Anda di halaman 1dari 11

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/321714805

Kajian Pengaruh Adat Istiadat, Religi, dan Alam Pada Bangunan Adat, Lembah
Kuta Ciamis.docx

Research · December 2017


DOI: 10.13140/RG.2.2.16876.05760

CITATIONS READS

0 2,273

1 author:

Dewi Parliana
Institut Teknologi Nasional
18 PUBLICATIONS   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Public Spaces in Indonesia View project

All content following this page was uploaded by Dewi Parliana on 10 December 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Kajian Pengaruh Adat Istiadat, Religi, dan Alam pada
Bentuk Massa, Ruang Dalam, dan Struktur Bangunan
Kampung Adat, Lembah Kuta Ciamis
Dewi Parliana, Aras Kasiwi, Siddiq Aria Gumilar, Asih Drajati, Ezar Febian

Jurusan Teknik Arsitektur


Institut Teknologi Nasional Bandung

dpar@itenas.ac.id

ABSTRAK

Akibat perkembangan zaman yang semakin pesat menyebabkan semakin canggih pembangunan
dan material yang digunakan pada bangunan Arsitektur Vernakular di Indonesia khususnya di
Kampung Kuta Ciamis. Selain itu, ada beberapa faktor yang mempengaruhi bangunan adat
tersebut, diantaranya faktor-faktor adat istiadat, religi dan alam. Faktor-faktor tersebut
berpengaruh besar pada bagian rumah seperti pada bentuk bangunan, ruang dalam dan struktur,
dimana faktor ini telah menjadi tradisi secara turun temurun yang selalu dipertahankan. Oleh
sebab itu, dalam kajian ini dilakukan pengamatan pada bangunan adat yang bertujuan untuk
mengetahui faktor yang mempengaruhi dan mendominasi pada bangunan tersebut. Adapun
metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metoda Eksploratif dan Kualitatif
Deskriptif dengan menggunakan metode skoring pada analisisnya. Hasil peneltian memperlihatkan
faktor adat istiadat yang sangat berpengaruh pada bentuk bangunan, ruang dalam dan struktur.
Dengan demikian faktor yang paling dominan pada bangunan Kampung Adat Kuta adalah faktor
adat istiadat.

Kata kunci: Arsitektur Vernakular, Bangunan Adat, Adat Istiadat, Religi, Alam, Bentuk Masa,
Ruang Dalam dan Struktur

ABSTRACT

Impact of development period, building and material grown sophisticated that is in use for building
Vernacular Architecture in Indonesian, particulary at the Kampung Kuta Ciamis. Furthermore, there
is certain Factors that affect the building such as custom, Religion and Nature. That factors have
effected form, space and structure. Which this Factors have been tradition for generation were
maintained. Therefore, in this study has been observe for building to find out witch are the factors
dominant. Reseacher used Esplorative, Qualitative Descriptive method along with scorring
methode. With this method, the result is costume factor has effected for form, space and
structure. In this study, the conclution is custome factor is the major factor at Kampung Adat Kuta
building.

Keyword : Vernacular Architecture, Custom, Religion, Nature, Form, Space and Structure

