konvensi ILO No. 182 mengenai Pelarangan dan Tindakan
Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak (Lembaran
Negara Republik Indonesia

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Tahun 2000 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3941).
6) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4235).
7) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 95,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4419).
8) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 64, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4635).
9) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Perdagangan Orang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4720).
10) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi PBB
menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi.
11) Undang undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4967).
12) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2009 tentang Pengesahan Protocol to Prevent,
Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children,
Supelementing the United Nations Convention Against Transnational Organized
Crime) Protokol untuk Mencegah, Menindak, dan Menghukum Perdagangan
Orang, Terumtama Permpuan dan anak-Anak, Melengkapi Konvensi Perserikatan
Bangsa-Banga Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi)
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 53, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4990).
13) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2009 tentang Pengesahan United Nations
Convention Against Transnational Organized Crime (Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi)
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 5, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4960).
14) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063).
15) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2006 tentang
Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 15,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4604).
16) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2008 tentang Tata Cara dan Meknaisme
Pelayanan terpadu bagi Saksi dan/atau Korban Tindak Pidana Perdagangan
orang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 22, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4818).
17) Peraturan Presiden Nomor 69 Tahun 2008 tentang Gugus Tugas Pencegahan dan
Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
18) Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas
Pembangunan Nasional.
19) Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak-Hak
Anak (Convention on the Rights of the Child).
20) Keputusan Kepala POLRI Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan Ruang
Pelayanan Khusus dan Tatacara Pemeriksaan Saksi dan/atau Korban Tindak
Pidana.
21) Peraturan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Nomor :
25/KEP/MENKO/KESRA/IX/2009 tentang Rencana Aksi Nasional Pemberantasan
Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) dan Eksploitasi Seksual Anak (ESA)
2009 – 2014.
22) Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Nomor 01 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Layanan
Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan.
23) Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Nomor 02 Tahun 2010 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan
Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan.

D. Sasaran
Langsung
Pedoman ini ditujukan untuk para petugas yang secara langsung menangani anak- anak korban
kekerasan baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah

Tidak langsung
Pedoman ini ditujukan kepada kelembagaan sebagai berikut :
 Kementerian/lembaga di tingkat pusat;
 SKPD terkait di tingkat Daerah;
 Organisasi masyarakat;
 Lembaga pelayanan penanganan anak korban kekerasan.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

E. Pengertian
1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak
yang masih dalam kandungan.
2. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan
hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal
sesuai dengan harkat dan martabat kemanusian serta mendapat perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi.
3. Kekerasan terhadap anak adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, mental, seksual, psikologis,
termasuk penelantaran dan perlakuan buruk yang mengancam integritas tubuh dan
merendahkan martabat anak yang dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya
bertanggung jawab atas anak tersebut atau mereka yang memiliki kuasa atas anak
tersebut, yang seharusnya dapat dipercaya, misalnya orang tua, keluarga dekat, guru,
dan pendamping.
4. Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka
berat.
5. Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa
percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau
penderitaan psikis berat pada anak.
6. Kekerasan untuk kepentingan ekonomi adalah kekerasan dengan cara memanfaatkan
potensi yang dimiliki anak untuk keuntungan dan kepentingan pribadi dan/atau
kepentingan orang lain. Atas pemanfaatan tersebut orang yang memanfaatkan
potensi anak mendapatkan keuntungan secara materi dan/atau keuntungan yang lain.
7. Kekerasan seksual adalah pemaksaan hubungan seksual terhadap seorang anak.
Sedangkan eksploitasi seksual penggunaan anak untuk tujuan seksual dengan imbalan
tunai atau dalam bentuk lain antara anak, pembeli jasa seks, perantara atau agen, dan
pihak lain yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak tersebut.
8. Kekerasan yang diakibatkan oleh tradisi/adat adalah kekerasan yang bersumber pada
praktik-praktik budaya dan interpretasi ajaran agama yang salah sehingga anak
ditempatkan pada posisi sebagai milik orang tua atau komunitas.
9. Perlakuan salah terhadap anak adalah semua bentuk kekerasan terhadap anak yang
dilakukan oleh mereka yang seharusnya bertanggung jawab dan/atau mereka yang
memiliki kuasa atas anak, yang seharusnya dapat dipercaya yaitu orang tua, keluarga
dekat, guru, pembina, aparat penegak hukum, pengasuh dan pendamping (World
Health Organization).

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

10. Penelantaran anak adalah tindakan segaja atau tidak sengaja yang mengakibatkan tidak
terpenuhi kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang secara fisik, intelektual,
emosional, sosial, dan spiritual (World Health Organization).
11. Rehabilitasi adalah pemulihan dari gangguan terhadap kondisi fisik, psikis, dan sosial
agar dapat melaksanakan perannya kembali secara wajar baik dalam keluarga maupun
dalam masyarakat.
12. Pemulangan adalah upaya mengembalikan anak korban kekerasan ke daerah asal atau
pihak keluarga, keluarga/keluarga pengganti, atau masyarakat yang dapat memberikan
perlindungan dan pemenuhan kebutuhan anak korban kekerasan.
13. Reintegrasi adalah upaya menyatukan kembali anak dengan keluarga, masyarakat,
lembaga atau lingkungan sosial lainnya yang bisa memberikan perlindungan bagi anak.
14. Bantuan hukum adalah merupakan serangkaian kegiatan yang terkait dengan
penanganan dan perlindungan anak korban kekerasan di bidang hukum, mulai dari
tingkat penyelidikan dan penyidikan di kepolisian, penuntutan di Kejaksaan, proses
pemeriksaan di sidang pengadilan sampai adanya kepastian hukum.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

BAB II
LINGKUP DAN BENTUK-BENTUK KEKERASAN TERHADAP ANAK

Kekerasan terhadap anak merupakan kondisi yang sudah sejak lama ada di tengah- tengah
masyarakat kita. Kekerasan yang dialami anak tidak mengenal batas wilayah, suku, agama atau
tingkat ekonomi, kekerasan terjadi pada hampir semua lapisan masyarakat. Kekerasan terhadap anak
sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang selama ini berlaku umum sehingga ketika seorang anak
mendapat kekerasan dari orang tuanya atau orang yang memiliki kewenangan atas anak tersebut
maka orang lain yang tidak memiliki hubungan apapun dengan anak yang mengalami kekerasan
tersebut, tidak dapat ikut serta menghentikannya. Anggapan yang selama ini berkembang di tengah-
tengah masyarakat bahwa anak tersebut merupakan urusan domestik keluarga atau urusan rumah
tangga yang bersangkutan sehingga orang luar tidak boleh ikut campur.

Akhir-akhir ini terjadi kecenderungan meningkatnya kasus tindak pidana perdagangan orang
termasuk anak dan eksplloitasi seksual pada anak yang berdampak pada kekerasan fisik, mental dan
seksual yang akan merugikan kualitas kehidupan anak. Dengan demikian kekerasan kepada anak
merupakan hal yang serius dan perlu ditangani secara menyeluruh. Sedangkan berdasarkan
dimensinya dapat dilihat dari dimensi domestik dan publik.

A. Lingkup kekerasan terhadap anak


Kekerasan yang dialami anak juga dapat dilihat dari berbagai lingkup antara lain:

1. Domestik
Lingkup domestik merupakan tempat dimana anak mengalami kekerasan dalam lingkungan
keluarga dan yang dilakukan oleh anggota keluarga sendiri.

2. Publik
Lingkup publik atau umum merupakan tempat dimana anak mengalami
kekerasan di luar dari lingkungan tempat tinggal anak, antara lain :

a. Pelayanan Umum
Pada lokasi-lokasi pelayanan umum, anak-anak juga sering mengalami kekerasan yang
dilakukan oleh orang lain dengan berbagai bentuk kekerasan seperti diskriminasi,
pencabulan, pelecehan ataupun kekerasan lainnya seperti pemerasan bahkan
penculikan. Beberapa lokasi yang rentan anak

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

mengalami kekerasan antara lain terminal, pelayanan kesehatan, bandara, pelabuhan,


tempat rekreasi, pasar atau tempat keramaian lainnya.
b. Pelayanan Pendidikan
Tindak kekerasan yang dialami anak di ranah pendidikan formal (sekolah/madrasah), non
formal (lembaga kursus dan pendidikan keagamaan) dan informal (dalam keluarga)
sering terjadi tanpa disadari oleh mereka yang melakukan tindak kekerasan tersebut
karena kekerasan yang dilakukan dianggap sebagai salah satu cara dalam membentuk
sikap dan perilaku anak agar lebih baik.
c. Pelayanan Kesehatan
Anak-anak juga rentan mengalami kekerasan di tempat pelayanan kesehatan yang
disebabkan oleh perlakuan diskriminasi karena anak belum mampu mengungkapkan apa
yang dirasakannya sehingga seringkali anak pasrah menerima berbagai perlakuan yang
diterima termasuk mal praktek.
d. Daerah Konflik
Di daerah konflik sering terjadi pelibatan anak dalam tindak kekerasan, konflik bersenjata
dan konflik sosial.
e. Daerah Bencana
Ketika terjadi bencana maka seringkali kebutuhan yang harus diperoleh oleh anak
disamakan dengan kebutuhan orang dewasa seperti sandang, pangan dan papan. Pada
saat pasca bencana hanya sebagian kecil yang menjadikan kebutuhan psikis anak untuk
pulih menjadi pertimbangan untuk dipenuhi. Hal ini juga merupakan pengabaian
terhadap hak anak di daerah bencana dan hal ini merupakan salah satu bentuk
kekerasan yang dihadapi anak.

3. Politik
Masih ada anak yang dimanfaatkan dalam berbagai kepentingan politik, seperti demonstrasi,
kampanye partai politik dalam proses pemilu dan lain-lain yang tidak berpihak pada
kepentingan terbaik bagi anak.

B. Bentuk kekerasan terhadap anak


Adapun bentuk kekerasan yang dialami oleh anak sebagai berikut :

1. Kekerasan Fisik; merupakan tindakan kekerasan yang diarahkan secara fisik kepada anak
dan anak merasa tidak nyaman dengan tindakan tersebut. Adapun beberapa bentuk
kekerasan fisik yang dialami anak antara lain tendangan, pukulan, mendorong, mencekik,
menjambak rambut, meracuni, membenturkan fisik ke tembok, mengguncang, menyiram
dengan air panas, menenggelamkan, melempar dengan barang, dll.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

2. Kekerasan Psikis; merupakan tindakan kekerasan yang dirasakan oleh anak yang
mengakibatkan terganggunya emosional anak sehingga dapat mempengaruhi tumbuh
kembang anak secara wajar. Adapun bentuk-bentuk dari kekerasan psikis ini antara lain :
intimidasi (seperti menggertak, mengancam, dan menakuti), menggunakan kata-kata
kasar, mencemooh, menghina, memfitnah, mengontrol aktivitas sosial secara tidak
wajar, menyekap, memutuskan hubungan sosial secara paksa, mengontrol atau
menghambat pembicaraan, membatasi kegiatan keagamaan yang diyakini oleh seorang
anak dan lain sebagainya.

3. Kekerasan Seksual; merupakan tindakan kekerasan yang dialami oleh anak yang
diarahkan peda alat reproduksi kesehatan anak yang mengakibatkan terganggunya
tumbuh kembang anak baik secara fisik, psikis dan social anak. Adapun bentuk kekerasan
seksual tersebut antara lain : hubungan seksual secara paksa/tidak wajar
(pemerkosaan/percobaan pemerkosaan, incest, sodomi), penjualan anak untuk
pelacuran/pornografi, pemaksaan untuk menjadi pelacur, atau pencabulan/pelecehan
seksual serta memaksa anak untuk menikah.

4. Penelantaran; merupakan tindakan kekerasan yang dialami anak baik disengaja atau tidak
sengaja yang mengakibatkan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar anak untuk tumbuh
kembang secara fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual dari orang yang memiliki
kewenangan atas anak tersebut. Adapun bentuk penelantaran tersebut antara lain
pengabaian terhadap kebutuhan dan keinginan anak, membiarkan anak melakukan hal-
hal yang akan membahayakan anak, lalai dalam pemberian asupan gizi atau layanan
kesehatan, pengabaian pemberian pendidikan yang tepat bagi anak, pengabaian
pemberian perhatian dan kasih sayang dan tindakan pengabaian lainnya.

5. Eksploitasi ekonomi yaitu tindakan yang mengeksploitasi ekonomi anak dengan maksud
untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain (Pasal 88 UU PA).

