Anda di halaman 1dari 10

277

DERAJAT DESENTRALISASI FISKAL


DAERAH KABUPATEN/KOTA
Mega Sistiana, M. Hadi Makmur
FISIP Universitas Jember, Jl. Kalimantan-Kampus Tegalboto, Jember 68121
Telp. (0331) 335586-331342, Fax. (0331)335586, e-mail: mega.sistiana@gmail.com

Abstract: The Degree of Fiscal Desentralization of Kabupaten/Kota. This research was


intended to describe the degree of fiscal decentralization in the autonomous regions in East Java
province in 2006-2010. This research belongs to the genre of secondary data with quantitative
descriptive type. The population in this study was all regencies/cities in East Java Province. The
degree of fiscal decentralization was calculated from data collected by the three ratios, that is: a)
PAD (Local Revenue) with TPD (Total Local Revenue); b) BHPBP (Tax and Non-Tax Sharing)
with TPD; c) regional contribution to TPD. The research results showed that, first, seen from the
ratio of PAD to TPD, DDF (Degree of Fiscal Desentralization) of regencies/cities in East Java
in 2006-2010 was in very low category with an average DDF percentage of 8%. Second, DDF
of regencies/cities measured in terms of ratio of local contribution and TPD, had a high level of
DDF, reaching 83%. Third, DDF of regencies/cities in East Java in 2006-2010 of BHPBP ratio
with TPD had a very low percentage, reaching an average of only 9%, so the region’s financial
dependence on the construction financing of central government funding is very high.
Keywords: regional autonomy, fiscal decentralization, degree of fiscal decentralization.

Abstrak: Derajat Desentralisasi Fiskal Kabupaten/Kota. Penelitian ini bertujuan untuk


mendeskripsikan derajat desentralisasi fiskal di daerah otonom di Provinsi Jawa Timur tahun
2006-2010. Penelitian ini masuk ke dalam genre studi data sekunder dengan tipe deskriptif
kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa
Timur. Derajat desentralisasi fiskal dihitung dari data yang terkumpul dengan tiga rasio yaitu a)
PAD dengan TPD; b)BHPBP dengan TPD; c) sumbangan daerah dengan TPD. Hasil penelitian
menunjukan bahwa Pertama, dilihat dari sisi rasio PAD terhadap TPD, DDF kabupaten/kota di
Jawa Timur Tahun 2006-2010 termasuk kategori sangat rendah dengan rata-rata prosentase DDF
sebesar 8%. Kedua, DDF kabupaten/kota yang diukur dari sisi rasio sumbangan daerah dan
TPD, memiliki tingkat DDF yang tinggi yaitu mencapai 83%. Ketiga, DDF kabupaten/kota di
Jawa Timur tahun 2006-2010 dari rasio BHPBP dengan TPD memiliki prosentase yang sangat
rendah yaitu rata-rata hanya 9%, sehingga ketergantungan keuangan daerah dalam pembiayaan
pembangunan dari kucuran dana pemerintah pusat sangat tinggi.
Kata Kunci: otonomi daerah, desentralisasi fiskal, derajat desentralisasi fiskal.

PENDAHULUAN tor penting yang menjadi perhatian dalam


Desentralisasi merupakan bagian pen- penyelenggaraan otonomi daerah adalah
ting dari terselenggaranya pembangunan menyangkut tentang keuangan daerah. Da-
nasional mengingat kondisi Indonesia yang lam UU No 32 Tahun 2004 pasal 155 ayat 1
mempunyai banyak kekayaan budaya dan disebutkan bahwa penyelenggaraan urusan
adat istiadat yang berbeda disetiap daerah. pemerintahan yang menjadi kewenangan
Desentralisasi diwujudkan dalam penye- daerah didanai dari dan atas beban angga-
lenggaraan otonomi daerah yang diberikan ran pendapatan dan belanja daerah. Namun
pemerintah kepada daerah otonom. Dae- kenyataan yang ada dalam pelaksanaan
rah yang memiliki otonomi daerah disebut otonomi daerah, pemerintah daerah belum
dengan daerah otonom. Di Indonesia dae- sepenuhnya mampu melaksanakan tugas
rah otonom dibagi menjadi tiga bagian yai- pembangunan yang diserahkan pemerintah
tu provinsi, Kabupaten/Kota dan desa. Fak- pusat ke daerah dengan menggunakan sum-

277
278 Jurnal Ilmu Administrasi Negara, Volume 12, Nomor 4, Januari 2014:277-286

ber keuangan yang dimilikinya. Oleh karena 28.970.769.844.000, sedangkan provinsi


