Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN

PRAKTIKUM FARMASI FISIKA I

PERCOBAAN IV

KINETIKA REAKSI KIMIA

OLEH :

NAMA : ISMAYANI

NIM : F1F1 10 074

KELOMPOK : III

ASISTEN : WAHAB

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2011
KINETIKA REAKSI KIMIA

A. Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari kinetika suatu

reaksi kimia dan untuk menentukan waktu kadaluarsa obat.

B. Landasan Teori

Kinetika kimia adalah cabang ilmu kmia yang mempelajari kecepatan

reaksi kimia dan mekanisme reaksi kimia yang terjadi. Kecepatan reaksi

digunakan untuk melukiskan kelajuan perubahan kimia yang terjadi. Mekanisme

reaksi digunakan untuk melukiskan serangkaian langkah-langkah reaksi yang

meliputi perubahan keseluruhan dari suatu reaksi yang terjadi. (Hardjono, 2001)

Kinetika kimia adalah suatu ilmu yang membahas tentang laju (kecepatan)

dan mekanisme reaksi. Berdasarkan penelitianyang mula – mula dilakukan oleh

Wilhelmy terhadap kecepatan inversi sukrosa, ternyata kecepatan reaksi

berbanding lurus dengan konsentrasi / tekanan zat – zat yang bereaksi. Laju reaksi

dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi atau tekanan dari produk atau reaktan

terhadap waktu. Laju merupakan hal dasar yang perlu diperhatikan bagi setiap

orang yang berkaitan dengan bidang kefarmasian, mulai dari pengusaha obat

𝑑𝐶
sampai ke pasien Laju atau kecepatan suatu reaksi diberikan sebagai ± .
𝑑𝑡

artinya terjadi penambahan (+) atau pengurangan (-) konsentrasi C dalam selang

waktu dt. Orde reaksi. Dari hukum aksi massa, suatu garis lurus didapat bila laju

reaksi diplot sebagai fungsi dari konsentrasi reaktan di pangkatkan dengan

bilangan tertentu. Orde reaksi keseluruhan adalah jumlah pangkat konsentrasi-


konsentrasi yang menghasilkan sebuah garis lurus. Orde bagi tiap reaktan adalah

pangkat dari tiap konsentrasi reaktan. (Martin, 1993)

Energi aktivasi sangat dipengaruhi oleh konstanta laju reaksi, semakin

besar konstanta laju reaksi semakin kecil energi aktivasinya. Dengan energi

aktivasi yang kecil diharapkan reaksi semakin cepat berlangsung. Pengaruh

konstanta laju reaksi terhadap energy aktivasi dapat dilihat dari persamaan

Arrhenius k = Ae−Ea/RT yang semakin besar nilai konstanta laju reaksi, energi

aktivasinya akan semakin kecil. (Avery, 1981).

Laju suatu reaksi adalah ukuran laju dikonsumsinya satu preaksi atau

dibentuknya hasil reaksi. Laju awal reaksi adalah laju atau kecepatan reaksi segera

setelah pereaksi dicampurkan. waktu paruh adalah waktu yang diperlukan agar

setengah bagian satu tahap tunggal dalam mekanisme reaksi (Petrucci, 1987).

Laju reaksi transesterifikasi juga sangat dipengaruhi oleh suhu reaksi.

Reaksi transesterifikasi dapat berlangsung sempurna pada suhu kamar dengan

waktu reaksi yang cukup lama. Umumnya suhu reaksi yang terjadi mengikuti

suhu didih metanol (60-700C) pada tekanan atmosferik (Utami, 2007)

Konstanta laju reaksi itu ditentukan menggunakan persamaan control

reaksi berorde satu dan persamaan Arrhenius. Energi aktivasi dapat ditentukan

dari hubungan antara suhu dengan konstanta laju reaksi dengan menggunakan

persamaan Arrhenius:

k = Ae−ΔE / RT (7)

dimana A dan R merupakan konstanta, dan ΔE adalah energy (Damunir,2007).