1. PENDAHULUAN memiliki ciri khas dan sejarahyang berasal


dari nenek moyang secara turun temurun.
Indonesia adalah negara kepulauan yang Keanekaragam Indonesia ini dicerminkan
memiliki banyak keanekaragam suku, pada setiap bangunan sesuai dengan adat
adat, budaya, bahasa, sumber daya alam. dan kebudayaan masing-masing.
Pemukiman yang ada di setiap daerah Arsitektur Vernakular Indonesia di bangun
dengan bergotong-royong, menggunakan 3. Faktor apa yang paling dominan pada
material alam yang dipengaruhi oleh bangunan Kampung Adat Kuta ?
kebudayaan sehingga membentuk
karakter bangunan tertentu berdasarkan Berdasarkan Pertanyaan penelitian di atas
wilayah tempat tinggal di Indonesia. maka maksud dan tujuan kajian yaitu :
1. Mengkaji faktor yang
Seiring dengan perkembangan zaman, mempengaruhi bangunan adat Kampung
bangunan tradisional Indonesia masih Kuta.
tetap bertahan hingga saat ini. Bangunan 2. Mengkaji bentuk masa, ruang
tradisional ini masih menyimpan nilai dalam dan struktur bangunan Kampung
sejarah dan kebudayaan pada setiap Adat Kuta yang dipengaruhi oleh faktor
perkampungan adat di Indonesia, dan adat istiadat, religi dan alam.
salah satunya adalah Kampung Adat 3. Mengkaji faktor dominan yang
Kuta. Kampung Adat Kuta terletak mempengaruhi bangunan adat Kampung
diKecamatan Tambak Sari Kabupaten Kuta.
Ciamis yang dikelilingi oleh tebing-tebing
setinggi 75 m. Nama Kuta sendiri berasal Metodologi penulisan
dari bahasa Sunda yaitu pagar tembok Dalam penelitian ini penulis menggunakan
sehingga dapat disimpulkan Kampung beberapa metode penelitian, yaitu
Kuta adalah kampung yang dipagari oleh metode Eksploratif, metode Deskriptif dan
tembok yang terbuat dari tebing-tebing di metode Kualitatif Deskriptif. Yang
sekitarnya. bertujuan untuk mengeksplorasi data
terhadap suatu masalah atau fenomena
Kampung Kuta masih menjujung tinggi yang berkembang dan belum diketahui
nilai leluhur dengan mempertahankan dan oleh banyak orang. Khususnya dalam
melestarikan Hutan Keramat, sehingga meneliti bentuk masa, ruang dalam dan
mendapatkan penghargaan KALPATARU struktur serta material pada bangunan
dari pemerintah. Masyarakat Kampung adat apakah dipengaruhi oleh faktor –
Adat Kuta memiliki prinsip bagaimana faktor tertentu dan mencari tahu faktor
cara membangun tempat tinggal yang dominannya. Karena faktor ini merupakan
nyaman dan aman, dengan melaksanakan karakter dari Arsitektur Vernakular pada
tradisi adat istiadat yang diturunkan oleh Kampung Adat Kuta, Ciamis. Selain itu
nenek moyang mereka. Tujuan dari terdapat metoda skoring yang bertujuan
tradisi ini salah satunya pada upacara untuk membantu menganalisis faktor
adat berupa tolak bala agar terhindar dari yang paling dominan, untuk menentukan
musibah ataupun bencana yang skor atau dengan sistem angka, dengan
mengakibatkan ketidaknyamanan tujuan untuk mempermudahkan dalam
penghuni kampung untuk menempati memberikan penilaian pada tabel analisis.
rumah. Kegiatan tradisi kampung Adat Salah satunya dengan membagi poin-poin
Kuta biasanya dipengaruhi hubungan menjadi tiga bagian yaitu 0-3 poin artinya
antara manusia dan Tuhan yaitu agama kurang memperngaruhi bangunan adat,
Islam (Allah). 4-7 poin cukup mempengaruhi bangunan
