Anda di halaman 1dari 12

Infeksi Jamur Dermatofita pada Sela Jari Kaki

Grace Elizabeth Claudia | B2 | 102012290

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
gracesaroinsong@live.com
2014

Pendahuluan
Latar belakang
Tinea pedis merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh jamur
pada kaki, terutama pada sela-sela jari dan telapak kaki. Tiga genus utama yang
menjadi penyebabnya adalah Tricophyton, Epidermophyton, dan Microsporum.
Species yang paling sering menyebabkan tinea pedis adalah Tricophyton rubrum dan
Tricophyton mentagrophytes. Tinea pedis dapat ditransmisikan melalui kontak
langsung. Gejala yang ditimbulkan antara lain kulit pecah bersisik serta rasa gatal.

Skenario
Seorang perempuan berusia 21 tahun, pekerjaan tukang cuci baju, datang ke
puskesmas dengan keluhan gatal pada sela-sela jari kaki kanan dan kiri, sejak 2 bulan
yang lalu.

Rumusan Masalah
Dari skenario diatas, dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Perempuan 21 tahun mengalami gatal pada sela-sela jari kaki kanan dan kiri
sejak 2 bulan yang lalu.

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat memahami anamnesis.
2. Mahasiswa dapat memahami pemeriksaan fisik.
3. Mahasiswa dapat memahami pemeriksaan penunjang.
4. Mahasiswa dapat memahami diagnosis kerja.
5. Mahasiswa dapat memahami diagnosis banding.
6. Mahasiswa dapat memahami patofisiologi.
7. Mahasiswa dapat memahami etiologi.
8. Mahasiswa dapat memahami epidemiologi.
9. Mahasiswa dapat memahami gejala klinis.
10. Mahasiswa dapat memahami penatalaksanaan.
11 Mahasiswa dapat memahami komplikasi.
12. Mahasiswa dapat memahami prognosis.

Pembahasan
Anamnesis
Anamnesis adalah wawancara yang dapat mengarahkan masalah pasien ke diagnosis
penyakit tertentu. Anamnesis memiliki tujuan untuk menentukan diagnosis kemungkinan
sehingga membantu menentukan langkah pemeriksaan selanjutnya, termasuk pemeriksaan
fisik dan penunjang. Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien (auto-anamnesis)
atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis) bila keadaan pasien tidak
memungkinkan untuk diwawancarai. Anamnesis yang baik akan terdiri dari Identitas,
Keluhan utama, Riwayat penyakit sekarang, Riwayat penyakit dahulu, Riwayat penyakit
dalam keluarga dan Riwayat pribadi. Beberapa pertanyaan diajukan dalam melakukan
diagnosis. Seperti: 1,2
1. Ada tidaknya gejala lokal akibat keganasan seperti kebiasaan buang air besar,
hematemesis, hemoptisis.
2. Ada tidaknya gejala sistemik seperti demam, penurunan berat badan, anoreksia, gatal.
3. Ada tidaknya gejala metastasis seperti ikterus, pembesaran kelenjar getah bening.
4. Adanya manifestasi nonmetastatik dari keganasan.
5. Tingkat fungsional pasien.
Dalam anamnesis harus diketahui riwayat penyakit terdahulu. Riwayat penyakit
dahulu dapat diketahui melalui ada tidaknya riwayat keganasan, penyebaran lokal, ada
tidaknya riwayat terapi atau pembedahan, dan ada tidaknya riwayat pajanan
karsinogen. Jika didapatkan riwayat terapi, harus diketahui apakah pasien pernah
memperoleh kemoterapi, radioterapi, atau terapi hormonal. Harus diketahui juga efek
samping yang timbul. Pada riwayat keluarga harus diketahui apakah ada dari salah
satu keluarga yang mengalami penyakit kanker. Harus diperhitungkan riwayat sosial

2
yang dialami oleh pasien, bagaimana pasien dan keluarganya mengatasi penyakit
yang diderita oleh pasien.
Selain itu dilakukan inspeksi untuk melihat gejala klinis dan memastikan apa yang
telah didapatkan dari hasil anamnesis, selain itu pemeriksaan inspeksi sangat berguna untuk
membantu menentukan diagnosa awal suatu penyakit kulit.2

