Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN

GAGAL GINJAL KRONIS (G.G.K.)

Oleh : Unit Hemodialisa/Persada Hospital

UNIT HEMODIALISA
PERSADA HOSPITAL

2015
GAGAL GINJAL KRONIS PADA PASIEN HEMODIALISA

A. Konsep Dasar
1. Definisi
Gagal Ginjal Kronik atau penyakit renal tahap akhir merupakan gangguan fungsi renal
yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea
dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner dan Suddarth, 2001; 1448)

2. Etiologi
a. Infeksi, contoh Infeksi Saluran Kemih (ISK), Pielonefritis kronik, Glomerulonefritis
b. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis hipertensi, nefrosklerosis
maligna/benigna, stenosis arteria renalis.
c. Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal.
d. Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis
nodosa,sklerosis sistemik progresif
e. Gout
f. Diabetes Mellitus
g. Hiperparatiroidisme
h. Amiloidosis
i. Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis

 Penyakit glomerulus primer : penyakit glomerulus akut termasuk glomerulus progresif


cepat. Penyebab terbanyak adalah glomerulonefritis kronik
 Penyakit tubulus primer : hiperkalemia primer, hipokalemia kronik, keracunan logam
berat seperti tembaga dan cadmium
 Penyakit vascular : iskemia ginjal akibat stenosis arteri ginjal, hipertensi maligna atau
hipertensi akselerasi
 Infeksi : pielonefritis kronik, tuberculosis
 Obstruksi : batu ginjal, pembesaran prostat, struktur uretra dan tumor
 Penyakit otoimun :lupus eritematosus sistemik, poliartritis nodosa, scleroderma,
granulomatosa wagener
 Penyakit ginjal metabolic : DM, amiloidosis, nefropati analgeesik, gout,
hiperparatiroidisme primer
 Kelainan congenital : ginjal hipoplastik, ginjal polikistik

3. PATOFISIOLOGI
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan
tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang
utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi
walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan
ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut
menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri
dan haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul
disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih
jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang
80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun
sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)

Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya


diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi
setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin
berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448).

4. Stadium Gagal Ginjal


Penyakit gagal ginjal kronik umumnya dibagi menjadi 5 stadium, pembagiannya
dilakukan berdasarkan nilai GFR (Glomerular Filtration Rate) yaitu :
a. Stadium 1
Kerusakan ginjal dengan GFR normal (90 atau lebih). Kerusakan pada ginjal dapat
dideteksi sebelum GFR mulai menurun. Pada stadium pertama tujuan pengobatannya
untuk memperlambat perkembangan CKD dan mengurangi resiko penyakit jantung
dan pembuluh darah.
b. Stadium 2
Kerusakan ginjal dengan penurunan ringan pada GFR (60-89). Saat fungsi ginjal
menurun dokter memperkirakan perkembangan CKD dan memeruskan pengobatan
untuk mengurangi resiko masalah kesehatan lain.
c. Stadium 3
Penurunan lanjut pada GFR (30-59). Saat fase stadium ini, anemia dan masalah tulang
menjadi semakin umum.
d. Stadium 4
Penurunan berat pada GFR (15-29). Pengobatan semaksimal mungkin untuk
komplikasi CKD. Bila memilih Hemodialisis membutuhkan tindakan memperbesar
dan memperkuat pembuluh darah dalam lengan agar siap menerima pemasukan jarum
secara sering. Jika dialysis peritonea, kateter harus ditanam dalam perut. Atau
meminta anggota keluarga atau teman untuk menyumbang satu ginjal untuk
dicangkok.
e. Stadium 5
Kegagalan ginjal (GFR <15). Saat ginjal tidak bekerja cukup untuk menahan
kehidupan dan akan membutuhkan dialysis atau pencangkokan ginjal.
Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test ) dapat digunakan
dengan rumus :

Clearance creatinin ( ml/ menit ) = ( 140-umur ) x berat badan ( kg )


