Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS DOKTER INTERNSIP

PUSKESMAS AIR SAGA, TANJUNG PANDAN

No. ID dan Nama Peserta: dr. Jennifer Uriah

No. ID dan Nama Wahana: Puskesmas Air Saga, Tanjung Pandan

Topik: Cutaneous Larva Migrans

Tanggal (kasus) : 11 Desember 2017

Nama Pasien : An. NA No. RM : 513012

Tanggal presentasi : Juli 2017 Pendamping: dr. Wiryanti Husin

Tempat presentasi: Puskesmas Air Saga

Obyek presentasi :

Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka

Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa

Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil

Deskripsi:
Seorang anak perempuan, usia 13 tahun, dibawa Ibunya datang ke Poli Anak
Puskesmas Air Saga dengan keluhan utama gatal dan panas pada bagian paha kiri
yang dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Pada anamnesis didapatkan bahwa
seminggu sebelumnya pasien bermain ke pantai bersama dengan temannya tanpa
memakai alas kaki. Keesokan harinya, di paha kiri bagian atas keluar lepuh kecil
kemerahan yang terasa gatal dan panas, lama kelamaan lepuh tersebut meluas
berkelok-kelok, membentuk terowongan yang berisi cairan. Setelah beberapa hari,
telah terbentuk beberapa terowongan yang terasa sangat gatal dan panas. Pada saat
pasien datang, terlihat beberapa lesi berupa papul serpiginosa, sewarna kulit pada
bagian paha kiri. Pasien mengaku sering keluar bermain ke pantai bersama teman-
temannya tanpa memakai alas kaki. Pasien tidak pernah berobat ke tempat lain
sebelumnya, dan tidak pernah berobat sendiri.

Tujuan: Mampu mendiagnosis dan memberikan tatalaksana Cutaneous Larva


Migrans sesuai standar kompetensi.

Bahan Tinjauan Riset Kasus Audit


bahasan: pustaka

Cara Diskusi Presentasi E-mail Pos


membahas: dan diskusi

Data Nama: An. NA No.Registrasi: 513012


Pasien:
Instalasi Poli Anak Puskesmas Air
Saga

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Gambaran klinis
Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang anak perempuan, usia 13 tahun, dibawa Ibunya datang ke Poli Anak
Puskesmas Air Saga dengan keluhan utama gatal dan panas pada bagian paha
kiri yang dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Pada anamnesis didapatkan
bahwa seminggu sebelumnya pasien bermain ke pantai bersama dengan
temannya tanpa memakai alas kaki. Keesokan harinya, di paha kiri bagian atas
keluar lepuh kecil kemerahan yang terasa gatal dan panas, lama kelamaan
lepuh tersebut meluas berkelok-kelok, membentuk terowongan yang berisi
cairan. Setelah beberapa hari, telah terbentuk beberapa terowongan yang terasa
sangat gatal dan panas. Pada saat pasien datang, terlihat beberapa lesi berupa
papul serpiginosa, sewarna kulit pada bagian paha kiri. Pasien mengaku sering
keluar bermain ke pantai bersama teman-temannya tanpa memakai alas kaki.
Pasien tidak pernah berobat ke tempat lain sebelumnya, dan tidak pernah
berobat sendiri.
Riwayat Penyakit Dahulu
-

Riwayat Pengobatan
-

Riwayat Penyakit Keluarga


-

Riwayat Kebiasaan
Pasien adalah seorang pelajar dengan aktivitas fisik sehari-hari ringan dan
sering bermain keluar tanpa memakai alas kaki

Pada pemeriksaan fisik ditemukan:


Status Present:
Kondisi Umum : Baik
Kesadaran : E4V5M6/ Compos mentis
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit, irama reguler, volume cukup, ekualitas
sama kanan dan kiri
Respirasi : 16 x/menit
Suhu aksila : 36,5 ºC
Berat badan : 60 kg
Tinggi badan : 145cm
IMT : 28,5 kg/cm2
Status Generalisata

a) Kepala:
Normocephali, bentuk bulat, deformitas (-),
b) Wajah:
Ekspresi normal, pucat (-), kemerahan (-), sianosis (-), wajah simetris.
c) Mata:
Pupil bulat reguler isokor (+/+), Konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-), gerak bola mata normal
d) Teling/ Hidung/ Mulut:
Dalam batas normal
e) Leher :
KGB & kelenjar thyroid normal
f) Thoraks
 Paru
Inspeksi: Simetris fusiformis

Palpasi : Vokal fremitus kanan dan kiri simetris saat inspirasi dan
expirasi,
Perkusi : Sonor. Batas paru dengan hepar, jantung kanan, lambung,
jantung kiri normal.
Auskultasi: Suara nafas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

 Jantung
Inspeksi: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi: Ictus cordis teraba pada linea midclavicularis sinistra ICS VI

Perkusi :