6. Kekerasan lainnya seperti:


a. perlakuan kejam, yaitu tindakan secara zalim, keji, bengis atau tidak belas kasihan
(Pasal 80 UUPA);
b. abuse atau perlakuan salah lainnya yaitu tindakan pelecehan dan tidak senonoh (Pasal
81 UUPA);
c. ketidakadilan, yaitu keberpihakan antara anak satu dan lainnya;
d. ancaman kekerasan adalah setiap perbuatan secara melawan hukum berupa ucapan,
tulisan, gambar simbol atau gerakan tubuh baik dengan atau tanpa

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

sarana yang menimbulkan rasa takut atau mengekang kebebasan hakiki anak (Pasal 1
butir 2 UU PTPPO);
e. pemaksaan, adalah keadaan dimana anak disuruh melakukan sesuatu sedemikian
rupa sehingga anak melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendak sendiri
(Pasal 18 UU PTPPO).

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

BAB III
PENYEBAB DAN DAMPAK TERJADINYA KEKERASAN TERHADAP ANAK

Kekerasan sangat dekat dengan kehidupan anak, sejak usia yang sangat dini anak- anak telah
diperkenalkan pada berbagai bentuk kekerasan, mulai kekerasan verbal, fisik hingga seksual.
Berdasarkan berbagai temuan dan pengalaman anak-anak berhadapan dengan kekerasan sangat
beraneka ragam.

A. Faktor Penyebab
Berbagai faktor penyebab terjadinya tindak kekerasan terhadap anak, adalah sebagai berikut :

1. Faktor Kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu faktor dominan terjadinya kekerasan terhadap anak, oleh
karena kemiskinan seringkali menyebabkan terjadinya tekanan hidup menjadi berat, sehingga
memaksa seluruh anggota keluarga berkontribusi dalam menopang ekonomi keluarga,
termasuk anak. Hal ini dapat mengakibatkan anak dieksploitasi dan menjadi korban dari
tindak kekerasan baik yang dilakukan oleh anggota keluarga, teman, majikan maupun oleh
orang dewasa lainnya.

Beberapa hal yang mempengaruhi dilibatkannya anak dalam ekonomi keluarga antara lain :
a. Anak dianggap sebagai aset
Pada sebagian anggota masyarakat, anak masih dijadikan sebagai aset keluarga, sehingga
sejak usia dini anak diwajibkan membantu orang tua mencari nafkah. Kondisi seperti ini
banyak dijumpai dimana sejak usia bayi, seorang anak sudah dimanfaatkan sebagai alat
penarik rasa iba yang diharapakan akan mendatangkan uang.
b. Pengabaian Hak Anak
Masih kurang dipahaminya hak-hak anak dengan benar pada sebagian anggota
masyarakat. Akibatnya anak masih dianggap sebagai bagian yang bisa diatur dengan
sekehendak hati orang tuanya.

c. Bias Gender dalam Masyarakat


Adanya bias gender yang terjadi di masyarakat merupakan salah satu penyebab terjadinya
tindak kekerasan terhadap anak, khususnya menimpa pada anak perempuan. Dalam
keluarga yang bias gender, anak perempuan seringkali lebih awal terampas haknya dan
menjadi korban tindak kekerasan,

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

seperti dinikahkan diusia yang sangat belia, disuruh berhenti sekolah karena lebih
mengutamakan anak laki-laki dan sebagainya.
d. Pola hidup konsumtif/gaya hidup
Pemenuhan gaya hidup yang konsumerisme dari cenderung menyebabkan anak untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berbagai macam cara, misalnya menjadi pelacur
anak. Begitu pula pola hidup konsumerisme dari orang tua tidak jarang memaksa anak
dieksploitasi guna memenuhi kebutuhan orang tuanya.

2. Pendidikan
Pendidikan orang tua yang rendah merupakan salah satu penyebab terjadinya kekerasan
terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anaknya karena kurangnya
pengetahuan orang tua tentang hak-hak anak dan pola asuh.

3. Faktor Sosial Budaya


Berbagai tindak kekerasan yang dialami anak juga sering diakibatkan oleh sebuah tindakan
kekerasan yang dianggap hal yang wajar yang ada di tengah- tengah masyarakat. Dalam
membentuk karakter sebuah masyarakat kekerasan sering digunakan sebagai hal yang wajar.
Contoh: tindakan pemaksaan yang dilakukan oleh orang tua/adat terhadap anak untuk
menjadi joki kuda seperti di NTT. Tindakan pemaksaan yang dilakukan oleh orang tua/adat
terhadap anak untuk memotong jari jika orang yang disayanginya meninggal dunia, seperti di
Papua. Menikahkan anak pada usia yang masih belia karena adanya nilai-nilai budaya yang
mengharuskan anaknya untuk dinikahkan pada golongan masyarakat tertentu.

4. Faktor penggunaan kemajuan


teknologi informasi dan komunikasi
tanpa bimbingan pengawasan dari
orang dewasa
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui media massa termausk internet dapat
menimbulkan kekerasan terhadap anak, seperti mudahnya anak mengakses internet tanpa
adanya pengawasan dari orang tua/masyarakat/pemerintah sehingga berbagai tayangan
pornografi anak yang beredar di internet, tidak dapat terpantau oleh orang tua. Begitu juga
dengan penayangan film-film yang umumnya mengandung unsur kekerasan pada berbagai
siaran televisi dan media cetak yang berakibat anak melakukan dan meniru adegan tersebut.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

5. Faktor perilaku kasar


Kekerasan terhadap anak terjadi, karena perilaku kasar dan temperamental dari pelaku
kekerasan, sehingga bila anak melakukan kesalahan, maka anak selalu mendapatkan
kekerasan baik fisik dan psikis.

6. Faktor lingkungan
Kekerasan terhadap anak sering terjadi di daerah mengalami konflik, kerusuhan sosial atau
dalam, bencana alam dan pengungsian

B. Dampak Kekerasan Terhadap Anak


Beberapa dampak kekerasan terhadap anak yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak,
yaitu:
1. Secara fisik
Bagi anak-anak yang mengalami kekerasan secara fisik akan terlihat dari perubahan bentuk
fisik yang ada baik berupa lebam-lebam pada permukaan kulit, benjol-benjol, luka, patah
tulang, sehingga berdampak pada cacat, kehilangan fungsi alat tubuh atau indra, kerusakan
pada organ reproduksi anak.

2. Secara psikis
Bagi anak-anak yang mengalami kekerasan secara psikis akan menimbulkan gangguan jiwa
pada anak dari ringan sampai berat antara lain anak menjadi tidak percaya diri dalam
pergaulan sosial, ketakutan, stress, a-sosial, tidak peduli dengan lingkungan, menyendiri, dll.
3. Secara seksual
Anak dapat terinfeksi penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDs bahkan dapat
menyebabkan gangguan fungsi reproduksi. Selain itu berdampak terhadap psikologis anak
sehingga anak menjadi takut dan tidak percaya diri dalam menatap masa depannya. Dampak
lebih lanjut dari kekerasan seksual terhadap anak adalah tidak dapatnya anak menikmati
kehidupan seksualnya ketika anak memasuki jenjang perkawinan. Hal ini akan mendatangkan
trauma yang sangat mendalam bagi anak sehingga anak-anak yang mengalami kekerasan
seksual ini banyak yang mengalami depresi, tidak percaya diri karena hilangnya kesucian diri,
rasa takut yang berkepanjangan, gangguan emosional, kecemasan akan masa depan serta ada
yang berdampak ingin mengakhiri hidup karena merasa sia-sia dan tidak punya harapan masa
depan.
4. Terlantar

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Akibat orang tua yang tidak memberikan nafkah kepada anaknya maka anak menjadi terlantar
tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya dan berakibat tidak dapat tumbuh dan berkembang
secara optimal.
5. Sosial
Anak yang mengalami kekerasan cenderung berprilaku menyimpang. Anak dapat menutup
diri dari pergaulan dan tidak memiliki kecerdasan interpersonal dan intra personal.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

BAB IV
MEKANISME UPAYA PENANGANAN ANAK KORBAN KEKERASAN

Dalam penanganan anak korban kekerasan dapat dikatakan bahwa pelayanan masyarakat merupakan
garda terdepan yang melakukan pelaporan kepada polisi melalui Unit Pelayanan Perempuan dan
Anak (UPPA) dan RPK maupun langsung kepada Pusat Pelayanan Terpadu. Di pusat pelayanan
terpadu inilah dilakukan langkah-langkah penanganannya. Pusat Pelayanan Terpadu merupakan unit
kerja fungsional yang menyelenggarakan pelayanan terpadu untuk korban. Pusat Pelayanan Terpadu
sendiri dapat berupa tempat yang bernama shelter/rumah aman, RPTC, RPSA, P2TP2A maupun
Pusat Pelayanan Terpadu yang ada dan berbasis di Rumah Sakit Bhayangkara dan sebagainya.

Pelayanan terpadu diawali dengan identifikasi korban untuk memastikan seseorang adalah korban
kekerasan atau bukan. Identifikasi ini dilakukan dengan melakukan interview terhadap korban guna
memastikan bantuan apa yang diperlukan oleh korban. Apakah memerlukan rehabilitasi kesehatan,
rehabilitasi sosial, bantuan hukum. atau langsung dipulangkan ke keluarga, atau keluarga pengganti.

Mekanisme rehabilitasi kesehatan mengikuti sistem pelayanan kesehatan sebagaimana tercantum


dalam standar pelayanan minimal penanganan perempuan dan anak korban kekerasan. Bila korban
memerlukan rehabilitasi kesehatan maka dapat ditangani di puskesmas mampu tatalaksana KTP/A.
Jika korban memerlukan pelayanan rehabilitasi kesehatan lanjutan (spesialistik) dapat dirujuk ke
Rumah Sakit yang memiliki pelayanan terpadu (PPT). Jika belum tersedia PPT di Rumah Sakit, maka
rujukan kasus yang membutuhkan pelayanan medis spesialistik dapat dilakukan di RS vertikal, RSUD,
TNI Polri maupun swasta.

Bila korban memerlukan rehabilitasi sosial dimana korban mengalami gangguan psikososial dan
psikologis, maka tim psikososial akan memberikan konseling dan terapi sesuai kebutuhan. Bila kondisi
korban baik kesehatan maupun sosial sudah dinyatakan pulih, maka dengan persetujuan korban, bisa
mendapat bantuan hukum berupa pendampingan dan pembelaan oleh unsur penegak hukum yaitu
Kepolisian (UPPA), Kejaksaan, Hakim, serta LBH/LSM/advokat.
Pemulangan dilakukan minimal apabila rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, dan atau bantuan
hukum telah terpenuhi. Pemulangan ini bertujuan untuk mengembalikan korban sampai kepada
keluarga atau keluarga pengganti dengan selamat dan aman. Pemulangan ini dapat dilakukan dengan
didampingi oleh polisi, tenaga pekerja sosial/relawan jika diperlukan.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Setelah pemulangan dilakukan oleh PPT maka akan dilakukan reintegrasi sosial yaitu
pengembalian/penyatuan kembali korban kepada keluarga/lingkungan untuk meningkatkan
keberdayaan korban sehingga korban dapat menjalani kehidupan secara ‘normal’ dalam masyarakat.
Pada saat reintegrasi ini dapat dilakukan berbagai hal seperti konseling lanjutan, pengobatan
lanjutan, pelatihan ketrampilan, pendidikan, pendampingan wirausaha, pendampingan hukum, di
mana keseluruhan proses ini dilakukan di keluarga atau keluarga pengganti. Maksud dari semua
intervensi dari identifikasi, rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, bantuan hukum, pemulangan dan
reintegrasi sosial ini dilakukan agar korban lebih berdaya sesuai kebutuhannya.

