Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS JURNAL “THE EFFECT OF WALKING EXERCISE ON

BLOOD PRESSURE IN THE ELDERLY WITH HYPERTENSION IN


MULYOHARJO COMMUNITY HEALTH CENTER PEMALANG” DI
WISMA MAWAR UPT PSTW JEMBER KABUPATEN/KOTA JEMBER
TAHUN 2019

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Stase Keperawatan Gerontik

oleh

Tria Mega Holivia, S.Kep


NIM 192311101153

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
Jl. Kalimantan No. 37 Kampus Tegal Boto Jember Telp./Fax (0331) 323450
Analisis Jurnal

Penulis 1. Dinda Kartika Yulisa


2. Siti Baitul M
Judul The Effect of Walking Exercise on Blood Pressure in The Elderly
With Hypertension in Mulyoharjo Community Health Center
Pemalang
Nama Public Health Perspectives Journal, 3 ,2018
Jurnal, Edisi,
Tahun
Latar WHO menyatakan bahwa sekitar 1,13 miliar orang di dunia
Belakang menderita hipertensi. Ini berarti bahwa 1 dari 3 orang di dunia
didiagnosa sebagai memiliki hipertensi, dan hanya 36,8% dari
mereka minum obat. Hipertensi telah menyebabkan kematian 8
juta orang setiap tahun, dan 1,5 juta di antaranya berasal dari
negara-negara di Asia Tenggara. Prevalensi hipertensi secara
global adalah 42% (WHO, 2018). Proporsi terbesar dari seluruh
Penyakit Menular (PTM), yang dilaporkan masih ditempati oleh
hipertensi, adalah 57,87%. Prevalensi hipertensi di Indonesia
yang diperoleh dengan mengukur orang pada usia ≥18 adalah
34,1%. Prevalensi hipertensi pada orang tua di Indonesia
menunjukkan 45,9% untuk mereka yang berusia 55-64, 57,6%
untuk mereka yang berusia 65-74, dan 63,8% untuk mereka yang
berusia> 75 tahun (Riskesdas, 2018). Faktor-faktor hipertensi
jatuh ke dalam faktor-faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan
faktor risiko unmodifiable. Contoh faktor risiko yang tidak dapat
dimodifikasi seperti faktor keturunan, jenis kelamin, ras, dan
usia. Sementara itu, contoh faktor risiko yang dapat dimodifikasi
adalah obesitas, kurangnya latihan atau kegiatan, merokok,
alkoholisme, stres, dan diet (Hafiz, 2016). Perubahan tekanan
darah yang terjadi pada orang tua adalah karena perubahan
struktural dan fungsional dalam sistem vaskular perifer
(Rohaendi, 2008). Kurang olahraga dapat menyebabkan
penumpukan kolesterol, terutama LDL (low density lipoprotein)
di dinding arteri. Orang yang tidak aktif berolahraga juga
cenderung memiliki denyut jantung lebih tinggi sehingga otot-
otot jantung harus bekerja lebih keras di setiap kontraksi.
Semakin keras dan lebih sering otot-otot jantung memompa,
semakin besar tekanan yang dikenakan pada arteri (Sugiharto,
2007).
Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan jalan
(walking exercise) pada tekanan darah lansia dengan hipertensi.
Metodologi Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan kuasi-
eksperimental desain penelitian (kuasi eksperimental). Populasi
dalam penelitian ini adalah orang tua dengan hipertensi di
Puskesmas Mulyoharjo Community Pemalang pada bulan Juli
2018, yang melibatkan 32 orang. Sampel diambil dengan
menggunakan incidental purposive sampling. 10 responden yang
diambil kemudian dibagi menjadi dua kelompok: 5 responden
dengan hipertensi dan obesitas dan 5 responden dengan status
gizi normal. parametrik Penelitian ini menggunakan analisa
teknik (Paired T test) untuk menguji perbedaan tekanan darah
sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah melakukan latihan
berjalan dan digunakan independent t-test menganalisis untuk
mengetahui pengaruh latihan jalan pada tekanan darah pada
orang tua dengan hipertensi dan status gizi obesitas.
Hasil Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tekanan darah lansia
dengan hipertensi sebelum melakukan latihan berjalan adalah
152,20 / 95,80 mmHg dan setelah melakukan latihan berjalan
adalah 147,60 / 93,60 mmHg rata-rata.
Pembahasan Walking exercise sangat berpengaruh pada penurunan tekanan
darah. Selain itu, berjalan juga dapat mengurangi risiko penyakit
jantung. Otot jantung membutuhkan aliran darah lebih bebas
(arteri koroner yang menyediakan pasokan) agar bugar dan
berfungsi normal tanpa henti memompa darah. Untuk itu, otot
jantung membutuhkan darah lebih keras dan lebih halus. Berjalan
buru-buru menaikkan aliran darah ke jantung. Dengan demikian,
oksigen dalam otot jantung yang cukup, dan otot jantung terjaga
untuk bisa tetap cukup berdegup. Tidak hanya itu, fleksibilitas
tubuh arteri terlatih dan akan dibantu oleh mengejangnya
mengambang otot-otot tubuh yang terletak di sekitar dinding
pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan berjalan kaki
tergopoh-gopoh itu. Pada akhirnya, tekanan darah cenderung
menjadi lebih rendah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa
setelah melakukan latihan berjalan, tekanan darah sistolik dan
diastolik menurun. Ada perbedaan yang signifikan pada tekanan
darah sebelum dan setelah berjalan. Ada perbedaan dalam status
gizi normal dan obesitas pada penurunan tekanan darah pada
orang tua dengan hipertensi. Berjalan latihan yang dilakukan oleh
orang-orang yang lebih tua dengan hipertensi lebih efektif dalam
menurunkan tekanan darah dibandingkan lansia normal.
Implikasi Perawat dapat menjadi edukator dalam memberikan pendidikan
dalam kesehatan mengenai pentingnya dan manfaat walking exercise
Keperawatan terutama lansia yang mengalami masalah dengan gerak. Perawat
juga dapat menjadi role model dalam mengajarkan walking
exercise pada lansia.
Aplikasi di Latihan walking exercise masih jarang diterapkan kepada lansia
Indonesia di Indonesia. Hal ini dapat dijadikan referensi untuk digunakan
bagi petugas kesehatan terutama di panti sosial untuk membantu
para lansia tetap sehat dan terhindar dari kekakuan sendi
Daftar Pustaka

Yulisa, D. K., & Mukarromah, S. B. 2018. The Effect of Walking Exercise on


Blood Pressure in The Elderly With Hypertension in Mulyoharjo
Community Health Center Pemalang. Public Health Perspective
Journal, 3(3).