itu pemerintah pusat memberikan kebija- yang mendapatkan dana perimbangan pal-
kan yang dinamakan dengan desentralisasi ing rendah se-Indonesia adalah Gorontalo
fiskal agar daerah dapat menjalankan fung- dengan besar dana perimbangan hanya men-
sinya dengan baik sebagai daerah otonom. capai Rp 3.409.953.971.840. Data yang ada
Kemampuan fiskal daerah masih menjadi pada gambar 1 menjelaskan bahwa trend
trending topic dalam membicarakan perso- pendapatan provinsi Jawa Timur mulai ta-
alan otonomi daerah. hun 2008 sampai 2011, masih memiliki ket-
Implikasi fenomena dana perimbangan ergantungan yang tinggi pada kucuran dana
yang dilakukan pemerintah pusat menjadi dari pemerintah pusat.
suatu permasalahan baru yang muncul dari Bertolak dari latar belakang masalah
adanya kebijakan desentralisasi fiskal. Ket- tersebut, maka pertanyaan panelitianya ada-
ergantungan keuangan daerah merupakan lah bagaimana derajat desentralisasi fiscal
realitas hubungan fiskal pemerintah pusat antara pemerintah pusat dengan pemerintah
dan pemerintah daerah yang ditandai den- daerah dan apa dampaknya pada tingkat ke-
gan tingginya kontrol pusat terhadap proses mandirian daerah dalam pembiayaan pem-
pembangunan daerah (Hanafi et al., 2009). bangunan
Jawa Timur adalah pusat perekonomian Dalam pelaksanaan otonomi daerah
di Indonesia bagian timur dengan pertumbu- ini, daerah harus mampu lebih menggali
han ekonomi yang baik, namun hal tersebut potensi dan sumber keuangan yang dimiliki
tidak bisa serta merta membuat Jawa Timur daerah sendiri dalam membiayai segala uru-
menjadi daerah yang benar-benar mandiri, san yang dimilikinya. Menurut Reksodipro-
dalam arti mampu mencukupi kebutuhan jo (dalam Hanafi, 2009), tingkat kemandi-
“rumah tangganya” sendiri dengan segala rian fiskal daerah dapat dipelajari dengan
potensi yang dimiliki. Hal tersebut dapat melihat besarnya desentralisasi fiskal kepa-
terlihat dari trend dana perimbangan yang da suatu daerah dan pengukurannya dapat
diterima masing-masing provinsi se-Indo- dilakukan dapat dilakukan dengan meng-
nesia tahun anggaran 2012. Dari 33 provinsi gunakan derajat otonomi fiskal atau derajat
di Indonesia (gambar 1), Jawa Timur ada- desentralisasi fiskal. Desentralisasi fiscal
lah provinsi yang mendapatkan dana per- menurut Rusdianto (tanpa tahun) adalah se-
imbangan tertinggi dari pemerintah pusat bagai penyerahan tanggung jawab fiscal dari
sebesar Rp 45.000.625.003.841.00. Dana pemerintah pusat kepada tingkatan yang ada
perimbangan untuk Jawa Timur di domi- di bawahnya. Selama ini penggunaan anali-
nasi oleh dana alokasi umum yang menca- sis ratio dalam APBD masih sangat sedikit,
pai 50% lebih dari total dana perimbangan sehingga secara teori belum ada kesepaka-
yang diterima Jawa Timur yaitu sebesar Rp tan secara bulat mengenai kaidah dan nama
B
Rp50.00
ertol
Rp40.00 ak
Trillions

Rp30.00 dari
Rp20.00 latar
Rp10.00 bela
Rp- kan
g
mas
alah
ters
ebut
Sumber: Data APBD Realisasi 2012 Dirjen Perimbangan Keuangan ,
Gambar 1. Distribusi danaperimbangan seluruh provinsi mak
di indonesia tahun 2012 a
pert
1. X 100%

2. X 100%
Mega Sistiana, M. Hadi Makmur, Derajat Desentralisasi Fiskal Daerah Kabupaten/Kota 279

pengukurannya (Hanafi, dkk. 2009). Derajat agar dapat memiliki tingkat ekonomi yang
desentralisasi fiskal atau biasa di sebut den- baik, tetapi sudah memadai jika 20% dari
gan derajat otonomi fiskal daerah merupa- pengeluaran berasal dari sumber-sumber
kan aspek yang sangat penting dalam pelak- daerah”. Pernyataan Devas tersebut mene-
sanaan otonomi daerah secara keseluruhan. gaskan bahwa angka 20% sudah cukup
Hal ini menurut Radianto (1997) menggambarkan daerah memiliki tingkat
disebabkan derajat otonomi fiskal merupa- otonomi fiskal yang baik. Pernyataan Devas
kan gambaran kemampuan daerah dalam ini diperkuat oleh pendapat Cochrane (da-
Rp50.00
meningkatkan pendapatan asli daerah dan lam Hoessein 1993) yang menyatakan bah-
Rp40.00
diikuti dengan kemampuan memungut pa- wa: “When less than 20% of revenue are lo-

Trillions
Rp50.00 Rp30.00 ertol
jak karena secaraRp40.00 teori menurut Bahl (da- cally raised, however, Rp20.00local decision making ak
Trillions

lam ladjin, 2008)Rp30.00 dengan kemampuan pa- may be so dominated Rp10.00by central government dari
jak, maka pemerintah Rp20.00daerah akan memiliki that local government Rp-may lose all credibili- latar
Rp10.00
sumber dana pembangunan yang besar. ty as an independent entity”.( saat pendapa- bela
Rp-
Analisis yang digunakan untuk men- tan lokal kurang dari 20% maka keputusan kan
gukur derajat otonomi fiskal daerah adalah pemerintah local bisa jadi didominasi oleh g
apa yang dinamakan dengan “administrative pemerintah pusat dan pemerintah daerah B mas
Rp50.00ratio” yaitu rasio antara PAD
independency kemungkinan kehilangan kredibilitasertol se- alah
Sumber: Data APBD Realisasi 2012 Dir
ters
dengan Rp40.00
total penerimaan APBD. Lebih jelas perti kedaulatan). Penelitian ini bertujuan ak
Gambar 1. Distribusi danaperim ebut
Trillions