Batas atas jantung : Linea parasternalis kanan ICS II

Batas kiri jantung : Linea midclavicularis sinistra ICS VI

Batas kanan jantung : Linea parasternalis dekstra ICS IV

Auskultasi: HR 88x/menit BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)

g) Abdomen
Inspeksi: Perut simetris, tipe pernapasan abdominotorakal

Palpasi: Supel, hepar, lien, teraba normal, ginjal ballotement (-)

Perkusi: 4 kuadran abdomen timpani, batas atas dan bawah hepar


normal, shifting dullness (-)

Auskultasi:Bising usus (+) normal


h) Ekstremitas
Atas

Hangat , edema , CRT < 2 detik

Bawah

Hangat , edema , CRT < 2 detik

2. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

3. Diagnosis Kerja
Cutaneous Larva Migrans

4. Tatalaksana
 Albendazole 5 x 400 mg
5. Prognosis
 Quo ad vitam: ad bonam
 Quo ad sanationam: ad bonam
 Quo ad fungsionam: ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi

Cutaneous larva migrans (CLM) merupakan kelainan kulit yang merupakan


peradangan yang berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dan progresif,
disebabkan oleh invasi cacing tambang yang berasal dari kucing dan anjing, yaitu
Ancylostoma braziliense, Ancylostoma caninum, dan Ancylostoma ceylanicum (Aisah,
2010). Selama beberapa dekade, istilah CLM dan creeping eruption sering
disamaartikan. Perbedaannya adalah, CLM menggambarkan sindrom, sedangkan
creeping eruption menggambarkan gejala klinis. Creeping eruption secara klinis
diartikan sebagai lesi yang linear atau serpiginius, sedikit menimbul, dan kemerahan
yang bermigrasi dalam pola yang tidak teratur (Caumes, 2006).

Penyakit yang menimbulkan gejala berupa creeping eruption tapi tidak


disebabkan oleh parasit non-larva tidak disebut sebagai CLM, misalnya seperti pada
dracunculiasis, loiasis, skabies, schistosomiasis, ataupun onchocerciasis (Kourilova,
2004; Caumes, 2004 dalam Heukelbach dan Feldmeier, 2008).

2.2. Epidemiologi

CLM terjadi di seluruh daerah tropis dan subtropis di dunia, terutama di


daerah yang lembab dan terdapat pesisir pasir. Di Amerika Serikat, penyakit ini
sebagian besar terjadi di negara bagian tenggara, terutama Florida, tetapi dapat juga
ditemukan secara sporadik di negara bagian lain (Donaldson et al, 1950 dalam
Gutiérrez, 2000). Kasus CLM telah dilaporkan di Jerman, Prancis, Inggris, Selandia
Baru, dan Amerika Serikat (Feldmeier dan Schuster, 2011).

CLM endemik di masyarakat kurang mampu di negara berkembang, seperti Brazil,


India, dan Hindia Barat. Sebuah studi di Manaus, Brazil, menunjukkan prevalensi
CLM pada anak-anak selama musim hujan berkisar 9,4%. Di daerah perkumuhan di
Timur Laut Brazil, didapati lebih dari 4% dari keseluruhan populasi dan 15% pada
anak-anak menderita CLM (Feldmeier dan Schuster, 2011).

Di negara-negara berpenghasilan tinggi, CLM terjadi secara sporadis atau dalam


bentuk epidemi yang kecil. Kasus sporadis biasanya berhubungan dengan kondisi
iklim yang tidak umum seperti musim semi atau hujan yang memanjang. Penyakit ini
sering muncul pada daerah dimana anjing dan kucing tidak diberikan antihelmintes
secara teratur (Heukelbach et al, 2008).

Secara geografis, distribusi CLM mencerminkan distribusi geografi Ancylostoma


braziliense. Sebagian besar kasus yang dilaporkan adalah wisatawan yang sering
berkunjung ke daerah pantai. Ancylostoma braziliense endemik pada anjing dan
kucing, sering ditemukan di sepanjang Pantai Atlantik Amerika Utara bagian
tenggara, Teluk Meksiko, Laut Karibia, Uruguay, Afrika (Afrika Selatan, Somalia,
Republik Kongo, Sierra Leone), Australia, dan Asia. Penyakit ini tidak muncul setelah
terpapar pantai yang tidak terdapat Ancylostoma braziliense, misalnya Pantai Pasifik
Amerika Serikat dan Meksiko (Soo et al, 2003).