adat dan 8-10 poin sangat mempengaruhi
Pertanyaan penelitian yang dibahas dalam bangunan adat.
kajian ini meliputi :
1. Faktor apa saja yang mempengaruhi 2. TEORI DASAR
bangunan Kampung Adat Kuta ?
2. Bagaimanakah bentuk masa, ruang dalam Arsitektur berasal dari sebuah tempat
dan struktur bangunan Kampung Adat yang digunakan untuk bernaung dan
Kuta, apakah di pengaruhi oleh faktor menghindari dari serangan cuaca dan
adat istiadat, religi dan alam ? binatang buas, saat ini Arsitektur
mengalami perubahan disetiap zamannya
dan dipengaruhi oleh faktor sosial, a. Tatanan ruang bangunan
ekonomi, budaya, teknologi dll. Selain itu Vernakular yaitu konsep tatanan ruang
Arsitektur bertujuan untuk memberikan pada kampung umumnya memiliki
suasana bagi kegiatan-kegiatan tertentu,
kesamaan ruang. Pembagian ruang-ruang
lalu Arsitektur memperlihatan derajat dan
kekuasaan akan hal-hal pribadi. Arsitektur dapat dikategorikan secara horizontal dan
juga bertujuan untuk menampilkan dan vertikal. Pembagian ruang ini
mendukung keyakinan-keyakinan berpengaruh terhadap respon dari sosial
kosmologis, menyampaikan informasi, kekerabatan, kosmologi dan kondisi alam
membantu atau menampilkan identitas sekitar.
kelompok, mengkiaskan sistem-sistem
nilai, dapat memisahkan duniawi suci
wanita dan pria, depan dan belakang, b. Struktur bangunan Vernakular
Arsitektur juga dapat dipahami dari segi Indonesia pada dasarnya dibangun
bagaimana hubungannya dengan mengikuti prinsip Arsitektur Autronesia
masyarakat, bagaimana hubungan ini
kuno dengan bentuk persegi, dengan
lama kelamaan berubah bersama
kebudayaan. (Rapoport dalam Snyder karakteristik sebagai beikut:
1969) 1. Tiang-tiang penompang terbuat dari
kayu yang ditanam dan di letakan
Menurut Rudofsky pada tahun 1964 istilah dipermukaan tanah. Sehingga dapat
Arsitektur Vernakular semakin populer terhindar dari guncangan bumi dan
dikalangan akademis dan praktisi ramah lingkungan.
arsitektur namun akibat minimnya 2. Atap memiliki kemiringan dengan jurai
pengetahuan asal mula dan sejarah istilah yang diperpanjang dengan atap dan
ini maka banyak pihak yang tidak mencuat keluar.
memahami atau bahkan memiliki 3. Lantai yang di topang oleh tiang dan
pemahaman yang menyimpang jauh dari balok kayu yang diikat satu sama lain
esensi Vernakular yang sebenarnya. tanpa menggunakan paku.
Ketidaktahuan akan makna Arsitektur
Vernakular dapat berdampak pada Dalam prinsip Arsitektural, bentuk
praktek profesional atau praktik bangunan harus diperoleh dari fungsi
pengolahan ruang dan ruang. Sehingga yang memenuhinya. Sedangkan fungsi
dapat menimbulkan kesalahan pada merupakan gambaran dari kegiatan,
penerapan prinsip-prinsip penerapan dimana kegiatan itu membutuhkan fungsi
Vernakular ke dalam desain. yang nantinya akan berlanjut pada ruang.
Sehingga bisa meninggikan nilai suatu
Menurut Mitchel and Bevan (1992) karya serta mengungkapkan suatu
Arsitektur mengandung empat komponen makna. Salah satunya terdapat pada teori
faktor ialah faktor alam, faktor teknik dan Vitruvius yang terdiri dari “venustas
material, faktor sosial dan budaya dan (keindahan), utilitas (fungsional) dan
faktor ekonomi masyarakat. firmitas (kekuatan).