Rp30.00
lagi Hikmah (dalam Tiyaningsih 2009), un-Realisasi
untuk2012
mengetahui derajat desentralisasi fis-
Sumber: Data APBD Dirjen Perimbangan Keuangan dari di indonesia tahu,
Rp20.00
tuk melihat derajat desentralisasi fiskal an- caldanaperimbangan
antara pemerintah pusatprovinsi
dan pemerintahlatar
Gambar 1. Distribusi seluruh mak
Rp10.00 pusat dan daerah dapat di-
tara pemerintah daerah serta bela
Rp- di indonesia 1. dampaknya
tahun 2012 X 100% pada kemandirian a
hitung dengan rumus: daerah dalam pembiayaan pembangunan. kan pert
1. X 100% 2. X 100% g
METODE mas
2. X 100% 3.
Penelitian X 100%
ini menggunakan jenis pe- alah
ters
nelitian deskriptif kuantitatif. Selain jenis
3. X 100% Keterangan : BHPDBP=penelitian ebutPajak dan Bukan Pa
Bagi Hasil
Sumber: Data APBD Realisasi 2012 Dirjen penelitian dekriptif
Perimbangan kuantitatif,
Keuangan ini
SB = DAU+DAK+DBH ,
Keterangan Keterangan Gambar
: BHPDBP:=BHPDBP= 1. Distribusi
Bagi Hasil Pajak
bukan
danaperimbangan merupakan
seluruh
danPajak dan Bukan Pajak provinsi penelitian
Menurut hasil lapangan
temuan na-
mak
tim KKPFE UGM (da
Bagi Hasil
mun hanya sebatas studi data sekunder
Bukan PajakSB = DAU+DAK+DBH di indonesia tahun 2012 ukur Derajat Desentralisasi Fiskal aDaerah dapat dili atau
SB = DAU+DAK+DBH Menurut hasil temuan tim KKPFE analisis
UGMisi(dalam
(content analisys).2009), untuk
Hanafi,dkk. menentukan tolak
pert
1. ukur Derajat Desentralisasi Fiskal Daerah dapat
X 100% Data yang
dilihat
Tabel 1.daridigunakan
Tabel
Skala berupa
1. Derajat
Interval data
Desentralisasi Fiskal
Menurut hasil temuan tim KKPFE sekunder dengan DDF populasi
(%) seluruh kabupa- Keterangan
UGM
2. (dalam
TabelXHanafi,dkk. 2009),
1. Skala Interval
100% untuk
Derajat me- ten/kota
Desentralisasi 0,00 –Timur.
Fiskal di Jawa 10,00 %Data berupa laporan
Sangat kurang
10,01
nentukan tolak ukur Derajat Desentralisasi realisasi anggaran Kabupaten/Kota di Jawa
DDF (%) Keterangan – 20,00 % Kurang
Fiskal Daerah 0,00 – 10,00
dapat % dari Tabel 1.
dilihat Sangat kurang 20,01 -30,00 % Sedang
3. X 100% Timur pada Tahun
30,01 2006-2010
-40,00 % dan diperolehCukup
Selain 10,01
skala –interval
20,00 %
sebagai tolak ukur Kurang
dari Badan Pusat
40,01 – Statistik
50,01 % Provinsi JawaBaik
20,01 -30,00 % Sedang
untuk menentukan
Keterangan : BHPDBP= tingkatan
30,01 -40,00 %Bagi derajat
Hasil Pajak desen-
dan Bukan Pajak
Cukup Timur. Teknik analisis
>50,00 % data yang dipakai
Sangat baik
SB = DAU+DAK+DBH
tralisasi fiskal suatu daerah,
40,01 – 50,01 % Devas (1989) Sumber: Hanafi dan Mugroho
Baik adalah derajat desentralisasi fiskal dengan (2005:80)
Menurut
berpendapat hasil
bahwa temuan
% tim KKPFE
“Pemerintah
>50,00 daerahUGMti- (dalam
Sangat baik Hanafi,dkk. 2009), untuk menentukan tolak
ukur Derajat Desentralisasi Fiskal Daerah dapat tigadari
dilihat rasio, dihitung
Tabel 1. dengan rumus:
Sumber:sendiri
dak harus berdiri Hanafi dari
dan Mugroho (2005:80)
segi keuangan
1. X 100%
Tabel 1. Skala Interval Derajat Desentralisasi Fiskal
DDF 1. (%) X 100%Keterangan 2. X 100%
0,00 – 10,00 % Sangat kurang
10,01 – 20,00
2. % X 100%Kurang 3. X 100%
20,01 -30,00 % Sedang
30,01 -40,00 % Cukup
3. X 100% Keterangan : BHPDBP= Bagi Hasil Pajak dan
40,01 – 50,01 % Baik
>50,00 % Sangat baik Bukan Pajak
Sumber: Hanafi dan Mugroho (2005:80) SB = DAU+DAK+DBH

1. X 100%

2. X 100%
Gambar 2. Derajat Desentralisasi Fiskal Rasio PAD Terhadap TPD
Kabupaten Di Provinsi Jawa Timur tahun 2006- 2011
280 Jurnal Ilmu Administrasi Negara, Volume 12, Nomor 4, Januari 2014:277-286

