Anda di halaman 1dari 8

BAB II

PEMBAHASAN

A. Reproduksi Sehat

1. Pengertian Reproduksi Sehat

Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah kesejahteraan fisik, dan mental yang utuh
bukan hanya bebas dari penyakit atau kecatatan, dalam segala aspek yang berhubungan
dengan reproduksi, fungsi serta prosesnya. Reproductive health is a state of complete
physical, mental and social welling and not merely the absence of disease or infirmity, in all
matters relating toreproductive system and to its funtctions processes (WHO) Agar dapat
melaksanakan fungsi reproduksi secara sehat, dalam pengertian fisik, dan mental, diperlukan
beberapa prasyarat :

Pertama, agar tidak ada kelainan anatomis dan fisiologis baik pada perempuan
maupun laki-laki. Antara lain seorang perempuan harus memiliki rongga pinggul yang cukup
besar untuk mempermudah kelahiran bayinya kelak. Ia juga harus memiliki kelenjar-kelenjar
penghasil yang mampu memproduksi horman yang diperlukan untuk memfasilitasi
pertumbuhan fisik dan fungsi dating dan organ reproduksinya. Perkembangan-perkembangan
tersebut sudah berlangsung sejak usia yang sangat muda. Tulang pinggul berkembang sejak
anak belum menginjak remaja dan berhenti ketika anak itu mencapai usia 18 tahun. Agar
semua pertumbuhan itu berlangsung dengan baik, ia memerlukan makanan dengan mutu gizi
yang baik dan seimbang. Hal ini juga berlaku bagi laki-laki. Seorang laki laki memerlukan
gizi yang baik agar dapat berkembang menjadi laki-laki dewasa yang sehat.

Kedua, baik laki-laki maupun perempuan memerlukan landasan psikis yang memadai
agar perkembangan emosinya berlangsung dengan baik. Hal ini harus dimulai sejak anak-
anak, bahkan sejak bayi. Sentuhan pada kulitnya melalui rabaan dan usapan yang hangat,
terutama sewaktu menyusu ibunya, akan memberikan rasa terima kasih, tenang, aman dan
kepuasan yang tidak akan ia lupakan sampai ia besar kelak. Perasaan semacam itu akan
menjadi dasar kematangan emosinya dimasa yang akan dating.
Ketiga, setiap orang hendaknya terbebas dari kelainan atau penyakit, baik langsung
maupun tidak langsung mengenai organ reproduksinya. Setiap lelainan atau penyakit pada
organ reproduksi, akan dapat pula menggangu kemampuan seseorang dalam menjalankan
tugas reproduksinya. Termasuk disini adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan
seksual-misalnya AIDS dan Hepatitis B, infeksi lain pada organ reproduksi, infeksi lain yang
mempengaruhi perkembangan janin, dampak pencemaran lingkungan, tumor atau kanker
pada organ reproduksi, dan ganguan hormonal terutama hormon seksual.

Keempat, seorang perempuan hamil memerlukan jaminan bahwa ia akan dapat


melewati masa tersebut dengan aman. Kehamilan bukanlah penyakit atau kelainan.
Kehamilan adalah sebuah proses fisiologis. Meskipun demikian, kehamilan dapat pula
mencelakai atau mengganggu kesehatan perempuan yang mengalaminya. Kehamilan dapat
menimbulkan kenaikan tekanan darah tinggi, pendarahan, dan bahkan kematian. Meskipun ia
menginginkan datangnya kehamilan tersebut, tetap saja pikirannya penuh dengan kecemasan
apakah kehamilan itu akan mengubah penampilan tubuhnya dan dapat menimbulkan perasaan
bahwa dirinya tidak menarik lagi bagi suaminya. Ia juga merasa cemas akan menghadapi rasa
sakit ketika melahirkan, dan cemas tentang apa yang terjadi pada bayinya. Adakah bayinya
akan lahir cacat, atau lahir dengan selamat atau hidup. Perawatan kehamilan yang baik
seharusnya dilengkapi dengan konseling yang dapat menjawab berbagai kecemasan tersebut.