2.3. Faktor Risiko

1. Faktor perilaku

Adapun faktor perilaku yang mempengaruhi kejadian CLM antara lain :

a) Kebiasaan tidak menggunakan alas kaki

Adanya bagian tubuh yang berkontak langsung dengan tanah yang


terkontaminasi akan mengakibatkan larva dapat melakukan penetrasi
ke kulit sehingga menyebabkan CLM (Abdulla dan Selim, 1998).

b) Pengobatan teratur terhadap anjing dan kucing

Penyebab utama CLM adalah larva cacing tambang yang berasal dari
anjing dan kucing (Aisah, 2010). Perawatan rutin anjing dan kucing,
termasuk de-worming secara teratur dapat mengurangi pencemaran
lingkungan oleh telur dan larva cacing tambang (CDC, 2012).

c) Berlibur ke daerah tropis atau pesisir pantai

Kondisi biogeografis yang hangat dan lembab menyebabkan banyak


terdapat larva penyebab penyakit ini di daerah tropis (Brenner dan
Patel, 2003). Selain itu, kebiasaan wisatawan untuk berjalan di pesisir
pantai tanpa menggunakan sandal dan berjemur di pasir tanpa
menggunakan alas menyebabkan banyaknya laporan kejadian CLM
dari wisatawan yang baru berlibur ke pantai (Heukelbach dan
Feldmeier, 2008). Sebuah penelitian pada wisatawan international yang
baru meninggalkan Brazil bagian Timur Laut di bandara menunjukkan
bahwa semua wisatawan yang menderita CLM telah mengunjungi
pantai selama liburannya (Heukelbach et al, 2007).

2. Faktor Lingkungan
Adapun faktor lingkungan yang mempengaruhi kejadian CLM antara lain :

a) Keberadaan anjing dan kucing


Anjing dan kucing merupakan hospes definitif dari cacing Ancylostoma
braziliense, Ancylostoma ceylanicum, dan Ancylostoma caninum. Tinja
anjing dan kucing yang terinfeksi dapat mengandung telur cacing
Ancylostoma braziliense, Ancylostoma ceylanicum dan Ancylostoma
caninum. Telur tersebut dapat berkembang menjadi stadium larva yang
infektif (filariform) pada tanah dan pasir yang terkontaminasi. Larva
filariform dari cacing tersebut apabila kontak dengan kulit manusia, dapat
menembus kulit dan menyebabkan CLM (Supali et al, 2009).
b) Cuaca atau iklim lingkungan
Ada variasi musiman yang berbeda pada kejadian CLM, dengan puncak
kejadian selama musim hujan. Telur dan larva bertahan lebih lama di tanah
yang basah dibandingkan di tanah yang kering dan dapat tersebar secara
luas oleh hujan yang deras. Selain itu, iklim yang lembab juga
mengakibatkan peningkatan infeksi cacing tambang di anjing dan kucing
sehingga pada akhirnya meningkatkan jumlah tinja yang terkontaminasi
dan risiko infeksi pada manusia (Heukelbach dan Feldmeier, 2008).
c) Tinggal di daerah dengan keadaan pasir atau tanah yang lembab
Telur Ancylostoma braziliense, Ancylostoma ceylanicum, dan Ancylostoma
caninum dikeluarkan bersama tinja anjing dan kucing. Pada keadaan
lingkungan yang lembab dan hangat, telur akan menetas menjadi larva
rabditiform dan kemudian menjadi larva filariform yang infektif. Larva
filariform inilah yang akan melakukan penetrasi ke kulit dan menyebabkan
CLM (CDC, 2012).

3. Faktor Demografis

Adapun faktor demografis yang mempengaruhi kejadian CLM antara lain :

a) Usia
CLM paling sering terkena pada anak berusia ≤4 tahun. Hal ini disebabkan
karena anak pada usia tersebut masih jarang menggunakan alas kaki saat
keluar rumah. Pada penelitian tersebut juga didapatkan bahwa usia
merupakan faktor demografis yang hubungannya paling signifikan dengan
kejadian CLM (p<0,0001) (Heukelbach et al,2008).
b) Pekerjaan
Larva infektif penyebab CLM terdapat pada tanah atau pasir yang lembab.
Orang yang pekerjaannya sering kontak dengan tanah atau pasir tersebut
dapat meningkatkan risiko terinfeksi larva CLM. Pekerjaan yang memiliki
risiko teinfeksi larva penyebab CLM diantaranya petani, nelayan, tukang
kebun, pemburu, penambang pasir dan pekerjaan lain yang sering kontak
dengan tanah atau pasir (Aisah, 2010).
c) Tingkat pendidikan
Suatu penelitian tentang prevalensi dan faktor risiko CLM di Brazil
menunjukkan, dari 1114 penduduk pedesaan, didapati 23 dari 354 (6,5%)
penduduk dengan tingkat pendidikan rendah menderita CLM, sedangkan
pada penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi, didapati 34 dari 760
(4,5%) orang menderita CLM (Heukelbach et al,2008).

2.4. Etiologi

Penyebab utama CLM adalah larva cacing tambang dari kucing dan anjing
(Ancylostoma braziliense, Ancylostoma ceylanicum, dan Ancylostoma caninum) dan
Strongyloides. Penyebab lain yang juga memungkinkan yaitu larva dari serangga
seperti Hypoderma dan Gasterophilus (Eckert, 2005). Di Asia Timur, CLM umumnya
disebabkan oleh Gnasthostoma sp. pada babi dan kucing. Pada beberapa kasus
ditemukan Echinococcus, Dermatobia maxiales, Lucilia caesar (Aisah, 2010).