Mekanisme upaya penanganan anak korban kekerasan yang ditetapkan dalam pedoman ini akan
mengikuti alur sebagai berikut:

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

REHABILITASI
KESEHATAN

 Pelayanan Medis
Korban  Pelayanan
Medikolegal
 Pelayanan
psikososial
 Rujukan

REHABILITASI PEMULANGAN REINTEGRASI


Datang PENGADUAN/ SOSIAL SOSIAL
sendiri IDENTIFIKASI  Kontrak sosial  Dari luar negeri  Penyatuan dg
 Screening  Konseling awal ke propinsi keluarga/keluarga
 Asesmen  Konseling  Di dalam negeri pengganti
 Rencana lanjutan  Korban WNA  Pemberdayaan
Rujukan intervensi  Clinical ekonomi dan
- Instansi assessment sosial
Pemerintah  Terapi psikososial  Pendidikan
- Masyarakat  Bimbingan  Monitoring/
mental dan bimbingan
spiritual lanjut
 Pendampingan  Home Visit
 Home visit
Penjangkau
 Resosialisasi dan
an Rujukan

BANTUAN
HUKUM
 Perlindungan
saksi dan/
korban
 Penyelidikan dan
Penyidikan
 Penuntutan
 Putusan
 Restitusi

A D M I N I S T R A S I dan P E N D A T A A N

Prinsip HAM, Gender, dan Anak

Proses penanganan korban yang diselenggarakan oleh PPT dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Korban yang datang sendiri, melalui proses rujukan maupun yang diperoleh melalui
penjangkauan dilaksanakan proses identifikasi yang meliputi screening, assesmen dan
rencana intervensi sesuai dengan kebutuhan korban.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

b. Jika korban jika korban mengalami luka-luka maka korban sesegera mungkin diberikan
rehabilitasi kesehatan yang meliputi pelayanan non kritis, pelayanan semi kritis dan
pelayanan kritis sesuai dengan kondisi korban. Rekam medis harus memuat selengkap
mungkin hasil pemeriksaan korban karena dapat digunakan sebagai bahan peradilan.
c. Jika korban tidak mempunyai luka fisik, dan diidentifikasi memerlukan konseling untuk
pemulihan psikisnya, maka korban masuk dalam tahapan rehabilitasi sosial yang meliputi
adanya kontrak sosial yaitu perjanjian dengan korban untuk persetujuan mendapatkan
layanan sosial, dilakukan konseling awal, konseling lanjutan, clinical assessment, terapi
psikososial, bimbingan mental dan spiritual, pendampingan, home visit serta resosialisasi dan
rujukan jika diperlukan. Jika korban adalah anak maka persetujuan korban atau pendamping
korban tidak diperlukan.
d. Jika korban memerlukan bantuan hukum maka dilakukan setelah proses rehabilitasi
kesehatan, rehabilitasi sosial, atau bisa langsung diberikan jika memang korban tidak
memerlukan rehabilitasi tersebut. Bantuan hukum diberikan mulai dari proses pelaksanaan
penyelidikan dan penyidikan di kepolisian, proses penuntutan di kejaksaan sampai pada
proses pemeriksaan di sidang pengadilan. Termasuk di dalamnya bantuan hukum untuk
memperoleh restitusi korban TPPO yang diproses oleh kepolisian meliputi kerugian materil
dan non materil yang diderita korban, dikumpulkan serta dilampirkan bersamaan dengan
berkas perkara.
e. Korban yang dipulangkan dari luar negeri maupun dalam negeri ke daerah asal atau negara
asal atau keluarga atau keluarga pengganti, atas keinginan dan persetujuan korban, dengan
tetap mengutamakan pelayanan perlindungan dan pemenuhan kebutuhannya. Berdasarkan
kategori korban dibagi menjadi korban kekerasan lintas batas negara dan domestik/dalam
negeri. PPT melakukan pendampingan terhadap korban yang sudah mendapat layanan dan
akan dipulangkan ke keluarga maupun keluarga pengganti.
f. Dalam hal korban kekerasan berasal dari Negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia,
maka peran PPT perbatasan setelah serah terima dari perwakilan RI di Luar Negeri, maka
korban langsung diberikan pelayanan oleh PPT tersebut setelah itu PPT mengadakan
koordinasi dengan instansi terkait untuk pemulangan korban ke daerah asal.
g. Proses terakhir dari layanan untuk korban adalah proses reintegrasi sosial, dimana korban
dikumpulkan kembali dengan keluarga atau keluarga pengganti serta diupayakan agar korban
dapat diterima kembali oleh keluarga dan masyarakatnya. Dalam proses ini termasuk
didalamnya adalah pemberdayaan ekonomi dan sosial serta pembekalan ketrampilan agar
dapat menghasilkan secara ekonomi, pemberian pendidikan untuk korban yang masih
bersekolah dan terputus karena menjadi korban serta adanya monitoring dan bimbingan
lanjutan.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

h. Peran PPT dalam reintegrasi sosial adalah melakukan monitoring dan evaluasi serta pelaporan
penanganan terhadap korban dan melakukan koordinasi dengan instansi/dinas sosial dan
instansi/dinas terkait lainnya.
i. Guna mencapai ketertiban administrasi dan pendataan dibutuhkan formulir setiap tahapan
dalam proses pelayanan tersebut. Setiap lembaga layanan untuk menggunakan standar
formulir yang telah disepakati guna memudahkan rekapitulasi.
j. Keseluruhan proses layanan ini juga harus didasari dan tidak terlepas dari prinsip
Penghormatan terhadap Hak Azasi Manusia (HAM), menghindari bias gender dan
melaksanakan pemenuhan hak anak.

Berikut ini adalah jenis layanan yang diberikan dalam mekanisme penanganan anak korban
kekerasan.

1. Pengaduan/Identifikasi
Layanan pengaduan/identifikasi adalah kegiatan pertama yang dilakukan dalam proses
penanganan anak korban kekerasan untuk mendapatkan informasi atau menggali data-data yang
diperlukan dalam rangka pemberian bantuan dan langkah ini merupakan langkah yang akan
mempengaruhi keberhasilan dari langkah-langkah selanjutnya.

Tujuan layanan identifikasi pengaduan ini adalah untuk:


a. mengetahui seseorang yang “dilaporkan sebagai korban” benar merupakan korban
kekerasan atau bukan.
b. mengetahui masalah dan kondisi seseorang yang diduga korban kekerasan berkaitan
dengan kondisi kesehatan fisik, psikis dan psikososial korban, status, kepemilikan
dokumen dan identitas diri, kondisi keuangan, hutang-piutang, kondisi keamanan, serta
keinginan korban berkaitan dengan kasusnya.
c. mengetahui kebutuhan seseorang yang diduga korban kekerasan yang harus segera
dipenuhi (tempat tinggal sementara apabila korban dari luar daerah, perlindungan
apabila korban terancam keselamatan, pengobatan, pendampingan, home visit, rujukan
dsb).

Untuk memudahkan kerja petugas identifikasi dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai,
serta tersedianya form identifikasi beserta panduannya. Layanan Identifikasi pengaduan dilakukan
oleh petugas PPT yang terlatih dalam melakukan identifikasi terhadap seseorang yang diduga
korban kekerasan, hak korban, hak anak, menerima korban apa adanya, menjaga kerahasiaan
klien, tidak menghakimi, sikap-sikap yang empati dan respon terhadap kondisi korban serta
cara-cara yang

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

membuat korban nyaman dan percaya untuk menceritakan masalah yang


dihadapinya.

Mekanisme Pelayanan
a. Identifikasi Pengaduan korban
Proses indentifikasi ini dapat terjadi karena adanya peran serta masyarakat yang datang dan
diterima di tempat-tempat pelayanan korban tindak kekerasan. (Pusat Pelayanan Terpadu,
Shelter, P2TPA, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, Trauma Center, Lembaga Konsultasi
Kesejahteraan Keluarga (LK3), dll).

Setelah mendapat informasi adanya anak korban kekerasan, petugas langsung mencatat
identitas anak secara lengkap, sesuai dengan form yang telah ditetapkan.

b. Menentukan jenis kekerasan yang dialami


Berdasarkan informasi/observasi yang diperoleh, dapat ditentukan keadaan anak apakah
mengalami kekerasan fisik atau psikis.

c. Menentukan jenis pelayanan yang


dibutuhkan.
Memberikan rujukan sesuai dengan identifikasi kekerasan. Jika anak mendapat kekerasan fisik
maupun psikis dirujuk untuk mendapatkan rehabilitasi kesehatan, psikososial, atau bantuan
hukum.

d. Rekomendasi Layanan Lanjutan


Dari hasil assesmen dan rekomendasi penanganan lanjutan oleh PPT perujuk, maka petugas
PPT memberikan rekomendasi intervensi layanan dengan tujuan untuk menetapkan langkah-
langkah tindak lanjut yang terbaik dalam pemenuhan hak korban.

e. Koordinasi dengan Pihak Terkait


Setelah ada rekomendasi layanan lanjutan dan terbangun kesepakatan dengan korban,
petugas menghubungi lembaga layanan lanjutan untuk mengkoordinasikan langkah
selanjutnya.

f. Pengadministrasian Proses Identifikasi


Layanan.
Hasil identifikasi pengaduan dimasukkan ke dalam Buku Rekam Kasus (Lampiran) dan
diadministrasikan bersama dokumen pendukung dan dimasukkan ke dalam sistem data base
terkomputerisasi.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

2. Pelayanan yang diberikan


a. Rehabilitasi Kesehatan
Upaya pelayanan kesehatan korban KTA secara komprehensif meliputi promotif, preventif,
kuratif, rehabilitatif, dilakukan melalui pelayanan kesehatan tingkat dasar di “puskesmas
mampu tatalaksana kasus KTA” dan pelayanan rujukan di RS yang memiliki PPT/PKT atau
RSUD/RS Bhayangkara.

Tujuan
 Tersedianya pelayanan kesehatan bagi anak korban kekerasan di Puskesmas dan
Rumah Sakit yang sudah terlatih pelayanan korban kekerasan terhadap anak.
 Terlaksananya rujukan medis, medikolegal dan psikososial bagi anak korban kekerasan
di Provinsi dan Kabupaten/Kota.
 Tersedianya data terpilah kasus anak korban kekerasan di Puskesmas dan Rumah
Sakit.

Mekanisme Pelayanan
 Pencatatan laporan status anak korban kekerasan.
 Pelayanan kegawatdaruratan.
 Memberikan visum et repertum atau visum psikiatricum atas permintaan atau
keterangan polisi.
 Pelayanan lanjutan berupa rawat jalan, rawat inap sesuai ketentuan medis.
 Memberikan rujukan lanjutan sesuai kebutuhan korban.
 Pengadministrasian Proses Identifikasi Layanan.
 Hasil rehabilitasi kesehatan diadministrasikan bersama dokumen pendukung dan
dimasukkan ke dalam sistem data base terkomputerisasi.

b. Pelayanan Sosial, Pemulangan


(Reunifikasi) dan Reintegrasi Sosial
Rehabilitasi Sosial adalah pemulihan saksi dan/atau korban yang dilakukan oleh petugas
rehabilitasi psikososial yang terdiri dari pekerja sosial, konselor, dan psikolog yang telah
mendapatkan pelatihan penanganan anak korban kekerasan dari gangguan kondisi
Psikososial dengan menggunakan bantuan psikologis serta sosial yang ditujukan untuk
membantu meringankan, melindungi dan memulihkan kondisi fisik, psikologis, sosial dan
spiritual korban tindak kekerasan sehingga mampu menjalankan fungsi sosialnya kembali
secara wajar.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Tujuan :
 Tersedianya layanan untuk pemulihan kondisi psikis korban, pemulangan (reunifikasi)
dan reintegrasi sosial bagi anak korban kekerasan
 Terpenuhinya hak anak korban kekerasan atas pemulangan untuk reunifikasi dengan
keluarga.
 Tersedianya sistem jaringan dan mekanisme rujukan untuk menangani anak korban
tindak kekerasan di Kabupaten atau Kota.

Mekanisme Rehabilitasi Sosial


 Penerimaan anak korban kekerasan yang dirujuk dari pengaduan, maupun hasil
penjangkauan.
 Pengungkapan dan pemahaman masalah.
 Rencana intervensi.
 Pelaksanaan intervensi : konseling awal, konseling lanjutan, terapi psikososial,
bimbingan mental dan spiritual, pendampingan, home visit, resosialisasi dan rujukan.

c.Pemulangan (Reunifikasi)
Mengembalikan anak korban kekerasan kepada keluarganya (Reunifikasi) dengan didampingi
pendamping yang berasal dari kepolisian maupun pendamping lainnya dengan cara
menyediakan transport untuk korban pulang kembali ke keluarga atau keluarga pengganti.

d. Reintegrasi Sosial
Dalam reintegrasi sosial meliputi proses beberapa hal, yaitu:
 penelusuran anggota keluarga;
 proses penyiapan anak korban kekerasan dan anggota keluarganya;
 penyatuan anak dengan keluarga/keluarga pengganti, masyarakat/lembaga;
 dukungan keluarga berupa bantuan stimulan atau psikososial;
 monitoring dan evaluasi.

Dalam proses ini korban diberikan beberapa layanan yaitu :


 konseling diberikan agar proses penyembuhan korban secara psikis dapat diperoleh;
 pelatihan ketrampilan (lifeskills) sesuai minat anak;
 pendidikan, pemenuhan pendidikan adalah salah satu hak dasar anak yang harus
dipenuhi, khususnya jika korban adalah anak dan ada proses

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

pendidikan yang terputus, maka anak korban kekerasan diberikan pendidikan formal
maupun nonformal dalam hal ini dilakukan oleh dinas pendidikan provinsi,
kabupaten/kota;
 pendampingan hukum;
 lanjutan pengobatan.

3. BANTUAN HUKUM
Pelayanan Hukum merupakan serangkaian kegiatan yang terkait dengan penanganan dan
perlindungan anak korban kekerasan di bidang hukum, mulai dari tingkat penyelidikan dan
penyidikan di kepolisian, penuntutan di kejaksaan, proses pemeriksaan di sidang pengadilan
sampai adanya kepastian hukum. Pelayanan Hukum diberikan dalam kerangka pemenuhan hak
asasi korban dan/atau saksi dan dilakukan secara terintegrasi dengan pelayanan lainnya.