72 x creatinin serum
*Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0,85

5. Manifestasi Klinis
a. Sistem Gastrointestinal
1) Anoreksia, nausea, vomitus yang berhubungan dengan gangguan metabolism
protein.
2) Foter uremik disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur diubah oleh
bakteri di mulut menjadi ammonia sehingga nafas berbau ammonia.
b. Kulit
1) Kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning-kuningan akibat penimbunan
urokrom. Gatal-gatal dengan ekskoriasi akibat toksik uremik dan pengendapan
kalsium di pori-pori kulit.
2) Ekomosis akibat gangguan hematologis.
3) Urea frost akibat kristalisasi urea yang ada pada keringat.
c. Sistem Hematologi
1) Berkurangnya produksi eritropoitin, sehingga rangsangan eritropoisis pada
sumsum tulang menurun.
2) Hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik.
3) Defisiensi besi, asam folat akibat nafsu makan yang kurang.
4) Perdarahan pada saluran cerna dan kulit.
5) Fibrosis sumsum tulang akibat heiperparatiroidisme sekunder.
6) Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia akibat agregasi dan adhesi
trombosit yang berkurang serta menurunnya factor trombosit III dan adenosis
difosfat.
d. Sistem Saraf dan Otot
1) Rees ties leg syndrome: pasien merasa pegal pada kakinya sehingga selalu
digerakkan.
2) Burning feet syndrome: rasa kesemutan dan seperti terbakar terutama ditelapak
kaki.
3) Ensefalopati metabolic: lemah tidak bisa tidur, gangguan konsentrasi tremor,
miokionus dan kejang.
4) Miopati: kelemahan dan hipotropi otot-otot terutama otot-otot ekstrimitas
proksimal.
e. Sistem Kardiovaskular
1) Hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam atau peningkatan aktifitas sistem
rennin-angiotensin-aldosteron.
2) Nyeri dada dan sesak nafas akibat perikarditis, efusi pericardial, penyakit jantung
koroner akibat arterosklerosis dan gagal jantung akibat penimbunan cairan dan
hipertensi.
f. Sistem Endokrin
1) Gangguan seksual: libido, fertilitas dan ereksi menurun akibat penurunan sekresi
testosterone dan spermatogenesis
2) Gangguan metabolisme glukosa, resistensi insulin dan sekresi insulin
3) Gangguan metabolisme
4) Gangguan metabolisme vitamin D
g. Gangguan sistem lain
1) Tulang: osteodistrofi renal yaitu osteomalasia, osteofibrosa, osteoskerosis dan
kalsifikasi metastasis.
2) Asidosis metabolic akibat penimbunan asam organic sebagai hasil metabolisme
3) Elektrolit: hiperfosfatemia, hiperkalsemia, hipokalsemia

6. Komplikasi
a. Jantung: edema paru, aritmia, efusi pericardium, tamponade jantung
b. Gangguan elektrolit: hiponatremia, asidosis, hiperkalemia (akibat penurunan ekskresi,
asidosis mertabolik, katabolisme dan masukan diet yang berubah)
c. Neurology: iritabilitas, neuromuscular, flap, tremor, koma, gangguan kesadarn, kejang
d. Gastrointestinal: nausea, muntah, gastritis, ulkus peptikum, perdarahan
gastrointestinal
e. Hematologi: anemia (akibat penurunan eritropeitin penurunan tentang usia sel darah
merah, perdarahan gastrom testinal akibat iritasi diet toxin, dan kehilangan darah
selama hemodialisis), diathesis, hemoragik.
f. Infeksi: pneumonia, septicemia, infeksi nosokomial
g. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi system rennin-
angiotensin-aldosteron
h. Penyakit tulang serta kalsifikasi metastatic akibat refensi fosfat, kadar kalsium
peningkatan kadar alumunium
\

7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium

> Urine (urine rutin, urin khusus : benda keton, analisa kristal bat)
> Darah
Hematologi
Hb, Ht, Eritrosit, Lekosit, Trombosit
RFT ( renal fungsi test )
ureum dan kreatinin
LFT (liver fungsi test )
Elektrolit
Klorida, kalium, kalsium
Koagulasi studi
PTT, PTTK
BGA.

b. Pemeriksaan EKG
c. Ultrasonografi (USG)
d. Foto polos Abdomen
e. Pemeriksaan Pielografi Retrograd
f. Pemeriksaan foto dada
g. Pemeriksaan radiologi tulang
h. Pielografi Intra-Vena (PIV)
i. Renogram
j. CT Scan
ASUHAN KEPERAWATAN HEMODIALISIS

 Pengkajian meliputi :
 Identitas Pasien
 Riwayat Keperawatan
 Pengkajian Fisik

 Diagnosa Keperawatan pada klien dengan Gagal Ginjal Kronik menurut Doenges
(1999) dan Lynda Juall (2000):

 Penurunan curah jantung


 Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
 Perubahan nutrisi
 Perubahan pola nafas
 Gangguan perfusi jaringan
 Intoleransi aktivitas
 Kurang pengetahuan tentang tindakan medis
 Resti terjadinya infeksi