C. Alat dan Bahan

1. Alat

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :

- Gelas kimia 600 mL - Penjepit tabung reaksi

- Tabung reaksi - Hot plate

- Rak tabung reaksi - Batang Pengaduk

- Statif dan klem - Termometer

- Pipet ukur 10 mL

- Filler

- Pipet tetes

- Botol semprot

- Kuvet

- Spektronik 20 D

2. Bahan

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :

- Asetosal

- FeCL3

- Akuades

- Es batu

- HNO3

- Alkohol
D. Prosedur Kerja
Larutan Asetosal

- dimasukkan masing-masing 10 ml kedalam 5 tabung reaksi


- dipanaskan diatas penangas 40 °C
- setelah 5 menit diambil tabung I dan didinginkan kedalam
es, begitupun untuk tabung II setelah 10 menit, tabung III
setelah 15 menit, tabung IV setelah 20 menit, dan tabung V
setelah 25 menit

larutan yang telah didinginkan

- tiap-tiap tabung ditambahkan 2 ml larutan besi(III) klorida


dalam asetosal
- digojog hingga homogen
- dibaca serapannya tiap larutan di spektronik 20D pada λ
525 nm
- dilakukan pada percobaan tersebut dengan menggunakan
60°C dan 700C

pemanasan 40°C
tabung I = 0,0056
tabung II = 0,0057
tabung III = 0,0061
tabung IV = 0,0061
tabung V = 0,0058
pemanasan 60°C
tabung I = 0,0044
tabung II = 0,0043
tabung III = 0,0045
tabung IV = 0,0048
tabung V = 0,0044
pemanasan 70°C
tabung I = 0.037
tabung II = 0,043
tabung III = 0,0040
tabung IV = 0,0048
tabung V = 0,0063
E. Hasil Pengamatan

1. Tabel

 Persamaan regresi linear

Y = 0,9x + 0,005

 Pemansan 400C

Sampel Waktu(menit) Serapan

Tabung I 10 0,056

Tabung II 20 0,057

Tabung III 30 0,061

Tabung IV 40 0,061

Tabung V 50 0,058

 Pemanasan 600C

Sampel Waktu(menit) Serapan

Tabung I 10 0,044

Tabung II 20 0,043

Tabung III 30 0,045

Tabung IV 40 0,048

Tabung V 50 0,044
 Pemanasan 700C

Sampel Waktu(menit) Serapan

Tabung I 10 0,037

Tabung II 20 0,043

Tabung III 30 0,040

Tabung IV 40 0,048

Tabung V 50 0,063

1. Perhitungan

 Di masukkan harga resapan sebagai y pada persamaan y = 0,9x + 0,005

sehingga nilai x diketahui

a. Persamaan 400C

Sampel Waktu(menit) Serapan (y) x

Tabung I 10 0,056 0,0567

Tabung II 20 0,057 0,0578

Tabung III 30 0,061 0,0622

Tabung IV 40 0,061 0,0622

Tabung V 50 0,058 0,0589


b. Pemanasan 600C

Sampel Waktu(menit) Serapan(y) x

Tabung I 10 0,044 0,0433

Tabung II 20 0,043 0,0422

Tabung III 30 0,045 0,0444

Tabung IV 40 0,048 0,0478

Tabung V 50 0,044 0,0433

c. Pemanasan 700C

Sampel Waktu(menit) Serapan(y) x

Tabung I 10 0,037 0,0356

Tabung II 20 0,043 0,0422

Tabung III 30 0,040 0,0389

Tabung IV 40 0,048 0,0478

Tabung V 50 0,063 0,0644

 Dihitung C0 dan C0 – C, dengan mengingat molekul ekuivalensinya

a. Mencari nilai C0

Dik : Berat molekul asetosal (C9H8O4) = 180,16 g/mol


𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎
mol C6H8O6 = 𝑀𝑟
0,2 𝑔
= 180,16 𝑔/𝑚𝑜𝑙

= 0,0011 mol
𝑚𝑜𝑙
M C6H8O6 = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
0,0011 𝑚𝑜𝑙
= 1 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟

= 0,0011 mol/L
Jadi, nilai Co = 0,0011 mol/L

b. Mencari nilai C

C = C0 – X = konsentrasi mula-mula – jumlah yang terurai pada waktu t

 Pemanasan 400C

Sampel Waktu(menit) Co (mol/L) x C (mol/L)

Tabung I 0 0,0011 0,0567 -0,0556

Tabung II 10 0,0011 0,0578 -0,0567

Tabung III 20 0,0011 0,0622 -0,0611

Tabung IV 30 0,0011 0,0622 -0,0611

Tabung V 40 0,0011 0,0589 -0,0578

 Pemanasan 600C

Sampel Waktu(menit) Co (mol/L) X C (mol/L)