Pelayanan hukum ini dilaksanakan oleh advokat, paralegal/pendamping hukum, polisi, jaksa,
hakim, dan pihak penyedia layanan hukum lain. Adapun bentuk pelayanan hukum meliputi
namun tidak sepenuhnya mencakup pemberian konsultasi hukum, bantuan hukum,
menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain
untuk kepentingan hukum lain, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Tujuan:
Memberikan rasa aman dan kepastian hukum kepada anak korban kekerasan dan saksi/pelapor
dalam bentuk pendampingan hukum.

Langkah-Langkah Pelayanan:
a. Menempatkan anak dan saksi/pelapor di ruang pelayanan khusus untuk memberikan rasa
aman dan nyaman.
b. Memastikan apakah anak didampingi oleh orang tua, pekerja sosial, LSM, atau pengacara.
c. Mengambil keterangan anak yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
d. Mengumpulkan bukti-bukti yang terkait dengan kekerasan yang dialami anak.
e. Menerbitkan surat permohonan pemeriksaan kesehatan dan visum et repertum
atau visum et Psikiatricum (VeP).
f. Berkoordinasi dengan instansi terkait untuk pemulangan korban ke keluarga atau
keluarga pengganti.
g. Berkoordinasi dengan jaksa dan menerbitkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan
(SPDP).

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

h. Menerbitkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) kepada


pelapor/keluarga/pendamping untuk mengetahui perkembangan kasusnya.
i. Menyerahkan berkas perkara kepada kejaksaan.
j. Melakukan koordinasi dengan dinas sosial/dinas pendidikan/LSM pendamping dan
lembaga lainnya untuk memberikan pendampingan kepada anak korban kekerasan, baik
pada proses pemeriksaan di sidang pengadilan maupun di luar sidang pengadilan.
k. Menunjuk petugas yang memiliki perspektif anak.
l. Penentuan jadwal sidang dengan mempertimbangkan proses belajar anak yang masih
bersekolah.
m. Melakukan pemeriksaan kepada anak di ruang sidang dengan tidak menggunakan toga.
n. Melakukan persidangan di ruang sidang dengan cara persuasive untuk menghindari anak.
o. Menghindari anak menderita trauma lanjutan.
p. Jika kondisi psikis anak tidak memungkinkan, maka pemeriksaan anak di ruang sidang.
q. Merupakan jalan terakhir dan dapat ditempuh jalan pemeriksaan lain sebagaimana diatur
dalam perundang-undangan.
r. Untuk kasus anak korban tindak pidana perdagangan orang, Jaksa melakukan koordinasi
dengan korban atau keluarganya mengenai tuntutan restitusi apabila hal itu dinginkan
oleh anak korban kekerasan atau keluarganya.
s. Memberikan surat tembusan mengenai pelimpahan perkara kepada anak korban
kekerasan/pelapor/keluarga/pendamping.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

BAB V
KOORDINASI PELAYANAN DAN PENDANAAN PENANGANAN ANAK KORBAN KEKERASAN

A. Koordinasi untuk Pelayanan Identifikasi Pengaduan

1. Koordinasi di Tingkat Pusat


Koordinasi untuk Pelayanan Identifikasi Pengaduan ditingkat pusat difasilitasi oleh Kantor
Kemneterian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan
anggota/dihadiri/melibatkan oleh pimpinan instansi/lembaga atau wakil yang ditunjuk dari :
a. Kementerian Dalam Negeri.
b. Kementerian Sosial.
c. Kementerian Kesehatan.
d. Kementerian Pendidikan Nasional.
e. Kementerian Agama.
f. Kementerian Komunikasi dan Informasi.
g. Kementerian Hukum dan HAM.
h. Kementerian Luar Negeri.
i. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
j. Kementerian Perhubungan.
k. Bappenas.
l. Kepolisian RI.
m. Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri
(BNP2TKI).
n. Badan Pusat Statistik.
o. Media massa/organisasi profesi media.
p. Organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatantingkat nasional
q. Kelompok/Forum anak tingkat nasional.
r. Pusat Pelayanan terpadu tingkat pusat.
s. Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga, Lembaga Perlindungan Saksi dan
Korban.
t. TP PKK Pusat.
u. KPAI.
2. Koordinasi di Tingkat Provinsi
Koordinasi untuk Pelayanan Identifikasi Pengaduan ditingkat provinsi difasilitasi oleh
Gubernur melalui Badan/lembaga yang menangani Pemberdayaan Perempuan dan
Perlidungan Anak dengan anggota/dihadiri/melibatkan oleh pimpinan instansi/lembaga atau
wakil yang ditunjuk dari :
a. Dinas Sosial.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

b. Dinas Kesehatan.
c. Dinas Pendidikan.
d. Kanwil Kementerian Agama.
e. BP3TKI.
f. Dinas/Biro Hukum.
g. Dinas Perhubungan.
h. Disnakertrans.
i. Bappeda.
j. Kepolisian Daerah.
k. Organisasi profesi/ organisasi sosial.
l. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk Provinsi.
m. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, Lembaga
Konsultasi Kesejahteraan Keluarga, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, dll.
n. Unit yang menangani PP dan PA.
o. TP PKK Provinsi.
p. Dinas Dukcapil.

3. Koordinasi di Tingkat Kabupaten/Kota untuk pelayanan pengaduan ada pada


Bupati/Walikota dan difasilitasi oleh Dinas/Badan yang menangani Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak. Adapun instansi yang terlibat untuk pelaksanaaan
program baik di tingkat kabupaten/kota adalah sbb:
a. Dinas/Suku Dinas Sosial.
b. Dinas/Suku Dinas Kesehatan.
c. Dinas Pendidikan Kab/Kota.
d. Kantor Kementerian Agama.
e. Dinas/Suku Dinas Nakertrans.
f. Dinas Perhubungan.
g. Bapekab/Bapeko.
h. Kepolisian Resort.
i. Organisasi profesi/organisasi sosial tingkat kab/kota.
j. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk kab/kota.
k. Pusat Pelayananan Terpadu, shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.
l. TP PKK Kabupaten/Kota.
m. Dinas Dukcapil.

B. Koordinasi Untuk Pelayanan Rehabilitasi


Kesehatan
1. Koordinasi di Tingkat Pusat

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Penanggung Jawab Pelayanan Rehabilitasi Medis ditingkat pusat ada pada Kementerian
Kesehatan. Namun Koordinasi ada pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak dengan anggota/dihadiri/melibatkan pimpinan instansi/lembaga atau
wakil yang ditunjuk dari :
a. Menkokesra.
b. Kementerian Dalam Negeri.
c. Kementerian Sosial.
d. Kementerian Kesehatan.
e. Kementerian Pendidikan Nasional.
f. Kementerian Agama.
g. Kementerian Komunikasi dan Informasi.
h. Kementerian Hukum dan HAM.
i. Kementerian Luar Negeri.
j. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
k. Bappenas.
l. Kepolisian RI.
m. Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri
(BNP2TKI).
n. Organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan tingkat nasional.
o. Kelompok/Forum anak tingkat nasional.
p. Pusat Pelayanan Terpadu tingkat pusat.
2. Koordinasi di Tingkat Provinsi
Koordinasi untuk Pelayanan Kesehatan itingkat provinsi difasilitasi oleh Gubernur melalui
Dinas Kesehatan dengan koprdinasi dengan Badan/lembaga yang menangani Pemberdayaan
Perempuan dan Perlidungan Anak dengan anggota/dihadiri oleh pimpinan instansi/lembaga
atau wakil yang ditunjuk dari :
a. Dinas Sosial.
b. Dinas Diknas.
c. Kanwil Kementerian Agama.
d. Disnakertrans.
e. Bappeda.
f. Kepolisian Daerah.
g. Organisasi profesi/organisasi sosial.
h. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk Provinsi.
i. Pusat Pelayananan Terpadu,Sshelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.

3. Koordinasi di Tingkat Kabupaten/Kota

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Penanggung jawab untuk Pelayanan Kesehatan ada pada Bupati/Walikota melalui


Dinas/suku Dinas Kesehatan dan difasilitasi oleh Dinas/Badan/kantor yang menangani
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Adapun instansi yang terlibat untuk
pelaksanaaan program baik di tingkat kabupaten/kota adalah sbb:
a. Dinas/suku dinas Sosial.
b. Dinas/Suku Dinas Kesehatan.
c. Dinas Diknas.
d. Kanwil Kementerian Agama.
e. Dinas/Suku Dinas Nakertrans.
f. Bapekab/Bapeko.
g. Kepolisian Resort.
h. Organisasi profesi/organisasi sosial tingkat kab/kota.
i. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk kab/kota.
j. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.

C. Pelayanan Rehabilitasi Sosial, Pemulangan dan


Reintegrasi Sosial
1. Koordinasi di Tingkat Pusat
Penanggung Jawab Pelayanan Program ini di tingkat pusat ada pada Kementerian Sosial RI.
Namun Koordinasi ada pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak dengan anggota/dihadiri/melibatkan pimpinan instansi/lembaga atau wakil yang
ditunjuk dari :
a. Kemenkokesra.
b. Kementerian Dalam Negeri.
c. Kementerian Kesehatan.
d. Kementerian Hukum dan HAM.
e. Kementerian Luar Negeri.
f. Bappenas.
g. Kepolisian Negara Republik Indonesia.
h. Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri
(BNP2TKI).
i. Organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan tingkat nasional.
j. Kelompok/Forum anak tingkat nasional.

2. Koordinasi di Tingkat Provinsi


Penanggung jawab untuk program ini di tingkat provinsi adalah Gubernur melalui Dinas Sosial
dengan koordinasi dengan Badan/Lembaga yang menangani

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak dengan anggota/dihadiri oleh pimpinan


instansi/lembaga atau wakil yang ditunjuk dari :
a. Dinas Sosial.
b. Dinas Diknas.
c. Disnakertrans.
d. Kanwil Kementerian Agama.
e. Disnakertrans.
f. Bappeda.
g. Kepolisian Daerah.
h. Organisasi profesi/organisasi sosial.
i. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk Provinsi.
j. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.

3. Koordinasi di Tingkat Kabupaten/Kota


Penanggung jawab untuk Pelayanan Kesehatan ada pada Bupati/Walikota melalui
Dinas/Suku Dinas Sosial dan difasilitasi oleh Dinas/Badan/kantor yang menangani
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Adapun instansi yang terlibat untuk
pelaksanaaan program baik di tingkat kabupaten/kota adalah sbb:
a. Dinas/Suku Dinas Sosial.
b. Dinas/Suku Dinas Kesehatan.
c. Dinas Pendidikan.
d. Kantor Kementerian Agama Kab/Kota.
e. Dinas/Suku Dinas Nakertrans.
f. Bapekab/Bapeko.
g. Kepolisian Resort.
h. Organisasi profesi/organisasi sosial tingkat kab/kota.
i. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk kab/kota.
j. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, LK 3, dll.

D. Koordinasi Untuk Pelayanan Hukum


1. Koordinasi di Tingkat Pusat
Penanggung Jawab Pelayanan Program ini ditingkat pusat ada pada Kementerian Hukum
dan HAM RI. Namun Koordinasi ada pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak dengan anggota/dihadiri/melibatkan pimpinan instansi/lembaga atau
wakil yang ditunjuk dari :

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

a. Mahkamah Agung.
b. Kejaksaan Agung.
c. Kementerian Sosial.
d. Kementerian Dalam Negeri.
e. Kementerian Kesehatan.
f. Kementerian Hukum dan HAM.
g. Kementerian Luar Negeri.
h. Bappenas.
i. Kepolisian RI.
j. Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri
(BNP2TKI).
k. Organisasi profesi dan organisasi sosial kemasyarakatan tingkat nasional.
l. Kelompok/forum anak tingkat nasional.

2. Koordinasi di Tingkat Provinsi


Penanggung jawab untuk program ini di tingkat provinsi adalah Gubernur melalui
Dinas/Badan/Biro Hukum dengan koordinasi dengan Badan/Lembaga yang menangani
Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak dengan anggota/dihadiri/melibatkan
pimpinan instansi/lembaga atau wakil yang ditunjuk dari :
a. Kejaksaan Tinggi.
b. Pengadilan Tinggi.
c. Dinas Sosial.
d. Dinas Pendidikan.
e. Disnakertrans.
f. Kanwil Kementerian Agama.
g. Disnakertrans.
h. Bappeda.
i. Kepolisian Daerah.
j. Perguruan Tinggi.
k. Organisasi profesi/organisasi sosial.
l. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk Provinsi.
m. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.