Di epidermis, larva Ancylostoma brazilense akan bermigrasi dan


menyebabkan CLM selama beberapa minggu sebelum larva tersebut mati. Di sisi lain,
larva Ancylostoma caninum dan Ancylostoma ceylanicum dapat melakukan penetrasi
yang lebih dalam dan menimbulkan gejala klinis yang lain seperti enteritis eosinofilik.
(CDC, 2012)

2.5. Morfologi

Ancylostoma caninum mempunyai tiga pasang gigi (Supali et al, 2009).


Panjang cacing jantan dewasa Ancylostoma caninum berukuran 11-13 mm dengan
bursa kopulatriks dan cacing betina dewasa berukuran 14-21 mm. Cacing betina
meletakkan rata-rata 16.000 telur setiap harinya (Palgunadi, 2010).

Morfologi Ancylostoma braziliense mirip dengan Ancylostoma caninum, tetapi


kapsul bukalnya memanjang dan berisi dua pasang gigi sentral. Gigi sebelah lateral
lebih besar, sedangkan gigi sebelah medial sangat kecil. Selain itu, pada Ancylostoma
braziliense juga terdapat sepasang gigi segitiga di dasar bukal kapsul. Cacing betina
berukuran 6-9 mm dan cacing jantan berukuran 5-8 mm. Cacing betina dapat
mengeluarkan telur 4.000 butir setiap hari (Palgunadi, 2010). Morfologi Ancylostoma
ceylanicum juga hampir sama dengan A. braziliense dan A. caninum, hanya saja pada
rongga mulut A. ceylanicum terdapat terdapat dua pasang gigi yang tidak sama
besarnya (Supali et al, 2009).

2.6. Siklus Hidup

Telur keluar bersama tinja pada kondisi yang menguntungkan (lembab, hangat, dan
tempat yang teduh). Setelah itu, larva menetas dalam 1-2 hari. Larva rabditiform
tumbuh di tinja dan/atau tanah, dan menjadi larva filariform (larva stadium tiga) yang
infektif setelah 5 sampai 10 hari. Larva infektif ini dapat bertahan selama 3 sampai 4
minggu di kondisi lingkungan yang sesuai. Pada kontak dengan pejamu hewan (anjing
dan kucing), larva menembus kulit dan dibawa melalui pembuluh darah menuju
jantung dan paru-paru. Larva kemudian menembus alveoli, naik ke bronkiolus menuju
ke faring dan tertelan. Larva mencapai usus kecil, kemudian tinggal dan tumbuh
menjadi dewasa. Cacing dewasa hidup dalam lumen usus kecil dan menempel di
dinding usus. Beberapa larva ditemukan di jaringan dan menjadi sumber infeksi bagi
anak anjing melalui transmammary atau transplasenta. Manusia juga dapat terinfeksi
dengan cara larva filariform menembus kulit. Pada sebagian besar spesies, larva tidak
dapat berkembang lebih lanjut di tubuh manusia dan bermigrasi tanpa tujuan di
epidermis. Beberapa larva dapat bertahan pada jaringan yang lebih dalam setelah
bermigrasi di kulit (CDC, 2012).

2.7. Patogenesis

Telur pada tinja menetas di permukaan tanah dalam waktu 1 hari dan berkembang
menjadi larva infektif tahap ketiga setelah sekitar 1 minggu. Larva dapat bertahan
hidup selama beberapa bulan jika tidak terkena matahari langsung dan berada dalam
lingkungan yang hangat dan lembab. Kemudian jika terjadi kenaikan suhu, maka
larva akan mencari pejamunya. Setelah menempel pada manusia, larva merayap di
sekitar kulit untuk tempat penetrasi yang sesuai. Akhirnya, larva menembus ke lapisan
korneum epidermis. Larva infektif mengeluarkan protease dan hialuronidase agar
dapat bermigrasi di kulilt manusia (Heukelbach dan Feldmeier, 2008). Selanjutnya,
larva bermigrasi melalui jaringan subkutan membentuk terowongan yang menjalar
dari satu tempat ke tempat lainnya (Shulmann et al, 1994 dalam Palgunadi, 2010).

Pada hewan, larva mampu menembus dermis dan melengkapi siklus hidupnya dengan
berkembang biak di organ dalam. Pada manusia, larva tidak memiliki enzim
kolagenase yang cukup untuk menembus membran basal dan menyerang dermis,
sehingga larva tersebut tidak dapat melanjutkan perkembangan siklus hidupnya.
Akibatnya, selamanya larva terjebak di jaringan kulit penderita hingga masa hidup
dari cacing ini berakhir (Juzych, 2012; Palgunadi, 2010).

