Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

ASKEB KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL


( DISTOSIA BAHU )

DISUSUN OLEH :

Nuning Setyoningsih 1802231p

Sri Emut Sugiarti 1802242p

Novi Suhariyani 1802230p

Marlina 1802228p

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) AISYAH


PRINGSEWU LAMPUNG PROGRAM STUDI D IV KEBIDANAN
TAHUN 2019
DISTOSIA BAHU

I. PENDAHULUAN
Persalinan yang normal (Eutocia) ialah persalinan dengan presentasi belakang kepala
yang berlangsung spontan dalam 18 jam. Yang dimaksud dengan Distosia adalah persalinan
yang sulit yang ditandai adanya hambatan kemajuan dalam persalinan.. Penyebab distosia
dapat dibagi dalam 3 golongan besar, yaitu :
1. Distosia karena kekuatan-kekuatan yang mendorong anak tidak memadai, yaitu :
Kelainan his merupakan penyebab terpenting dan tersering dari distosia, Kekuatan
mengejan kurang kuat, misalnya kelainan dinding perut, seperti luka parut baru pada
dinding perut, diastase muskulus rektus abdominis ; atau kelainan keadaan umum ibu
seperti sesak napas atau adanya kelelahan ibu,
2. Distosia karena adanya kelainan letak janin atau kelainan fisik janin, misalnya
presentasi bahu, presentasi dahi, presentasi muka, presentasi bokong, anak besar,
hidrosefal, dan monstrum
3. Distosia karena adanya kelainan pada jalan lahir baik bagian keras (tulang), seperti
adanya panggul sempit, kelainan bawaan pada panggul maupun bagian yang lunak
seperti adanya tumor-tumor baik pada genitalia interna maupun pada visera lain di
daerah panggul yang menghalangi jalan lahir.
Distosia Bahu ialah kelahiran kepala janin dengan bahu anterior macet diatas sacral
promontory, karena itu tidak bisa lewat masuk ke dalam panggul, atau bahu tersebut bisa
lewat promontorium tetapi mendapat halangan dari tulang sakrum.

II. DEFINISI
Distosia Bahu adalah kegagalan bahu dengan spontan melewati pelvis setelah kepala
lahir. Distosia Bahu sebenarnya terjadi ketika bahu depan tertahan dibelakang sympisis pubis
(Kasser & Pallaske). Ini merupakan kelainan yang ditandai oleh situasi dimana pelvis ibu
baik pintu masuk atau pintu keluar tidak dapat mengakomodasikan lebar bahu fetus
(janin). Ketika kepala bayi telah lahir dan ada perlambatan putaran bahu kedalam diameter
antero-posterior atau ketidakmampuan bahu lahir dengan manuver tangan biasa.
Distosia Bahu adalah suatu keadaan diperlukannya tambahan manuver obstetrik oleh
karena dengan tarikan biasa ke arah belakang pada kepala bayi tidak berhasil untuk
melahirkan bayi. Pada persalinan dengan presentasi kepala, setelah kepala lahir, bahu tidak
dapat dilahirkan dengan cara pertolongan biasa dan tidak didapatkan sebab lain dari kesulitan
tersebut.
Distosia Bahu merupakan kegawatdaruratan obstetri yang berat karena morbiditas dan
mortalitas perinatal yang tinggi. Hal ini disebabkan karena teknik operasi persalinan bahu
yang sulit,berat dan memerlukan tim yang baik (Dokter anak, Dokter anestesi, asisten yang
sudah terlatih dan alat resusitasi yang cukup baik), terbatasnya waktu untuk melahirkan bahu
yang tertahan di atas simphysis, tarikan berat terhadap leher menimbulkan trauma, teknik
penekanan bahu di atas simphysis sangat penting dan menentukan keberhasilan jalan
persalinan dan distosia bahu sebelumnya sulit diduga.

Atas pertimbangan itu, distosia bahu merupakan kegawatdaruratan obstetri yang perlu
mendapat perhatian khusus. Persalinan kepala umumnya diikuti oleh persalinan bahu dalam
waktu 24 detik, sedangkan jika persalinan bahu lebih dari 60 detik dianggap distosia bahu.
Waktu 60 detik sebagai batas persalinan bahu dipergunakan sebagai dasar diagnosis karena
sulit menegakkan diagnosis sebelumnya.