HASIL 30%
Rasio PAD Dengan TPD
20%
Rasio ini bertujuan untuk menunjukan
seberapa besar komponen PAD dalam To- 10%
tal Pendapatan Daerah seperti tertera pada 0%
gambar 2.
Hasilnya ternyata, dari 27 kabupa-
ten yang terdapat di Jawa Timur (gambar
2), hampir 90% rasio PAD terhadap TPD
berada pada kisaran kurang dari 10%. Hal
2006 2007 2008 2009 2010
tersebut menandakan derajat desentralisasi
fiskal di lihat dari rasio PAD terhadap TPD Gambar 3. Derajat Desentralisasi Fiskal Rasio
sangat rendah sekali. Kabupaten Sidoarjo, PAD3.Derajat
Gambar Terhadap TPD KotaFiskal
Desentralisasi di Provinsi Jawa
Rasio PAD Terhadap
Jombang, Tuban, Gresik merupakan empat Timur
TPD Tahun
Kota 2006-
di Provinsi 2011
Jawa Timur Tahun 2006-
2011
kabupaten yang memiliki rata-rata tingkat
DDF berada di atas 10% per tahunnya dan ke Sembilan kota, kota Surabaya merupa-
23 kabupaten yang lain dari tahun ke tahun kan wilayah yang memiliki tingkat DDF ter-
mengalami keragaman perkembangan ting- tinggi di Jawa Timur sebesar 25% (2006);
kat DDF yang rata-rata kurang dari 10% per 26% (2007); 28% (2008); 28% (2009); 29%
tahun. sedangkan dari 23 kabupaten yang (2010). Surabaya merupakan ibukota Jawa
memiliki tingkat DDF rata-rata kurang dari Timur sekaligus menjadi pusat perekonomi-
10% per tahun, Ngawi merupakan kabupa- an Jawa Timur dengan sumber PAD berada
ten dengan nilai DDF paling kecil, yaitu ra- pada sektor pajak dan Retribusi. Sedangkan
ta-rata di bawah 5% per tahunnya. tingkat DDF paling rendah terdapat pada
Untuk daerah Kota di Jawa Timur kota Batu. Kota Batu merupakan kota hasil
(gambar 3), perkembangan tingkat DDF ter- pemekaran dengan Kabupaten Malang pada
lihat sebagai berikut. Dari tingkat DDF pada tahun 2001.

25%

20%

15%

10%

5%

0%

2006 2007 2008 2009 2010

Gambar 2. Derajat Desentralisasi Fiskal Rasio PAD Terhadap TPD


Kabupaten
Gambar DiDesentralisasi
2. Derajat Provinsi JawaFiskal
TimurRasio
tahun PAD
2006-Terhadap
2011 TPD
Kabupaten Di Provinsi Jawa Timur tahun 2006- 2011
25%
20%
15% 2006
10% Mega Sistiana, M. Hadi Makmur, Derajat Desentralisasi Fiskal Daerah Kabupaten/Kota 281
5%
0% 2007

PROBOLING…
KEDIRI
BLITAR
2008

MALANG
Rasio BHPBP Dengan TPD

PASURUAN
memiliki rata-rata DDF sebesar 11% dalam

MOJOKERTO
MADIUN
SURABAYA
BATU
Tingkat DDF dari rasio DBH terhadap kurun waktu lima tahun (2006-2010). Kota
2009
TPD di kabupaten/kota Provinsi Jawa Timur2010 Surabaya masih memegang kendali tingkat
dapat di lihat pada gambar 6. Dalam kurun DDF terbesar di Jawa Timur dengan besar
waktu lima tahun, yaitu pada tahun 2006- 20% di tahun 2006, 23% di tahun 2007, 22%
2010 kabupaten yang memiliki tingkat DDF di tahun 2008-2009, dan 24% di tahun 2010.
Gambar
paling 6.Derajat
tinggi adalah Desentralisasi Fiskal
Kabupaten Bojonegoro Tingkat DDF yang dilihat dari rasio BHPBP
Rasio BHPDBP Terhadap
dengan rata-rata DDF sebesar 23% per ta- dengan TPD pada gambar 5 dan 6 terlihat,
TPDKota di Provinsi Jawa
hunnya. Dalam gambar
Timur 7 tingkat
Tahun DDF ter- bahwa sebagian besar kabupaten/kota di
2006- 2011
tinggi dari sembilan kota yang ada di Jawa Jawa Timur masih memiliki DDF rata-ra-
Timur adalah kota Surabaya dengan tingkat ta 5%-9%, sama seperti tingkat DDF rasio
DDF Tujuhkota
sebesar rata-rata 22%memiliki
lainnya per tahun.tingkat
Dana DDF PAD8%-9%
dan TPD.perTingkat DDF Secara
tahunnya. rasio BHPBP
keseluruhan,
Bagi Hasil (DBH) yang diperoleh kota Sura- dipengaruhi oleh hasil bumi dan kekayaan
kabupaten/kota di provinsi Jawa Timur memiliki rata-rata DDF sebesar 11% dalam kurun waktu
baya
lima sebagian
tahun besar berasal
(2006-2010). dari danamasih
Kota Surabaya bagi memegang
yang dimiliki setiap
kendali daerah.
tingkat DDFRata-rata
terbesar didae-
Jawa
hasil pajak, sedangkan posisi ke dua di tem- rah yang memiliki nilai DDF sebesar >10%
pati oleh kota Malang dengan tingkat DDF diketahui memiliki sumber tambang migas
sebesar rata-rata 11% per tahun. dan pengilangan minyak.
25%
20% Sumbangan Daerah Dengan TPD
15% 2006
10% Trend tingkat DDF berdasarkan ra-
5%
0% 2007 sio antara Sumbangan Daerah dengan To-
tal Pendapatan Daerah, dapat terlihat pada
PROBOLING…
KEDIRI
BLITAR