 Intervensi Keperawatan

• Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat


Tujuan:
Penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil :
mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam
batas normal, nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler
Intervensi:
 Auskultasi bunyi jantung dan paru
R: Adanya takikardia frekuensi jantung tidak teratur
 Kaji adanya hipertensi
R: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada sistem aldosteron-renin-angiotensin
(disebabkan oleh disfungsi ginjal)
 Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikanlokasi, rediasi, beratnya (skala 0-10)
R: HT dan GGK dapat menyebabkan nyeri
 Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas
R: Kelelahan dapat menyertai GGK juga anemia
• Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema sekunder :
volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O)

Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan kriteria
hasil: tidak ada edema, keseimbangan antara input dan output
Intervensi:
 Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari, keseimbangan masukan dan haluaran,
turgor kulit tanda-tanda vital
 Batasi masukan cairan
R: Pembatasan cairan akn menentukan BB ideal, haluaran urin, dan respon terhadap terapi
 Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan
R: Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan
 Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan terutama pemasukan
dan haluaran
R: Untuk mengetahui keseimbangan input dan output

• Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual,


muntah

Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan
BB stabil
Intervensi:
 Awasi konsumsi makanan / cairan
R: Mengidentifikasi kekurangan nutrisi
 Perhatikan adanya mual dan muntah
R: Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan
pemasukan dan memerlukan intervensi
 Beikan makanan sedikit tapi sering
R: Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan
 Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan
R: Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial
 Berikan perawatan mulut sering
R: Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut yang
dapat mempengaruhi masukan makanan

• Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi


melalui alkalosis respiratorik
Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil
Intervensi:
 Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles
R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret
 Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam
R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2
 Atur posisi senyaman mungkin
R: Mencegah terjadinya sesak nafas
 Batasi untuk beraktivitas
R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia

• Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis


Tujuan: Integritas kulit dapat terjaga dengan kriteria hasil :
- Mempertahankan kulit utuh
- Menunjukan perilaku / teknik untuk mencegah kerusakan kulit
- Intervensi:
a. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler, perhatikan kadanya
kemerahan
R: Menandakan area sirkulasi buruk atau kerusakan yang dapat menimbulkan
pembentukan dekubitus / infeksi.
b. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa
R: Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi
dan integritas jaringan
c. Inspeksi area tergantung terhadap udem
R: Jaringan udem lebih cenderung rusak / robek
d. Ubah posisi sesering mungkin
R: Menurunkan tekanan pada udem , jaringan dengan perfusi buruk untuk
menurunkan iskemia
e. Berikan perawatan kulit
R: Mengurangi pengeringan , robekan kulit
f. Pertahankan linen kering
R: Menurunkan iritasi dermal dan risiko kerusakan kulit

g. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan
pada area pruritis
R: Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera
h. Anjurkan memakai pakaian katun longgar
R: Mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit

• Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat,


keletihan.
Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi
Intervensi:
 Pantau pasien untuk melakukan aktivitas
 Kaji fektor yang menyebabkan keletihan
 Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
 Pertahankan status nutrisi yang adekuat
• Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan tindakan medis (hemodialisa)
b.d salah interpretasi informasi.

 Kaji ulang penyakit/prognosis dan kemungkinan yang akan dialami.


 Beri pendidikan kesehatan mengenai pengertian, penyebab, tanda dan gejala CKD serta
penatalaksanaannya (tindakan hemodialisa ).
 Libatkan keluarga dalam memberikan tindakan.
 Anjurkan keluarga untuk memberikan support system.
 Evaluasi pasien dan keluarga setelah diberikan PenKes.

 Asuhan Keperawatan Hemodialisis meliputi :


 Pre Hemodialysis (sebelum dan inisiasi HD)
 Durante Hemodialysis (selama berlangsung HD)
 Post Hemodialysis (terminasi dan sesudah HD)

 Pengkajian Predialysis :
 Tujuannya agar pasien mendapat pengobatan dan tindakan secara optimal
 Management keperawatan meliputi :
 Keadaan Umum
 Tingkat Kesadaran
 Vital Sign (Suhu, Nadi, Tekanan Darah)
 Kaji status volume (BB, Auskultasi Paru, peninggian vena jugularis, ada/tidak edema,
CVP, bunyi nafas, intake dan output, membrane mukosa)
 Kaji Vaskular Akses (patensinya dan tanda infeksi)
 Hasil Laboratorium
 Obat-obatan

 Intervensi Pre Dialysis:


 Bandingkan data dengan hasil sebelumnya
 Review catatan kemajuan dan order dokter
 Beritahu pasien masalah dan perubahan yang ada
 Dalam pengkajian data membutuhkan rencana dan penentuan standar terapi (UF, cairan
pengganti yg masuk, anti koagulan lalu obat-obatan)
 Sesuaikan intervensi dan implementasi
 Dibutuhkan tim pelayanan kesehatan yang terpadu
 Pengkajian Peralatan sebelum Dialysis
 Tujuan : agar pasien mendapat terapi yang aman dan efektif sesuai rencana
 Managemen Keperawatan
1) Sebelum mulai HD kaji kelengkapan peralatan:
 Patensi dan integritas membrane dialyzer dan blood tubing
 Dialyzer yang cocok
 Penentuan komposisi cairan Dialisat
 Konduktiviti
 Pengantaran sistem dialisat dan sirkuit darah ekstra corporeal
 Kondisi blood pump dan fungsi peralatan alarm

 Intervensi Peralatan Pre Dialysis


Implementasikan/modifikasi dalam kebutuhan standar dari pengkajian yang ditemukan
 Tujuan : agar pasien bebas dari komplikasi berhubung dengan procedure awal dialysis
 Management Keperawatan :
 Memulai HD akses vascular dipersiapkan sesuai dengan SOP
 Mengambil sampel darah kalau ada order dokter
 Mengatur anti koagulan sesuai dengan kebutuhan
 Mengatur cairan sesuai dengan indikasi
 Pastikan persambungan antara pasien dan ekstra corporeal sirkuit
 Monitor integritas sirkuit ekstra corporeal :
7.1 patensinya
7.2 pressure, temperature, dan konduktivity
 Monitor response pasien pada permulaan HD (vital signs, fungsi akses vascular,
response subyektif)
 Set dan aktifkan semua alarm demi keamanan pasien

 Sistem Pengantaran
 Integritas Sirkuit darah
 Monitor pressure
 Keefektifan hantaran anti koagulan
 Flow aliran darah
 Kondisi dan limit alarm

 Terminasi Dialisis HD
 Tujuan : pasien tidak akan mengalami komplikasi selama terminasi. (emboli)
 Management keperawatan
 intervensi (k/u kesadaran, vital sign, sesuaikan dgn SOP Unit)
 darah diekstra corporea dikembalikan ketubuh
 ambil contoh darah untuk pemeriksaan laboratorium k/p
 memberikan obat sesuai order
 memberikan perawatan akses vascular post HD
 Pengkajian Post Dialysis
 Tujuan : kaji pasien apa yang dirasakan setelah selesai HD
 Manajement keperawatan :
 pengkajian pasien
 kaji dialiser dan sirkuit dalam pengembalian darah ke tubuh
 semua hasil dicatat dan didokumentasikan di list pasien
 permasalahan dan perubahan signifikan yang terjadi dari dugaan profesi lain

 Etiologi
 Penyakit glomerulus primer : penyakit glomerulus akut termasuk glomerulus progresif
cepat. Penyebab terbanyak adalah glomerulonefritis kronik
 Penyakit tubulus primer : hiperkalemia primer, hipokalemia kronik, keracunan logam
berat seperti tembaga dan cadmium
 Penyakit vascular : iskemia ginjal akibat stenosis arteri ginjal, hipertensi maligna atau
hipertensi akselerasi
 Infeksi : pielonefritis kronik, tuberculosis
 Obstruksi : batu ginjal, pembesaran prostat, struktur uretra dan tumor
 Penyakit otoimun :lupus eritematosus sistemik, poliartritis nodosa, scleroderma,
granulomatosa wagener
 Penyakit ginjal metabolic : DM, amiloidosis, nefropati analgeesik, gout,
hiperparatiroidisme primer
 Kelainan congenital : ginjal hipoplastik, ginjal polikistik

 Diagnosis
 Anamesis : riwayat batu ginjal, DM, hipertensi, ISK berulang, serum minum obat/jamu,
riwayat keluarga. Adanay sindroma uremi baerupa mual, muntah, kulit kering dan gatal,
tekanan darah tinggi, sesak, pucat bahkan samapai kesadaran menurun
 Pemeriksaan Fisik : tekanan darah tinggi, anemi, bekas garukan, adanya ronkhi, sembab
pada muka, perut dan kaki
 Laboratorium : urine lengkap : berat jenis urin encer, albuminuria, lekosituria, silinder.
Anemia normokrom-normositik, peningkatan BUN, kreatinin dan asam urat,
hipokalsemia, hiperfosfatemia
 Radiologi : BNO, IVP, USG, renogram, scanning

 Penilaian Fungsi Ginjal


 Kreatinin Serum
 Ureum
 Kliren Kreatinin
 Cystatin C
ASUHAN KEPERAWATAN

GAGAL GINJAL AKUT (G.G.A.)