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik mempunyai nilai yang sangat penting untuk memperkuat temuan-
temuan dalam anamnesis. Salah satu pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah memeriksa
tanda-tanda vital yang terdiri dari suhu, tekanan darah, nadi, dan frekuensi pernapasan. Suhu
tubuh yang normal adalah 36-37oC. Pada pagi hari suhu mendekati 36oC, sedangkan pada
sore hari mendekati 37oC. Tekanan darah diukur dengan menggunakan tensimeter dengan
angka normalnya 120/80 mmHg. Pemeriksaan nadi biasa dilakukan dengan melakukan
palpasi a. radialis. Frekuensi nadi yang normal adalah sekitar 60-80 kali permenit. Dalam
keadaan normal, frekuensi pernapasan adalah 16-24 kali per menit.1
Kedua adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah dengan inspeksi dan palpasi.
Inspeksi yang dilakukan awalnya adalah melihat kondisi umum pasien, apakah sakit ringan
atau berat. Selanjutnya dalam pemeriksaan kulit, dilakukan inspeksi kelainan kulit yang
ditemukan, apakah jenisnya, bagaimana warna dan bentuk lesi. Selanjutnya dilakukan palpasi
pada lesi untuk mengetahui suhu, mobilitas, nyeri tekan, dan kedalaman. Sikap sopan santun
dan rasa hormat terhadap tubuh dan pribadi pasien yang sedang diperiksa harus diperhatikan
dengan baik oleh pemeriksa.1,2

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnosis terdiri atas
pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pemeriksaan lain, misalnya pemeriksaan
histopatologik, percobaan binatang, dan imunologik tidak diperlukan.3
Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis, yang
dapat berupa kerokan kulit, rambut, dan kuku. Bahan untuk pemeriksaan mikologik diambil
dan dikumpulkan sebagai berikut: terlebih dahulu tempat kelainan dibersihkan dengan
spiritus 70%, kemudian untuk:3
1. Kulit tidak berambut (glabrous skin) L dari bagian tepi kelainan sampai dengan
bagian sedikit di luar kelainan sisik kulit dan kulit dikerok dengan pisau tumpul
steril.

3
2. Kulit berambut: rambut dicabut pada bagian kulit yang mengalami kelainan; kulit
di daerah tersebut dikerok untuk mengumpulkan sisik kulit, pemeriksaan dengan
lampu wood dilakukan untuk mengetahui lebih jelas dearh yang terkena infeksi
dengan kemungkinan adanya fluoresensi pada kasus-kasus tinea kapitis tertentu.
3. Kuku: bahan diambil dari permukaan kuku yang sakit dan dipotong sedalam-
dalamnya sehingga mengenai seluruh tebal kuku, bahan dibawah kuku diambil
pula.
Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan dengan mikroskop, mula-mula dengan
pembesaran 10x10 kemudian dengan pembesaran 10x45. Pemeriksaan dengan pembesaran
10x100 biasanya tidak diperlukan.3
Sediaan basah dibuat dengan meletakan bahan diatas gelas alas, kemudian ditambah
1-2 tetes larutan KOH. Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan rambut adalah 10% dan untuk
kulit dan kuku 20%. Setelah sediaan dicampur dengan larutan KOH, ditunggu 15-20 menit
hal ini diperlukan untuk melarutkan jaringan. Untuk mempercepat proses pelarutan dapat
dilakukan pemanasan sediaan basah diatas api kecil. Pada saat mulai keluar uap dari sediaan
tersebut, pemanasan sudah cukup. Bila terjadi penguapan, maka akan terbentuk kristal KOH,
sehingga tujuan yang diinginkan tidak tercapai. Untuk melihat elemen jamur lebih nyata
dapat ditambahkan zat warna pada sediaan KOH, misalnya tinta parker superchroom blue
black.3
Pada sediaan kuku dan kulit yang terlihat adalah hifa, sebagai dua garis sejajar,
terbagi oleh sekat dan bercabang, maupun spora berderet (atrospora) pada kelainan kulit lama
dan atau sudah diobati. Pada sediaan rambut yang dilihat adalah spora kecil (mikrospora) atau
besar (makrospora). Spora dapat tersusun diluar rambut (ektotriks) atau didalam rambut
(endotriks). Kadang-kadang dapat terlihat juga hifa pada sediaan rambut.3
Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung
sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pemeriksaan ini dilakukan dengan
menanamkan bahan klinis pada media buatan. Yang dianggap paling baik pada waktu ini
adalah medium agar dekstrosa sabouraud. Pada agar sabouraud dapat ditambahkan antibiotik
saja (kloramfenikol) atau ditambah pula klorheksimid. Kedua zat tersebut diperlukan untuk
menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan.3