2.8. Gejala Klinis

Pada saat larva masuk ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas di tempat larva
melakukan penetrasi. Rasa gatal yang timbul terutama terasa pada malam hari, jika
digaruk dapat menimbulkan infeksi sekunder (Natadisastra & Agoes, 2009). Mula-
mula akan timbul papul, kemudian diikuti bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk
linear atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2-3 mm, dan berwarna
kemerahan. Adanya lesi papul yang eritematosa ini menunjukkan bahwa larva
tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari. Perkembangan
selanjutnya, papul merah ini menjalar seperti benang berkelok-kelok, polisiklik,
serpiginosa, menimbul, dan membentuk terowongan (burrow), mencapai panjang
beberapa sentimeter (Aisah, 2010). Pada stadium yang lebih lanjut, lesi-lesi ini akan
lebih sulit untuk diidentifikasi, hanya ditandai dengan rasa gatal dan nodul-nodul
(Vega-Lopez dan Hay, 2004).

Lesi tidak hanya berada di tempat penetrasi. Hal ini disebabkan larva dapat bergerak
secara bebas sepanjang waktu. Umumnya, lesi berpindah ataupun bertambah beberapa
milimeter perhari dengan lebar sekitar 3 milimeter. Pada CLM, dapat dijumpai lesi
tunggal atau lesi multipel, tergantung pada tingkat keparahan infeksi (CDC, 2012).

Pada infeksi percobaan dengan 50 larva, didapati gejala mulai muncul beberapa menit
setelah tusukan, diikuti dengan munculnya papul-papul setelah 10 menit. Beberapa
jam kemudian, bercak awal mulai digantikan oleh papul kemerahan. Papul-papul
kemudian bergabung membentuk erupsi eritematopapular, yang kemudian akan
menjadi vesikel yang sangat gatal setelah 24 jam. Lesi berbentuk linear atau berkelok-
kelok mulai muncul 5 hari setelah infeksi (Africa, 1932 dalam Gutiérrez, 2000).

CLM biasanya ditemukan pada bagian tubuh yang berkontak langsung dengan tanah
atau pasir (CDC, 2012). Tempat predileksi antara lain di tungkai, plantar, tangan,
anus, bokong, dan paha (Aisah, 2010).

Pada kondisi sistemik, gejala yang muncul antara lain eosinofilia perifer (sindroma
Loeffler), infiltrat pulmonar migratori, dan peningkatan kadar imunoglobulin E,
namun kondisi ini jarang ditemui (Vano-Galvan et al, 2009).

2.9. Diagnosis

Diagnosis CLM ditegakkan berdasarkan gejala klinisnya yang khas dan disertai
dengan riwayat berjemur, berjalan tanpa alas kaki di pantai atau aktivitas lainnya di
daerah tropis, biopsi tidak diperlukan (Vano-Galvan et al, 2009).

Prosedur invasif jarang digunakan untuk mengindentifikasi parasit pada CLM. Hal ini
disebabkan karena ujung anterior lesi tidak selalu menunjukkan tempat dimana larva
berada. Pada pemeriksaan lab, eosinofilia mungkin ditemukan, namun tidak spesifik.
Dalam sebuah penelitian di Jerman pada wisatawan dengan CLM, hanya pada 8
(20%) dari 40 orang didapatkan eosinofilia. Namun, peningkatan kadar eosinofil
dapat mengindikasikan perpindahan larva cacing ke visceral, tetapi ini termasuk
komplikasi yang jarang terjadi (Heukelbach dan Feldmeier, 2008).

CLM yang disebabkan oleh Ancylostoma caninum dapat dideteksi dengan ELISA
(Enzyme-linked immunosorbent assay). Sekarang ini, mikroskop epiluminesens telah
digunakan untuk memvisualisasikan pergerakan larva, namun sensitivitas metode ini
belum diketahui (Heukelbach dan Feldmeier, 2008).

2.10. Diagnosis Banding

Jika ditinjau dari terowongan yang ada, CLM harus dibedakan dengan skabies. Pada
skabies, terowongan yang terbentuk tidak sepanjang pada CLM. Namun, apabila
dilihat dari bentuknya yang polisiklik, penyakit ini sering disalahartikan sebagai
dermatofitosis. Pada stadium awal, lesi pada CLM berupa papul, karena itu sering
diduga dengan insects bite. Bila invasi larva yang multipel timbul serentak, lesi
berupa papul-papul sering menyerupai herpes zoster stadium awal (Aisah, 2010).

Diagnosis banding yang lain antara lain dermatitis kontak alergi, dermatitis fotoalergi
(Robson dan Othman, 2008), loiasis, myasis, schistosomiasis, tinea korporis
(Heukelbach dan Feldmeier, 2008), dan ganglion kista serpiginius (Friedli et al,
2002). Kondisi lain yang bukan berasal dari parasit yang menyerupai CLM adalah
tumbuhnya rambut secara horizontal di kulit (Sakai et.al, 2006).

