Anda di halaman 1dari 8

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )

DI BALAI BANJAR ITEKES BALI


TENTANG PENGARUH SENAM BUGAR LANJUT USIA
TERHADAP KUALITAS HIDUP PENDERITA HIPERTENSI

Tugas Ini Di Buat Untuk Memenuhi Mata Ajar


Keperawatan Gerontik

Oleh :
Kadek Deta Andri Riady (17C10171)
Putu Jenirian Brahma Wido S (17C10199)

SARJANA KEPERAWATAN TK. 3 C


ISTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
DENPASAR
2019
SAP
KATARAK

I. Latar Belakang
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat
yang utama di sebagai salah satu negara berkembang juga menghadapi
masalah ini. Hipertensi merupakan penyakit yang sering disebut sebagai
silent killer, jika tidak terkontrol dapat memicu timbulnya penyakit
degeneratif, seperti gagal jantung kongestif, gagal ginjal, dan berbagai
penyakit vaskuler.
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mempunyai
hubungan yang sangat erat dengan lansia. Hal ni terjadi akibat perubahan
fisiologis yang terjadi seperti penurunan respons imunitas tubuh, katup
jantung menebal dan menjadi kaku, penurunan kemampuan kontraktilitas
jantung, berkurangnya elastisitas pembuluh darah, serta kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi. Perubahan-perubahan
inilah yang menyebabkan peningkatan resistensi vaskuler sehingga lansia
cenderung lebih rentan mengalami hipertensi.
Penanganan hipertensi dapat dilakukan dengan memperbaiki pola
hidup dan dengan terapi farmakologis. Salah satu cara memperbaiki pola
hidup adalah dengan melakukan aktivitas fisik yang teratur. Aktivitas fisik
terhadap penderita hipertensi bertujuan untuk menurunkan tekanan darah
melalui beberapa mekanisme seperti perubahan neurohumoral, adaptasi
struktur pembuluh darah, serta penurunan katekolamin dan tahanan perifer
total.
Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur terbukti dapat
meningkatkan kualitas hidup secara fisik dan mental seseorang.
Peningkatan kualitas hidup secara fisik antara lain peningkatan metabolisme
glukosa, penguatan tulang dan otot, serta mengurangi kadar koleterol dalam
darah. Peningkatan kualitas hidup secara mental yang diperoleh melalui
aktivitas fisik ialah mengurangi stres, meningkatkan rasa antusias dan rasa
percaya diri, serta mengurangi kecemasan dan depresi seseorang terkait
dengan penyakit yang dialaminya. Senam bugar lansia merupakan salah
satu aktivitas fisik yang dapat dilakukan untuk mengurangi peningkatan
tekanan darah yang terjadi pada penderita hipertensi.

II. Pokok bahasan: Katarak


Sasaran : lansia di balai banjar ITEKES Bali
Metode : Penyuluhan & demonstrasi senam
Media : Video senam bugar dan Power Point (LCD)
Waktu : 06.00 – 08.30
Tempat : balai banjar ITEKES Bali
Hari/ tanggal : Minggu,4 September 2019

A. TIU (Tujuan Intruksional Umum)


Setelah mengikuti dan mendengar ceramah ini diharapkan sasaran mampu
mengetahui dan memahami tentang pengaruh senam bugar lanjut usia untuk
meningkatkan kualitas hidup pendrita hipertensi.
TIK (Tujuan Intruksional Khusus)
Setelah dilakukan penyuluhan selama 1 x 150 menit diharapkan 80% partisipan
dari total populasi lanjut usia di balai banjar ITEKES Bali mampu
mengetahui/mampu melakukan:
1) Pengertian Hipertensi dan Senam Lansia
2) Manfaat Senam Lansia
3) Gerakan Senam Lansia
B. Sasaran
Lansia di balai banjar ITEKES Bali
C. Metode
1) Presentasi
2) Diskusi
3) Demonstrasi Senam Lansia
D. Media
1) Leaflet
2) Power point (LCD)
3) Video