Oleh : Unit Hemodialisa/Persada Hospital

UNIT HEMODIALISA
PERSADA HOSPITAL MALANG

2015
GANGGUAN FUNGSI GINJAL AKUT (ACUTE KIDNEY INJURY)

• Pengertian Gangguan Fungsi Ginjal Akut

Adalah suatu keadaan dimana fungsi ginjal menurun secara cepat dan progresif, sehingga
terjadi penumpukan produk-produk nitrogen dan sisa metabolism di dalam tubuh. Penurunan fungsi
ginjal akut ini dapat terjadi pada ginjal yang sebelumnya memang sudah mengalami gangguan fungsi
kemudian mengalami eksaserbasi akut (keadaan akut pada PGK). Seperti diketahui fungsi ginjal
antara lain ekskresi dan homeostatis, mengatur keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa. AKI
mengakibatkan kadar ureum dan kreatinin darah meningkat dan gangguan keseimbangan cairan,
elelktrolit dan asam basa.

Batasan AKI sangat beragam. Antara lain ada yang menggunakan criteria peningkatan kadar
kreatinin plasma minimal 0,5 mg/dl bila kadar dasar (baseline level) ≤ 3,0 mg/dl, atau minimal 1,0
mg/dl bila kadar dasar > 3 mg/dl dalam waktu pendek. Meski kenaikan ini tampak kecil, tetapi hal ini
sudah merupakan refleksi penurunan GFR yang cukup besar.kernaikan kadar kretinin dari 0,8 mg/dl
menjadi 1,6 mg/dl, berarti penurunan GFR dari 120 ml/menit menjadi 60 ml/menit atau kurang.

Penting untuk membedakan AKI dan penyakit ginjal kronik (PGK), karena :

- manifestasi klinis AKI umumnya lebih berat daripada PGK


- Penyebab AKI umumnya dapat diidentifikasikan dan harus ditujukan untuk mencegah
kerusakan ginjal atau organ lain lebih lanjut.
- AKI berpotensi reversible jika factor penyebab atau factor dapat diidentifikasikan dan
dikoreksi dan dengan dukungan suportif tepat untuk meningkatkan kemungkinan
recovery fungsi ginjal.

• Etiopatogenesis AKI
Penyebab AKI adalah multifaktorial. Dari sudut pandang prognosis, penyebab AKI secara klasik
dibagi kedalam 3 katagori: prerenal, reanal dan postrenal. Pendekatan ini penting karena penyebab
AKI renal dan postrenal seringkali dapat secara cepat dikoreksi dan jika terkorteksi kerusakan ginjal
lebih lanjut sering kali dapat dihindari. Harus segera dicari faktir-faktor atau proses yang mungkin
menyebabkan kerusakan ginjal akut, seperti nekrosis tubular akut. Pada setiap penderita AKI
sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu kemungkinan AKI prerenal dan postrenal sebelum didiagnosa
AKI renal.

• Anamnesa dan pemeriksaan fisik


Anamnesa dan pemeriksaan fisik yang diteliti dapat memberi informasi penting untuk menentukan
penyebab AKI, misalnya identifikasi penyebab potensial seperti desfisit cairan, gagal jantung, sirosis
hati, hipotensi, pemakaian obat nefrotoksik atau bahan kontras. Pada penderita rawat inap dapat
diketahui hari meningkatnya kadar kreatinin serum atau lama pemberian obat. Perlu di ingat bahwa
pada gagal jantung kongestif dan sirosis hati,walaupun terdapat edema berat, terdapat penurunan
perfusi jaringan efektif (termasuk berkurangnya GFR) oleh karena bertambahnya sekresi rennin,
norepineprin dan ADH, sehingga sering terjadi AKI prerenal.