3. Koordinasi di Tingkat Kabupaten/Kota


Penanggung jawab untuk Pelayanan Hukum ada pada Bupati/Walikota melalui
Dinas/Suku/Biro Hukum Sosial berkoordinasi dengan Dinas/Badan/Kantor yang menangani
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Adapun instansi

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

yang terlibat untuk pelaksanaaan program baik di tingkat kabupaten/kota adalah sbb:
a. Kejaksaan Negeri.
b. Pengadilan Negeri.
c. Dinas/Suku Dinas Sosial.
d. Dinas/Suku Dinas Kesehatan.
e. Dinas Pendidikan.
f. Kantor Kementerian Agama Kab/Kota.
g. Dinas/Suku Dinas Nakertrans.
h. Bapekab/Bapeko.
i. Kepolisian Resort.
j. Perguruan Tinggi.
k. Organisasi profesi/organisasi sosial tingkat kab/kota.
l. Kelompok/Forum Peduli Anak Tk kab/kota.
m. Pusat Pelayananan Terpadu, Shelter/P2TP2A, Rumah Singgah, RPSA, RPTC, dll.

E. Pendanaan
1. APBN
Anggaran pelaksanaan penanganan anak korban kekerasan di tingkat pusat dibebankan
kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara c.q. Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak.

2. APBD
a. Anggaran pelaksanaan penanganan anak korban kekerasan di tingkat provinsi
dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi.
b. Anggaran pelaksanaan penanganan anak korban kekerasan ditingkat kabupaten/kota
dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota.

3. SUMBER LAIN
Sumber dana diperoleh dari sumber lain yang tidak mengikat.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

BAB VI
PEMANTAUAN, EVALUASI DAN PELAPORAN

Untuk mengoptimalkan pelaksanaan pedoman penanganan anak korban kekerasan yang dilakukan
unit yang menangani kekerasan terhadap anak baik milik pemerintah maupun masyarakat seperti
Pusat Pelayanan Terpadu, shelter/rumah aman, RPTC, RPSA, P2TP2A maupun Pusat Pelayanan
Terpadu yang ada dan berbasis di Rumah Sakit Bahayangkara dan sebagainya Pemerintah dan
Pemerintah Daerah perlu melaksanakan pengawasan yang berbentuk pemantauan dan evaluasi
dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan penanganan anak korban
kekerasan dan mengetahui capaian kinerjanya, Pemerintah dan Pemerintah dalam melakukan
pemantauan ini dilakukan secara berkesinambungan. Pemantauan terhadap pelaksanaan pedoman
ini dilakukan dengan cara meminta laporan tertulis setiap 6 (enam) bulan, meminta laporan
insindentil dalam hal tertentu dan melakukan rapat kerja serta dilakukan dengan mereview laporan
per semester yang telah diberikan dengan laporan-laporan terakhir. Sedangkan rapat kerja dilakukan
sekurang kurangnya 2 (dua) kali dalam setahun. Atas nama Pemerintah Daerah, unit yang menangani
pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di daerah maupun wadah yang dibentuk terkait
perlindungan perempuan dan anak misalnya gugus tugas pencegahan dan penanganan kekerasan
terhadap anak dapat melakukan pemantauan dan evaluasi.

Pemantauan dilakukan secara berjenjang sesuai dengan hierarkhi fungsi mulai dari pusat, provinsi
sampai dengan kabupaten/kota baik sendiri sendiri atau bersama-sama. Pemantauan dapat dilakukan
dengan menggunakan perangkat pemantauan berupa daftar pertanyaan, wawancara, maupun
kunjungan ke unit yang menangani anak korban kekerasan untuk melihat secara langsung kegiatan,
sarana dan prasarana SDM yang tersedia serta kendala yang dihadapi dalam hal melayani anak
korban kekerasan.

Sedang evaluasi dilakukan dengan cara meminta rencana kerja tahunan penanganan anak korban
kekerasan, meminta hasil pelaksanaan tugas, melakukan perbandingan antara perencanaan dan hasil
kerja yang dicapai dalam penanganan anak korban korban kekerasan. Hasil evaluasi dapat digunakan
oleh Pemerintah dan Pemerintah daerah sebagai pertimbangan dalam meningkatkan kinerja dari unit
yang menangani anak korban. Evaluasi dilakukan dengan cara mengolah data hasil pemantauan dan
pelaporan yang dilakukan secara berjenjang dan dilakukan secara berkala setiap 6 bulan sekali atau
sesuai kebutuhan. Setelah dilakukan evaluasi dilakukan tindak lanjut berupa pembinaan untuk
memperbaiki kinerja.

Unit yang menangani perlindungan anak pada Pemerintah Daerah menyampaikan laporan tentang
pelaksananaan penanganan anak korban kekerasan kepada

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

Pemerintah Daerah. Laporan disampaikan setelah diketahui hasil pengawasan berupa pemantauan
dan evaluasi yang telah dilakukan, serta perubahan perbaikan pelayanan anak korban kekerasan
sesuai dengan evaluasi yang telah disampaikan. Laporan disampaikan baik dalam bentuk laporan
kemajuan (progress report) maupun laporan akhir tahun (annual report). Laporan disusun, baik atas
permintaan Pemerintah atau Pemerintah Daerah maupun atas inisiatif Unit yang menangani anak
korban kekerasan. Hasil pelaporan ini akan digunakan untuk mengukur pelaksanaan pelayanan yang
telah dilakukan oleh masing-masing pelaksana pelayanan.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

VII
PEN
UTU
P
Penanganan terhadap anak korban kekerasan merupakan serangkaian upaya berbagai pihak, baik
pemerintah maupun masyarakat yang dilakukan secara integratif dan komprehensif.

Pada pelaksanaan penanganannya dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak baik nasional, provinsi
maupun kabupaten/kota secara lintas sektoral serta masyarakat sesuai dengan tugas, fungsi dan
kewenangan masing masing.

Pada kerangka tersebut maka perlu adanya persamaan persepsi/pemahaman tentang partisipasi anak
bagi semua jajaran pelaksana program/kegiatan baik nasional, provinsi maupun kabupaten/kota,
serta masyarakat. Dengan adanya kesamaan pemahaman tersebut diharapkan lebih mempermudah
dalam melakukan koordinasi dan kerjasama lintas sektoral dalam rangka mengefektifkan pelaksanaan
penanganan pelayanan anak korban kekerasan.

Upaya untuk mewujudkan kesamaan pemahaman tersebut salah satunya dengan menyusun buku
pedoman penanganan anak korban kekerasan. Semua pihak yang menerima buku ini diharapkan
dapat melakukan upaya perlindungan anak disektor kerja masing-masing.

Keberhasilan pelaksanaan pelayanan penanganan anak korban kekerasan ini sangat tergantung pada
komitmen dan peranserta semua pihak dalam rangka pemenuhan hak- hak anak Indonesia. Untuk
menjamin keberhasilan harus dilakukan monitoring dan evaluasi secara bersama-sama agar apa yang
menjadi tujuan program terhadap perlindungan anak Indonesia dapat tercapai.

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

LAMPIRAN
FORMULIR DATA ANAK KORBAN KEKERASAN

No. Reg. : _ Cara datang :


Hari/Tgl. :_ 1. Datang Sendiri
Relawan/Staf: _ 2. Rujukan
Manager/Staf :  Polisi
 Rumah Sakit
 Lembaga lain (sebutkan)

A. IDENTITAS KLIEN
1. Nama :

2. Tempat/tgl. Lahir :

3. Nama Orangtua :

4. Alamat :

Kel.: _ Kec.:
No. Tel.: HP : _

5. Pendidikan saat ini : a. Tidak sekolah b. TK c. SD


d. SLTP e. SLTA f. PT
6. Agama/Kepercayaan:a.Islam b. Kristen c. Khatolik
d. Hindu e. Budha f. KongHuCu
7. Pekerjaan orangtua : a. Guru/Dosen b. Peg. Swasta c. Buruh

d. TNI/Polri e. Pelajar/Mhs f.PNS/BUMN


g. Pedagang h. Wiraswasta j. Ibu RT
k. Lainnya:

8. Status Perkawinan Orangtua : Menikah/Tidak Menikah/Sirri/Cerai/Dipoligami

9. Hubungan dengan Pelaku :

10. Jumlah Saudara :

www.djpp.depkumham.go.id
Al Riza Ayurinanda:
Melindungi Anak Usia Dini dari Kekerasan Seksual

11. Nama Saksi Pelapor :

B. IDENTITAS PELAKU
1. Nama :

2. Tempat/tgl. Lahir :

3. Alamat :

Kel.: Kec.:
No. Tel.: HP: _

4. Pendidikan : a. Tidak sekolah b. TK c. SD


d. SLTP e. SLTA f. PT/D3/D2

5. Agama/Kepercayaan:a. Islam b. Kristen c. Khatolik


d. Hindu e. Budha f. KongHuCu
6. Pekerjaan : a. Guru/Dosen b. Peg. Swasta c. Buruh
d. TNI/Polri e. Pelajar/Mhs f.PNS/BUMN
g. Pedagang h. Wiraswasta j. Ibu RT
k. Lainnya:

7. Status Perkawinan : Menikah/Tidak Menikah/Sirri/Cerai/Dipoligami

8. Hubungan Korban :

C. ASESSMENT (Pengungkapan Masalah)


 Kronologis :

www.djpp.depkumham.go.id
 Upaya Yang Pernah dilakukan :

 Permasalahan yang didalami :

 Harapan klien (Keinginan Klien) :

www.djpp.depkumham.go.id
D. Penilaian Mental (Menggunakan Hamilton Scale)

E. Jenis dan Dampak Kekerasan


a. Jenis Kekerasan
 Bentuk :
* Kekerasan terhadap perempuan :
Seksual Fisik Psikis Penelantaran Berlapis

* Kekerasan terhadap Anak :


Seksual Fisik Psikis Penelantaran Berlapis

 Lokasi :
Rumah tangga Tempat kerja Sekolah Tempat umum Lainnya

www.djpp.depkumham.go.id
b. Dampak
Kesehatan Fisik

Kesehatan Jiwa

Perilaku Tidak Sehat

Kesehatan Reproduksi

Kondisi Kronis

Ekonomi

Anak/Keluarga

Lain-lain

F. Rencana Intervensi
a. Jenis Pelayanan
 Pelayanan medis : ya / tidak
Bila ya klien dirujuk ke .......................................................................................
 Pelayanan psikososial
* konseling individu oleh ....................................................................................

www.djpp.depkumham.go.id
* support group .................................................................................................
* konseling keluarga oleh...................................................................................

 Pelayanan hukum
* konseling hukum .............................................................................................
* mediasi ...........................................................................................................
* pendampingan hukum ....................................................................................
* proses hukum .................................................................................................
b. Jangka waktu pelayanan
pendek (3-6 Bulan) menengah (6-9 Bulan) panjang (< - 9 Bulan)

G. Pelaksanaan Intervensi
Layanan yang diberikan
No Jenis Layanan-layanan Waktu Hasil

www.djpp.depkumham.go.id
H. Terminasi
- Waktu terminasi : ........................................................................................
- Alasan : .......................................................................................

Jakarta,.............................................
Manager Kasus

( )

FD.2

Lembar Persetujuan Intervensi

Dengan ini Saya yang mendatangani dibawah ini menyatakan bahwa petugas P2TP2A Provinsi DKI
Jakarta telah menjelaskan kepada saya tentang tujuan, manfaat dan langkah-langkah penanganan
dan saya telah memahami sepenuhnya.
Selanjutnya saya menyetujui dilakukannya proses penanganan tersebut terhadap diri Saya/terhadap
anak/anak perwalian/.......

Tanda tangan saya / Orang tua / Wali

www.djpp.depkumham.go.id
Laporan Pemeriksaan Psikologis /
Konseling
Nama Konselor :

Tanggal Konselor :

Jakarta, ..................................
Konselor

( ................................................ )

www.djpp.depkumham.go.id
Laporan Pendampingan /
Home Visit
Staff / Relawan yang melakukan pendampingan / Home Visit : Tanggal Pendampingan /
Home Visit :

Jakarta, ..................................
Pendamping

( ................................................ )

www.djpp.depkumham.go.id
PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN
ANAK (P2TP2A) PROVINSI DKI JAKARTA

Jl. Raya Bekasi Timur Km.18, Pulo Gadung, Jakarta Timur 13250
Telp. 021-4788 2898, Fax. 021-4788 2899

No. :
Hal : Rujukan Kepada :
Yth, ............

Dengan hormat,

Mohon bantuan untuk penanganan lebih lanjut bagi :

Nama :
.............................................................................................................
Umur :
.............................................................................................................
Masalah/Kasus :
.............................................................................................................
Hasil Pemeriksaan :
.............................................................................................................

