Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS JURNAL

CKD DAN HIPERTENSI

Disusun oleh:

Kelompok II

1.Kristina Widiyanti

2.Sumarmi

3.Anne Estherlitta

PELATIHAN PERAWAT HEMODIALISA


RSU. DR. SAIFUL ANWAR MALANG
Malang,17 Juni s/d 17 September 2013
Kata Pengantar

Segala puji bagi Alloh SWT penyusun ucapkan karena berkat


rahmat,hidayah, dan kehendakNya juga penyusun dapat menyelesaikan analisis
Jurnal ini.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada:

1. Instansi dan rumah sakit yang member kesempatan bagi penyusun untuk
mengikuti pelatihan perawat HD di RSSA Malang.

2. Para narasumber dan pembimbing yang telah memberikan ilmu dan


berbagi keterampilan dengan penyusun

3. Keluarga penyusun yang memberikan dorongan materi dan moril.

4. Teman-teman peserta pelatihan yang banyak memberikan bantuan demi


terselesaikannya tugas kelompok ini.

Penyusun menyadari bahwa analisa jurnal ini jauh dari sempurna, karenanya
kami tidak menutup diri dari masukan, kritik, dan saran yang membangun.

Malang, 21 Juni 2013

penyusun
Pendahuluan:

Jumlah pasien yang mengalami gagal ginjal diperkirakan makin hari makin
meningkat. Hipertensi sebagai salah satu penyebab gagal ginjal, bagaimanapun
penyakit ginjal dan hipertensi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Berikut ini kami mencoba menganalisa jurnal berjudul “ Intensive Blood


Pressure Control in Hypertensive Chronic Kidney Disease”. Jurnal ini dipublikasikan
pada bulan September 2010.

Pembahasan:

Subjek Penelitian

Subjek penelitian dalam jurnal ini adalah: orang kulit hitam (afro amerika)
berusia 18 tahun sampai 70 tahun, semuanya memiliki penyakit ginjal kronis dan
hipertensi,mempunyai rasio protein-kreatinin dasar (< 0,22 vs >0,22), sedangkan
criteria ekslusinya diabetes, hipertensi maligna, hipertensi skunder, penyakit
sistemik serius, atau gagal jantung, atau indikasi tertentu untuk terjadinya
kontraindikasi obat yang diberikan pada penelitian ini. Dalam jurnal ini tidak
disebutkan jenis kelamin subjek penelitian, pekerjaan, gaya hidup, kebiasaan
merokok,kebiasaan minum alcohol, berat badan,dan ada tidaknya factor stressor,
karena menurut dr. Erik Tapan MHA dalam “Penyakit Ginjal dan Hipertensi “ hal-
hal tersebut merupakan factor-faktor resiko terjadinya hipertensi.

Selain itu dalam kaitannya dengan penyakit ginjal yang terjadi di Indonesia
tidak disebutkan bahwa orang yang kulitnya gelap (hitam) angka kejadiannya sama
dengan orang yang berkulit lebih cerah atau putih. Atau mungkin memang belum
ada penelitian di negara kita yang mengupas tentang masalah ini.

Namun Charles J. Reeves mengemukakan bahwa hipertensi diartikan


sebagai peningkatan tekanan darah secara terus mnerus hingga melebihi batas
normal (140/90 mmHg ),paling banyak menimpa kalangan dewasa dan kelompok
suku tertentu seperti afrika amerika.

Desain Penelitian

Desain penelitian dalam jurnal ini terbagi dalam dua fase, yang pertama
fase uji coba awal dan yang kedua adalah fase kohort. Waktu penelitian dimulai
bulan Februari 1995 sampai bulan September 1998. Terdiri dari 1.094 pasien
diacak untuk menerima control tekanan darah intensif atau control standar.
Mereka juga diacak untuk menerima tiga terapi obat awal, yang jika target
tekanan darah tidak dapat dicapai diberikan obat anti hipertensi lainnya.

Tahap kohort dimulai pada bulan April 2002. Antara akhir tahap uji pada 30
September 2001 dan awal dari fase kohort ada masa transisi singkat. Target tensi
yang diharapkan terjadi perubahan menjadi kurang dari 130/80 mmHg pada
tahun 2004 karena terjadi perubahan rekomendasi pedoman nasional.

Untuk tahap kohort, waktu tindak lanjut dimulai pada akhir tahap uji dan
termasuk masa transisi. Durasi maksimum tindak lanjut adalah 12,2 tahun, yang
berhubungan dengan interval antara awal pendaftaran dalam tahap uji (7 April
1995) dan akhir hasil pemastian ( 30 Juni 2007 ).

Analisis kami penelitian ini memakan waktu yang lama, dan tidak ada
penjelasan apakah ada dari populasi yang meninggal dunia, dan keluar dari subjek
penelitian karena bosan atau sebab lain, selain itu adanya perubahan target tensi
yang diharapkan dari 140/90 mmHg menjadi 130/80 mmHg bisa membuat pasien
bingung, apalagi tidak disebutkan pendidikan dari subjek penelitian.

Hasil Penelitian

Dalam jurnal ini disebutkan bahwa tidak ada interaksi yang signifikan antara
pemberian obat hipertensi secara acak dengan target tekanan darah. Ada interaksi
yang signifikan antara tekanan darah dengan rasio protein-kreatinin. Ditemukan
bahwa tingkat perkembangan penyakit ginjal kronis tidak berbeda secara
signifikan. Dalam beberapa pengamatan dan dalam analisis observasional dari
data percobaan terdapat interaksi kualitatif antara bahaya tekanan darah yang
intensif pada pasien tanpa proteinuria dan bermanfaat pada mereka dengan
proteinuria. Mereka menyimpulkan bahwa temuannya tentang target
menurunkan tekanan darah secara signifikan menghambat perkembangan
penyakit ginjal kronis pada pasien dengan proteinuria dengan rasio protein-
kreatinin lebih dari 0,22.

Analisis kami, menurut dr. Erik Tapan MHA tekanan darah meningkat akibat
gagal ginjal kronik tetapi bisa juga tekanan darah yang tidak terkontrol
menyebabkan gagal ginjal kronik, apalagi disebutkan bahwa subjek penelitian ini
mempunyai hipertensi dan penyakit ginjal kronis.

Kesimpulan

Sebaiknya perawat tetap membantu pasien dalam mengontrol penyakit


dengan meminta pasien untuk sering cek tekanan darah dengan berkunjung ke
tempat pelayanan kesehatan secara rutin dan melakukan penyuluhan kesehatan.
(Charlene J. Reeves, 2001 )
DAFTAR PUSTAKA

Erik tapan,dr. Penyakit Ginjal dan Hipertensi. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.
2004

J.Reeves Charlene. Keperawatan Medical Bedah buku I. Salemba Medika. 2001