ASKEP GAGAL GINJAL AKUT

A. Fungsi Ginjal dan Saluran Kemih


1. Ekresi
a. Pembuangan sisa metabolism tubuh dan obat
b. Eksresi dan reabsorbsi selektif bahan-bahan hasil metabolism tubuh
2. Regulasi
a. Pengaturan volume cairan tubuh dan komposisi ion
b. Peran utama homeostasis (pemeliharaan lingkungan internal tubuh)
c. Pengaturan keseimbangan asam basa
3. Endokrin
a. Sintesis rennin, eritropoetin dan prostaglandin
4. Metabolism
a. Metabolism vitamin D dan protein-protein
b. Tempat utama katabolisme hormone
B. Definisi :
1. Penurunan tiba-tiba faal ginjal dari sebelumnya
2. Dengan atau tanpa oliguria
3. Disertai kenaikan ureum dan kreatinin

C. Klasifikasi
1. GGA Pra Renal
2. GGA Post Renal
3. GGA Renal

D. GGA Pre Renal


1. Kelainan Fungsional (tanpa Morfologi/histology jaringan Nefron) jika berlanjut Nekrosis
Tubular Akut (NTA)
2. Etiologi:
a. Penurunan volume vascular
Kehilangan darah atau plasma (perdarahan burn)
Kehilangan CES (muntah, diare)
Kenaikan kapasitas vascular
Sepsis
Reaksi anafilaksis
b. Penurunan curah jantung
Decomp cordis
Renjatan kardiogenik
Disaritmia
Emboli paru
Infark jantung

E. GGA Post Renal


 Pembentukan urin cukup, aliran dalam saluran kemih terhambat
 Etiologi :
Obstruksi saluran kencing : batu, tumor, Kristal
Tubuli ginjal : Kristal, pigmen, protein
Ekstravasasi

F. GGA Renal
 Akibat penyakit ginjal primer
 Etiologi:
Glomerulonefritis
Nefrosklerosis
Penyakit kolagen
Angitis hipersensitif
Nefritis interstitialis
Nefrosis tubular akut (NTA)
Terjadi karena iskemia ginjal (kelanjutan GGA)

G. Pemeriksaan Laboratorium:
1. Darah : ureum, kreatinin, elektrolit
2. Urin: ureum, kreatinin, elektrolit, plasma, osmolaritas
3. Gangguan asam basa (asidodis metabolic)
4. Gangguan keseimbangan elektrolit: hiper,/hiponatremia, hipokalsemia, hiperfosfatemia
5. Volume urine kurang dari 400 ml/24 jam
6. Warna urine : kotor, hb, mioglobin
7. PH Urine lebih dari 7 terutama pada ISK
8. Protein: poteinemia
9. Natrium urine: penurunan lebih dari 40meq/L bila ginjal tidak mampu absosrbsi natrium

H. Pengkajian:
1. Aktivitas dan istirahat
Gejala: keletihan kelemahan malaise
Tanda: kelemahan otot, dan kehilangan Tonus
2. Sirkulasi
Tanda: hipo/hipertensi, disaritmia jantung, nadi lemah(hipotensi,hipovolemia), edema
jaringan perlobital), pucat, kecenderunagn perdarahan
3. Eliminasi
Gejala: perubahan pola berkemih (poli/oliguria), disuria, retensi (inflamasi/obstruksi,
infeksi)
Abdomen kembung, diare, konstipasi
Riwayat batu/kalkuli
Tanda: perubahan warna urine (kuning pekat, merah, coklat), oliguria,poliuria
4. Makanan/cairan:
Gejala: peningkatan berat badan (edema), penurunan berat badan (dehidrasi)
Mual, muntah, anoreksia, nyeri ulu hati, penggunaan diuretic
Tanda: perubahan turgor kulit/kelembapan, edema
5. Neurosensori
Gejala: sakit kepala penglihatan kabur
Kram otot/kejang, syndrome “kaki gajah”
Tanda: gangguan status mental contoh ketidak mampuan berkonsentrasi, penurunan
tingkat kesadaran
6. Nyeri/kenyamanan
Gejala: nyeri tubuh, sakit kepala
Tanda :perilaku berhati-hati atau distraksi, gelisah
7. Pernafasan
Gejala: nafas pendek
Tanda: takipnoe, dispnoe,peningkatan frekuensi
8. Keamanan
Gejala: adanya reaksi tranfusi
Tanda: demam, sepsis (dehidrasi), ptekie

I. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema
sekunder : volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O)
3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual,
muntah
4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi
melalui alkalosis respiratorik
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat,
keletihan.
6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan tindakan medis (hemodialisa)
b.d salah interpretasi informasi.
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang mengingat

