Anda di halaman 1dari 6

Nama : Bernando Sitorus

NIM : 165010100111139

TEORI- TEORI KRIMINOLOGI

1. Social Control Theory

Teori ini tidak melihat seseorang yang dari lahir langsung mengetahui keharusan
patuh pada hukum, namun menganut pandangan antitesis dimana seseorang
harus belajar untuk tidak melakukan pelanggaran terhadap aturan. Empat unsur
kunci dalam teori kontrol sosial mengenai perilaku kriminal :

A. Kasih Sayang

Kasih sayang ini meliputi kekuatan suatu ikatan yang ada antara individu
dan saluran primer sosialisasi, seperti orang tua, guru dan para pemimpin
masyarakat. Akibatnya, itu merupakan ukuran tingkat terhadap mana
orang-orang yang patuh pada hukum bertindak sebagai sumber kekuatan positif
bagi individu.

B. Komitmen

Sehubungan dengan komitmen ini, kita melihat investasi dalam suasana


konvensional dan pertimbangan bagi tujuan-tujuan untuk hari depan yang
bertentangan dengan gaya hidup delinkuensi.

C. Keterlibatan

Keterlibatan, yang merupakan ukuran kecenderungan seseorang untuk


berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan konvensional mengarahkan individu
kepada keberhasilan yang dihargai masyarakat.

D. Kepercayaan

kepercayaan memerlukan diterimanya keabsahan moral norma-norma


sosial serta mencerminkan kekuatan sikap konvensional seseorang. Keempat
unsur ini sangat mempengaruhi ikatan sosial antara seorang individu dengan
lingkungan masyarakatnya.

2. Feminist Prespective

Feminis melihat masyarakat sebagai didominasi laki-laki (patriarki). Feminis


melihat orang-orang mendapatkan manfaat terhadap perempuan. Kaum feminis
juga berpendapat bahwa institusi sosial yang berpengaruh termasuk negara dan
kebijakan, membantu mempertahankan bawahan posisi perempuan dan pembagian
gender yang tidak setara kerja dalam keluarga.

Feminist Prespective terbagi atas 6 yaitu :

1. Liberal

Suatu pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan


secara penuh dan individual. Teori feminis liberal berfokus pada peran gender,
pembagian patriarkal kerja dalam pekerjaan dan keluarga, dan dampak dari
peran gender pada sosial, hukum, politik, dan kesetaraan ekonomi.

2. Marxis Tradisional

Menempatkan asal perempuan penindasan tidak di kesempatan individu tetapi


sebagai melekat dalam organisasi politik dan ekonomi masyarakat dan struktur.
Sudut pandang ini berpendapat bahwa posisi subordinat perempuan dalam
masyarakat berasal dengan perkembangan kepemilikan pribadi, kapitalisme, dan
hegemoni dari kelas penguasa. Feminis Marxis berpendapat bahwa gender dan
kelas ketidakadilan saling berkaitan (tetapi menempatkan penekanan pada
kelas) dan yang pengalaman perempuan dari penindasan harus dipahami
sebagai langsung hubungan kekuasaan antara wanita dan pria. Feminis Marxis
percaya, misalnya, bahwa seorang wanita yang bekerja di dalam rumah
merupakan bentuk perbudakan domestik, bahwa pekerjaan perempuan
disediakan rendah kompensasi sebagai alat kontrol dan penindasan, dan bahwa
selama sebagai struktur masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip kapitalis, wanita
akan tetap kelas minoritas. Aliran ini memandang masalah perempuan dalam
kerangka kritik kapitalisme.

3. Radikal

Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan


terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama
penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal
mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas
(termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan
dikotomi privat-publik. Sudut pandang feminis radikal mengidentifikasi dominasi
laki-laki, atau patriarki, sebagai akar dari ketidaksetaraan gender.

4. Sosialis

Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan
tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus
disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis
menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan
perempuan. Ia sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme
merupakan sumber penindasan perempuan. Akan tetapi, aliran feminis sosialis
ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber
penindasan itu. Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling
mendukung

5. Post Modern

Menurut sudut pandang teoritis ini, cita-cita jenis kelamin, norma, dan
kategorisasi secara sosial dibangun dan diberi label oleh masyarakat. Menarik
khusus untuk postmodernis feminis adalah yang menciptakan, mendefinisikan,
dan menafsirkan ini label dan kategori perbedaan. Postmodernis menolak
kategorisasi, hitam dan putih "kebenaran," dan istilah atau konsep seperti
kejahatan, penyimpangan, kontrol sosial, dan keadilan sebagai yang diciptakan
secara sosial dan tidak universal "Kebenaran." Mereka mendukung bergerak
pemahaman gender ke pusat fokus, mendekonstruksi penelitian dan
pengetahuan difokuskan pada perempuan, dan kategori mengingat
meremehkan atau meminggirkan satu gender dalam kaitannya dengan yang lain.