2. Kesehatan Reproduksi dalam Islam

Islam sebagai pandangan hidup tentu saja memiliki kaitan dengan kesehatan
reproduksi. Mengingat Islam berfungsi sebagai pengatur kehidupan manusia dalam rangka
mencapai keadaan sesuai dengan definisi kesehatan reproduksi itu sendiri. Islam mengatur
kesehatan reproduksi manusia ditujukan untuk memuliakan dan menjunjung tinggi derajat
manusia. Dan Islam sejak belasan abad yang lalu—jauh sebelum kemajuan ilmu kesehatan
dan kedokteran—mengaturnya sesuai dengan Quran, hadits, dan ijma para ulama, yang
mencakup seksualitas, kehamilan, menyusui, kontrasepsi dan KB, dan aborsi, serta hal lain
yang tidak dapat dijelaskan satu persatu. Dan sebagai umat muslim kita wajib mengikuti
aturan-aturan yang telah ditetapkan Islam dalam rangka mencapai kesejahteraan sebagai umat
manusia.

a. Islam dan Seksualitas


Seksualitas dalam Islam dapat menjadi hal yang terpuji sekaligus tercela. Seksualitas
menjadi hal yang terpuji jika dilakukan dalam lingkup hubungan yang sesuai syariat, yaitu
hubungan pasangan laki-laki dan perempuan—bukan antara pasangan sejenis (homoseksual)
atau dengan binatang (zoofilia)—yang telah menikah secara sah. Sebaliknya seksualitas
dalam Islam dapat menjadi hal yang tercela jika hubungan dilakukan di luar pernikahan,
antara pasangan sejenis, atau dengan binatang.

Ayat Quran yang paling terkenal untuk menjelaskan hubungan laki-laki dan
perempuan yang sesuai syariat adalah dalam surat Ar Ruum: 21 yang menyatakan tujuan
pernikahan yaitu dijadikannya rasa cinta dan kasih sayang. Seorang ahli tafsir dalam kitab
tafsir Al Futuhatul Ilahiyah menyatakan bahwa cinta berarti hubungan seksual, dan kasih
sayang berarti hasil hubungan seksual yaitu seorang anak. Hal ini berarti Islam sangat
mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam hal seksualitas adalah untuk
kebaikan bersama secara fisik dan mental serta menghasilkan keturunan sebagai penerus
diinul Islam, bukan hanya untuk kepuasan secara biologis saja.

Islam melarang hubungan seksual melalui dubur & mulut (anal & oral sex),
homoseksualitas, sodomi, lesbianisme, dan perilaku seksual lain yang tidak wajar.
Kekhawatiran Islam tentang hal ini sangat beralasan mengingat saat ini perilaku di atas
banyak ditemukan di masyarakat di seluruh dunia yang berakibat pada timbulnya penyakit-
penyakit menular seksual dan desakralisasi hubungan pernikahan dimana hanya
mementingkan syahwat semata. Hubungan seksual juga dilarang untuk dilakukan saat
menstruasi (lihat QS. Al Baqarah: 222), pasca melahirkan, penyakit berat, dan siang hari di
bulan Ramadhan. Penelitian-penelitian di abad modern menunjukkan korelasi positif antara
larangan tersebut dengan efek merugikan yang ditimbulkannya bila dilakukan.

Dalam Islam hubungan seksual pranikah dan perselingkuhan dilarang dan dapat
dihukum sesuai syariat. Bahkan negara kita juga telah memasukkan perihal ini dalam KUHP.
Supaya umat manusia tidak terjebak pada perilaku tercela maka Islam mengaturnya dalam
Quran surat Al Israa: 32 yaitu tentang larangan mendekati zina. Bukan hanya melakukan,
mendekatinya saja dilarang dalam Islam seperti hubungan laki-laki dan perempuan bukan
muhrim yang terlampau bebas.

Hubungan seksual yang bebas (freesex) secara kedokteran dapat menyebabkan


penyakit/ infeksi menular seksual, kehamilan tak diinginkan, aborsi dan kematian ibu, dan
bayi tanpa ibu. Secara sosial maka akan menimbulkan nasab yang tidak jelas, sehingga
kehidupan keluarga dan sosial budaya akan terganggu. Semua hal itu akan berujung pada
penurunan kualitas generasi bangsa.

b. Islam dan Kehamilan

Dr Maurice Bucaille, ilmuwan Perancis dalam bukunya yang fenomenal La Bible Le


Coran Et La Science (Bibel, Quran, dan Sains Modern) menyatakan bahwa sebelum ilmu
kedokteran modern berkembang, para ilmuwan memiliki konsep yang salah tentang
penciptaan manusia padahal Quran telah menyatakannya dengan sangat jelas sejak 14 abad
yang lalu. Dalam surat Al Mukminun: 14 dan Al Hajj: 5, Quran telah menjelaskan tahap demi
tahap perkembangan penciptaan manusia. Quran menyebutkan tempat - tempat
mekanisme yang tepat dan menyebutkan tahap-tahap yang pasti dalam reproduksi, tanpa
memberi bahan yang keliru sedikitpun. Semuanya diterangkan secara sederhana dan mudah
dipahami oleh semua orang serta sangat sesuai dengan hal-hal yang ditemukan oleh sains di
kemudian hari. Seperti dalam kandungan surat Quran berikut ini: “Kemudian air mani itu
Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha
Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”(QS. Al Mu’minun: 14)