J. Penatalaksanaan AKI
- fase oliguri : cairan < 500 cc/h monitor elektrolit : kalium, asupan kalori, dialysis.
- Fase Diuretik : Keseimbangan cairan dan elektrolit.
- Post diuretic : Cairan/electrolit
- Prognosis : tergantung penyebab usia,comorbid,infeksi, multi organ.
ASUHAN KEPERAWATAN HEMODIALISIS

 Pengkajian meliputi :
 Identitas Pasien
 Riwayat Keperawatan
 Pengkajian Fisik

 Diagnosa Keperawatan pada klien dengan Gagal Ginjal Akut menurut Doenges (1999)
dan Lynda Juall (2000):

 Penurunan curah jantung


 Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
 Perubahan nutrisi
 Perubahan pola nafas
 Gangguan perfusi jaringan
 Intoleransi aktivitas
 Kurang pengetahuan tentang tindakan medis
 Resti terjadinya infeksi

 Intervensi Keperawatan

• Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat


Tujuan:
Penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil :
mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam
batas normal, nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler
Intervensi:
 Auskultasi bunyi jantung dan paru
R: Adanya takikardia frekuensi jantung tidak teratur
 Kaji adanya hipertensi
R: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada sistem aldosteron-renin-angiotensin
(disebabkan oleh disfungsi ginjal)
 Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikanlokasi, rediasi, beratnya (skala 0-10)
R: HT dan GGK dapat menyebabkan nyeri
 Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas
R: Kelelahan dapat menyertai GGK juga anemia
• Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema sekunder :
volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O)

Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan kriteria
hasil: tidak ada edema, keseimbangan antara input dan output
Intervensi:
 Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari, keseimbangan masukan dan haluaran,
turgor kulit tanda-tanda vital
 Batasi masukan cairan
R: Pembatasan cairan akn menentukan BB ideal, haluaran urin, dan respon terhadap terapi
 Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan
R: Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan
 Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan terutama pemasukan
dan haluaran
R: Untuk mengetahui keseimbangan input dan output

• Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual,


muntah

Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan
BB stabil
Intervensi:
 Awasi konsumsi makanan / cairan
R: Mengidentifikasi kekurangan nutrisi
 Perhatikan adanya mual dan muntah
R: Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan
pemasukan dan memerlukan intervensi
 Beikan makanan sedikit tapi sering
R: Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan
 Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan
R: Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial
 Berikan perawatan mulut sering
R: Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut yang
dapat mempengaruhi masukan makanan

• Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi


melalui alkalosis respiratorik
Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil
Intervensi:
 Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles
R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret
 Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam
R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2

 Atur posisi senyaman mungkin


R: Mencegah terjadinya sesak nafas
 Batasi untuk beraktivitas
R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia

• Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat,


keletihan.
Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi
Intervensi:
 Pantau pasien untuk melakukan aktivitas
 Kaji fektor yang menyebabkan keletihan
 Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
 Pertahankan status nutrisi yang adekuat

• Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan tindakan medis (hemodialisa)


b.d salah interpretasi informasi.

 Kaji ulang penyakit/prognosis dan kemungkinan yang akan dialami.


 Beri pendidikan kesehatan mengenai pengertian, penyebab, tanda dan gejala CKD serta
penatalaksanaannya (tindakan hemodialisa ).
 Libatkan keluarga dalam memberikan tindakan.
 Anjurkan keluarga untuk memberikan support system.
 Evaluasi pasien dan keluarga setelah diberikan PenKes.

 Asuhan Keperawatan Hemodialisis meliputi :


 Pre Hemodialysis (sebelum dan inisiasi HD)
 Durante Hemodialysis (selama berlangsung HD)
 Post Hemodialysis (terminasi dan sesudah HD)

 Pengkajian Predialysis :
 Tujuannya agar pasien mendapat pengobatan dan tindakan secara optimal
 Management keperawatan meliputi :
 Keadaan Umum
 Tingkat Kesadaran
 Vital Sign (Suhu, Nadi, Tekanan Darah)
 Kaji status volume (BB, Auskultasi Paru, peninggian vena jugularis, ada/tidak edema,
CVP, bunyi nafas, intake dan output, membrane mukosa)
 Kaji Vaskular Akses (patensinya dan tanda infeksi)
 Hasil Laboratorium
 Obat-obatan

 Intervensi Pre Dialysis:


 Bandingkan data dengan hasil sebelumnya
 Review catatan kemajuan dan order dokter
 Beritahu pasien masalah dan perubahan yang ada
 Dalam pengkajian data membutuhkan rencana dan penentuan standar terapi (UF, cairan
pengganti yg masuk, anti koagulan lalu obat-obatan)
 Sesuaikan intervensi dan implementasi
 Dibutuhkan tim pelayanan kesehatan yang terpadu