Tabung I 0 0,0011 0,0433 -0.0422

Tabung II 10 0,0011 0,0422 -0,0411

Tabung III 20 0,0011 0,0444 -0,0433

Tabung IV 30 0,0011 0,0478 -0,0467

Tabung V 40 0,0011 0,0433 -0,0422


 Pemanasan 700C

Sampel Waktu(menit) Co (mol/L) x C (mol/L)

Tabung I 0 0,0011 0,0356 -0.0345

Tabung II 10 0,0011 0,0422 -0,0411

Tabung III 20 0,0011 0,0389 -0,0378

Tabung IV 30 0,0011 0,0478 -0,0467

Tabung V 40 0,0011 0,0644 -0,0633

c. Mencari nilai Co – C

 Pemanasan 400C

Sampel Waktu(menit) Co (mol/L) C Co – C

Tabung I 0 0,0011 -0,0556 0,0567

Tabung II 10 0,0011 -0,0567 0,0578

Tabung III 20 0,0011 -0,0611 0,0622

Tabung IV 30 0,0011 -0,0611 0,0622

Tabung V 40 0,0011 -0,0578 0,0589


d. Mencari nilai Co – C

 Pemanasan 400C

Sampel Waktu(menit) Co (mol/L) C Co – C

Tabung I 0 0,0011 -0,0556 0,0567

Tabung II 10 0,0011 -0,0567 0,0578

Tabung III 20 0,0011 -0,0611 0,0622

Tabung IV 30 0,0011 -0,0611 0,0622

Tabung V 40 0,0011 -0,0578 0,0589

 Pemanasan 600C

Sampel Waktu(menit) Co (mol/L) C Co – C

Tabung I 0 0,0011 -0.0422 0,0433

Tabung II 10 0,0011 -0,0411 0,0422

Tabung III 20 0,0011 -0,0433 0,0444

Tabung IV 30 0,0011 -0,0467 0,0478

Tabung V 40 0,0011 -0,0422 0,0433


 Pemanasan 700C

Sampel Waktu(menit) Co (mol/L) C Co – C

Tabung I 0 0,0011 -0.0345 0,0356

Tabung II 10 0,0011 -0,0411 0,0422

Tabung III 20 0,0011 -0,0378 0,0389

Tabung IV 30 0,0011 -0,0467 0,0478

Tabung V 40 0,0011 -0,0633 0,0644

 Dimasukkan hasil perhitungan pada persamaan reaksi orde I atau II,

ditentukan peruraian asetosal mengikuti orde I/III

Orde I

2,303 C0
k= log
𝑡 𝐶

 Pemanasan 400C

Sampel Waktu(menit) Co C K

Tabung I 5 0,0011 -0,0556 24,509

Tabung II 10 0,0011 -0,0567 12,017

Tabung III 15 0,0011 -0,0611 7,4344

Tabung IV 20 0,0011 -0,0611 5,5758

Tabung V 25 0,0011 -0,0578 4,7153


 Pemanasan 600C

Sampel Waktu(menit) Co C K

Tabung I 5 0,0011 -0.0422 32,292

Tabung II 10 0,0011 -0,0411 16,578

Tabung III 15 0,0011 -0,0433 10,491

Tabung IV 20 0,0011 -0,0467 7,2952

Tabung V 25 0,0011 -0,0422 6,4585

 Pemanasan 700C

Sampel Waktu(menit) Co C K

Tabung I 5 0,0011 -0.0345 39,499

Tabung II 10 0,0011 -0,0411 16,578

Tabung III 15 0,0011 -0,0378 12,017

Tabung IV 20 0,0011 -0,0467 7,2952

Tabung V 25 0,0011 -0,0633 4,3056

Pemanasan 400C
30

25

20

15

10

0
5 10 15 20 25
Pemanasan 600C
35
30
25
20
15
10
5
0
5 10 15 20 25

Pemanasan 700C

45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
5 10 15 20 25

Ket:

Sumbu X : waktu

Sumbu Y : K (Konstanta Laju Reaksi)


F. Pembahasan

Laju reaksi merupakan besaran dari suatu reaksi kimia yang mengalami

perubahan sifat kimia. Tiap suatu zat memiliki laju reaksi yang berbeda yang

dikarenakan tiap zat tersebut memiliki laju struktur yang berbeda pula. Jadi dapat

dikatakan bahwa laju reaksi dipengaruhi oleh struktur dari zat tersebut. Dalam

perhitungan dan pembuatan obat, laju reaksi sangat diperhatikan agar bahan aktif

yang terkandung dalam obat tersebut dapat diabsorbsi secara efisien di dalam

tubuh.