Gambar 1 : Gambaran Distosia Bahu


III. PATOFISIOLOGI DAN ETIOLOGI
Setelah kelahiran kepala, akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan kepala
berada pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada umumnya akan berada pada
sumbu miring (oblique) di bawah ramus pubis. Dorongan pada saat ibu meneran akan
menyebabkan bahu depan (anterior) berada di bawah pubis, bila bahu gagal untuk
mengadakan putaran menyesuaikan dengan sumbu miring dan tetap berada pada posisi
anteroposterior, pada bayi yang besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis
sehingga bahu tidak bisa lahir mengikuti kepala.
Distosia Bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul, kegagalan bahu untuk
“melipat” ke dalam panggul (misal : pada makrosomia) disebabkan oleh fase aktif dan
persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga penurunan kepala yang terlalu cepat
menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan lahir atau kepala telah melalui pintu
tengah panggul setelah mengalami pemanjangan kala II sebelah bahu berhasil melipat masuk
ke dalam panggul.Pada mekanisme persalinan normal, ketika kepala dilahirkan, maka bahu
memasuki panggul dalam posisi oblik. Bahu posterior memasuki panggul lebih dahulu
sebelum bahu anterior. Ketika kepala melakukan putaran paksi luar, bahu posterior berada di
cekungan tulang sacrum atau di sekitar spina ischiadica, dan memberikan ruang yang cukup
bagi bahu anterior untuk memasuki panggul melalui belakang tulang pubis atau berotasi dari
foramen obturatror. Apabila bahu berada dalam posisi antero-posterior ketika hendak
memasuki pintu atas panggul, maka bahu posterior dapat tertahan promontorium dan bahu
anterior tertahan tulang pubis.

IV. GAMBARAN KLINIS DAN DIAGNOSIS


Akibat mekanisme yang sudah dijelaskan diatas, kepala yang sudah dilahirkan akan
tidak dapat melakukan putar paksi luar, dan tertahan akibat adanya tarikan yang terjadi antara
bahu posterior dengan kepala (disebut dengan turtle sign).

 Biasanya ada perlambatan kemajuan turunnya kepala pada kala II yang ditandai
dengan kesulitan dalam melahirkan bahu,
 Biasanya ada kelahiran kepala yang perlahan, dengan ekstensi kepala mengambil
waktu lebih lama daripada biasanya,
 Sekali kepala lahir, kepala masuk lagi ke vagina dan kepala terlihat tidak mampu
bergerak,
 Tidak terjadi putaran paksi luar.
Distosia Bahu dapat dikenali apabila didapatkan adanya :

 Kepala bayi sudah lahir, tetapi bahu tertahan dan tidak dapat dilahirkan,
 Kepala bayi sudah lahir, tetapi tetap menekan vulva dengan kencang,
 Dagu tertarik dan menekan perineum,
 Traksi pada kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang tetap tertahan di cranial
simphysis pubis.

Begitu Distosia Bahu dikenali, maka prosedur tindakan untuk menolongnya harus segera
dilakukan.

V. KOMPLIKASI

Komplikasi Distosia Bahu pada janin adalah fraktur tulang (klavikula dan humerus),
cedera pleksus brachialis, dan hipoksia yang dapat menyebabkan kerusakan permanen di
otak. Dislokasi tulang servikalis yang fatal juga dapat terjadi akibat melakukan tarikan dan
putaran pada kepala dan leher. Fraktur tulang pada umumnya dapat sembuh sempurna tanpa
sekuele, apabila didiagnosis dan di terapi dengan memadai. Cedera pleksus brachialis dapat
membaik dengan berjalannya waktu, tetapi sekuele dapat terjadi pada 50% kasus. Pada ibu,
komplikasi yang dapat terjadi adalah perdarahan akibat laserasi jalan lahir, episiotomy
ataupun atonia uteri.

Persalinan Distosia Bahu mempunyai komplikasi yang cukup serius. Terbagi 2, yaitu :

1. Komplikasi maternal : trauma jalan lahir, perdarahan post-partum, infeksi, fistula


rectovaginal, Simfisiolisis atau diathesis dengan atau tanpa “transient femoral
neuropathy”, dan ruptura uteri,
2. Komplikasi perinatal/fetal : trauma persendian (fraktur klavikula dan humerus), trauma
medulla oblongata, trauma pleksus brachialis dan asfiksia.
Gambar 2 : stretching pleksus brachialis

VI. DIAGNOSIS BANDING


 Tali pusat yang sangat pendek,
 Kepala kecil yang lahir dengan serviks yang belum membuka lengkap,
 Adanya lingkaran diuterus,
 Presentasi rangkap (kepala dan tangan),
 Kembar siam, posisi interlock.