Hal yang dijelaskan Al Quran di atas sangat sejalan dengan ilmu kedokteran dan
embriologi modern, termasuk diciptakannya panca indera seperti tercantum dalam Surat As
Sajadah: 9, yang berbunyi: "Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam
tubuhnya roh (ciptaan)Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur."

c. Islam dan Menyusui

Penelitian ilmiah modern baru dapat menyatakan kelebihan dan manfaat air susu ibu
(ASI) di penghujung abad ke-20. Namun, kajian tentang ASI telah termaktub di dalam Quran
beribu tahun yang lalu sejak diturunkannya pedoman hidup manusia itu. ASI sebagai
makanan terbaik bagi bayi itu telah menjadi rekomendasi WHO untuk diberikan secara
eksklusif selama 4-6 bulan dan dilanjutkan bersama makanan lain hingga berusia 2 tahun. Hal
ini sesuai dengan surat Al Baqarah: 233, yang secara ilmiah berkaitan erat dengan
pembentukan sistem kekebalan tubuh bayi dalam tahun-tahun pertama kehidupannya.

ASI tidak hanya penting bagi bayi saja tetapi penting pula bagi ibunya. Hubungan
batin antara ibu dan bayinya menjadi lebih terasa karena dekatnya hubungan mereka melalui
proses penyusuan. Secara klinis telah pula diteliti bahwa penyusuan dapat mengurangi risiko
kanker payudara. Selain itu proses penyusuan berguna pula sebagai kontrasepsi alamiah.
d. Islam dan Kontrasepsi

Hingga saat ini kontrasepsi sebagai sarana pengaturan jarak kehamilan masih menjadi
perdebatan di kalangan ulama dan ilmuwan Islam. Ada kalangan yang menentang karena
mereka beranggapan kontrasepsi atau keluarga berencana merupakan produk Yahudi dan
kaum kafir untuk melemahkan kaum muslimin karena mereka takut kalau-kalau pertumbuhan
umat Islam akan mengancam tujuan, dominasi/pengaruh dan kepentingan mereka. Kalangan
yang menentang juga beranggapan bahwa KB bertentangan dengan anjuran Islam untuk
memperbanyak keturunan. Ada pula kalangan yang membolehkan atau membolehkan dengan
syarat.

Kontrasepsi di dunia Islam memiliki sejarah panjang. Dasar penggunaan kontrasepsi


di dalam Islam adalah hadits Rasulullah yang berbunyi, ‘Kami pernah melakukan azl
(senggama terputus) di zaman Rasulullah. Rasul mengetahui hal itu terapi tidak melarang
kami melakukannya’. Beberapa ulama menggunakan qyas, bila azl diperbolehkan, maka
metode ikhtiar pengaturan kehamilan lainnya pun boleh, kecuali sterilisasi. Jarak kehamilan
dalam Islam pun telah diatur melalui program menyusui. Kedokteran Islam sendiri telah
mengembangkan kontrasepsi sejak awal dan memerintahkan Eropa untuk menggunakannya.

Penggunaan kontrasepsi dilarang jika ditujukan untuk menyuburkan kolonialisme dan


imperialism. Intinya ketentuan Islam yang berhubungan dengan kontrasepsi atau KB
bergantung kepada niat. Kalau kita menggunakan kontrasepsi karena ingin anak sedikit,
malas mengurus anak, takut kulit rusak, takut organ reproduksi atau fungsi seksual terganggu,
atau takut miskin, tentunya menggunakan kontrasepsi bertentangan dengan anjuran Islam
karena unsurnya hanyalah egoisme bukan hablumminallah atau hablumminannas. Tentunya
berbeda kalau kita berupaya menjarangkan kehamilan itu karena ikhtiar untuk dapat
mendidik anak dengan lebih sempurna atau karena kita takut lahir anak yang cacat bila usia
kita sudah di atas 35 tahun. Ada baiknya kita renungkan ayat Quran berikut:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan


dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)
mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar (QS. An Nisaa: 9)”

e. Islam dan Aborsi


Permasalahan aborsi atau secara medis berarti penghentian kehamilan di bawah usia
kehamilan 20 minggu masih menjadi perdebatan di kalangan muslim. Kalangan yang
sepenuhnya menentang mendasarkan pendapatnya pada Quran Surat Ath-Thalaq: 3, yaitu,
‘Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya
Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu’