2008
MALANG

PASURUAN
MOJOKERTO
MADIUN

grafik (Gambar 9 dan 10) Rasio sumban-


SURABAYA
BATU

2009
gan daerah terhadap total pendapatan dae-
2010 rah merupakan rasio yang digunakan untuk
mengetahui tingkat ketergantungan daerah
Gambar 6. terhadap bantuan fiskal dari pusat. Selama
Derajat Desentralisasi Fiskal Rasio BHPDBP kurun waktu lima tahun, yaitu tahun 2006-
Gambar 6.Derajat
Terhadap Desentralisasi
TPD Kota di ProvinsiFiskal
Jawa Timur
Rasio BHPDBP Terhadap 2010 hampir 70% kabupaten di Jawa Timur
Tahun 2006- 2011 memiliki tingkat ketergantungan yang ting-
TPDKota di Provinsi Jawa
TujuhTimur
kota Tahun
lainnya memiliki
2006- 2011 tingkat gi yaitu sebesar ≥ 80% (Gambar 7 dan 8).
DDF 8%-9% per tahunnya. Secara keseluru- Dari tahun 2006 dari 27 kabupaten di Jawa
han, kabupaten/kota di provinsi Jawa Timur Timur, kabupaten yang memiliki tingkat
Tujuhkota lainnya memiliki tingkat DDF 8%-9% per tahunnya. Secara keseluruhan,
100%
kabupaten/kota
90% di provinsi Jawa Timur memiliki rata-rata DDF sebesar 11% dalam kurun waktu
lima tahun
80%(2006-2010). Kota Surabaya masih memegang kendali tingkat DDF terbesar di Jawa
70% Gambar 6. 5D
60% Gambar
50%
40%
30%
20%
10%
0%

2006 2007 2008 2009 2010

Gambar 5. Peta Rata-Rata Derajat Desentralisasi Fiskal Rasio BHPBP dengan TPD Kabupaten/
Kota Di Jawa Timur Tahun 2006-2010
282 Jurnal Ilmu Administrasi Negara, Volume 12, Nomor 4, Januari 2014:277-286

100%
80%
60%
40%
20%
0%

PROBOLIN…
KEDIRI
BLITAR
MALANG

PASURUAN
MOJOKERTO
MADIUN
SURABAYA
BATU
100%
80%
60%
40%
20%
0%

PROBOLIN…
KEDIRI
BLITAR
MALANG

PASURUAN
2006 2007 2008 2009 2010

MOJOKERTO
MADIUN
SURABAYA
BATU
Gambar 9. Peta
Gambar 9. Rata-Rata Derajat Desentralisa-
Peta Rata-Rata Derajat Gambar 10. Derajat Desentralisasi Fiskal Rasio
siDesentralisasi
Fiskal Rasio BHPBP Gambar 10. Derajat Desentralisasi
TPD Fiskal Rasio SB
Fiskal dengan
RasioTPD SB Terhadap Kota Di Provinsi
Terhadap TPD Kota Di Provinsi Jawa
Kabupaten/Kota
BHPBP Di Jawa Timur
dengan TPD Ta- Jawa Timur tahun 2006- 2011
Timur tahun 2006- 2011 2006 2007 2008 2009 2010
hun 2006-2010 Di Jawa Timur
Kabupaten/Kota
Tahun 2006-2010
DDF tertinggi adalah kabupaten Situbondo desentralisasi fiskal, daerah otonom harus
Gambar 9.seti-Peta memiliki
yang mencapai 94%. Selain Situbondo, Rata-RatatingkatDerajat
derajat desentralisasi fiskal
Gambar 10. Derajat Desentralisasi Fiskal Ra
100% Desentralisasi Fiskal Rasio
daknya ada enam kabupaten yang memiliki minimal 20%. Rata-rata tingkatTerhadap derajatTPD Kota Di Provins
BHPBP
80% kabupaten Pacitan dengan TPD
tingkat DDF ≥90% yaitu desentralisasi
Kabupaten/Kota Di Jawa
fiskal
Timur
kabupaten/kotaTimur
di Jawa
tahun 2006- 2011
60%
(91%), Trenggalek (90%), Tulungagung Timur dalam
Tahun 2006-2010 PAD/TPDwaktu lima tahun yaitu tahun
40%
(90%), Bondowoso (90%), Madiun (90%), 2006-2010, dapat dilihat pada gambar 9.
BHPBP/TPD
20%
Magetan (91%), sedangkan kabupaten yang
0% 100% SD/TPD
memiliki DDF terendah adalah kabupten Si-
80%
doarjo (70%),Tuban (78%)2006 dan kabupaten
2007 2008 2009
2010 60%
Gresik (75%) . PAD/TPD
40%
Selain sembilan
Gambarkabupaten yang dise- Tingkat
9.Rata-Rata Derajat BHPBP/TPD
20%
butkan 29 kabupaten lainnya memiliki ang- Kabupaten/KotaDi
DesentralisasiFiskal 0% Jawa
SD/TPD
ka DDF berkisar 80%-89%. Pada tahun
Timur 2006-2010
20062007
2007 kabupaten yang memiliki tingkat DDF 2008 2009
2010
tertinggi ada pada kabupaten Pacitan (90%)
dan Blitar (93%). Dalam kurun waktu lima Gambar Gambar 9.9.Rata-Rata
Rata-Rata Tingkat Derajat Desen-
Tingkat Derajat
tahun yaitu tahun 2006-2010 kabupaten/ tralisasiFiskal Kabupaten/Kota
DesentralisasiFiskal Kabupaten/KotaDi Jawa
kota di Jawa Timur dalam segi sumbangan TimurDi2006-2010
Jawa Timur 2006-2010
daerah merupakan wilayah yang memiliki Perkembangan rata-rata tingkat DDF
tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap kabupaten/kota di Jawa Timur pada gam-
sumbangan daerah yang berasal dari pusat. bar 9 rasio PAD dan BHPBP terlihat tingkat
Hanya kota Surabaya yang memiliki nilai DDF yang hampir sama prosentasenya dari
sumbangan daerah paling rendah selama tahun ke tahun. Sedangkan rasio Sumbangan
kurun waktu lima tahun. Daerah merupakan rasio yang paling men-
colok diantara dua rasio lainnya. Rendahn-
PEMBAHASAN ya tingkat DDF dari rasio PAD dan BHPBP
Derajat desentralisasi fiskal meru- di sebabkan oleh rendahnya PAD dan BH-
pakan tingkat kemampuan daerah dalam PBP yang dimiliki oleh daerah. Pendapa-
kemandirian fiskal. Suatu daerah dikatakan tan Asli Daerah tampaknya masih menjadi
layak menjadi daerah otonom bila salah batu sandungan daerah dalam pelaksanaan
satu syaratnya memiliki kemampuan pem- otonomi daerah. Tidak hanya di kabupaten/
biayaan yang berasal dari potensi yang di- kota di Jawa Timur, semua kabupaten/kota
miliknya sendiri. Dari skala interval derajat di seluruh Indonesia juga memiliki masalah
Mega Sistiana, M. Hadi Makmur, Derajat Desentralisasi Fiskal Daerah Kabupaten/Kota 283