.............................................................................................................
Pertolongan yang :
.............................................................................................................
telah diberikan
.............................................................................................................

.............................................................................................................
Bantuan lebih lanjut :
.............................................................................................................
Yang diharapkan
.............................................................................................................

.............................................................................................................

www.djpp.depkumham.go.id
Atas perhatian dan kerjasama yang baik diucapkan terima kasih.

Jakarta, ..........................
Ketua P2TP2A

(.........................................)

Lembar 1. Untuk Intitusi Rujukan


2. Arsip P2TP2A

MENTERI NEGARA
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA,

LINDA AMALIA SARI

www.djpp.depkumham.go.id
PERATURAN
MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 6 TAHUN 2011
TENTANG
PANDUAN PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP ANAK DI LINGKUNGAN
KELUARGA, MASYARAKAT, DAN LEMBAGA PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK


REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari kekerasan


dan diskriminasi serta bentuk-bentuk eksploitasi baik ekonomi, seksual,
penelantaran, ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya;

bahwa Pasal 72 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang


Perlindungan Anak mengamanatkan orang perorangan, masyarakat,
b. lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga pendidikan untuk
berperan dalam perlindungan anak, termasuk didalamnya melakukan
upaya pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungannya;

bahwa di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan


masih banyak anak yang mengalami kekerasan fisik maupun psikis
sehingga diperlukan upaya untuk melakukan pencegahan terjadinya
kekerasan terhadap anak;
c.
bahwa untuk meningkatkan peran keluarga, masyarakat dan lembaga
pendidikan dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak,
diperlukan panduan pencegahan kekerasan

d.

www.djpp.depkumham.go.id
terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga
pendidikan;

e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf


a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu menetapkan Peraturan Menteri
Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tentang
Panduan Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan
Keluarga, Masyarakat dan Lembaga Pendidikan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235);

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan


Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik
2. Indonesia Tahun 2004 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4419);

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan


Tindak Pidana Perdagangan Orang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara
3. Republik Indonesia Nomor 4720);

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 181, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4928);
4.
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi
dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
5. Republik Indonesia Nomor 4737);

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014;

Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan


dan Pengangkatan Menteri Negara Kabinet Indonesia Bersatu II;
6.

7.

www.djpp.depkumham.go.id
MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN


PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA TENTANG PANDUAN
PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP ANAK DI LINGKUNGAN
KELUARGA, MASYARAKAT, DAN LEMBAGA PENDIDIKAN.

Pasal 1

Panduan Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Keluarga,


Masyarakat dan Lembaga Pendidikan meliputi program yang perlu dilakukan
di lingkungan keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan dalam upaya
mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.

Pasal 2
Program pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 meliputi:
a. peningkatan pemahaman hak asasi manusia termasuk di dalamya
hak-hak anak dan kesetaraan gender;
b. peningkatan kesadaran hukum dan dampak kekerasan terhadap anak;
c. pengintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak
dalam program pemberdayaan keluarga; dan
d. penguatan pendidikan anti kekerasan sejak dini di tingkat keluarga.

Pasal 3

Program pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan masyarakat


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 meliputi:
a. peningkatan pemahaman hak asasi manusia termasuk di dalamnya
hak-hak ada dan kesetaraan gender;
b. peningkatan kesadaran masyarakat tentang hukum dan dampak
kekerasan terhadap anak;
c. penintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak dalam
program pemberdayaan masyarakat;
d. penguatan peran komunitas peduli anak melalui pelatihan pola
pengasuhan anak; dan

www.djpp.depkumham.go.id
e. mendorong upaya penegakan ketentuan peraturan perundang-
undangan untuk mencegah kekerasan terhadap anak.

Pasal 4

Program pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan lembaga


pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 meliputi:
a. peningkatan pemahaman tenaga pendidikan, tenaga kependidikan
dan peserta didik tentang hak-hak anak dan kesetaraan gender; dan
b. pengembangan tata tertib dan peraturan sekolah yang ramah anak
yang berperspektif gender.

Pasal 5

Mengenai kegiatan dan pelaksana dari pencegahan kekerasan terhadap anak


di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3 dan Pasal 4 adalah sebagaimana
ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.

Pasal 6

Panduan Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Lingkungan Keluarga,


Masyarakat dan Lembaga Pendidikan menjadi acuan bagi
kementerian/lembaga masyarakat, lembaga swasta, perguruan tinggi dan
lembaga pendidikan dalam melaksanakan program pencegahan kekerasan
terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan.

Pasal 7

Keluarga dalam melaksanakan program Panduan ini dapat dilakukan dengan


mengintegrasikan pencegahan kekerasan terhadap anak melalui pola
pengasuhan dalam keluarga yang bebas dari kekerasan.

Pasal 8

Masyarakat dalam melaksanakan program Panduan ini dapat dilakukan


dengan mengintegrasikan pencegahan kekerasan melalui penguatan peran
komunitas peduli anak.

www.djpp.depkumham.go.id
Pasal 9

Lembaga pendidikan dalam melaksanakan program Panduan ini dapat


dilakukan dengan mengintegrasikan pencegahan kekerasan terhadap anak
melalui mata pelajaran yang relevan dan ekstrakurikuler

Pasal 10

(1) Dalam melaksanakan Panduan Pencegahan Kekerasan terhadap


Anak di Lingkungan Keluarga, Masyarakat dan Lembaga Pendidikan,
Deputi Bidang Perlindungan Anak melaksanakan:
a. rapat koordinasi secara berkala minimal 2 (dua) kali dalam 1 (satu)
tahun yang diikuti oleh seluruh kementerian/lembaga terkait,
organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat yang
terlibat dalam pelaksanaan program dan kegiatan; dan
b. sosialisasi dan advokasi kepada Pemerintah Daerah tentang
Panduan Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Lingkungan
Keluarga, Masyarakat dan Lembaga Pendidikan.

(2) Rapat koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a


bertujuan untuk memantau, membahas masalah dan hambatan serta
mensinergikan pelaksanaan langkah-langkah kegiatan pencegahan
kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat dan
lembaga pendidikan.

Pasal 11

Pemerintah Daerah dalam melaksanakan Panduan Pencegahan Kekerasan


Terhadap Anak di Lingkungan Keluarga, Masyarakat dan Lembaga
Pendidikan melakukan:
a. fasilitasi, sosialisasi dan advokasi tentang pencegahan kekerasan
terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat, atau lembaga
pendidikan;
b. kerjasama dan koordinasi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
c. pemantauan dan evaluasi tentang pelaksanaan pencegahan
kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat, dan
lembaga pendidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan
d. pencatatan dan pelaporan tentang pelaksanaan upaya pencegahan

www.djpp.depkumham.go.id
kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat, dan lembaga
pendidikan.

Pasal 12

(1) Pendanaan pelaksanaan kegiatan pencegahan kekerasan terhadap


anak di lingkungan keluarga, masyarakat, dan pendidikan dibebankan
pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
kementerian/lembaga yang bersangkutan, Anggaran Pendapatan
Belanja Daerah (APBD), serta dari sumber-sumber lain yang sah
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2) Pendanaan penyelenggaraan kegiatan pencegahan kekerasan


terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat, dan pendidikan
dapat diperoleh dari :
a. swadaya;
b. bantuan dari pemerintah baik melalui APBN atau APBD; dan
c. bantuan dari swasta.

(3) Pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diberikan


sesuai dengan kemampuan anggaran Pemerintah/Pemerintah daerah.

Pasal 13
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

www.djpp.depkumham.go.id
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 Februari 2011
MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA,

LINDA AMALIA SARI

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 7 Februari 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

PATRIALIS AKBAR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 66

www.djpp.depkumham.go.id
LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN
PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 6 TAHUN 2011
TENTANG
PANDUAN PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP ANAK DI LINGKUNGAN
KELUARGA, MASYARAKAT DAN LEMBAGA PENDIDIKAN

PANDUAN
PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP ANAK DI
LINGKUNGAN MASYARAKAT DAN LEMBAGA
PENDIDIKAN

ASISTEN DEPUTI URUSAN KEKERASAN TERHADAP ANAK DEPUTI


PERLINDUNGAN ANAK
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
2010

www.djpp.depkumham.go.id
Daftar Isi
hal
Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
1.2. Analisa Situasi
1.3. Maksud dan Tujuan
1.3.1. Maksud
1.3.2. Tujuan
1.4. Landasan Hukum
1.5. Pengertian

Bab II Arah Kebijakan


2.1. Arah Kebijakan
2.2. Strategi

Bab III Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Masyarakat


dan Lembaga Pendidikan
3.1. Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan
Masyarakat
3.1.1. Peningkatan Pemahaman bahwa Hak Anak dan gender adalah Hak
Azasi Manusia
3.1.2. Peningkatan Kesadaran Anti Kekerasan Terhadap Anak
3.1.3. Pengintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak
dalam program pemberdayaan masyarakat
3.1.4. Penguatan pendidikan anti kekerasan sejak dini di tingkat keluarga
3.1.5. Penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan terhadap anak
3.2. Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lembaga
Pendidikan
3.2.1. Peningkatan pemahaman guru /pendidik / pengasuh dan peserta
didik / anak asuh / santri tentang Hak anak, Anti Kekerasan dan
Jender
3.2.2. Pengembangan dan sosialisasi aturan tentang pencegahan kekerasan
terhadap anak di lembaga pendidikan

Bab IV Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan BAB V


Penutup

www.djpp.depkumham.go.id
Bab I
Pendah
uluan
1.1. Latar Belakang
Kekerasan terhadap anak yang dilakukan dalam lingkungan keluarga,
masyarakat, lembaga pendidikan atau dimanapun tidak dapat dibenarkan
karena melanggar hak azasi manusia. Meskipun demikian, kekerasan
terhadap anak seringkali terjadi baik di publik baik di lingkungan keluarga,
masyarakat dan lingkungan pendidikan dalam berbagai bentuk yang
pelakunya adalah orang-orang terdekat dengan anak yang seharusnya
melindungi anak itu sendiri seperti orangtua atau guru.

Kekerasan terhadap anak tidak dapat dibenarkan baik yang dilakukan dalam
lingkungan keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan maupun negara dan
harus dilakukan upaya-upaya pencegahan. Meskipun demikian, kekerasan
terhadap anak tetap saja terjadi baik di ranah publik maupun domestik dalam
berbagai bentuknya.

Undang Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945 Pasal 28B
(2) menyatakan bahwa “Setiap anak berhak .... atas perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi”. Sedangkan untuk mencegah terjadinya
kekerasan terhadap anak Pasal 69 (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak (UUPA) menyebutkan bahwa “Perlindungan
khusus bagi anak korban kekerasan fisik, psikis, dan seksual dilakukan melalui
upaya: (a) penyebarluasan dan sosialisasi ketentuan peraturan perundang-
undangan yang melindungi anak korban tindak kekerasan; dan (b)
pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi. Sedangkan ayat (2)
menyebutkan bahwa “Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan,
melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan.”
Sedangkan Pasal 54 menyebutkan bahwa “Anak di dalam dan di lingkungan
sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru,
pengelola sekolah atau teman- temannya di dalam sekolah yang
bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.” Dengan demikian menjadi
tanggung jawab semua pihak untuk mengimplementasikan dalam aktivitas
keseharian.

Selain itu pada Pasal 72 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002


mengamanatkan masyarakat dan lembaga untuk berperan dalam
perlindungan anak, termasuk di dalamnya melakukan upaya pencegahan
kekerasan terhadap anak di lingkungannya.

Kekerasan terhadap anak merupakan kasus yang kadang tersembunyi, tidak


terlaporkan, tidak tercatat dan tidak terpublikasikan. Dikarenakan berbagai
faktor antara lain karena faktor budaya yang memposisikan anak

www.djpp.depkumham.go.id
sebagai objek dan milik penuh orang tua. Anak merasa takut mengadukan
atau menyampaikan kepada pihak lain, karena ketidaktahuan dan
ketidakmampuannya mengenali bentuk-bentuk kekerasan yang menimpa
dirinya seperti kekerasan fisik, psikis dan seksual.

Kekerasan pada anak dapat menimbulkan dampak jangka pendek maupun


jangka panjang yang bersifat serius terhadap tumbuh kembang anak. Dampak
fisik yang dialami anak berupa lebam, luka lecet, luka bakar, patah tulang
yang dapat menyebabkan kecacatan dan dampak psikis yang dialami seumur
hidup bahkan kematian. Oleh kerana itu jika hal ini tidak ditangani secara
komperehensif dapat menurunkan kualitas hidup anak sebagai generasi
penerus bangsa.