6. Ras Kritis

3. Subculltural theory

Pada dasarnya, teori sub-culture membahas dan menjelaskan bentuk kenakalan


remaja serta perkembangan berbagai tipe gang. Dalam kepustakaan kriminologi
dikenal dua teori sub-culture, yaitu:

A. TEORI DELINQUENT SUB-CULTURE

Teori ini dikemukakan Albert K. Cohen dalam bukunya delinquent boys (1955)
yang berusaha memecahkan masalah bagaimana kenakalan sub-culture dimulai
dengan menggabungkan perspektif teori Disorganisasi Sosial dari Shaw dan
McKay, teori Differential Association dari Edwin H.Sutherland dan teori Anomie
Albert K. Cohen berusaha menjelaskan terjadinya peningkatan perilaku
delinkuen di daerah kumuh (slum). Karena itu, konklusi dasarnya menyebutkan
bahwa perilaku delinkuen di kalangan remaja, usia muda masyarakat kelas
bawah, merupakan cermin ketidakpuasan terhadap norma dan nilai kelompok
kelas menengah yang mendominasi kultur Amerika.

Kondisi demikian mendorong adanya konflik budaya yang oleh Albert K. Cohen
disebut sebagai Status Frustration. Akibatnya, timbul keterlibatan lebih lanjut
anak-anak kelas bawah dan gang-gang dan berperilaku menyimpang yang
bersifat “nonutilitarian, malicious andnegativistic (tidak berfaedah, dengki dan
jahat)”.

Konsekuensi logis dari konteks diatas, karena tidak adanya kesempatan yang
sama dalam mencari status sosial pada struktur sosial maka para remaja kelas
bawah akan mengalami problem status di kalangan remaja. Akhirnya, Albert
K.Cohen bersama James Short melakukan klasifikasi sub-sub budaya delinkuen,
menjadi :
1. A parent male sub-culture the negativistic sub culture originallyidentified to
delinquent boys

2. The conflict-oriented sub-culture the culture of a large gang thatengages in


collective violence

3. The drug addict sub-culture groups of youth whose lives revolvearound the
purchase sale, use of narcotics ;

4. Semi profesional theft-youths who engage in the theft or robberyof


merchandise for the purpose of later sale and monetary gain ; and

5. Middle-class sub-culture-delinquent group that rise, because of thepressures


of living in middle-class environments

B. TEORI DIFFERENTIAL OPPORTUNITY

Teori perbedaan kesempatan (differential opportunity) dikemukakan Richard A.


Cloward dan Leyod E. Ohlin dalam bukunya Delinquency and Opportunity: a
Theory of Delinquent Gang (1960) yangmembahas perilaku delinkuen kalangan
remaja (gang) di Amerika dengan perspektif Shaw dan McKay serta Sutherland.
Menurut Cloward, terdapat struktur kesempatan kedua yang tidak dibahas teori
anomie Robert K. Merton yaitu adanya kesempatan tidak sah (the illegitimate
opportunity structure).

Pada dasarnya, teori Differential Opportunity berorientasi dan membahas


penyimpangan di wilayah perkotaan. Penyimpangan tersebut merupakan fungsi
perbedaan kesempatan yang dimiliki anak-anak untuk mencapai tujuan legal
maupun illegal. Untuk itu, Cloward dan Ohlin mengemukakan 3 (tiga) tipe gang
kenakalan Sub-culture, yaitu :

1. Criminal Sub-culture, bilamana masyarakat secara penuh berintegrasi, gang


akan berlaku sebagai kelompok para remaja yang belajar dari orang dewasa.
Aspek itu berkorelasi dengan organisasi kriminal. Kriminal sub-culture
menekankan aktivitas yang menghasilkan keuntungan materi, uang atau harta
benda dan berusaha menghindari penggunaan kekerasan.

2. Retreatist Sub-culture, dimana remaja tidak memiliki struktur kesempatan


dan lebih banyak melakukan perilaku menyimpang (mabuk-mabukan, penyalah
gunaan narkoba dan lain sebagainya).

3. Conflict Sub-culture, terdapat dalam suatu masyarakat yang tidak terintegrasi,


sehingga suatu organisasi menjadi lemah. Gang sub-culture demikian ini
cenderung memperlihatkan perilaku yang bebas. Ciri khas gang ini seperti
adanya kekerasan, perampasan harta benda dan perilaku menyimpang lainnya.