Arsitektur Adalah Cermin


Ciri-ciri umum bentuk bangunan Kebudayaan
Vernakular Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman
Indonesia dipengaruhi budaya Autronesia Soemardi dalam sebuah buku yang
yang terlihat dari budaya materi berjudul Setangkai Bunga Sosiologi
(pengetahuan bercocok tanam, berternak, mendefinisikan bahwa kebudayaan adalah
dan berburu). “semua hasil karya dan cipta masyarakat,
dan menjelaskan bahawa karya
masyarakat yang menghasilkan sebuah Bangunan Arsitektural
teknologi dan kebudayaan kebendaan Arsitektur prasejarah merupakan tahap
yang diperlukan oleh masyarakat untuk awal dalam sebuah pembangunanya.
menguasai alam disekitarnya, agar dapat Kemudian dengan berkembangnya waktu
diabadikan hasilnya untuk keperluan manusia menjadi maju dalam
masyarakat”. Dengan demikian Arsitektur pengetahuan Arsitektur. Arsitektur
merupakan hasil kebudayaan dari Vernakular terbentuk dari pendekatan
manusia. Dimana kebudayaan dan yang serupa. Menurut D. K Ching pada
masyarakat saling terkait satu sama lain, setiap komposisi bentuk, kita sangat
karena masyarakat dalam kehidupan cenderung menyempitkan permasalahan
sosial tidak mungkin lepas sebuah dalam bidang pandangan kearah bentuk-
kebudayaan. bentuk yang penting sederhana dan
teratur semakin sederhana dan teraturnya
Religi Sebagai Unsur Kepercayaan suatu bentuk, maka akan semakin mudah
Dalam Masyarakat diterima dan dimengerti.
Menurut Koentjaraningrat (1987) a. Ruang akan terbentuk dari bentuk dasar
mengatakan bahwa religi adalah bagian yang berhubungan sehingga memiliki
dari kebudayaan, karena dalam volume ruang, contohnya hubungan
kebanyakan hal yang dia bahas beliau
antara dinding dengan lantai dan dinding
sangat menghindari istilah agama dan
lebih banyak menggunakan istilah religi. dengan atap.
Ada juga yang berpendirian bahwa sistem b. Struktur bangunan tidak akan berdiri
religi merupakan suatu agama. Tetapi itu jika tidak ada penompangnya (bagian dari
hanya untuk penganutnya. Akhirnya struktur a. upperstructure adalah bagian
mereka menemukan bahwa adanya roh struktur atap, b. Middlestructure bagian
nenek moyang yang dipercayai sebagai struktur dinding, kolom, c. downstructure
kekuatan pembentuk kebudayaan yang
adalah bagian penompang dari bawah
harus dipatuhi secara turun temurun
sehingga lahir yang dinamakan adat bangunan yang akan menyalurkan beban
istiadat. Istilah ini dapat membatasi atau ke permukaan tanah keras)
mengontrol segala tindakan masyarakat
dalam suatu hal untuk menjaga Bangunan Tradisional Sunda
keharmonisan masyarakat tertentu. Ciri khas bentuk bangunannya yang
berbentuk panggung karena disesuaikan
Pengaruh Alam Terhadap Bentuk dengan kebutuhanya. Bagian dari
Bangunan bangunan Sunda terdiri dari kepala,
Faktor alam sangat mempengaruhi badan, dan kaki. Ada pun beberapa
bentuk bangunan di Indonesia, karena bagian dari keseluruhan bangunan sunda
Indonesia secara geografis berada di yang terdiri dari atap, dinding dan
daerah pegunungan dan kemungkinan pondasi terdapat beberapa jenis yaitu:
terjadi bencana sangat besar. Sehingga A. Atap Jelopong
membuat perancangan bentuk dan Atap yang memiliki ciri yang sama dengan
struktur di desain sebaik mungkin agar atap plana namun lebih memajang.
dapat berdiri kokoh di atas tanah. terlihat pada gambar 1. (a) Struktur
Menurut walker, John A. 1989 umumnya rangka atap jelopong, (b) dan (c) Rumah
faktor alam seperti iklim dan geografis bentuk suhunan jolopong.
termasuk adanya gempa bumi sangat
relevan, dalam sebuah pembangunan
desain bangunan, dimana hal ini yang
mendasari konsep desain rumah
tradisional.
(a)

(a) (b)

(c)

Gambar 1. (a) Struktur ,(b) dan (c)


Rumah Bentuk Suhunan Jolopong
(sumber : www. Archmaxter.com)
(b)
B. Dinding Gambar 3. (a), (b) Detail Lantai
Dinding bangunan rumah tradisional dan Bagian bawah lantai (Sumber : Data
Sunda terbuat dari anyaman bambu Pribadi dan http://www.4shered.com)
untuk mengalirkan udara dari celah-
celahnya. Sehingga dapat mendinginkan D. Pondasi
ruangan dan menyerap panas matahari. Menggunakan pondasi umpak / setempat
Terlihat pada gambar 2. (a) Anyaman dengan tujuan menghindari gempa bumi,
dinding bambu dan (b) bagian sudut karena pondasi ini berada dipermukaan
dinding. tanah dan tidak menancap pada tanah
sehingga pada saat terjadi gempa
bangunan mengikuti pergerakan tanah.