 Pengkajian Peralatan sebelum Dialysis


 Tujuan : agar pasien mendapat terapi yang aman dan efektif sesuai rencana
 Managemen Keperawatan
2) Sebelum mulai HD kaji kelengkapan peralatan:
 Patensi dan integritas membrane dialyzer dan blood tubing
 Dialyzer yang cocok
 Penentuan komposisi cairan Dialisat
 Konduktiviti
 Pengantaran sistem dialisat dan sirkuit darah ekstra corporeal
 Kondisi blood pump dan fungsi peralatan alarm

 Intervensi Peralatan Pre Dialysis


Implementasikan/modifikasi dalam kebutuhan standar dari pengkajian yang ditemukan
 Tujuan : agar pasien bebas dari komplikasi berhubung dengan procedure awal dialysis
 Management Keperawatan :
 Memulai HD akses vascular dipersiapkan sesuai dengan SOP
 Mengambil sampel darah kalau ada order dokter
 Mengatur anti koagulan sesuai dengan kebutuhan
 Mengatur cairan sesuai dengan indikasi
 Pastikan persambungan antara pasien dan ekstra corporeal sirkuit
 Monitor integritas sirkuit ekstra corporeal :
7.3 patensinya
7.4 pressure, temperature, dan konduktivity
 Monitor response pasien pada permulaan HD (vital signs, fungsi akses vascular,
response subyektif)
 Set dan aktifkan semua alarm demi keamanan pasien

 Sistem Pengantaran
 Integritas Sirkuit darah
 Monitor pressure
 Keefektifan hantaran anti koagulan
 Flow aliran darah
 Kondisi dan limit alarm

 Terminasi Dialisis HD
 Tujuan : pasien tidak akan mengalami komplikasi selama terminasi. (emboli)
 Management keperawatan
 intervensi (k/u kesadaran, vital sign, sesuaikan dgn SOP Unit)
 darah diekstra corporea dikembalikan ketubuh
 ambil contoh darah untuk pemeriksaan laboratorium k/p
 memberikan obat sesuai order
 memberikan perawatan akses vascular post HD

 Pengkajian Post Dialysis


 Tujuan : kaji pasien apa yang dirasakan setelah selesai HD
 Manajement keperawatan :
 pengkajian pasien
 kaji dialiser dan sirkuit dalam pengembalian darah ke tubuh
 semua hasil dicatat dan didokumentasikan di list pasien
 permasalahan dan perubahan signifikan yang terjadi dari dugaan profesi lain

 Etiologi
 Penyakit glomerulus primer : penyakit glomerulus akut termasuk glomerulus progresif
cepat. Penyebab terbanyak adalah glomerulonefritis kronik
 Penyakit tubulus primer : hiperkalemia primer, hipokalemia kronik, keracunan logam
berat seperti tembaga dan cadmium
 Penyakit vascular : iskemia ginjal akibat stenosis arteri ginjal, hipertensi maligna atau
hipertensi akselerasi
 Infeksi : pielonefritis kronik, tuberculosis
 Obstruksi : batu ginjal, pembesaran prostat, struktur uretra dan tumor
 Penyakit otoimun :lupus eritematosus sistemik, poliartritis nodosa, scleroderma,
granulomatosa wagener
 Penyakit ginjal metabolic : DM, amiloidosis, nefropati analgeesik, gout,
hiperparatiroidisme primer
 Kelainan congenital : ginjal hipoplastik, ginjal polikistik

 Diagnosis
 Anamesis : riwayat batu ginjal, DM, hipertensi, ISK berulang, serum minum obat/jamu,
riwayat keluarga. Adanay sindroma uremi baerupa mual, muntah, kulit kering dan gatal,
tekanan darah tinggi, sesak, pucat bahkan samapai kesadaran menurun
 Pemeriksaan Fisik : tekanan darah tinggi, anemi, bekas garukan, adanya ronkhi, sembab
pada muka, perut dan kaki
 Laboratorium : urine lengkap : berat jenis urin encer, albuminuria, lekosituria, silinder.
Anemia normokrom-normositik, peningkatan BUN, kreatinin dan asam urat,
hipokalsemia, hiperfosfatemia
 Radiologi : BNO, IVP, USG, renogram, scanning

 Penilaian Fungsi Ginjal


 Kreatinin Serum
 Ureum
 Kliren Kreatinin
 Cystatin C