yang sama mengenai rendahnya Pendapa- daknya ada sembilan kabupaten yang memi-
tan Asli Daerah terhadap total penerimaan liki tingkat DDF di atas rata-rata yaitu kota
daerah. Hal ini dibuktikan dengan penelitian Surabaya yang menduduki posisi pertama
yang dilakukan oleh Enceng, dkk. (2012) dengan rata-rata tingkat DDF tertinggi yaitu
tentang “Desentralisasi Fiskal Penerimaan sebesar 22% dengan komposisi BHPBP ter-
Keuangan Daerah (Studi kasus Kabupaten besar adalah berupa bagi hasil pajak, kabu-
Purworejo)” yang hasilnya adalah kabupa- paten Bojonegoro menduduki rata-rata DDF
ten Purworejo memiliki tingkat DDF yang ke dua dengan rata-rata DDF sebesar 17%
diukur dari rasio PAD terhadap TPD rata-ra- dengan komoposisi BHPBP terbesar beru-
ta sebesar 7,93% selama tiga tahun (2008- pa bagi hasil pajak. Selanjutnya kabupaten
2010). Sumenep dan Sidoarjo masing-masing sebe-
Penelitian yang dilakukan enceng ini sar 15%, kabupaten Gresik 14%, kabupaten
dikonfirmasi oleh penelitian yang dilakukan Tuban 12%, kabupaten Bangkalan dan kota
oleh Agustina (2010) tentang “Desentra- Malang masing-masing 11%, dan terakhir
lisasi Fiskal, Tax Effort dan Pertumbuhan kabupaten Tuban sebesar 10%. Walaupun
Ekonomi Daerah (Studi Empirik Kabupaten tingginya tingkat DDF itu, sebagian besar
Kota se-Indonesia)” dimana hasil penelitian bersumber diperoleh dari hasil pajak, teta-
Agustina adalah rata-rata kabupaten/kota di pi ternyata menimbulkan masalah tersendiri
Indonesia memiliki tingkat DDF yang di- dalam pelaksanaan otonomi daerah seperti
ukur dari rasio PAD terhadap TPD di bawah yang diungkapkan Jaweng (2010). “Tercatat
10% pada tahun 2001-2008. Selain itu, dalam penelitian lembaga riset KPPOD, me-
data Bank Indonesia mencatat bahwa lebih nemukan bahwa dari 1379 perda pajak dan
dari 50% sumber PAD di Indonesia beras- restribusi daerah di 228 daerah yang diteli-
al dari dana perimbangan (Miranda dalam ti, terdapat 31% perda yang dinilai berma-
Zaenuddin, tanpa tahun). Untuk menguran- salah dan berpotensi mendistorsi aktivitas
gi ketergantungan keuangan daerah pada perekonomian, terutama untuk level UKM.
kucuran dana dari pemerintah pusat adalah Kementrian Keuangan sendiri menemu-
seperti apa yang dilakukan pemerintah ka- kan dari 13622 perda pajak dan restribusi
bupaten tanahdatar dalam system desentra- daerah yang diterima (2001-2010) seba-
lisasi fiskalnya dengan menerapkan format nyak 13252 perda telah dievaluasi, dengan
keuangan, model “bottom up”, dimana temuan sebanyak 4885 (37%) pada pajak
pemerintah nagari diberi wewenang untuk dan restribusi mesti di batalkan karena pen-
mengambil sebagian dari dana perimbangan gaturan pungutan yang bermasalah”. Selain
keuangan dari pusat untuk saving sebagai ke sembilan kabupaten/kota yang di sebut-
dana abadi nagari. Untuk mencukupi pem- kan, rata-rata kabupaten kota di Jawa Timur
biayaan pembangunan, maka pemerintah hanya memiliki tingkat DDF sebesar 9%.
nagari mencari sumber-sumber dana lain- Rendahnya DDF kabupaten/kota di Provin-
nya dari partisipasi masyarakat dan dana si Jawa Timur yang diukur dari rasio BH-
tambahan dari dinas-dinas yang ada dalam PBP dengan TPD di benarkan oleh Agustina
kabupaten. Dengan format keuangan model (2010) melalui penelitiannya yang berjudul
“bottom up” ini, maka ketergantungan da- “Desentralisasi Fiskal, Tax Effort dan Per-
lam rencana pembangunan nagari dapat di- tumbuhan Ekonomi Daerah (Studi Empirik
kurangi. Begitu pula pemberian wewenang Kabupaten Kota se-Indonesia)” menghasil-
yang lebih besar pada tingkat kabupaten dan kan kesimpulan bahwa tingkat DDF diukur
kota akan menjadikan daerah mandiri dalam dari rasio BHPBP dengan TPD di kabupa-
pengelolaan keuangan untuk pembiayaan ten/kota di seluruh Indonesia masih rendah
pembangunan (Roni, 2009). namun masih menyentuh nilai minimum
Dilihat dari rasio BHPBP dan TPD, 20%. Temuan Vieira (dalam Hoessein,1993)
dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, seti- mengungkapkan “...negara industri memili-
284 Jurnal Ilmu Administrasi Negara, Volume 12, Nomor 4, Januari 2014:277-286