(a) (b)
Gambar 2. (a) Anyaman dinding bambu
dan (b) Bagian sudut dinding (Sumber :
Data Pribadi)
Gambar 4. Detail (Sumber :
C. Lantai http://www.propertijitu.com)
Lantai panggung memiliki ketinggian 40
cm, terlihat pada gambar 3. (a) dan (b)
Detail Lantai. Terdapat ruangan diantara
lantai dan tanah yang disebut kolong
imah yang berfungsi sebagai sirkulasi 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
udara untuk mengurangi kelembaban
pada lantai serta menyimpan barang – Dalam analisis di bab ini menjelaskan
barang pada gambar 3. (c). faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk
bangunan, ruang dalam dan struktur.
Pemberian poin angka untuk
memudahkan penilaian seperti : 0-3 poin
yang artinya kurang berpengaruh, 4-7
poin cukup berpengaruh dan 8-10 poin
sangat berpengaruh. Setelah itu poin
dijumlahkan baru bisa menentukan faktor
paling dominan yang mempengaruhi
bentuk bangunan kampung adat Kuta.

Bentuk Masa Bangunan Kampung


Adat Kuta (a)

A. Analisis Faktor Adat Istiadat Gambar 6. (a) Bentuk Bangunan,


(b) Makam (Sumber :
Mengikuti bentuk bangunan adat yang
Http://Commons.Wikimedia.Org/
telah ada sebelumnya dan bentuk Dan Data Pribadi
bangunan harus sejajar dengan yang
disebelahnya, jika tidak akan terjadi C. Analisis Faktor Alam
musibah (katumbuk juru). Jika akan Pada bentuk bangunan masa bangunan
menabah bagian bangunan, harus Kampung Adat Kuta tidak di pengaruhi
dibagian barat dan selatan agar tidak oleh faktor alam. (0 Poin)
saling bertumbukan dengan bangunan
yang lainnya. Terlihat pada gambar 5. (a)
dan (b). D. Fungsi
(8 poin )
Bangunan di Kampung Kuta dapat dikatan
bahwa pada bagian bentuk rumahnya
diawali oleh peraturan adat, kemudian
dibakukan dalam peraturan yang diikuti
oleh semua warga, sehingga, fungsi dari
bentuk ini mengikuti tradisi atau adat
istiadat dari Kampung Adat Kuta
(a)
Faktor yang dominan adalah Adat
Istiadat dan Religi.

Ruang Dalam Bangunan Kampung


Adat Kuta

A. Analisis Faktor Adat Istiadat


Orientasi ruang harus menghadap ke arah
(b) timur dan selatan agar rezeki penghuni
rumah tidak hilang terlihat pada gambar
Gambar 5. (a) dan (b) Jarak Dari 7. (a), selain itu pada bukaan pintu
Rumah Ke Rumah (Sumber : Data masuk tidak boleh tegak lurus dengan
Pribadi)
pintu belakang / pasi jawa (pamali)
karena dapat menyebabkan hilangnya
B. Analisis Faktor Religi rezeki, lebih baik jika pintu masuk digeser
Bangunan berbentuk persegi panjang 50 cm kearah samping sehingga tidak
dengan maksud agar manusia tetap ingat tegak lurus dengan pintu belakang
pada Tuhan bahwa manusia akan mati terlihat pada gambar 7. (b). (poin 8)
terlihat pada gambar (a), sehingga
bentuk rumah diibaratkan seperti makam
terlihat pada gambar (b).
(8 poin)
(a)
Gambar 8. (a) dan (b) Arah
Orientasi Jendela (Sumber :
(b) Data Pribadi)
Gambar 7. (A) Arah Pintu , (B) Denah
Bangunan (Sumber : Data Pribadi) D. Fungsi
Sama seperti pada bentuk masa
bangunan, untuk ruang dalam di
B. Analisis Faktor Religi Kampung Adat Kuta ini, diawali oleh
Setiap rumah tidak boleh lebih dari 2 tradisi atau adat istiadat setempat yang
kepala keluarga karena dapat telah dilakukan secara turun temurun
menyebabkan kecemburuan dan kemudian disesuaikan dengan fungsinya,
keributan, yang akhirnya penghuni rumah sehingga dapat dikatan fungsi mengikuti
tidak akan harmonis. (5 poin) tradisi
Faktor yang dominan adalah Adat
Istiadat.
C. Analisis Faktor Alam
Arah jendela kecuali jendela kaca yang Struktur pada Bangunan Kampung
bisa disebut papat kalima pancer yang Adat Kuta
bermakna saudara kita merupakan 4 arah
mata angin utara, selatan, barat, timur A. Analisis Faktor Adat Istiadat
dan satunya lagi diri kita selaku manusia Sebelum membangun rumah, masyarakat
terlihat pada gambar 8. (a) dan (b). Kampung Kuta biasanya melakukan ritual
(poin 6) pengecekan tanah yang disesuaikan
dengan perhitungan tanggal lahir (weton)
penghuni rumah, hal ini dikarenakan agar
penghuni rumah tidak terkena musibah.
(7 poin)