4
Diagnosis Kerja
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya
stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur
dermatofita.3
Klasifikasi dermatofitosis menurut Simons dan Gohar (1954) adalah dermatomikosis,
trikomikosis, dan onikomikosis berdasarkan bagian tubuh manusia yang terserang.
Pembagian yang lebih praktis dan dianut oleh para spesialis kulit adalah berdasarkan lokasi.
Dengan demikian dikenal bentuk-bentuk:3
1. Tinea kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala
2. Tinea barbe, dermatofitosis pada dagu dan jenggot
3. Tinea kruris, dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan
kadang-kadang sampai perut bagian bawah
4. Tinea pedis et manum, dermatofitosis pada kaki dan tangan
5. Tinea unguium, dermatofitosis pada kuku jari tangan dan kaki
6. Tinea korporis, dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 5 tinea di
atas.
Pada kasus diatas, disebutkan bahwa perempuan berusia 21 tahun tersebut mengalami
gatal pada sela jari kaki kanan dan kiri, dan dapat disimpulkan bahwa diagnosis kerjanya
adalah Tinea pedis.3

Etiologi
Dermatofitosis disebabkan oleh jamur golongan dermatofita. Dermatofita merupakan
golongan jamur yang mempunyai sifat dapat mencernakan keratin. Berdasarkan sifat
morfologi, dermatofita dikelompokkan dalam 3 genus: Tricophyton, Microsporum dan
Epidermophyton. Dari ketiga genus tersebut diketahui sekitar 20 spesies penyebab, sebagian
tersebar luas di dunia dan sebagian lagi penyebarannya dibatasi secara geografik. Enam
spesies penyebab utama dermatofitosis di Indonesia adalah Tricophyton mentagrophytes,
Microsporum canis, Microsporum gypseum, Tricophyton concentricum dan Epidermophyton
floccosum. Penyebab dari Tinea pedis adalah semua genus dermatofita terutama Tricophyton
rubrum dan Tricophyton mentagrophytes.4
Hifa Tricophyton rubrum halus. Jamur ini membentuk banyak mikrokonidia.
Mikrokonidianya kecil, berdinding tipis dan berbentuk lonjong. Mikrokonidia ini terletak
pada konidiafora yang pendek, dan tersusun secara satu persatu pada sisi hifa (en thyrse).
Makrokonidia Tricophyton rubrum berbentuk sebagai pensil dan terdiri atas beberapa sel.

5
Mikrokonidia Tricophyton mentagrophytes berbentuk bulat dan jamur ini banyak membentuk
hifa spiral. Makrokonidia Tricophyton mentagrophytes juga berbentuk pensil.4
Faktor predisposisi tinea pedis berupa kaki yang selalu basah, baik oleh air (tukang
cuci), maupun keringat (sepatu tertutup dan memakai kaos kaki). Sering terjadi maserasi
kulit.4

Patofisiologi
Terjadinya penularan dermatofitosis adalah melalui 3 cara, yaitu Antropofilik,
Zoofilik, dan Geofilik. Antropofolik adalah transmisi dari manusia ke manusia. Ditularkan
baik secara langsung maupun tidak langsung melalui lantai kolam renang dan udara sekitar
rumah sakit atau klinik, dengan atau tanpa reaksi keradangan. Contohnya adalah M.audouini
dan T.rubrum. Zoofilik adalah transmisi dari hewan ke manusia. Ditularkan melalui kontak
langsung maupun tidak langsung melalui bulu binatang yang terinfeksi dan melekat di
pakaian, atau sebagai kontaminan pada rumah atau tempat tidur hewan, tempat makanan dan
minuman hewan. Contohnya adalah M.canis pada anjing dan kucing dan T.verrrucosum pada
sapi. Geofilik adalah transmisi dari tanah ke manusia. Secara sporadis menginfeksi manusia
dan menimbulkan reaksi radang. Contohnya adalah M.gypseum.4
Gejala dermatofitosis terjadi karena jamur mengadakan kolonisasi pada kulit, kuku,
atau rambut. Gambaran klinis bervariasi bergantung pada lokasi kelainan, respons imun
selular penderita terhadap penyebab, serta jenis spesies. Spesies jamur antropofilik umumnya
menyebabkan kelainan yang tenang tanpa peradangan, menahun; sedangkan infeksi spesies
zoofilik dan geofilik pada manusia memberikan gambaran lebih akut dengan peradangan.4