ki derajat desentralisasi lebih besar daripa- si fiscal akan sulit diwujudkan, sedangkan
da negara pertanian”. Meskipun penelitian derajat desentralisasi fiskal mengharuskan
ini dalam lingkup kabupaten/kota namun daerah dalam mengelola keuangannya dapat
temuan Vieira tersebut seakan membenar- mandiri. Salah satu syarat daerah otonom
kan fakta penelitian ini bahwa sebagian be- adalah kemandirian dalam pembiayaan pem-
sar daerah yang memiliki BHPBP tertinggi bangunan daerah. Untuk mewujudkan ke-
adalah daerah yang memiliki sumber tam- mandirian dalam pembiayaan pembangunan
bang migas dan pengilangan. maka pemerintah dengan perangkat aparat
Dalam komponen sumber keuangan dibawahnya harus menggali sumber-sumber
daerah, sumbangan daerah masih menjadi pendapatan daerah, baik dari pendapatan
pemasok utama dalam penerimaan daerah di asli daerah (PAD) atau dari sumber-sum-
kabupaten/kota di Jawa Timur, dengan kom- ber lainnya. Sumber-sumber lainnya itu,
ponen terbesar berupa dana alokasi umum. bisa didapatkan dengan mengerakan swa-
Dana alokasi umum merupakan dana yang daya masyarakat dalam bentuk materil dan
dimaksudkan untuk pemerataan kemam- non materil. Namun demikian pemerintah
puan keuangan daerah, perhitungan DAU daerah harus menfaatkan seefisien mungkin
diperoleh dari alokasi dasar dan celah fiskal. dana alokasi umum dari pemerintah pusat,
Alokasi dasar dihitung dari kebutuhan be- sehingga pengelolaan keuangan daerah se-
lanja pegawai dan celah fiskal yang diper- cara keseluruhan dapat digunakan secara
oleh dari selisih antara kebutuhan fiskal dan maksimal untuk kesejahteraan masyarakat.
kapasitas fiskal. DAU merupakan dana yang
paling elastis pemanfaatannya, dikarenakan SIMPULAN
pemanfaatan DAU sesuai dengan kebutuhan Derajat desentralisasi fiskal yang ke-
daerah dan tanpa syarat apapun. cil secara langsung juga dipengaruhi oleh
Namun masalah yang terjadi adalah pe- pendapatan asli daerah yang kecil. Dari sisi
manfaatan DAU yang semula di harapakan pemerintah, seharusnya lebih mengoptimal-
bisa menjadi bantuan daerah dalam melak- kan sumber-sumber pendapatan daerah yang
sanakan otonomi daerah, namun ternyata dimiliki. Inovasi dan kreatifitas daerah san-
sebagian besar kabupaten/kota di Indonesia gat diperlukan sehingga seharusnya kom-
memiliki nilai belanja pegawai sebesar 50% ponen pendapatan asli daerah yang menjadi
dari total APBD (Sekna Fitra, tanpa tahun). konsentrasi pemerintah daerah tidak hanya
Permasalahan ketergantungan daerah yang bersumber dari pajak dan retribusi. Masalah
ditandai tingginya dana perimbangan yang yang terjadi penyebab lemahnya PAD ada-
diberikan kepada daerah oleh pemerintah lah daerah hanya memanfaatkan kurang dari
pusat dari tahun ke tahun merupakan mas- 20% BUMD yang dimilikinya. Pemerintah
alah kebijakan penyerahan wewenang kepa- daerah harus bisa mengoptimalkan Badan
da daerah otonom. Seperti yang dijelaskan Usaha Milik Daerah, sehingga sumber
oleh Hoessein (1993) bahwa: “kerap kali pendapatan daerah sangat variatif.
terjadi penyera-han wewenang kepada daer- Pemerintah pusat harus membenahi ke-
ah otonom tanpa disertai penyerahan sum- bijakan tentang dana bagi hasil. Pandangan
ber-sumber keuangan. Bahkan pemerintah yang didapatkan dari penelitian ini adalah
pusat lebih suka menyediakan dana umtuk jika pengelolaan dana bagi hasil masih di-
menutupi anggaran daripada memberikan pegang oleh pemerintah pusat dan daerah ha-
kekuasaan kepada daerah otonom untuk nya diberi proporsi yang kecil, maka mung-
menggali keuangnnya sendiri”. kin sampai kapan pun daerah tidak akan
Kondisi demikian, maka kemandi- memiliki derajat desentralisasi fiskal yang
rian pemerintah daerah dalam desentralisa- tinggi. Pemerintah pusat tentunya juga ha-
Mega Sistiana, M. Hadi Makmur, Derajat Desentralisasi Fiskal Daerah Kabupaten/Kota 285