Untuk melakukan pencegahan kekerasan terhadap anak sudah seharusnya


menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah dan masyarakat dalam
berbagai bentuk organisasi baik organisasi sosial maupun organisasi
keagamaan. Khusus untuk lembaga sosial, dan keagamaan dapat digunakan
sebagai wadah sosialisasi yang efektif untuk kampanye hidup damai tanpa
kekerasan terhadap anak. Upaya lain memberikan pelatihan pada orang tua
mengenai pengasuhan ramah anak, pelatihan guru bagaimana cara
memperlakukan anak, dan bentuk upaya lain yang memberi dampak pada
terkuranginya kasus kekerasan terhadap anak. Atas dasar inilah yang
mendorong Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
menyusun “Panduan Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak Di Lingkungan
Masyarakat dan Lembaga Pendidikan.

1.2. Analisa Situasi


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2006 secara nasional, selama tahun
2006 telah terjadi sekitar 2,81 juta kekerasan terhadap anak dan sekitar 2,29
juta anak pernah menjadi korbannya. Dari sejumlah kejadian, penganiayaan
merupakan jenis kekerasan yang terbayak dialami oleh anak yaitu 53,7%
(L.59.1%; P.41,5%), selanjutnya Penghinaan 36,7% (L.31,7%; P.42,6%),
Penelantaran 10,3%, Pelecehan 3,9% (L.2,7%; P.5,4%), dan lainnya 15,2%
(L.14%; P.16,5%).

Banyak kejadian kekerasan terhadap anak baik di perkotaan dan perdesaan


ternyata penyebabnya karena ketidakpatuhan, yakni 51,9% (Perkotaan 47,4%;
Perdesaan 54,9%) sedangkan faktor ekonomi yang dianggap oleh banyak
pihak ternyata hanya sekitar 9,9% (Perkotaan 10,2%; Perdesaan 9,7%) sebagai
penyebab kekerasan. Penyebab lain terjadinya kekerasan terhadap anak
adalah perilaku buruk 18,7% (Perkotaan 18,7%; Perdesaan 13,7%) dan
cemberut 4,8% (Perkotaan 5,7%; Perdesaan 4,3%).

Bila ditelusuri siapa pelaku kekerasan, ternyata orang tua merupakan orang
yang semestinya menjadi pembimbing, pelindung, penerima

www.djpp.depkumham.go.id
pengaduan, pendendar, pemberi rasa aman dan kasih sayang justru sebagai
pelaku kekeraan. Menurut BPS, 2006, pelaku kekerasan secara berurut Orang
tua 61,4%, tetangga 6,7%, famili 3,8%, guru 3%, lengkapnya lihat tabel.

Tabel. Kekerasan Terhadap Anak Menurut Pelaku (%)


Pelaku Perkotaan Pedesaan Total
Orangtua 56,5 64,6 61,4
Famili 4,1 3,6 3,8
Tetangga 8 5,8 6,7
Majikan 0,8 0,1 0,4
Rekan kerja 0,9 0,7 0,8
Guru 2,8 3,1 3
Lainnya 26,8 21,9 23,9
Sumber: BPS, 2006

Rumah menurut BPS merupakan tempat kejadi perkara yang tertinggi


yaitu 73,1%, selanjutnya tempat umum 23,2%, dan selebihnya tempat
kerja (lihat gbr).
Gbr. Kekerasan terhadap anak menurut Tempat
Kejadian

100

50

0
Rumah Luar T4 kerja Dua t4
Total 73,1 23,2 0,8 3,1
Perkotaan 70,5 27,2 0,8 1,4
Pedesaan 74,8 20,7 0,5 4

Sumber: BPS, 2006

Dari sejumlah kejadian kekerasan terhadap anak yang sangat dirasakan


akibatnya adalah sakit hati. Menurut BPS, 2006 dari sejumlah akibat yang
dirasakan oleh anak korban kekerasan sakit hati merupakan hal yang sangat
terekam dengan baik dalam hati korban. Jika sejumlah persentase korban ini
akan berontak, maka dikhawatirkan anak-anak tersebut menjadi pendendam.
Persentase lengkap lihat tabel berikut.

Tabel. Kekerasan Terhadap Anak menurut Akibat terberat dirasakan (%)


Akibat Perkotaan Perdesaan Total
Luka/cacat 8,4 7,7 8,0
Stress/depresi 10,2 5,5 7,4

www.djpp.depkumham.go.id
Sakit hati 49,3 52,5 51,2
Materi 6,5 6,2 6,3
Lainnya 25,7 28,1 27,1
Sumber: BPS, 2006

1.3. Maksud dan Tujuan


1.3.1. Maksud
Panduan ini menjadi acuan bagi instansi pemerintah dan lembaga masyarakat
dalam melaksanakan pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan
keluarga, masyarakat dan di lembaga pendidikan.

1.3.2. Tujuan
Tujuan Umum
Mewujudkan lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan yang
ramah anak.
1.4. Tujuan Khusus
1. Tersedianya media KIE tentang pencegahan kekerasan terhadap anak
di keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan.
2. Tersosialisasinya program-program anti kekerasan terhadap anak di
keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan
3. Terbentuknya forum peduli anak yang melaksanakan kegiatan
pencegahan kekerasan terhadap anak di tingkat masyarakat
4. Terbentuknya forum peduli anak yang melibatkan partisipasi siswa
sekolah dalam melaksanakan kegiatan pencegahan kekerasan
terhadap anak di lembaga pendidikan
5. Tersedianya data tentang kekerasan terhadap anak di lingkungan
keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan yang ramah anak
6. Terlaksanya pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan
pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga,
masyarakat dan lembaga pendidikan yang ramah anak
7. Meningkatnya kerjasama keluarga, masyarakat dan lembaga
pendidikan dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak.

Sasaran
1.5. Langsung
Pendidik, orangtua, toga, toma, ormas, teman sebaya, pengelola program
lintas sektor terkait

Tidak Langsung
Akademisi, organisasi profesi, LSM, aparat penegak hukum

1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak


yang masih dalam kandungan.
2. Diskriminasi adalah segala bentuk perlakuan yang menghasilkan
pembedaan baik di lingkup keluarga, masyarakat dan negara.
3. Kekerasan terhadap anak adalah setiap perbuatan terhadap anak

www.djpp.depkumham.go.id
dengan atau tanpa tujuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara seksual, fisik, mental, termasuk diskriminasi
penelantaran dan perlakuan buruk yang mengancam integritas tubuh
anak dan merendahkan martabat dalam masa tumbuh kembangnya.
4. Kekerasan seksual adalah tindakan seksual yang dilakukan pada anak
pemaksaan hubungan seksual terhadap seorang anak dalam berbagai
bentuk Bentuk-bentuk kekerasan ini antara lain diperkosa, pemaksaan
hubungan seksual, perkawinan usia dini, anak disodomi, diraba-raba
alat kelaminnya, diremas-remas payudaranya, dicolek pantatnya, dan
diraba-raba pahanya.
5. Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit,
jatuh sakit, atau luka berat. Bentuk-bentuk kekerasan ini antara lain
dipukul, dijambak, ditendang, diinjak, dicubit, dicekik, dicakar,
ditempel besi panas, dipukul dengan karet timba, dijewer, dan lain-lain
(Studi Sekretaris Jenderal PBB tentang kekerasan terhadap anak).
6. Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan,
hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak,
rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada anak.
Bentuk-bentuk kekerasan ini antara lain dihina, dicaci-maki, diejek,
dipaksa melakukan sesuatu dan atau tidak melakukan yang tidak
dikehendaki, dan diancam.
7. Kekerasan yang diakibatkan tradisi adat adalah kekerasan yang
bersumber pada praktik-praktik budaya dan interpretasi ajaran agama
yang salah sehingga anak ditempatkan pada posisi sebagai milik orang
tua atau komunitas. Bentuk-bentuk kekerasan ini antara lain dipaksa
kawin pada usia muda bagi anak perempuan, ditunangkan, dipotong
jari jika keluarganya meninggal, mahar pernikahan (belis), menjadi
joki kuda, dan lain-lain.
8. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terisiri dari
suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya,
atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai
dengan derajat ketiga
9. Lingkungan masyarakat terdiri dari ranah domestik dan ranah publik
10. Lembaga pendidikan formal, informal, dan non formal adalah tempat
tersedianya layanan dan fasilitas yang bertujuan untuk memberikan
kontribusi dalam pendidikan dan pengetahuan terhadap anak.
11. Perlakuan salah terhadap anak adalah semua bentuk kekerasan
terhadap anak yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya
bertanggung jawab dan/atau mereka yang memiliki kuasa atas anak,
yang seharusnya dapat dipercaya yaitu orang tua, keluarga dekat,
guru, pembina, aparat penegak hukum, pengasuh dan pendamping
(World Health Organization).
12. Penelantaran anak adalah tindakan segaja atau tidak sengaja yang
mengakibatkan tidak terpenuhi kebutuhan dasar anak untuk tumbuh
kembang secara fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual
(World Health Organization).

www.djpp.depkumham.go.id
13. Pencegahan adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan
berbagai faktor yang menyebabkan dan melestarikan segala bentuk
kekerasan terhadap anak.
14. Kesetaraan Gender adalah hasil dari ketiadaan diskriminasi
berdasarkan jenis kelamin atas dasar kesempatan, alokasi sumber
daya atau manfaat dan akses terhadap pelayanan.

Bab II
Arah
Kebijakan
2. Arah Kebijakan
1. Upaya pencegahan kekerasan terhadap anak merupakan bagian
1.
integral dari hak asasi manusia yang harus di lakukan oleh
keluarga, masyarakat, pemerintah termasuk lembaga pendidikan
2. Penyelenggaraan perlindungan anak yang dilakukan oleh Kelurga,
masyarakat, pemerintah termasuk lembaga pendidikan harus
mengutamakan kepentingan terbaik untuk tumbuh kembang anak
secara optimal yang bebas dari diskriminasi dan kekerasan.
3. Pelaksanaan upaya pencegahan terhadap kekerasan pada anak
dilakukan melalui kerjasama semua unsur terkait di lingkungan
pemerintah dan pemerintah daerah dan melibatkan partisipasi
masyarakat.

Strategi
Strategi upaya pencegahan adalah sebagai berikut:
2.2 1. Penyusunan media KIE tentang upaya pencegahan kekerasan terhadap
keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan
2. Penggalangan peran serta berbagai media komunikasi dalam penyebar
luasan media KIE tentang pencegahan kekerasan terhadap anak
3. Peningkatan peran serta lembaga pemerintah, masyarakat,
keagamaan dan dunia usaha dalam optimalisasi pencegahan
kekerasan terhadap anak di lingkungan masyarakat dan lingkungan
pendidikan.
4. Pemanfaatan rumah ibadah dan institusi pendidikan formal dan non
formal sebagai wadah sosialisasi mengenai dampak kekerasan
terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga
pendidikan.
5. Pemberdayaan keluarga dalam kegiatan program pencegahan
kekerasan terhadap anak.
6. Penguatan kemampuan teman sebaya sebagai agen perubah dalam
mengurangi akibat kekerasan terhadap anak di lingkungan masyarakat
dan lingkungan pendidikan.
7. Pemanfaatan forum-forum anak yang ada di semua wilayah.
8. Pengawasan dan monitoring berbagai program pencegahan di

www.djpp.depkumham.go.id
l ikan.
i
n
g
k
u
n
g
a
n

k
e
l
u
a
r
g
a
,

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t

d
a
n

l
e
m
b
a
g
a

p
e
n
d
i
d

www.djpp.depkumham.go.id
9. Meningkatkan upaya pencegahan kekerasan pada anak melalui
program UKS
10. Penggalangan peran serta berbagai media komunikasi dalam penyebar
luasan informasi.
11. Peningkatan peran serta lembaga pemerintah, masyarakat,
keagamaan dan dunia usaha dalam optimalisasi pencegahan
kekerasan terhadap anak di lingkungan masyarakat dan lingkungan
pendidikan.
12. Pemanfaatan rumah ibadah sebagai wadah sosialisasi mengenai
bahaya kekerasan terhadap anak di lingkungan masyarakat dan
lingkungan pendidikan.
13. Pemberdayaan keluarga dalam pencegahan kekerasan terhadap anak.
14. Penguatan kemampuan teman sebaya sebagai agen perubah dalam
mengurangi akibat kekerasan terhadap anak di lingkungan masyarakat
dan lingkungan pendidikan.
15. Pemanfaatan forum-forum anak yang ada di semua wilayah

Bab III
Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan
Keluarga, Masyarakat dan Lembaga Pendidikan

3.1. Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di


Lingkungan Keluarga
3.1.1. peningkatan pemahaman hak asasi manusia termasuk di dalamnya hak-
hak anak dan kesetaraan gender
Output:
1. Setiap anggota keluarga memahami hak dan kewajibannya masing-
masing
2. Keluarga memahami bahwa anak mempunyai hak yang harus
dihargai, dihormati dan dipenuhi
3. Keluarga memahami tentang kesetaraan dan keadilan gender yang
harus dihargai, dihormati dan dipenuhi
Kegiatan dan Pelaksana:
1. Peningkatan pemahaman anggota keluarga (pendidikan
keorangtuaan, pola asuh, komunikasi dg anak) : Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kemnterian
Agama, Lembaga Masyarakat, Perguruan Tinggi, Kementrian
Pendidikan Nasional