Epidemiologi
Tinea pedis terdapat baik di daerah tropik maupun daerah lainnya. Penyakit ini
banyak terlihat pada orang yang dalam kehidupan sehari-hari banyak bersepatu tertutup
disertai perawatan kaki yang buruk dan para pekerja dengan kaki yang selalu atau sering
basah. Penderita biasanya orang dewasa. Prevalensi pada laki-laki lebih tinggi dibanding
perempuan. Insidens meningkat sesuai dengan meningkatnya umur dan umunya terjadi
pascapubertas. 4,5

Gejala Klinis
Tinea pedis yang tersering dilihat adalah bentuk interdigitalis (Gambar 1). Di antara
jari IV dan V terlihat fisura yang dilingkari sisik halus dan tipis. Kelainan ini dapat meluas ke

6
bawah jari (subdigital) dan juga ke sela jari yang lain. Oleh karena daerah ini lembab, maka
sering dilihat maserasi (Gambar 2). Aspek klinis maserasi berupa kulit putih dan rapuh. Bila
bagian kulit yang mati ini dibersihkan, maka akan terlihat kulit baru, yang pada umumnya
juga telah diserah oleh jamur. Bentuk klinis dapat berlangsung bertahun-tahun dengan
menimbulkan sedikit keluhan atau tanpa keluhan sama sekali. Pada suatu ketika kelainan ini
dapat disertai infeksi sekunder oleh bakteri sehingga terjadi selulitis, limfangitis, limfadenitis
dan dapat pula terjadi erisipelas, yang disertai gejala-gejala umum.3

Gambar 1: Tinea Pedis tipe Interdigitalis (Sumber: Wolff K, Johnson RA.


Fitzpatrick’s color atlas and synopsis of clinical dermatology. 6th Edition.
New York: McGraw-Hill Companies; 2009)

Gambar 2: Tinea Pedis Tipe Interdigitalis dengan Maserasi (Sumber: Wolff K, Johnson RA.
Fitzpatrick’s color atlas and synopsis of clinical dermatology. 6th Edition.
New York: McGraw-Hill Companies; 2009)

7
Bentuk lain ialah moccasin foot (Gambar 3). Pada seluruh kaki, dan telapak, tepi
sampai punggung kaki terlihat kulit menebal dan bersisik; eritema biasanya ringan dan
terutama terlihat pada bagian tepi lesi. Di bagian tepi lesi dapat pula dilihat papul dan
kadang-kadang vesikel.3

Gambar 3: Tinea Pedis Tipe Moccasin Foot (Sumber: Wolff K, Johnson RA. Fitzpatrick’s
color atlas and synopsis of clinical dermatology. 6th Edition.
New York: McGraw-Hill Companies; 2009)

Pada bentuk subakut terlihat vesikel, vesiko-pustul dan kadang-kadang bula (Gambar
4). Kelainan ini dapat mulai pada daerah sela jari, kemudian meluas ke punggung kaki atau
telapak kaki. Isi vesikel berupa cairan jernih yang kental. Setelah pecah, vesikel tersebut
meninggalkan sisik yang berbentuk lingkaran yang disebut kolaret. Infeksi sekunder dapat
terjadi juga pada bentuk ini, sehingga dapat menyebabkan selulitis, limfangitis, dan kadang-
kadang menyerupai erisiplas. Jamur terdapat pada bagian atap vesikel. Untuk
menemukannya, sebaiknya diambil atap vesikel atau bula untuk diperiksa secara sediaan
langsung atau untuk dibiak.3

Gambar 4: Tinea Pedis Tipe Bulosa (Sumber: Wolff K, Johnson RA. Fitzpatrick’s
color atlas and synopsis of clinical dermatology. 6th Edition.
New York: McGraw-Hill Companies; 2009)