VII. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan ditosia bahu juga harus memperhatikan kondisi ibu dan janin. Syarat-syarat
agar dapat dilakukan tindakan untuk menangani distosia bahu adalah :

a. Kondisi vital ibu cukup memadai sehingga dapat bekerjasama untuk menyelesaikan
persalinan
b. Masih mampu untuk mengejan
c. Jalan lahir dan pintu bawah panggul memadai untuk akomodasi tubuh bayi
d. Bayi masih hidup atau diharapkan dapat bertahan hidup
e. Bukan monstrum atau kelainan congenital yang menghalangi keluarnya bayi
Karena distosia bahu tidak dapat diramalkan, pelaku praktik obstetric harus mengetahui betul
prinsip-prinsip penatalaksanaan penyulit yang terkadang sangat melumpuhkan ini.

Diperlukan seorang asisten untuk membantu, sehingga bersegeralah minta bantuan.


Jangan melakukan tarikan atau dorongan sebelum memastikan bahwa bahu posterior sudah
masuk ke panggul. Bahu posterior yang belum melewati pintu atas panggul akan semakin
sulit dilahirkan bila dilakukan tarikan pada kepala. Untuk mengendorkan ketegangan yang
menyulitkan bahu posterior masuk panggul tersebut, dapat dilakukan episiotomy yang luas
disertai posisi McRobert (posisi dada-lutut). Dorongan pada fundus juga tidak diperkenankan
karena semakin menyulitkan bahu untuk dilahirkan dan beresiko menimbulkan ruptura uteri.
Disamping perlunya asisten dan pemahaman yang baik tentang mekanisme persalinan,
keberhasilan pertolongan persalinan dengan distosia bahu juga ditentukan oleh waktu.

Makin pendek waktu melahirkan bahu, hasilnya akan makin baik. Karena dugaan
distosia bahu sulit ditentukan, setiap ahli obstetri harus dapat mengerjakan Secara sistematis
tindakan pertolongan distosia bahu adalah sebagai berikut :

1. Episiotomi
Episiotomi dilakukan dengan tujuan memperluas jalan lahir sehingga bahu diharapkan
dapat lahir.
2. Manuver McRobert
Teknik ini ditemukan pertama kali oleh Gonik, dkk tahun 1983 dan selanjutnya
William A Mc Robert mempopulerkannya di University of Texas di Houston. Manuver
McRobert dimulai dengan memposisikan ibu dalam posisi McRobert, yaitu ibu
telentang, memfleksikan kedua paha sehingga lutut menjadi sedekat mungkin ke dada,
dan rotasikan kedua kaki ke arah luar (abduksi). Ternyata penarikan paha ke arah badan
menyebabkan : sacrum bertambah lurus, memutar simphysis pubis ke arah kepala ibu
hamil, mengurangi sudut inklinasi tulang pelvis dan membebaskan bahu depan dari
cengkraman simphysis pubis. Kemudian lakukan episiotomy. Gabungan episiotomy
dan posisi McRobert akan mempermudah bahu posterior melewati promontorium dan
masuk ke dalam panggul. Mintalah asisten menekan suprasimphysis ke arah posterior
menggunakan pangkal tangannya untuk menekan bahu anterior agar masuk di bawah
simphysis. Sementara itu lakukan tarikan pada kepala janin ke arah posterokaudal
dengan mantap. Langkah tersebut akan melahirkan bahu anterior. Hindari tarikan yang
berlebihan karena akan mencederai pleksus brachialis. Setelah bahu anterior dilahirkan,
langkah selanjutnya sama dengan pertolongan persalinan presentasi kepala. Manuver
ini cukup sederhana, aman dan dapat mengatasi sebagian besar distosia bahu derajat
ringan sampai sedang.
Gambar 3 : manuver McRober

Gambar 4 : Manuver McRobert, os sacrum menjadi lebih lurus

3. Tekanan ringan pada suprapubik (Manuver Masanti)


Dilakukan tekanan ringan pada daerah suprapubik dan secara bersamaan dilakukan
traksi curam bawah pada kepala janin.

Gambar 2 : tekanan pada suprapubik


4. Manuver Rubin

Terdiri dari 2 langkah :

 Mengubah posisi bahu anak dari satu sisi ke sisi lain dengan melakukan tekanan
pada abdomen ibu, bila tidak berhasil maka dilakukan langkah berikutnya yaitu : (2).
Tangan mencari bahu anak yang paling mudah untuk dijangkau dan kemudian
ditekan kedepan kearah dada anak. Tindakan ini untuk melakukan abduksi kedua
bahu anak sehingga diameter bahu mengecil dan melepaskan bahu depan dari
simphysis pubis.

Gambar 5 : manuver rubin II → Diameter bahu terlihat antara kedua tanda panah, bahu anak yang
paling mudah dijangkau didorong kearah dada anak sehingga diameter bahu mengecil dan
membebaskan bahu anterior yang terjepit.