2. Peningkatan peran anggota keluarga dalam melindungi dan


memenuhi hak anak dan gender: Unit yang menangani PP dan PA
Kab/Kota, Kantor Agama di Kab/Kota, Lembaga Masyarakat,
Perguruan Tinggi, kementrian pendidikan

www.djpp.depkumham.go.id
3.1.2. Peningkatan kesadaran hukum dan dampak kekerasan terhadap anak;

Output:
1. Keluarga menyadari bahwa kekerasan terhadap anak adalah tindakan
pidana
2. Keluarga menyadari bahwa perlunya perlindungan bagi anak dari
segala bentuk kekerasan
Kegiatan dan Pelaksana:
1. Keluarga mengembangkan keharmonisan, budaya damai dalam
keluarga: Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian
Agama, Kementerian Komunikai dan Informatika, dan Media Massa
2. Keluarga mengembangkan pola asuh yang ramah anak (child
friendly): Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kesehatan,
Kementerian Sosial, BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak

3.1.3. Pengintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak dalam


rogram pemberdayaan keluarga;

Output:
1. Adanya program pencegahan kekerasan terhadap anak yang
terintegrasi dalam program pemberdayaan keluarga
2. Meningkatnya pemahaman keluarga sebagai sasaran program
pemberdayaan tentang anti kekerasan terhadap anak
Kegiatan dan Pelaksana:
1. Menyusun materi pengintegrasian program pencegahan kekerasan
terhadap anak dalam program pemberdayaan keluarga: Kementerian
Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Dalam Negeri
2. Melakukan advokasi pada lembaga terkait yang mengelola program
pemberdayaan keluarga untuk mengintegrasikan program
pencegahan kekerasan thd anak: Kemementerian Sosial, Kementerian
Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak

3.1.4.. . Penguatan pendidikan anti kekerasan sejak dini di tingkat keluarga

Output:
Anak memahami, mampu mencegah dan
melaporkan kekerasan yang terjadi pada dirinya,
di lingkungan atau dalam keluarga
Kegiatan dan Pelaksana:

www.djpp.depkumham.go.id
3.1.5. Peningkatan pemahaman konsekwensi hukum pelaku kekerasan
terhadap anak
Output:
Meningkatkan pemahaman keluarga terhadap konsekwensi hukum bagi
pelaku kekerasan terhadap anak

3.2. Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di


Lingkungan Masyarakat
3.2.1. Peningkatan pemahaman hak asasi manusia termasuk didalamnya hak-
hak anak dan kesetaraan gender ;

Output:
1. Masyarakat memahami bahwa anak mempunyai hak anak yang harus
dihargai, dihormati dan dipenuhi
2. Masyarakat memahami tentang kesetaraan dan keadilan jender yang
harus dihargai, dihormati dan dipenuhi
Kegiatan dan Pelaksana:
1. Pengintegrasian pemahaman hak anak dan gender dalam pelatihan pra
nikah: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak, Kemeterian Agama, Lembaga Masyarakat, Perguruan Tinggi
2. Peningkatan pemahaman kader masyarakat (toga, toma dll): Unit yang
menangani PP dan PA Kab/Kota, Kantor Agama di Kab/Kota, Lembaga
Masyarakat, Perguruan Tinggi
3. Peningkatan peran kader masyarakat (toma, toga dll) dalam
memberikan penyuluhan tentang hak anak dan gender, pemberdayaan
keluarga kepada masyarakat: Unit yang menangani PP dan PA
Kab/Kota, Kantor Agama di Kab/Kota, Lembaga Masyarakat,
Perguruan Tinggi

3.2.2. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang hukum dan dampak


kekerasan terhadap anak;

Output:
1. Masyarakat menyadari bahwa kekerasan terhadap anak adalah
tindakan pidana
2. Masyarakat menyadari bahwa perlunya perlindungan bagi anak dari
segala bentuk kekerasan
Kegiatan dan Pelaksana:
1. Mengerakkan anggota masyarakat untuk mensosialisasikan anti
kekerasan : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak, Kominfo, Pemda Provinsi/Kab/Kota, Lembaga Masyarakat,
Perguruan Tinggi
2. Peningkatan peran serta masyarakat untuk ikut mengawasi ekspos
kekerasan di media massa tanpa mengeksploitasi kasus anak: Orsos,
Lembaga Masyarakat, Forum Anak, perguruan tinggi

www.djpp.depkumham.go.id
3. Menyebarluaskan informasi anti kekerasan terhadap anak melalui
forum komunikasi yang ada: Pemda Provinsi/Kab/Kota, Orsos,
Lembaga Masyarakat, Forum Anak, Perguruan Tinggi
4. Membentuk dan mengembangkan kelompok sebaya (peer group)
dalam melakukan kampanye pencegahan kekerasan terhadap anak:
Pemda Provinsi/Kab/Kota, Orsos, Lembaga Masyarakat, Forum Anak

3.2.3. Pengintegrasian program pencegahan kekerasan terhadap anak


dalam program pemberdayaan masyarakat;

Output:
1. Adanya program pencegahan kekerasan terhadap anak yang
terintegrasi dalam program pemberdayaan masyarakat
2. Meningkatnya pemahaman keluarga dan masyarakat sasaran program
pemberdayaan tentang anti kekerasan terhadap anak
Kegiatan dan Pelaksana:
1. Menyusun materi pengintegrasian program pencegahan kekerasan
terhadap anak dalam program pemberdayaan masyarakat:
Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian
Dalam Negeri
2. Melakukan advokasi pada lembaga terkait yang mengelola program
pemberdayaan masyarakat untuk mengintegrasikan program
pencegahan kekerasan thd anak: Kemementerian Sosial, Kementerian
Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak

3.2.4. Penguatan peran komunitas peduli anak melalui pelatihan pola


pengasuhan anak
Output:
Anak memahami, mampu mencegah dan melaporkan kekerasan yang
terjadi pada dirinya, di lingkungan atau dalam lingkungan masyarakat
Kegiatan dan Pelaksana:
1. Mengembangkan budaya damai dalam masyarakat : Kementerian
Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Agama,
Kementerian Komunikai dan Informatika, dan Media Massa
2. Integrasi pencegahan kekerasan dalam kurikulum PAUD:
Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kesehatan,
Kementerian Sosial, BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak
3. Memberdayakan anggota masyarakat dalam mengembangkan anti
kekerasan terhadap anak (pola asuh anti kekerasan terhadap anak):
Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kesehatan,
Kementerian Sosial, BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak, Lembaga Masyarakat dan Lembaga Swasta

www.djpp.depkumham.go.id
3.2.5. mendorong upaya penegakan ketentuan peraturan perundang-undangan
untuk mencegah kekerasan terhadap anak.
Output:
Pemberian sanksi hukum yang berat terhadap pelaku kekerasan terhadap
anak
Kegiatan dan Pelaksana:
1. Meningkatkan peran masyarakat dalam mengawasi proses penegakan
hukum terhadap pelaku tindak kekerasan terhadap anak: Kementerian
Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak, Lembaga Masyaraka, Lembaga Swasta, dan
Media Massa
2. Pemberdayaan pemolisian masyarakat (polmas) dalam pencegahan
kekerasan terhadap anak: Mabes Polri, Polda, Polres, Polsek

3.3. Program Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di


Lembaga Pendidikan
3.3.1. Peningkatan pemahaman tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan
peserta didik tentang hak-hak anak dan kesetaraan gender;
Output:
Guru / pendidik / pengasuh dan peserta didik /anak asuh / santri
memahami tentang hak anak, anti kekerasan dan jender

Kegiatan dan Pelaksana:


1. Peningkatan pemahaman tentang hak anak, anti kekerasan dan gender
kepada guru/pendidik/pengasuh : Kementerian Pendidikan Nasional,
Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Agama,
BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak, Lembaga Masyarakat dan Lembaga Swasta
2. Peningkatan pemahaman tentang hak anak, anti kekerasan dan gender
kepada peserta didik/anak asuh/santri: Kementerian Pendidikan
Nasional, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian
Agama, BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, Lembaga Masyarakat dan Lembaga Swasta
3. Memantapkan pembentukan kelompok sebaya (peer group) dalam
pencegahan kekerasan terhadap anak di lembaga pendidikan: Pemda
Provinsi/Kab/Ko, Orsos, Lembaga Masyarakat, Forum Anak
4. Mengintegrasikan program pencegahan kekerasan terhadap anak di
lembaga pendidikan pada wadah kegiatan yang telah ada (Pramuka,
UKS, Paskibra, PMR, Kelompok Jurnalistik Sekolah, dll): Polri
Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kesehatan,
Kementerian Sosial, Kementerian Agama, BKKBN, Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lembaga

www.djpp.depkumham.go.id
Masyarakat dan Lembaga Swasta, Kwarnas
5. Perbaikan kurikulum nasional yang lebih responsif gender dan
responsif anak : Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian
Agama, Kementerian Pemuda dan Olahraga

3.3.2. Pengembangan tata tertib dan peraturan sekolah yang ramah anak
dan berperspektif gender;

Output:
Adanya aturan yang tersosialisasi tentang pencegahan kekerasan terhadap
anak di lembaga pendidikan
Kegiatan dan Pelaksana:
1. Advokasi penyusunan aturan pencegahan kekerasan terhadap anak di
lembaga pendidikan : Dinas Pendidikan, Kantor Agama Kab/Kota.
2. Sosialisasi peraturan pencegahan kekerasan terhadap anak di lembaga
pendidikan: Dinas pendidikan, Kantor Agama Kab/kota, Orsos,
Lembaga Masyarakat, Forum Anak
3. Memantapkan partisipasi anak dalam menyusun dan mengembangkan
aturan pencegahan kekerasan terhadap anak di lembaga pendidikan:
Dinas pendidikan, Kantor Agama Kab/kota, Orsos, Lembaga
Masyarakat, Forum Anak, Unit yang menangani PP dan PA
4. sosialisasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan
perlindungan anak dan kesetaraan gender

www.djpp.depkumham.go.id
Bab IV
Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan

4.1. Pemantauan
Untuk memastikan semua upaya dalam pencegahan sebagaimana yang ada di
bab III, maka dibutuhkan pemantauan yang bertujuan untuk melihat
pelaksanaan program dan kegiatan pencegahan kekerasan terhadap anak di
lingkungan keluarga, masyarakat dan di lembaga pendidikan. Melalui
pemantauan ini diharapkan dapat diidentifikasi adanya hambatan, kendala dan
tantangan (anggaran, peraturan dan kapasitas) yang terjadi dalam pelaksanaan
program dan kegiatan tersebut.
Pemantauan dilakukan oleh tim secara berkala melalui koordinasi dan
monitoring langsung terhadap pelaksanaan program dan kegiatan.
Pemantauan dilakukan mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan
program dan kegiatan (siapa yang melakukan pemantauan)

4.2. Evaluasi
Unuk mengetahui dan memahami semua proses, tim melakukan pertemuan
untuk membahas hasil pemantauan. Hal ini bertujuan untuk menanggulangi
kendala/hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan program dan kegiatan yang
telah dilakukan.

4.3. Pelaporan
Pencatatan dan Pelaporan
SKPD dan Kementerian mencatat dan melaporkan pelaksanaan kegiatan.
Pencatatan dan pelaporan melalui database pencatatan dan pelaporan
perempuan dan anak korban kekerasan dilakukan setahun sekali atau
apabila diperlukan.
Bentuk pencatatan dan pelaporan disesuaikan dengan ketentuan peraturan
perundangan yang ada.

www.djpp.depkumham.go.id
Bab V Penutup
Kekerasan terhadap anak terjadi di rumah, komunitas, tempat bermain,
sekolah, dan tempat umum lainnya. Kekerasan terhadap anak merupakan
kejahatan terhadap hak-hak anak. Pasal 80 (1) UUPA menyebutkan bahwa
“Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman
kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling
banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah). Untuk
mengoptimalkan aturan ini membutuhkan kesadaran, dan komitmen
semua pihak ambil bagian guna mencegah kekerasan terhadap anak di
lingkungan masyarakat dan lingkungan pendidikan.

Demikian panduan ini disusun dengan harapan dapat mencegah kekerasan


terhadap anak di lingkungan keluarga, masyarakat, dan lembaga
pendidikan. Untuk mengoptimalkan panduan ini dibutuhkan kesadaran dan
komitmen semua pihak guna mencegah kekerasan terhadap anak.

Anda mungkin juga menyukai