8
Penatalaksanaan
Pada masa sekarang, dermatofitosis pada umumnya dapat diatasi dengan pemberian
griseofulvin yang bersifat fungistatik. Bagan dosis pengobatan griseofulvin berbeda-beda.
Secara umum, griseofulvin dalam bentuk fine particle dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g
untuk orang dewasa dan 0,25 – 0,5 g untuk anak-anak sehari atau 10-25 mg per kg berat
badan. Lama pengobatan bergantung pada lokasi penyakit, penyebab penyakit dan keadaan
imunitas penderita. Setelah sembuh klinis dilanjutkan 2 minggu agar tidak residif. BEARE
dkk (1972) menganjurkan dosis harian dibagi menjadi 4 kali sehari. Di dalam klinik cara
pemberian dengan dosis tunggal harian memberi hasil yang cukup baik pada sebagian besar
penderita. Untuk mempertinggi absorpsi obat dalam usus, sebaiknya obat dimakan bersama-
sama makanan yang banyak mengandung lemak. Untuk mempercepat waktu penyembuhan,
kadang-kadang diperlukan tidakan khusus atau pemberian obat topikal tambahan. Efek
samping griseofulvin jarang dijumpai, yang merupakan keluhan utama ialah sefalgia yang
didapati pada 15% penderita. Efek samping yang lain dapat berupa gangguan traktus
digestivus ialah nausea, vomitus dan diare. Obat tersebut juga bersifat fotosensitif dan dapat
mengganggu fungsi hepar.3,6
Pilihan pengobatan bergantung pada tempat keterlibatan dan jenis infeksi. Untuk tinea
pedis noninflamatorik kronik, imidazol atau keratolitik topikal berguna untuk membatasi
pruritus dan timbulnya sisik, namun sangat jarang bersifat kuratif. Pengobatan dengan
griseofulvin lebih efektif, tetapi memerlukan waktu terapi berbulan-bulan untuk
menyembuhkan dari jamur dan bahkan kemudian disertai dengan angka kekambuhan yang
tinggi, terutama jika yang terlibat adalah kuku. Infeksi setempat paling baik diobati dengan
imidazol topikal, tetapi penyakit yang menyebar luas, terutama pada para pasien penurunan
imunitas seluler, memerlukan terapi antijamur sistemik.3,5
Obat per oral yang juga efektif untuk dermatofitosis yaitu ketokonazol yang bersifat
fungistatik. Pada kasus-kasus resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan obat tersebut
sebanyak 200 mg per hari selama 10–2 minggu pada pagi hari setelah makan. Ketokonazol
merupakan kontraindikasi untuk penderita kelainan hepar.3,6
Sebagai pengganti ketokonazol yang mempunyai sifat hepatotoksik terutama bila
diberikan lebih dari sepuluh hari, dapat diberikan suatu obat tiazol yaitu itrakonazol yang
merupakan pemilihan yang baik. Pemberian obat tersebut untuk penyakit kulit dan selaput
lendir oleh penyakit jamur biasanya cukup 2x 100-200mg sehari dalam kapsul selama 3 hari.
Khusus untuk onikomikosis dikenal sebagai dosis denyut selama 3 bulan. Cara pemberian

9
sebagai berikut: diberikan 3 tahap dengan interval 1 bulan. Setiap tahap selama 1 minggu
dengan dosis 2x200 mg sehari dalam kapsul.3,7

Diagnosis Banding
1. Dermatitis kontak alergi
 Penyebab: bahan kimia sederhana yang umumnya memiliki berat molekul yang
rendah (contoh: deodoran, shampoo, pasta gigi, kosmetik, pelembab, deterjen
pakaian)
 Gejala klinis : gatal disertai eritema, vesikel,squamasi terutama pada jari-jari,
punggung kaki dan telapak kaki. Biasanya disebabkan karena kontak dengan sepatu
karet, cat dan salep.
 Pembeda: Bagian tepi tidak lebih aktif daripada bagian tengah, tidak ditemukan
adanya jamur (tidak nampak hifa dari hasil pemeriksaan), tes tempel positif. 5,6
2. Dermatitis kontak iritan kumulatif (kronis)
 Penyebab: kontak berulang-ulang dengan iritan lemah (misalnya: gesekan, trauma
mikro, kelembaban rendah, panas atau dingin, deterjen, sabun, pelarut, tanah, air).
 Gejala klinis: kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit tebal (hiperkeratosis)
dan likenifikasi, difus. Bila kontak terus berlangsung akhirnya kulit retak seperti luka
iris (fisur), misalnya pada kulit tumit tukang cuci yang mengalami kontak terus
menerus dengan deterjen.
 Faktor resiko: tukang cuci, kuli bangunan, montir bengkel, juru masak, tukang kebun,
penata rambut.
Pembeda: Bagian tepi tidak lebih aktif daripada bagian tengah, tidak ditemukan
adanya jamur (tidak nampak hifa dari hasil pemeriksaan), tes tempel positif.5,6
3. Kandidosis Intertriginosa
Berbatas tegas dan lesi dikelilingi oleh satelit. Dibedakan melalui pemeriksaan
laboratorium.