2.11. Pengobatan

Menurut Heukelbach dan Feldmeier (2008), obat pilihan utama pada CLM adalah
ivermectin. Dosis tunggal (200 μg/kg berat badan) dapat membunuh larva secara
efektif dan menghilangkan rasa gatal dengan cepat. Angka kesembuhan dengan dosis
tunggal berkisar 77% sampai 100%. Dalam hal kegagalan pengobatan, dosis kedua
biasanya dapat memberikan kesembuhan. Ivermectin kontradiksi pada anak-anak
dengan berat kurang dari 15 kg atau berumur kurang dari 5 tahun dan pada ibu hamil
atau wanita menyusui. Namun, pengobatan off- label pada anak-anak dan ibu hamil
sudah pernah dilakukan dengan tanpa adanya laporan kejadian merugikan yang
signifikan (Saez-de-Ocariz et al, 2002; Gyapong et al, 2004 dalam Heukelbach dan
Feldmeier, 2008).

Dosis tunggal ivermectin lebih efektif daripada dosis tunggal albendazol, tetapi
pengobatan berulang dengan albendazol dapat dilakukan sebagai alternatif yang baik
di negara-negara dimana ivermectin tidak tersedia. Oral albendazol (400 mg setiap
hari) yang diberikan selama 5-7 hari menunjukkan tingkat kesembuhan yang sangat
baik, dengan angka kesembuhan mencapai 92-100%. Karena dosis tunggal albendazol
memiliki efikasi yang rendah, albendazol dengan regimen tiga hari biasanya lebih
direkomendasikan. Jika diperlukan, dapat dilakukan pendekatan alternatif dengan
dosis awal albendazol dan mengulangi pengobatan (Heukelbach dan Feldmeier,
2008).

Tiabendazol (50 mg per kg berat badan selama 2-4 hari) telah digunakan secara luas
sejak laporan mengenai efikasinya pada tahun 1963. Namun, tiabendazol yang
diberikan secara oral memiliki toleransi yang buruk. Selain itu, penggunaan
tiabendazol secara oral sering menimbul efek samping berupa pusing, mual muntah,
dan keram usus. Karena penggunaan ivermectin dan albendazol secara oral
menunjukkan hasil yang baik, penggunaan tiabendazol secara oral tidak
direkomendasikan (Heukelbach dan Feldmeier, 2008).

Penggunaan tiabendazol secara topikal pada lesi dengan konsentrasi 10- 15% tiga kali
sehari selama 5-7 hari terbukti memiliki efektivitas yang sama dengan pengguaan
ivermectin secara oral. Penggunaan secara topikal didapati tidak memiliki efek
samping, tetapi memerlukan kepatuhan pasien yang baik. Tiabendazol topikal terbatas
pada lesi multipel yang luas dan tidak dapat digunakan pada folikulitis. Ivermectin
dan albendazol adalah gabungan yang menjanjikan untuk penggunaan topikal,
terutama untuk anak-anak, namun data efikasi untuk penggunaan ini masih terbatas.
Infeksi sekunder harus ditangani dengan antiobiotik topikal (Heukelbach dan
Feldmeier, 2008).

Cara terapi lain ialah dengan cryotherapy yakni menggunakan CO2 snow (dry ice)
dengan penekanan selama 45 detik sampai 1 menit, dua hari berturut- turut. Selain itu,
dapat juga dilakukan dengan menggunakan nitrogen liquid dan penyemprotan kloretil
sepanjang lesi. Akan tetapi, ketiga cara tersebut sulit karena sulit untuk mengetahui
secara pasti dimana larva berada. Di samping itu, cara ini dapat menimbulkan nyeri
dan ulkus. Pengobatan dengan cara ini sudah lama ditinggalkan (Aisah, 2010).
2.12. Pencegahan

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian CLM antara lain:

 Mencegah bagian tubuh untuk berkontak langsung dengan tanah atau pasir
yang terkontaminasi (Heukelbach dan Feldmeier, 2008)
 Saat menjemur pastikan handuk atau pakaian tidak menyentuh tanah
(Heukelbach dan Feldmeier, 2008)
 Melakukan pengobatan secara teratur terhadap anjing dan kucing dengan
antihelmintik (Bava et al, 2011)
 Hewan dilarang untuk berada di wilayah pantai ataupun taman bermain (Bava
et al, 2011)
 Menutup lubang-lubang pasir dengan plastik dan mencegah binatang untuk
defekasi di lubang tersebut (Tremblay et al, 2000 dalam Heukelbach dan
Feldmeier, 2008)
 Wisatawan disarankan untuk menggunakan alas kaki saat berjalan di pantai
dan menggunakan kursi saat berjemur (Tremblay et al, 2000 dalam
Heukelbach dan Feldmeier, 2008)

Akan tetapi, pada masyarakat yang kurang mampu, keterbatasan finansial


mengakibatkan sulitnya masyarakat untuk memberikan pengobatan yang teratur
terhadap anjing dan kucing. Sehingga pada akhirnya, pemberantasan cacing tambang
pada binatang hanya bisa dilakukan dengan cara melakukan pengontrolan yang
terintegrasi antara pihak kesehatan masyarakat, antropologis medis, dokter hewan,
dan masyarakat (Heukelbach, Mencke, dan Feldmeier, 2002).