5. Manuver Wood
Dengan melakukan rotasi bahu posterior 1800 secara “crock screw (Masukkan satu
tangan ke dalam vagina dan lakukan penekanan pada bahu anterior ke arah sternum
bayi, untuk memutar bahu bayi dan mengurangi diameter bahu)” maka bahu anterior
yang terjepit pada simfisis pubis akan terbebas.
Gambar 6. Manuver Crock Screw (Wood).

6. Melahirkan bahu belakang


Operator memasukkan tangan kedalam vagina menyusuri humerus posterior janin dan
kemudian melakukan fleksi lengan posterior atas didepan dada dengan
mempertahankan posisi fleksi siku, tangan janin dicekap dan lengan diluruskan melalui
wajah janin, lengan posterior dilahirkan.

Gambar 7 : melahirkan bahu belakang

7. Manuver Rollover (Menungging)


Manfaat posisi merangkak/menungging didasarkan asumsi fleksibilitas sendi
sakroiliaka bisa meningkatkan diameter sagital pintu atas panggul sebesar 1-2 cm dan
pengaruh gravitasi akan membantu bahu posterior melewati promontorium. Pada posisi
terlentang atau litotomi, sendi sakroiliaka menjadi terbatas mobilitasnya. Pasien
menopang tubuhnya dengan kedua tangan dan kedua lututnya. Pada manuver ini, bahu
posterior dilahirkan terlebih dahulu dengan melakukan tarikan kepala ke arah atas
dengan hati-hati. Segera setelah lahir bahu anterior, lahirkan bahu posterior dengan
tarikan perlahan ke arah bagian bawah dengan hati-hati.

8. Pematahan Klavikula
Jika semua tindakan di atas tetap tidak dapat melahirkan bahu, pilihan lain : Patahkan
klavikula untuk mengurangi lebar bahu dan bebaskan bahu depan, kemudian Lakukan
tarikan dengan mengait ketiak untuk mengeluarkan lengan belakang.

9. Manuver Zavanelli
Mengembalikan kepala kedalam jalan lahir dan anak dilahirkan melalui Seksio
Cessaria, memutar kepala anak menjadi occiput anterior atau posterior bila kepala janin
sudah berputar dari posisi tersebut, membuat kepala anak menjadi fleksi dan secara
perlahan mendorong kepala kedalam vagina dan yang terakhir lakukan Seksio Cessaria
darurat dengan anestesi lokal (+ ketamin drip).

VIII. LANGKAH - LANGKAH PENATALAKSANAAN DISTOSIA BAHU


a. Asuhan Persalinan Normal 2008

 melakukan episiotomy,
 melakukan manuver McRobert dengan tekanan supra pubik.
Biasanya dengan manuver tersebut janin dengan Distosia Bahu sudah dapat dilahirkan.
Namun jika bahu tidak lahir, direkomendasikan manuver Corkscrew Woods, teknik pelahiran
bahu belakang dan melahirkan dengan posisi merangkak. Sedangkan fraktur klavikula
merupakan pilihan terakhir.

b. The American College of Obstetrician

Merekomendasikan langkah-langkah berikut ini untuk penatalaksanaan Distosia Bahu


dengan urut-urutan bergantung pada pengalaman dan pilihan masing-masing operator :

a. Panggil bantuan (mobilisasi asisten, anestesiolog, dan dokter anak). Pada saat ini
dilakukan upaya untuk melakukan traksi ringan. Kosongkan kandung kemih bila
penuh,
b. Lakukan episiotomy luas (mediolateral) untuk memperluas ruangan posterior,
c. Penekanan suprapubik dilakukan pada saat awal oleh banyak dokter karena alasan
kemudahannya. Hanya dibutuhkan satu asisten untuk melakukan penekanan
suprapubik sementara traksi ke bawah dilakukan pada kepala janin,
d. Manuver McRobert memerlukan dua asisten, tiap asisten memegangi satu tungkai
dan memfleksikan paha ibu ke arah abdomen.
Manuver-manuver di atas biasanya dapat mengatasi sebagian besar kasus distosia
bahu. Namun, bila manuver ini gagal, langkah-langkah berikut dapat dicoba :

a. Manuver Corkscrew Woods.


b. Pelahiran lengan belakang dapat dicoba, tapi jika lengan belakang dalam posisi
ekstensi sempurna, hal ini biasanya sulit dilakukan,
c. Teknik-teknik lain sebaiknya dilakukan bila manuver-manuver lain telah gagal, yang
termasuk teknik ini adalah fraktur klavikula dan manuver Zavanelli.