Komplikasi
1. Selulitis. Infeksi tinea pedis, terutama tipe interdigital dapat mengakibatkan selulitis.
Selulitis dapat terjadi pada daerah ektermitas bawah. Selulitis merupakan infeksi
bakteri pada daerah subkutaneus pada kulit sebagai akibat dari infeksi sekunder pada
luka. Faktor predisposisi selulitis adalah trauma, ulserasi dan penyakit pembuluh

10
darah perifer. Dalam keadaan lembab, kulit akan mudah terjadi maserasi dan fissura,
akibatnya pertahanan kulit menjadi menurun dan menjadi tempat masuknya bakteri
pathogen seperti β-hemolytic streptococci (group A, B C, F, and G), Staphylcoccus
aureus, Streptococcus pneumoniae, dan basil gram negatif. Apabila telah terjadi
selulitis maka diindikasikan pemberian antibiotik. Jika terjadi gejala yang sifatnya
sistemik seperti demam dan menggigil, maka digunakan antibiotik secara intravena.
Antibiotik yang dapat digunakan berupa ampisillin, golongan beta laktam ataupun
golongan kuinolon.
2. Tinea Ungium. Tinea ungium merupakan infeksi jamur yang menyerang kuku dan
biasanya dihubungkan dengan tinea pedis. Seperti infeksi pada tinea pedis, T. rubrum
merupakan jamur penyebab tinea ungium. Kuku biasanya tampak menebal, pecah-
pecah, dan tidak berwarna yang merupakan dampak dari infeksi jamur tersebut.8

Pencegahan
Memberikan penjelasan kepada pasien mengenai pentingnya kebersihan pada kaki,
menjaga kaki tetap kering, membersikan kuku kaki, menggunakan sepatu yang sesuai dan
kaos kaki yang kering dan bersih, serta menggunakan sandal atau flip-flop pada tempat mandi
umum atau kolam renang dapat mencegah terjadinya tinea pedis. Diagnosis yang tepat serta
pengobatan terhadap pasien yang menderita diabetes mellitus, HIV, dan trasplantasi organ
penting untuk pencegahan infeksi tinea pedis.3

Prognosis
Prognosis untuk tinea pedis umumnya baik jika ditangani secara tepat dan tidak
menimbulkan lesi yang mengganggu dari segi estetik. Perkembangan penyakit dermatofitosis
dipengaruhi oleh bentuk klinik dan penyebab penyakitnya disamping faktor-faktor yang
memperberat atau memperingan penyakit. Apabila faktor-faktor yang memperberat penyakit
dapat dihilangkan, umumnya penyakit ini dapat hilang sempurna.4

Kesimpulan
Dalam skenario kali ini dimana didapatkan seorang perempuan berusia 21 tahun
dengan pekerjaan tukang cuci baju dengan keluhan gatal pada sela jari kaki kiri dan kanan
sejak 2 bulan yang lalu, diyakini sebagai salah satu kelainan dermatofitosis yaitu tinea pedis
dengan ciri khas utama, terlihat fisura dan maserasi pada sela-sela jari kaki. Pengobatan yang

11
baik dapat dilakukan dengan itrakonazol dan dilakukan pencegahan dengan menjaga higiene
dari kaki penderita untuk mencegah timbulnya tinea pedis kembali.

Daftar Pustaka
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku ajar
ilmu penyakit dalam. Jakarta: Interna Publishing; 2009.
2. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga; 2006.
3. Departemen Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI. Ilmu penyakit kulit dan
kelamin. Edisi 6. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.
4. Departemen Parasitologi FKUI. Parasitologi kedokteran. Edisi 4. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2013.
5. Hahn, Bevra H. Harrison’s Principles of Internal Medicine. Edisi ke-16. New York:
Mc.Graw Hill; 2005.
6. Joyce LK, Evelyn RH. Farmakologi dan proses perawatan medis. Jakarta: EGC; 2004.
7. Gunawan J. Patologi klinik kedokteran. Edisi 7. Vol 1. Jakarta: EGC; 2007.
8. Siregar, RS. Penyakit jamur kulit. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2004

12