B. Analisis Faktor Religi


Pada struktur bangunan Kampung Adat
Kuta tidak dipengaruhi faktor religi. (poin
0)
(a)
C. Analisis Faktor Alam
Material yang digunakan pada bangunan
menggunakan material dari alam, agar
menjaga kenyamanan penghuni dalam
bangunan misalnya: (8 poin)
(b)
1. Penggunaan ijuk pada lapisan luar
dan rumbia pada bagian atap agar tidak
kepanasan dan dapat dijadikan pupuk bila
sudah tidak terpakai terlihat pada gambar
. konstruksinya menggunakan bahan menggunakan tali / bambu. Terlihat pada
balok kayu, sambungan kayu gambar 10. (b) dan (c).
menggunakan paku tetapi sebelum ada
paku sambungan kayu menggunakan
ikatan bambu yang dililitkan pada
konstruksi. Selain itu kemiringan atap
mengikuti bentuk bangunan namun
umumnya kemiringan atap sebesar 35˚ -
37˚. (a) (b)

(a) (b)
(c)

Gambar 10. (a) Anyaman


Dinding (b) Rangka Dinding
dan (c) Detail Dinding
(sumber : Data Pribadi)

3. Penggunaan pondasi batu kali pada


(c)
permukaan tanah menambah kekokohan
pada bangunan, serta menghindari
goncangan akibat gempa. Adapun batu
kali ini berbentuk trapesium yang telah
dipahat dengan tinggi pondasi 40 cm dari
muka tanah, sedangkan untuk
sambungannya dengan kolom hanya
(d) ditempel saja. Terlihat pada gambar 11.
(a),(b),(c) dan (d).

Gambar 9. (a),(b) Material


Atap, (c) dan (d) Detail Atap
(Sumber : Data Pribadi)

2. Penggunaan bilik bambu pada dinding (a) (b)


agar sirkulasi udara dapat mengalir dalam
ruangan dan menyebabkan ruangan yang
(c) (d)
dingin dan nyaman terlihat pada gambar
10. (a) Anyaman Dinding. Selain itu,
dinding bambu ini memiliki rangka yang
nantinya akan menjepit lapisan dinding
bambu. Sedangkan sambungannya
sekarang sudah menggunakan paku, 4. UntukGambar 11. (a),(b),(c)
lantainya menggunakan material
berbeda dengan dulu yang masih Pondasi, (d) detail pondasi
berupa papan kayu atau bambu
(Sumber : Data Pribadi)
(palupuh) yang diatasnya hanya dialasi Adat Kuta terutama dalam bangunan
dengan tikar saja, terlihat pada gambar adatnya.
11. (a) material lantai bambu dan kayu
dan (b) detail lantai 4. KESIMPULAN