2.13. Prognosis

CLM termasuk ke dalam golongan penyakit self-limiting. Pada akhirnya, larva


akan mati di epidermis setelah beberapa minggu atau bulan. Hal ini disebabkan
karena larva tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya pada manusia (Hochedez dan
Caumes, 2007). Lesi tanpa komplikasi yang tidak diobati akan sembuh dalam 4-8
minggu, tetapi pengobatan farmakologi dapat memperpendek perjalanan penyakit
(Robson dan Othman, 2008).
DAFTAR PUSTAKA

Abdulla, F. & Selim, M.M., 1998. A New Therapeutic Modality For Cutaneous Larva
Migrans. The Gulf Journal of Dermatology, 5(2): 54-55.

Africa, C.M., 1932. Studies on Experimental Creeping Eruption in the Philippines.


Philipp J Sci, 48: 89-101.

Bava, J., Gonzalez, L.G., Seley, C.M., López, G.P. & Troncoso, A., 2011. A Case
Report of Cutaneous Larva Migrans in Argentina. Asian Pacific Journal of Tropical
Biomedicine, 1(1): 81-82.

Brenner, M.A. & Patel, M.B., 2003. Cutaneous Larva Migrans: The Creeping
Eruption. Cutis, 72: 111-115.

Caumes, E., 2006. It's Time to Distinguish The Sign "Creeping Eruption" from The
Syndrome "Cutaneous Larva Migrans". Dermatology, 213: 179-181. Caumes, E. &
Danis, M., 2004. From Creeping Eruption to Hookworm-Related

Cutaneous Larva Migrans. Lancet Infectious Diseases, 4: 659-660.Centers for Disease


Control and Prevention, 2012. Parasites - Zoonotic Hookworm. Availaible form:
http://www.cdc.gov/parasites/zoonotichook worm/ [Accessed 20 April 2013].

Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 2013. Parasites - Hookworm.
Available from: www.cdc.gov/parasites/hookworm [Accessed 21 April 2013].
Donaldson, A.W., Steele, J.H. & Scatterday, J.E., 1950. Creeping Eruption in the
Southeastern Unites States. Proccedings of the 87th Annual Meeting of The American
Veterinary Association, Section of Public Health, 83-89.

DPDx, 2010. Image Library: Hookworm. Available from:


http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/ImageLibrary/Hookworm_il.htm [Ac- cessed
25 Mei 2013].

Eckert, J., 2005. Larva Migrans Externa or Cutaneous Larva Migrans. In: Bienz, K.A.
Medical Microbiology. New York: Thieme Medical Publisher, 602. Feldmeier, H. &
Schuster, A., 2011. Mini Review: Hookworm-related Cutaneous Larva Migrans. Eur J
Clin Microbiol Infect Dis, 31(6): 915-918.

Friedli A., Saurat J.H., Harms M., 2002. Serpiginous ganglion cyst of the foot
mimicking cutaneous larva migrans. J Am Acad Dermato, 47: 266–267. Gutiérrez, Y.,
2000. Diagnostic Patology of Parasitic Infections: With Clinical Correlations. Edisi
ke-2. New York : Oxford University Press, 343-352.

Gyapong, J.O., Chinbuah, M.A. & Gyapong, M., 2003. Inadvertent Exposure of
Pregnant Women to Ivermectin and Albendazole During Mass Drug Administration
for Lymphatic Filariasis. Trop Med Int Healt, 8: 1093–1101.

Heukelbach, J. & Feldmeier, H., 2008. Epidemiological and Clinical Characteristics


Of Hookworm-related Cutaneous Larva Migrans. Lancet Infectious Diseases. 8: 302-
309.Heukelbach, J., Gomide, M., Araújo, F.Jr., Pinto, N.S., Santana, R.D., Brito, J.R.
& Feldmeier, H., 2007. Cutaneous Larva Migrans and Tungiasis in International
Travelers Exiting Brazil: An Airport Survey. J Travel Med, 14: 374-380.

Heukelbach, J., Jackson, A., Ariza, L. & Feldmeier, H., 2008. Prevalence and Risk
Factors of Hookworm-related Cutaneous Larva Migrans in a Rural Community in
Brazil. Annual Tropical Medicine Parasitology, 31: 493-498.