E. Materi
1. Pengertian Hipertensi dan Senam Lansia
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi (Muda, 2003). Menurut
Ruhyanudin (2007) hipertensi adalah suatu peningkatan tekanan darah
didalam arteri. Sedangkan menurut Price & Wilson (2006) hipertensi
didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140
mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg (Price & Wilson,
2006). Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on
Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Preassure (JNC)
sebagai tekanan yang lebih dari 140/90 mmHg. Secara umum hipertensi
merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal
tinggi didalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke,
aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal.
Senam adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta
terencana yang dilakukan secara tersendiri atau berkelompok dengan
maksud meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk mencapai
tujuan tersebut. Dalam bahasa Inggris terdapat istilah exercise atau
aerobic yang merupakan suatu aktifitas fisik yang dapat memacu jantung
dan peredaran darah serta pernafasan yang dilakukan dalam jangka waktu
yang cukup lama sehingga menghasilkan perbaikan dan manfaat kepada
tubuh. Senam berasal dari bahasa yunani yaitu gymnastic (gymnos) yang
berarti telanjang, dimana pada zaman tersebut orang yang melakukan
senam harus telanjang, dengan maksud agar keleluasaan gerak dan
pertumbuhan badan yang dilatih dapat terpantau (Suroto,2004).
2. Manfaat Senam Lansia
Semua senam dan aktifitas olahraga ringan tersebut sangat
bermanfaat untuk menghambat proses degeneratif/penuaan. Senam ini
sangat dianjurkan untuk mereka yang memasuki usia pralansia (45 thn)
dan usia lansia (65 thn ke atas). Orang melakukan senam secara teratur
akan mendapatkan kesegaran jasmani yang baik yang terdiri dari unsur
kekuatan otot, kelentukan persendian, kelincahan gerak, keluwesan,
cardiovascular fitness dan neuromuscular fitness. Apabila orang
melakukan senam, peredarah darah akan lancar dan meningkatkan
jumlah volume darah. Selain itu 20% darah terdapat di otak, sehingga
akan terjadi proses indorfin hingga terbentuk hormon norepinefrin yang
dapat menimbulkan rasa gembira, rasa sakit hilang, adiksi (kecanduan
gerak) dan menghilangkan depresi. Dengan mengikuti senam lansia efek
minimalnya adalah lansia merasa berbahagia, senantiasa bergembira,
bisa tidur lebih nyenyak, pikiran tetap segar.
Senam lansia disamping memiliki dampak positif terhadap
peningkatan fungsi organ tubuh juga berpengaruh dalam meningkatkan
imunitas dalam tubuh manusia setelah latihan teratur. Tingkat
kebugaran dievaluasi dengan mengawasi kecepatan denyut jantung
waktu istirahat yaitu kecepatan denyut nadi sewaktu istirahat. Jadi
supaya lebih bugar, kecepatan denyut jantung sewaktu istirahat harus
menurun.
Manfaat senam lainnya yaitu terjadi keseimbangan antara osteoblast
dan osteoclast. Apabila senam terhenti maka pembentukan osteoblast
berkurang sehingga pembentukan tulang berkurang dan dapat berakibat
pada pengeroposan tulang. Senam yang diiringi dengan latihan
stretching dapat memberi efek otot yang tetap kenyal karena ditengah-
tengah serabut otot ada impuls saraf yang dinamakan muscle spindle,
bila otot diulur (recking) maka muscle spindle akan bertahan atau
mengatur sehingga terjadi tarik-menarik, akibatnya otot menjadi kenyal.
Orang yang melakukan stretching akan menambah cairan sinoval
sehingga persendian akan licin dan mencegah cedera (Suroto, 2004).
Olahraga yang bersifat aerobik seperti senam merupakan usaha-
usaha yang akan memberikan perbaikan pada fisik atau psikologis.
Faktor fisiologi dan metabolic yang dikalkulasi termasuk penambahan
sel-sel darah merah dan enzim fosforilase (proses masuknya gugus
fosfat kedalam senyawa organik), bertambahnya aliran darah sewaktu
latihan, bertambahnya sel-sel otot yang mengandung mioglobin dan
mitokondria serta meningkatnya enzim-enzim untuk proses oksigenasi
jaringan (Kusmana, 2006). Sedangkan menurut Depkes (2003) olahraga
dapat memberi beberapa manfaat, yaitu: meningkatkan peredaran
darah, menambah kekuatan otot, dan merangsang pernafasan dalam.
Selain itu dengan olahraga dapat membantu pencernaan, menolong
ginjal, membantu kelancaran pembuangan bahan sisa, meningkatkan
fungsi jaringan, menjernihkan dan melenturkan kulit, merangsang
kesegaran mental, membantu mempertahankan berat badan,
memberikan tidur nyenyak, memberikan kesegaran jasmani.
3. Gerakan Senam Lansia
Tahapan latihan kebugaran jasmani adalah rangkaian proses dalam
setiap latihan, meliputi pemanasan, kondisioning (inti), dan penenangan
(pendinginan) (Sumintarsih, 2006).
a. Pemanasan
Pemanasan dilakukan sebelum latihan. Pemanasan bertujuan
menyiapkan fungsi organ tubuh agar mampu menerima
pembebanan yang lebih berat pada saat latihan sebenarnya.
Penanda bahwa tubuh siap menerima pembebanan antara lain
detak jantung telah mencapai 60% detak jantung maksimal,
suhu tubuh naik 1ºC - 2ºC dan badan berkeringat. Pemanasan
yang dilakukan dengan benar akan mengurangi cidera atau
kelelahan.
b. Kondisioning
Setelah pemansan cukup dilanjutkan tahap kondisioning atau
gerakan inti yakni melakukan berbagai rangkaian gerak
dengan model latihan yang sesuai dengan tujuan program
latihan.
c. Penenangan
Penenangan merupakan periode yang sangat penting dan
esensial. Tahap ini bertujuan mengembalikan kodisi tubuh
seperti sebelum berlatih dengan melakukan serangkaian
gerakan berupa stretching. Tahapan ini ditandai dengan
menurunnya frekuensi detak jantung, menurunnya suhu tubuh,
dan semakin berkurangnya keringat. Tahap ini juga bertujuan
mengembalikan darah ke jantung untuk reoksigenasi sehingga
mencegah genangan darah diotot kaki dan tangan.