Waktu paruh merupakan waktu yang dibutuhkan suatu zat untuk mengurai

menjadi setengah dari kadar semula. Karena umumnya reaksi peruraian bahan

obat berlangsung mengikuti reaksi orde satu maka penentuan waktu paruh penting

artinya untuk menentukan batas edar suatu sediaan atau digunakan untuk

penentuan waktu kadaluarsa suatu sediaan. Faktor-faktor lain yang dapat

menyebabkan kerusakan pada obat seperti panas, asam-asam, oksigen, cahaya,

tekanan, dan suhu. mekanisme teruainya obat dapat disebabkan oleh pecahnya

suatu ikatan, pergantian special atau perpindahan atom-atom dan ion-ion jika dua

molekul bertabrakan dalam tabung reaksi.

Pada percobaan kali ini, digunakan larutan asetosal dan besi III klorida

(FeCL3) dalam HNO3. Larutan asetosal dimasukkan dalm lima tabung yang

berbeda kemudian dipanaskan dengan suhu suhu yang berbeda, yaitu pada suhu

400C, 600C, dan 700C. Setelah suhu mencapai 400C, tabung pertama diambil

untuk didinginkan di dalam es dan 4 tabung lainnya diambil dengan selang waktu

5 menit. Hal ini diulangi pada suhu 600C dan 700C. adapun guna divariasikannya
suhu yaitu untuk melihat bagaimana pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi

serta untuk menentukan konstanta laju reaksi kemudian dihubungkan dengan

energy aktivasi.

Setelah dipanaskan, tabung didinginkan didalam gelas kimia yang berisi es

batu,tujuannya pendinginan agar reaksi yang terjadi selama kenaikan suhu

berhenti. Sementara guna dari penambahan FeCl3 yaitu sebagai pembentuk ion

kompleks agar lebih mudah diukur absorbansinya pada alat spektronik 20D.

Prinsip kerja alat ini adalah menembakkan cahaya ke arah sampel. Cahaya

tersebut ada yang diteruskan dan ada yang diserap. Cahaya yang diserap tersebut

adalah absorbansi dari sampel tersebut. Banyaknya cahaya yang diserap

tergantung dari energi yang dibutuhkan oleh sampel.

Berdasarkan hasil yang dilihat pemanasan pada suhu 400C, 500C dan 700C

menunjukkan bahwa pada suhu yang berbeda dan pada waktu yang sama, dapat

dilihat bahwa semakin tinggi suhu pada pemanasan larutan maka semakin rendah

daya serapannya. Ketika semakin besar serapan maka semakin banyak jumlah

bahan obat yang terurai. Temperatur mempengaruhi laju reaksi karena molekul-

molekul yang terdapat dalam zat saling berumbukan dan bereaksi, sehingga

tempereraturnya semakin tinggi. Berdasarkan kurva semakin lama waktu

pemanasan, maka konstanta laju reaksi semakin menurun yang disebabkan karena

konsentrasi sampel juga yang menurun.


G. Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa makin lama waktu

pemanasannya maka konstanta laju reaksi larutan semakin menurun. Hal ini

disebabkan karena konsentrasi larutan berkurang secara eksponensial terhadap

pertambahan waktu.
DAFTAR PUSTAKA

Avery, H. E. 1981. Basic Reaction Kinetics and Mechanism. Formerly Principal


Lecturer in Chemitry. Lanchester Polytechnics Coventry.

Damunir. 2007. Aspek Kinetika Reaksi Kernel U3O8 Dengan Gas H2 Terhadap
Karakreristik Energi Aktivitas, Konstanta Laju Reaksi Rasio O/U Kernel
UO2. Jurnal Tek. Bhn. Nukl. Vol. 3 No.2. Pusat Teknologi Akselerator dan
Proses Bahan – BATAN. Yogyakarta.

Martin, A., Arthur C., James S. 1993. Farmasi Fisik Edisi ke-3.UI-Press.
Jakarta.

Petrucci, R.H. 1987. Kimia Dasar. Erlangga. Bogor.

Sastrohamidjojo, Hardjono. 2001. Kimia Dasar. UGM Press. Yogyakarta.

Utami, T. S., Rita A., Doddy N. 2007. Kinetika Reaksi Transesterifikasi CPO
terhadap Produk Metil Palmitat dalam Reaktor Tumpa, ISSN. UI. Depok.