Dapat disimpulkan berdasarkan hasil


analisis diatas maka faktor – faktor yang
mempengaruhi bangunan adat di
Kampung Kuta terdiri dari faktor adat
istiadat, religi dan alam, ketiga faktor ini
mempengaruhi bangunan adat khususnya
(a) pada bagian bentuk masa bangunan,
ruang dalam dan struktur serta material
Gambar 12. (a) Material Lantai
Bambu dan Kayu, (b) Detail Lantai bangunan.
(Sumber : Data Pribadi)
Tabel 1. poin dari faktor-faktor yang
mempengaruhi
D. Fungsi
Pada bagian bangunan, karena struktur
N Bentuk Adat Reli Ala
sudah memiliki standard sendiri dalam o Bangunan Istiada gi m
ukuran atau dimensi, maka mayoritas t
struktur bangunan Kampung Kuta hamper
sama dengan struktur bangunan lain, 1 Bentuk Masa 8 8 0
salah satunya yang membedakan pada 2 Ruang Dalam 8 5 6
bangunan Adat Kuta hanya dari bentuk
3 Struktur 7 0 8
rumah, dimana bentuk rumah ini harus
berbentuk persegi panjang, sehingga Jumlah 23 13 14
fungsi pada struktur dan konstruksi
Ket : 0 – 3 = kurang mempengaruhi
bangunan mengikuti bentuk yang telah 4 – 7 = sedang 8 – 10 =
ada dan ditetapkan oleh tradisi secara banyak mempengaruhi
turun temurun, sehingga, fungsi pada
struktur pun mengikuti peraturan adat
Pada Tabel 1. Dan Grafik 1. Menjelaskan
istiadat yang dipakai dan dipatuhi serta
faktor-faktor yang dominan pada
telah lama ada di Kampung Adat Kuta bangunan Kampung Adat Kuta sebagai
secara turun temurun. berikut :
Faktor yang dominan adalah Alam.
a. Pada bentuk masa, faktor yang paling
Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa dominan yaitu adat istiadat, dan religi
faktor adat istiadat memiliki peran yang sebesar 8 poin atau 50%.
sangat kuat dan penting dalam bangunan b. Pada ruang dalam, faktor yang paling
di Kampung Adat Kuta, karena dominan yaitu adat istiadat sebesar 8
masyarakat kampung adat ini masih poin atau 40% dan faktor religi sebesar 8
memiliki peraturan yang kuat dalam poin atau 40%.
mempertahankan tradisi walaupun telah c. Pada struktur dan maerial, faktor yang
banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor paling dominan yaitu alam sebesar 8 poin
diantaranya faktor religi dan alam. atau 60% dan adat istiadat 7 poin atau
Dengan kata lain, faktor tersebut 40%.
merupakan penunjang dalam Kampung
Adapun untuk persentase faktor – faktor Rapoport, Amos. 1969, House Form and
yang mempengaruhi bangunan adat Culture. Prentice Hall, Englewood Cliffs
maka dapat dilihat pada grafik berikut ini NJ.
:
Rudofsky, Bernard. (1964). Architecture
Grafik 1. Persentase Faktor pada without Architects. New York: Museum of
Bangunan Adat Kampung Kuta Modern Art.

Soemardjan, Selo dan Soemardi,


Soelaeman. Setangkai Bunga Sosiologi.
100% Jakarta : LPFEUI, 1964.
80%
60%
alam Walker, John A. 1989. Design History and
40% History of Design, London, Pluto Press,
20% religi Ltd.
0%
adat istiadat

Dengan demikian, maka bangunan adat


di Kampung Kuta merupakan bangunan
tradisional yang masih mempunyai nilai
Arsitektur Vernakular yang salah satunya
dengan memegang adat istiadat setempat
yang masih dipertahankan hingga saat
ini. Walaupun telah banyak dipengaruhi
oleh faktor – faktor lain seperti religi dan
alam serta pengaruh perkembangan
zaman yang semakin canggih, namun hal
itu hanya merupakan faktor penunjang
saja dalam bangunan adat di Kampung
Adat Kuta, Ciamis.

5. DAFTAR PUSTAKA

Ching DK, Francis. 1985. Arsitektur


Bentuk, Ruang dan Susunannya. Jakarta :
Erlangga

Koentjaraningrat. 1987. Kebudayaan,


Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta:
Penerbit PT Gramedia.

Oliver, P. Ed.. 1997. Encyclopedia of


Vernacular Architecture of the World.
Cambridge: Cambridge University Press.

View publication stats