4. Kegiatan Penyuluhan
No. Waktu Kegiatan penyuluhan Kegiatan audience
1 10 menit Pembukaan
1.Penyuluh memulai penyuluhan 1.Menjawab salam
dengan mengucapkan salam. 2.Memperhatikan
2.Memperkenalkan diri. 3.Memperhatikan
3.Menjelaskan tujuan penyuluhan. 4.Memperhatikan
4.Menyebutkan materi yang akan
diberikan.

2 100 Pelaksanaan
menit 1. Menjelaskan Pengertian 1.Memperhatikan
Hipertensi dan Senam
Lansia 2.Memperhatikan
2. Menjelaskan Manfaat 3.Memperhatikan
Senam Lansia
3. Menjelaskan Gerakan 4.Memperhatikan
Senam Lansia
4. Mendemonstrasikan 5.Mendemonstrasikan
Gerakan Senam Lansia Gerakan Senam Lansia
3 30 menit Evaluasi : 1. Menyimak
1. Menjelaskan kesimpulan 2. Memperhatikan,
dari pengertian hipertensi dan bertanya dan
manfaat senam lansia menjawab
2. Membuka sesi diskusi atau
Tanya jawab
4 10 menit Terminasi
1.Mengucapkan terima kasih atas 1.Memperhatikan
perhatian yang diberikan
2.Mengucapkan salam penutup 2.Membalas salam

5. Daftar Pustaka
Setiawan,Wungouw,&Pangemanan(2013).pengaruh senam bugar lanjut usia
(lansia) terhadap kualitas hidup penderita hipertensi. Jurnal e-Biomedik
(eBM), Volume 1, Nomor 2, Juli 2013, hal. 760-764.
http://digilib.unimus.ac.id/files//disk1/133/jtptunimus-gdl-mialidiawa-6616-3-
babii.pdf (diakses pada 18 september 2019)

6. Lampiran