Heukelbach, J., Mencke, N. & Feldmeier, H., 2002. Cutaneous Larva Migrans and
Tungiasis: The Challenge to Control Zoonotic Ectoparasitoses Associated with
Poverty. Trop Med Int Health, 7: 907–910.

Heukelbach, J., Wilcke, T. & Feldmeier, H., 2004. Cutaneous Larva Migrans
(Creeping Eruption) in an Urban Slum in Brazil. International Journal of
Dermatology, 43: 511-515.

Hochedez, P. & Caumes, E, 2007. Hookworm-related cutaneous larva migrans. J


Travel Med, 14: 326–333.

Juzych, L.A., 2012. Cutaneous Larva Migrans. Available form:


http://emedicine.medscape.com/article/1108784-overview. [Accessed 20 April 2013].
Kourilova, P., Hogg, K.G. & Kolarova, L., 2004. Cercarial Dermatitis Caused by Bird
Schistosomes Comprises both Immediate and Late Phase Cutaneous

Hypersensitivity Reactions. Journal of Immunology. 172: 3766-3774.Lutvi, H., 2012.


Analisis Faktor Risiko Kejadian Creeping Eruption di Kabupaten Kulon Progo
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Natadisastra, D. & Agoes, R., 2009. Cutaneous Larva Migrans (Creeping Eruption).
In: Parasitologi Kedokteran: Ditinjau dari Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 275-276.

Palgunadi, B.U., 2010. Cutaneous Larva Migrans. Jurnal Ilmiah Kedokteran, 2(1):
31-33.Peel, M.C., Finlayson, B.L., McMahon, T.A., 2007. Updated World Map Of
The Koppen-Geiger Climate Classification. Hydrol. Earth Syst. Sci., 11: 1633- 1644.
Robson, N.Z. & Othman, S., 2008. A Case of Cutaneous Larva Migrans Acquired
from Soiled Toilet Floors in Urban Kuala Lumpur. Med J Malaysia, 4: 331- 332.

Sakai, R., Higashi, K., Ohta, M., Sugimoto, Y., Ikoma, Y. & Horiguchi, Y., 2006.
Creeping Hair: An Isolated Hair Burrowing in the Uppermost Dermis Resembling
Larva Migrans. Dermatology, 213: 242-244.

Sáez-de-Ocariz, M.M., McKinster, C.D., Orozco-Covarrubias, L., Tamayo- Sánchez


L. & Ruiz-Maldonado R., 2002. Treatment of 18 Children with Scabies or Cutaneous
Larva Migrans Using Ivermectin. Clin Dermatol, 27: 264–267.

Schuster, A., Lesshafft, H., Talhari, S., Oliveira, S.G.D., Ignatius, R., Feldmeier, H.,
2011. Life Qulity Impairment Caused by Hookworm-Related Cutaneous Larva
Migrans in Resource-Poor Communities in Manaus, Brazil. PLoS Neglected Tropical
Diseases, 5(11): 1-9.

Shulman, S.T., Phair, J.P. & Sommers, H.M., 1994. Dasar Biologis dan Klinis
Penyakit Infeksi. Edisi ke-4. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 341.

Soo, J.K., Vega-Lopez, F., Steven, H.P. & Chiodini P.L., 2003. Cutaneous Larva
Migrans and BeyondA Rare Association. Travel Med Infect Dis, 1:41-43.

Supali, T., Margono, S.S., Alisah, N.A., 2009. Cacing Tambang (Hookworm). In:
Sutanto, I., Ismid, I.I., Sjarifuddin, P.K., Sungkar, S. (ed), Buku Ajar Parasitologi
Kedokteran. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 12-24.

Tolan Jr, R.W., 2013. Pediatric Cutaneous Larva Migrans. Available form:
http://emedicine.medscape.com/article/998709-overview [Accessed 25 Mei 2013]

Tremblay A., MacLean J.D., Gyorkos T. & Macpherson D.W., 2000. Outbreak of
cutaneous larva migrans in a group of travellers. Trop Med Int Health, 5: 330–334.

Vano-Galvan, S.,Gil-Mosquera, M., Truchuelo, M. & Jaén, P.,2009. Cutaneous Larva


Migrans: A Case Report. Cases Journal, 2: 112.

Vega-Lopez, F. & Hay, R.J., 2004. Parasitic Worms and Protozoa. In: Burns, T.,
Breatnach, S., Cox, N. & Griffiths, C., eds. Rook’s Textbook of Dermatology. United
Kingdom: Blackwell Science Ltd.

Wahyuni, A.S, 2007. Statistika Kedokteran Disertai Aplikasi dengan SPSS. Jakarta:
Bamboedoea Communication.

Weller, P.F. & Leder, K., 2012. Cutaneous Larva Migrans (Creeping Eruption).
Available from: http://www.uptodate.com/contents/cutaneous-larva-migrans-
creeping-eruption [Accessed 21 April 2013].