Sementara itu kalangan muslim lainnya membolehkan aborsi hanya untuk alasan berat
seperti mengancam nyawa ibu atau kemungkinan janin lahir cacat. Saat ini berkembang
perdebatan di Indonesia tentang akan dikeluarkannya Undang-Undang (UU) yang cenderung
untuk melegalkan bahkan meliberalkan aborsi, dengan alasan saat ini banyak masyarakat
yang terlibat praktik aborsi yang tidak aman sehingga menimbulkan angka kematian ibu dan
bayi tertinggi di antara negara-negara ASEAN. Tentu saja pembuatan produk legislatif ini
harus disikapi dengan bijaksana dengan melibatkan berbagai unsur dalam masyarakat
termasuk kalangan ulama dan agamawan dalam proses pembuatannya.

f. Islam dan Pendidikan Seks

Islam juga sama sekali tidak lupa untuk mengajarkan kita tentang pendidikan seks
berupa penjelasan tentang alat-alat reproduksi, kehamilan, menstrusi (haid), hubungan
seksual yang aman dan syar’i, dengan bahasa yang sederhana dan dalam batas tata susila
yang diperlukan, bukan mengandung unsur pornografi.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Islam mengatur seksualitas untuk mencegah
umat manusia melakukan perilaku seksual yang serampangan, yang dapat mengancam
kemanusiaan.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi

Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat
berdampak buruk bagi keseshatan reproduksi:

a. Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang


rendah dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi
tempat tinggal yang terpencil);
b. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada
kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi
reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan
yang lain, dsb);

c. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi karena
ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita terhadap pria yang membeli
kebebasannya secara materi, dsb);

d. Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular
seksual, dsb).

Pengaruh dari semua faktor diatas dapat dikurangi dengan strategi intervensi yang
tepat guna, terfokus pada penerapan hak reproduksi wanita dan pria dengan dukungan
disemua tingkat administrasi, sehingga dapat diintegrasikan kedalam berbagai program
kesehatan, pendidikan, sosial dam pelayanan non kesehatan lain yang terkait dalam
pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.

BAB III
PENUTUP

Persoalan kesehatan reproduksi bukan hanya mencakup persoalan kesehatan


reproduksi wanita secara sempit dengan mengaitkannya pada masalah seputar perempuan
usia subur yang telah menikah, kehamilan dan persalinan, pendekatan baru dalam program
kependudukan memperluas pemahaman persoalan kesehatan reproduksi. Dimana seluruh
tingkatan hidup perempuan merupakan fokus persoalan kesehatan reproduksi. Secara tematik,
ada lima kelompok masalah yang diperhatikan dalam kesehatan reproduksi, yaitu kesehatan
reproduksi itu sendiri, keluarga berencana, PMS dan pencegahan HIV/AIDS, seksualitas
hubungan manusia dan hubungan gender, dan remaja. Secara lebih spesifik, berbagai masalah
dalam kesehatan reproduksi adalah perawatan kehamilan, pertolongan persalinan, infertilitas,
menopause, penggunann kontrasepsi, kehamilan tidak dikehendaki dan aborsi baik pada
remaja maupun pasangan yang telah menikah, PMS dan HIV/AIDS (berkaitan dengan
prostitusi, homoseksualitas, dan gaya hidup), pelecehan dan kekerasan pada perempuan,
pekosaan, dan layanan dan informasi pada remaja.

Berfungsinya sistem reproduksi wanita dipengaruhi oleh aspek-aspek dan proses-


proses yang terkait pada setiap tahap dalam lingkungan hidup. Masa kanakkanak, remaja pra
-nikah, reprodukstif baik menikah maupun lajang, dan menopause akan dilalui oleh setiap
perempuan, dan pada masa- masa tersebut akan terjadi perubahan dalam sistem reproduksi.
Pada saat yang bersamaan dimungkinkan adanya faktor-faktor non klinis yang menyertai
perubahan itu, seperti faktor sosial, faktor budaya dan faktor politik yang berkaitan denag
kebijakan pemerintah. Berperannya berbagai faktor dalam kesehatan reproduksi ini
selanjutnya memberikan pemahaman akan keterlibatan subjek atau pelaku, diluar kelompok
perempuan itu sendiri. Salah satu subjek terdekat dan langsung berkaitan dengan masalah
reproduksi perempuan adalah kelompok laki-laki. Laki-laki dalam hal ini berperan penting
sesuai dengan statusnya terhadap perempuan, baik sebagai suami, saudara, ayah, teman,
maupun critical person dalam penentuan kebijakan.