rus lebih mempertegas fungsi pengawasan si”, Tidak dipublikasi. Jakarta: Univer-
dalam hal pemungutan pajak dan retribusi sitas Indonesia.
daerah, sehingga pajak dan retribusi daerah Jaweng, Robert Efendi.2010. Memperkuat
bisa kembali ke fungsinya yang bertujuan Otonomi Fiskal Daerah. Journal Anal-
untuk pemerataan dan keadilan, bukan ha- isis CSIS, 39 (4) (melalui http://www.
nya memberatkan rakyat. kppod.org/BJN HT7 D6TG datapdf/
Kebijakan dana perimbangan yang ter- artikel/artikel-ej2.pdf, diakses Tanggal
diri dari DAU,DAK, dan DBH perlu dikaji 15 Desember 2013)
ulang proporsinya. Hal ini terlihat dari pro- Ladjin, Nurjanna. 2008. Analisis Kemandi-
porsi Dana Alokasi Umum yang komponen- rian Fiskal Di Era Otonomi Daerah
nya terdiri dari belanja pegawai. Secara ti- (Studi Kasus Si Provinsi Sulawesi Ten-
dak langsung belanja pegawai inilah yang gah). “Disertasi” Tidak dipublikasi.
membuat beban pemerintah pusat menjadi Semarang: Universitas Diponegoro.
bertambah, Dan dalam hal ini kiranya pe- (Diakses melalui http://eprints.undip.
merintah harus mengkaji ulang tentang ac.id/18492/1/NURJANNA_LADJIN.
proporsi masing-masing dana perimbangan pdf, Tanggal 16 November 2013)
yang diberikan kepada daerah. Sebaliknya Radianto dan Elia. 1997. Otonomi Keuan-
pemerintah daerah harus dapat meningkat- gan Daerah Tingkat II Suatu Studi Di
kan kemampuannya untuk menggali sum- Maluku. Majalah Prisma. IX (3).
ber-sumber pendapatan asli daerah (PAD) Rusdianto. Desentralisasi Fiskal Dalam Se-
sehingga ketergantungan pemerintah daerah buah Negara Kesatuan. Tanpa Tahun.
dari kucuran dana pemerintah pusat dapat “Makalah”. Surabaya: Universitas
dikurangi. Narotama.
Roni Eka Putra. 2009. Hubungan Keuan-
DAFTAR RUJUKAN gan Pemerintah Kabupaten dengan
Agustina, Nelia.2010 Desentralisasi Fiskal, Pemerintah Nagari dalam Pelaksanaan
Tax Effort, Pertumbuhan Ekonomi Desentralisasi Fiskal di Kabupaten
Daerah (Studi Empirik Kabupaten/ Tanah Datar. Jurnal JIANA, 9 (1).
Kota se Indonesia). Bogor: “Thesis”. Sekna Fitra. (http://Saknafitra.org/wpcon-
Tidak Dipublikasi. Institut Pertanian tent/uploads/zor/10/keuangan-pu-
Bogor. sat-dan-daerah.pdf diakses tanggal 27
Devas. 1989. Keuangan Pemerintah daerah Maret 2012).
di Indonesia. Jakarta: UI Press Tiyaningsih. 2009. Analisis Derajat Desen-
Enceng, dan Purwaningdyah, 2012. Desen- tralisasi Fiskal Kota Malang Tahun
tralisasi Fiskal Keuangan Daerah. Jur- 2004-2008. “Skripsi”. Tidak dipublika-
nal JIANA, 12 (1). (Diakses Melalui si Malang: Program Sarjana Universi-
ejournal.unri.ac.id/index.php/JIANA/ tas Muhammadiyah. (Diakses Melalui
article/download/904/897 Tanggal 12 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/
Desember 2013). jep/article/viewFile/963/1027, Tang-
Hanafi, Imam Mugroho, dan Tri Laksono. gal 16 November 2013).
2009. Desentralisasi Fiskal: Kebija- Zaenuddin, Muhammad. Tanpa Tahun.
kan Perimbangan Keuangan Pemerin- Evaluasi Pelaksanaan Otonomi Daerah
tah Pusat Dan Daerah Di Indonesia. Dengan Alat Analisis Derajat Otonomi
Malang: UB Press. Fiskal Daerah (Studi Kasus Lima Ka-
Hoessein, Bhenyamin. 1993. Berbagai Fak- bupaten/Kota Di Provinsi Daerah Is-
tor Yang Mempengaruhi Besar-nya timewa Yogyakarta, 1999-2006). Tidak
Otonomi Daerah Tingkat II. “Diserta- dipublikasi. Politeknik Negri Batam
286 Jurnal Ilmu Administrasi Negara, Volume 12, Nomor 4, Januari 2014:277-286

(Diakses Melalui http://p2m.polibat- microsoft-wordfull-paper-desentral-


am.ac.id/wp-content/uploads/2012/08/ isasifiskal.pdf, Tanggal 15 Desember
2013